Anda di halaman 1dari 11

BAB.

3 HAK KEKAYAAN INTELEKTUAL
Posted on May 17, 2011by ughytov
7.1 Pengertian
Hak kekayaan intelektual terdiri dari dua kata, yaitu hak kekayaan
dan intelektual.Hakkekayaan adalah kekayaan berupa hak yang mendapat
perlindungan hukum, dalam arti orang lain dilarang menggunakan hak itu tanpa izin
pemiliknya.Intelektual adalah kata yang berkenaan dengan kegiatan intelektual
berdasarkan kegiatan daya cipta dan daya pikir dalam bentuk ekspresi, ciptaan, dan
penemuan dibidang teknologi dan jasa.
Hak kekayaan intelektual adalah hak yang timbul dari kemampuan berpikir
atau olah pikir yang menghasilkan suatu produk atau proses yang berguna untuk
manusia.
Berdasarkan WIPO (the legal rights which result from intellectusl activity in the
industrial scientific, literary or artistic fileds), hak kekayaan intelektual merupakan
padanan dari intellectual property right. IPR merupakan perlindungan terhadap
hasil karya manusia baik hasil karya yang berupa aktivitas dalam ilmu pengetahuan,
industri, kesusasteraan, dan seni.
Dalam Pasal 7 TRIPS ( tread related aspect of intellectual property right ) tujuan
dari perlindungan dan penegakan HKI adalah mendorong timbulnya inovasi,
pengalihan dan penyebaran teknologi dan diperolehnya manfaat bersama antara
penghasil dan penggunaan pengetahuan teknologi, menciptakan kesejahteraan sosial
dan ekonomi serta keseimbangan antara hak dan kewajiban.
Dalam ilmu hukum, hak kekayaan intelektual adalah harta kekayaan khususnya
hukum benda  ( zukenrecht ) yang mempunyai objek benda intelektual, yaitu benda
yang tidak berwujud yang bersifat immaterial maka pemilik hak atas kekayaan
intelektual pada prinsipnya dapat berbuat apa saja sesuai dengan kehendaknya.

Hak Kekayaan Intelektual merupakan hak yang diberikan kepada orang-orang


atas hasil dari buah pikiran mereka. Biasanya hak eksklusif tersebut diberikan atas
penggunaan dari hasil buah pikiran si pencipta dalam kurun waktu tertentu. Buah
pikiran tersebut dapat terwujud dalam tulisan, kreasi artistik, simbol-simbol,
penamaan, citra, dan desain yang digunakan dalam kegiatan ko-mersil.
7.2 Prinsip- Prinsip Hak Kekayaan Intelektual
Prinsip – prinsip Hak Kekayaan Intelektual :
1. Prinsip ekonomi
2. Prinsip keadilan
3. Prinsip kebudayaan
4. Prinsip social
1. Prinsip ekonomi.
Prinsip ekonomi, yakni hak intelektual berasal dari kegiatan kreatif suatu kemauan
daya pikir manusia yang diekspresikan dalam berbagai bentuk yang akan
memeberikan keuntungan kepada pemilik yang bersangkutan.
2. Prinsip keadilan.
Prinsip keadilan, yakni di dalam menciptakan sebuah karya atau orang yang bekerja
membuahkan suatu hasil dari kemampuan intelektual dalam ilmu pengetahuan,
seni, dan sastra yang akan mendapat perlindungan dalam pemiliknya.
3. Prinsip kebudayaan.
Prinsip kebudayaan, yakni perkembangan ilmu pengetahuan, sastra, dan seni untuk
meningkatkan kehidupan manusia
4. . Prinsip social.
Prinsip social ( mengatur kepentingan manusia sebagai warga Negara ), artinya hak
yang diakui oleh hukum dan telah diberikan kepada individu merupakan satu
kesatuan sehingga perlindungan diberikan bedasarkan keseimbangan kepentingan
individu dan masyarakat.
Klasifikasi Hak Kekayaan Intelektual
Berdasarkan WIPO hak atas kekayaan intelaktual dapat dibagi menjadi dua bagian,
yaitu hak cipta ( copyright ) , dan hak kekayaan industry (industrial property right)
Hak kekayaan industry ( industrial property right ) adalah hak yang mengatur segala
sesuatu tentang milik perindustrian, terutama yang mengatur perlindungan hukum.
Hak kekayaan industry ( industrial property right ) berdasarkan pasal 1 Konvensi
Paris mengenai perlindungan Hak Kekayaan Industri Tahun 1883 yang telah di
amandemen pada tanggal 2 Oktober 1979, meliputi
a. Paten
b. Merek
c. Varietas tanaman
d. Rahasia dagang
e. Desain industry
f. Desain tata letak sirkuit terpadu
Dasar Hukum Hak Kekayaan Intelektual di Indonesia.
Pengaturan hukum terdapat hak kekayaan intelektual di Indonesia dapat ditemukan
dalam :
1. Undang – undang Nomor 19 Tahun 2002 tentang Hak Cipta.
2. Undang – undang Nomor 14 Tahun 2001 tentang Paten.
3. Undang – undang Nomor 15 Tahun 2001 tentang Merek.
4. Undang – undang Nomor 29 Tahun 2000 tentang Varietas Tanaman.
5. Undang – undang Nomor 30 Tahun 2000 tentang Rahasia Dagang.
6. Undang – undang Nomor 31 Tahun 2000 tentang Desain Industri.
7. Undang – undang Nomor 32 Tahun 2000 tentang Desain Tata Letak Sirkuit
Terpadu.

7.3 Klasifikasi Hak Kekayaan Intelektual


Ada dua golongan besar hak atas kekayaan intelektual, yakni

1.  Hak cipta, yakni hak eksklusif yang diberikan negara bagi pencipta suatu karya
(misal karya seni untuk mengumumkan, memperbanyak, atau memberikan izin bagi
orang lain untuk memperbanyak ciptaanya tanpa mengurangi hak pencipta sendiri.

2. Hak kekayaan industri, meliputi

a. Paten, yakni hak eksklusif yang diberikan negara bagi pencipta di bidang
teknologi. Hak ini memiliki jangka waktu (usia sekitar 20 tahun sejak dikeluarkan),
setelah itu habis masa berlaku patennya.

b. Merk dagang, hasil karya, atau sekumpulan huruf, angka, atau gambar sebagai
daya pembeda yang digunakan oleh individu atau badan hukum dari keluaran pihak
lain.
c. Hak desain industri, yakni perlindungan terhadap kreasi dua atau tiga dimensi
yang memiliki nilai estetis untuk suatu rancangan dan spesifikasi suatu proses
industri

d. Hak desain tata letak sirkuit terpadu (integrated circuit), yakni perlindungan hak
atas rancangan tata letak di dalam sirkuit terpadu, yang merupakan komponen
elektronik yang diminiaturisasi

e. Rahasia dagang, yang merupakan rahasia yang dimiliki oleh suatu perusahaan
atau individu dalam proses produksi

f. Varietas tanaman

7.4 Dasar Hukum Hak Kekayaan Intelektual di Indonesia


Hukum mengatur beberapa macam kekayaan yang dapat dimiliki oleh seseorang
atau suatu badan hukum. Terdapat tiga jenis benda yang dapat dijadikan kekayaan
atau hak milik, yaitu :

1. Benda bergerak, seperti emas, perak, kopi, teh, alat-alat elektronik, peralatan
telekominukasi dan informasi, dan sebagainya;
2. Benda tidak bergerak, seperti tanah, rumah, toko, dan pabrik;
3. Benda tidak berwujud, seperti paten, merek, dan hak cipta.
Hak Atas Kekayaan Intelektual (HAKI) termasuk dalam bagian hak atas benda tak
berwujud. Berbeda dengan hak-hak kelompok pertama dan kedua yang sifatnya
berwujud, Hak Atas Kekayaan Intelektual sifatnya berwujud, berupa informasi, ilmu
pengetahuan, teknologi, seni, sastra, keterampilan dan sebaginya yang tidak
mempunyai bentuk tertentu.

Hak Atas Kekayaan Intelektual (HAKI) atau Hak Milik Intelektual (HMI) atau harta
intelek (di Malaysia) ini merupakan padanan dari bahasa Inggris intellectual
property right. Kata “intelektual” tercermin bahwa obyek kekayaan intelektual
tersebut adalah kecerdasan, daya pikir, atau produk pemikiran manusia (the
creations of the human mind) (WIPO, 1988:3).
Ruang Lingkup Hak Atas Kekayaan Intelektual (HAKI) yang memerlukan
perlindungan hukum secara internasional yaitu :

1. hak cipta dan hak-hak berkaitan dengan hak cipta;

2. merek;

3. indikasi geografis;

4. rancangan industri;

5. paten;

6. desain layout dari lingkaran elektronik terpadu;


7. perlindungan terhadap rahasia dagang (undisclosed information);

8. pengendalian praktek-praktek persaingan tidak sehat dalam perjanjian lisensi.

Pembagian lainnya yang dilakukan oleh para ahli adalah dengan mengelompokkan
Hak Atas Kekayaan Intelektual sebagai induknya yang memiliki dua cabang besar
yaitu :

1. Hak milik perindustrian/hak atas kekayaan perindustrian (industrial property


right);

2. Hak cipta (copyright) beserta hak-hak berkaitan dengan hak cipta (neighboring
rights).

Dasar Hukum Hak Kekayaan Intelektual (HAKI)

Pengaturan hukum terdapat hak kekayaan intelektual di Indonesia dapat ditemukan


dalam :
1. Undang – undang Nomor 19 Tahun 2002 tentang Hak Cipta.
2. Undang – undang Nomor 14 Tahun 2001 tentang Paten.
3. Undang – undang Nomor 15 Tahun 2001 tentang Merek.
4. Undang – undang Nomor 29 Tahun 2000 tentang Varietas Tanaman.
5. Undang – undang Nomor 30 Tahun 2000 tentang Rahasia Dagang.
6. Undang – undang Nomor 31 Tahun 2000 tentang Desain Industri.
7. Undang – undang Nomor 32 Tahun 2000 tentang Desain Tata Letak Sirkuit
Terpadu.

7.5 Hak Cipta


Hak cipta adalah hak eksklusif Pencipta atau Pemegang Hak Cipta untuk mengatur
penggunaan hasil penuangan gagasan atau informasi tertentu. Pada dasarnya, hak
cipta merupakan “hak untuk menyalin suatu ciptaan”. Hak cipta dapat juga
memungkinkan pemegang hak tersebut untuk membatasi penggandaan tidak sah
atas suatu ciptaan. Pada umumnya pula, hak cipta memiliki masa berlaku tertentu
yang terbatas.
Hak cipta berlaku pada berbagai jenis karya seni atau karya cipta atau “ciptaan”.
Ciptaan tersebut dapat mencakup puisi, drama, serta karya tulis lainnya, film, karya-
karya koreografis (tari, balet, dan sebagainya),komposisi musik, rekaman
suara, lukisan, gambar, patung, foto, perangkat lunak
komputer, siaran radio dantelevisi, dan (dalam yurisdiksi tertentu) desain industri.
Hak cipta merupakan salah satu jenis hak kekayaan intelektual, namun hak cipta
berbeda secara mencolok dari hak kekayaan intelektual lainnya (seperti paten, yang
memberikan hak monopoli atas penggunaaninvensi), karena hak cipta bukan
merupakan hak monopoli untuk melakukan sesuatu, melainkan hak untuk
mencegah orang lain yang melakukannya.
Hukum yang mengatur hak cipta biasanya hanya mencakup ciptaan yang berupa
perwujudan suatu gagasan tertentu dan tidak mencakup gagasan umum, konsep,
fakta, gaya, atau teknik yang mungkin terwujud atau terwakili di dalam ciptaan
tersebut. Sebagai contoh, hak cipta yang berkaitan dengan tokoh kartun Miki
Tikus melarang pihak yang tidak berhak menyebarkan salinan kartun tersebut atau
menciptakan karya yang meniru tokoh tikus tertentu ciptaan Walt Disney tersebut,
namun tidak melarang penciptaan atau karya seni lain mengenai tokoh tikus secara
umum.
Di Indonesia, masalah hak cipta diatur dalam Undang-undang Hak Cipta, yaitu,
yang berlaku saat ini, Undang-undang Nomor 19 Tahun 2002. Dalam undang-
undang tersebut, pengertian hak cipta adalah “hak eksklusif bagi pencipta atau
penerima hak untuk mengumumkan atau memperbanyak ciptaannya atau
memberikan izin untuk itu dengan tidak mengurangi pembatasan-pembatasan
menurut peraturan perundang-undangan yang berlaku” (pasal 1 butir 1).
7.6 Hak Paten
Paten adalah hak eksklusif yang diberikan oleh Negara kepada Inventor atas hasil
Invensinya di bidang teknologi, yang untuk selama waktu tertentu melaksanakan
sendiri Invensinya tersebut atau memberikan persetujuannya kepada pihak lain
untuk melaksanakannya. (UU 14 tahun 2001, ps. 1, ay. 1)
Sementara itu, arti Invensi dan Inventor (yang terdapat dalam pengertian di atas,
juga menurut undang-undang tersebut, adalah):

§  Invensi adalah ide Inventor yang dituangkan ke dalam suatu kegiatan pemecahan


masalah yang spesifik di bidang teknologi dapat berupa produk atau proses, atau
penyempurnaan dan pengembangan produk atau proses. (UU 14 tahun 2001, ps. 1,
ay. 2)
§  Inventor adalah seorang yang secara sendiri atau beberapa orang yang secara
bersama-sama melaksanakan ide yang dituangkan ke dalam kegiatan yang
menghasilkan Invensi. (UU 14 tahun 2001, ps. 1, ay. 3)
Kata paten, berasal dari bahasa inggris patent, yang awalnya berasal dari
kata patere yang berarti membuka diri (untuk pemeriksaan publik), dan juga berasal
dari istilah letters patent, yaitu surat keputusan yang dikeluarkan kerajaan yang
memberikan hak eksklusif kepada individu dan pelaku bisnis tertentu. Dari definisi
kata paten itu sendiri, konsep paten mendorong inventor untuk membuka
pengetahuan demi kemajuan masyarakat dan sebagai gantinya, inventor mendapat
hak eksklusif selama periode tertentu. Mengingat pemberian paten tidak mengatur
siapa yang harus melakukan invensi yang dipatenkan, sistem paten tidak dianggap
sebagai hak monopoli.
 
7.7 Hak Merek
1. Pengertian

Merek atau merek dagang adalah nama atau simbol yang diasosiasikan dengan


produk/jasa dan menimbulkan arti psikologis/asosiasi.
2. Jenis-Jenis Merek

 Merek Dagang
Merek jasa adalah merek yang digunakan pada barang yang diperdagangkan oleh
seseorang atau beberapa orang secara bersama-sama atau badan hukum untuk
membedakan dengan barang-barang sejenis lainnya.

 Merek Jasa
Merek jasa adalah merek yang digunakan pada jasa yang diperdagangkan oleh
seseorang atau beberapa orang secara bersama-sama atau badan hukum untuk
membedakan dengan jasa-jasa sejenis lainnya.

 Merek Kolektif
Merek kolektif adalah merek yang digunakan pada barang dan/atau jasa dengan
karakteristik yang sama yang diperdagangkan oleh beberapa orang atau badan
hukum secara bersama-sama untuk membedakan dengan barang dan/atau jasa
sejenis lainnya.

Berbeda dengan produk sebagai sesuatu yg dibuat di pabrik, merek dipercaya


menjadi motif pendorong konsumen memilih suatu produk, karena merek bukan
hanya apa yg tercetak di dalam produk (kemasannya), tetapi merek termasuk apa yg
ada di benak konsumen dan bagaimana konsumen mengasosiasikannya.
Menurut David A. Aaker, merek adalah nama atau simbol yang bersifat membedakan
(baik berupa logo,cap/kemasan) untuk mengidentifikasikan barang/jasa dari
seorang penjual/kelompok penjual tertentu. Tanda pembeda yang digunakan
suatu badan usaha sebagai penanda identitasnya dan produk barang atau jasa yang
dihasilkannya kepada konsumen, dan untuk membedakan usaha tersebut maupun
barang atau jasa yang dihasilkannya dari badan usaha lain.
Merek merupakan kekayaan industri yang termasuk kekayaan intelektual.
Secara konvensional, merek dapat berupa nama, kata, frasa, logo, lambang, desain,
gambar, atau kombinasi dua atau lebih unsur tersebut.
Di Indonesia, hak merek dilindungi melalui Undang-Undang Nomor 15 Tahun 2001.
Jangka waktu perlindungan untuk merek adalah sepuluh tahun dan berlaku surut
sejak tanggal penerimaan permohonan merek bersangkutan dan dapat diperpanjang,
selama merek tetap digunakan dalam perdagangan.
3. Fungsi Merek

 Tanda Pengenal untuk membedakan hasil produksi yang dihasilkan seseorang


atau beberapa orang secara bersama-sama atau badan hukum dengan produksi
orang lain atau badan hukum lainnya.
 Sebagai alat promosi, sehingga mempromosikan hasil produksinya cukup
dengan menyebutkan mereknya.
 Sebagai jaminan atas mutu barangnya.
 Menunjukkan asal barang/jasa dihasilkan.
4. Pendaftaran Merek

Yang dapat mengajukan pendaftaran merek adalah :

 Orang (persoon)
 Badan Hukum (recht persoon)
 Beberapa orang atau badan hukum (pemilikan bersama)
5. Fungsi Pendaftaran Merek

 Sebagai alat bukti bagi pemilik yang berhak atas merek yang didaftarkan.
 Sebagai dasar penolakan terhadap merek yang sama keseluruhan atau sama
pada pokoknya yang dimohonkan pendaftaran oleh orang lain untuk barang/jasa
sejenis.
 Sebagai dasar untuk mencegah orang lain memakai merek yang sama
keseluruhan atau sama pada pokoknya dalam peredaran untuk barang/jasa
sejenis.
6. Hal-hal yang menyebabkan suatu merek tidak dapat di daftarkan

 Didaftarkan oleh pemohon yang tidak beritikad baik.


 Bertentangan dengan peraturan perundang-undangan yang berlaku,
moralitas keagamaan, kesusilaan, atau ketertiban umum.
 Tidak memiliki daya pembeda
 Telah menjadi milik umum
 Merupakan keterangan atau berkaitan dengan barang atau jasa yang
dimohonkan pendaftarannya. (Pasal 4 dan Pasal 5 UU Merek).
Persyaratan Hak Merek

1.       Mengajukan permohonan ke DJ HKI/Kanwil secara tertulis dalam Bahasa


Indonesia dengan melampirkan :

o    Foto copy KTP yang dilegalisir. Bagi pemohon yang berasal dari luar negeri sesuai
dengan ketentuan undang-undang harus memilih tempat kedudukan di Indonesia,
biasanya dipilih pada alamat kuasa hukumnya;

o    Foto copy akte pendirian badan hukum yang telah disahkan oleh notaris apabila
permohonan diajukan atas nama badan hukum;

o    Foto copy peraturan pemilikan bersama apabila permohonan diajukan atas nama
lebih dari satu orang (merek kolektif);

o    Surat kuasa khusus apabila permohonan pendaftaran dikuasakan;

o    Tanda pembayaran biaya permohonan;

o    25 helai etiket merek (ukuran max 9×9 cm, min. 2×2 cm);

o    surat pernyataan bahwa merek yang dimintakan pendaftaran adalah miliknya.

2.       Mengisi formulir permohonan yang memuat :

o     Tanggal, bulan, dan tahun surat permohonan;

o    Nama, alamat lengkap dan kewarganegaraan pemohon;

o    Nama dan alamat lengkap kuasa apabila permohonan diajukan melalui kuasa;
dan;

o    Nama negara dan tanggal penerimaan permohonan yang pertama kali dalam hal
permohonan diajukan dangan hak prioritas
3.       Membayar biaya permohonan pendaftaran merek.

7.8 Perlindungan Varietas Tanaman


Indonesia memiliki Undang-Undang No 14 tahun 2001 yang berkaitan dengan Paten
termasuk di dalamnya mengatur paten yang berkaitan dengan tanaman, dan
Undang-Undang Perlindungan Varietas Tanaman (PVT) yaitu undang-undang No 29
tahun 2000. Undang-undang paten dapat memberikan perlindungan bagi tanaman
yang dikembangkan melalui proses rekayasa genetika (Bioteknologi) yang berkaitan
dengan “proses” pembentukan tanaman, sedangkan Undang-Undang Perlindungan
Varietas Tanaman (PVT) dapat diberikan bagi varietas tanaman baru yang
memenuhi persyaratan Baru, Unik, Seragam, Stabil (BUSS).
Sebuah varietas dikatakan baru apabila tanaman tersebut belum pernah di
perdagangkan di Indonesia, namun jika telah di perdagangkan di Indonesia tidak
lebih dari 1 tahun, ataupun di luar negeri untuk tanaman semusim tidak lebih dari 4
tahun, dan untuk tanaman tahunan tidak lebih dari 6 tahun. Unik jika varietas
tanaman itu dapat dibedakan dari varietas lainnya yang telah ada, seragam jika sifat-
sifat utama atau penting dari varietas tanaman itu seragam meskipun bervariasi
akibat dari cara tanam dan lingkungan yang berbeda-beda, stabil jika sifat-sifatnya
tidak mengalami perubahan setelah ditanam berulang-ulang.

Dalam UU Paten dijelaskan bahwa pemberian paten bagi tanaman harus memiliki
syarat baru, mengandung langkah inventif dan dapat di terapkan di Indrustri.
Sedangkan UU perlindungan Varietas tanaman tidak memerlukan syarat-syarat
tersebut, cukup dengan syarat Baru, Unik, Seragam, Stabil (BUSS) saja.

Dari sisi perlindungan, Undang-undang paten lebih berkaitan dengan


perlindungan “proses” secara bioteknologi atau rekayasa genetika tanamannya,
sedangkan UU Perlindungan Varietas Tanaman (PVT) lebih berkaitan
dengan “produk jadinya” yaitu varietas tanaman nya itu sendiri yang di peroleh
melalui kegiatan pemuliaan tanaman (Plant Breeding).
Berdasarkan proses pengajuannya, paten tanaman dapat diajukan melalui Ditjen
Hak Kekayaan Intelektual (HKI) Departemen Hukum dan HAM RI, sedangkan
Perlindungan Varietas Tanaman (PVT) diajukan melalui Departemen Pertanian
Republik Indonesia. Perbedaan ini terjadi karena permohonan PVT memerlukan
pemeriksaan substantif dan uji BUSS yang lebih bersifat teknis.
Undang-Undang Perlindungan Varietas Tanaman (PVT) disahkan pada tanggal 20
Desember tahun 2000, undang-undang ini berfungsi untuk melindungi varietas
tanaman yang diajukan di Indonesia. Lahirnya undang-undang tersebut disambut
gembira oleh para pemulia tanaman (Plant Breeder) di Indonesia yang sekaligus
babak baru bagi perlindungan Hak Kekayaan Intelektual (HKI) (Utomo, S.T, 2006).
Semoga saja dengan adanya kedua undang-undang tersebut dapat memacu
pengajuan paten dan perlindungan varietas tanaman (PVT) seperti negara-negara
lain seperti diantaranya adalah Australia.
Berdasarkan data, pada tahun 1983 paten untuk pertama kalinya diberikan terhadap
varietas tanaman di Australia. Sejak saat itu sampai dengan tahun 1987, lebih dari
750 aplikasi diajukan dan 500 diantaranya telah mendapatkan sertifikat paten untuk
tanaman (Richard B. Jarvis, 1993 ; 212 dalam Hak Kekayaan Intelektual suatu
Pengantar). Sedangkan untuk Perlindungan Varietas Tanaman (PVT) sampai dengan
tahun 1992, ada sekitar 1000 aplikasi yang sudah diajukan oleh para pemulia
tanaman. (Patricia Loughlan, 1998 : 155).
Berdasarkan data pendaftaran paten “proses” tanaman transgenik pada Dirjen Hak
Kekayaan Intelektual (HKI) Departemen Kehakiman dan HAM RI dari tahun 1995
sampai dengan tahun 2001 terdapat 20 permohonan paten tanaman yang berasal
luar negeri. (Krisnawati, A, 2004 Perlindungan Hukum Varietas Baru Tanaman
dalam Perspektif Hak Paten dan Hak Pemulia).
Melihat pentingnya kedua undang-undang diatas, maka sudah saatnya para pemulia
tanaman (Breeder) Indonesia, perusahaan-perusahaan perbenihan di Indonesia,
lembaga-lembaga penelitian swasta dan milik pemerintah untuk memacu riset
mereka di bidang pertanian. Hal ini penting agar Indonesia mampu menghasilkan
banyak paten dan hak perlindungan varietas tanaman (PVT) baru di bidang
tanaman, serta menghasilkan varietas-varietas baru tanaman yang akan mendukung
kedaulatan dan ketahanan pangan Indonesia. Lebih jauh lagi kita bisa menghasilkan
varietas-varietas baru di bidang Hortikultura yang dapat kita ekspor keluar negeri,
sehingga bisa menghasilkan banyak devisa bagi Indonesia.
 
7.9 Rahasia Dagang
Rahasia dagang adalah informasi yang tidak diketahui oleh umum di
bidang teknologi dan/ atau bisnis dimana mempunyai nilai ekonomis karena
berguna dalam kegiatan usaha, dan dijaga kerahasiaannya oleh pemilik rahasia
dagang.
Lingkup perlindungan rahasia dagang meliputi metode produksi, metode
pengolahan, metode penjualan, atau informasi lain di bidang teknologi dan/atau
bisnis yang memiliki nilai ekonomi dan tidak diketahui oleh masyarakat umum.

Rahasia dagang mendapat perlindungan apabila informasi itu:

§  Bersifat rahasia hanya diketahui oleh pihak tertentu bukan secara umum oleh
masyarakat,

§  Memiliki nilai ekonomi apabila dapat digunakan untuk menjalankan kegiatan atau


usaha yg bersifat komersial atau dapat meningkatkan keuntungan ekonomi,
§  Dijaga kerahasiaannya apabila pemilik atau para pihak yang menguasainya telah
melakukan langkah-langkah yang layak dan patut.

Pemilik rahasia dagang dapat memberikan lisensi bagi pihak lain. Yang dimaksud
dengan lisensi adalah izin yang diberikan kepada pihak lain melalui suatu perjanjian
berdasarkan pada pemberian hak (bukan pengalihan hak) untuk menikmati manfaat
ekonomi dari suatu rahasia dagang yang diberikan perlindungan pada jangka waktu
tertentu dan syarat tertentu.

Tidak dianggap sebagai pelanggaran rahasia dagang apabila:

§  Mengungkap untuk kepentingan hankam, kesehatan, atau keselamatan


masyarakat,

§  Rekayasa ulang atas produk yang dihasilkan oleh penggunaan rahasia dagan milik
orang lain yang dilakukan semata-mata untuk kepentingan pengembangan lebih
lanjut produk yang bersangkutan.
Rahasia Dagang di Indonesia diatur dalam UU No 30 tahun 2000 tentang Rahasia
Dagang. Perlindungan rahasia dagang berlangsung otomatis dan masa perlindungan
tanpa batas.
7.10 Desain Industri
Desain industri (bahasa Inggris: Industrial design) adalah seni terapan di mana
estetika dan usability (kemudahan dalam menggunakan suatu barang) suatu barang
disempurnakan. Desain industri menghasilkan kreasi tentang bentuk, konfigurasi,
atau komposisi garis atauwarna atau garis dan warna atau gabungannya, yang
berbentuk 3 atau 2 dimensi, yang memberi kesan estetis, dapat dipakai untuk
menghasilkan produk, barang, komoditas industri atau kerajinan tangan. Sebuah
karya desain dianggap sebagai kekayaan intelektual karena merupakan hasil buah
pikiran dan kreatifitas dari pendesainnya, sehingga dilindungi hak ciptanya oleh
pemerintah melalui Undang-Undang No. 31 tahun 2000 tentang Desain Industri.
Kriteria desain industri adalah baru dan tidak melanggar agama, peraturan
perundangan, susila, dan ketertiban umum. Jangka waktu perlindungan untuk
desain industri adalah 10 tahun terhitung sejak tanggal penerimaan permohonan
Desain Industri ke Kantor Ditjen Hak Kekayaan Intelektual.
Desain Industri adalah cabang HKI yang melindungi penampakan luar suatu
produk. Sebelum perjanjian TRIPS lahir, desain industri dilindungi oleh Undang-
Undang Hak Cipta. Namun karena perkembangan desain yang sangat pesat, maka
perlu dibuatkan UU Khusus yang mengatur tentang desain industri.

Syarat – syarat Perlindungan Desain


Hak Desain Industri diberikan untuk desain industri yang baru, Desain Industri
dianggap baru apabila pada tanggal penerimaan, desain industri tersebut tidak sama
dengan pengungkapan yang telah ada sebelumnya, meskipun terdapat kemiripan.
Pengungkapan sebelumnya, sebagaimana dimaksud adalah pengungkapan desain
industri yang sebelum :
a. Tanggal penerimaan; atau
b. Tanggal prioritas apabila permohonan diajukan dengan hak prioritas.
c. Telah diumumkan atau digunakan di Indonesia atau luar Indonesia.
Suatu Desain Industri tidak dianggap telah diumumkan apabila dalam jangka waktu
paling lama 6 (enam) bulan sebelum tanggal penerimaannya, desain industri
tersebut :
1. Telah dipertunjukkan dalam suatu pameran nasional ataupun internasional di
Indonesia atau di luar negeri yang resmi atau diakui sebagai resmi; atau
2. Telah digunakan di Indonesia oleh pendesain dalam rangka percobaan dengan
tujuan pendidikan, penelitian, atau pengembangan.
Selain itu, Desain Industri tersebut tidak bertentangan dengan peraturan
perundang-undangan yang berlaku, ketertiban umum, agama, atau kesusilaan.

7.11 Desain Tata Letak Sirkuit Terpadu


Untuk mempermudahkan pengertiannya secara garis besar istilah “desain tata letak
sirkuit terpadu” dibagi dua yaitu “desain tata letak” dan “sirkuit terpadu”, yang
masing-masing pengertiannya adalah sebagai berikut:

Sirkuit Terpadu adalah suatu produk dalam bentuk jadi atau setengah jadi, yang
didalamnya terdapat berbagai elemen dan sekurang-kurangnya satu dari elemen
tersebut adalah elemen aktif, yang sebagian atau seluruhnya saling berkaitan serta
dibentuk secara terpadu didalam sebuah bahan semikonduktor yang dimaksudkan
untuk menghasilkan fungsi elektronik.
Desain Tata Letak adalah kreasi berupa rancangan peletakan tiga dimensi dari
berbagai elemen, sekurang-kurangnya satu dari elemen tersebut adalah elemen aktif,
serta sebagian atau semua interkoneksi dalam suatu sirkuit terpadu dan peletakan
tiga dimensi tersebut dimaksudkan untuk persiapan pembuatan sirkuit terpadu.