Anda di halaman 1dari 8

Kelompok 6

Anggota :

1. Dian Nur Safitri (14/368748/KG/09970)


2. Insum J. Lestaluhu (15/382629/KG/10303)
3. Maudina Pamela R. (15/382632/KG/10306)
4. Trisna Septiani (15/382644/KG/10318)

FARMAKOKINETIK DAN FARMAKODINAMIK

A. DEFINISI

Farmakokinetik adalah ilmu yang mempelajari perjalanan obat dalam tubuh dimulai
dari absorpsi, distribusi obat ke seluruh tubuh, eliminasi obat melalui metabolisme dan
ekskresi (atau disingkat dengan ADME). Farmakokinetik juga dapat diartikan sebagai apa
yang harus diperbuat tubuh terhadap obat.

Farmakodinamik adalah ilmu yang mempelajari efek obat dalam tubuh baik secara
biokimiawi maupun fisiologis dan mempelajari mekanisme kerja obat. Efek obat timbul
karena adanya interaksi obat dengan reseptornya. Reseptor obat merupakan makromolekul
dalam organism yakni tempat aktif obat terikat. Persayaratan untuk obat-interaksi adalah
pembentukan kompleks obat reseptor. Kemampuan obat menimbulkan suatu rangsang dan
membentuk kompleks dengan reseptor disebut aktivitas intrinsic. Dipengaruhi oleh dosis
yang diberikan (kepatuhan pasien, kesalahan medikasi dan mutu obat), dosis yang
diminum (kondisi fisiologik, kondisi patologik, faktor genetic, interaksi obat, dan lain-
lain) dan efek farmakologik.
B. PROSES FARMAKOKINETIK

Proses farmakokinetik terdiri dari absorbsi, distribusi, metabolisme atau


biotransformasi, dan ekskresi atau eliminasi.

1. Absorpsi

Absorpsi adalah pergerakan partikel-partikel obat dari saluran gastrointestinal ke


dalam cairan tubuh melalui absorpsi pasif, absorpsi aktif, atau pinositosis.Absorpsi
pasif umumrnya terjadi melalui difusi (pergerakan dari konsentrasi tinggi ke
konsentrasi rendah). Dengan proses difusi, obat tidak memerlukan energi untuk
menembus membran. Absorpsi aktif membutuhkan karier (pembawa) untuk bergerak
melawan perbedaan konsentrasi. Sebuah enzim atau protein dapat membawa obat-obat
menembus membran. Sedangkan pinositosis berarti membawa obat menembus
membran dengan proses menelan (Gambar.2.1).

Gambar.2.1 Tiga proses utama dalam absorpsi obat


melalui membran gastrointestinal, yaitu
absorpsi aktif, dan pinositosis.

Membran gastrointestinal terutama terdiri dan lipid (lemak) dan protein, sehingga
obat-obat yang larut dalam lemak cepat menembus membran gastrointestinal. Obat-
obat yang larut dalam air membutuhkan karier, baik berupa enzim maupun protein
untuk melalui membran.

Absorpsi obat dipengaruhi oleh aliran darah, rasa nyeri, stres, kelaparan, makanan
dan pH. Rasa nyeri, stres, serta makanan yang padat, pedas, dan berlemak dapat
memperlambat masa pengosongan lambung, sehingga obat lebih lama berada di dalam
lambung. Latihan dapat mengurangi aliran darah dengan mengalihkan darah lebih
banyak mengalir ke otot, sehingga menurunkan sirkulasi ke saluran gastrointestinal.
Obat-obat yang diberikan secara intramuskular dapat diabsorpsi lebih cepat di otot-otot
yang memiliki lebih banyak pembuluh darah daripada otot-otot yang memiliki lebih
sedikit pembuluh darah sehingga absorpsi menjadi lebih lambat.

2. Distribusi

Distribusi adalah proses dimana obat menjadi berada dalam cairan tubuh dan
jaringan tubuh. Distribusi obat dipengaruhi oleh aliran darah, afinitas terhadap jaringan,
dan efek pengikatan dengan protein (Gambar.2.2).
Gambar.2.2 Distribusi Obat

Ketika obat didistribusi di dalam plasma, kebanyakan berikatan dengan protein


(terutama albumin) dalam derajat atau persentase yang berbeda beda. Obat-obat yang
lebih besar dari 80% berikatan dengan protein dikenal sebagai obat-obat yang berikatan
dengan tinggi protein. Bagian obat yang berikatan disebut inaktif, dan bagian obat yang
tidak berikatan dapat bekerja bebas. Hanya obat-obat yang bebas atau yang tidak
berikatan dengan protein yang bersifat aktif dan dapat menimbulkan respon
farmakologik. Dengan menurunkan kadar obat bebas dalam jaringan, maka lebih
banyak obat yang berada dalam ikatan dibebaskan dari ikatannya dengan protein untuk
menjaga keseimbangan dari obat yang dalam bentuk bebas.

Jika ada dua obat yang berikatan tinggi dengan protein diberikan bersama-sama
maka terjadi persaingan untuk mendapatkan tempat pengikatandengan protein,
sehingga lebih banyak obat bebas yang dilepaskan ke dalam sirkulasi. Demikian pula,
kadar protein yang rendah menurunkan jumlah tempat pengikatan dengan protein,
sehingga meningkatkan jumlah obat bebas dalam plasma. Dengan demikian dalam hal
ini dapat terjadi kelebihan dosis, karena dosis obat yang diresepkan dibuat berdasarkan
persentase dimana obat itu berikatan dengan protein.

Abses, eksudat, kelenjar, dan tumor juga mengganggu distribusi obat. Antibiotika
tidak dapat didistribusi dengan baik pada tempat abses dan eksudat. Selain itu, beberapa
obat dapat menumpuk dalam jaringan tertentu, seperti lemak, tulang, hati, mata, dan
otot.

3. Metabolisme atau Biotransformasi

Hati merupakan tempat utama untuk metabolisme. Kebanyakan obat diinaktifkan


oleh enzim-enzim hati dan kemudian diubah atau ditransformasikan oleh enzim-enzim
hati menjadi metabolit inaktif atau zat yang larut dalam air untuk diekskresikan. Tetapi,
beberapa obat ditransformasikan menjadi metabolit aktif, menyebabkan peningkatan
respon farmakologik. Penyakit-penyakit hati, seperti sirosis dan hepatitis,
mempengaruhi metabolisme obat.

Waktu paruh, yang dilambangkan dengan t½ dari suatu obat adalah waktu yang
dibutuhkan oleh separuh konsentrasi obat untuk dieliminasi. Metabolisme dan eliminasi
mempengaruhi waktu paruh obat, misalnya pada kelainan fungsi hati atau ginjal, waktu
paruh obat menjadi lebih panjang dan lebih sedikit obat dimetabolisasi dan dieliminasi.
Jika suatu obat diberikan terus menerus, maka dapat terjadi penumpukan obat.

4. Ekskresi atau Eliminasi

Rute utama dari eliminasi obat adalah melalui ginjal, dan rute-rute lain meliputi
empedu, feses, paru-paru, saliva, keringat, serta air susu ibu. Obat bebas, yang tidak
berikatan, yang larut dalam air, dan obat-obat yang tidak diubah, difiltrasi oleh ginjal.
Obat-obat yang berikatan dengan protein tidak dapat difiltrasi oleh ginjal. Sekali obat
dilepaskan ikatannya dengan protein, maka obat menjadi bebas dan akhirnya akan
diekskresikan melalui urin. pH urin juga mempengaruhi ekskresi obat. pH urin
bervariasi dari 4,5 sampai 8. Urin yang asam meningkatkan eliminasi obat-obat yang
bersifat basa lemah.

C. PARAMETER FARMAKOKINETIK

Bio-availability dari suatu sediaan obat merupakan persentase obat yang secarautuh
mencapai sirkulasi umum untuk melakukan kerjanya. Selama proses absorpsikehilangan
zat aktif dapat terjadi, hal inidiakibatkan karenatidak dibebaskannya dari sediaan
pemberiannya (Tjay dan Rahardja, 2002).
Parameter-parameter farmakokinetika :
1. T maksimum (tmaks)
T maksimum (tmaks) adalah waktu konsentrasi plasma mencapai puncak yang
dapat disamakan dengan waktu yang diperlukan untuk mencapaikonsentrasi obat
maksimum setelah pemberian obat. Harga tmaks menjadi lebih kecil (berarti sedikit
waktu yangdiperlukan untuk mencapai konsentrasi plasma puncak) bila laju absorpsi
obat menjadi lebih cepat (Shargel, 2005).
2. Konsentrasi plasma puncak (Cmaks)
Konsentrasi plasma puncakmenunjukkan konsentrasi obatmaksimum dalam
plasma setelah pemberian secara oral. Untuk beberapaobat adanya hubungan antara
efek farmakologi dari suatu obat dankonsentrasi obat dalam plasma (Shargel, 2005).

3. Volume Distribusi (Vd)


Volume Distribusi (Vd) adalah volume yangdidapatkan pada saat obat
didistribusikan. Volume distribusi menghubungkan jumlah obatdalam tubuh dengan
konsentrasi obat ( C ) dalam darah atau plasma. (Holford,1998)

4. AUC (Area Under Curve)


AUC adalah ukuran untukbioavailabilitas suatu obat dan digunakan untuk
membandingkankadar masing-masing plasma obat jika penentuan kecepatan
eliminasinyatidak mengalami perubahan. Selain itu antara kadar plasma puncak
danbioavailabilitas terdapat hubungan langsung (Waldon, 2008).

dimana: dan
5. MRT
Waktu keberadaan obat dalam tubuh

6. Tetapan Laju Eliminasi dan Waktu Paruh dalam Plasma


Waktu paruh dalam plasma adalah waktu dimana konsentrasi obat dalamdarah
(plasma) menurun hingga separuh dari nilai seharusnya. Pengukurant½ memungkinkan
perhitungan konstanta laju eliminasi, dengan rumus :
7. Klirens
Klirens obat adalah suatu ukuran eliminasi obat dari tubuh tanpa
mempermasalahkan mekanisme prosesnya. Klirens dirumuskan tergantung pada
konsentrasi yang diukur.

D. FARMAKODINAMIKA

Farmakodinamik mempelajari mekanisme kerja obat dengan tujuan meneliti efek


utama obat, mengetahui interaksi obat dengan sel, dan mengetahui `urutan peristiwa serta
spektrum efek dan respon yang terjadi (Setiawati dkk.,2007). Kebanyakan obat bekerja
dengan berinteraksi dengan reseptor, berinteraksi dengan enzim, ataupun dengan kerja
non-spesifik. Protein merupakan reseptor obat yang paling penting (Setiawati dkk., 2007).
Obat tidak menimbulkan fungsi baru, tetapi hanya memodulasi fungsi yang sudah ada
(Setiawati dkk., 2007). `

Berakhirnya kerja obat pada tingkat reseptor merupakan salah satu akibat dari
serangkaian proses. Dalam beberapa hal, efek berlangsung hanya selama obat menempati
reseptor sehingga dengan lepasnya obat dari reseptor efek akan segera berakhir. Ada juga
kerja obat masih tetap ada walaupun obat sudah terdisosiasi disebabkan oleh adanya
beberapa molekul pasangan masih dalam bentuk aktif (Katzung, 2007).

Semua respon farmakologik harus mempunyai suatu efek maksimum (Emax). Tidak
perduli berapa konsentrasi obat yang akan dicapai, akan didapat suatu titik dimana tidak
ditemukan lagi suatu respon. Kepekaan organ target pada obat dicerminkan oleh
konsentrasi obat yang diperlukan untuk menghasilkan 50% dari efek maksimum.
Kepekaan yang meningkat pada suatu obat biasanya ditandai oleh respon yang berlebihan
pada dosis kecil atau dosis sedang (Holford, 2007)

1. Mekanisme kerja obat

Kebanyakan obat menimbulkan efek melalui interaksi dengan reseptornya pada


sel organisme. Interaksi obat dengan reseptornya ini mencetuskan perubahan
biokimiawi dan fisiologi yang merupakan respon khas untuk obat tersebut.(Setiawati,
2007). Mekanisme kerja obat pada umumnya melalui interaksi dengan reseptor pada sel
organisme. Reseptor obat pada umumnya merupakan suatu makromolekul fungsional,
yang pada umumnya juga bekerja sebagai suatu reseptor fisiologis bagi ligan-ligan
endogen (semisal: hormon dan neurtransmiter). Interaksi obat dengan reseptor pada
tubuh dapat mengubah kecepatan kegiatan fisiologis, namun tidak dapat menimbulkan
fungsi faali yang baru.

Terdapat bermacam-macam reseptor dalam tubuh kita, misalnya reseptor


hormon, faktor pertumbuhan, faktor transkripsi, neurotransmitter, enzim metabolik dan
regulator (seperti dihidrofolat reduktase,asetilkolinesterase). Namun demikian, reseptor
untuk obat pada umumnya merupakan reseptor yang berfungsi bagi ligan endogen
(hormon dan neurotransmitter).

2. Interaksi Farmakodinamika

Interaksi farmakodinamik adalah interaksi antara obat yang bekerja pada sistem
reseptor, tempat kerja atau sistem fisiologik yang sama sehingga terjadi efek yang
aditif, sinergistik atau antagonistik, tanpa terjadi perubahan kadar obat dalam plasma
(Setiawati, 2007). Hal ini terjadi karena kompetisi pada reseptor yang sama atau
interaksi obat pada sistem fisiologi yang sama. Interaksi jenis ini tidak mudah
dikelompokkan seperti interaksi-interaksi yang mempengaruhi konsentrasi obat dalam
tubuh, tetapi terjadinya interaksi tersebut lebih mudah diperkirakan dari efek
farmakologi obat yang dipengaruhi (Fradgley, 2003)
DAFTAR PUSTAKA

http://repository.usu.ac.id/bitstream/123456789/32825/4/Chapter%20II.pdf diakses 03
februari 2017

Kee, Joyce L.; Hayes, Evelyn R., 1994, Farmakologi Pendekatan Proses Keperawatan (terj.),
EGC, Jakarta

Katzung, 2012, Basic and Clinical Phamacology, Engish: McGraw Hill Medical

Setyawati, A., Zunilda, Suyatna, 2003, Farmakologi dan Terapi, Universitas Indonesia