Anda di halaman 1dari 42

MAKALAH KELAS REPTILE

UNTUK MEMENUHI TUGAS MATA KULIAH


Keanekaragaman Hewan
Yang dibina oleh Sofia Ery Rahayu S.Pd, M. Si

oleh
Aulia Abdidni (160342606276)
Arik Anggara (160342606290)
Dinda Tri Yunisa (160342606299)
Fita Nur Jannah (160342606225)
Gufron Alifi (160342606296)
Rizky Rahma (160342606279)

UNIVERSITAS NEGERI MALANG


FAKULTAS MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM
SEPTEMBER 2017
1. Pendahuluan
1.1 Latar Belakang
Kata Reptilia berasal dari kata reptum yang berarti melata. Reptilia merupakan
kelompok hewan darat pertama yang sepanjang hidupnya bernafas dengan paru-paru. Ciri
umum kelas ini yang membedakan dengan Kelas yang lain adalah seluruh tubuhnya tertutup
oleh kulit kering atau sisik. Kulit ini menutupi seluruh permukaan tubuhnya dan pada beberapa
anggota ordo atau sub-ordo tertentu dapat mengelupas atau melakukan pergantian kulit baik
secara total maupun sebagain. Pengelupasan secara total misalnya pada anggota sub-ordo
ophidia dan pengelupasan sebagian pada anggota sub-ordo lacertilia. Sedangkan pada ordo
chelonia dan crocodilia sisiknya hampir tidak pernah mengalami pergantian atau pengelupasan.
Kulit pada Reptil memiliki sedikit sekali kelenjar kulit.

Reptilia termasuk dalam vertebrata yang pada umumnya tetrapoda, akan tetapi pada
beberapa diantaranya tungkainya mengalami reduksi atau hilang sama sekali seperti pada
serpentes dan sebagian lacertilia. Reptilia yang tidak mengalami reduksi tungkai umumnya
memiliki 5 jari atau Pentadactylus dan setiap jarinya bercakar. Rangkanya pada Reptilia
mengalami osifikasi sempurna dan bernafas dengan paru-paru.

Sebagian besar ahli taksonomi membagi Kelas Reptil menjadi enam subkelas. Menurut
Sukiya (2003) kelas Reptil dibedakan menjadi enam subkelas yaitu: (1) Anapsida , (2)
Synaptosauria, (3) Ichthyopterygia, (4) Lepidosauria, (5) Archosauria, dan (6) Synapsida.
Kelas Reptil memegang peranan yang sangat penting dalam kehidupan. Beberapa
spesies dari kelas ini menjadi sumber indikator kebersihan lingkungan bagi manusia serta
menjaga keseimbangan ekosistem. Selain itu, Reptil juga dapat menjadi hama bagi manusia.

1.2 Rumusan Masalah


a. Bagaimana ciri umum dari kelas reptil?
b. Bagaimana morfologi dan anatomi dari kelas reptil?
c. Bagaimana klasifikasi dari kelas reptil?
d. Bagaimana manfaat kelas reptile dalam kehidupan sehari-hari?

1.3 Tujuan
a. Mengetahui ciri umum dari kelas reptile.
b. Mengaetahui morfologi dan anatomi dari kelas reptile.
c. Mengetahui klasifikasi dari kelas reptile.
d. Mengetahui manfaat kelas reptile dalam kehidupan sehari-hari.

2. Bahasan
2.1 Ciri Umum dari Kelas Reptile
Anggota kelas reptilia yang masih hidup diperkirakan mendekati 6.000 spesies.
Reptilia, adalah kelompok besar keturunan Vertebrata yang mendominasi pada era Mesozoik.
Keberhasilan reptile ini didukung oleh cara melindungi embrionya. Amfifbi yang menjadi
moyang reptile adalah seperti amfibi modern, tergantung pada air atau paling tidak berupa
lingkungan basah. Gunanya untuk mencegah telur supaya tidak kekeringan, setelah telur
tersebut dikeluarkan dari tubuh induk reptile. Reptil membangun perlindungan tersebut secara
bertahap, yaitu dengan cangkang yang melindungi embrio dari luka dan kekeringa. Setelah
perkembangan embrionik berhasil, reptile berkembang hidupnya ke dalam berbagai habitat
baik di air maupun didarat. Pertanyaan yang muncul, kenapa reptile mengalami kemunduran
diakhir era Mesozoik? Beberapa pendapat berspekulasi, antara lain bahwa perubahan iklim
pada masa itu, langsung maupun tidak langsung tidak menguntungkan bagi kehidupan reptile.
Pendapat lain menduga bahwa reptile kalah bersaing dangan mamal, sebab setiap kemunduran
reptile selalu dikaitkan dengan pertambahan mamalia.
Anggota reptile hanya ditemukan pada bagian bumi yang hangat, karena hewan ini
tidak tidak memiliki mekanisme pengaturan panas tubuh (termoregulasi). Sebagai makhluk
ektoterm, maka reptile lebih banyak tergantung pada lingukungan eksternal untuk panas
tubuh, jadi reptile tidak berkembang pada lingkungan yang temperaturnya rendah. Selama
beraktivitas, reptile mampu mengatur temperature tubuhnya menggunakan radiasi sianr
matahari dan radiasi panas dari tanah dengan cara mengendalikan periode penempatan dirinya
pada beberapa sumber panas, sehingga temperature tubuh dapat di jaga secara konstan. Jika
rata-rata temperature udara tinggi , maka reptile hanya sedikit tergantung terhadap radiasi.
Batholomew (1966) menemukan bahwa iguana laut Galapagos (Amblyrhinchus cistatus)
adalah spesies unik pencari makan di laut , mampu mengatur temperature tubuhnya anatara
35%-37%. Temperatur ini 10C lebih tinggi daripada lingkungan air dimana mereka mencari
makan. Oleh karena hal tersebut, maka iguana malas untuk masuk ke air kecuali untuk mencari
makan. Sebagian besar harinya digunakan untuk berjemur dibebatuan pantai yang terkena
radiasi matahari langsung. Kelebihan panas dicegah dengan meminimkan permukaan tubuh
yang terkena langsung radiasi matahari dan juga mengambil keuntungan dari angin pantai
yang relative dingin.
Iguana gurun ( Dipsosaurus dorsalis) dibarat Amerika utara yang ditemukan oleh
DeWitt (1967) temperature tubuhnya dapat mencapai 42C dengan rata-rata 38,5 C.
Temperatur tubuh ini diatur dengan carav bergerak keluar masuk lubang persembunyiannya.
Jika rata-rata panas tubuh lebih tinggi, Iguana memperpanjang aktivitas di lubang
perlindungan agar temperature tubuh mencapai tingkat optimum. Reptil padang pasir lain,
seperti chuckwalla ( Sauromlaus obesus) bergantung pada penguapan tubuh untuk
pendinginan sebagai mekanisme termoregulator . Pada saat termperatur lingkungan sangat
panas dengan membuka mulut dan terengah-engah, sehingga kehilangan air lewat paru-paru
menjadi lebih besar .Kisaran temperature tubuh ekstrim untuk reptile adalah 11C - 46,5C.
Meskipun kekerabatan reptile lebih dekat dengan burung , keragaman struktur reptile lebih
besar daripada aves. Reptil telah kehilangan spesialisainya untuk hidup di perairan,
diantaranya insang, pasangan organ lateral dan kelenjar mukosa eksternal.

2.2 Morfologi dan Anatomi dari Kelas Reptil


A. Sistem Rangka
Tengkorak reptile terjadi penulangan lebih banyak daripada amfibi dan terdapat banyak
variasi di daerah temporal. Tengkorak reptile yang memiliki lubang spesifik di daerah temporal
disebut tipe tengkorak anapsid. Tipe demikian ditemukan pada kura-kura. Tipe tengkorak
euryapsid ditemukan pada Plesiosaurus dan kerabatnya, mempunyai sebuah penyambung
supratmeporal yang berkembang di kedua sisi tengkorak. Reptile di era Permian sampai
Jurassic mempunyai tengkorak seperti mammal, ada sepesang lubang infratemporal disebut
tipe sinapsid. Reptile yang hidup pada era Mesozoic mempunyai tipe tengkorak diapsid, yang
ditndai dengan lubang supra dan infratemporal. Ciri terakhir ini juga menjadi ciri reptile
sesudah era Chelonia (Testudinata).

Atap ruang otak reptile adalah melengkung agak datar, seperti pada kelas Amphibi.
Sebuah foramen parietal kea rah pineal, tau mata ketiga, ditemukan pada Tuatara (Sphennodon)
dan beberapa jenis kadal, tetapi tidak ditemukan pada kebanyakan reptile.
Gambar 1. Tengkorak Reptil (sumber : Kardong, 1998)

Selain ular, semua reptile mempunyai tulang septum orbitalis.perkembangan awal dari
palatum sekunder, dari nares interal ke bagian belakang rongga mulut melintas di sepanjang
nasal tersebut, ditemukan pada kura-kura dan sebangsanya. Palatum sekunder berkembang
baikpada buaya. Ada sebuah kondilus oksipial. Tulang quadrat pada kura-kura, buaya maupun
tuatara, menyatu dengan baik. Rahang atas dan bawah pada ular dan kadal dapat bergerak
dengan baik, karena ada engsel yang dilengkapi dengan ligamentum. Ligamentum adalah
jaringan ikat yang berfungsi untuk menghubungkan tulang satu dengan tulang lainnya.
Ligamentum ini merupakan penyambung kedua rahang (rahang atas dan rahang bawah),
sedangkan rahang bawah kanan daan rahang bawah kiri juga dihubungkan oleh ligamnetum
elastis oleh karena itu rahang luar mampu bergerak kuadratik dan memungkinkan menelan
mangsa dan relative lebih besar dari ukuran kepalanya. Kemampuan ular untuk menelan lebih
besar ini juga dibantu oleh karena tidak adanya sternum. Gigi pada kura-kura tidak ada tetaapi
digantikan oleh lembaran bertanduk. Gigi reptile terdapat pada bagian premaksila dan maksila.
Gigi tersusun atas bagian palatin, vomer dan pterigoid.

Kolumna vertebralis reptile, kecuali pada ular dan kadal, berebda bagian serviks,
thorak, lumbal, sacrum, dan kauda. Kondilus oksipital dihubungkan dengan vertebra serviks
pertama (atlas). Tulang leher kedua (aksis) menahan bagian anteriornya yang dikenal sebegai
prosesus odontoid yang diyakini sebagai pusat dari atlas tersebut. Vertebra thorakis
mendukung tulang iga dan bertemu sternum pada bagian ventral (terkecuali pada reptile tak
bertungkai dan kura-kura). Antara vertebra thorak dan kedua vertebra sakrum adalah bagian
vertebra lumbal yang sangat fleksibel geraknya. Jumlah vertebra bagian ekor pada reptil sangat
bervariasi. Ruas tulang belakang kura-kura, selain serviks dan kauda menyatu pada lempengan
karapaks. Sebagian besar reptile mempunyai centrum tulang belakang yang disebut procoelus
(pro = depan, coleus = cekung) dengan tipe ujung anterironya cekung. Bentuk sambungan ini
sanagt bervariasi tergantung dari tipe gerakan reptile yang bersangkutan, sehingga dapat
ditemukan berbagai bentuk permukaan centrum vertebra, antara lain procoelus, opsithoceolus,
heterocoelous, amphycoeolus maupun acoelous.

(Sumber : Kastawi, Yusuf dkk. 2005)

Ular dan reptil yang tidakbertunhkai tidak ada alat gerak, beberapa reptile lain terdapat
sisa-sisa tungkai yang tersembunyi tampak taji. Tungkai kura-kura laut mengalami modifikasi
menjadi sirip untuk berenang, tetapi kura-kura darat mempunyai tungkai untuk menyangga
berat tubuhnya.

Kadal, umumnya memiliki 5 jari pada masing-masing kaki dan beberapa spesies
mempunyai kemampuan untuk berlari sangat cepat, tetapi ada kadal yang tidak bertungkai
sehingga seperti ular. Jari kaki pada beberapa reptile sejenis buaya mungkin terpisah atau
menjadi satu oleh anyaman selaput sebagai adaptasi untuk kehidupan air.

B. Sistem otot

Otot aksial (otot badan) reptile mulai menunjukkan beberapa spesialisasi seperti yang
ditemukan pada mamal. Otot reptil terutama untuk gerakan lateral tubuh dan menggerakkan
ruas-ruas tulang belakang. Hal ini bisa diamati terutama pada bangsa ular sebab jaringan otot
lengan telah menghilang. Otot rangka paada kura-kura dan kerabatnya sangat berkurang
kecuali pada daerah leher akibat adanya karapaks dan plastron. Dermal atau otot kulit
berkembang baik pada reptil, dan perkembangan yang sangat baik terjadi pada ular. Jaringan
otot tungkai pada reptil menunjukkan variaasi bergantung pada tipe gerakannya.

(Sumber : Kastawi, Yusuf dkk. 2005)

C. Sistem sirkulasi

Sistem sirkulasi pada reptile lebih sempurna daripada amfibi oleh sebab adanya paru-
paru fungsionaldan ginjal mesonefros. Atrium jantung terbagi sempurna menjadi ruangan
kanan dan kiri, sinus venosus menyatu dengan dinding dari atrium kanan, ventrikel terpisah
oleh septum (sekat). Ventrikel pada alligator dan buaya terbagi menjadi dua kamar secara
sempurna.

(Sumber : slideplayer.com/slide/9481963)

D. Sistem Pencernaan
Sistem pencernaan pada reptil disesuaikan dengan kebiasaan makan. Reptile umumnya
herbivore, hanya sedikit yang karnivora. Reptile karnivora kecil makanan pokoknya serangga
dan avertebrata lain, sedangkan karnivora yang lebih besar mangsa pokoknya adalah vertebrata
lain mulai dari ikan samapai mamal

Reptile darat umumnya mempunyai kelenjar pencernaan pada mulut yang


berkembaang lebih baik. Hal ini dihubungkan dengan keperluan untuk pelumasan makanan
yang kering agar mengurangi gesekan saat ditelan. Kelenjar-kelenjar ini antara lain di daerah
fasial, lingual, dan sublingual. Kelenjar racun pada reptil berasal dari beberapa kelenjar mulut
tersebut. Kelenjar racun pada kadal beeracun merupakan modifikasi dari kelenjar sublingual.

Gambar 5. Sisem pencernaan makanan reptile dari sisi ventral. Kiri adalah gambar saluran
pencernaan kadal, kanan adalah saluran pencernaan alligator (sumber : Kardong, 1998).

Lidah kadal dan ular berkembang baik. Lidah dapat dijulurkan untuk menangkap
mangsa, ujungnya dipertebal dan lengket sehingga mangsa dapat menempel. Ujung lidah ular
bercabang dan dapat dijulurkan, berfungsi sebagai alat untuk menyalirkan rangsangan kimia
dari lingkungan luar. Lidah kura-kura dan buaya tidak dapat dijulurkan. Esofagus mudah
dibedakan dengan ventrikulus. Ventrikulus buaya serupa dengan burung dan sebagian darinya
membentuk bangunan seperti empedal yang dilapisi otot yan kuat. Usus halus umumnya
bergelung-gelung untuk memperbesar permukaan penyerapan. Caecum terletak pada titik
persimpangan antara usus halus dan usus besar, tetapi tidak semua reptile memiliki.

E. Sistem Pernafasan

Paru-paru pada reptile lebih berkembang daripada amfibi, tetapi masih lebih sederhana
bila disbanding dengan vertebrata yang lebih tinggi.
Gambar 6. Paru-paru kadal dilingkupi oleh tulang iga (gambar atas) dan paru-paru dipotong
longitudinal sehingga deretan favelolus tampak (gambar bawah) (sumber: Kardong,1998).

Paru-paru kiri pada ular, tereduksi atau bahkan tidak ada. Reduksi atau eliminasi ini ada
hubungannya dengan bentuk tubuh memanjang. Paru-paru bangsa buaya mirip pada mamal,
sementara itu pada sebagian kecil kadal memiliki diverticulata yang terentang di bagian
posterior paru-paru berfungsi seperti haalnya kantong udara pada burung. Trachea dan
bronchus umumnya pendek dan sederhana, tetapi reptile berleher panjang misalnya kura-kura,
trachea juga panjang.

F. Sisttem Urogenital

Ginjal reptil seperti halnya pada burung dan mamal, dikenal sebagai tipe metanefros,
sedangkan ginjal saat embrio adalah pronefros dan mesonefros. Ginjal metanefros pada
dasarnya serupa dengan mesonefros, tetapi lebih ringkas dan memuat jumlah lebih banyak unit-
unit renal, ada saluran menuju tubulus dan akhirnya menyatu disebut ureter. Perkembangan
tipe ginjal adalah untuk efisiensi eksretori akibat meningkatnya aktivitas. Ada reptil yang
memiliki kantung kemih, tetapi pada buaya, kadal, dan ular tidak ditemukan.

Gambar 7. Sistem urogenital pada kadal (sumber: Kardong, 1998).


Kajian terbaru telah menunujukkan bahwa sejumlah reptil mempunyai kelenjar eksresi
garam di kepala, berfungsi untuk meneliminasi garam lebih cepat. Eksresi garam disalurkan
menuju rongga hidung. Kelenjar-kelenjar ini sangat berkembang pada Iguana laut Galaphagos
(Amblyrhyncus cristatus), yang hidup bergantung pada alga laut. Setelah makan, hewan ini ke
pantai untuk istirahat diatas karang. Garam yang terbawa saat makan, secara berkala
dikeluarkan lewat hidung berbentuk uap selama hewan bernafas. Kadal padang pasir
(Dipsosaurus dorsalis) mengurangi kadar garam darah serupa dengan iguana laut akibat dari
urin yang sangat pekat. Kehidupan di gurun berkaitan dengan efisiensi pemanfaatan air, maka
air pada urin diserap kembali. Reabsorpsi air ini terjadi di kloaka.

Tipe unik kelenjar pengeluaran garam ditemukan pada ular-ular laut dari genus Pelamis
dan Lacticauda, yang sebagian besar hidupnya di dalam laut. Kelenjar sublingual di permukaan
ventrolateral lidah mampu mengeluarkan cairan pekat mengandung banyak sodium klorida
(NaCl), dikeluarkan ketika lidah dijulurkan.

Ovarium dan testes pada reptil adalah berpasangan. Telur reptil sedikit lebih keras
dibanding telur amfibi. Kuning telur lebih banyak dibutuhkan untuk perkembangan embrio dan
setelah menetas. Telur reptil seringkali diselubungi oleh albumin dan lapisan pembungkus luar
berupa cangkang kalkareus (cangkang kapur). Albumin dan cangkang dihasilkan oleh kelenjar
disepanjang oviduk, kemudian telur dikeluarkan lewat kloaka.

Arkhinefros atau pembuluh Wolffian mengalami degenerasi pada reptil betina, tapi pada
hewan jantan menjadi saluran genital yang funsional dan ujung atas bergelung disebut
epididimis. Telur reptil dibuahi secara internal, akibatnya pejantan pada banyak spesies
mempunyai organ kawin khusus untuk memindahkan sperma ke betinanya. Organ ini pada
kadal dan ular terdapat sepasang, terletak di sekitar kloaka disebut hemipenis. Struktur organ
kawin pada buaya dan kura-kura mungkin homolog dengan mamalia.

Gambar hemipenis pada kadal. (sumber : Kastawi, Yusuf dkk. 2005)


G. Sistem Saraf
Otak tengah pada amniota adalah sebagai pusat dari aktivitas, tetapi pada reptilia
terdapat perubahan cerebrum. Perubahan tersebut akibat perkembangan ukuran dari belahan-
belahan otak karena adanya invasi pallium oleh beberapa sel saraf sehingga menjadi bentuk
neopallium. Cerebellum reptil relatif besar daripada milik amfibi. Sekali lagi kemampuan ini
dihubungkan dengan dua macam gerakan dari kebanyakan reptil. Reptil memiliki 12 saraf
kranial

Gambar 9. Sistem saraf reptile (sumber : Kardong, 1998).

H. Organ Indera

Kuncup perasa pada kenbanyakan reptil hanya sebatas di daerah faringeal disebut organ
Jacobson, terletak di antara lintasan nasal. Organ Jacobson juga berfungsi untuk
termoregulator, dan organ pembau. Organ Jacobson ini mencapai pengembangan sempurna
pada ular dan kadal.

Pada beragam vertebrata tingkat rendah, penyesuaian diri untuk melihat jauh dan dekat
diatasi dengan gerakan lensa ke depan atau ke belakang sehingga menjadi berubah jarak antara
lensa dengan bagian seneitif retina. Penyesuaian jarak pandang ini pada reptil dan sebagian
besar amniota, diatasi bukan dengan gerakan lensa mata, tetapi dengan mengganti
bentuknya.Lensa mata bentuknya menjadi lebih pipih untuk pandangan jauh atau lensa lebih
membulat untuk pandangan dekat. Pipih atau membulatnya lensa ini dihasilkan dari kerja otot-
otot lensa mata.

Berdasarkan hasil penelitian ternyata kadal diurnal dan kura-kura, mampu


membedakan secara tepat warna kuning, merah, biru, dan hijau. Hal ini terjadi karena reseptor
warna mengalami kemunduran sehingga hanya gelombang panjang saja yang dapat dikenali.
Kelopak mata pada beberapa reptil umumnya dapat digerakkan. Beberapa reptil memiliki
membran niktitan dibawah kelopak mata atas dan bawah.

Struktur telinga pada reptil juga bervariasi. Lagena lebih panjang daripada lagena
amphibia dan pada buaya betul-betul membentuk saluran rumah siputagak serupa dengan yang
ada pada burung. Depresi gelombang suara itu harus melewati kanal pendek pada alat
pendengar bagian luar agar mengenai membran timpani-telinga tengah-saluran eustakius. Ular
tidak memiliki membran timpani, telinga tengah dan saluran eustakius. Ular menerima vibrasi
ditransmisikan melalui quadrat menuju kolumella.

I. Kelenjar Endokrin

Kelenjar paratiroid seringkali lebih kranial dari kelenjar tiroid dan tidak berpasangan.
Kelenjar endokrin lain pada reptil tidak berbeda nyata dengan kebanyakan vertebrata tingkat
tinggi.

Ciri Khusus

Tubuh reptil dibungkus oleh sisik kering sebagai pelindung tubuh seperti halnya sisik
ikan. Sisik-sisik ini terbagi ke dalam 2 kategori, epidermal dan dermal. Tipe sisik reptil adalah
superfisial dan umumnya berganti secar berkala. Sisik dermal adalah lempengan tulang yang
tertanam permanen pada kulit dan bertahan selam hidup. Ada bagian dermis berupa
kromatofora ang bertanggungjawab terhadap warna tubuh. Oleh sebab adanya konsentrasi dan
dispersi granula-granula pigmen dalam kromatofora ini menjadikan bunglon mampu
melakukan mimikri yaitu mengganti warna dalam menanggapi rangsang dari lingkungan.

Warna tubuh reptil juga seperti kebanyakan vertebrata lain, memiliki bebrapa fungsi.
Pewarnaan munkin untuk penyamaran dengan latar belakang lingkungannya dan dengan
demikian hewan menjadi tersembunyi dan terlindung. Pewarnaan mungkin juga untuk tanda
khusus atau tanda seksual, beberapa spesies kadal menunjukkan tanda seksual dalam warna
dimorfisme, khusunya pada masa kawin. Warna juga menjadi penting dalam termoregulasi,
yaitu akan terjadi perubahan konsentrasi granula-granula dalam kromatofora akibat respon
temperatur tinggi dengan mengurangi pewarnaan sehingga menjadi lebih terang, sementara itu
temperatur rendah menyebabkan pewarnaan gelap. Warna mungkin juga disiapkan untuk
melindungi organ-organ vital dari bahaya radiasi matahari. Kadangkala pigmentasi berfungsi
untuk perisai organ intermuskular bahkan untuk perlindungan jaringan peritoneum.
1. Kelenjar Kulit

Dikarenakan sisik epidermal kering maka reptil pada dasrnya hanya memiliki sedikit
kelenjar kulit, apalagi untuk ular dan kadal yang kulitnya kadangkala berganti. Kelenjar mukus
dan kelenjar di kloaka pada buaya berfungsi selama masa bercumbu. Beberapa kadal juga
memiliki kelenjar endokrin di dekat kloaka di masa kawin. Kadal ini memiliki lubang-lubang
disebut sebagai lubang preanal atau lubang femoral, umumnya pada betina lebih kecil atau
ditemukan hanya pada pejantan. Kelenjar ini menjadi sangat aktif pada musim kawin.

2. Sisik Epidermal

Sisik epidermal terlihat amat nyata pada kadal dan ular. Sisik epidermal secara terus
menerus diproduksi oleh karena pertumbuhan dari kapisan stratum germinativum epidermis
dan umumnya berlipat sehingga menjadi tumpang tindih satu sama lain. Ketika lapisan sisik
epidermal tumbuh sempurna atau secara utuh, akhirnya menjadi terpisah dari stratum
germinativum dan tampaknya sebagai benda mati. Ular dan kadal sisik-sisiknya berganti,
sebuah proses yang dikenal dengan ekdisis. Sebelum berlangsung ekdisis, sisik-sisik baru yang
akan menggantikan sisik yang tua sudah terbentuk. Kebanyakan ular berganti kulit secara
sekaligus . spidermal tua yang lepas pertama pada daerah kepala termasuk kulit di dorsal mata,
si ular pada akhirnya beringsut ke luar dari penutup lama. Pergantian kulit pada ular, dihitung
mulai saat pertama seekor ular berganti kulit, adalah bergantung pada tingkat pertumbuhan.
Jenis ular yang tumbuh cepat mungkin berganti kulit setiap dua bulan.

Beberapa viper (ular berbisa), seperti pada Sidewinder gurun (Crotalus cerastes) dan
ular berbisa bertanduk dari Afrika (Cerastes cerastes), memiliki struktur seperti tanduk di atas
matanya yang merupakan modifikasi dari sisik-sisik. Tanduk ini akan melipat ke bawah
menutupi mata ketika kepala ular ditekan. Tanduk ini mungkin bermanfaat untuk melindungi
mata ketika ular bergerak melewati bebatuan, akar-akar, belukar atau apa saja yang dapat
menyebabkan luka. Lapisan kulit epidermal pada kadal tidak berganti secara keseluruhan
dalam waktu reatif pendek tidak seperti pada ular, tetapi berganti sebagian-sebagian.

Karapaks dan plastron adalah tempurung dorsal dan ventral yang melindungi tubuh
kura-kura dan penyu. Strukturnya tersusun sebagian besar oleh tulang dari lempengn kulit
dermal dan bagian luar terbungkus sisik epidermal bertanduk yang tidak menyerupai sisik
eoidermal pada ular dan kdal. Sisik-sisik ini tidak berganti secara berkala, meskipun sisik yang
lebih tua yang merupakan lapisan terluar mengelupas sebagai akibat ekspansi lapisan stratum
germinativum. Sisik baru berukuran lebih besar dari pada sisik pendahulu yang menutupinya.
Sebagai konsekuensi, ada lempengan epidermal yang lebih besar membentuk cincin atau
lingkaran pertumbuhan sebagai akumulasi lapisan-lapisan sisik bertanduk. Beberapa kura-kura
tidak mempunyai sisik dan mempunyai sebuah kulit keras sebagai pengganti. Tubuh aligator
dan sejenisnya juga terbungkus sisik epidermal yang tidak secara bersamaan berganti, tetapi
berangsur-berangsur mengelupas dan digantikan sisik baru.

Sisik epidermal reptil menunjukkan lebih banyak keragaman bentuk dan struktur,
terutama pada ular dan kadal. Sisik tersebut mungkin tersusun secara longitudinal, diagonal
dan transversal (baris-baris melintang ). Sisik pada kepala umumnya berbeda dalam
penampilan dari sisik bagian tubuh lain dan diberi nama sesuai dengan lokasinya. Sisik di
sepanjang bagian bibir atas disebut sisik-sisik labial atas. Sisik yang melingkari mata adalah
sisik okular, yang di antara kedua mata adalah sisik interokular. Perbedaan dalam ukuran,
bentuk dan jumlah sisik ini memberikan ciri khusus dan penting untuk klasifikasi.

Sisik ular biasanya sikloid atau berbentuk segi empat. Sisik kadal mungkin
dikelompokkan le dalam sisik granular, sikloid quandrangular, atau mucromate, dan sisik
mungkin halus atau kasar. Sisik bagian tubuh tertentu bisa termodifikasi hingga menjadi
panjang seperti duri, ditentukan pada iguana.

Sisik bagian ventral tubuh ular umumnya lebih besar, pitamoris melintang disebut scute
yang berfungsi untuk memperluas lebar tubuh . keberadaan scute dibagian bawah permukaan
tubuh biasanya digunakan sevagai ciri khas dasar untuk membedakan ular dari kadal. Scute
ventral tidak ditemukan pada kelompok kadal.

Perkembangan sisik kulit paling sempurna ditemukan pada kura-kura dan penyu berupa
karapaks dan plastron yang digabung bersama oleh jembatan pada setiap sisi tubuh. Skleton
bagian vertebra thorak, lumbar dan sakral, menyatu dengan karapaks pada reptilia ini.

3. Gigi

Gigi sama sekali tidak ada pada kura-kura dan penyu, tetapi diganti dengan lapisan
tanduk baik di rahang atas maupun bawah seperti layaknya paruh burung. Reptilia kelompok
lain umumnya mempunyai gigi dan berkembang biak. Gigi segera diganti jika tanggal. Gigi-
gigi Crocodila agak seragam, berbentuk kerucut, kelengkapan giginya mengarah pada gigi tipe
thecodont.

Sebagian besar kadal memiliki gigi seragam atau homodont. Ada (sedikit) reptilia yang
memiliki gigi seri, taring, dan geraham, sehingga pertumbuhan gigi ini mengarah ke tipe
heteodont. Sebagian kecil kadal memiliki gigi yang tumbuh pada langit-langit mulut, tetapi
umumnya melekat pada rahang. Ada tipe gigi yang hanya melekat pada rahang sehingga tidak
terletak pada lubang rahang, disebut tipe acrodont. Tipe gigi pleurodont yaitu gigi berada dan
melekat pada sisi dalam rahang. Gigi bawah pada genus Holoderm (kadal berbisa) adalah
pleurodont. Racun yang disekresikan oleh kelenjar labial pada rahang bawah Holoderm tidak
melewati lubang taring tetapi mengalir melalui luka akibat tusukan gigi.

Ular umumnya memiliki gigi tipe pleurodont, tersusun pada jajaran rahang atas dan
bawah. Beberapa ular berbisa memiliki gigi berlekuk disebut gigi opistoglifi. Ular berbisa kuat,
umumnya memiliki rahang atas, bentuk taring seperti jarum hipodermik dan dasar taring
berhubungan dengan kantong kelenjar bisa. Kontraksi otot di sekitar klenjar bisa pada saat ular
menyerang, bertanggung jawab untuk menyuntikkan bisa melalui taring ke korban. Taring,
seperti gigi lain, diganti bila tanggal. Taring ular berbisa opistoglifi adalah gigi bisa yang
terletak pada rahang atas bagian posterior, sedangkan gigi bisa yang terletak pada rahang atas
bagian anterior dan dapat dilipat (bisa digerakkan) karena ada engsel disebut gigi solenoglifi.
Gigi bisa pada ular kobra dan ular mamba taringnya terletak pada rahang atas bagian anterior
dan gigi bisa ini tidak bisa digerakkan disebut tipe gigi taring proteroglifi.

4. Alat gerak (appendages) dan lokomisi

Reptil selama sejarah evolusinya telah menggunakan berbagai macam gerakan, ada
yang dapat berenang, berjalan atau berlari di daratan, menggali liang, memanjat dan bahkan
dapat meluncur di udara. Contoh terbaik tipe dasar tungkai reptilia adalah pada kadal. Setiap
tungkai biasanya memiliki 5 jari dan setiap jari bercakar. Banyak kadal dapat berlari dengan 4
tangkai, tetapi ada yang hanya menggunakan 2 tungkai belakang saat berlari. Ada kadal yang
mampu memanjat permukaan vertikal misalnya pada kelompok tokek karena ada alat tambahan
berupa kait. Beberapa kadal dari genus Draco mampu meluncur di udara, karena memiliki kulit
tambahan seperti jaring yang lebar di setiap sisi tubuh tetapi tidak memiliki tungkai. Dua
pasang tungkai pada kadal tidak selalu pentadaktil, terkadang jari-jari pada satu atau kedua
pasang tungkai menghilang. Kadal tak bertungkai dikelompokkan dalam famili Ellidae atau
famili Anguidae sehingga nampak seperti ular. Buaya mampu berjalan di atas tanah sebaik
berenang di air. Mungkin jaringan selaput antar jari tersebut bervariasi, akan tetapi kecepatan
di air disempurnakan oleh gerakan tubuh mengombak ke samping.

Reptil yang teradaptasi sangat baik untuk kehidupan akuatik adalah kura-kura laut.
Tungkainya termodifikasi menjadi sirip, kuku mereduksi atau tidak ada. Kura-kura tanah
memiliki tungkai yang kuat dan mampu mengangkat tubuh untuk bergerak. Kura-kura laut dan
air tawar dapat merubah berat badannya secara spesifik sehingga mampu bertahan dalam air
pada kedalaman tertentu, dapat mengembang di permukaan atau bergerak di dasar kolam.
Kemungkinan ini di capai dengan merubah volume udara di paru-paru dan dengan menambah
atau mengurangi jumlah air yang disimpan di kloaka.

Gerakan melata pada ular adalah hal yang menarik. Ternyata ular melata dengan cara
berbeda. Ada 4 tipe gerakan maju, yaitu berombak horisontal, rectilinear, concertina dan
sidewinder. Rattlesnake dan ular berbisa memiliki lubang sensor khusus di setiap sisi kepala.
Keberadaan lubang ini telah dipelajari oleh Noble dan Schmidt (1937), bahwa walaupun semua
organ utama dirusak atau diblok ternyata ular mampu menemukan atau mengetahui lokasi dan
mematuk mangsanya sebab objek memiliki suhu tubuh lebih tinggi atau lebih rendah dari
lingkungan sekitar. Lubang-lubang sensor ini berisi saraf opthithalmic cabang dari saraf kranial
ke V. Organ sensor di kepala ular fiton Australia (Morelia spilotes) mampu menerima sinar
infra merah.

2.3 Klasifikasi dari Kelas Reptil


1. Sub Kelas Anapsida
Ordo Chelonia
Kura-kura muncul dalam rekaman fosil di Upper Triassic, sekitar 200 juta tahun yang
lalu. Dari Trias, kura-kura bertahan hingga saat ini dengan sedikit perubahan pada morfologi
awal mereka. Mereka ditutupi dalam kerang yang terdiri dari karapas dorsal (Fr. dari Sp.,
Carapacho, penutup) dan plastron ventral (tutup dada Pinggul). Cangkangnya terdiri dari dua
lapisan: lapisan luar keratin dan lapisan dalam tulang. Lapisan keratin baru diletakkan di bawah
yang sudah tua seperti kura-kura tumbuh dan berabad-abad. Lapisan tulang adalah perpaduan
tulang rusuk, tulang belakang, dan banyak unsur pengerasan kulit (Gambar 26.6). Unik di
antara vertebrata, tungkai anggota badan dan korset anggota badan terletak di dalam tulang
rusuk! Kurangnya gigi, rahang penyu dilengkapi dengan lapisan yang keras dan keratin untuk
mencengkeram makanan (Gambar 26.7).

Kura-kura kurang berinteraksi dengan orang karena tampaknya kura-kura berada dalam
cangkang pelindung mereka, kura-kura tetap merupakan kelompok yang bervariasi dan
beragam secara ekologis yang tampaknya dapat menyesuaikan diri dengan kehadiran manusia.

Istilah "kura-kura," "kura-kura," dan "terrapin" diterapkan secara berbeda-beda untuk


berbagai anggota tatanan penyu. Dalam penggunaan Amerika Utara, mereka semua benar-
benar disebut kura-kura. Istilah "kura-kura" sering diterapkan pada penyu darat, terutama
bentuk-bentuk besar. Istilah penggunaan bahasa Inggris berbeda: "kura-kura" adalah istilah
inklusif, sedangkan "kura-kura" hanya berlaku untuk anggota perairan. Salah satu konsekuensi
hidup di cangkang yang kaku dengan rusuk menyatu adalah kura-kura tidak bisa melebarkan
dadanya untuk bernafas.

(Sumber : Hickman et al. 2001)

(Sumber : Hickman et al. 2001)

Masalah ini ditangani dengan menggunakan otot perut dan pectoral tertentu sebagai
"diafragma." Udara ditarik dengan meningkatkan volume rongga perut dengan mengontrak
otot ekstremitas. Penghirupan juga aktif dan dilakukan dengan menarik korset bahu kembali
ke cangkang, sehingga menekan organ dalam dan memaksa udara keluar dari paru-paru.
Pernafasan terlihat seperti gerakan "kantong ekstrem" kura-kura penyu: lipatan kulit di antara
tungkai dan cangkang yang kaku. Gerakan anggota badan saat berjalan juga membantu
ventilasi paru-paru. Banyak kura-kura air memperoleh cukup oksigen dengan memompa air
masuk dan keluar dari rongga mulut atau kloaka vaskularisasi; Aktivitas ini memungkinkan
mereka untuk tetap terendam dalam waktu lama bila tidak aktif. Bila aktif mereka harus
bernafas lebih sering dengn paru-paru.

Otak penyu, seperti reptil lain, berukuran kecil, tidak pernah melebihi 1% berat badan.
Namun, otak besar lebih besar dari pada amfibi, dan kura-kura dapat berjalan simpang siur
(berliku-liku) secepat tikus. Kura-kura memiliki telinga tengah dan dalam, namun persepsi
suara buruk. Oleh karena itu, tidak terduga, kura-kura itu hampir tidak terdengar (suara biblika
"penyu" mengacu pada burung tekukur, seekor burung), meskipun banyak kura-kura
menggeram atau suara menderu saat kawin (Gambar 26.8). Kompensasi untuk pendengaran
yang buruk adalah indera penciuman, penglihatan yang baik, dan persepsi warna yang jelas
sama bagusnya dengan manusia.

Kura-kura bertipe ovipar. Pemupukan bersifat internal dan semua kura-kura, bahkan
bentuk laut, mengubur telur yang dikupas dan amniotik di dalam tanah. Biasanya mereka cukup
berhati-hati dalam membangun sarang mereka, tapi begitu telur diendapkan dan ditutupi,
betina mereka. Fitur menarik dari reproduksi kura-kura adalah bahwa di beberapa family kura-
kura, seperti pada semua buaya dan beberapa kadal, suhu sarang menentukan jenis kelamin
anak-anak. Pada kura-kura, suhu rendah selama inkubasi menghasilkan jantan dan suhu tinggi
menghasilkan betina (Gambar 26.9). Semua reptil nonavian dengan determinasi seks
tergantung suhu tidak memiliki kromosom seks.

Penyu laut, yang didukung oleh lingkungan perairan mereka, bisa mencapai ukuran
besar. Penyu belimbing terbesar, mencapai panjang 2 m dan berat 725 kg. Penyu hijau (Gambar
26.10), dinamakan demikian karena lemak tubuh kehijauan mereka, bisa melebihi 360 kg,
walaupun kebanyakan individu dari spesies yang bernilai ekonomis dan sangat dieksploitasi
ini jarang hidup cukup lama untuk mencapai sesuatu yang mendekati ukuran ini. Beberapa
kura-kura darat mungkin beratnya beberapa ratus kilogram, seperti kura-kura raksasa (Gambar
26.8) dari Kepulauan Galápagos yang begitu menggelitik Darwin selama kunjungannya di sana
pada tahun 1835.
(Sumber : Hickman et al. 2001)

(Sumber : Hickman et al. 2001)

Sebagian besar kura-kura agak lambat bergerak; satu jam berjalan dengan susah
payah dengan membawa beban cangkang yang besar Galápagos sekitar 300 m (meskipun
mungkin bergerak lebih cepat untuk jarak pendek). Metabolisme rendah mereka mungkin
menjelaskan umur panjang mereka, karena beberapa orang meyakini mereka hidup lebih dari
150 tahun.

Cangkangnya, seperti mantel baju besi abad pertengahan. Kepala dan pelengkap dapat
ditarik untuk perlindungan. Kura-kura kotak yang familier, Terrapene carolina, memiliki
plastron yang berengsel, membentuk dua bagian yang bisa dilepas yang dapat ditarik ke atas
karapaks begitu kencang sehingga seseorang hampir tidak bisa membelah kulit mereka dengan
pisau. Beberapa kura-kura, seperti kura-kura besar di bagian timur (lihat Gambar 26.7), telah
mengurangi kerang, sehingga penarikan lengkap untuk perlindungan sangat tidak mungkin.
Snappers, bagaimanapun, memiliki pertahanan lain yang hebat, seperti namanya. Mereka
sepenuhnya karnivora seperti katak, unggas air, atau hampir apa saja yang bisa dicapai dari
rahang kuat mereka. Seekor alligator snapping turtle memikat mulut yang tidak waspada.
Mulutnya dengan perpaduan warna merah jambu, seperti cacing lidah itu berfungsi sebagai
"umpan" (Gambar 26.11). Alligator snappers seluruhnya hidup di air dan datang ke darat hanya
untuk bertelur

2. Sub Kelas Synaptosauria (Plesiosaurus)


Ordo Protosauria
Protorosauria adalah kelompok punah reptil archosauromorph dari Permian (tahap
Changhsingian) terbaru hingga awal Trias Akhir (tahap Carnian) dari Asia, Eropa, Amerika
Utara. Ordo ini diberi nama oleh ahli anatomi Inggris dan ahli paleontologi Thomas Henry
Huxley pada tahun 1871. Nama lain yang sebagian besar setara dengan Protorosauria
meliputi Prolacertiformes dan Prolacertilia.
Protorosaurs dibedakan berdasarkan leher panjangnya dibentuk oleh tulang leher
memanjang, yang memiliki tulang rusuk yang memperpanjang kebelakang pada tulang
belakang mereka. Protorosaurs juga memiliki kesenjangan antara tulang kuadrat dan tulang
Jugal di belakang tengkorak dekat sendi rahang, membuat tengkorak mereka menyerupai
tentang kadal. Protosaurs adalah saudara jauh dari archosaurs - pterosaurus, dinosaurus dan
buaya. Mereka semua mati pada awal Jurassic, sekitar 205 juta tahun yang lalu. Tanystropheus
adalah salah satu contoh dari ordo Protosauria. Tanystropheus mati pada akhir periode Triassic,
sekitar 215 juta tahun yang lalu.

(Sumber:https://vignette.wikia.nocookie.net/fossil/images/d/d0/Tanystropheus.jpg/revision/latest/
scale-to-width-down/250?cb=20110107232412).

Ordo Sauropterygia

Secara terminologi Sauro berarti kadal dan ptryginos berarti bersayap. Jadi
Sauropterygia bisa disebut sebagai kadal bersayap. Beberapa literaturr menyatakan bahwa
Sauropterygia ini merupakan Seper Ordo dengan karakteristiknya yang merupakan reptil laut
pada masa mesozoik. Ordo Plesiosauria termasuk ordo di dalamnya. Selain habitatnya di
perairan laut, hewan ini memiliki karakteristik berleher panjang dengan tungkai mirip sirip.
Hal ini didukung dengan pernyataan Gunara (2011) yang menjelaskan tentang ciri-ciri umum
dari Plesiosaurus yakni: (1) pada umumnya memiliki leher yang panjang, (2) mempunyai sirip
untuk membantunya berenang, (3) berkulit halus, (4) hidup di air.

(Sumber : https://alchetron.com/Sauropterygia)
3. Ichthyopterygia
Ordo Ichthyosauria
Ichtyosauria ini berasal dari kata Ichtys yaitu ikan, dan sauros yang berarti kadal. Ichtyosaurus
ini merupakan kelompok reptile laut yang berukuran raksasa dan bentuknya menyerupai ikan
serta lumba-lumba. Berdasarkan rekaman fosil hewan ini hidup pada zaman Mesozoikum.

Hewan ini hidup di laut yang menyerupai lumba-lumba dengan sirip yang tereduksi. Ordo
Icthyosauria ini hidup pada zaman Mesozoik yang mempunyai mata cukup besar serta ekornya
vertical (Hickman,2011).
(Sumber : https://www.wired.com/images_blogs/wiredscience/2013/01/08_Ichthyosaurus-2-
Final.jpg).

Reptile laut ini memiliki bentuk luar seperti ikan yaitu tubuhnya berbentuk streamlined
(ramping), terdapat sirip pada bagian punggungnya (dorsal), ekor bercabang dua dan
hidrodinamik. Rata-rata hewan ini tumbuh sekitar panjang 2-4 m dengan kepalanya moncong
panjang yang dipenuhi dengan gigi. Bentuk tubuh yang seperti itu untuk memudahkan hewan
ini berenang dengan kecepatan tinggi di air (Motani,2000). Ichtyosaurus ini memiliki anggota
gerak berbentuk sirip yang digunakan untuk stabilisasi dan pengendalian arah, bukan sebagai
penggerak. Anggota tubuh hewan ini yang berfungsi sebagai penggerak adalah ekornya.
Reptile laut ini secara kasat mata mempunyai kemiripan dengan ikan, dimana kemiripan
tersebut dapat dalam dihubungkan dengan konvergen evolusi. Satu fakta tentang Ichtyosaurus
yaitu memiliki tulang telinga yang besar dan berfungsi untuk menyampaikan getaran halus
dalam air dan lingkungan sekitarnya sehingga memudahkan Ichthyosaurus dalam mencari
makan serta menghindari dari serangan predator. Berdasarkan para ahli fosil Icthysaurus ini
makan terutama ikan dan cumi-cumi. Reproduksi Ichthyosaurus secara vivipar yaitu dengan
melahirkan anaknya. Hal ini dikarenakan ahli paleontology menemukan berbagai spesimen
fosil yang di dalamnya terdapat bayi sehingga para ahli paleontology menyimpulkan bahwa
hewan ini tidak bertelur seperti reptile darat, tetapi melahirkan anaknya. Yang dimungkinkan
anak yang baru dilahirkan sudah terdapat ekor untuk member kesempatan menyesuaikan diri
dengan air dan mencegah tenggelam di dalam air.

4. Lepidosauria (Lepidosaurus)
Ordo Eosuchia
Eosuchia adalah tatanan dari reptile yang sudah punah yang tak beraturan. Eosuchia
pada awalnya didefinisikan untuk memasukkan semua reptil "thecodontian" yang tidak
memiliki fenestra antorbital namun mempertahankan tabul, postparietals dan foramen pineal
besar (Broom, 1914). Broom menciptakan istilah ini sebagai subordo baru untuk Youngina.
Definisi untuk dimasukkan dalam urutan sulit: hampir lebih mudah untuk mendaftarkan reptil
primitifdiapsid yang belum disertakan pada satu waktu atau yang lain.

Tangasauridae adalah keluarga diapsid eosuchian. Spesimen telah ditemukan yaitu


Permian Akhir sampai Awal Trias di usia dari Kelompok Sakamena Madagaskar barat. Mereka
tinggal di samping taksa lain yang hadir dari Grup Sakamena, termasuk temnospondyl,
rhynchosaurs, dan gomphodont eucynodonts. Fosil telah ditemukan dari banyak spesimen
anggota keluarga biasa seperti Hovasaurus dan Thadeosaurus dalam berbagai tahap
perkembangan ontogenik. Materi terbaru dari Formasi Tetangga Tengah Morondava
Madagaskar yang dimulai pada periode Trias awal menunjukkan bahwa Tangasauridae relatif
tidak terpengaruh oleh peristiwa kepunahan Permian-Triassic.

(Sumber : https://en.wikipedia.org/wiki/Tangasauridae).

Ordo Rhyncocepalia

Ordo ini diketahui berdasarkan catatan fosil pada Era Triasik Akhir yaitu antara 210-
220 juta tahun yang lalu. Ordo Rhynchocephalia memiliki tipe tengkorak diapsid.
Morfologinya mirip dengan anggota lacertilia dan panjang dewasanya mencapai 30 cm.
Anggota ordo ini semuanya karnivora dan mencari makan di malam hari. Habitat hidupnya di
air atau di daratan. Ordo Rhynchocephalia bereproduksi secara ovipar dengan fertilisasi
internal. Telurnya ditempatkan dalam suatu lubang seperti kebanyakan anggota Kelas Reptilia
lainnya dan menetas dalam waktu 1 tahun .Anggota Ordo Rhynchocephalia mempunyai satu
familia yaitu Sphenodontidae dan hanya satu genus Sphenodon. Genus ini terdiri dari
duaspesies yaitu Sphenodon punctatus dan Sphenodon guntheri (Tuatara).

Ciri-ciri :
a.Bentuk tubuh seperti bunglon
b.Panjang bisa mencapai kira-kira 75 cm
d.Mempunyai ekor tebal,pada sisi depan terdapat sisik tebal/duri
e.Mata besar ,kelopak tidak bergerak
f.Celah cloaka melintang (Phalagiootremata)
g.Pada tengkorak terdapat 2 Fossa (Lekuk Pipi)
Contoh: Sphenodon punctatus (tuatara)= Selandia baru
(Sumber : https://a-z-animals.com/animals/tuatara/pictures/3191/)
Ordo Squamata
Squamates adalah hewan evolusi dangkal yang paling baru dan beragam, terdiri sekitar
95% dari semua reptil nonavianal yang dikenal. Kadal muncul dalam rekaman fosil pada awal
masa jurassic, namun mereka tidak memulai masa radiasi mereka sampai periode cretaceous
pada era mesozoikum ketika dinosaurus berada pada puncak radiasi mereka. Ular muncul pada
akhir periode Jurassic, mungkin dari sekelompok kadal yang keturunannya termasuk Gila
monster dan monitor lizards. Dua spesialisasi Order Squamata: Kadal dan ular. Khususnya ular
yang memiliki ciri khusus: Ekstrem tubuh mereka yang memanjangan dan perpindahan atau
penataan organ dalam yang menyertainya; dan spesialisasi untuk memakan mangsa yang besar.

Viviparity dalam reptil nonavianal hidup terbatas pada squamates dan telah
berkembang dalam klade sekitar 100 kali terpisah. Viviparity biasanya terjadi dengan
meningkatkan lama waktu telur disimpan di dalam saluran telur. Mengembangkan telur,
mendapatkan nutrisi dari kantung kuning telur (lesitotrofi atau ovoviviparitas) atau melalui ibu
(placentotrophy), atau kombinasi keduanya. Ular dan kadal Vivipara biasanya dikaitkan
dengan iklim dingin. Viviparity merupakan adaptasi yang memungkinkan squamates untuk
mengatur suhu embrio yang sedang berkembang, menggunakan ectothermy, untuk
perkembangan optimal. Induk yang hamil dapat pindah ke lingkungan yang baik untuk
menjaga tubuh mereka, dan anak-anak mereka yang masih muda cukup hangat untuk
memastikan perkembangan yang cepat. Selain itu, telur yang ditahan di tubuh induk lebih
terlindungi dari predasi dari pada telur yang diendapkan.

Tengkorak squamates merupakan modifikasi dari tengkorak terdahulu yaitu dengan


hilangnya ventral tulang dermal dan posterior untuk hewan yang lebih rendah. Modifikasi ini
telah memungkinkan evolusi pada sebagian besar kadal dan ular yang memiliki sendi bergerak.
Tengkorak semacam itu disebut tengkorak kinetik. Tulang kuadran pada reptil lain menyatu
dengan tengkorak, memiliki sendi pada ujung dorsalnya, dan juga penggabunga dengan rahang
bawah. Selain itu, persendian di langit-langit dan di seluruh atap tengkorak memungkinkan
moncong dimiringkan ke atas (Gambar 26.12). Pergerakan khusus tengkorak memungkinkan
squamates untuk merebut dan memanipulasi mangsa mereka; Hal ini juga meningkatkan
kekuatan penutupan efektif dari otot rahang.

(Sumber : Hickman et al. 2001)

.Tengkorak ular bahkan lebih kinetik dari pada kadal. Pergerakan tengkorak yang luar
biasa tersebut dianggap sebagai faktor utama dalam diversifikasi kadal dan ular. Secara
tradisional, Ordo Squamata dibagi menjadi tiga sub order: Sauria atau Lacertilia (kadal),
Serpentes (ular), dan Amfisbaenia (amphisbaenians). Amfisbaenians sekarang dianggap
sebagai kadal yang telah dimodifikasi, dan kami mendiskusikannya dengan kadal. Ular
membentuk kelompok monofiletik namun secara unik berbagi nenek moyang yang sama
dengan kadal varanid, sehingga membuat Sauria paraphyletic. Disini kita menggunakan
"kadal" dan "Sauria" untuk menggambarkan semua squamates yang bukan ular.

Subordo Lacertilia atau Sauria

Subordo Lacertilia umumnya adalah hewan pentadactylus dan bercakar, dengan sisik
yang bervariasi. Sisik tersebut terbuat dari bahan tanduk namun ada pula yang sisiknya
termodifikasi membentuk tuberkulum dan sebagian lagi menjadi spina. Sisik-sisik ini dapat
mengelupas, peneglupasannya berlangsung sebagian dalam artian tidak semua sisik
mengelupas pada saat bersamaan.

Pada Lacertillia memiliki kelopak mata dan lubang telinga, lidah Lacertellia panjang
dan ada pula yang bercabang. Pada bebrapa spesies lidah ini dapat ditembakkan (projectile)
untuk menangkap mangsa seperti pada genus Chamelon. Beberapa anggota subordo Lacertillia
banyak yang memiliki kemampuan untuk melepaskan ekornya (autotomi).

Gambar 26.13. (Sumber : Hickman et al. 2001)

Bunglon adalah hewan reptil yang menangkap serangga dengan lidah berujung lengket
yang dapat diproyeksikan secara akurat dan cepat ke jarak yang lebih besar dari pada panjang
tubuh mereka. Sebagian besar kadal memiliki empat anggota tubuh dan tubuh yang relatif
pendek.

Kebanyakan kadal memiliki kelopak mata bergerak, sedangkan mata ular tertutup rapat
dengan tutup transparan. Kadal memiliki penglihatan yang tajam untuk siang hari (retina kaya
akan kerucut dan batang). Kebanyakan kadal memiliki telinga luar yang tidak dimiliki ular.
Telinga bagian dalam kadal bervariasi dalam struktur, namun seperti reptil lainnya,
pendengarannya tidak memainkan peran penting dalam kehidupan sebagian besar kadal. Cicak
adalah pengecualian karena pada cicak jantan untuk mendengarkan suara dari cicak yang lain,
pada saat cicak jantan bersuara maka artinya cicak tersebut menunjukkan bahwa daerah
tersebut adalah kekuasaannya.

Banyak kadal tinggal di daerah yang panas dan gersang. Karena kulit mereka
mengandung sedikit kelenjar maka penegluaran air sangat dikurangi. Mereka menghasilkan
urin semipadat dengan kandungan tinggi asam urat kristal. Mekanisme yang sangat baik untuk
melestarikan air ditemukan pada kelompok lain yang hidup dengan baik di habitat kering
(burung, serangga, dan siput paru). Beberapa seperti Gila monster dari gurun Amerika Serikat
bagian barat daya, menyimpan lemak di ekornya, yang mereka gunakan selama musim
kemarau untuk menyediakan energi dan air metabolik (Gambar 26.17). Gila Monster, dan
kerabat dekat mereka, kadal manik-manik, adalah satu-satunya kadal yang mampu
mengantarkan gigitan berbisa.

(Sumber : Hickman et al. 2001)

(Sumber : Hickman et al. 2001)

Pada semua kelas reptile (kadal) nonavian adalah ektotherm yakni menyesuaikan suhu
tubuh mereka dengan bergerak di antara iklim mikro yang berbeda. Iklim dingin memberi
kesempatan terbatas pada ektoten untuk menaikkan suhu tubuh mereka ke tingkat yang lebih
sesuai dengan tubuh mereka. Akibatnya, spesies reptil nonavian relatif sedikit di iklim dingin.
Namun, karena ektotherm menggunakan energi yang jauh lebih sedikit daripada endoterm,
reptil nonavian berhasil dalam ekosistem dengan produktivitas rendah dan daerah beriklim
hangat, seperti padang pasir tropis, hutan kering, terbuka, dan padang rumput. Dengan
demikian, ectothermy bukanlah karakteristik "inferior" dari reptil nonavian, namun merupakan
strategi yang berhasil untuk mengatasi tantangan lingkungan yang spesifik.
Amphisbaenians atau "kadal cacing," adalah kadal yang sangat khusus untuk kehidupan
fosil (menggali). Amphisbaenia berarti "jalan ganda", mengacu pada kemampuan khas mereka
untuk bergerak mundur. Amfisbaenians tampak sangat berbeda dari kadal lainnya yang sampai
saat ini mereka ditempatkan di subordo terpisah dari Amphisbaenia. Namun analisis filogenetik
data morfologi dan molekuler menunjukkan bahwa mereka adalah kadal yang sangat modis,
walaupun hubungan mereka dengan keluarga kadal lainnya tidak pasti. Amphisbaenians
memiliki diameter badan silinder yang hampir merata, dan sebagian besar kekurangan jejak
anggota tubuh eksternal (Gambar 26.18). Mata biasanya tersembunyi di balik kulit dan tidak
ada telinga luar. Tengkorak mereka kokoh dibangun dan berbentuk kerucut atau berbentuk
sekop, yang membantu dalam tunneling melalui tanah.

(Sumber : Hickman et al. 2001)

(Sumber : Hickman et al. 2001)

Subordo Serpentes

Ular berjalan tidak beraturan dan biasanya ular tidak mempunyai tulang dada dan
panggul (yang terakhir tetap ada sebagai ular di ular piton, boas, dan beberapa ular lainnya).
kebanyakan tulang belakang ular lebih pendek dan lebih lebar dari pada tetrapoda yang
memungkinkan putaran lateral yang cepat melalui rumput dan tanah kasar. Tulang rusuk
berfungsi meningkatkan kekakuan colomna vertebra dan memberikan lebih banyak
perlawanan terhadap tekanan lateral. Tingginya sumsum tulang belakang memberi banyak otot
lebih maksimal.

Banyak garis keturunan kadal mengalami penurunan atau anggota badan yang hilang.
Namun tidak satu pun dari keturunan ini mengalami kemajuan seperti ular. Karena bentuk
tengkorak kadal yang terbatas (lihat Gambar 26.12), mereka hanya dapat mengkonsumsi
makanan yang relatif kecil. Sebaliknya, tengkorak yang sangat kinetik dan alat makan ular,
yang menyebabkan mereka dapat memakan mangsa beberapa kali yang merupakan spesialisasi
yang luar biasa. Tidak seperti kadal, dua bagian rahang bawah (mandibula) bergabung hanya
oleh otot dan kulit, memungkinkan mereka menyebar luas. Banyak tulang tengkorak yang
longgar sehingga seluruh tengkorak bersifat asimetris untuk menampung mangsa yang besar
(Gambar 26.19). Karena seekor ular harus tetap bernapas selama proses menelan yang lambat
dengan pembukaan trakea (glotis) yang disorongkan ke depan di antara dua rahang bawah.

Kornea mata ular tidak memiliki kelopak mata ketika bergerak, sehingga mata secara
permanen di lindungi dengan selaput transparan yang disebut spectcle sehingga mobilitas bola
mata berkurang membuat ular memiliki tatapan dingin dan tidak berkedip.

Sebagian besar ular memiliki penglihatan yang relatif lemah kecuali ular hutan tropis
arboreal yang memiliki penglihatan mencolok (Gambar 26.20). Beberapa ular arboreal
memiliki penglihatan teropong yang sangat baik yang dapat membantu mereka melacak
mangsa melalui cabang dimana jejak aroma tidak mungkin diikuti.

Ular tidak memiliki telinga luar atau membran timpani. Kondisi ini sehingga tidak
adanya respon yang jelas terhadap suara udara yang seakan-akan ular benar-benar tuli. Tetapi
ular memiliki telinga internal, dan penelitian terbaru menunjukkan cukup jelas bahwa dalam
rentang frekuensi rendah yang terbatas (100 sampai 700 Hz), pendengaran pada ular lebih baik
dibandingkan dengan kebanyakan kadal. Ular juga cukup peka terhadap getaran di tanah.

Meskipun begitu, sebagian besar ular menggunakan indra kimiawi daripada


penglihatan dan pendengaran untuk berburu mangsanya. Selain itu penciuman ular tidak
berkembang dengan baik, namun terdapat organ Jacobson (organ vomeronasal), sepasang
organ seperti pit di langit-langit mulut.
(Sumber : Hickman et al. 2001)

(Sumber : Hickman et al. 2001)

Bagian Ini dilapisi dengan epitel chemosensori yang kaya inervasi. Lidah bercabang dan
melayang di udara untuk mengambil makanan dan membawanya ke mulut. Kemudian ditarik
melewati organ Jacobson. Informasi kemudian dikirim ke otak di mana aroma diidentifikasikan
(Gambar 26.21).

Ular telah mengembangkan beberapa solusi untuk masalah gerakan yang jelas tanpa
anggota badan. Pola gerakan yang paling khas adalah undulasi lateral (Gambar 26.22B).
Gerakan mengikuti jalur berbentuk S. Seekor ular mendorong dirinya dengan kekuatan lateral
melawan penyimpangan permukaan. Seekor ular tampaknya "melambai" karena gulungan
yang bergerak tampak tidak bergerak terhadap tanah. Gerakan undulatory lateral sangat cepat
dan efisien. Gerakan Concertina (Gambar 26.22A) memungkinkan seekor ular bergerak dalam
jalur sempit.

(Sumber : Hickman et al. 2001)

Saat melata di pohon ular menggunakan saluran tidak beraturan di kulit kayu. Seekor
ular melebar ke depan sambil memasang cakram berbentuk S ke sisi saluran. Ketika mengintai
mangsa, banyak ular berbadan besar menggunakan gerakan bujur sangkar. Dua atau tiga bagian
tubuh berada di tanah di tanah untuk menopang berat ular. Bagian intervening diangkat bebas
dari tanah dan ditarik ke depan oleh otot (ditunjukkan dengan warna merah di Gambar 26.22C)
yang berasal dari tulang rusuk dan sisipkan pada kulit ventral. Gerakan rectilinear merupakan
cara yang lambat namun efektif untuk bergerak secara mencolok terhadap mangsa. Sisi-berliku
adalah bentuk gerakan keempat yang memungkinkan ular beludak gurun bergerak dengan
kecepatan mengejutkan di permukaan berpasir dengan kontak minimum pada permukaan
(Gambar 26.22D). Perut ular bergerak dengan melemparkan tubuhnya ke depan dalam
lingkaran dengan tubuhnya tergeletak pada sudut sekitar 60 derajat ke arah perjalanannya.

Kebanyakan ular menangkap mangsanya dengan menggenggamnya di mulut dan


menelannya saat masih hidup. Untuk menelan mangsa, ular berjuang, menendang, menggigit,
sehingga kebanyakan ular yang menelan mangsa yang hidup mengkhususkan diri pada mangsa
yang lebih kecil, seperti cacing, serangga, ikan, katak, dan, lebih jarang, mamalia kecil. Banyak
ular yang mungkin cukup cepat dalam menemukan mangsa dengan secara aktif mencari makan.
Ular yang pertama membunuh mangsanya dengan penyempitan (Gambar 26.23) sering
mengkhususkan pada mangsa mamalia besar.
(Sumber : Hickman et al. 2001)

gambar : 26.24 (Sumber : Hickman et al. 2001)

Ular mampu membunuh dan menelan mangsa sebesar rusa, macan tutul, dan buaya. Namun,
karena penataan tulang otot yang memungkinkan mangsa konstriksi juga mengurangi
kecepatan perjalanan, kebanyakan cenderung menyergap mangsa.
Ular lainnya membunuh mangsanya sebelum menelannya dengan cara
menyuntikkannya dengan racun. Kurang dari 20% dari semua ular berbisa, meskipun spesies
berbisa keluar dari spesies non-invasif 4 sampai 1 di Australia. Ular berbisa biasanya dibagi
menjadi lima famili. sebagian besar dikelompokkan berdasarkan jenis taring. Viper (keluarga
Viperidae) memiliki taring tubular yang sangat maju, mudah bergerak, dan bergerak di bagian
depan mulut mereka. Famili ini termasuk ular belut Amerika yang kekurangan lubang
penginderaan panas wajah. Di antara adalah adder Eropa umum dan puff adder Afrika. Famili
ular berbisa kedua (keluarga Elapidae) memiliki taring pendek dan permanen di bagian depan
mulut mereka. Dalam kelompok ini contohnya adalah ular kobra (Gambar 26.24), mambas,
ular karang, dan kilauan. Ular laut yang sangat berbisa biasanya ditempatkan pada keluarga
ketiga (Hydrophiidae). Pada ular cacing fosil (keluarga Atractaspidi-dae) biasanya memiliki
taring yang mirip dengan ular beludak, meskipun hubungan mereka dengan ular berbisa lainnya
tidak jelas. Keluarga Colubridae yang sangat besar, yang berisi ular yang paling dikenal (dan
nonvenomous), termasuk beberapa ular yang menyebabkan kematian pada manusia. contohnya
adalah booming Afrika dan ular ranting Afrika, keduanya ular berbulu belakang yang biasanya
menggunakan racunnya untuk Mencari mangsa.
Ular subfamili Crotalinae dalam famili Viperidae disebut pit viper karena mereka
memiliki organ pit sensitif khusus (lubang loreal) di kepala mereka, terletak di antara nostrils
dan mata mereka (Gambar 26.21 dan 26.25). Semua ular berbisa Amerika Utara yang paling
terkenal adalah pit vipers, seperti cotton-mouths, copperheads, dan rattlesnakes. Lubang-
lubang itu disuplai dengan pengikatan ujung saraf bebas yang padat dari saraf kranial ke lima.
Dengan ini dapat merespons energi radiasi dalam gelombang inframerah dengan panjang (5000
sampai 15.000 nm) dan sangat sensitif terhadap panas yang dipancarkan oleh burung dan
mamalia bertubuh sehat yang merupakan makanan mereka (panjang gelombang inframerah
sekitar 10.000 nm). Beberapa pengukuran menunjukkan bahwa organ pit dapat membedakan
perbedaan suhu hanya 0,003 C dari permukaan yang memancar. Pit viper menggunakan organ
pit untuk melacak mangsa berdarah panas dan untuk mengarahkan pemogokan, yang dapat
mereka lakukan dalam kegelapan seperti di siang hari. Konstruktor Boa dan ular piton juga
memiliki reseptor panas (di bibir mereka), namun anatominya sangat berbeda dengan ular pit.
Hal ini menunjukkan bahwa reseptor panasnya berevolusi secara independen.
(Sumber : Hickman et al. 2001)

Semua ular beludak memiliki sepasang gigi, bermodifikasi seperti taring pada tulang
maksilar. Ini terletak pada selubung selaput ketika mulut tertutup. Ketika sebuah viper
menyerang, sistem pengikat otot dan tuas khusus membentuk taring saat mulut terbuka
(Gambar 26.26). Taring didorong ke dalam mangsanya dan racun disuntikkan ke dalam luka
melalui saluran di taring. Seekor ular berbisa segera melepaskan mangsanya setelah menggigit
dan mengikutinya sampai lumpuh atau mati. Kemudian ular itu menelan mangsanya. Gigitan
ular bisu bisa berbahaya bagi manusia, meski dalam banyak kasus ular menyuntikkan sedikit
racun saat menggigitnya. Setiap tahun di Amerika Serikat sekitar 7000 gigitan dari pit ular
beludak dilaporkan, mengakibatkan hanya sekitar 5 kematian.
Bahkan air liur ular yang tidak berbahaya memiliki racun yang terbatas kualitas, dan
masuk akal bahwa ada seleksi alam untuk kecenderungan beracun ini saat ular berevolusi. Bisa
ular terbagi menjadi dua jenis. Tipe neurotoxic bekerja terutama pada sistem saraf, yang
mempengaruhi saraf optik (menyebabkan kebutaan) atau saraf frenik diafragma (menyebabkan
kelumpuhan pernapasan). Tipe hemorrhagin memecah sel darah merah dan pembuluh darah
dan menghasilkan hem-orraging darah yang luas ke dalam ruang jaringan. Sebenarnya,
kebanyakan bisa ular adalah campuran kompleks dari berbagai pecahan yang menyerang organ
yang berbeda dengan cara tertentu sehingga jarang dapat ditugaskan secara kategoris ke satu
atau jenis tradisional lainnya. Selain itu, semua bisa ular memiliki enzim yang mempercepat
pencernaan.
Toksisitas racun diukur dengan dosis mematikan median pada hewan percobaan (LD
50). Dengan standar ini, ven-oms ular harimau Australia dan beberapa ular laut tampaknya
paling mematikan. Namun, beberapa ular yang lebih besar lebih berbahaya. Ular kobra yang
agresif, yang panjangnya bisa melebihi 5,5 m, adalah ular berbisa terbesar dan mungkin yang
paling berbahaya dari semua ular berbisa. Diperkirakan di seluruh dunia bahwa 50.000 sampai
60.000 orang meninggal karena gigitannya setiap tahun. Sebagian besar kematian terjadi di
India, Pakistan, Myanmar, dan negara-negara terdekat dimana orang-orang yang sering
bersentuhan dengan ular berbisa dan sering tidak segera mendapat perawatan medis ketika
terkena gigitan ular. Ular yang menyebabkan kematian di daerah ini adalah ular berbisa seperti
Russell, saw viper, dan beberapa spesies kobra.

(Sumber : Hickman et al. 2001)

LD 50 (median lethal dose) telah menjadi prosedur standar untuk menguji toksisitas
obat; awalnya dikembangkan pada tahun 1920 oleh ahli farmakologi. Dalam prakteknya,
sampel kecil hewan laboratorium, biasanya tikus yang terkena serangkaian dosis obat atau
toksin bergradasi. Dosis yang membunuh 50% hewan pada periode tes dicatat sebagai LD 50.
Karena mahal dan memakan waktu, sehingga prosedur klasik ini digantikan dengan metode
alternatif yang sangat mengurangi jumlah hewan yang dibutuhkan. Diantara alternatif ini
adalah tes sitotoksisitas yang mengevaluasi kemampuan zat uji untuk membunuh sel, dan
prosedur toksikinetik yang mengukur interaksi obat atau toksin dengan sistem kehidupan.
Kebanyakan ular bertipe ovipar (L. ovum, egg, parere, to bring forth) spesies yang
meletakkan telur elips yang menetas di bawah kayu busuk, di bawah batu, atau di lubang di
tanah. Sebagian besar sisanya, termasuk semua ular pari Amerika, kecuali bushmaster tropi,
bertipe ovovivipar (L. ovum, telur, vivus, hidup, parere, untuk melahirkan), melahirkan anak
muda yang terbentuk dengan baik yang diberi makan oleh kuning telur sementara di dalam
rahim Sangat sedikit ular menunjukkan plasenta (L. vivus, hidup, + parere, untuk melahirkan)
pada ular ini, plasenta memungkinkan pertukaran materi antara aliran darah embrio dan ibu.
Ular mampu menyimpan sperma dan bisa meletakkan beberapa cengkeraman telur subur pada
interval panjang setelah satu kawin.
5. Archosauria
Ordo Thecodontia
Spesies dari ordo ini hidup pada zaman triasic dan sekarang tinggal fosilnya saja.
Thecodont ini memiliki karakteristik bentuk primitive,seperti fenestra antorbital. Serta
memiliki gigi socket yang tertanam dirahang yang disebut dengan tipe thecodont (Brusatte et
al., 2010).

(Sumber : https://en.wikipedia.org/wiki/Thecodontia)
Ordo Crocodilia
Buaya modern adalah satu-satunya reptil yang merupakan keturunan dari archosaurian
yang memunculkan radikal Mesozoikawan dinosaurus. Meskipun buaya modern termasuk
dalam klade yang memulai radiasi pada periode Kapur akhir, mereka sedikit berbeda dalam
rincian struktural dari buaya primitif Mesozoik awal. Sebagian besar tetap tidak berubah
selama hampir 200 juta tahun, buaya memiliki perkembangbiakan yang sedikit terganggu oleh
campur tangan manusia. Buaya modern dibagi menjadi tiga famili: aligator dan caimans,
kebanyakan adalah kelompok baru di dunia; buaya, yang didistribusikan secara luas dan
termasuk buaya air asin, salah satu reptil nonavian terbesar; dan gharials, diwakili oleh satu
spesies di India dan Burma.
Semua buaya memiliki tengkorak yang memanjang, kuat dan otot-otot rahang masif
yang disusun untuk memberikan gape yang lebar dan penutupan yang cepat dan kuat. Gigi
diletakkan di soket, sejenis gigi yang disebut theodod yang khas dari archosaurus Mesozoik
dan juga burung paling awal. Adaptasi lain, yang tidak ditemukan pada vertebrata lain kecuali
mamalia, adalah palatum sekunder yang lengkap. Inovasi ini mendorong nares internal ke
posterior, yang memungkinkan buaya untuk bernapas ketika mulutnya dipenuhi dengan air atau
makanan (atau keduanya). Buaya juga berbagi dengan burung dan mamalia dengan hati empat
bilik dengan atrium dan ventrikel terbagi sepenuhnya. Buaya juga berbagi dengan burung dan
mamalia dengan jantung yang terbangi menjadi empat bilik dengan atrium dan ventrikel terbagi
sepenuhnya.
Buaya muara, Crocodylus porosus, ditemukan di Asia selatan, dan buaya Nil, C.
niloticus, (Gambar 26.28A) tumbuh dengan ukuran besar (dengan berat 1000 kg), cepat dan
agresif. Buaya dikenal menyerang hewan sebesar ternak, rusa, dan manusia. Aligator (Gambar
26.28B) biasanya kurang agresif dibanding buaya dan sedikit lebih bahaya bagi manusia. Di
Amerika Serikat, Alligator mississippiensis (Gambar 26.28B) adalah satu-satunya spesies
buaya; Crocodylus acutus pada Florida selatan yang ekstrim, adalah satu-satunya spesies
buaya. aliran besar, merupakan hewan yang sangat kuat, dan hampir tidak memiliki musuh
kecuali manusia. Celah kulit mereka adalah tahap perkembangan mereka. Sarang anak buaya
yang tidak The celah kulit mereka adalah tahap perkembangan mereka. Sarang anak buaya
yang tidak dijaga oleh induknya hampir dipastikan akan ditemukan oleh beberapa mamalia
yang menyukai telur, dan anak buaya dapat dimakan oleh ikan besar atau burung yang
mengarungi.

Alga jantan membuat bellow keras selama musim kawin. Aligator dan buaya bersifat
ovipar. Biasanya 20 sampai 50 butir telur diletakkan di tengah vegetasi mati atau dikuburkan
di pasir dan dijaga oleh induk. Induk mendengar vokalisasi dari menetas muda dan merespon
dengan membuka sarang untuk memungkinkan tukik untuk melarikan diri. Seperti banyak
kura-kura dan beberapa kadal, suhu inkubasi telur menentukan rasio jenis kelamin
keturunannya. Namun, tidak seperti penyu (571) suhu sarang rendah hanya menghasilkan
betina, sedangkan suhu sarang tinggi hanya menghasilkan jantan.

(Sumber : Hickman et al. 2001)

Hal ini menghasilkan rasio seks yang sangat tidak seimbang di beberapa daerah.
Misalnya, di satu daerah studi di Louisiana, betina jumlahnya lebih banyak dari jantan.
Buaya dan aligator dapat dibedakan atas dasar morfologi kepala. Buaya memiliki
ukuran yang relatif sempitmoncong, dan saat mulut mereka tertutup, gigi rahang bawah
keempat terlihat di tempat ia menyentuh takik pada rahang atas. Aligator umumnya memiliki
moncong yang lebih luas, dan gigi rahang bawah keempat mereka tersembunyi saat mulut
tertutup (Gambar 26.28). Gharials memiliki moncong yang sangat sempit, dan sebagian besar
adalah pemakan ikan.

Ordo Pterosauria (flyiing reptiles)


Karakteristik (Hickman et al, 2001):
 (Pteron=bersayap; sauros=kadal)

 Hidup pada masa mesozoik

 Memiliki sayap membraneus

 Penyebarannya luas

 Contohnya: Pterosaurus

(Sumber : https://en.wikipedia.org/wiki)
Ordo Saurischia (reptile like dinosaurus)
Karakteristik (Hickman et al, 2001):
 (Sauros=kadal, ischio=bentuk)

 Merupakan dinosaurus masa mesozoik

 Hewan yang berjalan dengan 2 kaki bersifat karnivora,hewan yang berjalan dengan 4
kaki bersifat herbivora.
 Memiliki struktur pinggang reptil primitive.

 Contohnya: Omeisaurus tianfuensis dan Theropod.

Gambar : Theropod. (Sumber : https://blogs.scientificamerican.com/tetrapod-


zoology/files/2014/07/Davide-Bonnadonna-theropod-size-evolution-600-px-tiny-July-August-
Darren-Naish-Tetrapod-Zoology.jpg)

Gambar : Omeisaurus tianfuensis (Sumber :


http://dinosaurs.comparespecies.com/PImg/Omeisaurus540Normal_200.jpg)

Ordo Ornithischia
Karakteristik (Hickman et al, 2001):
 (Ornis=burung, ischion=bentuk)

 Merupakan dinosaurus masa mesozoik

 Hewan herbivora berparuh

 Bentuk menyerupai burung

 Contohnya: Ornitischia
(Sumber:https://www.newdinosaurs.com/wpcontent/uploads/2016/01/8_triceratops_nobu_tamur
a.jpg)

6. Subkelas Synapsida
Ordo Pelycosauria
Ordo Pelycosauria (Gr. Pelyx= mangkuk; sauros= kadal)
Karakteristik (Hickman et al, 2001):

 Hidup pada masa karbon dan Permian.


 Hewan herbivora dan karnivora.
 Berukuran cukup besar, beberapa kecil.
 Mengembangkan sirip yang tinggi dari pemanjangan tulang belakang.

Contohnya adalah Dimetrodon dan Edaphosaurus

(Sumber : https://dibgd.deviantart.com/art/Dimetrodon-limbatus-117157991)
Ordo Therapsida
Ordo Therapsida (Gr. Ther = buas; apsis = lengkung, lubang)
Karakteristik (Hickman et al, 2001):
 Hidup pada masa premian dan triassic.
 Memiliki beberapa ciri seperti hewan mamalia.
 Herbivore dan karnivora

Contohnya adalah Cynognathus

(Sumber : http://www.alamy.com/stock-photo-palaeozoology-triassic-period-reptiles-cynognathus-
art-work-by-)

2.4 Manfaat Kelas Reptil Pada Kehidupan Sehari-hari


Beberapa jenis ular dan buaya berguna bagi manusia karena memangsa golongan
hewan rodentia dan serangga yang mengganggu (hama). Selain itu kulitnya sudah lama
dimanfaatkan oleh manusia untuk keperluan pembuatan tas, sepatu, ikat pinggang dan hiasan
lainnya. Kulit keras dari kura-kura/penyu juga dimanfaatkan manusia untuk sisir dan macam
hiasan yang lain (sendok/dsb), sedangkan daging dan telurnya di Negara-negara tertentu
dipakai untuk konsumsi makanan manusia.

3. Penutup
3.1 Kesimpulan
a) Ciri Umum Reptilia : Spesies hidup sekitar 6000 jenis. Warna tubuh beraneka ragam yang
berfungsi sebagai penyamaran dengan latar belakang lingkungannya dan dengan hal ini
hewan dapat bersembunyi dan terlindungi. Tipe sisik reptil adalah superfisial dan umumnya
berganti secara berkala. Pada beberapa spesies memiliki karapak dan plastron yang
merupakan tempurung dorsal dan ventral yang melindungi tubuh. Terdapat spesies yang
tidak memiliki kaki. Kulit dilindugi oleh sisik dari keratin. Terdapat cakar diujung digiti.
Ektotermik, fertilisasi internal, dan bernapas dengan paru-paru.
b) Pada sistem yang ada pada reptile yaitu mulai dari sistem rangka, sistem otot, sistem
sirkulasi, sistem pencernaan, sistem pernafasan, sistem urogenital, sistem saraf, organ
indera, dan kelenjar endokrin sudah mulai ada peningkatan jika dibandingkan dengan
kelas amphibi.
c) Sebagian besar ahli taksonomi membagi Kelas Reptil menjadi enam subkelas, yaitu:
(1) Anapsida , (2) Synaptosauria, (3) Ichthyopterygia, (4) Lepidosauria, (5) Archosauria,
dan (6) Synapsida.
d) Manfaat kelas reptile dari kehidupan sehari-hari yaitu mencakup ekonomi, social dan
pangan. Sosialnya yaitu Beberapa jenis ular dan buaya berguna bagi manusia karena
memangsa golongan hewan rodentia dan serangga yang mengganggu (hama).
Ekonominya yaitu beberapa kulit dari buaya ataupun ular dapat dijadikan sebagai
barang yang bisa dijual seperti tas, jaket, sabuk, dll. Dan untuk kebutuhan pangan
beberapa daging dan telur kura-kura di Negara tertentu dikonsumsi untuk makanan
manusia.

Daftar pustaka
Brusatte, S.L., Benton, M.J., Desojo, J.B., dan Langer, M.C. 2010. The higher-level phylogeny
of Archosauria (Tetrapoda: Diapsida). Journal of Systematic Palaeontology, Vol. 8,
Issue 1

Hickman et al. 2001. Integrated Principles of Zoology. Eleventh Edition.New York:


McGraw-Hill Companies.
Hickman, C.P., Roberts, L.S., Keen, S.L., Larson, A., I’Anson, H., dan Eisenhour, D.J. 2008.
Integrated Principles of Zoology, Fourteenth Edition. New York: McGraw-Hill
Companies.

Kastawi, Yusuf dkk. 2005. Zoologi Vertebrata. Malang : Universitas Negeri Malang (UM
Press).

Masjhudi, dkk. 2014. Buku Handout Keanekaragaman Hewan. Universitas Negeri Malang,
Jurusan Biologi.