Anda di halaman 1dari 16

BAB I

PENDAHULUAN
1.1 Latar belakang
Sebagai negara yang sedang berkembang, bangsa Indonesia memiliki kewajiban
untuk melaksanakan pembangunan disegala bidang. Salah satunya adalah pembangunan
disektor ekonomi yang sedang digiatkan oleh pemerintah untuk mencapai kemandirian
perekonomian nasional. Untuk mencapai tujuan ini pemerintah menitik beratkan pada
pembangunan disektor industri. Perkembangan industri di Indonesia, khususnya industri
kimia mengalami peningkatan setiap tahunnya. Kemajuan dibidang industri mempunyai
peranan yang sangat penting dalam pembangunan nasional disegala bidang guna
meningkatkan kesejahteraan masyarakat.
Pupuk adalah material yang ditambahkan pada media tanam atau tanaman untuk
mencukupi kebutuhan hara yang diperlukan tanaman sehingga mampu berproduksi
dengan baik. Material pupuk dapat berupa bahan organik ataupun non organik. Pupuk
berbeda dari suplemen, pupuk mengandung bahan baku yang diperlukan untuk
pertumbuhan dan perkembangan tanaman, sementara suplemen seperti hormon
tumbuhan membantu kelancaran proses metabolisme. Meskipun demikian, kedalam
pupuk, khususnya pupuk buatan dapat ditambahkan sejumlah material suplemen.
Pupuk Urea merupakan pupuk kimia yang mengandung Nitrogen (N) berkadar
tinggi. Unsur Nitrogen merupakan zat hara yang sangat diperlukan tanaman. Pupuk
urea berbentuk butir-butir kristal berwarna putih. Pupuk urea dengan rumus kimia
NH2CONH2 merupakan pupuk yang mudah larut dalam air dan sifatnya sangat
mudah menghisap air (higroskopis), karena itu sebaiknya disimpan di tempat yang
kering dan tertutup rapat. Pupuk urea mengandung unsur hara N sebesar 46% dengan
pengertian setiap 100 kg mengandung 46 kg Nitrogen, moisture 0,5%, kadar Biuret 1%,
ukuran 1-3,35 mm 90% Min serta berbentuk Prill, Pusri (2013).
Urea diproduksi dengan bahan baku berupa amonia (NH3) dan karbon dioksida
(CO2), sintesa ini dilaksanakan untuk pertama kalinya oleh BASF pada tahun 1941.
Produksi Urea terdiri dari dua reaksi utama, yaitu Pembentukan amonium karbamat dan
selanjutnya dehidrasi amonium karbamat untuk menghasilkan urea cair, untuk proses
pembuatannya dibagi 6 unit, yaitu sintesa unit, purifikasi unit, kristaliser unit, prilling
unit, recovery unit dan proses kondensat treatment unit. Di Indonesia pupuk diproduksi
oleh enam perusahaan, lima diantaranya adalah Badan Usaha Milik Negara (BUMN)
yang membentuk sebuah Holding Company, dimana PT PUSRI merupakan Leading
Company. Salah satu perusahaan, yaitu PT Asean Aceh Fertilizer di likuidasi pada
tahun 2006, karena sudah tidak dapat meneruskan kegiatan produksinya sejak 2003
serta sudah rusaknya sebagian besar peralatan dipabrik tersebut.
Kapasitas produksi pabrik pupuk di Indonesia relatif tidak mengalami
penambahan yang signifikan sejak tahun 2003 hingga tahun 2007. Penambahan
kapasitas terdapat pada pabrik Urea pada tahun 2005 yang meningkat kapasitas
produksinya menjadi 8.030.000 ton dari sebelumnya sebesar 7.517.000 ton. Kapasitas
produksi pupuk relatif tidak berkembang, karena kebutuhan pupuk masih sangat
tergantung pada kebijakan pemerintah yang menentukan jumlah pupuk yang akan
digunakan untuk kegiatan pertanian dan perkebunan, hal ini terutama terkait dengan
jumlah subsidi pupuk yang akan diberikan, ICN (2008).
Sementara itu untuk menghadapi peningkatan konsumsi pupuk oleh industri
pertanian dengan rencana swasembada pangan pada tahun 2018, pemerintah akan
melakukan peningkatan produksi industri pupuk melalui program revitalisasi industri
pupuk yang akan dianggar sebesar 8,5 triliun, KEMENPERIN (2018).
Pengembangan industri pupuk di Indonesia sebagai berikut:
(a) meningkatnya perkembangan populasi manusia yang mendorong kebutuhan
pangan dunia sehingga meningkatan suplai nitrogen.
(b) mengurangi terjadinya kelangkaan pupuk.
(c) memperbanyak ekspor urea untuk menambah devisa negara.
Bedasarkan beberapa fakta tersebut, terlihat bahwa peluang bisnis untuk
pembuatan pabrik Urea yang sangat prospektif dan menjanjikan, selain itu, Indonesia
mengalami pertumbuhan ekonomi dan industri yang pesat merupakan pasar yang
menjanjikan untuk penjualan produk pupuk Urea.

1.1.1 Data Produksi dan Kebutuhan di Indonesia


Berdasarkan data yang dirilis APPI (Asosiasi Produsen Pupuk Indonesia), terlihat
kebutuhan pupuk Urea di Indonesia dari tahun-tahun sebelumnya hingga saat ini
pertumbuhan kebutuhan Urea teramati semakin meningkat.
Tabel 1.1 Data Ekspor, Konsumsi Domestik, dan Produksi Pupuk Urea
No Tahun Ekspor Konsumsi Domestik Produksi
(ton/tahun) (ton/tahun) (ton/tahun)
1 2011 750.430 5.744.731 6.743.422
2 2012 989.612 5.546.892 6.907.237
3 2013 1.359.109 5.216.797 6.698.349
4 2014 1.107.880 5.589.484 6.742.366
5 2015 831.894 5.490.515 6.917.372
6 2016 1.253.200 5.329.717 6.462.938
7 2017 766.864 5.970.397 6.838.063
Rata-rata 1.008.427 5.555.505 6.758.535
(sumber:Asosiasi Produsen Pupuk Indonesia, 2017)
Berdasarkan data yang dirilis dapat kita lihat bahwa kebutuhan pupuk Urea dunia
dan kebutuhan konsumsi di Indonesia mengalami peningkatan, menunjukan bahwa
kebutuhan konsumsi Urea di Indonesia dan dunia cukup tinggi. Selain itu pendirian
pabrik pupuk Urea ini diharapkan mampu membuka lapangan kerja dan mampu
meningkatkan taraf hidup dan kesejahteraan rakyat, dapat memberikan informasi
mengenai pabrik pupuk Urea dari Amonia dan Karbon Dioksida sehingga dapat
dijadikan referensi untuk pendirian suatu pabrik pupuk Urea.
Data kebutuhan dan produksi Urea untuk luar negeri yang dikeluarkan oleh World
Bank Data pada tahun 2015.
Tabel 1.2 Data Konsumsi dan Produksi Pupuk Urea di Dunia
No Tahun Konsumsi Dunia Produksi Dunia Kebutuhan Pupuk
(juta ton/tahun) (juta ton/tahun) (juta ton/tahun)
1 2009 94.267.000 67.330.385 26.936.615
2 2010 89.926.000 65.312.116 24.613.884
3 2011 91.028.000 69.939.809 21.088.191
4 2012 92.240.000 72.937.867 19.302.133
5 2013 89.307.000 71.692.909 17.614.091
6 2014 89.776.000 66.170.186 23.605.814
7 2015 94.013.000 69.221.900 24.791.100
Rata-rata 91.508.000 68.943.596 22.564.547
(Sumber:World Bank Data, 2015)
Produksi pupuk dunia saat ini tidak dapat mencukupi konsumsi urea dan ini
merupakan pangsa pasar yang sangat menjanjikan untuk mendirikan pabrik pupuk
Urea, selain untuk pasar dalam negeri tentunya juga untuk diekspor.
Berdasarkan analisis pasar dunia dan Indonesia, ada beberapa hal yang menarik:
(a) kebutuhan dunia dan Indonesia akan pupuk Urea terus naik signifikan seiring
dengan kebutuhan dunia akan pangan.
(b) pabrik pembuatan Urea di Indonesia pada saat ini dapat mencukupi kebutuhan
pasar, tapi belum tentu dimasa yang akan datang.
Produksi pupuk Urea di Indonesia dapat dilihat pada tabel 1.1 semakin meningkat,
dengan ini dapat diyakini semakin bertambahnya jumlah penduduk, maka kebutuhan
akan pupuk Urea juga akan meningkat, baik untuk kebutuhan domestik maupun untuk
kebutuhan pasar ekspor.
Berdasarkan data tersebut, terlihat bahwa peluang pembuatan pabrik Urea sangat
prospektif dan menjanjikan, selain itu terlihat bahwa Indonesia mengalami pertumbuhan
ekonomi dan industri yang pesat, merupakan pasar yang menjanjikan untuk penjualan
produk pupuk Urea.

1.1.2 Ketersediaan bahan baku


Bahan baku yang digunakan dalam proses pembuatan urea adalah amonia cair
dan gas karbon dioksida. Penentuan kapasitas berdasarkan ketersediaan bahan baku
dari bahan yang akan dibuat. Amonia diproduksi oleh beberapa pabrik diantaranya PT
Pupuk Sriwidjaja, PT Petrokimia Gresik, PT Pupuk Kalimantan Timur, PT Pupuk
Kujang, dan PT Pupuk Iskandar Muda. Pada tabel 1.3 dibawah ini dapat dilihat
kapasitas produksi amonia dari beberapa pabrik sebagai bahan baku pembuatan Urea.
Tabel 1.3 Kapasitas Produksi Amonia
No. Perusahaan Kapasitas Produksi
1 PT. Pupuk Sriwidjaja 1.832.000
2 PT. Petrokimia Gresik 1.875.000
3 PT. Pupuk Kalimantan Timur 2.650.000
4 PT. Pupuk Iskandar Muda 660.000
5 PT. Pupuk Kujang 660.000
(Sumber:Pupuk Indonesia Holding Company, 2018)
Selain amonia, dalam pembuatan Urea dibutuhkan pula karbon dioksida, karbon
dioksida diperoleh dari PT Aneka Gas Industri yang memproduksi karbon dioksida
sebanyak 150.000 ton.
1.2 Proses - Proses yang Tersedia
Sintesa Urea secara komersial yang berkembang saat ini ada tiga proses yaitu:
Ones – trough urea process; pada proses ini karbamat yang tidak terdekomposisi
dikonversi menjadi gas NH3 dan CO2 dengan menggunakan panas yang dihasilkan
reaktor sintesis dengan tekanan rendah, gas NH3 dan CO2 dipisahkan dari larutan Urea
dan diutilisasi untuk memproduksi garam amonia lewat absorbsi NH3 dengan larutan
nitrat atau sulfat sebagai absorben.
Solution recycle urea process; gas NH3 dan CO2 diambil dari campuran keluaran
reaktor sintesis Urea dibagian dekomposisi bertahap dengan tekanan yang divariasikan
didalam air dan didaur ulang kembali kereaktor lain untuk membentuk larutan amonia
dari amonium karbamat.
Interval Carbamat recycle urea process; karbamat yang tidak bereaksi dan
amonia berlebih dilucuti dari aliran keluar reaktor sintesa Urea melalui gas panas CO2
atau NH3 pada tekanan reaktor dan dikondensasikan kembali kereaktor melalui aliran
yang menggunakan gaya gravitasi untuk recovery, pengeluaran reaktor dan recycle
amonium carbamat pada umumnya berupa larutan dengan konsentrasi 70-75% lb mol
dan diproses lebih lanjut menjadi padatan. Dua cara untuk mengubah Urea menjadi
padatan, yaitu:
Evaporasi; evaporasi air dilakukan pada tekanan vakum, atau dengan tekanan
rendah menggunakan udara panas sebagai pengering atau atmosferic air sweep
evaporation, dengan penurunan tekanan dan pemanasan steam, maka cairan akan
terpisah dari uap, tetapi hal ini akan mempercepat pembentukan biuret yang rata-rata
mencapai 0,4% lb mol. Proses evaporasi ini hanya digunakan pada proses pembuatan
Urea untuk fertilizer.
Kristalisasi; hasil dari aliran ini lebih murni dan lebih bagus untuk keperluan
industri, 75% larutan urea diumpankan ke vacum crystalizer, beroperasi pada
72,5mmHg absolut dan 60oC, uap air dikondensasikan dengan pendingin vacum slurry
yang keluar dari dasar crystalizer mengandung 30% kristal Urea diumpankan ke
centrifuge sehingga kristal Urea terpisah dan dicuci dengan air lalu dikeringkan,
kemudian dinaikkan ke prilling tower dan dilelehkan. Lelehan Urea ini mengandung
0,3% biuret dan 0,2% moisture. Lelehan Urea didistribusikan kebawah prilling tower
dan berupa butiran seragam yang dikirim ke unit pengantongan, sedangkan Urea yang
mempunyai ukuran yang lebih besar dari yang diinginkan di recycle dengan cara
melarutkan dalam dissolving tank untuk di recycle ke mother liquor tank. Berdasarkan
prinsip recyclenya, proses total recycle dapat dibagi menjadi lima:
Hot Gas Mixture Recycle; pada proses ini campuran karbon dioksida, amonia,
dan air ditekan dalam beberapa tahap hingga mencapai 20-130atm, kemudian
dikondensasikan dan dikembalikan ke reaktor.
Separated Gas Recycle; pada proses ini karbon dioksida dipisahkan dari amonia
dan ditekan secara terpisah sebelum dikembalikan ke reaktor. Keuntungan proses ini
adalah konversinya tidak berkurang karena air tidak ikut direcycle dan dapat
menghindari masalah korosi (larutan karbamat).
Slurry Recycle; proses ini jarang dilakukan karena sulit dalam recovery energi
dan mahalnya biaya untuk make up. Pada proses ini amonia dan karbon dioksida
dipisahkan dari larutan Urea yang keluar dari reaktor kemudian dikondensasikan agar
terbentuk amonium karbamat. Kristal ini dipompakan dari reaktor dalam bentuk
suspensi minyak.
Carbamat Solution Recycle; proses ini melibatkan dekomposisi karbamat pada 2
atau 3 tahap penurunan tekanan. Pada tiap tahap, gas yang dilepaskan (karbon dioksida
dan amonia) diabsorpsi oleh larutan hasil kondensasi tahap sebelumnya dan larutan
yang dihasilkan dikembalikan ke reaktor.
Stripping; perbedaan proses ini dengan lainnya yaitu recovery amonium karbamat
yang tidak terkonversi dari larutan Urea yang keluar reaktor. Pada proses ini larutan
karbamat di stripping dari larutan Urea pada tekanan yang sama dengan tekanan
reaktor. Gas hasil stripping dikondensasikan dan dikembalikan ke reaktor. Berdasarkan
beberapa proses yang dijelaskan ada dua proses lama masih digunakan, yaitu.
1. UTI (Urea Technologies Inc.)
Amonia, Recycle karbamat dan 60% CO2 sebagai feed dimasukkan melalui bagian
atas reaktor dengan tekanan 210bar. Amonium karbamat terbentuk didalam reaktor
yang dilengkapi dengan coil dan keluar lewat bagian bawah dengan aliran yang
berputar. Bahan yang keluar reaktor didinginkan kemudian gas dilepaskan dan masuk
dekomposer, sebelum masuk dekomposer, gas ini dicampurkan dengan 40% CO2
didalam separator dan diembunkan dalam heat recovery. Gabungan dari gas tersebut
diembunkan kembali sehingga terbentuk aliran karbamat recycle. Larutan karbamat
hasil evaporasi mempunyai konsentrasi 86-88% sebelum digranulasi pada proses
prilling. Proses UTI hanya digunakan pada skala kecil dan medium.
2. Proses Mitsui Toatsu Coorporation (MTC) Conventional Process of Toyo
Engineering Coorporation
Pada proses total recycle seluruh amonia dan CO2 yang tidak terkonversi
dikembalikan lagi ke reaktor. Proses ini bergantung pada suplai NH3 dan CO2.
Tabel 1.4 Kelebihan dan Kelemahan Proses
Jenis proses Kelebihan Kelemahan
Ones – trough  Metodenya yang sederhana  Terjadi pembentukan garam
urea process amonia yang berlebih dalam
produk urea
 Konversi CO2 rendah
 Biaya produksi tinggi
 Menggunakan energi yang
tinggi
 Tingkat polusi udara tinggi
Solution recycle  Tingkat konversi CO2 yang  Biaya produksi tinggi
urea process tinggi  Membutuhkan energi yang
tinggi
 Tingkat polusi udara yang
tinggi
Interval  Urea yang dihasilkan cukup  Biaya produksi dan biaya
Carbamat recycle tinggi setiap lewatan yang dibutuhkan juga dalam
urea process  Kemurnian urea yang jumlah relatif besar
dihasilkan tinggi  Menggunakan energi yang
tinngi
UTI  Konsentrasi 86-88%  Proses UTI hanya
(Urea sebelum kemudian digunakan pada skala kecil
Technologie Inc.) digranulasi pada proses dan medium
prilling  Tingakt produksi mahal
 Pemakaian uap bertekanan  Konsumsi energi tinggi
rendah sangat sedikit
Proses Mitsui  Metodenya sederhana  Proses ini bergantung pada
Toatsu  Biaya produksi rendah suplai NH3 dan CO2
Coorporation  Pemulihan energi yang  Modal yang dibutuhkan
(MTC) tinggi besar.
Conventional  Tingkat polusi yang rendah
 Efisiensi yang tinggi
1.3 Pemilihan Proses
Proses ACES (Proses Tingkat Lanjut Biaya dan Hemat Energi) telah
dikembangkan oleh Toyo Engineering Corporation. Bagian dari sintesis terdiri dari
reaktor, stripper, dua kondensor karbamat paralel dan scrubber, semua dioperasikan
pada tekanan 172,71atm, dan reaktor dioperasikan pada suhu 182°C dan rasio umpan
molar yang digunakan NH3:CO2 berbanding 4:1. Amonia cair diumpankan langsung ke
reaktor, sedangkan gas karbon dioksida setelah dikompresi dimasukkan ke bagian
bawah stripper. Campuran sintesis dari reaktor terdiri dari Urea, Amonia, dan Karbamat
yang tidak terkonversi. Amonia berlebih dan air, diumpankan ke bagian atas stripper.
Proses ini terdiri dari bagian berikut: (a) Synthesis section; (b) Purification section; (c)
Absorption section; (d) Evaporation section; (e) Condensate treatment section; dan
(f) Finishing section.
Bagian sintesis dioperasikan pada tekanan 172,71atm dan memiliki komponen
sebagai berikut: (a) Reactor; (b) Stripper; (c) Carbamate condenser; dan (d) Scrubber.
Proses ACES dipilih karena memiliki kelebihan dibandingkan dengan proses lain yaitu.
Konversi CO2 dan Pemisahan yang efisien; proses ACES berfokus pada
pengurangan penggunaan energi melalui kombinasi konversi CO2 satu tingkat dan
pemisahan yang efisien. Proses ini mengurangi penggunaan energi di bagian bawah.
proses telah menjadi fitur dasar proses ACES.
Pemulihan Panas Maksimum; proses ACES terbukti merupakan proses
konsumsi energi terendah melalui teknologi-teknologi berikut:
(a) pemanasan kondensasi gas yang dilucuti digunakan untuk menghasilkan uap
5kg/cm serta untuk memanaskan saluran keluar stripper.
(b) pemanasan kondensasi HP absorber digunakan untuk menguapkan air di bagian
penguapan vakum.
(c) heat yang dibawa oleh gas stripper uap kondensat dikonsumsi dalam LPD. Uap
yang terkondensasi digunakan di MPD serta pre-heaters Amonia dan Urea.
Laju alir yang tinggi; proses ACES memungkinkan untuk memulai kembali
pabrik hingga 100% produksi hanya dalam tiga jam setelah penghentian darurat,
dikarenakan rasio molar amonia terhadap karbon dioksida yang tinggi yang tidak hanya
menurunkan suhu pemadatan tetapi juga membuat larutan sintesis bertahan selama dua
hari secara utuh.
Kurang Korosi; kondensor stripper dan karbamat bekerja pada kondisi korosif.
Namun, Toyo Corporation telah mengembangkan duplex-12 yang paling stabil
terhadap korosi dalam kondisi tertentu dan juga mengurangi jumlah oksigen yang
masuk ke udara.
Fleksibilitas; rasio molar tinggi N/C memberikan fleksibilitas operasional.
Perubahan kecil pada umpan tidak akan mempengaruhi reaksi yang diberikan.
Selanjutnya, dua kondensat karbamat juga memungkinkan untuk memanaskan larutan
Urea ke suhu yang dibutuhkan.
Biaya Perawatan berkurang; meskipun dioperasikan pada kondisi korosif,
pemilihan material proses ACES mengurangi pemeliharaan yang diperlukan. Scrubber
dan reaktor dibuat dari stainless steel 316 L dan kondensor ditambah stripper dibuat
dari baja duplex stain less.
Pengendalian Pencemaran udara; udara dari menara pendingin dicuci dengan
larutan urea 30% untuk membersihkan debu Urea dalam sistem pemulihan debu yang
terletak di atas kolom udara relatif rendah, sehingga emisi amonia juga rendah. Air yang
menguap juga mengandung fraksi kecil Urea dan amonia yang dibuang pada kondensat
uap, dengan demikian air hasil pengolahan terdiri dari 5ppm Urea dan Amonia.
Kualitas Produk; ukuran proses ACES Prill adalah 1,7mm, lebih tinggi 1,4mm
yang dihasilkan oleh teknologi yang lainnya. Ukuran prill ini mungkin memiliki
kelebihan sebagai berikut; (a)Penanganan produk yang mudah; (b)Kekuatan
menghancurkan yang tinggi; (c)Lebih sedikit pembentukan debu; (d)Kualitas
berdasarkan keinginan konsumen.

1.4 Dasar Rancangan


Pra rancangan pabrik pembuatan urea dari amonia dan karbon dioksida didasarkan
pada hal-hal berikut:
1.4.1 Kapasitas Produksi
Kapasitas produksi pembuatan urea dari amonia dan karbon dioksida
direncanakan sebesar 450.000 ton per tahun, sehingga produksinya nanti diharapkan
mampu memenuhi kebutuhan ekspor.
1.4.2 Lokasi Pabrik
Secara geografis, penentuan lokasi pabrik sangat menentukan kemajuan serta
kelangsungan dari suatu industri kini dan masa yang akan datang karena berpengaruh
terhadap faktor produksi dan distribusi dari pabrik yang didirikan. Pemilihan lokasi
pabrik harus tepat berdasarkan perhitungan biaya produksi dan distribusi yang minimal
serta pertimbangan sosiologi dan budaya masyarakat disekitar lokasi pabrik
(Hindrayani, Aniek. 2010).
Faktor Utama; faktor ini secara langsung mempengaruhi tujuan utama dari usaha
pabrik yaitu meliputi produksi dan distribusi produk yang diatur menurut macam dan
kualitasnya, yang termasuk dalam faktor utama adalah (Bernasconi, 1995):
Letak pasar; pabrik yang letaknya dekat dengan pasar dapat lebih cepat melayani
konsumen, sedangkan biayanya juga lebih rendah terutama biaya angkutan.
Letak sumber bahan baku; idealnya, sumber bahan baku tersedia dekat dengan
lokasi pabrik. Hal ini lebih menjamin penyediaan bahan baku, karena dapat mengurangi
keterlambatan penyediaan bahan baku, terutama untuk bahan baku yang berat. Hal-hal
yang perlu diperhatikan mengenai bahan baku:
(a) lokasi sumber bahan baku;
(b) besarnya kapasitas sumber bahan baku dan berapa lama sumber tersebut dapat
diandalkan pengadaanya;
(c) cara mendapatkan bahan baku tersebut dan cara transportasinya;
(d) harga bahan baku serta biaya pengangkuran;
(e) kemungkianan mendapatkan sumber bahan baku yang lain.
Fasilitas pengangkutan; kemungkinan pengangkutan bahan baku dan produk
menggunakan angkutan gerbong kereta api, truk, angkutan melalui sungai dan laut dan
juga angkutan melalui udara yang sangat mahal.
Tenaga kerja; tersedianya tenaga kerja menurut kualifikasi tertentu merupakan
faktor pertimbangan pada penetapan lokasi pabrik tetapi tenaga terlatih atau skilled
labor di daerah setempat tidak selalu tersedia, jika didatangkan dari daerah lain
diperlukan peningkatan upah atau penyediaan fasilitas lainnya sebagai daya tarik.
Pembangkit tenaga listrik; pabrik yang menggunakan tenaga listrik yang besar
akan memilih lokasi yang dekat dengan sumber tenaga listrik.
Faktor Sekunder; yang termasuk dalam faktor sekunder antara lain:
Harga tanah dan gedung; harga tanah dan gedung yang murah merupakan daya
tarik tersendiri, perlu dikaitkan dengan rencana jangka panjang. Jika harga tanah mahal
mungkin hanya dapat diperoleh luasan tanah yang terbatas, sehingga perlu dipikirkan
untuk membuat bangunan bertingkat walaupun pembangunan gedungnya lebih mahal.
Kemungkinan perluasan; perlu diperhatikan apakah perluasan dimasa yang akan
datang dapat dikerjakan disatu tempat atau perlu lokasi lain, apakah disekitar sudah
banyak pabrik lain. Hal ini menjadi masalah tersendiri dalam hal perluasan pabrik
dimasa mendatang.
Fasilitas servis; perlu diperhatikan fasilitas servis untuk pabrik kimia yang relatif
kecil yang tidak memiliki bengkel sendiri, perlu dipelajari adanya bengkel-bengkel
disekitar daerah tersebut yang mungkin diperlukan untuk perbaikan alat-alat pabrik.
Perlu juga dipelajari adanya fasilitas layanan masyarakat, misalnya rumah sakit umum,
sekolah-sekolah, tempat-tempat ibadah, tempat-tempat kegiatan olahraga, tempat-
tempat rekreasi, dan sebagainya. Sedangkan pabrik yang besar, mungkin beberapa
fasilitas tersebut dapat dilayani sendiri walaupun merupakan beban tambahan.
Keuntungannya, selain merupakan daya tarik bagi para pekerja, juga membantu
penjagaan kesehatan fisik dan mental sehingga efisiensi kerja dapat tetap dipertahankan.
Fasilitas finansial; perkembangan perusahaan dibantu oleh fasilitas finansial,
misalnya adanya pasar modal, bursa, sumber-sumber modal, bank, koperasi simpan
pinjam, dan lembaga keuangan lainnya. Fasilitas tersebut akan lebih membantu untuk
memberikan kemudahan bagi suksesnya dalam usaha pengembangan pabrik.
Persediaan air; suatu jenis pabrik memerlukan sejumlah air yang cukup banyak,
misalnya pabrik kertas, karena itu didaerah lokasi diperlukan adanya sumber air yang
kemungkinan diperoleh dari air sungai, danau, sumur (air tanah), laut.
Peraturan daerah setempat; perlu dipelajari terlebih dahulu, mungkin terdapat
beberapa persyaratan atau aturan yang berbeda dengan daerah lain.
Masyarakat daerah; tangggapan dari masyarakat daerah terhadap pembangunan
pabrik perlu diperhatikan dengan seksama, karena hal ini akan menentukan
perkembangan pabrik dimasa yang akan datang. Keselamatan dan keamanan
masyarakat perlu dijaga dengan baik. Hal ini merupakan suatu keharusan sebagai
sumbangan kepada masyarakat.
Iklim daerah tropis; suatu pabrik ditinjau dari segi teknik, ada kalanya
membutuhkan kondisi operasi misalnya kelembapan udara, panas matahari, dan
sebagainya. Hal ini berhubungan dengan kegiatan pengolahan, penyimpanan bahan
baku atau produk. Disamping itu, iklim juga mempengaruhi pola kerja dan moral para
karyawan, keaktifan kerja karyawan dapat meningkatkan hasil produksi.
Keadaan tanah; sifat-sifat mekanika tanah dan tempat pembangunan pabrik
harus diketahui. Hal ini berhubungan dengan rencana pondasi untuk alat-alat, bangunan
gedung, dan bangunan pabrik.
Perumahan; bila disekitar daerah lokasi pabrik telah banyak perumahan, selain
lebih membuat nyaman para karyawan juga dapat meringankan investasi untuk
perumahan karyawan.
Daerah pedesaan; dapat menjadi lebih menarik untuk pembangunan pabrik.
Akibatnya dapat timbul aspek desentralisasi industri. Alasan pemilihan daerah lokasi
pedesaan:
(a) upah buruh relatif rendah;
(b) harga tanah lebih murah;
(c) servis industri tidak terlalu jauh dari kota.
Berdasarkan faktor-faktor tersebut, maka pabrik pembuatan pupuk Urea dari gas
sintetis ini direncanakan berlokasi di Bandar Mataram, Lampung Tengah. Dasar
pertimbangan dalam pemilihan lokasi pabrik yaitu.
(a) Bahan baku
Suatu pabrik sebaiknya didirikan di daerah yang dekat dengan sumber bahan
baku, disamping juga harus diperhatikan jarak pabrik tersebut dengan daerah
pemasaran, sehingga pengaduan transportasi mudah diatasi. Bahan baku pabrik adalah
amonia dan karbon dikosida yang disuplai dari pabrik pupuk Sriwidjaja
(b) Transportasi
Pembelian bahan baku dan penjualan produk dapat dilakukan melalui darat
ataupun laut. Lokasi yang dipilih dalam rencana pendirian pabrik ini merupakan
kawasan perluasan industri, yang telah memiliki sarana pelabuhan.
(c) Pemasaran Produk
Kebutuhan urea terus menunjukkan peningkatan setiap tahun dengan semakin
banyaknya pertanian yang sangat membutuhkan pupuk, sehingga pemasarannya tidak
akan mengalami hambatan. Lokasi pendirian pabrik ini berada pada daerah yang
mempunyai daerah perkebunan yang cukup luas seperti perkebunan kelapa sawit
sehingga produk dapat dipasarkan di Sumatera dan sekitarnya bahkan ke provinsi-
provinsi lain di Indonesia.
(d) Kebutuhan air
Air yang dibutuhkan dalam proses diperoleh dari daerah aliran sungai way seputih
yang mengalir disekitar pabrik, pada proses sarana utilitas dan keperluan domestik.
(e) Kebutuhan tenaga listrik dan bahan bakar
Dalam pendirian suatu pabrik, tenaga listrik dan bahan bakar adalah faktor
penunjang yang paling penting. Pembangkit listrik utama untuk pabrik Urea ini adalah
menggunakan generator yang digerakkan oleh turbin atau expander gas dari unit proses.
(f) Tenaga kerja
Sebagai kawasan industri daerah ini merupakan salah satu tujuan para pencari
kerja. Daerah ini tersedia tenaga kerja terdidik maupun yang tidak terdidik serta tenaga
kerja yang terlatih maupun tidak terlatih.
(g) Biaya tanah
Tanah yang tersedia untuk lokasi pabrik masih cukup luas dan dalam harga yang
terjangkau.
(h) Kondisi iklim dan cuaca
Seperti daerah lain di Indonesia, maka iklim disekitar lokasi pabrik relatif stabil.
Temperatur udara tidak pernah mengalami penurunan maupun kenaikan yang cukup
tajam dimana temperatur udara berada diantara 23-32oC dan tekanan udara berkisar
pada 760 mmHg dan kecepatan udara sedang.
(i) Kemungkinan perluasan dan ekspansi
Ekspansi pabrik dimungkinkan karena tanah yang tersedia cukup luas dan
disekeliling lahan tersebut belum banyak berdiri pabrik serta tidak mengganggu
pemukiman penduduk.
(j) Sosial masyarakat
Sikap masyarakat diperkirakan mendukung pendirian pabrik pembuatan Urea ini,
karena akan menjamin tersedianya lapangan kerja bagi mereka, selain itu pendirian
pabrik ini diperkirakan tidak akan mengganggu keselamatan dan keamanan masyarakat
di sekitarnya.
1.4.3 Spesifaksi produk dan bahan baku
Bahan Baku
Tabel 1.5 Sifat Fisik Amonia
No Kondisi Nilai
1 Massa jenis and fase 0.6942 g/L, gas.
2 Kelarutan dalam air 89.9 g/100 ml pada 0 °C
3 Titik lebur -77.73 °C (195.42 K)
4 Temperatur autosulutan 651 °C
5 Titik didih -33.34 °C (239.81 K)
6 Keasaman (pKa) 9.25
7 Kebasaan (pKb) 4.75

Tabel 1.6 Sifat Kimia Amonia


No Amonia yang Direaksikan
1 2NH3 + Cl2 NH2Cl + NH4Cl
2 2Na + 2NH3 2NaNH2 + H2
3 3Mg + 2NH3 Mg3N2 + 3H2
4 3CuO + 2NH3 3Cu + 3H2O + N2
5 4NH3 + 3O2 2N2 + 6H2O
(Perry dan Green, 1997).
Tabel 1.7 Sifat Fisik Karbon Dioksida
No Kondisi Nilai
1 Berat Molekul 44,01 kg/kmol
2 Spesific Gravity 1,53
3 Titik lebur -56,6 (5,2 atm)
o
4 Titik didih -78,5 C
o o
5 Kelarutan dalam 100 bagian 179,7 (0 C air dingin) ,90,1 (20 C air panas)
6 Densitas 0,770 g/cm

Tabel 1.8 Sifat Kimia Karbon Dioksida


No Karbon Dioksida yang Direaksikan
1 Na2CO3 + CO2 + H2O ↔ 2NaHCO3
2 CaCO3 CaO + CO2
3 12CO + 3H2 C6H6 + 6O2
4 CuO + CO Cu + CO2
5 C6H12O6 + 6O2 6CO2 + 6H2O + Energi
(Perry dan Green, 1997).
Produk
Tabel 1.9 Sifat Fisik Urea
No Kondisi Nilai
1 Berat Molekul 60,06
o o
2 Spesific Gravity 1,335 (20 C/4 C)
o
3 Titik lebur 132,7 C
o o
4 Kelarutan 100 (17 C dalam 100% air), 20 (20 C
dalam 100% alkohol)
5
5 Panas pembakaran -91,02 .10 J/kg

Tabel 1.10 Sifat Kimia Urea


No Urea yang Direaksikan
1 H2N-CN + H2O H2N-CO-NH2
2 CO2 + NH3 ↔ H2N – CO - NH2 + H2O
3 NH2-CO-NH2 + HCHO NH2 – CO - NH2 + CH2OH
4 NH4+OCN heat
H2NCONH2
(Perry dan Green, 1997).

Tabel 1.11 Syarat Mutu Pupuk Urea


No Uraian Satuan Persyaratan
Butiran Gelintiran
1 Kadar Nitrogen % Min. 46,0 Min. 46,0
2 Kadar Air % Maks. 0,5 Maks. 0,5
3 Kadar Biuret % Maks. 1,2 Maks. 1,5
4 Ukuran: -
a) 1.00mm-3.35mm % Min. 90,0 -
b) 2.00mm-4.75mm % - Min. 90,0
(SNI.2009)
DAFTAR PUSTAKA

Anonim, Kebutuhan Pupuk Urea, Asosiasi Produsen Pupuk Indonesia (APPI), Jakarta
2017
Anonim, Production of Urea by Producers 1963-2017, Asosiasi Produsen Pupuk
Indonesia (APPI), Jakarta 2017
Anonim, Supply and Demand 2007-2017, Asosiasi Produsen Pupuk Indonesia (APPI),
Jakarta 2017
Anonim, World Data Bank (World Data Bank Urea Consumption 2015 Indicator),
2017
Bernasconi, G., dkk., Teknologi Kimia, Bagian 2, Cetakan 1, PT. Pradnya Paramita,
Jakarta, 1995
Hindrayani, A., Manajemen Operasi. Pohon Cahaya, Yogyakarta, 2010
Perry, R.H. and D.W.Green, Perry’s Chemical Engineer’s Handbook, 7thEdition,
McGrow-Hill Book Companies Inc., United States of Amerika, 1997