Anda di halaman 1dari 21

BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

Geologi merupakan ilmu yang mempelajari tentang bumi, bagian dalam

maupun apek-aspek yang ada dipermukaan bumi, banyak bidang ilmu yang

mencangkup dalam ilmu geologi. Salah satu bidang ilmu tersebut adalah

petrologi.

Petrologi merupakan bidang khusus yang membahasa tentang batuan,

mulai dari proses pembentukan sampai terbentuknya, kondisi dari batuan yang

terbentuk dari berbagai aspek.Batuan Beku Asam adalah batuan yang terbentuk

dari magma asal yang bersifat sillisic (asam), yang umumnya berasal dari batas

lempeng konvergen yang mengalami partial melting pada kerak bagian bawah

(lower crust).

Sesuai dengan pengertian batuan beku asam tersebut dimana batuan beku

asam merupakan salah satu cabang materi pada ilmu Petrologi, maka praktikum

dibuat untuk membuat lebih memahami bagaimana mengenali batuan beku asam

pada batuan.

1.2 Maksud Dan Tujuan

Maksud dari praktikum ini untuk memperkenalkan jenis-jenis mineral

yang terdapat pada batuan. Tujuan dari praktikum acara pengenalan mineral yaitu:

1. Mengetahui tekstur setiap sampel yang dideskripsi

2. Mengetahui komposisi mineral setiap sampel yang dideskripsi


3. Mengetahui kegunaan setiap sampel yang dideskripsi

1.3 Alat Dan Bahan

Adapun alat dan bahan yang digunakan adalah sebagai berikut:

1. Sampel Batuan

2. ATM (Alat Tulis Menulis)

3. Alat uji kekerasan.

4. Buku Rocks and Minerals

5. Penuntun

6. Lembar kerja Praktikan


BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

3.1 Siklus Batuan

Batuan beku terbentuk sebagai akibat dari pendinginan dan pembekuan

magma. Pendinginan magma yang berupa lelehan silikat, akan diikuti oleh proses

penghabluran yang dapat berlangsung dibawah atau diatas permukaan Bumi

melalui erupsi gunung berapi. Kelompok batuan beku tersebut, apabila kemudian

tersingkap dipermukaan, maka ia akan bersentuhan dengan atmosfir dan hidrosfir,

yang menyebabkan berlangsungnya proses pelapukan.

Gambar 2.1 Siklus Batuan

Melalui proses ini batuan akan mengalami penghancuran. Selanjutnya,

batuan yang telah dihancurkan ini akan dipindahkan/digerakkan dari tempatnya

terkumpul oleh gayaberat, air yang mengalir diatas dan dibawah permukaan,
angin yang bertiup, gelombang dipantai dan gletser dipegunungan-pegunungan

yang tinggi. Media pengangkut tersebut juga dikenal sebagai alat pengikis, yang

dalam bekerjanya berupaya untuk meratakan permukaan Bumi. Bahan-bahan yang

diangkutnya baik itu berupa fragmen-fragmen atau bahan yang larut, kemudian

akan diendapkan ditempat-tempat tertentu sebagai sedimen. Proses berikutnya

adalah terjadinya ubahan dari sedimen yang bersifat lepas, menjadi batuan yang

keras, melalui pembebanan dan perekatan oleh senyawa mineral dalam larutan,

dan kemudian disebut batuan sedimen. Apabila terhadap batuan sedimen ini

terjadi peningkatan tekanan dan suhu sebagai akibat dari penimbunan dan atau

terlibat dalam proses pembentukan pegunungan, maka batuan sedimen tersebut

akan mengalami ubahan untuk menyesuaikan dengan lingkungan yang baru, dan

terbentuk batuan malihan atau batuan metamorfis. Apabila batuan metamorfis ini

masih mengalami peningkatan tekanan dan suhu, maka ia akan kembali leleh dan

berubah menjadi magma. Panah-panah dalam gambar, menunjukan bahwa

jalannya siklus dapat terganggu dengan adanya jalan-jalan pintas yang dapat

ditempuh, seperti dari batuan beku menjadi batuan metamorfis, atau batuan

metamorfis menjadi sedimen tanpa melalui pembentukan magma dan batuan

beku. Batuan sedimen dilain pihak dapat kembali menjadi sedimen akibat

tersingkap ke permukaan dan mengalami proses pelapukan. (Djauhari, Noor

2009)

2.2 Pengertian Batuan Beku

Batuan beku atau batuan igneus (dari Bahasa Latin: ignis, "api") adalah

jenis batuan yang terbentuk dari magma yang mendingin dan mengeras, dengan
atau tanpa proses kristalisasi, baik di bawah permukaan sebagai batuan intrusif

(plutonik) maupun di atas permukaan sebagai batuan ekstrusif (vulkanik). Magma

ini dapat berasal dari batuan setengah cair ataupun batuan yang sudah ada, baik di

mantel ataupun kerak bumi. Umumnya, proses pelelehan terjadi oleh salah satu

dari proses-proses berikut: kenaikan temperatur, penurunan tekanan, atau

perubahan komposisi. Lebih dari 700 tipe batuan beku telah berhasil

dideskripsikan, sebagian besar terbentuk di bawah permukaan kerak bumi.

Berdasarkan tempat pembekuannya batuan beku dibedakan menjadi

batuan beku extrusive dan intrusive. Hal ini pada nantinya akan menyebabkan

perbedaan pada tekstur masing masing batuan tersebut. Kenampakan dari batuan

beku yang tersingkap merupakan hal pertama yang harus kita perhatikan.

Kenampakan inilah yang disebut sebagai struktur batuan beku.

Batuan beku diklasifikasikan berdasarkan tempat terbentuknya, warna,

kimia, tekstur, dan mineraloginya.

1. Berdasarkan tempat terbentuknya batuan beku dibedakan atas :

a) Batuan beku Plutonik, yaitu batuan beku yang terbentuk jauh di perut

bumi.

b) Batuan beku Hypabisal, yaitu batuan beku yang terbentu tidak jauh

dari permukaan bumi

c) Batuan beku vulkanik, yaitu batuan beku yang terbentuk di

permukaan bumi
Berdasarkan warnanya, mineral pembentuk batuan beku ada dua yaitu

mineral mafic(gelap) seperti olivin, piroksen, amphibol dan biotit, dan mineral

felsic (terang) seperti Feldspar, muskovit, kuarsa dan feldspatoid.

2. Klasifikasi batuan beku berdasarkan warnanya yaitu:

a) Leucocratic rock, kandungan mineral mafic < 30%

b) Mesocratic rock, kandungan mineral mafic 30% - 60%

c) Melanocratic rock, kandungan mineral mafic 60% - 90%

d) Hypermalanic rock, kandungan mineral mafic > 90%

Berdasarkan kandungan kimianya yaitu kandungan SiO2-nya batuan beku

diklasifikasikan menjadi empat yaitu:

1. Batuan beku asam (acid), kandungan SiO2 > 65%, contohnya Granit,

Ryolit.

2. Batuan beku menengah (intermediat), kandungan SiO2 65% - 52%.

Contohnya Diorit,Andesit

3. Batuan beku basa (basic), kandungan SiO2 52% - 45%, contohnya

Gabbro, Basalt

4. Batuan beku ultra basa (ultra basic), kandungan SiO2 < 30% (Eddy dkk,

1984).

2.3 Asal Kejadian Batuan Beku

Batuan beku merupakan kumpulan (aggregate) dari bahan yang lebur yang

berasal dari selubung bumi (mantel). Sumber panas yang diperlukan untuk

meleburkan bahan ini berasal dari dalam bumi, dimana temperatur bertambah

dengan 300 C setiap kilometer kedalaman (geothermal gradient) . Bahan yang


lebur ini, atau magma, adalah larutan yang kompleks, terdiri dari silikat dan air,

dan berbagai jenis gas. Magma dapat mencapai permuakaan, dikeluarkan

(ekstrusi) sebagai lava, dan didalam bumi disebut batuan beku intrusif dan yang

membeku dipermukaan disebut sebagai batuan beku ekstrusif. Komposisi dari

magma tergantung pada komposisi batuan yang dileburkan pada saat

pembentukan magma. Jenis batuan beku yang terbentuk tergantung dari berbagai

faktor diantaranya, komposisi asal dari peleburan magma, kecepatan pendinginan

dan reaksi yang terjadi didalam magma ditempat proses pendinginan

berlangsung. Pada saat magma mengalami pendinginan akan terjadi kristalisasi

dari berbagai mineral utama yang mengikuti suatu urutan atau orde, umumnya

dikenal sebagai Seri Reaksi Bowen (Geologi ITB)

Gambar 2.2 Bowen Reaction Series


2.4 Jenis – Jenis Batuan Beku

Batuan beku secara umum terdiri atas 3 jenis yaitu batuan beku luar,

batuan beku dalam, dan batuan beku korok, ketiganya dibagi berdasarkan tempat

terbentuknya, dimana tempat pembentukan batuan beku dalam yaitu pada pada

kedalaman yang masih sangat jauh mendekati kerak bumi. Batuan beku korok

jenis batuan beku yang terbentuk pada kerak bumi yang hampir mendekati

permukaan, sedangkan batuan beku luar merupakan batuan beku yang terbentuk

pada atau mengalami pembekuaan di permukaan bumi.

Terdapat pula pembagian jenis batuan beku berdasarkan komposisi

kimianya, yang terdiri atas batuan beku asam, batuan beku intermediet, batuan

beku basa dan batuan beku ultrabasa. Dimana batuan beku asam merupakan

batuan beku yang memiliki komposisi kimia asam dan biasanya terbentuk pada

permukaan bumi bagian dalam, untuk batuan beku intermediet adalah batuan beku

transisi yang masih berkadar asam dan basanya juga masih terdapat. Batuan beku

basa adalah batuan beku yang komposisi kimianya berkadar basa dan biasanya

terbentuk pada permukaan bumi bagian luar. Dan yang terakhir adalah batuan

beku ultrabasa yang merupakan batuan beku yang kadar basanya sangat tinggi.

(Eddy dkk, 1984)

2.4 Batuan Beku Asam

Batuan beku Asam adalah batuan yang terbentuk dari magma asal yang

bersifat sillisic (asam), yang umumnya berasal dari batas lempeng konvergen

yang mengalami partial melting pada kerak bagian bawah (lower crust). Batuan
beku asam umumnya berwarna terang (felsik) dengan indeks warna <10%. Batuan

beku asam memiliki kandungan silika >65%. Batuan beku asam terbagi atas 2

yaitu batuan beku asam plutonik dan batuan beku asam vulkanik. (Eddy dkk,

1984)

2.4.1 Batuan Beku Asam Plutonik

Batuan beku asam plutonik terbentuk ketika magma yang meleleh

kemudian mendingin di bawah permukaan bumi. Hal itu disebabkan oleh

pergerakan tektonik lempeng yang saling bergerak dan bertumbukkan satu dengan

yang lainnya. Magma terperangkap di bawah permukaan bumi di dasar lempeng,

lalu magma tersebut akan mendingin dengan sangat lambat. Maka dari itu batuan

yang terbentuk pada batuan plutonik memiliki kristal yang hampir sempurna.

Yang termasuk contoh batuan beku asam plutonik adalah granit, adamelite dan

granodiorite. Batuan ini umumnya memiliki Indeks warna lebih kurang

10%(batuan felsic). (Djauhari, Noor 2009)

Gambar 2.3 Granit


2.4.2 Batuan Beku Vulkanik

Umumnya lava yang bersifat silisic (asam) dan banyak dike derajat

kristalisasinya sangat buruk, dan tipikal teksturnya berbutir halus sampai glassy.

Batuan beku asam vulkanik memiliki kandungan silika yang tinggi (>65%) namun

terbentuk pada temperatur yang rendah di permukaan bumi. Karena pendinginan

yang cepat maka tekstur batuannya cenderung berbutir halus. (Djauhari, Noor

2009)

Gambar 2.4 Riolit


BAB III
HASIL DAN PEMBAHASAN

3.1 Sampel Batuan Beku

Dalam praktikum yang telah dilakukan terdapat lima sampel btuan yang

telah diamati dan dekripsi pada laboratorium yaitu Riolit, Basalt Porphiri, Quartz

Diorit, Granit, dan Basalt.

3.1.1 Riolit

Gambar 3.1 Sampel 1

Sampel dengan nomor peraga BBA 2, termasuk golongan mineral Batuan

Beku Asam, dan berwarna Cokelat ssat lapuk dan saat keadaan segar berwarna

Putih Kecokelatan, dengan tekstur kristalinitas Hipokristalin yang berarti Kristal

pembentuknya tersusun dari sebagian Kristal dan sebgain gelas, Granularitas

Porpiroafanitik yang berarti phenokris terdapat pada massa dasar kristal yang

afanitik, bentuknya euhedral –subhedral dan relasi inequigranular karena terlihat

pada ukuran butir dari kristal – kristal penyusunnya yang tidak sama besar.

Struktur dari batuan tersebut adalah kompak karena pda batuan tersebut tidak

menunjukkan adanya pori – pori dan terlihat susunan yang kompak dari mineral -

mineralnya. Komposisi mineral dari batuan tersebut adalah Muskovit yang


berbentuk berlembar dan berwarna kehijauan dan berkomposisi kimia

KAl2(AlSi3O10)(F,OH)2 dengan presentasinya adalah 30 %. Kuarsa yang

berbentuk Prisma dan berwarna Putih Pudar dan berkomposisi kimia SiO2 dengan

presentasi mineral silika 10%. Selebihnya terdiri dari massa dasar yang berwarna

putih keokelatan dengan komposisi kimia silika dengan presentasi 60%. Sehingga

dari deskripsi dan berdasarkan klasifikasi Fenton maka dapat diketahui nama

sampel tersebut adalah Riolit.

Batu Riolit ini biasanya terbentuk dari magma granitik yang sebagian telah

didinginkan di bawah permukaan. Ketika magma tipe granitik ini meletus ada

beberapa batuan ukuran butir yang bisa terbentuk. Butiran kristal besar yang

terbentuk di bawah permukaan disebut dengan fenokris, dan batuan kristal kecil

yang terbentuk di permukaan disebut dengan groundmass atau massa dasar.

Letusan magma granitik dapat menghasilkan batu riolit, batu apung, batu obsidian

atau tuf. Batuan- batuan tersebut memiliki komposisi sama namun berbeda pada

kondisi pendinginannya.

Batu Riolit banyak dimanfaatkan oleh manusia sebagai batuan yang

menunjang pembangunan gedung. batu ini digunakan sebagai pendamping

konstruksi bangunan dan juga sebagai pelengkap ketika membangun sebuah

gedung, seperti halnya batu granit yang banyak digunakan untuk memperindah

tampilan suatu bangunan karena batu granit dan riolit ini mirip
3.1.2 Basalt Porphyry

Gambar 3.2 Sampel 2

Sampel nonmor urut 2 merupakan batuan beku basa, dalam keadaan segar

berwarna hitam sedangkan dalam keadaan lapuk berwarna abu – abu. Sampel ini

memilki kristalinitas hipokristalin Hipokristalin yang berarti Kristal

pembentuknya tersusun dari sebagian Kristal dan sebgain gelas, granularitas

porfiroafanitik yang berarti phenokris terdapat pada massa dasar kristal yang

afanitik dimana bentuk dari batuan ini adalah subhedrl – anhedraldan relasi yaitu

inequigranular karena terlihat pada ukuran butir dari Kristal – Kristal

penyusunnya yang tidak sama besar. Struktur dari batuan tersebut adalah kompak

karena pda batuan tersebut tidak menunjukkan adanya pori – pori dan terlihat

susunan yang kompak dari mineral - mineralnya. Pada sampel tersebut dijumpai

mineral kuarsa dengan bentuk prismatic dan berwarna putih pudar dengan

komposisi kimia SiO2 sebanyak 10%. Plagioklas dengan bentuk prismatic dan

berwarna putih susu dengan komposisi kimia NaAlSi3O8 sebanyak 15%, Piroksin

dengan bentuk prismatic dan berwarna hitam dengan komposisi kimia

XY(Si,Al)2O6 sebanyak 55%, selebihnya terdiri dari massa dasar sebanyak 20%.

Sehingga dari deskripsi dan berdasarkan klasifikasi Fenton maka dapat diketahui

nama sampel tersebut adalah Basalt Paorphyry.


Basalt adalah batuan beku vulkanik yang berasal dari hasil pembekuan

magma yang berkomposisi basadipermukaan atau dekat permukaan bumi.

Biasanya akan membentuk lempeng samudra di dunia. Mempunyai ukuran butir

yang sangat baik sehingga kehadiran mineral – mineral tidak terlihat. Basalt

adalah umum ekstrusif batuan vulkanik. Biassnya berwarna abu – abu menjadi

hitam dan halus karena pendinginan yang cepat dari lava pada suhu permukaan.

Basalt kerap digunakan sebagai bahan baku dalam industri poles, bahn

bangunan (gedung, jalan, jembatan, dll) dan sebagai agregat

3.1.3 Quartz Diorit

Gambar 3.3 Sampel 3

Sampel nomor urut 3, termasuk golongan mineral Batuan Beku Asam,

dan berwarna cokelat ssat lapuk dan saat keadaan segar berwarna kuning

kecokelatan, dengan tekstur kristalinitas Holokristalin yang berarti tersusun atas

Kristal – krital yang nampak jelas, Granularitas Faneritik dimana Kristal – Kristal

dari mineral penyusunya tampak jelas dan dapat dibedakan secara megaskopis,

bentuknya euhedral –subhedral dan relasinya inequigranular dimana ukuran dari

butir kristl penyusunnya tidak sama besar. Struktur dari batuan tersebut adalah

kompak karena pda batuan tersebut tidak menunjukkan adanya pori – pori dan

terlihat susunan yang kompak dari mineral - mineralnya. Komposisi mineral dari
batuan tersebut adalah Biotit yang berbentuk Kristal berlembar dan berwarna

hitam dan berkomposisi kimia K(Mg Fe)3AlSi3O10(OH)2 dengan presentasinya

adalah 20%. Kuarsa yang berbentuk Prismatik dan berwarna Putih Pudar dan

berkomposisi kimia SiO2 dengan presentasinya 30%. Plagioklas yang berbentuk

prismatic dan berwarna putih dan berkomposisi kimia NaAlSi3O8 dengan

presentasi 30%. Ortoklas yang berbentuk prismatic dan berwarna kehijauan

dengan presentasi mineral 20% .Sehingga dari deskripsi dan berdasarkan

klasifikasi Fenton maka dapat diketahui nama sampel tersebut adalah Quartz

Diorit.

Merupakan batuan hasil terobosan batuan beku (instruksi) yang Terbentuk

dari hasil peleburan lantai samudra yang bersifat mafic pada suatu subduction

zone. biasanya diproduksi pada busur lingkaran volkanis, dan membentuk suatu

gunung didalam cordilleran ( subduction sepanjang tepi suatu benua, seperti pada

deretan Pegunungan). Terdapat emplaces yang besar berupa batholiths ( banyak

beribu-ribu mil-kwadrat) dan mengantarkan magma sampai pada permukaan

untuk menghasilkan gunung api gabungan dengan lahar andesite. Termasuk jenis

batuan beku dalam.

Batu Quartz Diorit ini dapat dijadikan sebagai batu ornamen dinding

maupun lantai bangunan gedung atau untuk batu belah untuk pondasi bangunan /

jalan raya.
3.1.4 Granit

Gambar 3.4 Sampel 4

Sampel dengan nomor peraga IG4, termasuk golongan mineral Batuan

Beku Asam, dan berwarna cokelat kehitaman ssat lapuk dan saat keadaan segar

berwarna abu - abu kekuningan, dengan tekstur kristalinitas Holokristalin yang

berarti tersusun atas Kristal – krital yang nampak jelas, Granularitas Faneritik

dimana Kristal – Kristal dari mineral penyusunya tampak jelas dan dapat

dibedakan secara megaskopis, bentuknya euhedral –subhedral dan relasinya

inequigranular dimana ukuran dari butir kristl penyusunnya tidak sama besar.

Struktur dari batuan tersebut adalah kompak karena pda batuan tersebut tidak

menunjukkan adanya pori – pori dan terlihat susunan yang kompak dari mineral -

mineralnya. Komposisi mineral dari batuan tersebut adalah Biotit yang berbentuk

Kristal pipih dan berwarna hitam dan berkomposisi kimia

K(Mg,Fe)3AlSi3O10(OH)2 dengan presentasinya adalah 27%. Kuarsa yang

berbentuk Prismatik dan berwarna Putih Pudar dan berkomposisi kimia SiO2

dengan presentasi mineral 8%. Plagioklas yang berbentuk prismatic dan berwarna

putih dan berkomposisi kimia NaAlSi3O8 dengan presentasi 20%. Ortoklas yang

berbentuk prismatic dan berwarna merah muda dengan presentasi mineral 45% .
Sehingga dari deskripsi dan berdasarkan klasifikasi Fenton maka dapat diketahui

nama sampel tersebut adalah Granit.

Batuan ganit termasuk kategori batuan beku intrusif, yaitu batuan beku

yang terjadi akibat proses intrusi magma. Arti dari intrusi magma sendiri adalah

proses menerobosnya magma dari dalam perut bumi melalui celah- celah kerak

bumi, tapi tidak sampai ke permukaan. Proses terbentuknya batuan granit

merupakan bagian dari proses pembentukan batuan beku, akan tetapi tidak sama

dengan proses terbentuknya batuan sedimen maupun batuan metamorf. Berikut

adalah uraian yang lebih jelas tentang proses terbentuknya batuan granit : Proses

pembentukan batuan Granit diawali dari bergeraknya magma dari dapur magma.

Setelah itu magma mendapat tekanan dari bawah. Magma yang bersifat lebih

ringan dari batuan lain terus ditekan sehingga bergerak ke atas mendekati

permukaan bumi.Pergerakan magma terhenti hanya sampai di bawah lapisan

tanah karena tekanan yang diberikan terlalu kecil. Magma yang berada di dalam

lapisan kulit bumi lama kelamaan mengalami proses kristalisasi karena suhu di

dekat permukaan bumi lebih rendah daripada suhu di dalam dapur magma.

Setelah mengalami proses kristalisasi, maka magma akan membeku dan menjadi

batuan granit yang termasuk dalam jenis batuan beku.

Sifat batuan Granit yang keras dan kuat membuat batuan tersebut banyak

dimanfaatkan dalam berbagai bidang. Masyarakat sering melakukan

penambangan batu granit. Bahkan batu granit menjadi salah satu dari jenis jenis

batuan yang paling sering dicari sebagai batuan dimensi, yaitu potongan batu alam

berbentuk lembaran tebal atau balok dengan panjang dan lebar tertentu. Saat ini
batuan granit dapat ditemukan dengan mudah oleh para penambang, padahal

letaknya jauh di dalam kerak bumi

3.1.5 Basalt

Gambar 3.5 Sampel 5

Sampel dengan nomor peraga BBB 13, termasuk golongan mineral

Batuan Beku Basa, dan berwarna abu – abu kecokelatan ssat lapuk dan saat

keadaan segar berwarna abu - abu gelap, dengan tekstur kristalinitas Holokristalin

yang berarti tersusun atas Kristal – krital yang nampak jelas, Granularitas

Faneritik dimana Kristal – Kristal dari mineral penyusunya tampak jelas dan

dapat dibedakan secara megaskopis, bentuknya euhedral –subhedral dan relasinya

inequigranular dimana ukuran dari butir kristl penyusunnya tidak sama besar.

Struktur dari batuan tersebut adalah kompak karena pda batuan tersebut tidak

menunjukkan adanya pori – pori dan terlihat susunan yang kompak dari mineral -

mineralnya. Komposisi mineral dari batuan tersebut adalah Biotit yang berbentuk

Kristal berlembar dan berwarna hitam dan berkomposisi kimia

K(Mg,Fe)3AlSi3O10(OH)2 dengan presentasinya adalah 27%. Kuarsa yang

berbentuk Prisma dan berwarna Putih Pudar dan berkomposisi kimia SiO2 dengan

presentasi mineral 8%. Plagioklas yang berbentuk prismatic dan berwarna putih

susu dan berkomposisi kimia NaAlSi3O8 dengan presentasi 20%. Piroksin yang
berbentuk prismatic pendek dan berwarna hitam dengan presentasi mineral 45% .

Sehingga dari deskripsi dan berdasarkan klasifikasi Fenton maka dapat diketahui

nama sampel tersebut adalah Basalt.

Sebagian besar basal di bumi dihasilkan pada batas lempeng divergen pada

sistem "mid-ocean ridges" (pematang tengah samudra). Arus konveksi dari dalam

mantel menghasilkan peluruhan/melting pada batuan yang ada sebelumnya. Hasil

ini akan terbentuk sebagai batas divergen yang tertarik/terpisah dan meletus di

dasar laut (letusan submarine fissure), dan letusan ini sering menghasilkan basal

bantal (pillow basalts)

Batu basal digunakan untuk berbagai macam keperluan. Batu basal sering

dihancurkan untuk digunakan sebagai agregat dalam proyek kontruksi. Selain itu

basal juga dapat dimanfaatkan sebagai pondasi jalan (landasan), agregat beton,

agregat aspal/trotoar, dan ballast kereta api. Basal juga dapat dipotong dan dipoles

menjadi sebuah batu ornamen bangunan seperti ubin lantai dan monumen/tugu.

.
BAB IV
PENUTUP

4.1 Kesimpulan

Adapun kesimpulan yang didapatkan dari pengamatan yang telah diadakan

adalah sebagai berikut:

1. Dalam pengamatan sampel dilihat secara megaskopis,. Tekstur dari sampel

batuan adalah: Kristalinitas adalah hipokristalin untuk sampel 1 dan 2,

holokristali untuk sampel 3,4 dan 5. Ada pula Grabularitas yaitu

Porpiroafanitik untuk sampel 1 dan 2 sedangkan Faneritik untuk sampel 3,

4 dan 5. Dan bentuk ialah Euhedral-subheral untuk sampel 1,3,4, dan 5,

dan subhedral – anhedral untuk sampel 2. Terakthir untuk relasi

inequigranular untuk sampel 1,2, dan 3 sedangkan equigranular untuk

sampel 4 dan 5

2. Komposisi mineral dari Riolit terdiri dari Muskovit, Kuarsa, dan Massa

dasarr. Basalt Porphyry terdiri dari Kuarsa, Plagioklas, Piroksin dan

Massa dasar. Quartz Diorit terdiri dari Ortolas, Kuarsa, Biotit, dan

Plagioklas. Granit terdiri dari Ortoklas, Kuarsa, Plagioklas, Biotit. Basalt

terdiri dari Biotit, Kuarsa, Plagioklas, dan Piroksin.

3. Kegunaan tiap – tiap sampel yang dideskripsi adalah :

- Riolit banyak dimanfaatkan oleh manusia sebagai batuan yang

menunjang pembangunan gedung. batu ini digunakan sebagai pendamping

konstruksi bangunan
- Basalt kerap digunakan sebagai bahan baku dalam industri poles,

bahn bangunan (gedung, jalan, jembatan, dll) dan sebagai agregat.

- Quartz Diorit ini dapat dijadikan sebagai batu ornamen dinding

maupun lantai bangunan gedung atau untuk batu belah untuk pondasi

bangunan / jalan raya

- Granit menjadi salah satu dari jenis jenis batuan yang paling sering

dicari sebagai batuan dimensi, yaitu potongan batu alam berbentuk

lembaran tebal atau balok dengan panjang dan lebar tertentu.

- Basalt sering dihancurkan untuk digunakan sebagai agregat dalam

proyek kontruksi.

4.2 Saran

Adapun saran yang akan diberikan ialah:

1. Terus ditingkatkan ketertiban

2. Terus ditingkatkan kebersihan lab