Anda di halaman 1dari 46

LITURGIKA

Daniel Ginting, S.Mis, S.Th

SEKOLAH TINGGI TEOLOGI REAL

PULAU BATAM

Liturgika STT REAL BATAM Page 1


2015

BAGIAN I
PENDAHULUAN

A. Pengertian Liturgika
Liturgi berasal dari bahasa Yunani “Leiturgia”, kata ini berasal dari kata
kerja “leiturgeo”, artinya melayani, melaksanakan dinas atau tugas, atau
memegangjabatan. Secara harfiah kata ini berasal dari dua kata Yunani yakni
leitos, berarti rakyat atau umat, sedangkan kata lainnya adalah ergon yang
berarti pekerjaan, perbuatan, tugas. Jadi secara sederhana kata leiturgia
diartikan melakukan suatu pekerjaan untuk rakyat.
Kata “leiturgia” dalam bahasa umum negara juga bisa dipahami
mengacu kepada tugas raja yang berkarya bagi umatnya. Juga untuk lain-lain
pejabat negara, misalnya pegawai pemerintah, seperti kepala desa, camat,
dll. Tetapi juga di bidang yang kurang resmi seperti orang yang mengatur
pesta rakyat, atau pertandingan olah raga. Tugas-tugas seperti ini bisa
disebut dengan istilah leiturgia.
Dalam istilah Septuaginta, liturgi di pakai berkaitan dengan agama.
Merujuk kepada pelaksanaan tugas-tugas iman di bait Allah. Juga dapat
dimasukkan tugas para Lewi. Secara khusus istilah ini dikaitkan dengan tugas
pelayanan mezbah, Septuaginta menggunakan kata leiturgia untuk suatu
pekerjaan yang dilaksanakan oleh para imam secara tertib dan dengan
khidmat, sesuai dengan undang-undang upacara ibadah: suatu pelayanan
yang berguna untuk seluruh jemaat.
Dalam kitab Perjanjian Baru, merujuk kepada bahasa Yunani,
beberapa ayat kata “leiturgia” dengan makna yang berbeda-beda, sebagai
berikut (tugas mhs menemukan makna leiturgia )
1. Lukas 1:23
2. Ibrani 9:21
3. dan Ibrani 10:11

Liturgika STT REAL BATAM Page 2


4. Ibrani 8:2 ; Ibrani 8:6
5. Untuk Roma 15:16),
6. Filipi 2:17
7. Ibrani 1:7, 14
8. (Roma 13:6).
9. (Roma15:27),
10. (Kis 13:2).

Jadi berdasarkan asal – usul dan perkembangan awal tentang liturgi,


dapat dikatakan bahwa :
 Liturgi dalam PB dapat dihubungkan dengan pelayanan kepada
Allah dan sesama. Pelayanan itu tidak dibatasi hanya pada
bidang – bidang ibadah saja, tetapi juga pada aneka bidang
kehidupan lain.
 Isilah liturgi dalam PB tidak khusus untuk menunjuk pelayanan
kultis dari pemimpin jemaat kristiani, seperti para rasul, imam ,
uskup melainkan merupakan partisispasi kita pada imamat
Kristus
Dalam gereja-gereja purba, istilah liturgi sama pemakaiannya seperti
dalam Perjanjian Lama yaitu menyatakan tugas-tugas imam. Leiturgia dapat
juga merujuk kepada kehidupan sebagai orang Kristen, tugas malaikat,
jabatan penatua dan uskup. Selanjutnya dipakai pula dalam pelaksanaan
ibadah sehubungan dengan perayaan Perjamuan Kudus. Dalam arti inilah
istilah liturgi makin memperoleh tempat dalam teologi Katolik Roma.
Istilah liturgi yang dipakai merujuk kepada ibadah jemaat, terdapat
pada gereja masa kini. Liturgi menjadi istilah teknis dalam ilmu teologi yang
merujuk kepada berkumpulnya jemaat untuk beribadah, tata kebaktian, dsb.
Namun jika dilihat dari arti kata leiturgi maka sebenarnya tidak ada dasar
alkitab untuk membenarkan penggunaan sebagaimana yang kita gunakan
sekarang.
Kata leiturgia dalam kitab PB sebenarnya mengacu kepada kegiatan
jemaat yang beribadah. Hanya dalam Kis 13:2 berdasarkan nas yang satu ini
saja, kita tidak dapat membenarkan kebiasaan gereja untuk mengistilahkan

Liturgika STT REAL BATAM Page 3


ibadahnya sebagai liturgi. Memang tidak salah jika kita menghubungkan kata
liturgi kepada istilah tata ibadah atau kebaktian seperti yang masih tetap kita
pakai sampai sekarang ini. Hanya saja yang perlu kita pahami adalah bahwa
ilmu liturgi yang kita pakai harusbersifat reformis, yakni bahwa penggenapan
liturgi dalam PL ada dalam Yesus Kristus, dan hal ini berlangsungnya secara
terus menerus dan mulia, dan sempurna di surga. Karena itu hendaknya
setiap liturgi kita pahami secara komprehensif, berdasarkan PL dan PB, yang
digenapi dalam Yesus Kristus.

B. Kedudukan Litugika dalam Teologi

Mata pelajaran liturgi hanyalah merupakan bagian yang kecil dalam ilmu
teologi. Jika kita hendak membingkai kedudukan liturgi dalam ilmu teologi
maka kita harus lebih dahulu mengerti bingkai orientasi ilmu dalam teologi.
Ada empat bidang ilmu teologi yakni:
1. Bidang teologi yang menyelidiki tentang penyataan Allah dalam
Kitab Suci yakni bibliologi
2. Bidang teologi yang menyelidiki penyataan Allah berkaitan
tentang gereja disebut dengan eklesiologi.
3. Bidang teologi yang menyelidiki pernyataan Allah diakui dalam
dogma disebut dengan dogmatologi
4. Bidang teologi yang menyelidiki penyataan Allah dikabarkan
oleh pejabat-pejabat disebut dengan diakonologi

Liturgi adalah sarana penting yang menghidupkan dan menguatkan


kepercayaan jemaat, untuk menyinarkan kasih Kristus kepada orang-orang
yang belum menjadi anggota jemaat, sehingga mereka tertarik dan
bergabung dengan jemaat. Liturgi menjadi cermin yang bisa memantulkan
Injil kepada jemaat dan dunia, dan bisa dilakukan dengan bentuk dan rupa,
suasana dan warna tata kebaktian. Ketika berbicara tentang liturgi dalam
bidang ilmu teologi, maka kedudukan liturgi dalam ilmu teologi dikelompokkan
dalam diakonologi. Diakonologi adalah ilmu yang menyelidiki bagaimana
penyataan Allah diberitakan oleh pejabat-pejabat yaitu para pelayan (para
pendeta, penatua diaken). Itulah sebabnya penempatan ilmu liturgi

Liturgika STT REAL BATAM Page 4


dikategorikan kepada diakonologi. Memang harus dijelaskan bahwa bukan
berarti jemaat tidak ambil bagian atau tidak terlibat dalam ibadah/tata ibadah
jemaat. Tetapi sebaliknya justru ada porsi dari jemaat dalam liturgi ibadah.
Dari uraian di atas, maka kita bisa menyimpulkan bahwa ilmu liturgi
adalah ilmu yang menyelidiki dan menguraikan pertemuan Tuhan dengan
umatNya, yaitu bagaimana pertemuan ini diciptakan berlandaskan
pertimbangan semua faktor yang memainkan peranan dalam pemilihan,
pembentukan dan penyusunan semua unsurnya, supaya olehnya perjanjian
Allah dengan umatNya selalu diperbaharui.

Ada banyak faktor yang mempengaruhi pembentukan liturgi, antara


lain faktor yang ada dilingkungan teologi dan juga non teologi. Beberapa
faktor yang mempengaruhi liturgi antara lain:
1. Alkitab :dasar, ukuran, maupun kanon bagi umat kristen dalam
membentuk liturgy
2. Ajaran gereja (dogmatika)
3. Persekutuan gereja : menyusun suatu liturgi dalam gereja dengan
tujuan adanya persamaan tata ibadah
4. Dunia gereja (politik, ekonomi, sosial, dll
5. Kebudayaan (kesenian, musik, arsitektur): lihat :pengertian
kebudayaan
6. Antropologi Etnologi (Sifat suku bangsa dan adat istiadat): cara
berpikir, berbicara, pandangan hidupyang bebrbeda maka terjadilah
model – model liturgi yang harus dipilih dan disesuaikan serta
diterapkan dlam tata ibadah.
7. Misiologi (mengabarkan injil)
8. Sejarah gereja

Dari sekian banyak faktor yang mempengaruhi liturgi, maka kita dapat
bedakan ada yang bersifat normatif dan ada yang bersifat konteks situasional.
Hal yang normatif biasanya dihubungkan dengan Alkitab dan dogma gereja,
sedangkan situasional adalah konteks budaya di mana gereja itu ada.

Liturgika STT REAL BATAM Page 5


C. Sejarah Liturgika

Untuk memahami sejarah liturgi ini, maka kita membedakan atas


beberapa periode sejarah antara lain: Liturgi gereja zaman Purba, Gereja
Timur dan Barat, Perkembangan Liturgi Gereja Barat, Abad Pertengahan dan
Zaman Reformasi. Kesemua sejarah ini akan dijelaskan secara berturut-turut
dalam uraian di bawah ini, antara lain:
1. Liturgi Gereja Zaman Purba
Liturgi pada zaman Purba, biasanya dianggap sebagai hal yang
paling penting dalam sejarah liturgi. Masa itu antara tahun 50-500 M. Para
Ahli yang bertugas menciptakan atau memperbaharui liturgi, sering
menggunakan sumber abad pertama sebagai patokan. Alasannya bahwa
liturgi didasarkan kepada tata ibadah asli yang terdapat dalam Perjanjian
Baru. Untuk lebih jelas dan kita mengetahui masa ini, maka kita akan
melihat pembagian masanya sebagai berikut:
- Tahun 50-150, Liturgi dikaitkan dengan sinagoge, karena
perbedaan antara gereja dan sinagoge, maka liturgi
berkembang berdasarkan ajaran Injil Kristus.
- Tahun 150-300, Gereja yang dianiaya terpaksa berdiaspora dan
hidup dalam dunia kafir, gereja dimusuhi oleh kelompok kafir ini
dan mengakibatkan sulit bagi terbentuknya liturgi yang baik.
- Tahun 300-500, gereja diizinkan oleh Kaisar Konstantin Agung
untuk mengembangkan liturgi.
Dalam menjalankan atau melaksanakan liturgi, gereja zaman purba
mendasarkan berbagai buku ajaran atau buku katekisasi sebagai bagian
yang penting dan dipakai.
Salah satu bagian yang sangat penting dalam liturgi gereja zaman
purba adalah didakhe yakni ajaran rasul-rasul. Di dalam didakhe itu yang
paling prinsip adalah ajaran Tuhan Yesus kepada murid-muridnya. Itu

Liturgika STT REAL BATAM Page 6


dilestarikan melalui liturgi gereja zaman purba. Gereja zaman purba,
semakin jelas memahami liturgi dan mengaplikasikan dalam pelaksanaan
ibadah secara khusus dalam zaman Yustinus. Beberapa unsur yang
dimasukkan dalam liturgi zaman ini: baptisan, berdoa bersama-sama,
penyampaian salam, perjamuan kudus, dan pemberian derma atau
santunan.
Dalam tata ibadah yang diadopsi dari zaman Yustinus adalah
sebagai berikut:
- Pembacaan Injil-Injil
- Pembacaan surat-surat rasuli
- Pembacaan kitab-kitab nabi
- Penjelasan kitab yang dibaca (yaitu khotbah, dibawakan oleh
uskup sambil duduk)
- Ajakan untuk hidup sesuai dengan kitab yang dibaca
- Berdoa sambil berdiri
- Pembagian roti dan anggur
- Doa bebas
- Pengaminan
- Ekaristi
- Kolekte (untuk orang miskin)
Gereja purba pada awalnya mereka mengadakan dua kebaktian
setiap hari minggu: kebaktian pelayanan Firman pagi dan sore/malam.
Kegiatan kebaktian malam untuk mengadakan “agape” dengan “Ekaristi”.
Pada akhirnya mereka menggabungkan kedua kebaktian ini. Secara
umum kegiatan liturgi zaman Purba mempertahankan liturgi rasuli, namun
karena perkembangan karena perubahan yang terjadi maka beberapa
unsur liturgi juga mengalami perubahan.

2. Liturgi Gereja Timur dan Barat


Gereja Timur dan Barat, maka istilah ini muncul pada abad ke-4,
Gereja ini muncul seturut dengan perkembangan di kekaisaran Romawi.
Dua wilayah itu terbagi sedemikian yakni Barat dan Timur. Inilah yang
menyebabkan adanya muncul perpecahan gereja. Bagian Timur
merupakan Gereja Ortodoks Timur sedangkan bagian Barat berkembang
Liturgika STT REAL BATAM Page 7
Gereja Roma Katolik dan Gereja Protestan. Gereja makin berkembang
dan tersebar. Menurut Yesus pekabaran Injil diselenggarakan mulai dari
Yerusalem dan Yudea, Samaria dan sampai ke ujung bumi. Melalui Roma
terus ke Eropa Barat, masuk ke dalam kebudayaan kebudayaan suku
bangsa di sana. Dan mulai timbul pembedaan antara Timur dan Barat
pada abad ke-4, dengan menyebutkan Timur (Konstantinopel) dan Barat
(Roma). Dari mulaya gereja-gereja Kristen dianiaya, terutama oleh orang
Yahudi, kemudian lebih hebat lagi oleh tentara Romawi. Mulai pada
kekaisaran Nero (Thn 54-68) Nero menganiaya dan membunuh orang-
orang Kristen, pembantaian massal dan ada banyak yang mati sebagai
martir seperti Petrus. Pada pemerintahan Kaisar Antonius Pius, Uskup
Polikarpus (dari Smirna) mati martir sekitar tahun 155.
Kaisar Markus Aurelius (161-180) menganggap gereja adalah sekte
berbahaya, sehingga keadaan gereja makin sulit. Barulah pada
kekaisaran Konstantin ada perbedaan, dimana gereja-gereja mengalami
kebebasan. Gereja diberikan kebebasan untuk menata diri dengan baik.
Hal ini disebabkan karena pada zamannya itu Ia menang melawan Kaisar
Maksentius melalui tanda kemenangan Salib, Ia pun memindahkan pusat
kekaisaran dari Roma ke Bisantium. Sejak kemenangan itu, Agama
Kristen menjadi agama yang penting dalam kekaisaran. Ia menetapkan
bahwa hari Minggu sebagai hari libur umum dalam kekaisaran. Selain itu,
ia pun membangun banyak “basilika’ yang digunakan pada awalnya
sebagai tempat pengadilan, namun pada akhirnya berkembang menjadi
gereja.
Yang membedakan gereja Timur dan Barat sebenarnya terletak
pada dogma yang dianut. Liturgi gereja Timur berpusat pada Bisantium,
beberapa unsur yang ada didalamnya yakni pembacaan Alkitab, doa-doa,
ucapan sambut-menyambut imam, diaken dan jemaat. Dalam
melaksanakan liturgi, maka para imam diperlengkapi dengan pakaian
yang bagus, cara berbicara diatur sesuai dengan cara berbicara di istana.
Dalam liturgi digunakan kemenyan yang berbau harum dan mereka
menyembah lukisan yang disebut dengan “ikon”. Lukisan berupa patung-
patung dari Kristus, Maria, para Rasul, Nabi-nabi, Orang-orang kudus, dll.

Liturgika STT REAL BATAM Page 8


Pada zaman Sirillus dari Yerusalem dan Egeria, model liturgi yang
dipakai yakni:
- Pada permulaan kebaktian dinyanyikan suatu mazmur dengan
bersahutsahutan.
- Doa-doa diucapkan diaken dan presbiter.
- Ditutup dengan doa oleh Uskup.

Pembacaan PL dan Surat-surat.


- Menyanyikan Mazmur dan Haleluya.
- Pembacaan Injil oleh Uskup.
- Khotbah-khotbah oleh presbiter.
- Ditutup dengan khotbah Uskup.

Liturgi lain yang dipakai pada gereja pada zaman ini adalah liturgi
yang dibuat oleh Yohanes Chrisostomos, yakni:
a. Liturgi dimulai di belakang ikon-ikon; dinding ini berada diantara meja
dan ruang tempat jemaat berkumpul. Meja disiapkan kemudian
mengucapkan doa Litani dengan doa syafaat bagi bangsa, negara dan
gereja. Lalu disusul dengan nyanyian mazmur yang dinyanyikan oleh
paduan suara.
b. Pengakuan dosa.
- Doa agar berkhikmat dan diterangi oleh Roh Kudus.
- Pemasukan kecil (kitab suci dibawa masuk dan diusung dengan
tangan di atas kepala) nyanyian trishagion.
- Pembacaan Taurat.
- Pembacaan Nabi-nabi.
- Pembacaan Surat-surat.
- Pembacaan Injil.
- Khotbah (Homili).
- Doa syafaat.
c. Doa Persiapan Meja.
- Nyanyian Mazmur 90 dengan pemasukan Besar: roti dan anggur
dibawa masuk.

Liturgika STT REAL BATAM Page 9


- Saling berdoa syafaat.
- Ciuman kudus.
- Pembukaan pintu dinding dalam ikon-ikon.
- Pembacaan kredo (Pengakuan Iman Nicea).
- Salam (2 Korintus 13:13).
- Doa syukur akbar.
- Doa-doa syafaat yang ditutup dengan Doa Bapa Kami.
- Doa Penutup.
- Jemaat menyanyi.
Corak liturgi dalam Gereja Ortodoks Timur adalah hubungan
kosmis antara surga dan bumi dan juga penyatuan mistis dengan Kristus.
Oleh sebab itu mereka di Gereja Ortodoks Timur menekankan hal
penampakan Yesus dan kebangkitan.
Di Gereja Barat ditekankan hal penjelmaan Kristus menjadi
manusia (Natal) dan hal pendamaian oleh kayu Salib (Jumat Agung)

3. Perkembangan Liturgi Barat


Sebenarnya tidak ada hubungan yang erat antara gereja Timur dan
orthodoks dengan perkembangan liturgi di gereja-gereja Indonesia. Itulah
sebabnya kita memusatkan perhatian kepada liturgi yang dibangun atau
dikembangkan di gereja Barat. Sampai pertengahan abad ke-4 dalam tata
ibadah gereja, bahasa yang dipakai adalah bahasa Yunani. Baik gereja
Timur maupun Gereja Barat memakai hal yang sama, terutama dalam hal
doa. Perkembangan liturgi di gereja Barat mengarah kepada litugi gereja
Roma Katolik Roma, yang makin lama memusatkan misa dalam ibadah-
ibadah gereja. Dalam perkembangannya maka keseluruhan liturgi ini
muncul di Eropa di Negara-negara sebelah barat Roma.
Perkembangan liturgi di gereja Barat berkaitan dengan berbagai
pemahaman tentang arti Perjamuan Kudus. Perkembangan itu mengarah
kepada faktor dogmatis yang mempengaruhi penciptaan liturgi, Sebelum
terjadi reformasi akbar maka beberapa pemahaman tentang Perjamuan
Kudus antara lain:
a. Menurut Tertulianus, roti adalah lambang (simbol, tanda) dari tubuh
Kristus. Roti ini mewakili Kristus dalam jemaat.
Liturgika STT REAL BATAM Page 10
b. Cyprianus, unsur-unsur perjamuan kudus (roti dan anggur) tidak
berubah menjadi daging dan darah Kristus.
Ekaristi hanya semacam korban. Ekaristi bukanlah ulangan korban
Kristus.
c. Ambrosius, menurutnya yang penting adalah kata-kata Kristus
mempunyai kuasa untuk mengubah roti menjadi dagingNya dan
anggur menjadi darahNya. Jadi Ambrosius menekankan transfigurasi
yang mengarah kepada trans subtansiasi.
d. Agustinus, menyebutkan bahwa roti dan anggur tidak lebih dari tanda,
perumpamaan dan gambar. Dia menekankan bahwa dalam Ekaristi,
bukan roti yang adalah tubuh Kristus tapi jemaat. Ajaran ini menggiring
ajaran transformasi jemaat menjadi tubuh Kristus, bukan transformasi
unsur-unsur perjamuan Kudus.
Di samping faktor dogmatis yang mempengaruhi liturgi pada kala
itu, hal lain yang mempengaruhi adalah politik negara. Salah satu yang
terjadi pada zaman itu adalah oleh kaisar Konstantinus Agung
mengeluarkan Edik Milano sekitar 313M (keputusan), yang
memerdekakan kristen sebagai agama negara. Gereja Kristen secara
resmi menjadi gereja negara (thn 380).
Politik ini sangat mempengaruhi liturgi gereja. Pada masa ini gereja
tidak perlu lagi sembunyi-sembunyi dan rahasia berkumpul melakukan
ibadahnya, seperti yang dilakukan pada abad sebelumnya mereka
menyembunyikan diri pada “katakombe”. Gereja diakui secara umum, dan
banyak anggota gereja berubah menjadi anggota umum saja, bukan lagi
yang militan. Mereka bergereja hanya karena tuntutan keanggotaan
belaka. Akibatnya kualitas rohaninya menurun.
Selain kedua faktor diatas, maka yang mempengaruhi litugi gereja
pada masa ini adalah kesenian. Kesenian yang dimaksud adalah
arsitektur gereja, patung-patung, lukisan dalam gereja diberi peranan yang
besar. Jemaat dalam beribadah dibantu dengan lambang-lambang yang
menunjang pemahaman tentang gereja. Dan faktor terakhir adalah hukum
gereja. Pemerintahan mulai menuju kepada sistem hirarkis, dimana liturgi
gereja merupakan hak dan keputusan negara. Dalam masa ini Ekaristi

Liturgika STT REAL BATAM Page 11


yang adalah perjamuan kudus mulai dirubah namanya menjadi “misa”
sesuai dengan keputusan yang ada.
Ketika terjadi perkembangan sedemikian dalam liturgi gereja Barat,
hal negatif yang muncul adalah adanya pemisahan antara kaum klerus
dengan kaum awam dalam ibadah-ibadah. Jemaat awam menjadi tidak
aktif. Jarak kesenjangan kaum klerus menjadi sangat tajam apalagi ketika
dibedakan dengan perbedaan pakaian, golongan rohaniwan memakai
pakaian yang indah sesuai tingkat kepangkatannya. Kaum klerus adalah
mereka yang dianggap sebagai kalangan rohaniwan yakni imam, diaken,
uskup, dianggap sama seperti orang Lewi pada masa Perjanjian Lama.

4. Liturgi Abad Pertengahan


Jika dalam abad-abad pertama liturgi agak bebas, artinya para
pemimpin ibadah bebas memilih sendiri doa, mazmur, himne, bacaan,
namun seiring dengan bertambahnya perkembangan dan status gereja
maka pada abad pertengahan liturgi mulai berubah. Pengaruh
pemerintahan yang secara hirarkis mempersempit wewenang dari semua
yang melayani gereja. Dalam abad pertengahan kesatuan liturgi diatur
dengan adanya buku-buku yang diterbitkan sebagai susunan liturgi
menurut pola tertentu. Jenis-jenis buku itu antara lain sakramentaria,
leksionaria, antifonaria, missale plenum, brevaria.
Sakramentaria adalah buku-buku yang mengandung nas doa
syafaat, doa persembahan, prefasi, doa syukur, pengakuan baptisan,
ditambah pasal-pasal untuk melayankan baptisan, peneguhan dakam
jabatan. Sakramentarium yang paling tua dan paling penting berasal dari
tahun 460 yakni sakramentararium Gregorianum yang diterbitkan oleh
Charles Agung. Buku-buku ini menjadi patokan dalam liturgi gereja Barat.
Sebelum Charles Agung sebenarnya sudah ada beberapa, diantaranya
yakni sakramentarium Romanus, Ambrosius (dari kota Milan) dan
Sakramentarium Gallikus.
- Leksionaria adalah daftar-daftar untuk mengatur bacaan Alkitab
menurutt urutan tertentu. Ada kalanya dibaca tiga bagian : nabi-nabi
(PL), rasulrasul dan Injil (PB). Biasanya dua saja : rasul-rasul dan Injil.

Liturgika STT REAL BATAM Page 12


- Antifonaria. Dalam buku-buku ini tercantum mazmur-mazmur dan
nyanyian yang cukup beragam. Nyanyian antifoon: jemaat dibagi
menjadi dua kelompok paduan suara, yang menyanyikan mazmur
secara bergilir. Kalimat yang satu dinyanyikan kelompok pertama dan
kalimat lain oleh kelompok yang kedua, demikian seterusnya. Buku ini
biasanya dipakai oleh cantor (pemimpin biduan), dalam bahasa
sekarang ini para pemimpin liturgi (liturgos).
- Misalle plenum. Buku ini menggabungkan semua buku yang ada di
atas sehingga mengandung sebuah liturgi yang lengkap. Di dalamnya
ditetapkan semua bacaan menurut perikopnya, dan semua doa-doa
serta nyanyian juga diatur. Dalam buku ini diatur juga bahwa bukan
hanya jemaat yang menyanyi tetapi juga paduan suara, solois (yakni
penyanyi tunggal). Buku ini berkembang pada akhirnya menghasilkan
suatu liturgi yang uniform, yang seragam yang ditetapkan oleh konsili
di Trent tahun 1562.
- Brevarium. Terutama digunakan dalam liturgi harian di lingkungan
biara. Di dalamnya terdapat banyak mazmur, doa, himne, dan litani.
Isinya yang utama adalah doa malam (metten), doa pada waktu terbit
matahari (lauden), doa pagi (priem), doa jam 9 (terts), doa jam 12
(sext), doa jam 3 (noon), doa jam 6 (vesver) doa jam 9
malam(completen).

Dalam menjalankan ibadah, maka liturgi yang dipakai meliputi


beberapa bagian, antara lain:
1) Persiapan
Bagian ini meliputi beberapa hal yakni prosesi ke gereja (beriringan
ke gereja), mazmur nyanyian masuk dengan gloria mini, masuknya
pemimpin kebaktian, kirie elesion (doa litani), gloria akbar (diangkat
pemimpin, dijawab jemaat).
2) Bagian Pelayanan Firman
Bagian ini terdiri dari salam dan doa rangkuman (doa collecta ini
menyimpulkan doa-doa yang sudah diucapkan sebelumnya), pembacaan
surat (oleh diaken, di sebelah bagian selatan), nyanyian mazmur,

Liturgika STT REAL BATAM Page 13


haleluya, pembacaan Injil dengan pujian (di sebelah utara), homili
(khotbah).
3) Kredo (Pengakuan iman)
4) Ekaristi
Bagian ini berisi antara lain: persembahan dibawa; persiapan meja,
doa syukur akbar dengan prefasi, sanktus, benediktus, anamnese, Doa
Bapa Kami, salam dan ciuman damai, pemecahan roti sementara
dinyanyikan Agnus Dei komuni, itemissa est! (suruhan untuk pergi) yakni
doa pengutusan.
Dalam sebuah liturgi yang dikemas dalam abad pertengahan ini ,
biasanya jemaat partisipasinya dibagi dalam porsi tertentu. Salah satu
keterlibatan jemaat adalah mereka mendapat bagian dalam antifoon yakni
mereka menyanyikan Gloria mini, Sanktus dan Doa Bapa Kami. Jemaat
harus hafal Gloria Akbar dan Kredo, walau kedua ini dinyanyikan oleh
paduan suara khusus, tetapi jemaat harus tahu. Jemaat terlibat secara
responsoria. Selain menyanyikan mazmur responsoria dan himne, jemaat
juga saling memberi ciuman damai di meja Tuhan atau saling memegang
tangan.
Dalam liturgi abad pertengahan ini terdapat tujuh sakramen yang
dilaksanakan di gereja Roma Katolik, tepatnya di akhir abad pertengahan,
yakni:
1) Baptisan
Yang dilakukan: air dipercik ke atas kepala.
Yang dikatakan: dalam nama Bapa, Anak dan Roh Kudus.
Yang dikerjakan: pengampunan dosa turunan dan keselamatan.
2) Konfirmasi
Yang dilakukan: uskup meletakkan tangan di atas kepala anak.
Yang dikatakan: memohon turunnya Roh Kudus atasnya.
Yang dikerjakan: menjadi kuat melawan iblis dan dosa.
3) Pengakuan dosa
Yang dilakukan: mengaku dosa di hadapan imam.
Yang dikatakan: terampunilah dosa atas nama Bapa, Anak dan Roh
Kudus.
Yang dikerjakan: pengampunan dosa yang sungguh benar.
Liturgika STT REAL BATAM Page 14
4) Misa (Ekaristi)
Yang dilakukan: roti dipecahkan dan dibagikan ke jemaat, juga anggur.
Yang dikatakan: kata-kata penetapan perjamuan Kudus.
Yang dikerjakan: pengampunan dosa dan penyatuan dengan tubuh
Kristus.
5) Peminyakan
Yang dilakukan: dipercik minyak suci saat seseorang meninggal.
Yang dikatakan: doa mengampuni segala pelanggaran.
Yang dikerjakan: kekuatan untuk menerima kematian secara Kristen.
6) Nikah
Yang dilakukan: nikah.
Yang dikatakan: janji-janji penahbisan dan berkat.
Yang dikerjakan: perkawinan menjadi suatu hal rohani.
7) Penahbisan imam
Yang dilakukan: penahbisan.
Yang dikatakan: janji-janji penahbisan dan berkat.
Yang dikerjakan: seorang manusia menjadi pengantara antara
manusia dan Allah, untuk membagi-bagikan anugerah Allah kepada
manusia.

5. Liturgi Zaman Reformasi


Sebelum reformasi menjadi revolusi besar di gereja-gereja Eropa,
perintis-perintis reformasi telah tampil kepermukaan. Diantaranya John
Wycliff, seorang Inggris yang melawan ajaran ritualitas yang merusak
gereja. Salah satu yang disoroti adalah pemahaman tentang sakramen
yang dipahami sebagai transubstansiasi, sama sekali tidak berdasar pada
Alkitab. Di bagian Negara Jerman tampil juga perintis reformasi lainnya
yang bernama Yohannes Hus, ia menyetujui ajaran dari Cyliff, namun
karena itu ia dihukum mati, sebab mengakibatkan konflik gereja. Akan
tetapi yang baik dalam gereja-gereja adalah bahwa ajarannya tidak
terpadamkan.
Tokoh reformasi lain adalah Luher, ia sangat setia menuruti jadwal
doa biara: metten-lauden-priem-terts-sext-noon-vesper-completen,
kemudian Luther sampai kepada kesimpulan alkitabiah bahwa manusia
Liturgika STT REAL BATAM Page 15
dibenarkan, Sola Fide (hanya karena iman saja) dan Sola Gratia (oleh
anugerah Allah). Manusia sama sekali tidak akan dapat membebaskan diri
dari hukuman dosa dengan memenuhi segala macam upacara liturgi
dalam gereja. Pembenaran hanya oleh percaya berdasarkan Alkitab. Bagi
Luther tidak ada jalan lain yang harus dikerjakan yakni menyesuaikan
dengan keyakinannya. Nampaknya faktor dogmatis mempunyai
wewenang dan kuat serta mutlak. Luther memusatkan pelayanan firman
pada anugerah dalam ibadah. Seluruh liturgi harus berubah menjadi
pemberitaan Injil dan semua unsur kebaktian harus dihargai menurut
patokan pekabaran Injil.
Luther dengan kukuh dan gamblang menyatakan ada reformasi
yaitu Sola Scriptura. Luther menghilangkan dari semua kebaktian, semua
hal dan juga istilah yang kendati hanya sedikit saja, tercemar dengan
ajaran “korban: transubstansiasi.” Yang paling penting adalah
mendegarkan dan mengertinfirman Allah oleh semua anggota jemaat.
Luther berusaha memulihkan nyanyian-nyanyian rohani. Ia sendiri
menciptakan 37 nyanyian baru. Yang terkenal salah satunya adalah
“Teguhlah Tuhan, Kotaku” (Nyanyian Rohani 168). Luther menciptakan
nyanyian-nyanyian berdasarkan mazmur-mazmur dan nyanyian yang
alkitabiah. Selain itu pun ia menekankan pemakaian bahasa umum dan
keseluruhan ibadah berdasarkan keyakinan, bahwa manusia diselamatkan
karena mendengar firman Tuhan yang harus diterima dan dipahami
sebaik-baiknya. Luther mengajukan sebuah tata ibadah dalam
peribadahan dengan unsurunsur dan susunan sebagai berikut:
- Nyanyian suatu Mazmur atau nyanyian rohani.
- Kyrie Elesion dan Gloria.
- Doa Mingguan.
- Pembacaan surat.
- Nyanyian Mazmur.
- Pembacaan Injil.
- Kredo (dinyanyikan).
- Khotbah.
- Doa Bapa Kami (dinyanyikan).
- Nasehat.
Liturgika STT REAL BATAM Page 16
- Kata-kata penetapan Perjamuan Kudus.
- Pembagian roti.
- Pemberian cawan.
- Pengucapan syukur.
Selain Luther, tokoh lain yang berjasa dalam reformasi adalah
Zwingli seorang reformator dari Swis di kota Zurich berpendapat bahwa
pelayanan Firman adalah intisari kebaktian. Kristus hadir bukan dalam
elemen-elemen Perjamuan Kudus tetapi dalam firmanNya. Dalam
pekabaran itu kita dapat mendengarkan suara yang hidup dari Injil. Suara
yang dimaksud adalah pembacaan Injil dan keterangan sesuai
denganpembacaan itu. Zwingli menekankan kepentingan jadwal khotbah
yang menguraikan satu kitab dari awal sampai akhir. Bagi Zwingli doa juga
penting, dan sejajar dengan fungsi ibadah dan ia tidak boleh lepas dari
ibadah, misa dan Perjamuan Kudus.
Selain itu ada lagi tokoh reformasi yang lain yakni Yohanes Calvin.
Seluruh pekerjaan Calvin di bidang liturgi dikategorikan sebagai ikhtisar
untuk menyesuaikan kembali liturgi dengan liturgi gereja Purba. Dalam hal
liturgi Calvin dipengaruhi dengan pengalamannya di Straatsburg, ia
menemukan sebuah liturgi yang bersih dari pengaruh ajaran Roma
Katolik. Sejak tahun 1524 jemaat secara resmi menggunakan liturgy
Straatsburg, yang memiliki unsur-unsur sebagai berikut:
o Kata Permulaan.
o Pengakuan dosa dan pemberitahuan anugerah.
o Nyanyian mazmur atau nyanyian rohani.
o Kyrie atau Gloria.
o Salam dan doa agar diterangi oleh Roh Kudus.
o Mazmur atau menyanyikan dasa firman.
o Pembacaan surat atau kitab lain.
o Injil Minggu atau Lectio continua dengan khotbah.
o Kredo dinyanyikan atau nyanyian lain.
o Salam.
o Pembacaan formulir untuk merayakan Perjamuan Kudus.
o Doa syafaat.
o Kata-kata peringatan akan penderitaan Kristus.
Liturgika STT REAL BATAM Page 17
o Doa agar diterima.
o Doa Bapa Kami

Kata-kata penetapan perjamuan kudus.


- Pembagian roti dan anggur.
- Pengucapan syukur.
- Berkat.
- Suruhan untuk pulang dengan damai.

Tak ada perbedaan antara teologi Luther dan Calvin. Luther


memusatkan perhatian kepada Kristus (Kristosentris) juga dalam
pandangannya tentang PL (termasuk mazmur). Itu berarti ada
mazmurmazmur yang sesuai dengan PB (secara khusus Paulus)
sehingga mazmur layak dinyanyikan dewasa ini. Sebagaimana Calvin
berpendapat bahwa firman Allah dapat dinyanyikan sehingga masuk ke
dalam hati, Luther juga mengatakan demikian.
Perbedaan antara Calvin dan Luther adalah bahwa Calvin
menekankan dan memusatkan pada Roh Kudus (pneumatosentris). Bagi
Calvin semua kitab suci sama pentingnya: nabinabi, mazmur, sejarah,
surat dan injil, semua dihargai sama tinggi. Salah satu dorongan Calvin
bagi jemaat dalam liturgi ibadah adalah mendorong jemaat untuk
menyanyi. Karena itu ia pun mengatur latihan-latihan, diselenggarakan
pada waktu katekisasi, dimana jemaat belajar bernyanyi berdasarkan
mazmur.

D. Liturgika dan Kebudayaan


Ketika gereja berada ditengah-tengah budaya, mungkin yang perlu kita
kritisi adalah apakah budaya harus dipertahankan dalam liturgi gereja, apa
tindakan kita terhadap kebudayaan yang bertentangan dengan Firman Allah.
Tuhan memberikan kepada setiap manusia karunia-karunia yang khas. Dialah
yang menciptakan manusia dan memberikan akal budi. Allah menugaskan
manusia itu untuk memenuhi bumi dan menaklukkannya. Penugasan ini
disebut mandat budaya dan mandat (penugasan) kultur. Tuhan menyuruh
manusia berbudaya karena Ia berkenan pada hasil karya manusia. Allah ingin
menerima hormat dari manusia ciptaanNya. Namun setelah manusia jatuh
dalam dosa budaya manusia pun menjadi rusak, dosa menguasai dan
menggerakkan manusia dalam kebudayaan yang ada.
Beberapa hal yang salah dari kebudayaan terhadap liturgi gerejawi
(agama) dalam praktek kita lihat bahwa terjadi penyelewengan terhadap
firman Tuhan. Misalnya saja pemakaian patung-patung, lukisan-lukisan
magis, lagu-lagu yang tidak bernuansa alkitab namun budaya belaka.
Makanya terjadilah sinkritisme (yakni pencampuran budaya dengan liturgi),
mengakibatkan kemurnian liturgi hilang. Manusia akhirnya lebih menghormati
kebudayaan dibanding Tuhan, dengan cara memelihara ritual-ritual dan
kebudayaan itu.

Liturgika STT REAL BATAM Page 18


Untuk setiap adat istiadat yang dikerjakan bertentangan dengan firman
Allah, seharusnya tidak boleh dibiarkan. Bahkan tidak ada tempat bagi
ritualisme yang bertentangan dengan firman Tuhan dalam sebuah liturgi
gereja. Memang kita bisa menanyakan sekarang, apakah budaya asli harus
dihilangkan dalam membangun sebuah liturgi? Bukankah budaya asli bias
menjadi jembatan bagi mereka untuk melakukan liturgi? Memang dalam hal
ini kita bisa menjadi bijak dalam menempatkan budaya. Andaikan pekabaran
injil masuk ke suatu daerah yang memang sama sekali belum percaya
kepada Allah, maka bagaimana kita memperlakukan budaya mereka? Bagi
kita perlu membatasi jangan sampai budaya asli malah menjadi pengikis dan
penghambat bagi liturgi gereja. Ketika kita menyadari bahwa dalam budaya
asli ternyata ada “dosa” maka dengan terang kita harus mengesampingkan
hal itu. Kita harus tetap memegang prinsip bahwa firman Allah merupakan
standar yang lebih tinggi.
Bagaimana dengan bentuk ibadah mereka? Dalam praktik liturgy
Sebagaimana disaksikan dalam gereja-gereja Indonesia, nampaknya
gerejagereja yang didirikan di Indonesia mengimpor bentuk-bentuk liturgi dari
Barat, khusunya Belanda. Kita harus sadar bahwa gereja-gereja besar di
Indonesia masih sangat terikat dengan dunia Barat dalam hal liturgi ibadah.
Beberapa pendapat para tokoh mengenai proses import liturgi di
gereja-gereja, sbb:
a. Abineno, Gereja-gereja sering mengambil alih bentuk dan model liturgi,
dan itu terjadi bertahun-tahun, untuk hal ini kita harus sadar bahwa itu
sangat sukar dan berat karena berbeda dengan alam/budaya
Indonesia.
b. H. Kraemer menganggap bahwa bentuk-bentuk yang diimpor itu
menjadi penghambat dalam kehidupan gereja-gereja muda. Yang
menyedihkan menurut Kraemer, gereja menjadi seperti koloni gereja
barat (dijajah secara spiritual).
c. J.H. Bavink menyebutkan bahwa ketika gereja-gereja mengimport
liturgi, terjadi kekurangan dalam pembentukan ibadah. Ia sangat kuatir
bahwa ibadah-ibadah yang bercorak Barat tidak dapat menarik orang
dari luar menjadi anggota gereja. Ia menyebutkan kita menarik orang
mengenal alat di gereja, tetapi bila mereka sudah masuk, seolah-olah
kita menolak mereka, karena ibadah kita tidak memperlihatkan dengan
jelas kepada mereka pertemuan Allah dengan anak-anaknya.
d. Van Dijk justru berusaha menerjemahkan mazmur-mazmur ke dalam
bahasa Indonesia, karena terpaksa ia menggunakan melodi-melodi
Jenewa, sebab ia sendiri tidak sanggup belajar musik asli Jawa. Ia
mengatakan bahwa ia memberikan kebebasan kepada jemaat-jemaat
untuk bertumbuh dengan sendirinya. Van Dijk, mengakui bahwa ada
pengaruh buruk mengimpor bentuk-bentuk asing. Hanya karena
keterbatasan, maka terpaksa memakai melodi-melodi dan nyanyian
yang diimport dari Belanda itu. Pada intinya import akan liturgi gerejawi
tidak hanya terjadi di gereja protestan, melainkan juga di gereja lain
seperti Roma Katolik.

Beberapa istilah yang perli kita pahami sehubungan dengan


perkembangan liturgi dalam kaitan kebudayaan, antara lain:

Liturgika STT REAL BATAM Page 19


a. Inkulturasi , secara harfiah kata ini berarti di dalam kultur. Menurut
Chupungco, inkulturasi dapat diartikan sebagai proses dimana upacara
keagamaan pra Kristen diberi arti Kristen. Istilah ini seringkali dipakai
dalam Roma Katolik, jadi ketika memasukkan unsure budaya dalam
liturgi gereja bentuk asli diberi isi yang baru.
b. Akulturasi , pertemuan antara dua kebudayaan , misalnya kebudayaan
barat dan Indonesia dalam diri pekabar Injil. Proses yang terjadi dalam
budaya yang lama kelamaan bisa menyatu antara dua atau lebih
kebudayaan. Dalam liturgi juga hal ini bisa dilakukan, unsure unsur
liturgi gereja barat digabungkan dengan gereja di Indonesia.
c. Assimilasi dan pertahanan diri. Pandangan ini menurut Abineno lebih
baik dari pada akulturasi. Ia bicara tentang kontak antara kebudayaan
barat dan kebudayaan Indonesia, atau tentang tumpang tindih. Oleh
kontak overlapping terjadilah situasi yang dalam sedang menerima
atau menolak proses assimilasi dan pertahanan diri.
d. Akomodasi . Terutama mengacu kepada aktivitas pendeta missioner
yang menyesuaikan diri dengan kebiasaan-kebiasaan bangsa yang
mendengar kabarnya. Ia memaksakan diri untuk menyesuaikan diri
dengan pendengarnya supaya kehidupannya jangan asing. Sedapat
mungkin ia mengikuti kebiasaan hidup masyarakat yang asli, misalnya
mulai dengan pakaian, rumah, bahkan dengan bahasa yang dipakai
juga. Kekurangan metode ini adalah bahwa bahasa, cara, bercerita
dan diom, menimbulkan kesulitan asasi.
e. Possessio . J.H. Bavink, menentang teori akomodasi. Ia berpendapat
bahwa akomodasi berbahaya, karena mengakibatkan sinkritisme.
Pencampuran adat kafir dengan adat Kristen, dan campuran ini
membuat hal yang baru dan sungguh-sungguh menyatu. Ia
menggunakan istilah Possessio yakni bukan kebudayaan Kristen yang
menyesuaikan diri dengan kehidupan kafir, tetapi kehidupan Kristen
mengambil/memiliki sebagian bentuk kehidupan kafir. Kehidupan
kristen mengambil bentuk-bentuk lama dan mengarahkannya kepada
tujuan yang benar-benar baru; mereka dilahirkan kembali dan mereka
menerima suatu isi yang sama sekali benar-benar baru.
f. Kontekstualisasi . Istilah ini pada mulanya menyangkut hal yang lebih
prinsipil: ada dua sumber yaitu kultur dan Alkitab. Alkitab dilahirkan
dalam konteks Yunani tertentu, berita Injil dibawa kepada situasi yang
lain dalam konteks misalnya: kebudayaan lain, politik, struktur social
ekonomi, dll. Dalam proses kontekstualisasi konteks yang baru itu
merupakan faktor dominan artinya lebih berkuasa dari konteks aslinya.
Jadi kontekstualisasi itu menciptakan suatu ajaran yang lain, suatu
teologi yang lain yang disebut teologi in loco. Teologi ini berarti teologi
setempat.

Dari sekian banyak istilah yang ada, mana yang kita pakai? Tidak
mungkin kita menyetujui kontekstualisasi bila di dalamnya terkandung makna
sesuai tujuan aslinya, karena isi dari berita Injil adalah universal sama di
seluruh dunia. Tentang itu Palus menulis dengan tegas kepada jemaat
Galatia (Gal 1:7-8). Pekabaran Injil tidak mungkin berubah diakibatkan oleh
kebudayaan mana pun.

Liturgika STT REAL BATAM Page 20


Jika kita memakai kata akomodasi, maka sesungguhnya memberikan
kesan bahwa Injil yang sejati harus menyesuaikan diri (tunduk kepada
kebudayaan setempat). Jika memakai kata akulturasi bersifat agak netral,
tidak memihak. Jika kita mau memahami mana yang akan kita pakai, maka
lebih tepat jika memakai possessio, dimana Allah memiliki hak sebagai
pencipta dengan segala kecakapannya. Kristus seolah-olah datang dalam
kebudayaan lain yang baik dan indah. Dan pada akhirnya kebudayaan ikut
metanoia (bertobat) seiring dengan pengenalannya dengan Tuhan. Untuk
menyatakan patokan metanoia kultur maka didasarkan pada manusia yang
sudah bertobat dan bertanggung jawab memutuskan apa yang harus
dipertahankan dan harus membuang apa yang patut dibuang dari
kebudayaan yang lama. Yang dapat kita buat untuk mengatasi kemelut ini
adalah menawarkan bahwa semuanya harus berpatokan pada Alkitab.
Berbagai jenis kebudayaan yang pasti mungkin kita dapat lihat dan
bisa berhubungan atau bertentangan dengan Alkitab, yakni mode, liguistis,
estetis, teknis, ekonomis, sosial politik, intelektual, etis, dan religius. Pokok
penting dalam semua unsur budaya yang dimaksud adalah jangan sampai
unsur-unsur itu justru menghilangkan makna yang sebenarnya dari Alkitab.
Bagaimana pun hebatnya dan canggihnya hasil budaya tersebut. Alkitab
menjadi patokan yang paling tinggi.

E. Liturgika dan Ritualisme

Istilah ritual sering dipakai dalam antropologi. Dalam bahasan ini ritual
yang dimaksudkan adalah suatu kelakuan kompleks yang berhubungan
dengan seremoni yang bercorak simbolis, lengkap dengan segala simbolnya
dan ungkapan dan formula sewajarnya. Pada umumnya ritualritual terdapat
pada segala suku bangsa di seluruh dunia. Perbedaannya dengan kelakuan-
kelakuan yang lain terletak pada kelakuan sosial dan formal yaitu sesuai
dengan peraturan yang sah dan menurut adat kebiasaan yang berlaku.
Bentuk-bentuk ritual itu biasanya kaku dan tidak mudah untuk diubah.
Dalam pelaksanaannya ritual harus sesuai dengan peraturan sehingga
semua orang tahu, bahwa itu seratus persen demikian. Dalam perlakuan itu
mempunyai arti simbolis. Artinya setiap ritual mengandung berita tertentu.
Oleh karena berita-berita itu maka kelakuan diciptakan, dilaksanakan,
dipertahankan. Terkait dengan kelakuan-kelakuan itu sering simbol-simbol
yang nyata misalnya roti dan anggur pada Perjamuan Kudus, juga ungkapan-
ungkapan, formula dan kata-kata rahasia. Jadi kita dapat menyimpulkan
bahwa suatu ritual dapat mengandung unsur-unsur yang berikut, yakni:
kelakukan, simbol, ungkapan.
Dan tiga unsur ini sangat erat dan kaku. Ketika menguraikan masalah
ritual dari sudut pandang psiko-analisis maka seorang tokoh yang hebat,
Sigmund Freud mengatakan bahwa ritual membuktikan terganggunya jiwa
manusia karena berbagai keretakkan yang letaknya sangat dalam, yaitu
bagian jiwanya yang tidak disadari. Menurutnya manusia telah menciptakan
segala macam ritual untuk mengalahkan konflik-konflik jiwanya yang tidak

Liturgika STT REAL BATAM Page 21


disadari dan yang coraknya emosional. Ritual itu pun tidak dapat mencapai
tujuannya, jadi sebenarnya percuma saja manusia melakukan hal itu.
Tokoh lain memandang bahwa ritual adalah positif, Jung mengatakan
manusia membutuhkan ritual-ritual sebagai mekanisme untuk membela diri
dalam pertemuannya dengan dunia roh. Suatu ritual merupakan bantuan
kepada individu untuk berkembang dan bertumbuh. Dalam hal ini ritual
dimaknai sebagai alat/obat untuk membangun kesehatan jiwa. Sedangkan
Erikson menyebutkan bahwa ritual merupakan unsur-unsur yang esensial
untuk manusia dalam usahanya memperoleh basic trust (kelegaan mendasar)
supaya dapat hidup sentosa.

Memang dari sekian banyak pemikiran tentang ritual-ritual, maka ada


beberapa kebutuhan manusia yang dihubungkan dengan hal itu. H. Fabel
menyebutkannya dalam artikel “The meaning of ritual in the liturgy”, sebagai
berikut:
a. Kebutuhan akan struktur, dengan ritual manusia menciptakan struktur
yang tetap dan tidak berubah-ubah. Kegunaannya nyata yakni
manusia meniadakan beban untuk mengambil keputusan-keputusan
yang berulangulang.
b. Kebutuhan akan kebebasan, Menurut Freud bahwa ritual religius
seolah-olah membelenggu manusia, sehingga manusia tidak merasa
bebas. Jadi kebutuhan ini bertentangan dengan yang pertama di atas.
c. Kebutuhan akan rasa aman, ritua-ritual menjanjikan perasaan aman
kepada manusia. Terutama jika manusia sudah berusaha mencari
kebebasan tapi dalam kebebasan itu gampang merasa takut.
d. Kebutuhan mengembangkan identitas, bagaimanapun ritual
mengangkat manusia dari kebodohan terhadap rahasia kehidupan.
Dengan demikian ia mencegah bahaya untuk menjadi nothing alias
nol. Ritual menjanjikan kelegaan mendasar bagi manusia.
e. Kebutuhan akan bentuk ritual yang tidak berubah-ubah. Jika bentuk-
bentuk ritual tidak tetap sama, maka gampang muncul perasaan
bahwa isi atau kabar ritual itu terguncang dan tidak dapat dipercaya.
Jadi kesamaan ritual menyokong manusia untuk bertahan hidup di
dunia ini dan menjaminkepercayaan akan ritual itu.

Jika kita soroti dari sudut pandang Alkitab, maka pada hakekatnya
ibadah itu membebaskan roh, berbeda jauh dari ritual-ritual yang mengikat
pada ketentuan yang kaku dan sulit diubah. Jadi semestinya ibadah itu
memberikan kebebasan bagi kita sehingga tidak terikat pada aturan yang
mematikan. Dalam 2 Korintus 3:2-dst, Paulus dengan jelas memberitahukan
bahwa Allah yang disembah itu adalah Roh, di mana ada Roh disitu ada
kemerdekaan. Dengan bertitik tolak pada hal ini, maka ibadah harus
membawa kita kepada pembebasan dari hal-hal yang tidak menyenangkan
Tuhan. Kemerdekaan dalam Roh Kudus harus membawa dampak bagi
kehidupan kita, karena itu tidak boleh lagi mengandalkan pelaksanaan ibadah
ritual yang membeo.
Ritualisme dapat dengan mudah merusak ibadah dalam gereja pada
masa kini, terutama gereja-gereja muda (yang baru keluar dari kekafiran).
Karena itu hal yang perlu diwaspadai adalah jangan sampai ibadah dalam
gereja menjadi kaku, tidak membebaskan roh, perubahan yang terjadi dalam

Liturgika STT REAL BATAM Page 22


ibadah langsung membuat kita menjadi tidak nyaman, atau bahkan masih
mengganggu kita sehingga tidak nyaman dan aman.
Ibadah kristen bukanlah ibadah yang kaku dan tidak boleh berubah,
sepanjang perubahan itu alkitabiah maka hal itu wajar saja. Salah satu yang
perlu kita soroti dalam hal bentuk-bentuk ibadah ini adalah mengenai motivasi
yang ingin mempertahankan atau mengubah ibadah. Jika ia bertindak seolah-
olah keselamatan tergantung pada bentuk ibadah maka jelas hal ini
bertentangan dengan berita Perjanjian Baru. Pertobatan seseorang menjadi
Kristen, akan membawa seseorang beralih kepada upacara kristen, yang
perlu diwaspadai adalah jangan sampai ia mengharapkan bentuk-bentuk kaku
seperti yang dialaminya pada adat istiadat yang dulunya ia pegang.
Hal yang perlu diwaspadai dari ritualisme yakni virus ritualisme yang merasuki
seluruh liturgi gereja, semua unsur ibadah atau tatanannya hamper mirip
dengan upacara agama kafir. Kita harus waspada jangan sampai ibadah
gereja menjebak umat ke dalam perasaan aman, baik, sentosa bahkan
sampai ke tingkat ekstase, pada hal dalam seluruh upacara itu bukan Kristus
yangdiberitakan. Suatu liturgi yang mantap dan indah dapat menyembunyikan
suatu kelemahan yang mendasar bahkan menggeser pelayanan Injil yang
sehat.
Dalam melaksankaan ibadah atau liturgi ibadah, Luther dan Calvin
menekankan bahwa ritualisme seperti apapun tidak ada tempat dalam ibadah
Kristen. Ibadah yang gerejawi harus nyata berdasarkan Alkitab, karena itu
halyang dikedepankan dalam sebuah liturgi adalah:
a. Pelayanan Firman mutlak tetap merupakan pusat ibadah. Keterjaminan
pelayanan Firman adalah tangggung jawab para pejabatgerejawi.
b. Ibadah gereja harus disusun menurut pola Firman.
c. Ibadah tidak kaku seperti dalam Perjanjian Baru.
d. Ibadah penuh semangat bila Allah yang bersuara dan jemaat
menanggap.
Melalui ibadah kita semua ditantang untuk berani hidup dalam
kemerdekaan Roh. Kita juga berulang-ulang ditantang untuk sanggup
mengambil keputusan dan memikul beban tanggung jawab manusia baru.
Apakah kita dapat hidup sebagai ciptaan baru, sesuai gambar dan rupa Allah,
gambar Kristus? Apakah para pelayan Firman melalui pelayanan minggu
akan berhasil mengubah para jemaatnya menjadi surat-surat Kristus? Dalam
ibadah hal yang baru dan membebaskan sesuai rencana Tuhan itulah yang
lebih kita kedepankan.

F. Hakikat Liturgika
Ilmu liturgi adalah ilmu yang menyelidiki dan menguraikan pertemuan
Tuhan dengan umatNya, yaitu bagaimana pertemuan ini diciptakan
berlandaskan pertimbangan segala faktor yang memainkan peranan dalam
pemilihan, pembentukan dan penyusunan semua unsurnya, supaya olehnya
perjanjian Allah dengan umatNya selalu diperbaharui.
Dalam kebiasaan gereja-gereja, maka liturgi lebih banyak mengarah
kepada susunan dan tatanan ibadah, dimana di dalamnya jemaat dibawa
untuk bersekutu kepada Tuhan.

Liturgika STT REAL BATAM Page 23


Pada hakikatnya liturgi bukanlah hanya tata ibadah belaka, melainkan
sebuah pelayanan kepada Tuhan. Dalam pelayanan ibadah ini terdapat 3
aspek pelayanan yang sungguh-sungguh penting kita perhatikan, yakni:
a. Pelayanan Kristus kepada kita. Oleh RohNya yang kudus, Kristus
memberikan pelayanan pendamaian kepada kita. Pendamaian ini
dianugerahkan kepada kita melalui pelayanan firman Tuhan dan
Sakramen. Di dalamnya kita memperoleh pembenaran dan kehidupan
yang kekal.
b. Pelayanan kita kepada Allah. Yaitu pelayanan kita dalam doa,
persembahan dan syukur.
c. Pelayanan kita kepada persekutuan. Kita saling bersekutu, kita berdoa
bersama-sama untuk persekutuan seutuhnya, kita mendengar firman,
menyanyi dan memberi korban persembahan .
Liturgi ibadah bagaikan percakapan antara kedua belah pihak, dimana
jemaat berkumpul dan saling menerima satu dengan yang lain, lebih jauh dari
ituibadah merupakan pembaharuan perjanjian anugerah antara Tuhan dan
manusia. Kedua pihak mengulangi dan meneguhkan janji-janji dan tuntutan
mereka. Demikian Tuhan menerima hormat dan manusia menerima
penghiburan dan peneguhan iman. Selain itu liturgi pada prinsipnya dimana
Tuhan memelihara dan melayani umat perjanjiaanNya dengan firman dan
Roh, Inilah denyut nadi kehidupan Kristen, melalui ibadah

G. Dasar-dasar Alkitabiah Liturgika

1. Perjanjian Lama
Memahami tentang dasar-dasar Alkitab tentang liturgi, maka dalam
Perjanjian lama, ada sekian banyak nats yang mengungkap tentang
ibadah dan liturgi ibadah. Misalnya dalam Mazmur 63, raja Daud
mengungkapkan kesannya bagaimana kerinduannya berjumpa dan
bertemu dengan Allah. Demikian juga dalam Mazmur 27, ia menyatakan
bahwa ingin diam dan menyaksikan kemurahan Tuhan. Kata menikmati
bait Tuhan dalam teks ini tidak hanya merujuk kepada tempat, namun juga
menunjukkan ibadah dan liturgi ibadah. Dalam tradisi PL, ibadah memang
secara luas dilakukan di Bait Allah dimana para Imam dan Lewi bertugas
melaksanakan. Di dalamnya ada prosesi korban, yang harus dilaksanakan
umat. Liturgi ibadah memberikan petunjuk kepada kita bahwa umat dalam
menghadap Allah, memberikan korban dan Allah memberkati umat juga.

2. Perjanjian Baru
Dalam kitab Perjanjian Baru ada 15 kali kata liturgi dengan makna
yang berbeda-beda. Mulai dari pemahaman yang dipakai dalam
Septuaginta yang merujuk kepada jabatan dan pelayanan para imam,
sampai kepada pemahaman ibadah yang berlangsung di tengah jemaat.
Beberapa pemahaman itu misalnya, antara lain:
- Lukas 1:23 (dipakai dalam arti jabatan imam).
- Ibrani 9:21 (ditujukan dalam konteks pemakaian alat ibadah).
- Ibrani 10:10 (pelayanan tiap-tiap hari).

Liturgika STT REAL BATAM Page 24


- Ibrani 8:2 (menunjuk kepada pekerjaan Kristus sebagai imam),
secara
- khusus dalam ibadah dan pengantara manusia dengan Allah.
- Roma 15:16 (menunjuk kepada pekerjaan rasul-rasul dalam
pekabaran Injil kepada orang-orang kafir).
- Filipi 2:17 (dikiaskan untuk orang-orang yang percaya).
- Ibrani 1:7; 14 (merujuk kepada pekerjaan malaikat-malaikat
yang melayani).
- Roma 13:6 (mengacu kepada jabatan pemerintah).
- Roma 15:27 (diterjemahkan tentang tugas pengumpulan
persembahan untuk orang-orang miskin).
- Kisah 3:12 (merujuk kepada kumpulan orang yang berdoa dan
berpuasa) mereka yang beribadah.

Dalam Perjanjian Baru secara khusus mengambil teks Kisah 13:2,


kata leiturgia diterjemahkan dan merujuk kepada persekutuan orang
Kristen. Persekutuan jemaat yang melibatkan beberapa orang anggota
jemaat, sehingga dengan mengistilahkan hal ini ibadah dipahami sebagai
liturgi. Lebih jauh jika kita memperlajari ajaran Paulus tentang liturgi atau
ibadah, maka ibadah itu adalah persembahan tubuh yang kudus dan
berkenan kepada Tuhan. Artinya bahwa ibadah bukan saja sekedar liturgy
atau tatanan ibadah. Melainkan sebagai penyerahan diri secara total
kepada Allah. Pada hakikatnya dalam Perjanjian Baru, ibadah dan liturgy
adalah cerminan kabar baik yang disebarkan kepada siapapun.
Dalam konteks ini perkumpulan jemaat atau ibadah, memiliki
beberapa tujuan penting yakni:
a. Perkumpulan ibadah bukanlah untuk kepentingan pribadi,
melainkan mengedepankan kepentingan bersama.
b. Perkumpulan bukan untuk menyenangkan diri tetapi Tuhan dan
sesama.
c. Perkumpulan ibadah mematahkan adanya kasta atau
tingkatantingkatan/ kedudukan dalam jemaat.
d. Perkumpulan ibadah adalah bangunan persekutuan jemaat untuk
saling berbagi dan saling memberkati.
e. Persekutuan hidup dalam Kristus yang didasarkan pada belas
kasihan dan pembenaran oleh iman.

Liturgika STT REAL BATAM Page 25


BAGIAN II
LITURGIKA DALAM PELAYANAN GEREJAWI

A. Unsur Unsur Liturgi

Unsur-unsur liturgi dalam sebuah ibadah sebenarnya cukup beragam,


jika melihat kepada berbagai jenis model liturgi yang dikembangkan dalam
gereja gereja, maka unsur itu dipengaruhi berbagai macam elemen. Misalnya
saja factor alkitab, dogma gereja, persekutuan, sejarah gereja, faktor
misioner, kebudayaan dan etnologis dan antropologis serta dunia gereja.
Jika kita menyimak dan membaca buku unsur-unsur liturgia karangan J.L.
Abineno, maka sekian banyak terdapat unsur dalam sebuah liturgi yakni
votum, salam dan introitusm pengakuan dosa, pemberitaan anugerah,
hukum, Gloria kecil, kirye elesion, nyanyian dan pujian, doa, pembacaan
alkitab dan khotbah, mazmur dan haleluya, pengakuan iman, doa syafaat,
pemberian jemaat, nyanyian dan paduan suara, dan terakhir berkat. Tidak
semua unsur yang di atas dibahas satu persatu, beberapa yang akan dibahas
di bawah ini.

1. Nyanyian / Doxologi: Pujian dan Penyembahan dalam Liturgi

Nyanyian merupakan unsur yang penting dalam ibadah jemaat,


karena nyanyian memiliki nilai yang prinsip dalam ibadah. Melalui
nyanyian jemaat memuji dan menyembah Tuhan. Melalui nyanyian setiap
jemaat bias mengekspresikan isi hatinya kepada Tuhan, bisa juga
mengungkapkan cinta kasih Tuhan yang diterima atau sebaliknya. Pada
prinsipnya nyanyian adalah pujian pengagungan atas karya Tuhan yang
besar dalam hidup umat.
Dalam tata ibadah atau liturgi gereja yang dikembangkan di
Indonesia, khususnya yang dipakai di gereja-gereja protestan, selalu
mengikuti model yang dikembangkan pada abad pertengahan dan juga
abad reformasi. Dalam liturgy seperti itu jenis nyanyian cukup beragam. Di
antara yang bisa digolongkan dalam nyanyian yakni gloria kecil, kyrie
eleison, nyanyian jemaat dan paduan suara. Tentu sekali keempat ini
memiliki perbedaan dan fungsi masing-masing.
Gloria kecil, adalah pujian yang dinaikkan sesudah pembacaan
mazmur, unsur ini disatukan dengan introitus. Pada awalnya gloria kecil

Liturgika STT REAL BATAM Page 26


adalah nyanyian jemaat yang dikumandangkan secara bersama-sama,
namun dalam perkembangan justru hanya dilaksanakan oleh para
petugas ibadah. Gloria kecil, misalnya Hormat bagi Bapa dan Anak dan
Roh Kudus. Ini dalam perkembangannya dinyanyikan cantoria dan paduan
suara. Kyrie Eleison (Tuhan kasihanilah) adalah suatu doa yang telah
terkenal yang diserukan dalam ibadah. Kyrie Eleison dinyanyikan atau
dikumandangkan setelah pengakuan dosa. Dalam tata ibadah atau liturgi
gereja sejak zaman reformasi, maka unsur ini mengalami perubahan,
hanya gereja-gereja Lutheran yang tetap mempertahankan. Nyanyian
kyrie eleison, yang dinyanyikan jemaat dalam ibadah, lama kelamaan,
mulai luntur dan disatukan dengan nyanyian jemaat.
Nyanyian jemaat, dalam liturgi adalah sejumlah pujian yang
dikumandangkan secara bersama-sama oleh jemaat dalam ibadah. Sejak
dahulu nyanyian jemaat menduduki tempat yang penting dalam ibadah,
dan sampai sekarang ini juga tetap demikian. Dalam sejarahnya nyanyian
jemaat itu berkembang dengan baik, misalnya dalam abad pertama
Ignatius memulihkan kembali peran jemaat dalam nyanyian dengan
pemakaian kembali responsorial antara pelayan dengan jemaat. Tahun
325 Sylvester mendirikan sekolah penyanyi gerejawi pertama di Roma,
tujuannnya untuk melibatkan jemaat dalam nyanyian. Pada abad
pertengahan pernah terjadi bahwa nyanyian jemaat dirampas oleh para
pelayan dan panduan suara, namun dalam abad reformasi kemudian
dikembalikan dan dibersihkan dari ragi-ragi Roma Katolik. Pada abad
reformasi, gereja-gereja mulai menata diri dengan nyanyian ibadah, yakni
terbitnya buku-buku nyanyian yang disusun oleh Johann Walter, Valentin
Babst, Marot dan Beza, dll. Oleh Calvin di masa ini maka ia memasukkan
kembali nyanyian pujian Zakharia, Maria, Simeon, dll.
Sesudah abad reformasi nyanyian berkembang dengan terus
menerus, dan tema-tema nyanyiannya pun mengalami perkembangan,
jika semua adalah perjuangan kaum protestan mengenai kematian dan
kehidupan, maka nyanyian itu pula memiliki kerygma tentang kasih dan
pengorbanan Yesus. Dalam nyanyian jemaat yang paling penting
bukanlah suara yang merdu tatkala menyanyi. Tuhan Allah justru lebih
suka mendengar nyanyian yang dikumandangkan dengan hati,
maksudnya bernyanyi dengan segenap hati, hati yang bersih. Nyanyian
dan pujian penyembahan dalam liturgi gerejawi mengandung nilai yang
sangat prinsip. Umat memuji Tuhan melalui pujian/nyanyian.
Bagi gereja-gereja beraliran pentakosta atau injili, nyanyian dan
pujian justru mengandung unsur pengajaran, kesembuhan dan lain-lain.
Tidak mengherankan jika dalam ibadah-ibadah gereja-gereja Pentakosta,
pujian, atau melalui pujian ada banyak kuasa dan mujizat terjadi. Mereka
yang sakit disembuhkan karena pujian, yang dirasuk setan atau yang
terikat dengan kuasa kegelapan juga mengalami pembebasan. Sungguh
nyanyian menjadi sangat sentral dalam ibadah-ibadah yang dilaksanakan
di gereja-gereja.

2. Pelayanan Firman dan Liturgika

Liturgika STT REAL BATAM Page 27


Unsur kedua yang perlu kita bahas dalam liturgi gereja adalah
pelayanan firman. Dalam tata ibadah atau liturgi gereja-gereja protestan,
unsur ini terdiri dari tiga hal yakni epiklese, pembacaan alkitab dan
khotbah. Ketiga unsur ini dipahami memiliki kesatuan yang tidak bisa
dipisahkan, hanya saja untuk urutan dan penempatannya sering kali
dibedakan, khusus untuk doa. Gereja-gereja ada yang menempatkan doa
sebelum pembacaan firman dan khotbah, namun ada juga yang
menempatkan setelah pembacaan alkitab dan sebelum khotbah. Doa atau
epiklese berfungsi untuk mengantar dan permohonan agar Roh Kudus
menuntun dan memimpin pembacaan dan penjelasan firman Tuhan.
Biasanya doa ini tidak bertele-tele, singkat dan pendek. Yang dilakukan
melalui doa ini, bahwa tanpa penerangan dari Roh Kudus, maka alkitab
yang dibaca tidak mungkin dimengerti dengan baik. Khotbah juga
sepanjang dilaksanakan diharapkan dalam terang pimpinan Roh Kudus.
Kemudian setelah doa (epiklese) dilanjutkan dengan pembacaan
Alkitab. Ini adalah unsur yang tetap ada dalam gereja-gereja. Memang jika
kita merujuk kepada sejarah pembacaan alkitab, di Sinagoge pun sudah
dimulai tradisi ini, misalnya pembacaan PL, biasa dilaksanakan. Dalam
liturgi gereja-gereja zaman ini banyak tradisi pembacaan alkitab juga
mengikuti abad-abad pertama, pembacaan bisa dari PL atau pun PB.
Beberapa model pembacaan alkitab adalah sebagai berikut:

a. Pembacaan yang disebut dengan lectio selecta (sistem perikop),


sistem ini berasal dari sinagoga (dipakai untuk pembacaan kitab
nabi-nabi).
b. Pembacaan yang disebut lectio continua (pembacaan secara
kontiniu), sistem ini juga berasal dari sinagoge dan dipakai untuk
pembacaan kitab Taurat.

Dalam kaitan dengan khotbah atau pelayanan firman, setelah


pembacaan alkitab selalu diikuti dengan seruan “Berbahagialah orang
yang mendengarkan firman Allah dan yang memeliharanya”. Biasanya
kalimat ini disambut oleh jemaat dengan kata haleluya, atau bisa juga
dengan lafal dinyanyikan. Pembacaan alkitab memang sangat erat
kaitannya dengan khotbah. Sejak dari ibadah-ibadah dari sinagoge hal ini
sudah dilaksanakan. Dalam injil Lukas 4:16- 22, diceritakan ketika Tuhan
Yesus datang di Nazaret dan ada di sinagoge, juga melaksanakannya.
Unsur khotbah dalam ibadah menjadi sangat penting, itulah sebabnya
semua liturgi dalam gereja-gereja selalu dan pasti memasukkan khotbah.
Dalam ibadah-ibadah abad pertama dan pertengahan bahkan sampai kepada
abad reformasi, biasanya misa menggantikan peran khotbah. Namun sejak
reformasi, pemberitaan firman mendapat fungsi sentral dalam gereja dan
merupakan satu kesatuan dalam unsur liturgi. Ada memang anggapan-
anggapan yang berkembang yakni bahwa khotbah dipandang sebagian dari
ibadah, namun ada juga pandangan yang menyebutkan bahwa khotbah
adalah segalanya dalam ibadah, sedangkan tanggapan lain yakni yang paling
penting dalam ibadah bukan khotbah.

3. Sakramen

Liturgika STT REAL BATAM Page 28


Dalam pelaksanaannya memang, sakramen tidak mungkin bisa
diadakan tanpa firman (khotbah), namun sebaliknya khotbah bisa tanpa
diikuti oleh sakramen. Ada hal yang baik dan indah kita pegang dalam hal
ini, yakni bahwa tanpa pemberitaan firman Tuhan sakramen akan
kehilangan makna sesungguhnya. Firman Tuhan memberikan isi kepada
sakramen, dengan demikian sakramen itu membawa pengaruh kepada
iman yang semakin kuat kepada Tuhan. Beberapa hal yang menjadi
fungsi sakramen dalam tatanan ibadah atau liturgi yakni:

a. Membangkitkan percaya dalam hati oleh pemberitaan Injil yang


kudus dan juga melalui sakramen.
b. Sakramen mengingatkan kita kepada pengorbanan Yesus yang
telah mati bagi kita.
c. Sakramen membawa kita kepada pengakuan akan keberdosaan
kita dan juga menghargai atas anugerah yang Tuhan berikan
kepada kita.
d. Sakramen berfungsi untuk melayani firman Tuhan, dan bukan
sebaliknya. Walau dalam permulaan gereja-gereja selalu
melakukan sakramen berkaitan dan berhubung langsung dengan
khotbah, namun dalam gereja protestan kita bisa lihat bahwa ada
ibadah dimana khotbah atau pemberitaan firman Tuhan tidak selalu
diikuti oleh sakramen. Bagi gereja yang beraliran pentakosta dan
injili, lebih jelas lagi tentang peranan dan fungsi sakramen. Hanya
saja mungkin perlu ditanyakan, sakramen yang mana yang
dimaksudkan.
Barangkali yang perlu kita pahami disini adalah bukan masalah
berapa kali dilaksanakan, dan dilaksanakan pada ibadah apa, melainkan
apa makna teologis dari pelayanan sakramen yang dimaksud.Kita dapat
memahami letak dan peran roti dan anggur dalam sakramen. Bagi
pentakosta, roti dan anggur adalah perlambang tubuh dan darah Yesus
Kristus.Karena itu tidak seharusnya mengkeramatkan roti dan anggur. Kita
memiliki pemahaman consubstansiasi, yakni Kristus hadir bersama dan
didalam tanda roti dan anggur. Kita menolak ajaran transubstansiasi,
yakni yang mengajarkan bahwa roti dan anggur benar-benar berubah jadi
tubuh dan darah Kristus.
Selain sakramen perjamuan kudus, maka ada sakramen yang lain
yang dilakukan di gereja aliran pentakosta yakni baptisan. Bagaimana pun
pelaksanaan sakramen baik perjamuan kudus maupun baptisan harus
dilakukan dalam koridor firman Tuhan. Artinya bahwa firman Tuhan
menjadi dasar atau patokan dalam pelayanan sakramen tersebut.

4. Doa
Dalam liturgi yang dikerjakan dalam gereja-gereja Kristen di
Indonesia, maka doa memegang peranan yang sangat penting dan juga
sangat prinsip. Doa mendapat tempat yang tidak bisa dipisahkan dari
rangkaian liturgi gerejawi. Pada dasarnya ada doa yang dinaikkan
jenisnya epiklese, ini adalah doa menjelang penyampaian firman Tuhan ,
doa yang lain adalah doa syafaat, adalah doa yang dalam beberapa tata
kebaktian gereja-gereja di Indonesia disebut doa umum atau doa pastoral.

Liturgika STT REAL BATAM Page 29


Di luar negeri doa ini terkenal dengan nama intercession. Dalam ibadah
jemaat dari abad ke abad doa syafaat biasanya ditempatkan sesudah
pemberitaan firman. Namun dalam beberapa keadaan di gereja-gereja
tertentu di Indonesia penempatan doa syafaat itu ada yang dilaksanakan
sebelum pembacaan alkitab,bersamaan dengan doa epiklese. Sedangkan
doa syafaat setelah khotbah digantikan dengan doa Bapa kami. Pada
prinsipnya urutan-urutan ini tidaklah menjadi hal yang mutlak. Biasanya
yang paling penting mendapat sorotan adalah apakah ada doa syafaat
atau tidak.
Mengenai bentuknya, doa syafaat yang dikenal di gereja-gereja
Indonesia umumnya mempunyai bentuk pidato. Bentuk ini mempunyai
kekurangan sebab sukar diucapkan, para pelayan dan jemaat pun tidak
bias mengikutinya, terutama kalau pelayan terlampau panjang berdoa.
Dalam bentuk lain, biasanya doa syafaat yang melibatkan jemaat
melaksanakannya secara responsoria, dimana doa itu sudah tertata mana
yang harus diucapkan oleh jemaat, mana yang harus diucapkan pelayan,
sebenarnya bentuk ini sungguh baik apalagi melibatkan jemaat. Artinya
keterlibatan para pelayanan dan jemaat menjadi satu keutuhan.
Di gereja-gereja beraliran pentakosta, model doa syafaat cukup
beragam. Ada doa yang dinaikkan dengan secara bersama-sama
(korporat), dan para ibadah memimpin doa tersebut dengan pokok doa
yang sudah disusun, namun ada juga bentuk lain yakni, doa dibawakan
satu atau dua orang, yang secara lantang membawakan doa itu, sekalipun
tidak tertulis. Pada dasarnya doa syafaat memang merupakan karunia,
karena itu ada banyak para pendoa yang melakukan doa syafaat tidak
hanya berkaitan dengan ibadah. Yang lebih menakjubkan bahwa doa
syafaat yang dilaksanakan tidak disusun begitu rupa, maksudnya kalimat
doa dan kata-katanya, namun spontan dengan pimpinan dan pertolongan
Tuhan, mereka berdoa. Penempatan doa ini pada dilaksanakan setelah
pemberitaan firman Tuhan, sebelum doa berkat. Bagi gereja-gereja
pentakosta maka doa syafaat sungguh menjadi bagian yang sangat
penting dalam pergerakan dan petumbuhan gereja. Doa yang dinaikkan
oleh jemaat dan para pelayan Tuhan melalui doa syafaat ini adalah
membawa pergumulan dan beban jemaat, bangsa dan negara serta
gereja-gereja Tuhan di Indonesia.

5. Pengakuan Iman
Hampir semua tata kebaktian dari gereja-gereja di Indonesia
memakai pengakuan iman sebagai unsur liturgianya. Hanya sedikir aja
diantaranya yang tidak berbuat demikian; gereja-gereja ini hanya sesekali
memakainya sebagai variasi atau sebagai pengganti dasa firman. Sejak
semula pengakuan iman ini erat hubungannya dengan pelayanan
baptisan. Dalam abad-abad pertama orangorang yang dibaptis melakukan
pengakuan iman sebelum mereka diselamkan, misalnya saja pada masa
itu Ambrosius mengatakan bahwa para pelayanan yang akan
membaptiskan seseorang menanyakan dulu apakah percaya pada Allah?
Apakah percaya kepada salib dan Yesus Kristus? dll. Orang yang dibaptis
menjawab “percaya” kemudian para pelayanan melakukan baptisan. Pada
abad pertama pengakuan iman mula-mula sangat bersifat pribadi.

Liturgika STT REAL BATAM Page 30


Dalam abad reformasi pemakaian pengakuan iman di dalam
ibadah, tetapi tempatnya tidak tentu, kadang-kadang sebelum atau
sesudah khotbah. Bagi Luther menempatkan pengakuan iman sebelum
khotbah, ia menyuruh menyanyikan terjemahan Pengakuan Iman Nicea.
Sedangkan Calvin menempatkannya sesudah khotbah atau lebih tegas
sesudah doa syafaat. Ia memakai Pengakuan Iman Rasuli. Sedangkan
Zwingli kadang-kadang menempatkan sebelum, namun juga kadang-
kadang sesudah khotbah.
Pengakuan iman yang biasa dipakai adalah pengakuan iman rasuli,
pengakuan iman nicea, dan pengakuan iman Athanasius, yang paling
banyak dipakai adalah pengakuan Iman Rasuli.
Dalam pelaksanaannya pengakuan iman memiliki dua fungsi yakni
pertama sebagai rangkuman dari Injil yang dibacakan dan sebagai jawab
jemaat atas firman yang diberitakan. Karena itu pengakuan iman
dilaksanakan dengan menyanyikan secara bersama-sama oleh jemaat.
Akan tetapi bisa juga diucapkan secara bersama-sama oleh jemaat-
jemaat.

.
B. Jenis-jenis Liturgi
Pada bagian ini kita akan melihat jenis liturgi yang digunakan dalam kebaktian
umum dan kategorial dan ibadah khusus seperti pernikahan dan kedukaan.

1. Kebaktian Umum
Dalam kebaktian umum, biasanya ini menyangkut tata ibadah
kebaktian di hari Minggu. Dalam ibadah seperti ini biasanya liturgi ditata
dengan baik, dan sudah merupakan pola-pola yang umum dipakai.
Maksudnya bahwa tatanan ibadah ini sepertinya sudah dibuat demikian.
Yang bisa diubah-ubah dalam hal ini adalah nyanyian, isi khotbah, dan
juga doa-doa (kalimat doa). Unsur-unsur liturgi dalam ibadah kebaktian
umum, biasanya ditata secara baik menurut jenis dan aliran gereja-gereja
yang ada.
Bagi sebagian besar gereja-gereja protestan (mainstream), maka
unsur liturgi meliputi beberapa hal: votum, salam dan introitus, pengakuan
dosa, pemberitaan anugerah dan hukum, gloria kecil, kyrie eleison dan
nyanyian pujian, doa, pembacaan alkitab dan khotbah, mazmur dan
haleluya, pengakuan iman, doa syafaat, pemberian jemaat, nyanyian dan
paduan suara, berkat.
Contoh ini hanya merupakan gambaran saja, bukan merupakan
patokan mutlak, ini bisa dimodifikasi seusai dengan kebutuhan liturgi
gereja masing-masing. Contoh ini pun adalah liturgi yang biasa
dilaksanakan di gereja-gereja protestan.

Contoh: Tata ibadah/liturgi kebaktian umum


TATA IBADAH UMUM
Dipergunakan Pada Kebaktian Umum Minggu Pertama atau pada
Kebaktian-kebaktian Istimewa
(P: Pemimpin, J: Jemaat, Tt: Tua-tua, Dkn: Diaken)

Liturgika STT REAL BATAM Page 31


1) INTROITUS
(Bunyi lonceng tiga kali, tanda kebaktian dimulai. Jemaat berdiri
menyanyikan Nyanyian Pembukaan. Majelis Jemaat dan Pemimpin
kebaktian memasuki ruangan).

2) VOTUM DAN SALAM


P : Pertolongan kita adalah di dalam nama Tuhan yang menjadikan
langit dan bumi Turunlah kiranya atas saudara sekalian anugerah dan
sejahtera dari Allah Bapa, dan
Putra, dan Roh Kudus.
J : (KJ 478.c, F=do, 4/4)
1 . 2 3 / 4 . 3 . ‘/ 2 . 1 . ‘/ 4 . 2 . / 1 . . . //
A- min, a- min, a- min.

3) NYANYIAN PUJIAN (DUDUK)


4) PENGAKUAN DOSA
P : (Membaca Hukum Tuhan: Keluaran 20:10-17; Ulangan 5:6-21;
Matius 22:37-40;
Markus 12:29-31, atau Lukas 10:25-27).
Marilah kita merendahkan diri dan mengaku dosa kita di hadapan
Tuhan, serta dalam
percaya memohon hikmat agar dapat melakukan hukum-Nya.
5) NYANYIAN PENYESALAN
6) BERITA ANUGERAH DAN PETUNJUK HIDUP BARU
7) NYANYIAN KESANGGUPAN (BERDIRI)
8) DOA SAFAAT (DUDUK)
9) PENGUCAPAN SYUKUR/ PERSEMBAHAN
(Dipimpin oleh Diaken):
a. Pembacaan Alkitab sebagai dasar pengucapan syukur.
b. Pengumpulan Persembahan diawali dan diakhiri dengan Nyanyian
Syukur.
c. Doa Syukur dan Epiklese (Jemaat dimohon berdiri).
10) PELAYANAN FIRMAN (DUDUK)
a. Pembacaan Alkitab, diakhiri dengan seruan dan pujian:
P : Yang berbahagia ialah mereka yang mendengar Firman Tuhan,
dan yang
memeliharanya dengan setia. Halleluya!
J : (KJ 473.b, Do = D, 4/4)
‘ 1 1 / 3 3 0’ 3 3 / 5 5 0 ’ 5 5 / 6 .
Hale- lu- ya, Hale- lu- ya, Hale- lu-
5 4 / 3 . 0 //
ya.
(Seruan dan pujian: Haleluya, Hosiana, atau Maranatha, mohon dipilih
sesuai kalender Gerejawi).
b. Khotbah.
c. Saat teduh.
11) PELAYANAN KHUSUS

Liturgika STT REAL BATAM Page 32


(Sakramen Baptis, Sakramen Perjamuan Kudus, Pengakuan Percaya/
Sidhi, Peneguhan Tuatua/
Diaken, dsb).
12) DOA PENUTUP DAN DOA BAPA KAMI
P : --------------------------------------------
J+P : (Doa Bapa Kami - Matius 6:9-13)
Bapa kami yang di Sorga,
dikuduskanlah nama-Mu,
datanglah Kerajaan-Mu,
jadilah kehendak-Mu,
di bumi, seperti di Sorga.
Berikanlah kami pada hari ini,
makanan kami yang secukupnya,
dan ampunilah kami akan kesalahan kami,
seperti kami juga mengampuni
orang yang bersalah kepada kami,
Dan janganlah membawa kami
kedalam pencobaan,
tetapi lepaskanlah kami daripada yang jahat,
karena Engkaulah yang empunya Kerajaan,
dan kuasa, dan kemuliaan,
sampai selama-lamanya. Amin.

13) NYANYIAN PENGUTUSAN (BERDIRI)


14) PENGAKUAN IMAN
Tt : Marilah kita meneguhkan iman, dengan mengucapkan bersama
”Pengakuan Iman
Rasuli”.
J+Tt : Aku percaya kepada Allah Bapa yang Maha Kuasa khalik langit
dan bumi.
Dan kepada Yesus Kristus, Anak-Nya yang tunggal Tuhan kita.
Yang dikandung daripada Roh Kudus, lahir dari anak dara Maria.
Yang menderita di bawah pemerintahan Pontius Pilatus, disalibkan,
mati dan
dikuburkan, turun ke dalam Kerajaan Maut.
Pada hari yang ketiga, bangkit pula dari antara orang mati.
Naik ke Sorga, duduk di sebelah kanan Allah Bapa Yang Maha Kuasa.
Dan akan datang dari sana, untuk menghakimi orang yang hidup dan
yang mati.
Aku percaya kepada Roh Kudus.
Gereja yang kudus dan Am, persekutuan orang kudus.
Pengampunan dosa.
Kebangkitan daging.
Dan hidup yang kekal.

15) PENGUTUSAN DAN BERKAT


P : Arahkanlah hatimu kepada Tuhan. Pulanglah dengan damai
sejahtera, dan
lakukanlah Firman-Nya. Kini terimalah berkat Tuhan:

Liturgika STT REAL BATAM Page 33


“Tuhan memberkati saudara (kita) dan melindungi saudara (kita).
Tuhan menyinari
saudara (kita) dengan wajah-Nya, dan memberi saudara (kita) kasih
karunia. Tuhan
menghadapkan wajah-Nya kepada saudara (kita), dan memberi
saudara (kita)
damai sejahtera.” Amin.
16) NYANYIAN PENUTUP

2. Kebaktian Kategorial
Dalam ibadah-ibadah gerejawi, selain liturgi kebaktian umum, maka
ditemukan juga berbagai jenis liturgi lain yakni disebut dengan kategorial.
Jenis liturgi ini adalah meliputi pernikahan dan kedukaan, sedangkan
ibadah khusus adalah ibadah-ibadah hari raya.

1) Contoh : Tata ibadah / liturgi Pernikahan


TATA IBADAH PENEGUHAN & PERNIKAHAN KUDUS
Kedua Mempelai & keluarga memasuki Ruang Ibadah, diiringi sebuah
lagu (Semua
hadirin berdiri )
Kedua Mempelai dijemput oleh Gembala Jemaat/Pendeta ke tempat
yang sudah
tersedia untuk kedua mempelai, juga untuk kedua orang tua mempelai
Mempelai pria berdiri & duduk disebelah kiri, Semua hadirin tetap
berdiri

A. P E M B U K A A N
1. V o t u m & Doa Pembukaan (oleh Gembala Jemaat/Pendeta)
2. Ucapan Selamat Datang & Seruan beribadah (Terlampir)
3. Nyanyian Bersama
(Bisa beberapa lagu)
B. PEMBERITAAN FIRMAN TUHAN
(Ep. 3 : 22 – 33; 1 Kor. 11 : 12; Kej. 1 : 28; Kej. 2 : 24, Maz. 25 : 14)
Disertai Paduan Suara atau Vocal Group atau nyanyian bersama
C. PERNYATAAN JANJI NIKAH
Gembala Jemaat/Pendeta menuntun kedua mempelai
mengucapkan Pernyataan
Janji Nikah (kedua mempelai berdiri)
D. PERTUKARAN CINCIN
Gembala Jemaat/Pendeta memimpin upacara Pertukaran Cincin
diantara kedua mempelai (kedua mempelai tetap berdiri)
E. PENEGUHAN NIKAH
Gembala jemaat/Pendeta melaksanakan Peneguhan Nikah, sambil
memegang kedua
tangan kanan mempelai dan menyatakan Peneguhan Nikah
(terlampir)
(Kedua mempelai tetap berdiri)
F. PEMBERKATAN NIKAH
1. (Ke dua mempelai berlutut - Keluarga & Hadirin dipersilahkan
berdiri)

Liturgika STT REAL BATAM Page 34


2.Gembala Jemaat/Pendeta Memegang kepala/pundak kedua
mempelai sambil menyatakan Pemberkatan Dalam Nama Bapa,
Anak dan Roh Kudus atas keduamempelai, agar Tuhan Yesus
MEMBERKATI hidupnya, kesejahteraannya, masa depannya dan
pelayanannya kepada Tuhan
3.Setelah selesai, Gembala Jemaat/Pendeta menyampaikan
selamat kepada kedua mempelai & keluarga
4. kedua mempelai bertukar tempat duduk, mempelai pria pindah ke
sebelah kanan.
5. Pembukaan kerudung mempelai wanita
6. Pembacaan dan Penandatanganan Akte nikah oleh Sekretaris
Majelis
7. Penyerahan kenang-kenangan dari Majelis
G. NYANYIAN BERSAMA
H. P E R S E M B A H A N
Disertai Persembahan Sulung Mempelai & Persembahan Jemaat
I. P E N G U M U M A N
J. UCAPAN TERIMA KASIH (terlampir)
K. DOA BERKAT / NIKMAT
( Hadirin berdiri )

Keterangan & Lampiran


1. UCAPAN SELAMAT DATANG & SERUAN BERIBADAH
Saudara-saudara adalah tamu dari kedua mempelai dan juga
tamu dari Gereja ini, Saya ucapkan selamat datang kepada kedua
mempelai dan kepada seluruh keluarga dari kedua mempelai Kita
semua hadir agar supaya bisa ambil bagian dengan sepenuh hati
menyaksikan dan mengikuti satu upacara yang kudus, dimana Allah
mau mewujudkan RencanaNya didalam kehidupan manusia sebagai
ciptaanNya melalui Pernikahan kudus ini Saudara yang sudah
menikah jangan lupa mengucap syukur kepada Allah yang telah
mempersatukan saudara, meneguhkan, melindungi serta memberkati
pernikahan sdr. Perbaharuilah janji nikah sdr. sementara sdr.
mendengar kedua mempelai saling berjanji untuk pertama kalinya
Sekarang kita akan menyaksikan karya Allah yang Agung dan Ajaib
dengan dihantarnya kedua mempelai untuk menerima PENEGUHAN
& PEMBERKATAN NIKAH yg Suci dan Kudus didalam Gereja Tuhan
ditempat ini Selamat beribadah, Tuhan memberkati sdr. khususnya
kedua mempelai dan keluarga dengan berkat sorgawi yang
melimpah. Amin
2. PERNYATAAN JANJI NIKAH
Kami menyatakan dan berjanji
dihadapan Allah, Keluarga dan JemaatNya
Bahwa kami tetap setia kepada Pernikahan kami
yang diberkati dan diteguhkan
Dalam Nama Tuhan Yesus Kristus pada hari ini
Kami akan tetap mengasihi dan saling melayani
baik waktu suka maupun duka, waktu kelimpahan
maupun kekurangan, waktu sehat maupun sakit
Kami akan selalu hidup bersama dalam Kasih Kristus seumur Hidup

Liturgika STT REAL BATAM Page 35


Dan hanya maut yang dapat memisahkan kami berdua sesuai Firman
Tuhan
Kami berdua akan tetap menjadi saksi Kristus, demi kemuliaan Allah
didalam Gereja, keluarga dan dunia ini, Amin

PENEGUHAN NIKAH
Kalian berdua telah menyatakan dan berjanji masuk dalam
pernikahan kristen yang kudus di hadapan Allah, orang tua, keluarga
,jemaat & saksi – saksi yang hadir pada saat ini saya selaku hamba
Allah di dalam saat yang kudus ini, sesuai pernyataan janji nikah
Kalian bahkan pengakuan kalian saya menyaksikan dan sekarang
saya menyatakan meneguhkan kalian sebagai suami istri yang
sah didalam nama Bapa – Anak dan Roh Kudus. Apa yang telah
dipersatukan tuhan jangan diceraikan manusia Amin – amin - amin
3. UCAPAN TERIMA KASIH
Kami mengucapkan banyak terima kasih kepada seluruh hadirin,
dimana sdr.2 telah
bersikap sebagai seorang yang beribadah dan bukan hanya sekedar
penonton di dalam
upacara ini
Kiranya sdr.2 telah merasakan kebesaran Tuhan, ketertiban dan
keindahanNya
Kenanglah selalu peristiwa indah dan besar ini
Tuhan memberkati sdr.2 - Amin – Amin – Amin

2) Contoh : T ata ibadah / liturgi kedukaan - Pemakaman


Tata Ibadah Persiapan Pemakaman
a. Litani Ajakan Beribadah
P. Allah, sumber kehidupan dunia, kami percaya, bahwa manusia
telah ditebus karena kematian dan kebangkitan Kristus
J. Kiranya saat ini kami tetap dikuatkan serta diteguhkan dalam
pengharapan
P. Kiranya Ibu Niniek Sri Murniningsih yang telah pulang ke rumah
Bapa di sorga hidup
di dalam keselamatan yang kekal
J. Di dalam Tuhan Yesus Kristus, juru selamat sejati, Amin.
b. Votum dan Salam
P : Pertolongan kita adalah dalam nama Tuhan yang menciptakan
langit dan bumi. Kasih
karunia dan damai sejahtera dari Allah Bapa kita dan dari Tuhan
kita Yesus Kristus
serta persekutuan Roh Kudus menyertai kita sekalian.
J : Amin.
c. Nyanyian Pembukaan Kid. Jemaat 344:1-2
1. Ingat akan nama Yesus, 2. Bawa nama Tuhan Yesus
kau yang susah dan sedih; itulah perisaimu;
Nama itu menghiburmu Bila datang pencobaan,
k’mana saja kau pergi itu yang menolongmu.
Reff :....... Reff : ......

Liturgika STT REAL BATAM Page 36


Reff: Indahlah namaNya, pengharapan dunia!
Indahlah namaNya, suka sorga yang baka!
d. Introitus
Adapun manusia, hari-harinya seperti rumput, seperti bunga di
padang demikianlah ia
berbunga; apabila angin melintasinya, maka tidak ada lagi ia, dan
tempatnya tidak
mengenalinya lagi. Tetapi kasih setia TUHAN dari selama-lamanya
atas orang yang
takut akan Dia. (Mazmur 103: 15-17a)
e. Litani Penghiburan
P. Adalah baik menanti dengan diam pertolongan TUHAN
J. Engkau menceraikan nyawaku dari kesejahteraan, aku lupa akan
kesejahteraan
P. Sangkaku: hilang lenyaplah kemasyuranku dan harapanku
kepada TUHAN
J. Ingatlah akan sengsaraku dan pengembaraanku, akan ipuh dan
racun itu
P. Jiwaku selalu teringat akan hal itu dan tertekan dalam diriku
J. Tetapi hal-hal inilah yang kuperhatikan, oleh sebab itu aku akan
berharap
P. Tak berkesudahan kasih setia TUHAN, tak habis-habisnya
rahmatnya
J. Selalu baru tiap pagi, besar kesetiaanMu
P. TUHAN adalah bagianku, kata jiwaku, oleh sebab itu aku
berharap kepadaNya
J. TUHAN adalah baik bagi orang yang berharap kepadaNya, bagi
jiwa yang mencari Dia
P. Adalah baik menanti dengan diam pertolongan Tuhan.
f. Nyanyian Kid. Jemaat 410:1,3
1. Tenanglah kini hatiku 3.Tak kusesalkan hidupku
Tuhan memimpin langkahku. betapa juga nasibku,
Di tiap saat dan kerja sebab Engkau tetap dekat
tetap kurasa tanganNya. reff: tanganMu kupegang erat. reff:
Reff : Tuhanlah yang membimbingku; tangan ku dipegang teguh
Hatiku berserah penuh tanganku dipegang teguh.
g. Litani Berita Anugerah (Pengkh. 3: 1-11)
P : Untuk segala sesuatu ada masanya ……
J : Untuk apapun di bawah langit ada waktunya
P : Ada waktu untuk lahir
J : Ada waktu untuk meninggal
P : Ada waktu untuk menanam
J : Ada waktu untuk mencabut yang ditanam
P : Ada waktu untuk membunuh
J : Ada waktu untuk menyembuhkan
P : Ada waktu untuk merombak
J : Ada waktu untuk membangun
P : Ada waktu untuk menangis
J : Ada waktu untuk tertawa
P : Ada waktu untuk meratap

Liturgika STT REAL BATAM Page 37


J : Ada waktu untuk menari
P : Ada waktu untuk membuang batu
J : Ada waktu untuk mengumpulkan batu
P : Ada waktu untuk memeluk
J : Ada waktu untuk menahan diri dari memeluk
P : Ada waktu untuk mencari
J : Ada waktu untuk membiarkan rugi
P : Ada waktu untuk menyimpan
J : Ada waktu untuk membuang
P : Ada waktu untuk merobek
J : Ada waktu untuk menjahit
P : Ada waktu untuk berdiam diri
J : Ada waktu untuk berbicara
P : Ada waktu untuk mengasihi
J : Ada waktu untuk membenci
P : Ada waktu untuk berperang
J : Ada waktu untuk damai
P : Aku telah melihat pekerjaan yang diberikan Allah kepada anak-
anak manusia untuk melelahkan dirinya
J : Ia membuat segala sesuatu indah pada waktunya, bahkan Ia
memberikan kekekalan dalam hati mereka. Tetapi manusia tidak
dapat menyelami pekerjaan yang dilakukan Allah dari Awal
sampai Akhir.
P : Dengan telanjang aku lahir dari rahim ibuku
J : Dengan telanjang aku akan kembali ke sana
P : Tuhan Allah yang memberi
J : Tuhan Allah yang memanggil Terpujilah NamaNya selama-
lamaNya. Amin
h. Kidung Pujian (Menyanyi sebuah lagu penghiburan)
i. Litani Pengharapan (Yohanes 14: 1-6)
P : Janganlah gelisah hatimu; percayalah kepada Allah, percayalah
juga kepadaKu.
J : Di rumah BapaKu banyak tempat tinggal. Jika tidak demikian,
tentu Aku mengatakannya kepadamu. Sebab Aku pergi ke situ
untuk menyediakan tempat bagimu.
P : Dan apabila Aku telah pergi ke situ dan telah menyediakan
tempat bagimu, Aku akan datang kembali dan membawa kamu
ke tempatKu, supaya di tempat di mana Aku berada, kamupun
berada
J : Dan ke mana Aku pergi, kamu tahu jalan ke situ.
P : Kata Tomas kepadaNya: “Tuhan, kami tidak tahu ke mana
Engkau pergi; jadi bagaimana kami tahu jalan ke situ?”
J : Kata Yesus kepadanya: “Akulah jalan dan kebenaran dan hidup.
Tidak ada seorangpun yang datang kepada Bapa, kalau tidak
melalui Aku.”
j. Litani Doa
P. Kebijaksanaan Tuhan Allah tidak ada yang bisa
membendungnya
J. Dan Keputusan TUHAN sering sulit untuk kita terima

Liturgika STT REAL BATAM Page 38


P. Orang tua kita, sebagai simbol kebahagiaan keluarga telah pergi
ke rumah Bapa di
sorga dalam damai dan sejahtera.
J. Oleh karena Iman, pengharapan dan kasih, kehidupan yang
kekal telah diterimanya.
P. Maka kita percaya, bahwa saat ini ibu kita telah berada bersama
dengan Bapa di
kerajaan sorga.
J. TUHAN, kiranya mendengarkan doa kita
P+J. A m i n.
k. Nyanyian Kid. Jemaat 438 :1-2

1. Apapun juga menimpamu 2. Bila menanggung beban berat


Tuhan menjagamu Tuhan menjagamu
Naungan kasih pelindungmu Masa depanmu kelam pekat
Tuhan menjagamu Tuhan Menjagamu
Reff: Tuhan menjagamu waktu tenang atau tegang
Ia menjagamu, Tuhan menjagamu
l. Litani Pengutusan dan Berkat
P : Keluarga Suryohadi dan saudara-saudara yang dikasihi Tuhan,
Firman Tuhan yang menguatkan hati dan menghibur kita telah
diberitakan. Kini marilah kita meneruskan kehidupan ini dengan
keyakinan, bahwa Tuhan Allah akan terus menolong &
menyertai kita. Dengan tekun dan menyerahkan diri, marilah kita
melakukan apa yang dikehendaki Allah, marilah kita pergi
dengan berkatNya: “Tuhan Allah sumber segala kasih dan
penghiburan, menyertai langkah kehidupan kita dari saat ini
sampai selama-lamanya.
J : A M I N.

3) Contoh : T ata ibadah / liturgi kedukaan - P enghiburan

Tata Ibadah Penghiburan


1. VOTUM DAN SALAM
P : Marilah ibadah ini kita khususkan dengan pengakuan:
U : TUHAN yang menciptakan langit dan bumi, adalah sumber
pertolongan kami.
P : Kasih karunia dan damai sejahtera dari Allah, Bapa kita, dan Tuhan
Yesus, dan
dalam karya Roh Kudus ada pada kita sekalian.
2. MENYANYI KIDUNG JEMAAT 30a : 1, 2 “ANGIN RIBUT
MENYERANG”
a. Angin ribut menyerang
b. Hanya Tuhan sajalah
menggetarkan hatiku; Perlindungan yang tent’ram
ombak ganas menerjang; B’rikan daku yang lemah
aku lari padaMu. hati kuat dan tenang.
Juru-s’lamat, tolonglah Dikau saja yang tetap

Liturgika STT REAL BATAM Page 39


dan pandukan bidukku, Sumber pengharapanku;
hingga aku sampailah biar aku Kaudekap
di labuhan yang teduh. di naungan sayapMu.
3. Litani ( Yohanes 14 : 2, 3 )
P : Di rumah BapaKu banyak tempat tinggal. Jika tidak demikian, tentu
Aku
mengatakannya kepadamu.
Sebab Aku pergi ke situ untuk menyediakan tempat bagimu.
U : Dan apabila Aku telah pergi ke situ dan telah menyediakan tempat
bagimu, Aku akan
datang kembali dan membawa kamu ke tempat-Ku, supaya di tempat
di mana Aku
berada, kamupun berada.
4. MENYANYI KIDUNG JEMAAT 60 : 5, 6 “HAI MAKHLUK ALAM
SEMESTA”
5Kamu yang tabah bergelut, 6. Hai maut, kau bersamaku,
insan pengampun dan lembut, tiada yang luput darimu.
Haleluya, Haleluya, Haleluya, Haleluya!
damai menghias hatimu; Alangkah berbahagia
mahkota sorga bagimu! Yang mati dalam Tuhannya!
Puji Allah tiap kala: Puji Allah tiap kala:
Haleluya, Haleluya, Haleluya! Haleluya, Haleluya, Haleluya!
5. Pelayanan Sabda Allah
6. Doa Syafaat
7. MENYANYI KIDUNG JEMAAT 344 : 1, 2 “INGAT AKAN NAMA
YESUS”
1. Ingat akan nama Yesus, 2. Bawa nama Tuhan Yesus,
kau yang susah dan sedih: itulah perisaimu.
Nama itu menghiburmu Bila datang pencobaan,
k’mana saja kau pergi. Itu yang menolongmu.
Refrein :
Indahlah nama-Nya,
pengharapan dunia!
Indahlah nama-Nya,
suka sorga yang baka!
8. Penutup
P : Tuhan memberkati kita dan melindungi kita. Tuhan menyinari kita
dengan wajahNya
dan memberi kita kasih karunia. Tuhan menghadapkan wajahNya
kepada kita dan
memberi kita damai sejahtera
P&U : Amin

4) Contoh : Tata ibadah / liturgy Hari Raya: contoh ini adalah untuk
perayaan Natal

Contoh ini diambil dari Liturgi ibadah Gereja Kristen Protestan Simalungun

Salam Natal :

Liturgika STT REAL BATAM Page 40


Selamat malam bagi kita segenap keluarga di sini,Patut dan layaklah saat ini
kita datang ke hadapan Hadirat Kudus Tuhan Allah, untuk sujud dan
bersyukur, atas kasihNya yang menuntun, memberkati kehidupan kita
sepanjang tahun ini. Ada begitu banyak limpah kasihNya, ruah berkatNya
yang kita terima dan alami sepanjang perjalan keluarga kita di dalam tahun
ini, walau kita harus jujur ada banyak juga tantangan, pergumulan, penyakit
yang kita alami, tapi semua itu dapat kita lewati bersama dengan tuntunan
tangan Tuhan, yang pada akhirnya membawa kita sampai di penghujung
tahun ini, dan memasuki suasana sukacita di malam natal ini. Dalam
keheningan malam ini, marilah kita tirakad diri bersama bersujud,
menyembah Dia, lantunkan pujian, mohonkan doa, terima Firman dan
berkatNya. Karena itu mari satukan hati, tengadahkan diri masuk dalam
ibadah Natal kita malam ini.

Kebaktian:
1. Votum – Introitus – Doa
P : Di dalam Nama Allah Bapa, AnakNya Tuhan Yesus Kristus dan
persekutuan Roh Kudus
J : Pencipta langit dan bumi. Amin
P : Terpujilah Tuhan Allah Israel, sebab Ia melawat umatNya
J : Karena yang Maha Kuasa telah melakukan perbuatan-perbuatan
besar kepadaku dan namaNya adalah Kudus
P : Terpujilah Tuhan, yang menunjukkan rahmatNya, dan yang
memberi tanduk keselamatan bagi kita
J : Dan RahmatNya itu turun temurun atas orang yang takut akan Dia
P : Dia adalah Bintang terbit dari Yakub, tongkat kerajaan yang timbul
dari Israel
J : Dia adalah Tuhan Surya Pagi di tempat yang Maha Tinggi. Yang
menyinari orang yang tinggal dalam kegelapan dan dalam naungan maut,
untuk
mengarahkan kaki kita kepada jalan damai sejahtra.
P : Karena itu bernyanyilah hai kita sekalian Putri Sion dan segenap
Yerusalem. Mari sambut Rajamu, Raja Damai
J : Susahmu akan berakhir, sebab Penolongmu telah hadir. Ia
menghapus gelap dan kemelut dan memberi terang cahaya Ilahi yang
abadi.
P + J : (menyanyikan Kidung Jemaat No. 85: 1)
Kusongsong bagaimana, ya Yesus datangMu
Engkau terang buana, Kau surya hidupku
Kiranya Kau sendiri, Penyuluh jalanku
Supaya kuyakini, tujuan hidupku
P : Marilah kita berdoa:
Ya Tuhan Allah, Bapa yang Maha Pengasih dan Pemurah. Saat ini kami
sekeluarga datang tengadahkan hati hendak bersyukur kepadaMu, karena
kasihMu sungguh mulia. Engkau mengutus anakMu- Yesus Kristus datang
ke dunia untuk menebus dan menyelamatkan kami dari dosa dan
kematian, serta memahkotai kami dengan keselamatan kekal. Ya Tuhan
Allah, Engkau adalah Tuhan kami, Raja yang adil. Di dalam tanganMu ada
kebijaksanaan dan kekudusan. Dalam dekapan naunganMu ada ketulusan
dan kedamaian. Dalam takhtaMu ada kuasa dan kekekalan. Kami rindu

Liturgika STT REAL BATAM Page 41


datang dan menerima urapan kuasa kekudusanMu. Kami butuh urapan
kuasa kekekalanMu. KepadaMu saat ini kami datang bersyukur dan
menyembah, karena tiada yang setara dengan Engkau. KasihMu tiada
berkesudahan, SetiaMu tiada pernah berakhir. Hadirlah Tuhan dalam
persekutuan ibadah ini untuk memberkati kami, melahirkan sukacita di hati
dan memberi kekuatan dalam kelemahan kami, memberi pengharapan
dalam setiap langkah juang kami. Curahkanlah urapan api Roh KudusMu
saat ini, untuk menolong kami bersyukur dalam ibadah ini, agar seluruh
nyanyian dan doa kami sungguh-sungguh berkenan kepadaMu. Di dalam
Yesus Kristus yang adalah Tuhan dan Juruslamat kami, dengarkanlah doa
permohonan kami ini. Amin.

2. Nyanyian Pujian : Haleluya No. 37: 1 + 3


Hatuahon do, hamegahon do partubuhon ni Yesus in
Roh Sipaluah bani na magou. Megah-megah ma uhurta in (2x)
Hatuahon do, hamegahon do partubuhon ni Yesus in
Megah uhurta bani Tuhanta, megah-megah ma uhurta in (2x)

3. Doa Pengakuan dan Permohonan pengampunan dosa


P : Marilah kita berdoa untuk memohon keampunan dosa kita
……………….Saat Teduh……………………………..
Ya Allah yang Maha murah dan Maha Pengasih, sungguh besar kasihMu
Engkau bersedia datang ke dunia dalam rupa manusia, dalam diri bayi
mungil, Yesus Kristus Juruslamat dunia. Saat ini kami datang tirakad diri,
sujud, sungkur di hadapanMu, mohon ampun akan dosa dan kesalahan
kami. Engkau telah menetapkan kami sebagai suami yang harus
menyayangi istri tapi kami sering mendukakan hati istri dengan perkataan
dan perbuatan kami. Geram dan hati panas sering menjebak kami untuk
melukai hati istri dan anak-anak. Engkau juga telah menetapkan istri
sebagai penolong yang sepadan terhadap suami, tetapi kami sering
mendukakan hati suami, dengan tidak menghormati dan mencintai mereka
dengan ketulusan, mulut kami lebih cepat berbicara dari pada tangan yang
sedia berbuat dan melayani keluarga. Anak-anak tidak kami didik dengan
hikmat agar memperoleh pengertian. Kami tidak memeluk mereka dengan
elusan cinta kasih sebagai orang tua. Sebagai anak-anak, kami pun sering
melukai hati orang tua, dengan tidak menuruti nasihat mereka, kami sering
lalai dan alpa melakukan kebajikan sebagai seorang anak kepada orang
tua. Ya Tuhan ampunkanlah kami semua atas dosa dan kesalahan kami
itu, balutlah kami dengan cinta kasihMu. Belalah kami ya Kristus, agar
kami layak menerima keselamatan yang Engkau bawa melalui natal ini.
J : (menyanyikan Ref. KJ. No. 33 ) Aku datanglah Tuhan padaMu
Dalam darahMu Kudus, sucikan diriku
P : Allah Bapa, Maha Pemurah dan Maha Pengasih, sungguh besar
kasihMu yang telah memanggil kami keluar dari kegelapan kepada terang
yang ajaib untuk menjadi umat pilihanMu, Imamat yang Rajani, bangsa
yang kudus bagiMu. Engkau telah memberi terangMu bagi kami agar kami
bersinar, menyebarkan terang dunia. Tetapi kami justru senang tinggal
dalam kegelapan dunia. Kami terperangkap oleh nikmatnya candu
kemewahan dunia. Banyak keluarga kemalangan menderita, diliputi
kegelapan kemelut yang pekat, tetapi kami tidak mampu meneranginya,

Liturgika STT REAL BATAM Page 42


sebab cahaya kami redup oleh terpaan angin dunia. Ada banyak di sekitar
kami keluarga yang kekurangan cinta kasih yang benar, tak terbilang yang
sengsara dalam hati karena gersangnya dan tandusnya kehidupan.
Sebaliknya ada juga keluarga yang digoda kemewahan tetapi tidak
mengenal bahagia, karena hanya turut cita-cita dunia yang bergempita.
Kami juga masih terjebak dalam kemelut permusuhan, di gereja yang
harus bersatu. Ampunkanlah kami ya Tuhan, akan ketidakmampuan kami
menerangi dunia. Kobarkanlah nyala api Roh Kudus bagi kami agar kami
pergi segera ke persimpangan jalan yang buruk dan keji, untuk menjemput
segala orang, masuk ke dalam rumah selamatMu yang kekal, dan
kumpulkan domba Tuhan yang tersesat. Agar kami menaburkan benih
Injil. Tolong agar kami mampu bangunkan persekutuan damai, di tengah
keluarga, juga agar kami sedia memerangi gelap kemiskinan,
menyinarkan terang keadilan, agar nyata dan terwujud doa yang selalu
kami dengungkan : ”Datanglah kerajaanMu, jadilah kehendakMu di bumi
seperti di surga”. Dalam Yesus Sang bayi kudus kami berdoa.. Amin.
J : (menyanyikan Ref. KJ. No. 33 ) Aku datanglah Tuhan padaMu Dalam
darahMu Kudus, sucikan diriku

3. Liturgos dan Pelayanan Gerejawi


Liturgos dan pelayanan Gerejawi adalah dua hal yang sangat esensial
dalam pelaksanaan ibadah gereja. Liturgos adalah mereka yang bertugas
membawakan seluruh rangkaian ibadah (di beberapa gereja mereka ini
disebut pemimpin pujian), namun di gereja protestan disebut liturgos. Pada
dasarnya liturgos memiliki fungsi memimpin ibadah dari awal sampai dengan
akhir, namun dalam bagian tertentu ada tugas-tugas yang harus dikerjakan
oleh pendeta atau yang bertugas menyampaikan khotbah. Jika kita mengukur
dari keseluruhan rangkaian ibadah, maka hampir 50- 75 % rangkaian ibadah
dikerjakan oleh seorang litugos. Namun jika dihitung dari akumulasi waktu,
memang bisa separuh waktu ibadah ada dalam pimpinan dan arahan sang
liturgos. Dalam pelayanan gerejawi, tugas-tugas liturgos menjadi amat
penting, dan sentral sebab hampir bisa disebutkan bahwa dialah yang
bertindak mengarahkan dan memimpin ibadah tersebut. Para petugas gereja
khusunya yang bertugas dalam liturgos, harus memiliki kecakapan yang
multidimensi. Pada satu sisi ia harus bisa menyanyi, menyampaikan kata-kata
(hampir mirip nasehat/khotbah), dan disisi lain ia pun harus mengerti psikologi
jemaat, bagaimana menentukan situasi dan kondisi yang baik bagi pelayanan
itu. Maksudnya ia memahami jemaat, sehingga mampu menempatkan liturgi
yang berdampak bagi jemaat itu. Liturgos dalam pelayanan gerejawi, tidak
bisa dipisahkan dari ibadah-ibadah yang ada, juga tidak mungkin
menghilangkan fungsi ini. Dengan menunaikan tugasnya dengan baik,
dampak dan pengaruh untuk ibadah yang bergairah pasti ditemukan dalam
pelayanan gerejawi.

4. Musik dalam Liturgi Gereja

Liturgika STT REAL BATAM Page 43


Bagian terakhir ini kita membicarakan tentang musik dalam liturgi
gereja. Peranan dan fungsi musik dalam gereja, sangat dominan. Coba saja
perhatikan semua unsur ibadah kita, apakah di gereja atau pun di luar gereja
semua dikaitkan dengan musik. Musik memegang peranan yang besar dalam
rangkaian ibadah kita. Di dalam sebuah liturgi gerejawi, tentunya musik yang
kita pahami disini bukan saja tergantung pada alat-alatnya, namun kepada
pemanfaatan alat musik dalam ibadah. Gereja memang sangat dekat dengan
permainan musik, sejak zaman Perjanjian Lama kita sudah melihat
bagaimana bangsa Israel mempergunakan alat-alat musik. Makanya dalam
kitab Mazmur 150, ada sekian banyak jenis alat musik yang digunakan dalam
ibadah atau peribadatan. Apalagi di zaman kita sekarang ini, alat-alat musik
modern pun mendominasi pada pelaksanaan ibadah.
Bagi kita yang paling penting adalah bagaimana alat musik dipakai
untuk tujuan kemuliaan nama Tuhan, maksudnya alat musik apapun
(jenisnya) kita bisa gunakan dalam memuji Tuhan. Harmoni yang dikeluarkan
alat musik, saat digunakan menjadi sangat penting bagi pelaksanaan ibadah
di gereja. Karena itu, salah satu yang perlu diperhatikan dalam ibadah adalah
musik harus menjadi alat, bukan tujuan. Dalam hal ini yang paling perlu juga
adalah siapa yang menggunakan musik itu, haruslah mereka-mereka yang
diberi karunia dalam pelayanan musik. Dengan memfokuskan pada hal ini,
niscaya musik dalam liturgi gerejawi, mempunyai dampak yang besar.

Liturgika STT REAL BATAM Page 44


PENUTUP

Liturgi merupakan hal yang sangat penting dalam pelayanan


gerejawi.Bagaimanapun bentuk liturgi yang kita pakai dalam gereja, hal yang
penting diingat adalah bahwa penempatannya harus jelas dan juga
proporsional. Liturgi bukanlah satu tujuan, alat, bagaimama memuji dan
memuliakan nama Tuhan. Pada bagian ini yang paling penting diingat adalah
kebiasaan liturgi di gereja-gereja, merupakan kebiasaan yang sudah terjadi
selama berabad-abad. Terhadap hal ini memang dibutuhkan inovasi-inovasi
baru dalam pelayanan liturgi.
Penting untuk diingat bahwa litugi yang berbeda bukan berarti
menandakan kehebatan dan kelemahan dari sebuah gereja. Liturgi yang
berbeda biasanya disebabkan doktrin dan tradisi gereja yang di adaptasi oleh
gereja itu. Bagi kita yang
paling esensi adalah sebuah liturgi harus membangun jemaat untuk
bersekutu dengan Tuhan. Liturgi yang baik adalah liturgi yang membawa
dampak perubahan bagi kehidupan jemaat.
Ada banyak aspek yang perlu diperhatikan dalam litugi, antara lain
kebiasaan dan doktrin yang dibangun dalam sebuah gereja. Untuk hal ini,
maka yang paling prinsip adalah lihatlah teologi yang dibangun dalam gereja
itu, secara khusus mengenai peribadatan. Hal lain yang perlu diperhatikan
adalah jenis ibadah. Tentu sekali tidaklah sama liturgi ibadah anak-anak
dengan dewasa, ibadah umum dengan kedukaan, dll. Pasti hal-hal ini menjadi
perhatian bagi sang liturgos.
Liturgi pada prinsipnya harus berdampak bagi kerohanian jemaat,
pemimpin liturgi atau liturgos dan semua bagian-bagian yang terkandung di
dalamnya, harus benar-benar mempersiapkan diri dengan baik dan meminta
Allah sendiri yang menuntunnya. Selain itu fungsi liturgi harus membawa
jemaat kepada pengenalan Tuhan (membuat mereka semakin dewasa). Jika
liturgi di gereja-gereja bias dilaksanakan sedemikian, maka liturgi bukan
sekedar tata acara ibadah, namun situasi dan moment perjumpaan dengan
Kristus.

DAFTAR KEPUSTAKAAN

Abineno, J.L. Ch, Unsur-Unsur Liturgia yang dipakai Gereja-Gereja di


Indonesia,
Jakarta: BPK Gunung Mulia, 2007.

Liturgika STT REAL BATAM Page 45


Riemer, G., Cermin Injil: Ilmu Liturgia, Jakarta: Yayasan Komunikasi Bina
Kasih/OMF,2002.
Rowley, H.H., Ibadat Israel Kuno: Worship in Ancient Israel, Jakarta: BPK
Gunung
Mulia, 2004.
Website : http//www.rumah metmet.com
Website: http//www.gkipi.com
Website:http//www.gkps.org

Liturgika STT REAL BATAM Page 46