Anda di halaman 1dari 34

MODUL SAFETY TRAINING

“PENGAWASAN KESEHATAN”

By :
D.S.P - HSE Engineer

PT.YAMA Engineering
KESEHATAN KERJA
menurut komite bersama ilo dan who :

Kesehatan Kerja (Occupational Heath) didefinisikan sebagai suatu aspek atau unsur kesehatan yang erat
berhubungan dengan lingkungan kerja dan pekerjaan , yang secara langsung maupun tidak langsung
dapat meningkatkan efisiensi dan produktivitas tenaga kerja

Tujuan :

 Meningkatkan dan memelihara derajad kesehatan tenaga kerja yang setinggi-tingginya


setinggi baik
jasmani ,rohani maupun sosial untuk semua lapangan pekerjaan

 Mencegah timbulnya gangguan kesehatan yang disebabkan oleh kondisi kerja

 Melindungi tenaga kerja dari bahaya kesehatan yang timbul akibat pekerjaan

 Menempatkan tenaga kerja pada suatu lingkungan


lingkungan kerja yang sesuai dengan kondisi fisik,mental
dan faal tubuh.

DEFINISI PENGAWASAN KESEHATAN KERJA

Serangkaian kegiatan pengawasan dari semua tindakan yang dilakukan oleh pegawai pengawas
ketenagakerjaan atas pemenuhan pelaksanaan peraturan perundangan-undangan
perundang undangan atas obyek
pengawasan kesehatan kerja

LANDASAN DAN DASAR PENGAWASAN KESEHATAN KERJA

TARGET
 PENCEGAHAN DAN PENANGGULANGAN :
PENYAKIT AKIBAT KERJA
PENINGKATAN PRODUKTIVITAS KERJA

Faktor yg mempengaruhi kesehatan kerja


Beban Kerja : Fisik / mental
Lingkungan Kerja : fisika, kimia, biologi, fisiologi dan mental psikologi
Kapasitas Kerja

OBYEK PENGAWASAN

KELEMBAGAAN
 PELAYANAN KESEHATAN KERJA
 PENYELENGGARAAN MAKAN DI TEMPAT KERJA
 PENYELENGGARAAN P3K
PERSONIL
 DOKTER PERUSAHAAN
 PARAMEDIS PERUSAHAAN
 PETUGAS P3K
 PETUGAS PENYELENGGARA MAKANAN
PROGRAM
 SYARAT – SYARAT KESLM KERJA ( UU 1/70 Ps. 3 )
 PELAYANAN KESEHATAN KERJA

CARA PELAKSANAAN
 Pelayanan Kesehatan Kerja
 Pemeriksaan Kesehatan Tenaga Kerja
 P3K
 Gizi kerja
 Ergonomi
 Psikologi Kerja
 Higene dan Sanitasi
 Alat Pelindung Diri
BEBERAPA MASALAH KESEHATAN KERJA DIPERUSAHAAN
Keberadaan poliklinik atau rujukan ke pelayanan kesehatan “langganan” perusahaan cenderung
bersifat kuratif, seharusnya pelayanan terfokus pada promotif dan preventif
Kesehatan kerja seolah-olah hanya mrpk tanggungjawab dokter / paramedis atau bag.
kesehatan/poliklinik perusahaan.
Kedudukan Organisasi perusahaan umumnya masih pada tingkat yang rendah, sehingga kurang
mendapat tanggapan yang layak
Dokter-dokter perusahaan kebanyakan bekerja tidak secara penuh sehingga pengembangan
pelayanan kesehatan kerja terbatas
Pemberian makanan/minuman (extra fooding) dianggap telah mewakili terselenggaranya
penerapan kesehatan kerja, kurang memperhatikan kecukupan kebutuhan kalori / gizi untuk
bekerja.
Pemeriksaan kesehatan masih bersifat “umum”, pemeriksaan kesehatan bagi pekerja
dilaksanakan dalam rangka penyelenggaraan keselamatan kerja tanpa mengabaikan standar
medis ( ilmu kedokteran )
Lingkungan kerja diperusahaan sering kurang memadai
Penyediaan dan penggunaan alat pelindung diri (APD) dianggap sebagai sarana utama untuk
melindungi tenaga kerja dari resiko di tempat kerja
Prinsip-prinsip ergonomi belum / tidak diperhatikan
DASAR HUKUM PENGAWASAN KESEHATAN KERJA

1. Undang-undang No. 1 Tahun 1970 Tentang Keselamatan Kerja Bab II I Pasal 3 dan Pasal 8

2. Undang-undang No. 3 Tahun 1992 Tentang Jaminan Sosial Tenaga Kerja Pasal 6 ayat 1.

3. Peraturan Pemerintah No. 14 Tahun 1993 Tentang Jamsostek

4. Keputusan Presiden R.I No. 22 Tahun 1993 Tentang Penyakit yang timbul karena hubungan kerja

5. Peraturan Menteri Perburuhan (PMP) N0. 7 Tahun 1964 Tentang Syarat kesehatan, kebersihan, serta
penerangan dalam tempat kerja

6. Peraturan Menteri Tenaga kerja, Transmigrasi dan Koperasi No. Per-01/Men/1976 Tentang kewajiban
latihan Hyperkes bagi Dokter Perusahaan

7. Peraturan Menteri Tenaga Kerja dan Transmigrasi No. Per-01/Men/1979 tentang kewajiban latihan
Hygiene Perusahaan, Kesehatan dan keselamatan kerja bagi Tenaga Paramedis Perusahaan

8. Permenaker No. 02/Men/ 1980 tentang pemeriksaan dalam penyelenggaraan keselamatan kerja

9. Permenakertrans No. Per.01/Men/1981 tentang kewajiban melapor penyakit akibat kerja

10. Permennakertrnas No. Per.03/Men/1982 tentang pelayanan kesehatan kerja

11. Peraturan Menteri Tenaga Kerja No. Per.01/Men/1988 tentang penyelenggaraan pemeliharaan
kesehatan bagi tenaga kerja dengan manfaat lebih baik dari paket jaminan pemeliharaan kesehatan

12. Keputusan Menteri Tenaga kerja 333 Tahun 1989 tentang Diagnosa dan pelaporan penyakit akibat
kerja

13. Surat Edaran Menteri Tenaga kerja No. SE.01/Men/1979 tentang pengadaan kantin dan ruang
makan

14. Surat Edaran Dirjen Binawas No. SE.07/BW/1997 tentang pengujian Hepatitis B dalam pemeriksaan
kesehatan tenaga kerja

15. Surat Edaran Dirjen Binawas No. SE.86/BW/1989 tentang perusahaan catering yang mengelola
makanan bagi tenaga kerja
PELAYANAN KESEHATAN KERJA PERMENAKERTRANS No. 3 / 1982

Yang dimaksud dengan Pelayanan Kesehatan kerja adalah suatu usaha kesehatan yang dilaksanakan
dengan tujuan :

memberikan bantuan kepada tenaga kerja dalam penyesuaian diri baik fisik maupun mental,
terutama dalam penyesuaian dengan tenaga kerja.

melindungi tenaga kerja terhadap setiap gangguan kesehatan yang timbul dari pekerjaan atau
lingkungan kerja

meningkatkan kesehatan badan, kondisi mental (rohani), dan kemampuan fisik tenaga kerja

memberikan pengobatan dan perawatan serta rehabilitasi bagi tenaga kerja yang menderita
sakit.

Tugas pokok pelayanan kesehatan kerja

a. Pemeriksaan kesehatan sebelum kerja

Pemeriksaan kesehatan berkala

Pemeriksaan kesehatan khusus

b. Pembinaan dan pengawasan atas penyesuaian pekerjaan terhadap tenaga kerja.

c. Pembinaan dan pengawasan terhadap lingkungan kerja

d. Pembinaan dan pengawasan perlengkapan sanitasi

e. Pembinaan dan pengawasan perlengkapan untuk kesehatan tenaga kerja

f. Pencegahan dan pengobatan terhadap penyakit umum dan penyakit akibat kerja

g. Pertolongan pertama pada kecelakaan

h. Pendidikan kesehtan untuk tenaga kerja dan latihan untuk petugas P3K

i. Memberikan nasehat mengenai perancanaan dan pembuatan tempat kerja, pemilihan APD yang
diperlukan, gizi serta penyelenggaraan makanan di tempat kerja

j. Membantu usaha rehabilitasi akibat kecelakaan atau penyakit akibat kerja

k. Pembinaan dan pengawasan terhadap tenaga kerja yang mempunyai kelainan tertentu dalam
kesehatannya

l. Memberikan laporan berkala tentang pelayanan kesehatan kerja pada pengurus.


PENYELENGGARAAN PELAYANAN KESEHATAN KERJA

1. Diselenggarakan sendiri oleh pengurus

2. Diselenggarakan oleh pengurus dengan mengadakan ikatan dengan dokter atau Pelayanan
Kesehatan Lain

3. Pengurus dari beberapa perusahaan secara bersama-sama menyelenggarakan suatu Pelayanan


Kesehatan kerja ( Ps. 4 )

4. Penyelenggaraan pelayanan kesehatan kerja dipimpin dan dijalankan oleh dokter yang disetujui
oleh Direktur ( ps. 5 )

5. Pengurus wajib memberikan kebebasan profesional kepada dokter yang menjalankan Pelayanan
kesehatan kerja.

6. Dokter dan tenaga kesehatan bebas memasuki tempat-tempat kerja untuk melakukan
pemeriksaan dan mendapatkan keterangan yg diperlukan ( ps. 6 )

7. Pengurus wajib menyampaikan laporan pelaksanaan Pelayanan kesehatan kerja kepada Direktur
( ps. 7 )

8. Dokter dan tenaga kesehatan wajib memberi keterangan yang diperluklan oleh Pegawai
Pengawas ( ps. 8 )

BENTUK PENYELENGGARAAN PELAYANAN KESEHATAN KERJA YG ADA

Lengkap didalam perusahaan ( pelayanan terbaik )

 Semua sarana berada di perusahaan, sehingga tenaga kerja dan perusahaan idak
kehilangan waktu

 Tenaga medis bekerja secara full time

Sebagian didalam perusahaan

 Biasanya berupa poliklinik, dengan dokter part time dan paramedis full time

 Dikoordinir oleh perusahaan atau bersifak borongan / kontrak

Bentuk diluar perusahaan

 Dokter langganan

 Dokter tidak mengetahui kondisi tempat kerja


PELAYANAN KESEHATAN KERJA YANG EFEKTIF

Agar pelayanan kesehatan kerja dapat berfungsi secara efektif maka semua staf kesehatan kerja
wajib melayani kepentingan semua tempat kerja.

Dokter perusahaan harus benar-benar


benar dapat
apat bertindak sebagai “Occupational Physician” dan
merupakan “Key Individual” serta berperan aktif dalam proses penentuan suatu keputusan
tentang program kesehatan kerja di perusahaan.

Keterlibatan dokter perusahaan dalam aktivitas manajemen terutama yang berhubungan


dengan kesehatan kerja akan semakin dibutuhkan.

PEMERIKSAAN KESEHATAN TENAGA KERJA

Menurut ILO :

Tujuan kesehatan kerja akan dapat dicapai apabila program kesehatan kerja didasari oleh data
dan informasi yang akurat dan relevan melalui :

1. Surveilans
urveilans Kesehatan Kerja
Pemeriksaan kesehatan pekerja yg mencakup : pemeriksaan medik, biologik,
radiologik, kuesioner, review dari catatan kesehatan.

Surveilence Kesehatan pekerja yang dilakukan harus berkaitan dengan hubungan kerja
yang dihadapinya.
dihadapinya. Oleh karena itu pemeriksaan kesehatan pekerja haruslah
memperhatikan faktor resiko yang ada

2. Surveilans lingkungan kerja

Yaitu kegiatan identifikasi dan evaluasi faktor-faktor


faktor faktor lingkungan kerja yang dapat
mempengaruhi kesehatan pekerja. Dapat dilakukan
dilakukan melalui penilaian terhadap : sanitasi
& higiene perusahaan, organisasi kerja, alat pelindung diri dan lingkungan, pemahaman
pekerja terhadap faktoratau bahan berbahaya, sistem pengendalian lingkungan kerja.
PROGRAM KESEHATAN KERJA

1. Pemeriksaan Kesehatan

- Pemeriksaan kesehatan berkala

- Pemeriksaan kesehatan khusus

2. Diagnosis & Pengobatan Penyakit

Baik penyakit umum maupun penyakit akibat kerja termasuk rehabilitasinya

3. Monitoring / Evaluasi Tempat-Tempat Kerja secara berkala melalui pengukuran-pengukuran

4. Pengamanan bahaya bahan kimia di tempat kerja

5. Latihan dan pendidikan tentang kesehatan dan keselamatan kerja bagi semua tenaga kerja.
Latihan dan pendidikan ini perlu diselenggarakan secara berkala dan berkesinambungan.

6. Pengadaan alat-alat pelindung diri oleh perusahaan dan pemanfaatan serta pemeliharaan alat-
alat tersebut oleh tenaga kerja

7. Pencatatan dan pelaporan pelaksanaan pelayanan kesehatan kerja

8. Penelitian epidemiologis untuk mengevaluasi dampak lingkungan kerja

9. Mengevaluasi secara berkala efektivitas dari program kesehatan kerja yang telah dilaksanakan

10. Usaha-usaha lain, misalnya kesehatan inu & anak, keluarga berencana dan lain-lain dapat
diselenggarakan oleh perusahaan-perusahaan yang mampu

PENGENDALIAN POTENSI BAHAYA KESEHATAN DAN PENANGGUNG JAWABNYA :

Pengenalan pengaruh terhadap kesehatan - Pekerja, Bag. K3, dokter/ Paramedis


- Diagnosis penyakit / gangguan kesehatan - Paramedis / Dokter
- Ahli higene industri, dokter/ paramedis, ahli
- Penetapan faktor penyebab di Lingk kerja toksikologi
- Ahli higene industri, dokter/ paramedis, ahli K3,
- Monitoring, pengendalian faktor penyebab ahli ergonomi
- Monitoring kesehatan Dokter/paramedis, ahli toksikologi
PERANAN & FUNGSI PERSONIL KESEHATAN

Dokter atau perawat perusahaan yang melayani kesehatan kerja seharusnya secara langsung
bertanggung jawab kepada pimpinan perusahaan (top manajemen), sedangkan petugas/staf
pelayanan kesehatan kerja lainnya secara profesional bertanggung jawab pada pimpinan organisasi
kesehatan kerja yang ada.

Diperusahaan dimana pelayanan kesehatan kerja ditangani oleh perawat secara full timer dan dokter
yang part timer. Peranan perawat tersebut dalam menerapkan kesehatan kerja sangat ditentukan oleh
pengetahuan dan ketrampilan dibidang K3. Tidak beralasan bilamana perawat yang terdidik itu tidak
dibenarkan untuk menyelenggarakan secara kompeten program kesehatan kerja di perusahaan.

Kepercayaan pekerja terhadap pelayanan kesehatan kerja diperusahaan tergantung pada manajemen
yaitu apakah mereka telah menghayati fungsi-fungsi pelayanannya.

Pengusaha harus menyadari bahwa usaha peningkatan kesehatan kerja di perusahaan bukanlah
semata-mata untuk kepentingan pekerja, tetapi juga bertujuan untuk meningkatkan produksi
perusahaan. Oleh karena itu pengusaha harus memiliki tanggung jawab yang besar dalam upaya
meningkatkan kesehatan pekerja.

Pekerja wajib mentaati semua peraturan kesehatan kerja yang telah ada dan harus menyadari pula
bahwa peningkatan kesehatan kerja ikut mengembangkan kehidupan perusahaan. Rasa ikut
bertanggung jawab terhadap keberhasilan kesehatan kerja dapat dibina atau dirangsang melalui :

1. Pendidikan & latihan

2. Menunjukkan keuntungan (economic value) dari penerapan yang berhasil


PENYAKIT AKIBAT KERJA
Semua penyakit / kelainan yang disebabkan oleh lingkungan kerja atau pekerjaan

Alasan-alasan tidak dilaporkannya PAK ini karena :

- ketidak tahuan dalam menegakkan diagnosanya

- perusahaan khawatir terhadap ganti rugi yang harus dibayar

- adanya hambatan teknis dan administratif dalam penyelenggaraan program Kesehatan Kerja
diperusahaan

Suatu penyakit dapat diduga sebagai akibat dari lingkungan kerja atau pekerjaan bilamana penyakit
tersebut juga diderita oleh teman sekerja penderita

5 SYARAT SESEORANG DAPAT TERKENA PAK

Penyakit disebabkan oleh pekerjaan

Timbul selama kerja

Biasanya masyarakat tidak terkena

Bukan penyakit keturunan , tidak menurun, kronis

Terkait dengan pekerjaan

MENEGAKKAN DIAGNOSA PAK

Anamnesa: Riwayat penyakit + pekerjaan

Pemeriksaan fisik diagnostik:mencari adanya tanda dan gejala yang seringkali khas suatu PAK

Pemeriksaan Laboratoris + Radiologis

Pemeriksaan Tempat Kerja

STATUS KESEHATAN SESEORANG DITENTUKAN OLEH 4 FAKTOR

Lingkungan , berupa lingkungan fisik (alami, buatan) ,Kimia (organik / anorga nik),Biologik dan sosial
budaya

Perilaku yang merupakan sikap, kebiasaan, tingkah laku


Pelayanan kesehatan : promotif,preventif

Genetik yang merupakan bawaan manusia

P A K KARENA FATOR FISIK

1. KEBISINGAN :

- Pemaparan kebisingan intensitas tinggi adalah terjadi kerusakan pada indera pendengaran yang dapat
menyebabkan penurunan daya dengar yang bersifat sementara ataupun menetap (ketulian )

- pemaparan kebisingan intensitas rendah ( perkantoran, r. Administrasi perusahaan ) secara fisiologis tidak
menyebabkan kerusakan pendengaran, tetapi sering menyebabkan gangguan komonikasi, penurunan
performansi kerja,kehilangan konsentrasi kerja

EFEK KEBISINGAN

Pada Indera Pendengaran

• Trauma akustik  paparan tunggal dng intensitas tinggi atau tiba-tiba

• Ketulian sementara ( temporary threshold shift )

• Ketulian menetap ( permanen threshold shift )

Bukan pada Indera Pendengaran

• Gangguan komunikasi

• Gangguan tidur

• Gangguan pelaksanaan tugas

• Perasaan tidak senang / mudah marah

• Gangguan faal tubuh

2. KARENA TEMPERATUR / TEKANAN PANAS

Gangguan perilaku dan performansi kerja seperti kelelahan,sering melakukan istirahat curian
Dehidrasi. Pada kehilangan cairan tubuh < 1,5 % gejala tidak tampak,kelelahan muncul lebih
awal,mulut mulai kering
Heat rash. Keadaan seperti biang kerngat keringat buntat
Heat cramps : kejang-2 otot tubuh (tangan dan kaki ) akibat keluarnya keringat yang menyebabkan
hilangnya garam natrium----minum terlalu banyak dengan sedikit garam natrium.
Heat syncope atau fainting : keadaan ini disebabkan karena aliran darah ke otak tidak cukup karena
sebagian besar aliran darah dibawah kepermukaan kulit atau perifer
Heat exhaustion : keadaan ini terjadi apabila tubuh kehilang an terlalu banyak cairan atau garam
.gejalanya mulut kering,sangat haus, lemah dan sangat lelah. Gangguan ini biasanya banyak dialami
pekerja yang belum beraklimatisasi.
Aklimatisasi
suatu proses adaptasi fisiologis yang ditandai dengan pengeluaran keringat yang meningkat,
penurunan denyut jantung dan suhu tubuh.
Proses ini biasanya memerlukan waktu 7 - 10 hari dan aklimatisasi ini dapat menghilang dengan cepat
apabila pekerja tidak masuk selama satu minggu

Cara terjadinya proses aklimatisasi

Pada hari pertama kerja, pembebanan fisik dan lamanya kerja diusahakan agar tidak melebihi 50 %
dari yang sebenarnya.
Pada hari kedua, beban dan lama kerja ditambah 10 %.
Demikian seterusnya, sehingga pada hari keenam akan tercapai 100 %.

3. Suhu rendah menyebabkan: frosbite, chilblain, hypertermia

4. Radiasi

Sinar elektro magnetis yaitu :

- infra merah : menyebabkan catarak


- ultra violet : menyebabkan conyunctivitas
- Sinar radio aktif : kemandulan , karsinogen
( Sinar: alfa, beta, gama, sinar rontgent )

5. Tekanan Udara : menyebabkan caisson’s disease

6 Getaran : menyebabkan Reynaud’s disease (penyempitan pembuluh darah)

EFEK GETARAN

1. Efek Fisik
Efek fisik suatu getaran pada manusia adalah bersifat mekanis, sedangkan efek termis suatu getaran
hanya terlihat pada frekuensi-frekuensi ultrasonik.

2. Efek Fisiologis
Efek fisiologis misalnya resonansi subsistim kepala-bahu akan menyebabkan gangguan penglihatan.
EFEK RADIASI GELOMBANG MIKRO ( MICROWAVE )

 Mata : adalah sangat peka terhadap efek termis radiasi gelombang mikro . Ini dikarenakan
vaskularisasi pada jaringan lensa mata adalah kurang baik sehingga panas yang diterima oleh lensa
mata tidak dapat disalurkan kejaringan sekitarnya, dengan akibat suhu lensa akan meningkat dan
menyebabkan denaturasi proein lensa dan akhirnya lensa akan menjadi keruh dan berwarna putih
( opaque white )
 Testis atau buah pelir : merupakan organ tubuh yang sangat rentang terhadap efek termis radiasi
gelombang mikro.pada intensitas pemaparan yang tinggi dapat menyebabkan degenerasi sel-2 tubuli
seminiferous dan kemandulan yang sifatnya reversibel. Pada intensitas pemaparan diatas 10 mw/cm
dapat menyebabkan gangguan spermatogenesis , perbahan pola haid, dan kelainan kongenital atan
cacat bawaan .

Pemaparan gelombang mikro yang menahun (10 –20 th ) dapat pula menimbulkan gangguan-2 pada
sistim syaraf ( neurologic effect ) , fisiologis dan perilaku dengan tanda-2 dan gejala-2 kliniki :
- sakit kepala
- mudah tersinggung/marah (irritability )
- nafsu makan berkurang
- depresi
- tekanan darah menurun ( hipotensi )
- sering berkeringat
- denyut nadi lambat
- kadar histamin dalam darah meningkat

EFFECT VISIBLE LIGHT

 Visible light dapat dideteksi oleh indera penglihat. Bilamana seseorang terpapar oleh cahaya yang
sangat kuat , secara gerak refleks pupil mata akan menyempit dan kelopak mata akan menutup
sehingga pemaparan pada radiasi ini dapat dicegah.
 Pemaparan terhadap cahaya yang sangat terang dapat menyebabkan kesilauan. Kesilauan dibedakan :
 Discomfort glare : sering menyebabkan rasa ketidak nyamanan pada mata ( visual discomfort )
dan terutama bila keadaan ini berlangsung dalam waktu yang cukup lama.
 Disability glare : dapat terjadi kebutaan ( flash blindness ) yang sifarnya reversibel . Ini
disebabkan memutihnya pigmen-2 penglihatan sehingga terbentuk scotoma pada medan
penglihatan.

BAHAYA RADIASI SINAR X ATAU GAMA

Sinar x atau sinar gama terutama digunakan untuk pemeriksaan hasil las, dan secara lansung tidak
berhubungan dengan proses pengelasan. pengaruh sinar x atau sinar gama t6erutama pada sel-sel
darah, dan limpfosit adalah merupakan sel darah yang paling radiosensitif. Pada dosis rendah,
pemaparan yang menahun terhadap radiasi ini dapat menyebabkan katarak lensa mata dan
kemandulan.

7. Penerangan ditempat kerja


pengaruh penerangan yang kurang memenuhi syarat berakibat pada :
- kelelahan mata : berkurang daya dan efisiensi
- kelelahan mental
- keluhan pegal didaerah mata dan sakit kepala sekitar mata
- kerusakan indra mata.
Yang selanjutnya menyebabkan
- Kehilangan produktivitas
- Kualitas kerja rendah
- Banyak terjadi kesalahan
- Kecelakaan kerja meningkat.

Beberapa Bahan Kimia Penyebab Asma Kerja

Pekerjaan / Pabrik Bahan Pemapar


Industri Kimia Paraphenylene, piperazine, formaldehyde, phenol,
chloromine, sulfathiazol, chromium, sulfan
chloramide, tannic acid
Pengecoran Logam - Cobalt Cobalt Dus
Kosmetik, Hair Dresser Bahan untuk powder, orris root

Pencelupan Phenylendediamine, P-Phenylenediamine


Elektronik Aluminium Soldering
Insektisida Pirethryne
Metalurgi Acrolein, Vanadium trio Xide, Tung Sten Carbide.
Penambangan Biji Vanadium Pentaoxide
Nikel NiSO4
Poliuretan Isocyanate
Plastik Phtalic, Anhydride, Epoxy Resine, Isocyanate,
Formaldehyde
Platinum Complex platinum salt
Caster Chromium
Pewarnaan Gum Arabic, Tragatanth
Bentuk-Bentuk penyakit Paru Kerja

Bentuk Contoh Penyakit Keluhan Gejala


Restriktif Silikosis Sesak saat aktif, napas
pendek

Obstruktif Abestosis Sesak saat aktif, napas


pendek
Granulomatus Bissinosis Batuk, berat pada dada,
sesak dan napas pendek
ERGONOMI

Definisi

Ilmu yang dalam penerapannya berusaha untuk menyerasikan pekerjaan dan lingkungan kerja terhadap
tenaga kerja atau sebaliknya dengan tujuan efisiensi yang setinggi-tingginya melalui pemanfaatan
faktor manusia seoptimal-optimalnya

TUJUAN

Memperoleh Kemudahan dan Kenyamanan Dalam Pelaksanakan Pekerjaan Untuk Peningkatan


Produktivitas Kerja

MANFAAT

Memperoleh Produktivitas, Nilai Tambah, Kesehatan, Keselamatan dan Kesejahteraan Kerja


Setinggi-tingginya

RUANG LINGKUP

 Hubungan manusia dengan mesin

 Penciptaan lingk. kerja yang mendukung

 Sikap tubuh dan sarana / alat kerja

 Mengangkat dan mengangkut

 Energi / konsumsi kalori

 Jam kerja, kerja lembur / gilir, istirahat

 Kesegaran jasmani

 Musik di tempat kerja

SIKAP TUBUH DALAM BEKERJA

 Pekerjaan dilakukan dalam sikap duduk atau duduk-berdiri bergantian

 Sikap yang tidak alami dihindari, atau beban statik diperkecil

 Tempat duduk dapat memberikan relaksasi pada otot yang tidak dipakai
MENGANGKAT DAN MENGANGKUT

Faktor yang mempengaruhi :

 Beban, jarak angkut, intensitas pembebanan

 Kondisi lingkungan

 Ketrampilan

 Peralatan kerja dan keamanannya

Prinsip kinetik

 Beban diusahakan menekan pada otot tungkai yang kuat, otot tulang belakang dibebaskan
dari beban

 Momentum gerak badan dimanfaatkan untuk mengawali gerakan


Berat beban yang dianjurkan

Pekerja dewasa Pekerja muda


Laki-laki Wanita Laki-laki Wanita
Hanya mengangkat
40 Kg 15 kg 15 Kg 10-12 Kg
beban sekali-kali
Terus menerus 15-18 Kg 10 Kg 10-15 Kg 6-9 Kg

KERJA FISIK

Kemampuan Kerja Fisik

Adalah suatu kemampuan fungsional seseorang untuk mampu melakukan pekerjaan tertentu
yang memerlukan aktifitas otot pada periode waktu tertentu.

Kemampuan Kerja Fisik Ditentukan :

- Kekuatan Otot

- Ketahanan Otot

- Ketahanan Kardiovasculer

Macam Kerja Fisik

Kerja Statik :

kontraksi otot bersifat isometrik (tegangan otot bertambah, namun ukuran panjang otot praktis
tidak berubah)

Kerja Dinamis :

kerja otot bersifat isotonik yaitu terjadi perubahan panjang otot tetapi tegangannya tetap
sehingga menghasilkan gerak perpindahan badan atau bagian tertentu dari badan

Kelelahan Akibat Kerja

Kelelahan adalah suatu mekanisme perlindungan tubuh agar terhindar dari kerusakan lebih
lanjut sehingga terjadi pemulihan sesudah istirahat. kelelahan biasanya menunjukkan kondisi
yang berbeda setiap individu tetapi semuanya bermuara kepada kehilangan efisiensi,penurunan
kapasitas kerja dan penurunan ketahanan tubuh.
KELELAHAN DIKLASIFIKASIKAN :

- Kelelahan otot

- kelelahan umum

Tanda-tanda Kelelahan :

Kelelahan otot, ditandai dengan rasa nyeri pada otot yang berkontraksi dan tremor.

Kelelahan umum, ditandai dg perhatian, daya persepsi, konsentrasi, kemauan kerja aktivitas fisik
& mental menurun.

Penyebab Kelelahan :

Intensitas dan lamanya beban fisik dan mental

Lingkungan kerja fisik dan kimia

Psikologis (tanggung jawab, konflik, khawatir)

Status kesehatan

Monoton (pekerjaan / lingk. membosankan).

KESEGARAN JASMANI

Kesegaran jasmani :

 Pekerja yang segar jasmaninya tidak akan cepat lelah  setelah istirahat kelelahan akan cepat
hilang

 Pekerja yang sehat dan segar menurunkan biaya pengobatan, angka sakit dan kecelakaan

Musik Di tempat Kerja

Musik diperlukan untuk pekerjaan monoton, berulang, dan aktivitas mental.

Kebisingan tinggi, musik tidak dianjurkan


Musik yg keras tdk dianjurkan, Tempo musik tidak terlalu cepat atau lambat, sebaiknya
instrumentalia.

JAM KERJA, KERJA LEMBUR / GILIR

- Jam kerja sebaiknya 8 jam sehari bila lebih perlu shift baru
- Kerja lembur sebaiknya ditiadakan, bila lebih 2 jam tidak akan melindungi tenaga kerja

ISTIRAHAT

4 Macam istirahat

• Istirahat curian

• Istirahat spontan

• Istirahat yg berhub dng proses kerja

• Istirahat yg ditentukan

GIZI KERJA

Gizi Berasal dari bahasa Arab “GIZZAH” artinya ZAT MAKANAN SEHAT

Beberapa Istilah

 STATUS GIZI

Keadaan seseorang yang dihubungkan dengan makanan yang dikonsumsinya

 GIZI KERJA

Nutrient / zat Gizi / Zat makanan yang diperlukan oleh tenaga kerja untuk memenuhi kebutuhan
sesuai dengan jenis pekerjaan yang dilakukan oleh tenaga kerja tersebut dengan tujuan agat
Produktivitas Optimal

Tujuan :

Peningkatan derajat kesehatan dan produktivitas kerja yang setinggi-tingginya

Masalah Mengenai Gizi Kerja

o Sikap asal makan saja  tdk pentingkan gizi

o Pola makan yg kurang baik


o Beban keluarga

o Sarana makan tdk tersedia

o Waktu istirahat tdk digunakan

Borongan

o Kurangnya pengetahuan

 pengusaha, karyawan, pengelola makan

FAKTOR YANG MEMPENGARUHI GIZI SESEORANG

1. UKURAN TUBUH

2. USIA

3. JENIS KELAMIN

4. KEGIATAN SEHARI-HARI

5. KONDISI TUBUH

6. IKLIM DAN SUHU LINGKUNGAN

PENGARUH MAKANAN/GIZI PADA TUBUH NAMPAK DLM BENTUK:

 PERTUMBUHAN FISIK

 AKTIFITAS FISIK

 AKTIFITAS INTELEKTUAL
KEBUTUHAN KALORI

Jenis Kebutuhan kalori per hari

Pekerjaan Laki-laki Wanita

Ringan 2400 2000

Sedang 2600 2400

Berat 3000 2600

PENGGOLONGAN PEKERJAAN

Pekerjaan ringan Pekerjaan sedang Pekerjaan berat

Menulis, mengetik Menggergaji Mencangkul

Kerja kantor Mendongkrak Kerja tambang

Mengecat Mengepel Mengangkat barang

FAKTOR LINGKUNGAN KERJA YANG BERPENGARUH TERHADAP STATUS GIZI

Iklim Kerja

• Perlu penyediaan air minum yg cukup di lingkungan Kerja panas

• Didekat tempat kerja, bersih dan tertutup

• Dianjurkan untuk sesering mungkin minum air masak yang sejuk


Bahan Kimia

• Higiene perorangan, alat pelindung diri

• Bahan kimia dapat tertelan, terhirup, kontak kulit

• Mengganggu metabolisme tubuh, keracunan kronis, gangguan fungsi alat pencernaan

Parasit dan mikroorganisme

• Masuk melalui bahan makanan, udara, permukaan benda.

• Menyebabkan infeksi bakteri kronis pada saluran pencernaan.

• Mengganggu penyerapan zat gizi.

Pengaruh psikis dan kesejahteraan tinggi

• Meningkatnya kesejahteraan tidak diimbangi aktivitas yang seimbang  Penyakit

• Ketegangan hubungan karyawan, problem keluarga, sosial  nafsu makan berkurang, tdk
produktif

PENGELOLAAN MAKANAN BAGI TENAGA KERJA

Perusahaan mengelola sendiri (membutuhkan sarana dan prasana besar pada tahap awal)

Pengelolaan diselengarakan antar perusahaan dan tenaga kerja (perusahaan menyediakan


sarana dan serikat pekerja sebagai pelaksana)

Pengelolaan diborongkan pada pihak jasa boga ( perusahaan hanya menyediakan ruang makan,
meja, kursi, dapur dan peralatan)

USAHA CATERING

Catering : usaha masak memasak yang berorientasi untuk kepentingan konsumen dengan tidak
hanya mengejar keuntungan semata

Masalah yg sering timbul (komplain, putus kontrak mendadak, makanan rusak / keracunan)
PENYELENGGARAAN MAKAN DI PERUSAHAAN

 Sistem makanan bergilir  jam makan diatur per kelompok.

 Sistem kafetaria  secara bergilir mengambil makanan di meja pembagi

 Sistem catu  makanan sudah tersedia pada alat (baki)

 MASALAH DALAM PENYELENGGARAAN MAKAN DI PERUSAHAAN :

 Tidak memenuhi kebutuhan tubuh sesuai dengan jenis pekerjaan.

 Tidak dimakan oleh tenaga kerja karena :

 Tidak nafsu makan


 Tidak menarik & bervariasi
 Kelelahan
 Kurang fasilitas

FAKTOR-2 YANG MEMPENGARUHI GIZI SESEORANG

Kecenderungan Lingkungan :

 Penggunaan bahan pengawet

 Penggunaan bahan pewarna

 Penggunaan pestisida atau pupuk buatan

 Pemanfaatan limbah industri untuk pertanian

 Kerusakan lingkungan oleh karena erosi & pencemaran

→ Zat gizi mikro menurun, kerusakan lingkungan

Kecenderungan Gaya Hidup

Makanan yang diproses (instant)

Kurang gerak

Minuman beralkohol

Merokok

Fast food

Stress dan adanya persaingan


Kecenderungan ekonomi :

 Pendapatan meningkat

 Transportasi baik

 Lebih banyak makanan kaleng

 Penggunaan zat pewarna

 Bahan pertanian kualitas nama agak susah ditemui di dalam negeri

Faktor Kebiasaan : Tidak Makan Pagi

Penelitian :

Kebiasaan tidak makan pagi  Kurang darah  4 L (Lelah, Lesu,Letih, Lemah)

“Better Breakfast = Better Nutrition “

 Anjuran pada pekerja dan anak sekolah  efisiensi kerja dan belajar meningkat

PENGAWASAN PROGRAM GIZI KERJA

Jenis Pengawas /
Tolok Ukur yang Diguanakan
Pengawasan Penilai

Pengawasas terhadap - Karyawan memperoleh Karyawan, Pimpinan dan


pelaksanaan penyelenggara makanan sesuai dengan pengelola makanan
Makanan kebutuhan gizi kerja.

- Makanan yang disajikan


dapat diterima karyawan.

- Kebersihan makanan terjamin


dan pelayanan makanan
memuaskan.
Dampak terhadap status gizi dan - Perbaikan gizi dan kesehatan Pimpinan perusahaan dan tenaga
kesehatan karyawan karyawan meningkat. kesehatan / gizi

Dampak terhadap produktivitas - Angka kecelakaan menurun. Pimpinan perusahaan

-Absensi karena sakit menurun

- Produktivitas kerja meningkat

TOKSIKOLOGI INDUSTRI

DEFINISI / PENGERTIAN :

1 Toksikologi :

Ilmu tentang cara kerja racun (mekanisme)

2. Toksikologi Industri :

Toksikologi dari bahan-bahan kimia yang digunakan, diproses, dihasilkan di industri

3. Bahan Kimia Berbahaya

Definisi

Bahaya bahan kimia, setiap zat kimia yang dapat menyebabkan penyakit, luka atau suatu
keadaan darurat (kebakaran / peledakan)

Klasifikasi Bahaya

Bahaya Fisik : bahan kimia yang menyebabkan peledakan, kebakaran atau reaksi kimia yang
hebat.

Bahaya Kesehatan :

Bahan kimia yang dapat menyebabkan penyakit atau luka bilamana dihirup, ditelan aau
disentuh.
4. Bahaya Fisik

 Mudah Meledak / Eksplosif


 Bahaya Kebakaran
 Pyrophorik : menyala spontan dibawah atau pada suhu 130oF (54 oC)
 Flammable : menyala pada suhu dibawah 100oF (38 oC)
 Combustible : menyala pada suhu 100oF (38 oC)
 Oksidator : menyebabkan / menunjang kebakaran zat kimia yang lain
 Bahan Kimia yang reaktif (water reaktif)

5. Bahaya Kesehatan

– Iritan : menyebabkan iritan / peradangan

– Korosif : menyebabkan kerusakan pada jaringan hidup

– Sensitizer : menyebabkan reaksi alergi jika terpapar berulang

– Target organ chemical : menyebabkan kerusakan pada sistem tubuh yang spesifik

– Bahaya reproduksi : menyebabkan kemandulan, kematian janin, keguguran dan catat


bawaan

– Karsinogen : menyebabkan / memiliki potensi menimbulkan kanker

6. Racun :

Bahan kimia yang dalam jumlah sedikit jika masuk ke dalam tubuh menyebabkan gangguan
kesehatan atau kematian

Racun------------- benda asing (xenobiotic)

Pekerja adalah populasi paling berisiko :

Pola pajanan :

 jangka panjang
 dosis kecil
 8 jam per hari / 40 jam per minggu
BAHAN KONTAMINAN DALAM UDARA

1. Gas dan Uap

- Zat tanpa bentuk, mengisi slrh ruang pada kondisi

normal (1 atmosfir, suhu kamar)

- Mempunyai dimensi tekanan, volume dan suhu

- Dapat berubah wujud dengan merubah ke tiga dimensi

tsb : - LPG (liquified petroleum gas)

- Amoniak cair

- CO2 padat (es kering)

- Uap adalah gas yang pada keadaan normal berupa

cairan atau padatan :

- Volatile organic compound (VOC)

- Uap air, uap krom, uap kamfer, dsb.

GAS / UAP IRITAN

- Menyebabkan iritasi - korosi

Contoh : NH3, formaldehid, ozon, NOx, SOx, H2S, HCl, Cl2,

kromium, dll.

- Sangat larut air / kurang larut air pengaruh pada saluran napas atas / bawah

- Efek : inflamasi akut/kronis

GAS ASFIKSIAN

Menyebabkan asfiksia (gagal napas)

Bentuk : Sederhana (simple) dan Kemikal (Chemical)


ASFIKSIAN SEDERHANA

- Gas CO2, NH4, Asetilin, gas inert

- Sering pada confined space

- Penyebab : tekanan parsial oksigen turun

- Udara : 79% N2, 20 % O2, 1% lain-lain

- Tekanan oksigen < 16% fatal, kematian sangat cepat

ASFIKSIAN KEMIKAL

- Gas CO kegagalan transpor O2 oleh Hb

- Gas sianida inhibisi enzim (siklus Kreb)

2. Debu

Partikel padat, melayang di udara, organik/anorganik

Bentuk : debu, serat

Ukuran : respirable dust (< 10 mikron) atau nonrespirable dust (> 10 mikron)

Inhalasi debu deposit pada saluran pernapasan s.d. Alveoli

Tempat di mana debu deposisi :

ukuran

densitas

pola pernapasan

Jumlah dan lamanya deposisi besar kecilnya efek

Pengeluaran debu :

mekanis (batuk, bersin)

mucocilliary escalator

fagositosis
3. Kabut

Partikel cair berasal dari proses spraying dsb. Tergantung sifat cairan : mudah larut / sukar larut

4. Fume

Partikel padat, berasal dari kondensasi uap metal dengan oksigen. oksida logam Ukuran : < 1
mikron Efek : bergantung sifat metalnya, Contoh : Pb oksida, Seng oksida, dsb.

JALAN MASUK ZAT KIMIA KE DALAM TUBUH

1. Saluran Pencernaan (tertelan)

2. Kulit (kontak dengan kulit)

3. Saluran Pernapasan (terhirup )

GANGGUAN KESEHATAN YANG DITIMBULKAN OLEH BAHAN KIMIA

1. Keracunan Sistemik

Zat kimia beredar keseluruh tubuh dan meracuni sistem kerja organ-organ tertentu, seperti
benzena, timah hitam, cadmium.

2. Gangguan Pernapasan Bagian Atas

Disebabkan karena gas-gas yang mudah larut dalam air seperti amonia, SO2, formaldehide dsb.

3. Gangguan Paru-paru

Sebagai akibat gas yang sukar dalam air seperti chlor, NO2 dsb.

4. Aspisian Sederhana

Sesak napas karena kekurangan oksigen, akibat adanya gas-gas inert seperti : gas nitrogen, CO2
dsb.

5 Aspisian Kimia

Sesak napas karena akibat adanya gas-gas yang juga beracun seperti : CO, HCN dalam udara
pernapasan, dsb.

6. Pembiusan

Atau kehilangan kesadaran oleh gas-gas seperti Chloroform, aceton, etanol dan toulen.
7. Sensitisasi

Kepekaan pada bagian tubuh tertentu atau alergi sebagai senyawa Diisosianat, Epoksi,
Formaldehide

8. Kanker

Sebagai masuknya zat karsinogen ke dalam tubuh seperti Poliaromatik, alfatoksin

9. Pnemuconiosis

Terjebaknya partikel-partikel seperti Silika dan asbes dalam paru-paru

Implikasi praktis yang Perlu Dievaluasi

Dalam kondisi bagaimanakah pemeriksaan kesehatan pekerja diperlukan, atau terhadap siapa
saja?

Jenis pemeriksaan kesehatan kerja apa saja yang dilakukan terhadap pekerja?

Siapa yang melaksanakan / melakukan pemeriksaan kesehatan pekerja?

SAFETY IS STARTING FROM OURSELVES