Anda di halaman 1dari 11

PROPOSAL PROGRAM KREATIVITAS MAHASISWA

JUDUL PROGRAM
APLIKASI CITRA PENGINDERAN JAUH UNTUK PEMETAAN
DAERAH RAWAN TANAH LONGSOR DI KECAMATAN SAMIGALUH,
KULONPROGO

BIDANG KEGIATAN:
PKM PENELITIAN

Diusulkan oleh:
Aryo Nugrogho Maulana (141101015/2014)
Galang Kahuripan (141101011/2014)
Handy Bagus Wukir (141101018/2014)
Abi Za’la Jaelani (141101109/2014)
Oktorinov Dwi Putra (141101109/2014)

INSTITUT SAINS & TEKNOLOGI AKPRIND


YOGYAKARTA
2015

i
PENGESAHAN PROPOSAL PKM-PENELITIAN
1. Judul Kegiatan : Aplikasi Citra Penginderan Jauh
Untuk Pemetaan Daerah Rawan Tanah
Longsor Di Kecamatan Samigaluh,
Kulonprogo

2. Bidang Kegiatan : PKM-P


3. Ketua Pelaksana Kegiatan
a. Nama Lengkap : Aryo N Maulana
b. NIM : 141101015
c. Jurusan : Teknik Geologi
d. Universitas/Institut : Institut Sains dan Teknologi Akprind
e. Alamat Rumah dan No. : Rotowijayan KP II/44 Yogyakarta dan
Tel/HP 083867424029
f. Alamat email : Hi.aryomaulana@gmail.com
4. Anggota Pelaksana : 5 Orang
Kegitan/Penulis
5. Dosen Pendamping
a. Nama Lengkap dan Gelar : Dina Tania, S.T., M.T.)
b. NIDN : 0518058202
c. Alamat Rumah dan No : 082262082282
Telp/HP
6. Biaya Kegiatan Total
a. Dikti : Rp. 12.500.000
b. Sumber lain (sebutkan…) : -
7. Jangka Waktu Pelaksanaan : 4 Bulan

Yogyakarta,6 -Oktober-2015
Menyetujui,
Ketua Jurusan Ketua Pelaksana Kegiatan

(Dr.Sri Mulyaningsih, S.T., M.T.) (Aryo N Maulana)


NIK. 96.0672.516.E NIM.141101015

Wakil Rektor Bidang Kemahasiswaan Dosen Pendamping

(Ir. Miftahussalam, M.T.) (Dina Tania, S.T., M.T.)


NIK. 87.0254.317.E NIDN. 0518058202

ii
DAFTAR ISI
PENGESAHAN PROPOSAL PKM-PENELITIAN .............................................. ii
DAFTAR ISI .......................................................................................................... iii
DAFTAR GAMBAR ............................................................................................. iii
DAFTAR TABEL .................................................................................................. iii
RINGKASAN ........................................................................................................ iv
BAB 1. PENDAHULUAN ..................................................................................... 5
BAB 2.TINJAUAN PUSTAKA ............................................................................. 5
BAB 3. METODE PENELITIAN........................................................................... 7
BAB 4. BIAYA DAN JADWAL KEGIATAN ...................................................... 9
DAFTAR PUSTAKA ........................................................................................... 10

DAFTAR GAMBAR
1. Gambar 3.1 Bagan Langkah-Langkah Pengiterpretasian. .................................. 8

DAFTAR TABEL
1. Tabel 4.1 Ringkasan Anggaran Biaya PKM-P ................................................... 9
2. Tabel 4.2 Jadwal Kegiatan PKMP-P .................................................................. 9

iii
RINGKASAN
Pemanfaatan lahan yang semakin tahun semakin meningkat akan tetapi lahan
yang tersedia sangatlah terbatas, sehingga lahan di daerah perbukitan maupun di
daerah pegunungan menjadi pilihan terakhir. Namun pemanfaatan dilahan tersebut
perlu mengerti dengan baik karakteristik lahan yang digunakan. Salah satu
bencana alam yang sering terjadi di Indonesia dan juga sering menimbulkan
korban jiwa maupun materil adalah tanah longsor.
Daerah Kabupaten Kulonprogo Daerah Istimewa Yogyakarta adalah salahsatu
contoh daerah yang rawan terhadap proses yang dalam geologi disebut gerakan
massa.
Adapun tujuan dari teknik citra penginderaan jauh adalah mampu
mengintepretasikan suatu daerah dalam hal ini kami memilih Daerah Kecamatan
Samigaluh Kabupaten Kulonprogo sehingga mampu memetakan daerah rawan
bencana longsor dan mengedukasi masyarakat.
Metode yang kami gunakan dalam citra penginderaan jauh adalah dengan
mengunakan citra foto dengan alat bantu berupa steroskop kami mampu
mengintepretasi karakteristik lahan baik berupa sudut lereng, jenis batuan,
permeablitas tanah dan bentuk penggunaan lahan.

iv
5

BAB 1. PENDAHULUAN
Kasus tanah longsor di Banjarnegara, Jawa Tengah menyentak seantero Indonesia,
betapa tidak lebih dari 90 korban kiwa ditemukan tertimbun longsoran dan satu
dusun tertimbun, untuk menghindari kejadian yang sama dimasa depan maka
perlu diantisipasi di seluruh wilayah Indonesia yang rawan bencana tanah longsor
dengan menggunakan teknologi Sistem Informasi Geografis.
Daerah yang kami ambil dalam penelitian ini adalah Samigaluh. Samigaluh adalah
sebuah kecamatan di Kabupaten Kulon Progo, Provinsi Daerah Istimewa
Yogyakarta, Indonesia. Samigaluh berada di sebelah utara dalam wilayah
Kabpaten Kulon Progo, Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta. wilayah
Samigaluh didominasi oleh perbukitan (bagian dari Perbukitan Menoreh) yang
terletak di perbatasan antara Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta dengan
Provinsi Jawa Tengah (Kabupaten Purworejo), daerah Samigaluh menempati Luas
6.929,31 Ha dengan jumlah penduduk sebanyak 30.839 jiwa.
Daerah Samigaluh merupakan salah satu daerah di Daerah Istimewa Yogyakarta
yang rawan bencana tanah longsor, pada tahun 2015 telah terjadi tanah longsor
tepatnya pada bulan februari 2015.
Dengan belajar dari kasus sebelumnya daerah rawan bencana longsor di daerah
Samigaluh Kabupaten Kulonprogo ini harus dikaji lebih mendalam lagi untuk
menghindari jatuhnya korban jiwa dan materil.
Adapun tujuan dari kegiatan penelitian ini diantaranya adalah mampu
mengintepretasikan wilayah penelitian agar dapat memetakan daerah rawan
bencana tanah longsor.
Luaran yang diharapkan
Dari program penelitian ini diharapakan akan diperoleh hasil lembar peta daerah
rawan bencana tanah longsor di daerah Samigaluh Kabupaten Kulonprogo dari
hasil aplikasi citra pengideraan jauh.
Kegunaan PKM P ini bagi mahasiswa, manfaat yang didapat mahasiswa adalah
sebagai rujukan atau bahan penelitian lebih lanjut seperti pemetaan geologi atau
pembuatan peta geomorfologi. Dan bagi masyrakat program ini dapat dijadikan
bahan edukasi masyarakat tentang potensi tanah longsor di daerahnya, agar dapat
mengantisipasi kejadian yang dapat merenggut korban jiwa mapun materil di
masa depan .

BAB 2.TINJAUAN PUSTAKA


Longsor atau sering disebut gerakan tanah adalah suatu peristiwa geologi yang
terjadi karena pergerakan masa batuan atau tanah dengan berbagai tipe dan jenis
seperti jatuhnya bebatuan atau gumpalan besar tanah. Secara umum kejadian
longsor disebabkan oleh dua faktor yaitu faktor pendorong dan faktor pemicu.
Faktor pendorong adalah faktor-faktor yang memengaruhi kondisi material
sendiri, sedangkan faktor pemicu adalah faktor yang menyebabkan bergeraknya
material tersebut. Meskipun penyebab utama kejadian ini adalah gravitasi yang
memengaruhi suatu lereng yang curam.
Macam-macam gerakan tanah ada 9 macam, yaitu Creeping (rayapan tanah),
Mudflow ( aliran lumpur ), Debrisflow ( aliran bahan rombakan ), Rock Slide (
luncuran batuan ), Debris Slide ( luncuran bahan rombakan ), Slump ( nendatan ),
Subsidence ( amblesan ), Debris Fall (Jatuhan bahan rombakan) dan Rockfall (
jatuhan bahan rombakan )
6

Dan penyebab-penyebab dari gerakan masa tersebut seperti erosi, lereng terjal,
gempa bumi, gunung api, getaran dari mesin, dan berat atau beban yang berlebih.
Kondisi daerah penelitian meliputi letak, kondisi lereng, iklim (hujan, temperatur
dan tipe iklim), geologi (struktur geologi, tipe lithology, formasi batuan serta
tingkat pelapukan batuan), kondisi geomorfologi, tanah, penggunaan , serta
kependudukan. Secara geografis daerah penelitian berada pada 110 o07’30” BT-
07o37’30” LS dan 07o45’00”. Secara administrasi berada di Kecamatan
Samigaluh Kabupaten Kulon Progo, Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta,
Indonesia. Samigaluh berada di sebelah utara dalam wilayah Kabpaten Kulon
Progo, Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta. wilayah Samigaluh didominasi oleh
perbukitan (bagian dari Perbukitan Menoreh) yang terletak di perbatasan antara
Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta dengan Provinsi Jawa Tengah (Kabupaten
Purworejo).
Berdasarkan data hujan dari tahun 1979 sampai dengan tahun 1999 (21 tahun),
curah hujan didaerah penelitian didasarkan pada lima stasiun hujan, Daerah
penelitian yang memiliki hujan tahunan maksimum sebesar 3107 mm/th dan curah
hujan minimum sebesar 1563 mm/ tahun. Hujan maksimum terjadi pada bulan
Januari.
Kondisi relief didaerah penelitian sangat kompleks mulai dari dataran sampai
pegunungan dengan variasi kemiringan lereng dari datar sampai terjal. Gambaran
kondisi relief yang meliputi topografi dan lereng dapat dijelaskan secara rinci
melalui kenampakan morfologinya baik morfografi maupun morfometri dari
masing masing bentuk lahan.
Secara geologis, daerah penelitian secara umum merupakan bagian dari daerah
Pegunungan Progo. Sedangkan pada bagian timur berbatasan dengan Sungai
Progo. Struktur geologi di daerah penelitian ditunjukkan oleh adanya sesar-sesar
yang berpengaruh terhadap proses longsoran. Keberadaan sesar tersebut ditandai
oleh adanya gawir sesar dengan kemiringan lereng lebih dari 40%, terutama
terdapat pada siutara penelitian dengan arah timur-barat. Berdasarkan hasil
analisis peta geologi, daerah penelitian terdapat delapan formasi batuan antara
lain Formasi Nanggulan yang merupakan formasi tertua, Formasi Andesit Tua,
Formasi Jonggrang, Formasi Sentolo, Formasi Andesit, Formasi Endapan Merapi
Muda, Formasi Koluvium dan Formasi Aluvium.
Kondisi geomorfologi daerah penelitian dipengaruhi oleh asal proses yang terjadi
didaerah penelitian yaitu: proses fluvial, proses denudasional, dan proses
struktural.
Sebagian besar hasil proses struktural yang terjadi didaerah penelitian sebagian
besar telah mengalami proses eksogen berupa denudasional. Proses denudasi yang
terjadi didaerah penelitian antara lain proses pelapukan, erosi dan longsoran.
Tanah di daerah penelitian terbentuk dari bahan induk tanah yang bermacam-
macam yang berasal dari batuan-batuan dasar anggota Formasi Nanggulan,
Andesit Tua Bemmelen, Jonggrang dan Sentolo. Bahan induk tanah terletak pada
elevasi yang relatif rendah pada umumnya berasal dari rombakan batuan anggota
formasi-formasi batuan yang terletak pada topografi relatif keras dan berumur
lebih muda akan menghasilkan bahan induk tanah yang relatif tipis dan tekstur
tanah relatif kasar (pasiran).
Atas dasar peta tanah yang dihasilkan dari kegiatan survei tanah yang dilakukan
oleh Fakultas Pertanian UGM (1998) didaerah penelitian terdapat 17 seri tanah.
7

Seri-seri tanah tersebut menyusun 56 satuan pemetaan tanah yang merupakan


gabungan dari satuan pemetaan lahan dan satuan taxonomik tanah. Atas dasar
satuan-satuan pemetaan tanah ini, kemampuan lahan didaerah penelitian dinilai.
Ada tiga macam satuan pemetaan tanah yang ada didaerah penelitian, yaitu
konsosiasi, asosiasi, dan kompleks. Satuan pemetaan tanah konsosiasi didominasi
oleh satuan tanah, sedangkan pada asosiasi dan kompleks tidak ada satuan tanah
yang mendominasi.
Kondisi penggunaan lahan didaerah penelitian dibedakan menjadi enam tipe yaitu
kebun/perkebunan, permukiman, sawah irigasi, sawah tadah hujan,
semak/belukar, dan tegalan/ladang.
Bentuk penggunaan lahan berpengaruh terhadap proses erosi dan longsoran yang
dapat besifat mempertinggi atau menekan frekuensi dan intensitas kejadian.
Bentuk penggunaan lahan yang kurang sesuai akan memacu laju proses erosi dan
longsoran pada akhirnya akan membentuk lahan rusak. Lahan yang demikian daya
dukungnya terhadap kehidupan manusia akan menjadi sangat minimal. Lahan
rusak yang terdapat pada hulu sungai sudah tidak mempunyai fungsi hidrologis
lagi sehingga hampir semua air hujan yang jatuh padanya akan menjadi limpasan
permukaan yang dapat mempertinggi banjir pada daerah hilir dan muara sungai.

BAB 3. METODE PENELITIAN


Lokasi dan Waktu Penelitian
Penelitian ini akan dilakukan di Kampus IST Akprind Yogyakarta selama 4
Bulan.
Bahan dan Alat
Bahan yang digunakan pada penginderaan jauh adalah citra foto udara. Alat yang
digunakan untuk mengintepretasikan citra foto udara adalah streroskop selain itu
juga dibutuhkan alat tulis ,OHP, selotip bening, mika bening, dan kertas HVS

Prosedur Penelitian
Penelitian ini menggunakan citra foto sebagai sumber atau data utama untuk
mengintepretasikan daerah penelitian dan streroskop sebagai alat bantu
penglihatan saat pengiterpretasikan citra foto udara tersebut.
Hal yang pertama adalah membuat frame di mika bening dengan OHP,setelah jadi
mika bening diletakan diatas citra foto udara untuk membuat inner frame , inner
frame dilihat dari gambar yang saling bertumpuk atau saling overlap, setelah itu
letakan steroskop diatas citra foto udara ber-frame tersebut , sekarang kita dapat
mengintepretasikan citra tersebut dengan memperhatikan beberapa aspek
yaitu:rona, tekstur, pola, bentuk, ukuran, letak, asosiasi, dan bayangan.
Setelah mengetahui aspek-aspek yang diatas, langkah selanjutnya adalah
mengitepretasikan pola pengaliran, pola pengaliran merupakan kondisi yang
menunjukan hubungan keruangan dari semua aliran dalam suatu sistem sungai
yang terbentuk secara alamiah. Rangkaian bentuk suatu aliran sungai tersebut
merupakan fungsi dari kelerengan, jenis batuan, struktur geologi dan iklim.
Setelah selesai mengitepretasikan pola dilanjutkan dengan interpretasi
geomorfologi, yaitu berupa bentuklahan (landform) sebagai penyusun konfigurasi
permukaan bumi.
Selanjutnya adalah penginterpretasikan lithologi dan stratigrafi, Interpretasi foto
udara untuk litologi dilakukan berdasarkan pendekatan kriteria dasar pengenalan
8

dan kriteria dasar penafsiran. Ada yang dapat langsung diindera, yaitu
kenampakan fisik, sehingga dapat untuk membedakan jenis batuannya.
Interpretasi stratigrafi dari citra bersifat sangat terbatas, yaitu menentukan
hubungan relatif dari satuan-satuan berdasarkan pola sebaran dan hubungan
kontak kedudukan dari satuan-satuan batuan tersebut.
Dan selanjutnya adalah penafsiran struktur geologi, Tujuan penafsiran struktur
geologi adalah untuk menentukan kedudukan perlapisan, kekar, sesar dan liapatan
melalui foto udara.Langkah tersebut tertera pada gambar bagan 3.1

Pola Pengaliran

Geomorfologi

Lithologi dan Stratigrafi

Struktur Geologi

Creeping Mudflow Debrisflow Rockfall

Debrisfall Rock Slide Debri Slide Slump


Fall
Subsidence

Gambar 3.1 Bagan Langkah-Langkah Pengiterpretasian.


9

Parameter Pengataman
Dari aspek rona, tekstur, pola, bentuk, ukuran, letak, asosiasi, dan bayangan yang
terdapat dalam citra udara ditambah dengan pengitepretasikan geomorfologi,
lithologi, stratigrafi, dan struktur geologi yang ada pada peta citra kita mampu
mengintepretasi dimana daerah yang rawan bencana tanah longsor.
Analisa Data
Data hasil interpretasi akan dibuktikan dilapangan untuk mevalidkan data yang
didapatkan saat penginterpretasian citra foto udara.

BAB 4. BIAYA DAN JADWAL KEGIATAN


4.1 Anggaran Biaya
Berikut adalah anggaran biaya penelitian ini.
Tabel 4.1 Ringkasan Anggaran Biaya PKM-P
No Jenis Pengeluaran Biaya (Rp)
1 Peralatan Penunjang 11.150.000
2 Bahan Habis Pakai 600.000
3 Perjalanan 250.000
4 Lain-lain 500.000
Jumlah 12.500.000

4.2 Jadwal Kegiatan


Berikut adalah jadwal kegiatan selama penelitian ini.
Tabel 4.2 Jadwal Kegiatan PKMP-P
No Jenis Kegiatan Bulan
1 2 3 4
1 Persiapan
Pengadaan Citra
Udara dan
Steroskop
2 Penginterpretasian
Citra Udara
daerah penelitian
3 Analisa Data dan
Peninjauan Lokasi
4. Pengumpulan
Laporan
10

DAFTAR PUSTAKA
Gunadi S, Sartohadi J, Hadmoko DS, Hardiatmo HC, Giyarah SR.2003. Tingkat
Bahaya Longsor di Kecamatan Samigaluh dan daerah sekitarnya,
Kabupaten Kulonprogo, Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta
Aji Bhaskara.Gerakan Massa Tanah, diakses tanggal 3 Oktober 2015
<http://fgmi.iagi.or.id/berita/berita-dunia-geosaintis/gerakan-massa-
tanah/>
Sastroprawiro S, Kuncoro B, Purnomo H.2015.Buku Panduan Geologi Citra
Penginderajaan Jauh.Universitas Pembangunan Nasional “Veteran”
Yogyakarta
11

Lampiran 2. Justifikasi Anggaran Kegiatan

1.Peralatan Penunjang
Material Justifikasi Kuantitas Harga Satuan Jumlah (Rp)
Pemakaian (Rp)
Peta Citra Udara Sumber data 1 10.000.000 10.000.000
utama
pengintepresaian
Steroskop Alat bantu 1 1.150.000 1.150.000
Model Saku penglihatan peta
citra udara
SUB TOTAL (Rp) 11.150.000

2.Bahan Habis Pakai


Material Justifikasi Kuantitas Harga Satuan Jumlah (Rp)
Pemakaian (Rp)
OHP
HVS
SUB TOTAL (Rp)

3.Perjalanan
Material Justifikasi Kuantitas Harga Satuan Jumlah (Rp)
Pemakaian (Rp)
Mencari Bahan Persiapan 2 50.000 50.000
dan Alat Penelitian
Survey Lokasi Pembuktian 4 50.000 200.000
dilapangan
SUB TOTAL (Rp) 250.000

4.Lain-lain
Material Justifikasi Kuantitas Harga Satuan Jumlah (Rp)
Pemakaian (Rp)
Flashdisk Tempat
penyimpanan
data-data

SUB TOTAL (Rp)