Anda di halaman 1dari 20

BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang


Perkembangan Sistem Informasi Rumah Sakit yang berbasis komputer
(Computer Based Hospital Information System) di Indonesia telah dimulai
pada akhir dekade 80-an. Salah satu rumah sakit yang pada waktu itu telah
memanfaatkan komputer untuk mendukung operasionalnya adalah Rumah
Sakit Husada. Departemen kesehatan dengan proyek bantuan dari luar negeri,
juga berusaha mengembangkan Sistem Informasi Rumah Sakit pada beberapa
rumah sakit pemerintah dengan dibantu oleh tenaga ahli dari UGM. Namun,
tampaknya komputerisasi dalam bidang perumah sakitan kurang mendapatkan
hasil yang cukup memuaskan semua pihak. Ketidak berhasilan dalam
pengembangan sistem informasi tersebut lebih disebabkan dalam segi
perencanaan yang kurang baik, dimana identifikasi faktor-faktor penentu
keberhasilan(critical success factors) dalam implementasi sistem informasi
kurang lengkap dan menyeluruh.

1.2 Rumusan Masalah


1. Bagaimana konsep dan tahapan pengembangan Sistem Informasi Rumah
Sakit?
2. Faktor-faktor apa saja yang mempengaruhi dalam pengembangan Sistem
Informasi
Rumah Sakit?

1.3 Tujuan Penulisan


1. Untuk mengetahui konsep dan tahapan pengembangan Sistem Informasi
Rumah Sakit
2. Untuk mengetahui faktor-faktor yang mempengaruhi dalam pengembangan
Sistem Informasi Rumah Sakit
BAB II
TINJAU PUSTAKA

2.1 Data, Informasi, dan Sistem

Data adalah fakta kasar atau gambaran yang dikumpulkan dari keadaan
tertentu. Sedangkan Informasi adalah data yang telah diolah dan dianalisa secara
formal, dengan cara yang benar, dan secara efektif sehingga hasilnya bisa
bermanfaat dalam operasional dan management.
Kejelasan antara data dan informasi, diperlukan agar seseorang tidak
menjadi rancu, membedakan penting tidaknya karena akan berkaitan dengan
pengolahan yang harus dilakukan. Kejelasan yang penting dalam pengambilan
keputusan. Karena akan sangat berkaitan dengan mutu keputusan yang diambil.
Sistem adalah suatu kesatuan yang terdiri dari berbagai faktor yang
berhubungan atau diperkirakan berhubungan serta satu sama lain saling
mempengaruhi, yang kesemuanya dengan sadar dipersiapkan untuk mencapai
tujuan yang telah ditetapkan.
Sistem informasi adalah suatu cara yang sudah tertentu untuk menyediakan
informasi yang dibutuhkan oleh organisasi untuk beroperasi dengan cara yang
sukses dan untuk organisasi bisnis dengan cara yang menguntungkan. Dimana
komponen sistem informasi adalah: pemakai, tujuan, masukan-proses-keluaran,
data, teknologi, model, dan pengendali. Hal tersebut menunjukkan bahwa semua
komponen itu saling berkait, bila data salah maka hasilnya akan mempengaruhi
informasi yang salah juga. Informasi yang canggih seperti angka statistik yang
rumit tidak ada gunanya bila pemakai tak bisa mengerti.

2.2 Pengertian Sistem Informasi Rumah Sakit

Sistem informasi rumah sakit adalah suatu tatanan yag berurusan dengan
pengumpulan data, pengelolaan data, penyajian informasi, analisa, dan
penyimpulan informasi serta penyampain informasi yang dibutuhkan untuk
kegiatan rumah sakit.
Unsur sistem informasi rumah sakit:
Tugas :menyiapkan informasi untuk kepentingan pelayanan rumah sakit.
Untuk :sistem informasi itu sendiri, dan subsistemnya antara lain subsistem
pengembangan dan operasional subitem.
Struktur hirarki :sistem rumah sakit sebagai sistem suprasistemnya ada input,
proses-output, dan balikan control.
Pengembangan Sistem Informasi Rumah Sakit (SIRS) yang berbasis
komputer akan berhasil dengan baik, apabila memperhatikan konsep-konsep dasar
sistem pengembangan informasi. Ada 8 konsep dasar yang mendasari proses
pengembangan sistem informasi, yaitu
1. Sistem informasi tidak identik dengan sistem komputerisasi.
2. Sistem informasi organisasi adalah sistem yang dinamis.
3. Sistem informasi sebagai suatu sistem harus mengikuti hidup siklus
system.
4. Daya guna sistem informasi sangat ditentukan oleh tingkat integritas
sistem informasi itu sendiri.
5. Kebersihan pengembangan sistem informasi sangat bergantung pada
strategi yang dipilih untuk pengembangan sistem tersebut.
6. Pengembangan sistem informasi organisasi harus menggunakan
pendekatan fungsi dan dilakukan secara menyeluruh (holistik).
7. Informasi telah menjadi aset organisasi dan,
8. Penjabaran sistem sampai ke aplikasi menggunakan struktur hirarkis
yang mudah dipahami.

Pada dasarnya rancang bagun atau desain SIRS, secara global (rancangan
global) adalah identik antara satu rumah sakit dengan rumah sakit lainnya dan
yang membedakannya adalah dalam rangcangan rinci. Secara global SIRS dibagi
menjadi 6 subsistem, yaitu:
1. Subsistem Layanan Kesehatan, yang dijabarkan lagi menjadi 3 modul,
yaitu:
a. Modul Rawat Jalan
b. Modul Rawat Inap
c. Modul Penunjang Medis
2. Subsistem Rekam Medis
3. Subsistem Personalia
4. Subsistem Keuangan
5. Subsistem Sarana atau Prasarana
6. Subsistem Manajemen Rumah Sakit

Rancangan global SIRS dapat dikatakan relatif stabil untuk waktu yang lama,
selama fungsi/tugas utama rumah sakit tidak berubah secara mendasr. Dalam
melakukan pengembangan SIRS, pengembang haruslah bertumpu dalam 2 hal
penting yaitu (1) kriteria dan kebijakan pengembangan SIRS dan (2) sasaran dari
pengembangan SIRS tersebut. Adapun yang dilakukan dalam pengembangan
SIRS terdiri dari 6 tahapan yaitu :
1) Penyusunan rencana induk pengembangan SIRS
2) Penyusunan rancangan global SIRS
3) Penyusunan rancangan detail/rinci SIRS
4) Pembuatan prototipe
5) Implementasi SIRS
6) Operasionalisasi dan pemantapan SIRS
BAB III
PEMBAHASAN

3.1 Konsep Dasar Pengembangan


Dalam melakukan pengembangan sistem informsi secara umum, ada
beberapa konsep dasar yang harus dipahami oleh para pengembang atau pembuat
rancang bangun sistem informasi (desainer). Adapun konsep-konsepnya seperti
dibawah ini:

Konsep 1: sistem informasi tidak identik dengan sistem komputerisasi.


Pada dasarnya sistem informasi tidak bergantung pada penggunaan
teknologi komputer. Sistem informasi yang memanfaatkan teknologi komputer
dalam implementasinya disebut sebagai sistem informasi berbasis komputer
(computer base information system). Pada pembahasan selanjutnya, yang
dimaksud dengan sistem informasi adalah sistem informasi yang berbasis
komputer. Isu penting yang mendorong pemanfaatan teknologi komputer atau
teknologi informasi dalam sistem informasi suatu organisasi adalah:
a. Pengambilan keputusan yang tidak dilandasi dengan informasi.
b. Informasi yang tersedia tidak relevan.
c. Informasi yang ada tidak dimanfaatkan oleh manajemen.
d. Informasi yang ada, tidak tepat waktu.
e. Terlalu banyak informasi.
f. Informasi yang tersedia, tidak akurat.
g. Adanya duplikasi data (data redundancy).
h. Adanya data yang cara pemanfaatannya tidak fleksibel.

Konsep 2: sistem informasi organisasi adalah suatu sistem yang dinamis.


Dinamika sistem informasi dalam suatu organisasi sangat ditentukan oleh
dinamika perkembangan oleh organisasi tersebut. Oleh karena itu perlu disadari
bahwa pengembangan sistem informasi tidak pernah berhenti.
Konsep 3: sistem informasis sebagai suatu sistem harus mengikuti siklus
hidup sistem.
Informasi sebagai suatu sistem harus mengikuti siklus hidup sistem seperti
lahir, berkembang, mantap dan akhirnya mati atau berubah menjadi sistem yang
baru. Oleh karena itu, sistem informasi memiliki umur layak guna. Panjang
pendeknya umur layak guna sistem informasi tersebut ditentukan diantaranya :
a. Perkembangan organisasi tersebut
makin cepat organisasi tersebut berkembang maka kebutuhan informasi
juga akan berkembang sedemikian rupa, sehingga sistem informasi yang
sekarang digunakan sudah tidak bisa lagi memenuhi kebutuhan organisasi
tersebut.
b. Perkembangan teknologi informasi
Perkembangan teknologi informasi yang cepat menyebabkan perangkat
keras maupun perangkat lunak yang digunakan untuk mendukung
beroprasinya sistem informasi tidak bisa berfungsi secara efisien dan
efektif. Hal ini disebabkan antara lain :
 Perangkat keras yang digunakan sudah tidak diproduksi lagi,
karena teknologinya ketinggalan jaman sehingga layanan
pemeliharaan perangkat keras tidak dapat lagi dilakukan oleh
perusahaan pemasok perangkat keras.
 Perusahaan pembuat perangkat lunak yang sedang digunakan,
sudah menggunakan versi terbaru. Versi terbaru itu umumnya
mempunyai feature yang lebih banyak, melakukan optimasi proses
dari versi sebelumnya dan memanfaatkan feature baru dari
perangkat keras yang juga telah berkembang.

Meskipun pada umumnya perusaan pengembang perangkat keras maupun


perangkat lunak tersebut, mencoba menjaga kompatibilitas dengan versi
terdahulu, namun kalua dilihat dari sisi efektifitasnya, maka pemanfaatan
infrastruktur tersebut tidak efektif. Hal ini disebabkan karena feature-feature yang
baru tidak termanfaatkan dengan baik. Mengingat perkembangan teknologi
informasi yang berlangsung dengan cepat, maka para pengguna harus sigap dalam
memanfaatkan dan menggunakan teknologi tersebut.
Konsekuensi dari pemanfaatan teknologi inormasi tersebut adalah:
a. Dalam melakukan antisipasi perkembangan teknologi harus cepat.
b. Harus selalu siap untuk melakukan pembaharuan perangkat keras maupun
perangkat lunak pendukungnya, apabila diperlukan.
c. Harus siap untuk melakukan migrasi ke sistem yang baru.

Arah perkembangan teknologi informasi dalam kurun waktu 3-5 tahun mendatang
Perkembangan maupun adanya pemeliharaan sistem informasi . Ancaman yang
paling serius adalah adanya disintegrasi sistem menjadi sistem yang
terfragmentasi.

Konsep 4 : Daya guna sistem informasi sangat ditentukan oleh tingkat


integritas sistem informasi itu sendiri .
Sistem informasi yang terpadu (integrated) mempunyai daya guna yang
tinggi. Jika dibandingkan dengan sistem informasi yang terfragmentasi. Usaha
untuk melakukan integrasi sistem yang ada didalam suatu organisasi menjadi satu
sitem yang utuh merupakan usaha yang berat dengan biaya yang cukup besar dan
harus dilakukan secara berkesinambungan . Sinkronisasi antar sistem yang ada
dalam sistem informasi itu, merupakan prasyarat yang mutlak untuk dapat
mendapatkan sistem informasi yang terpadu. Sistem Informasi , pada dasarnya
terdiri dari minimal 2 aspek yang harus berjalan secara selaras, yaitu aspek
manual dan aspek yang terotomatisasi(aspek komputer) . pengembangan
sistem informasi yang berhasil apabila dilakukan dengan mengembangkan kedua
aspek tersebut. Sering kali pengembangan sistem informasi hanya memfokuskan
diri pada pengembangan aspek komputernya saja , tanpa memperhatikan aspek
manualnya. Hal ini diakibatkan adanya asumsi bahwa aspek manual lebih mudah
diatasi sari pada aspek kom-puternya. Padahal salah satu faktor penentu
keberhasilan pengembangan sistem informasi adalah dukungan perilaku dari para
pengguna sistem informasi tersebut, dimana para pengguna sangat terkait dengan
sistem dan prosedur dari sistem informasi pada aspek manualnya.
Konsep 5 : keberhasilan pengembangan sistem informasi sangat bergantung
pada strategi yang dipilih untuk pengembangan sistem tersebut.
Strategi yang dipilih untuk melakukan pengembangan sistem sangat
bergantung kepada besar kecilnya cakupan dan tingkat kompleksitas dari sistem
informasi tersebut. Untuk sistem informasi yang cakupannya luas dan tingkat
kompleksitas yang tinggi diperlukan tahapan pengembangan seperti : Penyusunan
Rencana Induk Pengembangan, Pembuatan Rancangan Global, Pembuatan
Rancangan Rinci, Implementasi dan Operasionalisasi. Dalam pemilihan strategi
harus dipertimbangkan berbagai faktor seperti: keadaan yang sekarang dihadapi,
keadaan pada waktu sistem informasi siap dioperasionalkan dan keadaan dimasa
mendatang, termasuk antisipasi perkembangan organisasi dan perkembangan
teknologi . ketidaktepatan dalam melakukan prediksi
Keadaan dimasa mendatang merupakan salah satu penyebab kegagalan
implementasi dan operasionalisasi sistem informasi.
Konsep 6: Pengembangan sisem informasi orgaisasi harus menggunakan
pendekatan fungsi dan dilakukan secara menyeluruh (Holistik)
Pada banyak kasus, pengembangan sistem informasi dilakukan dengan
menggunakan struktur organisasi dan pada umumnya mereka mengalami
kegagalan, karena struktur organisasi sering kali kurang mencerminkan semua
fungsi yang ada didalam organisasi. Sebagai pengembang sistem informasi hanya
bertanggung jawab dalam mengintegrasikan fungsi-fungsi dan sistem yang ada
didalam organisasi tersebut menjadi satu sistem informasi yang terpadu. Pemetaan
fungsi-fungsi dan sistem kedalam unit-unit structural yang ada didalam organisasi
tersebut adalah wewenang dan tanggung jawab dari pimpinan organisasi tersebut.
Penyusunan rancang bangun/desain sistem informasi seharusnya dilakukan secara
menyeluruh sedangkan dalam pembuatan aplikasi bisa dilakukan secara sektoral
atau segmental menurut priorita dan ketersediaan dana. Pengembangan sistem
yang dibuat sektoral atau segmental tanpa adanya desain sistem informasi yang
menyeluruh akan menyebabkan kesulitan dalam melakukan integrasi sisem.
Konsep 7: Informasi telah menjadi asset organisasi.
Dalam konsep managemen modern, informasi telah menjadi salah satu
asset dari suatu organisasi, selain uang, SDM, sarana dan prasarana. Penguasaan
informasi internal dan eksternal organisais merupakan salah satu keunggulan
kompetitif, karena keberadaan informasi tersebut :
 Menentukan kelancaran dan kualitas proses kerja,
 Menjadi ukuran kinerja organisasi/perusahaan
 Menjadi acuan yang pada akhirnya menentukan kedudukan/peringkat
organisasi tersebut dalam persingan local ataupun global.

Konsep 8 : Penjabaran sistem sampai ke aplikasi menggunakan struktur


hirarkis yang mudah dipahami.
Dalam semua kepustakaan yang membahas konsep sistem, hanya dikenal
dengan istilah sistem dan subsistem. Hal ini akan menimbulkan kesulitan dalam
melakukan penjabaran istem informs yang cuku lus cakupannya.

3.2 Rancang Bangun/Desain Sistem Informasi Rumah Sakit

Rancang bangun/desain Sistem Informasi Rumah Sakit (SIRS) sangat


bergantung pada jenis rumah sakit tersebut. Rumah sakit di Indonesia berdasarkan
kepemilikannya dibagi menjadi 2, yaitu :
1. Rumah Sakit Pemerintah, yang dikelolah oleh :
 Departemen Kesehatan
 Departemen Dalam Negeri
 TNI
 BUMN
2. Rumah Sakit Swasta, yang dmiliki dan dikeelolah oleh sebuah yayasan
baik yang sifatnya non profit maupun profit.

Berdasarkan sifat layanannya Rumah sakit dibagi dua, yaitu :


1. Rumah Sakit Umum.
Untuk rumah sakit pemerintah, Rumah Sakit Umum digolongkan menjadi
4 tingkatan, sebagai berikut :
a. Rumah Sakit Umum tipe A, rumah sakit umum yang memberikan layanan
medis spesialistik dan subspesialistik yang luas.
b. Rumah Sakit Umum Tipe B, rumah sakit umum yang memberikan layanan
medis spesialistik dan subspesialistik yang terbatas.
c. Rumah Sakit Umum Tipe C, rumah sakit umum yang memberikan layanan
medis spesialistik yang terbatas, seperti penyakit dalam, bedah, kebidanan,
dan anak.
d. Rumah Sakit Umum Tipe D, rumah sakit umum yang memberikan
layanan medis dasar.
Untuk Rumah Sakit Swasta, Rumah Sakit Umum di golongkan menjadi
3tingkatan sebagai berikut:
a. Rumah Sakit Umum Pratama, rumah sakit umum yang memberikan
layanan medis umum.
b. Rumah Sakit Umum Madya, rumah sakit umum yang memberikan
layanan medis spesialistik.
c. Rumah Sakit Umum Utama, rumah sakit umum yang memberikan layanan
medis spesialistik dan subspesialistik.

 Rumah Sakit Khusus.


Rumah sakit khusus ini banyak sekali ragamnya, rumah sakit ini melakukan
penanganan untuk satu atau beberapa penyakit tertentu dan layanan medis
subspesialistik tertentu. Yang masuk dalam kelompok ini diantaranya:
Rumah Sakit Karantina, Rumah Sakit Bersalin, dsb.

Atas dasar dari penetapan kriteria dan kebijakan pengembangan SIRS tersebut di
atas, selanjutnya ditetapkan sasaran pengembangan sebagai penjabaran dari
sasaran jangka pendek pengembangan SIRS, sebagai berikut:
1. Memiliki aspek pengawasan terpadu, baik yang bersifat pemeriksaan
atau pengawasan (auditable) maupun dalam hal pertanggung-jawaban
penggunaan dana (accountable) oleh unit-unit yang ada di lingkungan
rumah sakit.
2. Terbentuknya sistem pelaporan yang sederhana dan mudah
dilaksanakan, akan tetapi cukup lengkap dan terpadu.
3. Terbentuknya suatu sistem informasi yang dapat memberikan
dukungan akan informasi yang relevan, akurat, dan tepat waktu
melalui dukungan data yang bersifat dinamis.
4. Meningkatkan daya guna dan hasil guna seluruh unit organisasi
dengan menekan pemborosan.
5. Terjaminnya konsistensi data.
6. Orientasi ke masa depan.
3.3 Pengembangan Sistem Infomasi Rumah Sakit
Dalam melakukan pengembangan SIRS, pengembang haruslah bertumpu
dalam 2 hal penting yaitu “kriteria dan kebijakan pengembangan SIRS” dan
“sasaran pengembangan SIRS” tersebut. Adapun kriteria dan kebijakan yang
umumnya dipergunakan dalam penyusunan spesifikasi SIRS adalah sebagai
berikut :
1. SIRS harus dapat berperan sebagai subsistem dari Sistem Kesehatan
Nasional dalam memberikan informasi yang relevan, akurat dan tepat
waktu.
2. SIRS harus mampu mengaitkan dan mengin-tregasikan seluruh arus
informasi dalam jajaran Rumah Sakit dalam suatu sistem terpadu.
3. SIRS dapat menunjang proses pengambilan keputusan dalam proses
perencanaan maupun pengambilan keputusan operasional pada berbagai
tingkatan.
4. SIRS yang dikembangkan harus dapat meningkatkan daya guna dan hasil
guna terhadap usaha-usaha pengembangan sistem informasi rumah sakit
yang telah ada maupun yang sedang dikembangkan.
5. SIRS dikembangkan harus mempunyai kemampuan beradaptasi terhadap
perubahan dan perkembangan dimasa datang.
6. Usaha pengembangan sistem informasi yang menyeluruh dan terpadu
dengan biaya investasi yang tidak sedikit harus diimbangi pula dengan
hasil dan manfaat yang berarti (rate of return) dalam waktu yang relative
singkat.
7. SIRS yang dikembangkan harus mampu mengatasi kerugian sedini
mungkin.
8. Pentahapan pengembangan SIRS harus disesuaikan dengan keadaan
masing-masing subsistem serta sesuai dengan kriteria dan prioritas .
9. SIRS yang dikembangkan harus mudah dipergunakan oleh petugas,
bahkan bagi petugas yang awam sekalipun terhadap teknologi computer
(user friendly).
10. SIRS yang dikembangkan sedapat mungkin menekan seminimal mungkin
perubahan, karena keterbatasan kemampuan pengguna SIRS di Indonesia,
untuk melakukan adaptasi dengan sistem yang baru.
11. Pengembangan diarahkan pada subsistem yang mempunyai dampak yang
kuat terhadap pengembangan SIRS
Generasi Baru Sistem Informasi Rumah Sakit
RSUD Dr. SOETOMO SURABAYA

a. Overview : Rumah Sakit Umum Daerah Dr. Soetomo - Surabaya

Rumah Sakit Umum Daerah Dr. Soetomo sebagai salah satu rumah sakit terbesar
di Indonesia merupakan rumah sakit kelas A yang berdiri di atas tanah seluas
163.875 m2 dan luas bangunan 98.121 m2 serta mempunyai kapasitas tempat
tidur (TT) 1.449. RSUD Dr. Soetomo tidak hanya untuk melayani pengobatan,
melainkan juga sebagai rumah sakit pendidikan, penelitian dan pusat rujukan
tertinggi untuk wilayah Timur.

b. Tantangan : Akses real-time untuk informasi pasien dan respon time dan
Peningkatan efisiensi

RSUD Dr. Soetomo melayani lebih dari satu juta pasien per tahun baik rawat
jalan, rawat inap dan rawat darurat beserta penunjang-penunjangnya, dimana
diperlukan suatu Sistem Informasi Rumah Sakit (SIRS) yang mampu mengatur,
mencatat, mendokumentasikan, menampilkan informasi dan menganalisis seluruh
kegiatan operasional Rumah sakit. Tantangan selanjutnya adalah bagaimana
seluruh kegiatan pada cakupan luas bangunan 98.121 m2 dapat diakses dengan
real time, yang selanjutnya dapat meningkatkan respon time layanan dan
meningkatkan efisiensi kinerja termasuk sebagai fungsi control dengan
accountability yang tinggi.
Hal tersebut diatas harus ditopang oleh infrastruktur sistem informasi yang
handal, stabil, secure dan reliable sebagai pondasi Sistem Informasi Rumah Sakit
Terintegrasi dengan skala enterprise.
c. Solusi : Implementasi Structured Cabling System & Hardware yang tepat
sebagai pondasi SIRS Terintegrasi


Implementasi Structure Cabling System SIRS Soetomo :

1. Cabling system

 Backbone Cabling Infrastructure


Merupakan jalur utama yang menghubungkan dari Ruang Server ke Segmen-
segmen utama. Untuk Jaringan utama ini digunakan kabel Fiber Optic multimode
50 micron. Topologi yang akan diimplementasikan menggunakan topologi Full
Star dan dibackup menggunakan redundant link antar segmentnya. Total Panjang
kabel fiber optik yang diimplementasikan di RSUD Soetomo adalah 17.000
Meter.

 Horizontal Cabling Subsystem

Merupakan sistem distribusi dari horizontal cross connect (segmentasi) ke outlet


atau konektor. Kabel yang digunakan adalah Kabel UTP Cat 5e. Kabel tersebut
dapat menghantarkan data dengan kecepatan antara 100 Mega Byte per Second
sampai 1000 Mega Byte per Second.
 Work Area Subsystem

Merupakan perpanjangan dari outlet/connector ujung dari horizontal cabling


system ke alat-alat workstation seperti PC atau Printer. Work Area Subsystem
terdiri dari Modular Jack RJ.45, Mounting Faceplate dan Patch Cord.

 Pathway

Merupakan jalur kabel baik untuk backbone kabel maupun untuk horizontal kabel
subsystem.

 Sistem Rack
Rack sistem digunakan untuk managemen penempatan terminasi sistem
pengkabelan dan penempatan server maupun switch. Sistem rack ini
sebagai representative segmentasi jaringan dimana terdapat 47 segment
untuk menjangkau seluruh Work Area Subsystem sebagai representative
layanan-layanan di RSUD. Dr. Soetomo.

 Telah terinstall 1300 titik structured distribution network untuk memenuhi


kebutuhan sebaran layanan baik saat ini dan akan datang.

2. Switching

Jaringan di Rumah Sakit menggunakan teknologi high-speed multilayer network


switches untuk menyediakan interkoneksi antara server-server (farm server), user-
user dan interkoneksi antara user dan server. Arsitektur jaringannya terdiri dari
switch-switch dengan servis intelligent jaringan yang tinggi seperti performa,
keamanan, availabilitas dan skalabilitas yang tinggi.Digunakan Core switch layer
7 sebagai backbone switch untuk mendukung kebutuhan performa yang tinggi,
redundancy, failover system dan kemudahan akan pengembangan baik scale up
maupun scale out. Pada distribution switch digunakan switch layer 3 dengan
interkoneksi ke backbone switch via Fiber optic dengan kecepatan 1 GB dan
ketersediaan 20 port 10/100/1000 Mbps akan menggaransi reliability dan
availabilitas jaringan. Setting VLAN, ACL, dan mac address filtering akan
memberi keamanan pada jaringan tersebut.

3. Sistem Pentanahan (Grounding)

Untuk melindungi alat jaringan dan server dari serangan petir dan kebocoran
listrik diperlukan sistem pentanahan yang baik. Standarisasi untuk grounding yang
baik untuk peralatan jaringan dan server adalah kurang dari 1 Ohm. Telah
terpasang 15 system grounding untuk memenuhi kebutuhan 47 segment jaringan
di RSUD. Dr. Soetomo.

4. Topologi Jaringan
Desain arsitektur dengan topologi jaringan star menjamin seluruh luasan RSUD
Soetomo tercover dan di backup menggunakan topologi ring untuk menjamin
redundancy link.

IMPLEMENTASI PERANGKAT KERAS (HARDWARE) YANG TEPAT


UNTUK MENDUKUNG SIRS

1. Enterprise Server

 Performance : Dapat mendukung kebutuhan system yang akan


diaplikasikan dan memenuhi kebutuhan klient
 High availability: Memenuhi kebutuhan redundancy dan fail over sehingga
Tercipta zero downtime.
 Scalable : Dapat dilakukan upgrade dengan mudah baik performa
maupun layanannya.
 Menggunakan multiple server enterprise yang saling mendukung dan
saling dapat menggantikan satu sama lain.
 Spesifikasi :
- Multiple Processor
- Redundancy Storage (RAID tolerance) dengan kapasitas besar
- Kebutuhan memory yang besar
- Redundancy Network Interface Card
- Redundancy Power Supply
- Menggunakan Operating System yang mendukung Mesin server, Data
Base System dan Aplikasi menjadi kesatuan yang bersinergi tinggi
 Replikasi : Bahwa data base pada server utama dilakukan replikasi real
time ke server back up sehingga databasenya akan selalu sama. Bila terjadi
pergantian server maka downtime dapat diminimalkan.
 Data Backup : Dilakukan Backup data base dengan media tape yang dapat
disimpan ke tempat lain. Mekanisme backup melalui backup harian,
bulanan dan tahunan. Data Backup digunakan sebagai backup bila terjadi
kerusakan atau bahkan bencana di RS.
 Data Recovery Planning /Data Recovery Center : Dilakukan replikasi data
base seperti halnya replikasi di data center antara server utama ke server
backup. Dalam hal ini server Backup berada di Kantor Pusat PT. BVK.
Interkoneksi antara Data Center yang ada di RSUD. Dr. Soetomo dengan
PT. BVK menggunakan link IPVPN sebesar 2 Mbps.

2. PC
Merupakan alat gerbang utama masuknya data. Diperlukan PC yang handal dan
sesuai dengan kebutuhan baik oleh sipengguna maupun oleh aplikasi / software
yang akan dijalankan.

3. Printer Dot Matrik


Printer ini diperuntukkan untuk melakukan pencetakan yang berkesinambungan
dengan output multi-part form. Printer ini untuk mencetak laporan, kwitansi, bukti
dan lain sebagainya.Printer yang dipakai adalah LX-300 plus II dan LQ-2190
4. Printer Kartu
Printer kartu ini digunakan untuk mencetak kartu pasien

5. Printer Label
Setiap berkas pasien akan diberikan label untuk kemudahan, keamanan,
menghindari saling tertukar dan juga upaya patient safety

6. Barcode Scanner
Untuk membaca label setiap berkas diperlukan Barcode Scanner

7. UPS
Untuk menjaga keberlangsungan operasional terhadap perpindahan dari PLN ke
Genset maka perlu Uninterupted Power Supply.

8. Tape Backup
Semua data yang ada di server harus diakukan backup daily, weekly dan monthly

Manfaat :
Solusi yang diterapkan di RSUD. Dr. Soetomo memberi kemampuan SIRS
terintegrasi baik front office dan back office berjalan dengan baik pada cakupan
luas bangunan 98.121 m2.
Aplikasi kegiatan di rawat inap, rawat jalan, rawat darurat beserta penunjangnya,
laboratorium, radiologi, farmasi, akuntansi, inventory, rekam medis, mobilisasi
dana, CRM, Kepegawaian dan laporan-laporannya dapat terintegrasi pada Single
Enterprise Data Base Server.
Manfaat utama yang saat ini dirasakan adalah kemampuan compatibility dan
interkoneksi dengan pihak lain seperti Laboratory Information System (LIS),
Radiology Information System (RIS), Picture Archiving and Communication
System (PACS) dan Bridging dengan Bank maupun lembaga penyelenggara
jaminan sosial atau kesehatan.
Sejak instalasinya di RSUD Dr. Soetomo, solusi ini telah menopang milyaran
transaksi dan telah beroperasi pada 99,9% uptime dengan operation mode 24 X 7
x 365.

BAB V
PENUTUP

Sistem informasi Rumah Sakit yang berbasis komputer (Computer Based


Hospital Informasion System) memang sangat diperlukan untuk sebuah rumah
sakit dalam era globalisasi, namun untuk membangun sistem informasi yang
terpadumemerlukan tenaga dan biaya yang cukup besar. Kebutuhan akan tenaga
dan biaya yang besar tidak hanya dalam pengembangannya, namun jjuga dalam
pemeriharaan SIRS maupun dalam melakukan migrasi dari sistem yang lama pada
sistem yang baru. Selama management rumah sakkit tersebut, maka kebutuhan
biaya dan tenaga tersebut diatas dirasakan sebagai beban berat, bukan sebagai
konsekuensi dari adanya kebutuhan akan informasi. Kalau informasi telah
menjadi aset rumah sakit, maka beban biaya untuk pengembangan, pemeliharaan
maupun migrasi SIRS sudah selayaknya masuk dalam kalkulasi biaya layanan
kesehatan yang dapat diberikan oleh rumah sakit itu. Perlu disadari sepenuhnya,
bahwa penggunaan teknologi informasi dapat menyebabkan ketergantungan,
dalam arti sekali mengimplementasikan dan mengoperasionalkan SIRS, maka
rumah sakit tersebut selamanya terpaksa harus menggunakan teknologi informasi.
Hal ini disebabkan karena perubahan dari sistem yang terotomasi menjadi sistem
manual merupakan kejadian yang sangat tidak menguntungkan bagi rumah sakit
tersebut. Perangkat lunak SIRS siap pakai yang tersedia di pasaran pada saat ini
sebagian besar adalah perangkat lunak SIRS yang hanya mengelola sebagian
sistem atau beberapa subsistem dari SIRS. Untuk dapat memilih rumah sakkit
tersebut harus sudah memiliki rancang bangun/desain SIRS yang sesuai dengan
kondisi dan situasi rumah sakitnya.