Anda di halaman 1dari 126

PERLINDUNGAN KONSUMEN PENGGUNA JASA KERETA REL

LISTRIK COMMUTERLINE BERKAITAN DENGAN PENERAPAN


STANDAR PELAYANAN MINIMUM
(PERATURAN MENTERI PERHUBUNGAN NOMOR 48 TAHUN 2015)

Tesis
Untuk memenuhi sebagai persyaratan
Mencapai derajat Sarjana S-2

Program Studi Magister Hukum


Konsentrasi Hukum Bisnis

Diajukan oleh
Puspa Nusanti
12/341609/PHK/07604

Kepada
PROGRAM PASCASARJANA FAKULTAS HUKUM
UNIVERSITAS GADJAH MADA
YOGYAKARTA
2017
KATA PENGANTAR

Puji syukur penulis panjatkan kepada Allah SWT atas rahmat dan karunia-

Nya sehingga penulis dapat menyelesaikan tesis ini dengan judul “Perlindungan

Konsumen Pengguna Jasa Kereta Rel Listrik Commuterline Berkaitan Dengan

Penerapan Standar Pelayanan Minimum (Peraturan Menteri Perhubungan

Nomor 48 Tahun 2015)”. Penulisan tesis ini dilakukan dalam rangka memenuhi

salah satu persyaratan untuk mencapai gelar Magister Hukum pada Fakultas Hukum

Universitas Gadjah Mada. Penulis menyadari bahwa tanpa bantuan dan bimbingan

dari berbagai pihak, sangatlah sulit bagi penulis untuk menyelesaiakan tesis ini. Oleh

karena itu, penulis mengucapkan terima kasih kepada :

1. Bapak Prof. Ir. Panut Mulyono, M.Eng., D.Eng. selaku Rektor Universitas Gadjah

Mada;

2. Bapak Prof. Dr. Sigit Riyanto, S.H., LL.M. selaku Dekan Fakultas Hukum

Universitas Gadjah Mada;

3. Bapak Prof. Dr. Nurhasan Ismail, S.H., M.Si. selaku Ketua Program Studi

Magister Ilmu Hukum Universitas Gadjah Mada Kampus Jakarta ;

4. Ibu Prof. Dr. Sulistiowati, S.H., M.Hum. selaku Sekretaris Program Studi

Magister Ilmu Hukum Universitas Gadjah Mada Kampus Jakarta sekaligus Dosen

iv 

 
Pembimbing yang telah menyediakan waktu, tenaga, pikiran serta memberikan

arahan dan bimbingan dalam penyusunan tesisi ini;

5. Bapak dan Ibu Dosen pada Program Studi Magister Ilmu Hukum Universitas

Gadjah Mada atas segala bimbingannya selama penulis menjalankan pendidikan;

6. Pimpinan dan rekan-rekan Biro kepegawaian dan Organisasi Kementerian

Perhubungan, Pimpinan dan rekan-rekan Inspektorat Jenderal Kementerian

Pehubungan, rekan-rekan Direktorat Jenderal Perkeretaapian Kementerian

Perhubungan yang tidak dapat penulis sebutkan satu persatu terima kasih atas atas

segala pengertian, bantuan dan kerjasamanya;

7. Rekan-rekan seangkatan atas motivasi dan bantuannya selama menempuh

pendidikan bersama di Program Magister Hukum Universitas Gadjah Mada.

Terima kasih telah membuka wawasan dan memberikan persaudaraan yang begitu

indah;

8. Seluruh jajaran civitas akademik Pasca Sarjana Fakultas Hukum Universitas

Gadjah Mada Program Study Magister Hukum yang tidak dapat penulis sebutkan

satu persatu yang sama-sama berjuang dalam menyelesaikan studi;

9. Staf administrasi Program Magister Hukum Universitas Gadjah Mada Kampus

Jakarta atas segala bantuan selama penulis menempuh pendidikan hingga

menyelesaikan tesis ini;

 
10. Ibunda tercinta dan saudara-saudaraku tersayang atas doa dan dukungannya

sehingga penulis dapat menyelesaikan tesisi ini.

Semoga Allah SWT membalas segala kebaikan semua pihak yang telah membantu.

Penulis menyadari bahwa dalam penyusunan tesis ini masih terdapat kekurangan,

baik dari segi materi maupun teknis. Oleh karenanya segala saran dan kritik yang

membangun dari para pembaca akan penulis terima dengan segala kerendahan hati.

Akhir kata, semoga tesis ini membawa manfaat bagi pengembangan ilmu.

Yogyakarta, 2017

Penulis

vi 

 
PERLINDUNGAN KONSUMEN PENGGUNA JASA KERETA REL LISTRIK
COMMUTERLINE BERKAITAN DENGAN PENERAPAN
STANDAR PELAYANAN MINIMUM
(PERATURAN MENTERI PERHUBUNGAN NOMOR 48 TAHUN 2015)
INTISARI
Oleh
Puspa Nusanti1 dan Sulistiowati2
Standar Pelayanan Minimum (SPM) merupakan ukuran minimum pelayanan
yang harus dipenuhi oleh penyedia layanan dalam memberikan pelayanan kepada
pengguna jasa, yang harus dilengkapi dengan tolak ukur dan dipergunakan sebagai
pedoman penyelenggaraan pelayanan serta acuan penilaian kualitas pelayanan sebagai
kewajiban penyedia layanan kepada masyarakat dalam rangka pelayanan yang
berkualitas, cepat, terjangkau, dan terukur. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui
mengenai perlindungan konsumen pengguna jasa kereta rel listrik commuterline dalam
hal pemenuhan hak-hak keselamatan, keamanan, kehandalan, kenyamanan,
kemudahan, dan kesetaraan diatur dalam Peraturan Menteri Pehubungan Nomor 48
Tahun 2015 tentang Standar Pelayanan Minimum Angkutan Orang dengan Kereta Api
ditinjau dari Undang-Undang Nomor 8 Tahun 1999 tentang Perlindungan Konsumen.
Selanjutnya adalah untuk mengetahui mengenai upaya pemenuhan hak-hak konsumen
pengguna jasa kereta rel listrik commuterline yang dilakukan oleh penyedia jasa kereta
api Jabodetabek sebagai implemantasi perlindungan hak-hak pengguna jasa sesuai
peraturan perundangan yang berlaku.
Dalam penelitian ini digunakan metode penelitan normatif empiris untuk melihat
bagaimana implementasi ketentuan hukum normatif berupa perundang-undangan yang
berlaku dalam kaitannya dengan keadaan yang terjadi di lapangan.
Dari hasil analisis disimpulkan bahwa dalam Peraturan Menteri Perhubungan
Nomor 48 Tahun 2015 tentang Standar Pelayanan Minimum Angkutan Orang Dengan
Kereta Api telah mengatur satandar minimum yang harus dipenuhi guna memberikan
perlindungan kepada konsumen dalam hal ini terkait dengan pemenuhan hak konsumen
dalam menggunakan jasa transportasi kereta api sebagaimana diamanatkan dalam
Undang-Undang Perlindungan Konsumen. Dalam implementasinya masih banyak
yang belum terlaksana dengan baik oleh penyedia jasa dalam hal ini PT KAI (Persero)
yang juga telah berusaha untuk melaksanakan tugasnya sesuai Undang-Undang yang
berlaku dalam menyediakan jasa transportasi perkeretaapian dengan tetap
mengutamakan perlindungan terhadap konsumen. Perlu dilakukan pembenahan oleh
PT KAI (Persero) dengan meningkatkan sarana dan prasarana perkeretaapian serta
memenuhi semua hak-hak yang harus diperoleh oleh pengguna jasa transportasi kereta
api.
Kata kunci: Perlindungan Konsumen, Pengguna Jasa Kereta Rel Listrik Commuterline,
Standar Pelayanan Minimum
                                                            
1
 Kementerian Perhubungan
2
Fakultas Hukum Universitas Gadjah Mada Yogyakarta 
vii 
 
CONSUMER PROTECTION USER SERVICE ELECTRIC RAIL TRAIN
COMMUTERLINE RELATING TO THE IMPLEMENTATION OF
MINIMUM SERVICE STANDARDS
(MINISTER OF TRANSPORTATION NUMBER 48 OF 2015)
ABSTRACT

By
Puspa Nusanti dan Sulistiowati24
13

Minimum Service Standards (SPM) is the minimum service size that service
providers must fulfill in providing services to service users, which should be
complemented by benchmarks and used as guidelines for service delivery as well as a
benchmark of service quality as service provider obligations to the community Quality,
fast, affordable, and measurable. The purpose of this research is to know about
consumer protection of the user of commuterline electric train service in fulfillment of
the rights of safety, security, reliability, comfort, convenience, and equality arranged
in Regulation of Minister of Communication Number 48 Year 2015 about Standard of
Minimum Service of Railway Person In view of Law Number 8 Year 1999 regarding
Consumer Protection. The next step is to know about the fulfillment of consumer rights
of the users of the commuterline electric train service by the Jabodetabek railway
service provider as the implemantation of user rights protection according to the
prevailing laws and regulations.
In this study used empirical normative research method to see how the
implementation of normative legal provisions in the form of applicable legislation in
relation to the circumstances that occur in the field.
From the analysis it is concluded that in the Regulation of the Minister of
Transportation Number 48 of 2015 concerning the Minimum Service Standard of
Railway Personnel has set a minimum standard that must be met in order to provide
protection to consumers in this case related to the fulfillment of consumer rights in
using rail transportation services as mandated In the Consumer Protection Act. In the
implementation there are still many that have not been implemented properly by the
service providers in this case PT KAI (Persero) has also been trying to carry out its
duties in accordance with the applicable law in providing railway transportation
services while maintaining priority protection to consumers. It needs to be improved
by PT KAI (Persero) by improving railway facilities and infrastructure and fulfilling
all the rights that railroad services users must obtain.
Keywords: Consumer Protection, User Services Commuterline Light rail, the
Minimum Service Standards

                                                            
1
 Ministery of Transportation 

Faculty of Law, University of Gadjah Mada 
viii 
 
 
 

DAFTAR ISI
HALAMAN JUDUL …………………………………………………………………... i

LEMBAR PENGESAHAN …………………………………………………............... ii

LEMBAR PERNYATAAN ………………………………………………………........ iii

KATA PENGANTAR ……………………………………………………………........ iv

INTISARI…………………………………………………………………………......... vii

ABSTRACT …………………………………………………………………………… viii

DAFTAR ISI …………………………………………………………………............... ix

BAB I PENDAHULUAN…………………………….............................................. 1
A. Latar Belakang ………………………………………………………….. 1
B. Perumusan Masalah ………………………………………….................. 9
C. Tujuan Penelitian ……………………………………………………….. 9
D. Manfaat Penelitian ……………………………………………………… 10
E. Keaslian Penelitian ……………………………………………………… 10

BAB II PERLINDUNGAN KONSUMEN DAN PENYELENGGARAAN


ANGKUTAN PERKERETAAPIAN …………………………………….. 12
A. Perlindungan Konsumen ………………………………………………... 12
1. Pengertian Hukum Perlindungan Konsumen ……………………….. 12
2. Asas dan Tujuan Perlindungan Konsumen …………………............. 15
..
3. Pihak-Pihak yang Terkait dalam Hukum Perlindungan
Konsumen …………………………………………………………... 18
4. Kewajiban dan Hak Konsumen ……………………………………... 25
5. Kewajiban, Hak, dan Prinsip Tanggung Jawab Pelaku Usaha………. 28

ix 
 
 
 

6. Hak dan Tanggung Jawab Pelaku Usaha …………………………… 30

B. Penyelenggaraan Angkutan Perkeretaapian …………………………… 31


1. Instrumen Hukum Perkeretaapian …………………………………. 31
2. Pengertian Kereta Api dan Perkeretaapian …………………............ 33
3. Tujuan dan Asas Penyelenggaraan Perkeretaapian ………………… 36
4. Jenis Kereta Api dan Fungsi Perkeretaapian ……………………….. 41
5. Jaringan Pelayanan Perkeretaapian Perkotaan ……………………... 43
6. Penyelenggaraan Pengangkutan Kereta Api ……………………….. 47
7. Prasarana Perkeretaapian …………………………………………... 52
8. Stasiun Kereta Api dan Fasilitas Pengoperasian Kereta Api………... 57
9. Pelayanan Perkeretaapian oleh Penyelenggaraan Jasa 62
Transporatasi Kerata Api Di Wilayah Jabodetabek ………………...
10. Perkeretaapian sebagai Pelayanan Publik ………………………….. 64

BAB III METODE PENELITIAN ………………………………………………… 68


A. Sifat Penelitian …………………………………………………............ 68
B. Sumber Penelitian……………………………………………………… 68
C. Teknik Pengumpulan Data…………………. …………………............. 70
D. Analisis Data ………………………………………………................... 71
E. Langkah-langkah penelitian ……………………………………............ 71

BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN…………………............... 73


A. Perlindungan Hak-Hak Konsumen Pengguna Jasa Kereta Rel Listrik
Commuterline Pada Permenhub Nomor 48 Tahun 2015 tentang Standar
Pelayanan Minimum Angkutan Orang dengan Kereta Api ditinjau dari
Undang-Undang Nomor 8 Tahun 1999 tentang Perlindungan
Konsumen……………………………………………..... 73


 
 
 

1. Perlindungan Konsumen dan Hak Konsumen Menurut Undang-


Undang Nomor 8 Tahun 1999………………………. 73
2. Perlindungan Konsumen menurut Peraturan Menteri Perhubungan
Nomor 48 Tahun 2015 tentang Standar Pelayanan Minimum
Angkutan Orang dengan Kereta Api…… 83

a) Standar Pelayanan Minimum…………………………………… 83

a.1.Standar Pelayanan Minimum di Stasiun Kereta Api………. 86

a.2.Standar Pelayanan Minimum dalam Perjalanan…………… 90

b) Kewajiban Penyelenggara Sarana Perkeretaapian………............. 95

B. Upaya Pemenuhan Hak-Hak Konsumen Pengguna Jasa Kereta Rel


Listrik Commuterline oleh Penyelenggara Jasa Kereta Api Jabodetabek
sesuai Satandar Pelayanan Minimum dan Undang-Undang
Perlindungan Konsumen……………………………………………….. 96

BAB V PENUTUP …………………………………………………………... 111


A. Kesimpulan ………………………………………………………. 111
B. Saran …………………………………………………………….... 112

DAFTAR PUSTAKA …………………………………………………………. xii

xi 
 
BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

Di negara berkembang seperti Indonesia yang memiliki tingkat kepadatan

penduduk yang besar, kegiatan perekonomian yang terus berkembang, dan arus

perpindahan orang dan barang yang terus meningkat, pengembangan sarana dan

prasarana transportasi sangat berperan penting sebagai penghubung wilayah untuk

menunjang, mendorong, dan menggerakkan pembangunan nasional guna

meningkatkan kesejahteraan rakyat. Tanpa adanya transportasi sebagai sarana

penunjang tidak dapat diharapkan tercapainya hasil yang memuaskan dalam usaha

pengembangan ekonomi suatu negara.1

Transportasi merupakan hal terpenting dalam kehidupan/kegiatan mobilitas

manusia dan barang sehari-hari di mana transportasi yang baik haruslah merupakan

suatu sistem yang dapat memberikan pelayanan yang cukup baik kepada masyarakat

secara umum maupun secara pribadi, yang cukup aman, nyaman, cepat dan dapat

diandalkan oleh para penggunanya.2

Transportasi merupakan tanggung jawab pemerintah, terutama berkaitan

dengan penyediaan prasarana dan sarana angkutan. Sebagai institusi yang

                                                            
1
H.a.Abbas Salim, Manajemen Transporasi, Jakarta, PT Raja Grafindo, 1993, hal.1.
2
Maringan Masry Simbolon, Ekonomi Transportasi, Jakarta, Ghalia Indonesia, 2003, hal 1.
2

bertanggung jawab terhadap kinerja sektor transportasi maka pemerintah dituntut

untuk konsisten dan implementatif terhadap kebijakan publik yang dikeluarkan.

Transportasi perlu untuk mengatasi kesenjangan jarak dan komunikasi antara

tempat asal dan tempat tujuan. Untuk itu dikembangkan sistem transportasi dan

komunikasi, dalam wujud sarana (kendaraan) dan prasarana (jalan). Dari sini timbul

jasa angkutan untuk memenuhi kebutuhan pengangkutan dari satu tempat ke tempat

lain. Untuk wilayah perkotaan, transportasi memegang peranan yang cukup

menentukan. Perkembangan suatu kota mengakibatkan meningkatnya pola

pergerakan yang seharusnya didukung dengan penyediaan sarana dan prasarana

transportasi yang memadai. Hal lain yang juga tidak kalah pentingnya dalam

kebutuhan alat transportasi adalah kebutuhan kenyamanan, keamanan, dan kelancaran

pengangkutan yang menunjang pelaksanaan aktivitas masyarakat.

Seiring dengan meningkatnya jumlah pergerakan penduduk muncullah

berbagai permasalahan transportasi. Kondisi inilah yang terjadi di wilayah Jakarta,

sebagai ibukota Republik Indonesia yang dikelilingi oleh beberapa daerah seperti

Bogor, Depok, Tangerang dan Bekasi (Jabodetabek) yang menjadikan Jakarta sebagai

pusat pertumbuhan utama dimana hampir seluruh kegiatan pemerintahan dan

perekonomian terpusat di kota Jakarta. Hal ini menyebabkan Jakarta menjadi pusat

orientasi kegiatan penduduk yang tinggal di wilayah sekitarnya (Jabodetabek).

Permasalahan transportasi di kota Jakarta terjadi setiap hari, terutama pada jam-jam

sibuk pagi dan sore hari, di mana pergerakan penduduk dari wilayah sekitar Jakarta

 
3

menuju ke kota Jakarta dan sebaliknya. Selama ini pertambahan jumlah kendaraan

meningkat pesat sementara jalan dapat dikatakan tidak ada pertambahan yang

signifikan.

Untuk menangani masalah ini, dibutuhkan moda tansportasi publik yang dapat

memenuhi pergerakan penduduk secara massal. Salah satu moda transportasi yang

banyak dikenal adalah kereta api. Kereta api merupakan moda andalan yang paling

banyak diminati oleh pengguna jasa transportasi, karena kereta api merupakan

angkutan yang memiliki beberapa keunggulan bila dibandingkan dengan moda lain.

Keunggulan moda transportasi kereta api antara lain mampu mengangkut penumpang

dan barang dalam jumlah besar dan massal, hemat energi, hemat lahan dan ramah

lingkungan.

Dalam perkembangannya, angkutan kereta api menjadi kebutuhan utama bagi

masyarakat perkotaan di wilayah Jabodetabek . Hal ini terlihat dari angkutan kereta

api commuter yang setiap gerbongnya dipenuhi penumpang terutama pada jam-jam

sibuk. Dengan waktu tempuh yang relatif cepat, daya tampung penumpang yang

maksimal, hemat BBM dan biaya terjangkau, kereta api adalah pilihan utama bagi

komuter Jabodetabek yang mencari nafkah di Jakarta. Melihat peranannya yang

sangat strategis maka penyelenggaraannya dikuasai oleh negara dan pembinaannya

dilakukan oleh oleh pemerintah serta pengoperasian sarana dan prasarananya

dilakukan oleh badan usaha yang ditunjuk untuk itu. Setiap harinya arus pelaju di

Jabodetabek mencapai 300 ribu hingga 400 ribu penumpang, sehingga kehadiran

 
4

kereta api ini diharapkan akan memberikan layanan transportasi massal yang dapat

dimanfaatkan oleh masyarakat secara luas.3

Indonesia telah memiliki instrumen hukum yang secara khusus mengatur

mengenai perkerataapian, yaitu Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 23

Tahun 2007 tentang Perkerataapian Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun

2007 Nomor 65, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4722

(Undang-Undang Nomor 23 Tahun 2007). Adapun latar belakang diberlakukannya

Undang-Undang Nomor 23 Tahun 2007 adalah bahwa transportasi mempunyai

peranan penting dalam mendukung pertumbuhan ekonomi, pengembangan wilayah

dan pemersatu wilayah Negara Kesatuan Republik Indonesia dalam rangka

mewujudkan Wawasan Nusantara, serta memperkukuh ketahanan nasional dalam

usaha mencapai tujuan nasional berdasarkan Pancasila dan Undang-Undang Dasar

Negara Republik Indonesia Tahun 1945. Perkeretaapian sebagai salah satu moda

transportasi dalam sistem transportasi nasional yang mempunyai karakteristik

pengangkutan secara massal dan keunggulan tersendiri, yang tidak dapat dipisahkan

dari moda transportasi lain, perlu dikembangkan potensinya dan ditingkatkan

peranannya sebagai penghubung wilayah, baik nasional maupun internasional, untuk

menunjang, mendorong, dan menggerakkan pembangunan nasional guna

meningkatkan kesejahteraan rakyat.

                                                            
3
Proceeding Round Table Discussion, Kebijakan Penghapusan Pengoperasian Kereta Rel Listrik
(KRL) Kelas Ekonomi, Kementerian Perhubungan Badan Litbang, Jakarta 2013 hal.I-1

 
5

Pengguna jasa kereta api sebagaimana disebutkan dalam Undang-undang

Nomor 23 tahun 2007 tentang Perkeretaapian pada pasal 1 butir 12 adalah setiap

orang dan/atau badan hukum yang menggunakan jasa angkutan kereta api, baik untuk

angkutan orang maupun barang. Undang-Undang No 8 tahun 1999 tentang

Perlindungan Kosumen dalam Pasal 1 butir 2 dan 3 menyebutkan bahwa yang

dimaksud konsumen adalah setiap orang pemakai barang dan/atau jasa yang tersedia

dalam masyarakat, baik bagi kepentingan diri sendiri, keluarga, orang lain, maupun

mahluk hidup lainnya, dan tidak untuk diperdagangkan. Berdasarkan ketentuan

tersebut, dapat dilihat dengan jelas bahwa pengguna jasa kereta api sebagaimana

dimaksud Pasal 1 butir 12 Undang-Undang Perkeretaapian merupakan konsumen

sebagaimana dimaksud dalam Undang-Undang Perlindungan Konsumen.

Dalam Pasal 137 Undang-Undang Nomor 23 Tahun 2007, menyebutkan

bahwa pelayanan angkutan orang harus memenuhi standar pelayanan minimum

(SPM) yang ruang lingkupnya meliputi: (i) di stasiun keberangkatan; (ii) dalam

perjalanan; dan (iii) di stasiun tujuan. Konsekuensinya, sesuai Undang-Undang

Perkeretaapian tersebut masyarakat berhak mendapatkan pelayanan penyelenggaraan

perkeretaapian sesuai dengan SPM. Maksud dan tujuan dikeluarkan SPM adalah

untuk meningkatkan pelayanan kepada seluruh pengguna jasa. Di samping itu SPM

juga bertujuan mewujudkan kualitas pelayanan, menjamin dan meningkatkan

keselamatan, memudahkan pembinaan dan pengawasan pemerintah terhadap

penyedia layanan, dan untuk meningkatkan kinerja di bidang lalu lintas dan angkutan

 
6

Kereta Api. SPM merupakan ukuran minimum pelayanan yang harus dipenuhi oleh

penyedia layanan dalam memberikan pelayanan kepada pengguna jasa, yang harus

dilengkapi dengan tolak ukur yang dipergunakan sebagai pedoman penyelenggaraan

pelayanan dan acuan penilaian kualitas pelayanan sebagai kewajiban dan janji

penyedia layanan kepada masyarakat dalam rangka pelayanan yang berkualitas,

cepat, mudah , dan terjangkau dan terukur.

Sesuai dengan tuntutan dari Undang-Undang Nomor 23 Tahun 2007 dan

Peraturan Pemerintah Nomor 72 Tahun 2009 tentang Lalu Lintas dan Angkutan

Kereta Api maka Kementerian Perhubungan selaku regulator telah menerbitkan

Peraturan Menteri Perhubungan Nomor 9 Tahun 2011 tentang Standar Pelayanan

Minimun Untuk Angkutan Orang Dengan Kereta Api sebagaimana telah diubah

terakhir dengan Peraturan Menteri Perhubungan Nomor 48 Tahun 2015 tentang

Standar Pelayanan Minimun Untuk Angkutan Orang Dengan Kereta Api. Dalam

Peraturan Menteri ini telah diatur standar pelayanan yang harus dipenuhi oleh

penyedia jasa kereta api dalam memberikan pelayanan kepada pengguna jasa baik di

stasiun maupun dalam perjalanan.

Meskipun Pemerintah telah mengatur standar pelayanan minimum angkutan

orang dengan kereta api, baik di stasiun maupun dalam perjalanan kereta api, namun

dalam praktik di lapangan masih sering terjadi problema dalam realita

pelaksanaannya. Para calon penumpang dan penumpang kereta api perkotaan sebagai

konsumen pengguna jasa kereta rel listrik Commuterline masih sering mengalami

 
7

ketidaknyamanan, ancamana keselamatan dan keamanan, baik terhadap dirinya

maupun terhadap barang bawaaannya.

Semakin tingginya animo masyarakat akan pelayanan kereta api membuat

PT. Kereta Api Indonesia harus lebih meningkatkan kinerja pelayanannya dan lebih

fokus dalam memberikan pelayanan yang berkualitas. Untuk meningkatkan

pelayanan transportasi PT KAI pada bulan Juni 2013 secara bertahap telah

menghapus operasional Kereta Rel Listrik (KRL) Ekonomi dan digantikan dengan

KRL AC Commuterline. Namun para pengguna jasa/pelaju belum sepenuhnya

merasakan kenyaman menggunakan Commuterline. Sering molornya jadwal

kedatangan dan keberangkatan kereta, AC yang tidak dingin, serta penumpang yang

berdesak-desakan di dalam gerbong maupun di stasiun kereta masih saja terjadi.

Padahal, kereta api di Jabodetabek merupakan salah satu alat transportasi yang vital

karena daya tampungnya yang besar walaupun memang belum mampu mengatasi

masalah kemacetan di Ibu Kota. Sejak KRL Ekonomi dihapuskan, mau tidak mau

penumpang beralih menggunakan kereta Commuterline. Ditambah lagi sejak

pemberlakuan tarif progresif jumlah penumpang semakin membludak. Namun perlu

dicermati bahwa tidak semua pengguna menyambut baik kebijakan ini, KRL

dirasakan semakin tidak nyaman terutama pada jam-jam sibuk ketika orang berangkat

dan pulang kantor. Upaya untuk mengurangi kemacetan yang dilakukan oleh PT.KAI

Commuterline dengan kebijakan tarif progresifnya telah berhasil menarik pengguna

baru. Lantas bagaimana dengan kualitas pelayanan yang diberikan kepada

 
8

penumpang? Aspek keselamatan, ketepatan waktu, kenyamanan dan pelayanan

hingga saat ini belum dirasakan sepenuhnya dan belum sesuai dengan harapan

masyarakat penggunga jasa kereta api.

Untuk melindungi kepentingan konsumen dalam mengkonsumsi barang

dan/atau jasa, maka pemerintah mengeluarkan kebijakan pengaturan hak-hak

konsumen melaui Undang-Undang. Dalam hal ini terdapat Undang-Undang Nomor 8

Tahun 1999 tentang Perlindungan Konsumen yang mengatur hak dan kewajiban bagi

konsumen dan pemberi jasa dengan berasaskan manfaat, keadilan, keseimbangan,

keamanan, dan keselamatan konsumen, serta kepastian hukum

Menjadi hal yang sangat menarik untuk mengkaji permasalahan yang

dihadapi oleh konsumen pengguna jasa kereta api khususnya kereta api perkotaan

(KRL Commuterline) serta upaya yang dilakukan oleh penyedia jasa dalam

pemenuhan hak dasar pengguna jasa sebagai wujud peningkatan kualitas pelayanan

dan menjamin keselamatan penumpang. Pengkajian mengenai permasalahan yang

ditimbulkan serta peran penyedia jasa dikaitkan dengan Undang-Undang Nomor 8

Tahun 1999 tentang Perlindungan Konsumen, Undang-Undang Nomor 23 Tahun

2007 tentang Perkeretaapian, Undang-Undang Nomor 25 Tahun 2009 tentang

Pelayanan Publik, dan juga Peraturan Menteri Perhubungan Nomor PM 48 Tahun

2015 tentang Standar Pelayanan Minimum untuk Angkutan Orang dengan Kereta

Api, dan peraturan perundang-undangan lain yang terkait dengan perkeretaapian.

 
9

Berdasarkan uraian di atas, penulis ingin melakukan suatu penelitian

mengenai permasalahan tersebut dengan judul PERLINDUNGAN KONSUMEN

PENGGUNA JASA KERETA REL LISTRIK COMMUTERLINE

BERKAITAN DENGAN PENERAPAN STANDAR PELAYANAN MINIMUM

(PERATURAN MENTERI PERHUBUNGAN NOMOR 48 TAHUN 2015).

B. Perumusan Masalah

Dari latar belakang masalah tersebut, permasalahan pada penelitian ini dapat

penulis rumuskaan sebagai berikut :

1. Bagaimana perlindungan hak-hak konsumen pengguna jasa Kereta Rel Listrik

Commuterline pada Peraturan Menteri Perhubungan Nomor 48 Tahun 2015

tentang Standar Pelayanan Minimum Angkutan Orang Dengan Kereta Api

ditinjau dari Undang-Undang Nomor 8 Tahun 1999 tentang Perlindungan

Konsumen?

2. Bagaimana upaya pemenuhan hak-hak konsumen pengguna jasa Kereta Rel

Listrik Commuterline oleh Penyelenggara jasa Kereta Api Jabodetabek sesuai

Standar Pelayanan Minimum dan Undang-Undang Perlindungan Konsemen?

C. Tujuan Penelitian

Berdasarkan rumusan masalah tersebut, maka penelitian ini bertujuan untuk :

1. Memperoleh gambaran secara jelas perlindungan hak-hak konsumen pengguna

jasa Kereta Rel Listrik Commuterline pada Peraturan Menteri Perhubungan


 

 
10

Nomor 48 Tahun 2015 tentang Standar Pelayanan Minimum Angkutan Orang

dengan Kereta Api ditinjau dari Undang-Undang Nomor 8 Tahun 1999 tentang

Perlindungan Konsumen;

2. Memperoleh gambaran secara jelas upaya pemenuhan hak-hak konsumen

pengguna jasa Kereta Rel Listrik Commuterline oleh Penyelenggara jasa Kereta

Api Jabodetabek sesuai Standar Pelayanan Minimum dan Undang-Undang

Perlindungan Konsemen.

D. Manfaat Penelitian

Penulisan tesis ini diharapkan akan diperoleh manfaat sebagai berikut :

1. Memberikan masukan dan manfaat bagi penyusun RUU tentang kebijakan

transportasi perkeretaapian khususnya keselamatan penumpang dan Standar

Pelayanan Minimum.

2. Digunakan sebagai sumbangan pikiran dalam rangka pengembangan ilmu hukum

khususnya hukum bisnis.

E. Keaslian Penelitian

Dari hasil penelusuran yang dilakukan terhadap tulisan atau hasil penelitian

tentang “Perlindungan Konsumen Pengguna Jasa Kereta Rel Listrik Commuterline

berkaitan dengan penerapan Standar Pelayanan Minimum (Peraturan Menteri

Perhubungan No. 48 Tahun 2015)” belum ada yang melakukan penelitian

 
11

sebelumnya. Akan tetapi pernah ada yang meneliti tentang yang terkait dengan jasa

layanan angkutan kereta api, yaitu :

- Tesis Satria Data Pambudi pada Program Magister Hukum Universitas Islam

Indonesia, Yogyakarta, 2009 yang berjudul “ Perlindungan Hukum Terhadap

Konsumen Jasa Layanan Angkutan Kereta Api”. Adapun permasalahan yang

dibahas adalah : 1). Bagaimana perlindungan hukum terhadap konsumen pada

jasa layanan angkutan kereta api, 2) Solusi apa yang dapat ditempuh agar

perlindungan konsumen pada angkutan kereta api dapat tercapai. 4

Tesis tersebut mengkaji lebih umum kepada perlindungan hukum terhadap

kepentingan konsumen dan upaya perlindungan hukum atas kerugian yang

dialami oleh konsumen seandainya terjadi kecelakaan, dll.

Sedangkan pada tesis ini lebih difokuskan pada bagaimana perlindungan

konsumen dalam hal ini terhadap penerapan hak-hak konsumen sebagaimana

diatur pada Peraturan Menteri Perhubungan Nomor 48 Tahun 2015 tentang

Satandar Pelayanan Minimum Angkutan Orang dengan Kereta Api dalam

pelaksanaannya di lapangan ditinjau dari Undang-Undang Perlindungan

Konseumen serta bagaimana Implementasi dan upaya yang dilakukan oleh

penyelenggara jasa kereta api dalam pemenuhan atas hak-hak konsumen tersebut.

                                                            
4
 Satria Data Pambudi, Perlindungan Hukum Terhadap Konsumen Jasa Layanan Angkutan Kereta Api, 
UII,Yogyakarta, 2009 

 
BAB II

PERLINDUNGAN KONSUMEN DAN PENYELENGGARAAN ANGKUTAN


PERKERETAAPIAN

A. Perlindungan Konsumen

1. Pengertian Hukum Perlindungan Konsumen

Masalah yang menimpa konsumen di Indonesia sering terjadi. Selama

beberapa dasawarsa sejumlah peristiwa penting yang menyangkut keamanan dan

keselamatan konsumen dalam mengkonsumsi barang dan/atau jasa mencuat

kepermukaan sebagai keprihatinan nasional yang tak kunjung mendapat perhatian

dari sisi perlindungan hukum bagi para konsumen. Abdul Hakim Garuda Nusantara

(1988) mengemukakan keherannya mengapa masalah perlindungan konsumen yang

jelas menyangkut hajat hidup orang banyak kurang mendapat perhatian.6 Konsumen

selalu menjadi pihak yang lemah jika dibandingkan dengan posisi pelaku usaha atau

produsen. Perlu dilakukan peningkatan upaya untuk menegakkan hak-hak konsumen.

Upaya terpenting dalam memberikan perlindungan konsumen adalah melalui

peraturan perundang-undangan dan tentunya penerapannya.

Az. Nasution menjelaskan bahwa terdapat perbedaan antara pengertian hukum

konsumen dan hukum perlindungan konsumen, kedua istilah itu berbeda, yaitu bahwa

                                                            
6
Yusuf Shofie, Perlindungan Konsumen & Instrumen-nstrumen Hukumnya, Bandung, Citra Aditya
Bakti, 2009, hal. 21.
13

hukum perlindungan konsumen adalah bagian dari hukum konsumen. Hukum

konsumen menurut beliau adalah :

“Keseluruhan asas-asas dan kaidah-kaidah yang mengatur hubungan


dan masalah penyediaan dan penggunaan produk (barang dan/atau
jasa) antara penyedia dan penggunanya dalam kehidupan
bermasyarakat”.7

Selanjutnya, hukum perlindungan konsumen diartikan sebagai :

“Keseluruhan asas-asas dan kaidah-kaidah yang mengatur dan


melindungi konsumen dalam hubungan dan masalah penyediaan dan
penggunaan produk (barang dan/atau jasa) konsumen antara penyedia
dan penggunanya, dalam kehidupan bermasyarakat”.8

Pada dasarnya, baik hukum konsumen maupun hukum perlindungan

konsumen membicarakan hal yang sama, yaitu kepentingan hukum (hak-hak)

konsumen. Bagaimana hak-hak konsumen itu diakui dan diatur di dalam hukum serta

bagaimana ditegakkan di dalam praktik hidup bermasyarakat, itulah yang menjadi

materi pembahasannya. Dengan demikian, hukum perlindungan konsumen atau

hukum konsumen dapat diartikan sebagai keseluruhan peraturan hukum yang

mengatur hak-hak dan kewajiban-kewajiban konsumen dan produsen yang timbul

dalam usahanya untuk memenuhi kebutuhannya.

Sidabalok menyebutkan bahwa perlindungan konsumen adalah istilah yang

dipakai untuk menggambarkan perlindungan hukum yang diberikan kepada

                                                            
7
Az. Nasution, Hukum Perlindungan Konsumen Suatu Pengantar, Jakarta, Diadit Media, 2011, hal. 37
8
Ibid.
14

konsumen dalam usahanya untuk memenuhi kebutuhannya dari hal-hal yang dapat

merugikan konsumen itu sendiri.9

Secara yuridis berdasarkan Pasal 1 angka 1 Undang-undang nomor 8 tahun

1999, perlindungan konsumen adalah segala upaya yang menjamin adanya kepastian

hukum untuk memberikan perlindungan kepada konsumen.10 Selanjutnya, yang

dimaksud dengan konsumen berdasarkan Pasal 1 angka 2 Undang-undang nomor 8

tahun 1999 adalah setiap orang pemakai barang dan/atau jasa yang tersedia dalam

masyarakat, baik bagi kepentingan diri sendiri, keluarga, orang lain maupun makhluk

hidup lain dan tidak untuk diperdagangkan. Pengertian ini kemudian diperjelas pada

bagian penjelasan Pasal 1 angka 2, yaitu bahwa di dalam kepustakaan ekonomi

dikenal istilah konsumen akhir dan konsumen antara. Konsumen akhir adalah

pengguna atau pemanfaat akhir dari suatu produk, sedangkan konsumen antara adalah

konsumen yang menggunakan suatu produk sebagai bagian dari proses suatu produk

lainnya. Adapau pengertian konsumen dalam Undang-undang nomor 8 tahun 1999

adalah konsumen akhir.

Pentingnya perlindungan konsumen dilatarbelakangi oleh beberapa hal

sebagaimana dikemukakan Yusuf Shofie berikut:11

                                                            
9
Janus Sidabalok, Hukum Perlindungan Konsumen di Indonesia, Bandung Citra aditya Bakti, 2010,
hal.9
10
Undang-Undang No. 8 Tahun 1999 tentang Perlindungan Konsumen, hal 2.
11
Yusuf Shofie, Prilaku Usaha, Konsumen, dan Tindakan Pidana Koorporasi, cet 1, Jakarta Ghalia
Indonesia, 2002, hal 27-28.
15

a. Terdapat perubahan-perubahan mendasar dalam pasar konsumen, dimana

konsumen sering tidak memiliki posisi untuk melakukan evaluasi yang memadai

terhadap produk barang dan jasa yang diterimanya;

b. Metode periklanan modern melakukan disinformasi kepada konsumen daripada

memeberikan informasi secara memadai;

c. Konsumen berada pada posisi tawar yang tidak seimbang karena kesulitan-

kesulitan dalam memperoleh informasi yang memadai;

d. Gagasan paternalisme melatarbelakangi lahirnya UU perlindungan konsumen,

dimana ada rasa terhadap kemampuan konsumen melindungi dirinya sendiri

akibat resiko keuangan yang dapat diperkirakan atau resiko kerugian fisik.

Keingingan mewujudkan suatu peraturan yang melindungi konsumen di

Indonesia sudah dinantikan semenjak tahun 1980-an. Akhirnya pada tanggal 20 April

1999, UU Perlindungan Konsumen diundangkan oleh Presiden B.J.Habibi. Dengan

diundangkannya peraturan tersebut, perlindungan konsumen ditempatkan ke dalam

suatu koridor hukum perlindungan konsumen yang merupakan bagian dari sistem

hukum nasional.12

2. Asas dan Tujuan Perlindungan Konsumen

Perlindungan konsumen diselenggarakan sebagai usaha bersama berdasarkan

lima asas yang relevan dalam pembangunan nasional, yaitu: (i) asas manfaat; (ii)

keadilan; (iii) keseimbangan; (iv) keselamatan konsumen; dan (v) kepastian hukum.
                                                            
12
Ibid.
16

Menurut AZ Nasution, asas manfaat adalah segala upaya dalam menyelenggarakan

perlindungan konsumen harus memberikan manfaat sebesar-besarnya bagi

kepentingan konsumen dan pelaku usaha secara keseluruhan.13 Asas manfaat menurut

Undang-Undang Nomor 8 Tahun 1999 dimaksudkan untuk mengamanatkan bahwa

segala upaya dalam penyelenggaraan perlindungan konsumen harus memberikan

manfaat sebesarbesarnya bagi kepentingan konsumen dan pelaku usaha secara

keseluruhan.

Asas keadilan adalah memberikan kesempatan kepada konsumen dan pelaku

usaha untuk memperoleh haknya dan melaksanakan kewajibannya secara adil.14

Menurut Undang-Undang Nomor 8 Tahun 1999, asas keadilan dimaksudkan agar

partisipasi seluruh rakyat dapat diwujudkan secara maksimal dan memberikan

kesempatan kepada konsumen dan pelaku usaha untuk memperoleh haknya dan

melaksanakan kewajibannya secara adil. Asas keseimbangan adalah memberikan

keseimbangan antara kepentingan konsumen, pelaku usaha dan pemerintah dalam arti

materiil maupun spiritual. Menurut Undang-Undang Nomor 8 Tahun 1999, Asas

keseimbangan dimaksudkan untuk memberikan keseimbangan antara kepentingan

konsumen, pelaku usaha dan pemerintah dalam arti materiil ataupun spiritual.

Asas keamanan dan keselamatan konsumen adalah untuk memberikan

jaminan atas keamanan dan keselamatan kepada konsumen dalam penggunaan,

                                                            
13
Nasution , Op.cit. hal. 160.
14
Ibid.
17

pemakaian dan pemanfaatan barang dan/atau jasa yang dikonsumsi atau digunakan.15

Menurut Undang-Undang Nomor 8 Tahun 1999, asas keamanan dan keselamatan

konsumen dimaksudkan untuk memberikan jaminan atas keamanan dan keselamatan

kepada konsumen dalam penggunaan, pemakaian dan pemanfaatan barang dan/atau

jasa yang dikonsumsi atau digunakan.

Asas kepastian hukum adalah bahwa baik pelaku maupun konsumen mentaati

hukum dan memperoleh keadilan dalam penyelenggaraan perlindungan konsumen

serta negara menjamin kepastian hukum.16 Menurut Undang-Undang Nomor 8 Tahun

1999, asas kepastian hukum dimaksudkan agar baik pelaku usaha maupun konsumen

menaati hukum dan memperoleh keadilan dalam penyelenggaraan perlindungan

konsumen, serta negara menjamin kepastian hukum.

Sementara itu, berdasarkan Pasal 3 Undang-undang Nomor 8 Tahun 1999

tujuan perlindungan konsumen meliputi:17

a. meningkatkan kesadaran, kemampuan dan kemandirian konsumen untuk

melindungi diri;

b. meningkatkan harkat dan martabat konsumen dengan cara menghindarkan dari

ekses negatif pemakaian barang dan/atau jasa;

c. meningkatkan pemberdayaan konsumen dalam memilih, menentukan dan

menuntuk hak-haknya sebagai konsumen;

                                                            
15
Ibid.
16
Ibid.
17
Undang-Undang No. 8 Tahun 1999, Pasal 3.
18

d. menetapkan sistem perlindungan konsumen yang mengandung unsur kepastian

hukum dan keterbukaan informasi serta akses untuk mendapatkan informasi;

e. menumbuhkan kesadaran pelaku usaha mengenai pentingnya perlindungan

konsumen, sehingga tumbuh sikap yang jujur dan bertanggung jawab dalam

berusaha;

f. meningkatkan kualitas barang dan/atau jasa yang menjamin kelangsungan usaha

produksi barang dan/atau jasa, kesehatan, kenyamanan, keamanan dan

keselamatan konsumen.

3. Pihak-Pihak yang Terkait dalam Hukum Perlindungan Konsumen

Konsumen

Dalam hukum perlindungan konsumen, terdapat pihak-pihak yang terkait,

yaitu konsumen, pelaku usaha, pemerintah, lembaga perlindungan konsumen

swadaya masyarakat, dan badan perlindungan konsumen nasional.

Konsumen menurut Pasal 1 angka 2 Undang-Undang Nomor 8 Tahun 1999

adalah “Setiap orang pemakai barang dan/atau jasa yang tersedia dalam masyarakat,

baik bagi kepentingan didi sendiri, keluarga, oranglain, maupun makhluk hidup lain

dan tidak untuk diperdagangkan.18

Konsumen umumnya diartikan sebagai pemakai terakhir dari produk yang

diserahkan kepada mereka oleh pengusaha, yaitu setiap orang yang mendapatkan

                                                            
18
Undang-Undang No. 8 Tahun 1999, Pasal 1
19

barang untuk dipakai dan tidak untuk diperdagangkan atau diperjualbelikan lagi.19

Adapun konsumen sebagaimana disebutkan dalam penjelasan Pasal 1 angka 2

Undang-Undang Nomor 8 Tahun 1999 adalah konsumen akhir yang dikenal dalam

kepustakaan ekonomi, yaitu pengguna atau pemanfaat akhir dari suatu produk.

Dengan demikian dapat dikatakan bahwa semua orang adalah konsumen karena

membutuhkan barang dan jasa untuk mempertahankan hidupnya sendiri, keluarganya,

ataupun untuk memelihara/merawat harta bendanya.20

Pelaku usaha atau yang lebih di kenal dengan istilah produsen sering diartikan

sebagai pengusaha yang menghasilkan barang dan/atau jasa. Pengertian pelaku usaha

juga telah dirumuskan dalam Pasal 1 angka 3 Undang-Undang Nomor 8 Tahun 1999,

yaitu setiap orang perseorangan atau badan usaha, baik yang berbentuk badan hukum

maupun bukan badan hukum yang didirikan dan berkedudukan atau melakukan

kegiatan dalam wilayah hukum Negara Republik Indonesia, baik sendiri maupun

besama-sama melalui perjanjian menyelenggarakan kegiatan usaha berbagai bidang

ekonomi. Selanjutnya, dalam penjelasannya disebutkan bahwa pelaku usaha yang

termasuk dalam pengertian ini adalah perusahaan, korporasi, koperasi, BUMN,

koperasi, importir, pedagang, distributor, dan lainlain.

                                                            
19
Janus Sidabalok, Hukum Perlindungan Konsumen di Indonesia, Bandung PT Citra Aditya Bakti,
2014, hal. 14.
20
Ibid., hal. 15.
20

Sebagai penyelenggara kegiatan usaha, pelaku usaha adalah pihak yang harus

bertanggung jawab atas akibat-akibat negatif berupa kerugian yang ditimbulkan oleh

usahanya terhadap pihak ketiga, yaitu konsumen, sama seperti seorang produsen.21

Pemerintah merupakan pihak yang memiliki peran sebagai pengayom dan

penengah di antara dua kepentingan yaitu pengusaha dan konsumen. Tujuannya agar

masing-masing pihak tersebut dapat berjalan beriringan tanpa saling merugikan satu

sama lain. Dalam hal ini pemerintah harus bersikap adil dan tidak berat sebelah.

Keterlibatan pemerintah ini juga telah diamanatkan dalam Undang-Undang Dasar

1945 bahwa kehadiran negara antara lain adalah untuk menyejahterakan rakyat.

Dalam Undang-Undang Nomor 8 Tahun 1999, Pemerintah diberi amanat sebagai

pembina dan pengawas.

Sebagai pembina dalam Pasal 29 ayat (1) Undang-Undang Nomor 8 Tahun

1999 disebutkan bahwa Pemerintah bertanggung jawab atas pembinaan

penyelenggaraan perlindungan konsumen yang menjamin diperolehnya hak

konsumen dan pelaku usaha serta dilaksanakannya kewajiban konsumen dan pelaku

usaha.22

Wewenang pemerintah menyelenggarakan pembinaan adalah sebagai bentuk

upaya untuk menciptakan iklim usaha dan hubungan yang sehat anatara konsumen

dan pelaku usah, mengembangkan lembaga perlindungan konsumen swadaya

                                                            
21
Ibid., hal 14
22
Undang-Undang No. 8 Tahun 1999, Pasal 29 ayat (1).
21

masyarakat dan meingkatkan kualitas sumber daya manusia dan penelitian serta

pengembangan perlindungan konsumen.23

Sementara dalam Pasal 30 ayat (1) dan ayat (4) Undang-Undang Nomor 8

Tahun 1999 disebutkan bahwa pengawasan terhadap penyelenggaraan perlindungan

konsumen serta penerapan ketentuan peraturan perundang-undangannya

diselenggarakan oleh pemerintah, masyarakat, dan lembaga perlindungan konsumen

swadaya masyarakat. Apabila hasil pengawasan tersebut meyimpang dari peraturan

perundang-undangan yang berlaku dan membahayakan konsumen, maka pemerintah

mengambil tindakan sesuai dengan peraturan perundang-undangan yang berlaku.

Lembaga Perlindungan Konsumen Swadaya Masyarakat (LPKSM) didirikan

dengan tujuan sebagai pelindung bagi kepentingan dari salah satu pihak yang merasa

dirugikan oleh pihak lain baik pihak konsumen maupun pihak pelaku usaha. Selain

pengawasan yang dilakukan oleh pemerintah sebagaimana disebutkan dalam Pasal 30

ayat (1) Undang-Undang Nomor 8 Tahun 1999, pengawasan juga di selenggarakan

oleh lembaga perlindungan konsumen swadaya masyarakat. Hasil pengawasan

tersebut dapat disebarluaskan kepada masyarakat dan dapat disampaikan kepada

pemerintah.

Adapun tugas lembaga perlindungan konsumen swadaya masyarakat meliputi

kegiatan:24

                                                            
23
Ibid, Pasal 29 ayat (4).
22

a. menyebarkan informasi dalam rangka meningkatkan kesadaran atas hak dan

kewajiban dan kehati-hatian konsumen dalam mengonsumsi barang dan/atau jasa;

b. memberikan nasihat kepada konsumen yang memerlukannya;

c. bekerja sama dengan instansi terkait dalam upaya mewujudkan perlindungan

konsumen;

d. membantu konsumen dalam memperjuangkan haknya, termasuk menerima

keluhan atau pengaduan konsumen;

e. melakukan pengawasan bersama pemerintah dan masyarakat terhadap

pelaksanaan perlindungan konsumen.

YLKI yang berlokasi di Jakarta merupakan organisasi yang pertama,

selanjutnya diikuti dengan organisasi konsumen lain di berbagai daerah, seperti

Yogyakarta, Medan, Makasar, Bandung, Surabaya dan kota lainnya. Sebelum

Undang-Undang Nomor 8 Tahun 1999 disahkan, paling tidak baru ada sekitar belasan

organisasi konsumen di Indonesia. Namun setelah Undang-Undang tersebut berlaku,

terbentuklah LPKSM di daerah tingkat II (kabupaten/kota). Saat ini sudah hamper

300-an, LPKSM yang tercatat di Direktorat Perlindungan Konsumen dan Tertib

Niaga, Kementerian Perdagangan Republik Indonesia.25

                                                                                                                                                                         
24
Ibid., Pasal 30
25
http://ylki.or.id/2016/12/pelembagaan-perlindungan-konsumen.
23

Untuk menunjukkan kesungguhan terhadap perlindungan konsumen dan

dalam rangka mengembangkan upaya perlindungan konsumen dibentuklah Badan

Perlindungan Konsumen Nasional (BPKN) yang keanggotaanya terdiri atas unsur

pemerintah, pelaku usaha, lembaga perlindungan konsumen swadaya masyarakat,

akademisi, dan tenaga ahli.

Dalam menjalankan fungsinya untuk memberikan saran dan pertimbangan

kepada pemerintah dalam upaya mengembangkan perlindungan konsumen

sebagaimana disebutkan dalam Pasal 33 Undang-Undang Nomor 8 Tahun 1999,

BPKN mempunyai tugas sebagai berikut: 26

a. memberikan saran dan rekomendasi kepada pemerintah dalam rangka penyusunan

kebijaksanaan di bidang perlindungan konsumen;

b. melakukan penelitian dan pengkajian terhadap peraturan perundang-undangan

yang berlaku di bidang perlindungan konsumen;

c. melakukan penelitian terhadap barang dan/atau jasa yang menyangkut

keselamatan konsumen;

d. mendorong berkembangnya lembaga perlindungan konsumen swadaya

masyarakat;

                                                            
26
Undang-Undang No. 8 Tahun 1999, Pasal 34.
24

e. menyebarluaskan informasi melalui media mengenai perlindungan konsumen dan

memasyarakatkan sikap keberpihakan kepada konsumen;

f. menerima pengaduan tentang perlindungan konsumen dari masyarakat, lembaga

perlindungan konsumen swadaya, atau pelaku usaha;

g. melakukan survey yang menyangkut kebutuhan konsumen.

Menurut YLKI, Badan Perlindungan Konsumen Nasional seharusnya menjadi

menjadi institusi independen yang paling tinggi dan bergengsi dalam bidang

perlindungan konsumen. BPKN bertanggung jawab langsung pada Presiden. BPKN

berperan dalam menentukan arah dan kebijakan perlindungan konsumen di Indonesia.

Kenyataannya, belum cukup terlihat hasil nyata sepak terjangnya bagi perlindungan

konsumen Indonesia. Hal ini disebabkan kewenangannya yang sebatas memberi saran

dan pertimbangan pada Pemerintah.

Menurut Pasal 1 butir 11 Undang-Undang Nomor 8 Tahun 1999, Badan

Penyelesaian Sengketa Konsumen (BPSK) adalah badan yang bertugas menangani

dan menyelesaikan sengketa antara pelaku usaha dan konsumen. BPSK adalah

institusi yang juga didorong untuk dibentuk di daerah tingkat II (kabupaten/kota)

sebagai alternatif tempat penyelesaian sengketa di luar pengadilan. Badan ini

seharusnya mempunyai kewenangan cukup untuk menghasilkan keputusan final bagi

konsumen, dan pelaku usaha wajib melakanakan putusan yang telah ditetapkan.
25

Kenyaannya, BPSK ternyata tidak kuasa memaksa pelaku usaha yang bermasalah

untuk datang memenuhi panggilan. Juga, putusan BPSK pun tidak otomatis

berkekuatan hukum tetap, namun tetap saja harus disahkan terlebih dahulu oleh

pengadilan negeri.

4. Kewajiban dan Hak Konsumen

Berdasarkan Pasal 5 Undang-undang Nomor 8 Tahun 1999, konsumen

berkewajiban sebagai berikut :27

a. Membaca, mengikuti petunjuk informasi dan prosedur pemakaian atau

pemanfaatan barang dan/atau jasa demi keamanan dan keselamatan;

b. Beritikat baik dalam melakukan transaksi pembelian barang dan/atau jasa;

c. Membayar sesuai dengan nilai tukar yang disepakati;

d. Mengikuti upaya penyelesaian hukum sengketa perlindungan konsumen

secara patut.

Kewajiban tersebut sangat berguna bagi konsumen agar selalu berhati-hati

dalam melakukan transaksi ekonomi dan hubungan dagang dengan pihak pelaku

usaha sehingga konsumen dapat terlindungi dari kemungkinan-kemungkinan masalah

yang akan menimpanya.

Di samping memiliki beberapa tanggung jawab, dalam hal mengunakan jasa

atau membeli produk tertentu, konsumen di samping memiliki hak-hak yang harus

dipenuhi. Hak-hak yang merupakan hak dasar konsumen, untuk pertama kali
                                                            
27
Undang-Undang No. 8 Tahun 1999, Pasal 5
26

dikemukakan oleh Presiden Amerika Serikat J.F. Kennedy di depan kongres Amerika

Serikat pada tahun 1962 yang terdiri atas :28

a. Hak memperoleh keamanan (the right to be secured)

Setiap konsumen berhak memperoleh perlindungan dan rasa aman atas barang

dan/tau jasa yan. g dikonsumsinya;

b. Hak memilih (the right to choose)

Setiap konsumen berhak memilih produk barang dan/atau jasa tidak boleh dalam

kondisi tertekan atau dibawah pemaksaan sehingga dapat merugikan haknya;

c. Hak mendapat informasi (the right to be informed)

Setiap konsumem berhak memperoleh informasi uang jelas dan komrehensif

tentang suatu produk barang dan/atau jasa yang dikonsumsinya. Akses terhadap

informasi sangat penting karena konsumen dapat mengetahui bagaimana kondisi

barang dan/atau jasa yang akan dikonsumsi;

d. Hak untuk didengar ( the right to be hear)

Konsumen harus memperoleh haknya bahwa kebutuhan dan keluhannya dapat

didengarkan baik oleh pelaku usaha yang bersangkutan maupun oleh lembaga-

lembaga perlindungan konsumen yang memperjuangkan hak konsumen.

Disamping itu, Masyarakat Ekonomi Eropa (Europese Ekonomische

Gemeenschap atau EEG) juga telah menyepakati lima hak dasar konsumen sebagai

berikut:29

                                                            
28
Yunus Sidabalok, Hukum Perlindungan Konsumen di Indonesia, Bandung 2014 hal. 31.
29
Ibid., hal. 31.
27

a. Hak perlindungan kesehatan dan keamanan;

b. Hak perlindungan kepentingan ekonomi;

c. Hak mendapat ganti rugi;

d. Hak atas penerangan;

e. Hak untuk didengar.

Secara yuridis hak konsumen telah diatur pada Pasal 4 Undang-Undang

nomor 8 Tahun 1999, yaitu:30

a. Hak atas kenyamanan, keamanan dan keselamamatan dalam mengkonsumsi

barang dan/atau jasa;

b. Hak untuk memilih barang dan/atau jasa serta mendapatkan barang dan/atau jasa

tersebut sesuai dengan nilai tukar dan kondisi serta jaminan yang dijanjikan;

c. Hak atas informasi yang benar, jelas dan jujur mengenai kondisi dan jaminan

barang dan/atau jsa;

d. Hak untuk didengar pendapat dan keluhannya atas barang dan/atau jasa yang

digunakan;

e. Hak untuk mendapatkan advokasi, perlindungan dan upaya penyelesaian sengketa

perlindungan konsumen secara patut;

f. Hak untuk mendapat pembinaan dan pendidikan konsumen;

g. Hak untuk diperlakukan atau dilayani secara benar dan jujur serta tidak

diskriminatif;

                                                            
30
Kartika Sari Elsi dan Simangunsong Advendi, Hukum Dalam Ekonomi, Jakarta, Gramedia
Widiasarana Indonesia, 2007, hal. 161.
28

h. Hak untuk mendapatkan kompensasi, ganti rugi dan/atau penggantian apabila

barang dan/atau jasa yang diterima tidak sesuai dengan perjanjian atau tidak

sebagaimana mestinya;

i. Hak-hak yang diatur dalam ketentuan peraturan perundang-undangan lainnya.

Dari sembilan butir hak konsumen yang tercantum dalam Undang-Undang

Perlindungan Konsumen di atas, dapat dilihat bahwa masalah kenyamanan,

keamanan, dan keselamatan konsumen merupakan hal yang paling pokok dan utama

dalam perlindungan konsumen. Untuk menjamin bahwa barang dan/atau jasa dalam

penggunaannya akan memberikan keamanan, kenyamanan maupun tidak

membahayakan penggunanya, maka konsumen diberikan hak untuk memilih barang

dan/atau jasa yang dikehendakinya berdasarkan keterbukaan atas informasi yang

benar, jelas, dan jujur. Apabila terdapat penyimpangan yang merugikan konsumen

berhak untuk didenganr, memperoleh advokasi, pembinaan, perlakuan yang adil,

kompensasi sampai ganti rugi.

5. Kewajiban, Hak, dan Prinsip Tanggung |Jawab Pelaku Usaha Kewajiban

Pelaku Usaha

Sebagai konsekuensi dari hak konsumen sebagaimana uraian di atas, pelaku

usaha dibebankan kewajiban-kewajiban yang diatur dakam Undang-Undang Nomor 8

Tahun 1999 sebagai berikut:31

a. Beritikat baik dalam melakukan usahanya;

                                                            
31
Undang-Undang No. 8 Tahun 1999, Pasal 7.
29

b. Memberikan informasi yang benar, jelas, dan jujur mengenai kondisi jaminan

barang dan/atau jasa serta memberikan penjelasan penggunaan, perbaikan, dan

pemeliharaan;

c. Memperlakukan atau melayani konsumen secara benar dan jujur, secara tidak

diskriminatif. Pelaku usaha dilarang membedabedakan konsumen dalam

memberikan pelayanan. Pelaku usaha dilarang membedabedakan mutu pelayanan

kepada konsumen;

d. Menjamin mutu barang dan/atau jasa yang diproduksi dan/atau diperdagangkan

berdasarkan ketentuan standar mutu dan/atau jasa yang berlaku;

e. Memberikan kesempatan kepada konsumen untuk menguji dan/atau mencoba

barang dan/atau jasa tertentu serta memberikan jaminan dan/atau garansi atas

barang yang dibuat dan/atau diperdagangkan, yaitu barang yang dapat diuji atau

dicoba tanpa mengakibatkan kerusakan atau kerugian.

f. Memberi kompensasi.kanti rugi dan atau penggantuian atas kerugian akibat

penggunaan, pemakaian, dan pemanfaatan barang dan/atau jasa yang

diperdagangkan; dan

g. Memberikan konpensasi, ganti rugi dan/atau penggantian apabila barang dan/atau

jasa yang diterima atau dimanfaatkan tidak sesuai dengan perjanjian.


30

6. Hak dan Tanggung Jawab Pelaku Usaha

Untuk memberikan keseimbangan kepada pelaku usaha atas hak-hak

konsumen, Pasal 6 Undang-Undang Nomor 8 Tahun 1999 menegaskan mengenai

hak-hak pelaku usaha sebagai berikut:32

a. Hak untuk menerima pembayaran yang sesuai dengan kesepakatan mengenai

kondisi dan nilai tukar barang dan/atau jasa yang diperdagangkan;

b. Hak untuk mendapatkan perlindungan hukum dari tindakan konsumen yang

beritikat tidak baik;

c. Hak untuk melakukan pembelaan diri sepatutnya di dalam penyelesaian hukum

sengketa konsumen;

d. Hak untuk rehabilitasi nama baik apabila terbukti secara hukum bahwa kerugian

konsumen tidak diakibatkan oleh barang/atau jasa yang diperdagangkan;

e. Hak-hak yang diatur dalam ketentuan peraturan perundang-undangan lainnya.

Dalam melaksanakan kegiatan usaha (memproduksi barangdan/atau jasa),

pelaku usaha tidak semata-mata mencari keuntungan sebesar mungkin tetapi juga

harus memperhatikan kepentingan konsumen. Oleh karena itu selain memiliki hak,

pelaku usaha juga dituntut atan tanggung jawabnya. Pelaku usaha bertanggung jawab

atas barang dan/atau jasa yang diproduksinya.

Pasal 19 ayat (1) Undang-Undang Nomor 8 Tahun 1999 menyebutkan bahwa

pelaku usaha bertanggung jawab memberikan ganti rugi atas kerusakan, pencemaran,

                                                            
32
Undang-Undang No. 8 Tahun 1999, Pasal 6.
31

dan/atau kerugian konsumen akibat mengkonsumsi barang dan/atau jasa yang

dihasilkan atau diperdagangkan.

Ganti rugi dimaksud berdasarkan Pasal 19 ayat (2) dapat berupa

pengembalian uang atau penggantian barang dan/atau jasa yang sejenis atau setara

nilainya, atau perawatan kesehatan dan/atau pemberian santunan yang sesuai dengan

ketentuan peraturan perundang-undangan yang berlaku. 33

B. Penyelenggaraan Angkutan Perkeretaapian

1. Instrumen Hukum Perkeretaapian

Penyelenggaraan angkutan perkerataapian dengan diatur dengan instrumen

hukum yang secara khusus mengatur mengenai perkeretaapian, yaitu dengan

diberlakukannya Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 23 Tahun 2007 tentang

Perkeretaapian (UU No. 23 Tahun 2007). Adapun pemberlakuan UU No. 23 Tahun

2007 tersebut berlatar belakang pertimbangan bahwa transportasi mempunyai

peranan penting dalam mendukung pertumbuhan ekonomi, pengembangan wilayah

dan pemersatu wilayah Negara Kesatuan Republik Indonesia dalam rangka

mewujudkan Wawasan Nusantara, serta memperkukuh ketahanan nasional dalam

usaha mencapai tujuan nasional berdasarkan Pancasila dan Undang-Undang Dasar

Negara Republik Indonesia Tahun 1945.34

                                                            
33
Ibid., Pasal 19.
34
Lihat bagian “Menimbang” UU No. 23 Tahun 2007.
32

Perkeretaapian sebagai salah satu moda transportasi dalam sistem transportasi

nasional yang mempunyai karakteristik pengangkutan secara massal dan keunggulan

tersendiri, yang tidak dapat dipisahkan dari moda transportasi lain, perlu

dikembangkan potensinya dan ditingkatkan peranannya sebagai penghubung wilayah,

baik nasional maupun internasional, untuk menunjang, mendorong, dan

menggerakkan pembangunan nasional guna meningkatkan kesejahteraan rakyat.35

Undang-Undang Nomor 13 Tahun 1992 oleh pembentuk UU No. 23 Tahun

2007, dinilai sudah tidak sesuai lagi dengan kebutuhan dan perkembangan hukum

dalam masyarakat, perkembangan zaman, serta ilmu pengetahuan dan teknologi.

Berdasarkan latar belakang tersebut, dirasakan perlu untuk membentuk Undang-

Undang tentang Perkeretaapian yang baru.

Pada tahun 2009 diberlakukan Peraturan Pemerintah Republik Indonesia

Nomor 72 Tahun 2009 tentang Lalu Lintas dan Angkutan Kereta Api. Peraturan

Pemerintah Nomor 72 Tahun 2009 dimaksudkan sebagai peraturan yang

melaksanakan beberapa ketentuan pada Undang-Undang Nomor 23 Tahun 2007,

yaitu: ketentuan Pasal 126, Pasal 129, Pasal 138, Pasal 146, Pasal 150, Pasal 156,

Pasal 160, Pasal 163, Pasal 165, dan Pasal 171 Undang-Undang Nomor 23 Tahun

2007 tentang Perkeretaapian, perlu menetapkan Peraturan Pemerintah tentang Lalu

Lintas dan Angkutan Kereta Api.

                                                            
35
Ibid.
33

Peraturan Menteri Perhubungan Nomor PM. 48 Tahun 2015 dimaksudkan

sebagai peraturang yang melaksanakan ketentuan Pasal 9 Peraturan Pemerintah

Nomor 96 Tahun 2012 tentang Pelaksanaan Undang-Undang Nomor 25 Tahun 2009

tentang Pelayanan Publik dan ketentuan Pasal 135 Peraturan Pemerintah Nomor 72

Tahun 2009.

Peraturan Menteri Perhubungan Nomor PM. 48 Tahun 2015 merupakan

peraturan yang mengganti peraturan sebelumnya yang ditandatangani pada tahun

sebelumnya, yaitu Peraturan Menteri Perhubungan Nomo 47 Tahun 2014 tentang

Standar Pelayanan Minimum untuk Angkutan Orang dengan Kereta Api. Peraturan

Menteri Perhubungan Nomo 47 Tahun 2014 ini mencabut dan menyatakan tidak

berlaku terhadap Peraturan Menteri Perhubungan Republik Indonesia Nomor PM. 9

Tahun 2011 tentang Standar Pelayanan Minimum untuk Angkutan Orang dengan

Kereta Api.

2. Pengertian Kereta Api dan Perkeretaapian

Kereta api berdasarkan Pasal 1 butir 1 Undang-Undang Nomor 23 tahun 2007

adalah sarana perkeretaapian dengan tenaga gerak, baik berjalan sendiri maupun

dirangkaikan dengan sarana perkeretaapian lainnya, yang akan ataupun sedang

bergerak di jalan rel yang terkait dengan perjalanan kereta api.

Berdasarkan Pasal 1 butir 2 Peraturan Pemerintah Nomor 72 Tahun 2009,

kereta api adalah sarana perkeretaapian dengan tenaga gerak, baik berjalan sendiri
34

maupun dirangkaikan dengan sarana perkeretaapian lainnya, yang akan ataupun

sedang bergerak di jalan rel yang terkait dengan perjalanan kereta api.

Pasal 1 butir 2 Peraturan Menteri Perhubungan Republik Indonesia Nomor

PM. 48 Tahun 2015 Kereta api adalah sarana perkeretaapian dengan tenaga gerak,

baik berjalan sendiri maupun dirangkaikan dengan sarana perkeretaapian lainnya,

yang akan ataupun sedang bergerak di jalan rel yang terkait dengan perjalanan kereta

api.

Lebih lanjut, perkeretaapian berdasarkan Pasal 1 butir 1 Undang-Undang

Nomor 23 tahun 2007 adalah satu kesatuan sistem yang terdiri atas prasarana, sarana,

dan sumber daya manusia, serta norma, kriteria, persyaratan, dan prosedur untuk

penyelenggaraan transportasi kereta api.

Berdasarkan Pasal 1 butir 1 Peraturan Pemerintah Nomor 72 Tahun 2009,

perkerataapian adalah satu kesatuan sistem yang terdiri atas prasarana, sarana, dan

sumber daya manusia, serta norma, kriteria, persyaratan, dan prosedur untuk

penyelenggaraan transportasi kereta api.

Pasal 1 butir 1 Peraturan Menteri Perhubungan Nomor PM 48 Tahun 2015.

Perkeretaapian adalah satu kesatuan sistem yang terdiri atas prasarana, sarana, dan

sumber daya manusia, serta norma, kriteria, persyaratan, dan prosedur untuk

penyelenggaraan transportasi kereta api.

Berdasarkan Pasal 1 butir 3 berdasarkan Pasal 1 butir 1 Undang-Undang

Nomor 23 tahun 2007, Prasarana perkeretaapian adalah jalur kereta api, stasiun kereta
35

api, dan fasilitas operasi kereta api agar kereta api dapat dioperasikan. Pasal 1 butir 4

Peraturan Menteri Perhubungan Nomor PM 48 Tahun 2015, Jalur kereta api adalah

jalur yang terdiri atas rangkaian petak jalan rel yang meliputi ruang manfaat jalur

kereta api, ruang milik jalur kereta api, dan ruang pengawasan jalur kereta api,

termasuk bagian atas dan bawahnya yang diperuntukkan bagi lalu lintas kereta api.

Terdapat instrumen hukum berupa undang-undang yang tidak tidak secara

khusus mengatur mengenai perkeretaapian, namun tetap relevan dengan

perkeretaapian sebagai pelayanan publik, yaitu Undang-Undang Republik Indonesia

Nomor 25 Tahun 2009 tentang Pelayanan Publik (UU Nomor 25 Tahun 2009). UU

Nomor 25 Tahun 2009 tersebut diberlakukan dengan berlatarbelakangkan

pertimbangan bahwa negara berkewajiban melayani setiap warga negara dan

penduduk untuk memenuhi hak dan kebutuhan dasarnya dalam kerangka pelayanan

publik yang merupakan amanat Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia

Tahun 1945.

Untuk membangun kepercayaan masyarakat atas pelayanan publik yang

dilakukan penyelenggara pelayanan publik merupakan kegiatan yang harus dilakukan

seiring dengan harapan dan tuntutan seluruh warga negara dan penduduk tentang

peningkatan pelayanan publik.

Sebagai upaya untuk mempertegas hak dan kewajiban setiap warga negara

dan penduduk serta terwujudnya tanggung jawab negara dan korporasi dalam
36

penyelenggaraan pelayanan publik, diperlukan norma hukum yang memberi

pengaturan secara jelas.

Sebagai upaya untuk meningkatkan kualitas dan menjamin penyediaan

pelayanan publik sesuai dengan asas-asas umum pemerintahan dan korporasi yang

baik serta untuk memberi perlindungan bagi setiap warga negara dan penduduk dari

penyalahgunaan wewenang di dalam penyelenggaraan pelayanan publik, diperlukan

pengaturan hukum yang mendukungnya.

3. Tujuan dan Asas Penyelenggaraan Perkeretaapian

Perkeretaapian diselenggarakan berdasarkan asas dan tujuan. Adapu tujuan

diselenggarakan perkeretaapian adalah untuk memperlancar perpindahan orang

dan/atau barang secara massal dengan selamat, aman, nyaman, cepat dan lancar,

tepat, tertib dan teratur, efisien, serta menunjang pemerataan, pertumbuhan, stabilitas,

pendorong, dan penggerak pembangunan nasional. Tujuan ini telah diatur pada Pasal

3 UU No. 23 Tahun 2007. Perkeretaapian sebagai sebuah sarana transportasi

memiliki peran yang sangat penting dalam menunjang pembangunan suatu negara.

Mengingat perannya sangat vital dan pengangkutannya yang bersifat massal, maka

perkeretaapian wajib memiliki pedoman dalam penyelenggaraannya. Tujuan dari

adanya pedoman ini adalah agar perkeretaapian dapat dikembangkan secara efektif

dan efisien serta tetap menjamin terselenggaranya pelayanan perkeretapian yang

memadai bagi apa penggunanya.


37

Selain memiliki tujuan, penyelenggaraan perkerataapian dilakukan dengan

berdasarkan beberapa asas. Asas-asas tersebut menjadi pedoman dalam

menyelenggaraan perkeretaapian sebagaimana disebutkan dalam Pasal 2 Undang-

Undang Perkeretaapian sebagai berikut :36

Pertama, asas manfaat, yaitu bahwa perkeretaapian harus dapat memberikan

manfaat yang sebesar-besarnya bagi kemanusiaan, peningkatan kemakmuran rakyat,

kesejahteraan rakyat, dan pengembangan kehidupan yang berkesinambungan bagi

warga negara. Dalam skala kecil, kereta api memiliki manfaat bagi konsumen yang

ingin bepergian ke suatu tempat dengan cepat, biaya terjangkau, aman, dan lancar.

Untuk skala yang lebih luas, yaitu skala nasional, perkeretaapian berperan dalam

menunjang pembangunan di suatu negara. Dengan tingkat kepadatan penduduk yang

sangat besar dan perekonomian yang terus berkembang di Indonesia maka dukungan

dari sektor transportasi terutama perkeretaapian merupakan hal yang penting.

Kedua, asas Keadilan, yaitu bahwa perkeretapian harus dapat memberikan

pelayanan kepada segenap lapisan masyarakat dengan biaya yang terjangkau serta

memberi kesempatan berusaha dan perlindungan yang sama kepada semua pihak

yang terlibat dalam perkeretaapian. Sebgaimana disebutkan dalam Pasal 4 Undang-

undang Perlindungan Konsumen bahwa salah saut hak dari konsumen adalah untuk

memilih barang dan/atau jasa serta mendapatkan barang dan/atau jasa tersebut sesuai

dengan nilai tukar dan kondisi seta jaminan yang dijanjikan. Selain itu pasal tersebut
                                                            
36
Undang-Undang Nomor 23 tahun 2007.
38

juga menjamin pemenuhan hak konsumen untuk diperlakukan atau dilayai secara

benar dan jujur serta tidak diskriminatif.

Ketiga, asas Keseimbangan, yaitu bahwa perkeretaapian harus

diselenggarakan berdasarkan atas dasar keseimbangan antara sarana dan prasaranam

kepentingan pengguna jasa dan penyelenggara, kebutuhan dan ketersediaan,

kepentingan individu dan masyarakat, antar daeran dan antarwilayah, serta antara

kepentingan nasional dan internasional. Agar penyelenggaraan jasa perkeretaapian

dapat berjalan dengan efektif maka harus didasarkan atas adanya kebutuhan daru

masyarakat. Sebagai contoh adalah pembangunan perkeretaapian di daerah

Jabodetabek yang didasarkan atas adanya kebutuhan dari masyarakat akan

transportasi yang lancar, cepat, murah, dan aman. Mengingat sering terjadinya

kemacetan di wilayah Jakarta dan sekitarnya, khusunya pada jam sibuk (peak hour),

sedangkan di sisi lain ratusan ribu penduduk memasuki wilayah Jakarta setiap

harinya., maka penyedia jasa transportasi yang tidak makin membebani badan jalan

sangatlah dibutuhkan. Dalam hal ini kereta api merupakan solusi yang paling tepat.

Namun jika penyelenggaraan perkeretaapian tidak dioptimalkan dengan penyediaan

sarana dan prasarana yang memadai dan sesuai dengan kebutuhan konsumen, kereta

api sebagai sebuah solusi tetap tidak akan dapat diwujudkan.

Keempat, asas kepentingan umum, yaitu bahwa perkeretaapian harus lebih

mengutamakan kepentingan masyarakat luas daripada kepentiangan perseorangan

atau kelompok dengan memperhatikan keselamatan, keamanan, kenyamanan, dan


39

ketertiban. Penyelenggaraan perkeretaapian di wilayah Jabodetabek didasarkan atas

adanya kebutuhan dari masyarakat luas, khusunya masyarakat di wilayah tersebut.

Dalam penyelenggaraan perkeretaapian yang harus diperhatikan adalah sekmen dari

penggunanya. Di wilayah Jabodetabek umumnya pengguna jasa kereta api adalah

mahasiswa, pekerja kantoran, dan masyarakat umum yang menginginkan angkutan

dengan biaya terjangkau. Maka agar perkeretaapian dapat berjalan dengan efektif,

penyedia jasa sebaiknya menyediakan angkutan yang biayanya terjangkau namun

tetap menjamin kenyamanan dan keselamatan dalam penyelenggaraannya

sebagaimana telah diatur dalam Pasal 4 huruf a Undang-undang Perlindungan

Konsumen.

Kelima, asas keterpaduan, yaitu bahwa perkeretaapian harus merupakan satu

kesatuan sistem dan perencanaan yang utuh, terpadu dan terintegrasi serta saling

menunjang, baik antar hierarki, tatana perkeretaapian, intermoda mupun antarmoda

transportasi. Pembangunan jaringan kereta api yang terhubunga dengan pelabuhan

laut dan bandar udara merupakan salah satu pogram jangka panjang pengembangan

sistem jaringan jalur kereta api di Pulau Jawa-Bali sebagai upaya menciptakan

keterpaduan antarmoda tranportasi.37

Keenam, asas kemandirian, yaitu bahwa penyelenggaraan perkeretaapian

harus berlandaskan kepercayaan diri, kemampuan dan potensi produksi dalam negeri,

                                                            
37
Departemen Perhubungan Republik Indonesia, Rencana Kerja Jangka Panjang Departemen
Perhubungan 2005-2025, hal. IV-20
40

serta sumber daya manusiadengan daya inovasi dan kreativitas yang bersendi pada

kedaulatan, martabat, dan kepribadian bangsa. Indonesia memiliki Badan Usaha

Milik Negara (BUMN) yang bergerak di lingkup industri starategis dalam hal

perkeretaapian, yaitu PT Industri Kereta Api (PT INKA) dengan bisnis intinya adalah

manufaktur alat-alat angkutan rel/kereta api. Sebagai produsen sarana kereta api

seharusnya PT INKA dapat dijadikan mitra kerjasama dalam hal penyediaan sarana.

Namun pada kenyataannya penyedia jasa transportasi saat ini lebih memprioritaskan

untuk membeli gerbong dari negara lain, seperti Jepang.

Ketujuh, asas transparansi, yaitu bahwa penyelenggaraan perkeretaapian harus

memberikan ruang kepada masyarakat luas untuk memperoleh informasi yang benar,

jelas, dan jujur sehingga masyarakat mempunyai kesempatan berpartisipasi bagi

kemajuan perkeretaapian. Pada Pasal 4 Undang-Undang Perlindungan Konsumen

juga telah di sebutkan adanya asas transparansi, yaitu dengan menjamin salah satu

hak konsumen, yaitu hak atas informasi yang benar, jelas, dan jujur mengenai kondisi

dan jaminan barang dan/atau jasa. Selain itu, konsumen juga berhak untuk didengar

pendapat dan keluhannya atas barang dan/atau jasa yang digunakan. Informasi yang

benar, jelas, dan jujur serta keterbukaan pihak penyelenggara jasa terhadap segala

kritik akan menjadi penunjang semakin berkembangnya dunia perkeretaapian.

Kedelapan, asas akuntabilitas, yaitu bahwa penyelenggaraaan perkeretaapian

jarus didasarkan pada kinerja yang terukur, dapat dievaluasi, dan dapat

dipertanggungjawabkan kepada masyarakat. Salah satu bentuk perwujudan dari asas


41

akuntabilitas ini adalah pengoperasian sarana dan prasarana perkeretaapian yang

memenuhi standar kelaikan operasi sebagaimana diatur dalam undang-undang

perkeretaapian. Kesembilan, asas berkelanjutan, yaitu bahwa penyelenggaraan

perkeretaapian harus dilakukan secara berkesinambungan, berkembang, dan

meningkat dengan mengikuti kemajuan teknologi dan menjaga kelestarian

lingkungan untuk menjamin terpenuhinya kebutuhan masyarakat. Penyelenggaraan

perkeretaapian harus terus berjalan sesuai dengan kebutuhan masyarakat dan

perkembangana jaman. Agar tetap terjamin berlangsungnya penyelenggaraan

perkeretaapian secara lancar, maka berbagai langkah harus dilakukan, seperti

pengawasan yang baik oleh internal penyelenggara jasa atau oleh pemerintah,

perawatan sarana dan prasarana secara berkelanjutan, dan penyediaan pelayanan yang

memadai bagi konsumen.

4. Jenis Kereta Api dan Fungsi Perkeretaapian

Kereta api dapat dibedakan berdasarkan jenisnya sebagaimana Pasal 4

Undang-Undang Perkeretaapian, yaitu terdiri dari :38

a. kereta api kecepatan normal, yaitu kereta api kecepatan normal adalah kereta api

yang mempunyai kecepatan kurang dari 200 km/jam;

b. kereta api kecepatan tinggi, yaitu kereta api kecepatan tinggi adalah kereta api

yang mempunyai kecepatan lebih dari 200 km/jam;

c. kereta api monorel, yaitu kereta api yang bergerak pada 1 (satu) rel;

                                                            
38
Undang-Undang, Op.cit.Pasal 4 hal. 4
42

d. kereta api motor induksi linear, yaitu kereta api motor induksi linear adalah

kereta api yang menggunakan penggerak motor induksi linear dengan stator pada

jalan rel dan rotor pada sarana perkeretaapian;

e. kereta api gerak udara, yaitu kereta api gerak udara adalah kereta api yang

bergerak dengan mengunakan tekanan udara;

f. kereta api levitasi magnetik, yaitu kereta api levitasi magnetik adalah kereta api

yang digerakkan dengan tenaga magnetik sehingga pada waktu bergerak tidak ada

gesekan antara sarana perkeretaapian dengan jalan rel;

g. trem, yaitu kereta api yang bergerak diatas jalan rel yang sebidang dengan jalan;

h. kereta gantung, yaitunkereta yang bergerak dengan cara menggantung pada tali

baja.

Selain pembagian menurut jenisnya, perkeratapian dapat juga dibedakan

berdasarkan fungsinya sebagaimana Pasal 5 Undang-Undang perkeretaapian, yaitu

perkerataapian umum dan perkeretaapian khusus.39

Perkeretaapian umum adalah perkeretaapian yang digunakan untuk melayani

angkutan orang dan/atau barang dengan di pungut bayaran. Perkeretaapian umum ini

dibagi lagi menjadi perkertaapian perkotaan dan perkeretaapian antarkota.

Perkeretaapian perkotaan adalah perkeretaapian yang melayani perpindahan orang di

wilayah perkotaan dan/atau perjalanan ulak-alik dengan jangkauan seluruh wilayah

administrasi kota dan/atau melebihi wilayah administrasi kota. Dalam hal

perkeretaapian perkotaan berada di wilayah metropolitan disebut kereta api metro.


                                                            
39
Undang-undang, Op. Cit, Penjelasan Pasal 5 Hal 5
43

Di sisi lain, perkeretaapian antarkota adalah perkeretaapian yang melayani

perpindahan orang dan/atau barang dari satu kota ke kota yang lain. Dalam hal

perkeretaapian antarkota melayani angkutan orangdan/atau barang dari satu kota ke

kota di negara lain, disebut kereta api antarnegara.

Perkeretaapian khusus adalah kereta api yang hanya digunakan secara khusus

oleh badan usaha tertentu untuk menunjang kegiatan pokok badan usaha tersebut.

Perkeretaapian hanya digunakan untuk menunjang kegiatan pokok badan usaha

tertentu dan tidak digunakan untuk melayani masyarakat umum.

5. Jaringan Pelayanan Perkeretaapian Perkotaan

Berdasarkan ketentuan Pasal 2 Peraturan Pemerintah Nomor 72 Tahun 2009,

Angkutan kereta api dilaksanakan pada jaringan jalur kereta api dalam lintas

pelayanan kereta api yang membentuk jaringan pelayanan perkeretaapian. Jaringan

pelayanan perkeretaapian sebagaimana dimaksud pada ayat (1), terdiri atas:

a. jaringan pelayanan perkeretaapian antarkota; dan

b. jaringan pelayanan perkeretaapian perkotaan.

Pelayanan angkutan kereta api merupakan layanan kereta api dalam satu lintas

atau beberapa lintas pelayanan perkeretaapian yang dapat berupa bagian jaringan

multimoda transportasi. Pelayanan angkutan kereta api dapat bersifat komersial atau

bersifat penugasan sesuai dengan kebutuhan masyarakat. Ketentuan ini sebagaimana

tercantum pada Pasal 3 Peraturan Pemerintah Nomor 72 Tahun 2009.


44

Pasal 4 Peraturan Pemerintah Nomor 72 Tahun 2009, Lintas pelayanan

sebagaimana dimaksud dalam Pasal 3 ayat (1) ditetapkan dengan memperhatikan:

a. jenis pelayanan yang dibutuhkan masyarakat;

b. kapasitas lintas yang dibutuhkan masyarakat;

c. kebutuhan jasa angkutan pada lintas pelayanan;

d. komposisi jenis pelayanan angkutan kereta api sesuai dengan tingkat pelayanan;

e. keterpaduan intra dan antarmoda transportasi;

f. jarak waktu antarkereta api (headway), jarak antara stasiun dan perhentian;

g. jarak pusat kegiatan dan pusat logistik terhadap terminal/stasiun; dan

h. ketersediaan waktu untuk perpindahan intra dan antarmoda.

Pasal 5 Peraturan Pemerintah Nomor 72 Tahun 2009, Jaringan pelayanan

perkeretaapian merupakan kumpulan lintas pelayanan yang tersambung satu dengan

yang lain menghubungkan lintas pelayanan perkeretaapian dengan pusat kegiatan,

pusat logistik, dan antarmoda.

Berdasarkan ketentuan Pasal 10 Peraturan Pemerintah Nomor 72 Tahun 2009

Jaringan pelayanan perkeretaapian perkotaan yang berada dalam suatu wilayah

perkotaan dapat:

a. melampaui 1 (satu) provinsi;

b. melampaui 1 (satu) kabupaten/kota dalam 1 (satu) provinsi; dan

c. berada dalam 1 (satu) kabupaten/kota.


45

Berdasarkan ketentuan Pasal 11 Peraturan Pemerintah Nomor 72 Tahun 2009,

Jaringan pelayanan perkeretaapian perkotaan yang melampaui 1 (satu) provinsi dan

lintas pelayanan kereta api yang berada pada jaringan jalur kereta api nasional

ditetapkan oleh Menteri. Jaringan pelayanan perkeretaapian perkotaan yang

melampaui 1 (satu) kabupaten/kota dalam 1 (satu) provinsi dan lintas pelayanan

kereta api yang berada pada jaringan jalur kereta api provinsi ditetapkan oleh

gubernur. Jaringan pelayanan perkeretaapian perkotaan yang berada dalam 1 (satu)

kabupaten/kota dan lintas pelayanan kereta api yang berada pada jaringan jalur kereta

api kabupaten/kota ditetapkan oleh bupati/walikota.

Berdasarkan ketentuan Pasal 12 Peraturan Pemerintah Nomor 72 Tahun 2009

jaringan pelayanan perkeretaapian perkotaan yang melampaui 1 (satu) kabupaten/kota

dalam 1 (satu) provinsi dan yang berada dalam 1 (satu) kabupaten/kota dan lintas

pelayanan kereta api yang berada pada jaringan jalur kereta api nasional ditetapkan

oleh Menteri. Jaringan pelayanan perkeretaapian perkotaan yang berada dalam 1

(satu) kabupaten/kota sebagaimana dan lintas pelayanan kereta api yang berada pada

jaringan jalur kereta api provinsi ditetapkan oleh gubernur.

Berdasarkan ketentuan Pasal 13 Peraturan Pemerintah Nomor 72 Tahun 2009,

Menteri, gubernur, atau bupati/walikota sesuai kewenangannya menetapkan lintas

pelayanan atas permohonan penyelenggara sarana perkeretaapian. Menteri, gubernur,

atau bupati/walikota sesuai kewenangannya dapat menolak permohonan penetapan


46

lintas pelayanan dalam hal lintas pelayanan tidak sesuai dengan ketentuan

sebagaimana dimaksud dalam Pasal 4.

Dalam hal adanya kebutuhan angkutan pada suatu lintas pelayanan tertentu

dan tidak terdapat permohonan dari penyelenggara sarana perkeretaapian

sebagaimana dimaksud dalam Pasal 13 ayat (1), Menteri, gubernur, atau

bupati/walikota dapat menetapkan lintas pelayanan. Ketentuan ini sebagaimana

tercantum pada Pasal 14 Peraturan Pemerintah Nomor 72 Tahun 2009.

Berdasarkan ketentuan Pasal 15 Peraturan Pemerintah Nomor 72 Tahun 2009

ada beberapa ciri pelayanan perkeretaapian perkotaan:

a. menghubungkan beberapa stasiun di wilayah perkotaan;

b. melayani banyak penumpang berdiri;

c. memiliki sifat perjalanan ulang alik/komuter;

d. melayani penumpang tetap;

e. memiliki jarak dan/atau waktu tempuh pendek; dan

f. melayani kebutuhan angkutan penumpang di dalam kota dan dari daerah sub-

urban menuju pusat kota atau sebaliknya.

Mengenai kecepatan dan frekuensi kereta api, berdasarkan ketentuan Pasal 21

Peraturan Pemerintah Nomor 72 Tahun 2009, kecepatan maksimum kereta api

ditentukan berdasarkan:

a. kecepatan maksimum yang paling rendah antara kecepatan maksimum

kemampuan jalur dan kecepatan maksimum sarana perkeretaapian; dan


47

b. sifat barang yang diangkut.

Berdasarkan ketentuan Pasal 22 Peraturan Pemerintah Nomor 72 Tahun 2009,

untuk kepentingan pengoperasian kereta api dan menjamin keselamatan perjalanan

kereta api, pada setiap lintas pelayanan ditentukan frekuensi kereta api yang

didasarkan pada: (i) kemampuan jalur kereta api yang dapat dilewati kereta api sesuai

dengan kecepatan sarana perkeretaapian; (ii) jarak antara dua stasiun atau petak blok;

dan (iii) fasilitas operasi. Frekuensi perjalanan kereta api dapat digolongkan dalam:

frekuensi rendah, frekuensi sedang, dan frekuensi tinggi.

6. Penyelenggaraan Pengangkutan Kereta Api

Penyelenggara sarana perkeretaapian adalah badan usaha yang mengusahakan

sarana perkeretaapian umum. Berdasarkan Pasal 17 UU No. 23 Tahun 2007,

penyelenggaraan perkeretaapian umum berupa penyelenggaraan prasarana

perkeretaapian dan/atau sarana perkeretaapian. Penyelenggaraan perkeretaapian

khusus berupa penyelenggaraan: prasarana perkeretaapian, dan sarana perkeretaapian.

Penyelenggaraan prasarana perkeretaapian umum meliputi kegiatan : (i)

pembangunan prasarana; (ii) pengoperasian prasarana; (iii) perawatan prasarana; dan

(iv) pengusahaan prasarana. Kategori kegiatan ini sebagaimana telah diatur pada

Pasal 18 UU No. 23 Tahun 2007.

Pembangunan prasarana perkeretaapian umum wajib berpedoman pada

ketentuan rencana induk perkeretaapian dan memenuhi persyaratan teknis prasarana

perkeretaapian. Pengoperasian prasarana perkeretaapian wajib memenuhi standar


48

kelaikan operasi prasarana perkeretaapian. Hal ini diatur pada ketentuan Pasal 18 dan

Pasal 19 UU No. 23 Tahun 2007.

Mengacu pada Pasal 21 UU No. 23 Tahun 2007, perawatan prasarana

perkeretaapian umum wajib memenuhi standar perawatan prasarana perkeretaapian.

Selain itu, perawatan prasarana perkeretaapian umum wajib dilakukan oleh tenaga

yang memenuhi persyaratan dan kualifikasi keahlian di bidang prasarana

perkeretaapian.

Pengusahaan prasarana perkeretaapian umum wajib dilakukan berdasarkan

norma, standar, dan kriteria perkeretaapian. Penyelenggaraan prasarana

perkeretaapian umum dilakukan oleh Badan Usaha sebagai penyelenggara, baik

secara sendirisendiri maupun melalui kerja sama. Dalam hal tidak ada Badan Usaha

yang menyelenggarakan prasarana perkeretaapian umum, Pemerintah atau

Pemerintah Daerah dapat menyelenggarakan prasarana perkeretaapian. Hal ini

sebagaimana diatur pada Pasal 23 UU No. 23 Tahun 2007.

Berdasarkan ketentuan Pasal 24 UU No. 23 Tahun 2007, badan Usaha yang

menyelenggarakan prasarana perkeretaapian umum wajib memiliki: izin usaha; izin

pembangunan; dan izin operasi. Izin usaha penyelenggaraan prasarana perkeretaapian

umum diterbitkan oleh pemerintah. Izin pembangunan prasarana perkeretaapian

umum huruf b diterbitkan setelah dipenuhinya persyaratan teknis prasarana

perkeretaapian. Izin operasi prasarana perkeretaapian umum diterbitkan setelah


49

dipenuhinya persyaratan kelaikan operasi prasarana perkeretaapian. Izin diberikan

tersebut oleh :

a. Pemerintah untuk penyelenggaraan prasarana perkeretaapian umum yang jaringan

jalurnya melintasi batas wilayah provinsi;

b. pemerintah provinsi untuk penyelenggaraan prasarana perkeretaapian umum yang

jaringan jalurnya melintasi batas wilayah kabupaten/kota dalam satu provinsi

setelah mendapat persetujuan dari Pemerintah; dan

c. pemerintah kabupaten/kota untuk penyelenggaraan perkeretaapian umum yang

jaringan jalurnya dalam wilayah kabupaten/kota setelah mendapat rekomendasi

pemerintah provinsi dan persetujuan Pemerintah.

Penyelenggaraan sarana perkeretaapian umum meliputi kegiatan: pengadaan

sarana; pengoperasian sarana; perawatan sarana; dan pengusahaan sarana. Pengadaan

sarana perkeretaapian umum berdasarkan ketentuan Pasal 26 UU No. 23 Tahun 2007,

wajib memenuhi persyaratan teknis sarana perkeretaapian.

Dalam Undang-undang Nomor 23 Tahun 2007 tentang Perkeretaapian Pasal

27 dijelaskan bahwa pengoperasian sarana perkeretaapian umum wajib memenuhi

standar kelayakan operasi sarana perkeretaapian. Untuk memenuhi ketentuan

tersebut, terhadap setiap sarana perkeretaapian dilakukan pemeriksaan dan pengujian.

Keandalan dan memenuhi persyaratan keselamatan adalah kondisi kereta api yang

siap pakai dan secara teknis layak untuk dioperasikan. Kereta api yang dioperasikan
50

harus memenuhi daya angkutan maksimal yang diperkenankan. Dengan dipenuhinya

syarat-syarat keselamatan, diharapkan kereta api sampai di tempat tujuan dengan

selamat.

Pengangkutan penumpang dengan kereta api dilakukan dengan menggunakan

kereta yatiu gerbong khusus kereta api yang digunakan untuk mengangkut

penumpang. Dalam keadaan tertentu, misalnya, keadaan darurat, bencana alam,

ataupun jumlah orang yang jauh di atas jumlah rata-rata orang yang diangkut dan

tidak tersedia kereta pada saat itu, PT KAI dapat melakukan pengangkutan orang

dengan menggungakan gerbong yg digunakan untuk mengangkut barang atas

persetujuan pemerintah atau pemerintah daerah. Pengangkutan penumpang dengan

menggunakan gerbong wajib memperhatikan keselamatan dan fasilitas minimal.

Fasilitas minimal pelayanan penumpang, antara lain, tempat duduk, lampu

penerangan, kipas angin, dan toilet darurat.40

Penyelenggara Sarana Perkeretaapian yang mengoperasikan sarana

perkeretaapian tidak memenuhi standar kelaikan operasi sarana perkeretaapian

sebagaimana dimaksud dalam Pasal 27, dikenai sanksi administratif berupa teguran

tertulis, pembekuan izin, dan pencabutan izin operasi.

Perawatan sarana perkeretaapian umum wajib memenuhi standar perawatan

sarana perkeretaapian; dan dilakukan oleh tenaga yang memenuhi persyaratan dan

kualifikasi keahlian di bidang sarana perkeretaapian. Pengusahaan sarana


                                                            
40
Abdulkadir Muhammad, Hukum Pengangkutan Niaga, Bandung, Citra Aditya Bakti, 2013, hal. 56
51

perkeretaapian umum wajib dilakukan berdasarkan norma, standar, dan kriteria

sarana perkeretaapian.

Penyelenggaraan sarana perkeretaapian umum sebagaimana dimaksud dalam

Pasal 25 dilakukan oleh Badan Usaha sebagai penyelenggara, baik secara

sendirisendiri maupun melalui kerja sama. Dalam hal tidak ada badan usaha yang

menyelenggarakan sarana perkeretaapian umum, Pemerintah atau Pemerintah Daerah

dapat menyelenggarakan sarana perkeretaapian. Badan Usaha yang

menyelenggarakan sarana perkeretaapian umum sebagaimana dimaksud dalam Pasal

25 wajib memiliki izin usaha dan izin operasi. Hal ini sebagaimana telah diatur pada

Pasal 32 UU No. 23 Tahun 2007.

Izin usaha penyelenggara diterbitkan oleh Pemerintah. Izin operasi sarana

perkeretaapian umum diterbitkan oleh:

a. Pemerintah untuk pengoperasian sarana perkeretaapian umum yang jaringan

jalurnya melintasi batas wilayah provinsi dan batas wilayah negara;

b. pemerintah provinsi untuk pengoperasian sarana perkeretaapian umum yang

jaringan jalurnya melintasi batas wilayah kabupaten/kota dalam satu provinsi; dan

c. pemerintah kabupaten/kota untuk pengoperasian sarana perkeretaapian umum

yang jaringan jalurnya dalam wilayah kabupaten/kota.


52

Penyelenggaraan perkeretaapian khusus dilakukan oleh badan usaha untuk

menunjang kegiatan pokoknya. Badan usaha wajib memiliki izin pengadaan atau

pembangunan dan izin operasi. Perkeretaapian khusus wajib memenuhi persyaratan

teknis prasarana dan sarana perkeretaapian. Izin diberikan oleh :

a. Pemerintah untuk penyelenggaraan perkeretaapian khusus yang jaringan jalurnya

melintasi batas wilayah provinsi dan batas wilayah negara;

b. pemerintah provinsi untuk penyelenggaraan perkeretaapian khusus yang jaringan

jalurnya melintasi batas wilayah kabupaten/kota dalam satu provinsi setelah

mendapat persetujuan dari Pemerintah; dan

c. pemerintah kabupaten/kota untuk penyelenggaraan perkeretaapian khusus yang

jaringan jalurnya dalam wilayah kabupaten/kota setelah mendapat rekomendasi

pemerintah provinsi dan persetujuan Pemerintah.

7. Prasarana Perkeretaapian

Prasarana perkeretaapian umum dan perkeretaapian khusus berdasarkan Pasal

35 UU No. 23 Tahun 2007, meliputi : jalur kereta api; stasiun kereta api; dan fasilitas

operasi kereta api. Jalur kereta api diperuntukkan bagi pengoperasian kereta api.

Stasiun kereta api berfungsi sebagai tempat kereta api berangkat atau berhenti untuk

melayani : naik turun penumpang; bongkar muat barang; dan/atau keperluan operasi

kereta api. Fasilitas operasi kereta api merupakan peralatan untuk pengoperasian

perjalanan kereta api.


53

Mengenai jalur kereta api, Pasal 36 UU No. 23 Tahun 2007 menentukan

bahwa jalur kereta api meliputi: ruang manfaat jalur kereta api; ruang milik jalur

kereta api; dan ruang pengawasan jalur kereta api.

Ruang manfaat jalur kereta api terdiri dari jalan rel dan bidang tanah di kiri

dan kanan jalan rel beserta ruang di kiri, kanan, atas, dan bawah yang digunakan

untuk konstruksi jalan rel dan penempatan fasilitas operasi kereta api serta bangunan

pelengkap lainnya. Jalan rel dapat berada pada permukaan tanah; di bawah

permukaan tanah; dan di atas permukaan tanah.

Ruang manfaat jalur kereta api diperuntukkan bagi pengoperasian kereta api

dan merupakan daerah yang tertutup untuk umum. Batas ruang manfaat jalur kereta

api untuk jalan rel pada permukaan tanah diukur dari sisi terluar jalan rel beserta

bidang tanah di kiri dan kanannya yang digunakan untuk konstruksi jalan rel

termasuk bidang tanah untuk penempatan fasilitas operasi kereta api dan bangunan

pelengkap lainnya. Batas ruang manfaat jalur kereta api untuk jalan rel pada

permukaan tanah yang masuk terowongan diukur dari sisi terluar konstruksi

terowongan. Batas ruang manfaat jalur kereta api untuk jalan rel pada permukaan

tanah yang berada di jembatan diukur dari sisi terluar konstruksi jembatan.

Pasal 40 UU No. 23 Tahun 2007, batas ruang manfaat jalur kereta api untuk

jalan rel di bawah permukaan tanah sebagaimana dimaksud dalam Pasal 37 ayat (2)
54

huruf b diukur dari sisi terluar konstruksi bangunan jalan rel di bawah permukaan

tanah termasuk fasilitas operasi kereta api.

Pasal 41 UU No. 23 Tahun 2007 menentukan batas ruang manfaat jalur kereta

api untuk jalan rel di atas permukaan tanah sebagaimana dimaksud dalam Pasal 37

ayat (2) huruf c diukur dari sisi terluar dari konstruksi jalan rel atau sisi terluar yang

digunakan untuk fasilitas operasi kereta api.

Ruang milik jalur kereta api adalah bidang tanah di kiri dan di kanan ruang

manfaat jalur kereta api yang digunakan untuk pengamanan konstruksi jalan rel.

Ruang milik jalur kereta api di luar ruang manfaat jalur kereta api dapat digunakan

untuk keperluan lain atas izin dari pemilik jalur dengan ketentuan tidak

membahayakan konstruksi jalan rel dan fasilitas operasi kereta api.

Batas ruang milik jalur kereta api untuk jalan rel yang terletak pada

permukaan tanah dengan mencacu pada Pasal 43 UU No. 23 Tahun 2007, diukur dari

batas paling luar sisi kiri dan kanan ruang manfaat jalur kereta api. Batas ruang milik

jalur kereta api untuk jalan rel yang terletak di bawah permukaan tanah diukur dari

batas paling luar sisi kiri dan kanan serta bagian bawah dan atas ruang manfaat jalur

kereta api. Batas ruang milik jalur kereta api untuk jalan rel yang terletak di atas

permukaan tanah diukur dari batas paling luar sisi kiri dan kanan ruang manfaat jalur

kereta api.
55

Berdasakan Pasal 44 UU No. 23 Tahun 2007, ruang pengawasan jalur kereta

api sebagaimana dimaksud dalam Pasal 36 huruf c adalah bidang tanah atau bidang

lain di kiri dan di kanan ruang milik jalur kereta api untuk pengamanan dan

kelancaran operasi kereta api.

Batas ruang pengawasan jalur kereta api untuk jalan rel yang terletak pada

permukaan tanah berdasarkan Pasal 45 UU No. 23 Tahun 2007, diukur dari batas

paling luar sisi kiri dan kanan daerah milik jalan kereta api.

Tanah yang terletak di ruang milik jalur kereta api dan ruang manfaat jalur

kereta api disertifikatkan sesuai dengan peraturan perundang-undangan. Tanah di

ruang pengawasan jalur kereta api dapat dimanfaatkan untuk kegiatan lain dengan

ketentuan tidak membahayakan operasi kereta api. Penyelenggara prasarana

perkeretaapian harus memasang tanda batas daerah manfaat jalur kereta api. Untuk

keperluan pengoperasian dan perawatan, jalur kereta api umum dikelompokkan

dalam beberapa kelas. Pengelompokan kelas jalur kereta api umum didasarkan pada:

kecepatan maksimum yang diizinkan; beban gandar maksimum yang diizinkan; dan

frekuensi lalu lintas kereta api.

Jalur kereta api untuk perkeretaapian umum membentuk satu kesatuan

jaringan jalur kereta api. Jalur kereta api terdiri dari:

a. jaringan jalur kereta api nasional yang ditetapkan dalam rencana induk

perkeretaapian nasional;
56

b. jaringan jalur kereta api provinsi yang ditetapkan dalam rencana induk

perkeretaapian provinsi; dan

c. jaringan jalur kereta api kabupaten/kota yang ditetapkan dalam rencana induk

perkeretaapian kabupaten/kota.

Jalur kereta api umum yang diselenggarakan oleh beberapa penyelenggara

prasarana perkeretaapian dapat saling bersambungan, bersinggungan, atau terpisah.

Pembangunan dan pengoperasian jalur kereta api yang bersambungan atau

bersinggungan, dilakukan atas dasar kerja sama antarpenyelenggara prasarana

perkeretaapian. Dalam hal penyelenggaraan jalur kereta api dioperasikan oleh pihak

lain, penyelenggaraannya harus dilakukan atas dasar kerja sama antara penyelenggara

prasarana dan pihak lain tersebut. Satu jalur kereta api untuk perkeretaapian umum

dapat digunakan oleh beberapa penyelenggara sarana perkeretaapian.

Jalur kereta api khusus yang jaringannya melebihi satu provinsi ditetapkan

oleh Pemerintah. Jalur kereta api khusus yang jaringannya melebihi 1 (satu) wilayah

kabupaten/kota dalam provinsi ditetapkan oleh pemerintah provinsi. Jalur kereta api

khusus yang jaringannya dalam wilayah kabupaten/kota ditetapkan oleh pemerintah

kabupaten/kota.

Jalur kereta api khusus dapat disambungkan pada jaringan jalur kereta api

umum. Jalur kereta api khusus dapat disambungkan pada jaringan jalur kereta api

khusus lainnya. Penyambungan jalur kereta api khusus pada jaringan jalur kereta api
57

umum dan jalur kereta api khusus dengan jaringan jalur kereta api khusus lainnya

harus mendapat izin dari pemerintah sesuai dengan tingkat kewenangannya.

8. Stasiun Kereta Api dan Fasilitas Pengoperasian Kereta Api

Stasiun kereta api untuk keperluan naik turun penumpang huruf a paling

rendah dilengkapi dengan fasilitas: (i) keselamatan; (ii) keamanan; (iii) kenyamanan;

(iv) naik turun penumpang; (v) penyandang cacat; (vi) kesehatan; dan (vii) fasilitas

umum. Stasiun kereta api untuk keperluan bongkar muat barang dilengkapi dengan

fasilitas: keselamatan; keamanan; bongkar muat barang; dan fasilitas umum. Untuk

kepentingan bongkar muat barang di luar stasiun dapat dibangun jalan rel yang

menghubungkan antara stasiun dan tempat bongkar muat barang. Stasiun kereta api

untuk keperluan pengoperasian kereta api harus dilengkapi dengan fasilitas

keselamatan dan kepentingan pengoperasian kereta api.

Di stasiun kereta api dapat dilakukan kegiatan usaha penunjang angkutan

kereta api dengan syarat tidak mengganggu fungsi stasiun. Stasiun kereta api

berdasarkan ketantuan Pasal 56 ayat (1) UU No. 23 Tahun 2007 dikelompokkan

menjadi : kelas besar; kelas sedang; dan kelas kecil. Pengelompokan kelas stasiun

kereta api sebagaimana dimaksud pada ayat (1) berdasarkan kriteria: fasilitas operasi;

frekuensi lalu lintas; jumlah penumpang; jumlah barang; jumlah jalur; dan fasilitas

penunjang.
58

Stasiun kereta api dapat menyediakan jasa pelayanan khusus. Jasa pelayanan

khusus dapat berupa: ruang tunggu penumpang; bongkar muat barang; pergudangan;

parkir kendaraan; dan/atau penitipan barang. Pengguna jasa pelayanan khusus dikenai

tarif jasa pelayanan tambahan. Fasilitas pengoperasian kereta api sebagaimana

dimaksud dalam Pasal 35 ayat (1) huruf c meliputi: peralatan persinyalan; peralatan

telekomunikasi; dan instalasi listrik. Peralatan persinyalan sebagaimana dimaksud

dalam Pasal 59 huruf a berfungsi sebagai: petunjuk dan pengendali. Peralatan

persinyalan terdiri dari: sinyal, tanda, dan marka.

Peralatan telekomunikasi sebagaimana dimaksud dalam Pasal 59 huruf b

berfungsi sebagai penyampai informasi dan/atau komunikasi bagi kepentingan

operasi perkeretaapian. Peralatan telekomunikasi menggunakan frekuensi radio

dan/atau kabel. Penggunaan frekuensi radio dilakukan berdasarkan ketentuan

peraturan perundang-undangan di bidang telekomunikasi. Instalasi listrik

sebagaimana dimaksud dalam Pasal 59 huruf c terdiri dari:catu daya listrik; dan

peralatan transmisi tenaga listrik. Instalasi listrik digunakan untuk: menggerakkan

kereta api bertenaga listrik; memfungsikan peralatan persinyalan kereta api yang

bertenaga listrik; memfungsikan peralatan telekomunikasi; dan memfungsikan

fasilitas penunjang lainnya. Instalasi listrik dioperasikan berdasarkan peraturan

perundang-undangan di bidang ketenagalistrikan.


59

Pasal 133 ayat (1) UU No. 23 Tahun 2007 menyebutkan bahwa dalam

penyelenggaraan pengangkutan orang dengan kereta api, penyelenggara sarana

perkeretaapian wajib:41

a. Mengutamakan keselamatan dan keamanan orang;

b. Mengutamakan pelayanan kepentingan umum;

c. Menjaga kelangsungan pelayanan pada lintas yang ditetapkan;

d. Mengumumkan jadwal perjalanan kereta api dan tarif angkutan kepada

masyarakat;

e. Mematuhi jadwal keberangkatan kereta.

Sedangkan pada ayat (2) disebutkan bahwa penyelenggara kereta api wajib

mengumumkan kepada pengguna jasa apabila terjadi pembatalan dan penundaan

keberangkatan, keterlambatan kedatangan, atau pengalihan pelayanan lintas kereta

api disertai dengan alasan yang jelas.42

Selama proses pengangkutan, pihak pengangkut wajib melakukan penjagaan,

pengawasan, dan pemeliharaan terhadap penumpang atau barang yang diangkut

sampai tiba di tempat tujuan dengan selamat. Bentuk penjagaan dan pengawasan itu,

antara lain :

                                                            
41
Op.cit, Undang-Undang Pasal 133 ayat (1)
42
Ibid, Pasal 133 ayat (2)
60

a. Menempatkan polisi khusus kereta api (polsuska) di kereta api yang

sedang dioperasikan;

b. Menutup pintu kereta api setelah penumpang naik ke atau turun dari

kereta api selama proses pengangkutan berlangsung.43

Abdul kadir Muhammad menyebutkan bahwa secara umum pengangkutan

bertujuan untuk tiba ditempat tujuan dengan selamat dan meningkatkan nilai guna

bagi penumpang atau barang yang diangkut. Tiba di tempat tujuan artinya proses

pemindahan dari suatu tempat ke tempat tujuan berlangsung tanpa hambatan dan

kemacetan, sesuai dengan waktu yang direncanakan. Dengan selamat artinya

penumpang dalam keadaan sehat, tidak mengalami bahaya yang mengakibatkan luka,

sakit atau meninggal dunia.44

Dijelaskan pula bahwa secara khusus pengangkutan dengan kereta api

bertujuan untuk:45

a. Memeperlancar perpindahan orang atau barang secara massal dengan selamat,

aman, nyaman, cepat dan lancar, tepat, tertib dan teratur, seta efisien.

b. Menunjang pemerataan, pertumbuhan, stabilitas, pendorong, dan penggerak

pembangunan nasional.

                                                            
43
Abdulkadir Muhammad, Hukum Pengangkutan Niaga, Bandung, Citra Aditya Bakti, 2013, hal. 177.
44
Ibid., hal. 15.
45
Ibid., hal. 16.
61

Perpindahan secara massal sebagaimana disebutkan diatas dapat diartikan

bahwa kereta api memiliki kemampuan untuk mengangkut orang atau barang dalam

jumlah atau volume besar setiap kali perjalanannya. Selamat diartikan terhindarnya

perjalanan kereta api dari kecelakaan akibat faktor internal. Aman artinya

terhindarnya perjalanan kereta api akibat faktor eksternal, baik berupa gangguan alam

maupun manusia. Nyaman artinya terwujudnya ketenangan dan ketentraman bagi

penumpang selama perjalanan kereta api. Cepat dan lancar artinya perjalanan kereta

api dengan waktu yang singkat dan tanpa gangguan. Tepat artinya perlaksananya

perjalanan kerta api sesuai dengan waktu yang ditetapkan. Tertip dan teratur artinya

terlaksananya perjalanan kereta api sesuai dengan jadwal dan peraturan perjalanan.

Efisien artinya penyelenggaraan kereta api yang mampu memberikan manfaat yang

maksimal.

Sedangkan tanggung jawab pengangkutan dijelaskan oleh Abdulkdir

Muhammad terdapat tiga prinsip sebagai berikut :46

a. Tanggung jawab karena kesalahan (fault liability);

Menurut prinsip ini, setiap pengangkut yang melakukan kesalahan dalam

penyelenggaraan pengangkutan harus bertanggung jawab menbayar segala

kerugian yang timbul akibat kesalahannya itu. Dalam Undang-undang

Perkeretaapian disebutkan bahwa tanggung jawab penyelenggara sarana

perkeretaapian dimulai sejak pengguna jasa diangkut dari stasiun asal sampai
                                                            
46
Abdul kadir Muhammad., Op.cit, hal. 42.
62

dengan stasiun tujuan yang disepakati namun penyelenggara tidak bertanggung

jawab atas kerugian, luka-luka, atau meninggalnya penumpang yang tidak

disebabkan oleh pengoperasian angkutan kereta api;

b. Tanggung jawab karena praduga (presumption liability);

Menurut prinsip ini, pengangkut dianggap bertanggung jawab atas setiap kerugian

yang timbul dari pengangkutan yang diselenggarakannya. Akan tetapi jika

pengangkut dapat membuktikan bahwa ita tidak bersalah, ia dibebaskan dari

tanggung jawab membayar ganti kerugian itu.

c. Tanggung Jawab mutlak (absolute liability)

Menurut prinsip ini, pengangkut harus bertanggung jawab atas setiap kerugian

yang timbul dalam pengangkutan yang diselenggarakannyatanpa keharusan

pembuktian ada tidaknya kesalahan pengangkut. Prinsip ini tidak mengenal beban

pembuktian, unsur kesalahan tidak perlu dipersoalkan.

9. Pelayanan Perkeretaapian oleh Penyelenggaraan Jasa Transporatasi

Kerata Api Di Wilayah Jabodetabek

Kereta api merupakan salah satu moda andalan bagi pengguna jasa

transporatsi, karena memiliki beberapa keunggulan bila dibandingkan dengan moda

lain. Salah satu moda andalan tersebut adalah kereta rel listrik (KRL) Jabodetabek.

Wilayah Jakarta, Bogor, Tengerang dan Bekasi (Jabodetabek) merupakan salah satu
63

pasar dari jasa transportasi kereta api KRL yang besar. Layanan kereta api ini

merupakan pilihan bagi penglaju untuk memenuhi kebutuhan transportasi baik untuk

bekerja, sekolah, maupun keperluan lainnya.

Pada mulanya perkeretaapian di wilayah Jabodetabek dikelola oleh satu divisi

khusus yang bernama Divisi Angkutan Perkotaan Jabodetabek. Divisi yang berada di

bawah pengawasan KAI Daerah Operasi (DAOP) 1 Jakarta ini merupakan bagian

dari oganisasi PT Kereta Api (Persero). Namun melalui proses pemikiran dan

persiapan yang cukup panjang Divisi Angkutan Perkotaan Jabodetabek ini

memisahkan diri dari PT KAI (Persero) Daop 1, sehingga pelayanan KRL di wilayah

Jabodetabek berada di bawah PT Kereta Api (Persero) Divisi Angkutan Perkotaan

Jabodetabek dan pelayanan KA jarak jauh yang beroperasi di wilayah Jabodetabek

berada di bawah PT Kereta Api (Persero) Daop 1 Jakarta.47

PT KAI pada akhirnya membentuk anak perusahaan yang mengelola Kereta

api commuter Jabodetabek sesuai dengan Inpres No 5 tahun 2008 dan Surat Menteri

Negara BUMN Nomor S-563/MBU/2008 tanggal 12 Agustus 2008, dengan nama PT

KAI Commuter Jabodetabek dan beroperasi setelah mendapatkan izin usaha No. KP

51 Tahun 2009 dan izin operasi penyelenggara sarana perkeretaapian No. KP 53

Tahun 2009 yang semuanya dikeluarkan oleh Menteri Perhubungan Republik

Indonesia.

                                                            
47
www.krl.co.id/sekilas-krl.html.
64

Tugas pokok perusahaan yang baru ini adalah menyelenggarakan

pengusahaan pelayanan jasa angkutan kereta api komuter (untuk selanjutnya disebut

”Commuter” saja) dengan menggunakan sarana Kereta Rel Listrik di wilayah Jakarta,

Bogor, Depok, Tangerang (Serpong) dan Bekasi (Jabotabek) serta pengusahaan di

bidang usaha non angkutan penumpang.

Konsepsi pelayanan konsumen kereta api secara mendasar telah diatur dalam

tiga Undang-undang yaitu Undang-undang Nomor 23 Tahun 2007 tentang

Perkeretaapian, Undang-undang Nomor 25 Tahun 2009 tentang Pelayanan Publik dan

Undang-undang Nomor 8 Tahun 1999 tentang perlindungan Konsumen. Namun

demikian secara jelas juga telah disebutkan dalam Undang-Undang Dasar 1945 pada

Pasal 34 ayat (3) yaitu “Negara bertanggung jawab atas fasilitas kesehatan dan

fasilitas umum yang layak”. Artinya Negara berkewajiban melayani setiap warga

negara untuk memenuhi hak dan kebutuhan dasarnya dalam rangka pelayanan publik.

10. Perkeretaapian sebagai Pelayanan Publik

Pelayanan Publik berdasarkan UU Nomor 25 Tahun 2009 adalah kegiatan

atau rangkaian kegiatan dalam rangka pemenuhan kebutuhan pelayanan sesuai

dengan peraturan perundang-undangan bagi setiap warga negara dan penduduk atas

barang, jasa, dan/atau pelayanan administratif yang disediakan oleh penyelenggara

pelayanan publik.48

                                                            
48
Undang-Undang Nomor 25 Tahun 2009 tentang Pelayanan Publik, Pasal 1
65

Pelayanan publik dilakukan oleh penyelenggara pelayanan public, yaitu

institusi penyelenggara negara, korporasi, lembaga independen yang dibentuk

berdasarkan undangundang untuk kegiatan pelayanan publik, dan badan hukum lain

yang dibentuk semata-mata untuk kegiatan pelayanan publik.

Penyelenggaraan perkeretaapian sebagai sarana transportasi publik juga harus

memenuhi ketentuan penyelenggaraan pelayanan publik sebagaimana disebutkan

dalam Pasal 20 Undang-undang Pelayanan Publik bahwa Penyelenggara

berkewajiban menyusun dan menetapkan standar pelayanan dengan memperhatikan

kemampuan penyelenggara, kebutuhan masyarakat, dan kondisi lingkungan. Dalam

penyusunan standar pelayanan tersebut diwajibkan untuk mengikutsertakan

masyarakat dan pihak terkait untuk dapat memberikan masukan terhadap penyusunan

standar pelayanan dimaksud.

Standar pelayanan merupakan tolak ukur yang dipergunakan sebagai pedoman

penyelenggaraan pelayanan dan acuan penilaian kualitas pelayanan sevagai

kewajiban dan janji penyelenggara kepada masyarakat dalam rangka pelayanan yang

berkualitas, cepat, mudah, terjangkau, dan terukur. Terhadap hal ini disebutkan dalam

Pasal 21 bahwa komponen standar pelayanan sekurang-kurangnya meliputi:49

a. Dasar hukum;

b. Persyaratan;

                                                            
49
Ibid
66

c. Sistem, mekanisme, dan prosedur;

d. Jangka waktu penyelesaian;

e. Biaya/tarif;

f. Produk pelayanan;

g. Sasaran, prasarana, dan/atau fasilitas;

h. Kompetensi pelaksana;

i. Pengawasan internal;

j. Penanganan pengaduan, saran, dan masukan;

k. Jumlah pelaksana;

l. Jaminan pelayanan yang memberikan kepastian pelayanan dilaksanakan sesuai


dengan standar pelayanan;

m. Jaminan keamanan dan keselamatan pelayanan dalam bentuk komitmen untuk


memberikan rasa aman, bebas dari bahaya, dan resiko keragu-raguan; dan

n. Evaluasi kinerja pelaksana.

Selain kewajiban terhadap penyusunan satandar pelayanan dalam Pasal 22

disebutkan juga bahwa penyelenggara wajib untuk menyusun dan menetapkan

maklumat pelayanan yang merupakan pernyataan kesanggupan penyelenggara dalam

melaksanakan pelayanan sesuai dengan standar pelayanan dan dipublikasikan secara

jelas dan luas.50

                                                            
50
Ibid.
67

Penyelenggaraan Pelayanan Publik juga mengatur tentang prilaku pelaksana

dalam pelayanan sebagaimana di sebutkan dalam Pasal 34 bahwa pelaksana dalam

menyelenggarakan pelayana publik harus berprilaku adil dan tidak diskriminatif;

cermat; santun dan ramah; tegas, andal, dan tidak memberikan putusan yang berlarut-

larut; profesional; tidak mempersulit; patuh pada perintah atasan yang sah dan wajar;

menjunjung tinggi nilai-nilai akuntabilitas dan integritas institusi penyelenggara;

tidak membocorkan informasi atau dokumen yang wajib dirahasiakan sesuai dengan

peraturan perunang-undangan; terbuka dan mengambil langkah yang tepat untuk

menghidari benturan kepentingan; tidak menyalahgunakan sarana dan prasarana serta

fasilitas pelayanan publik; tidak memberikan informasi yang salah atau menyesatkan

dalam menanggapi permintaan informasi serta proaktif dalam memenuhi kepentingan

masyarakat; tidak menyalahgunakan informasi, jabatan, dan/atau kewenangan yang

dimiliki; sesuai dengan kepantasan; dan tidak menyimpang dari prosedur.51

                                                            
51
Ibid.
BAB III

METODE PENELITIAN

A. Sifat Penelitian

Penelitian yang dilakukan ini merupakan penelitian Normatif Empiris yaitu untuk

melihat bagaimana implementasi ketentuan hukum normatif berupa perundang-

undangan yang berlaku dalam kaitannya dengan keadaan yang terjadi dalam

suatu masyarakat. Penelitian normatif dilakukan dengan cara mengkaji ketentuan

atau peraturan perundang-undangan yang berlaku terkait dengan perlindungan

konsumen pengguna jasa kereta rel listrik commuterline kemudian secara empiris

melihat fakta-fakata bagaimana bekerjanya hukum dalam masyarakat.

B. Sumber Penelitian

Sumber data dalam penelitian ini terbagi dua yaitu sumber data primer dan

sumber data skunder, sehingga cara penelitian yang dilakukan ada dua macam

yaitu :

1. Penelitian Lapangan

a. Data

Data yang diperoleh dari penelitian lapangan adalah data primer. Untuk

memperoleh data primer ditentukan wilayah dan subyek penelitian

sebagai berikut:

1) Lokasi Penelitian
69 

Lokasi penelitian adalah Stasiun Kereta Api yang berada pada rute

Kereta Tanah Abang- Maja

2) Subyek Penelitian

Dalam penelitian ini telah dilakukan serangkaian tanya jawab dengan

narasumber ibu Titiek Masdini A. Kasubdit Analisa dan Penanganan

Kecelakaan Direktorat Keselamatan Kereta Api dan Bapak Hariyanto

dari PT KAI (Persero) DAOP I Jakarta. Selain itu juga dilapangan

telah dilakuakn wawancara dengan pengguna jasa kereta

Commuterline secara acak minimal 5 orang pada tiap stasiun dan 2

orang petugas pada Stasiun kereta Kereta Tanah Abang-Maja

b. Alat Penelitian

Alat penelitian yang digunakan dalam penelitian lapangan adalah

pedoman wawancara yaitu daftar pertanyaan yang telah dipersiapkan

sebelumnya dan daftar standar pelayanan minimal yang harus di penuhi

sesuai dengan peraturan yang ada.

2. Penelitian Kepustakaan

a. Bahan dan Materi Penelitian

Data yang diperoleh dalam penelitan kepustakaan adalah data skunder

yang terdiri dari :

1) Bahan hukum primer, meliputi :


70 

a) Peraturan perundang-undangan seperti :

1. Undang-Undang No 23 tahun 2007 tetang Perkeretaapian;

2. Undang-Undang No 8 Tahun 1999 tentang Perlindungan

Konsumen;

3. Undang-Undang Nomor 25 Tahun 2009 tentang Pelayanan

Publik;

4. Peraturan Menteri Perhubungan Nomor 48 Tahun 2015 tentang

Standar Pelayanan Minimum untuk Angkutan Orang dengan

Kereta Api;

b) Bahan hukum sekunder, meliputi:

Dokumentasi yang tersedia dalam bentuk buku-buku, majalah,

makalah atau jurnal-jurnal hukum yang terkait dengan tema

penelitian.

b. Alat Penelitian

Alat yang digunakan dalam penelitian kepustakaan adalah studi dokumen

yaitu studi terhadap bahan hukum primer dan sekunder.

C. Teknik Pengumpulan data

Metode pengumpulan data dalam penelitian ini dilakukan dengan dua cara yaitu:

a. Studi Kepustakaan
71 

Studi kepustakaan ini dilakukan dengan mempelajari peraturan perundang-

undangan, buku-buku, majalah seta jurnal-jurnal yang terkait dengan tema

penelitian;

b. Observasi dan Wawancara

Oservasi dan wawancara dilakukan dengan narasumber yang berasal dari

pihak-pihak yang terkait dengan tema penelitian sehingga diharapkan nantinya

dapat memberikan penjelasan atau informasi yang relevan dengan tema

penelitian

D. Analisis Data

Data yang diperoleh dalam penelitian ini akan dianalisis secara logis normatif

(berdasarkan logika dan peraturan perundan-undangan) dan menggunakan

metode deskriptif kualitatif yaitu analisis data dengan cara menggabungkan data-

data yang diperoleh dari hasil wawancara setelah itu data-data yang digabungkan

tersebut akan dianalisa sehingga diperoleh gambaran, penjelasan mengenai asas-

asas, norma-norma, kaidah hukum yang berkaitan dengan hukum perlindungan

konsumen dalam jasa layanan angkutan kereta api dan penerapan Standar

Pelayanan Minimum yang nantinya diperoleh jawaban dan kesimpulan dari

rumusan masalah dalam penelitian ini.

E. Langkah-langkah penelitian

Dalam penelitian ini langkah-langkah yang ditempuh, yaitu :

1. Tahap Persiapan
72 

Pada tahap ini dimulai dengan kegiatan prapenelitian guna mencari,

mengumpulkan data awl;al, dilanjutkan dengan penyusunan dan pengajuan

proposal usulan penelitian kepada Dosen pembimbing. Setelah melalui proses

bimbingan dan usulan tersebut mendapat persetujuan dari Dosen Pembimbing,

kemudian dilanjutkan dengan penyusunan pedoman wawancara dan instrumen

pendukung lainnya.

2. Tahap Pelaksanaan

Dalam tahap pelaksanaan dibagi menjadi dua yaitu:

a. Pelaksanaan dalam penelitian kepustakaan

Pada tahap ini dikumpulkan data sekunder baik yang berasal dari bahan

hukum primer, skunder maupun tertier. Data Sekunder yang diperoleh

disusun secara sistematis untuk memudahkan analisis.

b. Pelaksanaan dalam penelitian lapangan

Pada tahap ini dikumpulkan data primer yang diperoleh dari wawancara

dengan responden. Data primer dicatat dan disusun secara sistematis untuk

memudahkan analisis.

3. Tahap Penyelesaian

Pada tahap ini dilakukan evaluasi terhadap hasil penelitian dengan melakukan

analisis data. Selanjutnya data disusun dalam sebuah laporan akhir yang selalu

di konsultasikan dengan Dosen Pembimbing untuk perbaikan dan

penyempurnaan hasil laporan.


BAB IV

HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

A. Perlindungan Hak-Hak Konsumen Pengguna Jasa Kereta Rel Listrik

Commuterline pada Permenhub Nomor 48 Tahun 2015 tentang Standar

Pelayanan MinimumAngkutan Orang dengan Kereta Api ditinjau dari

Undang-Undang Nomor 8 Tahun 1999 tentang Perlindungan Konsumen

1. Perlindungan Konsumen dan Hak Konsumen Menurut Undang-

Undang Nomor 8 Tahun 1999

Saling ketergantuangan antara konsumen dan produsen menciptakan suatu

hubungan yang berkesinambungan dengan tingkat ketergantungan yang tidak

akan pernah putus. Dimana konsumen sangat bergantung pada produsen dan

produsen juga sebaliknya sangat bergantung pada konsumen. Jika produsen

dapat memenuhi kebutuhan-kebutuhan konsumen maka kelangsungan usaha

yang dilakukan oleh produsen pun juga akan berhasil sukses.

Transportasi merupakan industri jasa yang dituntut dapat memberikan

kualitas pelayanan yang optimal kepada konsumen. Konsumen merupakan pihak

yang selalu mengharapkan dan menginginkan untuk memperoleh pelayanan

yang maksimal dari penyedia jasa. Jasa transportasi darat yang saat ini diminati

oleh masyarakat yaitu transportasi kereta api yang diselenggarakan oleh PT


74

Kereta Api Indonesia (Persero). Keberadaan kereta api diharapkan bukan

sekedar memenuhi kebutuhan masyarakat akan sarana transportasi sebagai alat

angkut dan distribusi saja akan tetapi untuk memberikan kepuasan pelayanan

kepada masyarakat sebagai pemakai jasa kereta api dengan memberikan

keselamatan, keamanan, kenyamanan, dan ketepatan waktu.

Sebagaimana disebutkan dalam Undang-Undang Nomor 23 Tahun 2007

tentang Perkeretaapian bahwa pengguna jasa adalah setiap orang dan/atau badan

hukum yang menggunakan jasa angkutan kereta api baik untuk angkutan orang

maupun barang. Pengguna jasa inilah yang akan menilai kinerja perusahaan

dalam hal ini PT. KAI (Persero) dengan melihat dan merasakan kinerja

perusahaan transportasi ini dalam memberikan pelayanan, keselamatan, dan

keamanan pada saat melakukan perjalanan menggunakan kereta api.

Sebagai satu-satunya pelaku usaha yang ditunjuk oleh pemerintah untuk

menyelenggarakan jasa transportasi perkeretaapian PT KAI (Persero) memiliki

tanggung jawab sosial terhadap pengguna jasa transportasi kereta api. Konsumen

tidak memiliki pilihan lain selain memanfaatkan jasa kereta api yang dikelola

oleh PT. KAI (Persero). Hal ini menempatkan konsumen pada posisi yang lemah

karena mau tidak mau konsumen pasti memanfaatkan jasa kereta api apa pun

kondisinya.
75

Sebagaimana disebutkan dalam penjelasan Pasal 2 Undang-undang Nomor 8

Tahun 1999 tentang Perlindungan Konsumen bahwa perlindungan konsumen

diselenggarakan sebagai usaha bersama berdasarkan 5 (lima) asas yang relevan

yaitu:

1. Asas manfaat dimaksudkan sebagai segala upaya dalam penyelenggaraan

perlindungan konsumen harus memberikan manfaat sebesar-besarnya bagi

kepentingan konsumen dan pelaku usaha secara keseluruhan;

2. Asas keadilan dimaksudkan sebagai partisipasi seluruh rakyat dapat

diwujudkan secara maksimal dan memberikan kesempatan kepada konsumen

dan pelaku usaha untuk memperoleh haknya dan melaksanakan kewajibannya

secara adil;

3. Asas keseimbangan dimaksudkan untuk memberikan keseimbangan antara

kepentingan konsumen, pelaku usaha, dan pemerintah dalam arti materil

maupun spiritual;

4. Asas Keamanan dan keselamatan konsumen dimaksudkan untuk memberikan

jaminan atas keamanan dan keselamatan kepada konsumen dalam

penggunaan, pemakaian, dan pemanfaatan barang dan/atau jasa uang

dikonsumsi untuk digunakan;

5. Asas kepastian hukum dimaksudkan agar baik pelau usaha maupun

konsumen mentaati hokum dan memperoleh keadilan dalam penyelenggaraan

perlindungan konsumen, serta negara menjamin kepastian hukum.


76

Penguna jasa transportasi kereta api tentu saja menginginkan agar perjalanan

yang dilakukannya dapat membawa mereka selamat sampai tujuan. Pengguna

jasa memiliki hak-hak yang harus didapatkan sebagai seorang konsumen. Dalam

Pasal 4 Undang-Undang Nomor 8 Tahun 1999 telah diatur hak-hak yang

diperoleh oleh konsumen , yaitu:

1. Hak atas kenyamanan, keamanan, dan keselamatan dalam mengkonsumsi

barang dan/atau jasa;

PT KAI (Persero) sebagai penyelenggara kereta api dalam

menyelenggarakan kegiatan operasional perkeretaapian wajib untuk

menjamin hak-hak konsumen ini. Salah satu caranya adalah dengan

memperbaiki sarana dan prasarana perkeretaapian sehingga memenuhi

standar yang telah ditetapkan.

2. Hak untuk memilih barang dan/atau jasa serta mendapatkan barang dan/atau

jasa tersebut sesuai dengan niali tukar dan kondisi serta jaminan yang

dijanjikan;

Salah satu faktor yang menempatkan konsumen pada posisi yang lemah

yaitu kurangnya kesadaran konsumen akan hak-haknya. Pada kasus ini

konsumen tidak memiliki pilihan lain selain dalam menggunakan moda

transpotasi massal berbasis rel yang di kelola oleh PT KAI. Saat ini tidak ada

lagi perbedaan kelas dalam menggunakan transportasi kereta api


77

Jabodetabek. Kereta Rel Listrik Commuterline tidak memberikan pilihan

kepada konsumen untuk menentukan jenis dan fasilitas yang diinginkan

sehingga mau tidak mau pengguna jasa menerima kondisi yang ada.

3. Hak atas informasi yang benar, jelas, dan jujur mengenai kondisi dan jaminan

barang dan/atau jasa;

Dalam menyelenggarakan operasional perkeretaapian, PT.KAI (Persero)

wajib memberikan informasi yang benar, jelas, dan jujur terhadap layanan

kereta api. Informasi tersebut berupa tarif, jadwal keberangkatan dan

kedatangan kereta serta informasi lainnya yang perlu diketahui pengguna

jasa. Penyampaian informasi dapat berupa pemasangan daftar tarif sesuai

tujuan perjalanan, jadwal keberangkatan dan kedatangan kereta yang dapat

di tempel atau di umumkan melaui pengera suara, serta penempatan petugas

keamanan yang dapat membantu konsumen untuk memperoleh informasi.

4. Hak untuk didengar pendapat serta keluhannya atas barang dan/atau jasa yang

digunakan;

Dalam hal ini ini PT KAI harus dapat memberikan informasi yang jelas atas

pertanyaan dan keluhan yang disampaikan oleh konsumen termasuk

pendapat dan saran yang diberikan demi perbaikan dan pelayanan yang lebih

optimal.
78

5. Hak untuk mendapatkan advokasi, perlindungan dan upaya penyelesaian

sengketa perlindungan konsumen secara patut;

Dalam hal ini konsumen mendapatkan perlindungan hukum yang efektif

dapat melalui konsultasi hukum, tututan hukum secara kolektif serta bantuan

hukum lainnya dan penyelesaian sengketa konsumen dapat dilakukan pada

Badan Penyelesaian Sengketa Konsumen atau melaui peradialan yang berada

dilingkungan peradilan umum.

6. Hak untuk mendapatkan pembinaan dan pendidikan konsumen;

Dalam hal ini penyedia jasa berkewajiban memberikan pembinaan kepada

konsumen antara lain dengan melakukan sosialisasi atas peraturan yang

berlaku atau memberikan simulasi penanggulangan keadaan darurat atau

penggunaan alat-alat keselamatan yang ada sebagaimana juga telah diatur

pada Pasal 10 ayat (1) Peraturan Menteri Perhubungan Nomor 24 Tahun

2015 tentang Standar Keselamatan Perkeretaapian.

7. Hak untuk diperlakukan atau dilayani secara benar dan jujur serta tidak

diskriminatif;

Dengan tidak diberlakukannya kereta kelas ekonomi ataupun eksekutif

dalam perjalanan kereta api Jabodetabek saat ini, otomatis semua pengguna

jasa kereta api adalah sama. Penyedia jasa tidak dibenarkan membeda-
79

bedakan mutu pelayanan kepada pengguna jasa. Bahkan terhadap

penyandang disabilitas pun harus diberi pelayanan yang sama.

8. Hak untuk mendapatkan kompensasi, ganti rugi dan/atau penggantian, apabila

barang dan/atau jasa yang diterima tidak sesuai dengan perjanjian atau tidak

sebagaimana mestinya;

Ketika pengguna jasa kereta api merasa pelayanan atau fasilitas kereta api

yang diterima tidak sesuai dengan yang seharusnya, pengguna jasa dapat

meminta ganti rugi kepada penyedia jasa.

Aspek perlindungan konsumen dalam Undang-Undang Perlindungan

konsumen tidak hanya diatur melalui hak-hak konsumen. Terdapat beberapa

pasal yang mengaturnya seperti:

a. Pasal 7 yang memuat tentang kewajiban dari pihak pelaku usaha, yaitu:

1. Beritikat baik dalam melakukan kegiatan usahanya;

2. Memberikan informasi yang benar, jelas, dan jujur mengenai kondisi

dan jaminan barang dan/atau jasa serta memberi penjelasan

penggunaan, perbaikan dan pemeliharaan;

3. Memperlakukan atau melayani konsumen secara benar dan jujur serta

tidak diskriminatif;
80

4. Menjamin mutu barang dan/atau jasa yang diproduksi dan/atau

diperdagangkan berdasarkan ketentuan standar mutu barang dan/atau

jasa yang berlaku;

5. Memberikan kesempatan kepada konsumen untuk menguji dan/atau

mencoba barang dan/atau jasa tertentu serta memberi jaminan

dan/atau garansi atas barang yang dibuat dan/atau yang

diperdagangkan;

6. Memberikan kompensasi, ganti rugi dan/atau penggantian atas

kerugian akibat penggunaan, pemakaian, dan pemanfaatan barang

dan/atau jasa yang diperdagangkan;

7. Memberi kompensasi, ganti rugi dan/atau penggantian apabila barang

dan/atau jasa yang diterima atau dimanfaatkan tidak sesuai dengan

perjanjian.

b. Pasar 8 ayat(1) huruf a menyebutkan larangan bagi pelaku usaha untuk

memproduksi dan/atau memperdagangkan barang dan/atau jasa yang

tidak memenuhi atau tidak sesuai standar yang dipersyaratkan dan

ketentuan peraturan perundang-undangan. Dalam hal ini untuk dapat

beroperasi suatu kereta api harus sesuai dengan standar kelaikan operasi

perkeretaapian.
81

c. Pasal 19 ayat (1) yang mengatur tentang tanggung jawab pelaku usaha

untuk memberikan ganti rugi atas kerusakan, pencemaran, dan/atau

kerugian konseumen akibat mengkonsumsi barang dan/atau jasa yang

dihasilkan atau diperdagangkan.

Kerugian yang dialami oleh pengguna jasa kereta api dapat disebabkan

Karena keterlambatan kedatangan dan keberangkatan kereta api,

pembatalan jadwal, kecelakaan kereta sehingga penumpang mengalami

luka-luka atau bahkan kehilangan nyawa. Ganti kerugian dapat

dimintakan oleh pengguna jasa sesuai dengan kerugian yang dialami dan

sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan yang berlaku.

d. Pasal 23 mengatur mengenai gugatan kepada pelaku usaha yang menolak

dan/atau tidak memberikan tanggapan dan/atau tidak memenuhi ganti

rugi atau tuntutan konsumen sebagaimana dimaksud dalam Pasal 19 ayat

(1), ayat (2), ayat (3), dan ayat (4) dapat digugat melalui Badan

Penyelesaian Sengketa Konsumen atau mengajukan ke badan peradilan

di tempat kedudukan konsumen.

e. Pasal 26 menyatakan bahwa pelaku usaha yang memperdagangkan jasa

wajib memenuhi jaminan dan/atau garansi yang disepakati dan/atau yang

diperjanjikan.
82

Bentuk jaminan dan/atau garansi uang diberikan oleh penyelenggara

perkeretaapian adalah asuransi yang dikeluarkan oleh PT. Jasa Raharja

yang dimiliki oleh setiap penumpang yang membeli karcis.

f. Pasal 60 menyatakan bahwa BPSK berwenang menjatuhkan sanksi

administratif terhadap pelaku usaha yang melanggar Pasal 19 ayat (2)

dan ayat (3), Pasal 20, Pasal 25, dan Pasal 26. Sanksi administrative

berupa penetapan ganti rugi paling banyak Rp200.000.000 (dua ratur juta

rupiah);

g. Pasal 62 ayat (1) mengatur sanksi sanksi pidana bagi pelaku usaha yang

melanggar ketentuan sebagaimana dimaksud dala Pasal 8, Pasal 9, Pasal

10, Pasal 13 ayat (2), Pasal 15, Pasal 17 ayat (1) huruf a, huruf b, huruf c,

huruf e, ayat 93) dan Pasal 18 dipidana dengan pidana penjara paling

lama 5 (lima) tahun atau pidana denda paling banyak Rp2.000.000,00

(dua milyar rupiah);

h. Pasal 62 ayat (2) yang mengatur sanksi bagi pelaku usaha yang

melanggar ketentuan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 11, Pasal 12,

Pasal 13 ayat (1), Pasal 14, Pasal 16, Pasal 17 ayat (1) huruf d dan huruf

f dipidana dengan pidana penjara paling lama2 (dua) tahun atau pidana

denda paling banyak Rp500.000.000,00 (lima ratus juta rupiah);


83

i. Pasal 63 yang mengatur penjatuhan hukuman tambahan terhadap sanksi

pidana yang telah dijatuhkan, yakni:

1) Perampasan barang tertentu;

2) Pengumuman keputusan hakim;

3) Pembayaran ganit rugi;

4) Perintah penghentian kegiatan tertentu yang menyebabkan timbulnya

kerugian konsumen;

5) Kewajiban penarikan barang dari peredaran, atau;

6) Pencabutan izin usaha.

2. Perlindungan Konsumen Menurut Peraturan Menteri Perhubungan

Nomor 48 Tahun 2015 tentang Standar Pelayanan Minimun Angkutan

Orang dengan Kereta Api

a) Standar Pelayanan Minimum

Standar Pelayanan Minimum (SPM) berdasarkan Pasal 1 butir 10

Peraturan Menteri Perhubungan Nomor 48 Tahun 2015, adalah ukuran

minimum pelayanan yang harus dipenuhi oleh penyedia layanan dalam

memberikan pelayanan kepada pengguna jasa, yang harus dilengkapi

dengan tolak ukur yang dipergunakan sebagai pedoman penyelenggaraan

pelayanan dan acuan penilaian kualitas pelayanan sebagai kewajiban dan


84

janji penyedia layanan kepada masyarakat dalam rangka pelayanan yang

berkualitas, cepat, mudah, terjangkau dan terukur.

Pasal 2 Peraturan Menteri ini pun telah mengatur bahwa pengoperasian

kereta api harus memenuhi standar pelayanan minimum. SPM merupakan

acuan bagi penyelenggara prasarana perkeretaapian yang mengoperasikan

stasiun kereta api dan penyelenggaraan sarana perkeretaapian yang

melaksanakan kegiatan orang dengan kereta api.

Standar Pelayanan Minimum meliputi dua macam, yaitu:

1) Standar Pelayanan Minimum di stasiun kereta api;

2) Standar Pelayanan Minimum dalam perjalanan.

Berdasarkan Pasal 3 ayat (1) Peraturan Menteri Perhubungan Nomor 48

Tahun 2015, standar pelayanan minimum penumpang di stasiun paling

sedikit mencakup: keselamatan, keamanan, kehandalan, kenyamanan,

kemudahan, dan kesetaraan.Selanjutnya, berdasarkan ketentuan Pasal 4 ayat

(1) Peraturan Menteri Perhubungan Nomor 48 Tahun 2015, standar

pelayanan minimum dalam perjalanan juga paling sedikit mencakup:

keselamatan, keamanan, kehandalan, kenyamanan, kemudahan, dan

kesetaraan.

SPM bertujuan mewujudkan kualitas pelayanan, menjamin dan

meningkatkan keselamatan, memudahkan pembinaan dan pengawasan

pemerintah terhadap penyedia layanan, dan untuk meningkatkan kinerja di


85

bidang lalu lintas dan angkutan KA. SPM harus dilaksanakan untuk semua

lingkup yakni pada saat di stasiun, di dalam perjalanan, dan sesampainya di

stasiun tujuan sehingga pengguna jasa akan merasakan keamanan dan

kenyamanan selama memanfaatkan jasa kereta api.

Peraturan Menteri Perhubungan tentang Standar Pelayanan Minimum

Angkutan Orang dengan Kereta Api telah beberapa kali mengalami

penyempurnaan. Pada tahun 2011 telah di tetapkan Peraturan Menteri

Perhubungan Nomor 9 Tahun 2011 tentang Standar Pelayanan Minimum

Angkutan Orang dengan Kereta Api, kemudian di ubah dengan Peraturan

Menteri Perhubungan Nomor 47 Tahun 2014 tentang Standar Pelayanan

Minimum Angkutan Orang dengan Kereta Api dengan penambahan pasal

yang mengatur tentang pemberian kompensasi terhadap keterlambatan

ataupun gangguan dalam pelayanan jasa kepada penumpang. Pada tahun

2015 Peraturan ini pun mengalami penyempurnaan dengan diterbitkannya

Peraturan Menteri Perhubungan Nomor 48 Tahun 2015 tentang Standar

Pelayanan Minimum Angkutan Orang dengan Kereta Api. Dalam peraturan

ini menitik beratkan pada beberapa komponen yaitu keselamatan,

keamanan, kehandalan/keteraturan, kenyamanan, kemudahan, dan

kesetaraan baik di stasiun kereta api maupun di dalam perjalanan.


86

a.1. Standar Pelayanan Minimum di Stasiun Kereta Api

Dalam Peraturan Menteri Perhubungan Nomor 48 Tahun 2015 Pasal 3

disebutkan bahwa SPM penumpang di stasiun paling sedikit mencakup:

1. Keselamatan

Indikator keselamatan di ukur dengan:

- Tersedianya informasi dan fasilitas keselamatan yang mudah

terlihat dan terjangkau antara lain alat pemadam kebakaran,

petunjuk jalur dan prosedur evakuasi, titik kumpul evakuasi,

nomor-nomor telepon darurat;

- Tersedianya informasi dan fasilitas kesehatan untuk penanganan

keadaan darurat yang mudah terlihat dan terrjangkau antara lain

perlengkapan P3K, kursi roda, dan tandu

- Terdapat lampu penerangan yang berfungsi sebagai sumber cahaya

di wesel untuk mencegah potensi tindakan criminal dengan

intensitas 200-250 lux.

2. Keamanan

Indikator keamanan di ukur dengan:


87

- Tersedianya fasilitas kemanan sebagai peralatan pencegah

tindakan criminal berupa CCTV;

- Terdapat petugas keamanan yang bertugas menjaga ketertiban

dan kelancaran sirkulasi pengguna jasa di stasiun yang

berseragam dan mudah terlihat;

- Tersedianya informasi gangguan keamanan yang disampaikan

kepada pengguna jasa apabila terdapat ganggungan keamanan

berupa stiker berisi nomor telepon dan/atau SMS pengaduan

yang ditempel di tempat strategis dan mudah dilihat;

- Tersedianya lampu penerangan yang berfungsi dengan baik untuk

memberikan rasa aman bagi pengguna jasa dengan intensitas

cahaya 200-250 lux.

3. Kehandalan/keteraturan

Indikator kehandalan/keteraturan diukur dengan tersedianya layanan

penjualan tiket dengan jumlah loket yang cukup untuk melayani

pengguna jasa.

4. Kenyamanan

Indikator kenyamanan diukur dengan:


88

- Tersedianya ruang tunggu dan ruang boarding yang bersih dan

terawat dengan kapasitas untuk 1(satu) orang minimum 0,6 m2;

- Tersedianya toilet yang bersih, terawat dengan sirkulasi udara yang

berfungsi dengan baik, terdapat toilet pria (4 urinoir, 3 WC dan 2

wastafel untuk stasiun besar; 2 urinoir, 2 WC dan 1 wastafel untuk

stasiun sedang; dan 1 urinoir, 1 WC dan 1 wastafel untuk stasiun

kecil), terdapat toilet wanita (6 WC dan 2 wastafel untuk stasiun

besar; 4 WC dan 1 wastafel untuk stasiun sedang; dan 1 WC dan 1

wastafel untuk stasiun kecil), juga tersedia 1 (satu) toilet untuk

penumpang disabilitas.

- Tersediannya mushola untuk melakukan ibadah dengan tempat

wudhu yang areanya bersih terawat dan tidak berbau yang berasal

dari dalam area stasiun. Untuk stasiun besar mushola harus dapat

memuat jamaah sebanyak 24 orang termasuk penyandang

disabilitas, untuk stasiun sedang 12 orang dan untuk stasiun kecil

minimal 3 orang.

- Tersedianya lampu penerangan yang berfungsi sebagai sumber

cahaya di stasiun untuk memberikan rasa nyaman bagi pengguna

jasa dengan intensitas cahaya 200 – 250 lux.


89

- Tersedianya fasilitas pengatur sirkulasi udara seperti AC, kipas

angina dan/atau ventilasi udara dengan suhu dalam ruangan

maksimal 27ºC.

5. Kemudahan

Indikator kemudahan diukur dengan:

- Tersedianya informasi pelayanan stasiun yang mudah terbaca dan

terdengar. Informasi dalam bentuk visual, murah terbaca,

diletakkan ditempat strategis dan mudah mudah terlihat. Informasi

dalam bentuk audio harus dapat terdengar jelas dengan intensitas

suara 20 dB lebih besar dari kebisingan yang ada;

- Terdapat pemberian informasi gangguan perjalanan kereta api

yang diumumkan maksimal 30 menit setelah terjadi ganggunan;

- Terdapat informasi angkutan lanjutan yang mudah terlihat dan

jelas terbaca;

- Terdapat fasilitas layanan penumpang untuk memberikan

dinformasi perjalanan kereta api dan layanan menerima

pengaduan.

- Terdapat fasilitas kemudahan aksesibilitas penumpang naik ke

kerata atau turun dari kereta dengan selisih tinggi peron dengan
90

lantai kereta tidak lebih dari 20 cm. Untuk stasiun yang tinggi

peronnya di bawah lantai kereta yang dilayani harus disediakan

bancik atau peron tidak permanen.

- Terdapat tempat parkir kendaraan baik roda 4 (empat) dan roda 2

(dua) dengan sirkulasi kendaraan masuk, keluar dan parkir lancar

dan akses dari dan menuju stasiun dilengkapi dengan kanopi

sedangkan luas tempat parkir disesuaikan dengan lahan yang

tersedia.

6. Kesetaraan

Indikator kesetaraan diukur dengan:

- Tersedianya fasilitas bagi penumpang difable seperti terdapat ramp

dengan kemiringan maksimal 10o dan akses jalan penyambung antar

peron. Untuk stasiun yang jumlah lantainya lebih dari 1 harus

disediakan lift dan/atau eskalator;

- Tersedianya ruang khusus dan fasilitas lengkap untuk ibu menyusui.

a.2. Standar Pelayanan Minimum dalam Perjalanan

1. Keselamatan

Indikator keselamatan diukur dengan:


91

- Tersedianya informasi ketersediaan dan peralatan penyelamatan

darurat dalam bahaya yang mudah terlihat dan terjangkau antara

lain: 1(satu) Alat Pemadam Api Ringan dengan ukuran minimal 3

kg per kereta, rem darurat/tombol darurat, alat pemecah kaca yang

mudah terlihat dan terjangkau, dan petunjuk jalur evakuasi;

- Tersedianya informasi ketersediaan dan fasilitas kesehatan untuk

penanganan keadaan darurat seperti alat P3K yang mudah terlihat

dan terjangkau dimana khusus untuk kereta perkotaan

perlengkapan P3K ini dibawa oleh petugas

pengamanan/pengawalan dan di masing-masing kabin masinis juga

tersedia perlengkapan P3K.

2. Keamanan

Indikator keamanan diukur dengan:

- Tersedianya peralatan untuk memonitor kejadian di dalam

kereta antara lain CCTV minimal 1 (satu) buah dalam 1 (satu)

rangkaian kereta;

- Terdapat petugas keamanan yang berjumlah minimal 2 (dua)

orang petugas dalam 1 (satu) rangkaian kereta;


92

- Terdapat informasi yang disampaikan pengguna jasa apabila

mendapat gangguan keamanan berupa stiker berisi nomor

telepon dan/atau SMS pengaduan ditempel pada tempat yang

strategis dan mudah dilihat dan terbaca jelas minimal 2 (dua)

stiker;

- Terdapat lampu penerangan di kereta yang berfungsi sebagai

sumber cahaya untuk membaca dan berkomunikasi dengan

intensitas cahaya 200-300 lux.

3. Kehandalan/Keteraturan

Indikator kehandalan/keteraturan diukur dengan:

- Memberikan ketepatan/kepastian waktu keberangkatan dan

kedatangan Kereta Api dimana untuk kereta api perkotaan

tolak ukur keterlambatan ketepan/kepastian waktu

keberangkatan dan kedatangan yang diukur dengan

keterlambatan 20% dari total waktu perjalanan yang

dijadwalkan. Informasi keterlambatan disampaikan di stasiun

antara dan stasiun tujuan serta kompensasi keterlambatan

diberikan kepada penumpang sesuai prosedur.


93

4. Kenyamanan

Indikator kenyamanan diukur dengan:

- Tersedianya tempat duduk dengan kosntruksi tetap yang

mempunyai sandaran minimal 20% dari spesifikasi teknis

kereta; ruang untuk mengangkut penumpang berdiri maksimum

1m2 untuk 6 orang;

- Terdapat lampu penerangan dalam kereta yang berfungsi

sebagai sumber cahaya di dalam kereta untuk memberikan

kenyamanan bagi pengguna jasa angkutan kereta api dengan

intensitas cahaya 200 – 300 lux;

- Terdapat fasilitas pengatur sirkulasi udara dapat menggunakan

AC, kipas angin atau ventilasi dengan suhu dalam kereta

maksimal 27o C;

- Terdapat fasilitas pegangan untuk penumpang berdiri yang

mudah digapai, kuat, dan tersedia minimal 90 buah pada setiap

kereta;

- Tersedia rak bagasi yang diperuntukkan untuk penempatan

barang bawaan pengguna jasa angkutan kereta api dengan tujuan


94

keamanan dan tidak mengganggu penumpang lain yang terletak

diatas tempat duduk.

5. Kemudahan

Indikator kemudahan diukur dengan:

- Tersedianya infomasi pada stasiun yang akan

disinggahi/dilewati secara berurutan untuk mempermudah

penumpang yang akan turun di suatu stasiun kereta api.

Informasi dalam bentuk visual harus ditempatkan di tempat

yang strategis, mudah terlihat, dan mudah dibaca. Sedangkan

informasi dalam bentuk audio harus jelas terdengar dengan

intensitas suara 20 dB lebih besar dari kebisingan yang ada;

- Terdapat informasi gangguan perjalanan diumumkan maksimal

30 (tiga puluh) menit setelah terjadi gangguan dan jelas

terdengar dengan intensitas suara 20 dB lebih besar dari

kebisingan yang ada;

6. Kesetaraan

Indikator kesetaraan diukur dengan tersedianya fasilitas bagi

penumpang difable untuk mempermudah para penumpang difable

yang meliputi penyandang disabilitas, wanita hamil, orang sakit,


95

dan lansia menggunakan angkutan kereta api. Fasilitas ini minimal

12 (dua belas) tempat duduk dalam satu kereta.

b). Kewajiban Penyelenggara Sarana Perkeretaapian

Dalam Peraturan Menteri Perhubungan Nomor 48 Tahun 2015 tentang

Standar Pelayanan Minimum Angkutan Orang dengan Kereta Api juga juga

diatur tentang Kewajiban Penyelengara Sarana Perkeretaapian dalam hal

pemberian kompensasi kepada pengguna jasa. Terhadap pengguna jasa

kereta api perkotaan seperti commuterline diatur pada Pasal 5 ayat (1)

bahwa apabila terjadi keterlambatan keberangkatan perjalanan terjadwal

dari kereta api perkotaan, pada stasiun kereta api keberangkatan, dalam 30

(tiga puluh) menit atau lebih setiap penumpang berhak meminta formulir

informasi keterlambatan dari penyelenggara sarana perkeretaapian pada

stasiun tujuan bagi penumpang yang membutuhkan. Demikian juga pada

Pasal 5 ayat (2) disebutkan bahwa dalam hal terjadi keterlambatan

keberangkatan perjalanan terjadwal akibat kekusutan perjalanan, pada

stasiun kereta api keberangkatan lebih dari 2 (jam) setiap penumpang

mendapatkan kompensasi berhak melakukan pembatalan perjalanan.


96

B. Upaya Pemenuhan Hak-Hak Konsumen Pengguna Jasa Kereta Rel Listrik

Commuterline oleh Penyelenggara Jasa Kereta Api Jabodetabek sesuai

Standar Pelayanan Minimum dan Undang-Undang Perlindungan

Konsumen.

Kereta Rel Listrik (KRL) Commuterline sebagai transportasi primadona saat

ini dengan berbagai keunggulannya telah mampu menarik perhatian dan minat

masyarakat sehingga masyarakat seakan bergantung dengan keberadaan moda

transportasi ini. Dengan kemacetan kota Jakarta, KRL Commuterline seakan

mampu menajadi solusi bagi masyarakat untuk memecahkan masalah kemacetan

yang setiap hari menghantui. Sebagai satu-satunya moda dengan keunggulan

lebih terutama dalam hal kemacetan dan daya angkut yang lebih besar dari moda

lainnya membuat sebagian besar masyarakat tidak lagi memperhatikan hal-hal

penting yang menjadi hak mereka terutama dalam hal keselamatan dan

keamanan.

Penerapan SPM angkutan penumpang di stasiun kereta dan dalam

perjalanan secara umum belum sepenuhnya terpenuhi masih banyak hal yang

merupakan hak dan menjadi kewajiban dari pihak pemberi jasa untuk segera

dipenuhi sebagaimana hasil penelitian penulis sebagai berikut:


97

1. Standar Pelayanan Minimun di Stasiun Kereta Api

a) Keselamatan

Dari indikator dan tolak ukur SPM terhadap keselamatan di stasiun

ditemukenali beberapa hal yang masih harus mendapatkan perhatian dalam

pengelolaan stasiun seperti berikut:

- Masih minimnya informasi tentang area evakuasi dan area titik kumpul

sehingga sebagian besar penumpang tidak mengetahui letak

keberadaan area evakuasi dan area titik kumpul di stasiun. Hampir

semua stasiun sudah memiliki area evakuasi dan area titik kumpul

namun belum tersosialisasikan ke pengguna jasa. Bisa dibayangkan

betapa kacaunya suasana ketika penumpang yang jumlahnya ribuan

harus dievakuasi ketika terjadi suatu keadaan yang tidak diinginkan.

- Masih terdapat beberapa stasiun yang memiliki perlintasan jalan

penumpang sebidang untuk menuju akses pintu masuk dan/atau keluar

serta menuju fasilitas publik lainnya. Hal ini sangat membahayakan

keselamatan penumpang, karena perlintasan jalan penumpang sebidang

ini dilalui oleh ratusan penumpang yang akan keluar dan/atau masuk

stasiun sementara kereta pun dapat lewat sesuai dengan jadwalnya.

Untuk mengatasi hal ini seharusnya dibuat Jembatan Penyeberangan

Orang (JPO) ataupun underpas.


98

- Pada beberapa stasiun tidak terdapat pembatas/pagar pembatas antara

peron dengan jalan/rel kereta sehingga penumpang dapat melompat dari

peron untuk mencapai pintu keluar. Hal ini tentunya sangat

membahayakan keselamatan penumpang tersebut disamping jarak

antara peron dengan rel yang cukup tinggi, kereta pun bisa

melintas/masuk stasiun dengan tiba-tiba.

- Penerangan pada beberapa stsiun untuk area peron pada pengukuran

rata-rata masih kurang dari 200-250 lux hal ini dapat menimbulkan

bahaya bagi keselamatan penumpang Karena bisa saja terjadi kejahatan

atau kecelakaan misalnya pencopetan atau bahkan penumpang terjatuh

dari peron.

- Pada beberapa stasiun sedang fasilitas kesehatan seperti perlengkapan

P3K, kursi roda, dan tandu ada tapi tidak dapat dengan mudah di

jangkau karena disimpan di suatu tempat sehingga ketika terjadi suatu

hal yang memerlukan fasilitas tersebut petugas memerlukan waktu

yanag cukup lama untuk mengambil peralatan kesehatan yang

dibutuhkan.
99

b) Keamanan

Dari indikator dan tolak ukur SPM terhadap keamanan di stasiun

ditemukenali beberapa hal yang masih harus mendapatkan perhatian dalam

pengelolaan stasiun seperti berikut:

- Pada beberapa stasiun belum terpasang CCTV hal ini dapat

menyebabkan tidak terpantaunya beberapa aktifitas yang mungkin

mengganggu keamanan penumpang dan tidak terlihat oleh petugas di

lapangan seperti pemantauan terhadap kemungkinan terjadinya

tindakan kriminal atau hal-hal lainnya;

- Telah terdapat petugas keamanan yang mudah terlihat untuk menjaga

ketertiban dan kelancaran sirkulasi pengguna jasa di stasiun namun

sebagian besar petugas kurang tegas dalam mengatur kelancaran

sirkulasi pengguna jasa sehingga masih saja terjadi ketidakteraturan

saat penumpang hendak masuk dan/atau keluar dari kereta hal ini

seringkali terjadi dan membahayakan keselamatan dan keamanan

pengguna jasa karena sering kali antara penumpang yang hendak turun

dari kereta dan yang mau naik ke kereta tidak ada yang mau mengalah.

- Informasi berupa stiker yang berisi nomor telepon dan/atau SMS

pengaduan yang dapat dihubungi jika terdapat gangguan hanya


100

ditempel pada tempat-tempat tertentu sehingga tidak semua penumpang

dapat mel;ihat dengan jelas.

c) Kehandalan/keteraturan

Dari indikator dan tolak ukur SPM terhadap kehandalan/keteraturan di

stasiun ditemukenali bahwa tolak ukur keandalan/keteraturan adalah

terkait layanan penjualan tiket telah dilaksanakan dengan baik oleh

petugas stasiun.

d) Kenyamanan

Dari indikator dan tolak ukur SPM terhadap kenyamanan di stasiun

ditemukenali beberapa hal yang masih harus mendapatkan perhatian dalam

pengelolaan stasiun seperti berikut:

- Pada beberapa stasiun sedang belum terdapat ruang tunggu bagi

penumpang/calon penumpang sehingga peron pun berperan sebagai

ruang tunggu bagi penumpang yang belum berangkat/menunggu kereta.

Situasi ini membuat peron penuh sesak dengan penumpang, belum lagi

ketika kereta masuk stasiun dan menurunkan penumpang. Kondisi

seperti inilah yang sering kali menyebabkan ketidaknyamanan bagi

penumpang yang menunggu kereta dan/atau penumpang yang hendak

keluar stasiun sehingga seringkali terjadi desakan atau saling dorong

antara penumpang.
101

- Ketersediaan toilet yang bersih, terawat dengan sirkulasi udara yang

berfungsi dengan baik, sesuai dengan ketentuan dalam SPM belum

sepenuhnya dipenuhi oleh stasiun. Masih terdapat beberapa stasiun

yang kondisi toiletnya belum sesuai ketentuan;

- Ketersediaan Mushola untuk melakukan ibadah dengan tempat wudhu

yang areanya bersih terawat dan tidak berbau yang berasal dari dalam

area stasiun. Dengan jumlah atau kapasitas jamaah yang telah

ditentukan dalam SPM belum dipenuhi pada beberapa stasiun. Sekedar

pemenuhan keberadaan sarana publik berupa musholla namun kondisi

dan kapasitasnya belum sesuai SPM.

e) Kemudahan

Dari indikator dan tolak ukur SPM terhadap kemudahan di stasiun

ditemukenali beberapa hal yang masih harus mendapatkan perhatian dalam

pengelolaan stasiun seperti berikut:

- Terdapat informasi display perjalanan kereta api yang tidak berfungsi di

beberapa stasiun hal ini menyebabkan informasi kedatanganatau posisi

kereta tidak bisa dilihat dengan mudah oleh pengguna jasa sehingga

pengguna jasa hanya mengandalkan informasi yang terdengar secara

audio yang pada beberapa stasiun sedang pun kadang tidak akurat.
102

- Pada beberapa stasiun pemberian informasi gangguan perjalanan kereta

api yang seharusnya diumumkan maksimal 30 menit setelah terjadi

gangguan juga masih belum terpenuhi. Terkadang tidak ada informasi

keterlambatan kereta yang disampaikan sehingga pengguna jasa tidak

diberi kepastian apakah kereta akan tiba sesuai jadwal atau tidak.

Bahkan keterlambatan kereta ini sangat sering terjadi dan merugikan

pengguna jasa yang sebegian besar adalah para pekerja di sektor formal

dengan tingkat aktivitas tinggi dan penggunaan waktu yang padat, ketat,

dan disiplin ;

- Masih terdapat beberapa stasiun yang tinggi peronnya di bawah lantai

kereta yang mana sesuai ketentuan dalam SPM tinggi peron dengan

lantai kereta tidak lebih dari 20cm. Hal ini sangat menyulitkan bagi

penumpang untuk naik dan/atau turun dari kereta yang tentunya juga

dapat membahayakan bagi keselamatan dan kenyamanan penumpang.

f) Kesetaraan

Dari indikator dan tolak ukur SPM terhadap kesetaraan di stasiun

ditemukenali beberapa hal yang masih harus mendapatkan perhatian dalam

pengelolaan stasiun seperti berikut:

- Untuk fasilitas jalan bagi difable jalan masuk ke peron tunggu pada

beberapa stasiun masih terlalu curam. Dalam SPM ketersediaan ram


103

dengan kemiringan 10º namun pada beberapa stasiun masih terdapat

rum yang terlalu curam kurang lebih 20º sampai 30º lebih. Tentunya hal

ini sangat membahayakan bagi para penyandang disabilitas.

- Terdapat tegel penuntun arah bagi penyandang disabilitas namun

tertutupi dengan lapak pedagangn kaki lima di beberapa halaman

stasiun. Hal ini tentunya sangat merugikan bagi penyandang sisabilitas.

- Pada beberapa stasiun telah disediakan ruang khusus untuk ibu

menyusui namun belum dilengkapi dengan fasilitas yang memadai.

2. Standar Pelayanan Minimun dalam Perjalanan

a) Keselamatan

Dari indikator dan tolak ukur SPM terhadap keselamatan dalam perjalanan

ditemukenali beberapa hal yang masih harus mendapatkan perhatian

seperti berikut:

- Pada beberapa kereta masih terdapat rangkaian yang tidak terdapat

APAR dan/atau alat pemecah kaca. Kalaupun terdapat APAR dan/atau

alat pemecah kaca sebagian putugas ataupun pengguna jasa belum

mengetahui cara penggunaan alat keselamatan tersebut.

- Ketersediaan fasilitas kesehatan untuk penanganan keadaan darurat

seperti alat P3K yang mudah terlihat dan terjangkau dimana khusus
104

untuk kereta perkotaan perlengkapan P3K ini dibawa oleh petugas

pengamanan/pengawalan. Namun utuk beberapa perjalanan kereta

petugas pengamanan yang seharusnya bertugas di masing-masing

rangkaian jarang terlihat, sehingga ketika terjadi penumpang pingsan

atau kecelakaan kecil terkadang sulit menemukan perlengkapan P3K.

Hal ini terkesan hanya pemenuhan terhadap SPM. Mengacu pada Pasal

4 huruf (a) Undang-undang Nomor 8 Tahun 1999 tentang perlindungan

konsumen, dimana kosumen berhak atas kenyamanan, keamanan, dan

keselamatan dalam mengkonsumsi barang dan/atau jasa.

b) Keamanan

Dari indikator dan tolak ukur SPM terhadap keamanan dalam perjalanan

ditemukenali beberapa hal yang masih harus mendapatkan perhatian

seperti berikut:

- Penempatan petugas keamanan yang berjumlah minimal 2 (dua) orang

petugas dalam 1 (satu) rangkaian kereta belum terpenuhi. Pada

beberapa perjalanan kereta, terkadang hanya terdapat 1(satu) petugas

seringkali pun tidak ada petugas dalam rangkaian kereta. Keberadaan

petugas sesuai ketentuan yang diatur dakan SPM ini tentunya sangat

dibutuhkan oleh penumpang karena disamping untuk menjaga

keamanan dalam rangkaian kereta juga untuk mengatur sirkulasi dan


105

memantau ketertiban dalam rangkaian. Mengacu pada Pasal 4 huruf (a)

Undang-undang Nomor 8 Tahun 1999 tentang perlindungan konsumen,

dimana kosumen berhak atas kenyamanan, keamanan, dan keselamatan

dalam mengkonsumsi barang dan/atau jasa.

c) Kehandalan/Keteraturan

Dari indikator dan tolak ukur SPM terhadap kehandalan/keteraturan

dalam perjalanan ditemukenali beberapa hal yang masih harus

mendapatkan perhatian seperti berikut:

- Ketidaktepatan waktu kedatangan dan keberangkatan kereta sesuai

jadwal yang telah ditetapkan masih sering terjadi. Sehingga bisa di

katakan tidak ada kepastian jadwal yang tepat atas kedatangan dan

keberangkatan kereta. Seringnya kejadian ini tentunya harus disertai

dengan pemberian kompensasi kepada penumpang sebagaimana diatur

dalam Peraturan Menteri Perhubungan Nomor 48 Tahun 2015 Pasal 5

ayat (1) bahwa apabila terjadi keterlambatan keberangkatan perjalanan

terjadwal dari kereta api perkotaan, pada stasiun kereta api

keberangkatan, dalam 30 (tiga puluh) menit atau lebih setiap

penumpang berhak meminta formulir informasi keterlambatan dari

penyelenggara sarana perkeretaapian pada stasiun tujuan bagi

penumpang yang membutuhkan. Pemberian kompensasi ini pun


106

sekiranya dapat perhitungkan kembali karena tidak sesuai dengan

kerugian yang ditimbulkan akibat keterlambatan yang terjadi. Dimana

pengguna jasa yang telah masuk satasiun maka ketika hendak keluar

pada stasiun yang sama tetap akan dikenakan biaya. Informasai

mengenai formulir keterlambatan pun masih minim sehingga masih

banyak penumpang yang tidak mengetahui dimana bisa

memperolehnya. Mengacu pada Pasal 4 huruf (h) Undang-Undang

Nomor 8 Tahun 1999 tentang perlindungan konsumen dimana kosumen

berhak mendapatkan kompensasi, ganti rugi, dan/atau penggantian,

apabila barang dan/atau jasa yang diterima tidak sesuai dengan

perjanjian atau tidak sebagaimana mestinya.

d) Kenyamanan

Dari indikator dan tolak ukur SPM terhadap kenyamanan dalam perjalanan

ditemukenali beberapa hal yang masih harus mendapatkan perhatian

seperti berikut:

- Pada beberapa perjalanan kereta masih sering terdapat rangkaian yang

tidak berfungis pengatur sirkulasi udara sehingga hal ini menyebabkan

ketidaknyamanan pengguna jasa dan bahkan dapat membahayakan

keamanan karena tidak jarang jendela sebagai ventilasi pada rangkaian

kereta dibuka untuk mendapatkan udara;


107

- Menjadi pemandangan yang terjadi sehari-hari terutama di jam sibuk

berangkat dan pulang kerja bagi para pengguna jasa dimana kapasitas

penumpang tidak bisa di kontrol oleh pemberi jasa. Ketersediaan

tempat duduk, jumlah pegangan untuk penumpang berdiri sudah tidak

lagi sesuai aturan. Rangkaian kereta dengan jumlah penumpang yang

melebihi kapasitas masih saja dibiarkan terjadi, yang mana dalam satu

rangkaian kereta seharusnya hanya mempunyai kapasitas maksimal 250

orang termasuk penumpang duduk 60 orang. Penumpang penuh sesak

dalam rangkaian tidak ada ketegasan dari petugas, tentunya hal ini

membahayakan keselamatan dan ketidaknyamanan pengguna jasa.

Mengacu pada Pasal 4 huruf (a) Undang-undang Nomor 8 Tahun 1999

tentang perlindungan konsumen, dimana kosumen berhak atas

kenyamanan, keamanan, dan keselamatan dalam mengkonsumsi barang

dan/atau jasa.

e) Kemudahan

Dari indikator dan tolak ukur SPM terhadap kemudahan dalam perjalanan

ditemukenali beberapa hal yang masih harus mendapatkan perhatian

seperti berikut:

- Masih sering terjadi dalam perjalanan informasi gangguan tidak

disampaikan secara audio kepada para penumpang dalam kereta.


108

Sehingga seringkali pengguna jasa tidak memperoleh kepastian atas

gangguan yang terjadi. Mengacu pada Pasal 4 huruf (c) Undang-undang

Nomor 8 Tahun 1999 tentang perlindungan konsumen, dimana

kosumen berhak atas informasi yang benar, jelas, dan jujur mengenai

kondisi dan jaminan barang dan/atau jasa;

f) Kesetaraan

Dari indikator dan tolak ukur SPM terhadap kesetaraan dalam perjalanan

ditemukenali hal yang masih harus mendapatkan perhatian seperti

kemudahan bagi penyandang disabilitas, ibu hamil, ibu membawa balita,

dan lansia telah dipenuhi oleh penyedia jasa namun kesadaran pengguna

jasa yang lain masih perlu untuk di tingkatkan karena tidak jarang fasilitas

bagi para pengguna jasa dengan kebutuhan khusus tersebut digunakan oleh

pengguna jasa yang lain. Mengacu pada Pasal 4 huruf (g) Undang-undang

Nomor 8 Tahun 1999 tentang perlindungan konsumen, dimana kosumen

berhak diperlakukan atau dilayani secara benar dan jujur serta tidak

diskriminatif.

Bersama dengan PT KAI Commuterline Jabodetabek PT KAI (Persero) terus

berupaya melakukan pembenahan dalam memberikan pelayanan yang lebih baik

bagi seluruh pengguna jasa KRL Commuterline. Pembenahan yang dilakukan antara

lain untuk memenuhi penerapan Standar Pelayanan Minimun yang telah ditatapkan
109

sebagai peraturan yang harus dipenuhi dalam penyelenggaraan pelayanan

transportasi publik, walaupun dalam pelaksanaannya masih terdapat beberapa hal

yang belum sesuai dengan SPM dimaksud. Ada beberapa hal yang sebagai upaya

peningkatan pelayanan yang telah dilakukan oleh PT.KAI dalam pemenuhan SPM di

Stasiun diantaranya:

- Perpanjangan peron di stasiun-stasiun yang melayani jalur KRL, hal ini dilakukan

untuk menyesuaikan dengan penambahan jumlah rangkaian saat ini dari 8-10

menjadi 10-12 rangkaian sebagai upaya memenuhi jumlah pengguna jasa yang

melebihi kapasitas;

- Pembangunan fasilitas perpindahan antar peron dengan mengedepankan

keselamatan dan perluasan hall stasiun sebagai bentuk dukungan integrase antar

moda seperti pembanguan underpass dan Jembatan Penyeberangan Orang (JPO)

yang dilengkapi dengan eskalator sebagai upaya meningkatkan keselamatan para

pengguna jasa. Dengan demikian perpindahan penumpang antar peron yang

melintasi rel dibeberapa stasiun akan segera ditutup sehingga keselamatan

penumpang semakin terjamin.

- Pemasangan Tegel khusus untuk membantu akses penyandang disabilitas yang

akan menggunakan jasa transportasi kereta api dilaksanakan dihampir seluruh

stasiun walaupun saat ini dibeberapa stasiun pemanfaatannya masih perlu diawasi

dengan baik.
110

- Pembangunan pos kesehatan, toilet, musholla, dan fasilitas umum lainnya yang

sesuai standar SPM terus diupayakan dibeberapa stasiun walaupun masih terdapat

beberapa yang belum sesuai dengan standar yang ditetapkan.


BAB V

PENUTUP

A. Kesimpulan

Berdasarkan penelitian dan pembahasan diperoleh kesimpulan sebagai berikut:

1. Peraturan Menteri Perhubungan Nomor 48 Tahun 2015 tentang Standar

Pelayanan Minimum Angkutan Orang Dengan Kereta Api secara garis besar

telah memberikan perlindungan terhadap konsumen sebagaiman tutuan

Undang-Undang Perlindungan Konsumen Nomor 8 Tahun 1999 Pasal 2

bahwa Perlindungan Konsumen berasaskan manfaat, keadilan,

keseimbangan, keamanan, dan keselamatan konsumen, serta kepastian

hukum. Dalam Peraturan Menteri ini telah diatur standar pelayanan minimum

meliputi Standar Pelayanan Minimum di stasiun kereta api dan standar

pelayanan minimum dalam perjalanan. Standar pelayanan minimum paling

sedikit mencakup keselamatan, keamanan, kehandalan, kenyamanan,

kemudahan, dan kesetaraaan. Namun perlu dicermati bahwa dalam peraturan

Menteri tersebut perlu diatur lebih jelas dan tegas terkait kewajiban

penyelenggara sarana kereta api perkotaan terkait kompensasi atas

keterlambatan kedatangan dan/atau keberangkatan kereta. Harga tiket kereta

dengan kerugian yang dialami akibat keterlambatan dan kompensasi yang

diberikan dapat dikatakan tidak sebanding.


112

2. Penerapan standar pelayanan minimum sesuai peraturan Menteri dalam

pelaksanaan transportasi kereta api belum dilaksanakan dengan baik oleh

penyedia saja. Dalam hal ini masih terdapat beberapa hal yang masih harus di

penuhi oleh penyedia jasa antara lain seperti fasilitas penyeberangan, fasilitas

umum musollah dan toilet yang memadai, penertiban penumpang saat jam-

jam padat, dan yang paling penting adalah ketepatan jadwal kedatangan dan

keberangkatan kereta serta informasi yang benar dan tepat sehingga tidak

membuat penumpang menunggu tanpa kepastian. Namun demikian PT KAI

(Persero) bersama dengan PT KAI Commuterline Jabodetabek terus berupaya

melakukan pembenahan dalam memberikan pelayanan yang lebih baik bagi

seluruh pengguna jasa KRL Commuterline. Pembenahan yang dilakukan

antara lain untuk memenuhi penerapan Standar Pelayanan Minimun yang

telah ditetapkan dengan terus melakukan pembenahan dan pembangunan

fasilitas-fasilitas yang dibutuhkan seperti pembangunan jembatan

penyeberangan orang (JPO) ataupun underpass untuk mengatasi

penyeberangan sebidang, pembenahan fasilitas umum seperti musollah dan

toilet serta sarana bagi penyandang disabilitas.

B. Saran

Berdasarkan kesimpulan yang diperoleh, beberapa saran dapat dikemukan

sebagai berikut:
113

1. Penerapan Standar Pelayanan Minimum (Peraturan Menteri Perhubungan

Nomor 48 Tahun 2015) merupakan kewajiban PT KAI (Persero) dalam

rangka memberikan pelayanan prima dan perlindungan bagi pengguna jasa

kereta api. Perlunya komitmen yang tegas dari penyedia jasa dalam hal ini

PT KAI (Persero) bekerja sama dengan PT. KCJ untuk lebih memperhatikan

hak konsumen dan memenuhi kewajibannya selaku penyedia jasa

sebagaimana diatur dalam Undang-Undang. Pembenahan Internal oleh PT

KAI (Persero) perlu dilakukan untuk mengatsi dan mempersiapkan dengan

baik sarana dan prasarana perkeretaapian dan memenuhi Standar Pelayanan

Minimum yang telah ditetapkan.

2. Pemerintah dalam hal ini Kementerian Perhubungan selaku regulator

bekerjasama dengan PT KAI (Persero) selaku operator harus aktif

memberikan sosialisasi dan simulasi atas peraturan ataupun penanganan

masalah dalam pelaksanaan kegiatan transportasi perkeretaapian sebagai

bentuk pendidikan kepada kepada masyarakat selaku pengguna jasa

transportasi.
DAFTAR PUSTAKA

A. BUKU-BUKU

Hartoyo, Edie.2013. Transportasi Pro Rakyat. PT. Gramedia. Jakarta.

Hidayat, Taufik,. 2004. Perkeretaapian Indonesia di Persimpangan Jalan. YLKI.


Jakarta.

Hidayat, Taufik,. 2011. Regulasi, Keselamatan dan Pelayanan Perkeretaapian


Indonesia. CV.Halimah. Bandung.

Kartika, Sari Elsi dan Simangungsog Advendi. 2007. Hukum Dalam Ekonomi.
Gramedia Widiasarana Indonesia. Jakarta.

Miru, Ahmadi. 2013. Prinsip-prinsip Perlindungan Hukum bagi Konsumen di


Indonesia. Rajagrafindo Persada. Jakarta.

Nasution, Az SH. 2011. Hukum Perlindungan Konsumen Suatu Pengantar. Diadit


Media. Jakarta.

Simbolon, Maringan Masry. 2003. Ekonomi Transportasi. Ghalia Indonesia.


Jakarta.

Shofie, Yusuf. 2009. Perlindungan Konsumen dan Instrumen-Instrumen


Hukumnya. Citra Aditya Bakti. Bandung.

Sidabalok, Janus. 2010. Hukum Perlindungan Konsumen. Citra Aditya Bakti.


Bandung.

Salim, H.A.Abbas. 2013. Manajemen Transportasi. Rajawali Pers. Jakarta.

Muhammad, Abdulkadir. 2013. Hukum Pengangkutan Niaga. Citra Aditya Bakti.


Bandung.

B. Jurnal, Makalah, Prosiding


Proceeding Round Table Discussion, Kebijakan Penghapusan Pengoperasian
Kereta Rel Listrik (KRL) Kelas Ekonomi, Kementerian Perhubungan Badan
Litbang, Jakarta 2013 hal.I-1

xii 
 
C. Media Online
Transportasi, (www.id.wikipwdia.org/wiki/transportasi) diakses tanggal 3 Mei 2014.

Mochamad Soef, “Pentingnya /peranan Transportasi Perkotaan dan Lingkungan,

(http://soef47.wordpress.com/2009/11/01/pentingnya-peran-transportasi-

perkotaan-dan-lingkungan), diakses tanggal 03 Mei 2014.

Sekilas KRL, Sejarah KRL (www.krl.co.id), diakses tanggal 12 April 2014

D. Perundang-Undangan
Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 23 Tahun 2007 tentang Perkeretaapian
(Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2007 Nomor 65, Tambahan
Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4722);

Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 8 Tahun 1999 tentang Perlindungan


Konsumen (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 1999 Nomor 42,
Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 3821);

Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 25 Tahun 2009 tentang Pelayanan


Publik (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2009 Nomor 112,
Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 5038);

Peraturan Menteri Perhubungan Republik Indonesia Nomor. 48 Tahun 2015 Tentang


Standar Pelayanan Minimum Untuk Angkutan Orang dengan Kereta Api (Berita
Negara Republik Indonesia Tahun 2015 Nomor 322).

xiii 
 

Anda mungkin juga menyukai