Anda di halaman 1dari 17

KEBIJAKAN DIVIDEN

Oleh :
I Made Surya Widhi Wibawa (1707531085)
I Made Risky Prasetya (1707531087)
Made Satryawan Jelantik (1707531093)
I Made Andika Wicaksana (1707531116)
I Gusti Ngurah Agung Dananjaya (1707531150)

PROGRAM STUDI AKUNTANSI REGULER


FAKULTAS EKONOMI DAN BISNIS
UNIVERSITAS UDAYANA
TAHUN AJARAN 2018/2019
KATA PENGANTAR
Puji syukur kami panjatkan kehadapan Tuhan Yang Maha Esa karena berkat rahmat yang
beliau limpahkan dan usaha yang telah kami lakukan, makalah “Kebijakan Dividen” ini dapat
diselesaikan.
Semoga makalah ini bukan hanya sekedar berguna bagi mahasiswa lainnya melainkan juga
berguna bagi masyarakat, khususnya bagi pelaku pendidikan. Oleh karena itu, kami sangat
mengharapkan saran dan kritik pembaca sehingga penulis dapat menghasilkan makalah yang lebih
baik pada kesempatan berikutnya.

Denpasar, 05 November 2018

Penulis

ii
DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR .................................................................................................................... ii


DAFTAR ISI.................................................................................................................................. iii
BAB I PENDAHULUAN .............................................................................................................. iv
1.1. Latar Belakang ......................................................................................................................... iv
1.2. Rumusan Masalah ..................................................................................................................... v
1.3. Tujuan........................................................................................................................................ v
BAB II PEMBAHASAN ................................................................................................................ 1
2.1. Pengertian Kebijakan Dividen................................................................................................... 1
2.2. Prosedur Pembayaran Dividen .................................................................................................. 1
2.3. Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi Kebijakan Dividen........................................................... 2
2.4. Dana Yang Bisa Dibagikan Sebagai Dividen ............................................................................ 3
2.5. Jenis-Jenis Pembayaran Dividen ............................................................................................... 4
2.6. Teori Kebijakan Dividen ........................................................................................................... 7
BAB III PENUTUP ...................................................................................................................... 10
3.1. Kesimpulan.............................................................................................................................. 10
3.2. Saran ........................................................................................................................................ 10
DAFTAR PUSTAKA ................................................................................................................... 12

iii
BAB I
PENDAHULUAN
1.1. Latar Belakang
Kebijakan dividen adalah keputusan apakah laba yang diperoleh perusahaan akan
dibagikan kepada pemegang saham sebagai dividen atau akan ditahan dalam bentuk laba ditahan
guna pembiayaan investasi di masa datang. Apabila perusahaan memilih untuk membagikan laba
sebagai dividen, maka akan mengurangi laba yang ditahan dan selanjutnya mengurangi total
sumber dana intern atau keuangan internal. Sebaliknya jika perusahaan memilih untuk menahan
laba yang diperoleh, maka kemampuan pembentukan dana intern akan semakin besar. Dengan
demikian kebijakan dividen ini harus dianalisa dalam kaitannya dengan keputusan pembelanjaan
atau penentuan struktur modal secara keseluruhan.
Kebijakan dividen merupakan kebijakan yang mempersoalkan sebaiknya kapan (artinya,
dalam keadaaan seperti apa) dan berapa bagian dari laba perusahaan yang dicapai dalam suatu
periode, yang didistribusikan kepada para pemegang saham dan yang ditahan didalam perusahaan,
dengan tetap memperhatikan tujuan perusahaan yaitu meningkatkan nilai perusahaan. Kebijakan
dividen ini sangat penting artinya bagi manajer keuangan, karena seorang manajer harus
memperhatikan kepentingan perusahaan, pemegang saham, masyarakat dan pemerintah.
Permasalahan kadang menjadi nampak rumit karena adanya alternatif pendanaan dari luar.
Sehingga dimungkinkan membagi laba sebagai dividen, dan pada saat yang sama menerbitkan
saham baru. Ataukah lebih baik tidak membagi dividen dan juga tidak menerbitkan saham
baru? Apakah cara semacam ini memang membawa dampak yang berbeda bagi pemegang saham?
Masalah lain adalah bahwa perusahaan bisa membagikan dividen bukan dalam bentuk uang tunai
tetapi dalam bentuk saham (dikenal sebagai stock dividend). Demikian juga perusahaan bisa
membagikan dana ke pemegang saham dengan cara membeli kembali (sebagian) saham (dikenal
sebagai repurchase of stocks).

iv
1.2. Rumusan Masalah
1. Apa pengertian kebijakan dividen ?
2. Bagaimana prosedur pembayaran dividen ?
3. Apa saja faktor-faktor yang mempengaruhi kebijakan dividen ?
4. Bagaimana dana yang bisa dibagikan sebagai dividen ?
5. Apa saja jenis-jenis pembayaran dividen ?
6. Bagaimana teori kebijakan dividen ?

1.3. Tujuan
1. Untuk mengetahui pengertian kebijakan dividen.
2. Untuk mengetahui prosedur pembayaran dividen.
3. Untuk mengetahui faktor-faktor yang mempengaruhi kebijakan dividen.
4. Untuk mengetahui dana yang bisa dibagikan sebagai dividen.
5. Untuk mengetahui jenis-jenis pembayaran dividen
6. Untuk mengetahui teori kebijakan dividen.

v
BAB II
PEMBAHASAN
2.1. Pengertian Kebijakan Dividen
Kebijakan dividen adalah merupakan keputusan keuangan yang dilakukan oleh perusahaan
setelah perusahaan beroperasi dan memperoleh laba. Kebijakan dividen menyangkut masalah
penggunaan laba yang menjadi hak para pemegang saham atau keputusan apakah laba yang
diperoleh perushaan akan dibagikan pada pemegang saham sebagai dividen atau ditahan guna
pembiayaan investasi di masa yang akan datang. Dengan demikian pertanyaannnya
seharusnya adalah kapan (artinya, dalam keadaan seperti apa) laba akan dibagikan dan kapan
ditahan dengan tetap memperhatikan tujuan perusahaan yaitu meningkatkan nilai perusahaan.
Kebijakan dividen berpengaruh terhadap aliran dana, struktur finansial, likuiditas
perusahaaan, dan perilaku investor. Dengan demikian kebijakan dividen merupakan salah satu
keputusan penting dalam kaitannya dengan usaha untuk memaksimumkan nilai perusahaan.
Sebagaimana diketahui bahwa nilai perusahaan dipengaruhi oleh keputusan investasi,
keputusan pembiayaan, dan kebijakan dividen itu sendiri. Ketiga keputusan tersebut saling
berinteraksi satu sama lain, karena keputusan investasi dipengaruhi oleh tersedianya dana dan
biaya modal. Biaya modal dan ketersediaan dana dipengaruhi oleh besar kecilnya laba yang
ditahan.

2.2. Prosedur Pembayaran Dividen


Pada umumnya pembayaran dividen dilakukan secara tunai. Keputusan pembayaran
dividen di Indonesia berbeda dengan di Negara Amerika Serikat yang meyatakan bahwa
keputusan pembagian dividen berada di tangan board of directors. Di Indonesia keputusan
pembagian dividen melalui Rapat Umum Pemegang Saham (RUPS) berdasarkan UU No.1
Tahun 1995, Pasal 62 ayat 1 dan 2. Apabila RUPS telah memutuskan untuk membagikan
dividen, maka tanggal tersebut merupakan declaration date.
Para pemegang saham yang namanya tercantum dalam Daftar Pemegang Saham (DPS)
pada tanggal tertentu dinyatakan berhak menerima dividen. Tanggal tersebut dinyatakan
sebagai date of record. Lima hari kerja sebelum date of record, ditentukan tanggal ex-
dividend. Pada tanggal ini dan sesudahnya pembeli saham tidak berhak untuk memperoleh
dividen yang akan dibagikan. Pada hari tersebut dan sesudahnya, dikatakan saham

1
diperdagangkan ex-dividend date, sedangkan sebelumnya dikatakan saham diperdagangkan
cum-dividend date. Pada RUPS juga menyebutkan kapan dividen akan dibayarkan, dan
bagaimana cara pembayarannya. Tanggal pembayaran tersebut disebut payment date.
Pembayaran dividen dilakukan melalui pemindahbukuan atau pengalihan hak atas saham
ditutup pada saat pembayaran dividen. Jika pemindahan hak dilakukan sebelum pembayaran
dividen, maka pemegang saham yang baru yang akan menerima pembayaran dividen.
Perusahaan mengirimkan cek kepada pemegang saham pada tanggal mpembayaran.
Peraturan yang mempengaruhi kebijakan dividen meliputi dividen harus dibayarkan dari
laba ditahan saat ini atau periode yang lalu. Selain itu dividen tidak dapat dibayarkan dari
modal saham. Pembayaran dividen tidak dapat dilakukan apabila perusahaan dalam keadaaam
insolvency.

2.3. Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi Kebijakan Dividen


Faktor-faktor yang mempengaruhi kebijakan dividen pada umumnya meliputi:
1. Posisi kas atau likuiditas perusahaan mempengaruhi kemampuan perusahaan untuk
membayarkan dividen. Bagi perusahaan yang memiliki laba ditahan yang cukup, tetapi
manajemen memutuskan untuk menginvestasikan ke dalam aktiva riil, maka
perusahaan tidak dapat membayarkan dividen dalam bentuk kas.
2. Kebutuhan pembayaran kembali utang perusahaan juga berpengaruh terhadap
kemampuan perusahaan untuk membayar dividen. Adanya batasan dalam perjanjian
pinjaman kepada kreditur, seperti misalnya pembayaran dividen hanya dapat dilakukan
setelah laba yang tersedia bagi pemegang saham dikurangi dengan angsuran pinjaman
atau apabila modal kerja mencapai tingkat tertentu. Disamping itu persetujuan
pemegang saham preferen dimana menuntut hak pembayaran dividen sebelum
pembayaran dividen kepada pemegang saham biasa.
3. Tingkat ekspansi yang tinggi memerlukan dana yang besar, sehingga laba yang
diperoleh lebih baik ditahan. Stabilitas earning memungkinkan perusahaan untuk
mempertahankan payout ratio yang tinggi.
4. Akses perusahaan di pasar modal juga berpengaruh terhadap kebijakan dividen.
Aksesibilitas perusahaan ini dipengaruhi oleh usia dan skala perusahaan, bagi

2
perusahaan yang sudah established lebih mudah mempertahankan payout ratio yang
tinggi dibandingkan dengan perusahaan kecil.
5. Posisi pemegang saham dalam kelompok pajak juga berpengaruh terhadap kebijakan
dividen. Kepemilikan perusahaan oleh investor yang kecil cenderung untuk memiliki
payout yang tinggi. Sedangkan kepmilikan perusahaan yang termasuk dalam kelompok
pembayar pajak besar akan lebih menyukai untuk mempertahankan payout yang
rendah. Lebih lanjut posisi pembayaran pajak perusahaan berpengaruh pula terhadap
kebijakan dividen. Kemungkinan adanya penalti atas kelebihan akumulasi laba ditahan
mungkin akan mendorong untuk memilih payout yang lebih tinggi.

2.4. Dana Yang Bisa Dibagikan Sebagai Dividen


Prakteknya pembagian dividen dikaitkan dengan laba yang diperoleh perusahaan tersedia
bagi pemegang saham. Laba ini ditunjukkan dalam laporan rugi laba yang disebut sebagai
laba setelah pajak (Earning After Taxes).
Besarnya dana yang bisa dibagikan sebagai dividen (atau diinvestasikan kembali) sama
dengan laba setelah pajak. Dana yang diperoleh dari hasil operasi selama satu periode tersebut
adalah sebesar laba setelah pajak ditambah dengan penyusutan. Meskipun demikian, bukan
berarti bahwa kita bisa membagikan jumlah ini sebagai dividen. Karena kalau seluruh dana
tersebut dibagikan sebagai dividen, maka perusahaan tidak akan bisa melakukan penggantian
aktiva tetap di masa yang akan datang. Kalau ini terjadi maka kemampuan perusahaan untuk
menghasilkan laba akan berkurang.
Berdasarkan teori keuangan, jumlah dana yang bisa dibagikan sebagai dividen bisa
dinyatakan dalam persamaan sebagai berikut:
Dividen = EAT + Penyusutan – Investasi Aktiva Tetap – Penambahan Modal Kerja
Persamaan tersebut menunjukkan bahwa dana yang bisa dibagikan sebagai dividen
merupakan kelebihan dana yang diperoleh dari operasi perusahaan (yaitu EAT + Penyusutan)
di atas keperluan investasi untuk menghasilkan laba dimasa yang akan datang (investasi pada
aktiva tetap dan modal kerja). Hanya saja untuk menyederhakan analisis sering diasumsikan
bahwa investasi pada aktiva tetap akan diambil dari penyusutan, dan modal kerja dianggap
tidak berubah. Sehingga dengan asumsi seperti itu besarnya dividen ditentukan oleh EAT.
Maksimum Dividen = EAT

3
Apabila dividen yang dibagikan (Dividend Payout Ratio) misalnya hanya 40% dari EAT,
maka ini berarti yang 60% digunakan untuk menambah dana untuk penyusutan untuk
investasi pada aktiva tetap dan penambahan modal kerja.

2.5. Jenis-Jenis Pembayaran Dividen


Seperti telah diuraikan bahwa maksimum besarnya dividen yang dibagikan sebesar laba
setelah pajak, maka besarnaya dividen akan dipengaruhi oleh ada tidaknya kesempatan
investasi. Berikut akan diuraikan jenis-jenis alternatif pembagian dividen.
1. Pembayaran dividen yang stabil
Perusahaan yang menganut kebijakan untuk membayarkan dividen per lembar saham
dalam jumlah yang stabil cenderung untuk memiliki payout ratio yang rendah pada
saat profit tinggi dan memiliki payout ratio yang tinggi pada saat profit mengalami
penurunan. Alasan untuk memberikan dividen yang stabil dengan cara mebiarkan
payout ratio berfluktuasi adalah agar harga pasar saham lebih tinggi. Hal ini mudah
dipahami karena:
a. Dividen yang berfluktuasi lebih beresiko daripada dividen yang stabil, oleh karena
itu tingkat discount rate yang lebih rendah akan diterapkan pada dividen yang
stabil sehingga nilai saham lebih tinggi.
b. Pemegang saham yang mengharapkan penerimaan pendapatan dari pembayaran
dividen akan lebih suka untuk menerima dividen dalam jumlah yang stabil (dividen
minimum) dan mengharapkan adanya premium atas saham itu.
c. Persyaratan listing surat berharga mensyaratkan dividen yang stabil dan tidak
terputus.
2. Residual Decision of Dividend
Penentuan besarnya dividen dipengaruhi oleh ada tidaknya kesempatan investasi yang
menguntungkan. Sejauh terdapat investasi yang menguntungkan maka dana yang
diperoleh dari investasi perusahaan akan digunakan untuk investasi tersebut, jika
terdapat sisa barulah sisa tersebut dibagikan sebagai dividen. Apabila pendapat ini
dianut maka kita akan mengamati pola pembayaran dividen yang sangat erratic. Suatu
perusahaan membagikan dividen sangat banyak karena tidak ada investasi yang

4
menguntungkan, pada saat lain tidak membagikan dividen sama sekali karena seluruh
dana dignakan untuk investasi
3. Payout Ratio yang konstan
Beberapa perusahaan memilih untuk mempertahankan persentase payout atas laba
yang konstan. Dengan demikian apabila laba yang diperoleh berfluktuasi maka dividen
yang dibayarkan juga akan berfluktuasi. Kebijakan ini cenderung tidak akan
memaksimumkan nilai saham perusahaan.
4. Pembayaran dividen reguler yang rendah disertai pembayaran yang ekstra
Kebijakan yang terakhir merupakan kebijakan yang moderat yaitu merupakan
kompromi atas dua kebijakan satu dan tiga yang lebih fleksibel.

Contoh 1
Perusahaan A sedang merencanakan untuk memperluas sarana produksinya tahun
depan dengan investasi Rp.13.000.000,-. Rasio hutang terhadap total aset saat ini
adalah 40% dan itu dianggap merupakan struktur modal yang optimum, laba setelah
pajak saat ini Rp.6.000.000,-. Jika perusahaan A berharap untuk mempertahankan
60% dividend payout rationya, berapa banyak eksternal equity yang diperlukan untuk
membiayai ekspansi tersebut?

Jawab
Laba setelah pajak Rp.6.000.000,-
Dividend payout 60%
Dividen Rp.3.600.000,-
Laba yang ditahan Rp.2.400.000,-
Capital budget Rp.13.000.000,-
Debt to total assets 40%
Total utang Rp.5.200.000,-
Total equity 60% Rp.7.800.000,-
Laba yang ditahan Rp.2.400.000,-
Eksternal equity Rp.5.400.000,-

5
Contoh 2
Perusahaan B meperoleh laba setelah pajak sebesar Rp.11.000.000,- tahun yang lalu
dan membagikannya dalam bentuk dividen sebesar Rp.3.960.000,-. Dividen tersebut
telah tumbuh dengan tingkat pertumbuhan sebesar 6% per tahun selama 10 tahun, pada
tahun ini perusahaan memperoleh laba sebesar Rp.14.000.000,-. Kesempatan investasi
yang tersedia sebesar Rp.10.000.000,-. Hitunglah dividen untuk tahun ini di bawah
setiap kebijakan berikut ini.
a. Payout yang konstan?
b. Pertumbuhan dividen yang stabil?
c. Residual devidend policy (anggap perusahaan berharap akan mempertahankan
debt to total assets ratio 40%)?

Jawab:
a. Payout ratio = Rp.3.960.000,-/ Rp.11.000.000,-
= 36%
= 36%( Rp.14.000.000,-)
= Rp.5.404.000,-
b. Pertumbuhan 6% sehingga dividen yang dibayarkan
= (1 + 6%)( Rp.3.960.000,-)
= Rp.4,197.000,-

c. Investasi Rp. 10.000.000 ,-


Persentase equity financing 60%
Equity financing Rp.6.000.000,-
Laba yang diperoleh Rp.14.000.000,-
Dividen yang dibagikan Rp.8.000.000,-

6
2.6. Teori Kebijakan Dividen
1. Dividen Tidak Relevan
Teori dividen ini tidak relevan dikemukakan oleh Miller dan Modigliani (1961), yang
selanjutnya disebut MM, yang berpendapat bahwa di dalm kondisi bahwa keputusan
investasi yang given, pembayaran dividen tidak berpengaruh terhadap kemakmuran
pemegang saham, lebih lanjut MM berpendapat bahwa nilai perusahaan ditentukan oleh
earning power dari aset perusahaan. Dengan demikian nilai perusahaan ditentukasn oleh
keputusan investasi.
Hal penting dari pendapatnya MM adalah bahwa pengaruh pembayaran dividen
terhadap kemakmuran pemegang saham akan diimbangi dengan jumlah yang sama dengan
cara pembelanjaan atau pemenuhan dana yang lain. Jadi yang penting adalah apakah
investasi yang tersedia diharapkan akan memberikan NPV yang positip, tidak peduli
apakah dana yang dipergunakan untuk mebiayai berasal dari perusahaan (laba ditahan)
ataukah dari luar perusahaan (menerbitkan saham baru). Dampak keputusan tersebut sama
saja bagi kekayaan pemodal. Atau keputusan dividen adalah tidak relevan. Untuk
memperjelas uraian tersebut perhatikan contohnya.
Misalnya suatu perusahaan mempunyai neraca sebagai berikut :
Jumlah lembar saham 1.000.000 lbr
Harga saham Rp.8.050/ lbr

Kas 1.050.000.000
Modal sendiri 8.050.000.000
Aktiva lain 7.000.000.000
Total 8.050.000.000 Total 8.050.000.000

Misalkan pada kesempatan tersebut tersedia kesempatan investasi yang diharapkan


memberikan NPV Rp 200 juta dan memerlukan dana sebesar Rp 1.000 juta. Apabila
para pemegang saham memutuskan untuk mengambil investasi tersebut (tidak perlu
menerbitkan saham baru) karena dana yang ada dalam perusahaan masih mencukupi
maka rencanannya akan nampak sebagai berikut :
Kas 50.000.000
PV Investasi 1.200.000.000 Modal sendiri 8.250.000.000
Aktiva lain 7.000.000.000
Total 8.250.000.000 Total 8.250.000.000

7
Sekarang misalkan para pemegang saham menginginkan membagi dividen per
lembar Rp 1.000 juta tetapi tetap ingin mengambil investasi dengan NPV Rp 200 juta
tersebut karena besarnya dividen yang dibagikan adalah Rp 1.000 juta maka
perusahaan perlu menerbitkan saham baru sebesar Rp 1.000 juta, sehingga neracanya
akan nampak sebagai berikut :

Modal sendiri
Kas 50.000.000 lama 7.250.000.000
PV Investasi 1.200.000.000
Modal sendiri
Aktiva lain 7.000.000.000
baru 1..000.000.000

Total 8.250.000.000 Mo
Total 8.250.000.000

2. Bird-in-the-Hand-Theory
Teori ini dikemukakan oleh Gordon (1962) dan Lintner (1956, 1963), dimana
beliau berpendapat bahwa biaya ekuitas (Kₑ) perusahaan akan mengalami kenaikan
disebabkan oleh penurunan pembayaran dividen, karena investor lebih yakin terhadap
penerimaan dan pembagian dividen dibandingkan dengan kenaikan nilai modal
(capital gain) yang dihasilkan laba tersebut.
Gordon-Lintner beranggapan bahwa investor memandang satu burung di tangan
lebih berharga dari pada seribu burung di udara. Beliau juga berpendapat bahwa
kemungkinan capital gains yang diharapkan adalah lebih risikonya tingkat
keuntungkan dibandingkan dengan dividend yield yang pasti. Sehingga investor akan
meminta tingkat keuntungkan yang lebih tinggi dan semakin tinggi jika ke
dipergunakan untuk mensubsidi dividen. Dengan tegas Gordon Lintner berpendapat
bahwa investor akan meminta tingkat keuntungan yang lebih tinggi untuk setiap
pengurangan dividen yield.

3. Tax Differential Theory


Tax differential Theory dikemukakan oleh Lizaenberger dan Ramaswamy (1979)
mengemukakan bahwa dalam kaitannya dengan pajak pendapatan perseorangan,
pendapat yang relavan bagi investor adalah pendapatan setelah pajak, sehingga
keuntungan yang disyaratkan juga setelah pajak. Kalau kita kembali perhatikan model
penilaian saham yang mempunyai tingka pertumbuhan konstan Ke = D1/Po + g;

8
dimana tingkat keuntungan diharapkan (Ke) terdiri dari unsur dividend yield (D1/Po)
dan captial gain (g) yang diharapkan, maka kedua komponen harus disesuaikan dengan
pajak.
Investor lebih suka untuk menerima captial gain yang tinggi dibanding dengan
dividen tinggi. Dengan kata lain investor menghendaki perusahaan untuk menahan laba
setelah pajak dan dipergunakan untuk pembiayaan investasi dari pada pembayaran
dividen dalam bentuk kas. Untuk itu dapat disimpulakn bahwa investor akan meminta
tingkat keuntungan setelah pajak yanng lebih tinggi erhadap saham yang memiliki
dividend yield yang tinggi dari pada saham dengan dividend yield yang rendah. Oleh
karenanya kelompok ini cenderung menyarankan bahwa perusahaan sebaiknya
menentukan dividend pay out ratio yang rendah atau bahkan tidak membagikan
dividen.

9
BAB III
PENUTUP
3.1. Kesimpulan
Prosedur pembayaran dividen meliputi : declaration date yaitu merupakan keputusan
RUPS untuk membagikan dividen; ex-dividend date, adalah merupakan hari/tanggal dimana
pembeli saham tidak berhak memperoleh dividen yang dibagikan, record date, adalah
hari/tanggal daftar pemegang saham; dan payment date, merupakan tanggal pembayaran
dividen.
Faktor-faktor yang mempengaruhi kebijakan perusahaan membayar dividen pada
umumnya meliputi : posisi kas atau likuiditas perusahaan, kebutuhan pembayaran kembali
utang perusahaan, tingkat ekspansi perusahaan, akses perusahaan di pasar modal dan posisi
pemegang saham dalam kelompok pajak.
Berdasarkan teori keuangan, jumlah dana yang bisa dibagikan sebagai dividen adalah laba
setelah pajak ditambah Penyusutan dikurangi Investasi Aktiva Tetap dikurangi Penambahan
Modal Kerja. Hanya saja untuk menyederhanakan analisis sering diasumsikan bahswa
investasi pada aktiva tetap akan diambil dari penyusutan, dan modal kerja dianggap tidak
berubah. Sehingga dengan asumsi seperti itu maka besarnya dividen ditentukan oleh EAT.
Jenis-jenis Pembayaran Dividen meliputi:
1. Pembayaran dividen yang stabil
2. Residual Decision of Dividend
3. Payout ratio
4. Pembayaran dividen reguler yang rendah disertai pembayaran ekstra

3.2. Saran
Dalam mempelajari materi dividen ini, penyusun menyarankan selain menguasai
pengertian, konsep, kebijakan, pendekatan, dan faktor-faktor yang mempengaruhi dividen,
perlu juga memperhatikan dua aspek berikut ini.
Pembagian dividen oleh manajemen harus didasari dengan pertimbangan yang seksama,
yaitu dengan memperhatikan sekurang-kurangnya aspek keuangan dan aspek hukum. Aspek
keuangan wajib diperhatikan karena pembagian dividen tidak dapat dilepaskan dari faktor-
faktor keuangan yang antara lain mencakup kemampuan keuangan perusahaan, proyeksi

10
usaha perusahaan dan harapan pemegang saham secara ekonomi untuk mendapatkan tingkat
pengembalian dari investasi mereka. Aspek hukum wajib diperhatikan karena pembagian
dividen harus dilaksanakan sesuai dengan peraturan dan perundang-undangan yang berlaku.
Meskipun tujuannya adalah meningkatkan kesejahteraan pemegang saham.

11
DAFTAR PUSTAKA
Wiagustini Ni Luh Putu.2014. Manajemen Keuangan. Denpasar: Udayana University
Press.

12