Anda di halaman 1dari 14

BAB III

TINJAUAN TENTANG PEMILU DAN PARTAI POLITIK DI INDONESIA

A. Pengertian Partai politik dan Pemilihan Umum


1 Pengertian Partai Politik.

Secara etimologi, kata partai berasal dari bahasa latin, dari kata “partire” yang

berarti membagi. Kata partai baru di kenal di dalam istilah politik pada abad ke 17. 1

Menurut Miriam Budiarjo, Partai politik adalah suatu kelompok terorganisir yang

anggota-anggotanya mempunyai orientasi, nilai-nilai, dan cita-cita yang sama. Tujuan

kelompok ini adalah untuk memperoleh kekuasaan politik dan merebut kedudukan

politik, biasanya dengan cara konstitusionil untuk melaksanakan kebijakan-kebijakan

mereka.2

Menurut Undang-Undang Nomor 2 Tahun 2011 tentang partai politik,

pengertian partai politik adalah organisasi yang bersifat nasional dan dibentuk oleh

sekelompok warga negara Indonesia secara sukarela atas dasar kesamaan kehendak

dan cita-cita untuk memperjuangkan dan membela kepentingan politik anggota,

masyarakat, bangsa dan negara, serta memelihara keutuhan Negara Kesatuan

1 Rik Anggraini, Kebijakan Penyederhanaan Partai Politik di Indonesia : Menuju sistem


Multipartai Sederhana dalam Era Pasca Reformasi, (Jakarta:Fakultas Hukum UI, 2013), h. 23.

2 Miriam Budiarjo, Dasar-Dasar Ilmu Politik. (Jakarta, PT gramedia, 1989), h. 159.

1
Republik Indonesia berdasarkan Pancasila dan Undang-Undang Dasar Negara

Republik Indonesia Tahun 1945.3

King sebagaimana dikemukakan oleh Alan Ware berpendapat bahwa Partai politik

terdiri dari tiga elemen yang terpisah, yaitu : partai dalam pemilihan umum, partai

sebagai organisasi dan partai dalam pemerintahan.4

A.2 Pengertian Pemilihan Umum

Arbi sanit berpendapat bahwa pemilihan umum merupakan proses politik

yang menggunakan hak politik sebagai bahan bakku untuk ditransformasikan menjadi

kedaulatan negara, maka rakyat berpeluang untuk memperjuangkan nilai dan

kepentingannya dengan menggunakan hak politik dan hak lain yang tak diserahkan

sebagai kekuatan bargain (menawar) dalam menghadapi penguasa atau pihak yang

sedang berusaha menjadi penguasa.5 Menurut Nurman diah, pemilihan umum adalah

sarana pergantian atau kelanjutan suatu pemerintahan. Di negara yang menganut

sistem pemerintahan presidensil pemilihan umum diartikan untuk memilih presiden.

Untuk negara yang menganut sistem pemerintahan parlementer, Pemilu dimaksudkan

3 Republik Indonesia. Undang-Undang Nomor 2 tahun 2011 tentang Partai Politik. Pasal 1
ayat (1).

4 Anthony king dalam Alan ware. Political Party dan Party System. (Oxford : University
press, 1996), h. 6.

5 Arbi Sanit. Reformasi politik. (Yogyakarta : Pustaka pelajar, 1998), h. 191.

2
untuk mengantarkan wakil-wakil partai tertentu sebanyak mungkin ke parlemen agar

dapat membentuk pemerintahan.6

Menurut Undang-Undang Nomor 15 Tahun 2011 tentang Penyelenggaraan

Pemilu, pemilihan umum adalah sarana pelaksanaan kedaulatan rakyat yang

diselenggarakan secara langsung, umum, bebas, rahasia, jujur, dan adil dalam Negara

Kesatuan Republik Indonesia berdasarkan Pancasila dan Undang-Undang Dasar

Republik Indonesia tahun 1945.7

A.3 Sistem Pemilihan Umum

Secara umum, sistem pemilihan umum ada dua macam, yakni :

1. Pemilihan umum sistem distrik


2. Pemilihan umum sistem proporsional8

Pemilihan umum sistem distrik, daerah pemilihan di bagi atas distrik-distrik

tertentu. Pada masing-masing distrik pemilihan, setiap parpol mengajukan satu calon.

Contohnya : ada 3 atau 4 dalam satu distrik. Partai X mencalonkan si A untuk

bersaing pada distrik tersebut. Kemudian ada partai lain mencalonkan si B pada

distrik yang sama. A dan B mewakili partainya masing-masing, bersaing untuk

6 Gouzali, Saydam., Dari Bilik Suara Ke Masa Depan Indonesia. (Jakarta : PT Raja Grafindo
Persada, 1999), h. 9.

7 Republik Indonesia. Undang-Undang Nomor 15 Tahun 2011 Tentang Penyelenggaraan


Pemilihan Umum, pasal 1 ayat (1)

8 May Rudi. Pengantar Ilmu Politik. (Bandung: Refika Aditama, 2003), h. 81.

3
memperoleh suara terbanyak, pada distrik tersebut. Misalkan si A meraih suara

terbanyak, maka untuk distrik itu A yang dipilih menjadi wakil rakyat.

Dalam hal ini tidak ada nomor urut berdasarkan tanda gambar parpol tertentu.

Para calon dinilai secara perseorangan oleh para pemilih pada masing-masing distrik.

Tidak pula ada penjumlahan atau penggabungan nilai suara antara distrik satu dengan

distrik yang lain. Satu calon yang meraih suara terbantak pada suatu distrik itu yang

terpilih menjadi wakil rakyat. Jumlah kursi masing-masing parpol, bergantung jumlah

calon-calonnya yang di pilih. Kelebihan bagi pengguna sistem distrik ini antara lain :

1. Para pemilih benar-benar memilih calon yang disukainya. Karena jelas

siapa calon-calon untuk distrik yang bersangkutan. Bukan memilih tanda

gambar parpol, tetapi langsung merujuk pada nama sang calon untuk

distrik itu.
2. Calon terpilih merasa terikat pada kewajibannya untuk memperjuangkan

kepentingan warga distrik/daerah tersebut. Ia terpilih karena dukungan

pemilih kepadanya. Bukan berdasar nomor urut dari hasil penjumlahan

suara yang diperoleh parpolnya.


Sitem distrik juga mempunyai kelemahan, antara lain :
1. Calon terpilih kurang merasa terikat kepada kepentingan parpol yang

mengajukannya sebagai parpol, karena ia terpilih berdasarkan kemampuan

pribadinya menarik simpati rakyat (walaupun faktor kredibilitas dan

reputasi parpol ikut membantu keberhasilan calon tersebut).


2. Cara pemilihan seperti ini kurang member kesempatan bagi apra calon dan

bagi parpol yang hanya di dukung oleh kelompok minoritas.

4
Kemungkinan tidak ada kursi bagi parpol kecil dan untuk mewakili

kelompok minoritas, karena tidak ada penjumlahan suara baik secara

nasional mau pun daerah. Jumlah perolehan suara dihitung pada distrik

yang bersangkutan saja.

Indonesia yang selalu melaksanakan pemilihan umum setiap lima tahun

sekali, mulai dari pemilihan umum tahun 2004 hingga pemilihan umum tahun 2009

untuk memilih anggota DPR, DPRD Provinsi, dan DPRD Kabupaten/Kota

menggunakan sistem proporsional dengan daftar calon terbuka. 9 Sedangkan untuk

memilih anggota DPD dilaksanakan dengan sistem berwakil banyak. Kedua sistem

ini baik sistem proporsional terbuka dan sistem berwakil banyak tetap digunakan

meski undang-undang tentang pemilu legislatif telah diganti, dari Undang-Undang

Nomor 10 Tahun 2008 hingga Undang-Undang Nomor 8 Tahun 2012.

B. Persyaratan Pembentukan dan Penetapan Partai Politik sebagai Badan

Hukum Tahun 2004-2009

9 Republik Indonesia. Undang-Undang Nomor 12 tahun 2003 Tentang Pemilihan Umum


Anggota Dewan Perwakilan Rakyat, Dewan perwakilan Daerah, dan Dewan Perwakilan Rakyat
Daerah. Pasal 6 ayat (1)

5
Perubahan Undang-Undang tentang partai politik sudah di mulai sejak

reformasi. Di mulai dari Undang-Undang Nomor 2 Tahun 1999, Undang-Undang

Nomor 31 tahun 2002, Undang-Undang Nomor 2 Tahun 2008 sampai dengan

Undang-Undang Nomor 2 tahun 2011. Pada Pemilu tahun 2004, ketentuan partai

politik diatur dalam Undang-Undang Nomor 31 Tahun 2002. Pada Undang-Undang

Tersebut syarat mendirikan partai politik antara lain :

1. Partai politik didirikan dan dibentuk oleh sekurang-kurangnya 50 (lima


puluh) orang warga negara Repulik Indonesia yang telah berusia 21 (dua
puluh satu) tahun dengan akta notaries
2. Akta notaries sebagaimana dimaksud pada ayat (1) harus memuat
anggaran dasar dan anggaran rumah tangga disertai kepengurusan tingkat
nasional
3. Partai politik sebagaimana dimaksud pada ayat (1) harus didaftarkan
kepada Departemen Kehakiman dengan syarat :
a. Memiliki akta notaries pendirian partai politik yang sesuai dengan
Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945
dan peraturan perundang-undangan lainnya.
b. Mempunyai kepengurusan sekurang-kurangnya 50 % (lima puluh
persen) dari jumlah provinsi, 50 % (lima puluh persen) dari jumlah
Kabupaten/Kota pada setiap provinsi yang bersangkutan, dan 25 %
(dua puluh lima persen) dari jumlah kecamatan pada setia
kabupaten/kota yang bersangkutan
c. Memiliki nama, lambing, dan tanda gambar yang tidak mempunyai
persamaan pada pokoknya atau keseluruhannya dengan nama,
lambing, dan tanda gambar partai politik lain; dan, mempunyai
kantor tetap.
Setelah memenuhi persyaratan di atas, partai politik harus melewati tahap selanjutnya

yakni harus di daftarkan kepada Departemen Kehakiman, dengan prosedur sebagai

berikut :

1. Departemen Kehakiman menerima pendaftaran pendirian partai politik


yang telah memenuhi syarat sebagaimana dimaksud dalam pasal 2.

6
2. Pengesahan partai politik sebagai badan hukum dilakukan oleh Menteri
Kehakiman selambat-lambatnya 30 (tiga puluh) hari setelah penerimaan
pendaftaran sebagaimana dimaksud pada ayat (1)
3. Pengesahan partai politik sebagaimana dimaksud pada ayat (2)
diumumkan dalam Berita Negara Republik Indonesia.

diikuti pula dengan perubahan persyaratan untuk mendirikan partai politik.

Pada bagian ini penulis tidak memaparkan pendirian persyaratan partai politik dari

tahun 1999 hingga tahun 2011, melainkan hanya memaparkan persyaratan

pembentukan dan penetapan partai politik dari tahun 2009.

Untuk mengikuti pemilihan umum pada tahun 2009, persyaratan pendirian

partai politik diatur dalam Undang-Undang Nomor 2 Tahun 2008 Tentang Partai

Politik. Pada Undang-Undang tersebut, syarat pembentukan partai politik antara lain :

1. Partai politik didirikan dan dibentuk oleh paling sedikit 50 orang warga

negara Indonesia yang telah berusia 21 (dua puluh satu) tahun dengan akta

notaries
2. Pendirian dan pembentukan partai politik sebagaimana dimaksud pada

ayat (1) menyertakan 30 % (tiga puluh persen) keterwakilan perempuan


3. Akta notaries sebagaimana dimaksud pada ayat (1) harus memuat AD dan

ART serta kepengurusan partai politik tingkat pusat.


4. AD sebagaimana dimaksud pada ayat (3) memuat paling sedikit
a. Asas dan cirri partai politik
b. Visi dan misi partai politik
c. Nama, lambang dan tanda gambar partai politik ;
d. Tujuan dan fungsi partai politik
e. Organisasi, tempat kedudukan, dan pengambilan keputusan
f. Kepengurusan partai politik

7
g. Peraturan dan keputusan partai politik
h. Pendidikan politik; dan
i. Keuangan partai politik.
5. Kepengurusan partai politik tingkat pusat sebagaimana dimaksud pada

ayat (3) disusun dengan menyertakan paling rendah 30 % ( tiga puluh

perseratus) keterwakilan perempuan.10

Partai politik yang telah memenuhi persyaratan di atas, masih harus memenuhi

persyaratan lain agar bisa ditetapkan sebagai badan hukum. meski partai politik telah

memiliki akta notaris, partai politik harus di daftarkan ke departemen agar menjadi

badan hukum. mekanisme penetapan partai politik untuk menjadi badan hukum

antara lain :

1. Departemen menerima pendaftaran dan melakukan penelitan/ atau


verifikasi kelengkapan dan kebenaran sebagaimana dimaksud dalam pasal
2 dan pasal 3 ayat (2).
2. Penelitian dan/ atau verifikasi sebagaimana dimaksud apda ayat (1)
dilakukan paling lambat 45 (empat puluh lima) hari sejak diterimanya
dokumen persyaratan secara lengkap.
3. Pengesahan partai politik menjadi bahan hukum dilakukan dengan
keputusan Menteri paling lama 15 (lima belas) hari sejak berakhirnya
proses penelitian dan verifikasi.
4. Keputusan Menteri mengenai pengesahan partai politik sebagaimana
dimaksud pada ayat (3) diumumkan dalam Berita Negara Republik
Indonesia.
Semua Undang-Undang partai politik dari yang pernah berlaku, mengatur

tentang syarat akta notaris pendirian partai serta nama dan lambang partai sebagai

prasyarat pendaftaran partai sebagai badan hukum. jumlah minimal pendaftar baru

10 Republik Indonesia. Undang-Undang Nomor 2 Tahun 2008 tentang Partai Politik, pasal 2

8
diatur dalamUndang-Undang Nomor 2 tahun 2011 yakni partai politik didaftarkan

oleh minimal 50 orang pendiri yang mewakili seluruh pendiri partai politik.

Undang-Undang tentang partai politik juga mengatur tentang batasan

ideologi/asas partai politik. Dari semua Undang-Undang tentang partai politik, asas

partai adalah berdasarkan pancasila dan UUD 1945, selain itu setiap partai politik

dilarang untuk menganut dan menyebarkan aliran leninisme/komunisme dan

Marxisme. Sebelum adanya Undang-Undang Nomor 2 Tahun 2008, tidak

mensyaratkan partai politik untuk menyertakan keterwakilan perempuan sebanyak 30

% ( tiga puluh persen).

C. Persyaratan Partai Politik sebagai Peserta pemilihan Umum Tahun 2009

Partai politik yang telah berstatus badan hukum, tidak serta merta dapat

menjadi peserta pemilihan umum. Partai politik diwajibkan memenuhi persyaratan

yang ditentukan oleh undang-undang tentang pemilihan umum. Pada tahun 2009,

berlaku Undang-Undang Nomor 10 tahun 2008 tentang pemilihan umum anggota

Dewan Perwakilan Rakyat, Dewan perwakilan daerah, dan Dewan Perwakilan Rakyat

Daerah. Berdasarkan pasal 8 Undang-Undang Nomor 10 tahun 2008, partai politik

dapat menjadi peserta pemilihan umum setelah memenuhi beberapa persyaratan,

antara lain :

1. Berstatus badan hukum sesuai dengan Undang-Undang tentang partai


politik.
2. Memiliki kepengurusan di 2/3 (dua pertiga) jumlah provinsi

9
3. Memiliki kepengurusan di 2/3 (dua pertiga) jumlah kabupaten/kota di
provinsi yang bersangkutan
4. Menyertakan sekurang-kurangnya 30 % (tiga puluh perseratus)
keterwakilan perempuan pada kepengurusan partai politik tingkat pusat;
5. Memiliki anggota sekurang-kurangnya 1.000 (seribu) orang atau1/1000
(satu perseribu) dari jumlah penduduk pada setiap kepengurusan partai
politik sebagaimana dimaksud pada huruf b dan huruf c yang dibuktikan
dengan kepemilikan kartu tanda anggota;
6. Mempunyai kantor tetap untuk kepengurusan sebagaimana pada huruf b
dan huruf c; dan
7. Mengajukan nama dan tanda gambar partai politik kepada KPU.
8. Partai politik peserta pemilu pada pemilu sebelumnya dapat menjadi
peserta pemilu pada pemilu berikutnya.
Pada pemilu tahun 2009 ada yang agak berbeda dengan pemilihan umum

sebelumnya, dimana pada pemilu tahun 2009 cara memilih partai politik dan nama

calon dilakukan dengan cara mencontreng tanda gambar. Berbeda dengan

sebelumnya pada pemilu sebelumnya yang menggunankan pencoblosan dalam

memilih tanda gambar dan calon aggota legislatif.

D. Pemilihan Umum Legislatif (DPR) Tahun 2009 dalam Perspektif Hukum

Demokrasi memberikan pemahaman bahwa sumber dari kekuasaan adalah

rakyat. Dengan pemahaman seperti itu, rakyat akan melahirkan sebuah aturan yang

akan menguntungkan dan melindungi hak-haknya. Agar itu bisa terlaksana,

diperlukan sebuah peraturan bersama yang mendukung dan menjadi dasar pijakan

dalam kehidupan bernegara untuk menjamin dan melindungi hak-hak rakyat.11

11 Harjono, Transformasi Demokrasi. (Jakarta: Sekretariat Jenderal dan Kepaniteraan


Mahkamah Konstitusi, 2009), h. 3.

10
Dalam konteks Indonesia, asas kedaulatan rakyat tertuang dalam rumusan

konstitusi atau UUD NRI 1945. Jika dicermati, UUD 1945 mengatur kedaulatan

rakyat dua kali. Pertama, pada pembukaan, alinea keempat : “…. Maka disusunlah

kemerdekaan kebangsaan Indonesia itu dalam suatu bentuk Undang-Undang Dasar

Negara Indonesia, yang berbentuk dalam suatu susunan Negara Republik Indonesia

yang berkedaulatan rakyat…” kedua, pada Pasal 1 ayat (2) UUD 1945 hasil

perubahan berbunyi, “Kedaulatan berada di tangan rakyat dan dilaksanakan menurut

undang-undang dasar. di Indonesia, asas kedaulatan rakyat ini di wujudkan dalam

pemilihan umum setiap lima tahun sekali. Pasca reformasi, Indonesia sudah beberapa

kali menyelenggarakan pemilihan umum, yakni tahun 1999, tahun 2004, dan terakhir

tahun 2009.

Peserta pemilihan umum terdiri dari partai politik dan perseorangan. khusus Pemilu

legislatif baik Dewan perwakilan Rakyat atau Dewan Perwakilan daerah bisa dari dua

hal yang disebutkan diatas. Kehadiran dan peran partai politik saat ini menjadi

prasyarat penting bagi pratik demokrasi modern di Indonesia. demokrasi modern

adalah demokrasi partai.12

Dalam negara yang menerapkan demokrasi sebagai prinsip penyelenggaraan

pemerintahan, pemilihan umum merupakan media bagi rakyat untuk menyatakan

kedaulatannya. Secara ideal, pemilihan umum atau general election bertujuan agar

12 Richard S. Katz, A Theory of Parties and Electoral Systems, (London: The johns Hopkins
University press, 1980), h. 1.

11
terselenggara perubahan kekuasaan pemerintahan secara teratur dan damai sesuai

dengan mekanisme yang di jamin oleh konstitusi.13 Dengan demikian, pemilihan

umum menjadi prasyarat dalam kehidupan bernegara dan bermasyarakat secara

demokratis sehingga melalui pemilu sebenarnya rakyat sebagai pemegang kedaulatan

akan : pertama, memperbaharui kontrak sosial ; kedua, memilih pemerintahan baru ;

ketiga menaruh harapan baru dengan adanya pemerintahan baru. Maka dari itu

pemilihan umum juga ada yang menyebut sebagai alat untuk menyehatkan kehidupan

yang demokratis. Dengan pemilihan umum, rakyat dapat memilih secara langsung

para wakilnya.14

Pemilu tahun 2009 telah menjadi ajang bagi rakyat Indonesia bersama-sama

menjadi pelaku pesta demokrasi untuk memilih wakil-waklnya di legislatif dan

eksekutif. Dalam pemilu legislatif tersebut, rakyat bukan hanya meilih wail rakyat

melalui tanda gambar partai politik peserta pemilu, namun juga memilih nama orang

calon legislatif yang diajukan partai politik peserta pemilu. Lembaga-lembaga tinggi

negara yang mempunyai kewajiban dalam mensukseskan pemilu antara lain

Kementrian Hukum dan Hak Asasi Manusia, Komisi Pemilihan Umum, Badan

Pengawas Pemilu, Panitia Pengawas Pemilu, dan terakhir adalah Mahkamah

Konstitusi. Mengenai aturan hukum pemilihan umum tahun 2009 antara lain di atur

dalam Undang-Undang Nomor 2 tahun 2008 tentang Partai Politik, Undang-Undang

13 Dede mariana dan Caroline Paskarina, Demokrasi dan Politik desentralisasi. (Bandung :
Graha Ilmu, 2007), h. 5.
14 Dahlan, Thalib, DPR Dalam Sistem Ketatanegaraan Indonesia. (Yogyakarta: Liberty,
1994), h. 19.

12
No 10 Tahun 2008 tentang pemilu legislatif, dan Undang-Undang Nomor 22 Tahun

2007 tentang pemilu.

Pada pemilu tahun 2009, sebanyak 68 partai politik mendaftar ke KPU

sebagai calon peserta pemilu tahun 2009. Komisi Pemilihan Umum (KPU)

menyatakan 18 partai politik dinyatakan lolos verifikasi faktual dan berhak menjadi

peserta pemilu 2009 bersama 16 partai politik lainnya yang telah memiliki

keterwakilan di DPR, sesuai pasal 315 dan 316 Undang-Undang Nomor 10 tahun

2008.

Banyak persoalan yang muncul terkait pemilihan umum legislatif tahun 2009,

mulai dari persoalan daftar pemilih tetap, menjadi persoalan utama dalam pemilihan

umum tahun 2009. Banyak orang yang terpaksa tidak dapat menggunakan hak

pilihnya karena persoalan administratif. Salah satu contohnya adalah banyak orang

yang sudah meninggal masih masuk dalam daftar pemilih tetap (DPT), sementara

orang yang masih hidup justru tidak terdaftar.

Di Yogyakarta salah seorang anggota KPU yang mengurusi soal data dan

informasi pemilih, Titok Hariyanto dipukuli oleh sejumlah orang tak dikenal di

kantornya. Anggota KPU tersebut di pukuli sampai lebam matanya, sehingga harus

dilarikan ke Rumah Sakit. Kejadian ini terjadi karena merasa KPU Kota Yogyakarta

mempersulit pengurusan formulir A-5 atau mutasi pemilih. Sejumlah mahasiswa

13
UGM dan UII mengadukan persoalan mutasi pemilih yang menyulitkan banyak

mahasiswa untuk memilih sehingga banyak mahasiswa yang terpaksa golput.15

C.

15 Haldyan Denysa, Implementasi Perbandingan Electoral Threshold dalam Pemilu 2004


dan pemilu 2009. (Skripsi : Fakultas Hukum Universitas Islam Indonesia Yogyakarta, 2009), h. 30.

14