Anda di halaman 1dari 9

PENGAUDITAN I

Pengauditan dan Profesi Akuntan Publik

OLEH :

I Made Risky Prasetya (1707531087)

I Made Andika Wicaksana (1707531116)

PROGRAM STUDI AKUNTANSI REGULER


FAKULTAS EKONOMI DAN BISNIS
UNIVERSITAS UDAYANA
TAHUN AJARAN 2018/2019
1. Pengauditan dan Profesi Akuntan Publik
a. Definisi Auditing
Definisi audit yang sangat terkenal adalah definisi yang berasal dari ASOBAC
(A Statement of Basic Auditing Concepts) yang mendefinisikan auditing sebagai:
Suatu proses sistematik untuk menghimpun dan mengevaluasi bukti-bukti
secara obyektif mengenai asersi-asersi tentang berbagai tindakan akan kejadian
ekonomi untuk menentukan tingkat kesesuaian antara asersi-asersi tersebut
dengan kriteria yang telah ditentukan dan menyampaikan hasilnya kepada para
pemakai yang berkepentingan.
Definisi tersebut dapat diuraikan menjadi 7 elemen yang harus diperhatikan
dalam melaksanakan audit yaitu:
1) Proses yang Sistematik
Auditing merupakan rangkaian proses dan prosedur yang bersifat logis,
terstruktur, dan terorganisir.
2) Menghimpun dan mengevaluasi bukti secara obyektif
Auditor menghimpun bukti-bukti yang mendasari asersi-asersi yang
dibuat oleh individu maupun entitas, kemudian selanjutnya mengevaluasi
bukti-bukti yang diperoleh tersebut. Baik saat penghimpunan maupun
pengevaluasian bukti, auditor harus obyektif. Obyektif berarti
mengungkapkan fakta apa adanya yang senyatanya, tidak bisa atau tidak
memihak dan tidak berprasangka buruk terhadap individu atau entitas yang
membuat representasi berikut.
3) Asersi-asersi tentang berbagai tindakan dan kejadian ekonomi
Asersi merupakan suatu pernyataan, atau suatu rangkaian pernyataan
secara keseluruhan, oleh pihak yang bertanggung jawab atas pernyataan
tersebut. Untuk audit laporan keuangan historis, asersi merupakan pernyataan
manajemen melalui laporan keuangan sesuai dengan prinsip akuntansi yang
berlaku umum. Asersi-asersi meliputi informasi yang terkandung dalam
laporan keuangan, laporan operasi internal, dan laporan biaya maupun
pendapatan berbagai pusat pertanggungjawaban pada suatu perusahaan. Jadi,
asersi atau pernyataan tentang tindakan dan kejadian ekonomi merupakan
hasil proses akuntansi. Proses akuntansi merupakan proses pengidentifikasian,
pengukuran, dan penyampaian informasi ekonomi yang dinyatakan dalam
satuan uang.
4) Menentukan tingkat kesesuaian (degree of correspondence)
Menentukan tingkat kesesuaian asersi-asersi dapat diekspresikan dalam
bentuk kuantitatif maupun kualitatif. Bentuk kuantitatif contohnya prosentase
pencapaian penjualan bila dibandingkan dengan penjualan yang dianggarkan.
Bentuk kualitatif contohnya kewajaran laporan keuangan.
5) Kriteria yang ditentukan
Kriteria yang ditentukan merupakan standar-standar pengukuran untuk
mempertimbangkan (judgment) asersi-asersi atau representasi-representasi.
Kriteria tersebut dapat berupa prinsip akuntansi yang berlaku umum atau
Standar Akuntansi Keuangan, aturan-aturan spesifik yang ditentukan oleh
badan legislatif atau pihak lainnya, anggaran atau ukuran lain kinerja
manajemen.
6) Menyampaikan hasil-hasilnya
Hal ini berarti hasil-hasil audit dikomunikasikan melalui laporan tertulis
yang mengindikasikan tingkat kesesuaian antara asersi-asersi dan kriteria
yang telah dtentukan. Komunikasi hasil audit tersebut dapat memperkuat
ataupun memperlemah kredibilitas representasi atau pernyataan yang dibuat.
7) Para pemakai yang berkepentingan
Para pemakai yang berkepentingan merupakan para pengambil keputusan
yang menggunakan dan mengandalkan temuan-temuan yang diinformasikan
melalui laporan audit, dan laporan lainnya. Para pemakai tersebut meliputi
investor maupun calon investor di pasar modal, pemeganng saham, kreditor
maupun calon kreditor, badan pemerintahan, manajemen, dan publik pada
umumnya.
Selain definisi diatas, Auditing Practices Commitee (APC) mengemukakan
definisi auditing sebagai berikut:
An audit is the independent examination of and expression of opinion on, the
financial statement of an enterprise by an appointed auditor in pursuance of that
appointment and in compliance with any relevant statutory obligation.
Sedangkan menurut Miller dan Bailley:
An audit is a methodical review and objective examination of an item,
including the verification of specific information as determined by the auditor or
as established by general practice. Generally, the purpose of an audit is so express
an opinion on or reach a conclusion about what was audited.
Dari definisi-definisi di atas, dapat disimpulkan bahwa ada tiga elemen
fundamental dalam auditing, yaitu:
1) Independen
Auditor harus menjaga tingkat independensinya agar tetap memperoleh
kepercayaan dari pengguna yang telah memintanya untuk melakukan audit
atas laporannya.
2) Bukti
Informasi yang digunakan auditor untuk menetapkan apakah informasi
yang diaudit dinyatakan berdasarkan kreteria yang ditetapkan.
3) Laporan (Report)
Hasil pekerjaan auditor adalah laporan. Laporan merupakan tahap akhir
dalam proses audit dan merupakan pengkomunikasian temuan auditor dengan
pengguna laporan keuangan perusahaan. Audit report umumnya
menginformasikan tingkat kesesuaian antara informasi dengan kreteria yang
ditetapkan.
b. Profesi Akuntan Publik
Profesi adalah pekerjaan yang dilakukan sebagai nafkah hidup dengan
mengandalkan keahlian dan keterampilan yang tinggi dan dengan melibatkan
komitmen pribadi yang mendalam. Ada 3 syarat minimal agar suatu pekerjaan
dikatakan profesi:
1) Diperlukan pendidikan professional tertentu, biasanya setingkat S1 dan dapat
pula ditambah dengan pendidikan profesi.
2) Diperlukan suatu pengaturan terhadap diri pribadi yang didasarkan pada kode
etik profesi.
3) Diperlukan penelaahan dan atau ijin dari pengusaha (pemerintah)

Menurut aturan, izin untuk berpraktek sebagai akuntan public dapat diberikan
kepada mereka yang telah bersertifikat akuntan public (BAP). Untuk memperoleh
sertifikat tersebut, maka para akuntan harus mengikuti ujian sertifikasi akuntan
public (USAP) yang diselengarakan oleh IAI dau kali dalam setahun (mei dan
november) dengan materi ujian: (1) teori dan praktek akuntansi, (2) auditing dan
jasa prosfesional akuntan public, (3) akuntan manajemen dan manajemen
keuangan, (4) sistem informasi akuntansi, (5) perpajakan dan hukum komersial.

Timbul dan berkembangnya profesi akuntan publik sangat dipengaruhi


perkembangan perusahaan pada umumnya. Semakin berkembang perusahaan
pada umumnya, maka semakin berkembang profesi akuntan publik. Di negara
yang mayoritas perusahaan berbentuk perusahaan perseorangan, profesi akuntan
publik kurang berkembang dikarenakan laporan keuangan yang dihasilkan
biasanya digunakan oleh pemilik perusahaan untuk mengetahui hasil usaha dan
posisi keuangannya. Dengan demikian pihak luar kurang memerlukan audit
laporan keuangan yang dilakukan akuntan publik.

Sedangkan di negara yang terdapat banyak perusahaan berbentuk perseroan


terbatas yang bersifat terbuka profesi akuntan publik semakin dibutuhkan.
Perusahaan sangat membutuhkan informasi keuangan yang dapat dipercaya yang
dihasilkan manajemen. Akuntan publik dibutuhkan untuk menilai dapat atau tidak
dapat dipercayainya suatu laporan keuangan yang diberikan manajemen

Perkembangan selanjutnya adalah bahwa pihak luar seperti kreditur,


pemerintah, investor pasar modal, dan lainnya, juga memerlukan laporan
keuangan yang dapat dipercaya.

2. Hubungan Audit dengan Disiplin Ilmu yang Lainnya


Pemanfaatan teknologi informasi (IT) dalam audit semakin luas dan semakin
banyak perkatoran akuntan public yang menggunakan generalized audit sorftware
karena semakin meningkat produktivitas dalam menjalankan perkerjaan audit dengan
electronic working papers, sementara di pihak lain, system informasi yang diterapkan
klien dengan basis komputer yang memungkinkan perkerjaan audit dilaksanakan
secara online, akibatnya maanfaat audit yang diperoleh semakin cepat bagi orang
yang membutuhkan informasi. Untuk itu para auditor dalam memberikan advis
kepada klien diarea informasi ini diharapkan memiliki kemampuan :
a. Memahami nilai strategis system informasi.
b. Memahami aktifitas utama klien dalam menciptakan nilai tambah.
c. Memberikan alternative tindakan untuk menciptakan nilai yang lebih besar
dengan bantuan (TI) mengdentifikasi, memanajemen, dan mengembangkan
sumber daya organisasi agar memberikan nilai tambah yang lebih besar.
Auditing, suatu disiplin ilmu yang terkait tetapi terpisah dari akuntansi. Auditing
adalah suatu proses dimana pemeriksa independen memeriksa laporan keuangan suatu
organisasi untuk memberikan suatu pendapat atau opini, yang masuk akal tapi tidak
dijamin sepenuhnya mengenai kewajaran dan kesesuiannya dengan prinsip akuntansi
yang berterima umum. Berdasarkan pernyataan mengenai definisi auditing, dapat kita
hubungkan antara akuntansi dan auditing. Dua ilmu ini saling terkait satu sama lain,
Secara umum hubungan antara auditing dan accounting dapat dijelaskan sebagai
berikut, Accounting adalah suatu proses menghasilkan data dan informasi dalam
bentuk Financial Statement. Sedangkan Auditing adalah suatu proses mengevaluasi
informasi dan menghasilkan kesimpulan (opini / rekomendasi) yang membandingkan
antara fakta dan kriteria. Tahapan dalam audit terjadi setelah tahapan akuntansi selesai
dilaksanakan, karena dalam melakukan audit di perlukan Laporan Keuangan yang
merupakan hasil akhir dari proses akuntansi. Proses Akuntansi bersifat konstruktif,
diawali dengan mengumpulkan bukti pembukuan (bukti – bukti transaksi), bukti
pembukuan dicatat dalam bentuk Special Journal (Jurnal Penjualan, Jurnal
Pembelian, Jurnal Penerimaan Kas, dan Jurnal Pengeluaran Kas).
Setelah semua transaksi dicatat pada masing – masing kolom Special Journal,
Tiap – tiap jurnal dicatat dalam General Ledger, dan dilakukan penyesuaian pada
transaksi yang memerlukan penyesuaian. Melalui transaksi yang telah disesuaikan
dapat diperoleh Trial Balance yang terdiri atas Aktiva dan Passiva dari suatu
perusahaan. Tahap selanjutnya adalah pembuatan Worksheet, kemudian diperoleh
Financial Statement (Laporan Keuangan) yang akan menjadi bahan bukti untuk
melakukan audit. Financial Statement yang dihasilkan dari proses akuntansi, akan
mengalami tahap audit. Audit terhadap Laporan Keuangan diperlukan karena, (1) Ada
potensi konflik antara penyedia informasi dengan pengguna informasi, (2) Informasi
mempunyai konsekuensi ekonomi yang sangat penting bagi business maker, (3)
Keahlian sering menghendaki informasi disajikan dan diverifikasi, (4) User sering
tercegah mempunyai hubungan langsung dengan informasi. Dalam melakukan audit
harus sesuai dengan Standar Auditing yang telah ditetapkan seperti standar umum,
kerja lapangan dan standar pelaporan.
3. Perkembangan Audit
Profesi Auditorsi di Indonesia masih tergolong baru. Pada masa penjajahan
Belanda, jumlah perusahaan di Indonesia belum begitu banyak, sehingga Auditorsi
dengan sendirinya hampir tidak dikenal. Perusahaan-perusahaan milik Belanda yang
beroperasi di Indonesia pada waktu itu, mengikuti model pembukuan seperti yang
berlaku di negaranya. Situasi seperti itu berlangsung hingga Indonesia merdeka.
Auditorsi baru mulai dikenal di Indonesia setelah tahun 1950-an, yaitu ketika semakin
banyak perusahaan didirikan dan Auditorsi sistem Amerika mulai dikenal, terutama
melalui pendidikan di perguruan tinggi.
Perkembangan Auditorsi di Indonesia terjadi pada tahun 1973, yaitu ketika Ikatan
Auditor Indonesia (IAI) menetapkan Prinsip-prinsip Auditorsi Indonesia (PAI) dan
Norma Pemeriksaan Auditor (NPA). Selain itu perkembangan yang terjadi dalam
dunia perbankan sejak tahun 1988 semakin menuntut dilakukannya audit atas laporan
keuangan bagi perusahaan-perusahaan yang akan mengajukan permohonan kredit ke
bank. Pada tahun 1995 lahir Undang-undang Perseroan Terbatas yang mewajibkan
suatu perseroan terbatas menyusun laporan keuangan dan jika perseroan merupakan
perusahaan publik, maka laporan keuangannya wajib diaudit oleh Auditor publik.
Pada tahun yang sama Undang – Undang Pasar modal pun lahir juga.
Seiring perkembangan perusahaan di Indonesia, IAI telah banyak melakukan
penyempurnaan peraturan yang berlaku di Indonesia. Yang mana Indonesia saat itu
berkibalat pada peraturan yang dibuat oleh Amerika Serikat. Pada tahun 1994 IAI
melakukan penyusunan ulang prinsip Auditorsi dan standar audit yang disebut
Standar Auditorsi Keuangan (SAK) dan Standar Profesional Auditor Publik (SPAP).
Sejalan dengan itu Dewan Standar Auditorsi yang dibentuk IAI secara terus menerus
menerbitkan Pernyataan Standar Auditorsi Keuangan (PSAK.
Seperti terjadi di Amerika Serikat seratus tahun lalu, fungsi pengauditan di
Indonesia memasuki abad ke-21 ini masih belum dipahami masyarakat. Banyak
kesalahpahaman yang terjadi atas laporan auditor, karena fungsi audit tidak dipahami
dengan benar. Maka dari itu Pemerintah mulai memperkenalakan Auditorsi mulai dari
SMA dan pengenalan Audit dilakukan di Perguruan Tinggi.
4. Peran Audit dalam Suatu Negara
a. Menambah Kredibilitas laporan keuangannya sehingga laporan tersebut dapat
dipercaya untuk kepentingan pihak luar entitas seperti pemegang saham,
kreditor, pemerintah, dan lain-lain.
b. Mencegah dan menemukan fraud yang dilakukan oleh manajemen perusahaan
yang diaudit.
c. Memberikan dasar yang dapat lebih dipercaya untuk penyiapan Surat
pemberitahuan Pajak yang diserahkan kepada pemerintah.
d. Membuka pintu bagi masuknya sumber- pembiayaan dari luar.
e. Menyingkap kesalahan dan penyimpangan moneter dalam catatan keuangan.
f. Memberikan tambahan kepastian yang independen tentang kecermatan dan
keandalan laporan keuangan.
g. Memberikan dasar yang independen kepada mereka yang bergerak di bidang
hukum untuk mengurus harta warisan dan harta titipan, menyelesaikan masalah
dalam kebangkrutan dan insolvensi, dan menentukan pelaksanaan perjanjian
persekutuan dengan cara semestinya.
h. Memegang peranan yang menentukan dalam mencapai tujuan Undang-Undang
Keamanan Sosial.
REFERENSI

Abdul Halim. 2001. Auditing 1 : Dasar Dasar Audit Laporan Keuangan.


Ed 2. UPP-AMP YKPN. Yogyakarta

Mulyadi. 2002. Auditing Buku 1 Edisi 6. Salemba Empat. Jakarta.