Anda di halaman 1dari 108

ASUHAN KEBIDANAN IBU DENGAN GANGGUAN REPRODUKSI PADA NY. S P 3 A 0 UMUR 45 TAHUN POST HISTEREKTOMY ATAS INDIKASI MIOMA UTERI DI RSU ASSALAM GEMOLONG SRAGEN

KARYA TULIS ILMIAH Diajukan untuk memenuhi salah satu syarat Tugas Akhir Pendidikan Diploma III Kebidanan

satu syarat Tugas Akhir Pendidikan Diploma III Kebidanan Disusun oleh: ELMA PUTRI MAWARDANI NIM.B12.015 PROGRAM STUDI

Disusun oleh:

ELMA PUTRI MAWARDANI

NIM.B12.015

PROGRAM STUDI DIPLOMA III KEBIDANAN SEKOLAH TINGGI ILMU KESEHATAN KUSUMA HUSADA SURAKARTA

2015

HALAMAN PERSETUJUAN KARYA TULIS ILMIAH ASUHAN KEBIDANAN IBU DENGAN GANGGUAN REPRODUKSI PADA NY. S P
HALAMAN PERSETUJUAN
KARYA TULIS ILMIAH
ASUHAN KEBIDANAN IBU DENGAN GANGGUAN REPRODUKSI
PADA NY. S P 3 A 0 UMUR 45 TAHUN POST HISTEREKTOMY
ATAS INDIKASI MIOMA UTERI DI RSU ASSALAM
GEMOLONG SRAGEN
Diajukan oleh:
ELMA PUTRI MAWARDANI
NIM.B12.015
Telah dipriksa dan disetujui
pada tanggal :
Pembimbing
Retno Wulandari,SST
NIK.20098503
ii
HALAMAN PENGESAHAN ASUHAN KEBIDANAN GANGGUAN REPRODUKSI PADA NY. S P 3 A 0 UMUR 45
HALAMAN PENGESAHAN
ASUHAN KEBIDANAN GANGGUAN REPRODUKSI PADA
NY. S P 3 A 0 UMUR 45 TAHUN POST HISTEREKTOMY ATAS
INDIKASI MIOMA UTERI DI RSU ASSALAM
GEMOLONG SRAGEN
Karya Tulis Ilmiah
Diajukan Oleh :
Elma Putri Mawardani
NIM. B12.015
Telah dipertahankan di depan dewan penguji
Program Studi Diploma III Kebidanan
Sekolah Tinggi Ilmu Kesehatan Kusuma Husada Surakarta
Pada tanggal
Juni 2015
Penguji I
Penguji II
Anis Nurhidayati, SST., M.Kes
NIK. 200685025
Retno Wulandari, SST
NIK. 200985034
Tugas Akhir ini telah diterima sebagai salah satu persyaratan
untuk memperoleh gelar Ahli Madya Kebidanan
Ka.Prodi D III Kebidanan
Retno Wulandari, SST
NIK. 200985034
iii

KATA PENGANTAR

Puji syukur penulis panjatkan kehadirat Tuhan yang telah melimpahkan rahmat dan hidayah-Nya, sehingga penulis dapat menyelesaikan Karya Tulis Ilmiah ini yang berjudul ” Asuhan Kebidanan Ibu Dengan Gangguan Reproduksi Pada Ny. S Umur 45 Tahun Post Histerektomi Atas Indikasi Mioma Uteri Di RSU Assalam Gemolong Sragen. Laporan studi kasus ini disusun sebagai salah satu syarat kelulusan dari Program Studi D III Kebidanan STIKes Kusuma Husada Surakarta. Penulis menyadari bahwa tanpa bantuan dan pengarahan dari berbagai

pihak, Karya Tulis Ilmiah ini tidak diselesaikan dengan baik. Oleh karena itu penulis mengucapkan terima kasih kepada:

1. Dra. Agnes Sri Harti, M.Si, selaku Ketua STIKes Kusuma Husada Surakarta.

2. Retno Wulandari, SST, selaku Ka.Prodi DIII Kebidanan Sekolah Tinggi Ilmu Kesehatan Kusuma Husada Surakarta dan selaku Dosen pembimbing yang telah meluangkan waktunya untuk memberi arahan dan bimbingan kepada penulis.

3. dr. Wiwiek Irayanti, M.Kes selaku direktur RSU Assalam Gemolong Sragen yang telah memberikan ijin kepada penulis untuk pengambilan data dan studi kasus.

4. Seluruh Karyawanti di RSU Assalam Gemolong Sragen yang selalu memberikan arahan dan bimbingan.

5. Dosen dan Staff STIKes Kusuma Husada Surakarta terima kasih atas segala bantuan yang telah diberikan.

6. Ny. S yang telah bersedia menjadi responden studi kasus.

7. Semua pihak yang telah membantu dan memberikan dukungan dalam menyelesaikan Karya Tulis Ilmiah.

iv

Penulis menyadari bahwa dalam penulisan Karya Tulis Ilmiah ini masih banyak kekurangan, oleh karena itu penulis membuka kritik dan saran demi kemajuan penelitian selanjutnya. Semoga Karya Tulis Ilmiah ini bermanfaat bagi semua pihak.

Surakarta,

Mei 2015

Penulis

v

Prodi D III Kebidanan STIkes Kusuma Husada Surakarta Karya Tulis ilmiah, Juni 2015 Elma Putri Mawardani B 12 015

ASUHAN KEBIDANAN IBU DENGAN GANGGUAN REPRODUKSI PADA NY. S P 3 A 0 UMUR 45 TAHUN POST HISTEREKTOMY ATAS INDIKASI MIOMA UTERI DI RSU ASSALAM GEMOLONG SRAGEN TAHUN 2015

Xii + 81 halaman + 15 lampiran + 1 tabel + 1 gambar

INTISARI

Latar Belakang : Tingginya kejadian mioma uteri antara usia 35-50 tahun, menunjukkan adanya hubungan mioma uteri dengan estrogen. Di Indonesia angka kejadian mioma uteri ditemukan 2,39%-11,87% dari semua penderita ginekologi yang dirawat. Penanganan mioma uteri pada wanita sering kali dilakukan dengan histerektomy, karena mengharapkan tidak hamil lagi. Mioma uteri terjadi secara kronis dapat terjadi anemia defisiensi besi dan bila berlangsung lama dan dalam jumlah yang besar sulit untuk dikoreksi. Post histerektomy memerlukan asuhan yang intensif yaitu nyeri berhubungan dengan kerusakan jaringan otot dan sistem syaraf sekunder, sehingga penulis tertarik untuk mengambil kasus. Tujuan : Memperoleh pengalaman secara nyata, meningkatkan pengetahuan dan kemampuan bagi penulis dalam memberikan asuhan kebidanan pada Ny. S dengan gangguan reproduksi post histerektomy atas indikasi mioma uteri di RS Assalam Gemolong dengan pendekatan 7 langkah Varney. Metode : Menggunakan metode deskriptif dalam jenis studi menggunakan teknik pengumpulan data dengan pemeriksaan, wawancara, observasi, studi dokumentasi dan studi kepustakaan. Studi kasus ini dilakukan di RSU ASSALAM Gemolong mulai tanggal 14 -17 April 2015. Hasil : Asuhan kebidanan ibu dengan gangguan reproduksi pada Ny. S P 3 A 0 umur 45 tahun post histerektomy atas indikasi mioma uteri selama 4 hari, asuhan yang di berikan mobilisasi dini, KIE nutrisi, KIE perawatan Luka, medikasi luka 2x1, kolaborasi dengan dokter SPoG ntuk pemberian terapi obat berupa Infus RL 20 tpm, pasang DC, Injeksi cefotaxim 1 Injeksi gentamicin 1 amp, Injeksi ketorolac 1amp, Injeksi asam traneksamat 500 gr, profecom 3x1/100mg, antasid, amoxsicilin 3x1/500 mg. Kesimpulan : Setelah diberikan asuhan kebidanan dilakukan perawatan dirumah sakit selama 4 hari. Didapatkan hasil keadaan umum ibu baik, kesadaran composmentis, TTV: TD : 120/80 mmHg, N: 82 x/menit R: 22 x/menit. S : 36 0 C.

Ibu sudah makan dan minum serta tidak berpantang makanan, luka jahitan ibu bekas

operasi sudah tertutup kassa steril, tidak ada kesenjangan antara teori dan praktik.

Kata Kunci : Asuhan Kebidanan, Post histerektomi, Mioma uteri Kepustakaa : 22 literatur (2005-2014)

vi

MOTTO

1. Bukan keberuntungan yang menjadikanmu bijak, tapi kebijakanmulah yang menjadikanmu beruntung.

2. Tidak ada keberhasilan tanpa kesungguhan dn tidak ada kesungguhan tanpa kesabaran.

3. Teman sejati adalah mereka yang selalu ada di sisi kita, bukan pada saat kita bahagia, namun juga saat kita tak berdaya.

4. Kemarahan tak akan memperbaiki hidupmu, senyumlah dan lakukan yang lebih baik.

5. Kekurangan adalah ujian sementara untuk orang yang akan di lebihkan

6. Be your self.

PERSEMBAHAN

1. Terima kasih saya haturkan kepada Allah SWT, yang telah melimpahkan taufiq dan Hidayah-nya sehingga saya dapat menyelesaikan Karya Tulis Ilmiah.

2. Ayah dan Ibu yang telah memberikan semangat dan doa hingga Elma bisa sampai saat yang membahagiakan ini.

3. Adik dan keluarga besar yang selalu menyayangi dan memberikan dukungan.

4. Terima kasih sahabat seperjuangan yang selalu

memberikan dukungan dan motifasinya

5. Ibu Retno W, S.ST selaku dosen pembimbing KTI yang telah memberikan bimbingan selama ini

6. Ibu Yunia R. A, S.ST, Terima kasih “ACC” Askebnya.

7. Almamaterku tercinta

vii

Nama Tempat/Tanggal Lahir Agama Jenis Kelamin Alamat

CURICULUM VITAE

Lahir Agama Jenis Kelamin Alamat CURICULUM VITAE BIODATA : Elma Putri Mawardani : Sragen, 01 Januari

BIODATA : Elma Putri Mawardani : Sragen, 01 Januari 1995 : Islam : Perempuan : Sawahan Rt/Rw : 2/1, Karungan, Plupuh, Sragen

RIWAYAT PENDIDIKAN

: Lulus Tahun 2006 : Lulus Tahun 2009 : Lulus Tahun 2012

4. Prodi D III Kebidanan STIKes Kusuma Husada Surakarta Tahun 2012-2015

3. SMA Negeri 1 Sukodono

2. MTS Negeri Plupuh

1. MI Kolutan Karangwaru

viii

DAFTAR ISI

Halaman Judul

i

Halaman

Persetujan

 

ii

Halaman Pengesahan

iii

Kata Pengantar

iv

Intisari

vi

Motto dan Persembahan

vii

Curiculum Vitae

viii

Daftar Isi

ix

Daftar Tabel

xi

Daftar

Gambar

xii

Daftar Lampiran

xiii

BAB 1 PENDAHULUAN

 

A. Latar belakang

 

1

B. Perumusan Masalah

3

C. Tujuan Studi Kasus

 

4

D. Manfaat Studi Kasus

5

E. Keaslian Studi Kasus

6

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

A. Tinjauan Medis

 

9

1. Gangguan Reproduksi

9

2. Mioma Uteri

 

12

3. Post Histerektomy

21

B. Teori Manajemen Kebidanan

24

C. Landasan Hukum

 

45

BAB III METODOLOGI

 

A. Jenis Studi

 

46

B. Lokasi

Studi

Kasus

46

C. Subjek Studi Kasus

46

D. Waktu Stusi Kasus

47

ix

E.

Instrumen Studi kasus

47

F. Teknik Pengumpulan Data

47

G. Alat-alat Yang Dikumpulkan

50

H. Jadwal Penelitian

52

BAB IV TINJAUAN KASUS

A. Tinjauan Kasus

53

B. Pembahasan

82

BAB V PENUTUP

A. Kesimpulan

89

B. Saran

91

DAFTAR PUSTAKA LAMPIRAN

x

DAFTAR TABEL

Tabel 4.1 Riwayat kehamilan, persalinan dan nifas yang lalu

xi

55

DAFTAR GAMBAR

Gambar 2.1 Mioma Uteri

xii

15

DAFTAR LAMPIRAN

Lampiran 1.

Jadwal Penelitian

Lampiran 2.

Surat Permohonan Ijin Studi Pendahuluan

Lampiran 3.

Surat Balasan Ijin Studi Pendahuluan

Lampiran 4.

Surat Permohonan Ijin Penggunaan Lahan

Lampiran 5.

Surat Balasan Ijin Penggunaan Lahan

Lampiran 6.

Surat Permohonan Menjadi Responden

Lampiran 7.

Surat Persetujuan Responden (Informed Consent)

Lampiran 8.

Lembar Pedoman Wawancara (Format Askeb)

Lampiran 9.

Lembar Observasi

Lampiran 10. Satuan Acara Penyuluhan Lampiran 11. Leaflet Lampiran 12. Dokumentasi Studi Kasus Lampiran 13. Lembar Konsultasi

xiii

A. Latar Belakang

BAB I

PENDAHULUAN

Kesehatan reproduksi adalah kesejahteraan fisik mental dan sosial yang

utuh dan bukan hanya tidak adanya penyakit atau kelemahan dalam segala hal

yang berhubungan dengan sistem reproduksi dan fungsi-fungsinya. Kesehatan

reproduksi juga berarti bahwa orang dapat mempunyai kehidupan seks

yang

memuaskan dan aman. Sejalan dengan itu pemeliharaan kesehatan reproduksi

merupakan suatu kumpulan metode teknik dan pelayanan yang mendukung

kesehatan

dan

penyelesaian

masalah

(Nugroho dan Setiawan, 2010).

kesehatan

reproduksi

Kejadian mioma uteri lebih tinggi pada usia di atas 35 tahun, yaitu

mendekati angka 40 %. Tingginya kejadian mioma uteri antara usia 35-50

tahun, menunjukkan adanya hubungan mioma uteri dengan estrogen. Mioma

uteri dilaporkan belum pernah terjadi sebelum menarche dan menopause. Di

Indonesia angka kejadian mioma uteri ditemukan 2,39%-11,87% dari semua

penderita ginekologi yang dirawat (Khasanah, 2013).

Mioma uteri merupakan tumor jinak yang struktur utamanya adalah otot

polos rahim. Mioma uteri terjadi pada 20 25% perempuan di usia reproduktif

tetapi oleh faktor yang tidak diketahui secara pasti insidennya 3 9 kali lebih

banyak pada ras kulit berwarna dibandingkan dengan ras kulit putih. Penyebab

pasti mioma uteri tidak diketahui secara pasti. Mioma uteri jarang sekali

1

2

ditemukan sebelum usia pubertas, sangat dipengaruhi oleh hormon reproduksi

dan hanya bermanifestasi selama usia reproduktif. Umumnya mioma terjadi di

beberapa tempat (Anwar, 2011).

Kebanyakan mioma uteri tumbuh tanpa menimbulkan keluhan atau

gejala.

Pada

perempuan

mungkin

mengeluh

perdarahan

menstruasi

lebih

banyak dari biasa atau nyeri sewaktu menstruasi, perasaan penuh dan ada

tekanan pada rongga perut atau keluhan anemia karena kurang darah atau nyeri

pada waktu hubungan seksual atau nyeri pada waktu bekerja. Komplikasi yang

ditimbulkan mioma uteri antara lain perdarahan pervaginam yang berat juga

menimbulkan

kondisi

kurang

darah

(anemia)

yang

boleh

diatasi

dengan

pemberian obat preparat besi (Yatim, 2008).

Penanganan mioma uteri yaitu miomektomi, laparaskopi, histeroskopi,

laparatomi dan histerektomy Penanganan mioma uteri pada wanita sering kali

dilakukan

dengan

histerektomi,

karena

mengharapkan

tidak

hamil

lagi.

Perawatan post histerektomi agar tidak terjadi infeksi pada bekas luka jahitan

operasi (Yatim, 2008).

Bidan memegang peranan yang sangat penting dalam upaya pemerintah

untuk meningkatkan kesehatan. Bidan sebagai pelaksana aspek sosial obstetri

dan

ginekologi

bidan

memberikan

pertolongan

perlu

meningkatkan

kemampuannya

darurat

essensial

khusus

penanganan

dan

dapat

gangguan

reproduksi khususnya mioma uteri (Manuaba, 2008).

Hasil studi pendahuluan yang dilakukan penulis pada tanggal 6 Oktober

2014 data bulan September 2013 September 2014 didapatkan 396 kasus

2

3

gangguan

reproduksi

yang meliputi

menometroragia sebanyak

115

kasus

(29.04%), menorhagia sebanyak 98 kasus (24,7%), , Kista ovarium sebanyak

80 kasus (20,2%), mioma sebanyak 70 kasus (17,7%), Ca Cerviks sebanyak 33

kasus (8,3%). Berdasarkan penanganan mioma uteri sebanyak 50 dengan

operasi histerektomi sedangkan laparaskopi sebanyak 20.

Berdasarkan

data

tersebut

kasus

mioma

uteri

menempati

urutan

keempat. Bila mioma uteri terjadi secara kronis maka dapat terjadi anemia

defisiensi besi dan bila berlangsung lama dan dalam jumlah yang besar sulit

untuk dikoreksi. Post histerektomy memerlukan asuhan yang intensif yaitu

nyeri berhubungan dengan kerusakan jaringan otot dan sistem syaraf sekunder,

sehingga

penulis

tertarik

untuk

mengambil

kasus

Kebidanan Gangguan Reproduksi Pada Ny. S P 3 A 0

dengan

judul

Asuhan

Umur 45 tahun dengan

Post Histerektomy Atas Indikasi Mioma Uteri di RSU Assalam Gemolong

Sragen”.

B. Perumusan Masalah

Bagaimana memberikan asuhan kebidanan gangguan reproduksi pada

Ny. S post histerektomiatas indikasi mioma uteri di RSU Assalam Gemolong

dengan menggunakan pendekatan manajemen kebidanan 7 langkah Varney?”

3

4

C. Tujuan Studi Kasus

1. Tujuan Umum

Melaksanakan asuhan kebidanan gangguan reproduksi post histerektomy

atas indikasi mioma uteri di RSU Assalam Gemolongdengan pendekatan 7

langkah Varney.

2. Tujuan Khusus

a. Penulis mampu

1)

Penulis mampu melaksanakan pengkajian secara menyeluruh pada

Ny. S P 3 A 0 dengan post histerektomy atas indikasi mioma uteri.

 

2)

Penulis mampu menginterpretasikan data yang meliputi diagnosa

kebidanan,

masalah,

kebutuhan

pada

Ny.S

P 3 A 0

dengan

post

histerektomy atas indikasi mioma uteri.

 

3)

Penulis mampu mendiagnosa potensial yang dapat terjadi pada

Ny.S P 3 A 0 post histerektomy atas indikasi mioma uteri.

 

4)

Penulis dapat menemukan dan melakukan antisipasi atau tindakan

segera

pada Ny.S

P 3 A 0 post histerektomy atas indikasi mioma

uteri.

5)

Penulis dapat merencanakan tindakan menyeluruh sesuai dengan

kondisi pada Ny.S P 3 A 0 post histerektomy atas indikasi mioma

uteri.

6)

Penulis dapat melaksanakan asuhan kebidanan yang telah diberikan

pada Ny S P 3 A 0 post histerektomy atas indikasi mioma uteri.

4

5

7)

Penulis mampu mengevaluasi terhadap tindakan kebidanan pada

Ny.S P 3 A 0 post histerektomy atas indikasi mioma uteri.

b. Penulis mampu menganalisa kesenjangan antara teori dan praktek pada

kasus gangguan reproduksi post histerektomy atas indikasi mioma uteri

secara nyata dilapangan.

D. Manfaat Studi Kasus

1. Bagi penulis

Dapat meningkatkan pengetahuan, kemampuan dan pengalaman secara

penulis

dalam melaksanakan asuhan kebidanan pada kasus gangguan

reproduksi post histerektomy atas indikasi mioma uteri.

2. Bagi profesi

Dapat

memberi

masukan

dan

sebagai

bahan

pertimbangan

untuk

meningkatkan kualitas pelayanan bagi tenaga kesehatan lainnya dalam

melaksanakan asuhan kebidanan pada kasus gangguan reproduksi post

histerektomy

atas

indikasi

mioma

uteri.

Dapat

digunakan

oleh

bidan

khususnya dalam meningkatkan mutu pelayanan asuhan kebidanan pada

kasus gangguan reproduksi post histerektomy atas indikasi mioma uteri.

3. Bagi Rumah Sakit (RS)

Memberikan gambaran data sebagai bahan evaluasi bagi pihak rumah sakit

untuk melihat sejauh mana penatalaksanaan perawatan pada kasus gangguan

reproduksi post histerektomy atas indikasi mioma uteri dan sebagai bahan

evaluasi bagi pihak rumah sakit agar setiap perawatan yang diberikan.

5

6

4. Bagi Institusi Pendidikan

Dapat digunakan sebagai sumber bacaan atau referensi untuk menaikkan

kualitas pendidikan kebidanan khususnya pada kasus gangguan reproduksi

post histerektomy atas indikasi mioma uteri.

E. Keaslian Studi Kasus

Asuhan kebidanan pada kasus gangguan reproduksi post histerektomy

atas indikasi mioma uteri sudah pernah dilakukan oleh :

1.

Laurensia L (2012), STIKes Kusuma Husada Surakarta, dengan judul

Asuhan Kebidanan Gangguan Reproduksi pada Ny. N Post Histerektomy

Dengan Indikasi Mioma Uteri di RSUD Moewardi Surakarta Tahun 2012.

Jenis studi kasus menggunakan metode deskriptif. Data sebelum didapat

subjektif Ibu mengatakan mengeluh nyeri pada abdomen saat menstruasi,

perdarahan yang banyak, badan terasa lemas, cepat lelah, kepala pusing

dan merasakan sesak nafas. Ibu mengatakan nyeri pada bekas operasi

histerektomy, Ibu mengatakan sudah flatus jam 05.00 WIB dan minum

sedikit jam 06.30 WIB, Ibu mengatakan takut karena terpasang Dower

Cateter, Ibu mengatakan obatnya sudah diberikan. Asuhan yang diberikan

mengobservasi

keadaan

umum,

TTV

dan

perdarahan,

melakukan

kolaborasi

dengan

dokter

untuk

melakukan

tindakan

kolaborasi,

menganjurkan

ibu

untuk

berpuasa

sebelum

dilakukan

tindakan

histerektomi,

memberitahu

ibu

bahwa

tindakan

histerektomy

akan

dilakukan pukul 15.00 WIB, mengobservasi dower kateter tiap 2 jam,

berkolaborasi

dengan

dokter

SpOG

6

untuk

pemberian

terapi

Injeksi

7

Cefotaxim : 1 gr / 8 jam, Metronidazol: 500 mg / 8 jam, Torasic: 1 amp / 8

jam, Injeksi Ketorolac : 1 amp / 8 jam.setelah dilakukan asuhan selama 9

hari

didapatkan

data

subyektif

ibu

mengatakan

keadaannya

sudah

membaik dan bisa tidur, Ibu mengatakan sudah tidak ada keluhan, Ibu

mengatakan ingin pulang. Obyektif Keadaan umum : Baik, Konjungtiva :

Merah muda, Tanda-tanda vital : TD : 110/80 mmHg, S : 36,5oC, N : 88

x/menit R : 24 x/menit, Keadaan luka jahitan : Bersih dan kering. Evaluasi

Keadaan luka kering, menutup, tidak infeksi, tidak ada pus, Ibu sudah tahu

tentang keadaannya, Ibu mengatakan akan menjaga kebersihan lukanya

agar tidak terjadi infeksi, Ibu bersedia makan-makanan yang bergizi sesuai

dengan yang dianjurkan, pasien bersedia untuk kontrol ulang ke poliklinik

RSUD Dr.Moewardi, Pasien sudah pulang pada pukul 10.10 WIB.

2.

Purwati N. H, (2012), STIKes Kusuma Husada Surakarta, dengan judul

“Asuhan Kebidanan Gangguan Reproduksi pada Ny. S Post Histerektomy

Atas Indikasi Mioma Uteri di RSUD Dr. Moewardi Surakarta. Karya Tulis

Ilmiah ini merupakan bentuk laporan studi kasus dengan menggunakan

metode

deskriptif.

Data

sebelum

didapat

subjektif

Pada

saat

post

histerektomy biasanya pasien mengeluhkan adanya nyeri pada daerah luka

bekas jahitan. Ibu mengatakan masih merasa nyeri pada luka bekas

operasi, Keluarga ibu mengatakan ibu sudah flatus kemarin pukul 18.00

WIB dan ibu sudah diberi minum dan tidak muntah setelah diberi minum,

Ibu mengatakan merasa senang operasinya dapat berjalan dengan lancar,

Ibu

mengatakan

belum

berani

miring

kanan-kiri

dan

belum

bisa

melakukan aktivitas, Ibu mengatakan sudah bisa tidur pada malam hari

tetapi belum nyenyak. Asuhan yang diberikan yaitu mengobservasi KU,

7

8

TTV, luka bekas operasi, tetesan infus, jumlah urine, memberitahu ibu

puasa sampai flatus, memberi dukungan moril, memberi terapi didapatkan

hasil sebelum pulang keadaan ibu baik, tidak ada perdarahan, tidak ada

pus, tidak berbau pada luka jahitan post histerektomi dan pada waktu

kontrol ibu mengatakan sudah mampu melakukan kegiatan kecil seperti

menyapu dan memasak. Setelah dilakukan asuhan selama 10 hari. Hasil

studi

kasus

didapatkan

subyektif

ibu

mengatakan

keadaannya

sudah

membaik dan bisa tidur, ibu mengatakan sudah tidak ada keluhan, Ibu

mengatakan ingin pulang. Obyektif Keadaan umum : baik, konjungtiva :

Merah muda, Tanda-tanda vital : TD : 110/80 mmHg, S : 36,5°C, N : 88

x/menit R : 24 x/menit, keadaan luka jahitan bersih dan kering.

Persamaan study kasus

ini

dengan keaslian terletak pada terapi

yang

diberikan dan hasil evaluasi pasien. Sedangkan perbedaan terletak pada

waktu, tempat, subjek dan lama asuhan yang diberikan.

8

A. Teori Medis

1. Gangguan Reproduksi

a. Pengertian

BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

Gangguan reproduksi adalah kegagalan wanita dalam manajemen

kesehatan reproduksi. Permasalahan dalam bidang kesehatan reproduksi

salah satunya adalah masalah reproduksi yang berhubungan dengan

gangguan

sistem

reproduksi.

Hal

ini

mencakup

infeksi,

gangguan

menstruasi, masalah struktur, keganasan pada alat reproduksi wanita,

infertilitas dan lain-lain (Manuaba, 2008).

b. Penyebab gangguan reproduksi

Gangguan

reproduksi

disebabkan

oleh

ketidak

seimbangan

hormon, cacat anatomi saluran reproduksi (defek kongenital), gangguan

fungsional,

kesalahan

manajemen

atau

infeksi

organ

reproduksi.

Gangguan reproduksi yang biasa terjadi, misal kista endometriosis yang

banyak dialami wanita

yang memiliki kadar FSH dan

LH tinggi

(manuaba, 2008). Kelainan hormone

tidak

terjadi ovulasi.Selama

siklus anovulasi, korpus luteum tidak membentuk dan dengan demkian

sekresi

siklus

menjadi

tidak

normal.

Tanpa

progesteron,

estrogen

menyebabkan endometrium untuk berkembang biak, akhirnya tumbuh

melampaui suplai darah. Endometrium menjadi tebal dan mengandung

sangat banyak pembuluh darah, sehingga menyebabkan perdarahan

yang tidak teratur dan kadang deras dan lama.Anovulasi terjadi ketika

9

10

ovarium tidak memproduksi dan melepaskan telur (ovulasi) sekali

pertahun (Alistianti, 2013). Sistem hormonal ini akan mengirim sinyal

ke indung telur untuk

memproduksi sel telur. Bila sistem pengaturan

ini

terganggu,

otomatis

siklus

menstruasi

akan

terganggu

(Proverawati dan Misaroh, 2009)

c. Macam-macam gangguan reproduksi

1) Gangguan Menstruasi

Menurut Varney (2007), gangguan menstruasi terdiri dari :

a) Amenore

Perubahan umum yang terjadi pada beberapa titi dalam sebagian

besar siklus menstruasi wanita dewasa.

b) Dismenore

Menstruasi

yang

sangat

menyakitkan,terutama terjadi pada

perut bagian bawah dan punggung serta biasanya terasa seperti

kram.

c) Menorhagia

Perdarahan haid yang banyak dari normal atau lebih lama dari

normal.

d) Hipermenoroe

Haid banyak (6 7 pembalut/hari, dan setiap pembalut basah

semua).

e) Metroragia

Perdarahan yang tidak teratur dan tidak ada hubungannya dengan

haid.

11

f) Pseudoamenore

Pada keadaan ini haid ada, tetapi darah haid tidak keluar karena

tertutupnya saluran alat kelamin.

2) Nyeri abdomen dan panggul

Jenis

nyeri

meliputi:

abdomen

a) Nyeri akut

dan

panggul

menurut

Manuaba

(2008),

Kemampuan untuk mengenali dan menangani nyeri abdomen

akut secara akurat merupakan keahlian penting dalam perawatan

kesehatan wanita.

b) Nyeri kronis

Wanita yang mengalami nyeri panggul kronis adalah orang yang

sering kali mengunjungi pemberi layanan kesehatan dalam jangka

waktu yang lama.

c) Inkontinensia Urine

Pengeluaran urine secara tidak sadar merupakan kondisi yang

membuat stress dan yang tidak dilaporkan karena berbagai alasan,

seperti rasa malu, pengingkaran, dan adanya anggapan bahwa

satu-satunya pilihan penanganan adalah pembedahan.

d) Tumor/kanker pada endrometrium

Wanita yang mengalami kanker endromentrium setiap tahunnya,

tiga kali lipat lebih banyak dibandingkan dengan kanker servik

kemungkinan terjadi paling sering pada wanita usia lebih dari 50

tahun.

12

e) Kista Vagina

Berbagai macam kista vagina adalah tumor jinak yang sering

ditemukan

pada

labia

mayora,

vaginanya agar cepat di operasi.

f) Mioma Uteri

apabila

menemukan

kista

di

Mioma uteri merupakan tumor jinak otot rahim, disertai jaringan

ikatnya, sehingga dapat

ikatnya

dominan

dan

(Manuaba, 2012).

dalam bentuk padat karena jaringan

lunak

serta

otot

rahimnya

dominan

2. Mioma Uteri

a. Pengertian

Mioma uteri

adalah tumor

jinak yang struktur utamanya adalah

otot polos rahim. Mioma uteri terjadi pada 20% - 25% perempuan di

usia reproduktif (Anwar, dkk, 2011).

Mioma

uteri

adalah

penyakit

yang

berjenis

tumor.

Berbeda

dengan

penyakit

kanker,

mioma

tidak

mempunyai

kemampuan

menyebar

ke

seluruh

tubuh,

Konsistensinya

padat

dan

sering

mengalami degenerasi dalam kehamilan dan sering kali ditemui pada

wanita umur 35 45 tahun (Setiati, 2009).

Mioma uteri adalah tumor jinak

otot polos yang terdiri dari sel-

sel jaringan otot polos, jaringan pengikat fibroid dan kolagen. Mioma

uteri merupakan tumor pelvis yang

wanita (Hadibroto, 2005).

terbanyak

pada organ reproduksi

13

b. Etiologi

Penyebab pasti mioma tidak

jarang sekali

ditemukan

sebelum

diketahui

secara pasti. Mioma

pubertas, sangat dipengaruhi oleh

hormon reproduksi dan hanya manifestasi selama usia reproduktif

(Anwar dkk, 2011).

Tumor ini berasal dari sel otot yang normal, dari otot imatur yang

ada

di

dalam

miometrium

atau

dari

sel

embrional

pada

dinding

pembuluh darah uterus. Apapun

asalnya tumor mulai dari benih-benih

multipel yang sangat kecil dan tersebar pada miometrium. Benih ini

tumbuh sangat lambat tetapi progresif (bertahun-tahun) bulan dalam

hitungan bulan di bawah pengaruh estrogen (Llewellyn, 2009).

c. Patofisiologi

Patofisiologi

jika

tumor

dipotong

akan

menonjol

di

atas

miometrium

sekitarnya karena kapsulnya berkontraksi. Warnanya abu

keputihan,

tersusun

atau

berkas-berkas

otot

jalin-mejalin

dan

melingkar-lingkar di dalam matriks ikat. Pada bagian perifer serabut

otot

tesusun

atas

lapisan

konsentrik

dan

serat

otot

normal

yang

mengelilingi

tumor

beorientasi

yang

sama.

Antara

tumor

dan

miometrium

normal

terdapat

lapisan

jaringan

areoalt

tipis

yang

membentuk pseudokapsul tempat masuknya pembuluh darah ke dalam

mioma. Pada

pemeriksaan dengan mikroskop kelompok-kelompok sel

otot berbentuk kumparan dengan inti panjang di pisahkan menjadi

berkas-berkas oleh jaringan ikat. Karena seluruh suplai darah mioma

14

berasal dari beberapa pembuluh darahyang masuk dapris pseudokapsul,

berarti pertumbuhan tumor tersebut selalu melampaui suplai darahnya

ini menyebabkan degenerasi terutama pada bagian tengah mioma uteri

(Llewellyn, 2009).

d. Tanda dan gejala

Menurut Yatim (2008), kejadian mioma sekitar 20% perempuan usia

reproduktif. Kebanyakan

mioma uteri

tumbuh

tanpa menimbulkan

keluhan atau gejala. Tanda dan gejala pada perempuan, yaitu:

1)

Mengeluh perdarahan menstruasi lebih banyak dari biasa atau nyeri

sewaktu menstruasi,

2)

Perasaan penuh dan ada tekanan pada rongga perut atau keluhan

anemia karena kurang darah

3)

Serta nyeri pada waktu berhubungan seksual atau nyeri pada waktu

bekerja. Pada mioma yang klasik uterus membesar merata dan

sekitar 80% perempuan yang menderita mioma uteri bertambah

beratnya sampai 80 gram (berat normal uterus hanya sekitar 50

gram).

e. Klasifikasi

Menurut Anwar, dkk (2011), mioma uteri berasal dari miometrium dan

klasifikasinya dibuat berdasarkan lokasinya, yaitu:

15

15 Gambar 2.1 Mioma uteri 1) Mioma submukosa   Mioma submukosa yaitu menempati lapisan di bawah

Gambar 2.1 Mioma uteri

1)

Mioma submukosa

 

Mioma submukosa yaitu menempati lapisan di bawah endometrium

dan

menonjol

ke

dalam

(kavum

uteri).

Pengaruhnya

pada

vaskularisasi dan luas permukaan endometrium. Mioma jenis ini

dapat bertangkai panjagn sehingga dapat keluar melalui ostium

serviks.

 

2)

Mioma intramural (interstisiel)

 

Mioma intramural (interstisiel) adalah mioma yang berkembang di

antara miometrium.

 

3)

Mioma subserosa

 

Mioma subserosa adalah mioma yang tumbuh di bawah lapisan

serosa uterus dan dapat tumbuh ke arah luar dan juga bertangkai.

Mioma subserosa juga dapat menjadi parasit omntum atau usus

untuk vaskularisasi tambahan bagi pertumbuhannya.

16

f. Komplikasi

Menurut

Manuaba

(2012),

berpendapat

bahwa

mioma

uteri

dapat

berdampak pada kehamilan dan persalinan, yaitu :

1) Mengurangi kemungkinan wanita menjadi hamil, terutama pada

mioma uteri submukosum.

2) Kemungkinan abortus bertambah.

3) Kelainan letak janin dalam rahim, terutama pada mioma yang besar

dan letak subserus.

4) Menghalang-halangi

letaknya di serviks.

lahirnya

bayi,

terutama

pada

mioma

yang

5) Inersia uteri dan atonia uteri, terutama pada mioma yang letaknya di

dalam dinding rahim atau apabila terdapat banyak mioma

6) Mempersulit

lepasnya

plasenta,

submukus dan intramural.

terutama

pada

mioma

yang

Menurut Yatim (2008), komplikasi yang ditimbulkan mioma uteri,

antara lain:

1)

Perdarahan pervaginam yang berat dapat menimbulkan kondisi

kurang darah (anemia).

2)

Keluhan sulit buang air besar (konstipasi) atau haemoroid

3)

Uterus robek (ruptur) dalam keadaan hamil atau plasenta acreta dan

plasenta increta serta tonus uterus yang kurang dan kemudian

perdarahan uterus.

4)

Terjadi kehamilan ektopik di jaringan mioma.

17

g. Pemeriksaan Penunjang

Menurut

Yatim

(2008),

pemeriksaan

Ultrasonografi

(USG)

atau

Magnetic Resolution

Imaging (MRI) biopsi jaringan selaput lendir

rahim (endometrial) bisa mengetahui penyebab perdarahan pervaginam.

h. Penatalaksanaan

Menurut Hadibroto (2005), secara umum penatalaksanan mioma uteri

dibagi atas 2 metode, yaitu:

1)

Terapi medisinal (hormonal)

 

a) Pemakaian Gonadotropin-Releasing Hormon (GnRH)

 

Saat ini pemakaian Gonadotropin-Releasing Hormon (GnRH)

aragonis

memberikan

hasil

untuk

memperbaiki

gejala-gejal

klinis yang ditimbulkan oleh mioma uteri. Pemberian GnRH

aragonis bertujuan untuk mengurangi ukuran mioma dengan

jalan mengurangi produksi estrogen dari ovarium.

 

b) Terapi hormonal lainnya seperti kontrasepsi oral dan preparat

progesteron akan mengurangi gejala perdarahan uterus yang

abnormal namun tidak dapat mengurangi ukuran dari mioma.

2)

Terapi pembedahan

 

Menurut

Hadibroto

(2005),

indikasi

pasien dengan mioma uteri adalah:

pembedahan

pada

pasien

a) Perdarahan uterus yang tidak respon terhadap nyeri konservatif

b) Sangkaan adanya keganasan

18

d)

Infertilitas karena gangguan pada cavum uteri maupun karena

oklusi tuba.

e)

Nyeri dan penekanan yang sangat mengganggu.

 

f)

Gangguan berkemih maupun obstruksi traktus urinarius

 

g)

Anemia akibat perdarahan

 

Tindakan pembedahan yang dilakukan yaitu:

 

1)

Miomektomi

Miomektomi

sering

dilakukan

pada

wanita

yang

ingin

mempertahankan

fungsi

reproduksinya

dan

tidak

ingin

dilakukan histerektomy. Tindakan miomektomi dapat dilakukan

dengan

laparotomi,

histeroskopi

maupun

laparaskopi.

Keunggulan melakukan miomektomi adalah lapangan pandang

operasi yang lebih luas (Hadibroto (2005).

a)

Laparoskopi

Pada laparaskopi dilakukan insisi pada dinding abdomen

untuk

mengangkat

bertangkai di luar

mioma

dari

uterus.

Mioma

yang

kavum uteri dapat diangkat dengan

mudah secara laparoskopi. Mioma subserosum yang terletak

di daerah permukaan uterus juga dapat diangkat secara

laparoskopi. Tindakan laparoskopi dilakukan dengan ahli

bedah

dengan

memasukkan

alat

laparoskop

ke

dalam

abdomen melalui insisi yang kecil pada dinding abdomen

(Hadibroto, 2005).

19

Keunggulan laparoskopi adalah masa penyembuhan pasca

operasi yang lebih cepat antara 2

terjadi

pada

pembedahan

- 7 hari. Resiko yang

laparoskopi

termasuk

perlengkapan trauma terhadap organ sekitar seperti usus,

ovarium, rektum serta perdarahan.

b) Histeroskopi

Menurut Yatim (2008), teknik operasinya masih dengan

pendekatan

menyayat

kulit

perut

(laparatomi).

Operasi

untuk pengobatan endometriosis bisanya banyak dilakukan

dengan

teknik

Laparascopy

Vaginal

Histerectomy

(LAVH), sedangkan operasi untuk pengangkatan mioma

dilakukan dengan teknik (Transabdominal Histerectomy)

yaitu operasi dengan penyayatan dinding perut. Keuntungan

dari teknik ini adalah:

(1) Pasien bisa pulang ke rumah pada hari yang sama

(2) Waktu penyembuhannya lebih cepat

(3) Jaringan luka bekas luka operasi dinding perut hanya

kecil

c) Laparatomi

Pengangkatan secara laparotomi adalah dengan pembiusan

secara umum (general anestesi). Luka sayatan pada dinding

perut sekitar 1 cm. dengan video laparotomi bisa terlihat

baik bagian-bagian rongga perut dan bagian depan rongga

20

panggul.

Dengan

kombinasi

penggunaan

alat

pembeku

(koagulator), elektro surgery dan ultrasonic surgery atau

sinar laser dilakukan pengangkatan mioma dan perbaikan

dinding

uterus

bekas

mioma.

Dengan

teknik

ini

bisa

dikurangi

ukuran

mioma

sampai

50%.

Dengan

cara

myolisis

ini

perdarahan

bisa

diminimalkan

dan

waktu

operasi lebih singkat dibandingkan dengan cara operasi

pengan mioma (myomectomy) (yatim, 2008)

2)

Histerektomy

Menurut

Hadibroto

(2005),

tindakan

pembedahan

untuk

mengangkat uterus dapat dilakukan dengan 3 cara yaitu

a)

Pendekatan abdominal (laparatomi),

 

b)

vaginal,

c)

Laparoskopi.

Tindakan

histerektomy

pada

pasien

dengan

mioma

uteri

merupakan

indikasi

bila

didapati

keluhan

menoragia,

menometroragia, keluhan obstruksi pada traktus urinaris dan

ukuran uterus sebesar usia kehamilan 12 14 minggu. Tindakan

histerektomi perabdominal dapat dilakukan dengan 2 cara yaitu

a) Total Abdominal Histerektomi (TAH)

Dilakukan untuk menghindari risiko operasi yang lebih besr

seperti perdarahan yang banyak, trauma operasi pada ureter,

kandung kemih, rektum. Jaringan granulasi yang timbul

21

pada tungul vagina dapat menjadi sumber sekret vagina dan

perdarahan pasca operasi.

b) Subtotal Abdominal Histerektomi (STAH).

Kemungkian timbulnya karsinoma serviks dapat terjadi.

Dengan meninggalkan serviks. Terjadinya dyspaeunia akan

lebih rendah dibandingkan yang menjalani TAH, sehingga

tetap mempertahankan fungsi seksual.

Pemilihan

jenis

pembedahan

ini

memerlukan

keahlian

seorang ahli bedah yang bertujuan untuk kepentingan pasien.

Masing-masing prosedur histerektomi ini memiliki kelebihan

dan kekurangan. Kelebihan dari prosedur histerektomi, yaitu:

a) Tidak terlihat parut pada bekas operasi sehingga memuaskan

pasien.

b) Masa penyembuhan pada pasien yang menjalani histerektomi

lebih cepat.

c) Resiko perdarahan lebih minimal.

d) Angka morbiditas yang lebih rendah

3. Post Histerektomi

Menurut Jitowiyono dan Kristiyanasari (2010), setelah menjalani operasi,

tidak perlu khawatir untuk bergerak. Hampir semua pasien setelah

menjalani operasi diharapkan mampu melakukan, yaitu:

22

a. Mobilisasi/menggerakkan badan sedini mungkin untuk mempercepat

masa pemulihan pasca operasi.

b. Selama pasien dapat menahan rasa sakit akibat luka operasi, pasien

sudah boleh bergerak setelah operasi, namun belum boleh terlalu aktif

bergerak.

c. Konsumsi makanan yang mengandung vitamin C dan protein untuk

mempercepat proses penyembuhan luka.

d. Memeriksakan luka pasien kembali kepada dokter spesialis bedah

pasien

2 minggu setelah dilakukan operasi. Jika setelah dilakukan

pemeriksaan terbukti bahwa luka telah menutup dengan baik dan

dokter telah mengizinkan untuk beraktifitas maka dapat melakukan

aktivitas normal sehari-hari dengan aman.

Menurut Jitowiyono dan Kristiyanasari (2010), perawatan post

histerektomy,

pada

bedah

kebidanan

perabdominan

seperti

halnya

Histerektomy

memerlukan

perhatian

dan

perawatan

khusus

karena

keberhasilan dan kegagalan operasi sedikit banyaknya ditentukan oleh

perawatan pasca bedah yaitu :

a. Perawatan pertama pembalutan luka insisi dibersihkan dengan baik.

Kemudian melakukan perawatan luka, medikasi luka. Luka insisi

dibersihkan

dengan

alkohol

secara

periodik

dan

mengobservasi

keadaan luka insisi apakah luka sembuh atau terdapat tanda- tanda

infeksi.

23

b. Sebelum pindah kamar perawatan lakukan observasi tanda- tanda vital

dan jumlah cairan yang masuk dan keluar sampai beberapa jam pasca

bedah.

c. Karena pasien puasa selama 24 jam pertama pasca operasi. Maka

cairan perinfus diberikan cukup banyak mengandung elektrolit agar

tidak terjadi dehidrasi, hipertermia dan komplikasi organ lainnya.

Cairan yang diberikan biasanya dekstrosa 5% NaCl, dan Ringer laktat

secara bergantian dengan anjuran 20 tetesan per menit.

d. Pemberian cairan per infus dihentikan setelah penderita flatus, lalu

mulailah pemberian makanan, dan minuman peroral. Sebenarnya

pemberian sedikit minum sudah boleh diberikan pada 6- 10 jam pasca

bedah berupa air putih atau air es hisap yang jumlahnya dapat

dinaikan

dihari

pertama

dan

kedua

pasca

bedah.

Setelah

infuse

dihentikan, berikan makanan bubur saring, minuman air buah dan

susu, selanjutnya secara bertahap diperbolehkan makan bubur dan

makan makanan biasa.

e. Sejak pasien sadar dalam 24 jam pertama rasa masih nyeri dirasakan

didaerah

operasi.

Untuk

mengurangi

rasa

nyeri

tersebut

dapat

diberikan obat- obatan anti sakit dan penenang seperti injeksi IM

pethidin dengan dosis 10- 15 mg. Dengan obat- obat diatas, pasien

yang kurang tenang dan gelisah akan merasa lebih tenang.

f. Mobilisasi segera tahap demi tahap sangat berguna untuk membantu

jalannya penyembuhan penderita. Seperti miring kekanan dan kekiri

24

sudah dapat dimulai sejak 6-10 jam setelah penderita sadar dan

berguna untuk menguraikan sisa obat anastesi.

g. Perawatan pengosongan kandung kemih dengan pemasangan kateter

tetap agar menghindari retensi urin. Jika kandung kemih penuh,

menimbulkan rasa nyeri dan tidak enak pada pasien dan menghalangi

involusi uterus dan menyebabkan perdarahan.

h. Pemberian

obat-

obatan

seperti

:

antibiotik

dan

anti

inflamasi

(metronidazol,

amoxicillin),

uterotonika.

Jika

perlu

pada

pasien

dengan

gangguan

kontraksi/

perdarahan

(misoprostol,

oksitosin,

methergin, prostatglodin), analgesic/ anti nyeri ( pethidin, ibuprofen,

morjin) untuk mempercepat proses penyembuhan, pencegahan infeksi

dan menghindari komplikasi lainnya.

i. Melakukan pemeriksaan darah lengkap terutama kadar Hemoglobin

untuk mengetahui apakah kadar Hb ibu rendah atau masih dalam batas

normal setelah operasi ataupun terjadi perdarahan sebelum dan saat

operasi sehingga perlunya kantung darah untuk transfusi darah sesuai

kebutuhan.

B. Teori Manajemen Kebidanan

1. Pengertian Teori Manajemen Kebidanan

Manajemen

kebidanan

adalah

proses

pemecahan

masalah

yang

digunakan sebagai metode untuk mengorganisasikan pikiran dan tindakan

berdasarkan

teori

ilmiah.

Penemuan-penemuan,

keterampilan

dalam

25

rangkaian atau

tahapan yang logis untuk mengambil suatu

yang berfokus pada klien (Varney, 2007).

2. Proses Manajemen Kebidanan

keputusan

Manajemen kebidanan terdiri dari beberapa langkah yang berurutan,

dimulai dengan pengumpulan data dasar dan berakhir dengan evaluasi,

langkah-langkah tersebut membentuk kerangka yang lengkap sehingga

dapat

diaplikasikan

dalam

semua

situasi,

akan

tetapi

setiap

langkah

tersebut

bisa

dipecah-pecah

sehingga

sesuai

dengan

kondisi

pasien

Menurut Varney (2007) tujuh langkah proses manajemen kebidanan, yaitu:

a. Langkah I : Pengkajian

Pengkajian adalah pengumpulan data dasar untuk mengevaluasi

keadaan

pasien.

Data

dasar

ini

termasuk

riwayat

kesehatan

dan

pemeriksaan fisik. Data yang dikumpulkan meliputi data subjektif dan

data objektif serta data penunjang (Anggraini, 2010).

1)

Data Subjektif

Informasi yang dicatat mencakup identitas, keluhan yang diperoleh

dari hasil wawancara langsung kepada pasien/klien (anamnesis)

atau

dari

keluarga

(Anggraini, 2010)

a) Identitas Pasien

(1) Nama Pasien

dan

tenaga

kesehatan

(allo

anamnesis)

Nama jelas dan lengkap, bila perlu nama panggilan sehari-

hari

agar

tidak

keliru

(Anggraini, 2010).

dalam

memberikan

penanganan

26

(2) Umur

Dicatat dalam tahun untuk mengetahui adanya risiko seperti

kurang dari 20 tahun, alat-alat reproduksi belum matang,

mental dan psikisnya belum siap. Sedangkan umum lebih dari

35

tahun

rentan

(Anggraini, 2010).

(3) Suku/Bangsa

sekali

untuk

terjadi

mioma

uteri

Berpengaruh pada adat istiadat atau kebiasaan sehari-hari

(Anggraini, 2010). Pada kasus mioma uteri banyak dijumpai

pada ras kulit berwarna dengan kulit putih (Anwar, 2011).

(4) Agama

Untuk

mengetahui

keyakinan

pasien

tersebut

untuk

membimbing

atau

mengarahkan

pasien

dalam

doa

(Anggraini, 2010).

 

(5) Pendidikan

Berpengaruh

dalam

tindakan

kebidanan

dan

untuk

mengetahui sejauh mana tingkat intelektualnya, sehingga

bidan

dapat

memberikan

konseling

sesuai

pendidikannya (Anggraini, 2010).

(6) Pekerjaan

dengan

Gunanya untuk mengetahui dan mengukur tingkat sosial

ekonominya,

karena

ini

juga

pasien (Anggraini, 2010).

mempengaruhi

dalam

gizi

27

(7) Alamat

Ditanyakan

untuk

mempermudah

diperlukan (Anggraini, 2010).

b) Keluhan Utama

kunjungan

rumah

bila

Dikaji untuk mengetahui masalah yang dihadapi yang berkaitan

dengan gejala-gejala mioma uteri meliputi periode menstruasi

yang

tidak

normal

(gangguan

menstruasi

dalam

bentuk

:

perdarahan

banyak,

perdarahan

diluar

siklus

menstruasi,

perdarahan

lama,

jarak

menstruasi

pendek)

dan

infertilitas

(Anggraini, 2010). Pada kasus mioma uteri

pasien mengeluh

perdarahan menstruasi lebih banyak dari biasanya atau nyeri

sewaktu menstruasi, terasa penuh dan ada tekanan pada rongga

perut,

diperut.

perdarahan

yang

lama

saat

menstruansi,

pembesaran

Pada

kasus

post

histerektomy

Ibu

mengeluh

nyeri

berhubungan dengan kerusakan jaringan otot.

(Jitowiyono dan Kristiyanasari, 2010)

c) Riwayat Haid

Untuk mengetahui usia berapa pertama kali mengalami

menstruasi,

jarak

antara

menstruasi

yang

dialami

dengan

menstruasi

berikutnya

dalam

hitungan

hari,

seberapa banyak

darah menstruasi yang dikeluarkan dan keluhan yang dirasakan

ketika mengalami mestruasi (Sulistyawati, 2009). Pada kasus

mioma uteri

Ibu mengeluh perdarahan menstruasi lebih banyak

28

dari biasa atau nyeri sewaktu menstruasi, perasaan penuh dan ada

tekanan pada rongga perut (Yatim, 2008).

d) Status Perkawinan

Untuk

mengetahui

status

perkawinan,

lama

perkawinan

syah atau tidak, sudah berapa kali menikah, pada umur berapa

menikah, berapa jumlah anak (Anggraini, 2010).

e) Riwayat Kehamilan, Persalinan dan Nifas

Dikaji untuk mengetahui berapa kali ibu hamil, apakah

pernah

abortus,

jumlah

anak,

cara

persalinan

yang

lalu,

persalinan, keadaan nifas yang lalu (Anggraini, 2010). Mioma

uteri

lebih sering di dapat pada wanita nulipara atau kurang

subur dan mioma uteri mengakibatkan infertilitas (Anggreini,

2010).

f) Riwayat KB

Untuk

mengetahui

apakah

pernah

ikut

KB,

dengan

kontrasepsi

jenis

apa,

berapa

lama,

adakah

keluhan

selama

menggunakan kontrasepsi (Anggraini, 2010). Pada kasus mioma

uteri

penggunaan

KB

hormonal

yaitu

esterogen,

karena

rangsangan esterogen merupakan faktor terjadinya mioma uteri

(Anggraini, 2010).

g) Riwayat Kesehatan

(1) Riwayat kesehatan sekarang

29

Untuk mengetahui kemungkinan penyakit yang diderita pada

saat

ini

yang

ada

hubungannya

dengan

mioma

uteri

(Anggraini, 2010).

 

(2) Riwayat kesehatan yang lalu

 

Untuk

mengetahui

kemungkinan

adanya

riwayat

atau

penyakit akut, kronis seperti : jantung, diabetes mellitus,

hipertensi,

asma

yang

dapat

mempengaruhi

mioma

uteri

(Anggraini, 2010).

 

(3) Riwayat kesehatan keluarga

 

Untuk

mengetahui

apakah

dalam

keluarga

ada

yang

menderita penyakit menular seperti : AIDS, Hepatitis, TBC,

dan penyakit menurun seperti : Asma, Jantung, DM, maupun

keturunan kembar dan riwayat operasi (Aggraini, 2010).

h) Pola Kebiasaan Sehari-hari

(1) Pola Nutrisi

Menggambarkan tentang pola makan dan minum, frekuensi,

banyaknya, jenis makanan, dan makanan pantangan pada

keluarga

tersebut

karena penderita

mioma

kondisi

tubuh

lemah dan anemia akibat pendarahan yang berlebihan, oleh

karena itu perlu tambahan nutrisi lebih banyak terutama

makanan yang mengandung zat besi (Ambarwati dkk, 2010).

Pada kasus post histerektomy yaitu pemberian cairan setelah

pasien flatus.

30

(2) Pola Eliminasi

Menggambarkan pola fungsi sekresi yaitu kebiasaan buang

air besar meliputi frekuensi, jumlah konsistensi, dan bau serta

kebiasaan buang air kecil meliputi frekuensi, warna dan

jumlah (Anggraini, 2010).

(3) Istirahat

Menggambarkan pola istirahat dan tidur pasien, berapa jam

pasien tidur, kebiasaan sebelum tidur misalnya membaca,

mendengarkan musik, kebiasaan mengkonsumsi obat tidur,

 

kebiasaan

tidur

siang,

penggunaan

waktu

luang

(Ambarwati dkk, 2010).

 

(4)

Personal Hygiene

 

Dikaji

untuk

mengetahui

apakah

ibu

selalu

menjaga

kebersihan

tubuh

terutama

pada

daerah

genetalia

(Ambarwati dkk, 2010).

 

(5)

Kehidupan Seksual

 

Berapa

kali

dalam

seminggu

ibu

melakukan

hubungan

seksual karena pada penderita mioma di dalam uterus akan

membesar

dan

mengakibatkan

pendarahan

(Ambarwati dkk, 2009). Pada kasus pada dengan mioma

didapat

gejala

(Yatim, 2008).

yaitu

nyeri

saat

hubungan

seksual

31

Perlu adanya pengkajian psikologis pada saat pasien mengalami

kista pasien merasa cemas, setelah mioma uteri di angkat pasien

merasa tenang, bahagia

setelah

pengangkatan

berhasil. Dan

perlu adanya dukungan dari keluarga moral dan spiritual sehingga

pasien lebih tenang (anggraini, 2010).

2)

Data Objektif

Pencatatan

dilakukan

dari

hasil

pemeriksaan

fisik,

pemeriksaan

khusus

kebidanan,

data

penunjang,

hasil

laboratorium

(Sulistyawati, 2009)

a) Status generalis

(1) Keadaan Umum

Untuk mengetahui keadaan umum apakah baik, sedang, jelek,

tingkat kesadaran pasien apakah composmentis (sadar penuh :

memberikan

respon

yang

cukup

terhadap

stimulus

yang

diberikan),

apatis

(acuh

tak

acuh

terhadap

keadaan

sekitarnya), somnolen (gelisah : tidak responsive terhadap

rangsangan ringan dan masih memberikan respon terhadap

rangsangan yang kuat), delirium, semi koma dan koma (tidak

dapat bereaksi terhadap stimulus atau rangsangan apapun),

gerakan

yang

ekstrem

dan

ketegangan

otot

(Sulistyawati, 2009).

 

Pada kasus post histerektomy atas mioma uteri

keadaan

umum lemah, kesadaran composmentis (Anwar, dkk, 2011).

32

(2) Tanda-tanda vital

(a)

Tekanan Darah

 

Untuk

mengetahui

factor

resiko

hipertensi.

Batas

normal

110/60 140/90 mmHg (Sulistyawati, 2009).

Pada

kasus

post

histerektomy

atas

mioma

uteri

mengalami peningkatan (Jitowiyono dan Kristiyanasari,

2010)

(b)

Suhu

Untuk

mengetahui

suhu

badan

apakah

ada

peningkatan atau tidak jika ada dan lebih dari 38 o C

kemungkinan terjadi infeksi. Batas normal 37,5 - 38 o C

(Ambarwati dkk, 2010).

 

(c)

Nadi

Untuk mengetahui nadi pasien yang dihitung dalam 1

menit (Sulis, 2009). Batas normal 60 80 x / menit

(Ambarwati dkk, 2010).

 

(d)

Respirasi

 

Untuk

mengetahui

frekuensi

pernafasan

pasien

yang

dihitung dalam 1 menit (Saifuddin, 2007). Batas normal

20-30 x/menit (Ambarwati dkk, 2010).

(3) Berat Badan

Untuk mengetahui faktor resiko obesitas (Sulistyawati, 2009)

(4) Tinggi Badan

33

Untuk mengetahui faktor risiko kesempitan panggul (Sulistyawati,

2009).

Tinggi

badan

(Ambarwati dkk, 2009).

b) Pemeriksaan Sistematis

(1) Kepala

wanita

normal

>150

cm

(a)

Rambut

Untuk mengetahui apakah rambutnya bersih, rontok dan

berketombe (Sulistyawati,2009).

 

(b)

Muka

Untuk

mengetahui

keadaan

muka

pucat

atau

tidak,

adakah kelainan, adakah oedema (Sulistyawati, 2009)

(c)

Mata

Untuk

mengetahui

apakah

konjungtiva

warna

merah

muda dan sklera warna putih (Sulistyawati, 2009).

(d)

Hidung

Untuk mengetahui adakah pernafasan cuping hidung,

adakah pengeluaran sekret (Sulistyawati, 2009).

 

(e)

Telinga

Untuk

mengetahui

apakah

didalamnya

ada

serumen

(Sulistyawati, 2009).

 

(f)

Mulut, gigi dan gusi

 

34

Untuk mengetahui mulutnya bersih apa tidak, ada caries

dan karang gigi tidak, serta ada stomatitis atau tidak

(Sulistyawati, 2009).

(2) Leher

Untuk mengetahui adakah pembesaran kelenjar gondok atau

thyroid,

tumor

dan

pembesaran

getah

 

bening

(Sulistyawati, 2009).

 

(3) Dada

Untuk

mengetahui

mammae

ada

pembesaran

atau

tidak,

tumor simetris, areola hiperpigmentasi apa tidak, puting susu

menonjol apa tidak, kolostrum sudah keluar atau belum

(Anggraini, 2010)

(4) Axilla

Untuk

mengetahui

adakah

tumor,

adakah

nyeri

tekan

(Nursalam 2008).

 

(5) Abdomen

Untuk

mengetahui

apakah

ada

pembesaran

hati,

adakah

tumor atau benjolan, ada luka bekas operasi atau tidak,

pembesaran

kasus

post

uterus

yang abnormal

histerektomy

terdapat

(Varney,

2007). Pada

luka

bekas

operasi

(Jitowoyono dan Kristiyanasari,2010).

(6) Pemeriksaan Anogenital

(a) Vulva vagina

35

Untuk mengetahui keadaan vulva adakah tanda-tanda

infeksi,

ada

tidaknya

kemerahan,

varices,

nyeri,

pembesaran

kelenjar

bartolini

dan

perdarahan

(Sulistyawati,2009).

Pada

kasus

post

histerektomy

terdapat

pengeluaran

berupa

bercak

dan

perdarahan

 

(Yatim, 2008).

(b)

Inspekulo

Pemeriksaan dalam yang dilakukan untuk mengetahui

keadaan portio / serviks dan pengeluaran pervaginam

(Nursalam, 2008)

(c)

Pemeriksaan dalam

Dikaji untuk mengetahui kondisi vagina urethra, dinding

vagina, portio, orifisium urethra eksterna, korpus uteri,

pengeluaran dan discharge (Anggraini, 2010).

(7) Anus

Untuk

mengetahui

(Sulistyawati, 2009).

(8) Ekstremitas

ada

haemoroid

atau

tidak

Bagaimana keadaanya odema atau tidak, varices atau tidak

(Sulistyawati, 2009).

c) Pemeriksaan Penunjang

Data penunjang dilakukan sebagai pendukung diagnosa,

apabila

diperlukan

misalnya

pemeriksaan

laboratorium

(Varney,

2007).

Menurut

Yatim

(2008),

pemeriksaan

Ultrasonografi(USG) atau Magnetic Resolution

Imaging (MRI)

36

biopsi

jaringan

selaput

lendir

rahim

(endometrial)

bisa

mengetahui

penyebab

perdarahan

pervaginam.pada

post

histerektomy

atas

Ultrasonografi (USG),

indikasi

mioma

uteri

pemeriksaan

untuk menentukan jenis tumor, lokasi

mioma,

ketebalan

endometrium

dan

keadaan

adneksa

dalam

rongga

pelvis,pada

post

histerektomy

tidak

dilakukan

USG,dilakukan

pemeriksaan

HB

untuk

mengetahui

rendah atau masih pada batas normal.

b. Langkah II : Interpretasi Data

hb

ibu

Langkah kedua bermula dari data dasar, menginterpretasi data

untuk

kemudian

diproses

menjadi

masalah

atau

diagnosis

serta

kebutuhan

perawatan

kesehatan

yang

diidentifikasi

khusus

(Varney, 2007).

1) Diagnosa Kebidanan

Diagnosa kebidanan adalah diagnosa yang ditegakkan dalam

lingkungan praktik kebidanan dan memenuhi standar nomenklatur

diagnosa kebidanan yang dikemukakan dari hasil pengkajian atau

yang menyertai diagnosa (Varney, 2007). Diagnosa kebidanan yang

ditegakkan adalah : Ny.

atas indikasi mioma uteri.

Data subjektif

S umur 45 tahun, P 3 A 0 post histerektomy

Menurut Yatim, (2008), data subyektif meliputi :

a) Ibu mengatakan sudah dilakukan operasi pengangkatan rahim.

b) Ibu mengatakan nyeri pada bekas operasi.

Data objektif

37

a)

Keadaan umum pada post histerektomy lemah.

b)

Kesadaraan pada pasien post histerektomi yaitu composmentis.

c)

Vital sign

TD

:mengalami peningkatan

N : mengalami peningkatan

S : mengalami peningkatan

R :mengalami peningkatan

d) Inspeksi terdapat luka bekas operasi yang masih basah, luka

bekas operasi tertutup kain kassa.

2) Masalah

Masalah adalah masalah yang berkaitan dengan pengalaman

pasien yang ditemukan dari hasil pengkajian atau yang menyertai

diagnosa sesuai dengan kesadaan pasien (Varney, 2007). Pada post

histerektomy atas indikasi mioma uteri masalah yang dihadapi pasien

yaitu

cemas

dan

nyeri

pada

bekas

(Jitowiyono dan Kristiyanasari, 2010).

3) Kebutuhan

operasi

histrektomy

Kebutuhan adalah hal-hal yang dibutuhkan pasien sebelum