Anda di halaman 1dari 18

ANALISIS STANDAR BELANJA

Disusun untuk memenuhi tugas Keuangan dan Manajemen Sektor Publik

Disusun oleh :

Mega Hutami Adiningsih 135020301111019


Rima Wahyu Pradianca 135020301111027
Nonik Dwi Susanti 135020301111029
Wanda Rizki Aprillia 135020301111037

JURUSAN AKUNTANSI
FAKULTAS EKONOMI DAN BISNIS
UNIVERSITAS BRAWIJAYA
2015
BAB I
PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang


Anggaran dalam konteks otonomi dan desentralisasi menduduki peranan
penting. Saat ini kualitas perencanaan anggaran yang digunakan masih relatif
lemah, diikuti dengan ketidakmampuan pemerintah dalam meningkatkan
penerimaan daerah secara berkesinambungan, sementara pengeluaran secara
dinamis terus meningkat, tetapi tidak disertai penentuan skala prioritas dan
besarnya plafon anggaran, sehingga memungkinkan underfinancing atau
overfinancing. Untuk menghindari permasalahan yang timbul di atas dan agar
pengeluaran anggaran didasarkan pada kewajaran ekonomi, efisien, dan efektif,
maka Anggaran Daerah harus disusun berdasarkan kinerja yang akan dicapai oleh
Daerah. Dengan menggunakan Anggaran Kinerja tersebut, maka Anggaran
Daerah akan lebih transparan, adil, dan dapat dipertanggungjawabkan. Salah satu
instrumen yang diperlukan untuk menyusun Anggaran Daerah dengan pendekatan
kinerja adalah ASB.

Pengeluaran anggaran daerah harus didasarkan pada kewajaran ekonomi,


efisien, dan efektif dengan menggunakan kinerja yang akan dicapai oleh daerah,
sehingga lebih transparan, adil dan dapat dipertanggungjawabkan.

Analisis Standar Belanja (ASB) sudah diperkenalkan kepada Pemerintah


Daerah dalam Peraturan Pemerintah No. 105 Tahun 2000 tentang Pengelolaan dan
Pertanggungjawaban Keuangan Daerah. Istilah yang digunakan dalam PP No. 105
tersebut adalah Standar Analisa Belanja atau SAB yang mempunyai makna
penilaian kewajaran atas beban kerja dan biaya terhadap suatu kegiatan.
Berdasarkan PP No. 105/2000 tersebut Departemen Dalam Negeri Republik
Indonesia menerbitkan pedoman operasional dalam bentuk Kepmendagri No. 29
Tahun 2002 tentang Pedoman Pengurusan, Pertanggungjawaban Dan Pengawasan
Keuangan Daerah Serta Tata Cara Penyusunan Anggaran Pendapatan Dan Belanja
Daerah, Pelaksanaan Tata Usaha Keuangan Daerah Dan Penyusunan Perhitungan
Anggaran Pendapatan Dan Belanja Daerah. Namun, Kepmendagri tersebut belum
menunjukkan wujud/bentuk Standar Analisa Belanja.
Pada Tahun 2004 keluarlah Undang-Undang No. 32 Tahun 2004 tentang
Pemerintahan Daerah yang merupakan pengganti dari Undang-Undang No. 22
Tahun 1999. Dalam UU No. 32 tersebut dikenalkan istilah baru yaitu Analisis
Standar Belanja (ASB) yang mempunyai maksud dan istilah yang sama dengan
Standar Analisa Belanja (SAB) yaitu penilaian kewajaran atas beban kerja dan
biaya yang digunakan untuk melaksanakan suatu kegiatan. Selanjutnya, terbitlah
PP No. 58 tahun 2005 tentang Pengelolaan Keuangan Daerah. PP No. 58 tahun
2005 ini kemudian dijabarkan lagi dalam Permendagri No. 13 tahun 2006 tentang
Pedoman Pengelolaan Keuangan Daerah. Pada Tahun 2007 terbitlah Permendagri
No. 59 tahun 2007 sebagai penyempurnaan atas Permendagri No. 13 tahun 2006
tentang Pedoman Pengelolaan Keuangan Daerah. Dalam regulasi-regulasi tersebut
selalu disebutkan bahwa ASB merupakan salah satu instrumen pokok dalam
penganggaran berbasis kinerja. Walaupun regulasi-regulasi tersebut
mengamanatkan ASB, tetapi ternyata regulasi-regulasi tersebut belum
menunjukkan secara riil dan operasional tentang ASB. Akibatnya, ASB menjadi
sesuatu yang abstrak bagi Pemerintah Daerah di Indonesia.

1.2 Rumusan Masalah


Adapun rumusan masalah yang menjadikan alasan makalah ini adalah
sebagai berikut:
1. Apa pengertian dari Analisis Standar Belanja?
2. Apa manfaat dari Analisis Standar Belanja?
3. Bagaimana format konsep penyusunan Analisis Standar Belanja?
4. Bagamana penyesuaian Analisis Standar Belanja diterapkan?
1.3 Tujuan Penulisan
Untuk mengetahui pengertian, manfaat, format konsep penyusunan, serta
penyesuaian Analisis Standar Belanja
BAB II
PEMBAHASAN

2.1 Pengertian Analisis Standar Belanja (ASB)

Analisis Standar Belanja (ASB) merupakan salah satu komponen yang


harus dikembangkan sebagai dasar pengukuran kinerja keuangan dalam
penyusunan APBD dengan pendekatan kinerja. ASB adalah standar yang
digunakan untuk menganalisis kewajaran beban kerja atau biaya setiap program
atau kegiatan yang akan dilaksanakan oleh suatu Satuan Kerja dalam satu tahun
anggaran. Yang dimaksud dengan kegiatan adalah bagian dari program yang
dilaksanakan oleh satu atau lebih unit kerja pada SKPD sebagai bagian dari
pencapaian sasaran terukur pada suatu program dan terdiri dari sekumpulan
tindakan pengerahan sumber daya yang berupa personil, barang modal, dana,
atau kombinasi dari beberapa atau kesemua objek sumber daya tersebut
sebagai masukan (input) untuk menghasilkan keluaran (output) dalam bentuk
barang atau jasa.

ASB berisikan analisis beban kerja dan analisis belanja. Analisis beban
kerja merupakan analisis kebutuhan-kebutuhan jenis, kualitas, dan kuantitas
sumber daya yang dibutuhkan dalam satu kegiatan tertentu. Harus dibedakan
antara sumber daya mandiri dan sumber daya bersama. Untuk kepentingan
penganggaran sumber daya bersama seharusnya diabaikan untuk menghindari
double counting. Analisis belanja analah analisis mengenai jumlah belanja yang
dibutuhkan untuk satu kegiatan tertentu merupakan hasil kali kuantitas sumber
daya tertentu dengan kualitas tertentu dengan harga standar. Harga standar
diperoleh dari hasil survey standar satuan harga

ASB mendorong penetapan biaya dan pengalokasian anggaran kepada


setiap aktivitas unit kerja menjadi lebih logis dan mendorong dicapainya efisiensi
secara terus-menerus karena adanya pembandingan (benchmarking) biaya per unit
setiap output dan diperoleh praktek-praktek terbaik (best practices) dalam desain
aktivitas.
2.2 Dasar hukum Analisis Standar Belanja (ASB)
 Peraturan Pemerintah No. 105 Tahun 2000 Tentang Pengelolaan
dan Pertanggungjawaban Keuangan Daerah, Pasal 20 ayat 2 :
Untuk mengukur kinerja keuangan Pemerintah Daerah,
dikembangkan standar analisa belanja, tolok ukur kinerja dan
standar biaya.
 UU Nomor 32 Tahun 2004 tentang pemerintah daerah pasal 167
ayat 3 : Belanja daerah mempertimbangkan beberapa instrumen
pendukung, berupa : analisis standar belanja, standar harga satuan,
tolak ukur kinerja, dan standar pelayanan minimal yang ditetapkan
sesuai dengan peraturan perundang-undangan.
 Penjelasan Undang-Undang No. 32 Tahun 2004 Tentang
Pemerintahan Daerah, Pasal 167 ayat 3: Yang dimaksud dengan
Analisa Standar Belanja (ASB) adalah penilaian kewajaran atas
beban kerja dan biaya yang digunakan untuk melaksanakan suatu
kegiatan.
 PP 58 Tahun 2005 Pasal 39 ayat 2 : Penyusunan anggaran
berdasarkan prestasi kerja dilakukan berdasarkan capaian kinerja,
indikator kinerja, analisis standar belanja, standar satuan harga, dan
standar pelayanan minimal
2.3 Manfaat Analisis Standar Belanja (ASB)

Penerapan ASB pada dasarnya akan memberikan manfaat sebagai berikut :

1. Dapat menentukan kewajaran belanja untuk melaksanakan suatu kegiatan.


2. Meminimalisir terjadinya pengeluaran yang kurang jelas yang
menyebabkan inefisiensi anggaran.
3. Meningkatkan efisiensi dan efektifitas dalam pengelolaan Keuangan
Daerah.
4. Penentuan anggaran berdasarkan pada tolok ukur kinerja yang jelas.
5. Unit kerja mendapat keleluasaan yang lebih besar untuk menentukan
anggarannya sendiri.
6. Penetapan plafon anggaran pada saat Prioritas dan Plafon Anggaran
Sementara (PPAS) menjadi obyektif tidak lagi berdasarkan “intuisi”.
7. Memiliki argumen yang kuat jika “dituduh” melakukan pemborosan.
8. Penyusunan anggaran menjadi lebih tepat waktu.
9. Menjembatani kesenjangan antara praktek yang berlangsung dengan
kondisi ideal yang diamanatkan oleh regulasi.
10. Menjamin kewajaran beban kerja dan biaya yang digunakan antar
SKPD dalam melakukan kegiatan sejenis.
11. Memudahkan Tim Anggaran Pemerintah Daerah (TAPD) dalam
melakukan verifikasi total belanja yang diajukan dalam RKA SKPD untuk
setiap kegiatan.
12. Memudahkan SKPD dan TAPD dalam menghitung besarnya anggaran
total belanja untuk setiap jenis kegiatan berdasarkan target output yang
ditetapkan dalam RKA SKPD.

2.4 Posisi Analisis Standar Belanja (ASB) dalam Anggaran


1. Digunakan pada saat penyusunan PPAS
2. Digunakan SKPD pada saat proses penyusunan RKA – SKPD
3. Digunakan TAPD pada saat evaluasi RKA – SKPD
4. Digunakan PDRD pada saat evaluasi RAPBD

2.5 Prinsip dasar penyusunan Analisis Standar Belanja (ASB)


Dalam penyusunan ASB, ada beberapa prinsip dasar yang harus
diperhatikan pemerintah daerah yaitu :
1. Penyederhanaan (modeling). Penyusunan ASB bertujuan membuat
model belanja untuk objek-objek kegiatan yang menghasilkan
output yang sama.
2. Mudah diaplikasikan. Model yang dibuat mudah diaplikasikan,
atau tidak membuat susah yang menggunakan model tersebut.
3. Mudah diup-date. Model yang dibuat mudah untuk diperbaharui,
dalam arti jika ditambahkan data-data baru tidak merubah formula
model tersebut secara keseluruhan.
4. Fleksibel, dalam hal ini model yang dibuat menggunakan konsep
belanja rata-rata dan memiliki batas minimum belanja dan batas
maksimum belanja.

2.6 Format Analisis Standar Belanja (ASB)


Berdasarkan definisi ASB yang terdapat dalam PP No. 58 tahun 2005
tentang Pengelolaan Keuangan Daerah dalam pasal 39 ayat 2B menyebutkan
bahwa “Penyusunan anggaran berdasarkan prestasi kerja sebagaimana dimaksud
pada ayat (1) dilakukan berdasarkan capaian kinerja, indikator kinerja, analisis
standar belanja, standar satuan harga, dan standar pelayanan minimal”, maka
format ASB yang dikembangkan adalah sebagai berikut ini :
Penjelasan atas masing-masing komponen dalam format ASB adalah sebagai
berikut :

a. Kode dan Nama Jenis ASB


Kode dan Nama Jenis ASB adalah kode urutan dan nama jenis per ASB yang
digunakan agar memudahkan dalam mencari jenis ASB yang sesuai dengan
kegiatan yang akan disusun anggarannya. Kode urutan serta nama jenis ASB
dapat disusun berdasarkan urutan abjad agar memudahkan dalam
penggunaannya.
b. Deskripsi
Deskripsi adalah penjelasan detil operasional peruntukan dari ASB. Deskripsi
digunakan agar memudahkan dalam mengelompokkan kegiatan-kegiatan
yang dilakukan dan juga memberikan kemudahan ketika menggunakan ASB
dalam penyusunan anggaran. Deskripsi ASB merupakan penjelasan detil
operasional dari nama ASB. Dengan demikian, deskripsi akan mempermudah
pengguna untuk mengetahui jenis ASB apa yang seharusnya digunakan untuk
suatu jenis program/kegiatan tertentu.
c. Pengendali Belanja (Cost Driver)
Pengendali Belanja adalah faktor-faktor yang mempengaruhi besar kecilnya
belanja dari suatu kegiatan. Faktor-faktor ini tentunya merupakan beban kerja
riil dari kegiatan yang dimaksud.
d. Satuan Pengendali Belanja Tetap (fixed cost)
Satuan pengendali belanja tetap merupakan belanja yang nilainya tetap untuk
melaksanakan satu kegiatan. Belanja tetap ini tidak dipengaruhi oleh adanya
perubahan volume/target kinerja suatu kegiatan. Besarnya nilai satuan
pengendali belanja tetap merupakan batas maksimal untuk setiap kegiatan
dimana penyusun anggaran tidak boleh melebihi nilai tersebut, namun
diperbolehkan apabila menentukan belanja tetap dibawah nilai yang
ditetapkan.
e. Satuan Pengendali Belanja Variabel (variable cost)
Satuan pengendali belanja variabel menunjukkan besarnya perubahan belanja
variabel untuk masing-masing kegiatan yang dipengaruhi oleh
perubahan/penambahan volume kegiatan. Semakin tinggi target yang
ditetapkan oleh satuan kerja (semakin optimis) maka semakin besar belanja
variabel yang dibutuhkan. Demikian pula sebaliknya semakin rendah
(pesimis) target kinerja yang ditetapkan maka makin kecil pula belanja
variabel.
f. Rumus Perhitungan Belanja Total
Merupakan rumus dalam menghitung besarnya belanja total dari suatu
kegiatan. Formula ini merupakan penjumlahan antara fixed cost dan variable
cost.
g. Alokasi Objek Belanja
Berisikan macam-macam objek belanja, proporsi batas bawah, proporsi rata-
rata dan proporsi batas atas dari total belanja. Objek belanja disini adalah
objek belanja yang hanya diperbolehkan dipergunakan dalam ASB yang
bersangkutan. Batas bawah adalah proporsi terendah dari objek belanja yang
bersangkutan. Rata-rata adalah proporsi rata-rata dari objek belanja tersebut
untuk seluruh SKPD di Pemerintah Daerah tersebut. Batas atas adalah
proporsi tertinggi yang dapat dipergunakan dalam objek belanja. Maksud
akan adanya batas atas dan batas bawah adalah untuk memberikan
keleluasaan kepada pengguna anggaran untuk menentukan besaran dari
masing-masing objek belanja. Hal ini untuk mengakomodasi sistem
pengelolaan keuangan daerah yang telah didesentralisasikan ke SKPD.
Dengan demikian ASB tersebut akan mampu mengendalikan belanja
sekaligus memberikan keleluasaan kepada penggunanya.

Format ASB di desain agar dapat mengendalikan belanja sekaligus


memberikan keleluasaan/fleksibilitas kepada penggunanya. Pengendalian belanja
terlihat pada formula total belanja dan jumlah macam belanja yang
diperkenankan, sedangkan keleluasaan tampak pada adanya batas atas dan batas
bawah dalam penentuan besaran objek belanja.

2.7 Konsep Penyusunan Analisis Standar Belanja (ASB)

Penyusunan Analisis Standar Belanja menggunakan tiga pendekatan


utama, yaitu: pendekatan Activity Based Costing (ABC), pendekatan
Ordinary Least Square (regresi sederhana) dan pendekatan metode diskusi
(focused group discussion).

 Pendekatan ABC merupakan suatu teknik untuk mengukur secara


kuantitatif biaya dan kinerja dari satu kegiatan (the cost and performance
of activities) serta teknik mengalokasikan penggunaan sumber daya dan
biaya kepada masing-masing objek biaya (operasional maupun
administrasi) dalam satu kegiatan. Pendekatan ABC bertujuan untuk
meningkatkan akurasi biaya penyediaan barang dan jasa yang dihasilkan
dengan menghitung biaya tetap (fixed cost) dan biaya variabel (variable
cost), sehingga total biaya dengan pendekatan ABC adalah :

Total Biaya = Biaya Tetap + Biaya Variabel

Disamping itu, proses evaluasi dan penilaian kewajaran biaya dengan


pendekatan ABC dilakukan atas dasar biaya-biaya per kegiatan dan bukan
atas dasar alokasi bruto (gross allocations) pada suatu organisasi atau
SKPD.

 Pendekatan Regresi Sederhana adalah suatu teknik yang digunakan untuk


membangun suatu persamaan yang menghubungkan antara variabel tidak
bebas (Y) dengan variabel bebas (X) sekaligus untuk menentukan nilai
ramalan atau dugaannya. Dalam regresi sederhana ini, variabel tidak bebas
merupakan total biaya dari suatu kegiatan, sedangkan variabel bebas
merupakan cost driver dari kegiatan tersebut.

Penggunaan regresi sederhana dalam menyusun ASB berguna untuk


membuat model (persamaan) regresi untuk peramalan belanja dari suatu
kegiatan. Peramalan belanja dengan model regresi ini dengan cara
menghitung belanja rata-rata, menghitung batas minimum belanja, dan
batas maksimum belanja, serta menghitung prosentase alokasi kepada
masing-masing objek belanja.

 Pendekatan Metode Diskusi (focused group discussion). Pendekatan


metode diskusi dalam penyusunan ASB digunakan untuk memperoleh
masukan dari SKPD tentang aktivitas dan output dari suatu kegiatan,
dan juga masukan-masukan tentang cost driver dari suatu kegiatan.
Hasil yang diharapkan dari pendekatan metode diskusi ini adalah
kesepahaman tentang aktivitas, output dan cost driver dari suatu kegiatan
antara penyusun dan SKPD dalam penyusunan ASB.

2.8 Tahap penyusunan Analisis Standar Belanja (ASB)

Penyusunan ASB mencakup beberapa tahapan sebagai berikut:

a. Tahap Pengumpulan Data.


Pada Tahap ini, kegiatan dari semua satuan kerja perangkat daerah
dikumpulkan untuk memperoleh gambaran awal atas berbagai jenis kegiatan
yang terjadi di Pemerintah Daerah. Dalam tahap pengumpulan data ini, semua
data (populasi) SKPD harus dilibatkan semuanya sehingga dapat memenuhi
asumsi dasar penyusunan ASB yaitu demokrasi. Sangat disarankan agar
tidak menggunakan sampling karena sampling tidak memenuhi asumsi
‘demokrasi’.

b. Tahap Penyetaraan Kegiatan


Penyetaraan kegiatan dilakukan untuk menggolongkan daftar berbagai
kegiatan yang diperoleh dari tahap pengumpulan data ke dalam jenis atau
kategori kegiatan yang memiliki kemiripan pola kegiatan dan bobot kerja
yang sepadan. Artinya, kegiatan yang bobot pekerjaannya sama maka akan
dikelompokkan pada golongan/kelompok yang sama. Tahapan ini dilakukan
untuk memenuhi asumsi dasar yang pertama, yaitu penyusunan ASB harus
berdasarkan prinsip anggaran berbasis kinerja.

c. Tahap Pembentukan Model


Model dibentuk untuk memperoleh gambaran nilai belanja dan alokasinya
yang terjadi di Pemerintah Daerah. Tahap ini mencakup tiga langkah utama
yaitu:
1. Pencarian Pengendali Belanja (cost driver) dari tiap-tiap jenis kegiatan.
Pengendali Belanja (Cost Driver) adalah faktor-faktor yang
mempengaruhi besar kecilnya belanja dari suatu kegiatan. Cost Driver ada
2 macam yaitu : cost driver nyata (riil) dan cost driver semu. Cost Driver
semu adalah cost driver yang seolah-olah mempengaruhi besar kecilnya
belanja, namun sesungguhnya tidak mempengaruhi karena hanya
digunakan sebagai dasar ’pembenar’ untuk memperbesar anggara.
2. Pencarian Nilai Belanja Tetap (fixed cost) dan Belanja Variabel (variable
cost) untuk setiap jenis kegiatan. Setiap penambahan kuantitas target
kinerja akan dapat dianalisis peningkatan belanja variabelnya.
3. Menghitung besarnya total belanja untuk kegiatan dengan menggunakan
formula yaitu penjumlahan belanja tetap dan belanja variabel.
4. Setelah diperoleh besarnya total belanja untuk suatu kegiatan,selanjutnya
total belanja dialokasikan menurut proporsi belanja yang telah ditentukan
pada masing-masing ASB. Perhitungan alokasi proporsi belanja dapat
menggunakan proporsi rata-rata atau angka di antara batas bawah dan
batas atas.

2.9 Penyesuaian Analisis Standar Belanja (ASB)

Terdapat beberapa kondisi di Pemerintah Daerah yang menyebabkan untuk


dilakukannya pemutakhiran (update) ASB yang sudah ada. Kondisi tersebut
antara lain adalah inflasi/deflasi, kebijakan pemerintah atau kebijakan pemerintah
daerah, maupun gabungan antara keduanya.

1. Penyesuaian Inflasi/Deflasi
Inflasi/deflasi menyebabkan perubahan pada harga barang dan jasa yang
berlaku di pasar secara bersama-sama. Inflasi mengakibatkan harga barang
dan jasa naik secara bersama-sama, sedangkan deflasi mengakibatkan
harga barang dan jasa turun secara bersama-sama. Tentunya dengan
adanya inflasi/deflasi akan mengakibatkan ASB yang sudah disusun
sebelumnya menjadi tidak relevan lagi.
2. Kebijakan Pimpinan Daerah
Seringkali Kepala Daerah dan atau Dewan Perwakilan Rakyat Daerah
(DPRD) menetapkan kebijakan yang mengakibatkan terjadinya
penyesuaian tarif belanja. Misalnya kebijakan menaikkan standar honor,
standar perjalanan dinas, dan lain sebagainya. Kebijakan-kebijakan
tersebut tentunya akan berpengaruh terhadap ASB. ASB yang lama
tentunya perlu untuk disesuaikan. Contoh lain kebijakan Kepala Daerah
adalah ketika Kepala Daerah meyakini bahwa telah terjadi pemborosan
pada tahun-tahun lalu. Akibatnya, ASB perlu untuk disesuaikan.
3. Penyesuaian Gabungan Antara Inflasi/Deflasi dan Kebijakan Pimpinan
Daerah
Penyesuaian ASB juga dapat diakibatkan karena gabungan antara
kebijakan Kepala daerah dan inflasi/deflasi . Misalnya inflasi yang terjadi
adalah sebesar 15 % dan kebijakan Kepala Daerah menaikkan standar
harga honor dan standar harga perjalanan dinas sebesar 10 %. Maka,
langkah-langkah penyesuaian adalah melakukan penyesuaian terhadap
inflasi, deflasi/pemborosan terlebih dahulu, kemudian hasilnya disesuaikan
dengan perubahan kebijakan;

2.10 Studi Kasus

Peraturan yang mengatur mengenai Analisis Standar Selanja (ASB) sudah


banyak dibuat, namun sayang dalam praktiknya konsep ini masih sangat jarang
diterapkan di pemerintahan. Hal ini disebabkan masih sangat sedikit referensi
yang mengacu pada konsep ini, sehingga banyak daerah yang belum mengetahui
apa itu ASB. Penelitian tentang ASB juga masih jarang dilakukan, bahkan baru-
baru ini, kota seperti Batu masih melakukan sosialisasi tentang ASB kepada
seluruh SKPD di Kota Batu. Berdasarkan alasan tersebut, maka peneliti tertarik
untuk melakukan penelitian mengenai penerapan pelaksanaan konsep ASB pada
SKPD di kota Batu mulai dari tahap pengumpulan data, tahap penyetaraan
kegiatan, sampai tahap pembentukan model. Berikut ini pembahasan mengenai
penerapan pelaksanaan konsep ASB pada SKPD di kota Batu mulai dari tahap
pengumpulan data, tahap penyetaraan kegiatan, sampai tahap pembentukan
model.

Penyusunan ASB untuk setiap kegiatan sebenarnya dapat dilakukan


dengan cara menghitung ulang besarnya beban kerja dan biaya dari setiap
kegiatan berdasarkan output-nya, sehingga bila ada kegiatan yang sama antar
SKPD dengan output yang sama dan cost driver yang sama pula, seharusnya
anggaran kegiatan yang memiliki kesamaan tersebut harus relatif sama
besar(unsur keadilan). Namun hal ini, akan memerlukan waktu yang sangat lama.
Proses penyusunan ASB dilalui dalam 3 tahap, yaitu:
1. Tahap pertama yaitu tahap pengumpulan data, pada tahap ini kegiatan dari
36 SKPD dikumpulkan untuk memperoleh gambaran awal atas berbagai
jenis kegiatan yang terjadi di Pemerintah Daerah Kota Batu.
2. Kedua adalah tahap penyetaraan kegiatan, dimana pada tahap ini dilakukan
penggolongan daftar berbagai kegiatan yang diperoleh dari tahap
pengumpulan data, minimal 2 kegiatan, ke dalam jenis atau kategori
kegiatan yang memiliki kemiripan pola kegiatan dan bobot kerja yang
sepadan, penyetaraan menghasilkan 16 macam kegiatan.
3. Ketiga adalah tahap pembentukan model, dalam tahap ini model dari
setiap penyetaraan dibentuk untuk memperoleh gambaran nilai belanja dan
alokasinya yang terjadi di Pemerintah Daerah Kota Batu.

Model ASB dirangkum dalam suatu format yang berisi :


a) Kode dan nama jenis ASB, merupakan kode urutan dan nama jenis per
ASB yang digunakan agar memudahkan pengguna dalm mencari jenis
ASB yang sesuai dengan kegiatan yang akan disusun anggarannya;
b) Deskripsi, merupakan penjelasandetil operasional peruntukan dari ASB
dan digunakan untuk memudahkanengelompokan kegiatan-kegiatan yang
dilakukan;
c) Pengendali belanja (costdriver), merupakan faktor-faktor yang
mempengaruhi besar- kecilnya belanja darisuatu kegiatan;
d) Satuan pengendali belanja tetap (fixed cost), merupakanbelanja yang
nilainya tetap walaupun target kinerja suatu kegiatan berubah-ubah;
e) Satuan pengendali belanja variabel (variable cost), merupakan
besarnyaperubahan belanja untuk masing-masing belanja yang dipengaruhi
oleh perubahanvolume kegiatan;
f) Formula perhitungan belanja total, merupakan rumus dalammenghitung
besarnya belanja total dari suatu kegiatan, formula ini
merupakanpenjumlahan antara fixed cost dan variable cost;
g) Rentang relevan, merupakansuatu rentang pengendali belanja agar standar
dapat digunakan secara optimaluntuk menganalisis kewajaran belanja
suatu kegiatan dan beban kerjanya;
h) Alokasi objek belanja, merupakan tabel yang berisi rincian objek belanja
yang mendukung suatu kegiatan.

Objek belanja disini adalah objek belanja yang hanya diperbolehkan


dipergunakan dalam ASB yang bersangkutan. Jumlah macam objek belanja tidak
boleh ditambah maupun dikurangi karena diyakin bahwa kegiatan tersebut hanya
akan efektif jika objek-objek belanja tersebut ada. Dalam tabel alokasi objek
belanja ada proporsi batas bawah yang merupakan proporsi terendah dari objek
belanja yang bersangkutan, rata-rata merupakan proporsi rata-rata dari objek
belanja tersebut untuk seluruh SKPD di Pemerintah Daerah Kota Batu, batas atas
merupakan proporsi tertinggi yang data digunakan dalam objek belanja. Tujuan
dari adanya batas bawah, rata-rata, dan batas atas adalah untuk memberikan
keleluasaan kepada pengguna anggaran untuk menentukan besaran dari masing-
masing objek belanja.

Berdasarkan format tersebut, maka format ASB didesain agar dapat


memberikan pengendalian belanja sekaligus memberikan keleluasaaan atau
fleksibilatas kepada penggunannya. Pengendalian belanja ditunjukkan dengan
adanya suatu formula untuk menentukan pagu total belanja suatu kegiatan
berdasarkan target kinerja tertentu dan jumlah macam objek belanja
diperkenankan. Keleluasaan pengguna anggaran ditunjukkan dengan adanya batas
atas dan bawah dalam penentuan besaran objek belanja.
Untuk mengurangi adanya kekhawatiran mengenai model ASB yang
dibuat dari anggaran kegiatan yang kewajaran belanjannya masih dipertanyakan,
maka peneliti akan mengeliminasi kegiatan-kegiatan yang anggaran belanjanya
tidak wajar, dalam arti tidak diikutsertakan dalam analisis regresi, sehingga tidak
merusak model ASB yang dibuat. Sehingga model yang di dapat menjadi lebih
masuk akal. Enam belas (16) macam model ASB yang dapat dilihat pada tabel
berikut :

No. Kode ASB Nama Model ASB


1. ASB-01 Penyediaan Jasa Surat Menyurat
2. ASB-02 Monitoring, Evaluasi, dan Pelaporan
3. ASB-03 Pendidikan dan Pelatihan
4. ASB-04 Penyelenggaraan Sistem Informasi
5. ASB-05 Penyediaan Pakaian Dinas/Khusus
6. ASB-06 Peningkatan Peraan Serta Masyarakat
7. ASB-07 Penyediaan Jasa Administrasi Keuangan
8. ASB-08 Penyediaan Jasa Kebersihan Kantor
9. ASB-09 Penyediaan Administrasi Perkantoran
10. ASB-10 Penyediaan Barang Cetakan dan Penggandaan
11. ASB-11 Penyediaan Mamin, Rapat Koordinasi, dan Paripurna
12. ASB-12 Penyediaan Sarana dan Prasarana Fisik Tidak Berat
13. ASB-13 Pemeliharaan Peralatan Kantor
14. ASB-14 Program Pembinaan dan Pelatihan Masyarakat
15. ASB-15 Kegiatan Sosialisasi dan Publikasi
16. ASB-16 Pelayanan Masyarakat

Dengan menggunakan ASB, maka Pemerintah Kota Batu dapat menentukan


kewajaran belanja untuk melaksanakan suatu kegiatan sesuai dengan tupoksinya,
meminimalisasi terjadinya pengeluaran yang kurang jelas yang mengakibatkan
inefisiensi anggaran, meningkatkan efisiensi dan efektivitas dalam pengelolaan
Keuangan Daerah, menentuan anggaran berdasarkan pada tolok ukur kinerja yang
jelas, dan unit kerja mendapat keleluasaan yang lebih besar untuk menentukan
anggarannya sendiri
BAB III
PENUTUP

Dengan menggunakan ASB, maka Pemerintah dapat menentukan


kewajaran belanja untuk melaksanakan suatu kegiatan sesuai dengan rencana
kegiatanya, meminimalisasi terjadinya pengeluaran yang kurang jelas yang
mengakibatkan inefisiensi anggaran, meningkatkan efisiensi dan efektivitas dalam
pengelolaan Keuangan Daerah, menentuan anggaran berdasarkan pada tolok ukur
kinerja yang jelas, dan unit kerja mendapat keleluasaan yang lebih besar untuk
menentukan anggarannya sendiri.
REFERENSI

http://www.slideshare.net/dodyzulfikar/analisis-standar-belanja

dppka.jogjaprov.go.id

bappeda.banyuwangikab.go.id

suwito1.wordpress.com/2010/06/18/standar-analisis-belanja

www.anggaran.depkeu.go.id

Pusat Studi Ekonomi dan Kebijakan Publik (PSEKP) UGM.Penyusunan Analisis


Standar Belanja.2009.Yogyakarta.