Anda di halaman 1dari 159

i

PENGEMBANGAN PERANGKAT PEMBELAJARAN SUBKONSEP


INVERTEBRATA DENGAN MEDIA FILM DI SMA

skripsi
disusun sebagai salah satu syarat
untuk memperoleh gelar Sarjana Pendidikan Biologi

Oleh
Ulya Fawaida
4401406525

JURUSAN BIOLOGI
FAKULTAS MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM
UNIVERSITAS NEGERI SEMARANG
2010
1

PERNYATAAN KEASLIAN SKRIPSI

Saya menyatakan dengan sebenar-benarnya bahwa skripsi saya yang berjudul “


Pengembangan Perangkat Pembelajaran Subkonsep Invertebrata Dengan Media Film Di
Sekolah Menengah Atas ” disusun berdasarkan hasil penelitian saya dengan arahan dosen
pembimbing. Sumber informasi atau kutipan yang berasal atau dikutip dari karya yang
diterbitkan telah disebutkan dalam teks dan dicantumkan dalam Daftar Pustaka dibagian
akhir skripsi ini. Skripsi ini belum pernah diajukan untuk memperoleh gelar dalam
program sejenis di perguruan tinggi manapun.

Semarang, September 2010

Ulya Fawaida

ii
2

ABSTRAK

Fawaida, Ulya. 2010. Pengembangan Perangkat Pembelajaran Subkonsep


Invertebrata dengan Media Film di Sekolah Menengah Atas. Skripsi, Jurusan Biologi
FMIPA Universitas Negeri Semarang. Dr. Lisdiana, M. Si. dan Ir. Nur Rahayu
Utami, M. Si.

Pembelajaran Invertebrata merupakan pembelajaran yang bersifat abstrak karena


guru tidak mampu menghadirkan hewan Invertebrata pada saat pelajaran. Untuk itu
peneliti mengembangkan perangkat pembelajaran dengan media film dengan tujuan untuk
mengetahui apakah perangkat pembelajaran yang dikembangkan efektif pada
pembelajaran subkonsep Invertebrata di SMA.
Rancangan penelitian ini adalah Research and development (R&D) dengan subjek
siswa dan guru. Pada penelitian ini dilakukan uji coba terbatas dan uji coba skala luas.
Pada uji coba terbatas menggunakan kelompok Karya Ilmiah Remaja (KIR) yang
berjumlah 20 siswa dan uji coba skala luas menggunakan dua kelas yaitu kelas XA dan
XB. Untuk mengetahui keefektifan pembelajaran digunakan indikator hasil belajar dan
aktifitas siswa.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa pembelajaran dengan menggunakan media film
efektif pada pembelajaran subkonsep Invertebrata di SMA. Hal ini dibuktikan dengan hasil
belajar siswa telah mencapai indikator yang telah ditentukan yakni ketuntasan belajar
sebesar 100% pada skala terbatas dan pada skala luas sebesar 88, 37% (pada kelas A) dan
97,90% (pada kelas B). Aktifitas siswa menunjukkan lebih dari 75% termasuk dalam
kriteria tinggi, sedangkan penilaian dari pakar terhadap media menunjukkan bahwa 76%
menunjukkan media layak digunakan dan dari aspek materi media cukup layak digunakan
(46%).
Berdasarkan hasil penelitian dapat disimpulkan bahwa pengembangan perangkat
pembelajaran ini efektif untuk digunakan dalam pembelajaran subkonsep Invertebrata di
SMA.

Kata Kunci: Perangkat pembelajaran, Media film, Subkonsep Invertebrata

iii
3

KATA PENGANTAR

Puji syukur penulis panjatkan kehadirat Tuhan Yang Maha Esa yang telah
melimpahkan anugrah-Nya sehingga penulis dapat menyelesaikan penyusunan skripsi
dengan judul ” Pengembangan Perangkat Pembelajaran Subkonsep Invertebrata
dengan Media Film di Sekolah Menengah Atas”.

Penulis menyadari bahwa dalam penyusunan skripsi ini tidak lepas dari bantuan
berbagai pihak. Oleh karena itu dalam kesempatan ini penulis mengucapkan terima kasih
yang sebesar-besarnya kepada:

1. Rektor Universitas Negeri Semarang atas kesempatan yang diberikan kepada penulis
sehingga dapat menyelesaikan studinya.
2. Dekan FMIPA Universitas Negeri Semarang atas izin yang diberikan kepada penulis
untuk melakukan penelitian.
3. Ketua Jurusan Biologi FMIPA Universitas Negeri Semarang atas kemudahan
administrasi dalam menyelesaikan skripsi ini.
4. Ibu Dr. Lisdiana, M.Si dan Ibu Ir. Nur Rahayu Utami, M.Si., sebagai dosen
pembimbing yang dengan sabar membimbing, memberi petunjuk dan pengarahan
selama menyusun skripsi ini.
5. Bapak Drs. Bambang Priyono, M.Si., sebagai dosen penguji yang dengan sabar telah
memberikan saran dan masukan yang sangat berguna untuk penyempurnaan skripsi ini.
6. Ibu Dr. Margareta R,M.Si., sebagi dosen validator materi yang telah memberikan
masukannya dalam pembuatan media film.
7. Ibu Siti Alimah, S.Pd., M.Pd. dan Bapak Parmin M.Pd., sebagai validator media yang
telah memberikan masukan dan bimbingannya dalam pembuatan media film.
8. Kepala SMA N 1 Karangrayung yang telah memberi izin dan kerjasama selama
pelaksanaan penelitian.
9. Bapak Drs. Sapto H selaku guru Biologi SMA N 1 Karangrayung yang telah memberi
masukan dan kerjasama selama penelitian.
10. Bapak, ibu, dan adik-adikku tercinta serta seluruh keluargaku yang telah banyak
memberikan kasih sayang, doa, dukungan, dan kesabaran.

iv
4

11. Siswa kelas XA, XB, kelompok KIR SMA N 1 Karangrayung yang telah berkenan
menjadi sampel dalam penelitian ini.
12. Kak Widodo, S.Pd.,M.Pd dan Mbak Latih Andrasari, S.Pd. yang selalu memberikan
semangat dan arahan.
13. Sahabat-sahabatku Bio’06, dan teman kos Mukminatul kos yang telah memberikan
persahabatan terindah untukku.
14. Semua pihak yang tidak penulis sebutkan satu persatu yang telah memberikan bantuan
dan dorongan baik materiil dan spiritual sehingga skripsi ini dapat terselesaikan.

Semoga skripsi ini dapat bermanfaat bagi para pembaca dan perkembangan dunia
pendidikan Indonesia. Kritik dan saran selalu kami harapkan untuk kesempurnaan skripsi
ini.

Semarang, Desember 2010

Ulya Fawaida

v
5

DAFTAR ISI
Halaman
PERNYATAAN KEASLIAN SKRIPSI ................................................................ ii
ABSTRAK.............................................................................................................. iii
KATA PENGANTAR ............................................................................................ iv
DAFTAR ISI ........................................................................................................ vi
DAFTAR TABEL................................................................................................... vi
DAFTAR GAMBAR ................................................................................... ..... .... ix
DAFTAR LAMPIRAN .......................................................................................... x
BAB I PENDAHULUAN
A. Latar Belakang ........................................................................... 1
B. Rumusan Masalah ....................................................................... 3
C. Penegasan Istilah ........................................................................ 3
D. Tujuan Penelitian ........................................................................ 4
E. Manfaat Penelitian ......................................................................
BAB II TINJAUAN PUSTAKA
A. Belajar dan Pembelajaran .......................................................... 5
B. Media Pembelajaran ................................................................... 8
C. Media Film ................................................................................. 13
D. Subkonsep Invertebrata .............................................................. 14
BAB III METODE PENELITIAN
A. Tempat Waktu Dan Karakteristik Penelitian ............................. 17
B. Subjek Penelitian ........................................................................ 17
C. Variable Penelitian ..................................................................... 17
D. Faktor yang Diteliti ..................................................................... 17
E. Rancangan Penelitian ................................................................. 18
F. Prosedur Penelitian ..................................................................... 18
G. Metode Pengumpulan Data ......................................................... 24
H. Metode Analisis Data ................................................................. 24
BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN
A. Desain Awal Produk .................................................................. 29
B. Hasil Pengujian Pertama ............................................................. 29
C. Revisi Produk ............................................................................. 34
D. Hasil Pengujian Tahap Kedua .................................................... 34
E. Pembahasan ................................................................................ 36
BAB V SIMPULAN DAN SARAN
A. Simpulan ..................................................................................... 48
B. Saran ........................................................................................... 48
DAFTAR PUSTAKA ............................................................................................ 49
LAMPIRAN-LAMPIRAN ..................................................................................... 51

vi
6

DAFTAR TABEL

TABEL Halaman

1. Hasil Uji Coba Validitas Soal ..................................................................... 20


2. Taraf Kesukaran Soal Uji coba .................................................................... 21
3. Taraf Kesukaran Soal Evaluasi Akhir ........................................................ 22
4. Penilaian Aspek Isi dan Pembelajaran Media Film ................................... 29
5. Hasil Validasi Draf II Aspek Isi dan Pembelajaran Media Film ................ 29
6. Penilaian tentang Aspek Tampilan dalam Pembelajaran Media Film
Subkonsep Invertebrata ............................................................................... 30
7. Revisi Draff II tentang Aspek Tampilan dalam Pembelajaran Media Film
Subkonsep Invertebrata ............................................................................... 30
8. Rekapitulasi Hasil Belajar Siswa Kelompok KIR ....................................... 31
9. Rekapitulasi Aktivitas Belajar Siswa pertemuan I dan II Kelompok KIR. . 31
10. Hasil Angket Tanggapan terhadap Penggunaan Media Film Subkonsep
Invertebrata .................................................................................................. 32
11. Hasil Revisi Draf II...................................................................................... 33
12. Hasil Belajar Siswa Skala Terluas Pertemuan I dan II ................................ 33
13. Aktivitas Belajar Siswa Skala luas ............................................................. 34
14. Tanggapan Siswa Skala Luas ..................................................................... 35
15. Tanggapan Guru tentang Penggunaan Media Film .................................... 35

vii
7

DAFTAR GAMBAR

Gambar Halaman

1. Proses Komunikasi ................................................................................. 9


2. Kerucut Pengalaman Edgar Dale ............................................................. 10
3. Kerangka Berfikir ................................................................................... 16
4. Langkah-Langkah Research and Development (R&D)........................... 18
5. Alur Penelitian ........................................................................................ 24

viii
8

DAFTAR LAMPIRAN

Lampiran Halaman

1. Desain Silabus Draff III ................................................................. 49


2. Desain Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP) draff III .......... 51
3. Kisi-kisi Soal .................................................................................. 57
4. Analisisis Validitas Soal dan Tingkat Kesukaran .......................... 59
5. Daftar Nama Siswa ........................................................................ 68
6. Naskah Film ................................................................................... 73
7. Rekapitulasi Hasil Belajar Siswa .................................................. 81
8. Rekapitulasi Aktivitas Belajar Siswa ............................................. 85
9. Tanggapan Siswa ............................................................................ 92
10. Penilaian Aspek Isi Media Film .................................................... 95
11. Hasil Validasi Draf II Aspek Isi Dan Pembelajaran Media Film .. 96
12. Penilaian Tentang Aspek Tampilan Dalam Pembelajaran Media Film
Subkonsep Invertebrata .................................................................. 97

13. Revisi Draf II Tentang Aspek Tampilan Dalam Pembelajaran


Media Film Subkonsep Invertebrata .............................................. 98

14. Rubrik Penilaian Ahli Materi ......................................................... 99


15. Rubrik Penilaian Ahli Media ......................................................... 102
16. Contoh Lembar Hasil Belajar Siswa ............................................. 103
17. Lembar Jawaban Diskusi Kelompok KIR ...................................... 111
18. Lembar Jawaban Diskusi Kelompok Skala Terluas ....................... 118
19. Lembar Penilaian Herbarium.......................................................... 125
20. Lembar Observasi Aktivitas Siswa Kelas A................................... 126
21. Rubrik Observasi Siswa.................................................................. 127
22. Angket Tanggapan Guru ................................................................ 129
23. Angket Pendapat Siswa .................................................................. 131
24. Tugas Artikel Kelompok KIR ....................................................... 132
25. Tugas Artikel Kelompok Skala Terluas ........................................ 136
26. Peta konsep kelompok KIR ............................................................ 144
27. Surat Ijin Penelitian ....................................................................... 146
ix
9

28. Surat Keterangan Penelitian .......................................................... 148


29. Dokumentasi Penelitian ................................................................. 149

x
1

BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Proses pembelajaran pada hakekatnya adalah untuk mengembangkan aktivitas
dan kreativitas siswa, melalui berbagai interaksi dan berbagai pengalaman belajar.
Namun dalam pelaksanaannya seringkali seorang guru tidak sadar, bahwa masih
banyak kegiatan pembelajaran yang bisa dilaksanakan justru menghambat aktivitas
dan kreativitas siswa. Kondisi ini dapat dilihat dalam proses pembelajaran di kelas,
umumnya guru lebih menekankan pada aspek kognitif. Kemampuan intelektual yang
dipelajari sebagian besar berpusat pada pemahaman subkonsep pelajaran yang bersifat
ingatan. Guru lebih sering menggunakan komunikasi satu arah, yakni dengan
menggunakan metode ceramah. Metode seperti ini membuat siswa menjadi bosan
terhadap pembelajaran.
Biologi merupakan salah satu ilmu pengetahuan alam yang banyak mengkaji
kejadian fenomena yang ada dialam ini. Materi biologi diajarkan di Sekolah
Menengah Pertama dan juga di Sekolah Menengah Atas. Salah satu materi yang di
ajarkan di SMA adalah materi Invertebrata. Subkonsep Invertebrata ini diajarkan di
kelas sepuluh pada semester pertama. Berdasarkan hasil observasi dengan guru-guru
Sekolah Menengah Atas, diketahui bahwa banyak siswa yang mengalami kesulitan
dalam pembelajaran subkonsep Invertebrata. Jika ditinjau lebih lanjut, subkonsep
Invertebrata memiliki konsep yang abstrak, dimana hewan tersebut bersifat abstrak
dalam pikiran siswa karena siswa hanya melihat dari gambar walaupun dalam
kenyataanya hewan tersebut nyata. Hal ini disebabkan karena keterbatasan dalam
pengadaan spesies ini yang membuat materi ini jadi abstrak. Konsep dari subkonsep
Invertebrata lainya adalah tidak semua spesies ditampikan di buku hanya beberapa
spesies saja yang ditampilkan hal ini juga mempengarui pengetahuan mereka. Selain
itu keterbatasan dalam pengadaan laboratorium juga mengganggu proses belajar
mereka.
Selain itu, jika dilihat dari segi materi subkonsep Invertebrata memiliki materi
yang banyak dengan alokasi waktu yang terbatas, kemudian tuntutan dari kompetensi
dasar setiap siswa harus mampu mendeskripsikan ciri-ciri Invertebrata beserta

1
2

perannya dalam kehidupan sehari-hari. Hal ini mengharuskan siswa untuk mengenali
satu persatu spesies agar siswa mengetahui peranan tiap spesies dalam kehidupan
sehari-hari. Menurut Harjoko (2009) subkonsep Invertebrata sulit dipelajari karena
spesies hewan Invertebrata letaknya di laut dan di pegunugan, jadi orang yang
tinggalnya di pegunungan tidak dapat menjumpai spesies yang hidupnya di laut dan
demikian sebaliknya. Dalam mempelajari subkonsep Invertebrata banyak istilah latin
dalam penamaanya, sehingga membuat siswa sulit untuk memahami materinya.
Kaberadaan spesies sekarang sangat rentan terhadap kepunahan ataupun karena
gangguan manusia sehingga siswa sulit untuk menemui hewan-hewan langka.
Pembelajaran subkonsep Invertebrata tiap sekolah berbeda. Banyak yang mengajarkan
subkonsep Invertebrata dengan spesimen namun jumlahnya terbatas sehingga siswa
tidak bisa melihat semuanya.
Media film merupakan suatu media yang memiliki beberapa keunggulan.
Diantaranya adalah media film mampu mengkonkritkan konsep yang abstrak,
membawa pesan dari objek yang berbahaya dan sukar atau bahkan tak mungin dibawa
kedalam lingkungan belajar, media film mampu menampilkan objek yang terlalu
besar, mengamati objek yang terlalu cepat kemudian bisa dilambatkannya, media film
memungkinkan siswa untuk berinteraksi secara langsung, menyamakan persepsi yang
seragam dalam pengalaman siswa, membangkitkan motivasi siswa dan media film
menyajikan informasi secara konsisten yang dapat diulang menurut kebutuhan.
Berdasarkan latar belakang di atas, dibutuhkan seperangkat pembelajaran yang
bisa memudahkan siswa dalam mempelajari subkonsep Invertebrata. Perwujudan
aspek itu adalah dapat dilakukan dengan membuat perangkat pembelajaran. Perangkat
pembelajaran dengan media film merupakan media yang mampu merangsang
pemikiran siswa karena media ini melibatkan indra penglihatan, pendengaran, dan
motorik siswa sehingga mampu meningkatan aktivitas belajar dan hasil belajar siswa.
Media film sangat cocok dikembangkan untuk pembelajaran subkonsep
Invertebrata karena media film mampu mengatasi masalah dalam pembelajaran
Invertebrata. Kelebihan media film menghemat waktu, media ini dapat diputar ulang
di luar jam pelajaran tanpa guru, karena isi dari dalam media film ini sudah jelas.
Media film ini sifatnya tidak terikat sehingga siswa dapat belajar kapan saja sesuai
dengan keinginan, media ini dapat meningkatkan kreatifitas siswa. Media film
3

memiliki peranan yang sangat penting diantaranya mampu merekam kejadian masa
lalu untuk didokumentasikan dan digunakan dalam pembelajaran disaat mendatang.
Hewan atau spesies di alam ini terancam kepunahannya dari bencana alam maupun
manusia, untuk itu kita perlu mendokumentasikan untuk pembelajaran.
Hasnidawati (2008) menyatakan media film (video) dapat membantu siswa
dalam proses belajar mengajar dalam penguasaan materi dan teknologi. Adanya film
dapat mempermudah siswa dalam memahami materi dan dari segi teknologi mereka
bisa pendapat pengalaman baru dari model media yang disajikan. Amini (2006)
mengatakan dilihat dari segi intruksional media video mampu meningkatkan motivasi
pada siswa, meningkatkan perhatian siswa, sehingga membantu memahami materi
yang diajarkan. Siswa yang diajar dengan media pada umumnya merasa lebih senang
dan termotivasi untuk mengikuti pelajaran yang disampaikan, sehingga meningkatkan
perhatian siswa terhadap materi tersebut. Media mengajarkan siswa untuk belajar
mandiri. Oleh karena itu diperlukan perangkat pembelajaran subkonsep Invertebrata
dengan media film agar pembelajaran lebih efektif, untuk itu peneliti mengembangkan
perangkat pembelajaran subkonsep Invertebrata dengan media film untuk menarik
perhatian siswa dalam memahami materi di Sekolah Menengah Atas.

B. Rumusan Masalah
Berdasarkan identifikasi masalah tersebut, rumusan masalah dalam penelitian ini
adalah: Bagaimanakah pengembangan perangkat pembelajaran subkonsep Invertebrata
dengan media film di Sekolah Menengah Atas?.

C. Penegasan Istilah
1. Media film
Media film adalah sarana media masa yang disiarkan dengan menggunakan
peralatan film (film, proyektor, layar) atau alat penghubung film. Media ini
menyajikan objek di alam sehingga memudahkan siswa untuk mempelajarinya. Film
ini juga dipadukan dengan teks untuk memperjelas pemahaman siswa.
Media film merupakan media audiovisual yang digunakan untuk media
pembelajaran. Media film yang dimaksudkan adalah film yang dibuat dengan keadaan
lingkungan yang alami dan objeknya langsung di alam kemudian dilengkapi animasi
4

untuk menarik perhatian siswa. Media film ini dikemas secara linear dan bersifat
interaktif, disusun untuk memudahkan siswa memahami materi subkonsep
Invertebrata. Pembelajaran nanti dapat menggunakan media LCD yang tersedia di
SMA, jika tidak memiliki LCD maka bisa memanfaatkan laboratorium komputer.
2. Pengembangan perangkat pembelajaran
Pengembangan adalah proses, cara pembuatan, pengembangkan (Departemen
Pendidikan Nasional 2003a). Pengembangan dalam penelitian ini adalah
mengembangkan perangkat pembelajaran menggunakan media film dengan ditunjang
perangkat pembelajaran lainnya yaitu silabus, RPP, LDS, dan alat evaluasi. Perangkat
pembelajaran ini di diujikan untuk siswa kelas satu SMA dan penelitian ini
dilaksanakan di SMA N I Karangrayung.
3. Subkonsep Invertebrata
Pada kurikulum tingkat satuan pendidikan (KTSP), subkonsep Invertebrata
masuk dalam dunia hewan. Materi ini diajarkan di SMA kelas X pada semester II.
Materi yang dipakai adalah Porifera, Coelenterata, Platyhelmintes, Nemathelmintes,
Annelida, Mollusca, Arthopoda dan Echinodermata.
D. Tujuan Penelitian
Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui apakah perangkat
pembelajaran yang dikembangkan efektif untuk pembelajaran subkonsep Invertebrata
di SMA.
E. Manfaat Penelitian
Penelitian ini diharapkan memberikan sumbangan baik bagi guru, siswa dan
sekolahan. Adapun manfaatnya adalah sebagai berikut:
1. Membantu memahamkan siswa dengan media yang baru dan suasana yang berbeda
sehingga bisa merangsang kognitif siswa dan memacu siswa untuk lebih aktif.
2. Menghasilkan media pembelajaran yang telah tervalidasi.
3. Merangsang guru untuk produktif dan kreatif.
4. Memberi sumbangan mengenai media pembelajaran yang bagus untuk mencapai
kelulusan dan menambah inventaris media belajar di sekolah.
5

BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

A. Belajar dan Pembelajaran


1. Pengertian belajar
Belajar merupakan proses penting bagi perubahan perilaku manusia dan
mencakup segala sesuatu yang dipikirkan dan dikerjakan. Belajar memegang peranan
penting didalam perkembangan, kebiasaan, sikap, keyakinan, tujuan, kepribadian, dan
bahkan persepsi manusia. Oleh karena itu, dengan menguasai prinsip-prinsip dasar
tentang belajar, seorang mampu memahami bahwa aktivitas belajar itu memegang
peranan penting.
Dalam kamus besar bahasa Indonesia, secara etimologis belajar memiliki arti
“Berusaha memperoleh kepandaian atau ilmu”. Definisi ini mempunyai pengertian
bahwa belajar adalah sebuah kegiatan untuk mencapai kepandaian atau ilmu. Usaha
untuk mendapat kepandaian atau ilmu merupakan usaha manusia untuk memenuhi
kebutuhan mendapat ilmu atau kepandaian yang belum dimiliki, sehingga dengan
belajar manusia menjadi tahu, memahami, mengerti, dapat melaksanakan dan
memiliki tentang sesuatu (Fudyartanto 2002, diacu dalam Baharudin dan Wahyuni
2008).
Banyak pakar yang mendefinisikan konsep tentang belajar. Menurut Anni
(2004) pengertian belajar secara psikologis, belajar merupakan suatu proses perubahan
yaitu perubahan tingkah laku sebagai hasil dari interaksi dengan lingkunganya dalam
rangka memenuhi kebutuhan hidupnya. Menurut Slameto (2003) menyatakan bahwa
belajar merupakan suatu proses usaha yang dilakukan seseorang untuk memperoleh
suatu perubahan tingkah laku yang baru secara keseluruhan, sebagai hasil
pengalamannya sendiri dalam interaksi dengan lingkungannya. Menurut Hakim
(2005), belajar adalah suatu proses perubahan didalam kepribadian manusia, dan
perubahan tersebut ditampakkan dalam bentuk peningkatan kualitas dan kuantitas
tingkah laku seperti peningkatan kecakapan, pengetahuan, sikap, kebiasaan,
pemahaman, keterampilan, daya pikir, dan lain-lain kemampuan. Menurut Hilgrad dan
Bower dalam (Fudyartanto 2002, diacu dalam Baharudin dan Wahyuni 2008), belajar
(to learn) memiliki arti: 1) to gain knowlwdge, comprehension, or mastery of trough

5
6

experience or study; 2) to fix in the mind or memory; memoriez; 3) to acquire trough


experience; 4) to become informe of to find out. Menurut definisi tersebut belajar
memiliki pengertian memperoleh pengetahuan atau menguasai pengetahuan, dan
mendapatkan informasi atau menemukan. Menurut Gagne seperti yang dikutip oleh
Slameto (2003) dalam bukunya ”Belajar dan Faktor-faktor yang Mempengaruhinya”,
memberikan dua definisi belajar yang pertama belajar adalah suatu proses untuk
memperoleh motivasi dalam pengetahuan, keterampilan, kebiasaan, dan tingkah laku.
Kedua belajar adalah penguasaan pengetahuan atau keterampilan yang diperoleh dari
instruksi.
Belajar adalah serangkaian proses yang terjadi pada individu sehingga
mengakibatkan perubahan yang permanen dan perubahan tersebut meningkatan
kualitas dan kuantitas tingkah laku seseorang diberbagai bidang yang terjadi akibat
melakukan interaksi terus menerus dengan lingkungannya. Jika didalam proses belajar
tidak mendapatkan peningkatan kualitas dan kuantitas kemampuan, dapat dikatakan
bahwa orang tersebut mengalami kegagalan didalam proses belajar.
Seseorang yang belajar memiliki ciri-ciri sebagai berikut:
a. Belajar ditandai dengan adanya perubahan tingkah laku (change behavior).
b. Perubahan perilaku relatif permanen.
c. Perubahan tingkah laku tidak harus segera dapat diamati pada saat proses belajar
berlangsung, perubahan perilaku tersebut bersifat potensial.
d. Perubahan tingkah laku merupakan hasil latihan atau pengalaman.
e. Pengalaman atau latihan itu dapat memberi penguatan. Sesuatu yang memperkuat
itu akan memberi semangat atau dorongan untuk mengubah tingkah laku.
Tugas seorang guru melaksanakan proses belajar mengajar dan yang perlu
diperhatikan beberapa prinsip pembelajaran antara lain sebagai berikut (Soekamto dan
Winataputra 2008 diacu dalam Baharudin dan Wahyuni 2008)
a. Apapun yang dipelajari siswa, dialah yang harus belajar, bukan orang lain. Untuk
itu siswalah yang harus bertindak aktif.
b. Setiap siswa belajar sesuai dengan tingkat kemampuannya.
c. Siswa akan dapat belajar dengan baik bila mendapatkan penguatan langsung pada
setiap langkah yang dilakukan selama proses belajar.
7

d. Penguasaan yang sempurna dari setiap langkah yang dilakukan oleh siswa akan
membuat proses belajar lebih berarti.
e. Motivasi belajar siswa akan lebih meningkat apabila diberi tanggungjawab dan
kepercayaan penuh atas belajarnya.
2. Pembelajaran
Pembelajaran secara umum dapat diartikan sebagai suatu kegiatan yang
dilakukan oleh guru kepada siswa dalam ruangan. Pembelajaran hakekatnya adalah
suatu proses mengatur, mengorganisasi lingkungan yang ada di sekitar anak didik
sehingga dapat menimbulkan dan mendorong anak didik melakukan proses belajar.
Pembelajaran biologi mendasarkan kepada bagaimana siswa belajar secara
aktif. Belajar biologi memerlukan pemahaman konsep yang akan memunculkan
sebuah konsep sehingga siswa tidak hanya menghafal tetapi juga paham. Peranan guru
adalah memberikan motifasi kepada siswa supaya mereka mau belajar serta
mewujudkan tujuan pembelajaran yang juga merupakan tugas yang cukup berat,
karena pada umumnya siswa menganggap pelajaran biologi kurang menarik bahkan
ada yang menganggap membosankan.
Berpijak dari uraian tersebut, guru biologi dapat memberikan motivasi serta
menggunakan cara-cara yang kreatif dalam menyampaikan materi di kelas, sehingga
siswa termotivasi untuk mempelajari biologi tanpa ada rasa takut dan bosan. Hal ini
merupakan salah satu usaha dalam mengajar, dan guru juga bertugas membuat
rancangan untuk memberikan kemudahan mencapai tujuan pembelajaran.
3. Hasil Belajar
Hasil belajar merupakan perubahan perilaku yang diperoleh pembelajar setelah
mengalami aktivitas belajar. Menurut Sudjana (2002) faktor-faktor yang
mempengaruhi hasil belajar siswa yaitu dari dalam dan luar sebagai berikut:

a. Faktor dari dalam diri siswa


Faktor dari dalam diri siswa yang paling berpengaruh terhadap hasil belajar
adalah kemampuan yang dimiliki. Selain faktor kemampuan yang dimiliki siswa,
faktor lain yang berasal dari diri siswa adalah kesiapan belajar, perhatian,
motivasi, minat, ketekunan, tingkat sosial ekonomi, psikis, dan fisik siswa.
8

b. Faktor dari luar diri siswa


Faktor yang datang dari luar diri siswa terutama dipengaruhi oleh:

1) Guru
Guru merupakan faktor yang paling menentukan kualitas pembelajaran
karena guru adalah sutradara sekaligus aktor dalam proses pembelajaran.
Seorang guru harus pandai dalam merencanakan pembelajaran termasuk
dalam menentukan strategi dan metode yang digunakan untuk konsep
tertentu.

2) Suasana belajar
Suasana belajar yang demokratis akan memberi peluang mencapai hasil
belajar yang optimal. Penggunaan strategi pembelajaran yang sesuai
diharapkan siswa lebih termotivasi, bebas menuangkan pendapatnya, berani
mengajukan pertanyaan, sehingga kegiatan belajar mengajar akan lebih
bermakna, dan hasil belajar tercapai secara optimal.

3) Fasilitas dan sumber belajar yang tersedia


Keberadaan fasilitas dan sumber belajar yang terbatas biasanya
membatasi pengembangan pembelajaran yang akhirnya menyebabkan
rendahnya hasil belajar siswa. Untuk itu kelas harus diusahakan sebagai
laboratorium belajar bagi siswa. Artinya kelas harus menyediakan berbagai
sumber belajar seperti buku pelajaran dan alat peraga. Selain itu juga harus
diusahakan agar siswa diberi kesempatan untuk berperan sebagi sumber
belajar.

4) Karakteristik sekolah
Karakteristik sekolah berkaitan dengan disiplin sekolah, perpustakaan
sekolah, letak geografis sekolah, lingkungan sekolah dan estetika dalam arti
sekolah memberikan perasaan nyaman, kepuasan belajar, bersih, rapi dan
teratur.
B. Media Pembelajaran
Secara harfiah media berarti “perantara” atau “pengantar”, yaitu perantara atau
pengantar antara sumber pesan dengan penerima pesan. Media pembelajaran menurut
9

AETC (Assosiation of education and communication technology), adalah segala


bentuk dan saluran yang digunakan untuk menyalurkan pesan atau informasi. Miarso
dalam Santoso (2004) mengatakan media adalah segala sesuatu yang dapat digunakan
untuk merangsang pikiran, perasaan, perhatian dan kemampuan siswa sehingga dapat
mendorong terjadinya proses pembelajaran pada diri siswa.
Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia, film adalah selaput tipis yang terbuat
dari seluloid untuk gambar negatif (yang akan dibuat potret) untuk tempat gambar
positif (yang dimainkan di bioskop). Media film adalah sarana media massa yang
disiarkan dengan menggunakan peralatan film (film, proyektor, layar) alat
penghubung yang berupa film.
1. Peran media dalam komunikasi pembelajaran
Media adalah kata jamak dari medium, yang artinya perantara. Dalam
proses komunikasi, media merupakan satu dari empat komponen yang harus ada.
Komponen yang lain yaitu sumber informasi, informasi, dan penerima informasi.
Seandainya satu dari empat komponen tidak ada, maka proses komunikasi tidak
mungkin terjadi interaksi dan saling ketergantungan keempat komponen tersebut
tergambar seperti di bawah ini.

Sumber Informasi Penerima Informasi


Media Informasi

Penerima Informasi Sumber Informasi

Gambar 1 Proses komunikasi dalam Suwarna (2006)


Sebagaimana terlihat pada Gambar 1, menjelaskan tentang proses
komunikasi. Dalam komunikasi meliputi beberapa komponen antara lain sumber
informasi, media informasi dan penerima informasi. Proses komunikasi
disampaikan bila ada sumber informasi yang disampaikan melalui media informasi
dan akhirnya informasi tersebut diterima oleh penerima informasi. Maksud dari
media adalah adanya wadah atau sarana untuk tempat terjadinya tukar informasi.
2. Pentingnya media pembelajaran
Pengalaman manusia dibagi menjadi dua yang pertama adalah pengalaman
langsung dan tidak langsung atau abstrak. Biasanya siswa mengalami kesulitan
dalam mempelajari suatu yang abstrak, untuk itu dibutuhkan suatu media untuk
membantu belajar siswa.
10

Edgar melukiskan peranan media dalam proses mendapatkan pengalaman


belajar yang dikenal dengan kerucut pengalaman. Gambar kerucut pengalaman
Edgar Dale menunjukan kesimpulan bahwa semakin langsung objek yang
dipelajari, maka semakin konkrit pengetahuan diperoleh. Semakin tidak langsung
pengetahuan diperoleh, maka semakin abstrak pengetahuan siswa.

Verbal Abstrak

Lambang visual
Visual

Radio

Film

Televisi

Karyawisata

Demonstrasi

Pengalaman melalui drama

Pengalaman melalui media tiruan


Konkrit
Pengalaman langsung

Gambar 2 Kerucut pengalaman Edgar Dale dalam Sanjaya (2008)


3. Manfaat media pembelajaran
Secara umum manfaat media pembelajaran dalam pembelajaran adalah
untuk memperlancar informasi dari guru dan siswa dengan maksud untuk
membantu siswa belajar secara optimal. Namun demikian, secara khusus manfaat
media pembelajaran seperti dikemukakan oleh (Kemp dan Dayton 1985 diacu
dalam suwarna 2006) yaitu:
a. Penyampaian materi pembelajaran dapat diseragamkan, guru mungkin
mempunyai penafsiran yang beraneka ragam tentang suatu hal. Melalui media,
penafsiran yang beragam dapat direduksi, sehingga materi tersampaikan secara
seragam.
b. Proses pembelajaran menjadi lebih menarik, media dapat menyampaikan
informasi yang dapat didengar (audio) dan dapat dilihat (Visual), sehingga
11

dapat mendeskripsikan prinsip, konsep, proses maupun prosedur yang bersifat


abstrak dan tidak lengkap menjadi jelas dan lengkap.
c. Proses pembelajaran menjadi lebih interaktif, jika dipilih dan dirancang
dengan benar, maka media dapat membantu guru dan siswa melakukan
komunikasi dua arah secara aktif. Tanpa media, guru mungkin akan cenderung
berbicara “satu arah” pada siswa.
d. Jumlah waktu belajar mengajar dapat dikurangi. Seringkali terjadi, para guru
banyak menghabiskan waktu untuk menjelaskan materi ajar. Pada hal waktu
yang dihabiskan tidak perlu sebanyak itu, jika mereka memanfaatkan media
pembelajaran yang baik.
e. Kualitas belajar siswa dapat di tingkatkan, penggunaan media tidak hanya
membuat proses pembelajaran lebih efisien, tetapi juga membentuk siswa
menyerap materi ajar secara lebih mendalam dan utuh.
f. Proses pembelajaran dapat terjadi dimana saja dan kapan saja, media
pembelajaran dapat dirancang sedemikian rupa sehingga siswa dapat belajar
dan kapan saja mereka mau, tanpa tergantung pada keadaan guru.
g. Sikap posisi siswa terhadap pembelajaran dapat ditingkatkan, dengan media,
proses pembelajaran menjadi lebih menarik, hal ini dapat meningkatkan
apersepsi siswa pada ilmu pengetahuan dan proses pencarian ilmu.
h. Peran guru dapat berubah ke arah yang lebih positif dan produktif, dengan
media, guru tidak perlu mengulang-ulang penjelasan, namun justru dapat
mengurangi penjelasan verbal (lisan), sehingga guru dapat memberikan
perhatian lebih banyak kepada aspek pemberian motivasi, perhatian, bimbingan
dan sebagainya.
Sanjaya (2008) menyatakan fungsi dari media pembelajaran ialah:
a. Menangkap suatu objek atau peristiwa-peristiwa tertentu. Peristiwa penting atau
objek yang langka dapat diabadikan dengan foto atau direkam dengan vidio
atau audio kemudian di gunakan untuk pembelajaran.
b. Memanipulasi keadaan, peristiwa, atau objek tertentu. Dengan media
pembelajaran guru dapat menyajikan bahan pelajaran yang bersifat abstrak dan
konkrit sehingga mudah dipahami oleh siswa.
12

c. Menambah gairah dan motivasi belajar siswa. Penggunaan media dapat


menambah moivasi belajar siswa sehingga perhatian siswa terhadap materi
pembelajaran dapat lebih meningkat.
Berdasarkan beberapa pendapat di atas dapat disimpulkan bahwa media
dapat mengatasi keterbatasan pengalaman siswa dan media dapat mengatasi batas
ruang kelas.
4. Klasifikasi media pembelajaran
a. Menurut sifatnya, media dibagi menjadi:
1) Media Audiktif, yaitu media yang hanya dapat didengar saja, atau yang
hanya memiliki unsur suara saja.
2) Media Visual, yaitu media yang dapat dilihat saja, tidak mengandung
unsur suara.
3) Media Audiovisual, yaitu jenis media yang mengandung unsur suara dan
mengadung unsur gambar. Bisa dilihat dan didengar.
b. Menurut kemampuan jangkauannya, media dibagi menjadi:
1) Media yang memiliki daya liput yang luas dan serentak seperti radio dan
televisi.
2) Media yang mempunyai daya liput yang terbatas oleh ruang dan waktu
seperti film slide, film, video, dan lain-lain.
c. Menurut cara memakainya, media dibagi menjadi:
1) Media yang diproyeksikan seperti film, slide, film strip, transparansi dan
lain-lain.
2) Media yang tidak diproyeksikan seperti gambar, foto, lukisan, radio dan
sebagainya.
5. Prinsip penggunaan media
Agar media pembelajaran benar-benar digunakan untuk membelajarkan
siswa, maka harus sesuai dengan prinsip-prinsip sebagai berikut:
a. Media yang akan digunakan oleh guru harus sesuai dan diarahkan untuk
mencapai tujuan pembelajaran.
b. Media yang digunakan harus sesuai dengan materi pembelajaran.
c. Media pembelajaran harus sesuai dengan minat, kebutuhan, dan kondisi siswa.
13

d. Media yang digunakan harus memperhatikan efektivitas dan efesien. Media yang
digunakan harus sesuai dengan kemampuan guru dalam mengoprasikannya.

C. Media Film
Film atau gambar hidup merupakan rangkaian gambar mati yang diproyeksikan
pada layar dengan kecepatan tertentu. Mengamati film merupakan suatu pembelajaran
yang mengharapkan siswa dapat belajar sendiri, walaupun bahan ajarnya terbatas
sesuai dengan naskah yang disusun. Media film disusun untuk memahamkan siswa
pada materi yang bersifat abstrak, jadi siswa dapat memahami suatu materi. Media
film merupakan media yang sangat menarik seperti yang diungkapkan Yuni (2008).
Alasan lain media film menarik karena didalamnya ada gambar asli dan bergerak jadi
dapat memacu kognitif siswa dalam belajar. Selain itu media film yang didalamnya
ada animasinya dapat meningkatkan semangat belajar dan kualitas belajar menurut
Purwanti (2005).
Penggunaan media film guru berperan sebagai fasilitator, ketika ada siswa yang
kurang faham dengan materi yang ditayangkan, guru tersebut yang memberi
penjelasan. Media film sangat banyak memberi informasi kepada siswa selain dari
guru. Ketika suatu guru menggunakan media ini mereka tidak perlu takut akan
kekurangan waktu dan selain itu pembelajaran menggunakan media film menuntut
siswa untuk belajar mandiri dan aktif. Media film merupakan trobosan yang baru
untuk merekam kejadian atau peristiwa yang terjadi karena mengingat semakin lama
mahluk hidup akan akan mengalami evolusi. Melalui media film dapat merekam
kejadian yang sebelumnya sehingga siswa sekarang bisa melihat kejadian yang terjadi
pada masa lampau.
Pembuatan film bertujuan sebagai media pembelajaran (Film by design) menurut
Santoso (2004) dapat dilakukan dengan cara-cara sebagai berikut:

1. Menganalisis masalah dan kebutuhan


Guru sebagai perencanaan film pertama-tama mengidentifikasi masalah
berdasarkan fakta dan menentukan kebutuhan demi tercapainya kompetensi
pembelajaran bagi siswa. Kebutuhan yang dianalisis meliputi kesesuaian antara
produk yang akan dibuat dengan standar kompetensi yang akan diharapkan.
14

Analisis ini dilakukan secara umum sehingga produk ini nantinya yang berupa film
dapat dimanfaatkan oleh kalayak ramai.

2. Merumuskan kompetensi pembelajaran


Kompetensi pembelajaran yang akan divisualisasikan melalui film
hendaknya berdasarkan standar kompetensi dan kompetensi dasar materi terkait.
Dengan demikian media yang disiapkan juga memperhatikan tujuan dan indikator
keberhasilan siswa sebagai pembatas ruang lingkup naskah.

3. Menyusun garis besar program isi


Garis besar program disusun berdasarkan kompetensi yang telah ditetapkan
kemudian dikembangkan menjadi (1) Rumusan tujuan program, (2) Analisis tujuan,
dan (3) Materi yang akan ditulis dalam bentuk naskah untuk direalisasikan menjadi
film.

4. Menulis naskah
Sebelum naskah untuk panduan produksi ditulis, biasanya didahului dengan
membuat (a) sinopsis, (b) treatment

a. Sinopsis
Merupakan gambaran secara ringkas dan tepat tentang pokok materi yang
akan dikerjakan. Saat membaca sinopsis maka sudah nampak adanya alur, isi
cerita, serta keterangan lain yang memperjelas.

b. Treatment
Merupakan uraian ringkas dan deskriptif, yang dikembangkan dari
sinopsis dengan bahasa visual tentang suatu episode cerita, atau ringkasan dari
rangkaian peristiwa instruksional. Dengan membaca treatment bentuk program
yang akan dibuat sudah dapat dibayangkan. Ada dua format dalam menulis
naskah video, yaitu double column (kolom ganda) dan wide margi.

D. Subkonsep Invertebrata
Berdasarkan kurikulum tingkat satuan pendidikan (KTSP) subkonsep
Invertebrata termasuk dalam dunia hewan. Cakupan materi ini meliputi Porifera,
Annelida, Coelenterata Mollusca, Platyhelmintes, Nematelmintes, Arthopoda, dan
15

Echinodermata. Materi Invertebrata adalah materi yang diajarkan pada kelas X SMA
semester II dengan Standar kompetensi (SK ) 3. Memahami manfaat keanekaragaman
hayati dan kompetensi dasarnya adalah (KD) 3.4 yaitu mendeskripsikan ciri-ciri filum
dalam dunia hewan dan peranannya dalam kehidupan (BSNP SMA). Dengan media
film siswa akan melihat secara langsung ciri-ciri dari masing-masing filum dan
mengetahui contoh masing-masing spesies dan peranannya dalam kehidupan.
Berdasarkan struktur keilmuan BSCS (Biological science curriculum study),
biologi memiliki objek berupa kerajaan (kingdom): (a) plantae (tumbuhan), (b)
animalium (hewan), dan (c) protista. Ketiga objek tersebut dikaji dari tingkat molekul
sel, sel, jaringan dan organ individu, populasi, komunitas, sampai tingkat bioma.
Adapun persoalan yang dikasi meliputi 9 tema dasar yaitu: (a) biologi (sains) sebagai
proses inquiri/penemuan (inquiry), (b) sejarah konsep biologi, (c) evolusi, (d)
keanekaragaman dan keseragaman, (e) genetic dan keberlangsungan hidup, (f)
organism dan lingkungan, (g) perilaku, (h) struktur dan fungsi, dan (i) regulasi
(Departemen Pendidikan Nasional 2003).
Berdasarkan perkembangan ilmu pengetahuan, klasifikasi mahluk hidup dibagi
menjadi 5 kerajaan, yaitu Animal, Plantai, Protista, Monera dan Fungi, sedangkang
perkembangan yang terakir klasifikasi dibagi menjadi 6, yaitu: Plantae, Animal,
Protista, Fungi, Archaebacteria, dan Eubacteria (Departemen Pendidikan Nasional
2003).
Berpedoman pada struktur keilmuan BSCS materi Invertebrata termasuk
kedalam objek kingdom animalium (hewan), menurut objek yang dikaji termasuk
kedalam individu dan persoalan yang dikaji invertebarata termasuk dalam kajian
keanekaragaman dan keseragaman.
Pembelajaran menggunakan media film ini memiliki karakteristik untuk
mengidentifikasi atau mengenali ciri dari setiap filum dalam subkonsep Invertebrata.
Hal ini sama dengan pembelajaran pembelajaran sastra Indonesia dimana siswanya
disuruh mengenali watak masing-masing tokoh dari film josua oh josua. Pembelajaran
menggunakan media film dalam pelajaran sastra Indonesia mampu meningefektifan,
mengefisienkan pembelajaran sastra di SMA serta meningkatkan hasil belajar siswa
(Esoputra 2007). Pemutaran film pada sub konsep invertebrate nanti akan dibatasi
durasinya tiap jam pelajaran dan dialokasikan sekitar 20 menit sampai 30 menit.
16

Seperti (Allesi & Trollip, 2001) menyatakan kalau sebuah program video
pembelajaran sebaiknya dibatasi durasinya antara 20 sampai 30 menit. Dengan durasi
30 menit, sebuah VCD program pendidikan diasumsikan akan dapat dicerna dengan
baik serta tidak melelahkan mata atau membosankan pengguna.
Kerangka berpikir dalam penelitian ini adalah:
Alokasi waktu sedikit
Hasil dan aktifitas
Media film belajar meningkat
Materi banyak

Konsep materi Invertebrata


bersifat abstrak 1. Lebih menarik.
2. Menghemat waktu.
Banyak istilah latin 3. Mampu memuat materi yang banyak.
4. Dapat diputar dimana saja.
Tuntutan dari KD 5. Merekam segala kejadian.
6. Memanipulasi keadaan, objek atau
Specimen yang belum peristiwa tertentu.
lengkap, terancamnya MH 7. Menambah gairah motivasi siswa.
dari kepunahan 8. Penyampaian pembelajaran dapat
diseragamkan.
Keterbatasan sarana dan 9. Bisa menghadirkan binatang yang tidak
prasana bisa dijangkau(dasar laut misalnya,
binatang yang berbahaya, aktivitas
binatang mikroskopis)

Gambar 3 Kerangka berfikir pembelajaran Invertebrata menggunakan media


film di SMA.
17

BABA III
METODE PENELITIAN

A. Tempat, Waktu dan Karakteristik Subjek Penelitian


Penelitian ini dilaksanakan di SMA N I Karangrayung yang terletak di
Kecamatan Karangrayung Kabupaten Grobogan pada semester 2 Tahun Ajaran
2009/2010. Materi yang akan diajarkan untuk penelitian adalah materi Invertebrata
dan kelas yang digunakan adalah kelas X. Subjek penelitiannya adalah siswa dan guru.
B. Subjek Penelitian
Subjek yang digunakan dalam penelitian ini adalah siswa kelas X. Subjek
penelitian terbagi menjadi dua kelompok yaitu kelompok terbatas dan kelompok skala
luas. Kelompok terbatas terdiri dari 20 siswa kelompok Karya Ilmiah Remaja (KIR)
dan kelompok skala luas terdiri dari kelas XA dan XB.
C. Variabel Penelitian
Variabel dalam penelitian ini adalah hasil belajar siswa, aktivitas siswa dalam
menggunakan media film pada pembelajaran subkonsep Invertebrata. Film yang yang
digunakan adalah film yang telah divalidasi oleh pakar materi Invertebrata dan pakar
media pembelajaran dari Biologi Unnes.
D. Faktor yang di Teliti
Pengembangan perangkat pembelajaran ini memiliki kualitas yang efektif
apabila faktor-faktor yang diteliti dibawah ini sesuai dengan indikator yang
ditentukan.
1. Faktor siswa
a. Aktivitas belajar siswa dalam pembelajaran menggunakan media film dan
pembelajaran dikatakan efektif apabila ≥ 75% siswa aktif.
b. Hasil belajar siswa dalam proses belajar. Dikatakan berhasil apabila 75% siswa
mendapat hasil belajar ≥ 70 berdasarkan KKM yang ditentukan.
c. Tanggapan belajar siswa mengenai media yang digunakan. Dikatakan berhasil
apabila ≥ 75% siswa memberikan tanggapan positif terhadap media.
2. Faktor guru
Tanggapan guru dikatakan bagus apabila guru memberikan tanggapan positif
terhadap penggunaan media film.
17
18

E. Rancangan Penelitian
Rancangan penelitian ini adalah R&D yaitu suatu penelitian yang
menghasilkan desain produk kemudian divaliditasikan ke pakar dan diujikan kepada
siswa setelah itu direvisi untuk mendapatkan produk. Menurut Sugiono (2006) R&D
adalah metode penelitian yang digunakan untuk menghasilkan produk tertentu, dan
menguji keefektifan produk tersebut. Adapun langkah-langkah dari penelitian R&D
menurut Sugiono (2006) adalah sebagai berikut.

1. Potensi 2.pengumpul 3. Desain 4.


dan an data Validasi
produk
masalah pakar
V

6. Ujicoba
8. Uji coba produk /
pemakaian pada 7. Revisi 5.
implementasi
skala luas produk Revisi
skala terbatas
produk

9. Revisi 10. Produk final


produk

Gambar 4 Langkah-langkah metode R&D dalam Sugiono (2006)

F. Prosedur Penelitian
Langkah-langkah penelitian yang akan ditempuh sesuai dengan alur kerja pada
metode R&D dalam Sugiono (2006), yaitu sebagai berikut:
1. Potensi dan masalah
Pada saat observasi dengan guru biologi di SMA N I Karangrayung
menemukan masalah tentang pembelajaran biologi. Masalah ini menjadi potensi
yang akan dikaji dan diselesaikan. Berdasarkan hasil observasi didapatkan bahwa
pembelajaran yang dilakukan pada umumnya masih bersifat konvensional, hasil
belajar siswa rendah, pemanfaatan laboratorium belum optimal, materi Invertebrata
cakupan materinya banyak sedang alokasi waktunya sedikit, keterbatasan bidang
prasarana serta lingkungan setempat tidak mendukung pembelajaran. Adanya buku
19

panduan atau lembar kerja siswa (LKS) belum sepenuhnya menyebabkan siswa
bisa memahami materi ini.
2. Pengumpulan data
Hasil observasi dikumpulkan dan disusun menjadi data awal dari sebuah
masalah yang ada dan untuk itu perlu ditindak lanjuti untuk dipecahkan. Data ini
merupakan data awal untuk mendesain produk.
3. Desain produk/draf 1
Setelah mengidentifikasi masalah kemudian dipersiapkan perangkat
pembelajaran yang cocok untuk mengatasi masalah tersebut. Tahap awal ini
dimulai dengan menyusun seperangkat pembelajaran meliputi silabus, rencana
pembelajaran, pembuatan media film, angket yang berisi tanggapan pakar media,
pakar materi, guru dan siswa, dan alat evaluasi siswa. Pembuatan media film kita
harus menyusun skenario sebelumnya agar cocok dengan materi yang diajarkan dan
sesuai dengan perangkat pembelajaran, alat evaluasi serta media film.
Soal uji coba diujikan pada kelas yang sudah mendapatkan materi sebelumnya.
Alat evaluasi dapat diuji dengan rumus di bawah ini:

a. Validitas butir soal


Validitas adalah suatu ukuran kevalidan atau kesahihan instrumen. Validitas
merupakan hal penting dari suatu alat ukur. Sebuah soal dikatakan valid bila soal
tersebut dapat mengukur apa yang hendak diukur. Arikunto (2001).

Validitas butir soal dapat dicapai bila terdapat kesejajaran antara skor butir
soal tersebut dengan skor total. Untuk mengukurnya menggunakan rumus korelasi
product moment.
20

Rxy =

Keterangan:

rxy = Koefisien korelasi antara variabel X dan variabel Y


N = Jumlah respoden
X = Skor soal yang dicari validitasnya
Y = Skor total
XY = Perkalian antara skor soal dan skor total
Σ X2 = Jumlah kuadrat skor aitem
Σ Y2 = Jumlah kuadrat skor total

Kemudian harga Rxy dikonsultasikan dengan tabel r product moment 5%.


Jika Rxy > r tabel dengan taraf signifikan = 5%, maka butir soal tersebut valid.
Berdasarkan validitas perhitungan soal terdapat 43 soal yang valid dan 22 soal yang
tidak valid. Hasil uji coba validitas soal dapat dilihat pada tabel berikut.

Tabel 1 Hasil uji coba validitas soal


No Kriteria No soal Jumlah

1. Valid 1,3,4,6,7,8,10,11,12,14,16,17,18,19,20,2123,25,26,28,29,30,32, 43
34,36,38,40,42,43,44,45,46,48,49,51,52,56,57,59,60,61,62,63

2. Tidak 2,5,9,13,15,22,24,27,31,33,35,37,39,41,47,50,53,54,55,58,64,6 22
valid 5
*Data selengkapnya terdapat pada Lampiran 4

Soal yang valid akan digunakan sebanyak 40 soal sebagai soal evaluasi akhir,
sedangkan yang tidak valid akan dibuang tidak dipakai.

b. Reliabilitas soal
Reliabilitas artinya dapat dipercaya atau diandalkan. Suatu tes yang baik
selain memiliki validitas yang tinggi juga harus memiliki reliabilitas test yang
berhubungan dengan masalah kepercayaan yang tinggi, jika test tersebut
memberikan hasil yang tetap Arikunto (2001).
21

Untuk menguji reliabilitas test ini digunakan rumus KR 20

n s2 pq
r11 =
n 1 s2

Keterangan:
r11 = reliabilitas tes secara keseluruhan
Σpq = jumlah hasil kali perkalian antara p dan q
p = proporsi subjek yang menjawab aitem dengan benar
q = proporsi subjek yang menjawab aitem dengan salah
n = banyaknya aitem
s = standar deviasi dari tes
Harga r yang diperoleh kemudian dikonsultasikan dengan r tabel dengan taraf
signifikan 5%. Jika r hitung < r tabel maka alat ukur tersebut reliabilitasi signifikan.
Untuk n = 40 diperoleh r tabel = 0, 312.

Kriteria tingkat reabilitas :


0,000-0,200 : Sangat rendah
0,201-0,400 : Rendah
0,401-0,600 : Cukup
0,601-0,800 : Tinggi
0,801-1,000 : Sangat tinggi

c. Tingkat kesukaran
Tingkat kesukaran adalah persentase jumlah siswa yang menjawab soal
benar. Arikunto (2001). Besarnya indeks dapat dihitung dengan rumus :

P
P=
JS

Keterangan
P : Indeks kesukaran soal
B : Banyaknya siswa yang menjawab soal itu dengan benar
JS : Jumlah seluruh siswa peserta tes
Klasifikasi tingkat kesukaran soal:
0,00-0.30: soal sulit
0,31-0,70: soal sedang
0,71-1,00: soal mudah
22

Tabel 2 Taraf kesukaran soal uji coba


No Kriteria No Soal Jumlah
1 Sukar 9, 13, 20, 21,27, 5

2 Sedang 1, 2, 3, 5, 6, 7, 8, 10, 11, 12, 14, 15, 16, 17, 18, 19, 23, 24, 53
25, 26, 28, 29, 30, 31, 32, 33, 34, 36, 37, 38, 39, 40, 41, 42,
43, 44, 46, 48, 49, 51, 52, 53, 54, 55, 56, 57, 58, 59, 60, 61,
62, 63, 64

3 Mudah 4, 22, 35, 45,47, 50, 65 7


*Data selengkapnya terdapat pada Lampiran 4

Tabel 3 Taraf kesukaran soal evaluasi akhir


No Kriteria No Soal Jumlah
1 Sukar 20,21 2

2 Sedang 1, 3, 7, 8, 11, 12, 14, 16, 17, 18, 19, 23, 25, 28, 29, 30, 32, 36
34, 36, 38, 40, 42, 43, 44, 46, 48, 49, 51, 52, 56, 57, 59,
60, 61, 62, 63

3 Mudah 4, 45, 2
*Data selengkapnya terdapat pada Lampiran 4

4. Validasi pakar/draf II
Setelah produk selesai dibuat maka tahap selanjutnya adalah validasi. Tahap
validasi meliputi dua komponen yang pertama, validasi dari pakar media dan
komponen yang kedua, validasi dari pakar materi. Validasi dilakukan oleh pakar
media dan pakar materi Invertebrata dari dosen jurusan biologi Unnes.
5. Revisi produk
Tahap selanjutnya adalah merevisi produk/draf II tersebut. Kekurangan yang
disampaikan oleh para pakar kemudian ditambahkan kedalam produk sehingga
produk bisa menjadi produk yang sempurna.
6. Implementasi produk
a. Implementasi skala terbatas
Penelitian ini menggunakan penelitian R&D. Pengembangan desain
pembelajaran menggunakan media film (draf II) diimplementasikan pada kelas
terbatas yaitu menggunakan kelompok KIR yang berjumlah 20 siswa. Desain
pembelajaran yang digunakan diuji cobakan dengan metode eksperimen (Single
One Shot Case Study) Sugiono (2006).
Pada tahap ini termasuk tahap pelaksanaan. Produk yang telah direvisi dan
dianalisis kemudian diuji cobakan pada siswa dengan jumlah yang terbatas. Saat uji
coba diadakan evaluasi untuk mengetahui seberapa besar penguasaan siswa.
23

b. Implementasi skala luas/uji coba produk


Implementasi yang kedua ini menggunakan siswa lebih banyak (skala luas).
Draf III diimplementasikan pada skala luas. Ujicoba ini dilakukan dikelas XA yang
berjumlah 43 siswa dan XB yang berjumlah 41 siswa .
7. Revisi produk
Tahap berikutnya adalah tahap revisi draf III. Produk/draf III yang berupa
media tadi dilengkapi kekurangannya selama uji coba produk dan dianalisis
sehingga hasil dari revisinya diimplementasikan untuk skala luas.
8. Produk final
Produk dikatakan sempurna ketika sudah direvisi dari pakar dan kriteria
yang ditetapkan telah tercapai semua. Kemudian produk siap diperbanyak dan bisa
dimanfaatkan untuk umum.
Adapun gambaran dari penelitian ini adalah :
Potensi dan masalah yang ada di identifikasi dilakukan dengan observasi di SMA N I Karangrayung

2. Hasil dari observasi


Pembelajaran konvensional , Alokasi waktu yang sedikit
Materi yang banyak, Pemanfaatan laboratorium yang kurang intensif, Banyak istilah latin,Tuntutan dari
KD, Specimen yang belum lengkap, Terancamnya specimen dari kepunahan, Hasil belajar yang rendah ,
keterbatasan sarana dan prasarana, kurangnya media penunjang.

3. Mempersiapkan desain produk meliputi: Silabus, RPP, Soal evaluasi, LDS siswa, Angket untuk siswa
dan guru, Penyusunan skario, pembuatan fim (draf I)

4. Validasi produk ke pakar. Ada dua pakar,


yaitu pakar materi Invertebrata dan pakar media
Draf II
5. Merevisi kekurangan draf II

6. Draf II implementasikan pada kelas dengan jumlah terbatas dalam kelompok KIR

7. Setelah di implementasikan draf II


direvisi dan dianalisis.
Draf III

8. Di implementasikan pada skala luas

direvisi dan dianalisis. 9. Merevisi produk/draf III, dan


menganalisis data siswa.
10. Produk final
direvisi dan dianalisis.
direvisi dan dianalisis.
Gambar 5 Alur penelitian pembelajaran menggunakan media film pada
subkonsep Invertebrata di SMA N I Karangrayung
24

G. Metode Pengumpulan Data


1. Sumber data
Sumber data dari penelitian ini adalah
a. Siswa
b. Guru
2. Jenis data
Jenis data yang digunakan adalah
a. Data kualitatif meliputi tanggapan pakar pakar media, pakar pakar materi,
tanggapan siswa dan guru mengenai pembelajaran Invertebrata mengunakan
media film.
b. Data kuantitatif meliputi data keaktifan siswa, dan data hasil belajar siswa.
3. Cara pengambilan data
a. Data hasil belajar siswa diperoleh dari test.
b. Data mengenai tanggapan, siswa dan guru yang diperoleh dari lembar angket.
c. Data tentang aktivitas siswa diperoleh dari lembar observasi
H. Metode analisis data
Metode analisis data dalam penelitian ini dengan cara statistik dan deskriptif.
Adapun data yang dianalisis melalui:
1. Analisis aktivitas siswa.
%= n X 100%
N
Keterangan :
% = Persentase
n = Jumlah skor yang diperoleh
N = Jumlah skor maksimal

Kriteria deskriptif persentase aktivitas belajar siswa adalah sebagai berikut:


Tingkat penguasaan Nilai Keterangan
80-100% A Sangat tinggi
66-79 % B Tinggi
56-65 % C Sedang
40-55 % D Kurang
0 % - 39 % E Sangat kurang

Pembelajaran dikatakan aktif apabila ≥ 75% keaktifan siswa tinggi.


25

2. Analisis tanggapan pakar, siswa dan guru . Angket dari siswa dan guru mengenai
pembelajaran menggunakan media film dianalisis menggunakan rumus sebagai
berikut.
P= F X 100%
N
Keterangan:
P : Angket persentase
F : Frekuensi yang dicari presentasenya
N : Frekuensi total/banyak individu
Sedangkan untuk menganalisis hasil validasi media dengan cara menentukan
kriteria hasil perolehan skor. Caranya menentukan persentase pertinggi dan terendah
terlebih dahulu menggunakan rumus (Sudjana 2002) sebagai berikut.

Setelah memperoleh persentase tahap selanjutnya adalah membuat interval


sebagai berikut.

100-20 = 20
4
Berdasarkan rumus di atas, maka rentangan nilai persentase kriteria kelayakan

pada pakar materi dalam penelitian ini ditetapkan sebagai berikut.

80% < skor ≤ 100% Sangat layak


79% < skor ≤ 59% Layak
58% < skor ≤ 38% Cukup layak
37% < skor ≤ 16% Tidak layak

Sedangkan untuk pakar media kriteria pakar media sebagai berikut.

100-28 =18
4
26

Berdasarkan rumus diatas didapatkan rentang sebagai berikut.


82% < skor ≤ 100% Sangat layak
81% < skor ≤ 64% Layak
63% < skor ≤ 46% Cukup layak
45% < skor ≤ 18% Tidak layak
Media bisa digunakan apabila media mendapatkan penilaian cukup layak dari
pakar untuk digunakan.
3. Analisis hasil belajar siswa.
a. Menghitung ketuntasan hasil belajar secara individual

Siswa dikatakan tuntas belajar secara individual apabila telah mencapai


nilai tuntas, dengan demikian siswa yang memperoleh nilai dibawah nilai tuntas
secara individual belum tuntas belajarnya. Rumus yang digunakan untuk
mengetahui ketuntasan belajar secara individual menurut Ali (1987) sebagai
berikut.

b
NS =
n

Keterangan
NS : Nilai ketuntasan secara individual
b : Jumlah skor jawaban benar setiap siswa
n : Jumlah seluruh item soal

b. Menghitung ketuntasan belajar klasikal masing-masing kelas.

Rumus yang digunakan untuk mengetahui ketuntasan belajar secara


klasikal menurut Ali (1987) adalah :

n
P= x100%
N
Keterangan
P : Nilai ketuntasan belajar
n : Jumlah siswa tuntas belajar secara individual
N : Jumlah total siswa
27

Nilai hasil belajar siswa terdiri dari nilai, nilai evaluasi, nilai tugas dan nilai
mengerjakan LDS. Nilai hasil belajar keseluruhan dapat diperoleh dengan
rumus:

(3xB) (2 xP) (1xT )


N=
6
Keterangan
N : Nilai total hasil belajar siswa
B : Nilai hasil ujian
P : Nilai diskusi siswa
T : Nilai tugas

Pembelajaran ini dikatakan berhasil apabila 75% siswa mendapatkan hasil


belajar ≥ 70 berdasarkan KKM yang ditentukan.
28

BAB IV
HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

A. Hasil Penelitian
1. Desain Awal Produk
Perangkat pembelajaran ini terdiri dari beberapa perangkat diantaranya ada
silabus, RPP, media film subkonsep Invertebrata, LDS, pembuatan peta konsep, dan
penugasan. Penugasan meliputi mencari artikel di internet dan membuat spesimen.
Adapun gambaran dari tiap perangkat pembelajaran (draf I) adalah sebuah perangkat
pembelajaran yang terdiri dari silabus, RPP, masing-masing RPP menjelaskan tentang
perencanan pengajaran yang meliputi nonton film, diskusi, dan demonstrasi.
pembuatan peta konsep yang digunakan untuk membantu siswa meringkas setelah
memutaran film selesai. Pada pertemuan pertama diakhir pelajaran siswa diberikan
tugas untuk mencari artikel secara individu dan dipertemuan kedua siswa diminta
membuat spesimen secara individu sebagai nilai praktikum.

2. Hasil Pengujian Pertama


Penelitian ini dilaksanakan di SMA Negeri I Karangrayung pada semester
genap 2009/2010. Subjek penelitian ini adalah 20 orang siswa dari kelompok karya
ilmiah mewakili kelas skala terbatas, kelas XA, XB sebagai kelas luas. Tujuan
penelitian ini adalah untuk mengembangkan perangkat pembelajaran. Perangkat ini
dikatakan bagus/efektif apabila hasil validasi pakar media, pakar materi, hasil belajar
siswa, aktivitas belajar siswa, dan tanggapan siswa dan guru selama proses
pembelajaran memberikan penilaian. Pada tahap awal setelah media/draf I jadi
langkah berikutnya adalah memvalidasikan draf I ke pakar. Pakar disini meliputi pakar
media dan pakar materi. Validasi dilakukan berdasarkan oleh kriteria yang ditetapkan
oleh peneliti.
Penelitian ini bertujuan untuk mengembangkan perangkat pembelajaran. Untuk
mengetahui kelayakan dari suatu perangkat pembelajaran tersebut maka, peneliti
mengujikanya di SMA N I Karangrayung.

28
29

a. Tanggapan pakar materi dan media


1) Pakar materi
Hasil validasi yang dilakukan oleh pakar I adalah seperti yang tertera
dalam Tabel 4.
Tabel 4 Penilaian aspek isi dan pembelajaran media film
No Indikator Skor
1 2 3 4 5
1 Indikator pembelajaran sesuai dengan standar kompetensi 
dan kompetensi dasar dalam KTSP
2 Submateri Invertebrata dalam film sesuai dengan kompetensi 
dasar
3 Kedalaman submateri Invertebrata 
4 Penyampaian materi berurutan 
5 Evaluasi/tes sesuai dengan standar kompetensi
6 Penggunaan bahasa (susunan) mudah dipahami 
7 Kejelasan memahami kejelasan submateri Invertebrata 
8 Pemberian contoh sesuai dengan materi
9 Pemberian umpan balik memberi motivasi peserta didik 
* Keterangan: 1 Tidak bagus, 2 Kurang bagus, 3 Cukup bagus, 4 Bagus, 5 Sangat bagus
Data selengkapnya Lampiran 10

Berdasarkan hasil validasi diperoleh nilai 40% yang artinya media cukup
layak digunakan. Meskipun dianggap cukup layak, tetapi masih ada masukan
dan saran dari validator. Proses perangkat pembelajaran masih perlu direvisi dan
hasil revisi menjadi draf III. Draf III yang sudah divalidasi disajikan pada Tabel
5.
Tabel 5 Hasil validasi draf II aspek isi dan pembelajaran media film
No Indikator Skor
1 2 3 4 5
1 Indikator pembelajaran sesuai dengan standar kompetensi 
dan kompetensi dasar dalam KTSP
2 Submateri Invertebrata dalam film sesuai dengan kompetensi 
dasar
3 Kedalaman submateri Invertebrata 
4 Penyampaian materi berurutan 
5 Evaluasi/tes sesuai dengan standar kompetensi 
6 Penggunaan bahasa (susunan) mudah dipahami 
7 Kejelasan memahami kejelasan submateri Invertebrata 
8 Pemberian contoh sesuai dengan materi 
9 Pemberian umpan balik memberi motivasi peserta didik
* Keterangan: Data selengkapnya Lampiran 11

Hasil validasi draf III menyatakan bahwa media ini dinyatakan layak hal
sesuai dengan hasil validasi sebesar 46%. Hasil dari validasi draf III, validator
memberikan saran agar penamaan nama spesies disesuaikan dengan penamaan
30

ilmiah, pengucapan diperjelas dan ada penambahan pada bagian Porifera dan
Mollusca sedangkan pada Coelenterata penayangan ubur-ubur dikurangi.
2) Pakar media
Hasil validasi media oleh validator terhadap aspek tampilan dalam
pembelajaran media film subkonsep Invertebrata tersaji pada Tabel 6.
Tabel 6 Penilaian tentang aspek tampilan dalam pembelajaran media film
subkonsep Invertebrata
No Indikator skor
1 2 3 4 5
1 Keterbacaan teks 
2 Kualitas tampilan gambar 
3 Sajian animasi 
4 Pemilihan komposisi warna
5 Daya dukung musik 
6 Tampilan layar 
7 Pemilihan jenis dan ukuran font 
* Keterangan: 1 Tidak bagus, 2 Kurang bagus, 3 Cukup bagus, 4 Bagus, 5 Sangat bagus
Data selengkapnya Lampiran 12

Berdasarkan hasil validasi pertama diperoleh nilai 22% yang artinya


media ini tidak layak untuk digunakan. Kritik dan saran dari dosen pakar media
antara lain, harus ada closing dan open, gambar kurang besar sehingga kurang
jelas, pemilihan musik instrumen sebaiknya jangan ada syair lagunya, pada saat
suara narator berbicara musik harus berhenti sehingga tidak mengganggu, suara
narator kurang jelas, gambar terlalu kecil sehingga tulisan tidak jelas.
Berdasarkan hasil validasi masih banyak perbaikan untuk bisa menjadi media
yang layak untuk digunakan.
Pada tahap revisi kedua dilakukan oleh pakar III selaku dosen pakar
media juga dari Unnes. Adapun hasilnya pada Tabel 7.
Tabel 7 Revisi draf II tentang aspek tampilan dalam pembelajaran media film
subkonsep Invertebrata
No Indikator Skor
1 2 3 4 5
1 Keterbacaan teks 
2 Kualitas tampilan gambar 
3 Sajian animasi 
4 Pemilihan komposisi warna 
5 Daya dukung musik 
6 Tampilan layar 
7 Pemilihan jenis dan ukuran font 
* Keterangan: Data selengkapnya Lampiran 13
31

Berdasarkan hasil validasi yang kedua didapatkan nilai 74% yang artinya
media ini layak untuk digunakan. Pada revisi draf II mendapat masukan dari dosen
yaitu font animasi diperjelas dan menggunaan media foto dicari yang paling jelas.
b. Hasil belajar
Kualitas pembelajaran yang dilakukan, dapat dilihat dari perolehan hasil
belajar siswa. Pengukuran hasil belajar ini bertujuan untuk mengetahui tingkat
pemahaman siswa terhadap materi yang diajarkan yaitu materi subkonsep
Invertebrata. Hasil belajar siswa dari kelompok karya ilmiah, dapat dilihat pada
Tabel 8.
Tabel 8 Rekapitulasi hasil belajar siswa kelompok karya ilmiah
Variansi Kelas KIR
Nilai tertinggi 85,6
Nilai terendah 72,4
Rata-rata 80,04
Jumlah siswa yang tuntas 20
Jumlah siswa yang tidak tuntas 0
Ketuntasan klasikal 100%
Data selengkapnya Lampiran 8

Berdasarkan Tabel 8 diketahui bahwa pengembangan perangkat pembelajaran


menggunakan media film pada materi Invertebrata di SMA N I karangrayung
menunjukkan hasil belajar siswa sesuia dengan indikator yang ditentukan. Pada
ujicoba I secara klasikal tuntas 100%. Hal ini menunjukkan siswa memahami
pembelajaran menggunakan media film.
c. Aktivitas siswa
Data aktivitas siswa diperoleh berdasarkan hasil observasi yang dilakukan
pada pertama dan pertemuan kedua. Data aktivitas belajar siswa disajikan pada
Tabel 9.
Tabel 9 Rekapitulasi hasil observasi aktivitas siswa pertemuan I dan pertemuan II
Kelas KIR
Kriteria
PI P II
Sangat aktif 15% 45%
Aktif 80% 35%
Cukup aktif 5% 20%
Kurang aktif 0% 0%
Tidak aktif 0% 0%
*Keterangan PI: pertemuan Ke I, PII: pertemuan ke II
Data selengkapnya Lampiran 7
32

Berdasarkan Tabel 9 menunjukkan bahwa aktivitas siswa pada kelompok


KIR dari pertemuan pertama dan kedua terjadi peningkatan dan 75% siswa
termasuk kedalam kriteria aktif.
d. Tanggapan siswa dalam pembelajaran
Berdasarkan hasil penelitian diperoleh data mengenai tanggapan siswa
terhadap media yang digunakan dalam proses pembelajaran yang disajikan dalam
Tabel 10.
Tabel 10 Hasil angket tanggapan siswa terhadap penggunaan media film pada
subkonsep Invertebrata
Tanggapan siswa
KIR
No Pernyataan
“Ya” “Tdk”
1. Tanggapan siswa tentang penggunaan media film pada mata 75% 25%
pelajaran biologi sebelumnya.
2. Tanggapan siswa mengenai media film yang dibuat peneliti menarik 80% 20%
atau tidak.
3. Tanggapan siswa tentang perbedaan media film yang biasa 80% 20%
digunakan dengan film peneliti.
4. Tangapan siswa tentang kemudahan memahami subkonsep 75% 25%
invertebrate dengan media film.
5. Tanggapan siswa tentang kemudahan menggunakan media film. 85% 15%
6. Tangggapan siswa tentang kegiatan pembelajaran yang disampaikan 75% 25%
peneliti menarik.
7. Tanggapan siswa tentang kesenangannya terhapan penggunaan media 80% 20%
film pada subkonsep Invertebrata.
8. Tanggapan siswa tentang keberlangsungan media film untuk 100% 0%
diteruskan dalam pembelajaran selanjutnya.
9. Tanggapan siswa tentang pembelajaran biologi yang sebaiknya 65% 35%
menggunakan media yang bervariasi.
10. Tanggapan siswa tentang penggunaan media film yang dapat 100% 0%
memotivasi dalam pembelajaran.
*Data selengkapnya Lampiran 9

Berdasarkan Tabel 10 menunjukkan lebih dari 75% dari rata-rata siswa memberi
tanggapan positif terhadap penggunaan media film subkonsep Invertebrata yang
artinya siswa menyukai pembelajaran menggunakan media film.
33

3. Revisi Produk
Hasil revisi perangkat pembelajaran draf II dapat dilihat pada Tabel 11.
Tabel 11 Hasil revisi draf II
No Draf II Hasil revisi/Draf III
1 Media film Direvisi sesuai dengan masukan dari dosen dan dikurangi
durasinya.
2 Adanya pembuatan peta konsep Peta konsep dihasus.
oleh siswa pada draf I
3 Desain LDS Adanya perubahan desain pada LDS pertemuan pertama. Pada
LDS ditambah lembar pengerjaan soal.

4 Penugasan secara individu Pada draf II penugasan dilakukan secara kelompok dengan
kelompok antara 4-5 orang dengan alasan keterbatasan bahan
untuk pembuatan spesimen

4. Hasil Pengujian Tahap Kedua


Hasil revisi draf II adalah draf III. Draf III digunakan pada uji coba skala luas dengan
sampel dua kelas yaitu kelas XA sebanyak 43 siswa dan XB sebanyak 41siswa.
Berdasarkan hasil penggunaan draf III dalam pembelajaran diperoleh hasil belajar, dan
dapat dilihat pada Tabel 12.
1. Hasil belajar siswa skala luas
Hasil belajar siswa pada skala luas ditunjukkan pada Tabel 12.
Tabel 12 Hasil belajar siswa skala terluas
Kelas
Variansi
XA XB
Nilai tertinggi 76,33 86,92
Nilai terendah 65,42 65,75
Rata-rata 71,73 75,90
Jumlah siswa yang tuntas 36 40
Jumlah siswa yang tidak tuntas 7 1
Ketuntasan klasikal 83,72% 97,56%
*Data selengkapnya Lampiran 7

Dari tabel 12 dapat disimpulkan bahwa pada skala luas ada delapan siswa
yang tidak tuntas dalam pembelajaran karena hasil belajar siswa kurang dari KKM
yang ditentukan.
2. Aktivitas belajar siswa skala luas
Dalam penelitian ini menggunakan lima observer untuk mengamati siswa
dalam pembelajaran. Dengan masing-masing observer mengamati dua kelompok
untuk dinilai aktivitasnya. Data aktivitas siswa dapat dilihat pada Tabel 13.
34

Tabel 13 Aktivitas belajar siswa kelas dengan skala terluas pertemuan pertama dan
kedua
Kelas XA Kelas XB
Kriteria
PI P II PI PII
Sangat aktif 14% 29,90% 12,19% 31,70%
Aktif 52% 58,13% 52,5% 51,21%
Cukup aktif 35% 19,95% 29,26% 12,19%
Kurang aktif 2,4% 0% 7,3% 0%
Tidak aktif 0% 0% 0% 0%
* Keterangan PI: pertemuan Ke I, PII: pertemuan ke II
Data selengkapnya Lampiran 8
Pada tabel 14 disimpulkan bahwa siswa mengalami peningkatan aktivitas
dari pertemuan pertama ke pertemuan kedua. Hal ini terjadi pada kelas skala luas
dan rata-rata lebih dari 75% siswa termasuk dalam kriteria aktif.
3. Tanggapan siswa pada skala luas
Setelah pembelajaran selesai, siswa diberi angket tanggapan terhadap
penggunaan perangkat pembelajaran menggunakan media film pada subkonsep
Invertebrata. Adapun hasilnya seperti pada Tabel 14.
Tabel 14 Tanggapan siswa pada skala luas
Tanggapan siswa
No Tanggapan Siswa Rata-rata XA Rata-rata XA
“Ya” “Tidak” “YA” “Tidak”
1. Penggunaan media film pada mata 74.42% 25.58% 82.93% 17.07%
pelajaran biologi sebelumnya.
2. Media film yang dibuat peneliti menarik 76.74% 23.26% 78.05% 21.95%
atau tidak.
3. Perbedaan media film yang biasa 72.09% 27.91% 82.93% 17.07%
digunakan dengan film peneliti.
4. Kemudahan memahami subkonsep 69.77% 27.91% 80.49% 19.51%
Invertebrata dengan media film.
5. Kesulitan yang dialami saat menggunakan 0% 100% 0% 100%
media film.
6. Kegiatan pembelajaran yang disampaikan 79.07% 20.93% 70.73% 29.3%
peneliti menarik.
7. Kesenangannya terhapan penggunaan 83.72% 16.28% 87.8% 12.2%
media film pada sub konsep Invertebrata.
8. Keberlangsungan media film untuk 86,05% 13,95% 95,15% 4,88%
diteruskan dalam pembelajaran
selanjutnya.
9. Pembelajaran biologi yang sebaiknya 81,40% 18,60% 90,24% 9,76%
menggunakan media yang bervariasi.
10. Penggunaan media film yang dapat 74,42% 25,58% 90,20% 9,76%
memotivasi dalam pembelajaran.
*Data selengkapnya Lampiran 9

Berdasarkan Tabel 14 dapat diketahui secara keseluruhan rata-rata


tanggapan siswa skala luas terhadap perangkat pembelajaran. Rata-rata siswa
35

tertarik pada media pembelajaran, siswa menjadi paham dengan media dan siswa
termotivasi dalam pembelajaran dengan media film.
4. Tanggapan guru
Data tanggapan dari guru Biologi tersaji pada Tabel 15.
Tabel 15 Tanggapan guru tentang penggunaan media film
No Aspek Tanggapan dan Kesan Guru Jawaban
1. Pembelajarn dengan media film pada penerapan Ya, siswa dapat langsung mengetahui spesies
pembelajaran subkonsep Invertebrata. Invertebrata.

2. Minat belajar siswa terhadap penggunaan media film dalam Ya, siswa mengetahui beberapa spesies
pembelajaran subkonsep Invertebrata menggunakan media Invertebrata yang belum pernah diketahui.
film?
3. Apakah pembelajaran dengan media film pada sub konsep Ya, siswa dapat dengan jelas mengetahui proses-
Invertebrata dapat membantu siswa memahami pelajaran proses yang terjadi pada invertebrate.
biologi?
4. Apakah dengan adanya pembelajaran menggunakan media Ya, siswa dapat semakin tertarik dengan banyak
film mampu mengaktifkan siswa dalam pembelajaran bertanya hal-hal yang belum pernah diamati
subkonsep Invertebrata tentang Invertebrata.
5. Apakah siswa menemukan kesulitan dalam pembelajaran Tidak, semua telah lengkap ditayangkan.
yang diterapkan?
6. Apakah pembelajaran menggunakan media film tepat Ya, siswa dapat pengalaman baru tentang
digunakan untuk pembelajaran subkonsep invertebrate? Invertebrata yang selama ini belum pernah
diketahui.
7. Apakah ada saran atau komentar tambahan untuk media film Tidak, cukup lengkap dan jelas serta mudah
ini dipahami siswa.
*Data selengkapnya Lampiran 20

Tanggapan guru digunakan untuk mengetahui sejauh mana kemudahan yang


diberikan oleh media film dalam menyampaikan materi Invertebrata. Dari Tabel 15
dapat diketahui bahwa guru memberikan kesan positif. Guru juga menyebutkan
bahwa pembelajaran dengan media film memberikan kemudahan bagi
siswadisamping itu siswa lebih tertarik dan tidak bosan terhadap pembelajaran.

B. Pembahasan
Pengembangan perangkat pembelajaran ini memiliki tahapan-tahapan. Pertama
adalah identifikasi potensi dan masalah yang dilakukan di Sekolah Menengah Atas,
kemudian dilanjutkan dengan pengumpulan data yang bersumber dari potensi dan
masalah. Kedua adalah desain produk berupa perangkat pembelajaran kemudian di
validasikan ke pakar media dan ke pakar materi. Ketiga adalah ujicoba produk skala
terbatas. Pada penelitian ini ujicoba produk skala terbatas dilakukan di kelas kelompok
KIR yang berjumlah 20 siswa. Berdasarkan hasil ujicoba pertama hal-hal yang harus
direvisi adalah pada media film Karena, masih dijumpai adanya kekurangan yaitu
penggunaan waktu yang terlalu lama sehingga yang semula film tersebut berdurasi 65
menit disederhanakan menjadi 40 menit karena apabila terlalu lama siswa akan bosan
36

dan mengantuk saat pembelajaran. Idealnya sebuah film berdurasi antara 20-30 menit
(Allesi & Tropllip dalam Amini 2006).
Pada lembar diskusi siswa (LDS) juga harus direvisi dibagian lembar jawaban
karena sebelumnya tidak tersedia lembar jawaban, sehingga siswa merasa kebingungan
dan bertanya tempat untuk mengerjakannnya. Revisi LDS siswa ini hanya pada
pertemuan pertama, sedangkan pada pertemuan kedua tidak ada revisi. Pada RPP juga
ada langkah pembelajaran yang dihapus yaitu membuat peta konsep diakhir menonton
film karena berdasarkan hasil evaluasi akan menyita banyak waktu sehingga pada
ujicoba skala terbatas waktunya mundur 15 menit. Selain itu untuk penugasan juga ada
perubahan, yang semula pada skala terbatas, penugasan dilakukan secara individual.
Namun pada skala luas penugasan dilakukan secara kelompok. Hal tersebut
mempertimbangkan dalam pembuatan spesimen, karena banyak menggunakan bahan
kimia, sehingga siswa dari kelas lain tidak bisa menggunakan bahan-bahan tersebut
untuk praktikum karena jumlahnya yang terbatas. Hasil revisi ini jadi draf III yang siap
diujikan pada tahap selanjutnya dalam skala luas. Pada ujicoba skala luas ini tidak ada
revisi lagi, ini artinya draf III merupakan perangkat pembelajaran yang sudah layak
sehingga bisa dimanfaatkan untuk pembelajaran.
1. Tanggapan pakar media tentang media film
Berdasarkan hasil validasi pakar media memberikan penilaian terhadap media
peneliti. Aspek yang diteliti meliputi keterbacaan teks, kualitas tampilan gambar,
sajian animasi, pemilihan komposisi warna, daya dukung musik, tampilan layar dan
pemilihan jenis ukuran font. Dari penilaian tersebut diperoleh hasil bahwa keterbacaan
teks tidak jelas, kualitas penampilan gambar kurang berkualitas, sajian animasi kurang
menarik, pemilihan daya komposisi warna belum dinilai, daya dukung musik tidak
mendukung, tampilan layar tidak mendukung dan pemilihan ukuran font kurang
bagus. Penilaian dari dosen pakar media juga menambahkan agar media film ini diberi
open dan closing, gambar harus diperbesar, ketika narator berbicara musik harus off
agar tidak mengganggu, suara narator kurang jelas dan gambar terlalu kecil sehingga
tulisan kurang jelas.
Validasi kedua dilakukan oleh Pakar I. Berdasarkan hasil revisi kedua
menyatakan kalau media film peneliti memiliki keterbacaan teks yang jelas, tampilan
gambar cukup berkualitas, sajian animasi cukup menarik, pemilihan komposisi warna
37

bagus, instrumen/ musik mendukung program, tampilan layar bagus dan pemilihan
jenis ukuran font cukup bagus. Pada penilaian ini masih ada masukan dari pakar I
yaitu untuk animasi pada bagian pemilihan font harus diperjelas dan sebaiknya pada
penampilan foto digunakan yang ukuran kecil asal jelas. Berdasarkan hasil validasi
tahap dua ini media sudah bisa digunakan untuk pembelajaran.
Penilaian pakar materi dilakukan oleh pakar II selaku dosen pakar Invertebrata
di Jurusan Biologi Unnes. Penilaian tersebut meliputi beberapa aspek antara lain,
kesesuaian antara indikator dengan standar kompetensi (SK) dan kompetensi dasar
(KD) dalam kurikulum tingkat satuan pendidikan (KTSP), kesesuaian materi dengan
kompetensi dasar (KD), kedalaman submateri, urutan penyampaian materi,
penggunaan bahasa, umpan balik dalam memotivasi siswa. Berdasarkan hasil validasi
diperoleh hasil bahwa, indikator 25% menyimpang dari SK dan KD, materi sesuai
dengan SK dan KD, kedalaman materi Invertebrata sangat sedikit, penyampaian
materi cukup berurutan, penggunaan bahasa mudah dipahami, kejelasan materi kurang
jelas, dan pemberian contoh kurang sesuai dengan materi Invertebrata. Melihat
penilaian tersebut media dari peneliti masih kurang dan harus banyak perbaikan.
Pada tahap selanjutnya peneliti melakukan revisi yang kedua dari pakar materi.
Hasil revisi yang kedua masih banyak hal yang harus diperbaiki oleh peneliti. Pakar II
mengatakan bahwa media ini menyimpang dari Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan
(KTSP), submateri Invertebrata menyimpang dari Kompetensi Dasar (KD),
kedalaman materi Invertebrata sangat sedikit, penyampaian materi cukup berurutan,
evaluasi tes cukup sesuai dengan kompetensi, pemakaian bahasa cukup mudah
dipahami, kejelasan memahami materi kurang jelas, pemberian contoh kurang sesuai
dan pada pemberian umpan balik tidak memberikan pernyataan. Walaupun begitu,
peneliti tetap menggunakan media ini karena dalam pembelajaran penyampaian media
ini didampingi oleh guru sehingga mampu meminimalisasi dari kekurangan media.
Pengembangan perangkat pembelajaran dengan media film ini: silabus, RPP,
LDS, soal evaluasi dan media film. Pada media film di dalamnya dilengkapi dengan
dubbing/ suara narator, musik instrumen, animasi, gambar dan video. Di awal film ini
terdapat tiga bagian yaitu pembukaan yang ditampilkan dengan logo Unnes dan judul
film. Bagian yang kedua terdiri dari isi yang didalamnya berisi delapan filum dan yang
38

terakhir adalah penutup yang didalamnya menampilkan ucapan terima kasih pada
pihak yang terlibat dalam pembuatan film ini.
Film Invertebrata memiliki durasi waktu 40 menit yang dibagi dua kali
penampilan. Penampilan pertama berisi film tentang Porifera, Coelenterata,
Plathyhelmintes, Nematelmintes dan Annelida, untuk Mollusca, Arthopoda,
Echinodermata ditayangkan pada pertemuan kedua. Media film ini dilengkapi dengan
gambar, animasi dan video. Adanya animasi bertujuan untuk memvisualisasikan yang
semula hanya disampaikan dengan gambar saja sekarang disampaikan dengan film.
Ada tiga animasi pada film ini yaitu pada bagian daur hidup Clonorsis sinensis,
Schistosoma javanicum saluran air pada Echinodermata.
Pembelajaran menggunakan media film ini sangat menarik karena dapat
menyampaikan informasi yang bersifat abstrak menjadi konkrit Kemp dan Dayton
diacu dalam Suwarna (2006). Seperti halnya dalam media ini siswa dapat melihat
Fasciola hepatica, Taenia solium, Taenia saginata, Ancylostoma duadenale yang
sebelumnya mereka sama sekali belum pernah melihatnya dan belum mengetahui
peranannya bagi manusia. Setelah melihat media ini siswa jadi tahu akan peranan
cacing tersebut sehingga siswa dapat berhati-hati misal dengan rajin mencuci tangan
dan memakai alas kaki dalam kehidupan sehari-hari. Perubahan dalam diri siswa untuk
berhati-hati merupakan proses belajar karena mereka menemukan ilmu untuk
diterapkan dalam kehidupan Hakim (2005).
2. Aktivitas siswa
Hasil penelitian dengan menggunakan media film pada pembelajaran subkonsep
Invertebrata menunjukkan peningkatan kualitas pembelajaran dan proses
pembelajaran. Hal ini diketahui dari aktivitas siswa pada kelompok karya ilmiah
sebesar 80% aktif pada pertemuan pertama dan 95% aktif pada pertemuan kedua. Pada
kelas XA aktivitas siswa mulai dari pertemuan pertama dan kedua adalah 66% dan
80% aktif, sedangkan pada kelas XB pada pertemuan pertama aktivitas siswa
mencapai 64% dan pertemuan kedua 84% aktif. Keaktifan ini terjadi pada saat diskusi
dan saat demonstrasi pembuatan specimen, sedangkan pada saat pemutaran film siswa
cenderung pasif sebagaimana dinyatakan oleh Ibrohim dan Nana (2002) bahwa
pembelajaran secara klasikal itu lebih pasif. Pembelajaran menggunakan media film
39

ini termasuk pelajaran secara klasikal dimana siswa dituntut untuk selalu memusatkan
perhatiannya selama pembelajaran.
Penelitian pertama dilakukan pada kelas KIR atau kelompok karya ilmiah
dengan pembelajaran menggunakan media film. Pada pertemuan pertama kegiatan
pembelajarannya adalah diskusi dan penayangan media film, sedangkan pada
pertemuan kedua siswa melakukan diskusi, nonton film Invertebrata selanjutnya dan
demonstrasi dari guru. Aspek yang diamati selama pembelajaran berlangsung
meliputi: perhatian siswa terhadap penayangan media pembelajaran, kemampuan
siswa mengemukakan pertanyaan, kemampuan siswa mengemukakan pertanyaan saat
diskusi, kemampuan siswa saat memberikan tanggapan atau masukan pada saat
diskusi, kemampuan siswa mempresentasikan hasil diskusi, kemampuan siswa
menghargai siswa lain dan kemampuan siswa menyimpulkan hasil. Delapan aspek itu
juga dipakai untuk mengobservasi siswa kelas XA dan XB.
Kelompok karya ilmiah remaja setiap kelas berjumlah dua puluh siswa dan tiap
kelompoknya terdiri atas lima anggota. Jadi, pada kelas kelompok karya ilmiah
terdapat empat kelompok. Kelas XA dan XB dalam setiap kelompoknya terdiri atas
empat sampai lima anggota di dalam kelas (setiap dua kelompok diamati satu
observer).
Berdasarkan hasil pengamatan diketahui bahwa siswa yang aktivitasnya tinggi
juga memperoleh hasil belajar yang tinggi. Diketahui keaktifan kelompok KIR 45%
siswa sangat aktif, dan 35% siswa tinggi keaktifannya. Hal ini sejalan dengan teori
bahwa seorang siswa yang tingkat keaktifannya tinggi maka akan diikuti dengan hasil
belajar yang tinggi. Walaupun begitu, ada juga siswa yang keaktifannya tinggi namun
hasil belajarnya rendah. Hal tersebut banyak faktor yang melatarbelakanginya, antara
lain faktor internal dan eksternal Sujana (2002). Faktor internal tersebut meliputi
semangat belajar siswa, minat belajar siswa dan kondisi fisik siswa. Faktor eksternal
meliputi guru, suasana belajar, fasilitas dan karakteristik sekolah. Kegiatan
pembelajaran yang kedua, aktivitas belajar siswa meningkat yang semula hanya 35%
siswa yang aktif sekarang menjadi 80% dan yang semula 45% siswa sangat aktif
menjadi 15%. Hal ini karena pada pertemuan kedua ada demostrasi pembuatan
spesimen sehingga bisa mengaktifkan siswa. Ini terjadi baik pada uji coba skala
terbatas maupun skala luas.
40

Berdasarkan Lampiran 8 tentang rekapitulasi aktivitas belajar siswa dapat


diketahui bahwa siswa mengalami peningkatan dari pertemuan pertama ke pertemuan
kedua, baik pada saat uji coba pertama maupun kedua. Peningkatan aktivitas siswa
terlihat dari beberapa indikasi yaitu pada pembelajaran kedua pengemasan media yang
disampaikan cukup menarik jika dibanding dengan penyampaian media yang pertama.
Kemudian, pada saat pertemuan kedua guru mendemonstrasikan cara pembuatan
spesimen di depan siswa sehingga siswa aktif bertanya agar mereka paham dalam
pembuatan tugas tersebut.
Aktivitas belajar kelompok KIR lebih besar jika dibanding dengan kelas XA dan
XB karena kelompok KIR ini mengikuti ekstrakurikuler yang lebih banyak
mempelajari tentang ilmu pengetahuan alam dibanding mereka yang tidak mengikuti
ekstrakurikuler karya ilmiah remaja. Pada pertemuan pertama, dikelompok KIR ada
72% siswa yang memperhatikan penayangan media pembelajaran. Hal ini terjadi
karena sebagian siswa sudah pernah menggunakan media semacam ini sebelumnya.
Sebanyak 88 % siswa kelompok karya ilmiah pada pertemuan pertama mampu
menjawab pertanyaan dari guru atau teman. Pertemuan kedua terendah yaitu siswa
dalam menyimpulkan bahwa 69% karena siswa kurang memahami hasil diskusi dan
sibuk dengan tugas yang diberikan oleh bapak guru, sedangkan 82% menyatakan
perhatian siswa terhadap media pembelajaran.
Kemampuan siswa dalam mempresentasi hasil diskusi pada kelas XA
memperoleh persentase terendah 70% pada pertemuan kedua, adapun persentase
tertinggi adalah 80% pada kemampuan siswa dalam mengemukakan pendapat dan
menghargai teman. Kelas B persentase terendah pada pertemuan pertama adalah
48,29% tentang mengemukakan pendapat dan poin tertinggi 78,54% tentang
kemampuan menghargai pendapat orang lain. Tinggi rendahnya suatu aktivitas belajar
juga mempengaruhi hasil namun ada juga siswa yang keaktifannnya sedang mendapat
nilai tinggi dan sebaliknya. Jika dibandingkan dengan pembelajaran sebelumnya,
siswa lebih aktif karena pembelajaran menggunakan media film membantu
memudahkan mereka belajar melihat hal baru yang siswa belum mengetahui.
Terjalinnya komunikasi dalam berdiskusi antar teman sebangku membuat pelajaran
lebih bermakna dan menyenangkan sehingga siswa mudah menerima materi.
41

3. Hasil belajar siswa


Pengambilan data penelitian diperoleh dari lembar diskusi, tugas dari guru dan
hasil ujian dapat diketahui bahwa hasil belajar siswa pada kelas terbatas melebihi
standar kompetensi yang ditentukan. Berdasarkan hasil evaluasi, siswa kelompok
karya ilmiah ketuntasannya mencapai 100%, sedangkan kelas XA dan XB yang hanya
mencapai 88,37% dan 97,56%. Hal ini terjadi karena pada kelompok karya ilmiah
merupakan siswa yang yang menyukai mata pelajaran biologi dan siswa memiliki
minat yang lebih terhadap mata pelajaran biologi, sehingga memperhatikan dengan
sungguh-sungguh saat pembelajaran. Selain itu siswa kelompok karya ilmiah remaja
ini lebih luas pengetahuannya di bidang ilmu biologi karena mereka mengikuti
ekstrakurikuler karya ilmiah remaja (KIR), sehingga berpengaruh terhadap nilai
mereka seperti yang dikatakan Riyanto (2005) bahwa kegiatan ekstrakurikuler akan
berpengaruh positif terhadap hasil belajar akademik yang diperoleh di sekolah.
Ada lima siswa yang belum tuntas pada kelas XA. Satu siswa karena pindah
sekolah dan empat tidak tuntas belajarnya. Kelas XB ada dua yang tidak tuntas, satu
karena keluar dari sekolah dan satu tidak tuntas dalam belajar. Hal tersebut
dikarenakan aktivitas siswa termasuk dalam kategori sedang. Pada pertemuan kedua
mengalami perubahan menjadi tinggi aktivitasnya namun belum juga bisa
meningkatkan hasil belajar siswa. Keadaan seperti ini disebabkan beberapa faktor
antara lain karena faktor dari dalam diri siswa yang kurang memperhatikan saat
diskusi dan kurang memperhatikan saat pembelajaran sehingga hasil belajar rendah.
Melihat hal semacam ini guru harus mengadakan remidi untuk meningkatkan hasil
belajar siswa.
Pada saat pembelajaran siswa melakukan diskusi dan diakhir diskusi siswa
ditayangkan dengan media film Invertebrata dengan tujuan yang semula siswa
berdiskusi mendapat informasi dengan sendirinya dan dari teman bisa diluruskan oleh
media tersebut dengan guru sebagai fasilitator sehingga siswa mendapatkan
pemahaman yang sebenarnya. Melalui media film siswa akan mudah memahami
materi karena pada film tersebut memberi kemudahan pada siswa untuk memahami
materi dengan menampilkan contoh dari setiap kelas, pengklasifikasian setiap kelas
dan menampilkan hubungan tiap spesies terhadap peranan manusia dalam kehidupan
sehari-hari.
42

Pertemuan kedua siswa diawal pelajaran disajikan dengan penayangan media


film materi Invertebrata class selanjutnya. Pada pertemuan kedua guru
mendemonstrasikan pembuatan spesimen. Siswa rupanya sangat antusias terhadap
pembuatan spesimen tersebut dan menyebabkan aktivitas siswa sangat tinggi.
Pembuatan spesimen ini bertujuan untuk memberi ketrampilan bagi siswa agar lihai
membuat spesimen dan memanfaatkan spesimen tersebut untuk media asli
pembelajaran. Pembuatan spesimen direspon sangat baik oleh siswa ditandai dengan
seluruh kelompok membuat spesimen. Pada kelompok karya ilmiah pembuatan
spesimen bukan perkelompok tapi perindividu karena kelompok tersebut hanya
berjumlah dua puluh, sedangkan pada kelas XA dan XB dilakukan secara
berkelompok karena jumlah siswanya sangat besar, kalau secara individu maka
banyak bahan kimia yang dihabiskan seperti, alkohol dan formalin yang terbatas
jumlahnya sehingga hal tersebut juga menjadi bahan pertimbangan.
Pada pembelajaran tahap pertama dan kedua hasil belajar telah mencapai
indikator yang ditentukan yaitu apabila 75% siswa mendapat nilai ≥ 70, sedangkan
ketuntasan klasikal hasil belajar dari tiap kelas secara berurutan adalah 100% untuk
kelompok karya ilmiah, 97,5% untuk kelas XA dan 83,7% untuk kelas XB. Ini berarti
pengembangan perangkat pembelajaran menggunakan media film pada subkonsep
Invertebrata mencapai indikator yang ditentukan dan media ini bisa diteruskan
selanjutnya sebagai media pembelajaran.
Penerimaan materi antara siswa berbeda-beda dan guru harus mengajar siswanya
dengan masing-masing karakter individu. Adanya perbedaan karakter masing-masing
individu ini juga mempengarui hasil belajar. Hasil belajar subkonsep Invertebrata
menunjukkan ada beberapa yang tidak lulus. Berdasarkan hasil angket menujukkan
bahwa beberapa siswa tidak lulus karena tidak tertarik pada media peneliti, ada yang
menunjukan kalau belum pernah mengunakan media pembelajaran film sebelumnya,
senang terhadap model pembelajarannnya namun tidak senang terhadap medianya,
sehingga media tersebut kurang bisa meningkatkan motivasi dan siswa kesulitan
dalam menerima materi. Kesulitan dalam menerima materi ini yang menyebabkan
hasil belajar mereka tidak tuntas.
Pembelajaran menggunakan media film belum tuntas 100%, tetapi 75% siswa
hasil belajarnya tuntas dari KKM yang ditentukan. Pembelajaran menggunakan media
43

film ini berusaha mempengaruhi siswanya secara tidak sadar untuk belajar akibat dari
penayangan film tersebut. Hal ini karena pada saat menonton film siswa menerima
secara pasif dan seolah-olah siswa terbawa dalam film tersebut. Menurut Wou (2010)
sebuah film yang efektif akan menyampaikan banyak pengetahuan dan memiliki
karakteristik tersendiri sehingga siswa mampu tertarik dan mempertahankan
perhatiannya terhadap film tersebut. Perhatian siswa terhadap film terjadi di bawah
kondisi sadar karena sebuah film itu berusaha mempengaruhi penontonnya dan akan
ditransformasikan menjadi pengetahuan sadar ketika siswa diuji.
Mo dalam Osamah (2010) menyatakan sebuah film itu memiliki dua elemen
yaitu kejelasan gambar dan suara yang lebih penting dari pada alur atau plot dan yang
kedua adalah artistik komprehensip. Pada pembelajaran menggunakan film
Invertebrata kedua elemen tersebut sudah ada dan peranan guru dalam pembelajaran
sebagai fasilitator yang akan menjelaskan pada siswa jika mengalami kebingungan.
Pada subkonsep Plathyhelmintes, Nemathelmintes, dan Annelida di dalam film
tersebut disajikan sebuah animasi tentang daur hidup cacing dengan tujuan untuk
memvisualisasikan yang semula bersifat abstrak menjadi nyata. Dalam media film
peneliti disajikan binatang aslinya atau gambar yang mirip dengan aslinya dengan
sajian yang bervariasi. Adanya penampilan spesies dalam bentuk aslinya akan
membangun pengetahuan dalam diri siswa dalam memecahkan masalah dan
menerapkan prinsip dasar pada diri siswa (Mo 2002).
Pembelajaran dengan media film dapat meningkatkan kapasitas efektivitas
memori siswa (Moreno dalam Osamah 2006), jadi pengembangan perangkat
pembelajaran media film ini dapat digunakan dalam pembelajaran subkonsep
Invertebrata.
4. Tanggapan siswa tentang media film pada pembelajaran subkonsep Invertebrata.
Tanggapan siswa tentang penggunaan media film sebagai pembelajaran
dilakukan setelah siswa selesai mengikuti pelajaran melalui angket. Angket tersebut
berisi aspek tentang penggunaan media film dalam pembelajaran sebelumnya,
kemenarikan media film, perbedaan media film sekarang dengan sebelumnya yang
pernah dilihat siswa, kemudahan memahami materi dengan media film, kesulitan yang
dialami ketika penggunakan media film, ketertarikan media film Invertebrata yang
disampaikan dalam pembelajaran, kesenangan penggunaan media film Invertebrata,
44

penggunaan media film untuk pembelajaran berikutnya, variasi penggunaan media


yang lainnya untuk pembelajaran biologi, dan kemampuan media film dalam
meningkatkan motivasi belajar siswa.
Penggunaan media film pada umumnya sudah ada tapi masih jarang
penggunaanya. Pada aspek pertama, hampir 75% siswa pernah menggunakan
pembelajaran dengan media film pada pembelajaran biologi sebelumnya.
Pembelajaran menggunakan media film Invertebrata sangat menarik siswa karena
dengan media tersebut siswa lebih mudah memahami materi dan suasana belajarnya
menjadi menyenangkan. Pembelajaran dengan media film mampu menampilkan
berbagai macam spesies Invertebrata yang tidak mungkin dihadirkan semua di sekolah
dan dengan media film mampu menghadirkan spesies-spesies itu dalam bentuk film
sehingga siswa lebih mudah memahami materi dan tidak ada kesulitan. Kesulitan-
kesulitan tersebut dapat diminimalisiasi oleh media film dan guru dalam
menyampaikan pembelajaran. Berdasarkan hasil angket menyebutkan bahwa
penggunaan media film sebaiknya diteruskan untuk pembelajaran materi biologi
selanjutnya, karena pembelajaran menggunakan media film lebih menyenangkan jika
dibanding memakai media gambar atau LDS saja, selain itu pembelajaran
menggunakan media film lebih menyenangkan sehingga siswa mudah memahami
materi. Disisi lain penggunaan media harus bervariasi karena siswa sering bosan
dengan media-media sebelumnya dengan media film siswa jadi lebih bisa
meningkatkan ide-idenya untuk lebih kreatif sehingga memacu semangat belajar.
Penggunaan media pembelajaran dengan film rupanya menarik perhatian siswa.
Hal ini ditunjukkan dengan lebih dari 75% siswa tertarik pada media yang digunakan
oleh peneliti, siswa tidak mengalami kesulitan dalam memahaminya serta lebih dari
75% siswa termotivasi untuk meningkatkan belajarnya. Jadi media ini memberikan
pengaruh positif bagi siswa sehingga pembelajaran dengan menggunakan media film
Invertebrata dapat digunakan sebagai media pembelajaran.
5. Tanggapan guru tentang media film pada pembelajaran subkonsep Invertebrata
Tanggapan guru diketahui dari angket yang diberikan setelah pembelajaran
selesai. Angket tersebut berisi tujuh aspek yang berkaitan dengan pembelajaran.
Pertama tentang penerapan pembelajaran dengan media film pada subkonsep
Invertebrata, kedua tentang kemampuan media film dalam menarik perhatian siswa,
45

ketiga tentang kemudahan siswa dalam memahami materi menggunakan media film,
keempat tentang kemampuan media film dalam mengaktifkan proses pembelajaran,
kelima tentang kesulitan siswa dalam menggunakan media film, keenam kecocokan
media film dalam penerapan subkonsep Invertebrata dan ketujuh tentang tambahan
untuk media film.
Berdasarkan tanggapan guru, diketahui bahwa media film dalam pembelajaran
subkonsep Invertebrata sangat cocok karena siswa dapat langsung mengetahui spesies
Invertebrata. Menurut hasil wawancara, media film ini menarik minat belajar siswa
karena menampilkan spesies yang mungkin belum pernah siswa ketahui. Media juga
memberikan kemudahan bagi siswa karena dengan proses-proses yang ditampilkan
dalam film sangat konkrit dan bukan abstrak saja. Pembelajaran dengan media film
juga mengaktifkan siswa pada pembelajaran terlihat dengan banyaknya siswa yang
aktif bertanya kepada guru. Hal ini menandai kalau pembelajaran ini sangat efektif.
Selain itu juga siswa tidak menemukan kesulitan dalam pembelajaran karena semua
telah ditayangkan dalam film tersebut dan media film juga sangat tepat untuk
diterapkan dalam pembelajaran karena siswa dapat mengetahui pengalaman baru yang
sebelumnya siswa belum pernah diketahui.
Berdasarkan hasil wawancara, pengembangan perangkat pembelajaran
menggunakan media film sangat efektif untuk meningkatkan hasil belajar siswa
sehingga media film pada subkonsep Invertebrata layak digunakan sebagai media
pembelajaran.
46

BAB V
SIMPULAN DAN SARAN

A. SIMPULAN
Berdasarkan hasil pengembangan perangkat pembelajaran menggunakan media
film pada subkonsep Invertebrata di SMA menunjukkan bahwa media ini efektif
digunakan. Hal ini didukung data dari hasil validasi pakar, tanggapan siswa, tanggapan
guru, aktivitas siswa dan hasil belajar yang menunjukkan lebih dari 75% siswa
memberikan tanggapan positif pada media, lebih dari 75% siswa aktif, dan lebih dari
75% siswa mencapai hasil belajar sesuai KKM yang ditentukan.

B. SARAN
1. Pembelajaran dengan media film perlu memperhatikan durasi waktu agar tidak
melewati alokasi waktu yang ditentukan.
2. Media film dapat meningkatkan aktivitas dan hasil belajar siswa sehingga media
film ini dapat menjadi alternatif media pembelajaran biologi.

46
47

DAFTAR PUSTAKA
Alessi, S.M & Trollip, S.R (2001). Multimedia for learning;Methods and development.
Boston Allyn and Bacon
Ali M. 1987. Guru dalam Proses Belajar Mengajar. Bandung: Sinar Baru Algesindo
Amini M. 2006. Program Video dalam Paket Bahan Ajar Terintregasi Mata Kuliah Metode
Pengembangan Kognitif Program D-II PGTK. Jurnal Pendidikan 1 (7): 45-54
Anni CT, A Rifa’i, E Purnomo. 2004. Psikologi Belajar. Semarang: UPT MKK UNNES
Arikunto S. 2002. Dasar-Dasar Evaluasi Pendidikan. Jakarta: Bumi Aksara
Aryulina D. 2006. Biologi I SMA dan MA untuk Kelas X. Jakarta: Erlangga
Baharudin dan EN Wahyuni. 2008. Teori Belajar dan Pembelajaran. Yogyakarta: Ar-Russ
media
BSNP. 2006. Standar Kompetensi dan Kompetensi Dasar Biologi SMA / MA. Jakarta:
Departemen Pendidikan Nasional
Budiastra K. 2008. Media Pembelajaran untuk Menyiapkan Guru SD Mengajar IPA dalam
Konteks Pendidikan Tinggi Jarak Jauh. Jurnal pendidikan terbuka dan jarak jauh
9 (1) : 11-23
Dasrial. 2009. Pentingnya Supervisi Pendidikan sebagai Upaya Peningkatan
Profesionalisme Guru. Jurnal guru 1(6): 9-19
(Depdiknas) Departemen Pendidikan Nasional. 2003a. Kamus Bahasa Indonesia Edisi
Ketiga. Jakarta: Balai Pustaka
. 2003b. Kurikulum 2004 SMA Pedoman Khusus Pengembangan Silabus dan
Penilaian Mata Pelajaran Biologi. Jakarta: Departemen Pendidikan Nasional
Direktotar Jendral Pendidikan Dasar dan Menengah Direktorat Pendidikan
Menengah Umum.
Esoputro FT. 2007. Mengoptimalkan Pembelajaran Sastra dengan Media Film pada Mata
Pelajaran Bahasa dan Sastra Indonesia di SMA 4 Padang. Jurnal guru 4 (2):117-
123
Hermon D & Y Dalim 2005. Penggunaan Media Audio Visual untuk Meningkatkan
Kreatifitas Belajar . Jurnal pembelajaran 3 (28): 266-276
Hasnidawati. 2008. Meningkatkan Kreafivitas Belajar Bahasa Indonesia dalam Menulis
Cerpen dengan Menggunakan Program Komputer Interaktif Kelas VIII SMPN 5
Padang Panjang . Jurnal guru 5 (2): 113-121
Ibrahim R & N.Syaudih S. 2003. Perencanaan Pengajaran. Jakarta: Pusat Perbukuan
Departemen Pendidikan dan Kebudayaan.
Osamah (Mohammad Ameen) Ahmad Aldalalah. 2010. Effects of Modality and
Redundancy Principles on the Learning and Attitude of a Computer-Based Music
47
48

Theory Lesson among Jordanian Primary Pupils. International Education Studies.


3 (3): 53-64
Prajoko S. 2009. Pengaruh Penerapan Invertebrate Dokumentary Film (IDF) pada Materi
Porifera, Cnidaria, dan Platyhelmintes terhadap Hasil Belajar dan Aktivitas Siswa
di SMA N I Salaman. (Skripsi). Semarang: Universitas Negeri Semarang.
Purwanti D. 2005. Inovasi Metode Mata Kuliah Fisika dengan Menggunakan Program
Animasi Komputer. Jurnal penelitian pendidikan 21 (1): 37-45
Riyanto. 2005. Meningkan Hasil Belajar Melalui Kegiatan Ekstrakulikuler. Forum
pendidikan. 3 (30): 18-27
Santosa K. 2004. Mengenal dan Membuat Media Pembelajaran. Semarang: Jurusan
Biologi FMIPA Unnes.
Sanjaya W. 2008. Strategi Pembelajaran Berorentasi Standar Proses Pendidikan. Jakarta:
Kencana
Sarwi, Kasmui, M. Sukisno. 2006. Pelatihan Pembuatan Media Audio Visual Berbasis
Komputer bagi Guru-Guru SMU dan SMK Muhamadiyyah Kota Semarang.
Jurnal guru 3 (1): 28-37
Sudjana N. 1998. Metode Statistika. Bandung: Tarsito.
Sugiono. 2006. Metode Penelitian Pendidikan. Bandung: Alfabeta.
. 2008. Metode Penelitian Pendidikan. Bandung: Alfabeta.
Sukmadinata NS. 2006. Metode Penelitian Pendidikan. Bandung: Remaja Rosdakarya.
Suwarna, et al. 2006. Pengajaran Mikro. Yogyakarya: Tiara Wacana
Thursan H. 2005 Belajar Secara Efektif, Jakarta: Puspa Swara
Universitas Terbuka. 2004. Pedoman evaluasi Program Video. Jakarta: Universitas
Terbuka.
Poerwadarminta. 1999. Kamus Besar Bahasa Indonesia. Jakarta: Balai Pustaka.
Weidong Wu. 2010. Teaching Function and Practice Thinking of Psychological Movies.
International Education Studies. Vol 3 (3) : 122-125.
Yuni HT. 2008. Using Video To Developmen Student’s English Listening and Speking
Skills. Jurnal guru 5 (2): 85-90
49
50
51

Lampiran 2 Desain Rencana Pelaksanaan Pembelajaran(RPP) draff III

RENCANA PELAKSANAAN PEMBELAJARAN


[RPP]

Sekolah : SMA N I Karangrayung


Kelas/Semester : X/ II
Mata Pelajaran : IPA
Waktu : 2 JP
Standar Kompetensi : 3. Memahami manfaat keanekaragaman hayati
Kompetensi Dasar : 3.4 Mendeskripsikan ciri-ciri Filum dalam Dunia Hewan dan
peranannya bagi kelangsungan hidup di bumi
Indikator
1. Mendeskripsikan ciri umum invertebrata (untuk filum Porifera, Coelenterata,
Platyhelmintes, Nematehelmintes dan Annelida)
2. Menjelaskan dasar klasifikasi invertebrata (untuk filum Porifera, Coelenterata,
Platyhelmintes, Nematehelmintes dan Annelida)
3. Membandingkan ciri-ciri umum filum invertebrata (untuk filum Porifera, Coelenterata,
Platyhelmintes, Nematehelmintes dan Annelida)
4. Menyebutkan peranannya dalam kehidupan sehari-hari
Alokasi Waktu : 2 X 45 menit ( 1 x pertemuan )
A. Tujuan Pembelajaran
Peserta didik dapat:
1. Mendeskripsikan ciri umum invertebrata untuk filum Porifera, Coelenterata,
Platyhelmintes, Nemathelmytes, Annelida.
2. Menjelaskan dasar klasifikasi invertebrata untuk filum Porifera, Coelenterata,
Platyhelmintes, Nemathelmytes, Annelida.
3. Membandingkan ciri-ciri umum filum-filum dalam invertebrata untuk filum
Porifera, Coelenterata, Platyhelmintes, Nemathelmytes, Annelida.
4. Menyebutkan peranannya dalam kehidupan sehari-hari
B. Materi Pembelajaran
Invertebrata (Porifera, Coelenterata, Platyhelmintes, Nemathelmintes, Annelida)
C. Metode Pembelajaran
1. Model : Direc Instruction [ DI]
Nonton film bersama
2. Metode : Diskusi kelompok
D. Langkah-Langkah Kegiatan
1. Kegiatan awal (5 menit)
a. Guru masuk kelas dan memberi salam.
b. Guru menanyakan siapa yang tidak masuk.
c. Guru meminta siswa untuk membentuk kelompok secara acak satu kelompok
maksimal 5 orang dengan cara berhitung satu sampai empat sampai selesai
kelompok satu berkumpul dengan no absen satu, no absen dua berkumpul
dengan no absen dua dan seterusnya.
d. Guru memberikan motivasi pada siswa dengan memberikan pertanyaan: siapa
yang pernah menyelam di laut? Hewan apa ya yang kamu temukan disana?
Yang membuat laut sangat indah itu apa? guru mengarahkan siswa untuk
menjawab karang yang menarik pemandangan di bawah laut. Karang itu hewan
apa bukan? Guru mengarahkan karang termasuk hewan.
e. Guru menuliskan tujuan pembelajaran.
52

2. Kegiatan inti (80 menit)


a. Guru membagikan LDS untuk didiskusikan.
b. Guru membimbing siswa untuk diskusi.
c. Guru bersama siswa membahas hasil diskusi.
d. Guru memberikan penghargaan bagi kelompok yang presentasi dan
jawabannya tepat.
e. Guru memutarkan film tentang dunia hewan khususnya (Porifera, Coelenterata,
Platyhelmintes, Nemathelmintes, Annelida) selama (30 menit).
f. Guru memberikan kesempatan pada siswa untuk menanggapi isi film tersebut
dengan bimbingan guru.
g. Guru memberikan kesempatan pada siswa untuk bertanya.
h. Guru memberikan penguatan terhadap jawaban siswa.
3. Kegiatan akhir (5 menit)
a. Guru memberi tugas rumah pada siswa berupa artikel mengenai peranan
invertebrata dalam kehidupan sehari-hari.
b. Guru menutup kegiatan belajar mengajar dengan salam.
E. Sumber Belajar
1. Buku siswa
2. Buku referensi
3. LDS
4. CD pembelajaran
F. Penilaian Hasil Belajar
1. Teknik Penilaian : Tes tertulis: (LDS)
2. Bentuk Instrumen: Tugas rumah
53

RENCANA PELAKSANAAN PEMBELAJARAN


[RPP]
Sekolah : SMA N I Karangrayung
Kelas/Semester : X/ II
Mata Pelajaran : IPA
Waktu : 2 JP
Standar Kompetensi : 3. Memahami manfaat keanekaragaman hayati
Kompetensi Dasar : 3.4 Mendeskripsikan ciri-ciri Filum dalam Dunia Hewan dan
peranannya bagi kelangsungan hidup di bumi
Indikator
1. Mendeskripsikan ciri umum invertebrata.
2. Menjelaskan dasar klasifikasi invertebrata.
3. Membandingkan ciri-ciri umum filum-filum dalam invertebrata.
4. Menyebutkan peranannya dalam kehidupan sehari-hari.
5. Mengetahui pembuatan awetan basah.
Alokasi Waktu : 2 X 45 menit ( 1 x pertemuan )
A. Tujuan Pembelajaran
Peserta didik dapat:
1. Mendeskripsikan ciri umum invertebrata (Mollusca, Arthopoda, dan
Echinodermata).
2. Menjelaskan dasar klasifikasi invertebrata (Mollusca, Arthopoda, dan
Echinodermata).
3. Membandingkan ciri-ciri umum filum-filum dalam invertebrata (Mollusca,
Arthopoda, dan Echinodermata).
4. Menyebutkan peranannya dalam kehidupan sehari-hari.
5. Mengetahui cara pembuatan awetan basah.
B. Materi Pembelajaran
Invertebrata (Moluska, Arthopoda, dan Echinodermata).
C. Metode Pembelajaran
1. Model : Direc Instruction [ DI].
Nonton film bersama.
2. Metode : Diskusi kelompok.
D. Langkah-Langkah Kegiatan
1. Kegiatan awal (3 menit ).
a. Guru membuka pelajaran dengan salam.
b. Guru mengabsen siswa.
c. Guru meminta siswa untuk mengumpulkan tugas rumah yang sebelumnya.
d. Guru meminta siswa berkelompok sesuai kelompoknya.
e. Guru memberikan motivasi pada siswa dengan cara memberi pertanyaan pada
siswa. Siapa yang pernah lihat bekicot, cumi-cumi, lebah, laba-laba, bintang
laut? Karakteristik masing-masing spesies tersebut itu apa? Guru
mengarahkan agar siswa menjawab kalau bekicot punya cangkang, cumi-
cumi kakinya ada dikepala, lebah punya alat penyengat, laba-laba
menghasilkan jaring laba-laba dan bintang laut bentunnya seperti bintang.
Kemudia guru menanyakan hewan tersebut termasuk invertebrata atau
vertebrata? Guru mengatakan bahwa hewan tersebut adalah invertebrata.
f. Guru menyampaikan tujuan pembelajaran.
2. Kegiatan Inti (80 menit).
54

a. Guru membagikan LDS kepada tiap kelompok.


b. Guru meminta pada siswa untuk berdiskusi dengan temannya untuk menjawab
pertanyaan yang ada dalam LDS.
c. Guru membimbing siswa berdiskusi.
d. Guru membahas pertanyaan yang dalam lembar diskusi siswa (LDS).
e. Guru menayangkan film tentang invertebrata khususnya filum (Mollusca,
Arthopoda, dan Echinodermata).
f. Guru meminta pada siswa untuk membuat peta konsep tentang pembagian
materi yang disampaikan dalam film.
g. Guru mendemostrasikan cara pembuatan awetan basah dengan meminta satu
siswa untuk membantu membuatnya.
h. Guru mengondisikan siswa untuk tenang pada saat pembuatan herbarium
basah.
3. Kegiatan Akhir (7 menit)
a. Guru memberi penguatan tentang materi pada pembelajaran hari ini.
b. Seluruh lembar diskusi siswa dikumpulkan.
c. Guru memberi tugas pada siswa untuk membuat awetan basah satu orang satu
dan kemudian mencari taksonominya untuk tugas minggu depan.
d. Guru mengakiri pertemuan dengan salam.
E. Sumber Belajar
1. Buku siswa.
2. Buku referensi.
3. CD pembelajaran.
4. LDS.
5. Specimen asli (belalang kayu).
F. Penilaian Hasil Belajar
1. Teknik Penilaian : tes tulis (LDS).
2. Bentuk Instrumen: Tugas rumah.
55

RENCANA PELAKSANAAN PEMBELAJARAN


[RPP]

Sekolah : SMA N I Karangrayung


Kelas/Semester : X/ II
Mata Pelajaran : IPA
Waktu : 1 jam
Standar Kompetensi : 3. Memahami manfaat keanekaragaman hayati
Kompetensi Dasar : 3.4 Mendeskripsikan ciri-ciri Filum dalam Dunia Hewan dan
peranannya bagi kelangsungan hidup di bumi
Indikator
1. Mendeskripsikan ciri umum invertebrata.
2. Menjelaskan dasar klasifikasi invertebrata.
3. Membandingkan ciri-ciri umum filum-filum dalam invertebrata.
4. Menyebutkan peranannya dalam kehidupan sehari-hari.
Alokasi Waktu : 1 X 45 menit ( 1 x pertemuan ).
A. Tujuan Pembelajaran
Peserta didik dapat:
1. Mendeskripsikan ciri umum invertebrata.
2. Menjelaskan dasar klasifikasi invertebrata.
3. Membandingkan ciri-ciri umum filum-filum dalam invertebrata menyebutkan
peranannya dalam kehidupan sehari-hari.
B. Materi Pembelajaran
Invertebrata.
C. Metode Pembelajaran
Ulangan harian.
D. Langkah-Langkah Kegiatan
1. Kegiatan awal (5 menit ).
a. Guru masuk dan memberi salam.
b. Guru membimbing siswa untuk berdoa sebelum memulai pelajaran.
c. Guru menanyakan siapa yang tidak masuk.
d. Guru menyampaikan kalau hari ini evaluasi/ ujian.
2. Kegiatan inti (30 menit).
a. Guru membagikan soal evaluasi kepada siswa.
b. Guru meminta pada siswa soal yang sudah selesai dikumpulkan.
3. Kegiatan akhir (10 menit).
a. Guru menutup kegiatan belajar mengajar dengan salam.
E. Sumber Belajar
1. Buku siswa.
2. Buku referensi.
3. LDS.
4. Soal evaluasi.
56

F. Penilaian Hasil Belajar


1. Teknik Penilaian : - Tes tulis.
2. Bentuk Instrumen: - Tes pilihan ganda.
Lampiran 3 Kisi-kisi Soal 57

KISI-KISI SOAL AKHIR


MATERI INDIKATOR NO DAN PENYEBARANNYA JUMLAH
C1 C2 C3 C4 C5
Porifera 5. Mendeskripsikan ciri umum dunia hewan 3 2,4 3
6. Menjelaskan dasar klasifikasi dunia hewan 1 1
7. Membandingkan ciri-ciri umum filum-filum dalam dunia
hewan
8. Menyebutkan peranannya dalam kehidupan sehari-hari
Coelenteratea 1. Mendeskripsikan ciri umum dunia hewan 6, 5 2
2. Menjelaskan dasar klasifikasi dunia hewan 7, 8 2
3. Membandingkan ciri-ciri umum filum-filum dalam dunia
hewan
4. Menyebutkan peranannya dalam kehidupan sehari-hari 9 1
Platihhelmintes 1. Mendeskripsikan ciri umum dunia hewan 10, 11, 2
2. Menjelaskan dasar klasifikasi dunia hewan
3. Membandingkan ciri-ciri umum filum-filum dalam dunia 15,16 2
hewan
4. Menyebutkan peranannya dalam kehidupan sehari-hari 13, 14 12, 3
Nematelmintes 1. Mendeskripsikan ciri umum dunia hewan 20 1
2. Menjelaskan dasar klasifikasi dunia hewan
3. Membandingkan ciri-ciri umum filum-filum dalam dunia
hewan
4. Menyebutkan peranannya dalam kehidupan sehari-hari 17, 19 18 3
Annelida 1. Mendeskripsikan ciri umum dunia hewan 20, 22 3
21
2. Menjelaskan dasar klasifikasi dunia hewan
3. Membandingkan ciri-ciri umum filum-filum dalam dunia
hewan
4. Menyebutkan peranannya dalam kehidupan sehari-hari
Molusca 1. Mendeskripsikan ciri umum dunia hewan 24 25,26 3
58

2. Menjelaskan dasar klasifikasi dunia hewan 27 1


MATERI INDIKATOR NO DAN PENYEBARANNYA JUMLAH
C1 C2 C3 C4 C5
3. Membandingkan ciri-ciri umum filum-filum dalam dunia 23 1
hewan
4. Menyebutkan peranannya dalam kehidupan sehari-hari
Arthopoda 1. Mendeskripsikan ciri umum dunia hewan 29 30 31 3
2. Menjelaskan dasar klasifikasi dunia hewan 28 32 2
3. Membandingkan ciri-ciri umum filum-filum dalam dunia
hewan
4. Menyebutkan peranannya dalam kehidupan sehari-hari
Echinodermata 1. Mendeskripsikan ciri umum dunia hewan 36 35 33 3
2. Menjelaskan dasar klasifikasi dunia hewan 34 40 2
3. Membandingkan ciri-ciri umum filum-filum dalam dunia 39 1
hewan
4. Menyebutkan peranannya dalam kehidupan sehari-hari 37,38 2
59
60
61
62
63
64
65
66
67
68
69
70
71
72
73
74
75
76
77
78
79
80
81
82
83
84
85
86

Lampiran 8 Rekapitulasi Lembar kerja siswa


87
88
89
90
91
92
93
94
95
96
97
98
99
100
101
102
103
104
105
106
107
108
109
110
111
112
113
114
115
116
117
118
119
120
121
122
123
124
125
126
127
128
129
130
131

Lampiran 23 angket tanggapan siswa


132
133
134
135
136
137
138
139
140
141
142
143
144
145
146
147
148
149