Anda di halaman 1dari 7

JOURNAL READING

An Invivo Study of Intraocular Pressure (IOP) Control, Visual Prognosis and


Complications among Phacomorphic Glaucoma Patients following Manual
Small Incision Cataract Surgery

Disusun oleh:
Pamela Vasikha
112016358

Pembimbing:
dr. Michael Indra Lesmana, SpM

FAKULTAS KEDOKTERAN UKRIDA


KEPANITERAAN KLINIK ILMU PENYAKIT MATA
RUMAH SAKIT FMC - BOGOR
PERIODE 21 JANUARI 2019 – 23 FEBRUARI 2019
An Invivo Study of Intraocular Pressure (IOP) Control, Visual Prognosis and
Complications among Phacomorphic Glaucoma Patients following Manual
Small Incision Cataract Surgery

Mohammad Ahsan Dar1, Shazya Gul2, Mohammad Shafi Dar3

1
Department of Ophthalmology, Hind Institute of Medical Sciences Safedabad, Barabanki Road
Lucknow. Uttar Pradesh
2
PG Scholar, Department of Anatomy, Govt Medical College Jammu
3
Registrar, Department of Oral and Maxillofacial Pathology, Govt Dental College Srinagar

ABSTRAK
Tujuan :
Untuk mengevaluasi prognosis visus, tekanan intraocular dan komplikasi setelah dilakukan
operasi MSICS pada pasien yang menderita fakomorfik glaukoma.

Metode :
Studi ini mengambil 37 pasien dari Eye Care Centre Budgam di Kashmir sebagai subjek dari
bulan Maret 2012 hingga bulan Juni 2013. Setiap subjek melakukan pemeriksaan slit-lamp
biomikroskopi, gonioskopi dan tonometri aplanasi. Setelah itu lensa intraocular diimplantasi saat
dilakukan MSICS terhadap semua pasien. Pada setiap kunjungan follow up, dilakukan
pemeriksaan lengkap pada mata pasien.

Hasil :
Dari jumlah 37 pasien dengan fakomorfik glaukoma, rata-rata tekanan intraocular pre operasi
adalah 39.8 ± 14.7 mmHg dan pasca operasi pada follow up yang paling terakhir adalah 12 ± 2
mmHg. Secara statistik, terdapat perbedaan yang signifikan antara tekanan intraocular sebelum
operasi dan sesudah operasi pada follow up yang paling terakhir adalah (P<0.001). Tidak ada
komplikasi yang signifikan saat operasi berlangsung dan tidak ada pasien yang memerlukan obat
antiglaukoma jangka panjang. Pada pasca operasi, tajam penglihatan minimal yang bisa
dikoreksi adalah 20/40 atau lebih, pada 26 pasien. 4 pasien yang mengalami edem kornea dan 18
mata mengalami inflamasi pada kamera okuli anterior. Terapi standard diberikan dan sembuh.

Konklusi:
Walaupun MSICS memerlukan skill dan kesabaran yang tinggi saat operasi katarak, namun
hasil diatas menunjukkan operasi ini aman, efektif, serta terapi yang ekonomis dan menjadi
alternative terhadap fakoemulsifikasi.

Kata Kunci: MSICS, tekanan intraocular, glaucoma fakomorfik

PENDAHULUAN
Glaukoma adalah kelainan pada mata yang disebabkan oleh terjadinya peningkatan tekanan
bola mata yang menyebabkan kerusakan pada saraf optik. Kesan dari peningkatan tekanan akan
menyebabkan penurunan visus penglihatan dan jika tidak diterapi, bisa menyebabkan kebutaan.
Katarak juga mengalami progress secara perlahan yang menyebabkan hilang penglihatan
namun masih bisa diterapi yaitu dengan melakukan operasi katarak. Terdapat 3 jenis operasi
katarak yaitu fakoemulsifikasi, ECCE dan MSICS. MSICS sering dilakukan di negara
berkembang karena biayanya relatif lebih murah dari fakoemulsifikasi.
Dalam studi ini, tujuan penelitian adalah untuk mengevaluasi prognosis visus, tekanan
intraocular, dan komplikasi setelah dilakukan operasi MSICS pada pasien yang menderita
fakomorfik glaukoma.

METODE
37 pasien dengan glaukoma fakomorfik yang dirawat di Eye Care Centre Budgam di Kashmir
dijadikan sebagai subjek penelitian dari bulan Maret 2012 hingga Juni 2013. Pasien didiagnoa
dengan fakomorfik glaukoma apabila terdapat gejala seperti nyeri akut, mata merah dengan
edem kornea, camera okuli anterior (COA) dangkal, lensa dengan katarak intumesen dan tekanan
intraocular (TIO) lebih dari 21 mmHg. Pasien ini dilakukan operasi katarak MSICS dan
mengimplantasi lensa, setelah itu dilakukan pemeriksaan mata yang lengkap pada setiap
kunjungan follow up. Semua pasien diterapi dengan topical beta blockers, obat tetes antibiotic
steroid, acetazolamide dan glycerol per oral. Apabila TIO lebih dari 45 mmHg, pasien diberikan
manitol secara intravena.
Pada pascaoperasi, pasien diterapi dengan obat topical antibiotic dan steroid selama 6 hingga
8 minggu. Data yang didapat kemudian dianalisa dengan menggunakan SPSS dengan nilai P
0.05 didapatkan hasil signifikan.

HASIL
Rata- rata umur dari 37 pasien adalah 64 ±3.2 tahun dengan glaukoma fakomorfik yang
diobservasi selama satu tahun dan dua bulan. Implantasi Posterior chamber intraocular lens
(PCIOL) dilakukan pada semua pasien. Seorang pasien mengalami dialisis zonular yang
kemudian distabilisasi dengan capsular tension ring (CTR). Dua pasien lagi mengalami rupture
kapsul posterior dan 5 pasien mengalami COA dangkal saat dioperasi.
Pada hari pertama pasca operasi, 9 pasien mengalami edem kornea, 18 orang pasien
mengalami iritis dengan fibrin membrane, dan dua lagi terjadi blood clot. Namun, edem kornea
dan iritis dengan fibrin membrane hilang setelah diterapi selama 2 hari dimana blood clot hilang
setelah 10 hari.
25 pasien mempunyai ketajaman penglihatan minimal 20/40, dimana pada 15 pasien (60%)
sebelum dioperasi nilai TIO adalah antara 25 hingga 40 mmHg dan 10 orang lagi (40%)
mempunyai tekanan 41-55 mmHg. Ini menunjukkan tidak ada hubungan yang signifikan antara
TIO pre operasi dan BCVA (Best Corrected Visual Acuity) pasca operasi.

BCVA TIO Pre operasi


25 – 40 mmHg 41 – 55 mmHg 56 – 70 mmHg
Pasca Operasi
20 / 20 – 20 / 40 15 10 -
20 / 60 – 20 / 200 6 1 -
< 20 / 200 1 1 -
HM, PL 1 1 1

Tabel 1 Analisa perbandingan antara TIO pre operasi dan ketajaman visual
pada follow up bulan ketiga
21 (56.7%) pasien mempunyai visus 20/40 apabila durasi timbulnya gejala adalah kurang dari
10 hari, 5 pasien mempunyai visus 20/40 atau visus yang lebih baik ketika durasi timbulnya
gejala adalah 11 sampai 20 hari. Apabila dibandingkan antara pasien yang mempunyai durasi
timbulnya gejala kurang dari 10 hari dan mengalami durasi timbul gejala lebih dari 10 hari,
terdapat hubungan yang signifikan antara durasi timbulnya gejala dan BCVA pascaoperasi (chi
square test P < 0.008).

BCVA Durasi Timbulnya Gejala (angka)


0 – 10 hari 11 – 20 hari 21 – 30 hari
Pasca Operasi
20 / 20 – 20 / 40 21 5 -
20 / 60 – 20 / 200 6 1 -
< 20 / 200 1 - -
HM, PL 2 1 -

Tabel 2 Efek dari durasi timbulnya gejala pada hasil visus

Rata-rata tekanan intraokular pada hari terakhir follow up adalah 12.7 ± 2.4 mmHg tanpa
penggunaan antiglaukoma. BCVA minimal 20/40 didapatkan pada 26 pasien, visus antara 20/60
hingga 20/200 didapatkan pada 7 pasien, 1 pasien dengan visus kurang dari 20/200 dan 3 pasien
dengan Hand Movement (HM).

DISKUSI
Fakomorfik glaukoma sering terjadi di Negara berkembang dan untuk mengurangi kejadian
buta dikarenakan katarak, operasi katarak yang terbaik yang memberi kesan positif dan kualitas
tinggi akan dilakukan. Pada ECCE, insisi yang besar diperlukan untuk pasien dengan TIO yang
tinggi terus menerus sehingga meningkatkan resiko terjadinya komplikasi pada ketajaman
penglihatan. Pada MSICS dengan trypan blue staining pada kapsul anterior akan memberikan
hasil yang lebih baik berbanding ECCE dan fakoemulsifikasi. MSICS memberikan kesan pada
visus pasien lebih bagus berbanding ECCE yang menyebabkan astigmatism setelah operasi.
Fakoemulsifikasi dan MSICS keduanya memberikan hasil visus pasien yang lebih baik dengan
resiko terjadi komplikasi rendah. Namun, pada fakoemulsifikasi selain lebih mahal, pasien
dengan fakomorfik glaukoma mempunyai resiko tinggi untuk terjadinya COA dangkal, iris
prolaps, robekan pada capsulorrhexis bagian perifer; resiko kehilangan sel endothelial lebih
tinggi kerana sangat dekat dengan tip phaco selama emulsifikasi inti dan pengurangan jumlah
cadangan endotel pada pasien ini. Pada kasus seperti ini, Chang et al., memberi saran untuk
mengetuk / menyentuh vitreous bagian pars plana untuk memperluas segmen anterior yang dapat
berguna untuk membantu memperdalam COA dan memungkinkan penyelesaian yang baik pada
capsulektomi dan pengangkatan katarak. Sebagai perbandingan dengan phacoemulsifikasi,
MSICS tidak membutuhkan peralatan yang mahal.
Pada penelitian ini, total 37 pasien dengan rata-rata usia 64 ± 3,2 tahun dengan phacomorphic
glukoma dilakukan analisa selama 1 tahun 2 bulan.
Setelah 3 bulan pasca operasi, 26 dari 37 (70.3%) pasien mempunyai visus penglihatan yang
baik yaitu pada BCVA didapatkan minimal 20/40 dan pada 7 pasien (18.9%) didapatkan 20/60
hingga 20/200. Hasil yang didapatkan sama seperti literatur yang lain yang melakukan ECCE
pada pasien dengan fakomorfik glaukoma.
Selain itu, terdapat hubungan yang terkait antara post operasi BCVA dan durasi timbulnya
gejala. 25 pasien mempunyai ketajaman penglihatan minimal 20/40, dan secara signifikan lebih
banyak pasien yang memiliki durasi onset gejala kurang dari 10 hari (60%; 15 dari 25)
dibandingkan dengan pasien yan g memiliki durasi onset gejala lebih dari 10 hari (40%; 10 dari
25). Dalam semua kasus pada penelitian ini, TIO setiap pasien terkontrol tanpa menggunakan
obat glaukoma jangka panjang. Hasil ini sama dengan penelitian yang lain yang berkaitan
dengan ECCE. Ketajaman penglihatan 3 pasien didapatkan dengan dilakukan hand movement,
dua pasien mempunyai papil yang pucat, dan satu pasien didapatkan terjadinya atrofi
glukomatus. Temuan yang didapatkan mungkin dikarenakan peningkatan TIO disebabkan
glukoma fakomorfik. Edem kornea dan inflamasi COA serta reaksi fibrin yang didapatkan pada
hari pertama pasca operasi merupakan hal biasa yang terjadi mengingat peradangan hebat yang
terjadi pada glukoma phacomofik dan dapat terselesaikan dengan terapi medis.

KESIMPULAN
MSICS adalah operasi katarak yang tidak mahal, lebih mudah dipahami, dan menjadi pilihan
di negara berkembang dibandingkan dengan fakoemulsifikasi. Dalam studi ini, terdapat beberapa
keterbatasan yaitu jenis studi yang lebih rigid dan periode follow up lebih pendek. Tetapi, studi
ini dijalankan kerana ingin menunjukkan bahwa MSICS lebih aman dan lebih efektif dalam
mengontrol TIO dan memberikan pemulihan ketajaman penglihatan paling maksimum serta
mengurangi komplikasi yang bisa terjadi pasca operasi.
DAFTAR PUSTAKA
1. Thylefors B, Négrel AD, Pararajasegaram R, Dadzie KY. Global data on blindness. Bull
World Health Organ. 1995; 73:115–21.
2. Murthy GV, Gupta SK, Bachani D, Jose R, John N. Current estimates of blindness in India. Br
J Ophthalmol. 2005;89:257–60.
3. Gogate PM, Deshpande M, Wormald RP, Deshpande R, Kulkarni SR. Extracapsular cataract
surgery compared with manual small incision cataract surgery in community eye caresetting in
western India: A randomised controlled trial. Br J Ophthalmol. 2003;87:667–72.
4. Venkatesh R, Muralikrishnan R, Balent LC, Prakash SK, Prajna NV. Outcomes of high
volume cataract surgeries in a developing country. Br J Ophthalmol. 2005;89:1079–83.
5. Natchiar G, Dabralkar T. Manual small incision suture less cataract surgery: An alternative
technique to instrumental phacoemulsification. Oper Tech Cataract Refract Surg. 2000;3:161–70.
6. Muralikrishnan R, Venkatesh R, Prajna NV, Frick KD. Economic cost of cataract surgery
procedures in an established eye care centre in southern India. Ophthalmic Epidemiol.
2004;11:369–80.
7. Ruit S, Tabin G, Chang D, Bajracharya L, Kline DC, Richheimer W, et al. A prospective
randomized clinical trial of phacoemulsification vs manual sutureless small-incision
extracapsular cataract surgery in Nepal. Am J Ophthalmol. 2007;143:32–8.
8. Richard P. Wormald phacoemulsification vs small-incision manual cataract surgery: An expert
trial. Am J Ophthalmol. 2007;143:143–5.
9. Venkatesh R, Tan CS, Kumar TT, Ravindran RD. Safety and efficacy of manual small
incision cataract surgery for phacolytic glaucoma. Br J Ophthalmol. 2007;91:279–81.
10. Abdohali A, Naimi MT, Shams H. Effect of low-molecular weight Heparin on postoperative
inflammation in phacomorphic glaucoma. Arch Iranian Med. 2002;5:225–9.
11. Chang DF. Pars plana vitreous tap for phacoemulsification in the crowded eye. J Cataract
Refract Surg.2001;27:1911–4.
12. Jain IS, Gupta A, Dogra MR, Gangwar DN, Dhir SP. Phacomorphic glaucoma-management
and visual prognosis. Indian J Ophthalmol. 1983;31:648–53.
13. McKibbin M, Gupta A, Atkins AD. Cataract extraction and intraocular lens implantation in
eyes with phacomorphic or phacolytic glaucoma. J Cataract Refract Surg. 1996; 22:630–3.