Anda di halaman 1dari 17

II.

TINJUAN PUSTAKA

A. Teknologi Bioflok

Teknologi bi
bioflok merupakan teknologi budi
dida
d ya yang didasarkan pad
budidaya pada

prinsip asim
asimilasi
imiilasi nitrogen anorganik
ano
norg
gan
nik
k ((amonia,
amonia
am ia, nitrit dan nit
nitrat)
itra
r t) oleh komunita
komunitas

mikroba
mikrob
oba (bakteri heterotrof)
het
eterrotrof)) ddalam
alam med
media
edia
ia bbudidaya
udid
ud iday
a a yang kkemudian
emudian dapat
em dapa

dimanfaatkan
dimanfaaatk
di tkan
an ooleh
leh organisme
orga
gani
nisme budidaya sebagai
ai sumber
sumber makanan
maka
makana
n n (Dee Schryve
Schryver

dkk.
k.,, 2008).
dkk., 20008). Bioflok
20 Bioflok merupakan suatu agregat yangg tersusun
terssusun
un atas
ata
t s bbakteri
akter

pemb
pembentu
uk flok, bakteri filamen, mikroalga (fitoplankton), protozoa,
pembentuk proto
tozoa, bahan
bah
ahaan organ
anik
organik

serrta pe
se
serta pemakan bakteri (Avnimelech, 2007) dan dapat mencapai ukur
uran hhingga
ukuran in
ngg
ggaa 100
00
1000

(De Schryver dkk., 2008). Konversi akumulasi nitrogen ano


μm (De organik
ik dalam
anorganik dal
alam
am

budiidaya
budidaya menjadi biomasa bakteri heterotrof bergantung pada rasi
sio
rasio

karb
karbon
o /nitrogen atau
karbon/nitrogen au C /N rrasio.
C/N asio. Manipulasi
si C /N rrasio
C/N asio dapat dilakukan
dilak
kuk
ukan dengan
den
enga
gan

penambahan sumber karbon ke me


medi
d a bu
media budidaya (Avnimelech dkk., 1999).

pro
odu
duks
ksii bakteri
Menurut Avnimelech dkk. (1999) C/N rasio optimal untuk produksi bakkter
ba

heterotr
he trof
of bberkisar
heterotrof erki
erkisa
sarr an
anta
tara
ra 112-15
antara 2-15
15 g : 1 gg.. Ad
Adanyaa ppemanfaatan
eman
emanfa
faat
atan
an nnitrogen
itrrogenn anorganik
it anoorganik
an

olleh bbakteri
oleh akt
kterii het
eter
erotrof menceg
heterotrof gah
a terjadi
mencegah dinnya akumulas
terjadinya asii nitrogen
akumulasi n trogen anorganik
ni ano
norrganik pada
pad

kolam budidaya yang dapat m enurunkan kualitas perairan. Penambahan sumber


menurunkan sumbe

karbon ke dalam air menyebab


bka
k n nitrog
menyebabkan gen dimanfaatkan oleh bakteri heterotro
nitrogen heterotrof

yang selanjutnya akan mensintesi


s s protein
mensintesis pr dan sel baru (protein sel tunggal)
tunggal).

seba
b gai pakan ikan sehingga dapat mengurang
Bioflok kemudian dimanfaatkan sebagai mengurangi

kebutuhan protein pakan.

5
6

Peningkatan pengambilan nitrogen karena pertumbuhan bakteri heterotrof

dapat menurunkan konsentrasi aamonia


monia
i lebi
lebih
bihh cepat
c pa
ce p t dibandingkan bakteri nitrifikasi
nitrifikasi.

Immobilisasi amoniaa oleh bakteri heterotrof terjadi


terjad
di lebih cepat karena laju

pertumbuhan da mikroba
dan hasil biomassaa mik
ikro ba pper
roba unit
n t substrat darii bakteri
er uni b kteri heterotrof 10
ba

kali lebih
h tinggi daripada
daripada bbakteri
pada nitrifikasi.
itrifikasii. Selain
akterii ni Sela
Se in itu,
lain tu,, adanya kom
itu komponen
mpo Poly-β-
p nen Poly-β

hydroxybutyrate
hydrroxybutyr
yrat
atee (P
(PHB) pada bbioflok
pada ioflok menjadikan bioflok
biof
bi lok dapat
oflo dapaat berperan
rperan sebagai
berp
be seb
ebagai agen

biokontrol
biokonntrol patogen
trol pat en pada ikan budidaya. PHB merupakan komponen
a ogen mponeen khusus
kom khus
kh u pada
usus pad sel
ada se

mikroba
obaa yang
mikrrob yanng bisa didegradasi intraseluler dan diproduks
diproduksi
ksi ol
oleh berbagai
eh berba
aga
g

mikroorganisme
miikr
kroo anisme sebagai respon terhadap kondisi stres fisiologis. PHB
oorgan HB telah
PH ah dditeliti
telah iteliit

dapat me
mencegah Artemia franciscana dari infeksi virus dan bakterii pato
patogen
togen (D
(De

Schryver
Schryveer dkk., 2008).

Di beberapa nega
Di gara
ra sseperti
negara eperti Israel, Amerika
ep Ame
meri
rika
ka T engah, dan beb
Tengah, ber
erapa ne
beberapa ega
gara
negara

la
lainnya telah membuktikan keberh
has
asil
i an
keberhasilann tteknologi
eknologi bioflok baik untuk nila merah,
mer
eraah

udan
ud a g va
udang vvaname,
name, dan udang windu (Avnimelech dan Ritvo, 2003). Budidaya
Budi
dida
daya
ya uudang
dang

vana
vaname
m sis
vaname iste
tem
m bi
sistem biof
oflo
lokk di IIndonesia
bioflok ndon
dones
esia
ia tel
elah
ah ddikembangkan
telah ikem
ik mba
bang
ngka
kann di beberapa
beb
ebeerapaa da
dae
erah ddi
daerah

Indone
nesi
sia bbeberapa
Indonesia ebberapa
pa ttahun
ahun terakhi
ir ini teta
terakhir api untuk budidaya
tetapi buddid
iday
aya ikan
ik air
ir tawar baru

dikembangkan di Indonesia. Tekni


nik bioflok da
Teknik ddapat
pat memberikan keuntungan terutam
terutama

dalam mempertahankan kualitas air


air dan ef
fisiensi pakan 10%–20% (Pantjara dkk
efisiensi dkk.,

2010). Menurut Hepher dan Prugnin


n (198
84), beberapa faktor kunci pengembangan
(1984),

sistem Bioflok dalam budidaya yaitu:

1. padat tebar tinggi

2. aerasi cukup untuk mempertahankan pencampuran (mixing) air, dan


7

3. Input bahan organik yang tinggi yang akan dimanfaatkan sebagai sumber

makanan oleh ikan dan ba


bakteri,
akt
kteerii, serta dapat
dap
apat menciptakan keseimbangan nutrien

yang dibutuhkan
dibutuhkaan bakteri seperti karbon dan nitrogen
nitroge
gen

B. Bakteri Heterotrofik
Heete
terotrofik

Sistem heterotrofik
hetter
erot
otro sistem
roffik merupakan si em bbudidaya
istem udid
ud aya ikan yangg menggunakan
iday

bakteri he
ba heterorofik
hete
tero
oro dan
an menggunakan sumber kkarbon
r fik da organik
a bon or
ar orga nikk sebagai
gani sebaga sumber
gai sumbe

energinya.
ener
ergi
giny
nya. Pada
ada sistem heterotrofik ini, amonia akan ddiubah
a Pad menjadi
iubah me
iu menj
njad biomassa
adi biom
omassa

bakteri.
bakt
ba Bakteri
kteeri. Bakteri heterotrofik akan mengkonversi limbah nitrogen
nitrogeen organik
organikk (amonia,
gani (amo
oni
na

nitrit,
nittrit, dan
ni dan nitrat) menjadi biomassa. Bakteri heterotrofik merupakan
an golongan
meruppakan gol
olongaan

bakteri a ik kkompleks
b kteeri yang mampu memanfaatkan dan mendegradasi senyawa organ
ba organik ompl
plek
ek

baik mengawali
k yang mengandung unsur C, H, dan N. Kelompok bakteri ini men
ngawali tahap
li tah
hap

degr
degrad
a asi senyawa or
degradasi orga
gani
nikk dengan serangk
organik gkai
aian
an ttahapan
serangkaian a apan reaksi en
ah enzi
zimatis,, dan
enzimatis, dan

menghasilkan senyawa yang lebih


lebi
bihh sederhana
seede
derhana atau senyawa anorganik, senyawa
seeny
nyaw
aw

ters
rseb
e ut digunakan sebagai sumber energi untuk pembentukan sel-sel
tersebut sel-s
-sel
el bbaru
arru dan

un
untukk reproduksi
repr
reprod
oduk
uksi
si yang
yan
angg menyebabkan
menyeb
ebab
abka
kann pertambahan
pert
pertam
ambbaha
hann po
popu
pula
lasi
si. Pemecahan
populasi. Peme
Pemecahaan se
enyaw
senyawa

orga
gani
nikk dapat
organik dapa
pat berlangsung
berl
berlangsung lebi
bihh cepat ap
lebih apabila tersed
dia ooksigen
tersedia ksig
i en yan
ng mencukup
yang mencukupi

(Parwanayoni, 2008).

Kelangsungan hidup bakteri


bakteri heterotrofik
heeterotrofik di perairan tergantung dari
dar

senyawa-senyawa organik baik uuntuk


ntuk energinya maupun sebagai sumber karbon

yang diperlukan untuk pembentukan


pembentukaan biomasanya. Dibandingkan dengan bakteri
bakter

autotrofik bakteri ini merupakan mikroorganisme yang dalam ekosistem berfungsi

menghancurkan bahan-bahan organik pencemar dalam perairan (Achmad, 2004).


8

Pertumbuhan bakteri hetrotrofik di perairan juga didukung oleh faktor

lingkungan, diantaranya yaitu kadar


kaada
darr oksigenn te
terl
terlarut,
r arut, pH dan suhu. Pertumbuhan dan

perkembangan mikroorganisme
mikroor
organisme banyak dipengaruhi oleh
ole
lehh konsentrasi ion hidrogen,
hidrogen

misalnya pH. Pada


ada kebanyakan ba
Pad bakteri umumnya
akteerii umumnyaa tumbuh optimum
mumn um antara pH 6,5 - 8,5
optimu

o, 2009).
(Waluyo, 2009).

Mikroba
Mikr
rob
obaa ya termasuk
yang terma
masu k bberasal
sukk bakteri heterotrofik dari
erasal dar
er genus
ri ge
genu
nus Mycoba
Mycobacterium,
b cterium

Streptomyces,
Streptom
omyc
yces robacterium, Bacillus dan Pseudomonas. Ge
Agrobacterium,
es, Ag
gro Genus Bacillus
Baci
Bacillu termasuk
l us terrma
m suk

salah
h satu bakteri
satu akteri heterotrofik, yang ketergantungan energinya bberasal
bak e asal
er al ddari oksidasi
ari oksid
ar das

atau
au ddeasimilasi
milasi senyawa karbon organik. Bacillus sp. dapat hidup dengan
easim den
ngann ba
baik
ik dalam
m

medium
dium sintetik berisi gula, asam-asam organik, alkohol sebagai sumber
medi ber kkarbon
sumb arbbon da
ar ddan
n

sebagai
se sumber nitrogen. Secara morfologi genus Bacillus merupakan tebal
n batangg teba
ba

an sspora
dengan pora central, su
ubt
bter
ermi
mina
n l maupun terminal.
subterminal termi
mina
nall. ppergerakannya
erge
er g rakannya den
enggan flag
dengan gellla
flagella.

Bacillus sp. banyak ditemui dalam la


Bacillus lapi
isa
san rhizosphere dan kemungkinan se
lapisan seba
bagga
sebagai

habi
hab ta
tatn
tnya
y . Pada habitat tersebut Bacillus tumbuh aktif pada pH 5,5-8,
habitatnya. 8,55 (A
5,5-8,5 (Abd
bdil
illah
(Abdillah,

2009
20 09).
).
2009).

Bakt
Bakterii heterotrofik
Bakteri heete
terrotrofik Bacillus
Baci
cill n enzi
l us sp menghasilkan im-enzim
im hidrofilik
enzim-enzim

pollisakarida, lemak serta menggunakannya sebaga


ekstrasellular yang memecah polisakarida, sebagai

sumber karbon dan energi. Kemamp


mpuan dalam
Kemampuan m menguraikan bahan-bahan organik ini
ini,

menyebabkan bakteri ini berperan ppenting


e ting
en ng dalam proses dekomposisi bahan-bahan

organik (Abdillah, 2009).


9

C. Budidaya Perikanan Sistem Intensif

Budidaya perikanan ssistem


isttem inte
is tens
nsif
if adalah sistem budidaya perikanan
intensif

paling modern. Budidaya


Bud
udidaya ikan intensif merupakan kegiatan
k giatan usaha yang efisien
ke

secara mik
mikro
kro tetapi inefisienn secara
seeca
cara
ra m
makro,
akro,, terutama apabi
ak apabila
bila
l ditinjau dari segi
seg

damp
dampaknya
paknya terhad
terhadap
dap llingkungan.
inggkungan. Sistem bu
in budi
budidaya
dida
daya
ya sseperti
eperti ini akan
ep n menghasilkan

total beban
to beba
bann li
limb
limbah
mbah pakan
pak
kan yang lebih banyak darip
daripada
ipad
ada yang tteretensi
eret
er eten
ensi menjadi
menja
jadi daging

ikan
an.. Limbah
ikan. Limb
Lim ah budidaya
budidaya yang dimaksud merupakan akum
mul
u asi da
akumulasi ddari
ri rresidu
esid
esi u or
orga
g nik
organik

yang beras
yang asal dari pakan yang tidak termakan, ekskresi amoniak,
berasal k, fecess ddan
an parti
ike
k l
partikel-

pa
par
rtikel
el pakan (Avnimelech dkk., 1994).
partikel

Budidaya perikanan ini dapat dilakukan di kolam atau tambak


tam
mbak ai
air pa
aya
y u
payau

deng
gan pengairan yang baik. Intensifikasi budidaya perikanan ditandai
dengan ditan
a dai de
deng
gan
dengan

pe
eni
ninngkatan padat pe
peningkatan pene
neba
bara
ran yang diikuti dengan
penebaran den
enga
gann pe
peningkatan pema
maka
kaian pa
pemakaian paka
kan
pakan

buatan kaya protein (Avnimelech,


h 22006).
0006)
6). Pembesaran ikan secara intensif dicirikan
diici
ciri
rik
kan

de
deng
ngan padat penebaran yang tinggi, teknik pemberian pakan dan
dengan n manaj
an ajeemen
manajemen

li
ling
n ku
k ng
ngan
lingkunganan yang
yan
angg baik
baik (Gunadi
(Gu
Gunadi
di ddkk.,
kk.,., 22009).
kk 009)
009).

P erganti
tian
Pergantianan air pada budi
didaya per
budidaya rik
ikanan intensif
perikanan intensi
siff dapat
d pa
dap t di
dillaku
kuka
kan sesering
dilakukan

mungkin sesuai dengan tingkat kepadatan ik


iikan.
an. Volume air yang diganti setiap hari
har

sebanyak 20% atau bahkan leb


ebih. Maka
lebih. anan hariannya 3% dari berat biomassa
Makanan

populasi ikan per hari. Makanan be


bberupa
ruppa pelet yang berkadar protein 25-26% dan

lemak 6-8%. Produksi ikan yang dih


hasilkan cukup tinggi (Sugiarto, 1988).
dihasilkan
10

D. Karakteristik Ikan Lele ( Clarias gariepinus, Burchell)

Ikan Lele termasuk ddalam


alam
alam jjenis
enis ikan
ika
kann air tawar dengan ciri–ciri tubuh yang

memanjang, agak bulat,


bu kepala gepeng, tidak memiliki
memiili
liki
k sisik, mulut besar, warna

sampai
kelabu sam sekitar
mpai hitam. Di seki mulut
itarr mu
mulu terdapat
ut te
terd
r ap nasal,
pat bagian nasal mandibula
l, maksila, mandibul

luar dan
dan mandibulaa ddalam,
alam
al masing-masing
am, masing-masi terdapat
ing te
terd
dap at sepasang
apat sep kumis.
epasang kumi kumis
is. Hanya kumi

ba
bagian mandibula
m andi
andibu yang
ng ddapat
b la yan apat digerakkan untuk meraba
uk m makanannya.
eraba ma
maka
kana Kulit
n nnya. Ku
K lele
lit lel

dumbo
mboo berlendir
dumb dir tidak bersisik, berwarna hitam pada bagi
berlendi
be bagian punggung
ian pun
ngg
ggun (dorsal)
ungg (d
(dorsa
al) dan

bagian
ba
bagi samping
amping (lateral). Sirip punggung, sirip ekor, dan siripp dubur
giaan sam dubu merupakan
burr me
m rupaaka
k n

sirip
si r p tunggal,
siri unggal, sedangkan sirip perut dan sirip dada merupakan si
tu sirip
iri ganda.
r p ga
gand
nda. Pada
a. Pad
da

sirip dada terdapat duri yang keras dan runcing yang disebut patil. Pa
Patil
atil lele dumbo
le dum
mbo

tidakk beracun (Suyanto, 2007).

Lele juga me
emi
mili
liki
ki alat
memiliki alat pernafasan tambahan
tam
amba
baha
hann berupa modifik
kas
asii dari bbusur
modifikasi usuu

insangnya. Terdapat sepasang pat


atil
il, ya
patil, yakn
kni duri tulang yang tajam, pada sir
yakni rip ssirip
sirip irip

da
dada
danya. Lele tidak pernah ditemukan di air payau atau air asin, kecuali
dadanya. keccua
ualii llele
elle lau
laut

ya ttergolong
yang ergo
er golo
long
ng ke
ke dalam
dala
dalam
m marga
marg
rgaa dan
dan suku
suku yangg berbeda
berb
berbed
edaa (Ariidae).
(Ari
(A riid
idae
ae)). H abit
abitat
atnya ddi
Habitatnya

su
ung
ngai
ai ddengan
sungai enga
gan ar
aru
us air yang perl
arus rlahan, raw
perlahan, wa, telaga, wadu
rawa, duk,
k, saw
waduk, ah
h yyang
sawah ang tergenang
an

air. Bahkan ikan lele bisa hidu


up pada air yang tercemar, misalkan di got-got dan
hidup

selokan pembuangan. Ikan lelee bersifat nokturnal, yaitu aktif bergerak mencar
mencari

makanan pada malam hari. Pada si


ssiang
angg hhari,
ari, ikan lele berdiam diri dan berlindung

di tempat gelap ( Saanin, 1984).


11

Menurut Saanin (1984), Klasifikasi ikan lele :

Filum : Chordataa

Kelas :P
Pisces
isces

Subkelas
Subk
kel
elas : Teleostei

Ordo Ostariophysi
: Os
Osta
ariophysi

Subordo
Su
ubo
bord
rdoo : Sil
Siluroidae
luroidae
i

Famili
Fami
Fam li : Clariidae

Genus
Ge
enus : Clarias

Spesies
S pesies : Clarias gariepinus, (Burchell, 1822 )

Padat
E. Pa
P daat Penebaran

Padat penebaran ikan adalah jumlah ikan atau biomassa yang ditebar
diteb
ba

pe
ers
rsaatuan luas atau vo
persatuan volu
lum
volumm wa
w dah pemelihara
wadah aan ikan.
pemeliharaan ika
kan.
n Padat penebaran
penebarran erat sekali
seka
sekal

kaitannya dengan produksi dan pe


pertum
umbbuhan ikan. Padat penebaran yangg ttinggi
pertumbuhan inggg
in

berp
berpengaruh terhadap kegiatan ikan budidaya yaitu kelangsungan
berpengaruh kelangsuung
ngan
n hhidup,
idup
id

pertum
pe mbu
buha
hann da
pertumbuhan dann ke
kese
seha
hattan ik
kesehatan ikan
an.. Pe
ikan. Peni
ning
ngka
kattan pa
Peningkatan pada
datt pe
padat pene
neba
bara
rann da
penebaran dapatt di
dila
lakukan
dilakukan

deeng
ngan m
dengan elakuk
l ukanan pengawasan
melakukan pengawasaan terhadap
ap empat faktor
fakto
or utama
u ama li
ut ling
gku
kungan, yaitu
lingkungan,

pengawasan suhu, pemberian pakan, supl


p ai oksigen, dan pembersihan limbah
suplai

terh
had
a ap emp
metabolisme. Pengawasan terhadap pat faktor tersebut memungkinkan untuk
empat

ika
kan tan
meningkatkan padat penebaran ikan npa harus mengurangi laju pertumbuhannya
tanpa

(Hepher dan Prugnin, 1984).

Langkah awal yang penting dalam usaha pemeliharaan ikan yaitu

pengaturan padat penebaran. Pengaturan padat penebaran pada suatu sistem lokasi
12

budidaya ikan bertujuan untuk menentukan secara tepat jumlah ikan optimal yang

ditebarkan pada suatu perairan


perairran ssehingga
ehingga
h dapa
da
dapat
pat menghasilkan produksi yang baik

secara kualitas da
dan kuantitas. Padat penebaran yang
yang terlalu tinggi akan

mengakibatkan
mengakibatkan berkurangnyaa ooksigen
atka ksig
ks en tterlarut
igen r t di dalam aair
erlaaru i dan secara tidak
ir

langsung
sung akan memp
langsu mempengaruhi
mpen g ruhii nafsu makan
enga mak n dan
kan dan pada
adaa akhirnya akan
pad aka
kann berpengaruh

terhadap
te p ppertumbuhan
ertu
er an iikan.
tumbuhan kan. Semakin tinggii ti kepadatan
tingkat ke
kepa
pada ikan dapat
d tan ik dapa

menyebabkan
me
eny
nyebabkan ssemakin
ebab emakin banyak masalah yang timbul, seperti
perti serangan
seepe seraang
ngan penyakit,
an pen
nya
y kit

memburuknya
memb
me uknya kualitas air serta terjadinya kompetisi dalam meng
mburuk mengambil
ngam pakan
ambil pa
aka
k n

(Stickney,
(Sti
(S t cknney, 1979).

Limbah
F. Li
L bah Nitrogen
mb

Nitrogen dan senyawanya tersebar dalam biosfer. Pada tu


tumbuhan
umbuhaan da
dan

hewa
hewan, senyawa nitro
hewan, roge
genn ditemukan
nitrogen di sebaga
gaii pe
sebagai peny
nyus
u un protein dan
penyusun an kklorofil.
lorofil.
l DDi

perairan nitrogen berupa nitroge


genn or
nitrogen orga
ganik dan anorganik. Nitrogen anor
organik orga
gan
nik
anorganik

terd
rdiri atas amonia (NH3+), nitrit (NO2¯ ), nitrat (NO3¯ ), dan mol
terdiri molekul
lek
ekul
ul ggas
as N2,

sediiki
se kitt nitrogen
sedikit nitr
ni trog
ogen
en organik
org
rgan
anik
ik berupa
beruppa pr
prot
otei
ein,
n, asam
protein, asa
sam
m am
min
ino,
o, dan
amino, dan uurea
reaa (E
re (Eff
ffendi,, 20
(Effendi, 20003).
2003).

Seluruh
Selluruhh nitrogen
nittrogen dalam pakan
ni pakan yan
yang
ang diberikan ke
kepa
kepada
pada iikan,
kan,
n, 225%-nya
5%-nya akan
5%

akan dikeluarkan dalam bentuk NH3 dan


digunakan ikan untuk tumbuh, 60%-nya akan

15%-nya akan dikeluarkan ber


bersama
rsa
s ma koto
kotoran
oran (Brune dkk., 2003). Nitrogen yang

terkandung dalam pakan ikan sebanyak


seeba
b nyyak 33% akan diekskresikan oleh ikan dan

dapat didaur ulang (Avnimelech ddkk.,


kk., 1992). Empat jalur utama kehilangan

nitrogen dari kolam adalah pemanenan ikan (31,5 %), denitrifikasi (17,4 %),
13

volatilisasi amonia (12,5%) dan akumulasi di sedimen dasar (22,6%) (Gross dkk.,

2000).

Nitrogen aakan
kan mengalami transformasi ddii dalam siklus nitrogen
nitrogen.

Transformasi
Transforma melibatkan
asi nitrogen ini me
m liiba
batk
tkan mikroorganisme.
an m ikro Transformasi
roorganisme. T ransformasi nitrogen
ra

tersebut
terseb sebagai
but adalah seba bberikut:
bagaai be rikut:
t

11.. Nitrifi
Nitrifikasi,
fika
kasi oksidasi
si,, yaitu ok
oksi dasi amonia menjadi ni
sid nitrit
nitr
trit nitrat.
it dan nit
itra
rat. Nitrifikasi
t. N itrifikaasi
s berjalan

secara
seca
secara optimum
imum pada pH 8. Bakteri nitrifikasi bersifatt m
ra optim mesofilik
esof ik dan
ofilik dan menyukai
men
nyu
y ka

suhu 330ºC.
su 0ºC.

Denitrifikasi,
2. Den
enitrifikasi, yaitu reduksi nitrat menjadi nitrit (NO2¯ ), ddinitrogen
initro
in oge
genn ok
ooksida
sidd

N2O), dan molekul nitrogen (N2). Proses ini melibatkan bakteri ddan
(N an jam
jamur
amur ((Ida,
Idaa
Id

2009).
2009).

G. Am
Amo
onia
Amonia

Amonia (NH3+) yang terka


terkandung
and
ndunng ddalam
alam suatu perairan merupakan salah
sallah ssatu
atu

hasil
hasi
hasill dari proses penguraian bahan organik. Amonia biasanya timbul akibat
aki
kiba
batt kotoran
koto
ko toran

organisme
orga
or g niism
me dan
dan ak
akti
aktivitas
tivi
vita
tass jasad
ja d re
reni
renik
nikk dalam
dala
dalam
m pr
prosess ddekomposisi
ekom
ekompo
posi
sisi
si bahan
bah
ahaan org
organik
rgan
anik
ik yang

kaya
ya akan
aka
k n nitrog
nitrogen.
i ogen
en. Tingginya ka
kkadar
dar amon
amonia
onia biasanya di
diik
diikuti
ikutii naiknya
naik
ikny
nyaa kkadar
adar nitri
nitrit

(Boyd, 1981). Amonia bebas yyang


ang tidak tterionisasi
erionisasi bersifat toksik terhadap biot
biota

dan toksisitas tersebut akan menin


meningkat
i gkat jikaa terjadi penurunan kadar oksigen terlarut.
terlarut

Ikan tidak dapat bertoleransi terhadap


terhad
dap
a kad
kadar
adar amonia bebas yang terlalu tinggi karena
karen

dapat mengganggu proses pengikatan


n oksigen oleh darah dan dapat menyebabkan

sufokasi (kematian secara perlahan karena lemas) (Effendi, 2003).


14

Keberadaan amonia mempengaruhi pertumbuhan karena mereduksi

masukan oksigen akibat rusaknya


russak
aknnya insang
insang,
g, me
m
menambah
nambah energi untuk detoksifikasi
detoksifikasi,

menggangu osmeregulasi
osmeere
regulasi dan mengakibatkan kerusakan
kerrus
u akan fisik pada jaringan

(Boyd, 1990).
9900). Puncak ekskresi
199 e i amonia
ekskres amonnia pada
am padaa ikan berukurann 4-20 g berlangsung

padaa waktu 4-6 jam setelah


am set pakan
etelah pemberian pak an ddimulai
akan ulai sampai 6-
imul
im 66-10
1 jam setelah
10

pperiode pemberian
eriode pe
pemb
mber pakan
e ian pakan berakhir (Merino dkk.,
paka kk., 2007). Po
dkk Potensi
Pote nsi pasokan
tens pasoka amonia
kan amoni

kee ddalam
am air bbudidaya
alam
al udidaya ikan adalah sebesar 75% dari kadar
kad nitrogen
dar nitro genn dalam
roge da ppakan.
pa kan

Sebanyak
Seba
Se k 70-80% nitrogen dalam pakan diubah menjadi amonia
banyak monia ooleh
am ekskresi
lehh eksk
le kre
r s

langsung
langsuung maupun melalui mineralisasi oleh bakteri (Wyk dan Avn
la Avnimelech,
elecch, 22007).
nimel 0077)

Amonia yang dikeluarkan oleh ikan di dalam air akann me


membentuk
emben
ntukk

kesetimbangan
kese ammonium
etimbangan dengan ion ammonium. Amonia dalam bentuk ionn amm
moniu
um

akan mengalami pproses


akan rose
ro sess ni
nitr
t ifikasi oleh bakteri
nitrifikasi bak
kte
teri
ri kkemoautotrof
emoautotrof menj
em njad
adii nitritt ddan
menjadi an

selanjutnya menjadi nitrat. Namun


Namu
un de
emi
mikkian dengan adanya bahan organik,, pr
demikian pros
ose
proses

mi
mikr
k obial yang berlangsung didominasi oleh bakteri heterotrofik yang
mikrobial ng lebih
leb
bih cepat
cepa

m enyer
erap
ap aammonium
menyerap mmon
mm oniu
ium
m menjadi
menjad
jadii biomasa
biom
bi omas
asaa ba
bakt
kterii. B
bakteri. akte
akteri
ri iini
Bakteri ni bbisa
isaa m
is enyer
erap
ap ssampai
menyerap ampa

50% ddari
50% arii jjumlah
umla
lahh ammonium terlarut
ter
erlarut dalam
dala
lam air (Monto
oya dan V
(Montoya elasco
l co, 2000).
Velasco,

H. Nitrit

Nitrit merupakan bentuk


k peralihann (intermediate) antara amonia dan nitra
nitrat

(Nitrifikasi) (Ida, 2009). Nitrit jug


ga dik
juga katakan sebagai hasil dari oksidasi ammoni
dikatakan ammonia

dalam proses nitrifikasi oleh bakteri autotropik Nitrosomonas, yang menggunakan

amonia sebagai sumber energi (Boyd,1981). Nitrit biasanya ditemukan dalam


15

jumlah yang sangat sedikit, lebih sedikit dari pada nitrat karena tidak stabil dengan

keberadaan oksigen (Ida, 200


2009).
09)
9).

Konsentrasi
Konsentrassi nitrit maksimum yang diperbolehk
diperbolehkan
hkan
a dalam kegiatan budidaya

ikan adalahh < 0.06 mg/L (Eff


(Effendi,
fendi 2003).
d , 20
2003
03). Toksisitas
oksisitas nitrit terhadap
). Tok terh dap ikan terutama
erha

dalam oksigen
m transpor oks
ksigen ddan
igen an kerusakan jjaringan.
arin
nga
gan. Nitrit
n. N itri
it mengoksidasi
ritt dalam darahh mengoksidas

haemoglobin
haemoglo
ha lobi menjadi
binn me
m methemoglobin
njadi me
meth
themoglobin yang tidak mampu
ak m mengikat
ampu m engi
en gika oksigen
k t oksige (Boyd,
gen (Boyd

1981).
1981
81).
).

Pada mereduksi
Paada masa pertumbuhan, bakteri heterotrofik meredu nitrit
duksi ni
nitr menjadi
triit menja
jad

amonium
amoniu
am um untuk digunakan dalam sintesis biomasa. Mikroorganisme
Mikroorgani mee cenderung
nis cen
ende
d runng

untukk mereduksi nitrit menjadi amonium karena amonium dapat digunakan


diggunaka untuk
kan un
ntukk

sintesis
sinteesis biomassa sel (Gottschalk, 1986). Amonium juga digunakan uuntuk
ntuk ssintesis
inteesii

assam amino dan prote


asam tein
in m
protein elalui glutamine ddan
el
melalui an gglutamat
luta
lutamat (Joklik dkk.
k.,, 19
dkk., 1992).

I Nitrat
I.

Senyawa nitrat merupakan hasil akhir dari proses bakteriologis


bak
akte
teri
riol
ologi

kemoau
ke auto
totr
trof
ofik
ik yyakni
kemoautotrofik akni
akni bbakteri
aktteri
ak ri nnitrifikasi.
itri
it rifi
fika
kasi
si.. Pada
Padda pproses
Pa rose
rosess ini
ini amonia
amon
amonia
ia terlebih
terleebi
bihh ddahulu
ahulu

diiub
ubah
diubahah menja
jadi
di nnitrit
menjadi itrit oleh bak
it kte
teri Nitroso
bakteri somonas sp. da
Nitrosomonas dann sela
l njjutny
t ya ni
selanjutnya nitrit diubah

Nitrrococcus sp.. (Montoya dan Velasco, 2000). Berbed


menjadi nitrat oleh bakteri Nitrococcus Berbeda

dengan amonia maupun nitrit, nnitrat


i rat jarang
it ng sekali menjadi masalah dalam budidaya

hewan akuatik baik di tawar, paya


au, ma
payau, maupun laut. Efek nitrat pada hewan akuatik

hampir sama dengan nitrit yaitu padaa transportasi oksigen dan proses osmoregulasi
osmoregulasi.

Kadar nitrat dalam air yang berbahaya bagi ikan maupun invertrebata berkisar

antara 1.000 – 3.000 ppm. Oleh karena itu,keracunan nitrat pada hewan akuatik
16

sangat jarang terjadi (Hanggono, 2004). Namun untuk ikan budidaya sebaiknya

kurang dari 10 ppm (Supratno


no dan
dan Kasnadi,
Kasnaadi
di, 2003).

J. Sumber Karbon (Molases)


(Molases)

Tetes
Tete an hhasil
tess tebu merupakan asill samping
as sam ng industri gula
amping la yang mengandung

senyawa
senyawa nitrogen, trace
yaw ace element,
trac
tr kandungan
element, dan kandu
dung an ggula
ngan ulaa yang cukup ttinggi
ul i ggi terutama
in

kandungan
kandunga
ka sukrosa
gann su
sukr sekitar
krosa sekitar 34% dan kandungan total
kita tota
to tal karbon
on ssekitar
ekit
ek % ((Suastuti,
itar 37% Suastuti

1998).
1998 ). Molases
98). es adalah salah satu sumber karbon yang da
Molases ddapat digunakan
paat di
digu
guna
nakan untuk

mempercepat
memp
memperceepat penurunan konsentarasi N-anorganik di dalam air. Molase
r. Mol
olas berbentuk
asee berben
ntu
t k

cair
ca bewarna
ewarna coklat seperti kecap dengan aroma yang khas (Suastu
i bew (Suastuti, 11998).
tuti, 19 98).
98 Oleh
) Ole
eh

karena
k renna itu, penambahan molases ke dalam media budidaya dihar
ka diharapkan
rap mampu
a kann mamp
m u

menurunkan
nurunkan amonia dan peningkatan pertumbuhan ikan sehingga
men hingga dapat
seh dapa
pa

meni
meningkatkan produ
meningkatkan uks
ksii ik
produksi ikan
an.
ikan.

K
K.. Pertumbuhan

Menurut Affandi dan Tang (2002), pertumbuhan adalah sebagai


Menurut seb
bagai
ai pproses
rose

pe
peruba
baha
hann uk
perubahan ukur
uran
an ((panjang,
ukuran panj
panjang, bberat
erat
erat aatau
tauu volume)
ta vollume
me)) pada
pada pperiode
erio
eriode
de wak
aktu
tu te
waktu ertentu
tertentu.

Pe
Pert
rtum
umbbuhhan ik
Pertumbuhan ikan
an dipengaruhi
hi oleh dua fa
faktor yaitu faktor
fak
akto
tor dalam
d lam dan
da dan faktor luar
luar.

Faktor dalam meliputi : umur, ketahanan


ketahanan tterhadap
erhadap penyakit dan kemampuan untuk

mendapatkan makanan. Sedan


ngk
g an fakto
Sedangkan tor luar meliputi : suhu, besarnya ruang
faktor

gerak, kualitas air, jumlah dan ku


ualitass makanan (Huet, 1975). Mudjiman (1995),
kualitas (1995)

yang menyatakan bahwa dengan


an pemberian pakan yang lebih banyak

menyebabkan pertumbuhan ikan lebih baik dibandingkan dengan jumlah sedikit,

sedangkan mortalitasnya menjadi sedikit.


17

L. Kelulushidupan

Kelulushidupan yang biasa


sa disebut
disebut Su rvival rate ( SR) adalah perbandingan
Surv
Survival

antara jumlah indivi


vidu
du yang hidup pada akhir pemeliharaan
individu pemelih
har
araan dengan jumlah individu

yang hidup diawal


diawal pemeliharaan.
pemeliharaaan. Ke
Kelu
Kelulushidupan
ulu
lushhidup
upan merupakan
n ppeluang
eluang hidup dalam

suatu saat
saat tertentu. K
Kelulushidupan
elul
eluluushidupan ikan dipengaruhi
dip
i en
enga
garu
ruhi
hi ooleh
leh faktor bio
biotik
oti
tik dan abiotik.
abiotik

Faktor
Fa bbiotik
ioti
iotikk yang
y ng mempengaruhi
ya mem
empengaruhi yaitu kompetitor,
komp
mpet
etitor, parasite,
para
parasi
site
te, umur
umur,
r, predasi,
predasi

kepaada
data
tann popu
kepadatan pullasi, kemampuan adaptasi dari hewan da
populasi, dann pena
n ng
ngan
anan
an man
penanganan anusia
manusia.

Faakt
ktor
or abiotik
Faktor abiiotik yang berpengaruh antara lain sifat fisika dan sif
fat
a kkimia
sifat imia
im ia dari su
uatu
suatu

ling
li ngkung
ngan perairan. Jumlah waktu pemberian pakan dan pemberian
lingkungan pemberria
i n sh
shel
elte
terr pad
shelter da
pada

k lam
ko m pemeliharaan akan mempengaruhi kelulushidupan ikan karena
kolam karen
na dapat
daapa

menggurangi ( Effendi, 2003).


mengurangi

Pertumbuhan ikann yang


Pertumbuhan yang baik
baik akan meningkatkan
meningk
gkat
atka
kann pr
pproduksi
oduksi dari us
sah
ahaa budida
usaha dayya
budidaya.

Besarnya produksi bergantung pad


adaa ting
pada ngkkat pertumbuhan dan kelulushidup
tingkat pan iikan
kelulushidupan kan

y ng dibudidayakan. Semakin besar jumlah ikan yang hidup dan semakin


ya
yang sem
emak
akiin besar
besa

ukur
uk u an bobot
ukuran bob
obot
ot individunya
ind
ndiv
ivid
idun
unya
ya maka
mak
akaa akan
akan ssemakin
emak
emakiin ttinggi
ingg
inggii ha
hasi
sill pr
hasil prod
oduk
uksi ( W
produksi ahyudi
Wahyudi,

20006
06).
2006).). Padat
Pad
datt ppenebaran
eneb
enebaran yang ti
ing
nggi berpengaruh
tinggi berpe
penngaruh terhadap
terhada
dapp ke giiatan
t iikan
kegiatan kan budidaya
ka

pertumbuhhan dan kesehatan


yaitu kelulushidupan, pertumbuhan kessehatan ikan ( Kordi dan Tancung, 2007).
2007)
18

M. Kualitas Air Pendukung

1. Oksigen Terlarut

Oksigen terlar
rut merupakan parameter kualitas ai
terlarut air yang paling menentukan

pada budiday
budidaya
aya ikan. Ketersediaan
Ketersed
diaan
an ooksigen
ksig
ks igen
en menentukan
menentukan ling
lingkaran
gka
k ran aktivitas ikan
ikan.

Kadarr ooksigen
ksigen terlar
terlarut
arut
ut bberfluktuasi
erfluktuasii secara hharian
er arria
iann da
dann mu
m
musiman,
siman, terga
tergantung
gantung pada

pencampuran
pencampuura
pe rann da
dan perg
pergerakan
ger
erak
akan massa air, aktivitass fo
fotosintes
fotosintesis,
sis
is,, respirasi,
resp
respirasi, ddan
a limbah
an

yangg masuk
mas ke badan air. Peningkatan suhu sebesar 10C ak
asuuk ke akan
n m
meningkatkan
eningk
en gkatkan

konsumsi
koons
nsum
umsi oksigen
oksigen sekitar 10% (Effendie, 2003).

Oksigen
ksigen dalam perairan berasal dari difusi O2 dari atmosfer
Oks er serta
serrta aaktivitas
k ivitaa
kt

f tosiintesis oleh fitoplankton maupun tanaman lainnya. Kebutuhan


fo
fotosintesis n oksig
igen ppada
oksigen ada
ad

ikan bergantung pada: kebutuhan lingkungan bagi spesies tertentu ddan


an keb
kebutuhan
butuhhan

kons
nsuumtif metabolisme
konsumtif metabolism
me tu
tubu
buhh ikan. Fungsi oks
tubuh ksig
igen
en bbagi
oksigen agi ikan yaitu : bberperan
ag erpperan da
er dala
lam
dalam

(m
mak
akan
nan
an)), dan untuk dapat melakukan aktivitas
pembakaran bahan bakarnya (makanan), akt
ktiv
vit
ita

(ber
(b eren
e ang, reproduksi, pertumbuhan). Ketersediaan oksigen bagi ikann menentukan
(berenang, mennent
ntuukan

akti
akt viita
tass ikan,
aktivitas ikan
ikan, konversi
konv
ko nver
ersi
si pakan
pakan
k n ddan
an llaju
ajuu pertumbuhan.
aj pert
pe rtumbu
buha
han.
n P adaa ko
ad
Pada kond
ndis
isii DO < 4 ppm
kondisi ppm,

an m
ikan asih
ih mampu
masih mam
mpu bertahan hi
idu
dup namu
hidup un pertumbuhan
namun n me
m nurun (t
menurun (tid
idak
ak optimal)
(tidak optimal).

Rentang tingkat DO optimal yait


tu ≥ 5 ppm. Rentang tingkat DO untuk pemeliharaan
yaitu

intensif yaitu 5-8 ppm. Batas to


oleransi ka
toleransi adar oksigen terlarut secara umum untuk
kadar

budidaya tambak adalah 3–10 ppm


pm, sedangkan
ppm, seedangkan nilai optimal untuk budidaya ddi

(Poeernomo, 1992).
tambak berkisar antara 4–7 ppm (Poernomo,
19

Kandungan oksigen terlarut dalam suatu perairan merupakan parameter

kualitas air yang paling kriti


kritis
tiss dalam
dallam bu
da bbudidaya
dida
di daya
y ikan, karena dapat mempengaruhi
mempengaruh

kelangsungan hid
hidup
dup ikan yang dipelihara. Oksigen yyang
angg terlarut di dalam perairan
an

sangat dib
dibutuhkan
utuhkan untuk proses
but o ess rrespirasi,
pros espi
espirasi, baik
rasi ba oleh tanaman
tanama
mann air, ikan, maupun

organisme
nisme lain yan
orgaani yang
angg hidup
dup di dalam
hidu dallam air (Su
(Supratno
Supr
pratno ddan
atno 2003).
an Kasnadi, 20
003
0 ).

Bakteri
Bakt
Ba erii heterotrofik
kter hetero
otr ofik dan bakteri autotro
trof autotrofik
ofi menggunakan
fikk meng
ggu
guna
naka oksigen
kan oksi
ige
gen dalam

proses
pros es pemanfaatan
oses anffaatan ammonia. Bakteri heterotrofikk adalah
peman lah bakteri
adaala bakt
bak eri yang

mengkonsumsi
meng
me nsumsi oksigen dalam proses perubahan amonia dengan
ngkons engan produk
den o uk akhir
prod
pr ak
khi

biomassa
biomaassa sel. Sedangkan bakteri autrofik nitrifikasi mengkonsum
bi mengkonsumsi ooksigen
msi ok sige
si dan
gen da
an

karbondioksida
karb akhirnya
bondioksida pada saat oksidasi amonia dengan produk ak nitrat
khirnyya ni
itrra

(Moriarty,
(Mooriarty, 1996).

Deera
raja
j t Keasaman ((pH)
2. Derajat pH))
pH

Derajat Keasaman (pH) me


meru
r pa
paka
kan suatu ukuran konsentrasi ion H. Se
merupakan Seca
car
Secara

allam
amiah perairan dipengaruhi oleh konsentrasi CO2 dan senyawa ya
alamiah yangg ber
ersifa
bersifat

as
asam. Dala
Dalam
m budidaya
Dalam budi
bu dida
daya
ya ikan
ika
kan le
lele
le nnilai
ilai
il ai pH
pH yang
ya dianjurkan
dia
ianj
njur
urka
kann ad
adal
alah
ah 66,5-8,5
adalah ,5-8
5 8,5 ((Pescod,
Pescod

19973
73).
1973).). A ir yan
Air ng m
yang empunyai pH antara 6,
mempunyai 6,7 sampai 8,66 m enddukkung
mendukung ng ppopulasi
opulasi ikan

dalam kolam. Dalam jangkaua


an pH terseb
jangkauan e ut pertumbuhan dan pembiakan ikan
tersebut

tidak terganggu (Sastrawijaya


a, 2009). Kisaran pH yang dapat menunjang
(Sastrawijaya,

pertumbuhan ikan adalah 6.5-9 (B


((Boyd,
oydd, 1982). pH merupakan salah satu fakto
faktor

terh
rhadap pertumbuhan dan aktivitas bakteri
lingkungan yang berpengaruh terhadap bakter

pengoksidasi amonia (Esoy dkk., 1998).


20

Bakteri nitrifikasi (bakteri pengoksidasi amonia) lebih menyukai

lingkungan yang basa dengan


denga
gann ti
tingkat pH optimal untuk pertumbuhan berkisar
berkisa

antara 7,5-8,5 (Am


(Ambarsari,
mbarsari, 1999). Nilai pH optimum
um bagi pertumbuhan bakter
bakteri

heterotrofik (Irianto
k adalah sekitar 6-77 (I
Iri
r an o ddan
anto Hendrati,
an Hen
e drati, 2003).

3. Suhu

Suhu
Su hu merupakan
an salah satu faktor penti
merupakan penting
ng dalam
ting dalam kehidupan
keh
ehid
idup
upan ikann terutama

dalam
dala
lam proses
m proses kkimia
pro imia dan biologi. Ikan akan tumbuh denga
dengan ik ppada
an baik ada su
ad ssuhu 25ºC-
huu 25ºC

32ºC.
32ºC
32 ºC. perubahan
rubahan suhu yang mendadak dapat menyebabkan
peeru ikan
kann sstress
an ika tress ddan
an

kemudian
kem
ke dian mati (Cholik, 1991). Suhu mempunyai pengaruh yangg besar
mudi bessar tterhadap
erhadaap
er

kelarutan
k laru
ke Ada
rutan oksigen. Setiap spesies mempunyai suhu optimumnya. A da iikan
kan ya
ka yang
n

mempunyai
mpunyai suhu optimum 15ºC, ada yang 24ºC, dan ada yang 32º
mem 32ºC. Jika
ºC. Jik suhu
ka su
uhu

berb
berbed
e a jauh dari op
berbeda pti
timu
mumn
mnya
ya, hewan itu akan
optimumnya, an m atii atau
at
mati a au bermigrasi ke daerah
at daerah ba
bar
ru
baru.

Selisih 5ºC sudah cukup untuk ik


kan m
ikan engakhiri hidupnya, terutama apabilaa tterjadi
en
mengakhiri erja
erjad

seere
rentak karena limbah panas (Sastrawijaya, 2009).
serentak

Suhu merupakan
Suhu mer
erup
upak
akan
an par
ram
amet
eter
er llingkungan
parameter ingk
in gkuungann ya
yang
ng ssangat
anga
angatt besar
bessar pe
be peng
ngar
aruhnya
pengaruhnya

paada hhewan
pada ewan aku
kuat
atiik. Suhu air ssangat
akuatik. angat berp
rpengaruh terh
berpengaruh rhad
adap
terhadapp sif
ifatt ffisik,
sifat issik
ik, kimia dan

biologi tambak, yang akibatnyaa mempenga


aruhi fisiologis kehidupan hewan akuatik
mempengaruhi

atau hewan air. Secara umum la


laju pertum
mbuhan ikan akan meningkat jika sejalan
pertumbuhan

dengan kenaikan suhu pada batas te


ttertentu.
rten
ntu. Jika kenaikan suhu melebihi batas akan

menyebabkan aktivitas metabolismee organisme air atau hewan akuatik meningkat,


meningkat

hal ini akan menyebabkan berkurangnya gas-gas terlarut di dalam air yang penting

untuk kehidupan ikan atau hewan akuatik lainnya. Walaupun ikan dapat
21

menyesuaikan diri dengan kenaikan suhu, akan tetapi kenaikan suhu melebihi batas

toleransi ekstrim (35°C) pada


pad
da waktu ya
yang
ang lama akan menimbulkan stress atau

kematian ikan (Supratno


(Sup
uprratno dan Kasnadi, 2003).

4. Total Dissolved
Dissol d ( TDS )
olved Solid

Total Dissolve
Disssol Solid
o ve S olid (TDS) t ukuran
(TDS) yaitu uku rann zat
kura za terlarut (ba
(baik
baik
i zat organik

maupun
m aupunn zzat
at aanorganik
n rganik
no misalnya:
ik m yang
ang terdapat
isalnya: garam dll) ya patt pada
terdapa sebuah
pad sebua larutan.
ah larutan

TDS
TD menggambarkan
DS me
men
nggamb million
mbarkan jumlah zat terlarut dalam part per m on (ppm)
illion (pp m) atau
ppm) u sama

dengan
de
deng milligram
ngan milligram perliter (mg/l). Tingkat konsentrasi garam ya
yang ttinggi
ingg
in air
ggi padaa ai

sa ai batas tertentu akan meningkatkan tekanan osmotik pada


sampai ikan
da ika sehingga
an se
sehi
h nggga

akan Besarnya
n menghambat pertumbuhan dan perkembangan ikan. Besarny kandungan
nya ka
kandun
nga
g n

garam
am biasanya disetarakan dalam bentuk konduktifitas listrik (EC) dengan
gara satuan
dengann satu
uan

ppm ( mg/l) atau mS/cm


ppm mS/
S/cm
cm (Kapoor,
(Ka
K po
p or, 2000).

N. H ipot
ip o esis
Hipotesis

1. Budidaya
Budid
diday
ayaa le
lele
le ddengan
enga
en gann sist
istem
em bbioflok
sistem io
ofl
flok
ok ddapat
apat
at m enin
eningk
gkat
atka
kann ku
meningkatkan kualit
tas aair
kualitas ir dan

m nurunkan
me an llimbah
menurunkan imbah nitrogen
im en.
nitrogen.

2. Budidaya lele dengan sistem


m bioflok dapat
daapat meningkatkan pertumbuhan.

3. Padat tebar maksimal yang dapat


dapat digunakan
diguunakan pada budidaya lele dengan sistem

bioflok adalah 4.000 ekor/m2.