Anda di halaman 1dari 57

Asuhan Keperawatan dengan Kista Ovarium

Posted by Qittun on Saturday, June 21, 2008


1 komentar
This item was filled under Askep Maternitas

Pengertian :

            Kista ovarium adalah pertumbuhan sel yang berlebihan / abnormal pada ovarium yang
membentuk seperti kantong

Pembagian tumor ovarium :

a.       Tumor Nonneoplastik.

1)      Tumor akibat radang

2)      Tumor lain :

  Kista folikel

  Kista korpus luteum

  Kista lutein

  Kista inklusi germinal

  Kista endometrium

  Kista stein – Leventhal.

b.      Tumor neoplastik

1)      Tumor Jinak

a) Tumor Kistik

  Kistoma ovari simpleks

  Kistadenoma ovari serosum

  Kistadenoma ovari musinosum

  Kista endimetroid

  Kista dermoid.
b) Tumor Solit

  Fibroma, leiomioma, fibroadenoma, papiloma, angioma, linfangioma.

  Tumor brenner

  Tumor sisa adrenal

2)      Tumor ganas Ovarium.


Kemungkinan Diagnosa Yang muncul.

1.         Gangguan rasa nyaman ( Nyeri ) berhubungan dengan putaran tangkai tumor/ infeksi
pada tumor.

2.         Gangguan rasa nyaman ( cemas ) berhubungan dengan kurangnya pengetahuan tentang
penyakit dan penatalaksanaannya.

3.         Resiko infeksi daerah operasi berhubungan dengan perawatan luka operasi yg kurang
adequat.

4.         Resiko gangguan BAB / BAK berhubungan dengan penekanan daerah sekitar tumor.

Intervensi Keperawatan.

1.         Gangguan rasa nyaman ( Nyeri ) berhubungan dengan putaran tangkai tumor/ infeksi pada
tumor

(Tujuan: Setelah diberi tindakan kepw,nyeri berkurang sampai hilang sama sekali)

a.         Kaji tingkat dan intensitas nyeri.

(R/ mengidentifikasi lingkup masalah)

b.         Atur posisi senyaman mungkin.

(R/ Menurunkan tingkat ketegangan pada daerah nyeri)

c.         Kolabarasi untuk pemberian terapi analgesik.

(R/menghilangkan rasa nyeri)

d.        Ajarkan dan lakukan tehnik relaksasi.

(Merelaksasi otot – otot tubuh).

2.         Gangguan rasa nyaman ( cemas ) berhubungan dengan kurangnya pengetahuan tentang
penyakit dan penatalaksanaannya.

(Tujuan : Setelah 1 X 24 Jam diberi tindakan, gangguan rasa nyaman (cemas) berkurang.

a.         Kaji  dan pantau terus tingkat kecemasan klien.


(R/ mengidentifikasi lingkup masalah secara dini, sebagai pedoman tindakan
selanjutnya )

b.         Berikan penjelasan tentang semua permasalahan yang berkaitan dengan penyakitnya.

(R/ Informasi yang tepat menambah wawasan klien sehingga klien tahu tentang
keadaan dirinya )

c.         Bina hubungan yang terapeutik dengan klien.

(R/ Hubungan yang terapeutuk dapat menurunkan tingkat kecemasan klien.

3.         Resiko infeksi daerah operasi berhubungan dengan perawatan luka operasi yg kurang
adequat.

(Tujuan : Selama dalam perawatan, infeksi luka operasi tidak terjadi)

a.         Pantau dan observasi terus tentang keadaan luka operasinya.

(R/ Deteksi dini tentang terjadinya infeksi yang lebih berat )

b.         Lakukan perawatan luka operasi secara aseptik dan antiseptik.

(R. menekan sekecil mungkin sumber penularan eksterna )

c.         Kolaborasi dalam pemberian antibiotika.

(Membunuh mikro organisme secara rasional )


Daftar pustaka

Sylvia Anderson. (2000). Patofisiologo penyakit, edisi 4, penerbit EGC buku kedokteran,
Jakarta.

Marylynn. E.Doengus. (2000). Rencana Asuhan keperawatan, edisi 3, penerbit buku kedokteran,
Jakarta.

Sarwono P. ( 1999). Ilmu Kandungan, Yayasan bina pustaka, edisi 2, Jakarta.

Post a Comment

Kamis, 10 Juli 2008


KONDAS KISTA OVARIUM

A. Konsep dasar kista ovarium

1. Pengertian kista ovarium

Kista ovarium secara fungsional adalah kista yang dapat bertahan dari pengaruh
hormonal dengan siklus menstruasi ( Lowdermilk, dkk. 2005 : 273 ).

Kista ovarium merupakan perbesaran sederhana ovarium normal, folikel de graf


atau korpus luteum atau kista ovarium dapat timbul akibat pertumbuhan dari epithelium
ovarium ( Smelzer and Bare. 2002 : 1556 ).

Menurut Jacoeb, kista berarti kantong abnormal yang berisi cairan abnormal
diseluruh tubuh ( http:// www. tabloid-nakita. com ).

Tumor ovarium sering jinak bersifat kista, ditemukan terpisah dari uterus dan
umumnya diagnosis didasarkan pada pemeriksaan fisik. ( Sjamsoehidayat. 2005: 729 ).
Berdasarkan pendapat para ahli diatas maka yang dimasud dengan kista ovarium
adalah kantong abnormal yang berisi cairan atau neoplasma yang timbul di ovarium yang
bersifat jinak juga dapat menyebabkan keganasan.

2. Etiologi kista ovarium

Penyebab dari kista belum diketahui secara pasti, kemungkinan dari bahan –
bahan yang bersifat karsinogenik, bisa zat kimia, polutan, hormonal dan lain – lain.
( http:// www.tempo.co.id ).

3. Patofisiologi kista ovarium

Factor pemicu :

 Bahan – bahan bersifat karsinogenik

 Zat kimia

 Polutan

kista
Perut membuncit,
kembung, mual nafsu
makan menurun

Sesak /
vaskularisasi

Nyeri

Resiko infeksi

Resiko perdarahan
Kesulitan
defekasi
Nyeri akut &
perdarahan

Organ 2x dalam
rongga ( usus,
hati )

Rectum dan
kandung kemih

Paru2 &
jantung

operasi

Metastase ke
jaringan sekitar
Ada massa di
perut bawah

Tidak
menyebar

ganas

jinak
Ukuran > 5 cm

Ploriferasi sel / sel


membelah

Tidak perlu
dioperasi
Hilang dalam 3
bulan

Siklus
menstruasi

neoplasti

fisiologis

Diameter <>
( Sjamsoehidayat. 2005: 729 )

4. Klasifikasi kista ovarium

a. Kista folikel

Kista folikel berkembang pada wanita muda wanita muda sebagian akibat
folikel de graft yang matang karena tidak dapat meyerap cairan setelah ovulsi.kista ini
bisanya asimptomotik keculi jika robek.dimana kasus ini paraf jika tedapat nyeri pada
panggul.jika kista tidak robek,bisanya meyusut setelah 2-3 siklus menstrusi.

b. Kista corpus luteum


Terjadi setelah ovulasi dan karena peningkatan sekresi dari progesterone
akibat dari peningkatan cairan di korpus luteum ditandai dengan nyeri, tendenderness
pada ovari, keterlambatan mens dan siklus mens yang tidak teratur atau terlalu
panjang. Rupture dapat mengakibatkan haemoraghe intraperitoneal. Biasanya kista
corpus luteum hilang dengan selama 1-2 siklus menstruasi.

c. Syndroma rolycystik ovarium

Terjadi ketika endocrine tidak seimbang sebagai akibat dari estrogen yang
terlalu tinggi, testosoron dan luteinizing hormone dan penurunan sekresi fsh. Tanda
dan gejala terdiri dari obesitas, hirsurism (kelebihan rambut di badan) mens tidak
teratur, infertelitas.

d. Kista Theca- lutein

Biasanya bersama dangan mola hydatidosa. Kista ini berkembang akibat


lamanya stimulasi ovarium dari human chorionik gonadotropine( HCG ).
( Lowdermik,dkk. 2005:273 )

5. Tanda dan gejala

Kebayakan tumor ovarium tidak menunjukan tanda dan gejala. Sebagian besar
gejala yang ditemukan adalah akibat pertumbuhan aktivitas hormone atau komplikasi
tumor tersebut.

Tanda dan gejala yang sering muncul pada kista ovarium antara lain :

a. menstruasi yang tidak teratur, disertai nyeri

b. perasaan penuh dan dtertekan diperut bagian bawah

c. nyeri saat bersenggama

d. perdarahan
6. Penatalaksanaan

a. Pengangkatan kista ovarium yang besar biasanya adalah melalui tindakan bedah, misal
laparatomi, kistektomi atau laparatomi salpingooforektomi.

b. Kontrasepsi oral dapat digunakan untuk menekan aktivitas ovarium dan


menghilangkan kista.

c. Perawatan pasca operasi setelah pembedahan untuk mengangkat kista ovarium adalah
serupa dengan perawatan setelah pembedahan abdomen dengan satu pengecualian
penurunan tekanan intra abdomen yang diakibatkan oleh pengangkatan kista yang
besar biasanya mengarah pada distensi abdomen yang berat. Hal ini dapat dicegah
dengan memberikan gurita abdomen sebagai penyangga.

d. Tindakan keperawatan berikut pada pendidikan kepada klien tentang pilihan


pengobatan dan manajemen nyeri dengan analgetik / tindakan kenyamanan seperti
kompres hangat pada abdomen atau teknik relaksasi napas dalam, informasikan
tentang perubahan yang akan terjadi seperti tanda – tanda infeksi, perawatan insisi
luka operasi. ( Lowdermilk.dkk. 2005:273 ).

7. Pemeriksaan penunjang

a. Pap smear : untuk mengetahui displosia seluler menunjukan kemungkinan adaya


kanker / kista.

b. Ultrasound / scan CT : membantu mengindentifikasi ukuran / lokasi massa.

c. Laparoskopi : dilakukan untuk melihat tumor, perdarahan, perubahan endometrial.

d. Hitung darah lengkap : penurunan Hb dapat menununjukan anemia kronis sementara


penurunan Ht menduga kehilangan darah aktif, peningkatan SDP dapat
mengindikasikan proses inflamasi / infeksi. ( Doenges. 2000:743 ).

8. Komplikasi
Menurut manuaba ( 1998:417 ) komplikasi dari kista ovarium yaitu :

a. Perdarahan intra tumor

Perdarahan menimbulkan gejala klinik nyeri abdomen mendadak dan memerlukan


tindakan yang cepat.

b. Perputaran tangkai

Tumor bertangkai mendadak menimbulkan nyeri abdomen.

c. Infeksi pada tumor

Menimbulkan gejala: badan panas, nyeri pada abdomen, mengganggu aktifitas sehari-
hari.

d. Robekan dinding kista

Pada torsi tangkai ada kemungkinan terjadi robekan sehingga isi kista tumpah kedalam
rungan abdomen.

e. Keganasan kista ovarium

Terjadi pada kista pada usia sebelum menarche dan pada usia diatas 45 tahun.

B. Konsep dasar asuhan keperawatan kista ovarium

1. Pengkajian

Menurut doenges ( 2000.997 ) hal - hal yang terus terkaji pada klien dengan post
operasi laparatomi adalah :

1. Data biografi klien

2. Aktivitas/Istirahat
Kelemahan atau keletihan. perubahan pola istirahat dan jam kebisaan tidur, adanya factor
- faktor yang mempengaruhi tidur misal : nyeri, ansietas, keterbatasan, partisipasi
dalam hobi dan latihan.

3. Sirkulasi

Palpitasi, nyeri dada, perubahan pada TD

4. Integritas ego

Factor stress dan cara mengatasi stress, masalah tentang perubahan dalam penampilan
insisi pembedahan, perasaan tidak berdaya, putus asa,depresi,menarik diri.

5. Eliminasi

Perubahan pada pola defekasi misal:darah pada feces,nyeri pada defekasi, perubahan
eliminasi urinarius misalnya: nyeri, perubahan pada bising usus.

6. Makanan/cairan

Anoreksia, mual / muntah.intoleransi makanan, perubahan pada berat badan penurunan


BB, perubahan pada kelembaban / turgor kulit, edema.

7. Neurosensori

Pusing, sinkop

8. Nyeri / kenyamanan

Tidak ada nyeri / derajat bervariasi misalnya : ketidaknyamanan ringan sampai nyeri
berat ( dihubungkan dengan proses penyakit ).

9. Pernapasan

Merokok, pemajanan abses


10. Keamanan

Pemajanan pada kimia toksik, karsinogen, pemajanan matahari lama, berlebihan, demam,
ruam kulit / ulserasi.

11. Seksualitas

Perubahan pada tingkat kepuasan

12. Interaksi social

Ketidak adekuatan / kelemahan system pendukung, riwayat perkawinan, masalah tentang


fungsi / tanggung jawab peran.

13. Penyuluhan / pembelajaran

Riwayat penyakit pada kelurga, riwayat pengobatan, pengobatan sebelumnya atau


operasi.

2. Diagnosa Keperawatan

a. Cemas b.d prosedur operasi, perubahan konsep diri.

b. Kerusakan integritas kulit b.d pengangakatan bedah kulit.( jaringan, perubahan


sirkulasi).

c. Nyeri b.d prosedur pembedahan, trauma jaringan

d. Resiko kekurangan volume cairan b.d kehilangan cairan berlebih.

e. Resiko perubahan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh b.d mual, muntah intake yang
tidak adekuat.

f. Gangguan harga diri b.d biofisikal prosedur bedah yang mengubah gambaran tubuh,
psikososial, masalah tentang ketertarikan social.
g. Kerusakan mobilitas fisik b.d gangguan neuromuskuler, nyeri / ketidaknyamanan,
pembentukan edema.

h. Kurang pengetahuan tentang kondisi, prognosis dan kebutuhan pengobatan b.d kurang
terpajan / mengingat, salah interpretasi informasi. ( Doengoes. 2000: 754 ).

3. Rencana/ intervensi keperawatan

a. Dx 1 : cemas b.d prosedur operasi perubahan konsep diri.

Intervensi;

1. Yakinkan informasi klien tenteng diagnosis, harapan, intervensi pembedahan dan


terapi yang akan datang.

2. Jelaskan tujuan dan persipan untuk tes diagnostic

3. Berikan lingkungan perhatian, kterbukaan dan penerimaan juga privasi untuk


pasien / orang terdekat.

4. Dorong pertanyaan dan berikan waktu untuk mengekspresikan takut.

5. Kaji tersedianya dukungan pada pasien.

6. Diskusikan / jelaskan peran rehabilitasi setelah pembedahan.

b. Dx 2 : kerusakan integritas kulit b.d pengangkatan bedah kulit / jaringan, perubahan


sirkulasi.

Intervensi:

1. Kaji balutan / untuk karakteristik drainase, kemerahan dan nyeri pada insisi dan
lengan.

2. Tempatkan pada posisi semi fowler pada punggung / sisi yang tidak sakit dengan
lengan tinggi dan disokong dengan bantal.
3. Jangan melakukan pengukaran TD, menginjeksikan obat / memasukan IV pada
lengan yang sakit.

4. Inspeksi donor/ sisi donor ( bila dilakukan ) terhadap warna, pembentukan lepuh
perhatikan drinase dan sisi donor

5. Kosongkan drain luka, secara periodic ( catat jumlah dan karakeristik drainase )

6. Dorong klien untuk menggunakan pakaian yang tidak sempit / ketat.

7. Kolaborasi: berikan antibiotic sesuai indikasi

c. Dx 3 nyeri b.d prosedur pembedahan

Intervensi:

1. Kaji keluhan nyeri, perhataikan lokasi, lama dan intensitas (skala 0-10), perhatikan
petunjuk verbal dan nonverbal

2. Bantu pasien menemukan posisi nyaman

3. Berikan tindakan kenyamanan dasar

4. Berikan obat nyeri yang tepat pada jadwal terakhir

5. Kolaborasi : berikan / analgetik sesuai indikasi

Prinsip Intervensi Keperawatan

1. Informasikan tentang pengobatan dan efek yang terjadi.

2. Mengurangi nyeri menurunkan nyeri sampai tingkat kenyamanan yang dapat diterima
klien.

3. Berikan cairan dan makanan (nutrisi) sesegera mungkin setelah pasien harus.
4. Ambulasi sesegera munkin setelah operasi sesuai toleransi.

5. Meminimalkan penyebaran dan transmisi dari agen infeksi dengan berkerja secara
septic dan anti septic.

6. Informasikan kepada klien tentang perawatan post operasi dirumah. ( Wilkinion, judit.
2005 )

4. Evalusi keperawatan

a. Cemas klien berkurang

b. Kerusakan integritas kulit tidak terjadi

c. Nyeri berkurang

d. Nutrisi klien terpenuhi

e. Penyebaran infeksi tidak terjadi

f. Pengetahuan klien bertambah.

DAFTAR PUSTAKA

Carpenito, Lynda juall. 2001. Dokumentasi Asuhan Keperawatan Edisi 8. Jakarta :


EGC.

Doenges, E, Marilyn. 2002. Rencana Asuhan Keperawatan Maternal / Bayi.


Jakarta : EGC.

Lowdermilk, perta. 2005. Maternity Women’s Health Care. Seventh edition.


Philadelphia : Mosby.

Sjamjuhidayat & Wim de Jong. 2005. Buku Ajar Ilmu Bedah. Edisi 2. Jakarta :
EGC.
Smeltzer and Bare. 2002. Buku Ajar Keperawatan Medikal Bedah. Edisi 8.
Jakarta : EGC.

Http://www.tabloid-nakita.com

Http://www.tempo.co.id

Diposkan oleh ilham di Kamis, Juli 10, 2008


http://healthreference-ilham.blogspot.com/2008/07/kondas-kista-ovarium.html

Senin, 25 Agustus 2008


Askep Kista Ovarii

BAB I

PENDAHULUAN

1. Latar Belakang
Ovarium merupakan tempat yang umum bagi kista, yang dapat merupakan
pembesaran sederhana konstituen ovarium normal, folikel graft, atau korpus luteum, atau
kista ovarium dapat timbul akibat pertumbuhan abdomen dari epithelium ovarium.

Pasien dapat melaporkan atau tidak melaporkan nyeri abdomen akut atau kronik.
Gejal-gejala tentang rupture kista menstimulasi berbagai kedaruratan abdomen akut, seperti
apendisitis, atau kehamilan ektopik. Kista yang lebih besar dapat menyebabkan
pembengkakan abdomen dan penekanan pada organ-organ abdomen yang berdekatan.

Pengobatan kista ovarium yang besar biasanya adalah melalui tindakan bedah. Jika
ukuran lebar kista kurang dari 5 cm, dan tampak terisi oleh cairan atau fisilogis pada pasien
muda yang sehat, kontrasepsi oral dapat digunakan untuk menekan aktivitas ovarium dan
menghilangkan kista. Sekitar 98 % lesi yang terjadi pada wanita yang berumur 29 tahun dan
yang lebih muda adalah jinak. Setelah usia 50 tahun, hanya 50 % yang jinak. Perawatan
pascaoperatif setelah pembedahan untuk mengangkat kista ovarium adalah serupa dengan
perawatan setelah pembedahan abdomen, dengan satu pengecualian. Penurunan tekanan
intraabdomen yang diakibatkan oleh pengangkatan kista yang besar biasanya mengarah pada
distensi abdomen yang berat. Komplikasi ini dapat dicegah sampai suatu tingkat dengan
memberikan gurita abdomen yang ketat.

Dari uraian di atas, maka penulis ingin mengetahui lebih banyak bagaimana asuhan
keperawatan yang diberikam pada penderita kistoma ovari.

2. Tujuan Umum

Diharapkan mahasiswa mampu memberikan asuhan keperawatan pada klien dengan


kista ovari

3. Tujuan Khusus

a. Mampu melakukan pengkajian pada klien dengan kista ovari

b. Mampu menemukan masalah keperawatan pada klien dengan kista ovari

c. Mampu merencanakan tindakan keperawatan pada klien dengan kista ovari

d. Mampu melaksanakan tindakan keperawatan pada klien dengan kista ovari

e. Mampu mengevaluasi tindakan yang sudah dilakukan pada klien dengan kista ovari

f. Mampu mengidentifikasi factor-faktor pendukung, penghambat serta dapat mencari


solusinya.

g. Mampu mendokumentasikan semua kegiatan keperawatan dalam bentuk narasi.


BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

A. DEFINISI

1. Kista adalah suatu jenis tumor, emyebab pastinya sendiri belum diketahui,
diduga seringnya memakai kesuburan. (Soemadi, 2006)
2. Kista adalah suatu jenis tumor berupa kantong abnormal yang berisi cairan
atau benda seperti bubur (Dewa, 2000)
3. Kista adalah suatu bentukan yang kurang lebih bulat dengan dinding tipis,
berisi cairan atau bahan setengah cair (Sjamsuhidajat, 1998).
4. Kista adalah pembesaran suatu organ yang di dalam berisi cairan seperti
balon yang berisi air. Pada wanita organ yang paling sering terjadi Kista
adalah indung telur. Tidak ada keterkaitan apakah indung telur kiri atau
kanan. Pada kebanyakan kasus justru tak memerlukan operasi. (http:// suara
merdeka.com)

II. SIFAT KISTA


1. Kista Fisiologis

Kista yang bersifat fisiologis lazim terjadi dan itu normal normal
saja. Sasuai suklus menstruasi, di ovarium timbul folikel dan
folikelnya berkembang, dan gambaranya seperti kista. Biasanya
kista tersebut berukuran dibawah 5 cm, dapat dideteksi dengan
menggunakan pemeriksaan USG, dan dalam 3 bulan akan hilang.
Jadi ,kista yang bersifat fisiologis tidak perlu operasi, karena tidak
berbahaya dan tidak menyebabkan keganasan, tetapi perlu diamati
apakah kista tersebut mengalami pembesaran atau tidak.

Kista yang bersifat fisiologis ini dialami oleh orang di usia


reproduksi karena dia masih mengalami menstruasi. Bila seseorang
diperiksa ada kista, jangan takut dulu, karena mungkin kstanya
bersifat fisiologis. Biasanya kista fisiologis tidak menimbuklkan
nyeri pada saat haid.

2. Kista Patologis (Kanker Ovarium)

Kista ovarium yang bersifat ganas disebut juga kanker ovarium.


Kanker ovarium merupakan penyebab kematian terbanyak dari
semua kanker ginekologi. Angka kematian yang tinggi karena
penyakit ini pada awalnya bersifat tanpa gejala dan tanpa
menimbulkan keluhan apabila sudah terjadi metastasis, sehingga
60-70% pasien dating pada stadium lanjut, penyakit ini disebut juga
sebagai silent killer. Angka kematian penyakit ini di Indonesia
belum diketahui dengan pasti.

Pada yang patologis, pembesaran bisa terjadi relative cepat, yang


kadang tidak disadari si penderita. Karena, kista tersebut sering
muncul tanpa gejala seperti penyakit umumnya. Itu sebabnya
diagnosa aalnya agak sulit dilakukan. Gejala gejala seperti perut
yang agak membuncit serta bagian bawah perut yang terasa tidak
enak biasanya baru dirasakan saat ukuranya sudah cukup besar.
Jika sudah demikian biasanya perlu dilakukan tindakan
pengangkatan melalui proses laparoskopi, sehingga tidak perlu
dilakukan pengirisan di bagian perut penderita. Setelah di angkat
pemeriksaan rutin tetap perlu dilakukan untuk mengetahui apakah
kista itu akan muncul kembali atau tidak.

Ada lagi jenis kista abnormal pada ovarium. Jenis ini ada yang
bersifat jinak dan ganas. Bersifat jinak jika bisa berupa spot dan
benjolan yang tidak menyebar. Meski jinak kista ini dapat berubah
menjadi ganas. Sayangnya sampai saat ini, belum diketahui dengan
pasti penyebab perubahan sifat tersebut.
Kista ganas yang mengarah ke kanker biasanya bersekat sekat dan
dinding sel tebal dan tidak teratur. Tidak seperti kista fisiologis
yang hanya berisi cairan, kista abnormal memperlihatkan campuran
cairan dan jaringan solid dan dapat bersifat ganas.

III. JENIS KISTA

Jenis kista indung telur meliputi:

1. Kista Fungsional.

Sering tanpa gejala, timbul gejala rasa sakit bila disertai komplikasi
seprti terpuntir/ pecah, tetapi komplikasi ini sangat jarang. Dan
sangat jarang pada kedua indung telur. Kista bisa mengecil dalam
waktu 1-3 bilan.

2. Kista Dermoid.

Terjadi karena jaringan dalam telur yang tidak dibuahi kemudian


tumbuh menjadi beberapa jaringan seperti rambut, tulang, lemak.
Kista dapat terjadi pada kedua indung telur dan biasanya tanpa
gejala. Timbul gejala rasa sakit bila kista terpuntir/ pecah.

3. Kista Cokelat. (Edometrioma)

Terjadi karena lapisan didalam rahim (yang biasanya terlepas


sewaktu haid dan terlihat keluar dari kemaluan seperti darah); tidak
terletak dalam ragim tetapi melekat pada dinding luar indung telur.
Akibat peristiwa ini setiap kali haid, lapisan tersebut
menghasilakan darah haid yang akan terus menerus tertimbun dan
menjadi kista. Kista ini bisa 1 pada dua indung telur. Timbul gejala
utama yaitu rasa sakit terutama sewaktu haid/ sexsuale intercourse.

4. Kistadenoma.
Berasal dari pembungkus indung telur yang tumbuh menjadi kista.
Kista jenis ini juga dapat menyerang indung telur kanan dan kiri.
Gejala yang timbul biasanya akibat penekanan pada bagian tubuh
sekitar seperti VU sehingga dapat menyebabkan inkontinensia.
Jarang terjadi tetapi mudah menjadi ganas terutama pada usia diatas
45 tahun atau kurang dari 20 tahun.

Contoh Kistadenoma;

Kistadenoma ovarii serosum.

Berasal dari epitel germinativum. Bentuk umunya unilokuler, bila


multilokuler perlu dicurigai adanya keganasan. Kista ini dapat
membesar, tetapi tidak sebesar kista musinosum.

Gambaran klinis pada kasus ini tidak klasik. Selain teraba massa
intraabdominal, dapat timbul asites. Penatalaksanaan umumnya
sama seperti Kistadenoma ovarii musinosum.

Kistadenoma ovarii musinosum.

Asal kista belum pasti. Menurut Meyer, kista ini berasal dari
teratoma, pendapat lain mengemukakan kista ini berasal dari epitel
germinatifum atau mempunyai asal yang sama dengan tumor
Brener. Bentuk kista multilobuler, biasanya unilatelar dapat tumbuh
menjadi sangat bersar.

Gambaran klinis terdapat perdarahan dalam kista dan perubahan


degeneratif sehingga timbul pelekatan kista dengan omentum, usus
dan peritoneum parietal. Selain itu, bisa terjadi ileus karena
perlekatan dan produksi musin yang terus bertambah akibat
pseudomiksoma peritonei.
Penatalaksanaan dengan pengangkatan kista tanpa pungsi terlebih
dahulu dengan atau tanpa salpingo ooforektomi tergantung
besarnya kista.

IV. ETIOLOGI

Factor yang menyebabkan gajala kista meliputi;

1. Gaya hidup tidak sehat.

Diantaranya;

1. Konsumsi makanan yang tinggi lemak dan kurang serat


2. Zat tambahan pada makanan
3. Kurang olah raga
4. Merokok dan konsumsi alcohol
5. Terpapar denga polusi dan agen infeksius
6. Sering stress
2. Faktor genetic.

Dalam tubuh kita terdapat gen gen yang berpotensi memicu kanker,
yaitu yang disebut protoonkogen, karena suatu sebab tertentu,
misalnya karena makanan yang bersifat karsinogen , polusi, atau
terpapar zat kimia tertentu atau karena radiasi, protoonkogen ini
dapat berubah menjadi onkogen, yaitu gen pemicu kanker.

V. TANDA DAN GEJALA

Kebanyakan wanita dengan kanker ovarium tidak menimbulakan


gejala dalam waktu yang lama. Gejala umumnya sangat berfariasi
dan tidak spesifik.

Pada stadium awal gejalanya dapat berupa;


 Gangguan haid
 Jika sudah menekan rectum atau VU mungkin terjadi
konstipasi atau sering berkemih.
 Dapat terjadi peregangan atau penekanan daerah
panggul yang menyebabkan nyeri spontan dan sakit diperut.
 Nyeri saat bersenggama.

Pada stadium lanjut;

 Asites
 Penyebaran ke omentum (lemak perut) serta oran organ di dalam
rongga perut (usus dan hati)
 Perut membuncit, kembung, mual, gangguan nafsu makan,
 Gangguan buang air besar dan kecil.
 Sesak nafas akibat penumpukan cairan di rongga dada.

VI. PEMERIKSAAN DIAGNOSTIK

Deteksi dini

Keterlambatan mendiagnosis kanker ovarium sering terjadi karena


letak ovarium berada didalam rongga panggul sehingga tidak
terlihat dari luar. Biasanya kanker ovarium ini di deteksi lewat
pemeriksaan dalam. Bila kistanya sudah membesar maka akan
terabab ada benjolan. Jika dokter menemukan kista, maka
selanjutanya akan dilakukan USG untuk memastikan apakah ada
tanda tanda kanker atau tidak.

Kemudian dibutuhkan pemeriksaan lanjutan dengan mengambil


jaringan (biopsy) untuk memastikan kista tersebut jinak atau ganas.
Ini bisa dilakukan dengan laparskopi, melalui lubang kecil di perut.
Pemeriksaan lainnya dengan CT Scan dan tumor marker dengan
pemeriksaan darah.
VII. PENATALAKSANAAN

Penderita kanker ovarium stadium dini dapat ditangani dengan


operasi yang kemudian dilanjutkan dengan terapi. Bila kanker
ovarium telah memasuki stadium lanjut baru di lakukan kemoterapi
atau radiasi.

1. Pengkajian.

Pengkajian umum kista:

 Ada tidaknya keluhan nyeri diperut bagian bawah?


 Ada tidaknya gangguan BAB dan BA?
 Ada tidaknya asites?
 Ada tidaknya perut membuncit?
 Ada tidaknya gangguan nafsu makan?
 Ada tidaknya kembung?
 Ada tidaknya sesak nafas?

Pengkajian diagnostic kista:

 USG : Ada tidaknya benjolan berdiameter > 5 cm


 CT Scan: Ada tidaknya benjolan dan ukuran benjolan.

2. Nursing Care Plan

Diagnosa yang muncul

1. Gangguan harga diri berhubungan dengan masalah tentang


ketidaknyamanan mempunyai anak, perubahan feminimitas dan
efek hubungan seksual.
2. Disfungsi seksual, resiko tinggi terhadap kemungkinan pola respon
seksual, contoh ketidaknyamanan / nyeri vagina.
3. Eliminasi urinarius, perubahan / retensi berhubungan dengan
adanya edema pada jaringan local.
4. Nyeri berhubungan dengan prases penyakit (penekanan/kompresi)
jaringan pada organ ruang abdomen

Jika diagnosa yang diambil adalah nyeri berhubungan dengan


proses penyakit (penekanan/kompresi) jaringan pada organ ruang
abdomen maka :

Tujuan.

Klien dapat mengontrol nyeri yang dirasakan/nyeri berkurang


setelah dilakukan tindakan keperawatan.

Kriteria hasil :

 Klien mengatakan nyeri hilang/berkurang .


 Ekspresi wajah rileks
 Klien dapat menggambarkan keadaan nyeri minimal atau tidak ada.
 Klien mampu melakukan teknik relaksasi dan distraksi saat nyeri
timbul.
 Tanda-tanda vital dalam batas normal.

Intervensi:

1. Identifikasi karakteristik nyeri dan tindakan penghilang nyeri

R : informasi memberikan data dasar untuk evaluasi kebutuhan


/keefektifan intervensi.

2. Berikan tindakan kenyamanan dasar (reposisi, gosok punggung),


hiburan dan lingkungan.
R : meningkatkan relaksasi dan membentu pasien focus kembali ke
perhatian

3. Ajarkan teknik relaksasi

R : partisipasi pasien secara aktifdan meningkatkan rasa kontrol

4. Kembangkan rencana manajemen nyeri antara pasien dan dokter

R : mengembangkan kesempatan control nyeri

5. Berikan analgesic sesuai resep.

R : mengurangi nyeri

Daftar Pustaka

o Doenges, Marilynn E. Rencana Asuhan Keperawatan: Pedoman Untuk


Perencanaan dan Pendokumentasian Perawatan Pasien. Edisi 3. Jakarta : EGC.
2000.

o Mansjoer, Arif dkk. Kapita Selekta Kedokteran. Edisi 3. Jilid 2. Jakarta: Media
Aesculapius. 2000.

o http://www.ibuhamil.com
o http://www.republika.co.id.
o http://www.suaramerdeka.com
o http://www.pdpersi.co.iD

http://kandunganbedah.blogspot.com/2008/08/askep-kista-ovarii.ht

ASKEP KISTA OVARI


Rapani
KISTA OVARI
A. Pengertian
Menurut (Winkjosastro, et. all, 1999) kistoma ovarii merupakan suatu tumor, baik yang kecil
maupun yang besar, kistik atau padat, jinak atau ganas. Dalam kehamilan, tumor ovarium yang
dijumpai yang paling sering ialah kista dermoid, kista coklat atau kista lutein. Tumor ovarium
yang cukup besar dapat menyebabkan kelainan letak janin dalam rahim atau dapat menghalang-
halangi masuknya kepala ke dalam panggul.

B. Etiologi
Menurut etiologinya, kista ovarium dibagi menjadi dua, yaitu (Ignativicius, Bayne, 1991) :
1. Kista non neoplasma, disebabkan karena ketidakseimbangan hormon estrogen dan
progesteron, diantaranya adalah :
1. Kista non fungsional Kista serosa inklusi, berasal dari permukaan epitelium yang
berkurang di dalam kortek.
2. Kista fungsional Kista folikel, disebabkan karena folikel yang matang menjadi ruptur
atau folikel yang tidak matang direabsorbsi cairan folikuler diantara siklus menstruasi.
Banyak terjadi pada wanita yang menarche kurang dari 12 tahun.

Kista korpus luteum, terjadi karena bertambahnya sekresi progesteron setelah ovulasi.
Kista tuka lutein, disebabkan karena meningkatnya kadar HCG terdapat pada mola hidatidosa.
Kista stein laventhal, disebabkan karena peningkatan kadar LH yang menyebabkan
hiperstimulasi ovarium.

2. Kista neoplasma (Wiknjosastro, et.all, 1999)


 Kistoma ovarii simpleks. Adalah suatu jenis kistadenoma serosum yang kehilangan epitel
kelenjarnya karena tekanan cairan dalam kista.
 Kistadenoma ovarii musinosum. Asal kista ini belum pasti, mungkin berasal dari suatu
teratoma yang pertumbuhannya satu elemen mengalahkan elemen yang lain.
 Kistadenoma ovarii serosum. Berasal dari epitel permukaan ovarium (germinal ovarium).
 Kista endometroid. Belum diketahui penyebabnya dan tidak ada hubungannya dengan
endometrioid.
 Kista dermoid. Tumor berasal dari sel telur melalui proses patogenesis.

C. Patofisiologi

1. Kista non neoplasma (Ignativicius, Bayne, 1991 )


1. Kista non fungsional
Kista serosa inklusi, di dalam kortek yang dalam timbul invaginasi dari permukaan epitelium
yang berkurang. Biasanya tunggal atau multiple, berbentuk variabel dan terbatas pada cuboidal
yang tipis, endometri atau epitelium tuba. Berukuran 1 cm sampai beberapa cm.

2. Kista fungsional
1). Kista folikel. Kista dibentuk ketika folikel yang matang menjadi ruptur atau folikel yang tidak
matang direabsorbsi cairan folikuler diantara siklus menstruasi. Bila ruptur menyebabkan nyeri
akut pada pelvis. Evaluasi lebih lanjut dengan USG atau laparaskopi. Operasi dilakukan pada
wanita sebelum pubertal, setelah menopause atau kista lebih dari 8 cm.
2). Kista korpus luteum. Terjadi setelah ovulasi dikarenakan meningkatnya hormon progesteron.
Ditandai dengan keterlambatan menstruasi atau menstruasi yang panjang, nyeri abdomen bawah
atau pelvis. Jika ruptur pendarahan intraperitonial, terapinya adalah operasi oovorektomi.

3). Kista tuka lutein. Ditemui pada kehamilan mola, terjadi pada 50 % dari semua kehamilan.
Dibentuk sebagai hasil lamanya slimulasi ovarium dari berlebihnya HCG. Tindakannya adalah
mengangkat mola.

4). Kista Stein Laventhal. Disebabkan kadar LH yang berlebihan menyebabkan hiperstimulasi
dari ovarium dengan produksi kista yang banyak. Hiperplasia endometrium atau koriokarsinoma
dapat terjadi. Pengobatan dengan kontrasepsi oral untuk menekan produksi LH dan oovorektomi.

2. Kish neoplasma jinak (Wiknjosastro, et.all, 1999)


1. Kistoma ovarii simplek. Kista ini bertangkai dan dapat menyebabkan torsi (putaran
tangkai). Di duga kista ini adalah jenis kistadenoma serosum yang kehilangan
kelenjarnya karena tekanan cairan dalam kista. Tindakannya adalah pengangkatan kista
dengan reseksi ovarium.
2. Kistadenoma ovarii musinosum. Asal tumor belum diketahui secara pasti, namun diduga
berasal dari teratoma yang pertumbuhan satu elemen mengalahkan elemen yang lain, atau
berasal dari epitel germinativum.
3. Kistadenoma ovarii serosum. Berasal dari epitel permukaan ovarium (germinal ovarium).
Bila kista terdapat implantasi pada peritonium disertai asites maka harus dianggap
sebagai neoplasma yang ganas, dan 30% sampai 35% akan mengalami keganasan.
4. Kista endometroid. Kista biasanya unilateral dengan permukaan licin, pada dinding
dalam terdapat satu lapisan sel-sel yang menyerupai lapisan epitel endometrium.
5. Kista dermoid. Adalah suatu teratoma kistik yang jinak dimana struktur¬struktur
ektoderma dengan diferensiasi sempurna seperti epitel kulit, rambut, gigi dan produk
glandula sebasea putih menyerupai lemak nampak lebih menonjol dari pada elemen-
elemen ektoderm dan mesoderm. Tumor berasal dari sel telur melalui proses patogenesis.

D. Gambaran Klinis Kistadenoma Oovarii Serosum


Mayoritas penderita tumor ovarium tidak menunjukkan adanya gejala sampai periode waktu
tertentu. Hal ini disebabkan perjalanan penyakit ovarium berlangsung secara tersembunyi
sehingga diagnosis sering ditemukan pada waktu pasien dalam keadaan stadium lanjut. Sampai
pada waktunya klien mengeluh adanya ketidakteraturan menstruasi, nyeri pada perut bawah, rasa
sebah pada perut, dan timbul benjolan pada perut.
Pada umumnya kista jenis ini tak mempunyai ukuran yang amat besar dibandingkan dengan
kistadenoma musinosum. Permukaan tumor biasanya licin, akan tetapi dapat pula berbagala
karena kista ovariumpun dapat berbentuk multilokuler, meskipun lazimnya berongga satu.
Warna kista putih keabu-abuan. Ciri khas kista ini adalah potensi pertumbuhan papiler ke dalam
rongga kista sebesar 50 %; dan keluar pada permukaan kista sebesar 5 %. Isi kista cair kuning
dan kadang-kadang coklat karena campuran darah. Tidak jarang kistanya sendiri kecil, tetapi
permukaannya penuh dengan pertumbuhan papiler (solid papiloma).

E. Proses Penyembuhan Luka


Tanpa memandang bentuk, proses penyembuhan luka adalah sama, perbedaan terjadi menurut
waktu pada tlap-tiap fase penyembuhan dan waktu granulasi jaringan. (Long, 1996), fase-fase
penyembuhan luka antara lain :

1. Fase I
Pada fase ini leukosit mencerna bakteri dan jaringan rusak, terbentuk fibrin yang bertumpuk
mengisi luka dari benang fibrin. Lapisan tipis dari sel epitel bermigrasi lewat luka dan membantu
menutupi luka. Kekuatan luka rendah tapi luka dijahit akan menahan jahitan dengan baik.
Setelah besar pasien akan merasa sakit pada fase ini dan berlangsung selama 3 hari.

2. Fase II
Berlangsung 3 sampai 14 hari setelah bedah, leukosit mulai menghilang dan ceruk mulai berisi
kolagen serabut protein putih. Semua lapisan sel epitel beregenerasi dalam 1 minggu, jaringan
ikat kemerahan karena banyak pembuluh darah. Tumpukan kolagen akan menunjang luka
dengan baik dalam 6 sampai 7 hari, jadi jahitan diangkat pada fase ini, tergantung pada tempat
dan luasnya bedah.

3. Fase III
Kolagen terus tertumpuk, hal ini menekan pembuluh darah baru dan arus darah menurun. Luka
sekarang terlihat seperti berwarna merah jambu yang luas, terjadi pada minggu ke dua hingga
enam post bedah, pasien harus menjaga agar tidak menggunakan otot yang terkena.

4. Fase IV
Berlangsung beberapa bulan setelah bedah, pasien akan mengeluh gatal di seputar luka, walau
kolagen terus menimbun, pada waktu ini luka menciut dan menjadi tegang. Bila luka dekat
persendian akan terjadi kontraktur karena penciutan luka akan terjadi ceruk yang berlapis putih.

F. Pemeriksaan Penunjang
1. Laparaskopi
Pemeriksaan ini sangat berguna untuk mengetahui apakah sebuah tumor berasal dari ovarium
atau tidak, dan untuk menentukan silat-sifat tumor itu.

2. Ultrasonografi
Dengan pemeriksaan ini dapat ditentukan letak dan batas tumor apakah tumor berasal dari uterus,
ovarium, atau kandung kencing, apakah tumor kistik atau solid, dan dapatkah dibedakan pula
antara cairan dalam rongga perut yang bebas dan yang tidak.

3. Foto Rontgen
Pemeriksaan ini berguna untuk menentukan adanya hidrotoraks. Selanjutnya, pada kista dermoid
kadang-kadang dapat dilihat gigi dalam tumor. Penggunaan foto rontgen pada pictogram
intravena dan pemasukan bubur barium dalam colon disebut di atas.

4. Parasentesis
Telah disebut bahwa fungsi pada asites berguna menentukan sebab asites. Perlu diingatkan
bahwa tindakan tersebut dapat mencemarkan cavum peritonei dengan kista bila dinding kista
tertusuk. (Wiknjosastro, et.all, 1999)

G. Penatalaksanaan
Tindakan operasi pada tumor ovarium neoplastik yang tidak ganas ialah pengangkatan tumor
dengan mengadakan reseksi pada bagian ovarium yang mengandung tumor. Akan tetapi jika
tumornya besar atau ada komplikasi, perlu dilakukan pengangkatan ovarium, bisanya disertai
dengan pengangkatan tuba (Salpingo-oovorektomi). (Wiknjosastro, et.all, 1999)
Asuhan post operatif merupakan hal yang berat karena keadaan yang mencakup keputusan untuk
melakukan operasi, seperti hemorargi atau infeksi. Pengkajian dilakukan untuk mengetahui
tanda-tanda vital, asupan dan keluaran, rasa sakit dan insisi. Terapi intravena, antibiotik dan
analgesik biasanya diresepkan. Intervensi mencakup tindakan pemberiaan rasa aman, perhatian
terhadap eliminasi, penurunan rasa sakit dan pemenuhan kebutuhan emosional Ibu. (Hlamylton,
1995).

Efek anestesi umum. Mempengaruhi keadaan umum penderita, karena kesadaran menurun.
Selain itu juga diperlukan monitor terhadap keseimbangan cairan dan elektrolit, suara nafas dan
usaha pernafasan, tanda-tanda infeksi saluran kemih, drainese urin dan perdarahan. Perawat juga
harus mengajarkan bagaimana aktifitas pasien di rumah setelah pemulangan, berkendaraan mobil
dianjurkan setelah satu minggu di rumah, tetapi tidak boleh mengendarai atau menyetir untuk 3-4
minggu, hindarkan mengangkat benda-benda yang berat karena aktifitas ini dapat menyebabkan
kongesti darah di daerah pelvis, aktifitas seksual sebaiknya dalam 4-6 minggu setelah operasi,
kontrol untuk evaluasi medis pasca bedah sesuai anjuran. (Long, 1996)

II. PROSES KEPERAWATAN


1. Pengkajian
Yaitu suatu kegiatan mengumpulkan dan mengorganisasikan data yang dikumpulkan dari
berbagai sumber dan merupakan dasar untuk tindakan dan keputusan yang diambil pada tahap-
tahap selanjutnya. Adapun pengkajiannya meliputi :

a. Biodata
Meliputi identitas pasien, identitas penanggung jawab dan identitas masuk.
b. Riwayat kesehatan, meliputi keluhan utama, riwayat kesehatan sekarang, riwayat kesehatan
dahulu, riwayat kesehatan keluarga dan riwayat sosial ekonomi.
c. Status Obstetrikus, meliputi :
1). Menstruasi : menarche, lama, siklus, jumlah, warna dan bau
2). Riwayat perkawinan : berapa kali menikah, usia perkawinan
3). Riwayat persalinan
4). Riwayat KB
d. Pengkajian pasca operasi rutin, menurut (Ingram, Barbara, 1999)
1). Kaji tingkat kesadaran
2). Ukur tanda-tanda vital
3). Auskultasi bunyi nafas
4). Kaji turgor kulit
5). Pengkajian abdomen
Inspeksi ukuran dan kontur abdomen
Auskultasi bising usus
Palpasi terhadap nyeri tekan dan massa
Tanyakan tentang perubahan pola defekasi
Kaji status balutan
6). Kaji terhadap nyeri atau mual
7). Kaji status alat intrusif
8). Palpasi nadi pedalis secara bilateral
9). Evaluasi kembajinya reflek gag
10). Periksa laporan operasi terhadap tipe anestesi yang diberikan dan lamanya waktu di bawah
anestesi.
11). Kaji status psikologis pasien setelah operasi
e. Data penunjang
1). pemeriksaan laboratorium : pemeriksaan darah lengkap (NB, HT, SDP)
2). terapi : terapi yang diberikan pada post operasi baik injeksi maupun peroral

2. Diagnosa Keperawatan Dan Fokus Intervensi


a. Resiko tinggi aspirasi berhubungan dengan penurunan kesadaran (Carpenito, 2001)
Tujuan : Tidak terjadi aspirasi yang berhubungan dengan penurunan kesadaran.
Kriteria hasil : Tidak mengalami aspirasi, pasien dapat mengungkapkan tindakan untuk
menghindari aspirasi.
Intervensi :
1). Pertahankan posisi baring miring jika tidak ada kontra indikasi karena cidera.
2). Kaji posisi lidah, pastikan bahwa lidah tidak (jatuh kebelakang, menyumbat jalan nafas).
3). Jaga bagian kepala tempat tidur tetap tinggi, jika tidak ada kontra indikasi.
4). Bersihkan sekresi dari mulut dan tenggorok dengan tissu atau penghisap dengan perlahan-
lahan.
5). Kaji kembali dengan sering adanya obstruksi benda-benda dalam mulut dan tenggorok.

b. Resiko injuri berhubungan dengan penurunan kesadaran (Carpenito, 1995)


Tujuan : Tidak terjadi injuri yang berhubungan dengan penurunan kesadaran.
Kriteria hasil : GCS normal (E4, V5, M6)

Intervensi :
1). Gunakan tempat tidur yang rendah dengan pagar pengaman yang terpasang.
2). Jauhkan benda-benda yang dapat melukai pasien dan anjurkan keluarga untuk menemani
pasien.

c. Gangguan rasa nyaman : nyeri abdomen berhubungan dengan insisi pada abdomen
(Long,1996)
Tujuan : Rasa nyaman terpenuhi
Kriteria hasil : skala nyeri 0, pasien mengungkapkan berkurangnya rasa nyeri, tanda-tanda vital
normal.
Intervensi :
1). Jelaskan penyebab nyeri pada pasien.
2). Kaji skala nyeri pasien.
3). Ajarkan tehnik distraksi selama nyeri.
4). Berikan individu kesempatan untuk istirahat yang cukup.
5). Berikan individu pereda rasa sakit yang optimal dengan analgesik sesuai program dokter.
6). 30 menit setclah pemberian obat pengurang rasa sakit, evaluasi kembali efektifitasnya.

d. Resiko infeksi berhubungan dengan invasi kuman sekunder terhadap pembedahan (Carpenito,
1995)
Tujuan : Tidak terjadi infeksi.
Kriteria hasil : tidak ada tanda-tanda infeksi (TTV normal, tidak ada peningkatan leukosit).
Intervensi :
1). Kaji tanda-tanda infeksi dan monitor TTV
2). Gunakan tehnik antiseptik dalam merawat pasien
3). Isolasikan dan instruksikan individu dan keluarga untuk mencuci tangan sebelum mendekati
pasien
4). Tingkatkan asupan makanan yang bergizi
5). Berikan terapi antibiotik sesuai program dokter

e. Resiko konstipasi berhubungan dengan pembedahan abdominal (Doenges, 2000)


Tujuan : Tidak terjadi konstipasi
Kriteria hasil : Peristaltik usus normal (5-35 kali per menit), pasien akan menunjukkan pola
climinasi biasanya.
Intervensi :
1). Monitor peristaltik usus, karakteristik feses dan frekuensinya
2). Dorong pemasukan cairan adekuat, termasuk sari buah bila pemasukan peroral dimulai.
3). Bantu pasien untuk duduk pada tepi tempat tidur dan berjalan.

f. Gangguan pemenuhan kebutuhan diri (mandi, makan, minum, bak, bab berpakaian)
berhubungan dengan keletihan pasca operatif dan nyeri (Carpenito,2001)
Tujuan : Kebersihan diri pasien terpenuhi
Kriteria hasil : Pasien dapat berpartisipasi secara fisik Imaupun verbal dalam aktifitas
pemenuhan kebutuhan dirinya
Intervensi :
1). i tentang kurangnyaDorong pasien untuk mengekspresikan perasaa kemampuan perawatan
diri dan berikan bantun dalam mernenuhi kebutuhan pasien.
2). Berikan pujian alas kemampuan pasien dan mclibatkan keluarga dalam perawatan pasien.

g. Cemas berhubungan dengan kurangnya informasi (Doenges, 2000)


Tujuan : Pasien mengetahui tentang efek sawing dari operasinya.
Kriteria hasil : Pasien menyatakan memahami tentang kondisinya.
Intervensi :
1). Tinjau ulang efek prosedur pembedahan dan harapan pada masa dating.
2). Diskusikan dengan lengkap masalah yang diantisipasi selama masa penyembuhan.
3). Diskusikan melakukan kembali aktifitas
4). Identifikasi keterbatasan individu
5). Kaji anjuran untuk memulai koitus seksual
6). Identifikasi kebutuhan diet
7). Dorong minum obat yang diberikan secara rutin
8). Identifikasi tanda atau gejala yang memerlukan evaluasi medis.

LAPORAN PENDAHULUAN

KISTOMA OVARI

A. PENGERTIAN
Kistoma ovari merupakan suatu tumor, baik yang kecil maupun yang besar, kistik atau padat,
jinak atau ganas (Winkjosastro. et.all. 1999).
Dalam kehamilan tumor ovarium yang dijumpai yang paling sering adalah kista dermonal, kista
coklat atau kista lutein, tumor ovarium yang cukup besar dapat disebabkan kelainan letak janin
dalam rahim atau dapat menghalang-halangi masuknya kepala kedalam panggul.
Kiste ovarii adalah tumor jinak pada ovarium. Merupakan tumor paling banyak pada wanita usia
20 – 40 th.
Kista adalah suatu jenis tumor, penyebab pastinya sendiri belum diketahui, diduga seringnya
memakai kesuburan (Soemadi, 2006).
Kista adalah suatu jenis tumor berupa kantong abnormal yang berisi cairan atau benda seperti
bubur (Dewa, 2000).
Kista adalah suatu bentukan yang kurang lebih bulat dengan dinding tipis, berisi cairan atau
bahan setengah cair (Sjamsuhidajat, 1998).
Kista ovarium adalah pertumbuhan sel yang berlebihan / abnormal pada ovarium yang
membentuk seperti kantong (Agusfarly, 2008).
Kista ovarium merupakan suatu pengumpulan cairan yang terjadi pada indung telur atau
ovarium. Cairan yang terkumpul ini dibungkus oleh semacam selaput yang terbentuk dari lapisan
terluar dari ovarium.
Kista adalah kantong berisi cairan, kista seperti balon berisi air, dapat tumbuh di mana saja dan
jenisnya bermacam-macam. Kista yang berada di dalam atau permukaan ovarium (indung telur)
disebut kista ovarium atau tumor ovarium.
Kista ovarium sering terjadi pada wanita di masa reproduksinya. Sebagian besar kista terbentuk
karena perubahan kadar hormon yang terjadi selama siklus haid, produksi dan pelepasan sel telur
dari ovarium.

B. JENIS-JENIS KISTOMA OVARI


Menurut etiologi, kista ovarium dibagi menjadi 2, yaitu : (Ignativicus, bayne, 1991)
1. Kista non neoplasma
Disebabkan karena ketidak seimbangan hormon esterogen dan progresterone diantaranya
adalah :
a. Kista non fungsional
Kista serosa inklusi, berasal dari permukaan epitelium yang berkurang di dalam korteks
b. Kista fungsional
 Kista folikel, disebabkan karena folikel yang matang menjadi ruptur atau folikel yang tidak
matang direabsorbsi cairan folikuler di antara siklus menstruasi. Banyak terjadi pada wanita yang
menarche kurang dari 12 tahun.
Kista korpus luteum, terjadi karena bertambahnya sekresi progesterone setelah ovulasi.
Kista tuba lutein, disebabkan karena meningkatnya kadar HCG terdapat pada mola hidatidosa.
Kista stein laventhal, disebabkan karena peningkatan kadar LH yang menyebabkan hiperstimuli
ovarium.
2. Kista neoplasma (Winjosastro. et.all 1999)
a. Kistoma ovarii simpleks
Adalah suatu jenis kista deroma serosum yang kehilangan epitel kelenjarnya karena tekanan
cairan dalam kista
b. Kistodenoma ovarii musinoum
Asal kista ini belum pasti, mungkin berasal dari suatu teratoma yang pertumbuhanya I elemen
mengalahkan elemen yang lain
c. Kistadenoma ovarii serosum
Berasal dari epitel permukaan ovarium (Germinal ovarium)
d. Kista Endrometreid
Belum diketahui penyebab dan tidak ada hubungannya dengan endometroid
e. Kista dermoid
Tumor berasal dari sel telur melalui proses patogenesis

C. ETIOLOGI
Faktor yang menyebabkan gajala kista meliputi; Gaya hidup tidak sehat, diantaranya;
1. Konsumsi makanan yang tinggi lemak dan kurang serat
2. Zat tambahan pada makanan
3. Kurang olah raga
4. Merokok dan konsumsi alcohol
5. Terpapar denga polusi dan agen infeksius
6. Sering stress
Faktor genetik
Dalam tubuh kita terdapat gen-gen yang berpotensi memicu kanker, yaitu yang disebut
protoonkogen, karena suatu sebab tertentu, misalnya karena makanan yang bersifat karsinogen,
polusi, atau terpapar zat kimia tertentu atau karena radiasi, protoonkogen ini dapat berubah
menjadi onkogen, yaitu gen pemicu kanker.

C. PATHOFISIOLOGI
Setiap hari, ovarium normal akan membentuk beberapa kista kecil yang disebut Folikel de Graff.
Pada pertengahan siklus, folikel dominan dengan diameter lebih dari 2.8 cm akan melepaskan
oosit mature. Folikel yang rupture akan menjadi korpus luteum, yang pada saat matang memiliki
struktur 1,5 – 2 cm dengan kista ditengah-tengah. Bila tidak terjadi fertilisasi pada oosit, korpus
luteum akan mengalami fibrosis dan pengerutan secara progresif. Namun bila terjadi fertilisasi,
korpus luteum mula-mula akan membesar kemudian secara gradual akan mengecil selama
kehamilan.
Kista ovari yang berasal dari proses ovulasi normal disebut kista fungsional dan selalu jinak.
Kista dapat berupa folikular dan luteal yang kadang-kadang disebut kista theca-lutein. Kista
tersebut dapat distimulasi oleh gonadotropin, termasuk FSH dan HCG. Kista fungsional multiple
dapat terbentuk karena stimulasi gonadotropin atau sensitivitas terhadap gonadotropin yang
berlebih. Pada neoplasia tropoblastik gestasional (hydatidiform mole dan choriocarcinoma) dan
kadang-kadang pada kehamilan multiple dengan diabetes, HCg menyebabkan kondisi yang
disebut hiperreaktif lutein. Pasien dalam terapi infertilitas, induksi ovulasi dengan menggunakan
gonadotropin (FSH dan LH) atau terkadang clomiphene citrate, dapat menyebabkan sindrom
hiperstimulasi ovari, terutama bila disertai dengan pemberian HCG.
Kista neoplasia dapat tumbuh dari proliferasi sel yang berlebih dan tidak terkontrol dalam
ovarium serta dapat bersifat ganas atau jinak. Neoplasia yang ganas dapat berasal dari semua
jenis sel dan jaringan ovarium. Sejauh ini, keganasan paling sering berasal dari epitel permukaan
(mesotelium) dan sebagian besar lesi kistik parsial. Jenis kista jinak yang serupa dengan
keganasan ini adalah kistadenoma serosa dan mucinous. Tumor ovari ganas yang lain dapat
terdiri dari area kistik, termasuk jenis ini adalah tumor sel granulosa dari sex cord sel dan germ
cel tumor dari germ sel primordial. Teratoma berasal dari tumor germ sel yang berisi elemen dari
3 lapisan germinal embrional; ektodermal, endodermal, dan mesodermal.
Endometrioma adalah kista berisi darah dari endometrium ektopik. Pada sindroma ovari
pilokistik, ovarium biasanya terdiri folikel-folikel dengan multipel kistik berdiameter 2-5 mm,
seperti terlihat dalam sonogram. Kista-kista itu sendiri bukan menjadi problem utama dan diskusi
tentang penyakit tersebut diluar cakupan artikel ini.

D. TANDA DAN GEJALA


Sebagian besar kista ovarium tidak menimbulkan gejala, atau hanya sedikit nyeri yang tidak
berbahaya. Tetapi adapula kista yang berkembang menjadi besar dan menimpulkan nyeri yang
tajam. Pemastian penyakit tidak bisa dilihat dari gejala-gejala saja karena mungkin gejalanya
mirip dengan keadaan lain seperti endometriosis, radang panggul, kehamilan ektopik (di luar
rahim) atau kanker ovarium.
Meski demikian, penting untuk memperhatikan setiap gejala atau perubahan ditubuh Anda untuk
mengetahui gejala mana yang serius. Gejala-gejala berikut mungkin muncul bila anda
mempunyai kista ovarium:
1. Perut terasa penuh, berat, kembung
2. Tekanan pada dubur dan kandung kemih (sulit buang air kecil)
3. Haid tidak teratur
4. Nyeri panggul yang menetap atau kambuhan yang dapat menyebar ke punggung bawah dan
paha.
5. Nyeri sanggama
6. Mual, ingin muntah, atau pengerasan payudara mirip seperti pada saat hamil.
Gejala-gejala berikut memberikan petunjuk diperlukan penanganan kesehatan segera:
1. Nyeri perut yang tajam dan tiba-tiba
2. Nyeri bersamaan dengan demam
3. Rasa ingin muntah
E. KOMPLIKASI
Beberapa ahli mencurigai kista ovarium bertanggung jawab atas terjadinya kanker ovarium pada
wanita diatas 40 tahun. Mekanisme terjadinya kanker masih belum jelas namun dianjurkan pada
wanita yang berusia diatas 40 tahun untuk melakukan skrining atau deteksi dini terhadap
kemungkinan terjadinya kanker ovarium.
Faktor resiko lain yang dicurigai adalah penggunaan kontrasepsi oral terutama yang berfungsi
menekan terjadinya ovulasi. Maka dari itu bila seorang wanita usia subur menggunakan metode
konstrasepsi ini dan kemudian mengalami keluhan pada siklus menstruasi, lebih baik segera
melakukan pemeriksaan lengkap atas kemungkinan terjadinya kanker ovarium.

F. PROGNOSIS
William Helm, C. 2005. Dkk mengatakan : Prognisis dari kista jinak sangat baik. Kista jinak
tersebut dapat tumbuh di jaringan sisa ovarium atau di ovarium kontralateral.
Kematian disebabkan karena karsinoma ovari ganas berhubungan dengan stadium saat
terdiagnosis pertama kali dan pasien dengan keganasan ini sering ditemukan sudah dalam
stadium akhir.
Angka harapan hidup dalam 5 tahun rata-rata 41.6%, bervariasi antara 86.9% untuk stadium
FIGO Ia dan 11.1% untuk stadium IV.
Tumor sel granuloma memiliki angka bertahan hidup 82% sedangakan karsinoma sel skuamosa
yang berasal dari kista dermoid berkaitan dengan prognosis yang buruk.
Sebagian besar tumor sel germinal yang terdiagnosis pada stadium awal memiliki prognosis yang
sangat baik. Disgerminoma dengan stadium lanjut berkaitan dengan prognosis yang lebih baik
dibandingkan germinal sel tumor nondisgerminoma.
Tumor yang lebih tidak agresif dengan potensi keganasan yang rendah mempunyai sifat yang
lebih jinak tetapi tetap berhubungan dengan angka kematian yang tinggi. Secara keseluruhan
angka bertahan hidup selama 5 tahun adalah 86.2%

G. PENATALAKSANAAN
Pengobatan kiste ovarii yang besar biasanya adalah pengangkatan melalui tindakan bedah. Jika
ukuran lebar kiste kurang dari 5 cm dan tampak terisi oleh cairan atau fisiologis pada pasien
muda yang sehat, kontrasepsi oral dapat digunakan untuk menekan aktivitas ovarium dan
menghilangkan kiste.
Perawatan paska operatif setelah pembedahan serupa dengan perawatan pembedahan abdomen.
Penurukan tekanan intraabdomen yang diakibatkan oleh pengangkatan kiste yang besar biasanya
mengarah pada distensi abdomen yang berat, komplikasi ini dapat dicegah dengan pemakaian
gurita abdomen yang ketat.

H. PROSES PENYEMBUHAN LUKA


Tanpa memandang bentuk, proses penyembuhan luka adalah sama dengan yang lainnya.
Perbedaan terjadi menurut waktu pada tiap-tiap fase penyembuhan dan waktu granulasi jaringan
(long. 1996).
Fase-fase penyembuhan luka antara lain :
1. Fase I
Pada fase ini Leukosit mencerna bakteri dan jaringan rusak terbentuk fibrin yang menumpuk
mengisi luka dari benang fibrin. Lapisan dari sel epitel bermigrasi lewat luka dan membantu
menutupi luka, kekuatan luka rendah tapi luka dijahit akan menahan jahitan dengan baik.
2. Fase II
Berlangsung 3 sampai 14 hari setelah bedah, leukosit mulai menghilang dan ceruk mulai kolagen
serabut protein putih semua lapisan sel epitel bergenerasi dalam satu minggu, jaringan ikat
kemerahan karena banyak pembuluh darah. Tumpukan kolagen akan menunjang luka dengan
baik dalam 6-7 hari, jadi jahitan diangkat pada fase ini, tergantung pada tempat dan liasanya
bedah.
3. Fase III
Kolagen terus bertumpuk, hal ini menekan pembuluh darah baru dan arus darah menurun. Luka
sekarang terlihat seperti berwarna merah jambu yang luas, terjadi pada minggu ke dua hingga
enam post operasi, pasien harus menjaga agar tak menggunakan otot yang terkena.
4. Fase IV
Berlangsung beberapa bulan setelah pembedahan, pasien akan mengeluh, gatal disekitar luka,
walau kolagen terus menimbun, pada waktu ini menciut dan menjadi tegang. Bila luka dekat
persendian akan terjadi kontraktur karena penciutan luka dan akan terjadi ceruk yang berlapis
putih.

I. PEMERIKSAAN PENUNJANG
Pemastian diagnosis untuk kista ovarium dapat dilakukan dengan pemeriksaan:
1. Ultrasonografi (USG)
Tindakan ini tidak menyakitkan, alat peraba (transducer) digunakan untuk mengirim dan
menerima gelombang suara frekuensi tinggi (ultrasound) yang menembus bagian panggul, dan
menampilkan gambaran rahim dan ovarium di layar monitor. Gambaran ini dapat dicetak dan
dianalisis oleh dokter untuk memastikan keberadaan kista, membantu mengenali lokasinya dan
menentukan apakah isi kista cairan atau padat. Kista berisi cairan cenderung lebih jinak, kista
berisi material padat memerlukan pemeriksaan lebih lanjut.
2. Laparoskopi
Dengan laparoskopi (alat teropong ringan dan tipis dimasukkan melalui pembedahan kecil di
bawah pusar) dokter dapat melihat ovarium, menghisap cairan dari kista atau mengambil bahan
percontoh untuk biopsi.

J. PENGKAJIAN
1. Data diri klien
2. Data biologis/fisiologis –> keluhan utama, riwayat keluhan utama
3. Riwayat kesehatan masa lalu
4. Riwayat kesehatan keluarga
5. Riwayat reproduksi –> siklus haid, durasi haid
6. Riwayat obstetric –> kehamilan, persalinan, nifas, hamil
7. Pemeriksaan fisik
8. Data psikologis/sosiologis–> reaksi emosional setelah penyakit diketahui

K. DIAGNOSA KEPERAWATAN DAN FOKUS INTERVENSI


a. Preoperasi
1. Nyeri kronis b/d putaran tangkai kiste.
2. Cemas b/d diagnosis dan rencana pembedahan
3. PK perdarahan
b. Post operasi
1. Nyeri akut b/d luka insisi pembedahan
2. Resiko infeksi b/d tindakan invasif dan pembedaha

Sunday, June 21, 2009


askep laparatomi
Pengertian
Pembedahan perut sampai membuka selaput perut.
Ada 4 cara, yaitu;
Midline incision
Paramedian, yaitu ; sedikit ke tepi dari garis tengah (± 2,5 cm), panjang (12,5 cm).
Transverse upper abdomen incision, yaitu ; insisi di bagian atas, misalnya pembedahan
colesistotomy dan splenektomy.
Transverse lower abdomen incision, yaitu; insisi melintang di bagian bawah ± 4 cm di atas
anterior spinal iliaka, misalnya; pada operasi appendictomy.

Indikasi
Trauma abdomen (tumpul atau tajam)
Peritonitis
Perdarahan saluran pencernaan.
Sumbatan pada usus halus dan usus besar.
Masa pada abdomen

Komplikasi
Ventilasi paru tidak adekuat
Gangguan kardiovaskuler : hipertensi, aritmia jantung.
Gangguan keseimbangan cairan dan elektrolit.
Gangguan rasa nyaman dan kecelakaan

Latihan-latihan fisik
Latihan napas dalam, latihan batuk, menggerakan otot-otot kaki, menggerakkan otot-otot
bokong, Latihan alih baring dan turun dari tempat tidur. Semuanya dilakukan hari ke 2 post
operasi.

POST LAPARATOMI
Perawatan post laparatomi adalah bentuk pelayanan perawatan yang diberikan kepada pasien-
pasien yang telah menjalani operasi pembedahan perut.

Tujuan perawatan post laparatomi;


Mengurangi komplikasi akibat pembedahan.
Mempercepat penyembuhan.
Mengembalikan fungsi pasien semaksimal mungkin seperti sebelum operasi.
Mempertahankan konsep diri pasien.
Mempersiapkan pasien pulang.
Komplikasi post laparatomi;
Gangguan perfusi jaringan sehubungan dengan tromboplebitis.
Tromboplebitis postoperasi biasanya timbul 7 - 14 hari setelah operasi. Bahaya besar
tromboplebitis timbul bila darah tersebut lepas dari dinding pembuluh darah vena dan ikut aliran
darah sebagai emboli ke paru-paru, hati, dan otak.
Pencegahan tromboplebitis yaitu latihan kaki post operasi, ambulatif dini dan kaos kaki TED
yang dipakai klien sebelum mencoba ambulatif.

Buruknya intergriats kulit sehubungan dengan luka infeksi.


Infeksi luka sering muncul pada 36 - 46 jam setelah operasi. Organisme yang paling sering
menimbulkan infeksi adalah stapilokokus aurens, organisme; gram positif. Stapilokokus
mengakibatkan pernanahan.
Untuk menghindari infeksi luka yang paling penting adalah perawatan luka dengan
memperhatikan aseptik dan antiseptik.

Buruknya integritas kulit sehubungan dengan dehisensi luka atau eviserasi.


Dehisensi luka merupakan terbukanya tepi-tepi luka.
Eviserasi luka adalah keluarnya organ-organ dalam melalui insisi.
Faktor penyebab dehisensi atau eviserasi adalah infeksi luka, kesalahan menutup waktu
pembedahan, ketegangan yang berat pada dinding abdomen sebagai akibat dari batuk dan
muntah.

Proses penyembuhan luka


Fase pertama / Inflamasi
Berlangsung sampai hari ke 3. Batang lekosit banyak yang rusak / rapuh. Sel-sel darah baru
berkembang menjadi penyembuh dimana serabut-serabut bening digunakan sebagai kerangka.

Fase kedua
Dari hari ke 3 sampai hari ke 14. Pengisian oleh kolagen, seluruh pinggiran sel epitel timbul
sempurna dalam 1 minggu. Jaringan baru tumbuh dengan kuat dan kemerahan.

Fase ketiga
Sekitar 2 sampai 10 minggu. Kolagen terus-menerus ditimbun, timbul jaringan-jaringan baru dan
otot dapat digunakan kembali.

Fase keempat / Maturasi


Fase terakhir. Penyembuhan akan menyusut dan mengkerut.

Intervensi untuk meningkatkan penyembuhan


Meningkatkan intake makanan tinggi protein dan vitamin c.
Menghindari obat-obat anti radang seperti steroid.
Pencegahan infeksi.

Pengembalian Fungsi fisik.


Pengembalian fungsi fisik dilakukan segera setelah operasi dengan latihan napas dan batuk
efektf, latihan mobilisasi dini.

Mempertahankan konsep diri.


Gangguan konsep diri : Body image bisa terjadi pada pasien post laparatomy karena adanya
perubahan sehubungan dengan pembedahan. Intervensi perawatan terutama ditujukan pada
pemberian support psikologis, ajak klien dan kerabat dekatnya berdiskusi tentang perubahan-
perubahan yang terjadi dan bagaimana perasaan pasien setelah operasi.

Pengkajian
Perlengkapan yang dilakukan pada pasien post laparatomy, adalah;
Respiratory
Bagaimana saluran pernapasan, jenis pernapasan, bunyi pernapasan.
Sirkulasi
Tensi, nadi, respirasi, dan suhu, warna kulit, dan refill kapiler.
Persarafan : Tingkat kesadaran.
Balutan
Apakah ada tube, drainage ?
Apakah ada tanda-tanda infeksi?
Bagaimana penyembuhan luka ?
Peralatan
Monitor yang terpasang.
Cairan infus atau transfusi.
Rasa nyaman
Rasa sakit, mual, muntah, posisi pasien, dan fasilitas ventilasi.
Psikologis : Kecemasan, suasana hati setelah operasi.

Diagnosa Keperawatan
Kerusakan integritas jaringan sehubungan dengan adanya luka invasif
Gangguan rasa nyaman, abdomen tegang sehubungan dengan adanya rasa nyeri di abdomen.
Potensial terjadinya infeksi sehubungan dengan adanya sayatan / luka operasi laparatomi.
Potensial kekurangan caiaran sehubungan dengan adanya demam, pemasukkan sedikit dan
pengeluaran cairan yang banyak.

Kriteria Evaluasi
Hasil yang diharapkan setelah perawatan pasien post operasi, meliputi;
Tidak timbul nyeri luka selama penyembuhan.
Luka insisi normal tanpa infeksi.
Tidak timbul komplikasi.
Pola eliminasi lancar.
Pasien tetap dalam tingkat optimal tanpa cacat.
Kehilangan berat badan minimal atau tetap normal.
Sebelum pulang, pasien mengetahui tentang :
Pengobatan lanjutan.
Jenis obat yang diberikan.
Diet.
Batas kegiatan dan rencana kegiatan di rumah.
PENATALAKSANAAN PERAWATAN
Assesment
Pengkajian ini meliputi obyektif dan subyektif.
Data subyektif meliputi;
Nyeri yang sangat pada daerah perut.

Data obyektif meliputi :


Napas dangkal
Tensi turun
Nadi lebih cepat
Abdomen tegang
Defense muskuler positif
Berkeringat
Bunyi usus hilang
Pekak hati hilang

Diagnosa Keperawatan
Kerusakan integritas kulit sehubungan dengan adanya luka invasif
Gangguan rasa nyaman, abdomen tegang sehubungan dengan adanya rasa nyeri di abdomen.
Potensial terjadinya infeksi sehubungan dengan adanya sayatan / luka operasi laparatomi.
Potensial kekurangan caiaran sehubungan dengan adanya demam, pemasukkan sedikit dan
pengeluaran cairan yang banyak.

Hasil yang diharapkan


Pasien akan tetap merasa nyaman.
Pasien akan tetap mempertahankan kesterilan luka operasinya.
Pasien akan mempertahankan keseimbangan cairan dan elektrolit.

Tindakan keperawatan (intevensi keperawatan) pre operatif :


Pertahankan pasien untuk bedrest sampai diagnosa benar-benar sudah ditegakkan.
Tidak memberikan apapun melaui mulut dan beritahukan pasien untuk tidak makan dan minum.
Monitoring cairan intra vena bila diberikan.
Mencatat intake dan output.
Posisi pasien seenak mungkin.
Kolaborasi dengan dokter untuk pemberian obat-obatan.
Ajarkan pasien hal-hal yang perlu dilakukan setelah operasi selesai.
Monitoring tanda-tanda vital.

Tindakan keperawatan post operasi:


Monitor kesadaran, tanda-tanda vital, CVP, intake dan output
Observasi dan catat sifat darai drain (warna, jumlah) drainage.
Dalam mengatur dan menggerakan posisi pasien harus hati-hati, jangan sampai drain tercabut.
Perawatan luka operasi secara steril.

Evaluasi
Tanda-tanda peritonitis menghilang yang meliputi :
Suhu tubuh normal
Nada normal
Perut tidak kembung
Peristaltik usus normal
Flatus positif
Bowel movement positif
Pasien terbebas dari rasa sakit dan dapat melakukan aktifitas.
Pasien terbebas dari adanya komplikasi post operasi.
Pasien dapat mempertahankan keseimbangan cairan dan elektrolit dan mengembalikan pola
makan dan minum seperti biasa.
Luka operasi baik.

LAPORAN PENDAHULUAN LAPARATOMI


11:35:00, Posted by Gayuh Coy, No Comment

LAPORAN PENDAHULUAN
LAPARATOMI

Pengertian
Pembedahan perut sampai dengan membuka selaput perut .
Ada 4 cara, yaitu;
1. Midline incision
2,5 cm), panjang (12,5 cm).2. Paramedian, yaitu ; sedikit ke tepi dari garis tengah (
3. Transverse upper abdomen incision, yaitu ; insisi di bagian atas, misalnya pembedahan
colesistotomy dan splenektomy.
4. Transverse lower abdomen incision, yaitu; insisi melintang di bagian 4 cm di atas anterior
spinal iliaka, misalnya; pada operasibawah appendictomy.

Indikasi
1. Trauma abdomen (tumpul atau tajam)
2. Peritonitis
3. Perdarahan saluran pencernaan.
4. Sumbatan pada usus halus dan usus besar.
5. Masa pada abdomen ( Tumor, cyste dll).
PERAWATAN PRE OPERATIF
PENGKAJIAN
Point penting dalam riwayat keperawatan preoperative :
• Umur
• Alergi terhadap obat, makanan
• Pengalaman pembedahan
• Pengalaman anestesi
• Tembakau, alcohol, obat-obatan
• Lingkungan
• Kemampuan self care
• Support system

PEMERIKSAAN FISIK

• Pengkajian dasar preop dilakukan untuk :


• Menentukan data dasar
• Masalah pengobatan yang tersembunyi
• Potensial komplikasi berhubungan dengan anestesi
• Potensial komplikasi post op.

Fokus : Riwayat dan sistem tubuh yang mempengaruhi prosedur pembedahan.

System kardiovaskuler
Untuk menentukan kekuatan jantung dan kemampuan untuk mentoleransi pembedahan dan
anestesi.
39 % kematian perioperatif.Perubahan jantung

Sistem pernapasan
resiko atelektasis, kolap jaringan paru.Lansia, smoker, PPOM
Mencegah pertukaran oksigen/CO2
Intoleransi karena perubahan dalam dada dan paru.
efisiensi ekskresi paru terhadap anestesi menurun. Regiditas cavum thoraks dan menurunnya
ekspansi paru 

Renal system
Abnormal renal fungsi menurunkan rata ekskresi obat dan anestesi
Skopolamin, morphin konfusi disorientasi

Neuorologi system :
Kemampuan ambulasi, dan reflek, serta aktivitas lainya.

Muskulussceletal
Deformitas mempengaruhi posisi intra dan post-operasi
nyeri post-operasi oleh karena immobilisasi menerima posisi Artritis
Kekuatan, tonus otot.
Status Nutrisi
resiko tinggi pembedahanMalnutrisi, obesitas
Vit. C , vit.B diperlukan untuk penyembuhan luka dan pembentukan fibrin.
wondhiling menurun oleh karena jaringan lemak tinggiObesitas

Psikososial asesment
Tujuan : menentukan kemampuan coping
Informasi
Support

Laboratorium
Analisis:
1. Pengetahuan kurang sehubungan dengan pengalaman pre-op
2. Kecemasan sehubungan dengan pengalaman pre-op

Pengetahuan kurang ( knowledge defisite )


Tujuan : Klien mengatakan dan mematuhi prosedur pre-op
Mendemostrasikan teknik untuk mencegah komplikasi post-op

Intervensi
Fokus : Edukasi pre-operasi
Informasi : Informed consent, pembatasan diit, pre-operatip preparation, post-op exersice.

Informed Consent :
- alasan pembedahan
- pilhan dan resikonya
- resiko pembedahan
- resiko anestesi

6 – 8 jam sebelum pembedahan GI (gastro intestinal ) preparasi : NPO (nothing per oral )
Pembatasan diit
- mencegah perlukaan colon
- melihat jelas area
- mengurangi bacteri intestinal

Skin preparasi
Tube, drain, Intra Venous line
Post – op exercise :
- diaphragmatic breating
- incestive spirometri
- cougling and spinting the surgical wound
- turning and leg exercise

Kecemasan :
Tujuan : kecemasan klien menurun , menunjukkan relaksasi saat istirahat
Intervensi :
- preoperatip teaching
- comunikatip
- rest.

INTERVENSI KLIEN INTRA OPERATIF

Anggota tim pembedahan


Tim pembedahan terdiri dari :
• Ahli bedah
• Tim pembedahan dipimpin oleh ahli bedah senior atau ahli bedah yang sudah melakukan
operasi.
• Asisten pembedahan (1orang atau lebih) asisten bius dokter, risiden, atau perawat, di bawah
petunjuk ahli bedah. Asisten memegang retractor dan suction untuk melihat letak operasi.
• Anaesthesologist atau perawat anaesthesi.
• Perawat anesthei memberikan obat-obat anesthesia dan obat-obat lain untuk mempertahankan
status fisik klien selama pembedahan.
• Circulating Nurse
• Peran vital sebelum, selama dan sesudah pembedahan.
Tugas :
Set up ruangan operasi
Menjaga kebutuhan alat
Check up keamanan dan fungsi semua peralatan sebelum pembedahan
Posisi klien dan kebersihan daerah operasi sebelum drapping.
Memenuhi kebutuhan klien, memberi dukungan mental, orientasi klien.

Selama pembedahan :
- Mengkoordinasikan aktivitas
- Mengimplementasikan NCP
- Membenatu anesthetic
- Mendokumentasikan secara lengkap drain, kateter, dll.

• Surgical technologist atau Nurse scrub; bertanggung jawab menyiapkan dan mengendalikan
peralatan steril dan instrumen, kepada ahli bedah/asisten. Pengetahuan anatomi fisiologi dan
prosedur pembedahan memudahkan antisipasi instrumen apa yang dibutuhkan.

Penyiapan kamar dan team pembedahan.


Keamanan klien diatur dengan adanya ikat klien dan pengunci meja operasi. Dua factor penting
yang berhubungan dengan keamanan kamar pembedahan : lay out kamar operasi dan pencegahan
infeksi.
1). Lay Out pembedahan.
Ruang harus terletak diluar gedung RS dan bersebelahan dengan RR dan pelayanan pendukung
(bank darah, bagian pathologi dan radiology, dan bagian logistik).
Alur lalu lintas yang menyebabkan kontaminasi dan designada pemisahan antara hal yang
bersih dan terkontaminasi (protektif, bersih, steril dan kotor).
Besar ruangan tergantung pada ukuran dan kemampuan rumah sakit.
Umumnya :
• Kamar terima
• Ruang untuk peralatan bersih dan kotor.
• Ruang linen bersih.
• Ruang ganti
• Ruang umum untuk pembersihan dan sterilisasi alat.
• Scrub area.
Ruang operasi terdiri dari :
• Stretcher atau meja operasi.
• Lampu operasi.
• Anesthesia station.
• Meja dan standar instrumen.
• Peralatan suction.
• System komunikasi.

2). Kebersihan dan Kesehatan Team Pembedahan.


( kulit, rambut, saluran pernafasan). dan kesehatan  team pembedahan yang hygiene Sumber
utama kontaminasi bakteri

Pencegahan kontaminasi :
• Cuci tangan.
• Handscoen.
• Mandi.
• Perhiasan (-) cincin, jam tangan, gelang.

3). Pakaian bedah.


Terdiri : Kap, Masker, gaun, Tutup sepatu, baju OK.
Tujuan: Menurunkan kontaminasi.

4). Surgical Scrub.


Cuci tangan pembedahan dilakukan oleh :
• Ahli Bedah
• Semua asisten
• Scrub nurse.
sebelum menggunakan sarung tangan dan gaun steril.

Alat-alat:
• Sikat cucin tangan reuable / disposible.
• Anti microbial : betadine.
• Pembersih / pemotong kuku.
dikeringkan dengan handuk steril. Waktu : 5 – 10 menit 

Anasthesia.

Negatif Sensation.Anasthesia (Bahasa Yunani)


Anasthesia menyebabkan keadaan kehilangan rasa secara partial atau total, dengan atau tanpa
disertai kehilangan kesadaran.
Tujuan: Memblok transmisi impuls syaraf, menekan refleks, meningkatkan relaksasi otot.
Pemilihan anesthesia oleh anesthesiologist berdasarkan konsultasi dengan ahli bedah dan factor
klien.

Type anasthesia:
Perawat perlu mengenal ciri farmakologic terhadap obat anesthesia yang digunakan dan efek
terhadap klien selama dan sesudah pembedahan.

1. Anasthesia Umum.
Adalah keadaan kehilangan kesadaran yang reversible karena inhibisi impulse saraf otak.
Misal : bedah kepala, leher. Klien yang tidak kooperatif.

Stadium Anesthesia.
- Stadium I : Relaksasi
Mulai klien sadar dan kehilangan kesadaran secara bertahab.
- Stadium II : Excitement.
Mulai kehilangan kesadaran secara total sampai dengan pernafasan yang iregulair dan
pergerakan anggota badan tidak teratur.
- Stadium III : Ansethesi pembedahan..
Ditandai dengan relaksasi rahang, respirasi teratur, penurunan pendengaran dan sensasi nyeri.
- Stadium IV : Bahaya.
Apnoe, Cardiapolmunarry arrest, dan kematian.

Metode Pemberian
Inhalasi , IV injection. Instilasi rectal

Inhalasi
Metode yang paling dapat dikontrol karena intak dan eliminasi secara primer oleh paru.
Obat anesthesia inhalasi yang diberikan :
Gas: Nitrous Axida ( N20).
Paling sering digunakan gas yang tidak berwarna, tidak berbau. Non iritasi dengan masa induksi
dan pemulihan yang cepat.
Jenis yang biasa dipakai;
a. Folatile:
b. Halotan :
c. Ethrane.
d. Penthrane.
e. Forane.

Anesthesi Injeksi IV.


Memberikan perasaan senang., cepat dan pelepasan obat secara pelan. Jenis opbat yamng biasa
dipakai;
Barbiturat.
Narcotik:
Inovar
Ketamine
 Neuromusculer Brochler.

Anestesi Local Atau Regional


Anestesi local atau regional secara sementara memutus transmisi impuls saraf menuju dan dari
lokasi khusus.

Teknik pemberian.
Anestesi Topikal
Pemberian secara langsung pada permukaan area yang dianestesi
Bentuk: Salep atau spray.

Lokal Anestesi
Injeksi obat anestesi secara I C dan S C ke jaringan sekitar insisi, luka atau lesi.

Field Block
Injeksi secara bertahab pada sekeliling daerah yang dioperasi
( hernioraphy , dental prosedur ,bedah plstik )

Nerve Block
Injeksi obat anestesi local ke dalam atau sekitar saraf atau saraf yang mempesarafi daerah yang
dioperasi. Block saraf memutus transmisi sensasi, motor, sympatis.

Spinal Anestesi / Intra Techal


Dicapai dengan injecsi obat anestesi ke dalam ruang sub orachonoid.
Pada L 2 – 3 atau L 3 – 4.

PENGKAJIAN :
Di ruang penerimaan perawat sirkulasi:
- Memvalidasi identitas klien.
- Memvalidasi inform concent.

Chart Review.
- Memberikan informasi yang dibutuhkan untuk mengidentifikasi kebutuhan actual dan potensial
selama pembedahan.
- Mengkaji dan merencanakan kebutuhan klien selama dan sesudah operasi.

Perawat menanyakan.:
- Riwayat allergi, reaksi sebelumnya terhadap anesthesia atau tranfusi darah.
- Check riwayat kesehatan dan pemeriksaan fisik.
- Check pengobatan sebelumnya : therapy, anticoagulasi.
- Check adanya gigi palsu, kontaks lens, perhiasan, wigs dan dilepas.
Kateterisasi.-

DIAGNOSIS KEPERAWATAN.
1. Resiko for injury berhubungan dengan anesthesia, posisi intra operatif dan bahaya lain dari
lingkungan intra operatif.
2. Gangguan integritas kulit berhubungan dengan luka operasi.
3. Gangguan pertukaran gas berhubungan dengan anesthesia
4. Defisit volume cairan berhubungan dengan kehilangan darah dan cairan tubuh selama
pembedahan.

PERENCANAAN
Resiko for injury berhubungan dengan anesthesia, posisi intra operatif dan bahaya lain dari
lingkungan intra operatif.
Tujuan : Klien akan dipertahankan dalam keadaan anesthesia yang aman selama pembedahan
dan bebas dari perlukaan peralatan operasi.

INTERVENSI:
- Persiapan dan penggunaan obat anesthesia yang tepat.
posisi yang tepat.- Positioning
Untuk menjamin posisi yang tepat dikaji : kesesuaian fisiologiss, perubahan sirkulasi yang
minimal, proteksi struktur tulang dan neuromusculair, penggunaan dan lokasi IV line, cara
anesthesia, keamanan dan keselamatan klien.
- Penggunaan peralatan elektrik. Lempeng grounding yang ditutupi jeli tidak menekan tubuh.
mencegah luka bakar.- Chek hati-hati alat / electrosurgical

Gangguan integritas kulit berhubungan dengan luka operasi.


Tujuan: Klien akan mengalami gangguan integritas kulit yang dan kontaminasi yang minimal.

Intervensi:
- Plastic adhesive drape setelah daerah pembedahan dibersihkan dan kering.
- Penutupan kulit:
- Tujuan:
- Menutup lumen pembuluh darah.
- Mencegah perdarahan dan kehilangan cairan tubuh.
- Mencegah kontaminasi luka.

Dua factor yang menentukan kekuatan penutupan luka :


- Materi jahitan.
Ahli bedah akan memilih metode dan type penutupan kulit berdasarkan letak incisi, ukuran dan
kedalaman luka, usia dan riwayat medik klien.
- Staples dan plester digunakan untuk menutup luka superfisialis atau epidermis.
Benang jahit : Absorbable dan non absorbable.
Ukuran benang : 0.-5, 2 – 0 –11- 0.

INTERVENSI KLIEN POST OPERASI.


PENGKAJIAN;
Setelah menerima laporan dari perawat sirkulasi, dan pengkajian klien, perawat mereview
catatan klien yang berhubungan dengan riwayat klien, status fisik dan emosi, sebelum
pembedahan dan alergi.
Pemeriksaan Fisik Dan Manifestasi Klinik

System Pernafasan.
Ketika klien dimasukan ke PACU, Perawat segera mengkaji klien:
meletakan tangan di atas mulut atau hidung.- Potency jalan nafas,
- Perubahan pernafasan (rata-rata, pola, dan kedalaman). RR < 10 X / gangguan depresi
narcotic, respirasi cepat, dangkal menit cardiovasculair atau rata-rata metabolisme yang
meningkat.
keadekwatan expansi paru, kesimetrisan.- Auscultasi paru
- Inspeksi: Pergerakan didnding dada, penggunaan otot bantu pernafasan efek anathesi yang
berlebihan, obstruksi.diafragma, retraksi sternal
Thorax Drain.

Sistem Cardiovasculer.
Sirkulasi darah, nadi dan suara jantung dikaji tiap 15 menit ( 4 x ), 30 menit (4x). 2 jam (4x) dan
setiap 4 jam selama 2 hari jika kondisi stabil.
depresi miocard, shock, perdarahan atau overdistensi.Penurunan tekanan darah, nadi dan suara
jantung
shock, nyeri, hypothermia.Nadi meningkat
Kaji sirkulasi perifer (kualitas denyut, warna, temperatur dan ukuran ektremitas).
trombhoplebitis pada ekstrimitas bawah (edema, kemerahan, nyeri).Homan’s saign

Keseimbangan Cairan Dan Elektrolit


- Inspeksi membran mukosa : warna dan kelembaban, turgor kulit, balutan.
NG tube, out put urine, drainage luka.- Ukur cairan
- Kaji intake / out put.
- Monitor cairan intravena dan tekanan darah.

Sistem Persyarafan.
semua klien dengan anesthesia umum.- Kaji fungsi serebral dan tingkat kesadaran
depresi fungsi motor. respon pupil, kekuatan otot, koordinasi. Anesthesia umum - Klien
dengan bedah kepala leher :

Sistem Perkemihan.
- Kontrol volunter fungsi perkemihan kembali setelah 6 – 8 jam post anesthesia inhalasi, IV,
spinal.
retensio urine.Anesthesia, infus IV, manipulasi operasi
abdomen bawah (distensi buli-buli).Pencegahan : Inspeksi, Palpasi, Perkusi
kaji warna, jumlah urine, out put urine- Dower catheter < komplikasi ginjal.30 ml / jam

Sistem Gastrointestinal.
- 40 % klien dengan GA selama 24 jam pertama dapatMual muntah menyebabkan stress dan
iritasi luka GI dan dapat meningkatkan TIK pada bedah kepala dan leher serta TIO meningkat.
- Kaji fungsi gastro intestinal dengan auskultasi suara usus.
suara usus (-), distensi abdomen, tidak flatus.- Kaji paralitic ileus
- jumlah, warna, konsistensi isi lambung tiap 6 – 8 jam.
- Insersi NG tube intra operatif mencegah komplikasi post operatif dengan decompresi dan
drainase lambung.
• Meningkatkan istirahat.
• Memberi kesempatan penyembuhan pada GI trac bawah.
• Memonitor perdarahan.
• Mencegah obstruksi usus.
• Irigasi atau pemberian obat.

Sistem Integumen.
- Luka bedah sembuh sekitar 2 minggu. Jika tidak ada infeksi, trauma, malnutrisi, obat-obat
steroid.
- Penyembuhan sempurna sekitar 6 bulan – satu tahun.
- Ketidak efektifan penyembuhan luka dapat disebabkan :
• Infeksi luka.
• Diostensi dari udema / palitik ileus.
• Tekanan pada daerah luka.
• Dehiscence.
• Eviscerasi.

Drain dan Balutan


Semua balutan dan drain dikaji setiap 15 menit pada saat di ruang PAR, (Jumlah, warna,
konsistensi dan bau cairan drain dan tanggal observasi), dan minimal tiap 8 jam saat di ruangan.

Pengkajian Nyeri
Nyeri post operatif berhubungan dengan luka bedah , drain dan posisi intra operative.
Kaji tanda fisik dan emosi; peningkatan nadi dan tekanan darah, hypertensi, diaphorosis, gelisah,
menangis. Kualitas nyeri sebelum dan setelah pemberian analgetika.

Pemeriksaan Laboratorium.
Dilakukan untuk memonitor komplikasi .
Pemeriksaan didasarkan pada prosedur pembedahan, riwayat kesehatan dan manifestasi post
operative. Test yang lazim adalah elektrolit, Glukosa, dan darah lengkap.

DIAGNOSIS KEPERAWATAN.
1. Gangguan pertukaran gas, berhubungan dengan efek sisa anesthesia, imobilisasi, nyeri.
2. Gangguan integritas kulit berhubungan dengan luka pemebedahan, drain dan drainage.
3. Nyeri berhubungan dengan incisi pembedahan dan posisi selama pembedahan.
4. Potensial terjadi perlukaan berhubungan dengan effect anesthesia, sedasi, analgesi.
5. Kekurangan volume cairan berhubungan dengan kehilangan cairan intra dan post operasi.
6. Ketidak efektifan kebersihan jalan nafas berhubungan dengan peningkatan skresi.
7. Perubahan eliminasi urine ( penurunan) berhubungan dengan obat anesthesia dan
immobilisasi.

PERENCANAAN
1. Gangguan pertukaran gas
Tujuan :
Klien akan mempertahankan ekspansi paru dan fungsi pernapasan yang adekuat.
Intervensi :
- Posistioning klien untuk mencegah aspirasi
mencegah obstruksi, melakukan suction.- Insersi mayo
- Pemberian aksigen
refleks gag kembali- Endotracheal tube/mayo dilepas
- Dorong batuk dan bernapas dalam 5 – 10 x setiap 2 jam. Khususnya 72 jam pertama (potensial
komplikasi :atelektasis, pneumonia).
- Klien dengan penyakit paru, orang tua, perokok, panas spirometer.
- Suction.

2. Gangguan integritas kulit


Tujuan :
- luka klien akan sembuh tanpa komlikasi luka post operatif.

Penyebab luka infeksi :


- kontaminasi selama pembedahan
- infeksi preoperative
- teknik aseptic yang terputus
- status klien yang jelek.
Intervensi :
- Terapi obat :
antibiotik profilaksis spectrum luas (24 – 72 jam post op)
perawatan luka dengan gaas antibiotik.
- Balutan luka : ganti sesuai order dokter. Luka yang ditutup dengan balutan dibuka 3-6 hari.
- Drain :
evakuasi cairan dan udara
mencegah luka infeksi yang dalam dan pembentukan abses pada luka bedah.

3. Nyeri
Tujuan : klien akan mengalami pengurangan nyeri akibat luka bedah dan posisi selama operasi.
Intervensi :
- Terapi obat :
• nyeri akut (meperidinPemberian anlgetik narkotik dan non narkotik hydroclorida, morphine
sulphate, codein sulphate, dan lain-lain.)
• Mengkaji tipe, lokasi ditensitas nyeri sebelum pemberian obat.
iv pump. kontrol nyeri • Pada pembedahan yang luas
komplikasi narkotik).• Observasi tekanan darah, pernapasan, kesadaran, (depresi napas,
hyotensi, mual, muntah

Metode pangendalian nyeri yang lain :


1. positioning
2. perubahan posisi tiap 2 jam
3. masase
EVALUASI :
Kriteria hasil yang diharapkan pada klien post op adalah :
1. Mempertahankan ekspansi paru dan fungsi yang adekuat yang ditandai suara napas jernih.
2. Mengikuti diet TKTP
3. menjelaskan dan mendemonstrasikan perawatan balutan dan drain.
4. Penyembuhan komplit tanpa komplikasi
5. Mengungkapkan nyeri hilang.

DAFTAR KEPUSTAKAAN

Dr. Sutisna Himawan (editor). Kumpulan Kuliah Patologi. FKUI

Brunner / Sudart. Texbook of Medical Surgical Nursing Fifth edition IB. Lippincott Company.
Philadelphia. 1984.

Soeparman, dkk. Ilmu Penyakit Dalam : Balai Penerbit FKUI, Jakarta, 1987, Edisi II.
http://denfirman.blogspot.com/2009/12/laporan-pendahuluan-laparatomi.htm