Anda di halaman 1dari 17

BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Streptococcus mutans

Streptococcus mutans merupakan bakteri Gram positif berbentuk bulat

yang secara khas membentuk pasangan atau rantai selama masa pertumbuhannya.

Bakteri ini tersebar luas di alam. Beberapa diantaranya merupakan anggota flora

normal pada manusia, yang lain dihubungkan dengan penyakit-penyakit penting

pada manusia yang sebagian disebabkan oleh infeksi Streptococcus, dan sebagian

lagi oleh sensitisasi terhadap bakteri ini. Bakteri ini menghasilkan berbagai zat

ekstraseluler dan enzim.10

Bakteri ini bersifat nonmotil (tidak bergerak), bakteri ini tumbuh secara

optimal pada suhu 18˚-40˚ C. Streptococcus adalah golongan bakteri yang

heterogen. Tidak ada satu sistem pun yang cukup baik untuk

mengklasifikasikannya. Streptococcus mutans merupakan kuman yang kariogenik

karena mampu segera membentuk asam dari karbohidrat yang dapat diragikan.

Kuman tersebut dapat tumbuh subur dalam suasana asam dan dapat menempel

pada permukaan gigi karena kemampuannya membuat polisakarida ekstra sel.

Polisakarida ekstra sel ini terutama terdiri dari polimer glukosa yang

menyebabkan matriks plak mempunyai konsistensi seperti gelatin, akibatnya

bakteri tersebut melekat pada gigi serta saling melekat satu sama lain. Plak makin

lama makin tebal, sehingga akan menghambat fungsi saliva untuk melakukan

aktivitas antibakterinya.10,11,12

8
Morfologi dan identifikasi Streptococcus mutans10:

a. Ciri-ciri khas organisme

Kokus tunggal berbentuk bulat atau bulat telur dan tersusun dalam

rantai. Kokus membelah pada bidang yang tegak lurus sumbu panjang

rantai. Anggota-anggota rantai sering tampak sebagai diplokokus, dan

bentuknya kadang-kadang menyerupai batang.

b. Biakan

Kebanyakan Streptococcus tumbuh dalam pembenihan padat

sebagai koloni discoid dengan diameter 1-2 mm.

c. Sifat-sifat khas pertumbuhan

Energi utama diperoleh dari penggunaan gula. Pertumbuhan

Streptococcus cenderung menjadi kurang subur pada pembenihan

padat atau kaldu kecuali yang diperkaya dengan darah atau cairan

jaringan. Kebutuhan makanan bervariasi untuk setiap spesies. Kuman

yang patogen bagi manusia paling banyak memerlukan faktor-faktor

pertumbuhan. Pertumbuhan dan hemolisis dibantu oleh pengeraman

dalam CO2 10%.

d. Variasi

Varian strain Streptococcus yang sama dapat menunjukkan bentuk

koloni yang berbeda. Hal ini sangat nyata di antara strain golongan A,

yang membentuk koloni suram atau mengkilat. Koloni yang suram

terdiri atas organism yang menghasilkan banyak protein M.

Organisme ini cenderung virulen dan relatife kebal terhadap

9
fagositosis oleh keukosit manusia. Koloni yang mengkilat cenderung

menghasilkan sedikit protein M dan sering tidak virulen.

Gambar 1 :Streptococcus mutans

Sumber : Ari WN.Streptococcus mutans,

http://www.streptococcusmutans_31.pdf. Diakses Agustus 2013

2.1.1 KLASIFIKASI Streptococcus mutans

Streptococcus mutans merupakan salah satu bakteri dari tujuh spesies

Streptococcus yang berada (S.mutans,S.sobrinus, S.cricetus, S.ferus, S.rattus, S

macacae dan S.downei) dan 9 serotipe (a, b, c, d, e, f, g, h dan k). Diantara

kesembilan serotipe tersebut yang paling banyak b.11

Klasifikasi10

Kingdom : Monera

Diviso : Firmicutes Class

Class : Bacilli

Ordo : Lactobacilalles

Family : Streptococcaceae

10
Genus : Streptococcus

Spesies : Streptococcus mutans

Klasifikasi bakteri Streptococcus dari sisi kepentingan medis yaitu : 13

a. Streptococcus pyogens : Termasuk dalam Streptococcus Grup A,

Bakteri ini bersifat hemolitik- . S. Pyogens adalah bakteri patogen

utama pada manusia dikaitkan dengan invasi lokal atau sistemik dan

gangguan immunologi pasca infeksi oleh Streptococcus.S pyo-genes

secara khas membentuk daerah luas (bergaris tengah 1 cm) pada

hemolisis mengelilingi koloni yang berukuran lebih besar dari 0,5

mm. Bakteri ini bersifat PYR-positif (hidrolisis L-pirolidonil-2-nafti-

lamid) dan biasanya peka terhadap basitrasin.

b. Streptococcus agalactiae : Termasuk dalam Streptococcus grup B.

Mereka adalah anggota dari flora normal pada saluran organ wanita

serta penyebab penting dari sepsis neonatal dan meningitis. Bakteri ini

serin terlihat menyerupai S pyogenes golongan A pada perbenihan agar

darah dan bersifat hemolitik-β. Bakteri ini diidentifikasikan dengan

reaksi terhadap antisera spesifik untuk golongan C atau G.

c. Grup C dan G : Bakteri Streptococcus ini kadang terdapat di dalam

nasofaring dan dapat menimbulkaan sinusitis, bakteriemia atau

endokarditis. Bersifat hemolitik-β.

d. Enterococcus faecalis (E. Faecium, E. Durans) : Enterococcus ini

merupakan bagian dari flora normal enterik. Karena antigen grup D

adalah asam teichoic, maka hal ini bukanlah sebuah penanda antigen

11
yang baik, sehingga Enterococcus biasanya diidentifikasikan

menggunakan sifat karakteristik yang lain. Mereka biasanya bersifat

nonhemolitik tapi suatu saat dapat bersifat hemolitik-α. Meskipun

termasuk katalase negatif, bakteri Enterococcus kadang-kadang

bersifat katalase positif yang lemah.

e. Streptococcus bovis : Bakteri ini termasuk dalam Streptococcus grup D

nonenterococcus. Mereka sebagian merupakan flora enterik dan

kadangkala dapat mengakibatkan endokarditis, dan juga dapat

menyebabkan bakterimia pada pasien dengan karsinoma kolon. Bakteri

ini bersifat nonhemolitik. S.bovis seringkali diklasifikasikan sebagai

bakteri Streptcoccus viridans.

f. Sterptococcus anginosus : Nama lain dari S.anginosus ini merupakan

bagian dari flora normal. Bisa bersifat α,β atau nonhemolitik.

g. Streptococcus Grup N : Mereka jarang menimbulkan penyakit pada

manusia namun dapat menyebabkan penggumpalan normal pada susu.

h. Streptococcus Grup E,F,G,H, dan K-U : Bakteri Streptococcus ini

terdapat terutama pada hewan dan terkadang juga pada manusia.

i. Streptococcus pneumonia : Bakteri Pneumococcus bersifat hemolitik-

α. Pertemubuhan bakteri ini dihambat oleh optochin dan koloninya

dapat larut dalam empedu.

j. Streptococcus virians :Bakteri Streptococcus viridans ini antara lain

adalah S.mitis, S.mutans, S.salivarius,S.sanguis (Grup H) dan lain-lain.

Secara tipikal, biasanya bersifat hemolitik-α, tapi kemungkinan lain

12
mereka bersifat nonhemolitik. Pertumbuhannya tidak dihambat oleh

optochin dan koloninya tidak dapat larut dalam empedu. Bakteri

Streptococcus viridans merupakan bakteri paling umum sebagai flora

normal pada saluran pernafasan atas dan berperan penting untuk

menjaga kesehatan membran mukosa yang terdapat diasana. Mereka

dapat mencapai aliran darah oleh karena trauma dan merupakan

penyebab utama endokarditis pada katup jantung yang abnormal.

Beberapa bakteri Streptococcus viridans (misal : S.mutans) mensintesa

banyak polisakarida seperti dextran atau levans dari sukrosa dan

mempunyai peranan penting pada proses pembentukan karies gigi.

k. Varian Streptococcus secara nutrisional : Biasanya bersifat hemolitik-α

tapi bisa juga bersifat nonhemolitik. Bakteri ini merupakan bagian dari

flora normal dan kadangkala menyebabkan bakterimia dan

endokarditis dan dapat ditemukanya dalam abses otak dan infeksi lain.

l. Peptostreptococcus (banyak spesies) : Bakteri Streptococcus jenis ini

dapat tumbuh hanya pada kondisi anaerob atau mikroaeroflik dan

dapat memproduksi hemolisin. Bakteri ini merupakan bagian flora

normal dari rongga mulut, saluran pernafasan atas, bagian isi perut dan

saluran genital wanita.

2.1.2 SIFAT dan KARAKTERISTIK

Streptococcus mutans merupakan bakteri Gram positif. Temperatur

optimum untuk pertumbuhan bakteri ini sekitar 37˚ C. Selnya berbentuk ovoid

13
dengan diameter 0,5-0,75 µm. Streptococcus mutans ditemukan berpasangan

dengan rantai pendek atau rantai medium dan tidak berkapsul. Pada kondisi

lingkungan asam, bakteri ini dapat berbentuk batang pendek dengan panjang 1,5-

3,0 µm.14

Streptococcus mutans bersifat acidogenik yaitu mampu menghasilkan

asam dan bersifat acidodurik yaitu mampu tinggal pada lingkungan asam.

Streptococcus mutans juga memiliki sifat-sifat khusus yang berperan pada

patogenesis karies yaitu mampu memproduksi polisakarida ekstraseluler

(dekstran) yang memfasilitasi perlekatannya ke permukaan gigi dengan bantuan

adhesin serta polimer glukan yang tidak larut oleh air. Sebagai konsekuensinya,

Streptococcus mutans akan menempel pada komponen-komponen yang terdapat

pada permukaan gigi, seperti substrat, glikoprotein saliva, matriks ekstraseluler,

komponen serum, sel inang serta mikroorganisme lain.Interaksi tersebut akan

menyebabkan penurunan pH pada lingkungan di sekitar tempat pembentukan

koloni Streptococcus mutans pH 5,2-5,5 merupakan ‘critical point”, karena dapat

mempercepat proses demineralisasi gigi dan memungkinkan terjadinya karies.

Interaksi molekuler yang menjelaskan proses karies gigi, melibatkan molekul

adhesion (protein permukaan) Streptococcus mutans dengan reseptor inang,

seperti komponen saliva dan juga protein permukaan sel bakteri lainnya.11,15

Protein permukaan sel Streptococcus mutans yang dilaporkan paling

banyak terlibat dalam proses karies gigi adalah Glucan binding protein (Gbp) dan

antigen I/II (Ag I/II). Selain itu, Streptococcus mutans juga mengekspresikan

molekul yang berperan sebagai enzim dalam proses fermentasi karbohidrat, yaitu

14
Glucosyltransferase (Gtf), Dextranase (Dex), dan Fruktosilatranferase (Ftf).

Setiap enzim tersebut akan memecah sukrosa untuk membentuk glukan, dextran

dan fruktan. Terdapat pula protein lain yang berperan dalam penyediaan cadangan

energi Streptococcus mutans agar mampu bertahan di dalam rongga mulut, yaitu

Dextranase A (Dex A), Dextranase B (Dex B). Fruktanase, dan Dlt 1-4 (protein

intaseluler sel Streptococcus mutans).16

2.1.3 PENGARUH Streptococcus mutans TERHADAP KESEHATAN

RONGGA MULUT

Streptococcus mutans merupakan flora normal dalam rongga mulut yang

dapat berubah menjadi patogen bila terjadi peningkatan jumlah koloni yang

berlebihan. Dalam bidang kedokteran gigi, Streptococcus mutans memegang

peranan penting dalam pembentukan karies. Pencegahan karies dan penyakit

periodontal dengan cara melakukan peningkatan kesehatan gigi telah menjadi

tujuan utama dalam dunia kedokteran gigi sejak diketahui plak gigi merupakan

faktor yang mendominasi penyebab hilangnya gigi.17

Perubahan dalam rongga mulut disebabkan oleh peningkatan konsumsi

glukosa. Dalam sebuah percobaan pada anak-anak Swedia, diberi klorhexidine

untuk mencegah kolonisasi Streptococcus mutans, perkembangan karies tertunda

rata-rata tiga tahun. Streptococcus mutans adalah inisiator karies gigi yang paling

banyak. Streptococcus mutans mempunyai peranan penting dalam pembentukan

karies karena :18

15
a. Streptococcus mutans adalah bakteri anaerob yang dikenal menghasilkan

asam laktat sebagai bagian dari metabolismenya

b. Adanya kemampuan Streptococcus mutans mengikat permukaan gigi

dengan sukrosa oleh pembentukan larutan glukan, suatu polisakarida yang

membantu dalam mengikat bakteri untuk gigi.

2.2 KAKTUS

Kaktus berasal dari kata Yunani yaitu kaktos yang berarti tanaman berduri.

Seorang ahli botani bernama Linneaus yang membuat klasifikasi tanaman

memasukkan kaktus ke dalam kelompok tumbuhan berduri atau Cactaceae.

Kaktus pir berduri (Opuntia ficus-indica) merupakan jenis tumbuhan yang banyak

tumbuh di daerah-daerah yang tandus dan kering. Memiliki bentuk yang pipih dan

lebar serta memiliki duri diseluruh bagian tubuhnya menyebabkan tumbuhan ini

sudah banyak dikembangbiakkan khususnya di Indonesia. Tanaman ini sudah

banyak dijadikan sebagai bahan makanan yang dapat diolah baik secara alami

maupun mesin-mesin pengolah.19

Gambar 2 : Buah kaktus pir berduri (Opuntia ficus-indica)

Sumber: http://tokodeli.com/obat-herbal/manfaat-tanaman-kaktus/

16
2.2.1 TAKSONOMI dan TATANAMA

Kaktus pir berduri (Opuntia ficus-indica) secara umum digunakan untuk

menggambarkan beberapa jenis dari family Cactacea. Termasuk dalam spesies

Opuntia, Nopalea dan Acanthocereus.Seluruh tanama tersebut berasal dari

Amerika. Kaktus pir berduri termasuk ke dalam:20

Devisi : Spermatopyta

Subdivisi : Angiospermae

Kelas : Discotyledoneae

Orda : Cactales

Famili : Cactaceae

Genus : Cactus

Spesies : Opuntia sp

2.2.3 PENYEBARAN dan HABITAT

Secara ilmiah tumbuhan kaktus dapat ditemukan di Meksiko dan United

States, tetapi tumbuhan ini juga banyak tumbuh di Afrika, Madagaskar, Australia,

Sri Langka dan India. Kaktus telah menyebar dan dibudidayakan secara luas di

seluruh dunia pada daerah beriklim tropis dan termasuk di Indonesia, mengingat

potensi sumber daya alam yang telah terbukti sangat sesuai untuk budidaya

tanaman kaktus. Penyebaran tanam spesies ini terjadi karena hasil budidaya

manusia.21

17
2.2.4 KANDUNGAN KIMIA dan SENYAWA AKTIF

Kaktus pir berduri (Opuntia ficus-indica) memiliki getah yang

mengandung D-glucose, D-galactose, L-arabinose, D-xylose, L-rhamnose, dan D-

galacturonic dan glucuronic acid. Kaktus pir berduri (Opuntia ficus-indica)

merupakan sayuran yang rendah kalori, untuk 100 g daun kaktus pir berduri

(Opuntia ficus-indica) menyediakan hanya 16 kalori. Meskipun demikian daun

kaktus pir berduri (Opuntia ficus-indica) memiliki anti-oksidan, vitamin dan

mineral. Buah dari kaktus pir berduri (Opuntia ficus-indica) juga mengandung

vitamin B-kompleks seperti thiamin, riboflavin dan vitamin B-6 (pyridoxine).7,22

Kaktus pir berduri (Opuntia ficus-indica) ini juga menghasilkan flavonoid

(quercetin, dihydroquercetin dan quercetin 3-methyl, kaemferol). Flavonoid

merupakan suatu kelompok senyawa fenol yang ditemukan di alam. Senyawa-

senyawa ini merupakan zat warna merah ungu dan biru dan sebagian zat warna

kuning yang ditemukan dalam tumbuh-tumbuhan. Flavonoid memiliki zat aktif

yang disebut quercetin dan dipercaya dapat melindungi tubuh dari beberapa jenis

penyakit degenerative dengan cara mencegah terjadinya proses peroksidasi lemak.

Selain itu kaktus pir buah (Opunti ficus-indica) mengandung pigmen betalain

yang berpotensi baik untuk pewarna makanan. Kaktus ini juga mengandung

sejumlah kecil mineral terutama kalsium, kalium, magnesium dan zat besi.7,22

Kaktus pir berduri (Opuntia ficus-indica) juga mengandung protein

molecular dengan massa 6,5 kDa dan setelah diisolasi menjadi kombinasi berupa

18
filtrasi gel kromatography dan melalui tahap HPLC. Selanjutnya terdapat 8 – 85%

w/w kandungan gula dan 0.98% w/w adalah pentosa. Kaktus pir berduri (Opuntia

ficus-indica) ini juga menghasilkan flavonoid (quercetin, dihydroquercetin, dan

quercetin 3-methyl, kaemferol). Laporan lain memperlihatkan bahwa tumbuhan

yang termasuk dalam famili Cactaceae mengandung flavonol 3-O-glycosides

(quercetin, kaemferol, dan isorhamnetin), dihydroflavonols, flavonones, dan

flavononols. Selain itu, kaktus pir buah (Opuntia ficus-indica) mengandung

pigmen betalain yang berpotensi baik untuk pewarna makanan. Selanjutnya, buah

kaktus pir berduri (Opuntia ficus-indica) juga mengandung askorbik acid;

Disamping mengandung askorbik acid ternyata terdapat juga kandungan berupa

organik acid yang diidentifikasi berupa maleik, malanok, succinik, tartarik dan

oxalik. Juga mengandung sejumlah besar vitamin B1, B6, vitamin E dan vitamin

A. Buah kaktus pir berduri (Opuntia ficus-indica) juga mengandung mineral,

kalsium, magnesium, sodium dan potassium, phosphorus, iron.7,23

Berikut ini beberapa zat kimia yang terdapat dalam buah kaktus pir berduri

(Opuntia ficus-indica):

a. Flavonoid

Flavonoid merupakan kelompok senyawa fenol yang terbanyak

ditemukan di alam. Senyawa ini umumnya ditemukan pada tumbuhan

yang berwarna merah, ungu, biru, atau kuning. Sebagian besar

senyawa flavonoid di alam ditemukan dalam bentuk glikosid.

Glikosida adalah kombinasi antara suatu gula dan suatu alkohol yang

saling berikatan melalui ikatan glokosida. Gula yang terikat pada

19
flavonoid cenderung menyebabkan flavonoid akan larut dalam pelarut

polar seperti etanol, methanol, butanol, aseton, dan air.

Flavonoid merupakan deretan senyawa C6-C3-C6 artinya kerangka

karbonya terdiri atas dua gugus C6 (cincin benzene) yang dihubungkan

oleh rantai alifatik tiga karbon.

Senyawa dari golongan flavonoid seperti quercetin dan kaemferol

dari beberapa bahan alam dilaporkan memiliki aktivitas antibakteri

yang mampu menghambat pertumbuhan bakteri Gram positif.

Mekanisme kerja flavonoid diduga mendenaturasi protein sel bakteri

dan merusak membran sel bakteri.

b. Betalain

Buah kaktus pir berduri (Opuntia ficus-indica) memiliki zat warna

berupa betalain yang berpotensi baik untuk digunakan sebagai pewarna

alami makanan. Betalain ini telah digunakan untuk pembuatan jus,

selai, sirup, dan jelly.

c. Vitamin B1, B6, vitamin A, dan Vitamin E

2.2.5 PEMANFAATAN

Bagian dari kaktus yang dimanfaatkan berupa batang dan buah, dapat

digunakan langsung baik secara tradisional maupun dalam bentuk ekstrak.

Eksudat atau getah daun yang keluar bila dipotong secara tradional dapat

digunakan langsung untuk penyembuhan luka luar. Sedangkan pada sari buah

tumbuhan kaktus penggunaanya dapat dimanfaatkan sebagai bahan makanan yang

20
dapat diolah, sebagai anti-oksidan dan anti-bakterial. Berikut penggunaan kaktus

pir berduri (Opuntia ficus-indica) secara luas antara lain:7

a. Penggunaan bahan tradisional

Buah kaktus pir berduri (Opuntia ficus-indica) telah banyak

digunakan oleh suku Meksiko sebagai bahan obat yang efektif

menyembuhkan luka bakar, luka karena terjatuh, edema, dan masalah

pencernaan. Tumbuhan ini mempunyai ekstrak alkohol yang memiliki

anti-inflamasi, hypoglycemic, dan aktivitas anti-viral. Selain itu juga,

di Meksiko batang pada buah berduri dijadikan sebagai obat

tradisional untuk menyembuhkan penyakit diabetes. Tumbuhan ini

juga dapat digunakan sebagai obat hyperlipedemy (kelebihan lemak

dalam darah) dan obesitas.

b. Aktivitasnya sebagai anti-inflammatory

Pada beberapa studi penelitian yang telah dilakukan,

memperlihatkan aktivitas analgesik dan anti-inflammatory pada genus

Opuntia yang kandungan analgesik dan anti-inflammatorynya berupa

ekstrak buah, lyophilized cladodes atau phytosterols dari ektrak buah

dan batangnya. Buah kaktus pir berduri (Opuntia ficus-indica)

mempunyai aktivitas anti-inflammantory yang cukup tinggi. Beta-

sitosterol didintifikasi sebagai zat anti-inflamasi yang diperoleh dari

ekstrak batang tumbuhan tersebut meskipun aktivitasnya terlihat

relative kurang dibandingkan dengan hydrocortisone.

c. Sebagai Neuroprotective

21
Buah kaktus pir berduri (Opuntia ficus-indica) dari hasil laporan

yang diperoleh mempunyai aktivitas neuroprotective yang utama

dalam melindungi sel-sel tubuh dari berbagai macam toksik. Buah

kaktus pir berduri (Opuntia ficus-indica) mengandung tiga jenis

flavonoid (quercetin, dihydroquercetin, dan quercetin 3-methyl) yang

berfungsi sebagai antioxidant yang aktif dalam perlindungan tubuh.

d. Anti-diabetes

Pada sebuah studi yang dilakukan mengenai “the nutritional value,

antioxidant activity and the effect of cactus pear (Opuntia ficus-

indica) fruit juice on biochemical parameters, enzyme activities and

lipid peroxidation in alloxan induced diabetic rats” menunjukkan

bahwa pemberian alloxan dapat menyebabkan diabetes. Dan

pemberian juice kaktus secara rutin dapat menurunkan alloxan

penyebab diabetes selama lima minggu secara bertahap dari glukosa,

kolsterol, kerati, dan lain-lain.

Dalam sebuah analisis medis di Meksiko memberikan bukti yang cukup

bahwa mengkonsumsi buah kaktus pir beduri (Opuntia ficus-indica) dapat

mengurangi serum kadar glukosa antara penderita diabetes dari 10 sampai 30

mg/dl pada 30 sampai 180 menit pasca mengkonsumsi buah kaktus pir berduri

(Opuntia ficus-indica) ini. Dan Mengkonsumsi buah kaktus pir berduri (Opuntia

ficus-indica) memberikan efek metabolik pada penderita diabetes.24

22
e. Anti-oxidant

Ekstrak dari buah kaktus pir berduri (Opuntia ficus-indica)

memiliki karakter dan kandungan dengan jumlah phenol yang sangat

tinggi, yang mana aktivitas dari fenol sendiri berupa antioksidan.

Antioksidan merupakan senyawa yang mampu menghambat oksidasi

molekul lain. Tubuh tidak mempunyai system pertahanan antioksidatif

yang berlebihan, sehingga jika terjadi paparan radikal berlebih, tubuh

memerlukan anti oksidan eksogen.

f. Ekstrak dari buah kaktus pir berduri (Opuntia ficus-indica) dapat

membantu dalam mengurangi kerusakan saraf yang disebabkan oleh

iskemia excitotoxic global.25

23
2.2.6 Kerangka Konsep

1. Anti Oksidant
2. Mineral
Kaktus Pir Berduri (Opuntia 3. Vitamin B1. B6 dan
ficus-indica) Vitamin A
4. D-glactose
5. Flavonoid

Uji Aktivitas Antibacteria

Penghambatan
Pertumbuhan
Streptococcus mutans

Ket: - Diteliti :

- Tidak diteliti :

Gambar 3 : Skema kerangka konsep

24