Anda di halaman 1dari 11

I.

ACARA : Pembuatan Larutan dan Pengenceran


II. HARI, TANGGAL : Selasa, 29 September 2015
III. TUJUAN :
1. Untuk mengetahui proses dan cara pembuatan larutan dari bahan
padatan atau kristal.
2. Untuk mengetahui proses dan cara pengenceran larutan dari
konssentrasi tinggi ke konsentrasi rendah.
IV. DASAR TEORI
Kimia dasar merupakan ilmu dasar yang telah menjadi tuntutan dalam
banyak jurusan di Perguruan Tinggi. Namun kenyataannya ilmu kimia ini
kurang diminati oleh kebanyakan mahasiswa. Dalam hal ini kita perlu
melakukan berbagai cara agar ilmu ini bisa diminati oleh mahasiswa.
Karena pada hakikatnya ilmu kimia adalah ilmu yang mempelajari bahan
dan perubahannya. Ilmu kimia merupakan ilmu yang bersifat eksperimental.
Salah satunya adalah dengan melakukan percobaan larutan dan
pengenceran.
Unsur merupakan zat-zat yang tidak dapat diuraikan menjadi zat lain
yang lebih sederhana oleh reaksi kimia biasa. Unsur berfungsi sebagai zat
pembangun untuk semua zat-zat komplek yang akan dijumpai. Senyawa
merupakan zat yang terdiri dari dua atau lebih unsur dan untuk masing-
masing senyawa individu selalu ada dalam proporsi massa yang sama.
Unsur dan senyawa dianggap zat murni karena komposisiya dapat berubah-
ubah (Brady, 1999).
Bedasarkan keadaan fase zat setelah bercampur, maka campuran ada
yang homogen dan heterogen. Campuran homogen adalah campuran yang
membentuk satu fasa,yaitu mempunyai sifat dan komposisi yang sama
antara satu bagian dengan bagian yang lain didekatnya. Campuran homogen
lebih umum disebut larutan, contohnya air gula dan alkohol dalam air.
Campuran heterogen adalah campuran yang mengandung dua fase atau
lebih, contohnya air susu dan air kopi. Kebanyakan larutan mempunyai
salah satu komponen yang lebih besar jumlahnya. Komponen yang besar itu
disebut pelarut (solvent) dan yang lain adalah zat terlarut (Syukri, 1999).
Untuk menyatakan banyaknya zat terlarut maupun pelarut, dikenal
istilah konsentrasi. Konsentrasi larutan dapat dinyatakan dengan beberapa
cara seperti persen berat, persen volume, molaritas, molalitas, fraksi mol,
normalitas dan bagian persejuta.
1. Persen Berat
Perbandingan massa zat terlarut dengan massa larutan dikali
100%. Biasanya dipakai pada larutan padat-cair atau padat-padat.
2. Persen Volume
Perbandingan volume zat terlarut dengan volume larutan
dikalikan 100% (untuk campuran dua cairan atau lebih).
3. Molaritas (M)
Banyaknya mol zat terlarut dalam tiap liter larutan. Harga
kemolaran dapat ditentukan dengan menghitung mol zat terlarut dan
volume larutan. Volume larutan adalah volume zat terlarut dan pelarut
setelah bercampur.
4. Molalitas (m)
Molalitas adalah jumlah ml zat tterlarut dalam 1000gr pelarut
murni.
5. Fraksi Mol (X)
Perbandingan mol salah satu komponen dengan jumlah mol
semua komponen.
6. Normalitas (N)
Jumlah ekivalen zat terlarut dalam tiap liter larutan. Ekivalen zat
dalam larutan bergantung pada jenis reaksi yang dialami zat itu, karena
ini dipakai untuk penyetaraan zat dalam reaksi.
7. Bagian Persejuta (ppm).
Miligram zat terlarut dalam tiap kg larutan, satuan ini sering dipakai
untuk konsentrasi zat yang sangat kecil dalam larutan gas, cair atau padat (
Tim Dosen Teknik Kimia, 2011).
Larutan-larutan yang tersedia dalam laboratorium umumnya
dalam bentuk pekat. Untuk memperoleh larutan yang konsentrasinya lebih
rendah biasanya dilakukan pengenceran. Pengenceran dilakukan dengan
menambahkan aquadest ke dalam larutan yang pekat. Penambahan aquadest
ini mengakibatkan konsentrasi berubah dan volume diperbesar, tetapi
jumlah mol zat terlarut adalah tetap. Selain itu, pengenceran juga dapat
dilakukan dengan cara terlebih dahulu menentukan konsentrasi dan volume
larutan yang akan dibuat. Untuk menentukannya, tetap menggunakan rumus
pengenceran.
M1. V1 = M2 . V2
Keterangan :
M₁ = Konsentrasi molar awal
M₂ = Konsentrasi molar akhir
V₁ = Volume larutan awal
V₂ = Volume larutan akhir ( Syukri , 1999).
Analisis didasari bahwa jumlah zat sebelum pengenceran sama
jumlahnya hingga akhir pengenceran. Yang berubah hanyalah konsentrasi
zat dan volumenya. Konsentrasi berubah dari konsentrasi tinggi ke rendah.
Sedangkan jumlah volume bertambah setelah pengenceran (Djorgen, 1986).
.
V. ALAT DAN BAHAN
A. Alat :
1. Labu Ukur 100 ml : 1 Buah
2. Gelas Beaker 50 ml : 1 Buah
3. Gelas Beaker 500 ml: 1 buah
4. Pipet Gondok : 1 Buah
5. Ball Pipet : 1 Buah
6. Pengaduk Kaca : 1 Buah
7. Corong : 1 Buah
8. Timbangan Analitis : 1 Unit
9. Elenmenyer : 1 Buah
B. Bahan :
1. Garam dapur NaCl : 10,19 gram
2. Aquades : 175 ml
VI. CARA KERJA
A. Membuat larutan garam 10% sebanyak 100 ml
Cara kerja :
1. Ditimbang garam dapur (NaCl sebanyak 10 gr).
2. Garam dapur dimasukan ke gelas beaker 200 ml, ditambah aquades
sedikit sambil diaduk.
3. Larutan garam tadi dimasukan ke dalam labu ukur 100 ml, sampai
garis batas penambahan aquadesnya. Pindahkan larutan yang sudah
jadi ke gelas beaker lainya.
4. Ulangi pembuatan larutan dengan bahan/khemikalia yang lain yang
tersedia.
B. Membuat larutan garam 2,5% dari larutan yang konsentrasinya 10%
Cara kerja : Pengenceran
1. Tentukan berapa volume larutan yang akan dibuat
2. Berdasarkan perhitungan dengan rumus di bawah ini tentukan
volume larutan awal (V1) yang diperlukan.
Rumus yang digunakan adalah
V1 x M1 = V2 x M2 atau V1 = V2 x M2
M1
V1 = Volume larutan awal yang diperlukan
V2 = Volume larutan yang akan dibuat
M1 = konsentrasi larutan awal/yang tersedia
M2 = Konsentrasi larutan yang akan dibuat
NB. Larutan bisa diganti-ganti/berubah (misal Sodium
Hydroxide/KOH, NaOH 0,1 N, HCl 0,1 N)
VII. HASIL PENGAMATAN
A. Tabel Hasil Pengamatan
Larutan Pengenceran
Nama
No. Awal Akhir
Bahan Vol (ml) %
Vol (ml) % Vol (ml) %
Garam
1. Dapur 100 10 25 10 100 2,5
(NaCl)
B. Perhitungan :
V1 × %1 = V2 × %2
V2 × %2
V1 =
%1
100 × 2,5 %
V1 =
10 %
V1 = 25 ml
VIII. ANALISIS DAN PEMBAHASAN
Pembuatan larutan dilakukan dengan cara mencampurkan zat yang
akan dilarutkan dengan pelarut. Dalam pembuatan larutan jumlah antara
pelarut dengan zat yang akan dilarutkan sangat mempengaruhi kadar larutan
yang dihasilkan. Pelarut yang digunakan ialah aquades. Aquades tidak
bereaksi apabila dicampurkan dengan beberapa cairan kimia. Alasan inilah
yang mendasari aquades sering digunakan sebagai pelarut.
Dibuat larutan NaCl dengan kadar 10%. Pembuatan NaCl dengan
kadar 10% dilakukan dengan mencampurkan 10 gr NaCl dengan 100 ml
aquades. Angka 10 % didapat dengan membagikan massa zat yang akan
dilarutkan (NaCl) dengan volume pelarut (aquades). Bila diinginkan larutan
dengan kadar yang lebih tinggi maka jumlah pelarut di kurangi ataupun
jumlah zat yang akan dilarutkan ditambah. Bila diinginkan larutan dengan
kadar yang rendah maka jumlah pelarut yang dicampurkan di tambah
ataupun jumlah zat yang akan dilarutkan dikurangi. Dalam pembuatan
larutan NaCl, agar antara NaCl dan aquades tercampur merata maka
dibutuhkan pengadukan. Pengadukan dilakukan menggunakan spatula. Saat
pengadukan molekul molekul aquades akan bergerak lebih cepat. Gerakan
molekul ini akan membentur kristal-kristal NaCl sehingga NaCl akan lebih
cepat larut dengan aquades. Dengan begitu melalui pengadukan, NaCl akan
lebih cepat larut daripada tanpa pengadukan.
Pengenceran merupakan proses penurunan konsentrasi larutan dengan
cara menambahkan pelarut pada larutan pekat. Jadi dapat diketahui
konsentrasi larutan setelah pengenceran akan lebih rendah dibandingkan
sebelum pengenceran. Perbedaan antara pengenceran dengan pembuatan
larutan diantaranya terletak pada produk awalnya. Pada pengenceran produk
awalnya merupakan larutan yang mengandung zat terlarut. Sedangkan pada
pembuatan larutan produk awalnya berupa zat padatan itu sendiri dan
dicampur dengan pelarut. Perbedaan yang selanjutnya antara pengencerran
dan pembuatan larutan terletak pada tujuanya. Pada pengenceran tujuanya
untuk mengurangi kadar dari suatu larutan. Pada pembuatan larutan
tujuanya untuk melarutkan zat padatan, sehingga didapatkan zat padatan
dalam bentuk larutan dengan kadar tertentu.
Dilakukan pengenceran terhadap NaCl dengan kadar 10 %, agar
menjadi larutan NaCl dengan volume 100 ml dengan kadar 2,5 %. Untuk
memenuhi tujuan pengenceran dengan kadar 2,5 % dan volume larutan 100
ml, maka dihitiung jumlah volume awal NaCl 10 % yang harus diambil
untuk pengenceran. Proses pengenceran memiliki konsep bahwa jumlah zat
sebelum pengenceran sama dengan jumlah zat setelah pengenceran. Jadi
walaupun volume bertambah, jumlah zat NaCl tetap, dari awal pengenceran
hingga akhir pengenceran. Jadi bila dirumuskan hasil kali antara Volume
NaCl awal pengenceran dengan kadar NaCl awal pengenceran sama dengan
hasil kali antara volume NaCl setelah pengenceran dengan kadar NaCl
setelah pengenceran. Melalui perhitungan didapati volume NaCl awal yang
harus diambil sebesar 25 ml dengan kadar 10 %. Kadar 10 % menunjukan
dari 25 ml terdapat zat NaCl sebesar 2,5 gr. NaCl 25 ml akan ditambahkan
aquades hingga volume mencapai 100 ml. Volume mencapai 100 ml
ditandai dengan larutan telh sampai pada batas labu ukur. Labu ukur
berkapasitas 100 ml. Dengan ditambahkan aquades maka kadar NaCl akan
turun sampai 2,5 %. Kadar 2,5 % berarti dalam 100 ml terdapat 2,5 gr zat
NaCl. Jumlah zat NaCl yang terkandung dari awal pengenceran hingga
akhir pengenceran tetap yaitu sebesar 2,5 gr. Hal ini sesuai dengan konsep
pengenceran yang menyatakan jumlah zat awal pengenceran hingga akhir
pengenceran akan tetap sama.
IX. KESIMPULAN
Dari hasil pengamatan dan pembahasan maka dapat disimpulkan
sebagai berikut :
1. Pembuatan larutan dilakukan dengan cara mencampurkan zat yang akan
dilarutkan dengan pelarut.
2. Pembuatan larutan NaCl dengan kadar 10% dilakukan dengan
mencampurkan 10 gr NaCl dengan 100 ml aquades.
3. Pengenceran merupakan proses penurunan konsentrasi larutan dengan
cara menambahkan pelarut pada larutan pekat.
4. Dibutuhkan volume awal NaCl 10 % sebesar 25 ml dengan aquades
sebesar 75 ml untuk mengencerkan larutan menjadi larutan NaCl
dengan volume 100 ml dengan kadar 2,5 %
5. Perbedaan antara pengenceran dengan pembuatan larutan diantaranya
terletak pada produk awalnya. Pada pengenceran produk awalnya
merupakan larutan yang mengandung zat terlarut. Sedangkan pada
pembuatan larutan produk awalnya berupa zat padatan itu sendiri dan
dicampur dengan pelarut.