Anda di halaman 1dari 12

BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

2.1. Definisi Hipoglikemia

Hipoglikemia secara harfiah berarti kadar glukosa darah di bawah harga


normal. Hipoglikemia dianggap telah terjadi bila kadar glukosa darah < 70 mg/
dL. Kadar glukosa plasma kira-kira 10% lebih tinggi dibandingkan dengan kadar
glukosa darah keseluruhan (whole blood) karena eritrosit mengandung kadar
glukosa yang relatif lebih rendah. Kadar glukosa arteri lebih tinggi dibandingkan
kadar glukosa vena, sedang kadar glukosa darah kapiler diantara kadar arteri dan
vena.
Hipoglikemia adalah suatu keadaan dimana kadar glukosa dalam darah
dibawah normal (<70mg/dl). Hipoglikemia adalah efek samping yang paling
sering terjadi akibat terapi penurunan glukosa darah pada pasien DM dan
pengontrolan glukosa darah secara intensif selalu meningkatkan risiko terjadinya
hipoglikemia berat.
Hipoglikemia adalah suatu keadaan dimana kadar gula darah (glukosa) secara
abnormal rendah, yaitu di bawah 70 mg/dl atau kadar glukosa darah di bawah 80
mg/dl dengan gejala klinis. Otak merupakan organ yang sangat peka terhadap
kadar gula darah yang rendah karena glukosa merupakan sumber energi otak yang
utama
Hipoglikemia merupakan salah satu komplikasi yang dapat terjadi pada
diabetes melitus, terutama karena terapi insulin. Pasien diabetes tergantung insulin
(IDDM) mungkin suatu saat akan menerima insulin yang jumlahnya lebih banyak
daripada yang dibutuhkannya untuk mempertahankan kadar glukosa normal yang
mengakibatkan terjadi hipoglikemia.
Harus ditekankan bahwa serangn hipoglikemia adalah berbahaya, bila sering
terjadi atau terjadi dalam waktu yang lama, dapat menyebabkan kerusakan otak
yang permanen atauh bahkan kematian. Adapun batasan hipoglikemia adalah:

a. Hipoglikemi murni : ada gejala hipoglikemi, glukosa darah < 60 mg/dl


b. Reaksi hipoglikemi : gejala hipoglikemi bila gula darah turun
mendadak, misalnya dari 400 mg/dl menjadi 150 mg/dl
c. Koma hipoglikemi : koma akibat gula darah < 30 mg/dl
d. Hipoglikemi reaktif : gejala hipoglikemi yang terjadi 3 – 5 jam
sesudah makan atau terjadi sebagai reaksi terhadap karbohidrat.

2.2. Pengaturan Kadar Glukosa Darah


Peristiwa glukoneogenesis berperan penting dalam penyediaan energi bagi
kebutuhan tubuh, khususnya system saraf dan peredarah darah (eritrosit).
Kegagalan glukoneogenesis berakibat fatal yaitu terjadinya disfungsi otak yang
berakibat koma hingga kematian. Nilai norma laboratoris dari glukosa dalam
darah ialah 65-110 mg/dl atau 3,6-6,1 mmol/L. Setelah penyerapan makanan
kadar glukosa darah pada manusia berkisar antara 4,5-5,5 mmol/L. Jika orang
tersebut makan karbohidrat kadarnya akan naik menjadi sekitar 6,5-7,2 mmol/L.
Saat puasa kadar glukosa darah turun berkisar 3,3-3,9 mmol/L.
Pengaturan kadar glukosa darah dilakukan melalui mekanisme metabolic
dan hormonal. Pengaturan tersebut termasuk bagian dari homeostatic. Aktivitas
metabolic yang mengatur kadar glukoda darah dipengaruhi oleh beberapa factor
antara lain : mutu dan jumlah glikolisis dan glukoneogenesis, aktivitas enzim
seperti glukokinase dan heksokinase. Hormon penting yang memainkan peranan
sentral dalam pengaturan kadar gula darah adalah insulin. Insulin dihasilkan oelh
sel-sel beta dari pulau Langerhans pancreas dan disekresikan langsung ke dalam
darah sebagai reaksi langsung bila keadaan hiperglikemia.
Proses pelepasan insulin dari sel beta pulau Langerhans pancreas
dijelaskan sebagai berikut :
a. Glukosa dengan bebas dapat memasuki sesl-sel beta langerhans karena
adanya transporter glut 2. Glukosa kemudian disfosforilasi oleh enzim
glukokinase yang kadarnya tinggi. Konsentrasi glukosa darah
mempengaruhi kecepatan pembentukan ATP dari proses glikolisis,
glukoneogenesis, siklus kreb dan electron transport system di
mitokondria.
b. Peningkatan produksi ATP akan menghambat pompa kalium (K+
pump) sehingga membrane dan mendorong terjadinya eksositosis
insulin. Selanjutnya insulin dibawa darah dan mengubah glukosa yang
kadarnya tinggi menjadi glikogen.
c. Enzim yang kerjanya berlawanan dengan insulin adalah glucagon.
Glucagon dihasilkan sel-sel alfa langerhans pancreas. Sekresi hormone
ini distimulasi oleh keadaan hipoglikemia. Bila glucagon yang dibawa
darah sampai di hepar makan akan mengaktifkan kerja enzim
fosforilase sehingga mendorong terjadinya glukoneogenesis.

2.3. Penyebab Hipoglikemia


Penyebab hipoglikemia pasca makan adalah hiperinsulinemia
pencernaan. Pasien yang menjalani gastrektomi, gastrojejunostomi,
piloroplasti atau vagotomi dapat mengalami hipoglikemia pasca makan,
mungkin karena pengosongan lambung yang cepat dengan penyerapan
singkat glukosa serta pelepasan insulin yang berlebihan.

Penyebab Hipoglikemia Sesudah Makan (reaktif)


a. Hiperinsulinemia pencernaan
b. Intoleransi fruktosa herediter
c. Galaktosemia
d. Sesitivitas leusin
e. Idiopatik

a. Hipoglikemia Puasa (Post absorbsi)


Hipoglikemia yang terjadi setelah absorbsi selesai, atau sekitar 2 jam
atau lebih setelah makan. Penyebab utama terjadinya hipoglikemia puasa
adalah:
1) kurangnya produksi glukosa
Penyebab tidak memamdainya produksi glukosa selama puasa dapat
dikelompokkan menjadi 5 kategori :4
(1) Defisiensi hormon
a. Hipopituarisme
b. Insufiensi adrenal
c. Defiseiensi ketokolamin
d. Defisiensi glukagon
(2) Defek enzim
a. Glukosa 6- fosfatase.
b. Fosforilasi hati
c. Piruvat karboksilase.
d. Fosfoenolpiruvat karboksikinase
e. Fruktose-1,6-difosfatase
f. Glikogen sintetase
(3) Defisiensi subtrat
a. Hipoglikemia ketotik pada bayi
b. Malnutrisi berat, penyusutan otot
c. Kehamilan lanjut
(4) Penyakit hati didapat
a. Kengesti hati
b. Hepatitis berat
c. Sirosis
d. Uremia
e. Hipotermia
(5) Obat
a. Alkohol
b. Propanolol
c. Salisilat

2) penggunaan glukosa berlebihan


Penggunaan glukosa berlebihan terjadi pada dua keadaan : ketika
ada hiperinsulinisme dan ketika konsentrasi insulin plasma rendah.
Hipoglikemia jenis ini terjadi oleh karena :
 Obat-obatan : terutama insulin, sulfoniurea, etano, golongan quinine,
pentamidine, sulfonamide.
 Penyakit kronik : gagal ginjal, gagal jantung, sepsis.
 Defisiensi Hormon : kortisol, growth hormone, glucagon dan epinefrin.
 Tumor non Sel Beta
 Hiperinsulinisme Endogen
 Gangguan pada bayi atau anak-anak
 Hiperinsulinissme
 Insulin eksogen
 Sulfonilurea
 Penyakit imun dengan insulin atau antibodi reseptor insulin
 Obat-obatan : kuinin pada malaria falciparum, disopiramid, pentamidin
 Renjatan endotoksik
 Kadar insulin yang memadai
 Tumor ekstrapankreas
 Defisiensi karnitin sistemik
 Defisiensi enzim oksidasi lemak
 Defisiensi 3-hidroksi-3-metilglutaril-CoA liase
b. Hipoglikemia Reaktif (Post Prandial)
 Post gastrektomi
 Sindrom noninsulinoma pankreatogenus hipoglikemia
 Intoleransi fruktosa herediter

Hipoglikemia dapat terjadi pada penderita Diabetes dan Non diabetes


dengan etiologi sebagai berikut :
a. Pada Diabetes
 Overdose Insulin
 Asupan Makanan berkurang
 Aktivitas Berlebihan
 Gagal Ginjal
 Hipotiroid

b. Pada Non Diabetes


 Peningkatan Produksi Insulin
 Paska Aktifitas
 Konsumsi Makanan rendah Kalori
 Konsumsi Alkohol
 Post Melahirkan
 Post Gastroctomy
 Penggunaan Obat-obatan

2.1. Respon Fisiologis terhadap Hipoglikemia


Glukosa merupakan bahan metabolisme obligat untuk otak pada keadaan
fisiologi. Otak tidak dapat mensintesis glukosa ataupun menyimpan glukosa lebih
dari beberapa menit, sehingga otak membutuhkan glukosa yang terus menerus dan
berlanjut dari sirkulasi arteri. Jika glukosa plasma arteri turun di bawah batas
fisiologis, transport glukosa darah ke otak mengalami gangguan sehingga tidak
dapat memenuhi metabolisme energi dan fungsinya. Sehingga dengan adanya
mekanisme kontra regulator dapat menjaga dan memperbaiki keadaan
hipoglikemia secara tepat.
Glukoneogenesis dibutuhkan untuk menjaga kebutuhan glukosa melalui
prekusor dari otot dan jaringan lemak ke hati dan ginjal. Otot menghasilkan
lactate, pyruvate, alanine, glutamine, dan asam amino lainnya. Trigliserida pada
jaringan lemak akan dipecah menjadi asam lemak dan gliserol. Ini merupakan
prekusor glukogenik. Asam lemak merupakan energi oksida alternatif untuk
jaringan selain dari otak.
Keseimbangan glukosa sistemik keadaan dimana konsentrasi glukosa
plasma dalam keadaan normal dipengaruhi oleh hubungan dari hormone, signal
neuron, dan efek substrat endogen yang akan meregulasi produksi glukosa dan
penggunaan glukosa oleh jaringan selain dari otak. Dalam regulasi gaktor yang
paling berperan adalah insulin. Jika level plasma menurun di bawah fisiologis
pada keadaan puasa maka sekresi insulin pancreas mengalami penurunan,
kemudian terjadi peningkatan glikogenolisis dan glokoneogenesis di hati.
Penurunan level insulin juga menurunkan penggunaan glukosa pada jaringan
peripheral, menginduksi lipolisis dan proteolisis, dengan demikina terjadi
pelepasan prekusor glukoneogenik. Penurunan sekresi insulin merupakan
pertahanan pertama dalam merespon keadaan hipoglikemia.
Mekanisme kontraregulator dimana glucagon dan epinefrin merupakan
dua hormone yang disekresikan pada kejadian hipoglikemia akut. Glucagon hanya
bekerja di hati. Glucagon mula-mula meningkatkan glikogenolisis dan kemudian
glukoneogenesis, epinefrin selain meningkatkan glikogenolisis dan
glukoneogenesis di hati, juga menyebabkan lipolisis di jaringan jaringan lemak
serta glikogenolisis dan proteolisis di otot. Gliserol, hasil lipolisis, serta asam
amino merupakan bahan baku (prekusor) glukoneogenesis hati.
Epinefrin juga meningkatkan glukoneogenesis di ginjal, yang pada
keadaan tertentu merupakan 25% produksi glukosa tubuh. Pada keadaan
hipoglikemia yang berat, walaupun kecil hati juga menunjukkan kemampuan
otoregulasi.
Kortisol dan growth hormone berperan pada keadaan hipoglikemia yang
berlangsung lama, dengan cara melawan kerja insulin di jaringan perifer (lemak
dan otot) serta meningkatkan glukoneogenesis. Defisiensi growth hormone dan
kortisol pada individu kemungkinan menimbulkan hipoglikemia yang umumnya
bersifat ringan.
Sel beta pancreas terhadap hipoglikemia adalah dengan menghambat
sekresi insulin dan turunnya kadar insulin di dalam sel beta berperan dalam
sekresi glucagon oleh sel alfa. Respon fisiologi utama terhadap hipoglikemia
terjadi sesudah neuron di VMH yang sensitive terhadap glukosa teraktivasi dan
kemudian mengaktifkan system saraf otonomik dan melepaskan hormone-hormon
kontraregulator.

2.2. Gejala dan Tanda


Pada hipoglikemia akut menunjukkan gejala dan tanda hipoglikemia ditandai
dengan Triad Whipple, yaitu :
a. Keluhan yang menunjukkan adanya kadar glukosa plasma yang rendah
b. Kadar glukosa darah yang rendah < 3 mmol/L (55 mg/dl)
c. Kepulihan gejala stelah kelainan dikoreksi
Gejala dan tanda klinis hipoglikemia:
 Sulit konsentrasi
 Gemetar
 Berkeringat
 Kelamahan badan (lemas)
 Palpitasi
 Bingung
 Perubahan visus
 Rasa lelah
 Palpitasi
 Cemas (anxiety)
 Dizziness
 Rasa lapar
 Mengantuk
 Sulit/malas berbicara

Hipoglikemia dapat dibagi menjadi hipoglikemia ringan, sedang, dan berat.


a. Hipoglikemia Ringan
Simptomatik, dapat diatasi sendiri, tidak ada gangguan aktivitas
sehari-hari yang nyata.
b. Hipoglikemia Sedang
Simtomatik, dapat diatasi sendiri, menimbulkan gangguan aktivitas
sehari-hari yang nyata.
c. Hipoglikemia Berat
Sering tidak simptomatik, karena gangguan kognitif pasien tidak
mampu mengatasi sendiri.
Jenis Hipoglikemia Sign dan Simptom
Ringan  Dapat diatasi sendiri dan tidak mengganggu
aktivitas sehari-hari
 Penurunan glukosa (stressor) merangsang
saraf simpatis : perpirasi, tremor, takikardia,
palpitasi, gelisah
 Penurunan glukosa merangsang saraf
parasimpatis : lapar, mual, tekanan darah
menurun

Sedang  Dapat diatasi sendiri, mengganggu aktivitas


sehari-hari
 Timbul gangguan pada SSP : headache,
vertigo, penurunan daya ingat, perubahan
emosi, pelaku irasional, penurunan fungsi
rasa, double vision.

Berat  Membutuhkan orang lain dan terapi glukosa


 Disorientasi, kejang, penurunan kesadaran

Hipoglikemia juga terbagi menjadi hipoglikemia akut, subakut dan


kronik. Hipoglikemia akut adalah penurunan cepat glukosa plasma sehingga
menvapai kadar rendah. Hipoglikemia akut dapat terjadi pada penderita diabetes
ataupun tidak. Pada penderita diabetes hipoglikemia disebabkan penyerapan
insulin eksogen berlebihan. Sedangkan pada non diabetes hipoglikemia
disebabkan hipersekresi insulin reaktif. Gejalanya adalah perasaan cemas,
gemetar, palpitasi, takikardi, berkeringat, dan perasaan lapar.
Hipoglikemia subakut dan kronik adalah penurunan glukosa plasma
secara relative lambat. Hipoglikemia ini merupakan akibat dari hiperinsulinemia
ataupun gangguan metabolic fungsi hati. Gejalanya yaitu perasaan kacau
progresif, tingkah laku tidak wajar, rasa lelah, dan mengantuk. Dapat timbul
kejang dan koma bila pasien tidak makan.
Gejala-gejala hipoglikemia terdiri dari 2 fase, yaitu ;
a. Fase I : gejala-gejala akibat aktivasi pusat otonom di hipotalamus sehingga
hormone epinefrin masih dilepaskan. Gejala awal ini merupakan
peringatan karena pada fase ini pasien masih sadar.
b. Fase II : gejala-gejala yang terjadi akibat mulai terganggunya fungsi otak,
karena itu dinamakan gejala neurologis. Pada awalnya tubuh memberikan
respon terhadap rendahnya kadar gula darah dengan melepaskan epinefrin
dari kelenjar adrenal dan beberapa ujung saraf. Epinefrin merangsang
pelepasan gula dari cadangan tubuh tetapi juga menyebabkan gejala yang
menyerupai serangan kecemasan (berkeringat, gelisah, gemetar, pingsan,
jantung berdebar-debar, rasa lapar). Hipoglikemia yang lebih berat
menyebabkan berkurangnya glukosa ke otak dan menyebabkan ousing,
bingung, lelah, lemah, perilaku yang tidak biasa, tidak mampu
berkonsentrasi, gangguan penglihatan, kejang, hingga koma. Hipoglikemia
yang berlangsung lama bias menyebabkan kerusakan otak yang permanen.
Gejala yang menyerupai kecemasan maupun gangguan fungsi otak bias
terjadi secara perlahan maupun secara tiba-tiba.

2.3. Terapi Hipoglikemia


Tata laksana hipoglikemia meliputi pemberian glukosa oral, glukosa
intravena, dan monitoring kadar gula darah. Terapi berbeda pada pasien sadar dan
tidak sadar. Pada stadium permulaan (pasien sadar) berikan gula murni 30 gram (2
sendok makan) atau sirup/permen atau gula murni (bukan pemanis pengganti gula
atau gula diet), atau bisa juga memberikan makanan yang mengandung
karbohidrat. Pantau gukosa sewaktu tiap 1-2 jam. Pada stadium lanjut (pasien
tidak sadar), berikan larutan dextrose 40% sebanyak 2 flakon bolus intra vena, dan
berikan infuse dextrose 10 %, dan pantau gula darah sewaktu.
Kadar Glukosa (mg/dl) Terapi Hipoglikemia
< 30 mg/dl Injeksi IV Dex 40 % (25 cc) bolus 3 flacon
30-60 mg/dl Injeksi IV Dex 40 % (25 cc) bolus 2 flacon
60-100 mg/dl Injeksi IV Dex 40 % (25 cc) bolus 1 flacon
Follow Up :
1. Periksa kadar gula darah lagi, 30 menit setelah injeksi
2. Sesudah bolus, setelah 30 menit dapat diberikan 1 flakon lagi
sampai 2-3 kali untuk mencapai kadar kurang lebih 120 mg/dl

DAFTAR PUSTAKA
Cryer P. 2008. Glucose homeostasis and hypoglycemia. In: Kronenberg
H, Melmed S, Polonsky K, Larsen P , eds.Williams textbook of endocrinology,
11th ed. Philadelphia:Saunders, an imprint of Elsevier, Inc.; 1503–1533
Guettier JM, Gorden P . 2006. Hypoglycemia. Endocrinol Metab Clin
North Am 35:753–766
Cryer PE .2007. Hypoglycemia, functional brain failure, and brain
death. J Clin Invest 117:868–870
Park-Wyllie LY, Juurlink DN, Kopp A, Shah BR, Stukel TA, Stumpo C,
Dresser L, Low DE, Mamdani MM .2006. Outpatient gatifloxacin therapy and
dysglycemia in older adults. N Engl J Med 354:1352–1361
Service GJ, Thompson GB, Service FJ, Andrews JC, Collazo-Clavell ML,
Lloyd RV.2005. Hyperinsulinemic hypoglycemia with nesidioblastosis after
gastric-bypass surgery. N Engl J Med 353:249–254