Anda di halaman 1dari 24

LAPORAN INDIVIDU

PJBL 2 – KONSEP DASAR

“MENINGITIS”
Disusun untuk memenuhi tugas FP blok Neurology System
Yang dibimbing oleh

Disusun oleh:

ARIFAH NUR WULANDARI


155070200111016
PSIK REGULER 2/2015
KELOMPOK 4
PROGRAM STUDI ILMU KEPERAWATAN
FAKULTAS KEDOKTERAN
UNIVERSITAS BRAWIJAYA MALANG
NOVEMBER 2016
TRIGGER PJBL 2
Seorang anak laki-laki berusia 7 tahun, dibawa ke rumah sakit karena panas tinggi sejak
4 hari yang lalu dan mengeluh sakit kepala, kejang sebanyak 1 kali di rumah. Keluarga
mengatakan leher anaknya terasa kaku. Dari hasil anamnesa perawat dengan ibu klien
didapatkan bahwa anaknya pernah mengalami otitis media 1 bulan yang lalu, riwayat
anoreksia. Hasil pemeriksaan perawat, anak tampak letargi, tanda-tanda vital: Suhu
39,5oC, nadi 120x/menit, pernapasan 22x/menit, brudzinski (+), kernig (+), mukosa kulit
kering, turgor kembali 3 detik, GCS 345, badan teraba hangat. Hasil pemeriksaan lab:
leukosit 15.000, LED 20mm/jam, pemeriksaan Analisis LCS dari Pungsi Lumbal: Sifat :
keruh, Tekanan : 300 mmhg, Protein : 75 mg/dl, Leukosit total : 10/ml, Glukosa : 100
mg/dl, CT scan terdapat penumpukan cairan pada selaput meningen. Klien
mendapatkan Fenitoin 5 mg/kg/24 jam, 3 kali sehari, asam salisilat 10 mg/kg/dosis,
kloramfenikol 50mg/kgBB/24jam/IV 4x sehari.

STUDENTS LEARNNG OBJECTIVE (SLO)


1. Definisi Meningitis
2. Klasifikasi Meningitis
3. Epidemiologi Meningitis
4. Etiologi dan Faktor Risiko Meningitis
5. PatofisiologiMeningitis
6. Manifestasi Meningitis
7. Pemeriksaan Diagnostik Meningitis
8. Penatalaksanaan Meningitis
9. Asuhan Keperawatan Meningitis
1. Definisi Meningitis
Meningitis adalah kerusakan pada "meninges" yaitu kulit (selaput) yang
menutupi otak atau peradangan pada jaringan tipis yang mengelilingi otak dan sumsum
tulang belakang, yang disebut meningen. Ada beberapa jenis meningitis. Yang paling
umum adalah meningitis virus, yang di dapatkan ketika virus memasuki tubuh melalui
hidung atau mulut dengan perjalanan ke otak, dan meningitis bakteri yang jarang
terjadi, tetapi dapat mematikan (Putri, 2011). Penyakit ini menyerang bagian saraf atau
otak yang berfungsi sebagai pusat pemikiran manusia.
Saluran nafas merupakan port d’entrée (jalan masuk) utama pada penularan
penyakit ini. Bakteri-bakteri ini disebarkan pada orang lain melalui pertukaran udara dari
pernafasan dan sekresi-sekresi tenggorokan yang masuk melalui jalur hematogen,
memperbanyak diri didalam darah masuk ke dalam cairan serebrospinal selanjutnya
memperbanyak diri didalamnya sehingga menimbulkan peradangan pada selaput otak
dan otak.
Meningen (selaput otak) adalah selaput yang membungkus otak dan sumsum
tulang belakang, melindungi struktur saraf halus yang membawa pembuluh darah dan
cairan sekresi (cairan serebrospinalis), memperkecil benturan atau getaran yang terdiri
dari tiga lapisan:
1. Dura mater (lapisan luar) adalah selaput keras pembungkus otak yang berasal
dari jaringan ikat tebal dan kuat. Durameter pada tempat tertentu mengandung
rongga yang mengalirkan darah vena dari otak.
2. Arakhnoid (lapisan tengah) merupakan selaput halus yang memisahkan dura
mater dengan pia mater membentuk sebuah kantong atau balon berisi cairan
otak yang meliputi seluruh susunan saraf sentral.
3. Pia mater (lapisan sebelah dalam) merupakan selaput tipis yang terdapat pada
permukaan jaringan otak. Ruangan diantara arakhnoid dan pia mater disebut
sub arakhnoid. Pada reaksi radang, ruangan ini berisi sel radang. Disini mengalir
cairan serebrospinalis dari otak ke sumsum tulang belakang.
2. Klasifikasi Meningitis
(Ariani, 2012)
Klasifikasi meningitis antara lain:
1. Meningitis asepsis, disebabkan: abses otak, ensefalitis, limpoma, leukemia
2. Meningitis sepsis, disebabkan organism bakteri: meningokokus, stapilokokus,
basilus influenza
3. Meningitis tuberkolose: disebabkan basilus tuberkolose
4.
Berdasarkan perubahan yang terjadi pada cairan otak, meningitis dibagi menjadi
dua golongan yaitu meningitis serosa dan meningitis purulenta. (Mesranti, 2011)
1. Meningitis serosa (tuberkulosa)
Yaitu radang selaput otak arakhnoid dan piamater yang disertai cairan otak
(serebospinal) yang jernih, juga ditandai dengan jumlah sel dan protein yang
meninggi. Penyebab terseringnya adalah Mycobacterium tuberculosa. Penyebab
lain seperti virus, Toxoplasma gondhii, Ricketsia.
2. Meningitis purulenta
Yaitu radang bernanah (eksudat = pus) arakhnoid dan piamater yang meliputi
otak dan medulla spinalis yang bersifat akut.Penyebab terseringnya adalah
Meningitis meningococcus.Penyebabnya antara lain : Diplococcus pneumonia
(pneumokok), Nesseria meningitidis, Streptococcus haemolyticus,
Staphylococcus aureus, Haemophilus influenza, Escherichia coli, Klebsiella
pneumonia, Pseudomonas aeruginosa.

3. Epidemiologi Meningitis
Menurut WHO (2010), bakteri penyebab meningitis menginfeksi lebih dari 400
juta orang, dengan tingkat kematian 25%. Terbanyak di Afrika dan Asia, khususnya di
negara-negara dengan tingkat kebersihan lingkungan yang belum memadai.
 Menurut Manusia :
Risiko terbesar adalah pada bayi antara umur 1 dan 12 bulan, 95% kasus terjadi
antara umur 1 bulan dan 5 tahun. Pada negara berkembang, penyakit meningitis
akibat infeksi Haemophilus influenza pada anak yang tidak divaksinasi paling lazim
terjadi pada bayi umur 2 bulan sampai 2 tahun, insiden puncak terjadi pada bayi usia
6-9 bulan, dan 50% kasus terjadi pada usia tahun pertama. Insidens rate kasus
Meningitis yang disebabkan Haemophylus influenza di AS pada umur < 5 tahun
berkisar 32-71/100.000 setiap tahun. Pada neonatus rata-rata 2-4 kasus/1000 bayi
lahir hidup, dan dua pertiganya disebabkan oleh Streptococcus beta haemoliticus
grup B dan E. coli. Di Uganda (2001-2002) Insidens rate meningitis Haemophylus
influenza tipe b pada usia <5 tahun sebesar 88 per 100.000. Penelitian yang dilakukan
di Malaysia (Nur, 2005) 60% kasus meningitis paling banyak terdapat pada kelompok
umur anak-anak yaitu umur 0-9 tahun dengan mortalitas 15%.
 Menurut Waktu
Waktu Kelembaban yang rendah dapat merubah barier mukosa nasofaring, sehingga
merupakan predisposisi untuk terjadinya infeksi. Wabah Meningitis di Afrika
terjadiselama musim panas dari bulan Desember hingga juni. Di daerah Sub-Saharan
Meningitis Belt (Upper volta, Dahomey, Ghana dan Mali Barat, hingga Nigeria, Chad,
dan Sudan Timur) epidemi meningitis dimulai pada musim panas/musim kering dan
mencapai puncaknya pada akhir April − awal Mei dan diakhiri dengan dimulainya
musim penghujan. Tahun 2008, Afghanistan melaporkan 2.154 kasus meningitis dan
140 kematian (CFR=6,5%) dimana sebagian besar kasus terjadi pada musim panas.
 Menurut Jenis Kelamin
Penelitian yang dilakukan oleh Erleena Nur di Malaysia tahun 2005, menemukan
bahwa meningitis lebih banyak terjadi pada laki-laki daripada perempuan. Penelitian
yang dilakukan di Korea (Lee, 2005) menunjukkan resiko laki-laki untuk menderita
meningitis dua kali lebih besar dibanding perempuan dengan rasio 2:1
 Menurut Lingkungan
Faktor lingkungan dengan kebersihan yang buruk dan terlalu padat. Dimana
timbulnya kontak antara penderita yang memilki penyakit saluran pernafasan
ataupun influenza. Pemaparan kuman dapat terjadi pada saat anak kontak dengan
teman sekolah ataupun kontak di tempat penitipan anak dan juga dipengaruhi oleh
imunitas kelompok yang rendah, misalnya tinggal di daerah kumuh ataupun sosial
ekonomi yang rendah. Resiko penularan meningitis bakteri N. meningitidis juga
meningkat pada lingkungan yang padat seperti asrama, kamp-kamp tentara, dan
jemaah haji.
 Menurut Etiologi
Pada Meningitis Serousa, penyebab terseringnya adalah Mycobacterium tuberculosa.
Penyebab lain seperti virus, Toxoplasma gondhii, Ricketsia.
Pada meningitis Purulen, penyebab terseringnya adalah Meningitis
meningococcus.Penyebabnya antara lain : Streptococcus haemolyticus,
Staphylococcus aureus.
Di Indonesia, sebanyak 28,5% penderita stroke meninggal dunia. Hanya 15% saja
yang dapat sembuh total dari serangan stroke atau kecacatan. Yayasan Stroke Indonesia
(Yastroki) menyebutkan bahwa 63,52 per 100.000 penduduk Indonesia berumur di atas
65 tahun ditaksir terjangkit stroke. Jumlah orang yang meninggal dunia diperkirakan
125.000 jiwa per tahun.
4. Etiologi dan Faktor Risiko Meningitis
Etiologi atau penyebab dari penyakit meningitis adalahberbagai hal, termasuk
bakteri (yang paling serius), virus, jamur, reaksi terhadap obat, dan lingkungan yang
tercemar racun seperti logam berat. (Perdana, 2011). Meningitis serosa penyebab
terseringnya adalah Mycobacterium tuberculosa. Penyebab lain seperti virus,
Toxoplasma gondhii, Ricketsia. Meningitis purulenta penyebab terseringnya adalah
Meningitis meningococcus. Penyebabnya antara lain : Diplococcus pneumonia
(pneumokok), Nesseria meningitidis (meningokok), Streptococcus haemolyticus,
Staphylococcus aureus, Haemophilus influenza, Escherichia coli, Klebsiella pneumonia,
Pseudomonas aeruginosa.
Faktor resiko terjadinya penyakit meningitis antara lain :
a. Lingkungan dengan kebersihan yang buruk dan terlalu padat. Dimana timbulnya
kontak antara penderita yang memilki penyakit saluran pernafasan ataupun
influenza. Pemaparan kuman dapat terjadi pada saat anak kontak dengan teman
sekolah ataupun kontak di tempat penitipan anak dan juga dipengaruhi oleh
imunitas kelompok yang rendah, misalnya tinggal di daerah kumuh ataupun
sosial ekonomi yang rendah.
b. Orang dewasa lebih tua dari 60 tahun
c. Anak-anak muda dari 5 tahun
d. Orang dengan alkoholisme
e. Orang dengan sickle cell anemia
f. Orang dengan kanker, terutama mereka yang menerima kemoterapi
g. Orang yang telah menerima transplantasi dan memakai obat yang menekan
sistem kekebalan tubuh.
h. Orang dengan diabetes.
i. Mereka baru-baru ini terkena meningitis di rumah.
j. Pengguna narkoba IV.
k. Orang dengan pirau di tempat untuk hidrosefalus.
5. Patofisiologi Meningitis
Biasanya, secara alami otak dilindungi oleh sistem kekebalan tubuh yaitu
penghalang meninges yang diciptakan antara aliran darah dan otak itu sendiri. Biasanya,
ini membantu mencegah tubuh dari bertambahnya reaksi kebal terhadap serangan itu
sendiri. Pada meningitis, bagaimanapun, ini bisa menjadi masalah.Setelah bakteri atau
organisme lainnya telah menemukan cara mereka ke otak, mereka agak terisolasi dari
sistem kekebalan tubuh dan dapat menyebar. Namun, ketika tubuh akhirnya mulai
untuk melawan infeksi, masalah ini dapat memburuk.Karena tubuh mencoba untuk
melawan infeksi, pembuluh darah menjadi bocor dan memungkinkan cairan, sel darah
putih, dan lainnya melawan infeksi partikel untuk memasukkan meninges dan otak. Hal
ini menyebabkan pembengkakan otak dan akhirnya dapat mengakibatkan penurunan
aliran darah ke bagian otak yang akan memperburuk gejala infeksi.
Meningitis pada umumnya sebagai akibat dari penyebaran penyakit di organ
atau jaringan tubuh yang lain. Virus / bakteri menyebar secara hematogen sampai ke
selaput otak, misalnya pada penyakit Faringitis, Tonsilitis, Pneumonia,
Bronchopneumonia dan Endokarditis. Penyebaran bakteri/virus dapat pula secara
perkontinuitatum dari peradangan organ atau jaringan yang ada di dekat selaput otak,
misalnya Abses otak, Otitis Media, Mastoiditis, Trombosis sinus kavernosus dan Sinusitis.
Penyebaran kuman bisa juga terjadi akibat trauma kepala dengan fraktur terbuka atau
komplikasi bedah otak. Invasi kuman-kuman ke dalam ruang subaraknoid menyebabkan
reaksi radang pada pia dan araknoid, CSS (Cairan Serebrospinal) dan sistem ventrikulus.
Mula-mula pembuluh darah meningeal yang kecil dan sedang mengalami hiperemi;
dalam waktu yang sangat singkat terjadi penyebaran sel-sel leukosit polimorfonuklear ke
dalam ruang subarakhnoid, kemudian terbentuk eksudat. Dalam beberapa hari terjadi
pembentukan limfosit dan histiosit dan dalam minggu kedua sel-sel plasma. Eksudat
yang terbentuk terdiri dari dua lapisan, bagian luar mengandung leukosit
polimorfonuklear dan fibrin sedangkan di lapisaan dalam terdapat makrofag. Proses
radang selain pada arteri juga terjadi pada vena-vena di korteks dan dapat
menyebabkan trombosis, infark otak, edema otak dan degenerasi neuron-neuron.
Trombosis serta organisasi eksudat perineural yang fibrino-purulen menyebabkan
kelainan kraniales. Pada Meningitis yang disebabkan oleh virus, cairan serebrospinal
tampak jernih dibandingkan Meningitis yang disebabkan oleh bakteri.
Hyperthermi
Hyperthermi

Resiko ketidak efektifan


jaringan serebral
Nyeri akut
6. Manifestasi Klinis Meningitis
 Gejala umum meningitis (Tureen, 2006) yaitu demam, sakit kepala, kaki kuduk
positif, dan perubahan tingkat kesadaran.Meningitis ditandai dengan adanya
gejala-gejala seperti panas mendadak, letargi, muntah dan kejang.
 Meningitis yang disebabkan oleh Mumpsvirus ditandai dengan gejala anoreksia
dan malaise, kemudian diikuti oleh pembesaran kelenjer parotid sebelum invasi
kuman ke susunan saraf pusat.
 Pada meningitis yang disebabkan oleh Echovirus ditandai dengan keluhan sakit
kepala, muntah, sakit tenggorok, nyeri otot, demam, dan disertai dengan
timbulnya ruam makopapular yang tidak gatal di daerah wajah, leher, dada,
badan, dan ekstremitas.
 Gejala yang tampak pada meningitis Coxsackie virus yaitu tampak lesi vasikuler
pada palatum, uvula, tonsil, dan lidah dan pada tahap lanjut timbul keluhan
berupa sakit kepala, muntah, demam, kaku leher, dan nyeri punggung.
 Meningitis bakteri biasanya didahului oleh gejala gangguan alat pernafasan dan
gastrointestinal.
 Meningitis Tuberkulosa stadium I atau stadium prodormal selama 2-3 minggu
dengan gejala ringan dan nampak seperti gejala infeksi biasa. Pada anak-anak,
permulaan penyakit bersifat subakut, sering tanpa demam, muntah-muntah,
nafsu makan berkurang, murung, berat badan turun, mudah tersinggung,
cengeng, opstipasi, pola tidur terganggu dan gangguan kesadaran berupa apatis.
Pada orang dewasa terdapat panas yang hilang timbul, nyeri kepala, konstipasi,
kurang nafsu makan, fotofobia, nyeri punggung, halusinasi, dan sangat gelisah.
 Meningitis Tuberkulosa Stadium II atau stadium transisi berlangsung selama 1 – 3
minggu dengan gejala penyakit lebih berat dimana penderita mengalami nyeri
kepala yang hebat dan kadang disertai kejang terutama pada bayi dan anak-anak.
Tanda-tanda rangsangan meningeal mulai nyata, seluruh tubuh dapat menjadi
kaku, terdapat tanda-tanda peningkatan intrakranial, ubun-ubun menonjol dan
muntah lebih hebat.
 Meningitis Tuberkulosa Stadium III atau stadium terminal ditandai dengan
kelumpuhan dan gangguan kesadaran sampai koma. Pada stadium ini penderita
dapat meninggal dunia dalam waktu tiga minggu bila tidak mendapat pengobatan
sebagaimana mestinya.
 Donna L. Wong dalam Pedoman Keperawatan Pediatrik, ed. 4, 2003 menyatakan
manifestasi dri meningitis berdasarkan golongan usia sebagai berikut :
a. Anak, Remaja, dan Dewasa
Awitan tiba-tiba, demam, menggigil, sakit kepala, muntah, perubahan pada
sensorium, kejang sebagai tanda awal, peka rangsang, agitasi, nakal (hingga
opistonus), Kernig, Brudzinski positif, hiperaktif, dapat terjadi : fotofobia,
delirium, halusinasi, perilaku agresif, sering mengantuk, stupor, dan
koma.gangguan saluran pernafasan bagian atas, penyakit juga bersifat akut
dengan gejala panas tinggi, nyeri kepala hebat, malaise, nyeri otot dan nyeri
punggung. Cairan serebrospinal tampak kabur, keruh atau purulen.
b. Bayi dan Balita (3 bulan – 2 tahun)
Muntah, peka rangsangan yang nyata, sering kejang disertai menangis,
fontanel menonjol, kaku kuduk dapat terjadi atau tidak, kernig dan budzinski
tidak membantu diagnosa, empihema subdural (infeksi Haemophilus
influenza).
c. Neonatus
Manifestasi tidak terlalu jelas terlhat, namun terlihat menyedihkan dan
buruk, menolak untuk makan, kemampuan menghisap buruk, kurang
gerakan, diare, leher lemas, fontanel penuh tegang dan menonjol, tonus
buruk. Hipotermia, demam, ikterik, peka
rangsang, mengantuk, kejang,
ketidakteraturan napas (apnea), sianosis,
dan penurunan berat badan.terjadi secara
akut dengan gejala panas tinggi, mual,
muntah, gangguan pernafasan, nafsu
makan berkurang, dehidrasi dan
konstipasi, biasanya selalu ditandai
dengan fontanella yang mencembung.

http://www.celebrities-with-
diseases.com/wp-
content/uploads/2010/04/Meningitis.png
7. Pemeriksaan Diagnostik Meningitis
a. Pemeriksaan Rangsangan Meningeal
- Pemeriksaan Kaku Kuduk
Pasien berbaring terlentang dan dilakukan pergerakan pasif berupa fleksi dan rotasi
kepala. Tanda kaku kuduk positif (+) bila didapatkan kekakuan dan tahanan pada
pergerakan fleksi kepala disertai rasa nyeri dan spasme otot. Dagu tidak dapat
disentuhkan ke dada dan juga didapatkan tahanan pada hiperekstensi dan rotasi
kepala.

- Pemeriksaan Tanda Kernig


Pasien berbaring terlentang, tangan diangkat dan dilakukan fleksi pada sendi panggul
kemudian ekstensi tungkai bawah pada sendi lutut sejauh mengkin tanpa rasa nyeri.
Tanda Kernig positif (+) bila ekstensi sendi lutut tidak mencapai sudut 135°
(kaki tidak dapat di ekstensikan sempurna) disertai spasme otot paha biasanya diikuti
rasa nyeri.

- Pemeriksaan Tanda Brudzinski I ( Brudzinski Leher)


Pasien berbaring terlentang dan pemeriksa meletakkan tangan kirinya dibawah
kepala dan tangan kanan diatas dada pasien kemudian dilakukan fleksi kepala dengan
cepat kearah dada sejauh mungkin. Tanda Brudzinski I positif (+) bila pada
pemeriksaan terjadi fleksi involunter pada leher.

- Pemeriksaan Tanda Brudzinski II ( Brudzinski Kontra Lateral Tungkai)


Pasien berbaring terlentang dan dilakukan fleksi pasif paha pada sendi panggul
(seperti pada pemeriksaan Kernig). Tanda Brudzinski II positif (+) bila pada
pemeriksaan terjadi fleksi involunter pada sendi panggul dan lutut kontralateral.

b. Pemeriksaan Penunjang Meningitis


a) Pemeriksaan Pungsi Lumbal
Lumbal pungsi biasanya dilakukan untuk menganalisa jumlah sel dan protein cairan
cerebrospinal, dengan syarat tidak ditemukan adanya peningkatan tekanan
intrakranial.
- Pada Meningitis Serosa terdapat tekanan yang bervariasi, cairan jernih, sel
darahputih meningkat, glukosa dan protein normal, kultur (-).
- Pada Meningitis Purulenta terdapat tekanan meningkat, cairan keruh, jumlah sel
darah putih dan protein meningkat, glukosa menurun, kultur (+) beberapa jenis
bakteri.

b) Pemeriksaan darah
Dilakukan pemeriksaan kadar hemoglobin, jumlah leukosit, Laju Endap Darah (LED),
kadar glukosa, kadar ureum, elektrolit dan kultur.
- Pada Meningitis Serosa didapatkan peningkatan leukosit saja. Disamping itu, pada
Meningitis Tuberkulosa didapatkan juga peningkatan LED.
- Pada Meningitis Purulenta didapatkan peningkatan leukosit.
c) Pemeriksaan Radiologis
- Pada Meningitis Serosa dilakukan foto dada, foto kepala, bila mungkin dilakukan
CT Scan.
- Pada Meningitis Purulenta dilakukan foto kepala (periksa mastoid, sinus
paranasal, gigi geligi) dan foto dada.

8. Penatalaksanaan Meningitis
A. Pengobatan sesuai jenis meningitis
Pengobatan dengan memberikan antibiotik yang sesuai dengan jenis penyebab
meningitis yaitu :
- Meningitis Purulenta
Haemophilus influenzae b : ampisilin, kloramfenikol, setofaksim, seftriakson.
Streptococcus pneumonia : kloramfenikol , sefuroksim, penisilin, seftriakson.
Neisseria meningitidies : penisilin, kloramfenikol, serufoksim dan seftriakson.
- Meningitis Tuberkulosa (Meningitis Serosa)
Kombinasi INH, rifampisin, dan pyrazinamide dan pada kasus yang berat dapat
ditambahkan etambutol atau streptomisin. Kortikosteroid berupa prednison digunakan
sebagai anti inflamasi yang dapat menurunkan tekanan intrakranial dan mengobati
edema otak.
B. Self-Care at Home
Diagnosis dan pengobatan meningitis sangat penting. Karena itu, jika Anda
menduga bahwa Anda atau seseorang yang Anda kenal meningitis berdasarkan gejala,
mencari perhatian medis segera sangat penting. Jika Anda tidak dapat mengantarkan
orang tersebut ke rumah sakit, disarankan untuk memanggil ambulans.
 Perawatan darurat: Walaupun mengambil seseorang untuk gawat darurat
rumah sakit atau menunggu ambulans, pengobatan dasar melibatkan prosedur
ini:
- Berikan acetaminophen ( Tylenol ) untuk demam.
- Jaga orang di daerah gelap tenang.
- Jika orang itu muntah, awam di satu sisi untuk mencegah dia atau dia
dari menghirup muntah .
 Rumah perawatan: Rumah perawatan hanya disarankan jika orang tersebut
telah meningitis virus ringan, yang hanya dapat ditentukan oleh tekan tulang
belakang. Jika dokter menentukan bahwa orang tersebut menderita meningitis
virus ringan, obat-obatan mungkin diperlukan untuk mengendalikan sakit kepala
dan demam. Hal ini sering dicapai dengan acetaminophen (Tylenol) atau obat
nyeri yang lebih kuat. Antibiotik tidak membantu untuk meningitis virus.
o Jika seseorang dikirim pulang dari dokter dengan meningitis viral, adalah
penting untuk orang tersebut untuk dilihat oleh dokter di hari-hari
berikutnya sekitar 1-2 untuk pemeriksaan .
o Ketika seseorang dengan meningitis viral dirawat di rumah, melihat tanda-
tanda kondisi memburuk sangat penting. Jika ini terjadi, carilah segera
perawatan dari seorang dokter :
- Muntah tak terkendali
- Memburuknya sakit kepala atau demam
- Kejang
- Kelemahan atau mati rasa dari setiap ekstremitas
- Kesulitan berbicara, menelan, atau berjalan
- Kebingungan atau kantuk yang berlebihan

C. Perawatan Medis
Rawat Inap untuk meningitis tergantung pada penyebabnya. Jika Anda
tampaknya memiliki meningitis virus, pengobatan biasanya kurang agresif dan terdiri
dari langkah-langkah untuk membuat Anda lebih nyaman. Viral meningitis sering
dirawat di rumah dengan acetaminophen (Tylenol) dan obat nyeri lainnya. Antibiotik
tidak membantu dalam mengobati meningitis virus. Jika Anda memiliki meningitis
bakteri, Anda sering dimasukkan ke unit perawatan intensif, baik untuk pengamatan
jangka pendek atau suatu periode lebih lama jika Anda lebih sakit. Perawatan meningitis
bakteri dimulai dengan memastikan bahwa pernapasan dan tekanan darah Anda yang
memadai.
- Infus dimasukkan dan cairan diberikan.
- Anda ditempatkan pada sebuah monitor jantung.
- Antibiotik intravena dapat diberikan.
Steroid dapat diberikan untuk mencoba mengurangi keparahan penyakit.
- Jika Anda sangat sakit, perawatan medis lebih agresif dapat diberikan.
- Sebuah tabung pernapasan ( intubasi ) dapat dimasukkan untuk membantu
pernapasan.
- IV garis besar dapat dimasukkan di selangkangan, dada, atau leher. Obat-obatan
dapat diberikan untuk meningkatkan tekanan darah dan untuk menghentikan
kejang.
- Sebuah tabung (kateter) dapat ditempatkan di dalam kandung kemih untuk
memeriksa hidrasi Anda (atau status cairan).
- Seorang anak yang meningitis hasviral dan meningkatkan dapat dikirim pulang
untuk terapi mendukung. terapi pendukung termasuk mendorong cairan untuk
mencegah dehidrasi andgiving acetaminophen (Tylenol) atau ibuprofen (Motrin)
untuk nyeri dan demam. Jika anak tersebut dikirim pulang, dokter harus
memeriksa anak itu dalam 24 jam untuk memastikan kondisinya sudah
membaik.
Jika diagnosis tidak pasti, atau jika Anda baru saja pada antibiotik, Anda mungkin
dirawat di rumah sakit untuk observasi dan pengobatan sampai diagnosis tertentu. Ini
mungkin memerlukan lain tekan tulang belakang 12-24 jam untuk reevaluasi.
9. Asuhan Keperawatan Meningitis
Pengkajian
A. Identitas Klien
Nama : An. X
Umur : 7 tahun
Jenis kelamin : Laki-laki
Status perkawinan : -
Pekerjaan :-
B. Status Kesehatan Saat Ini
- Keluhan utama :Panas tinggi dan mengeluh sakit kepala, kejang
1x dirumah
- Lama keluhan : 4 hari lalu
- Upaya yang telah dilakukan : -
- Faktor pencetus :-
- Faktor pemberat :-
- Upaya yang telah dilakukan: Klien mendapatkan Fenitoin 5 mg/kg/24 jam, 3
kali sehari, asam salisilat 10 mg/kg/dosis, kloramfenikol 50mg/kgBB/24jam/IV
4x sehari.
- Diagnosa medis : Meningitis

C. Riwayat Kesehatan
 Masa Sekarang
- panas tinggi sejak 4 hari yang lalu dan mengeluh sakit kepala, kejang
sebanyak 1 kali di rumah. Keluarga mengatakan leher anaknya terasa
kaku.
- Tampak letargi
 Masa Lalu
Riwayat anaknya pernah mengalami otitis media 1 bulan yang lalu,
riwayat anoreksia..
 Keluarga : -
D. Pemeriksaan Fisik
- Keadaan umum:
Klien mengalami hipertermi dan mengeluh sakit kepala. Klien tampak
letargi setelah dilakukan perawatan
- tanda-tanda vital:
Suhu: 39,5oC, nadi: 120x/menit, RR: 22x/menit
- Leher dan kepala: brudzinski (+), kernig (+)
- Kulit : mukosa kulit kering, turgor kembali 3 detik
- Pemeriksaan GCS: 345
- badan teraba hangat.
E. Pemeriksaan Laboratorium
Hasil pemeriksaan lab: leukosit 15.000, LED 20mm/jam, pemeriksaan
Analisis LCS dari Pungsi Lumbal: Sifat : keruh, Tekanan : 300 mmhg, Protein :
75 mg/dl, Leukosit total : 10/ml, Glukosa : 100 mg/dl, CT scan terdapat
penumpukan cairan pada selaput meningen.
F. Terapi yang telah digunakan
Fenitoin 5 mg/kg/24 jam, 3 kali sehari, asam salisilat 10 mg/kg/dosis,
kloramfenikol 50mg/kgBB/24jam/IV 4x sehari.

Analisa Data
Data Etiologi Masalah Keperawatan
D.S : Klien mengeluh sakit Mikroorganisme masuk ke Resiko
kepala dan kejang dalam aliran darah Ketidakefektifan
dirumah 1x ,leher anaknya (Nasofaringeal invasion) perfusi serebral
terasa kaku, pernah ↓
mengalami otitis media 1 Reaksi radang di meningen
bulan yang lalu bawah korteks(local invasion)

D.O : nadi 120x/menit, Bacteremia
pernapasan 22x/menit, ↓
Suhu 39,5 C, brudzinski Endothel cel injury
(+), kernig (+), klien ↓
tampak letargi, GCS 345, Meningitis
pemeriksaan Analisis LCS ↓
dari Pungsi Lumbal: Sifat : Thrombus , aliram darah
keruh, CT scan terdapat cerebral
penumpukan cairan pada ↓
selaput meningen. Eksudet purulent menyebar
Leukosit 15.000 ke dasar otak dan medulla

Permebialitas vascular pada
serebral

Edema serebral

Volume tekanan darah

TIK meningkat

Vasepasme pembuluh darah
cerebri

Sirkulasi darah tidak efektif

Resiko Ketidakefektifan
perfusi serebral
DS: klien mengeluh sakit Mikroorganisme masuk ke Gangguan mobilitas
kepala dalam aliran darah fisik
(Nasofaringeal invasion)
DO: nadi 120x/menit, ↓
pernapasan 22x/menit. Reaksi radang di meningen
CT scan terdapat bawah korteks(local invasion)
penumpukan cairan pada ↓
selaput meningen Bacteremia

Endothel cel injury

Meningitis

Thrombus , aliram darah
cerebral

Eksudet purulent menyebar
ke dasar otak dan medulla

Kerusakan neurologis

Kernig sign dan burdinzki (+)

Gangguan mobilitas fisik
DS: Mikroorganisme masuk ke Resiko infeksi
Panas tinggi sejak 4 hari dalam aliran darah
lalu. Kejang 1x di rumah (Nasofaringeal invasion)
DO: ↓
Suhu 39,5oC, brudzinski Reaksi radang di meningen
(+), kernig (+),GCS 345, bawah korteks(local invasion)

Bacteremia

Endothel cel injury

Meningitis

Thrombus , aliram darah
cerebral

Eksudet purulent menyebar
ke dasar otak dan medulla

Kerusakan neurologis

Aktivitas mikroorganisme

Mengikuti cairan darah
sistemik

Leukosit 15.000

Resiko Infeksi
Defisit Volume Cairan

Data Prioritas Diagnosa Keperawatan


1. Resiko ketidakefektifan perfusi jaringan otak b.d
2. Nyeri akut b.d
3. Hipertermi b.d
4. Defisit volume cairan b.d
Rencanak Keperawatan
1. Diagnosa Keperawatan: Resiko ketidak efektifan perfusi jaringan otak b.d
a. Tujuan : stelah dilakukan tindakan keperawatan selama 3x24 jam, status perfusi
jaringan otak klien tidak beresiko.
b. Kriteria hasil: pada evaluasi akhir, klien menunjukkan peningkatan sesuai dengan
indicator
NOC: Tissue Perfussion: Cerebral
No. Indikator 1 2 3 4 5
1 Headache
2 Listlessness
3 Fever
4 Decresed level of
consiusnes
5 Impaired neurological
reflex
NIC: Neurologic Monitoring
1. Monitor level of conscious level
2. monitor trend of GCS
3. Monitor Vital sign
4. Note complaint headache
5. monitor babinski refles
6. Avoid activites that increase intracranial pressure
7. monitor for medication wich collaboration with doctor

2. Diagnosa Keperawatan: Nyeri akut b.d


a. Tujuan : Setelah dilakukan tindakan keperawatan Selma 2x 24 jam, nyeri klien
berkurang
b. Kriteria hasil : -nyeri berkurang
-RR dan pulse normal
NOC: Pain Control
No Indikator 1 2 3 4 5
1. Repoted pain
2. Lengt of pain episodes
3. Loss of appetie
4 Respiratory rate
5. Radial pulse rate
NIC:
1. Observe for nonverbal cues of discomfort
2. Assure patient attentive analgetic care
3. Explore with the patients the factors that improve pain
4. Encourage with parent’s patien and olther helath professional to select and
implement non or and farmakological care
3. Diagnosa keperawatan: Hypertermia b.d
a. Tujuan : setelah dilakukan tindakan keperawatan selama 2x24 jam, suhu badan
klien dapat normal kembali
b. Kriteria hasil: pada evaluasi akhire, klien menunjukkan peningkatan berdasarkan
indicator.
NOC:
No. Indikator 1 2 3 4 5
1. Headache
2. Dry skin and mucosa
membranes
3 Confusion
4. Anorexia
NIC: Temperatur regulation
1. Monitor temperature setidaknya 2 jam sekali
2. Monitor newreborn’s temperature until stabilized
3. Monitor TTV
4. Monitor skin color and temperature
5. Monitor for and report signs and symptoms od hyperthermia or hypothermia
6. Adjust envirounmental temperature to patient needs
7. Administer antipyretic, collaboration with doctor
4. Diagnosa keperawatan: Defisit volume cairan b.d
a. Tujuan : setelah dilakukan tindakan keperawatan selama 2x24 jam, volume
cairan patien seimbang
b. kriteria hasil: pada evaluasi akhir, klien menunjukkan peningkatan berdasarkan pada
indicator.
NOC: Fluid balance
No Indikator 1 2 3 4 5
1. Radial pulse rate
2. Peripheral pulse
3. Skin turgos
4. Mucosa membranes
NIC: Fluid Management
1. Determine if patient is experiencing symptoms of fluid change (suh as: dizziness,
nausea etc)
2. Examine CRT by holding patient’s hand as the same level as te heart
3. Examine skin turgor by grapping tissue over a bony area such in hand and shin
4. Monitor input and output
5. Collaboration with other helat professional for urine output
DAFTAR PUSTAKA

Corwin, Elizabeth J. 2009. Buku Saku Patofisiologi. Jakarta: EGC.


Dewanto, dkk. 2009. Panduan Praktis Diagnosis & Tata Laksana Penyakit Saraf. Jakarta:
EGC.
Mesranti. 2011 : Meningitis. Dalam artikel Universitas Sumatera Utara
Muttaqin, Arif. 2008. Buku Ajar Asuhan Keperawatan Klien dengan Gangguan Sistem
Persarafan. Jakarta: Salemba Medika.
Novariani, Muriana, Elisabeth Siti Herini, Suryono Yudha Patria. 2008. Faktor Risiko
Sekuele Meningitis Bakterial pada Anak. Bagian/SMF Ilmu Kesehatan Anak FK-
UGM/RSUP Dr. Sardjito : Yogyakarta
Perdana, Muhammad Ubayyu Surya. 2011. Meningitis. Dalam artikel Fakultas
Kedokteran Universitas Cendrawasih : Jayapura
Price, Sylvia A. 2006 . Patofisiologi : Konsep Klinis Proses-proses Penyakit, E/6, Vol. 1.
Jakarta : Penerbit Buku Kedokteran EGC
Syarifatul, Anisah. 2013. Meningitis pada Anak. Dalam artikel Tingkat IIA Politeknik
Kesehatan : Malang
Subhan, 2002.LaporanKasusAsuhanKeperawatanKlienDenganMeningitisDi RuangSyaraf
A RSUD Dr. SoetomoPeriodeTanggal 3 Juni 2002 S/D 7 Juni.
FakultasKedokteranUniversitasAirlangga: Surabaya