Anda di halaman 1dari 32

BAB I

PENDAHULAUAN

1.1 Latar Belakang


Angka Kematian Ibu (AKI) dan Angka Kematian Bayi (AKB) di
Indonesia sampai saat ini masih cukup tinggi, menurut data Survei Demografi
Kesehatan Indonesia (SDKI) tahun 2007, AKI 228 per 100.000 kelahiran hidup,
AKB 34 per 1000 kelahiran hidup, Angka Kematian Bayi baru lahir (AKN) 19 per
1000 kelahiran hidup. Berdasarkan kesepakatan global (Millenium Develoment
Goals/MDG’s 2000) pada tahun 2015, diharapkan angka kematian ibu menurun
dari 228 pada tahun 2007 menjadi 102 dan angka kematian bayi menurun dari 34
pada tahun 2007 menjadi 23. Upaya penurunan AKI harus difokuskan pada
penyebab langsung kematian ibu, yang terjadi 90% pada saat persalinan dan
segera setelah pesalinan yaitu perdarahan (28%), eklamsia (24%), infeksi (11%),
komplikasi pueperium 8%, partus macet 5%, abortus 5%, trauma obstetric 5%,
emboli 3%, dan lain-lain 11% (Permenkes, 2011).
Kematian ibu juga diakibatkan beberapa faktor resiko keterlambatan(Tiga
Terlambat), di antaranya terlambat dalam pemeriksaan kehamilan,terlambat dalam
memperoleh pelayanan persalinan dari tenaga kesehatan,dan terlambat sampai di
fasilitas kesehatan pada saat dalam keadaanemergensi. Salah satu upaya
pencegahannya adalah melakukan persalinan yang ditolong oleh tenaga kesehatan
di fasilitas kesehatan.
Jampersal adalah salah satu program andalan di bidang kesehatan yang
salah satunya bertujuan untuk menurunkan Angka Kematian Ibu ( AKI )Jampersal
sendiri sudah diperkenalkan oleh Menteri Kesehatan sejak tahun 2011. Jampersal
ditujukan untuk masyarakat yang belum mempunyai jaminan pelayanan
kesehatan, dan tidak terbatas pada masyarakat miskin atau kurang mampu meski
sebenarnya jampersal adalah perpanjangan dari jamkesmas. Beda jamkesmas dan
jampersal adalah pada jenis pelayanan yang diberikan, dimana jampersal hanya
melayani ibu hamil ( empat kali pemeriksaan selama hamil ), melahirkan baik di
puskesmas, bidan polindes ( bidan desa ) Bidan Praktek Mandiri ( BPM ) atau

1
klinik bersalin yang mengikuti program jampersal, atau bahkan di rumah sakit
pemerintah atau di rumah sakit swasta yang mengikuti program jampersal (
sampai kemungkinan dilakukan tindakan operasi atas indikasi ), pemeriksaan ibu
nifas dan bayinya ( empat kali pemeriksaan ), rujukan ke rumah sakit atas
indikasi, termasuk fasilitas layanan KB satu kali untuk ibu yang baru melahirkan
(diberikan selama masih dalam masa 42 hari) (Permenkes, 2011).
Namun pada kenyataannya, masih banyak masyarakat yang belum
mengetahui adanya program jampersal dari pemerintah. Padahal di televisi sudah
pernah diiklankan. Bahkan sosialisasi yang dilaksanakan di tingkat ibu-ibu PKK
pun belum sepenuhnya sampai ke masyarakat di desanya masing-masing.
Sebenarnya tidak sulit untuk mengikuti program jampersal, hanya butuh Kartu
Tanda Penduduk ( KTP ) yang masih berlaku. Dan program jampersal tidak
berbatas tempat. Tetapi pelayanan memang harus berjenjang, yaitu melalui
pelayanan kesehatan tingkat dasar dulu sebelum ke tingkat lanjutan, kecuali dalam
kasus gawat darurat. (Depkes, 2011).
Di kabupaten jember Pada tahun 2012 angka kematian Ibu 43 kasus,
Kematian bayi 424 kasus, jika dibandingkan dengan tahun 2011 terjadi penurunan
yaitu kematian ibu 54 kasus dan kematian bayi 428 kasus, ). Di wilayah kerja
puskesmas tanggul untuk tahun 2012 angka kematian ibu 0 kasus dan angka
kematian bayi 3 kasus yaitu kelainan bawaan, IUFD dan infeksi (dinkes-
jember.2013). AKB terbanyak disumbang oleh Probolinggo (64,19 persen),
Jember (56,45 persen), Sampang (55,11 persen), Situbondo (54,60 persen) dan
Bondowoso (54,35 persen). Selain lima kota itu, ada juga Bangkalan, Pamekasan
dan Pasuruan yang masuk dalam delapan besar (dinkes.jatimprov.2012)
Program jaminan persalinan gratis belum berhasil mengubah kebiasaan ibu
hamil menggunakan jasa dukun beranak. Di wilayah kerja puskesmas tanggul
untuk tahun 2012 sebanyak 60 ibu hamil yang melahirkan di dukun, dan untuk
januari-juli 2013 sebanyak 32 ibu hamil yang melahirkan ke dukun, betapa sangat
berpengaruhnya faktor budaya. Dari hal yang telah diuraikan di atas masih
banyaknya masyarakat yang belum tahu adanya program jampersal dari
pemerintah di karenkan beberapa alasan. Sehingga penulis tertarik untuk

2
melakukan penelitian tentang “Upaya peningkatan pengetahuan masyarakat
tentang program jampersal dilingkungan kerja PUSKESMAS TANGGUL untuk
mengurangi AKI dan AKB”

1.2 Pernyataan masalah


Upaya peningkatan pengetahuan masyarakat tentang program jampersal
dilingkungan kerja PUSKESMAS TANGGUL untuk mengurangi AKI dan AKB.

1.3 Tujuan
a. Untuk mengetahui tingkat pengetahuan masyarakat tentang jampersal
b. Membantu mencegah angka kematian ibu dan bayi di kecamatan tanggul

1.4 Manfaat
a. Diharapkan dari hasil mini project ini agar bertambahnya pengetahuan
masyarakat khususnya ibu hamil tentang ketentuan, manfaat, jenis
pelayanan, dan sasaran pada Jampersal
b. Hasil mini project ini dapat menjadi sumber informasi bagi ibu hamil
tentang jampersal sehingga dapat memberikan masukan untuk tenaga
kesehatan dalam meningkatkan mutu pelayanan terhadap ibu hamil dan
sebagai persiapan untuk ibu hamil dalam menggunakan jampersal.

3
BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Jampersal
Adalah jaminan pembiayaan pelayanan persalinan yang
meliputipemeriksaan kehamilan, pertolongan persalinan, pelayanan nifas
termasuk pelayanan KB paska persalinan dan pelayanan bayi barulahir.
(Permenkes, 2011).
2.1.1 Tujuan
a. Umum
Meningkatnya akses pemeriksaan kehamilan (antenatal), persalinan, dan
pelayanan nifas dan bayi baru lahir yang dilahirkannya (postnatal) yang
dilakukan oleh tenaga kesehatan dengan menghilangkan hambatan finansial
dalam rangka menurunkan AKI dan AKB (Permenkes, 2011).
b. Khusus
1. Meningkatnya cakupan pemeriksaan kehamilan, pertolongan persalinan,
dan pelayanan nifas ibu oleh tenaga kesehatan yang kesehatan yang
kompoten.
2. Meningktanya cakupan pelayanan:
a. Bayi baru lahir
b. Keluarga berencana pasca persalinan
c. penanganan komplikasi ibu hamil, bersalin, nifas dan bayi baru
lahir, Kb pasca persalinan oleh tenaga kesehatan yang kompeten.
2.1.2 Ketentuan Peserta Jampersal
1. Menunjukkan KTP/ surat keterangan domilisi (untuk pasien yang belum
mempunyai KTP)
2. Menunjukkan KK
3. Belum mempunyai jaminan kesehatan/ persalinan
4. Buku pedoman KIA

4
2.1.3 Sasaran Jampersal
Sesuai dengan tujuan Jaminan Persalinan yakni untuk menurunkan AKI
dan AKB, maka sasaran jaminan Persalinan dikaitkan dengan pencapaian tujuan
tersebut (Permenkes, 2011).
Sasaran yang dijamin oleh Jaminan Persalinan adalah:
1. Ibu hamil
2. Ibu bersalin
3. Ibu nifas (sampai 42 hari pasca melahirkan)
4. Bayi baru lahir (sampai dengan usia 28 hari)

Sasaran yang dimaksud diatas adalah kelompok sasaran yang berhak


mendapat pelayanan yang berkaitan langsung dengan kehamilan dan persalinan
baik normal maupun dengan komplikasi atau resiko tinggi untuk mencegah AKI
dan AKB dari suatu proses persalinan.
Agar pemahaman menjadi lebih jelas, batas waktu sampai dengan 28 hari
pada bayi dan samapai dengan 42 hari pada ibu nifas adalah batas waktu
pelayanan PNC dan tidak dimaksudkan sebagai batas waktu pemberian pelayanan
yang tidak terkait langsung dengan proses persalinan dan atau pencegahan
kematian ibu dan bayi karena suatu proses persalinan.

2.1.4 Manfaat jampersal


Manfaat yang diterima oleh penerima Jampersal Persalinan sebagaimana
diuraikan dibawah ini, sedangkan pada peserta Jamkesmas dijamin berbagai
kelainan dan penyakit (Permenkes, 2011).

Manfaat pelayanan jaminan persalinan meliputi:

1. Pemeriksaan Kehamilan (ANC) yang dibiayi oleh program ini mengacu pada
buku pedoman KIA, dimana selama hamil, ibu hamil diperiksa sebanyak 4 kali
disertai konseling Kb dengan frekuensi:
a. 1 kali pada triwulan pertama
b. 1 kali pada triwulan kedua

5
c. 2 kali pada triwulan ketiga
Pemeriksaan kehamilan yang jumlahnya melebihi frekuensi di atas pada tiap-
tiap triwulan tidak biayai oleh program ini. Penyediaan obat-obatan, reagensia dan
bahan habis pakai yang diperuntukan bagi pelayanan kehamilan, persalinan dan
nifas, dan KB pasca salin serta kompilkasi yang mencakup seluruh sasaran ibu
hamil, nifas dan bayi baru lahir menjadi tanggung jawab Pemda/ Dinas Kesehatan
Kab/Kota (Permenkes ,2011).
Pada Jaminan Persalinan dijamin penatalaksanaan komplikasi kehamilan
antara lain:
a. Penatalaksanaan abortus immnen, abortus inkompletus dan missed abortion
b. Penatalaksanaan mola hidatidosa
c. Pentalaksanaan hiperemesis gravidarum
d. Penanganan Kehamilan Ektopik Terganggu
e. Hipertensi dalam kehamilan, pre eklamsi dan eklamsi
f. Perdarahan pada masa kehamilan
g. Pertumbuhan janin terhambat (PJT): Tinggi fundus tidak sesuai usia kehamilan
h. Penyakit lain sebagai komplikasi kehamilan yang mengancam nyawa

2. Penatalaksanaan persalinan
a. Persalinan per vaginam
 Persalinan per vaginam normal
 Persalinan per vaginam melalui induksi
 Persalinan per vaginam dengan tindakan
 Persalinan pervaginam dengan komplikasi
 Persalinan per vaginam dengan kondisi bayi kembar
Persalinan per vaginam perinduksi, dengan tindakan, dengan komplikasi
serta pada bayi kembar dilakukan di Puskesmas PONED dan/ atau DS.

b. Persalinan per abdominam


 Seksio sesarea elektif ( terencana), atas indikasi medis.
 Seksio sesarea segera (emergensi), atas indikasi medis.

6
 Seksio sesarea dengan kompilkasi pendarahan, robekan jalan lahir,
perlukaan jaringan sekitae rahim, dan sesarean histeroktomi).

c. Penatalaksanaan komplikasi Persalinan:


 Pendarahan.
 Eklamsi.
 Retensio Plasenta.
 Penyulit pada persalinan.
 Infeksi
 Penyakit lain yang mengganggu kesalamatan ibu bersalin.

d. Penatalaksanaan bayi baru lahir


 Perawatan esensial neonates atau bayi baru lahir
 Penatalaksanaan bayi baru lahir dengan komplikasi ( asfiksia, BBLR,
Infeksi, ikterus, Kejang, RDS).

e. Lama hari inap minimal di fasilitas kesehataan


 Persalinan normal dirawat inap minimal 1 (satu) hari.
 Persalinan per vaginam dengan tindakan dirawat inap minimal 2 (dua)
hari.
 Persalinan dengan pnyulit post section-caesaria dirawat inap minimal 3
(tiga) hari

Pencatatan pelayanan pada ibu dan bayi baru lahir tercatat pada

i. Regrestrasi ibu hamil


ii. Pencatatan dibuku KIA, Kartu ibu, dan kohort ibu

3.Pelayanan nifas ( Post Natal Care )


a. Tatalaksana pelayanan
Pelayanan nifas (PNC) sesuai standar yang dibiayai oleh program ini
ditujukan pada ibu dan bayi yang baru lahir yang meliputi pelayanan ibu nifas,

7
pelayanan ibu baru lahir, dan pelayan KB pasca lahir. Pelayanan nifas
diintegrasikan antara ibu nifas, bayi baru lahir dan pelayanan KB pasca lahir.
Tatalaksana asuhhan PNC merupakan pelayan ibu dan bayi baru lahir, sesuai
dengan buku pedoman KIA. Pelayanan bayi baru lahir dilakukan pada saat lahir
dan kunjungan neonatal (Permenkes, 2011).
Pelayanan ibu nifas dan bayi baru lahir dilaksanakan 4 kali, masing-masing 1 kali
pada:

1. Kunjungan pertama untuk KFI dan KNI (6jam s/d hari ke 2)


2. Kunjungan kedua untuk KN2 (hari ke-3 s/d hari ke-7)
3. Kunjungan ketiga untuk KF2 dan KN3 (hari ke-8 s/d hari ke-28)
4. Kunjungan keempat untuk KF3 (hari ke-29 s/d hari ke-42)

Pelayanan KB pasca nifas dilakukan hingga 42 hari pasca persalinan.

Pada Jaminan Persalinan dijamin penatalaksaan komplikasi nifas antara lain :

1. Pendarahan
2. Sepsis
3. Eklamasi
4. Asfiksia
5. Ikterus
6. BBLR
7. Kejang
8. Absea/infeksi diakibatkan oleh komplikasi pemasangan alat kontrasepsi.
9. Penyakit lain yang mengancam keselamatan ibu dan bayi baru lahir sebagai
komplikasi persalinan.

Pelayanan nifas dijamin sebanyak 4 kali, terkecuali pelayan nifas yang


dirujuk ke Rumah Sakit. Maka pelayanan nifas dilakukan sesuai
pedoman pelayanan nifas dengan komplikasi tersebut.

b.Keluarga Berencana (KB)


1. Jenis Pelayanan KB

8
Pelayanan Keluarga Berencana pasca persalinan antara lain:
a. Kontrasepsi mantap (Kontap)
b. IUD,Implant, dan
c. Suntik
2. Tatalaksana pelayanan KB dan ketersediaan Alokon
Sebagai upaya untuk pengendalian jumlah penduduk dan ketertaitan
dengan jaminan persalinan, maka pelayanan KB pada masa nifas perlu
mendapatkan perhatian. Tatalaksana pelayanan KB mengacu pada pedoman
pelayanan KB dan KIA yang diarahkan pada metode kontrasepsi jangka
panjang(MKJP) atau Kontrasepsi Mantap (Kontap) sedangakan ketersediaan alat
dan obat kontrasepsi (alokon) KB ditempuh dengan prosedur sebagai berikut
(Permenkes, 2011).

a.Pelayanan KB di fasilitas tingkat dasar.


1. Alat dan obat kontrasepsi (alokon) disediakan oleh BKKBN terdiri dari IUD,
Implant, dan Suntik.
2. Puskesmas membuat rencana kebutuhan alat dan obat kontrasepsi yang
diperlukan untuk pelayanan KB di Puskesmas maupun Dokter/bidan pratik
mandiri yang ikut program Jaminan Persalinan. Selanjutnya daftar kebutuhan
tersebut dikirimkan ke SKPD yang mengelola program keluarga berencana di
Kabupaten/Kota setempat.
3. Dokter/bidan praktik mandiri yang ikut program Jaminan Persalinan membuat
rencana kebutuhan alokon untuk pelayanan keluarga berencana dan kemudian
diajukan permintaan ke Puskesmas yang ada diwilayahnya.
4. Puskesmas setelah mendapatkan alokon dari SKPD Kabupaten/Kota yang
mengelola program KB selanjutnya mendistribusikan alokon ke dokter dan
bidan praktik mandiri yang ikut program Jaminan Persalinan sesuai usulanya.
5. Besaran jasa pelayanan KB diklaimkan pada program Jaminan Persalinan.

b.Pelayanan KB di fasilitas lanjutan:

9
1. Alat dan obat kontrasepsi (alokon) disediakan oleh BKKBN.
2. Rumah Sakit yang melayani Jaminan Persalinan membuat rencana kebutuhan
alat kontrasepsi yang diperlukan untuk pelayanan Keluarga Berencana (KB) di
Rumah Sakit tersebut dikirimkan ke SKPD yang mengelola program Keluarga
Berencan di Kabupaten/Kota setempat.
3. Jasa pelayanan KB di pelayanan kesehatan lanjutan menjadi bagian dari
penerimaan menurut tariff INA CBG’s.

Agar pelayanan KB dalam Jaminan Persalinan dapat berjalan dengan baik,


perlu dilakukan koordinasi yang sebaik-baiknya antara petugas lapangan KB
(PLKB), fasilitas kesehatan (Puskesmas/Rumah Sakit), Dinas Kesehatan selaku
tim pengelola serta SKPD Kabupaten/Kota yang menangani program keluarga
berencana serta BKKBN provinsi (Permenkes, 2011).

Pemberi pelayanan Jaminan Persalinan yang melakukan pelayanan KB pasca


salin wajib membuat percatatan dan laporan alat dan obat kontrasepsi yang
diterima dan digunakan sesuai format pencatatan dan pelaporan dan dikirimkan
ke Dinas kesehatan Kab/Kota, dan SKPD yang mengelola program keluarga
berencana di Kabupaten/Kota setempat.

Jenis pelayanan Jampersal

1. Pemeriksaan kehamilan
2. Pertolongan persalinan
3. Pelayanan nifas
4. Pelayanan Keluarga Berencana (KB)
5. Pelayanan bayi baru lahir

2.1.5 Ruang Lingkup Pelayanan Jampersal


Jaminan Persalinan merupakan upaya untuk menjamin dan melindungi
proses kehamilan, persalinan, paska persalinan, dan pelayanan KB paska salin
serta komplikasi yang terkait dengan kehamilan, persalinan, nifas, KB paska salin,
sehingga manfaatnya terbatas dan tidak dimaksudkan untuk melindungi semua

10
masalah kesehatan individu. Pelayanan persalinan dilakukan secara terstruktur
dan berjenjang berdasarkan rujukan (Permenkes, 2011).
Adapun ruang lingkup pelayanan jaminan persalinan terdiri dari:

A. Pelayanan persalinan tingkat pertama


Pelayanan persalinan tingkat pertama adalah pelayanan yang diberikan oleh
dokter atau bidan yang berkompeten dan berwenang memberikan pelayanan yang
meliputi pemeriksaan kehamilan, pertolongan persalinan, pelayanan nifas dan
pelayanan KB pasca salin, serta pelayanan kesehatan bayi baru lahir, termasuk
pelayanan persiapan rujukan pada saat terjadinya komplikasi (kehamilan,
persalinan, nifas dan bayi baru lahir serta KB paska salin) tingkat pertama.

Pelayanan tingkat pertama diberikan di Puskesmas dan Puskesmas PONED


(untuk kasus-kasus tertentu), serta jaringannya termasuk Polindes dan
Poskesdes, fasilitas kesehatan swasta (bidan, dokter, klinik, rumah bersalin)
yang memiliki Perjanjian Kerja Sama (PKS) dengan Tim Pengelola
Kabupaten/Kota

Jenis pelayanan Jaminan persalinan di tingkat pertama meliputi:


1. Pelayanan ANC sesuai standar pelayanan KIA dengan frekuensi 4 kali
2. Deteksi dini faktor risiko, komplikasi kebidanan dan bayi baru lahir
3. Pertolongan persalinan normal;
4. Pertolongan persalinan dengan komplikasi dan atau penyulit pervaginam yang
merupakan kompetensi Puskesmas PONED.
5. Pelayanan Nifas (PNC) bagi ibu dan bayi baru lahir sesuai standar pelayanan
KIA dengan frekuensi 4 kali;
6. Pelayanan KB paska persalinan serta komplikasinya.
7. Pelayanan rujukan terencana sesuai indikasi medis untuk ibu dan janin/bayinya.

Penatalaksanaan rujukan kasus ibu dan bayi baru lahir dengan komplikasi
dilakukan sesuai standar pelayanan KIA.

11
Pelayanan pemeriksaan kehamilan dengan komplikasi atau pelayanan nifas
dengan komplikasi yang dirujuk ke Puskesmas PONED maupun Rumah Sakit
sesuai dengan indikasi medis, maka klaim Jaminan Persalinan dapat dilakukan
sesuai dengan frekuensi pelayanan yang diberikan sesuai standar tata laksana
penyakit/komplikasi tersebut. Besaran pembayaran biaya pelayanan sebagaimana
dimaksud diatas pada Puskesmas PONED mengikuti Pola Tarif Puskesmas
PONED yang berlaku, sedangkan pada RS sesuai dengan tarif INA-CBGs

B. Pelayanan Persalinan Tingkat Lanjutan


Pelayanan persalinan tingkat lanjutan adalah pelayanan yang diberikan oleh
tenaga kesehatan spesialistik untuk pelayanan kebidanan dan bayi baru lahir
kepada ibu hamil, bersalin, nifas, dan bayi baru lahir dengan resiko tinggi dan atau
dengan komplikasi yang tidak dapat ditangani pada fasilitas kesehatan tingkat
pertama yang dilaksanakan berdasarkan rujukan atas indikasi medis.

Pada kondisi kegawatdaruratan kebidanan dan neonatal tidak diperlukan surat


rujukan.

Pelayanan tingkat lanjutan menyediakan pelayanan terencana atas indikasi ibu dan
janin/bayinya.

Pelayanan tingkat lanjutan untuk rawat jalan diberikan di poliklinik


spesialis Rumah Sakit, sedangkan rawat inap diberikan di fasilitas
perawatan kelas III di Rumah Sakit Pemerintah dan Swasta yang memiliki
Perjanjian Kerja Sama (PKS) dengan Tim Pengelola Kabupaten/Kota
Jenis pelayanan Persalinan di tingkat lanjutan meliputi:
1. Pemeriksaan kehamilan (ANC) dengan risiko tinggi (risti)
2. Pertolongan persalinan dengan risti dan penyulit yang tidak mampu dilakukan
di pelayanan tingkat pertama.

12
3. Penanganan komplikasi kebidanan dan bayi baru lahir dalam kaitan akibat
persalinan.
4. Pemeriksaan paska persalinan (PNC) dengan risiko tinggi (risti).
5. Penatalaksanaan KB paska salin dengan metode kontrasepsi jangka panjang
(MKJP) atau kontrasepsi mantap (Kontap) serta penanganan komplikasi.

C. Pelayanan Persiapan Rujukan


Pelayanan persiapan rujukan adalah pelayanan pada suatu keadaan dimana terjadi
kondisi yang tidak dapat ditatalaksana secara paripurna di fasilitas kesehatan
tingkat pertama sehingga perlu dilakukan rujukan ke fasilitas kesehatan tingkat
lanjut dengan memperhatikan hal-hal sebagai berikut:
1. Kasus tidak dapat ditatalaksana paripurna di fasilitas kesehatan karena:
keterbatasan SDM
keterbatasan peralatan dan obat-obatan
2. Dengan merujuk dipastikan pasien akan mendapat pelayanan paripurna yang
lebih baik dan aman di fasilitas kesehatan rujukan
3. Pasien dalam keadaan aman selama proses rujukan

Untuk memastikan bahwa pasien yang dirujuk dalam kondisi aman sampai
dengan penanganannya di tingkat lanjutan, maka selama pelayanan persiapan dan
proses merujuk harus memperhatikan syarat-syarat sebagai berikut:
1. Stabilisasi keadaan umum:
a. Tekanan darah stabil/ terkendali,
b. Nadi teraba
c. Pernafasan teratur dan Jalan nafas longgar
d. Terpasang infus
e. Tidak terdapat kejang/kejang sudah terkendali

2. Perdarahan terkendali:
a. Tidak terdapat perdarahan aktif, atau
b. Perdarahan terkendali

13
c. Terpasang infus dengan aliran lancar 20-30 tetes per menit

3. Tersedia kelengkapan ambulasi pasien:


a. Petugas kesehatan yang mampu mengawasi dan antisipasi kedaruratan
b. Cairan infus yang cukup selama proses rujukan (1 kolf untuk 4- 6 jam) atau
sesuai kondisi pasien
c. Obat dan Bahan Habis Pakai (BHP) emergensi yang cukup untuk proses
rujukan.

14
BAB III
METODE

3.1 Jenis Penelitian

Penelitian ini merupakan penelitian deskriptif.

3.2 Tempat dan Waktu Penelitian

Penelitian ini dilakukan di Lingkungan kerja Puskemas tanggul. Waktu


pelaksanaan penelitian pada bulan Agustus 2013.

3.3 Teknik Pengumpulan Data

Data penelitian diperoleh dilingkungan kerja puskesmas tanggul


kecamatan Tanggul dengan jenis data adalah data primer. Data primer yaitu data
yang diperoleh dengan menggunakan metode kuesioner. Kuesioner adalah usaha
mengumpulkan informasi yang menggunakan sejumlah pertanyaan secara tertulis
untuk dijawab secara tertulis pula oleh responden, dimana pertanyaan yang
disampaikan adalah untuk memperoleh informasi dari responden tentang dirinya
sendiri. Kuesioner yang digunakan dalam penelitian ini tertutup, dimana setiap
kuesioner dalam bentuk ini telah disediakan alternatif jawaban yang harus dipilih
salah satu diantaranya sebagai jawaban yang paling tepat (Notoatmodjo, 2002).

3.4 Jumlah Sampel


Analisis bivariat adalah analisis yang melibatkan sebuah variabel
dependen dan sebuah variabel independen. Menurut patokan umum, dalam bahasa
inggris disebut Rule Of Thumb, dimana setiap penelitian yang datanya akan
dianalisis secara statistik dengan analisis bivariat membtuhkan sampel minimal 30
subjek

15
3.5 Definisi Operasional

Kuesioner pengetahuan ibu tentang program jampersal terdiri atas 20


pertanyaan. Pemberian skor dilakukan berdasarkan ketentuan, jawaban benar
diberi skor 1, dan jawaban salah diberi skor 0. Sehingga skor total yang tertinggi
adalah 20. Skor yang diperoleh masing-masing responden dijumlahkan,
dibandingkan dengan skor maksimal kemudian dikalikan 100.
Dengan memakai skala pengukuran menurut Hadi Pratomo dan Sudarti
(1986), yaitu:
1. Baik, bila jawaban responden benar >75% dari total nilai angket pengetahuan.
2. Sedang, bila jawaban responden benar 40%-75% dari total nilai angket
pengetahuan.
3. Kurang, bila jawaban responden benar <40% dari total nilai angket
pengetahuan.
Maka penilaian terhadap pengetahuan responden, yaitu:
1. Skor 15-20 = baik.
2. Skor 8-15 = sedang.
3. Skor <8 = kurang.

3.6 Teknis Pengukuran Tingkat Pengetahuan :


Tingkat pengetahuan dapat diukur melalui kuesioner, dalam penelitian
ini tingkat pengetahuan diukur sebelum penyuluhan ( pretes ) dan sesudah
penyuluhan ( postest ). Pretest dan Postest pada penelitian ini dilakukan dalam
hari yang sama dikarenakan keterbatasan waktu dan kemampuan peneliti,
namun untuk meminimalisir faktor retensi, peniliti akan mengubah kalimat
yang ada pada soal postest, mengacak nomor, serta mengacak pilihan jawaban,
sehingga soal postest akan tampak berbeda dari soal pretest namun masih
memiliki inti yang sama.
3.7 Alat Ukur : kuesioner
3.8 Pengumpulan Data

16
Cara pengumpulan data dilakukan dengan memberikan kuisoner yang
langsung diberikan kepada ibu hamil, sebelumnya semua ibu hamil diberikan
penjelasan terlebih dahulu dan meminta kesediaannya untuk menjadi
responden dalam penelitian. Angket berisi pertanyaan yang terdiri dari
pertanyaan tentang jampersal. Pertanyaan dibuat bahasa yang mudah dipahami
dengan tujuan mempermudah responden dalam menjawab serta mempermudah
peneliti saat pengolahan data. Adapun pengolahan data yang akan dibuat
dengan mengunakan persentase tingkat pengetahuan rendah, sedang dan tinggi.

3.9 Alur penelitian

Izin Penelitian

Pengumpulan data primer

Penyebaran dan pengisian lembar kuesioner oleh responden

Pengolahan data

Hasil dan pembahasan

Kesimpulan

Gambar 3.1 Alur Penelitian

17
BAB IV
HASIL

4.1 Profil Komunitas Umum (Puskesmas Tanggul)


Kecamatan Tanggul merupakan salah satu kecamatan yang ada di wilayah
Kabupaten Jember. Tanggul terdiri dari 5 desa yaitu: Tanggil Kulon, Tanggul
wetan, Patemon, Kramat Sukohardjo Klatakan ,dan Manggisan. Berikut luas
wilayah masing-masing desa dengan rincian jumlah RT/RW, jumlah rumah dan
KK :
Nama Desa Luas Juml Juml. Juml.
wilayah
RT/RW rumah KK
km-2

Tanggul Kulon 115.63 61/20 1882 3460

Tanggul Wetan 88.99 81/28 2687 5037

Patemon 111.07 63/6 1695 2728

Kramat Suko 152.63 42/6 1547 1727

Manggisan 117.79 62/31 2023 3165

klatakan 178.7 30991 1834 1117

Dan berikut data sarana pendidikan yang ada di tiap desa di Kecamatan Tanggul:

Nama Desa Jml.TK Jml.SD/MI Jml.SLTP/Mts Jml.SLTA/MA Ponpes

Tgl.Kulon 5 4/3 2/- 3/- 1

Tgl.Wetan 3 7/2 3/1 1/- 2

Patemon 2 ¾ -/- -/- 2

Kramat SH - 4/1 -/- -/- 1

Manggisan 1 5/4 -/1 1/- 3

klatakan 2 3/2 1/- 1/- 1

Jumlah 11 23/14 5/2 5/- 9

18
4.2 Data Geografis

Probolinggo

Kec. Sumberbaru kec. bangsal sari

Kec. Umbul sari

batas-batas wilayah Tanggul sebagai berikut :

Sebelah Selatan : daerah dataran rendah berbatasan dengan wilayah


Kecamatan Umbul sari
Sebelah Utara : daerah pegunungan atau dataran tinggi berbatasan
dengan dengan wilayah Kabupaten Probolinggo
Sebelah Barat : daerah dataran rendah berbatasan dengan wilayah
Kec sumberbaru ke barat menuju Surabaya.
Sebelah Timur : daearah dataran rendah berbatasan dengan wilayah
Bangsal sari menuju Kabupaten Jember.

19
4.3 Data Demografis
Jumlah Penduduk Kecamatan Tanggul Tahun 2009 dari data proyeksi
penduduk Kabupaten Jember oleh Badan Pusat Statistik Kabupaten Jember
sejumlah 56.264 jiwa.

Data Kependudukan 2013

Nama Desa Jumlah Penduduk Jumlah Penduduk Usila

Pria Wanita Total Pria Wanita Total

Tgl.Kulon 6229 6468 12697 659 778 1437

Tgl.Wetan 7963 8289 16252 845 996 1841

Patemon 5115 5310 10425 541 639 1180

Kramat SH 3132 3252 6384 331 391 722

Manggisan 5429 5637 11066 347 359 706

Jumlah 27868 28956 56824 2723 3163 5886

4.4 Sumber Daya Kesehatan yang Ada


No Jenis Tenaga PNS PTT Magang

I Puskesmas Induk
Dokter 2 - -
Dokter gigi 1 - -
Bidan 8 3 2
Perawat Kesehatan 9 - 11
Perawat Gigi - - -
Sanitarian 1 - -
Analis Kesehatan 1 - 1
AA 1 - -
RO 1 - -
Ahli Gizi 1 - -
Juru Rawat 3 - -
Tenaga Umum 5 - 15
Tenaga Teknisi Alkes - - -
Pekarya Halaman 1 - -
Sopir 1 - -
Jurumasak 1 - -

II Puskesmas Pembantu
Perawat Kesehatan 1 1 -
Bidan 4 2 -
III Polindes
Bidan di desa
1 1 -

20
IV Poskesdes
Bidan
- 1 -

4.5 Sarana Pelayanan Kesehatan yang Ada


Nama Desa Jml.Pustu Jml.Dansa Jml.Polindes Jml.Posyandu Pos lain

Tgl.Kulon - - - 15 -

Tgl.Wetan 1 - 1 17 -

Patemon - 1 1 14 -

Kramat SH 1 1 - 9 -

Manggisan 1 1 - 11 -

Jumlah 3 3 1 66 -

Unit Layanan di Puskesmas Tanggul

1. Unit Layanan BP Umum


2. Unit Layanan Gigi
3. Unit Layanan Refraksi
4. Unit Layanan TB Dots
5. Unit Layanan 24 Jam / UGD
6. Unit Layanan KIA / KB / Imunisasi
7. Unit Layanan Laboratorium
8. Unit Layanan Rawat Inap
9. Unit Layanan VK Bersalin
10. Unit Layanan Kamar Obat
11. Unit Layanan Loket

21
4.6 Data kesehatan primer

Jumlah wanita usia subur diwilayah kerja puskesmas tanggul

wanita usis subur


wanita usis subur

70

60 60

2011 2012 2013

Jumlah ibu hamil diwilayah kerja puskesmas tanggul

jumlah ibu hamil


jumlah ibu hamil

938 909

446

2011 2012 januari-agustus


2013

22
Jumlah persalinan normal

Nakes tahun 2011- agustus 2013


nakes persentase

862 834

568

91.80% 102% 56%

2011 2012 2013

Pada tahun 2011 jumlah persalinan normal yaitu 862 kasus 91,80%, pada
tahun 2012 sebanyak 834 kasus 102% dan pada tahun 2013 januari-agustus
sebanyak 568kasus 56%.

a. prevalensi terjadinya kematian ibu dan bayi di wilayah kerja puskesmas tanggul

jumlah kematian bayi dan kematian


ibu di Kab. Jember
kematian ibu kematian bayi

428 424

54 43

TH 2011 TH 2012

Pada tahu 2011 jumlah kematian bayi sebanyak 428 kasus, kematian ibu
sebanyak 54 kasus sedangkan pada tahun 2012 terjadi penurunan angka kematian
bayi dan kematian ibu dibandingkan pada tahun 2011 yaitu jumlah kematian bayi
424 kasus dan kematian ibu 43 kasus.

23
jumlah kematian bayi dan jumah
kematian ibu di wilayah kerja
puskesmas tanggul
TH 2012

kematian ibu kematian bayi

Pada tahun 2012 jumlah kematian ibu dan bayi di wilayah kerja
puskesmas tanggul yaitu umlah kematian ibu 1 kasus dan jumlah kematian bayi 3
kasus

jumlah kelahiran didukun tahun 2012


jumlah kelahiran didukun tahun 2012

23

14 13

6
4

tanggul tanggul patemon kramat manggisan


kulon wetan sukoharjo

24
jumlah kelahiran didukun januari-juli
2013
jumlah kelahiran didukun januari-juli 2013

11
9
7

3
2

tanggul tanggl patemon ktamat manggisan


kulon wetan sukoharjo

b. Prevalensi pengetahuan hamil terhadap program jampersal untuk mengurangi


angka kematian ibu dan angka kematian bayi

rendah sedang tinggi

76.60%

56.60%

43.30%

17.60%
6.60%
0%

Pre test Post test

Dari hasil data sebelum dan sesudah dilakukan intervensi berupa


penyuluhan untuk mengetahui tingkat pengetahuan ibu hamil terhadap program
jampersal untuk mengurangi angka kematian ibu dan bayi yaitu pada pretest
sebanyak 17,60% berpengetahuan rendah, 76,60% berpengetahuan sedang, dan

25
6,60% berpengetahuan tinggi. Setelah dilakukan penyuluhan didapatkan Pada post
test 0% berpengetahuan rendah, 43,3% berpengetahuan sedang dan 56,60%
berpengetahuan tinggi. Dari hasil intervensi ini didapatkan bahwa terjadi
peningkatan pengetahuan ibu hamil terhadap program jampersal yaitu tidak
adanya ibu yang berpengetahuan kurang. Melakukan intervensi mengunakan
media-media misalnya (leaflet, boklet dll) terbukti efektif meningkatkan
pemahaman ibu hamil terhadap program jampersal. Hal ini dilakukan agar ibu
hamil yang sudah mengerti program jampersal sadar akan pentingnya bersalin
difasilitas kesehatan untuk mengurangi angka kematian ibu dan angka kematian
bayi mengingat masih banyak ibu hamil yang bersalin di luar fasilitas kesehatan
(dukun) di wilayah tanggul ini.

26
BAB V

DISKUSI

BERISI PENDAPAT DAN MASUKAN DARI HASIL MINI POJECT

Dari hasil penelitian ini didapatkan bahwa perilaku ibu dalam memelihara
kesehatannya dipengaruhi oleh faktor sosial ekonomi dan budaya Selain itu masih
banyak ibu-ibu yang menganggap kehamilan sebagai hal yang biasa, alamiah dan
kodrati. Mereka merasa tidak perlu memeriksakan dirinya secara rutin ke fasilitas
kesehatan baik ke bidan ataupun dokter. Masih banyaknya ibu-ibu yang kurang
menyadari pentingnya pemeriksaan kehamilan, hal ini menyebabkan tidak
terdeteksinya faktor-faktor resiko tinggi yang mungkin dialami oleh mereka.
Resiko ini baru diketahui pada saat persalinan yang sering kali karena kasusnya
sudah terlambat dapat membawa akibat fatal yaitu kematian. Berbagai faktor yang
dikemukakan di atas menyebabkan Angka Kematian Ibu (AKI) dan Angka
Kematian Bayi (AKB) di Indonesia masih lebih tinggi
Salah satu kendala penting untuk mengakses persalinan oleh tenaga
kesehatan di fasilitas pelayanan kesehatan adalah keterbatasan dan
ketidaktersediaan biaya. Untuk itu terobosan yang dilakukan oleh Kementerian
Kesehatan adalah Jaminan Persalinan (Jampersal) untuk meningkatkan persalinan
yang ditolong tenaga kesehatan. Dengan demikian diharapkan dapat mengatasi “3
terlambat” yaitu terlambat dalam pemeriksaan kehamilan, terlambat dalam
memperoleh pelayanan persalinan dari tenaga kesehatan dan terlambat sampai di
fasilitas kesehatan pada saat keadaan emergensi. Dengan adanya Jampersal
diharapkan dapat mengakselerasi tujuan MDG’s 4 (status kesehatan anak) dan
MDG’s 5 (status kesehatan ibu). Kesehatan suatu masyarakat dapat dipengaruhi
oleh kebudayaan yang dimilikinya. Dengan kata lain, pemahaman kesehatan
dalam suatu masyarakat dipengaruhi oleh kebudayaan yang telah mereka pelajari
secara turun menurun dari generasi ke generasi. Sementara itu, setiap masyarakat
mempunyai kebudayaan yang berbeda dengan masyarakat yang lain. Perbedaan

27
pemahaman kesehatan ini yang harus kita lihat, budaya setempat bisa mendorong
kearah kesehatan yang lebih bagus, apabila ada budaya yang mengancam
kesehatan ada baiknya kita lakukan pendekatan kepada masyarakat terlebih
dahulu. Hasil penelitian ini juga menunjukkan bahwa masih banyak ibu hamil
yang tidak memeriksakan kehamilannya ke tenaga kesehatan secara rutin sesuai
anjuran kesehatan dengan berbagai alasan misalnya tidak adanya biaya, fasilitas
kesehatan yang jaraknya jauh, Keadaan tersebut semakin mendukung perilaku
memeriksakan kehamilannya ke dukun beranak sebagai tenaga yang lebih mudah
mereka jangkau. Dari berbagai hal tersebut, maka perlu dilakukan beberapa hal
dalam menangani hal tersebut. Perlunya peningkatan pengetahuan dan
pemahaman ibu tentang pentingnya menjaga kesehatan selama kehamilan. Perlu
peningkatan pengetahuan tentang kehamilan, risiko saat kehamilan, makanan
sehat, dan perawatan kehamilan. Promosi kesehatan tersebut dapat diberikan
petugas kesehatan melalui kegiatan posyandu, penyuluhan di puskesmas, dan
acara-acara kemasyarakatan lainnya. Diharapkan dengan bertambahnya
pengetahuan mereka dapat meningkatkan keyakinan mereka untuk melakukan
pemeriksaan kehamilan pada fasilitas kesehatan seperti puskesmas atau polindes.
Dari hasil penelitian didapatkan bahwa tidak adanya perbedaan yang terlalu
mencolok terkait karakateristik responden baik yang bersikap positif maupun
negatif. Dan tidak ada perbedaan pengetahuan dengan bertambahnya usia,
kemungkinan dikarenakan tidak adanya kemauan untuk belajar karena pada
dasarnya sekolah berhenti belajarpun berhenti dan tidak mengembangkan ilmunya
untuk kedepannya, dan sikap responden terhadap pertanyaan pertanyaan terkait
program jampersal. Faktor-faktor yang mempengaruhi pembentukan sikap ada
dua faktor yakni, pengalaman pribadi yang merupakan dasar pembentukan sikap
seseorang dan pengalaman pribadi harus meninggalkan kesan yang kuat , serta
sikap mudah terbentuk jika melibatkan faktor emosional, dan kebudayaan dimana
pembentukan sikap tergantung pada kebudayaan tempat individu tersebut
dibesarkan, Pengetahuan ibu hamil dalam penelitian ini adalah ibu hamil mampu
mengetahui hal-hal yang berkaitan dengan Jampersal. Pengetahuan akan
membentuk kepercayaan yang selanjutnya akan memberikan perspektif pada

28
manusia dalam mempersepsi kenyataan, memberikan dasar dalam pengambilan
keputusan dan menentukan sikap terhadap objek tertentu. Kepercayaan yang
dimaksud disini adalah bahwa sesuatu itu benar atau salah atas dasar bukti,
sugesti, sugesti otoritas, pengalaman atau intuisi. Pengetahuan berhubungan
dengan jumlah informasi yang dimiliki seseorang. Faktor yang menentukan sikap
seseorang tidak hanya faktor pengetahuan saja, tetapi juga dipengaruhi oleh faktor
budaya, kepercayaan dan emosi responden. Jika informasi yang didapat tidak
sesuai dengan faktor budaya, kepercayaan dan emosi responden maka hal tersebut
akan mempengaruhi responden dalam pengambilan sikap, Tingkat pendidikan
turut pula menentukan mudah tidaknya seseorang meyerap dan memahami
pengetahuan yang diperoleh, pada umumnya semakin tinggi pendidikan seseorang
maka semakin baik pula pengetahuannya. Dalam penelitian ini tingkat pendidikan
yang di teliti adalah pendidikan formal dimana belum tentu responden
mendapatkan penjelasan terkait Jampersal, sehingga pemahaman terkait Jampersal
bisa saja masih kurang.
Sebagai sarana komunikasi, berbagai bentuk media massa seperti televisi,
radio, surat kabar majalah, dll, mempunyai pengaruh besar dalam pembentukan
opini dan kepercayaan orang yang berpengaruh pada pembentukan sikap
seseorang. Komunikasi dapat disampaikan lewat beberapa media atau saluran dan
dalam penelitian ini menggunakan leaflet. Efektifitas komunikasi akan lebih baik
apabila saluran yang digunakan sesuai dengan hakikat informasi atau sugesti yang
hendak disampaikan. Suatu pesan persuasive yang isinya kompleks akan lebih
mudah diperhatikan dan dipahami apabila disampaikan lewat media cetak dari
pada media audiovisual. Pada dasarnya suatu komunikasi akan lebih efektif
apabila disampaikan secara langsung berhadapan (face to face)
Dari hasil penelitian ini didapatkan bahwa sebelum dilakukan intervensi
banyak masyarakat yang tidak mengtahui program jampersal, dapat diliht dari
pada pretest sebanyak 17,60% berpengetahuan rendah, 76,60% berpengetahuan
sedang, dan 6,60% berpengetahuan tinggi. Setelah dilakukan penyuluhan
didapatkan Pada post test 0% berpengetahuan rendah, 43,3% berpengetahuan
sedang dan 56,60% berpengetahuan tinggi. Dari Penelitian ini menunjukan bahwa

29
dari hasil post test banyak ibu hamil yang akhirnya memahami program jampersal
dan ingin menggunakan jamerpersal. Diharapkan dengan adanya penyuluhan ini
masyarakat khususnya ibu hamil dapat memeriksakan diri ke tenaga kesehatan
sejak awal kehamilan, mengurangi faktor kebudayaan yang bersalin ke dukun
beranak karena kendala jarak, ataupun biaya persalinan.. Dan untuk kader2
posyandu lebih ditingkatkan pemahaman tentang jampersal, agar pada saat
posyandu, kader kader posyandu tidak hanya mencatat dan menimbang tetapi
memberikan motivasi kepada ibu ibu hamil agar bersalin ke sarana kesehatan.
Dan menghilangkan budaya yang ada di wilayah kerja posyandu tersebut, dengan
cara pendekatan kepada kepala keluarga atau keluarga yang tinggal satu rumah
dengan ibu hamil tersebut. Diharapkan dengan program ini dapat menurunkan
angka kematian ibu dan angka kematian bayi di wilayah kerja puskesmas tanggul
dan diharapkan ada peningkatan persuasif terhadap ibu hamil untuk bersikap
positif terhadap Jampersal dan peningkatan kualitas pelayanan pada peserta
Jampersal, sehingga peserta merasa nyaman dan puas jika memanfaatkan
Jampersal.

30
BAB VI

KESIMPULAN DAN SARAN

Kesimpulan
1. Dengan adanya penelitian ini ibu hamil di wilayah kerja puskesmas
tanggul dapat bersalin di tenaga kesehatan karena adanya program
jampersal dari pemerintah
2. Masyarakat khususnya ibu hamil bersikap positif terhadap program
jampersal dan ingin mengunakan jampersal
3. Tidak ada perbedaan secara signifikan antara tingkat pendidikan dan usia
4. Faktor sosial budaya sangat berpengaruh pada masyarakat khususnya ibu
hamil
Saran
1. Diharapkan ada sosialisasi lebih lanjut mengenai prosedural pelaksanaan
program Jampersal sehingga masyarakat tidak perlu khawatir jika ingin
memanfaatkan Jampersal baik dari pihak puskesmas
2. Diharapkan pada penelitian selanjutnya dibahas lebih mendalam mengenai
faktorfaktor lain yang berpengaruh pada sikap ibu hamil terhadap
Jampersal seperti kebudayaan setempat, pengaruh orang lain, dan
emosional ibu dengan perbaikan lebih lanjut sehingga data yang telah
didapatkan benar-benar bisa merepresentatifkan kondisi yang ada.
3. Selain itu diharapkan ada penelitian lanjutan hubungan sikap ibu hamil
terhadap perilaku pemanfaatan Jampersal.

31
DAFTAR PUSTAKA

1. Notoatmodjo,S. (2010). Metodologi Penelitian Kesehatan. Jakarta : Rineka


Cipta, pp:50-64, pp:75-90, pp:148-150
2. PERMENKES RI NO. 631/ MENKES / PER / III /2011 TENTANG
PETUNJUK TEKNIS JAMINAN PERSALINAN
3. PERMENKES RI NO. 2581 / MENKES / PER / XII / 2011 TENTANG
PETUNJUK TEKNIS PELAYANAN KESEHATAN DASAR
JAMINAN KESEHATAN MASYARAKAT
4. http://dinkes-jemberkab.org/index.php/regulasi/berita-kesehatan/147-gerakan-
akselerasi-imunisasi-nasional-dalam-rangka-percepatan-penurunan-
aki-dan-akb-di-kabupaten-jember
5. dinkes.jatimprov.go.id/userfile/.../JATIM_DALAM_ANGKA_TERKINI

32