Anda di halaman 1dari 10

PROPOSAL

KEANEKARAGAMAN JENIS MAMALIA DAN BURUNG DI


HUTAN BELAKANG STUDENT CENTER SAMPAI SAMPING
FAKULTAS MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN
ALAM

Disusun oleh:
Kelompok 19
1. Risma Aprilianti E34170007
2. Fahrizal Akbar E34170021
3. Dwi Eka Rahmayanti E34170039
4. Adhika Banu Prasada E34170099

LABORATORIUM EKOLOGI SATWALIAR


DEPARTEMEN KONSERVASI SUMBERDAYA HUTAN DAN
EKOWISATA FAKULTAS KEHUTANAN
INSTITUT PERTANIAN BOGOR
BOGOR
2018
PENDAHULUAN
Latar Belakang
Indonesia memiliki keanekaragaman hayati yang tinggi sehingga mendapat
penghargaan sebagai negara Mega Biodiversitas. Keanekaragaman hayati ini
menyebar di seluruh wilayah indonesia. Salah satu keanekaragaman spesies
Indonesia adalah keanekaragaman mamalia dengan jumlah total sebanyak 436
spesies dan 51% diantaranya merupakan satwa endemik. Keanekaragaman jenis
mamalia di pulau-pulau besar seperti Kalimantan dan Papua akan lebih banyak
dibandingkan dengan pulau-pulau yang lebih kecil. Hal ini didasarkan pada teori
biogeografi pulau yang menyatakan bahwa jumlah spesies yang terdapat pada
suatu pulau atau ditentukan oleh luas pulau. Pada saat ini Kalimantan memiliki ±
222 jenis mamalia dan 44 jenis diantaranya merupakan satwa endemik
(BAPPENAS 2003). Institut Pertanian Bogor merupakan salah satu dari sekian
wilayah di Indonesia yang memiliki biodiversitas. Keragaman flora dan fauna
menyebar di seluruh tempat di IPB sesuai dengan habitatnya.
Mamalia merupakan salah satu kelas dalam kingdom Animalia yang
memiliki beberapa keistimewaan baik dalam hal fisiologi maupun dalam hal
susunan saraf dan tingkat intelegensianya (Stoddart 1979). Mamalia pertama
muncul pada akhir zaman Trias dari moyang terapsida. Mereka merupakan hewan
kecil yang sangat aktif yang makanannya terdiri atas insekta. Kehidupan yang
aktif ini berhubungan dengan kemampuannya untuk memelihara suhu badan yang
tetap (homeotermi). Seperti halnya dengan burung (yang tidak tampak sampai
zaman jura) hal ini berkaitan denganperkembangan jantung beruang empat dan
pemisahan sempurna dari peredaran darah oksigen dan sistemik. Konservasi panas
tubuh dimungkinkan dengan perkembangan rambut. Sementara mamalia yang
paling awal bertelur sampai moyang reptilia, anaknya setelah menetas diberi
makan dengan susu yang disekresikan oleh kelenjar-kelenjar dalam kulit induknya
( Kimball dan John 1984).
Berdasarkan ukurannya, mamalia dibagi menjadi mamalia kecil dan
mamalia besar. Menurut batasan Internasional Biological Program (IBP), yang
dimaksud dengan mamalia kecil adalah jenis mamalia yang memiliki berat badan
dewasa yang kurang dari lima kilogram, sedangkan selebihnya termasuk ke dalam
kelompok mamalia besar (Suyanto dan Semiadi 2004). Menurut Mustari et al.
(2014), mamalia yang ditemukan di kampus IPB adalah mamalia kecil.
Karakter khas yang menjadi turunan mamalia adalah kelenjar susu
(mammary gland), yang menghasilkan susu untuk anak. Semua induk betina
mamalia menyusui bayinya. Susu merupakan makanan seimbang yang kaya
lemak, gula, protein, mineral dan vitamin. Rambut, karakteristik mamalia yang
lain dan lapisan lemak di bawah kulit membantu tubuh mempertahankan panas
(Campbell et al. 2012).
Studi tentang keanekaragaman jenis mamalia sangatlah penting untuk
dilakukan, karena dapat menghasilkan data dasar yang bisa digunakan sebagai
salah satu pedoman pengelolaan suatu kawasan konservasi. Keberadaan mamalia
di kampus Dramaga Bogor harus dipastikan lagi habitatnya dimana, serta seberapa
banyak jumlah individunya.
Keanekaragaman kingdom Animalia lainnya yaitu burung, Burung adalah
salah satu kekayaan hayati yang dimiliki oleh Indonesia. Burung merupakan
hewan yang termasuk ke dalam kelas Aves, terdiri dari 27 ordo, 155 suku dan
8580 jenis (Peterson 1970). Di Indonesia terdapat 1540 jenis dan di Jawa terdapat
sekitar 289 jenis (MacKinnon et al.1998). Sukmantoro et al. (2007), menyebutkan
jumlah burung di Indonesia mencapai 1598 jenis dengan 372 jenis status endemik
Indonesia. Hal ini telah menempatkan Indonesia sebagai negara dengan tingkat
endemisitas tertinggi di dunia (Sujatnika et al. 1995). Di pulau Kalimantan
tercatat 522 jenis burung dengan 4 jenis berstatus endemik Indonesia dan 1 jenis
endemik region (Sukmantoro et al. 2007).
Burung merupakan satwaliar yang memiliki kemampuan hidup di hampir
semua tipe habitat, dari kutub sampai gurun, dari hutan kornifer sampai hutan
tropis, dari sungai, rawa-rawa sampai lautan. Burung mempunyai mobilitas yang
tinggi dan kemampuan beradaptasi terhadap berbagai tipe habitat yang luas
(Welty 1982).
Burung adalah bagian dari keanekaragaman hayati yang harus dijaga
kelestariaannya dari kepunahan maupun penurunan keanekaragaman jenisnya.
Burung memiliki banyak manfaat dan fungsi bagi manusia, baik secara langsung
maupun tidak langsung. Manfaat dan fungsi burung yang begitu besar bagi
kehidupan manusia, sehingga mendorong upaya untuk menjaga kelestarian dan
keanekaragamannya (Dewi 2005). Burung merupakan salah satu sumberdaya
alam yang berperan penting dalam rantai makanan. Keberadaan burung pada suatu
wilayah akan memberikan dampak secara positif dan negatif (Solihati 2007).
Menurut Furness dan Greenwood (1993), burung merupakan indikator perubahan
lingkungan, misalnya adanya polusi, kualitas air, biota laut dan perubahan
lingkungan akibat kontaminasi radionuklir.

Tujuan
Pengamatan ini dilakukan dengan tujuan mengidentifikasi karakteristik
habitat, jenis mamalia dan burung serta bagaimana interaksi antar komponen
habitat.

METODE

Tempat dan Waktu

Pengamatan mamalia dilaksanakan di hutan belakang Student Center sampai


samping Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam. Pengamatan ini
dilakukan selama tiga minggu, yaitu dari 13 November 2018 – 04 Desember
2018, dengan rincian dua belas kali pagi dan dua belas kali sore. Berikut
dilampirkan kawasan yang akan kami amati.
Gambar 1. Peta hutan belakang Student Center sampai samping Fakultas
Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam

Bahan dan Alat


Bahan dan alat yang digunakan selama pengamatan yaitu, binokuler, kamera,
dry wet dan field guide mamalia dan burung, bahan yang digunakan yaitu tally
sheet.

Metode Pengumpulan Data


Metode pengumpulan data yang dilakukan yaitu dengan mengeksplor
langsung wilayah yang telah ditentukan. Eksplor sendiri berasal dari bahasa
Inggris yang artinya jelajah. Pengumpulan data mamalia ini dengan kata lain
mengunakan data primer. Data primer berupa karakteristik habitat mamalia, jenis,
jumlah, waktu dan aktivitas mamalia (Brower dan Zar 1997). Pengamatan
dilakukan selama tiga pekan pagi dan sore, pagi dari pukul 05.30 – 06. 45 WIB.,
sore dari pukul 16.50 – 17.50 WIB., pengamatan dilakukan sekitar satu jam.

Prosedur Analisis Data


Analisis data hasil pengamatan di lapangan dilakukan dengan analisis
deskriptif dan kuantitatif. Menurut Whitney dalam Nazir (2003), bahwa metode
deskriptif adalah pencarian fakta dengan interpretasi yang tepat. Sedangkan
menurut Furchan (2004), penelitian deskriptif (descriptive research) adalah suatu
metode penelitian yang ditunjukan untuk menggambarkan fenomena-fenomena
yang ada, yang berlangsung pada saat ini atau saat yang lampau
Analisis data kuantitatif dengan menggunakan indeks-indeks keanekaragaman
jenis. Indeks yang digunakan adalah Indeks keanekargaman Jenis (H’). Menurut
Krebs (1989), Keanekaragaman jenis mamalia diketahui dengan menggunakan
Indeks Keanekaragaman shannon-Wiener dengan rumus :
H’ = -∑ Pi ln Pi
Indeks Shannon-Wiener memiliki indikator sebagai berikut:
H’ < 1,5 = tingkat keanekargaman rendah
1,5 ≤ H’≥ 3,5 = tingkat keanekargaman sedang
H’ > 3,5 = tingkat keanekargaman tinggi.

HASIL DAN PEMBAHASAN


Kondisi Umum Lokasi Pengamatan: Kondisi Habitat, Cuaca
Habitat adalah suatu kawasan yang terdiri dari berbagai komponen, baik
fisik maupun abiotik yang merupakan satu kesatuan dan dipergunakan sebagai
tempat hidup serta berkembang biak satwa liar (Alikodra 2002). Lokasi
pengamatan terbagi dua, yaitu hutan belakang Student Center dan Tegakan Karet
samping Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam. Hutan belakang
Student Center berdekatan dengan lapangan olahraga serta dijadikan jalan pintas
untuk menuju Kampung Babakan Lebak, sehingga dengan adanya keramaian
tersebut sangat berpengaruh terhadap aktivitas mamalia dan burung yang terdapat
disana. Kondisi tofografi di Hutan belakang student center bervariasi mulai dari
datar sampai bergelombang. Jenis tumbuhan yang mendominasi di hutan belakang
Student Center adalah pohon akasia (Acacia mangium). Selain itu, terdapat pohon
sengon (Paraserianthes falcataria). Sedangkan Tegakan Karet di samping
Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam jarang orang yang
mengunjunginya namun adanya suara transportasi yang memungkinkan
berpengaruh terhadap burung dan mamalia yang terdapat di sana. Kondisi
tofografi di sini yaitu datar. Jenis tumbuhan yang terdapat disana tentunya pohon
karet (Hevea brasiliensis).
Pengamatan yang kami lakukan dibantu dengan dry wet, hasil dari
pengukuran dry wet yaitu berkisar 240-270 C. Suhu tersebut menunjukan
Perilaku burung dan mamalia tidak banyak teramati saat kami melakukan
pengamatan. Faktor-faktor yang menjadi kendala yang kami asumsikan menjadi
angin terbatasnya pengamatan kami terhadap burung dan mamalia yang terdapat
di kampus. Faktor pertama yaitu, angin cuaca. Pengamatan dilakukan pada bulan
November sampai Desember yang merupakan musim hujan sehingga sering
terjadi hujan pada sore hari. Hal tersebut yang menyebabkan populasi satwa tidak
terlalu banyak dan hanya bertengger beberapa hari karena kondisi kelembaban
udara yang cukup tinggi dan intensitas cahaya matahari yang berkurang sehingga
menyebabkan suhu lingkungan menjadi cukup rendah. Faktor kedua yaitu polusi
suara pada sore hari di Hutan Belakang Student Center samping Lapangan Gelora
yang sering terjadi kegiatan olahraga yang menyebabkan terganggunya aktivitas
burung dan mamalia, sehingga burung yang diamati sedikit dan menjadi lebih
sering berpindah-pindah. Gangguan tersebut menambah kesulitan kami untuk
mengamati perilaku burung dan mamalia karena asumsinya burung akan memilih
kondisi tempat yang mempunyai intensitas cahaya matahri yang cukup dengan
kelembaban udara yang tidak terlalu tinggi dan suhu udara yang cukup. Burung
dan mamalia juga akan memilih lokasi yang benar-benar kondusif atau minimnya
gangguan. Data pengmatan perilaku burung dan mamalia yang berhasil kami
kumpulkan menjadi sangat kurang untuk proses penyusunan data Burung dan
Mamalia di kampus Institut Pertanian Bogor Dramaga.

Jenis Mamalia yang Ditemukan


Mamalia yang ditemukan di hutan belakang Student Center sampai
tegakan karet samping Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam yaitu
bajing kelapa (Callosciurus notatus) dan tikus (). Bajing kelapa merupakan
mamalia yang selalu ada ketika pengamatan di pagi hari, dikarenakan bajing
kelapa merupakan salah satu satwa yang diurnal. C. notatus merupakan hewan
diurnal yang aktif pada pagi dan siang hari (Payne et al. 2002). Aktivitas bajing
kelapa (Callosciurus notatus) sering kali ditemukan sedang melompat antar satu
pohon ke pohon yang lain, pernah juga ditemukan sedang saling kejar dengan
bajing kelapa lainnya. Menurut Mustari et al. (2014), jenis bajing kelapa
merupakan satwa arboreal yang memerlukan pepohonan sebagai tempat makan
dan cover. Satwa ini walaupun bersifat arboreal (hidup di pohon) namun kadang-
kadang turun ke tanah (Yasuma 1994).
Ada beberapa titik lokasi juga ditemukannya jenis mamalia yang ada di
kampus seperti Bajing Kelapa dan Tikus. Bajing Kelapa sering di temukan di
tegakan-tegakan pohon yang cukup mendapatkan intensitas cahaya matahari
dengan kelembaban ynag cukup rendah. Bajing Kelapa juga di temukan di (kelapa
sawit) selama tiga hari di lokasi tersebut dikarenakan kurangnya pakan bagi
Bajing Kelapa (Callosciurus notatus).

Jenis Burung yang Ditemukan


Hutan Belakang Student Center sampai Tegakan Karet samping Fakultas
Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam memiliki beberapa titik lokasi
pengamatan burung. Lokasi ini berbeda satu dengan yang lainnya, salah satunya
karena adanya perbedaan vegetasi yang menyebabkan adanya perbedaan jenis
burung yang diamati.
Jenis burung yang terdapat di hutan belakang Student Center sampai
tegakan karet samping Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam
terlampir sebagai berikut:

No. Nama Lokal Nama Ilmiah


1 Cucak-Kutilang Pycnonotus aurigaster
2 Betet-Biasa Psittacula alexandri
3 Kepudang-sungu Jawa Coracina javenis
4 Gereja Erasia Passer montanus
5 Layang-layang Delichon dasypus
6 Tekukur Biasa Spilopelia chinensis
7 Kepudang Kuduk-Hitam Oriolus chinensis
Tabel 1. Jenis burung yang ditemukan di hutan belakang Student Center sampai
tegakan karet samping Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan
Alam
Sebagian besar burung-burung ditemukan di tajuk pohon (arboreal), lebih
tepatnya di tajuk pohon sengon (Paraserianthes falcataria) dan pohon karet
(Hevea brasiliensis). Alasan burung-burung sering bertengger di tajuk pohon
sengon diduga karena pohon sengon daunnya tidak rimbun sehingga memudahkan
burung untuk berpindah tempat bertengger. Burung yang sering bertengger di
pohon sengon yaitu Betet-Biasa (Psittacula alexandri) dan Cucak-Kutilang
(Pycnonotus aurigaster).
Sedangkan burung yang bertengger ditajuk pohon karet (Hevea
brasiliensis) adalah Tekukur Biasa (Streptopelia chinensis). Namun, Tekukur
Biasa (Streptopelia chinensis) ini hanya ditemukan selama tiga kali (terlampir)
dan hanya di pagi hari. Kepudang Kuduk-Hitam ini diduga datang bersama
pasangannya. Asumsi yang dibangun ketika Tekukur Biasa hanya bertengger
beberapa di Tegakan Karet karena ketersediaan pakan dan material bersarang 7ngi
sangat sedikit. Asumsi lainnya yaitu, karena kondisi Tegakan Pohon Karet yang
yang cukup rimbun dan rapatnya vegetasi membuat sirkulasi udara (angin)
menjadi lebih lambat.

Keanekaragaman Jenis Burung dan Mamalia


Keanekaragaman hayati memiliki dua komponen utama, yaitu kekayaan
jenis yang merupakan jumlah jenis dari suatu area dan kemerataan jenis yang
merupakan kelimpahan relatif suatu individu pada setiap species (Feldhamer et al.
1999). Kedua komponen tersebut memiliki nilai perhitungan yang dikenal dengan
indeks kekayaan jenis dan kemerataan jenis. Menurut Ludwig dan Reynolds
(1988), indeks tersebut digabungkan menjadi satu nilai yang sama dengan indeks
keanekargaman.
Indeks Keanekaragaman Jenis merupakan ukuran keanekaragaman hayati
yang paling sederhana karena hanya memperhitungkan perbedaan jumlah spesies
pada suatu areal tertentu. Jumlah spesies yang diamati selama pengamatan yaitu,
230 individu.

No Nama Lokal Jumlah spesies Tingkat


keanekaragaman
1 Bajing Kelapa 68 0,019
2 Tikus 1 0,059
3 Betet Biasa 57 0,367
4 Cucak Kutilang 23 0,277
5 Kepudang Kuduk Jawa 2 0,053
6 Tekukur biasa 14 0,210
7 Cipoh kacat 8 0,147
8 Srimadu 4 0,089
9 Bondol perut-putih 1 0,030
10 Gereja Erasia 31 0,316
11 Gagak 3 0,074
Kepudang Kuduk-
12 3 0,072
Hitam
13 Walet 7 0,135
14 Layang-layang 8 0,147
Tabel 2. Tingkat Keanekaragaman Mamalia dan Burung
Berdasarkan Tabel 2. diketahui bahwa secara total jumlah mamalia yang
ditemukan di Hutan Belakang Student Center sampai Tegakan Karet samping
Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam sebanyak 69 individu, dengan
tingkat keragaman termasuk dalam kategori rendah yaitu sebesar 0,078.
Sedangkan jumlah burung yang ditemukan sebanyak 161 individu, dengan tingkat
keragaman termasuk dalam kategori sedang yaitu sebesar 1,843. Tingginya
jumlah jenis mamalia yang ditemukan berkaitan dengan pakan yang cukup
melimpah (Santosa et al. 2008).

KESIMPULAN
Lokasi pengamatan burung dan mamalia dibagi menjadi dua bagiaan titik
lokasi yaitu Hutan Belakang Student Center dan Tegakan Karet samping Fakultas
Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam. Kondisi topografi dari lokasi tersebut
datar sampai bergelombang dengan beberapa jenis tumbuhan yang mendominasi
seperti pohon Akasia (Acacia mangium), Pohon Sengon (Paraserianthes
falcataria), Pohon karet (Hevea brasiliensis). Jenis vegetasi yang bertindak
sebagai penyedia pakan. Vegetasi yang berbeda akan memungkinkan untuk
memiliki kelimpahan burung yang berbeda. Berdasarkan pengamatan selama
beberapa hari, terdapat perbedaan jenis vegetasi, hal tersebut yang menjadi faktor
pembatas bagi pengamatan burung dan mamalia. Masing-masing memiliki
kondisi klimatis dan daya dukung yang berbeda.
Jenis mamalia yang di temukan yaitu Bajing Kelapa dan Tikus. Jenis
bajing kelapa merupakan satwa arboreal yang memerlukan pepohonan sebagai
tempat makan dan cover. Satwa ini walaupun bersifat arboreal (hidup di pohon)
namun kadang-kadang turun ke tanah. Ada beberapa titik lokasi ditemukannya
jenis mamalia yang ada di kampus seperti Bajing Kelapa dan Tikus. Bajing
Kelapa sering di temukan di tegakan-tegakan pohon yang cukup mendapatkan
intensitas cahaya matahari dengan kelembaban ynag cukup rendah. Bajing Kelapa
juga di temukan di ( kelapa sawit ) selama tiga hari di lokasi tersebut dikarenakan
kurangnya pakan bagi Bajing Kelapa (Callosciurus notatus).
Jenis burung mendominasi yaitu Betet Biasa (Psittacula alexandri),
Kepudang Kuduk Hitam (Oriolus chinensis), dan Cucak Kutilang (Pycnonotus
aurigaster). Titik lokasi Hutan Belakang Student Center memiliki kondisi
vegetasi yang tidak rimbun seperti pohon sengon. Burung Betet Biasa yang biasa
bertengger di pohon sengon membutuhkan kondisi klimatis dengan intensitas
cahaya yang cukup, kelembaban yang tidak terlalu tinggi dan suhu yang sedang.
Titik lokasi Tegakan Karet jarang orang yang mengunjunginya dengan kondisi
yang cukup rimbun, terdapat jenis burung yang bertengger yaitu Burung
Kepudang Kuduk Hitam. Berdasarkan pengamatan, Burung Kepudang Kuduk
Hitam bertengger ditajuk pohon selama tiga hari, asumsi yang dibangun ketika
Burung Kepudang Kuduk Hitam hanya bertengger beberapa hari di Tegakan
Karet karena ketersediaan pakan dan material bersarang yang sangat sedikit.
Asumsi lainnya yaitu, karena kondisi Tegakan Pohon Karet yang yang cukup
rimbun dan rapatnya vegetasi membuat sirkulasi udara (angin) menjadi lebih
lambat. Ada beberapa titik lokasi juga ditemukannya jenis mamalia yang ada di
kampus seperti Bajing Kelapa dan Tikus. Bajing Kelapa sering di temukan di
tegakan-tegakan pohon yang cukup mendapatkan intensitas cahaya matahari
dengan kelembaban ynag cukup rendah. Bajing Kelapa juga di temukan di (kelapa
sawit) selama tiga hari di lokasi tersebut dikarenakan kurangnya pakan bagi
Bajing Kelapa.

DAFTAR PUSTAKA
Alikodra HS. 2002. Pengelolaan Satwaliar, jilid I. Bogor : Yayasan Penerbit
Fakultas Kehutanan IPB.
BAPPENAS. 2003. Strategi dan Rencana Aksi Keanekaragaman Hayati Indonesia
2003-2020 [Dokumen Nasional]. Jakarta: Badan Perencanaan
Pembangunan Nasional.
Brower JE, Zar JH. 1977. Field and laboratory methods for general ecology.
Dubuque Iowa (IA): Wm. C. Brown Company Publisher.
Campbell N, Jane BR, Lis AU, Michael LC, Steven AW, Peter VM, Robert BJ.
2012. Biologi Edisi Kedelapan Jilid 2. Jakarta (ID): Erlangga.
Dewi TS. 2005. Kajian keanekaragaman jenis burung di berbagai tipe lanskap
Hutan Tanaman Pinus [Skripsi]. Bogor (ID): Institut Pertanian Bogor.
Feldhamer GA, Drickamer LC, Vessey SH, Merritt JF. 1999. Mammalogy:
Adaptation, Diversity dan Ecology. Boston (US): McGraw-Hill.
Furchan A. 2004. Pengantar Penelitian dalam Pendidikan. Yogyakarta (ID):
Pustaka Pelajar Offset.
Furness RW, Greenwood JJD. 1993. Birds as Monitoring of Enviromental
Change. London (UK): Chapman dan Hall.
Kimball, Jhon W. 1984. Biologi Jilid 3. Jakarta (ID): Erlangga.
Krebs CJ. 1989. Ecological Methodology. New York (US): Harper & Row Inc.
Publisher.
Ludwig JA, Reynolds JF. 1988. Statistical Ecology: A primer on methods and
computing. New York (US): John Wilwy & Sons.
MacKinnon J, Phillips K, Balen BV. 1998. Burung-burung di Sumatera, Jawa,
Bali dan Kalimantan. Bogor (ID): Puslitbang Biologi-LIPI.
Mustari AH, Zulkarnain I, Rinaldi D. 2014. Keanekaragaman jenis dan
penyebaran mamalia di kampus IPB Dramaga Bogor. Media
Konservasi. 19 (2): 123.
Nazir M. 2003. Metode Penelitian. Jakarta (ID): PT. Ghalia Indonesia.
Payne J, Francis CM, Phillips K, Kartikasari SN. 2002. Mamalia di Kalimantan,
Sabah, Serawak dan Brunei Darussalam. Wildlife Conservation
Society.
Peterson RT. 1970. The Birds. Canada (CA): Time Inc.
Santosa Y, Ramadhan E, Rahman D. 2008. Studi keanekaragaman mamalia pada
beberapa tipe habitat di Stasiun Penelitian Pondok Agung Taman
Nasional Tanjung Puting Kalimantan Tengah. Media Konservasi. 3(13):
4.
Solihati E. 2007. Keanekaragaman jenis burung di Hutan Penelitian Dramaga
Pusat LITBANG Hutan dan konservasi alam, Bogor [Skripsi]. Bogor
(ID): Institut Pertanian Bogor.
Stoddart D M. 1979. Ecology of Small Mammals. New York (US): A Halsted
Press Book.
Sujatnika, Jepson P, Soehartono TR, Crosby MJ, Mardiastuti A. 1995.
Melestarikan Keanekaragaman Hayat Indonesia: Pendekatan Daerah
Burung Endemik. Jakarta: PHPA/Birdlife International-Indonesia
Programme.
Sukmantoro W, Irham M, Novarino W, Hasudungan F, Kemp N, Muchtar M.
2007. Daftar Burung Indonesia no. 2. Bogor (ID): Indonesian
Ornithologists’ Union.
Suyanto A, Semiadi G. 2004 . Keragaman Mamalia di daerah sekitar Penyangga
Taman Nasional Gunung Halimun, Kecamatan Cipanas, Kabupaten
Lebak. Edisi Khusus : Biodiversitas Taman Nasional Gunung Halimun.
Welty JC. 1982. The Life of Bird. Philadelphia (US): Saunders College
Publishing.
Yasuma S. 1994. An Invitation to The Mammals of East Kalimantan. Samarinda
(ID): Pus-rehut special publication 3.