Anda di halaman 1dari 2

…blog nak belog…

…catatan harian seorang manusia biasa…

SEPTEMBER 14, 2014 BY I WAYAN ADI SUDIATMIKA

Ngerebong – Tradisi Unik Kesiman

Pulau Bali tidak hanya terkenal dengan keindahan pantainya. Namun Pulau Dewata ini
dikenal pula dengan pura-pura beserta dengan adat istiadatnya serta keunikan ritual
yang beragam dan tentunya menarik orang-orang untuk datang ke Pulau Seribu Pura
ini.

Bali memang menarik untuk dikunjungi. Selain memiliki pesona pemandangan alam,
Pulau Dewata juga kaya akan tradisi budaya dan adat istiadat. Tidak heran, karena
memang masyarakatnya masih berpegang teguh pada adat istiadat yang dijadikan
sebagai kearifan lokal.

Salah satu tradisi yang menarik adalah Ngerebong yakni sebuah tradisi unik di Desa
Pakeraman Kesiman – Denpasar. Setidaknya setiap 8 hari setelah Hari Raya Kuningan
yakni Redite Pon Wuku Medangsia menurut penanggalan Kalender Bali, tradisi sakral
ngerebong ini dilaksanakan.

Ngerebong sendiri berasal dari kata ngerebong yang artinya berkumpul. Masyarakat
setempat percaya bahwa pada hari ngerebong adalah hari dimana para dewa
berkumpul. Pusat dari tradisi ini dilakukan di Pura Petilan yang terletak di daerah
Kesiman – Denpasar. Biasanya jalan-jalan akan ditutup penuh, mengingat tradisi ini
dianggap sakral dan memenuhi jalan serta areal upacara.

Sebelum acara puncak dimulai biasanya masyarakat sudah memenuhi area acara
Sebelum acara puncak dimulai biasanya masyarakat sudah memenuhi area acara
dengan adanya beberapa suguhan seperti alunan musik tradisional, bunga-bungaan
dalam tempayan cantik, bebantenan serta penjor-penjor berjejer rapi sepanjang jalan.
Masyarakat mengawali upacara ini dengan sembahyang di Pura Petilan tersebut.
Suasana semakin riuh ditambah dengan adanya acara adu ayam di wantilan (bangunan
menyerupai bale-bale).

Puncak acara dari tradisi Ngerebong ini ditandai dengan penyisiran jalan oleh pecalang
(polisi adat setempat). Kemudian para pemedek keluar dari pura untuk melanjutkan
ritualnya dengan mengelilingi wantilan tempat adu ayam tadi sebanyak 3 kali putaran.
Pada saat mengitari wantilan beberapa pemedek akan mengalami kesurupan/kerasukan
dengan berteriak, menggeram, menangis sambil menari diiringi alunan musik
tradisional.

Selama kerasukan pemedek melakukan tindakan berbahaya seperti menghujamkan


keris pada dada, leher, bahkan ubun-ubun. Namun anehnya tidak satupun pemedek
yang berdarah akibat hujaman keris tadi. Ritual ini dinamakan ngurek. Konon
mengapa pemedek tadi tidak berdarah meskipun telah dihujamkan keris berkali-kali
adalah karena adanya kekuatan magis dari roh yang menguasai tubuh pemedek.

Selain para pemedek, ada juga barong dan rangda yang ikut menari dalam ritual ini.
Ritual ini akan berakhir saat matahari tenggelam. Roh-roh tadi dipulangkan ke alamnya
dengan menggiring para pemedek ke dalam pura yang di sana telah ada seorang
Pemangku. Kemudian setelah roh-roh keluar dari jasad pemedek, dilanjutkan dengan
tarian dewa yang menjadi penutup tradisi ngerebong ini.

Upacara Ngerebong itu sendiri bertujuan untuk mengingatkan Umat Hindu melalui
ritual sakral tadi untuk terus memelihara keharmonisan hubungan manusia dengan
Tuhan, manusia dengan sesama manusia dan manusia dengan alam yang terkenal
dengan istilah Tri Hita Karana. Tidak jelas asal-usul dari tradisi Ngerebong ini, namun
masyarakat sekitar terus mempertahankan tradisi ini sebagai bagian dari kehidupan
mereka.

Bali memang kaya akan tradisi, hal itulah yang membuat Pulau Dewata ini menjadi
menarik untuk dikunjungi. Tradisi Ngerebong ini pun tidak hanya tertutup untuk
masyarakat Bali saja, melainkan juga terbuka bagi masyarakat umum yang ingin
menyaksikan. Namun untuk bisa menikmati keunikan tradisi tersebut.