Anda di halaman 1dari 5

BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

Gangguan Jiwa adalah pola psikologis atau perilaku yang pada umumnya
terkait dengan stres atau kelainan mental yang tidak dianggap sebagai bagian
dari perkembangan normal manusia. Gangguan tersebut didefinisikan sebagai
kombinasi afektif, perilaku, komponen kognitif atau persepsi yang
berhubungan dengan fungsi tertentu pada daerah otak atau sistem saraf yang
menjalankan fungsi sosial manusia. Gangguan jiwa berdampak pada individu,
keluarga dan kehidupan di masyarakat. Dampak yang timbul pada individu
yaitu dijauhi oleh teman-temannya dan kehilangan pekerjaan. Gangguan jiwa
juga berdampak pada keluarga seperti kurang berjalannya peran orang tua
dalam menentukan pola asuh pada anaknya sehingga anak suka berperilaku
tidak wajar, anak mulai menarik diri dari aktivitas sosial dalam kehidupan
bermasyarakat, pembicaraaan anak menjadi tidak jelas, sehingga penderita dan
keluarganya sering dikucilkan oleh masyarakat (Maramis, 2007)
Berdasarkan WHO sekitar 450 juta orang menderita gangguan jiwa
termasuk skizofrenia. Penderita skizofrenia biasanya terjadi pada usia 15
sampai 25 tahun untuk pria dan 25 sampai 35 untuk wanita. Prevalensi
skizofrenia diperkirakan sekitar 1% dari seluruh penduduk (Videbeck, 2008).
Menurut (Riskesdas, 2013) Di Indonesia, bahwa prevalensi ganggunan mental
emosional yang menunjukan gejala depresi dan kecemasan, usia 15 tahun ke
atas mencapai sekitar 14 juta orang atau 6% dari jumlah penduduk Indonesia.
Sedangkan prevalensi gangguan jiwa berat, seperti skizofrenia mencapai
sekitar 400.000 orang atau sebanyak 1,7%. Peningkatan terjadi pada tahun
2018 dengan angka yang cukup signifikan dari 1,7% menjadi 7% (Riset
Kesehatan Dasar, 2018).
Sementara Komunitas Sehat Jiwa (KSJ) Kabupaten Cianjur, mencatat ada
1300 orang dengan gangguan jiwa (ODGJ) dan orang dengan masalah
kejiwaan (ODMK) melakukan konsultasi ke RSUD Cianjur serta psikiater

1
2

setiap bulannya, dimana angka tersebut dianggap baru sebagian kecil yang
mengidap kejiwaan, sebab banyak ODGJ dan ODMK di Cianjur yang tidak
berobat karena masalah ekonomi.
Skizofrenia adalah suatu sindrom yang mempengaruhi otak dan
menyebabkan timbulnya pikiran, persepsi, emosi, gerakan, dan perilaku yang
aneh dan terganggu. Penderita skizofrenia biasanya terjadi pada usia 15
sampai 25 tahun untuk pria dan 25 sampai 35 untuk wanita. Prevalensi
skizofrenia diperkirakan sekitar 1% dari seluruh penduduk (Videbeck, 2008).
Menurut (WHO, 2010) Skizofrenia merupakan sekelompok gangguan sikotik,
dengan gangguan dasar pada kepribadian, distorsi khas pada proses pikir.
Gangguan Skizofrenia, pada umumnya ditandai oleh distorsi pikiran dan
persepsi yang mendasar dan khas, dan afek yang tidak serasi atau tumpul.
Skizofrenia erat kaitannya dengan perilaku kekerasan. Perilaku kekerasan
merupakan suatu keadaan dimana seseorang melakukan tindakan yang dapat
membahayakan secara fisik baik terhadap diri sendiri,orang lain, maupun
lingkungan (Stuart dan Sundeen dalam Fitria, 2012). Perawat sebagai pemberi
asuhan keperawatan perlu memprioritaskan masalah perilaku kekerasan dalam
memberikan intervensi, latih otot progesif merupakan salah satu terapi yang
dapat diberikan kepada klien dengan perilaku kekerasan agar mereka mampu
mengontrol emosi saat muncul perilaku kekerasan.
Teknik relaksasi otot progresif merupakan suatu terapi relaksasi yang
diberikan kepada klien dengan menegangkan otot-oto tertentu dan kemudian
relaksasi. Relaksasi progresif adalah salah satu cara dari teknik relaksasi
mengombinasikan latihan napas dalam dan serangkaian seri kontraksi dan
relaksasi otot tertentu. (Kustanti dan Widodo, 2008). Teknik relaksasi otot
progresif memusatkan perhatian pada suatu aktivitas otot dengan
mengidentifikasi otot yang tegang kemudian menurunkan ketegangan dengan
melakukan teknik relaksasi untuk mendapatkan perasaan relaks (Herodes,
2010). Menurut Perry & Potter dalam Rusmini, 2013, salah satu bentuk terapi
perilaku kekerasan adalah dengan teknik relaksasi progresif. Berelaksasi
merupakan upaya untuk mengendurkan tegangan, pertamatama jasmaniah,
yang pada akhirnya mengakibatkan mengendurnya keteganggan jiwa. Cara
3

relaksasi dapat bersifat respiratoris yaitu dengan mengatur mekanisme atau


aktivitas pernafasan atau bersifat otot, dilakukan dengan tempo atau irama 144
dan intensitas yang lebih lambat dan dalam. Keteraturan dalam bernafas,
khususnya dengan irama yang tepat, akan menyebabkan sikap mental dan
badan akan rileks. Pelatihan otot akan menyebabkan otot makin lentur dan
menerima situasi yang merangsang luapan emosi tanpa membuatnya kaku.
Menurut (Kozier, 2010 dalam Armelia, 2010). Bahwa teknik relaksasi
dilakukan dengan cara pasien menegangkan dan melemaskan otot secara
berurutan dan memfokuskan perhatian pada perbedaan perasaan yang dialami
antara saat otot rileks dan saat otot tersebut tegang. Perubahan yang
diakibatkan oleh relaksasi otot progresif yaitu dapat mengurangi ketegangan
otot, menurunkan laju metabolisme, meningkatkan rasa kebugaran, dan
konsentrasi, serta memperbaiki kemampan mengatasi stressor (Potter & Perry,
dalam Armelia, 2010).
Berdasarkan penelitian (Pangestika, A.T., Rochmawati, D.H., & Purnomo,
2010), dengan judul pengaruh relaksasi otot progresif terhadap kemampuan
mengontrol marah pada pasien RPK di RSJD Dr. Amino Gondohutomo
Provinsi Jawa Tengah sehingga bahwa ada pengaruh relaksasi otot progesif
terhadap kemampuan mengontrol marah pada pasien Resiko Perilaku
Kekerasan. Hal ini dikarenakan relaksasi otot progresif dapat meningkatkan
keterampilan dasar relaksasi untuk mengontrol marah dan memperbaiki
kemampuan untuk mengatasi stres.
Sejalan dengan penelitian (Rusmini, Dramawan, 2013) dengan judul
Pengaruh terapi relaksasi progresif terhadap kemampuan mengontrol perilaku
kekerasan pada klien perilaku kekerasan di ruang rawat inap rumah sakit jiwa
Provinsi NTB tahun (2013), bahwa kemampuan klien dalam mengontrol
perilaku kekerasan sebelum diberikan terapi relaksasi progresif terbanyak
adalah yang tidak mampu mengontrol perilaku kekerasan yaitu sebanyak 24
responden dengan persentase 80%. Sedangkan sesudah diberikan terapi
relaksasi progresif terbanyak adalah yang mampu mengontrol perilaku
kekerasan yaitu sebanyak 29 responden dengan persentase 97%. Hal ini
4

berarti bahwa ada pengaruh terapi relaksasi progresif terhadap kemampuan


klien mengontrol perilaku kekerasan (P value: 0,00).
Dari hasil tersebut dapat disimpulkan bahwa relaksasi otot progesif pada
masalah resiko perilaku kekerasan sangat efektif maka dari itu peneliti
mencoba untuk mengaplikasikan latihan otot progesif pada klien dengan
resiko perilaku kekerasan.

B. Rumusan Masalah
Berdasarkan permasalahan diatas peneliti bermaksud untuk meneliti “
pengaruh relaksasi otot progesif terhadap kemampuan mengontol marah pada
pasien resiko perilaku kekerasan “

C. Tujuan Penelitian
1. Tujuan Umum
Berdasarkan penelitian tersebut peneliti ingin mengaplikasikan
tindakan pengaruh relaksasi otot progesif terhadap kemampuan mengontol
marah pada pasien resiko perilaku kekerasan.
2. Tujuan Khusus
a. Peneliti mampu melakukan pengkajian keperawatan pada klien tentang
pengaruh relaksasi otot progesif terhadap kemampuan mengontol
marah pada pasien resiko perilaku kekerasan.
b. Peneliti mampu merumuskan diagnosa keperawatan pada klien tentang
pengaruh relaksasi otot progesif terhadap kemampuan mengontol
marah pada pasien resiko perilaku kekerasan.
c. Peneliti mampu menyusun perencanaan / intervensi keperawatan pada
klien tentang penerapan relaksasi otot progesif terhadap kemampuan
mengontol marah pada pasien resiko perilaku kekerasan.
d. Peneliti mampu melakukan tindakan keperawatan/ implementasi pada
pasien tentang penerapan relaksasi otot progesif terhadap kemampuan
mengontol marah pada pasien resiko perilaku kekerasan.
e. Peneliti mampu melakukan evaluasi pada klien tentang penerapan
relaksasi otot progesif terhadap kemampuan mengontol marah pada
pasien resiko perilaku kekerasan.
5

f. Penulis mampu menganalisis hasil penerapan tindakan relaksai otot


progesif pada klien dengan resiko perilaku kekerasan.

D. Manfaat Penelitian
1. Manfaat Teoritis
Hasil dari penelitian ini diharapkan dapat digunakan sebagai
pengembangan terbaru ilmu keperawatan dan memberikan wawasan baru
sehingga dapat digunakan sebagai bahan peningkatan dalam bidang
keperawatan mengenai penerapan tindakan relaksai otot progesif pada
klien dengan resiko perilaku kekerasan.
2. Manfaat Praktis
a. Bagi Klien
Tindakan ini sangat bermanfaat bagi klien untuk dapat mengurangi
ketegangan otot, menurunkan laju metabolisme, meningkatkan rasa
kebugaran, dan konsentrasi, serta memperbaiki kemampan untuk
mengatasi stressor.
b. Bagi perawat
Tindakan ini sangat bermanfaat bagi perawat sebagai referensi baru
untuk mengurangi ketegangan otot dengan relaksai otot progesif pada
klien dengan resiko perilaku kekerasan pada pelayanan asuhan
keperawatan di rumah sakit.
c. Bagi Institusi pendidikan
Tindakan ini diharapkan bermanfaat bagi institusi pendidikan
untuk bahan masukan ketika proses kegiatan belajar mengajar dan
untuk menambah wawasan pengetahuan mengenai pengaruh relaksasi
otot progesif terhadap kemampuan mengontol marah pada pasien
resiko perilaku kekerasan.
d. Bagi instansi kesehatan
Tindakan ini diharapkan dapat memberikan referensi atau
tambahan ilmu pengetahuan yang baru dan dapat dikembangkan lagi
untuk masalah penanganan ketegangan otot pada pasien resiko
perilaku kekerasan diinstitusi kesehatan.