Anda di halaman 1dari 25

Borang Portofolio

Bora Internship 2018

PORTOFOLIO KASUS MEDIK

TINEA CORPORIS ET CRURIS

Disusun Oleh:

dr. Nova Octavianty Rachman

Pembimbing :

dr. Risnawati, Sp.KK

dr. Nani Pudji Hastuti

dr. Suwandi

Dokter Internship

Periode 18 September 2018 – 18 September 2019


RSUD Brigjen H. Hasan Basry
Kabupaten Hulu Sungai Selatan
Kalimantan Selatan
Borang Portofolio
Bora Internship 2018

LEMBAR PENGESAHAN

PORTOFOLIO KASUS MEDIK

dr. Nova Octavianty Rachman

TINEA CORPORIS ET CRURIS

Telah menyusun portofolio medik sebagai salah satu tugas dalam rangka
progam internship di RSUD Brigjen H. Hasan Basry, Kandangan
Kabupaten Hulu Sungai Selatan

Hulu Sungai Selatan, Oktober 2018


Mengetahui
Pembimbing,

dr. Risnawati, Sp.KK


Borang Portofolio
Bora Internship 2018

No. ID dan Nama Peserta: dr. Nova Octavianty Rachman

No. ID dan Nama Wahana: RSUD Brigjend H. Hasan Basry Kandangan

Topik: Tinea Corporis et Cruris

Tanggal (Kasus): 22 Oktober 2018

Tanggal Presentasi: 22 November 2018 Pembimbing: dr. Risnawati, Sp.KK

Tempat Presentasi: Al-Alaq Pendamping: dr. Nani Pudji Hastuti


dr. Suwandi
Obyek Presentasi:

□Keilmuan□Keterampilan □Penyegaran □Tinjauan

Pustaka

□ Diagnostik □Manajemen □Masalah □Istimewa

□Neonatus □Bayi □Anak □Remaja □ Dewasa □Lansia □Bumil

□ Deskripsi:Gatal serta ditemukan plak eritematosa, dan skuama pada pasien Tinea

corporis et cruris

□ Tujuan: Menegakkan diagnosis dan penatalaksanaan Tinea corporis et cruris

Bahan Bahasan: □ Tinjauan Pustaka □Riset □ Kasus □Audit

CaraMembahas: □Diskusi □ Presentasi dan □E-mail □Pos

diskusi

Data pasien: Nama:MT Nomor Registrasi:176521

Hasil Pembelajaran:

1. Diagnosis pasien Tinea Carporis et Cruris

2. Penatalaksanaan Tinea Corporis et Cruris


Borang Portofolio
Bora Internship 2018

BAB 1

PENDAHULUAN

Dari segala macam penyakit jamur kulit yang merupakan tipe infeksi

superficial dan kutan maka ptiriasis versikolor, dermatofitosis dan kandidiosis

kulit yang tersering ditemui.1

Dermatofitosis adalah golongan penyakit jamur superficial yang

disebabkan oleh jamur dermotofita yakni Trichophyton spp, Microsporum spp,

dan epidermophyton spp. Dermatofitosis mempunyai arti umum, yaitu semua

penyakit jamur yang menyerang kulit.2

Penyakit ini menyerang jaringan yang mengandung zat tanduk yakni

epidermis (tinea korporis, tinea kruris, tinea manus et pedis), rambut (tinea kapitis),

kuku (tinea unguinum). Dermatofitosis terjadi karena inokulasi jamur pada

tempat yang diserang, biasanya di tempat yang lembab dengan maserasi atau ada

trauma sebelumnya.1,2

Ciri khas pada infeksi jamur adanya central healing yaitu bagian tengah

tampak kurang aktif, sedangkan bagian pinggirnya tampak aktif.3

Faktor-faktor yang mempengaruhi diantaranya udara lembab, lingkungan

yang padat, sosial ekonomi yang rendah, adanya sumber penularan disekitarnya,

obesitas, penyakit sistemik penggunaan antibiotika dan obat steroid, Higiene

juga berperan untuk timbulnya penyakit ini.3


Borang Portofolio
Bora Internship 2018

Dermatofitosis salah satu pembagiannya berdasarkan lokasi bagian tubuh

manusia yang diserang salah satunya adalah Tinea Korporis, dan cruris yaitu

dermatofitosis yang menyerang daerah kulit yang tidak berambut (glabrous

skin), misalnya pada wajah, badan, lengan, tungkai, serta selangkangan yang gejala

subyektifnya yaitu gatal dan terutama jika berkeringat.1,2

Tinea korporis et cruris adalah infeksi dermatofita superfisial yang

ditandai oleh baik lesi inflamasi maupun non inflamasi pada glabrous skin

(kulit yang tidak berambut) seperti muka, leher, badan, lengan, tungkai gluteal,

dan selangkangan.2
Borang Portofolio
Bora Internship 2018

BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

A. DEFINISI

Tinea corporis adalah infeksi jamur dermatofita yang mengenai kulit tubuh

tidak berambut (globorous skin) di daerah muka, badan, lengan dan glutea.

Tinea cruris adalah infeksi jamur jamur dermatofita yang mengenai lipat paha,
daerah genitalia dan di sekitar anus yang dapat meluas ke bokong dan perut bagian
bawah. 2,4,5

B. EPIDEMIOLOGI

Tinea korporis adalah infeksi umum yang sering terlihat pada daerah dengan
iklim yang panas dan lembab. Seperti infeksi jamur yang lain, kondisi hangat
dan lembab membantu menyebarkan infeksi ini.3
Oleh karena itu daerah tropis dan subtropis memiliki insiden yang tinggi

terhadap tinea korporis.6

Tinea korporis dapat terjadi pada semua usia bisa didapatkan pada

pekerja yang berhubungan dengan hewan-hewan.6

Maserasi dan oklusi kulit lipatan menyebabkan peningkatan suhu dan

kelembaban kulit yang memudahkan infeksi. Penularan juga dapat terjadi melalui

kontak langsung dengan individu yang terinfeksi atau tidak langsung melalui benda

yang mengandung jamur, misalnya handuk, lantai kamr mandi, tempat tidur hotel

dan lain-lain.7
Borang Portofolio
Bora Internship 2018

C. Etiologi

Dermatofita adalah golongan jamur yang menyebabkan dermatofitosis. Jamur

ini tumbuh di bagian yang mengandung keratin. Penyakit ini disebabkan oleh jamur

genus Tricophyton, Microsporum dan Epidermophyton. Dermatofitosis dibagi

menjadi beberapa bagian, yakni Tinea kapitis, tinea barbe, tinea kruris, tinea pedis et

manum, tinea unguinum, dan tinea korporis. Umumnya penderita hanya terkena salah

satu jenis tinea, namun pada infeksi yang lama dapat muncul tinea jenis lainnya.2

Tinea kruris atau “jock itch” merupakan dermatofitosis pada lipat paha,

daerah perineum dan sekitar anus. Biasanya terdapat pada laki-laki dewasa dan paling

sering diakibatkan oleh T. rubrum dan E. floccosum. Kelainan ini dapat bersifat

menahun, bahkan berlangsung seumur hidup. Lesi kulit dapat terbatas pada daerah

genito krural atau dapat meluas ke daerah disekitar anus , gluteus dan perut bagian

bawah. Manifestasi klinis dapat berupa lesi berbatas tegas dengan peradangan tepi

lebih nyata daripada daerah tengahnya atau disebut central healing. 2,8,9

Tinea korporis atau “ringworm” merupakan dermatofitosis yang menyerang

bagian kulit halus tanpa rambut (glabrous skin) yaitu tubuh dan ekstremitas. Infeksi

kadang menyebar ke daerah leher dan pergelangan tangan pada orang dewasa yang

kontak dengan anak yang terinfeksi. Tinea korporis paling sering di sebabkan oleh

infeksi T. rubrum dan E. floccosum. Manifestasi klinis yang dapat dilihat merupakan

lesi berbentuk bulat atau lonjong, berbatas tegas, terdapat skuama, terkadang terdapat

papul dan vesikel pada tepinya. Pada tinea korporis yang sudah berlangsung lama ,

tanda radang sudah tidak terlihat. Kelainan ini dapat terjadi diseluruh tubuh dan
Borang Portofolio
Bora Internship 2018

kadang dengan lesi di lipatan paha. Seperti kasus diatas, hal ini disebut dengan Tinea

kruris et korporis maupun sebaliknya. Bentuk seperti ini biasanya disebabkan oleh

infeksi T. rubrum. 2,8,9

D. PATOFISIOLOGI

Infeksi dermatofita melibatkan 3 langkah utama. Yang pertama perlekatan ke

keratinosit, jamur superfisial harus melewati berbagai rintangan untuk bisa

melekat pada jaringan keratin di antaranya sinar UV, suhu, kelembaban,

kompetisi dengan flora normal lain, sphingosin yang diproduksi oleh keratinosit, dan

asam lemak yang diproduksi oleh kelenjar sebasea bersifat fungistatik.10

Kedua penetrasi melalui ataupun di antara sel, setelah terjadi perlekatan

spora harus berkembang dan menembus stratum korneum pada kecepatan yang

lebih cepat daripada proses deskuamasi. Penetrasi juga dibantu oleh sekresi

proteinase lipase dan enzim mucinolitik yang juga menyediakan nutrisi untuk

jamur. Trauma dan maserasi juga membantu penetrasi jamur ke jaringan. Fungal

mannan di dalam dinding sel dermatofita juga bisa menurunkan kecepatan

proliferasi keratinosit. Pertahanan baru muncul ketika begitu jamur mencapai lapisan

terdalam epidermis.10,11

Langkah terakhir perkembangan respon host, derajat inflamasi

dipengaruhi oleh status imun pasien dan organisme yang terlibat. Reaksi

hipersensitivitas tipe IV atau Delayed Type Hypersensitivity (DHT) memainkan

peran yang sangat penting dalam melawan dermatifita.pada pasien yang belum

pernah terinfeksi dermatofita sebelumnya inflamasi menyebabkan inflamasi

minimal dan trichopitin test hasilnya negatif. Infeksi menghasilkan sedikit


Borang Portofolio
Bora Internship 2018

eritema dan skuama yang dihasilkan oleh peningkatan pergantian keratinosit.

Dihipotesakan bahwa antigen dermatofita diproses oleh sel langerhans epidermis

dan dipresentasikan oleh limfosit T di nodus limfe. Limfosit T melakukan

proliferasi dan bermigrasi ke tempat yang terinfeksi untuk menyerang jamur.

Pada saat ini, lesi tiba-tiba menjadi inflamasi dan barier epidermal menjadi

permaebel terhadap transferin dan sel-sel yang bermigrasi. Segera jamur hilang dan

lesi secara spontan menjadi sembuh.10,11

E. GEJALA KLINIS

Gambaran klinis dari tinea korporis merupakan lesi anular, bulat atau lonjong,

berbatas tegas terdiri atas eritema, skuama, kadang-kadang dengan vesikel dan papul

di tepi. Daerah tengahnya biasanya lebih tenang ( tanda peradangan lebih jelas pada

daerah tepi ) yang sering disebut dengan central healing. Tapi kadang juga dijumpai

erosi dan krusta akibat garukan. Lesi-lesi pada umumnya merupakan bercak-bercak

terpisah satu dengan yang lain. Kelainan kulit dapat juga terlihat sebagai lesi-lesi

dengan pinggir yang polisiklik, karena beberapa lesi kulit yang menjadi satu. Selain

itu lesi dapat berupa arsiner, atau sinsiner. Bila tinea korporis ini menahun tanda-

tanda aktif jadi menghilang selanjutnya hanya meningggalkan daerah-daerah yang

hiperpigmentasi dan skuamasi saja. Kelainan-kelainan ini dapat terjadi bersama-sama

dengan tinea kruris. 1,2,3,7

Pada tinea kruris keluhan utama adalah rasa gatal yang dapat hebat. Lesi

umumnya bilateral walaupun tidak simetris, berbatas tegas, tepi meninggi yang dapat

berupa bintil-bintil kemerahan atau lenting-lenting kemerahan, atau kadang terlihat

lenting-lenting yang berisi nanah. Bagian tengah menyembuh berupa daerah coklat
Borang Portofolio
Bora Internship 2018

kehitaman bersisik. Lesi aktif, polisiklik, ditutupi skuama dan kadang-kadang disertai

dengan banyak vesikel kecil-kecil. Biasanya disertai rasa gatal dan kadang-kadang

rasa panas. Garukan terus-menerus dapat menimbulkan gambaran penebalan kulit.

Buah zakar sangat jarang menunjukkan keluhan, meskipun pemeriksaan jamur dapat

positif. Apabila kelainan menjadi menahun maka efloresensi yang nampak hanya

makula yang hiperpigmentasi disertai skuamasi dan likenifikasi.1,6,7

F. PEMERIKSAAN PENUNJANG

- Pemeriksaan laboratorium

Pada kerokan kulit dengan KOH 10-20% bila positif memperlihatkan elemen

jamur berupa hifa panjang dan artrospora (hifa yang bercabang) yang khas pada

infeksi dermatofita. Pemeriksaan dengan pembiakan diperlukan untuk

menyokong pemeriksaan langsung sediaan basah dan untuk menentukan spesies

jamur. Pemeriksaan ini dilakukan dengan menanamkan bahan klinis pada media

buatan. Yang dianggap paling baik pada waktu ini adalah medium Agar

Dekstrosa Sabouraud. 4,5,7

G. DIAGNOSA BANDING

Tinea korporis dapat didiagnosa banding dengan pitriasis versikolor

dermatitis kontak, kandidosis kutis, psoriasis vulgaris, dan dermatitis seboroik. (2,3,6,8)

Tinea kruris dapat didiagnosa banding dengan kandidiasis inguinal, eritrasma,


(2,3,4,8)
psoriasis, dan dermatitis kontak.

H. DIAGNOSIS

Tinea Corporis et Cruris


Borang Portofolio
Bora Internship 2018

I. PENATALAKSANAAN

1. Umum

 Meningkatkan kebersihan badan dan menghindari berkeringat yang

berlebihan

 Mengurangi kelembaban dari tubuh pasien dengan menghindari pakaian yang

panas dan tidak menyerap keringat (karet, nylon)

 Menghindari sumber penularan yaitu binatang, kuda, sapi, kucing, anjing,

atau kontak pasien lain.

 Menghilangkan fokal infeksi ditempat lain misalnya di kuku atau di kaki.

 Faktor-faktor predisposisi lain seperti diabetes mellitus, kelainan endokrin

yang lain, leukemia, harus dikontrol.7

2. Khusus

 Topikal

- Derivat azol misalnya mikonazol 2%, klotrimasol 1%, ketokonazol 1%

- Salep Whitfield

- Asam benzoate 6-12%

- Asam salisilat 2-4% (4,7)

 Sistemik

- Griseofulvin 500 mg sehari untuk dewasa, sedangkan anak-anak 10-25

mg/kgBB sehari. Lama pemberian griseofulvin pada tinea korporis adalah

3-4 minggu, diberikan bila lesi luas atau bila dengan pengobatan topikal

tidak ada perbaikan.


Borang Portofolio
Bora Internship 2018

- Pada kasus yang resisten terhadap griseofulvin dapat diberikan derivat azol

seperti ketokonazol 200 mg per hari selama 2-4 minggu pada pagi hari

setelah makan, itrakonazol 100-200 mg/hari selama 2-4 minggu atau 200

mg/hari selama 1 minggu, flukonazol 150 mg 1x/mgg selama 2-4 minggu,

terbinafin 250 mg/hari selama 1-2 minggu.

- Antibiotika diberikan bila terdapat infeksi sekunder.5,7,9

J. PROGNOSIS

Tinea korporis dan tine kruris mempunyai prognosa baik dengan pengobatan

yang adekuat dan kelembaban dan kebersihan kulit yang selalu dijaga1,4
Borang Portofolio
Bora Internship 2018

BAB III

LAPORAN KASUS

3.1 Identitas Pasien

Nama : MD

Umur : 35 Tahun

Jenis Kelamin : Perempuan

Agama : Islam

Alamat :Telaga Langsat, Kandangan

Tanggal Pemeriksaan : 22 Oktober 2018

3.2 Anamnesis

Keluhan utama

Kulit gatal kemerahan, bersisik sejak 1 thn SMRS.

Riwayat Penyakit Sekarang

Pasien datang dengan keluhan gatal 1 thn SMRS, muncul berlahan, hilang timbul.

Awalnya muncul bercak merah dengan sisik putih sebesar uang logam pada telapak

kaki kanan kiri. Bercak tersebut lama kelamaan bertambah lebar dan meluas ke

daerah kaki, selangkangan, perut dan bokong. Ketika digaruk tampak sedikit meluas

dan kulit mengelupas. Bercak-bercak kemerahan tersebut dirasakan sangat gatal

terutama bila berkeringat dan udara panas. Riwayat pengobatan, penderita belum

pernah mengobati bercak-bercak kemerahan tersebut.


Borang Portofolio
Bora Internship 2018

Riwayat Penyakit Dahulu

Asam urat (+)

Riwayat Penyakit Keluarga

Keluarga tidak memiliki keluhan yang serupa.

3.3 Pemeriksaan Fisik

Status Present

Kesadaran : Kompos Mentis

Tekanan Darah : 120/80 mmHg

Nadi : 78 x/menit

Suhu : 36,60C

Pernapasan : 20 x/menit

Keadaan Umum : Tampak sakit

Status General

Kepala : Normosefali, deformitas (-)

Mata : Konjungtiva anemis -/-, Sklera ikterik -/-

Telinga : Sekret (-), deformitas (-)

Hidung : Sekret (-), deformitas (-)

Tenggorokan : Tidak hiperemis, tonsil T1-T1

Leher : Pembesaran KGB (-), Pembesaran tiroid (-)


Borang Portofolio
Bora Internship 2018

Paru

Inspeksi : Dinding dada simetris, pergerakan simetris, retraksi dinding

dada (-)

Palpasi : Vokal fremitus simetris kanan-kiri

Perkusi : Sonor/sonor

Auskultasi : Vesikular +/+ wheezing -/- rhonki -/-

Jantung

Inspeksi : Ictus cordis tidak terlihat

Palpasi : Ictus cordis teraba di ICS IV MCL S

Perkusi : Batas kanan PSL D, Batas kiri 1 jari MCL S, Batas atas ICS

II, Batas bawah ICS V

Auskultasi : S1 S2 tunggal, reguler, murmur (-)

Abdomen

Inspeksi : Datar, mengikuti gerak nafas

Auskultasi : Bising usus normal

Palpasi : Tidak ada nyeri tekan

Perkusi : Timpani, nyeri region pada region kanan bawah

Ekstremitas : Akral hangat, edema -/-, CRT < 2 detik


Borang Portofolio
Bora Internship 2018

Status Lokalis

a/r femur S

UKK 1: plak eritematosa

UKK II: skuama, ekskoriasi, central

healing (+), hiperpigmentasi.

a/r pedis S

UKK 1: plak eritematosa

UKK II: skuama, ekskoriasi, krusta,

hiperpigmentasi
Borang Portofolio
Bora Internship 2018

a/r Gluteus S/D

UKK 1: plak eritematosa

UKK II: skuama, ekskoriasi,

hiperpigmentasi

a/r inguinal

UKK 1: plak eritematosa

UKK II: skuama, ekskoriasi,

hiperpigmentasi

a/r cruris posterior S/D

UKK 1: plak eritematosa

UKK II: skuama, ekskoriasi, krusta


Borang Portofolio
Bora Internship 2018

a/r abdomen

UKK 1: plak eritematosa

UKK II: skuama, ekskoriasi, central

healing (+)

3.4 Pemeriksaan Penunjang

- Laboratorium

Pada kerokan kulit dengan KOH 10-20% positif memperlihatkan elemen jamur

berupa hifa panjang dan artrospora (hifa yang bercabang) yang khas pada infeksi

dermatofita.

3.5 Diagnosis Banding

1. Tinea Corporis et Cruris

2. Kandidosis Kutis

3. Pitriasis Versikolor

3.6 Diagnosis

Tinea Corporis et Cruris


Borang Portofolio
Bora Internship 2018

3.7 Rencana Tatalaksana

Ketokonazole cream 2x/hari

Po: ketokonazol 2x200 mg

Cetrizin 2x/hari (jika gatal)

Anjuran dan Saran:

1. Berikan obat topical ketokonazol 2x1 dibagian yang gatal dan berwarna

merah, dioleskan tipis setelah mandi

2. Menghindari factor pencetus:

- Menjaga higienitas diri sendiri dan lingkungan

- Hentikan steroid sementara jangka panjang

3. Kontrol ulang

3.8 Prognosis

Ad vitam : Dubia ad bonam

Ad functionam : Dubia ad bonam

Ad sanationam : Dubia ad bonam


Borang Portofolio
Bora Internship 2018

BAB IV

PEMBAHASAN

Pasien seorang perempuan usia 35 tahun datang dengan keluhan gatal 1 thn

SMRS, muncul berlahan, hilang timbul. Awalnya muncul bercak merah dengan sisik

putih sebesar uang logam, setelah digaruk bercak merah tadi meluas ke daerah lain.

Pasien juga mengeluhkan gatal memberat saat cuaca panas dan berkeringat. Sesuai

teori bahwa pasien yang menderita penyakit tinea akan merasakan gatal yang sangat

mengganggu, dan gatal bertambah apabila berkeringat. Karena gatal dan digaruk,

maka timbul lesi sehingga lesi bertambah meluas, terutama pada kulit yang lembab. 3

Faktor-faktor yang mempengaruhi diantaranya udara lembab, lingkungan

yang padat, sosial ekonomi yang rendah, adanya sumber penularan disekitarnya,

obesitas, penyakit sistemik penggunaan antibiotika dan obat steroid, Higiene

juga berperan untuk timbulnya penyakit ini.3

Pasien menjelaskan bahwa persebaran lesi berawal dari kaki, kemudian

menjalar kedaerah paha, selangkangan, pantat, dan perut. Tinea korporis adalah

infeksi jamur dermatofita yang mengenai kulit tubuh tidak berambut (globorous skin)

di daerah muka, badan, lengan dan glutea. Sedangkan, tinea kruris adalah infeksi

jamur jamur dermatofita yang mengenai lipat paha, daerah genitalia dan di sekitar

anus yang dapat meluas ke bokong dan perut bagian bawah. Sesuai dengan teori

maka pasien pada kasus mengarah pada penyakit tinea corporis et kruris. 2,4,5

Dari hasil pemeriksaan fisik umum didapat kondisi pasien dalam keadaan

normal. Pada pemeriksaan status lokalis didapatkan plak eritematosa, skuama,


Borang Portofolio
Bora Internship 2018

ekskoriasi, hiperpigmentasi, central healing, dan krusta yang tersebar pada, femur,

inguinal, gluteus, dan abdomen. Sesuai teori bahwa gambaran klinis dari tinea

korporis merupakan lesi anular, bulat atau lonjong, berbatas tegas terdiri atas eritema,

skuama, kadang-kadang dengan vesikel dan papul di tepi. Daerah tengahnya biasanya

lebih tenang ( tanda peradangan lebih jelas pada daerah tepi ) yang sering disebut

dengan central healing. Tapi kadang juga dijumpai erosi dan krusta akibat garukan.

Lesi-lesi pada umumnya merupakan bercak-bercak terpisah satu dengan yang lain.
1,2,3,7

Kelainan kulit dapat juga terlihat sebagai lesi-lesi dengan pinggir yang polisiklik,

karena beberapa lesi kulit yang menjadi satu. Selain itu lesi dapat berupa arsiner, atau

sinsiner. Bila tinea korporis ini menahun tanda-tanda aktif jadi menghilang

selanjutnya hanya meningggalkan daerah-daerah yang hiperpigmentasi dan skuamasi

saja. Kelainan-kelainan ini dapat terjadi bersama-sama dengan tinea kruris. 1,2,3,7

Pada tinea kruris keluhan utama adalah rasa gatal yang dapat hebat. Lesi umumnya

bilateral walaupun tidak simetris, berbatas tegas, tepi meninggi yang dapat berupa

bintil-bintil kemerahan atau lenting-lenting kemerahan, atau kadang terlihat lenting-

lenting yang berisi nanah. Bagian tengah menyembuh berupa daerah coklat

kehitaman bersisik. Lesi aktif, polisiklik, ditutupi skuama dan kadang-kadang disertai

dengan banyak vesikel kecil-kecil. Biasanya disertai rasa gatal dan kadang-kadang

rasa panas. Garukan terus-menerus dapat menimbulkan gambaran penebalan kulit.

Buah zakar sangat jarang menunjukkan keluhan, meskipun pemeriksaan jamur dapat

positif. 1,2,3,7
Borang Portofolio
Bora Internship 2018

Pemeriksaan penunjang pada tinea yaitu kerokan kulit dengan KOH 10-20%

bila positif memperlihatkan elemen jamur berupa hifa panjang dan artrospora (hifa

yang bercabang) yang khas pada infeksi dermatofita. Pemeriksaan dengan pembiakan

diperlukan untuk menyokong pemeriksaan langsung sediaan basah dan untuk

menentukan spesies jamur. Pemeriksaan ini dilakukan dengan menanamkan bahan

klinis pada media buatan. Yang dianggap paling baik pada waktu ini adalah medium

Agar Dekstrosa Sabouraud.

Berdasarkan dari hasil anamesis, pemeriksaan fisik, dan penunjang. Maka

pasien pada kasus tersebut didiagnosis banding dengan tinea corporis et cruris,

kandidosis cutis, dan pitriasis versikolor. Dengan diagnosis utama tinea corporis et

cruris.

Terapi yang diberikan pada pasien ini adalah ketokonazol cream 2x/hari,

ketokonazol tablet 2x200, dan cetrizin tablet 2x10 mg (jika gatal). Sesuai teori,

pemberian terapi pada infeksi jamur terdiri dari topikal, dan sistemik.

 Topikal

- Derivat azol misalnya mikonazol 2%, klotrimasol 1%, ketokonazol 1%

- Salep Whitfield

- Asam benzoate 6-12%

- Asam salisilat 2-4% (4,7)

 Sistemik

- Griseofulvin 500 mg sehari untuk dewasa, sedangkan anak-anak 10-25

mg/kgBB sehari. Lama pemberian griseofulvin pada tinea korporis adalah


Borang Portofolio
Bora Internship 2018

3-4 minggu, diberikan bila lesi luas atau bila dengan pengobatan topikal

tidak ada perbaikan.

- Pada kasus yang resisten terhadap griseofulvin dapat diberikan derivat azol

seperti ketokonazol 200 mg per hari selama 2-4 minggu pada pagi hari

setelah makan, itrakonazol 100-200 mg/hari selama 2-4 minggu atau 200

mg/hari selama 1 minggu, flukonazol 150 mg 1x/mgg selama 2-4 minggu,

terbinafin 250 mg/hari selama 1-2 minggu. Antibiotika diberikan bila

terdapat infeksi sekunder. Pada pasien tidak ditemukan infeksi sekunder

seperti demam, nanah, dll. Sehingga pasien tidak diberikan antibiotik.

Prognosis tinea korporis et cruris baik ad vitam, ad functionam, ad sanationam

yaitu dubia ad bonam


Borang Portofolio
Bora Internship 2018

BAB V

KESIMPULAN

Pasien seorang perempuan usia 35 tahun, datang dengan keluhan gatal terutama

saat panas dan berkeringat, muncul bercak kemerahan dan bersisik di kaki, kemudian

menjalar kebagian paha, selangkanagan, perut, dan pantat. Dari pemeriksaan fisik

lokalis ditemukan adanya plak eritematosa, skuama, ekskoriasi, hiperpigmentasi,

central healing (+). Dilakukan pemeriksaan penunjang KOH ditemukan hifa panjang

dan bercabang (artrospora).

Berdasarkan anamesis, pemeriksaan fisik, dan pemeriksaan penunjang

didapatkan bahwa pasien pada kasus didiagnosis dengan tinea corporis et cruris,

dengan diagnosis banding kandidosis kutis, dan ptriasis versikolor.

Pasien diberikan terapi ketokonazol krim 2x1 hari, dioles tipis setelah mandi,

dan ketokonazol oral 2x200 mg. Pasien diminta control 1 minggu kemudian.
Borang Portofolio
Bora Internship 2018

DAFTAR PUSTAKA

1. Wirya Duarsa. Dkk.: Pedoman Diagnosi dan Terapi Penyakit Kulit dan
Kelamin Fakultas Kedokteran Universitas Udayana, Denpasar. 2010.
2. Djuanda, Adhi. Dkk.: Ilmu Penyakit Kulit dan Kelamin. Fakultas
Kedokteran Universitas Indonesia. 2004.
3. Sularsito, Sri Adi.Dkk. : Dermatologi Praktis. Perkumpulan Ahli
Dermatologi dan Venereologi Indonesia, Jakarta. 2006
4. Harahap M. Ilmu Penyakit Kulit. Cetakan I. Hipokrates. Jakarta:2000,
halaman 77-78
5. Siregar RS. Atlas Berwarna Saripati Penyakit Kulit, Edisi 2. EGC.
Jakarta:2008, halaman 17-33
6. Budimulja, U. sunoto. Dan Tjokronegoro. Arjatmo. : Penyakit Jamur.
Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia, Jakarta. 2008.
7. Berman, Kevin (2008-10-03). “Tinea corporis – All information”.
MultiMedia Medical Encyclopedia. University of Maryland Medical
Center. Retrieved 2012-11-20.
8. Weitzman I, Summerbell R C. The Dermatophytes. American Society for
Microbiology. New York. 1995, 8(2):240
9. Kurniati, C. Etiopatogenesis Dermatofitosis, Fakultas Kedokteran Universitas
Airlangga, Surabaya. 2008
10. Berman, Kevin (2008-10-03). “Tinea corporis – All information”.
MultiMedia Medical Encyclopedia. University of Maryland Medical
Center. Retrieved 2012-11-20.
11. Tinea corporis, Tinea cruris, and Tinea pedis. Mycoses. Doctor-Fungus.
2007-01-27. Retrieved 2012-11-20