Anda di halaman 1dari 49

Makalah Herpes

BAB 1

PENDAHULUAN
A. LATAR BELAKANG

Herpes zoster dapat muncul disepanjang tahun karena tidak dipengaruhi oleh musim dan tersebar
merata di seluruh dunia, tidak ada perbedaan angka kesakitan antara laki-laki dan perempuan,
angka kesakitan meningkat dengan peningkatan usia. Herpes zoster terjadi pada orang yang
pernah menderita varisela sebelumnya karena varisela dan herpes zoster disebabkan oleh virus
yang sama yaitu virus varisela zoster. Setelah sembuh dari varisela,
virus yang ada di ganglion sensoris tetap hidup dalam keadaan tidak aktif dan aktif kembali jika
daya tahan tubuh menurun.

Herpes zoster disebabkan oleh infeksi virus varisela zoster (VVZ) dan tergolong virus berinti
DNA, virus ini berukuran 140-200 nm, yang termasuk subfamili alfa herpes viridae. Berdasarkan
sifat biologisnya seperti siklus replikasi, penjamu, sifat sitotoksik dan sel tempat hidup laten
diklasifikasikan kedalam 3 subfamili yaitu alfa, beta dan gamma. VVZ dalam subfamili alfa
mempunyai sifat khas menyebabkan infeksi primer pada sel epitel yang menimbulkan lesi
vaskuler. Selanjutnya setelah infeksi primer, infeksi oleh virus herpes alfa biasanya menetap
dalam bentuk laten didalam neuron dari ganglion. Virus yang laten ini pada saatnya akan
menimbulkan kekambuhan secara periodik. Secara in vitro virus herpes alfa mempunyai jajaran
penjamu yang relatif luas dengan siklus pertumbuhan yang pendek serta mempunyai enzim yang
penting untuk replikasi meliputi virus spesifik DNA polimerase dan virus spesifik deoxypiridine
(thymidine) kinase yang disintesis di dalam sel yang terinfeksi.

B. TUJUAN

1. Tujuan Umum
Dalam penulisan makalah ini diharapkan mahasiswa mampu memahami konsep kelainan system
integrumen yaitu Herpes Zoster

2. Tujuan Khusus
a. Mahasiswa mampu memahami pengertian etiologi, manifestasi klinis, pemeriksaan diagnostik
serta penatalaksanaan pada pasien yang mengalami Herpes Zoster
b. Mahasiswa mampu menganalisis kasus dan mampu menerapkan prinsip asuhan keperawatan
dengan pendekatan keperawatan yang meliputi pengkajian, diagnosa keperawatan, intervensi
pada klien dengan kelainan Herpes Zoster

BAB II

TINJAUAN PUSTAKA
A. Definisi
Herpes zoster adalah radang kulit akut dan setempat disebabkan oleh virus, terutama terjadi pada
orang tua yang khas ditandai adanya nyeri radikuler unilateral serta timbulnya lesi vesikuler yang
terbatas pada dermatom yang dipersarafi serabut saraf spinal maupun ganglion serabut saraf
sensorik dari nervus kranialis. Infeksi ini merupakan reaktivasi virus varisela zoster dari infeksi
endogen yang telah menetap dalam bentuk laten setelah infeksi oleh virus.
B. Etiologi
Herpes zoster disebabkan oleh Varisella Zoster Virus yang mempunyai kapsid tersusun dari 162
subunit protein dan berbentuk simetri ikosehedral dengan diameter 100 nm. Virion lengkapnya
berdiameter 150-200 nm dan hanya virion yang berselubung yang bersifat infeksius. Virus
varisela dapat menjadi laten di badan sel saraf, sel satelit pada akar dorsalis saraf, nervus
kranialis dan ganglio autonom tanpa menimbulkan gejala. Pada individu yang
immunocompromise, beberapa tahun kemudian virus akan keluar dari badan saraf menuju ke
akson saraf dan menimbulkan infeksi virus pada kulit yang dipersarafi. Virus dapat menyebar
dari satu ganglion ke ganglion yang lain pada satu dermatom.

C. Manifestasi klinis
1. Gejala prodromal sistematik (demam, pusing, malese) maupun gejala prodomal local (nyeri otot
tulang, gatal, pegal).
2. Setelah itu timbul eritema yang dalam waktu singkat menjadi vesikel yang berkelompok, vesikel
ini berisi cairan yang jernih kemudian menjadi keruh (berwarna abu-abu) dapat menjadi pustule
dan krusta. (Prof. dr. Adhi Juwanda, 199:107).
3. Gambaran yang khas pada herpes zoster adalah erupsi yang lokalisata dan hamper selalu
unilateral.
Menurut daerah penyerangnya dikenal :
a. Herpes zorter of taimika : menyerang dahi dan sekitar mata
b. Herpes zorter servikali : menyerang pundak dan lengan
c. Herpes zorter torakalis : menyerang dada dan perut
d. Herpes zorter lumbalis : menyerang bokong dan paha.
e. Herpes zorter sakralis : menyerang sekitar anus dan getalia
f. Herpes zorter atikum : menyerang telinga.

D. Klasifikasi Herpes Zoster


1. Herpes zoster oftalmikus

Herpes zoster oftalmikus merupakan infeksi virus herpes zoster yang mengenai bagian ganglion
gasseri yang menerima serabut saraf dari cabang ophtalmicus saraf trigeminus (N.V), ditandai
erupsi herpetik unilateral pada kulit. Infeksi diawali dengan nyeri kulit pada satu sisi kepala dan
wajah disertai gejala konstitusi seperti lesu, demam ringan. Gejala prodromal berlangsug 1
sampai 4 hari sebelum kelainan kulit timbul. Fotofobia, banyak kelar air mata, kelopak mata
bengkak dan sukar dibuka.

2. Herpes zoster fasialis

Herpes zoster fasialis merupakan infeksi virus herpes zoster yang mengenai bagian ganglion
gasseri yang menerima serabut saraf fasialis (N.VII), ditandai erupsi herpetik unilateral pada
kulit.

3. Herpes zoster brakialis


Herpes zoster brakialis merupakan infeksi virus herpes zoster yang mengenai pleksus brakialis
yang ditandai erupsi herpetik unilateral pada kulit.
4. Herpes zoster torakalis
Herpes zoster torakalis merupakan infeksi virus herpes zoster yang mengenai pleksus torakalis
yang ditandai erupsi herpetik unilateral pada kulit.
E. Faktor Resiko Herpes zoster

1. Usia lebih dari 50 tahun, infeksi ini sering terjadi pada usia ini akibat daya tahan
tubuhnya melemah. Makin tua usia penderita herpes zoster makin tinggi pula resiko
terserang nyeri.
2. Orang yang mengalami penurunan kekebalan (immunocompromised) seperti HIV dan
leukimia. Adanya lesi pada ODHA merupakan manifestasi pertama dari
immunocompromised.
3. Orang dengan terapi radiasi dan kemoterapi.
4. Orang dengan transplantasi organ mayor seperti transplantasi sumsum tulang.

F. Faktor Resiko Herpes Zoster

Trauma / luka
Kelelahan
Demam
Alkohol
Gangguan pencernaan
Obat – obatan
Sinar ultraviolet
Haid
Stres

G. Patofisiologis
Herpez zoster disebabkan oleh varicello zoster (VZV). Selama terjadinya infeksi varisela,
VZV meninggalkan lesi dikulit dan permukaan mukosa ke ujung serabut saraf sensorik.
Kemudian secara sentripetal virus ini dibawa melalui serabut saraf sensorik. Dalam ganglion ini,
virus memasuki masa laten dan disini tidak infeksios dan tidak mengadakan multiplikasi lagi,
namun tidak berarti ia kehilangan daya infeksinya.
Bila daya tahan tubuh penderita mengalami manurun, akan terjadi reaktivasi virus. Virus
mengalami multiplikasi dan menyebar di dalam ganglion. Ini menyebabkan nekrosis pada saraf
serta menjadi inflamasi yang berat dan biasanya disertai nevralgia yang hebat.
VZV yang infeksius ini mengikuti serabut saraf sensorik/sehingga terjadi neuritis.
Neuritis ini berakhir pada ujung serabut saraf sensorik dikulit dengan gambaran erupsi yang khas
untuk erupsi horpes zoster.
1. Neurologi pasca herfetike
Rasa nyeri yang timbul pada daerah bekas penyembuhan neuralgia ini dapat berlangsung
berbulan-bulan sampai beberapa tahun.
2. Infeksi sekunder
Oleh bakteri akan menyebabkan terhambatnya penyembuhan dan akan meninggalkan bekas
sebagai sikatritis.
3. Pada sebagian kecil penderita dapat terjadi paralysis motorik, terutama bila virus juga
menyerang ganglion anterior bagian motorik kranialis. Terjadi biasanya 2 minggu setelah timbul
erupsi.

I. Komplikasi herpes Zoster


1. Neuralgia Pasca Herpes zoster (NPH) merupakan nyeri yang tajam dan spasmodic
(singkat dan tidak terus – menerus) sepanjang nervus yang terlibat. Nyeri menetap di
dermatom yang terkena setelah erupsi.
2. Herpes zoster menghilang, batasan waktunya adalah nyeri yang masih timbul satu bulan
setelah timbulnya erupsi kulit. Kebanyakan nyeri akan berkurang dan menghilang
spontan setelah 1–6 bulan
3. Gangren superfisialis, menunjukan Herpes zoster yang berat, mengakibatkan hambatan
penyembuhan dan pembentukan jaringan parut.
4. Komplikasi mata, antara lain : keratitis akut, skleritis, uveitis, glaucoma sekunder,
ptosis, korioretinitis, neuritis optika dan paresis otot penggerak bola mata.
5. Herpes zoster diseminata / generalisata
6. Komplikasi sitemik, antara lain : endokarditis, menigosefalitis, paralysis saraf motorik,
progressive multi focal leukoenche phatopathy dan angitis serebral granulomatosa
disertai hemiplegi (2 terkahir ini merupakan komplikasi herpes zoster optalmik).

J. Pemeriksaan diagnostic pada Herpes zoster


Tes diagnostik untuk membedakan dari impetigo, kontak dermatitis dan herps simplex :

1. Tzanck Smear : mengidentifikasi virus herpes tetapi tidak dapat membedakan herpes
zoster dan herpes simplex.
2. Kultur dari cairan vesikel dan tes antibody : digunakan untuk membedakan diagnosis
herpes virus
3. Immunofluororescent : mengidentifikasi varicella di sel kulit
4. Pemeriksaan histopatologik
5. Pemerikasaan mikroskop electron
6. Kultur virus
7. Identifikasi anti gen / asam nukleat VV
8. Deteksi antibody terhadap infeksi virus

K. Penatalaksanaan Herpes zoster


a. Pengobatan
1. Pengobatan topical
 Pada stadium vesicular diberi bedak salicyl 2% atau bedak kocok kalamin untuk mencegah
vesikel pecah

 Bila vesikel pecah dan basah, diberikan kompres terbuka dengan larutan antiseptik atau kompres
dingin dengan larutan burrow 3 x sehari selama 20 menit

 Apabila lesi berkrusta dan agak basah dapat diberikan salep antibiotik (basitrasin / polysporin )
untuk mencegah infeksi sekunder selama 3 x sehari

2. Pengobatan sistemik
Drug of choice- nya adalah acyclovir yang dapat mengintervensi sintesis virus dan replikasinya.
Meski tidak menyembuhkan infeksi herpes namun dapat menurunkan keparahan penyakit dan
nyeri. Dapat diberikan secara oral, topical atau parenteral. Pemberian lebih efektif pada hari
pertama dan kedua pasca kemunculan vesikel. Namun hanya memiliki efek yang kecil terhadap
postherpetic neuralgia.
Antiviral lain yang dianjurkan adalah vidarabine (Ara – A, Vira – A) dapat diberikan lewat infus
intravena atau salep mata.
Kortikosteroid dapat digunakan untuk menurunkan respon inflamasi dan efektif namun
penggunaannya masih kontroversi karena dapat menurunkan penyembuhan dan menekan respon
immune.
Analgesik non narkotik dan narkotik diresepkan untuk manajemen nyeri dan antihistamin
diberikan untuk menyembuhkan priritus.
b. Penderita dengan keluhan mata
Keterlibatan seluruh mata atau ujung hidung yang menunjukan hubungan dengan cabang
nasosiliaris nervus optalmikus, harus ditangani dengan konsultasi opthamologis. Dapat diobati
dengan salaep mata steroid topical dan mydriatik, anti virus dapat diberikan
c. Neuralgia Pasca Herpes zoster
 Bila nyeri masih terasa meskipun sudah diberikan acyclovir pada fase akut, maka dapat
diberikan anti depresan trisiklik ( misalnya : amitriptilin 10 – 75 mg/hari)

 Tindak lanjut ketat bagi penanganan nyeri dan dukungan emosional merupakan bagian
terpenting perawatan

 Intervensi bedah atau rujukan ke klinik nyeri diperlukan pada neuralgi berat yang tidak teratasi.

L. Pengkajian Keperawatan
a. Riwayat

1. Riwayat menderita penyakit cacar

2. Riwayat immunocompromised (HIV/AIDS, leukimia)

3. Riwayat terapi radiasi

b. Diet

c. Keluhan utama

1. Nyeri
2. Sensasi gatal
3. Lesi kulit
4. Kemerahan
5. Fatige
d. Riwayat psikososial
1. Kondisi psikologis pasien
2. Kecemasan
3. Respon pasien terhadap penyakit
e. Pemeriksaan fisik
1. Tanda vital
2. Tes diagnostik
M. Pendidikan kesehatan

Pendidikan kesehatan untuk klien dan keluarga

1. Anjurkan pasien untuk melaporkan nyeri, demam, drainase yang berbau busuk dan
muncul pus
2. Jelaskan tentang kemungkinan neuralgia paska herpes dan tekankan bahwa anda dapat
menangani nyeri
3. Beritahu pasien bahwa mereka dapat menulari orang lain, oleh karena itu perlu
diperhatikan tindakan higienis rutin seperti pemakaian alat pribadi
4. Tidak melakukan kontak social hingga lesi mengering
5. Gunakan obat sesuai aturan, pakai pakian yang menyerap keringat, pertahankan suhu
udara tetap dingin / nyaman
6. Dapat digunakan sarung tangan katun pada malam hari saat muncul keinginan untuk
menggaruk
7. Lakukan tehnik relaksasi untuk menurunkan nyri dan batasi aktivitas yang berlebihan

BAB III

TINJAUAN KASUS

A. Kasus
Ny. MH usia 56 tahun di rawat di ruang penyakit kulit RS Medical sentre dengan keluhan kulitdi
bagian kulit perut tersa pedas dan nyeri, kulit terlihat kemerahan dan melepuh, timbul bula serta
muncul lagi di bawah mata kiri. Berdasarkan keterangan keluarga belum di berikan obat hanya di
berikan parem kelapa yang di kunyah. Pemeriksaan fisik TD : 110/70 mmhg, S: 37,5 C , RR: 24
x/m , N : 104 x/m
B. Analisa Data
NO DATA FOKUS PROBLEM ETIOLOGI

1. DS : Pasien mengeluh kulit Nyeri akut agencidera biologis


terasa pedes dan nyeri
; proses inflamasi
P:
Q : nyeri seperti terbakar
R : pada bagian
perut/abdomen
S : nyeri skala 6
T : terus menerus
DO : kulit kemerahan,
melepuh, timbul bula
2. DS : - Gangguan persepsi Perubahan fungsi
DO : timbul bula di bawah
sensori sensori
mata sebelah kiri, mata
kemerahan, visus mata buruk

3. DS : Pasien mengeluh Gangguan integritas Perubahan turgor


kulitnya terasa pedes kulit kulit; elastisitas
DO : Erupsi berupa vesikel
yang menggerombol, Warna
kulit kemerahan

4. DS : - Resiko infeksi Post de entri


DO : terjadi erupsi kulit, mikroorganisme
tampak kemerahan dan gatal

C. Diagnosa Keperawtan

1. Nyeri akut b.d agen cidera biologis; proses inflamasi


2. Perubahan persepsi sensori b.d perubahan fungsi sensori
3. Gangguan integritas kulit b.d perubahan turgor kulit; elatisitas
4. Resiko infeksi b.d post de entri mikroorganisme

D. Intervensi
1. Dx 1 : Nyeri akut b.d agen cidera biologis; proses inflamasi
Tujuan : Nyeri berkurang
KH : - Nyeri < 3
- Pasien bisa istirahat dengan tenang
- Pasien dapat menggunakan teknik relaksasi distraksi
Intervensi :
1. Memberikan posisi yang nyaman
2. Ciptakan lingkungan yang nyaman : membatasi pengunjung
3. Mengajarkan teknik relaksasi distraksi
4. Kolaborasi pemberian analgetik
5. Menganjurkan pasien untuk istirahat cukup

2. Dx 2: Gangguan persepsi sensori b.d perubahan fungsi sensori


Tujuan : Pasien mendemonstrasikan peningkatan kemampuan untuk memproses rangsangan
visual
KH : – Visus meningkat
– Respon verbal peningkatan penglihatan
Intervensi :
1. Kaji ketajaman penglihatan klien
2. Berikan pencahayaan yang sesuai dengan klien
3. Cegah glare atau sinar yang menyilaukan
4. Letakkan barang pada tempat yang konsisten
5. Membatasi klien untuk tidak melakukan aktivitas sendiri seperti : turun dari bed tempat tidur
sendiri, pergi keluar dari ruangan

3. Dx 3 : Gangguan integritas kulit b.d perubahan turgor kulit


Tujuan : Pasien tidak mengalami kerusakan intergritas kulit yang lebih parah
KH : - Erupsi berkurang
- Kulit tidak kemerahan dan tidak terjadi iritasi yang lebih parah
Intervensi :
1. Kaji tingkat kerusakan kulit
2. Jauhkan lesi dari manipulasi dan kontaminasi
3. Berikan terapi topical sesuai program
4. Berikan diet TKTP
5. Dilarang menggaruk-garuk kulit dengan tangan kotor

4. Dx : Resiko infeksi b.d post de entri mikroorganisme


Tujuan : Tidak terjadi infeksi
KH : - Bula tidak bertambah banyak
- Tidak bertambah gatal dan nyeri
- Kemerahan pada bula berkurang
Intervensi :
1. Menganjurkan klien untuk selalu cuci tangan bersih
2. Personal hygiene minimal 2x sehari
3. Dilarang menggaruk-garuk kulit dengan tangan
4. Batasi pengunjung dan minimalkan kontak langsung dengan klien
BAB IV
PENUTUP
KESIMPULAN :
Herpes zoster adalah radang kulit akut dan setempat disebabkan oleh virus, terutama terjadi pada
orang tua yang khas ditandai adanya nyeri radikuler unilateral serta timbulnya lesi vesikuler yang
terbatas pada dermatom yang dipersarafi serabut saraf spinal maupun ganglion serabut saraf
sensorik dari nervus kranialis. Infeksi ini merupakan reaktivasi virus varisela zoster dari infeksi
endogen yang telah menetap dalam bentuk laten setelah infeksi oleh virus.

Pendidikan kesehatan untuk klien dan keluarga

8. Anjurkan pasien untuk melaporkan nyeri, demam, drainase yang berbau busuk dan
muncul pus
9. Jelaskan tentang kemungkinan neuralgia paska herpes dan tekankan bahwa anda dapat
menangani nyeri
10. Beritahu pasien bahwa mereka dapat menulari orang lain, oleh karena itu perlu
diperhatikan tindakan higienis rutin seperti pemakaian alat pribadi
11. Tidak melakukan kontak social hingga lesi mengering
12. Gunakan obat sesuai aturan, pakai pakian yang menyerap keringat, pertahankan suhu
udara tetap dingin / nyaman
13. Dapat digunakan sarung tangan katun pada malam hari saat muncul keinginan untuk
menggaruk
14. Lakukan tehnik relaksasi untuk menurunkan nyri dan batasi aktivitas yang berlebihan

DAFTAR PUSTAKA

Bruner dan Suddart. 2002. Edisi 8, Vol 2. Jakarta: EGC


Price, Sylvia Anderson. 2005. Patofisiologi : konsep klinis proses-proses penyakit. Jakarta : EGC
Judith M. Wilkinson. 2006. Buku Saku Diagnosa Keperawatan dengan Intervensi Nic dan Noc.
Jakarta : EGC
Djuanda, Adhi, dkk. 1993. Ilmu Penyakit Kulit dan Kelamin, Edisi ke Dua. Jakarta : FKUI
Harahap, Marwali.2000. Ilmu Penyakit Kulit. Hipokrates: Jakarta.
Smeitzer, Suzanne C.2001. Buku Ajar Keperawatan Medical-Bedah Brunner & Suddarth. EGC:
Jakarta

F. Pathway
Ganggun integritas kulit
Resiko
infeksi

an integritas kulit

Diposkan 7th December 2011 oleh SriCria_criaa


0

Add a comment
IMUN INTEGUMEN

 Classic
 Flipcard
 Magazine
 Mosaic
 Sidebar
 Snapshot
 Timeslide

Makalah Combustio

Makalah Herpes

Makalah Lupus

Makalah Sindrom Stevens Johnson

Makalah Sindrom Stevens-Johnson

Makalah Combustio
BAB I
PENDAHULLUAN
A. LATAR BELAKANG

Luka bakar dapat mengakibatkan masalah yang kompleks yang dapat meluas melebihi
kerusakan fisik yang terlihat pada jaringan yang terluka secara langsung. Masalah kompleks ini
mempengaruhi semua sistem tubuh dan beberapa keadaan yang mengancam kehidupan. Dua
puluh tahun lalu, seorang dengan luka bakar 50% dari luas permukaan tubuh dan mengalami
komplikasi dari luka dan pengobatan dapat terjadi gangguan fungsional, hal ini mempunyai
harapan hidup kurang dari 50%. Sekarang, seorang dewasa dengan luas luka bakar 75%
mempunyai harapan hidup 50%. dan bukan merupakan hal yang luar biasa untuk
memulangkanpasien dengan luka bakar 95% yang diselamatkan.
Pengurangan waktu penyembuhan, antisipasi dan penanganan secara dini untuk mencegah
komplikasi, pemeliharaan fungsi tubuh dalam perawatan luka dan tehnik rehabilitasi yang lebih
efektif semuanya dapat meningkatkan rata-rata harapan hidup pada sejumlah klien dengan luka
bakar serius.

Beberapa karakteristik luka bakar yang terjadi membutuhkan tindakan khusus yang berbeda.
Karakteristik ini meliputi luasnya, penyebab(etiologi) dan anatomi luka bakar. Luka bakar yang
melibatkan permukaan tubuh yang besar atau yang meluas ke jaringan yang lebih dalam,
memerlukan tindakan yang lebih intensif daripada luka bakar yang lebih kecil dan superficial.
Luka bakar yang disebabkan oleh cairan yang panas (scald burn) mempunyai perbedaan
prognosis dan komplikasi dari pada luka bakar yang sama yang disebabkan oleh api atau paparan
radiasi ionisasi.

Luka bakar karena bahan kimia memerlukan pengobatan yang berbeda dibandingkan karena
sengatan listrik (elektrik) atau persikan api. Luka bakar yang mengenai genetalia menyebabkan
resiko nifeksi yang lebih besar daripada di tempat lain dengan ukuran yang sama. Luka bakar
pada kaki atau tangan dapat mempengaruhi kemampuan fungsi kerja klien dan memerlukan
tehnik pengobatan yang berbeda dari lokasi pada tubuh yang lain. Pengetahuan umum perawat
tentang anatomi fisiologi kulit, patofisiologi luka bakar sangat diperlukan untuk mengenal
perbedaan dan derajat luka bakar tertentu dan berguna untuk mengantisipasi harapan hidup serta
terjadinya komplikasi multi organ yang menyertai.

Prognosis klien yang mengalami suatu luka bakar berhubungan langsung dengan lokasi dan
ukuran luka bakar. Faktor lain seperti umur, status kesehatan sebelumnya dan inhalasi asap dapat
mempengaruhi beratnya luka bakar dan pengaruh lain yang menyertai.

B. TUJUAN PENULISAN

Tujuan penulisan makalah ini agar mahasiswa keperawatan sebagai calon perawat dapat
mengetahui dan memahami tentang penyakit / gangguan system integumen “ Combustio/ luka
bakar “ dan mengetahui penanganan dan penatalaksanaan.
BAB II
PEMBAHASAN
A. DEFINISI
Luka bakar adalah suatu trauma yang disebabkan oleh panas, arus listrik, bahan kimia dan
petir yang mengenai kulit, mukosa dan jaringan yang lebih dalam (Irna Bedah RSUD
Dr.Soetomo, 2001).

Luka bakar adalah luka yang disebabkan kontak dengan suhu tinggi seperti api, air panas,
bahkan kimia dan radiasi, juga sebab kontak dengan suhu rendah (frosh bite). (Mansjoer 2000 :
365)

Luka bakar (combustio/burn) adalah cedera (injuri) sebagai akibat kontak langsung atau
terpapar dengan sumber-sumber panas (thermal), listrik (electrict), zat kimia (chemycal), atau
radiasi (radiation) .

B. ANATOMI FISIOLOGI

Anatomi Fisiologi Kulit


Kulit terdiri atas 3 lapisan yang masing-masing memiliki berbagai jenis sel dan memiliki
fungsi yang bermacam-macam. Ketiga lapisan tersebut adalah epidermis, dermis, dan subkutis.
A. Epidermis
Epidermis merupakan struktur lapisan kulit terluar. Sel-sel epidermis terus-menerus
mengalami mitosis, dan berganti dengan yang baru sekitar 30 hari. Epidermis mengandung
reseptor-reseptor sensorik untuk sentuhan, suhu, getaran dan nyeri.
Komponen utama epidermis adalah protein keratin, yang dihasilkan oleh sel-sel yang disebut
keratinosit. Eratin adalah bahan yang kuat dan memiliki daya tahan tinggi, serta tidak larut dalam
air. Keratin mencegah hilangnya air tubuh dan melindungi epidermis dari iritan atau
mikroorganisme penyebab infeksi. Keratin adalah komponen utama appendiks kulit: rambut, dan
kuku (craven,2000)
Melanosit (sel pigmen) terdapat dibagian dasar epidermis. Melanosit menyintesis dan
mengeluarkan melanin sebagai respons terhadap rangsangan hormone hipofisis anterior,
hormone perangsang melanosit (melanocyte stimulating hormone, MSH). Melanosit merupakan
sel-sel khusus epidermis yang terutama terlibat dalam produksi pigmen melanin yang mewarnai
kulit dan rambut. Melanin diyakini dapat menyerap cahaya ultraviolet dan dengan demikian akan
melindungi seseorang terhadap efek pancaran cahaya ultraviolet dalm sinar matahari yang
berbahaya.
Sel-sel imun yang disebut sel Langerhans, terdapat diseluruh epidermis. Sel Langerhans
mengenali partikel asing atau mikroorganisme yang masuk kekulit dan membangkitkan suatu
serangan imun. Sel Langerhans mungkin bertanggung jawab mengenal dan menyingkirkan sel-
sel kulit displastik atau neoplastik.
B. Dermis
Dermis atau kutan (cutaneus) merupakan lapisan kulit dibawah epidermis yang membentuk
bagian terbesar kulit dengan memberikan kekuatan dan struktur pada kulit. Lapisan papilla
dermis berada langsung dibawah epidermis dan tersusun terutama dari sel-sel fibroblast yang
dapat menghasilkan salah satu bentuk kolagen. Yaitu suatu komponen dari jaringan ikat. Suatu
bahan mirip gel, asam hialuronat disekresikan oleh sel-sel jaringan ikat. Bahan ini mengelilingi
protein dan menyebabkan ulit menjadi elastic dan memiliki turgor (tegangan). Pada seluruh
dermis dijumpai pembuluh darah, saraf sensorik dan simpatis, pembuluh limfe, folikel rambut,
serta kelenjar keringat dan palit (sebasea). Sel mast yang mengeluarkan histamine selama cedera
atau peradangan dan makrofag yang memfagositosis sel-sel mati dan mikro-organisme juga
terdapat didermis.
Pembuluh darah didermis menyuplai makanan dan oksigen pada dermis dan epidermis serta
membuang produk-produk sisa.
C. Subkutis
Lapisan subkkutis kulit terletak dibawah dermis. Lapisan ini terdiri atas lemak dan jaringan
ikat dimana berfungsi untukmemberikan bantalan antara lapisan kulitdan struktur internal seperti
otot dan tulang. Serta sebagai peredam kejut dan insulator panas. Jaringan ini memungkinkan
mobilitas kulit, perubahan kontur tubuh dan penyekatan panas tubuh (Guyton,1996).
Rambut

Rambut dibentuk dari keratin melalui proses diferensiasi yang sudah ditentukan sebelumnya, sel-
sel epidermis tertentu akan membentuk folikel-folikel rambut.folikel rambut ini disokong oleh
matriks kulit dan akan berdiferensiasi menjadi rambut. Kemudian suatu saluran epitel akan
terbentuk, melalui saluran inilah rambut akan keluar ke permukaan tubuh. Sistin dan metionin,
yaitu asam amino yang mengandung sulfur dengan ikatan kovalen yang kuat, memberikan
kekuatan pada rambut.

Pada kulit kepala, kecepatan pertumbuhan rambut biasanya 3 mm/hari (Price, 1995). Setiap
folikel rambut melewati siklus: pertumbuhan (rambut anagen), stadium intermedia (rambut
katagen), dan involusi (rambut telogen).

Sekita 90% dari 100.000 folikel rambut pada kulit kepala yang normal berada dalam fase
pertumbuhan pada satu saat. Lima puluh hingga 100 lembar rambut kulit kepala akan rontok
setiap harinya (Craven,2000)

Warna rambut ditentukan oleh jumlah melanin yang beragam dalam batang rambut. Rambut
yang berwarna kelabu atau putih mencerminkan tidak adanya pigmen tersebut. Pada bagian
tubuh tertentu, pertumbuhan rambut dikontrol oleh hormone-hormon seks. Contoh yang paling
nyata adalah rambut pada wajah (rambut janggut dan kumis) dan rambut pada bagian dada, serta
punggung yang dikendalikan oleh hormone laki-laki yang dikenal sebagai hormone androgen.

Kuku

Kuku merupakan lempeng keratin mati yang dibentuk oleh sel-sel epidermis matriks kuku.
Matriks kuku terletak dibawah bagian proksimal lempeng kuku dalam dermis. Bagian ini dapat
terlihat sebagai suatu daerah yang putih yang disebut lunula, yang tertutup oleh lipatan kuku
bagian proksimal dan kutikula. Oleh karena rambut maupun kuku merupakan struktur keratin
yang mati, maka rambut dan kuku tidak mempunyai ujung saraf dan tidak mempunyai aliran
darah. Kuku akan melindungi jari-jari tangan dan kaki dengan menjaga fungsi sensoriknya yang
sangat berkembang, serta meningkatkan fungsi-fungsi halus tertentu seperti fungsi mengangkat
benda-benda kecil. Pembaruan total kuku jari tangan memerlukan waktu sekitar 170 hari,
sedangkan pembaruan kuku jari kaki membutuhkan waktu 12 hingga 18 bulan (Smeltzer, 2002)

KELENJAR PADA KULIT

Kelenjar sebasea

Kelenjar sebasea menyertai folikel rambut. Kelenjar ini mengeluarkan bahan berminya yag
disebut sebum kesaluran sekitarnya. Untuk setiap lembar rambut terdapat sebuah kelenjar
sebasea yang sekretnya melumasi rambut dan membuat rambut menjadi lunak, serta lentur.

Kelenjar keringat

Ditemukan pada kulit sebagian besar permukaan tubuh. Kelenjar ini terutama terdapat padda
telapak tangan dan kaki. Hanya glans penis, bagian tepi bibir, telinga luar, dan dasar kuku yang
tidak mengandung kelenjar keringat. Kelenjar keringat dapat diklasifikasikan lebih lanjut
menjadi dua kategori, yaitu kelenjar merokrin dan apokrin.

Kelenjar apokrin

Kelenjar apokrin memproduksi keringat yang keruh seperti susu dan diuraikan oleh bakteri untuk
menghasilkan bau yang khas. Kelenjar apokrin yang khusus dinamakan kelenjar seruminosa
dijumpai pada telinga luar, tempat kelenjar tersebut memproduksi serumen (Lewis, 2000).

Sekresi apokrin tidak mempunyai fungsi apapun yang berguna bagi manusia, tetapi kelenjar ini
menimbulkan bau pada ketiak apabila sekresinya mengalami dekomposisi oleh bakteri (Price,
1995)

Fungsi Kulit

Secara umum beberapa fungsi kulit adalah sebagai berikut:


1. Proteksoi

2. Sensasi

3. Termoregulasi

4. Metabolism, sintesis vitamin D

5. Keseimbangan air

6. Penyerapan zat atau obat

7. Penyimpanan nutrisi

8. Berperan dalam komunikasi non verbal sebagai contoh dalam kaitannya dengan emosi,
misalnya wajah kemerahan dalam menahan emosi atau malu.

Proteksi

Kulit yang menutupi sebagian besar tubuh memiliki ketebalan sekitar1 atau 2 mm yang
memberikan perlindungan yang sangat efektif terhadap trauma fisik, kimia, dan biologis dari
invasi bakteri. Kulit telapak tangan dan kaki yang menebal memberikan perlindungan terhadap
pengaruh trauma yang terus – menerus terjadi didaerah tersebut.

Bagian stratum korneum epidermis merupakan barier yang paling efektif terhadap berbagai
faktor lingkungan seperti zat-zat kimia, sinar matahari, virus, fungus, gigitan serangga, luka
karena gesekan angina tau trauma. Lapisan dermis kulit memberikan kekuatan mekanis dan
keuletan melalui jaringan ikat fibrosa dan serabut kolagennya. Dermis tersusun dari jalinan
vaskuler,dermis merupakan barier transportasi yang efisien terhadap substansi yang dapat
menebus stratum korneum dan epidermis. Factor-faktor lain yang mempengaruhi fungsi protektif
kulit mencakup usia kulit, daerah kulit yang terlibat dalam dan status vaskuler.

Sensasi

Ujung-ujung reseptor serabut saraf pada kulit memungkinkan tubuh untuk memantau secara
terus-menerus keadaan linkungan disekitarnya. Fungsi utama reseptor pada kulit adalah untuk
mengindera suhu, rasa nyeri, sentuhan yang ringan dan tekanan. Berbagai ujung saraf
bertanggung jawab untuk bereaksi terhadap setiap stimuli yang berbeda (Smeltzer, 2002)

Termoregulasi

Peran kulit dalam pengaturan panas meliputi sebagai penyekat tubuh, vasokonstriksi (yang
memengaruhi aliran darah dan hilangnya panas kekulit) dan sensasi suhu (Potter, 2006).
Perpindahan suhu dilakukan pada system vaskuler, melalui dinding pembuluh, kepermukaan
kulit dan hilang kelingkungan sekitar melalui mekanisme penghilangan panas.

Pengeluaran dan produksi panas terjsi secara stimultan. Struktur kulit dan paparan terhadap
lingungan secara konstan, pengeluaran panas secara normal melalui radiasi, konduksi, konveksi,
dan evaporasi. (Potter, 2006)

1) Radiasi

Radiasi adalah perpnidahan panas dari permukaan suatu objek lain tanpa keduanya bersentuhan.
Panas berpindah melalaui gelombang elektromagnetik (Potter, 2006)

2) Konduksi

Konduksi merupakan pengeluaran panas dari satu objek ke objek lain melalui kontak langsung.
Proses pengeluaran atau perpindahan suhu tubuh terjadi pada saat kulit hangat menyentuh objek
yang lebih dingin.

3) Konveksi

Konveksi merupakan suatu perpindahan panas akibat adanya gerakaan udara yang secara
langsung kontak dengan kulit.

4) Evaporasi

Evaporasi adalah perpindahan energy panas ketika cairan berubah menjadi gas. Selama evaporasi
kira-kira 0,6 kalori panas hilang untuk setiap gram air yang menguap. Tubuh secara kontinyu
kehilangan panas melalui evaporasi. Kira-kira 600-900ml/hari menguap dari kulit dan paru-paru,
yang mengakibatkan kehilangan air dan panas. Kehilangan normal ini dipertimbangkan
kehilangan air tidak kasat mata (insensible water loss) dan tidak memainkan peran utama dalam
pengaturan suhu (Guyton,1999)

METABOLISME

Radiasi sinar ultraviolet memberikan paparan, maka sel-sel epidermal didalam stratum spinosum
dan stratum germinativum akan mengonversi pelepasan steroid kolesterol menjadi vitamin D3
atau kolekalsiferol. Organ hati kemudian mengonversi kolekalsiferol menjadi produk yang
digunakan ginjal untuk menyintesis hormone kalsitrol.

KESEIMBANGAN AIR

Stratum korneum memiliki kemampuan untuk menyerap air dan dengan demikian akan
mencegah kehilangan air serta elektrolit yang berlebihan dari bagian internal tubuh dan
mempertahankan kelembapan dalam jaringan subkutan (Smeltzer, 2002).

Ketika terendam dalam air, kulit dapat menimbun air sampai tiga hingga empat kali berat
normalnya. (Guyton,1999). Contoh keadaan ini yang lazim dijumpai adalah pembengkakan kulit
sesudah mandi berendam untuk waktu yang lama.

PENYERAPAN ZAT ATAU OBAT

Berbagai senyawa lipid (zat lemak) dapat diserap lewat stratum korneum, termasuk vitamin (A
dan D) yang larut lemak dan hormon-hormon steroid. Obat-obat dan substansi lain dapat
memasuki kulit lewat epidermis melalui jalur transepidermal atau lewat lubang-lubang folikel
(Kee, 1999)

FUNGSI RESPON IMUN

Hasil-hasil penelitian terakhir menunjukkan bahwa beberapa sel dermal (sel Langerhans,
Interleukin-1 yang memproduksi keratinosit, dan subkelompok limfosit-T) merupakan
komponen penting dalam system imun.
C. ETIOLOGI
Berbagai faktor dapat menjadi penyebab luka bakar. Beratnya luka bakar juga dipengaruhi
oleh cara dan lamanya kontak dengan sumber panas (misal suhu benda yang membakar, jenis
pakaian yang terbakar, sumber panas : api, air panas dan minyak panas), listrik, zat kimia,
radiasi, kondisi ruangan saat terjadi kebakaran dan ruangan yang tertutup.

Luka bakar dikategorikan menurut mekanisme injurinya meliputi :

a. Luka Bakar Termal

Luka bakar thermal (panas) disebabkan oleh karena terpapar atau kontak dengan api, cairan
panas atau objek-objek panas lainnya.

b. Luka Bakar Kimia

Luka bakar chemical (kimia) disebabkan oleh kontaknya jaringan kulit dengan asam atau basa
kuat. Konsentrasi zat kimia, lamanya kontak dan banyaknya jaringan yang terpapar menentukan
luasnya injuri karena zat kimia ini. Luka bakar kimia dapat terjadi misalnya karena kontak
dengan zat-zat pembersih yang sering dipergunakan untuk keperluan rumah tangga dan berbagai
zat kimia yang digunakan dalam bidang industri, pertanian dan militer. Lebih dari 25.000 produk
zat kimia diketahui dapat menyebabkan luka bakar kimia.

c. Luka Bakar Elektrik

Luka bakar electric (listrik) disebabkan oleh panas yang digerakan dari energi listrik yang
dihantarkan melalui tubuh. Berat ringannya luka dipengaruhi oleh lamanya kontak, tingginya
voltage dan cara gelombang elektrik itu sampai mengenai tubuh.

d. Luka Bakar Radiasi

Luka bakar radiasi disebabkan oleh terpapar dengan sumber radioaktif. Tipe injuri ini
seringkali berhubungan dengan penggunaan radiasi ion pada industri atau dari sumber radiasi
untuk keperluan terapeutik pada dunia kedokteran. Terbakar oleh sinar matahari akibat terpapar
yang terlalu lama juga merupakan salah satu tipe luka bakar radiasi.

Faktor Resiko

Data yang berhasil dikumpulkan oleh Natinal Burn Information Exchange menyatakan 75 %
semua kasus injuri luka bakar, terjadi didalam lingkungan rumah. Klien dengan usia lebih dari 70
tahun beresiko tinggi untuk terjadinya luka bakar.

Gambarnya:
D. Fase Luka Bakar
1. Fase akut.
Disebut sebagai fase awal atau fase syok. Dalam fase awal penderita akan mengalami
ancaman gangguan airway (jalan nafas), brething (mekanisme bernafas), dan circulation
(sirkulasi).
Gnagguan airway tidak hanya dapat terjadi segera atau beberapa saat setelah terbakar,
namun masih dapat terjadi obstruksi saluran pernafasan akibat cedera inhalasi dalam 48-72 jam
pasca trauma. Cedera inhalasi adalah penyebab kematian utama penderiat pada fase akut.
Pada fase akut sering terjadi gangguan keseimbangan cairan dan elektrolit akibat cedera
termal yang berdampak sistemik.
2. Fase sub akut.
Berlangsung setelah fase syok teratasi. Masalah yang terjadi adalah kerusakan atau
kehilangan jaringan akibat kontak denga sumber panas.
Luka yang terjadi menyebabkan:
a. Proses inflamasi dan infeksi.
b. Problempenuutpan luka dengan titik perhatian pada luka telanjang atau tidak berbaju epitel luas
dan atau pada struktur atau organ – organ fungsional.
c. Keadaan hipermetabolisme.

3. Fase lanjut.
Fase lanjut akan berlangsung hingga terjadinya maturasi parut akibat luka dan pemulihan
fungsi organ-organ fungsional. Problem yang muncul pada fase ini adalah penyulit berupa parut
yang hipertropik, kleoid, gangguan pigmentasi, deformitas dan kontraktur.
E. Klasifikasi Luka Bakar
A. Dalamnya luka bakar.

Kedalaman Penyebab Penampilan Warna Perasaan


Ketebalan partial Jilatan api, Kering tidak ada Bertambah Nyeri
superfisial(tingkat I) sinar ultra gelembung.Oedem merah.
violet minimal atau tidak ada.
(terbakar oleh Pucat bila ditekan dengan
matahari). ujung jari, berisi kembali
bila tekanan dilepas.
Lebih dalam dari Kontak Blister besar dan lembab Berbintik- Sangat nyeri
ketebalan dengan bahan yang ukurannya bintik yang
partial(tingkat II) air atau bahan bertambah besar.Pucat kurang jelas,
padat.Jilatan bial ditekan dengan ujung putih, coklat,
 Superfisial api kepada jari, bila tekanan dilepas pink, daerah
 Dalam pakaian. berisi kembali. merah
Jilatan coklat.
langsung
kimiawi.
Sinar ultra
violet.
Ketebalan Kontak Kering disertai kulit Putih, Tidak sakit,
sepenuhnya(tingkat dengan bahan mengelupas.Pembuluh kering, sedikit
III) cair atau darah seperti arang hitam, coklat sakit.Rambut
padat.Nyala terlihat dibawah kulit tua.Hitam. mudah lepas
api. yang mengelupas. Merah. bila dicabut.
Kimia. Gelembung jarang,
Kontak dindingnya sangat tipis,
dengan arus tidak membesar.
listrik. Tidak pucat bila ditekan.

A. Luas luka bakar

Wallace membagi tubuh atas bagian 9% atau kelipatan 9 yang terkenal dengan nama rule
of nine atua rule of wallace yaitu:
a. Kepala dan leher : 9%
b. Lengan masing-masing 9% : 18%
c. Badan depan 18%, badan belakang 18% : 36%
d. Tungkai maisng-masing 18% : 36%
e. Genetalia/perineum : 1%
Total : 100%

A. Berat ringannya luka bakar

Untuk mengkaji beratnya luka bakar harus dipertimbangkan beberapa faktor antara lain :
1. Persentasi area (Luasnya) luka bakar pada permukaan tubuh.

2. Kedalaman luka bakar.


3. Anatomi lokasi luka bakar.
4. Umur klien.
5. Riwayat pengobatan yang lalu.
6. Trauma yang menyertai atau bersamaan.

American college of surgeon membagi dalam:

A. Parah – critical:

a. Tingkat II : 30% atau lebih.


b. Tingkat III : 10% atau lebih.
c. Tingkat III pada tangan, kaki dan wajah.
d. Dengan adanya komplikasi penafasan, jantung, fractura, soft tissue yang luas.

B. Sedang – moderate:
a) Tingkat II : 15 – 30%
b) Tingkat III : 1 – 10%
C. Ringan – minor:
a) Tingkat II : kurang 15%
b) Tingkat III : kurang 1%
Perubahan Fisiologis Pada Luka Bakar
Perubahan Tingkatan hipovolemik( s/d 48- Tingkatan diuretik(12 jam – 18/24
72 jam pertama) jam pertama)
Mekanisme Dampak dari Mekanisme Dampak dari
Pergeseran Vaskuler ke Hemokonsentrasi Interstitial ke Hemodilusi.
cairan insterstitial. oedem pada vaskuler.
ekstraseluler. lokasi luka bakar.
Fungsi renal. Aliran darah Oliguri. Peningkatan aliran Diuresis.
renal berkurang darah renal karena
karena desakan desakan darah
darah turun dan meningkat.
CO berkurang.
Kadar Na+ Defisit sodium. Kehilangan Na+ Defisit sodium.
sodium/natrium. direabsorbsi melalui diuresis
oleh ginjal, tapi (normal kembali
kehilangan Na+ setelah 1 minggu).
melalui eksudat
dan tertahan
dalam cairan
oedem.
Kadar K+ dilepas Hiperkalemi K+ bergerak Hipokalemi.
potassium. sebagai akibat kembali ke dalam
cidera jarinagn sel, K+ terbuang
sel-sel darah melalui diuresis
merah, K+ (mulai 4-5 hari
berkurang setelah luka
ekskresi karena bakar).
fungsi renal
berkurang.
Kadar protein. Kehilangan Hipoproteinemia. Kehilangan Hipoproteinemia.
protein ke protein waktu
dalam jaringan berlangsung terus
akibat kenaikan katabolisme.
permeabilitas.
Keseimbangan Katabolisme Keseimbangan Katabolisme Keseimbangan
nitrogen. jaringan, nitrogen negatif. jaringan, nitrogen negatif.
kehilangan kehilangan
protein dalam protein,
jaringan, lebih immobilitas.
banyak
kehilangan dari
masukan.
Keseimbnagan Metabolisme Asidosis Kehilangan Asidosis
asam basa. anaerob karena metabolik. sodium metabolik.
perfusi jarinagn bicarbonas
berkurang melalui diuresis,
peningkatan hipermetabolisme
asam dari disertai
produk akhir, peningkatan
fungsi renal produk akhir
berkurang metabolisme.
(menyebabkan
retensi produk
akhir tertahan),
kehilangan
bikarbonas
serum.
Respon stres. Terjadi karena Aliran darah Terjadi karena Stres karena luka.
trauma, renal berkurang. sifat cidera
peningkatan berlangsung lama
produksi dan terancam
cortison. psikologi pribadi.
Eritrosit Terjadi karena Luka bakar Tidak terjadi pada Hemokonsentrasi.
panas, pecah termal. hari-hari pertama.
menjadi fragil.
Lambung. Curling ulcer Rangsangan Akut dilatasi dan Peningkatan
(ulkus pada central di paralise usus. jumlah cortison.
gaster), hipotalamus dan
perdarahan peingkatan
lambung, nyeri. jumlah cortison.
Jantung. MDF Disfungsi Peningkatan zat CO menurun.
meningkat 2x jantung. MDF (miokard
lipat, depresant factor)
merupakan sampai 26 unit,
glikoprotein bertanggung
yang toxic yang jawab terhadap
dihasilkan oleh syok spetic.
kulit yang
terbakar.

Indikasi Rawat Inap Luka Bakar


a) Luka bakar grade II:
b) ewasa > 20%
c) Anak/orang tua > 15%
d) Luka bakar grade III.
e) Luka bakar dengan komplikasi: jantung, otak dll.
PATHWAY

Bahan Kimia
Termis
Listrik/petir
Radiasi
LUKA BAKAR
MK:
 Gangguan Konsep diri
 Kurang pengetahuan
 Anxietas
Pada Wajah
Kerusakan kulit
Di ruang tertutup
Kerusakan mukosa
Oedema laring
Gagal nafas
MK: Jalan nafas
tidak efektif
Biologis
Keracunan gas CO
CO mengikat Hb
Hb tidak mampu mengikat O2
Obstruksi jalan nafas
Hipoxia otak
Penguapan meningkat
Peningkatan pembuluh darah kapiler
Ektravasasi cairan (H2O, Elektrolit, protein)
Tekanan onkotik menurun. Tekanan hidrostatik meningkat
Cairan intravaskuler menurun
Hipovolemia dan hemokonsentrasi
Gangguan sirkulasi makro
Masalah Keperawatan:
 Resiko tinggi terhadap infeksi
 Gangguan rasa nyaman
 Ganguan aktivitas
 Kerusakan integritas kulit
Masalah Keperawatan:
 Kekurangan volume cairan
 Gangguan perfusi jaringan
Gangguan sirkulasi seluler
Gangguan perfusi organ penting
Gangguan perfusi
Laju metabolisme meningkat
Glukoneogenesis glukogenolisis
MK: Perubahan nutrisi
Otak
Hipoxia
Sel otak
mati
Gagal
fungsi
sentral
Kardiovaskuler
Ginjal
Kebocoran kapiler
Penurunan curah jantung
Gagal jantung
Hipoxia sel ginjal
Fungsi ginjal menurun
Gagal ginjal
Hepar
Pelepasan katekolamin
Hipoxia hepatik
Gagal hepar
GI Traktus
Dilatasi lambung
Neurologi
Gangguan Neurologi
Hambahan pertumbuhan
MULTI SISTEM ORGAN FAILURE
Psikologis
Imun
Daya tahan tubuh menurun

F. PATHWAY

Hudak & Gallo; 1997)


G. KOMPLIKASI
a. Syok hipovolemik
b. Kekurangan cairan dan elektrolit
c. Hypermetabolisme
d. Infeksi
e. Gagal ginjal akut
f. Masalah pernapasan akut; injury inhalasi, aspirasi gastric, pneumonia bakteri, edema.
g. Paru dan emboli
h. Sepsis pada luka
i. Ilius paralitik

H. PEMERIKSAAN PENUNJANG

a. LED: mengkaji hemokonsentrasi.


b. Elektrolit serum mendeteksi ketidakseimbangan cairan dan biokimia. Ini terutama
penting untuk memeriksa kalium terdapat peningkatan dalam 24 jam pertama
karena peningkatan kalium dapat menyebabkan henti jantung.
c. Gas-gas darah arteri (GDA) dan sinar X dada mengkaji fungsi pulmonal,
khususnya pada cedera inhalasi asap.
d. BUN dan kreatinin mengkaji fungsi ginjal.
e. Urinalisis menunjukkan mioglobin dan hemokromogen menandakan kerusakan
otot pada luka bakar ketebalan penuh luas.
f. Bronkoskopi membantu memastikan cedera inhalasi asap.
g. Koagulasi memeriksa faktor-faktor pembekuan yang dapat menurun pada luka
bakar masif.
h. Kadar karbon monoksida serum meningkat pada cedera inhalasi asap.

I. PENATALAKSANAAN

A. Resusitasi A, B, C.

1. Pernafasan:

a. Udara panas à mukosa rusak à oedem à obstruksi.

b. Efek toksik dari asap: HCN, NO2, HCL, Bensin à iritasi à Bronkhokontriksi à obstruksi à gagal
nafas.

2. Sirkulasi:

gangguan permeabilitas kapiler: cairan dari intra vaskuler pindah ke ekstra vaskuler à hipovolemi
relatif à syok à ATN à gagal ginjal.
B. Infus, kateter, CVP, oksigen, Laboratorium, kultur luka.

C. Resusitasi cairan à Baxter.

Dewasa : Baxter.

 RL 4 cc x BB x % LB/24 jam.

Anak: jumlah resusitasi + kebutuhan faal:

 RL : Dextran = 17 : 3

 2 cc x BB x % LB.

Kebutuhan faal:
 < 1 tahun : BB x 100 cc

 1 – 3 tahun : BB x 75 cc

 3 – 5 tahun : BB x 50 cc

 ½ à diberikan 8 jam pertama

 ½ à diberikan 16 jam berikutnya.

Hari kedua:

 Dewasa : Dextran 500 – 2000 + D5% / albumin.

( 3-x) x 80 x BB gr/hr

100

 (Albumin 25% = gram x 4 cc) à 1 cc/mnt.

 Anak : Diberi sesuai kebutuhan faal.

D. Monitor urine dan CVP.


E. Topikal dan tutup luka

 Cuci luka dengan savlon : NaCl 0,9% ( 1 : 30 ) + buang jaringan nekrotik.

 Tulle.
 Silver sulfa diazin tebal.
 Tutup kassa tebal.
 Evaluasi 5 – 7 hari, kecuali balutan kotor.

F. Obat – obatan:

a) Antibiotika : tidak diberikan bila pasien datang < 6 jam sejak kejadian.

b) Bila perlu berikan antibiotika sesuai dengan pola kuman dan sesuai hasil kultur.

c) Analgetik : kuat (morfin, petidine)

d) Antasida : kalau perlu


KONSEP ASUHAN KEPERAWATAN

1. Pengkajian

a. Aktifitas/istirahat:

Tanda: Penurunan kekuatan, tahanan; keterbatasan rentang gerak pada area yang sakit; gangguan
massa otot, perubahan tonus.
b. Sirkulasi:
Tanda (dengan cedera luka bakar lebih dari 20% APTT): hipotensi (syok); penurunan nadi
perifer distal pada ekstremitas yang cedera; vasokontriksi perifer umum dengan kehilangan nadi,
kulit putih dan dingin (syok listrik); takikardia (syok/ansietas/nyeri); disritmia (syok listrik);
pembentukan oedema jaringan (semua luka bakar).
c. Integritas ego:
Gejala: masalah tentang keluarga, pekerjaan, keuangan, kecacatan.
Tanda: ansietas, menangis, ketergantungan, menyangkal, menarik diri, marah.
a. Eliminasi:

Tanda: haluaran urine menurun/tak ada selama fase darurat; warna mungkin hitam kemerahan
bila terjadi mioglobin, mengindikasikan kerusakan otot dalam; diuresis (setelah kebocoran
kapiler dan mobilisasi cairan ke dalam sirkulasi); penurunan bising usus/tak ada; khususnya pada
luka bakar kutaneus lebih besar dari 20% sebagai stres penurunan motilitas/peristaltik gastrik.
a. Makanan/cairan:

Tanda: oedema jaringan umum; anoreksia; mual/muntah.


a. Neurosensori:

Gejala: area batas; kesemutan.


Tanda: perubahan orientasi; afek, perilaku; penurunan refleks tendon dalam (RTD) pada cedera
ekstremitas; aktifitas kejang (syok listrik); laserasi korneal; kerusakan retinal; penurunan
ketajaman penglihatan (syok listrik); ruptur membran timpanik (syok listrik); paralisis (cedera
listrik pada aliran saraf).
a. Nyeri/kenyamanan:

Gejala: Berbagai nyeri; contoh luka bakar derajat pertama secara eksteren sensitif untuk
disentuh; ditekan; gerakan udara dan perubahan suhu; luka bakar ketebalan sedang derajat kedua
sangat nyeri; smentara respon pada luka bakar ketebalan derajat kedua tergantung pada keutuhan
ujung saraf; luka bakar derajat tiga tidak nyeri.
a. Pernafasan:

Gejala: terkurung dalam ruang tertutup; terpajan lama (kemungkinan cedera inhalasi).
Tanda: serak; batuk mengii; partikel karbon dalam sputum; ketidakmampuan menelan sekresi
oral dan sianosis; indikasi cedera inhalasi.
Pengembangan torak mungkin terbatas pada adanya luka bakar lingkar dada; jalan nafas atau
stridor/mengii (obstruksi sehubungan dengan laringospasme, oedema laringeal); bunyi nafas:
gemericik (oedema paru); stridor (oedema laringeal); sekret jalan nafas dalam (ronkhi).
a. Keamanan:

Tanda:
Kulit umum: destruksi jaringan dalam mungkin tidak terbukti selama 3-5 hari sehubungan
dengan proses trobus mikrovaskuler pada beberapa luka.
Area kulit tak terbakar mungkin dingin/lembab, pucat, dengan pengisian kapiler lambat pada
adanya penurunan curah jantung sehubungan dengan kehilangan cairan/status syok.
Cedera api: terdapat area cedera campuran dalam sehubunagn dengan variase intensitas panas
yang dihasilkan bekuan terbakar. Bulu hidung gosong; mukosa hidung dan mulut kering; merah;
lepuh pada faring posterior;oedema lingkar mulut dan atau lingkar nasal.
Cedera kimia: tampak luka bervariasi sesuai agen penyebab.
Kulit mungkin coklat kekuningan dengan tekstur seprti kulit samak halus; lepuh; ulkus; nekrosis;
atau jarinagn parut tebal. Cedera secara mum ebih dalam dari tampaknya secara perkutan dan
kerusakan jaringan dapat berlanjut sampai 72 jam setelah cedera.
Cedera listrik: cedera kutaneus eksternal biasanya lebih sedikit di bawah nekrosis. Penampilan
luka bervariasi dapat meliputi luka aliran masuk/keluar (eksplosif), luka bakar dari gerakan
aliran pada proksimal tubuh tertutup dan luka bakar termal sehubungan dengan pakaian terbakar.
Adanya fraktur/dislokasi (jatuh, kecelakaan sepeda motor, kontraksi otot tetanik sehubungan
dengan syok listrik).

a. Pemeriksaan diagnostik:
1. LED: mengkaji hemokonsentrasi.
2. Elektrolit serum mendeteksi ketidakseimbangan cairan dan biokimia. Ini terutama
penting untuk memeriksa kalium terdapat peningkatan dalam 24 jam pertama
karena peningkatan kalium dapat menyebabkan henti jantung.
3. Gas-gas darah arteri (GDA) dan sinar X dada mengkaji fungsi pulmonal,
khususnya pada cedera inhalasi asap.
4. BUN dan kreatinin mengkaji fungsi ginjal.
5. Urinalisis menunjukkan mioglobin dan hemokromogen menandakan kerusakan
otot pada luka bakar ketebalan penuh luas.
6. Bronkoskopi membantu memastikan cedera inhalasi asap.
7. Koagulasi memeriksa faktor-faktor pembekuan yang dapat menurun pada luka
bakar masif.
8. Kadar karbon monoksida serum meningkat pada cedera inhalasi asap.

1. Diagnosa Keperawatan

Marilynn E. Doenges dalam Nursing care plans, Guidelines for planning and documenting
patient care mengemukakan beberapa Diagnosa keperawatan sebagai berikut :

1. bersihan jalan nafas tidak efektif berhubungan dengan obtruksi


trakeabronkial;edema mukosa dan hilangnya kerja silia. Luka bakar daerah leher;
kompresi jalan nafas thorak dan dada atau keterdatasan pengembangan dada.
2. kekurangan volume cairan berhubungan dengan Kehilangan cairan melalui rute
abnormal. Peningkatan kebutuhan : status hypermetabolik, ketidak cukupan
pemasukan. Kehilangan perdarahan.
3. kerusakan pertukaran gas berhubungan dengan cedera inhalasi asap atau sindrom
kompartemen torakal sekunder terhadap luka bakar sirkumfisial dari dada atau
leher.
4. Resiko tinggi infeksi berhubungan dengan Pertahanan primer tidak adekuat;
kerusakan perlinduingan kulit; jaringan traumatik. Pertahanan sekunder tidak
adekuat; penurunan Hb, penekanan respons inflamasi.
5. Nyeri berhubungan dengan Kerusakan kulit/jaringan; pembentukan edema.
Manifulasi jaringan cidera contoh debridemen luka.
6. Resiko tinggi kerusakan perfusi jaringan, perubahan/disfungsi neurovaskuler
perifer berhubungan dengan Penurunan/interupsi aliran darah arterial/vena,
contoh luka bakar seputar ekstremitas dengan edema.
7. Perubahan nutrisi : Kurang dari kebutuhan tubuh berhubungan dengan status
hipermetabolik (sebanyak 50 % – 60% lebih besar dari proporsi normal pada
cedera berat) atau katabolisme protein.
8. Kerusakan mobilitas fisik berhubungan dengan gangguan neuromuskuler,
nyeri/tak nyaman, penurunan kekuatan dan tahanan.
9. Kerusakan integritas kulit berhubungan dengan Trauma : kerusakan permukaan
kulit karena destruksi lapisan kulit (parsial/luka bakar dalam).
10. Gangguan citra tubuh (penampilan peran) berhubungan dengan krisis situasi;
kejadian traumatik peran klien tergantung, kecacatan dan nyeri.

Diagnosa Rencana Keperawatan


Keperawatan Tujuan dan Kriteria Intervensi Rasional
Hasil
Resiko bersihan Bersihan jalan nafas tetap
1. Kaji refleks
a) Dugaan cedera
jalan nafas tidak efektif.Kriteria Hasil : gangguan/menelan; inhalasiTakipnea,
efektif berhubungan Bunyi nafas vesikuler, perhatikan pengaliran air penggunaan otot bantu,
dengan obstruksi RR dalam batas normal, liur, ketidakmampuan sianosis dan perubahan
trakheobronkhial; bebas dispnoe/cyanosis. menelan, serak, batuk sputum menunjukkan
oedema mukosa; mengi.Awasi frekuensi, terjadi distress
kompressi jalan irama, kedalaman pernafasan/edema paru dan
nafas . pernafasan ; perhatikan kebutuhan intervensi
adanya pucat/sianosis dan medik.
sputum mengandung karbon b) Obstruksi jalan
atau merah muda. nafas/distres pernafasan
2. Auskultasi paru, perhatikan dapat terjadi sangat cepat
stridor, mengi/gemericik, atau lambat contoh sampai
penurunan bunyi nafas, 48 jam setelah terbakar.
batuk rejan. c) Dugaan adanya
3. Perhatikan adanya pucat hipoksemia atau karbon
atau warna buah ceri merah monoksida.
pada kulit yang cidera d) Meningkatkan ekspansi
4. Tinggikan kepala tempat paru optimal/fungsi
tidur. Hindari penggunaan pernafasan.
bantal di bawah kepala, Bilakepala/leher terbakar,
sesuai indikasi bantal dapat menghambat
5. Dorong batuk/latihan nafas pernafasan, menyebabkan
dalam dan perubahan posisi nekrosis pada kartilago
sering. telinga yang terbakar dan
6. Hisapan (bila perlu) pada meningkatkan konstriktur
perawatan ekstrem, leher.
pertahankan teknik steril. e) Meningkatkan ekspansi
7. Tingkatkan istirahat suara paru, memobilisasi dan
tetapi kaji kemampuan drainase sekret.
untuk bicara dan/atau
f) Membantu
menelan sekret oral secara mempertahankan jalan
periodik. nafas bersih, tetapi harus
8. Selidiki perubahan dilakukan kewaspadaan
perilaku/mental contoh karena edema mukosa dan
gelisah, agitasi, kacau inflamasi. Teknik steril
mental. menurunkan risiko infeksi.
9. Awasi 24 jam keseimbngan g) Peningkatan
cairan, perhatikan sekret/penurunan
variasi/perubahan. kemampuan untuk
10. Lakukan program menelan menunjukkan
kolaborasi meliputi : peningkatan edema trakeal
11. Berikan pelembab O2 dan dapat mengindikasikan
melalui cara yang tepat, kebutuhan untuk intubasi.
contoh masker wajah h) Meskipun sering
12. Awasi/gambaran seri berhubungan dengan nyeri,
GDA perubahan kesadaran dapat
13. Kaji ulang seri rontgen menunjukkan
14. Berikan/bantu terjadinya/memburuknya
fisioterapi dada/spirometri hipoksia.
intensif. i) Perpindahan cairan atau
15. Siapkan/bantu intubasi kelebihan penggantian
atau trakeostomi sesuai cairan meningkatkan risiko
indikasi. edema paru. Catatan :
Cedera inhalasi
meningkatkan kebutuhan
cairan sebanyak 35% atau
lebih karena edema.
j) O2 memperbaiki
hipoksemia/asidosis.
Pelembaban menurunkan
pengeringan saluran
pernafasan dan
menurunkan viskositas
sputum.
k) Data dasar penting untuk
pengkajian lanjut status
pernafasan dan pedoman
untuk pengobatan. PaO2
kurang dari 50, PaCO2
lebih besar dari 50 dan
penurunan pH
menunjukkan inhalasi asap
dan terjadinya
pneumonia/SDPD.
l) Perubahan menunjukkan
atelektasis/edema paru tak
dapat terjadi selama 2 – 3
hari setelah terbakar
m) Fisioterapi dada
mengalirkan area dependen
paru, sementara spirometri
intensif dilakukan untuk
memperbaiki ekspansi
paru, sehingga
meningkatkan fungsi
pernafasan dan
menurunkan atelektasis.
n) Intubasi/dukungan
mekanikal dibutuhkan bila
jalan nafas edema atau
luka bakar mempengaruhi
fungsi paru/oksegenasi
kekurangan volume Pasien dapat
1. Awasi tanda vital, CVP. a) Memberikan pedoman
cairan berhubungan mendemostrasikan status Perhatikan kapiler dan untuk penggantian cairan
dengan Kehilangan cairan dan biokimia kekuatan nadi perifer.Awasi dan mengkaji respon
cairan melalui rute membaik.Kriteria pengeluaran urine dan berat kardiovaskuler.Penggantia
abnormal. evaluasi: tak ada jenisnya. n cairan dititrasi untuk
Peningkatan manifestasi dehidrasi,
2. Observasi warna urine dan meyakinkan rata-2
kebutuhan : status resolusi oedema, hemates sesuai indikasi. pengeluaran urine 30-50
hypermetabolik, elektrolit serum dalam 3. Perkirakan drainase luka cc/jam pada orang dewasa.
ketidak cukupan batas normal, haluaran dan kehilangan yang tampak Urine berwarna merah
pemasukan. urine di atas 30 ml/jam. 4. Timbang berat badan setiap pada kerusakan otot masif
Kehilangan hari karena adanyadarah dan
perdarahan. 5. Ukur lingkar ekstremitas keluarnya mioglobin.
yang terbakar tiap hari b) Peningkatan permeabilitas
sesuai indikasi kapiler, perpindahan
6. Selidiki perubahan mental protein, proses inflamasi
7. Observasi distensi dan kehilangan cairan
abdomen,hematomesis,feces melalui evaporasi
hitam. mempengaruhi volume
8. Hemates drainase NG dan sirkulasi dan pengeluaran
feces secara periodik. urine.
9. Lakukan programc) Penggantian cairan
kolaborasi meliputi : tergantung pada berat
10. Pasang / pertahankan badan pertama dan
kateter urine perubahan selanjutnya
11. Pasang/ pertahankan d) Memperkirakan luasnya
ukuran kateter IV. oedema/perpindahan
12. Berikan penggantian cairan yang mempengaruhi
cairan IV yang dihitung, volume sirkulasi dan
elektrolit, plasma, albumin. pengeluaran urine.
13. Awasi hasil
e) Penyimpangan pada
pemeriksaan laboratorium ( tingkat kesadaran dapat
Hb, elektrolit, natrium ). mengindikasikan ketidak
14. Berikan obat sesuai adequatnya volume
idikasi : sirkulasi/penurunan perfusi
serebral
 Diuretika contohnya f) Stres (Curling) ulcus
Manitol (Osmitrol) terjadi pada setengah dari
semua pasien yang luka
 Kalium bakar berat(dapat terjadi
pada awal minggu
 Antasida pertama).
g) Observasi ketat fungsi
15. Pantau: ginjal dan mencegah stasis
atau refleks urine.
 Tanda-tanda h)
vital Memungkinkan infus
setiap jam selama cairan cepat.
periode i)
darurat, Resusitasi cairan
setiap 2 jam selama menggantikan kehilangan
periode akut, dan cairan/elektrolit dan
setiap 4 jam selama membantu mencegah
periode rehabilitasi. komplikasi.
 Warna urine. j) Mengidentifikasi
 Masukan dan kehilangan
haluaran setiap jam darah/kerusakan SDM dan
selama periode kebutuhan penggantian
darurat, setiap 4 jam cairan dan elektrolit.
selama periode akut, k) Meningkatkan
setiap 8 jam selama pengeluaran urine dan
periode rehabilitasi. membersihkan tubulus dari
 Hasil-hasil JDL dan debris /mencegah nekrosis.
laporan elektrolit. l) Penggantian lanjut karena
 Berat badan setiap kehilangan urine dalam
hari. jumlah besar
 CVP (tekanan vena m) Menurunkan keasaman
sentral) setiap jam gastrik sedangkan inhibitor
bial diperlukan. histamin menurunkan
 Status umum setiap 8 produksi asam hidroklorida
jam. untuk menurunkan
produksi asam hidroklorida
16. Pada penerimaan rumah untuk menurunkan iritasi
sakit, lepaskan semua gaster.
pakaian dan perhiasan darin) Mengidentifikasi
penyimpangan indikasi
area luka bakar.
kemajuan atau
17. Mulai terapi IV yang penyimpangan dari hasil
ditentukan dengan jarum yang diharapkan. Periode
lubang besar (18G), lebih darurat (awal 48 jam pasca
disukai melalui kulit yang luka bakar) adalah periode
telah terluka bakar. Bila kritis yang ditandai oleh
pasien mengalami luka hipovolemia yang
mencetuskan individu pada
bakar luas dan menunjukkan
perfusi ginjal dan jarinagn
gejala-gejala syok tak adekuat.
hipovolemik, bantu dokter o) Inspeksi adekuat dari luka
dengan pemasangan kateter bakar.
vena sentral p) Penggantian cairan cepat
untuk
pemantauan CVP. penting untuk mencegah
18. Beritahu dokter bila: gagal ginjal. Kehilangan
cairan bermakna terjadi
haluaran urine < 30 ml/jam,
melalui jarinagn yang
haus, takikardia, CVP < 6 terbakar dengan luka bakar
mmHg, bikarbonat serum di luas. Pengukuran tekanan
bawah rentang normal, vena sentral memberikan
gelisah, TD di bawah data tentang status volume
rentang normal, urine gelap cairan intravaskular.
q) Temuan-temuan ini
atau encer gelap.
mennadakan hipovolemia
19. Konsultasi dokter bila dan perlunya peningkatan
manifestasi kelebihan cairan cairan. Pada lka bakar luas,
terjadi. perpindahan cairan dari
20. Tes guaiak muntahan warna ruang intravaskular ke
kopi atau feses ter hitam. ruang interstitial
Laporkan temuan-temuan menimbukan hipovolemi.
r) Pasien rentan pada
positif.
kelebihan beban volume
21. Berikan antasida yag intravaskular selama
diresepkan atau antagonis periode pemulihan bila
reseptor histamin seperti perpindahan cairan dari
simetidin kompartemen interstitial
pada kompartemen
intravaskuler.
s) Temuan-temuan guaiak
positif ennandakan adanya
perdarahan GI. Perdarahan
GI menandakan adaya
stres ulkus (Curling’s).
t) Mencegah perdarahan GI.
Luka bakar luas
mencetuskan pasien pada
ulkus stres yang
disebabkan peningkatan
sekresi hormon-hormon
adrenal dan asam HCl oleh
lambung.
Resiko kerusakan Pasien dapat
1. Pantau laporan GDA dan a) Mengidentifikasi
pertukaran gas mendemonstrasikan kadar karbon monoksida kemajuan dan
berhubungan oksigenasi serum.Beriakan suplemen penyimpangan dari hasil
dengan cedera adekuat.Kriteroia oksigen pada tingkat yang yang diharapkan. Inhalasi
inhalasi asap atau evaluasi: RR 12-24 ditentukan. Pasang atau asap dapat merusak
sindrom x/mnt, warna kulit bantu dengan selang alveoli, mempengaruhi
kompartemen normal, GDA dalam endotrakeal dan tempatkan pertukaran gas pada
torakal sekunder renatng normal, bunyi pasien pada ventilator membran kapiler
terhadap luka bakar nafas bersih, tak ada mekanis sesuai pesanan bila alveoli.Suplemen oksigen
sirkumfisial dari kesulitan bernafas. terjadi insufisiensi meningkatkan jumlah
dada atau leher. pernafasan (dibuktikan oksigen yang tersedia
dnegna hipoksia, untuk jaringan. Ventilasi
hiperkapnia, rales, takipnea mekanik diperlukan untuk
dan perubahan sensorium). pernafasan dukungan
2. Anjurkan pernafasan dalam sampai pasie dapat
dengan penggunaan dilakukan secara mandiri.
spirometri insentif setiapb)2 Pernafasan dalam
jam selama tirah baring. mengembangkan alveoli,
3. Pertahankan posisi semi menurunkan resiko
fowler, bila hipotensi tak atelektasis.
ada. c) Memudahkan ventilasi
4. Untuk luka bakar sekitar dengan menurunkan
torakal, beritahu dokter bila tekanan abdomen terhadap
terjadi dispnea disertai diafragma.
dengan takipnea. Siapkan d) Luka bakar sekitar torakal
pasien untuk pembedahan dapat membatasi ekspansi
eskarotomi sesuai pesanan. adda. Mengupas kulit
(eskarotomi)
memungkinkan ekspansi
dada.
Resiko tinggi Pasien bebas dari
1. Pantau: 1. Mengidentifikasi indikasi-
infeksi infeksi.Kriteria evaluasi: indikasi kemajuan atau
berhubungan tak ada demam,  Penampilan luka penyimapngan dari hasil
dengan Pertahanan pembentukan jaringan bakar (area luka yang
primer tidak granulasi baik. bakar, sisi donor dan diharapkan.Pembersihan
adekuat; kerusakan status balutan di atas dan pelepasan jaringan
perlinduingan kulit; sisi tandur bial nekrotik meningkatkan
jaringan traumatik. tandur kulit pembentukan granulasi.
Pertahanan dilakukan) setiap2.8 Antimikroba topikal
sekunder tidak jam. membantu mencegah
adekuat; penurunan  Suhu setiap 4 jam. infeksi. Mengikuti prinsip
Hb, penekanan  Jumlah makanan aseptik melindungi pasien
respons inflamasi yang dikonsumsi dari infeksi. Kulit yang
setiap kali makan. gundul menjadi media
yang baik untuk kultur
2. Bersihkan area luka bakar pertumbuhan bakteri.
setiap hari dan lepaskan 3. Temuan-temuan ini
jarinagn nekrotik mennadakan infeksi.
(debridemen) sesuai Kultur membantu
pesanan. Berikan mandi mengidentifikasi patogen
kolam sesuai pesanan, penyebab sehingga terapi
implementasikan perawatan antibiotika yang tepat
yang ditentukan untuk sisi dapat diresepkan. Karena
donor, yang dapat ditutup balutan siis tandur hanya
dengan balutan vaseline atau diganti setiap 5-10 hari,
op site. sisi ini memberiakn media
3. Lepaskan krim lama dari kultur untuk pertumbuhan
luka sebelum pemberian bakteri.
krim baru. Gunakan sarung 4. Kulit adalah lapisan
tangan steril dan beriakn pertama tubuh untuk
krim antibiotika topikal pertahanan terhadap
yang diresepkan pada area infeksi. Teknik steril dan
luka bakar dengan ujung tindakan perawatan
jari. Berikan krim secara perlindungan
menyeluruh di atas luka. lainmelindungi pasien
terhadap infeksi.
4. Beritahu dokter bila demam 5. Kurangnya berbagai
drainase purulen atau bau rangsang ekstrenal dan
busuk dari area luka bakar, kebebasan bergerak
sisi donor atau balutan sisi mencetuskan pasien pada
tandur. Dapatkan kultur luka kebosanan.
dan berikan antibiotika 6. IV Melindungi terhadap
sesuai ketentuan. tetanus.
5. Tempatkan pasien pada Ahli diet adalah spesialis
7.
ruangan khusus dan lakukan nutrisi yang dapat
kewaspadaan untuk luka mengevaluasi paling baik
bakar luas yang mengenai status nutrisi pasien dan
area luas tubuh. Gunakan merencanakan diet untuk
linen tempat tidur steril, emmenuhi kebuuthan
handuk dan skort untuk nutrisi penderita. Nutrisi
pasien. Gunakan skort steril, adekuat memabntu
sarung tangan dan penutup penyembuhan luka dan
kepala dengan masker bila memenuhi kebutuhan
memberikan perawatan pada energi.
pasien. Tempatkan radio
atau televisis pada ruangan
pasien untuk menghilangkan
kebosanan.
6. Bila riwayat imunisasi tak
adekuat, berikan globulin
imun tetanus manusia
(hyper-tet) sesuai pesanan.
7. Mulai rujukan pada ahli
diet, beriakn protein tinggi,
diet tinggi kalori. Berikan
suplemen nutrisi seperti
ensure atau sustacal dengan
atau antara makan bila
masukan makanan kurang
dari 50%. Anjurkan NPT
atau makanan enteral bial
pasien tak dapat makan per
oral.
Nyeri berhubungan Pasien dapat
1. Berikan anlgesik narkotik 1. Analgesik narkotik
dengan Kerusakan mendemonstrasikan yang diresepkan prn dan diperlukan utnuk memblok
kulit/jaringan; hilang dari sedikitnya 30 menit sebelum jaras nyeri dengan nyeri
pembentukan ketidaknyamanan.Kriteria prosedur perawatan luka. berat. Absorpsi obat IM
edema. Manipulasi evaluasi: menyangkal Evaluasi keefektifannya. buruk pada pasien dengan
jaringan cidera nyeri, melaporkan Anjurkan analgesik IV bila luka bakar luas yang
contoh debridemen perasaan nyaman, luka bakar luas.Pertahankan disebabkan oleh
luka. ekspresi wajah dan postur pintu kamar tertutup, perpindahan interstitial
tubuh rileks. tingkatkan suhu ruangan dan berkenaan dnegan
berikan selimut ekstra untuk peningkatan permeabilitas
memberikan kehangatan. kapiler.Panas dan air
2. Berikan ayunan di atas hilang melalui jaringan
temapt tidur bila diperlukan. luka bakar, menyebabkan
3. Bantu dengan pengubahan hipoetrmia. Tindakan
posisi setiap 2 jam bila eksternal ini membantu
diperlukan. Dapatkan menghemat kehilangan
bantuan tambahan sesuai panas.
kebutuhan, khususnya bila 2. Menurunkan neyri dengan
pasien tak dapat membantu mempertahankan berat
membalikkan badan sendiri. badan jauh dari linen
temapat tidur terhadap luka
dan menuurnkan
pemajanan ujung saraf
pada aliran udara.
3. Menghilangkan tekanan
pada tonjolan tulang
dependen. Dukungan
adekuat pada luka bakar
selama gerakan membantu
meinimalkan
ketidaknyamanan.
Resiko tinggi Pasien menunjukkan
1. Untuk luka bakar yang 1. Mengidentifikasi indikasi-
kerusakan perfusi sirkulasi tetap mengitari ekstermitas atau indikasi kemajuan atau
jaringan, adekuat.Kriteria evaluasi: luka bakar listrik, pantau penyimpangan dari hasil
perubahan/disfungsi warna kulit normal, status neurovaskular dari yang
neurovaskuler menyangkal kebas dan ekstermitas setaip 2 diharapkan.Meningkatkan
perifer kesemutan, nadi perifer jam.Pertahankan ekstermitas aliran balik vena dan
berhubungan dapat diraba. bengkak ditinggikan. menurunkan
dengan 2. Beritahu dokter dengan pembengkakan.
Penurunan/interupsi segera bila terjadi nadi 2. Temuan-temuan ini
aliran darah berkurang, pengisian kapiler menandakan keruskana
arterial/vena, buruk, atau penurunan sirkualsi distal. Dokter
contoh luka bakar sensasi. Siapkan untuk dapat mengkaji tekanan
seputar ekstremitas pembedahan eskarotomi jaringan untuk emnentukan
dengan edema. sesuai pesanan. kebutuhan terhadap
intervensi bedah.
Eskarotomi (mengikis pada
eskar) atau fasiotomi
mungkin diperlukan untuk
memperbaiki sirkulasi
adekuat.
Kerusakan Memumjukkan 1. Kaji/catat ukuran, warna, 1. Memberikan informasi
integritas kulit b/d regenerasi kedalaman luka, perhatikan dasar tentang kebutuhan
kerusakan jaringanKriteria hasil: jaringan nekrotik dan penanaman kulit dan
permukaan kulit Mencapai penyembuhan kondisi sekitar luka.Lakukan kemungkinan petunjuk
sekunder destruksi tepat waktu pada area perawatan luka bakar yang tentang sirkulasi pada aera
lapisan kulit. luka bakar. tepat dan tindakan kontrol graft.Menyiapkan jaringan
infeksi. untuk penanaman dan
2. Pertahankan penutupan luka menurunkan resiko
sesuai indikasi. infeksi/kegagalan kulit.
3. Tinggikan area graft bila 2. Kain nilon/membran
mungkin/tepat. Pertahankan silikon mengandung
posisi yang diinginkan dan kolagen porcine peptida
imobilisasi area bila yang melekat pada
diindikasikan. permukaan luka sampai
4. Pertahankan balutan diatas lepasnya atau mengelupas
area graft baru dan/atau sisi secara spontan kulit
donor sesuai indikasi. repitelisasi.
5. Cuci sisi dengan sabun 3. Menurunkan
ringan, cuci, dan minyaki pembengkakan /membatasi
dengan krim, beberapa resiko pemisahan graft.
waktu dalam sehari, setelah Gerakan jaringan dibawah
balutan dilepas dan graft dapat mengubah
penyembuhan selesai. posisi yang mempengaruhi
6. Lakukan program penyembuhan optimal.
kolaborasi : 4. Area mungkin ditutupi
- Siapkan / bantu prosedur oleh bahan dengan
bedah/balutan biologis. permukaan tembus
pandang tak reaktif.
5. Kulit graft baru dan sisi
donor yang sembuh
memerlukan perawatan
khusus untuk
mempertahankan
kelenturan. Graft kulit
diambil dari kulit orang itu
sendiri/orang lain untuk
penutupan sementara pada
luka bakar luas sampai
kulit orang itu siap
ditanam.

Daftar pustaka

 Brunner and suddart. (1988). Textbook of Medical Surgical Nursing. Sixth Edition. J.B.
Lippincott Campany. Philadelpia. Hal. 1293 – 1328.
 Carolyn, M.H. et. al. (1990). Critical Care Nursing. Fifth Edition. J.B. Lippincott Campany.
Philadelpia. Hal. 752 – 779.
 Carpenito,J,L. (1999). Rencana Asuhan Dan Dokumentasi Keperawatan. Edisi 2
(terjemahan). PT EGC. Jakarta.
 Djohansjah, M. (1991). Pengelolaan Luka Bakar. Airlangga University Press. Surabaya.
 Doenges M.E. (1989). Nursing Care Plan. Guidlines for Planning Patient Care (2 nd ed ). F.A.
Davis Company. Philadelpia.

Diposkan 7th December 2011 oleh SriCria_criaa


0

Add a comment
Memuat
Kirim masukan