Anda di halaman 1dari 33

BAB I

PENDAHULUAN

1.1. Latar Belakang


Sinusitis merupakan penyakit yang sering ditemukan dalam praktek
dokter sehari-hari, bahkan dianggap sebagai salah satu penyebab gangguan
kesehatan tersering di seluruh dunia. Sinusitis umumnya disertai peradangan di
hidung (rhinitis), sehingga sering disebut rhinosinusitis.1 Kurang lebih 10
sampai 15 juta orang di dunia mengalami gejala sinusitis tiap tahunnya. Insidens
kasus baru rinosinusitis pada penderita dewasa yang datang di Divisi Rinologi
Departemen THT RSCM Januari-Agustus 2005, adalah 435 pasien, 69% (300
pasien) adalah sinusitis.2
Definisi sinusitis sendiri adalah inflamasi atau peradangan yang terjadi
pada mukosa sinus paranasal. Sinusitis sering disebut dengan rinosinusitis
karena umumnya sinusitis dipicu oleh rhinitis. Agen penyebab sinusitis adalah
infeksi virus kemudian diikuti infeksi bakteri dan jamur. Sinusitis bisa terjadi
pada salah satu, beberapa atau semua sinus. Sinusitis yang mengenai beberapa
sinus disebut multisinusitis, dan apabila mengenai semua sinus disebut
pansinusitis.1
Sinus yang paling sering terkena adalah sinus etmoid dan sinus maksila,
sedangkan sinus frontal jarang terjadi dan sinus sfenoid lebih jarang lagi.1
Gejala sinusitis sangat mempengaruhi aktivitas penderita seperti nyeri kepala,
hidung tersumbat, post-nasal drip, kelemahan, halitosis dan dyspepsia. Sinusitis
dapat menyebabkan komplikasi ke orbita, intracranial, oseteomielitis, abses
subperiostal dan kelainan paru.1

1
BAB II
LAPORAN KASUS

2.1. Identitas Pasien


Nama : Ny. O
Jenis Kelamin : Perempuan
Umur : 28 tahun
Agama : Islam
Pekerjaan : Ibu Rumah Tangga
Pendidikan : SD
Masuk RS : 29 Januari 2019
No. RM : 03-25-69-21

2.2. Anamnesis Pasien


Keluhan Utama : Hidung tersumbat
Keluhan Tambahan : Pusing Kepala
Riwayat Penyakit Sekarang :
Pasien datang dengan keluhan kedua hidung tersumbat yang hilang timbul
sejak 1 tahun yang lalu namun semakin memberat sejak beberapa bulan terakhir
ini. Pasien juga mengatakan hidungnya sering keluar cairan berwarna bening,
jumlah sedikit, tidak berbau dan tidak ada darah. Sering terasa ada cairan yang
turun dari belakang hidung ke tenggorokan. Pasien juga mengatakan terkadang
seperti mencium bau busuk. Pasien juga mengatakan kepalanya sering pusing.
Pusing dirasakan terus menerus. Pusing juga disertai nyeri seperti ditusuk-tusuk
dan terasa berat sewaktu sujud. Pasien juga mengatakan pipi kanan dan kirinya
terasa kemeng, sakit dan nyeri. Pasien mengatakan adanya riwayat sering bersin-
bersin dan hidung terasa gatal pada pagi dan malam hari. Sejak 1 tahun yang lalu,
pasien beberapa kali mengalami gejala serupa namun lebih ringan sehingga tidak
terlalu menganggapinya dan hanya minum obat pilek biasa namun tidak ada
perubahan. Riwayat pernah mimisan disangkal. Keluhan demam dan batuk
disangkal. Gangguan pada penciumannya disangkal.

2
Riwayat Penyakit Dahulu :
Pasien baru pertama kali mengalami keluhan seperti ini. Pasien memiliki
riwayat sering batuk, pilek, dan nyeri tenggorok . Riwayat penyakit amandel
disangkal. Pasien memiliki riwayat maag. Riwayat asma disangkal. Riwayat
operasi disangkal. Riwayat penyakit hipertensi, kencing manis, dan batuk-batuk
lama disangkal.
Riwayat Penyakit Keluarga : Tidak ada
Riwayat Alergi : Ada (Alergi Debu, Asap dan Dingin)
Riwayat Pengobatan : Pasien sedang konsumsi obat untuk program
memiliki anak

2.3. Pemeriksaan Fisik Pasien


TELINGA KANAN KIRI
Nyeri Tekan Tragus (-) (-)
Auriculer Normal Normal
Liang Telinga Lapang Lapang
Isi Liang Telinga Serumen (-) Serumen (-)
Membran Timpani Intak, Reflek Cahaya (+) Intak, Reflek cahaya (+)

HIDUNG KANAN KIRI

Kavum Nasi Sempit Sempit

Sekret (-) (-)

Konka Hipertrofi Hipertrofi

TENGGOROKAN KANAN KIRI


Lidah Bersih Bersih
Uvula Di tengah Di tengah
Faring Hiperemis (-) Hiperemis (-)
Tonsil To To
Dinding posterior faring Hiperemis (-) Hiperemis (-)

3
2.4. Diagnosis Pasien
Diagnosis utama : Rhinitis alergi
Diagnosis tambahan : Susp. Sinusitis

2.5. Pemeriksaan Penunjang


Foto rontgen sinus paranasal

Pemeriksaan Thorax : Normal

4
Pemeriksaan laboratorium

2.6. Penatalaksanaan Pasien


Operasi :
Antrostomi sinus maksilla
Turbinektomi inferior konka
Terapi medikamentosa post operasi:
Cefotaxim 1A/12 jam
Ibuprofen 3x1 tab
Asam traneksamat 500 mg.

2.7. Prognosis Pasien


Quo ad vitam : Dubia ad bonam
Quo ad functionam : Dubia ad bonam
Quo ad sanationam : Dubia ad bonam

5
BAB III
TINJAUAN PUSTAKA

3.1 Anatomi Sinus Paranasal


Sinus paranasal terdiri dari empat pasang, yaitu sinus frontal, sinus etmoid,
sinus maksila, dan sinus sfenoid. Sinus-sinus ini pada dasarnya adalah rongga-rongga
udara yang berlapis mukosa di dalam tulang wajah dan tengkorak. Pembentukannya
dimulai sejak dalam kandungan, akan tetapi hanya ditemukan dua sinus ketika baru
lahir yaitu sinus maksila dan etmoid.3 Sinus frontal mulai berkembang dari sinus etmoid
anterior pada usia sekitar 8 tahun dan menjadi penting secara klinis menjelang usia 13
tahun, terus berkembang hingga usia 25 tahun. Pada sekitar 20% populasi, sinus frontal
tidak ditemukan atau rudimenter, dan tidak memiliki makna klinis. Sinus sfenoidalis
mulai mengalami pneumatisasi sekitar usia 8 hingga 10 tahun dan terus berkembang
hingga akhir usia belasan atau dua puluhan.6 Dinding lateralnasal mulai sebagai
struktur rata yang belum berdiferensiasi. Pertumbuhan pertama yaitu pembentukan
maxilloturbinal yang kemudian akan menjadi kokha inferior. Selanjutnya,
pembentukan ethmoturbinal , yang akan menjadi konka media, superior dan supreme
dengan cara terbagi menjadi ethmoturbinal pertama dan kedua. Pertumbuhan ini diikuti
pertumbuhan sel-sel ager nasi, prosesus uncinatus, dan infundibulum etmoid. Sinus-
sinus kemudian mulai berkembang. Rangkaian rongga, depresi, ostium dan prosesus
yang dihasilkan merupakan struktur yang kompleks yang perlu dipahami secara detail
dalam penanganan sinusitis, terutama sebelum tindakan bedah.3 Tulang-tulang
pembentuk dinding lateral hidung dijelaskan dalam gambar 1.4

Gambar 1. Sinus paranasal

6
Dari struktur di atas, dapat dilihat atap kavum nasi dibentuk oleh tulang-tulang
nasal, frontal, etmoid, sfenoid dan dasar kavum nasi dibentuk oleh maksila dan prosesus
palatina, palatina dan prosesus horizontal. Gambar 1 menunjukkan anatomi tulang-
tulang pembentuk dinding nasal bagian lateral. Tiga hingga empat konka menonjol dari
tulang etmoid, konka supreme, superior, dan media. Konka inferior dipertimbangkan
sebagai struktur independen.4 Masing-masing struktur ini melingkupi ruang di baliknya
di bagian lateral yang disebut meatus, seperti terlihat pada gambar 2.

gambar 2. Sinus Paranasal


Sebuah lapisan tulang kecil menonjol dari tulang etmoid yang menutupi muara
sinus maksila di sebelah lateral dan membentuk sebuah jalur di belakang konka media.
Bagian tulang kecil ini dikenal sebagai prosesus unsinatus.3 Jika konka media diangkat,
maka akan tampak hiatus semilunaris dan bulla etmoid seperti tampak pada gambar 3.
Dinding lateral nasal bagian superior terdiri dari sel-sel sinus etmoid yang ke arah
lateral berbatasan dengan epitel olfaktori dan lamina kribrosa yang halus.
Superoanterior dari sel-sel etmoid terdapat sinus frontal. Aspek postero-superior dari
dinding lateral nasal merupakan dinding anterior dari sinus sfenoid yang terletak di
bawah sela tursika dan sinus kavernosa.4

gambar 3. Sinus paranasal

7
Sinus paranasal dalam kondisi normal mengalirkan sekresi dari mukosa ke
daerah yang berbeda dalam kavum nasi seperti terlihat dalam gambar 4. Aliran sekresi
sinus sfenoid menuju resesus sfenoetmoid, sinus frontal menuju infundibulum meatus
media, sinus etmoid anterior \menuju meatus media, sinus etmoid media menuju bulla
etmoid dan sinus maksila menuju meatus media. Struktur lain yang mengalirkan sekresi
ke kavum nasi adalah ductus nasolakrimalis yang berada kavum nasi bagian anterior.4

gambar 4. Sinus paranasal

3.2 Fisiologi Sinus Paranasal


Sampai saat ini belum ada kesesuaian pendapat mengenai fisiologi sinus paranasal.
Beberapa pendapat:1
1. Sebagai pengatur kondisi udara (air conditioning)
Sinus berfungsi sebagai ruang tambahan untuk memanaskan dan mengatur
kelembaban udara inspirasi. Keberatan terhadap teori ini ialah ternyata tidak
didapati pertukaran udara yang definitif antara sinus dan rongga hidung.
Volume pertukaran udara dalam ventilasi sinus kurang lebih 1/1000 volume
sinus pada tiap kali bernafas, sehingga dibutuhkan beberapa jam untuk
pertukaranudara total dalam sinus. Lagipula mukosa sinus tidak mempunyai
vaskularisasi dan kelenjar yang sebanyak mukosa hidung.
2. Sebagai penahan suhu (termal insulators)
Sinus paranasal berfungsi sebagai penahan (buffer) panas, melindungi orbita
dan fossa serebri dari suhu rongga hidung yang berubah-ubah.
3. Membantu keseimbangan kepala
Bila udara dalam sinus diganti dengan tulang, hanya akan memberikan
pertambahan berat sebesar 1% dari berat kepala, sehingga teori dianggap tidak
bermakna.

8
4. Membantu resonansi suara
Akan tetapi ada yang berpendapat, posisi sinus dan ostiumnya tidak
memungkinkan sinus berfungsi sebagai resonator yang efektif. Lagipula tidak
ada korelasi antara resonansi suara dan besarnya sinus pada hewan-hewan
tingkat rendah.
5. Sebagai peredam perubahan tekanan udara
Fungsi ini berjalan bila ada perubahan tekanan yang besar dan mendadak,
misalnya pada waktu bersin atau membuang ingus.
6. Membantu produksi mucus
Mukus yang dihasilkan oleh sinus paranasal jumlahnya kecil dibandingkan
dengan mucus dari rongga hidung, namun efektif untuk membersihkan partikel
yang turut masuk dengan udara inspirasi karena mucus ini keluar dari meatus
medius, tempat yang paling strategis.

3.3 Definisi Sinusitis


Sinusitis adalah radang mukosa sinus paranasal. Sesuai anatomi sinus yang
terkena, dapat dibagi menjadi sinusitis maksila, sinusitis ethmoid, sinusitis frontal, dan
sinusitis sfenoid. Bila mengenai beberapa sinus disebut multisinusitis, sedangkan bila
mengenai semua sinus paranasal disebut pan sinusitis.1

3.4 Klasifikasi Sinusitis


Sinusitis dapat dibagi berdasarkan letak anatomi (sinusitis maksilaris, frontalis,
etmoid, dan sfenoidalis), berdasarkan organisme penyebab (virus, bakteri dan fungi),
berdasarkan ada tidaknya komplikasi ke luar sinus (seperti adanya komplikasi
osteomyelitis pada tulang frontal) dan secara klinis sinusitis dapat dikatagorikan
sebagai sinusitis akut bila gejalanya berlangsung dari beberapa hari sampai 4 minggu,
sinusitis subakut berlangsung lebih dari 4 minggu tapi kurang dari 3 bulan dan sinusitis
kronik bila lebih dari 3 bulan.1
Berdasarkan beratnya penyakit, rinosinusitis dapat dibagi menjadi ringan,
sedang dan berat berdasarkan total skor visual analogue scale (VAS) (0-10cm) :5
- Ringan = VAS 0-3
- Sedang = VAS >3-7
- Berat = VAS >7-10

9
3.5 Patogenesis Sinusitis
Kesehatan sinus dipengaruhi oleh patensi ostium-ostium sinus dan kelancaran
klirens dari mukosiliar di dalam kompleks osteo meatal (KOM). Disamping itu mukus
juga mengandung substansi antimikrobial dan zat-zat yang berfungsi sebagai
pertahanan terhadap kuman yang masuk bersama udara pernafasan.1 Bila terinfeksi
organ yang membentuk KOM mengalami oedem, sehingga mukosa yang berhadapan
akan saling bertemu sehingga silia tidak dapat bergerak dan lendir tidak dapat dialirkan.
Maka terjadi gangguan drainase dan ventilasi didalam sinus, sehingga silia menjadi
kurang aktif dan lendir yang diproduksi mukosa sinus menjadi lebih kental dan
merupakan media yang baik untuk tumbuhnya bakteri patogen.7
Bila sumbatan berlangsung terus akan terjadi hipoksia dan retensi lendir
sehingga timbul infeksi oleh bakteri anaerob. Selanjutnya terjadi perubahan jaringan
menjadi hipertrofi, polipoid atau pembentukan kista. Polip nasi dapat menjadi
manifestasi klinik dari penyakit sinusitis. Polipoid berasal dari edema mukosa, dimana
stroma akan terisi oleh cairan interseluler sehingga mukosa yang sembab menjadi
polipoid. Bila proses terus berlanjut, dimana mukosa yang sembab makin membesar
dan kemudian turun ke dalam rongga hidung sambil membentuk tangkai, sehingga
terjadilah polip.6 Perubahan yang terjadi dalam jaringan dapat disusun seperti dibawah
ini, yang menunjukkan perubahan patologik pada umumnya secara berurutan :6
1. Jaringan submukosa di infiltrasi oleh serum, sedangkan permukaannya kering.
Leukosit juga mengisi rongga jaringan submukosa.
2. Kapiler berdilatasi, mukosa sangat menebal dan merah akibat edema dan
pembengkakan struktur subepitel. Pada stadium ini biasanya tidak ada kelainan
epitel.
3. Setelah beberapa jam atau sehari dua hari, serum dan leukosit keluar melalui
epitel yang melapisi mukosa. Kemudian bercampur dengan bakteri, debris,
epitel dan mukus. Pada beberapa kasus perdarahan kapiler terjadi dan darah
bercampur dengan sekret. Sekret yang mula-mula encer dan sedikit, kemudian
menjadi kental dan banyak, karena terjadi koagulasi fibrin dan serum.
4. Pada banyak kasus, resolusi terjadi dengan absorpsi eksudat dan berhentinya
pengeluaran leukosit memakan waktu 10 – 14 hari.
5. Akan tetapi pada kasus lain, peradangan berlangsung dari tipe kongesti ke tipe
purulen, leukosit dikeluarkan dalam jumlah yang besar sekali. Resolusi masih
mungkin meskipun tidak selalu terjadi, karena perubahan jaringan belum

10
menetap, kecuali proses segera berhenti. Perubahan jaringan akan menjadi
permanen, maka terjadi perubahan kronis, tulang di bawahnya dapat
memperlihatkan tanda osteitis dan akan diganti dengan nekrosis tulang.6
Perluasan infeksi dari sinus kebagian lain dapat terjadi :
(1) Melalui suatu tromboflebitis dari vena yang perforasi;
(2) Perluasan langsung melalui bagian dinding sinus yang ulserasi atau nekrotik;
(3) Dengan terjadinya defek; dan
(4) melalui jalur vaskuler dalam bentuk bakterimia. Masih dipertanyakan
apakah infeksi dapat disebarkan dari sinus secara limfatik.6

3.6 Diagnosis Sinusitis


A. Sinusitis akut
Anamnesis

Gejala mayor Gejala minor

Nyeri atau rasa tertekan pada wajah Sakit kepala

Sekret nasal purulen Batuk

Demam Rasa lelah

Kongesti nasal Rasa lelah

Obstruksi nasal Halitosis

Hiposmia atau anosmia Nyeri gigi

Gejala subyektif terdiri dari gejala sistemik dan gejala lokal. Gejala sistemik ialah
demam dan rasa lesu. Gejala lokal pada hidung terdapat ingus kental yang kadang-
kadang berbau dan dirasakan mengalir ke nasofaring. Dirasakan hidung tersumbat, rasa
nyeri didaerah infraorbita dan kadang-kadang menyebar ke alveolus, sehingga terasa
nyeri di gigi. Nyeri alih dirasakan di dahi dan di depan telinga. Penciuman terganggu
dan ada perasaan penuh dipipi waktu membungkuk ke depan. Terdapat perasaan sakit
kepala waktu bangun tidur dan dapat menghilang hanya bila peningkatan sumbatan
hidung sewaktu berbaring sudah ditiadakan.1,7
Gejala obyektif, pada pemeriksaan sinusitis maksila akut akan tampak
pembengkakan di pipi dan kelopak mata bawah. Pada rinoskopi anterior tampak

11
mukosa konka hiperemis dan edema. Pada sinusitis maksila, sinusitis frontal dan
sinusitis etmoid anterior tampak mukopus atau nanah di meatus medius. Pada rinoskopi
posterior tampak mukopus di nasofaring (post nasal drip).1
Pemeriksaan fisik
Pada Inspeksi yang diperhatikan adalah ada tidaknya pembengkakan pada muka,
pipi sampai kelopak mata atas/bawah yang berwarna kemerahan. Pada palpasi dapat
sinus paranasal ditemukan nyeri tekan dan tenderness.1
Rhinoskopi anterior dengan atau tanpa dekongestan. Untuk menilai status dari
mukosa hidung dan ada tidaknya,warna cairan yang keluar. Kelainan anatomis juga
dapat dinilai dengan pemeriksaan ini. Pemeriksaan transiluminasi pada sinus maksila
dan frontal dapat menunjukkan adanya gambaran gelap total, apabila hanya sebagian
dinyatakan tidak spesifik.1

Gambar 5. Pus pada meatus medius

Gambar 6. Pembengkakan pipi pada pasien sinusitis

1. Sinusitis Maksilaris
Nyeri pipi menandakan sinusitis maksila. Gejala sinusitis maksilaris akut
berupa demam, malaise dan nyeri kepala yang tak jelas yang biasanya reda dengan
pemberian analgetik biasa seperti aspirin. Wajah terasa bengkak, penuh, dan gigi terasa
nyeri pada gerakan kepala mendadak, misalnya sewaktu naik atau turun tangga.

12
Seringkali terdapat nyeri pipi khas yang tumpul dan menusuk, serta nyeri pada palpasi
dan perkusi. Sekret mukopurulen dapat keluar dari hidung dan terkadang berbau
busuk.1 Dari pemeriksaan fisik didapatkan adanya pus dalam hidung, biasanya dari
meatus media, atau pus atau sekret mukopurulen dalam nasofaring. Sinus maksilaris
terasa nyeri pada palpasi dan perkusi. Transluminasi berkurang bila sinus penuh cairan.
Pada pemeriksaan radiologik foto polos posisi waters dan PA, gambaran sinusitis
maksilaris akut mula-mula berupa penebalan mukosa, selanjutnya diikuti opasifikasi
sinus lengkap akibat mukosa yang membengkak hebat, atau akibat akumulasi cairan
yang memenuhi sinus. Akhirnya terbentuk gambaran air-fluid level yang khas akibat
akumulasi pus.

2. Sinusitis Etmoidalis
Sinusitis etmoidalis akut terisolasi lebih lazim pada anak, seringkali
bermanifestasi sebagai selulitis orbita. Dari anamnesis didapatkan nyeri yang dirasakan
di pangkal hidung dan kantus medius, kadang-kadang nyeri di bola mata atau di
belakangnya, terutama bila mata digerakkan. Nyeri alih di pelipis, post nasal drip dan
sumbatan hidung. Pemeriksaan fisik didapatkan nyeri tekan pada pangkal hidung.1

3. Sinusitis Frontalis
Nyeri berlokasi di atas alis mata, biasanya pada pagi hari dan memburuk
menjelang tengah hari, kemudian perlahan-lahan mereda hingga menjelang malam.
Pasien biasanya menyatakan bahwa dahi terasa nyeri bila disentuh dan mungkin
terdapat pembengkakan supra orbita. Pemeriksaan fisik, nyeri yang hebat pada palpasi
atau perkusi di atas daerah sinus yang terinfeksi merupakan tanda patognomonik pada
sinusitis frontalis.1

4. Sinusitis Sfenoidalis
Sinusitis sfenoidalis dicirikan oleh nyeri kepala yang mengarah ke verteks
kranium. Penyakit ini lebih lazim menjadi bagian dari pansinusitis dan oleh karena itu
gejalanya menjadi satu dengan gejala infeksi sinus lainnya.
Pemeriksaan penunjang
Pada pemeriksaan transluminasi, sinus yang sakit akan menjadi suram atau gelap.
Transluminasi bermakna bila salah satu sinus yang sakit, sehingga tampak lebih suram
dibandingkan dengan sisi yang normal.1,7

13
Pemeriksaan radiologik yang dibuat adalah posisi waters. Akan tampak
perselubungan atau penebalan mukosa atau batas cairan-udara (air fluid level) pada
sinus yang sakit. 1,7

Gambar 7. Gambaran suatu sinus yang opak


Pemeriksaan mikrobiologik atau biakan hapusan hidung dilakukan dengan
mengambil sekret dari meatus medius. Mungkin ditemukan bermacam-macam bakteri
yang merupakan flora normal atau kuman patogen, seperti Pneumokokus, Streptokokus,
Stafilokokus dan Haemofilus influenza. Selain itu mungkin ditemukan juga virus atau
jamur.1

B. Sinusitis Kronis
Anamnesis
Keluhan umum yang membawa pasien sinusitis kronis untuk berobat biasanya
adalah kongesti atau obstruksi hidung. Keluhan biasanya diikuti dengan malaise, nyeri
kepala setempat, sekret di hidung, sekret pasca nasal (post nasal drip) , gangguan
penciuman dan pengecapan.8
Pada rinoskopi anterior dapat ditemukan sekret kental purulen dari meatus
medius. Pada rinoskopi posterior tampak sekret purulen di nasofaring atau turun ke
tenggorok.1

14
Pemeriksaan penunjang
Transluminasi1
Transluminasi dapat dipakai untuk memeriksa sinus maksilaris dan sinus frontal,
bila fasilitas pemeriksaan radiologik tidak tersedia. Bila pada pemeriksaan
transluminasi tampak gelap didaerah infraorbita, mungkin berarti antrum terisi oleh pus
atau mukosa antrum menebal atau terdapat neoplasma di dalam antrum. Bila terdapat
kista yang besar didalam sinus maksila, akan tampak terang pada pemeriksaan
transluminasi.
Radiologi8
Pemeriksaan radiologik pada sinusitis kronis tidak dianjurkan, penggunaannya
dibatasi hanya untuk sinusitis maksilaris akut atau sinusitis frontalis.
CT scan8

Gambar 8. CT Scan memperlihatkan penebalan mukosa sinus.


CT scan salah satu modalitas yang dapat digunakan untuk mengidentifikasi dan
mengevaluasi anatomi dan patologi sinus.
Staging dapat dilakuan dengan menggunakan CT scan. Sistem staging ini
sederhana, mudah diingat dan sangat efektif untuk mengklasifikasikan sinusitis kronis.
Staging ini membantu dalam perencanaan operasi dan hasil terapi. Stagging didasarkan
pada perluasan penyakit setelah terapi medis. Stagging tersebut terbagi atas:9
- stage I : satu fokus penyakit
- stage II : penyakit noncontiguous melalui labirin ethmoid
- stage III : difuse yang responsif terhadap pengobatan
- stage IV : difuse yang tidak responsif dengan pengobatan.

15
3.7 Tatalaksana Sinusitis
Tujuan utama penatalaksanaan sinusitis adalah:
1. Mempercepat penyembuhan
2. Mencegah komplikasi
3. Mencegah perubahan menjadi kronik.
Sinusitis akut dapat diterapi dengan pengobatan (medikamentosa) dan
pembedahan (operasi).1
Penatalakanaan yang dapat diberikan pada pasien sinusitis akut, yaitu:
Pada sinusitis akut, diberikan amoksisilin (40 mg/kgbb/hari) yang merupakan
first line drug, namun jika tidak ada perbaikan dalan 48-72 jam, dapat diberikan
amoksisilin/klavulanat. Sebaiknya antibiotik diberikan selama 10-14 hari.1
Pada kasus sinusitis kronis, antibiotik diberikan selama 4-6 minggu sebelum
diputuskan untuk pembedahan. Dosis amoksisilin dapat ditingkatkan sampai 90
mg/kgbb/hari. Pada pasien dengan gejala berat atau dicurigai adanya komplikasi
diberikan antibiotik secara intravena. Sefotaksim atau seftriakson dengan klindamisin
dapat diberikan pada Streptococcus pneumoniae yang resisten.1

Terapi tambahan: Terapi tambahan meliputi pemberian antihistamin,


dekongestan, dan steroid.

Antihistamin: antihistamin merupakan kontra indikasi pada sinusitis, kecuali


jelas adanya etiologi alergi. Pemberian antihistamin dapat mengentalkan sekret
sehingga menimbulkan penumpukan sekret di sinus,dan memperberat sinusitis.1

Dekongestan: dekongestan topikal seperti oksimetazolin, penileprin akan


menguntungkan jika diberikan pada awal tata laksana sinusitis. Aktifitasnya akan

16
mengurangi edem atau inflamasi yang mengakibatkan obstruksi ostium, meningkatkan
drainase sekret dan memperbaiki ventilasi sinus. Pemberian dekongestan dibatasi
sampai 3-5 hari untuk mencegah ketergantungan dan rebound nasal decongestan.
Pemberian dekongestan sistemik, seperti penilpropanolamin, pseudoefedrin dapat
menormalkan ventilasi sinus dan mengembalikan fungsi pembersih mukosilia.
Dekongestan sistemik dapat diberikan sampai 10-14 hari. 1

Steroid : steroid topikal dianjurkan pada sinusitis kronis. Steroid akan


mengurangi edem dan inflamasi hidung sehingga dapat memperbaiki drainase sinus.
Untuk steroid oral, dianjurkan pemberiannya dalam jangka pendek mengingat efek
samping yang mungkin timbul. 1
Untuk membedakan pengobatan medikamentosa sinusitis yang spesifik pada
pengobatan : 1
i. Terapi awal:
- Amoxicillin 875 mg per oral 2 kali sehari selama 10 hari, atau
- TMP-SMX 160mg-800mg per oral 2 kali sehari selama 10 hari
ii. Pasien dengan paparan antibiotik dalam 30 hari terakhir
- Amoxicillin 1000 mg per oral 2 kali sehari selama 10 hari, atau
- Amoxicillin/Clavulanate 875 mg per oral 2 kali sehari selama 10 hari,atau
- Levofloxacin 500 mg per oral sekali sehari selama 7 hari.
iii.Pasien dengan gagal pengobatan
- Amoxicillin 1500mg dengan klavulanat 125 mg per oral 2 kali sehari selama
10 hari, atau
- Amoxicillin 1500mg per oral 2 kali sehari dengan Clindamycin 300 mg per
oral 4 kali sehari selama 10 hari, atau
- Levofloxacin 500 mg per oral sekali sehari selama 7 hari.

Diatermi: Diatermi gelombang pendek selama 10 hari dapat membantu


penyembuhan sinusitis dengan memperbaiki vaskularisasi sinus. 1

Pembedahan: Untuk pasien yang tidak responsif dengan terapi medikamentosa


yang maksimal, tindakan bedah perlu dilakukan. Indikasi bedah apabila ditemukan
perluasan infeksi intrakranial seperti meningitis, nekrosis dinding sinus disertai
pembentukan fistel, pembentukan mukokel, selulitis orbita dengan abses dan keluarnya

17
sekret terus menerus yang tidak membaik dengan terapi konservatif.24Beberapa
tindakan pembedahan pada sinusitis antara lain adenoidektomi, irigasi dan drainase,
septoplasti, andral lavage, caldwell luc dan functional endoscopic sinus surgery
(FESS).Terdapat tiga pilihan operasi yang dapat dilakukan pada sinusitis maksilaris,
yaitu unisinektomi endoskopik dengan atau tanpa antrostomi maksilaris, prosedur
Caldwell-Luc, dan antrostomi inferior. Saat ini, antrostomi unilateral dan unisinektomi
endoskopik adalah pengobatan standar sinusitis maksilaris kronis refrakter. Prosedur
Caldwell-Luc dan antrostomi inferior antrostomy jarang dilakukan. 1

Algoritma tatalaksana sinusitis Akut

18
Algoritma tatalaksana Sinusitis Kronik

Algoritma Tatalaksana Sinusitis Kronik tanpa polip bagi Spesialis THT

19
Algoritma Tatalaksana Sinusitis Kronik dengan polip bagi Spesialis THT

3.8 Komplikasi Sinusitis


Komplikasi sinusitis telah menurun secara nyata sejak ditemukannya antibiotika.
Komplikasi biasanya terjadi pada sinusitis akut atau pada sinusitis kronis dengan
eksaserbasi akut. Komplikasi yang dapat terjadi adalah:1

Komplikasi Orbita
Komplikasi ini dapat terjadi karena letak sinus paranasal yang berdekatan
dengan mata (orbita). Sinusitis etmoidalis merupakan penyebab komplikasi orbita yang
tersering kemudian sinusitis maksilaris dan frontalis. Terdapat lima tahapan terjadinya
komplikasi orbita ini.1
a. Peradangan atau reaksi edema yang ringan
b. Selulitis orbita. Edema bersifat difus dan bakteri telah secara aktif menginvasi isi
orbita namun pus belum terbentuk
c. Abses subperiosteal. Pus terkumpul di antara periorbita dan dinding tulang orbita
menyebabkan proptosis dan kemosis

20
d. Abses periorbita. Pada tahap ini, pus telah menembus periosteum dan bercampur
dengan isi orbita
e. Trombosis sinus kavernosus. Komplikasi ini merupakan akibat penyebaran bakteri
melalui saluran vena ke dalam sinus kavernosus di mana selanjutnya terbentuk
suatu tromboflebitis septic.

Gambar 9. Komplikasi penyakit sinus pada orbita


Komplikasi Intrakranial1
Komplikasi ini dapat berupa meningitis, abses epidural, abses subdural, abses
otak.

Gambar 10 Sistem vena sebagai jalur perluasan komplikasi ke intrakranial

21
Kelainan Paru1
Adanya kelainan sinus paranasal disertai dengan kelaian paru ini disebut
sinobronkitis. Sinusitis dapat menyebabkan bronchitis kronis dan bronkiektasis. Selain
itu juga dapat timbul asma bronkhial.
Osteomielitis1
Paling sering timbul akibat sinusitis frontal dan biasanya ditemukan pada anak-
anak. Pada osteomielitis sinus maksila dapat timbul fistula oroantral atau fistula pada
pipi

3.9 Pencegahan Sinusitis


Tidak ada cara yang pasti untuk menghindari baik sinusitis yang akut atau kronis.
Tetapi di sini ada beberapa hal yang dapat membantu:

- Menghindari kelembaban sinus - gunakan saline sprays atau sering diirigasi.


- Hindari lingkungan indoor yang sangat kering.
-
Hindari terpapar yang dapat menyebabkan iritasi, seperti asap rokok atau aroma
bahan kimia yang keras.10

3.10 Prognosis Sinusitis


Prognosis untuk penderita sinusitis akut yaitu sekitar 40 % akan sembuh secara
spontan tanpa pemberian antibiotik. Terkadang juga penderita bisa mengalami relaps
setelah pengobatan namun jumlahnya sedikit yaitu kurang dari 5 %. Komplikasi dari
penyakit ini bisa terjadi akibat tidak ada pengobatan yang adekuat yang nantinya akan
dapat menyebabkan sinusitis kronik, meningitis, brain abscess, atau komplikasi extra
sinus lainnya.
Sedangkan prognosis untuk sinusitis kronik yaitu jika dilakukan pengobatan yang
dini maka akan mendapatkan hasil yang baik.

22
3.11 Definisi Rinitis Alergi
Rinitis alergi adalah penyakit inflamasi yang disebabkan oleh reaksi alergi
pada pasien atopi yang sebelumnya sudah tersensitasi dengan alergen yang sama serta
dilepaskannya mediator kimia ketika terjadi paparan ulangan dengan alergen spesifik
tersebut. Menurut WHO ARIA tahun 2001, rinitis alergi adalah kelainan pada hidung
dengan gejala bersin-bersin, rinore, rasa gatal dan tersumbat setelah mukosa hidung
terpapar alergen yang diperantarai oleh Ig E.11

3.12 Etiologi Rinitis Alergi


Immunoglobulin (Ig)E yang termediasi merupakan penyebabnya,
termediasinya IgE ini dikarenakan adanya respon hipersensitifitas tipe 1 dari tubuh
terhadap partikel allergen, pada umumnya allergen yang sering menyebabkan
termediasinya IgE ini seperti halnya partikel yang bisa terbawa oleh angin dan sering
berada pada sekitar lingkungan yaitu debu, spora jamur, serbuk sari, asap rokok, bulu
binatang, kapuk.11

3.13 Klasifikasi Rinitis Alergi


Alergi Menurut waktu timbulnya gejala, rinitis alergi dapat dibagi menjadi rinitis alergi
intermiten (seasonal-acute-occasional allergic rhinitis) dan rinits alergi persisten
(perennial-chronic-long duration rhinitis) 12
1. Rinitis alergi intermiten
Kelompok yang memiliki gejala rinitis alergi intermiten mengalami gejala yang
hilang timbul, berlangsung selama kurang dari 4 hari dalam seminggu atau kurang
dari 4 minggu. Di negara yang memiliki 4 musim, seperti negara-negara Amerika
dan Eropa dapat dijumpai gejala rinitis alergi yang disebabkan oleh serbuk bunga
sehingga disebut sebagai rinitis alergi musiman atau hay fever.12,13
2. Rinitis alergi persisten
Gejala alergi persisten timbul selama 4 hari dalam seminggu atau gejala yang
menetap lebih dari 4 minggu bahkan bisa terjadi sepanjang tahun. Alergi terhadap
tungau debu rumah adalah penyebab terpenting, sedangkan pada pasien rinitis
dengan asma lebih sering alergen berupa jamur dan kadang bulu binatang. Gejala
mencolok dari rinitis alergi persisten berupa hidung tersumbat.12,13

23
Tabel 1 klasifikasi rinitis alergi berdasarkan berat gejala menurut WHO-ARIA16
Ringan (mild) Sedang – berat (Moderate-Severe)
1. Tidur tidak terganggu 1. Tidur terganggu
2. Aktifitas normal, tidak 2. Aktifitas sehari-hari
terganggu terganggu
3. Tidak mengganggu 3. Mengganggu kegiatan kerja
kegiatan kerja dan dan sekolah
sekolah 4. Gejala menyusahkan
4. Ada gejala, namun tidak
menyusahkan

3.14 Patofisiologi
Tahapan inflamasi yang terjadi pada rinitis alergi adalah tahap sensitisasi
yang diikuti dengan tahap provokasi atau reaksi alergi. Reaksi alergi yang
terjadi terdiri dari 2 fase: Reaksi alergi fase cepat (RAFC) atau Immediate
Phase Allergic Reaction yang berlangsung sejak kontak dengan alergen hingga
1 jam. Reaksi alergi fase lambat (RAFL) atau Late Phase Allergic Reaction,
berlangsung 2-4 jam dan dapat berlangsung hingga 24-48 jam paska kontak
dengan alergen. Fase hiperaktif atau masa puncaknya berlangsung pada 6-8 jam
setelah kontak dengan alergen.13,14

Pada tahap sensitisasi alergen berupa tungau, bulu kucing atau anjing, serbuk
bunga dan lainnya akan masuk ke saluran pernapasan atas dan melewati lapisan
mukosa hidung. Alergen yang masuk akan ditangkap oleh antigen precenting
cells (APC). Fragmen peptide yang terbentuk dari antigen akan membentuk
komplek peptide MHC kelas II setelah bergabung dengan molekul HLA kelas
II. MHC kelas II ini dihantarkan ke sel T limfosit. Sel penyaji atau APC akan
melepaskan sitokin IL1 yang akan mengaktifkan Th0 menjadi Th1 dan Th2. Sel
T limfosit 2 (Th2) yang teraktivasi akan menghasilkan sitokin IL3, IL4, IL5 dan
IL13. Sitokin IL-4 dan IL-13 yang dihasilkan ini akan berikatan dengan reseptor
di permukaan sel limfosit B sehingga sel limfosit B teraktifasi. Sel limfosit B
yang diaktifkan akan memproduksi immunoglobulin E (IgE). Immunoglobulin
E (IgE) yang berada di sirkulasi akan ditangkap oleh reseptornya di permukaan
basofil atau sel mastosit sehingga kedua sel ini akan menjadi aktif. Jika saat

24
mukosa hidung yang sudah tersensitisasi terkena alergen yang sama, maka
alergen tersebut akan diikat oleh kedua rantai IgE sehingga terjadi degranulasi
mastosit dan basofil yang mengakibatkan terlepasnya mediator kimia yang telah
terbentuk, yaitu histamin. Selain histamin, ada beberapa mediator kimia lain
yang dikeluarkan, yaitu prostaglandin D2 (PGD2), leukotrien D4 (LTD4),
leukotrien C4 (LTC4), bradikinin, platelet activating factor (PAF) dan sitokin-
sitokin lainnya. Fase inilah yang disebut dengan fase reaksi alergi cepat.13,14,15

Histamin yang dikeluarkan akibat reaksi pada fase cepat akan berikatan
dengan reseptor H1 di ujung saraf vidianus sehingga menimbulkan rasa gatal
pada hidung dan bersin-bersin. Kelenjar mukosa dan sel goblet akan terangsang
juga oleh histamin sehingga terjadi hipersekresi mukus dan permeabilitas
kapiler meningkat. Proses akibat hipersekresi mukus dan peningkatan
permeabilitas kapiler akan menyebabkan salah satu keluhan pada pasien rinitis
yaitu rinorea. Efek lain dari histamin yang berikatan dengan reseptornya di
pembuluh darah adalah vasodilatasi. Vasodilatasi sinusoid akibat histamin akan
menyebabkan terjadinya penyumbatan rongga hidung. Inter Cellular Adhesion
Molecule (ICAM 1) juga akan dikeluarkan oleh mukosa hidung akibat
rangsangan histamin.13

Pada fase cepat, kemotaktik juga akan dikeluarkan oleh sel mastosit. Keadaan
ini akan menyebabkan akumulasi sel netrofil dan eosinofil di jaringan target.
Respon ini dapat berlangsung hingga 6-8 jam setelah pemaparan. Fase lambat
atau RAFL ditandai dengan peningkatan jumlah sel-sel inflamasi seperti
eosinofil, limfosit, netrofil, basofil dan mastosit di mukosa hidung. Sitokin-
sitokin seperti IL3, IL4, IL5, Granulocyte Macrophage Colony Stimulating
Factor (GMCSF) dan ICAM1 juga akan meningkat jumlahnya di sekret hidung.
Gejala hiperaktif yang terjadi akibat peranan eosinofil dengan mediator
inflamasi dari granulnya seperti Eosinophilic Cationic Protein (ECP),
Eosinophilic Derived Protein (EDP), Major Basic Protein (MBP) dan
Eosinophilic Peroxidase (EPO). Selain karena faktor antigen atau alergen, iritasi
mukosa hidung dapat diperberat oleh faktor lingkungan, yaitu asap rokok, bau
yang merangsang, perubahan cuaca dan kelembaban udara.12,13

25
3.15 Gejala klinik

Gejala klinik rinitis alergi yang khas ialah terdapatnya serangan bersin yang
berulang. Histamin merupakan mediator utama terjadinya bersin. Bersin
umumnya merupakan gejala RAFC, berlangsung selama 1-2 menit pasca
terkena pacuan alergen d ihubungkan dengan degranulasi mastosit (terlepasnya
histamin), dan hanya kadang-kadang terjadi pada RAFL. Bersin disebabkan
stimulasi reseptor H1 pada ujung saraf vidianus (C fiber nerve ending). Peptida
endotelin-1 yang dioleskan pada mukosa hidung menyebabkan bersin. Bersin
merupakan gejala normal, yang merupakan mekanisme fisiologik yaitu
pembersihan diri (self cleaning process). Bersin dianggap patologik, bila
terjadinya lebih dari lima kali setiap serangan, terutama merupakan gejala pada
reaksi alergi fase cepat dan kadang-kadang pada reaksi alergi fase lambat
sebagai pelepasan histamin.14,15

Gejala lain adalah keluar ingus (rinore) yang encer dan banyak, rinore
didefinisikan sebagai pengeluaran sekresi kelenjar membran mukosa hidung
yang berlebihan, dimulai dalam tiga menit pasca acuan alergen dan berakhir
pada sekitar 20-30 menit kemudian. Rinore merupakan gejala dan dominan
sepanjang RAFC tetapi juga dapat sepanjang RAFL. Sekresi kelenjar ini
merupakan akibat terangsangnya saraf parasimpatis dan mengalirnya cairan
plasma dan molekul-molekul protein besar melewati dinding kapiler pembuluh
darah hidung. Histamin yang dilepas mastosit penyebab utama beringus, yang
diduga karena histamin meningkatkan permeabilitas vaskuler melalui reaksi
langsung pada reseptor H1. Dalam respon terhadap pacuan alergen, rinore dapat
terjadi pada hidung kontralateral. Hal ini disebabkan terjadinya refleks
nasonasal dan sepertinya diperantarai asetilkolin karena dapat dihambat oleh
atropin pre-treatment. 14,15

Jadi rinore merupakan hasil induksi alergen akibat kombinasi proses


penurunan permeabilitas vaskuler, hipersekresi kelenjar mukosa hidung
ipsilateral, dan akibat refleks kelenjar mukosa hidung kontralateral. Pacuan
hidung dengan leukotrien dan bradikinin juga menyebabkan rinore melalui
mekanisme peningkatan permeabilitas vaskuler dan hipersekresi kelenjar. 14,15

26
Hidung tersumbat merupakan kemacetan aliran udara yang tidak menetap,
tetapi terjadi secara temporer akibat kongesti sementara yang bersifat
vasodilatasi vaskuler. Mekanisme vasodilatasi ini diperantarai reseptor-H1
yang berakibat pelebaran cavernous venous sinusoid dalam mukosa konka,
sehingga terjadi peningkatan tahanan udara dalam hidung. Peningkatan
aktivitas parasimpatis juga menyebabkan vasodilatasi dengan akibat buntu
hidung, namun pengaruhnya kecil saja. Vasodilatasi vaskuler hidung lebih
dipengaruhi oleh sejumlah mediator antara lain histamin, bradikinin, PGD2,
LTC4, LTD4, PAF. Hidung tersumbat akibat histamin sepanjang RAFC
berlangsung singkat sajat, tidak lebih dari 30 menit setelah bersin-bersin.
Sepanjang RAFL, peran histamin terhadap vasodilatasi vaskuler juga kecil saja,
namun peran leukotrien (LTC4,LTD4) pada vasodilatasi adalah sepuluh kali
lebih kuat dibanding histamin. Provokasi hidung dengan LTD4 menyebabkan
peningkatan tahanan udara hidung, tanpa rasa gatal, tanpa bersin-bersin dan
tanpa beringus. PGD2 dan bradikinin juga jauh lebih kuat dalam menimbulkan
hidung tersumbat. Hidung dan mata gatal, yang kadang-kadang disertai dengan
banyak air mata keluar (lakrimasi). Sering kali gejala yang timbul tidak lengkap,
terutama pada anak. Kadang-kadang keluhan hidung tersumbat merupakan
keluhan utama atau satu-satunya gejala yang diutarakan oleh pasien. Gejala
spesifik lain pada anak ialah terdapatnya bayangan gelap di daerah bawah mata
yang terjadi karena stasis vena sekunder akibat obstruksi hidung. Gejala ini
disebut allergic shiner. Selain dari itu sering juga tampak anak menggosok-
gosok hidung karena gatal dengan punggung hidung, Keadaan ini disebut
allergic salute. Keadaan menggosok hidung ini lama kelamaan akan
mengakibatkan timbulnya garis melintang di dorsum nasi bagian sepertiga
bawah yang disebut allergic crease.`14,15

3.16 Diagnosa Rinitis Alergi

Penegakan diagnosis rinitis alergi melalui anamnesis, pemeriksaan fisik


serta dapat ditunjang dengan pemeriksaan laboratorium.12 Gambar.1
menjelaskan mengenai cara penegakan diagnosis klinis rinitis alergi.

Hidung bagian depan


berait (rinorea) dan bersin

27
Mungkin Tidak Bukan
Ya
alergi Alergi
Anamnesis

Hampir 50% diagnosis rinitis alergi dapat ditegakkan dengan anamnesis. Bersin yang
berulang merupakan gejala khas dari rinitis alergi, namun kadang-kadang keluhan
hidung tersumbat merupakan keluhan utama atau gejala satu-satunya yang diutarakan
oleh pasien.13

Pemeriksaan Fisik

Pemeriksaan fisik THT, yaitu rinoskopi anterior dapat menunjukkan edema mukosa,
pucat atau livid, basah dan disertai sekret yang encer. Mukosa inferior dapat tampak
hipertrofi bila pada keadaan yang persisten. Gejala spesifik lain yang dapat dilihat pada
saat melakukan pemeriksaan fisik ialah pada bagian bawah mata terdapat bayangan
gelap atau allergic shiner serta tanda-tanda lain yang dapat terlihat adalah allergic salute,
allergic crease, facies adenoid, cablestone appearance dan geographic tongue
khususnya pada anak.13,14

Pemeriksaan Penunjang

Pemeriksaan laboratorium sederhana pada hitung jenis leukosit menunjukkan


peningkatan kadar eosinofil (eosinofilia), namun dapat juga normal. Begitu pula dengan
hitung kadar IgE total dalam darah (prist-paper radio immunosorbent test) dapat
menunjukkan kadar normal, kecuali pada seseorang yang memiliki lebih dari satu
macam penyakit alergi. Pemeriksaan ini dapat digunakan untuk memprediksi
kemungkinan alergi pada seorang bayi atau anak dari keluarga yang memiliki riwayat
atopi tinggi. Pemeriksaan lain yang juga dapat membantu adalah sitologi hidung,
namun pemeriksaan ini hanya sebagai pelengkap bukan untuk memastikan diagnosis.
Uji cukit kulit dapat menentukan agen penyebab reaksi alergi. Skin End-point Titration
(SET) dapat dilakukan pada orang yang dicurigai memiliki alergi terhadap inhalan. Uji
kulit yang akhir-akhir ini banyak digunakan adalah Intracutaneus Provocative
Dilutional Food Test (IPDFT) untuk alergen berupa makanan. Namun Challenge test
sebagai baku emas bisa tetap dilakukan dengan cara diet eliminasi dan provokasi.13

3.17 Penatalaksanaan

Pilihan terapi dalam penatalaksanaan rinitis alergi ada banyak macamnya.


Terapi yang paling ideal adalah penghindaran kontak dengan alergen penyebab reaksi

28
alergi dan eliminasi. Untuk terapi farmakologi pun ada banyak jenis pilihan yang dapat
digunakan dalam menatalaksana pasien dengan rinitis alergi.13,16

Antihistamin H1

Antihistamin H1 merupakan obat yang dapat mencegah histamin yang telah


dikeluarkan oleh sel mast dan basofil untuk berikatan dengan reseptornya yang ada di
kulit dan mukosa khususnya dalam hal ini di hidung. Sediaan antihistamin H1 ada yang
berupa oral dan topikal. Sediaan oral dibagi kedalam 2 generasi. Generasi pertama ialah
klorfeniramin maleat, difenhidramin dan clemastin yang memiliki efek sedasi. Adapun
generasi kedua dari golongan ini diantaranya adalah loratadin dan setirizin yang tidak
memiliki efek sedasi. Astemisol merupakan generasi kedua dari golongan ini, namun
memiliki efek kardiotoksik. Sediaan topikal dapat berupa intranasal, contoh dari bentuk
topikal ini adalah olapatadin dan azelastin.13,16

Glukokortikoid

Golongan glukokortikoid yang digunakan sebagai terapi rinitis alergi adalah


glukokortikoid topikal intranasal. Cara kerja glukokortikoid dalam mengatasi gejala
rinitis alergi adalah dengan cara menurunkan reaksi yang ditimbulkan oleh hiper-reaktif
mukosa hidung dan sebagai anti inflamasi lokal. Preparat yang tersedia antara lain
beklometasone dipropionate.13,16

Dekongestan oral

Dekongestan merupakan preparat yang sering digunakan untuk meredakan gejala pilek
yaitu hidung tersumbat, seperti gejala yang ditimbulkan oleh rinitis alergi. Dekongestan
bekerja sebagai vasokontriktor sehingga edema yang terjadi di konka dapat teratasi dan
gejala hidung tersumbat pun hilang. Preparat yang tersedia antara lain efedrin,
pseudoefedrin, fenileprin dan propanolamin. 13,16

3.18 Komplikasi

Rinitis alergi adalah penyakit alergi yang sering dijumpai di seluruh dunia.
Rinitis alergi bukan hanya menyebabkan keadaan yang menyusahkan, tetapi juga
memberi kontribusi variasi komplikasi seperti sinusitis, otitis media dan asma. Telah
diketahui, bahwa alergi memberikan kontribusi terhadap otitis media. Tetapi bukti yang
ada bertentangan. Beberapa studi tidak menerangkan prevalensi yang lebih besar pada

29
penderita atopi dan alergi pada otitis media dibandingkan dengan subjek kontrol yang
normal sehingga hal tersebut mungkin bisa terjadi bahwa perubahan patologis yang
berhubungan dengan rinitis dapat mengakibatkan obstruksi di tuba Eustachius dengan
disfungi dan efusi telinga tengah. Hal ini terlihat bahwa otitis media serosa bukan suatu
penyakit alergi tetapi sering merupakan komplikasi dari alergi hidung, khususnya pada
anak-anak. Hubungan antara alergi dan sinusutis ada dua. Yang pertama, alergi
mungkin memberikan konstribusi terhadap obstruksi pada ostium sinus, dalam hal ini
mewakili faktor predisposisi. Yang kedua, rinitis alergi perenial memiliki beberapa
bentuk sinusitis kronis, khususnya sekret hidung dan obstruksi. Rinitis alergi dan asma
bronkial sering terjadi bersamaan, sebagai contoh, pasien yang menderita RA musiman
berat biasanya akan menimbulkan gejala mengi musiman yang memuncak dan rasa
terikat di dada. Hal ini penting untuk terapinya yang berhubungan dengan asma. Lebih
dari itu, pengobatan rinitis dengan perbaikan jalan nafas pada hidung juga dapat
memperbaiki gejala asma Beberapa komplikasi atau penyulit rinitis alergi dapat berupa
otitis media efusi, rinosinusitis, penyakit alergi lain (asma dan eksim) serta dapat
mengganggu kualitas hidup penderita yang dapat mempengaruhi kehidupan bersosial
dan bermasyarakat.12,13,14,15,16

30
BAB IV
KESIMPULAN

Sinus paranasal terdiri dari empat pasang, yaitu sinus frontal, sinus etmoid, sinus
maksila, dan sinus sfenoid. Sinus paranasal dalam kondisi normal mengalirkan sekresi
dari mukosa ke daerah yang berbeda dalam kavum nasi.

Sinusitis adalah suatu peradangan pada sinus yang terjadi karena alergi atau
infeksi virus, bakteri maupun jamur. Sinusitis bisa terjadi pada salah satu dari keempat
sinus yang ada (maksilaris, etmoidalis, frontalis atau sfenoidalis). Sinusitis bisa bersifat
akut (berlangsung selama 3 minggu atau kurang) maupun kronis (berlangsung selama
3-8 minggu tetapi dapat berlanjut sampai berbulan-bulan bahkan bertahun-tahun).

Keluhan utama sinusitis akut adalah hidung tersumbat disertai nyeri atau tekanan
pada wajah dan sekret purulen, yang seringkali turun ke tenggorokan (post nasal drip).

Diagnosis ditegakkan berdasarkan anamnesis, pemeriksaan fisik dan


pemeriksaan penunjang.

Prinsip penatalaksanaan sinusitis adalah mempercepat penyembuhan, mencegah


komplikasi dan mencegah perubahan menjadi kronik.

Prognosis untuk penderita sinusitis akut yaitu sekitar 40 % akan sembuh secara
spontan tanpa pemberian antibiotik. Terkadang juga penderita bisa mengalami relaps
setelah pengobatan namun jumlahnya sedikit yaitu kurang dari 5 %. Komplikasi dari
penyakit ini bisa terjadi akibat tidak ada pengobatan yang adekuat yang nantinya akan
dapat menyebabkan komplikasi orbita atau intrakranial.

31
DAFTAR PUSTAKA

1. Soepardi EA, Iskandar HN. Buku Ajar Ilmu Kesehatan Telinga Hidung dan
Tenggorok Kepala Leher.Edisi 6, Balai Penerbit FKUI, Jakarta : 2007.
2. Data Poli Rawat Jalan Sub Bagian Rinologi, Bagian THT FKUI – RSUPN Dr.
Cipto Mangunkusumo, Jakarta 2000-2005.
3. Quinn FB. Paranasal Sinus Anatomy and Function. 29 Januari 2019.Diunduh
dari http://www.utmb.edu/otoref/Grnds/Paranasal-Sinus-2002-01/Paranasal-
sinus-2002-01.htm.
4. Norman W. Nasal Cavity, Paranasal Sinuses, Maxillary Division of
Trigeminal Nerve. 1999. Diunduh dari
http://home.comcast.net/~wnor/lesson9.htm.
5. Fokkens W, Lund V, Mullol J. European Position Paper on Nasal Polyps.
2007
6. Ballenger. J. J., Infeksi Sinus Paranasal. Penyakit Telinga, Hidung dan
Tenggorok Kepala dan Leher. Ed 13 (1). Jakarta : Binaputra Aksara. 1994; hal
: 232 – 41
7. Sobol E. Sinusitis, Acute, Medical Treatment. Available from:
http://www.emedicine.com/ent/topic337.htm
8. Razek A. Sinusitis, Chronic, Medical Treatment. Available from:
http://www.emidicine.com/ent/topic338.htm
9. Waguespack R, 1995, Mucociliary Clearance Patterns Following Endoscopic
Sinus Surgery, Laryngoscope(Supplement):p 1-40
10. Hilger PD. Disease of Parasanal Sinuses. Adam GL Boies LRJK Hilger
Fundametal of Oyolaryngology,6th ed. Philadelphia ; Sounders Company,
1990.p49 – 270
11. Soetjipto D, Mangunkusumo e. Buku Ajar Ilmu Kesehatan Telinga Hidung
Tenggorok Kepala Leher. 5th ed. Jakarta: Fakultas Kedokteran Universitas
Indonesia; 2006. 88-94
12. Kholid Yahya. Skripsi: Prevalensi dan Faktor Risiko Kejadian Rinitis Alergi
pada Usia 13-14 tahun di Ciputat Timur dengan Menggunakan Kuesioner
Internasional Study of Asthma and Allergy in Chindhood (ISAAC) Tahun
2013. Diunduh dari
http://repository.uinjkt.ac.id/dspace/bitstream/123456789/26431/1/YAHYA%
20KHOLID-FKIK.pdf pada Februari 2019.
13. Irawati N, Kasakeyan E, Rusmono N. Rinitis Alergi. Dalam: Buku Ajar Ilmu
Kesehatan Telinga Hidung Tenggorok Kepala dan Leher. Ed 6. Jakarta: Balai
Penerbit FKUI; 2007. Hal 128-134
14. Pawankar R, Mori S, Ozu C, Kimura S. Overview on Pathomechanisms of
Allergic Rhinitis. Asia Pac Allergy. 2011 Sept; 1 (3): p 157-167
15. Ghanie Abla, Temu Ilmiah Akbar Lustrum IX (Dies Natalies ke 45) FK
UNSRI: Penatalaksanaan Rhinitis Alergi Terkini 2007. Diunduh dari
https://www.google.com/url?sa=t&rct=j&q=&esrc=s&source=web&cd=2&ca
d=rja&uact=8&ved=0ahUKEwiAmJTAm9TXAhWLpY8KHZ9pADoQFggt

32
MAE&url=http%3A%2F%2Feprints.unsri.ac.id%2F876%2F1%2FPenatalaksa
naan_Rhinitis_Alergi_Terkini.pdf&usg=AOvVaw36T_PzOMkzJlwWVLjHu5
p- pada 2 Februari 2019.
16. World Health Organization, GA2LEN, Allergen. ARIA (Allergic Rhinitis and
its Impact to Asthma) 2008 update. Diunduh dari
http://onlinelibrary.wiley.com/doi/10.1111/j.1398-9995.2007.01620.x/epdf 3
Februari 2019

33