Anda di halaman 1dari 13

B.

Identifikasi Ternak

1. Recording

Recording adalah suatu rangkaian pencatatan kejadian-kejadian dan informasi-


informasi penting tentang individu ternak atau sekelompok individu ternak dan
keluaran dari masing-masing ini adalah kartu recording. Recording yang baik adalah
recording yang data-datanya dapat dipertanggung jawabkan dan dapat dipercaya serta
selalu aktual tiap hari. Recording akan mempermudah membuat keputusan yang ada
pada program selanjutnya.

Tujuan

Mahasiswa mengetahui macam-macam recording dan apa yang harus ada


dalam form recording pada ternak potong.

Materi dan metode

Metode yang paling akurat dalam melakukan identifikasi ternak adalah


metode pencatatan atau recording. Alat yang digunakan adalah alat tulis , form
recording.
Form recording untuk sapi potong

KARTU CATATAN PRODUKSI INDUK


2. kastrasi

Kastrasi atau lebih popular dan dikenal dengan istilah “pengebirian” adalah
salah satu aspek penting dalam tatalaksana pemeliharaan dan perawatan ternak untuk
tujuan penggemukan (ternak potong). Kastrasi / pengebirian adalah usaha untuk
menghilangkan fungsi reproduksi ternak jantan sebagai pejantan atau pemacek,
dengan cara menghambat proses pembentukan dan pengeluaran sperma. Kastrasi
Pada Ternak dapat dilakukan dengan jalan mengikat, mengoperasi maupun
memasukan cairan tertentu kedalam organ tubuh tertentu.
Tujuan
Kastrasi secara umum bertujuan untuk penggemukan ternak jantan sehingga
kualitas daging lebih baik dan mengurangi tingkat agresifitas ternak.
Materi dan metode
Berdasarkan cara melakukan kastrasi dikenal dua bentuk, yaitu Kastrasi
Tertutup dan Kastrasi Terbuka.

Kastrasi Tertutup

Kastrasi tertutup menggunakan tang burdizzo digunakan untuk menjepit leher


secrotum (saluran tes-tes) pada ternak yang sudah dewasa. Dengan tujuan untuk
menghambat saluran tes-tes dan akhirnya fungsi tes-tes semakin lama semakin
mengering cara ini tidak menimbulkan luka dan pendarahan maka dari itu kastrasi ini
disebut dengan metode tertutup.

Kastrasi Terbuka

Kastrasi terbuka adalah kastrasi yang dilakukan dengan jalan pembedahan


untuk mengeluarkan testes, cara ini efektif dilakukan pada ternak yang berumur 7-14
hari.
Secara sederhana kastrasi terbuka atau yang melalui proses operasi disajikan
dalam gambar berikut :
1. bersihkan daerah yang akan dioperasi dengan desinfektan. Kemudian bagian
yang akan dikelola dioles dengan yodium tincture
2. operasi bias dilakukan dengan peralatan untuk memotong dan harus tajam
(pisau,silet atau alat pemotong lainya) dan harus dalam keaadaan steril untuk
mencegah hal-hal yang tidak diinginkan misalnya terjadinya infeksi terhadap
luka yang dihasilkan.

3. buatlah sayatan pada kulit scrotum dan kantong testes untuk memudahkan
proses penegluaran testes dari kantongnya.
4. Tekan dengan hati-hati dan keluarkan testes dari kantongnya. Kelenjer yang
menggantung testes harus diikat terlebih dahulu untuk mencegah pendaharaan
yang berlebihan.
5. Kelenjer penggantung testes dipotong tepat dibawah bagian yang diikat

6. Melalui bukaan pada kulit scrotum yang sudah ada, buatlah sayatan pada
kantong testes untuk mengeluarkan testes ke dua.
7. Testes kedua dikeluarkan melalui sayatan pada kulit scrotum, dan proses
pengambilannya sama dengan apa yang sudah dilakukan pada testes pertama.

8. Pengambilan testes kedua selesai dilakukan , kulit scrotum kembali dijahit,


diobati dengan ampivet powder untuk mempercepat pengeringan luka,
penyembuhan dan pencegahan infeksi.
3. Dehorning

Dehorning adalah mematikan calon tanduk yang belum tumbuh memanjang


ataupun yang sudah tumbuh memanjang.
Tujuan dehorning adalah :
1. Menghemat ruangan.
2. Kandang dan peralatan lebih awet.
3. Mengurangi bahaya yang mungkin terjadi pada peternak dan memberi kemudahan
dalam menangani dan memelihara ternak.
4. Memudahkan penaganganan ternak dan mencegah timbulnya perlukaan akibat
tandukan.
5. Mencegah terjadinya gangguan yang menyebabkan ternak menjadi tidak nyaman
karena pertumbuhan tanduk yang abnormal menimbulkan berbagai hal negatif seperti
timbulnya perlukaan pada bagian yang tertusuk, gangguan penglihatan yang pada
akhirnya menyebabkan pertumbuhan menjadi terhambat.
AAK (2007) menyebutkan empat cara untuk melakukan dehorning, yaitu :
1. Dehorning dengan bahan kimia.
2. Dehorning dengan besi yang dipanaskan.
3. Dehorning dengan gergaji.
4. Dehorning dengan tang penjepit.
Materi dan metode
Sebelum melakukan potong tanduk, lakukan persiapan alat dan sapi yang
akan dipotong tanduk .
Langkah-langkah menyiapkan sapi yang akan di potong tanduk :
a. Menghandling sapi yang akan dipotong tanduknya.
b. Memasukan sapi ke kandang jepit
c. Memasang tali halter
d. Mengikat tali halter dengan tambang yang dikaitkan pada kandang jepit,
diusahakan terikat kuat. Untuk mencegah sapi berontak memegang lubang
hidung dan diikat keatas.

Metode dehorning :
1. Dehorning dengan bahan kimia
Bahan kimia yang digunakan adalah Kaustic soda dalam bentuk pasta atau
batangan seperti lilin. Cara ini sering dilakukan pada pedet sebelum umur 2 minggu
(3-10 hari),
Langkah-langkah:
a. Untuk melindungi diri, kenakan sarung tangan ketika mengoleskan bahan kimia
tersebut.
b. Bersihkan /gunting bulu disekitar tanduk.
c. kemudian olesi vaselin.
d. Oleskan / gosokkan caustic soda pada dasar calon tanduk hingga muncul bintik-
bintik darah

2. Dehorning dengan besi yang dipanaskan


Alat ini menggunakan listrik atau sumber panas lain yang dipakai untuk
mematikan/ menghilangkan tanduk, terutama untuk pedet muda (1 bulan).
Langkah-langkah
a. Bersihkan /gunting bulu disekitar tanduk.
b. Pipa besi dibakar dalam tungku lalu tempelkan bagian yang merah membara itu
sehingga membakar kulit disekitar tunas tanduk. Kemudian diputar pada tunas
tanduk selama 10-20 detik.
c. Cungkil tanduk hingga ke tunansnya
d. Olesi salep antibiotic atau spray antibiotic.

3. Dehorning dengan gergaji


Cara ini hanya dilakukan pada sapi-sapi dewasa yang tanduknya sudah keras
dan panjang.
Langkah-langkah :
a. Ikat ternak dengan kuat agar tidak memberontak.
b. Bulu disekitar tanduk digunting bersih, dan cuci daerah tersebut dengan
sabun, lalu keringkan dengan kapas bersih.
c. Gergaji tanduk dengan hati-hati, usahan hasilnya halus. Gunakan gergaji yang
tajam
d. Pemotongan dilakukan dengan menyisakan pangkal tanduk 1-2 cm

4. Dehorning dengan tang penjepit


Teknik ini diaplikasikan pada ternak yang sudah dewasa.
Langkah-langkah :
a. Memotong rambut sekitar tanduk agar memudahkan dalam pemotongan
tanduk
b. Memotong tanduk dengan tang barnes
c. Menghentikan pendarahan bekas pemotongan dengan dehorner elektrik
d. Mengoleskan salap sekitar bekas potongan tanduk
e. Melepaskan sapi agar mengurangi tingkat stress
4. Trimming
Pemotongan kuku pada setiap ternak umumnya dilakukan secara rutin yaitu
setiap 6 bulan sekali. Pertumbuhan kuku ternak , baik pada kambing maupun sapi
memiliki kecepatan pertambahan yang berbeda beda tergantung beberapa factor.
Factor yang mempengaruhi kecepatan pertambahan panjang kuku ternak antara lain
umur ternak, breed ternak dan yang terpenting adalah kontruksi lantai kandang
tempat ternak dipelihara.
Tujuan
Mahasiswa dapat mengetahui cara pemotongan kuku pada ternak dan dapat
mengetahui bentuk kuku normal pada sapi atau posisi normal kuku dan memudahkan
handling.
Materi dan metode
Bahan-bahan
1. Pisau pemotong kuku
2. Alat pengukur / mistar
3. Tali
4. Obat (perban, kapas, iodine, gusanex, dan antibiotic).
Metode
1. Jika tersedia kandang jepit, masukkan ternak ke dalam kandang jepit
2. Setelah posisi kaki seperti yang diinginkan , ikat dengan kuat kaki ternak
untuk keamanan saat proses pemotongan kuku
3. Bersihkan kaki dan kuku sapi, ukurlah panjang kuku dan tandai panjang
sesuai normal kuku
4. Buatlah pola kuku normal dengan gerindra.
5. Potonglah kuku sesuai pola
6. Bersihkan kembali bagian kuku yang telah dipotong , berikan/siramkan iodine
dan semprotkan gusanex.
7. Selesai/finish ternak bias dikembalikan ke kandang lagi.
C. Penentuan Umur Ternak
Umur ternak dalam pemeliharaan mempunyai peran yang penting, karena
melalui umur. peternak dapat mengetahui kapan ternak dapat dikawinkan maupun
digemukkan. Dalam melakukan penentuan umur ternak ada beberapa pendekatan
yang dapat digunakan. Bervariasinya pendekatan yang digunakan dalam penentuan
umur sangat positif, dalam kaitannya dengan keterbatasan recording dan kemampuan
peternak dalam memprediksi umur ternak. Semakin banyak pendekatan yang ada
semakin mudah kita dalam memilih metode mana yang sesuai dan kita kuasai dalam
menilai umur ternak.
Tujuan
Mahasiswa mengetahui metode penentuan umur ternak baik dengan
recording, melalui cincin tanduk, pergantian gigi, wawancara dengan peternak dsb
sama dapat mengaplikasikannya dilapangan.
Materi dan metode
Beberapa metode penentuan umur ternak yang paling memiliki nilai akurasi
yang tinggi adalah dengan system recording (berdasarkan pencatatan). Sebetulnya
ada beberapa cara yang dapat digunakan untuk mengetahui umur seekor ternak,
diantaranya :
1. Wawancara dengan peternak
2. Mengamati atau mempelajari catatan kelahiran
3. Mengamati pertumbuhan bulu , hanya dapat membedakan antar ternak muda dan
yang sudah dewasa
4. Mengamati saat jatuhnya tali pusar, terbatasnya umur lima minggu pertama
5. Mengamati munculnya cincin tanduk, dilakukan pada ternak betina yang sudah
oernah beranak, cincin tanduk satu menandakan ternak betina pernah beranak sati
kali dan seterusnya
6. Mengamati pertumbuhan gigi seri seekor ternak
Mengamati gigi ternak
Umumnya metode ini sudah sangat dikenal pada masyakat peternak di
Indonesia. Istilah yang biasa dikenal adalah “poel”. ‘Poel” menunjukkan adanya
pergantian gigi ternak, sehingga seberapa banyak tingkat pergantian gigi bisa menjadi
dasar menduga umur ternak. Semakin banyak gigi yang “poel” maka umur ternak
juga semakin tua.
Fase pertumbuhan gigi
Pertumbuhan gigi ternak dibagi menjadi 3 fase yaitu : fase tumbuh gigi (gigi
susu), fase pergantian gigi dan fase keausan gigi.
a) Fase gigi susu : Terjadi pada ternak mulai lahir sampai dengan gigi seri bertukar
dengan yang baru.
b) Pergantian gigi : masa awal dari pergantian gigi sampai dengan selesai
c) Keausan gigi : gigi sudah tidak berganti-ganti lagi, melainkan sedikit demi sedikit
aus.

Formula Gigi Pada Ternak


Perkiraan Umur Ternak