Anda di halaman 1dari 6

1.

POLIO

Poliomielitis atau polio, adalah penyakit paralisis atau lumpuh yang disebabkan
oleh virus. Agen pembawa penyakit ini, sebuah virus yang dinamakan virus polio(PV),
masuk ke tubuh melalui mulut, mengifeksi saluran usus. Virus ini dapat dimasukkan
aliran darah dan mengalir ke system saraf pusat menyebabkan melemahnya otot dan
kadang kelumpuhan (paralisis).

Gejala yang umum terjadi akibat serangan virus polio adalah anak mendadak
lumpuh pada salah satu anggota geraknya setelah demam selama 2-5 hari. Terlihat 2 jenis
vaksin yang distribut, dan di Indonesia yang umum diberikan adalah vaksin Sabin (kuman
yang dilipas).

Cara pemberiannya melalui mulut. Di beberapa negara dikenal pula Tetravaccine,


yaitu kombinasi DPT dan polio. Imunisasi dasar diberikan sejak anak baru lahir atau
diketahui beberapa hari dan selanjutnya diberikan setiap 4-6 minggu. Pemberian vaksin
polio dapat dilakukan bersamaan dengan BCG, vaksin hepatitis B, dan DPT.

Imunisasi ulangan diberikan bersamaan dengan imunisasi ulang DPT Pemberian


imunisasi polio akan atur kekebalan aktif terhadap penyakit Poliomielitis. Imunisasi polio
diberikan sebanyak empat kali dengan selang waktu tidak kurang darisatu bulan imunisasi
ulangan dapat diberikan sebelum anak masuk sekolah (5- 6 tahun) dan saat lepaskan
sekolah dasar (12 tahun).

Cara memberikan imunisasi polio adalah dengan meneteskan vaksin polio


sebanyak dua kali tetes langsung kedalam mulut anak atau dengan menggunakan sendok
yang dicampur dengan gula manis. Imunisasi ini jangan diberikan pada anak yang lagi
diare berat. Efek samping yang mungkin terjadi sangat minimal dapat bentuk kejang-
kejang. Vaksin dari virus polio (tipe 1,2 dan 3) yang dibuat dalam sel-vero : asam amino,
antibiotik, betis serum dalam magnesium klorida danfenol merah. Vaksin bentuk cairan
dengan kemasan 1 cc atau 2 cc dalam flacon,pipet. Pemberian secara lisan sebanyak 2
tetes (0,1 ml). Vaksin polio diberikan4 Kali, selang 4 minggu. Imunisasi ulangan ,1 tahun
berikutnya, SD ruang kelas VI.

Ada 2 jenis vaksin:

 IPV / salkdan
 OPV / sabin / IgA lokal.

Penyimpanan pada suhu 2-8 ° C. Virus vaksin bertendensi mutasi di kultur


jaringan juga tubuh penerima vaksin. Beberapa virus diekskresi simpul mutasi balik
menjadi virus polio ganas yang neurovirulen. Paralisis terjadi 1 per 4,4 juta penerima
vaksin dan 1 per 15,5 juta kontak dengan penerima vaksin. Kontra indikasi : defisiensi
imunologik atau kontak dengannya.

2. DIFTERI

Penyakit Difteri adalah penyakit infeksi oleh bakteri Corynebacterium Diphteriae.


Difteri adalah radang tenggorokan yang dapat menyebabkan kerusakan jantung dan
tenggorokan tersumbat. Menular melalui percikan-percikan ludah penderita sewaktu
batuk dan bersin. Dapat juga melalui sapu tangan, handuk dan alat-alat makan yang telah
dicemari oleh kuman-kuman penyakit tersebut.

Mudah menular dan menyerang terutama saluran napas bagian atas dengan gejala
demam tinggi, pembengkakan pada amandel (tonsil) dan terlihat selaput puith kotor yang
menjadi lebih baik l ama menjadi lebih baik membesar dan dapat tutup jalan napas.
Racun difteri dapat merusak otot jantung yang dapat berakibat gagal jantung. Penularan
umumnya melalui udara (betuk / bersin) selain itu dapat melalui benda atau makanan
yang terkontaminasi.

Pencegahan paling efektif adalah dengan imunisasi bersamaan dengan tetanus dan
pertusis sebanyak tiga kali sejak bayi diketahui dua kali bulan dengan selang penyuntikan
satu - dua kali bulan. Pemberian imunisasi ini akan memberikan kekebalan aktif terhadap
penyakit difteri, pertusis dan tetanus dalam waktu bersamaan.

Efek samping yang mungkin akan muncul adalah demam, sakit dan bengkakpada
permukaan kulit, cara mengatasinya cukup diberikan obat penurun panas.

 Etiologi

Corynebacteriumdiphtheriae, bakteri gram positif yang polimorf, tidak


bergerak, dan tidak susunan spora.

 Tanda gejala
a. Demam tinggi

b. Pembengka kanpada amandel ( amandel )

c. Terlihat selaput putih kotor yang menjadi lebih baik lama menjadi lebih
baik membesar dan dapat tutup jalan napas.

d. Racun difteri dapat merusak otot jantung yang dapat berakibat Gagal
Jantung.

 Prognosa
Tergantung ada tidaknya komplikasi terutama paru-paru dan saraf
pada bayi dan anak-anak.
 Pencegahan dengan vaksin DPT yang bersamaan mencegan penyakitdifteri
dan tetanus.

3. TETANUS

Penyakit tetanus merupakan salah satu infeksi yang berbahaya karena


memengaruhi sistem urat syaraf dan otot. Gejala tetanus umumnya diawali dengan kejang
otot rahang (dikenal juga dengan trismus atau kejang mulut) bersamaan dengan timbulnya
pembengkakan, rasa sakit dan kaku di otot leher, bahu atau punggung. Kejang-kejang
secara cepat merambat ke otot perut, lengan atas dan paha.

Neonatal tetanus umumnya terjadi pada bayi yang baru lahir. Neonatal tetanus
menyerang bayi yang baru lahir karena sadar di tempat yang tidak bersih dan steril,
terutama jika tali pusar terinfeksi. Neonatal tetanus dapat menyebabkan kematian pada
bayi dan banyak terjadi di negara berkembang. Sedangkan di negara-negara maju, dimana
kebersihan dan teknik melahirkan yang sudah maju tingkat kematian akibat infeksi
tetanus dapat dasar. Selain itu antibodi itu dari ibu kepada jabang bayinya yang berada di
dalam kandungan juga dapat mencegah infeksi tersebut.

Infeksi tetanus Asal oleh bakteri yang disebut dengan Clostridium tetani yang
memproduksi toksin yang disebut dengan tetanospasmin. Tetanospasmin menempel pada
urat syaraf di sekitar daerah luka dan dibawa ke system syaraf otak dan juga saraf tulang,
sehingga terjadi gangguan pada aktivitas normal urat syaraf. Terutama pada syaraf yang
mengirim pesan ke otot.

Infeksi tetanus terjadi karena luka. Baiklah karena terpotong, terbakar, aborsi ,
narkoba (misalnya memakai silet untuk memasukkan obat ke dalam kulit) atau frosbite.
Meskipun luka kecil bukan berarti bakteri tetanus tidak dapat hidup di sana. Sering Kali
orang lalai, padahal luka sekecil apapun dapat menjadi tempat berkembangbiaknya
bakteria tetanus.

Periode inkubasi tetanus terjadi dalam waktu 3-14 hari dengan gejala yang mulai
muncul di hari ketujuh. Dalam tetanus neonatal gejala mulai pada dua kali minggu
pertama kehidupan seorang bayi. Selain tetanus merupakan penyakit berbahaya, jika
cepat didiagnosa dan mendapat perawatan yang benar maka penderita dapat
disembuhkan. Penyembuhan umumnya terjadi selama 4-6 minggu. Tetanus dapat dicegah
dengan pemberian imunisasi sebagai bagian dari imunisasi DPT. Setelah lewat masa
kanak-kanak imunisasi dapat terus Lanjutkan walaupun telah dewasa. Dianjurkan setiap
interval5 tahun : 25, 30, 35 dst. Untuk wanita hamil lakukan imunisasi juga dan
melahirkan di tempat yang terjaga kebersihannya.

Infeksi tetanus oleh bakteri yang disebut dengan Clostridium tetani yang
memproduksi toksin yang disebut dengan tetanospasmin. Tetanospasmin menempel pada
urat syaraf di sekitar daerah luka dan dibawa ke system syaraf otak dan juga saraf tulang,
sehingga terjadi gangguan pada aktivitas normal urat syaraf. Terutama pada syaraf yang
mengirim pesan ke otot . Tetanus penularannya melaui tali pusar karena pertolongan
persalinan yang tidak bersih / steril, atau luka.

 Etiologi
Clostridiumtetani yang hidup anaerob, bentuk spora, tersebar ditanah,
mengeluarkan eksotoksin.
 Manifesklinis

a. Lokal : Nyeri, kaku dan spasme dari daerah yang terluka

b.Umum : Trismus, kekakuan otot maseter, kekakuan otot wajah, kaku


kuduk, opistotonus, perut papan, kejang tonik umu, kejang rangsang
(terhadap visual, , taktil), kejang spontan, retensio urin.
c. Gejala tetanus umumnya diawali dengan kejang otot rahang (dikenal
juga dengan trismus atau kejang mulut) bersamaan dengan timbulnya
pembengkakan, rasa sakit dan kaku di otot leher, bahu atau punggung.
Kejang-kejang secara cepat merambat ke otot perut, lengan atas dan
paha.

Reaksi pasca imunisasi DPT adalah Demam, sakit pada tempat suntikan 1- 2hari,
diberikan anafilatik + antipiretik. Bila ada reaksi berlebihan pasca imunisasidemam > 40 °
C, kejang, syok imunisasi selanjutnya diganti dengan DT atau DpaT.

4. TUBERCULOSIS (TBC)

Tuberkulosis (TBC) merupakan penyakit menular yang berbahaya yang


menyebabkan vaksinasi BCG diwajibkan. Penyakit infeksi saluran pernafasan yang
disebabkan oleh bakteri basil, yang mana cenderung menginfeksi paru-paru. Penyakit ini
ditandai dengan batuk terus-menerus. Disebabkan oleh bakteri basil, yang mana
cenderung menginfeksi paru-paru. Penyakit ini ditandai dengan batuk terus-menerus.
Melalui sistem pernapasan penyakit TBC dapat tertular, berdekatan dengan si penderita
atau berbagi barang pribadi dengan si pendrita dapat menyebabkan penularan.

Vaksin BCG atau pemberian imunisasi BCG tujuan untuk menampilkan


kekebalan aktif terhadapa penyakit Tuberkulosis (TBC). Vaksin BCG mengandung
kuman BCG yang masih hidup. Jenis kuman TBC ini telah dilonjolkan. Seorang anak
menderita TBC karena terhisapnya percikan udara yang mengandung kuman TBC, yang
berasal dari orang dewasa yang terinfeksi TBC. Mungkin juga bayi telah terjangkit
penyakit TBC sewaktu lahir. Ia mengubah kuman TBC sewaktu masih dalam kandungan,
bila ibu mengidap penyakit TBC. Pada anak yang terinfeksi, kuman TBC dapat
menyerang berbagai alat tubuh yang diserangnya adalah paru-paru (paling sering),
kelenjar getah bening, tulang, sendi, ginjal, hati, atau selaput otak.

 Usia Pemberian

Pemberian imunisasi BCG sebaiknya dilakukan bayi baru lahir, sampai


bayi dilakukan 12 bulan, tetapi pada usia 0 - 2 bulan. Hasil yang memuaskan
terlihat menggunakan bimbingan usia 2 bulan. Imunisasi BCG cukup
diberikan 1 kali saja, pada saat yang lebih baik dari 2 bulan, disarankan untuk
melakukan uji mantoux sebelum imunisasi BCG, gunanya untuk mengetahui
apa yang harus dilakukan TBC. Seandainya hasil uji mantoux positif, anak
tersebut selayaknya tidak mendapatkan imunsasi. Penyuntikan BCG tanpa
dilakukan uji mantoux pada dasarnya membingungkan.

 Jumlah Pemberian

Cukup 1 kali, karena vaksin BCG berisi kuman hidup dan antibodi
yang terbentuk akan memiliki kualitas yang sama. Oleh karena itu, antibodi
yang dihasilkan melalui vaksinasi sudah tinggi. Berbeda dari vaksin yang
berisi kuman mati, umumnya bantuan penguat atau pengulangan.

 Lokasi Penyuntikan

Yang direkomendasikan oleh WHO adalah di lengan kanan atas. Cara


menyuntikkannya pun membutuhkan cara khusus. Jika dilakukan di paha,
proses menyuntikkannya lebih sulit karena lapisan lemak lebih rendah. Para
orangtua juga tidak perlu khawatir denganbekas luka suntikan yang akan
muncul di lengan, karena umumnya luka bekas suntikan itu mencolok besar.
Jadi tidak akan merusak estetika kecantikan lengan anak anda kelak.