Anda di halaman 1dari 21

LAPORAN PENDAHULUAN

GOUT ARTRITIS
Di susun Untuk Memenuhi Tugas Mata Kuliah Keperawatan Gerontik

Disusun oleh :
1. Pipit Widowati P1337420216091
2. Yuga Nurwinantu P1337420216092
3. Maryunah P1337420216093
4. Nurul Okty P. P1337420216094
5. Yunita Pangesti P1337420216095
6. Syah Amri Yahya P1337420216096
7. Arindita Inke Putri O. P1337420216098

Tingkat : III C

Dosen Pengampu : Taat Sumedi, S.Kep. NS. MH

PROGRAM STUDI D III KEPERAWATAN PURWOKERTO


POLITEKNIK KESEHATAN SEMARANG KEMENTRIAN
KESEHATAN REPUBLIK INDONESIA

2018
GOUT ARTRITIS

A. DEFINISI
Gout Artritis adalah Suatu sindrom yang mempunyai gambaran khusus,
yaitu artritis akut yang banyak pada pria daripada wanita (Helmi, 2011). Gout
merupakan terjadinya penumpukan asam urat dalam tubuh dan terjadi
kelainan metabolisme purin. Gout merupakan kelompok keadaan
heterogenous yang berhubungan dengan defek genetik pada metabolisme
purin (hiperurisemia) (Brunner dan Suddarth, 2012). Gout Artritis adalah
suatu penyakit metabolik yang merupakan salah satu jenis penyakit reumatik
dimana pembentukan asam urat tubuh yang berlebihan atau penurunan
ekskresi asam urat (Arif, 2010).

Gout Artritis adalah sekelompok penyakit yang terjadi akibat deposit


kristal monosodium urat di jaringan. Deposit ini berasal dari cairan ekstra
seluler yang sudah mengalami supersarurasi dari hasil akhir metabolisme
purin yaitu asam urat(Aru W.Sudoyo. 2009).

Penyakit gout adalah penyakit akibat gangguan metabolisme purin yang


ditandai dengan hiperurisemia dan serangan sinovitis akut berulang-ulang.
Kelainan ini berkaitan dengan penimbunan kristal urat monohidrat
monosidium dan pada tahap yang lebih lanjut terjadi degenerasi tulang rawan
sendi. Insiden penyakit gout sebesar 1-2%, terutama terjadi pada usia 30-40
tahun dan 20 kali lebih sering pada pria daripada wanita. Penyakit ini
menyerang sendi tangan dan bagian metatarsofalangeal kaki (Muttaqin,
2008).

Jadi dapat disimpulkan Gout Artritis (asam urat) adalah suatu penyakit
gangguan metabolik dimana tubuh tidak dapat mengontrol asam urat sehingga
terjadi penumpukan asam urat yang menyebabkan rasa nyeri pada tulang dan
sendi.

Menurut Ns. Arif Muttaqin, S.Kep (2008) klasifikasi gout dibagi menjadi
dua yaitu :

1. Gout Primer
Gout primer dipengaruhi oleh faktor genetik. Terdapat
produksi/sekresi asam urat yang berlebihan dan tidak diketahui
penyebabnya.

2. Gout Sekunder

Gout sekunder dapat disebabkan oleh dua hal yaitu produksi asam
urat yang berlebihan dan sekresi asam urat yang berkurang.

B. ETIOLOGI

Penyebab utama terjadinya gout adalah karena adanya


deposit/penimbunan kristal asam urat dalam sendi. Penumbunan asam urat
sering terjadi pada penyakit dengan metabolisme asam urat abnormal dan
kelainan metabolik dalam pembentukan purin dan ekskresi asam urat yang
kurang dari ginjal. Beberapa faktor lain yang mendukung, seperti :

1. Faktor gnetik seperti gangguan metabolisme purin yang menyebabkan


asam urat berlebihan (hiperuricemia), retensi asam urat, atau keduanya.

2. Penyebab sekunder yaitu akibat obesitas, diabetes mellitus, hipertensi,


gangguan ginjal yang akan menyebabkan pemecahan asam yang dapat
menyebabkan hiperuricemia.

3. Karena penggunaan obat-obatan yang menurunkan ekskresi asam urat


seperti aspirin, diuretic, levodopa, diazoksid, asam nikotinat, aseta
zolamid dan etambutol.

4. Mengonsumsi makanan yang mengandung kadar purin yang tinggi


adalah jeroan yang dapat ditemukan pada hewan misalnya sapi, kambing
dan kerbau.

C. PATOFISIOLOGI

adanya gangguan metabolisme purin dalam tubuh, intake bahan yang


mengandung asam urat tinggi dan sistem ekskresi asam urat yang tidak
adekuat akan menghasilkan akumulasi asam urat yang berlebihan di dalam
plasma darah (Hiperurecemia), sehingga mengakibatkan krostal asam urat
menumpuk dalam tubuh. Penimbunan ini menimbulkan iritasi lokal dan
menimbulkan respon inflamasi.

Saat asam urat menjadi bertumpuk dalam darah dan cairan tubuh lain,
maka asam urat tersebut akan mengkristal dan akan membentuk garam-garam
urat yang akan berakumulasi atau menumpuk di jaringan konektif diseluruh
tubuh, penumpukan ini disebut tofi. Adanya kristal akan memicu respon
inflamasi akut dan netrofil melepaskan lisosomnya. Lisosom tidak hanya
merusak jaringan, tapi juga menyebabkan inflamasi.

Pada penyakit gout akut tidak ada gejala-gejala yang timbul. Serum urat
meningkat tapi tidak akan menimbulkan gejala. Lama kelamaan penyakit ini
akan menyebabkan hipertensi karena adanya penumpukan asam urat pada
ginjal.

Serangan akut pertama biasanya sangat sakit dan cepat memuncak.


Serangan ini meliputi hanya satu tulang sendi. Serangan pertama ini sangat
nyeri yang menyebabkan tulang sendi menjadi lunak dan terasa panas, merah.
Tulang sendi metatarsophalangeal biasanya yang paling pertama terinflamasi,
kemudian mata kaki, tumit, lutut, dan tulang sendi pinggang. Kadang-kadang
gejalanya disertai dengan demam ringan. Biasanya berlangsung cepat tetapi
cenderung berulang dan dengan interval yang tidak teratur.

Periode interkritical adalah periode dimana tidak ada gejala selama


serangan gout. Kebanyakan pasien mengalami serangan kedua pada bulan ke-
6 sampai 2 tahun setelah serangan pertama. Serangan berikutnya disebabkan
dengan polyarticular yang tanpa kecuali menyerang tulang sendi kaki maupun
lengan yang biasanya disertai dengan demam. Tahap akhir serangan gout atau
gout kronik ditandai dengan polyarthritis yang berlangsung sakit dengan tofi
yang besar pada kartilago, membran sinovial, tendon dan jaringan halus. Tofi
terbentuk di jari, tangan, lutut, kaki, ulnar, helices pada telinga, tendon achiles
dan organ internal seperti ginjal. Kulit luar mengalami ulcerasi dan
mengeluarkan pengapuran, eksudat yang terdiri dari kristal asam urat.
D. PATHWAY
E. MANIFESTASI KLINIS
Tanda dan gejala yang khas pada penderita gout adalah (Ika Puspitasari
2010)

1. Nyeri pada satu atau bebrapa sendi dimalam hari, makin lama makin
memburuk.

2. Pada sendi yang bengkak, kulit kemerahan hingga keunguan, kencang,


licin dan hangat.

3. Demam, menggigil, tidak enak badan, pada beberapa penderita terjadi


peningkatan denyut jantung.

4. Bila benjolan kristal di sendi pecah akan keluar massa seperti kapur.

5. Kadar asam urat dalam darah tinggi.

F. KOMPLIKASI

Komplikasi yang sering terjadi akibat gout arthritis adalah :

1. Erosi, deformitas dan ketidakmampuan aktivitas karena inflamasi


kronis dan trofi yang menyebabkan degenerasi sendi.

2. Hipertensi dan albuminaria.

3. Kerusakan tubuler ginjal yang menyebabkan gagal ginjal kronik.

G. PEMERIKSAAN PENUNJANG

Pemeriksaan yang dilakukan mecangkup evaluasi manifestasi lokal


seperti rasa sakit, eritema, tenderness, pembengkakan dan pembatasan gerak
dan juga memeriksa setiap manifestasi sistemik, penyebab percepatan
penyakit tersebut, serangan sebelumnya, dan riwayat keluarga mengenai gout
(encok).
Studi diagnostik mencangkup peningkatan kadar asam urat serum z9lebih
besar dari 7,5 mg/dl), analisa cairan sendi yaitu adanya kristal urat
monosodium dan ESR serta WBC selama serangan. Pemeriksaan radiologi
dapat dilakukan untuk mengetahui kondisi lain dan dapat menunjukkan
adanya edema jaringan lunak dan tofus.

1. Serum asam urat

Umumnya meningkat, diatas 7,5 mg.dl. Pemeriksaan ini


mengindikasikan hiperuricemia, akibat peningkatan produksi asam urat atau
gangguan ekskresi.

2. Angka leukosit

Menunjukkan peningkatan yang signifikan mencapai 20.000/mm³ selama


serangan akut. Selama periode asimtomatik angka leukosit masig dalam batas
normal yaitu 5000 - 10.000/mm³.

3. Eusinofil Sedimen Rate (ESR)

Meningkat selama serangan akut. Peningkatan kecepatan sedimen rate


mengindikasikan proses inflamasi akut, sebagai akibat deposit asam urat di
persendian.

4. Urin spesimen 24jam

Urin dikumpulkan dan diperiksa untuk menentukan produksi dan


ekskresi dan asam urat. Jumlah normal seorang mengekskresikan 250 - 750
mg/24 jam asam urat di dalam urin. Ketika produksi asam urat meningkat
maka level asam urat urin meningkat. Kadar kurang dari 8000 mg/24 jam
mengindikasikan gangguan ekskresi pada pasien dengan peningkatan serum
asam urat. Intruksikan pasien untuk menampung semua urin dengan peses
atau tisu toilet selama waktu pengumpulan. Biasanya diet purin normal
direkomendasikan selama pengumpulan urin meskipun diet bebas purin pada
waktu itu diindikasikan.
5. Analisis cairan aspirasi dari sendi yang mengalami inflamasi akut atau material
aspirasi dari sebuah tofi menggunakan jarum kristal urat yang tajam, memberikan
diagnosis definitif gout.

6. Pemeriksaan radiografi

Dilakukan pada sendi yang terserang, hasil pemeriksaan akan


menunjukkan tidak terdapat perubahan pada awal penyakit, tetapi setelah
penyakit berkembang progresif maka akan terlihat jelas/area terpukul pada
tulang yang berada di bawah sinovial sendi.

H. PENATALAKSANAAN

Penatalaksanaan keperawatan adalah kombinasi pengistirahatan sendi


dan terapi makanan/diit.

Pengistirahatan sendi meliputi pasien harus disuruh untuk meninggikan


bagian yang sakit untuk menghindari penahanan beban dan tekanan yang
berasal dari alas tempat tidur dan memberikan kompres dingin untuk
mengurangi rasa sakit.

Terapi makanan mencakup pembatasan makanan dengan kandungan


purin yang tinggi, alkohol serta pengaturan berat badan.Perawat harus
mendorong pasien untuk minum 3 liter cairan setiap hari untuk menghindari
pembentukan kalkuli ginjal dan perintahkan untuk menghindari salisilat.

Asupan protein perlu dibatasi karena dapat merangsang biosintesis asam


urat dalam tubuh.Pola diet yang harus diperhatikan adalah :

1. Golongan A ( 150 - 1000 mg purin/ 100g ) : Hati, ginjal, otak, jantung,


paru, jerohan, udang, remis, kerang, sardin, herring, ekstrak daging, ragi
(tape), alkohol, makanan dalam kaleng dan lain-lain.
2. Golongan B ( 50 - 100 mg purin/ 100g ) : Ikan yang tidak termasuk gol.A,
daging sapi, kacang-kacangan kering, kembang kol, bayam, asparagus,
buncis, jamur, daun singkong, daun pepaya, kangkung.

3. Golongan C ( < 50mg purin/ 100g ) : Keju, susu, telur, sayuran lain, buah-
buahan.

4. Bahan makanan yang diperbolehkan :

a) Semua bahan makanan sumber karbohidrat, kecuali havermout


(dalam jumlah terbatas).

b) Semua jenis buah-buahan.

c) Semua jenis minuman, kecuali yang mengandung alcohol.

d) Semua macam bumbu.

5. Bila kadar asam urat darah >7mg/dL dilarang mengkonsumsi bahan


makanan gol.A, sedangkan konsumsi gol.B dibatasi.

6. Batasi konsumsi lemak.

7. Banyak minum air putih


KONSEP ASUHAN KEPERAWATAN

A. PENGKAJIAN

1. Identitas
Nama, umur, jenis kelamin, agama, suku bangsa, pekerjaan, pendidikan,
status perkawinan, alamat, Tgl MRS, No. Reg., dx medis.

2. Riwayat Penyakit

a) Keluahan Utama

Nyeri disertai pembengkakan dan kemerahan dari sendi yang sakit


(terutama pada sendi metatarsofalongeal) pertama dari ibu jari.

b) Riwayat Penyakit Sekarang


P : Provokatif / Pallatif / Penyebab
Kaji penyebab
Q : Quantitas / Quantitas Nyeri
Kaji seberapa sering px menyerangiai, tindakan apa yang dapat
menyebabkan nyeri.
R : Regional / area yang sakit
Sering mengenai sendi dipangkal ibu jari kaki, pergelangan kaki,
lutut, pergelangan tangan dan sikut.
S : Severtity / Tingkat Keparahan
Kaji derajat nyeri px
- demam - menggigil
T : Time
Kapan keluhan dirasakan ?

3. Riwayat Penyakit Dahulu


Kaji dan tanyakan pada klien apakah sebelumnya klien pernah mengalami
penyakit yang sama seperti saat ini ?
4. Riwayat Penyakit / Kesehatan Keluarga

a) Apakah ada anggota keluarga yang pernah menderita penyakit yang


sama dengan klien ?

b) Apakah ada anggota keluarga yang menderita penyakit serius yang


lain seperti (HT, DM, TB, Pneumonia, dll.)

5. Riwayat Psikologis Spiritual

a) Psikologi : Tanyakan kepada klien apakah bisa menerima penyakit


yang dideritanya ?

b) Sosial : Bagaimana interaksi klien terhadap lingkungan di Rumah


Sakit dan apakah klien bisa beradaptasi dengan klien yang lain ?

c) Spiritual : Apakah klien tetap beribadah dan melaksanakan


ibadahnya menurut agamanya ?

6. Pemenuhan Kebutuhan

a) Pola Nutrisi
Makan : Pada umumnya pasien gout artritis diberikan diit rendah putin
pantangan makanan kaya protan.
Minum : Kaji jenis dan frekuensi minum sesuai dengan indikasi

b) Pola Eliminasi
BAK : Kaji frekwensi, jumlah, warna dan bau.
BAB : Kaji frekwensi, konsistensi dan warna

c) Pola Aktivitas
Biasanya pasien gout artritis pada saat melakukan aktivitas mengalami
keterbatasan tentang gerak, kontrktur / kelainan pada sendi.

d) Istirahat tidur
Kaji pola kebiasaan pasien pada saat istirahta tidur dirumah maupun di
rumah sakit.
e) Personal Hygiene
Kaji kebiasaan pasien dalam kebiasaan diri. (Mandi, gosok gigi, cuci
tangan, kebersihan rambut, dll.)

7. Pemeriksaan Fisik

a) Keadaan umum

b) TTV

c) Kesadaran

d) GCS

8. Pemeriksaan Persistem

a) Otot, Tulang, integumen


Otot, tulang

1) Mengalami atrofi pada otot.

2) Kontraktur / kelainan pada sendi.

b) Integumen

1) Kaji tumor kulit.

2) Kulit tampak merah, keunguan, kencang, licin, teraba hangat pada


waktu sendi membengkak.

c) Pulmonaile
1) Kaji bentuk dada, frekwensi pernafasan. Apakah ada nyeri tekan.
2) Dan apakah ada kelainan pada bunyi nafas.

d) Cardiovaskuler
1) Inspeksi : terjadi distensi vena
2) Palpasi : Takhikardi
3) Auskultasi : Apakah ada suara jantung normal S1 dan S2 tunggal
e) Abdomen
Pada penderita Gout Artritis biasanya terjadi anoreksia dan konstipasi.
f) Urologi
Hampir pada 20 % penderita Gout Artritis memiliki batu ginjal.
g) Muskuluskeletal
1) Ukuran sendi normal dengan mobilitas penuh bila pada remisi.
2) Tofi dengan gout kronik, ini temuan paling bermakna. Tofi adalah
pembesaran jaringan permanen diakibatkan dari deposit kristal urat
natrium, dapat terjadi dimana saja pada tubuh tetapi umum ditemukan
pada sendi sinovial, bursa alecranon dan vertebrate.
3) Laporan episode serangan gout adalah nyeri berdenyut, berat dan tak
dapat ditoleransi.
h) Reproduksi
Biasanya mengalami gangguan pada saat melakukan aktivitas sexual
akibat kekauan sendi.

B. ANALISA DATA

Analisa data disebut juga pengolahan data dan penafsiran data. Analisa
data adalah rangkaian kegiatan penelaahan, pengelompokan, sistematis,
penafsiran dan verifikasi data agar sebuah fenomena memiliki nilai social,
akademis dan ilmiah. Kegiatan dalam analisis data adalah : mengelompokkan
data berdasarkan variabel dan enis responden, menyajikan data tiap variabel
yang diteliti, melakukan perhitungan untuk menjawab rumusan masalah dan
melakukan perhitungan untuk menjawab rumusan masalah dan melakukan
perhitungan untuk menguji hipotesis, langkah terakhir tidak dilakukan.

Tujuan analisa menurut Sofian Effendi dalam bukunya Metode Penelitian


Survei (1987 : 231) adalah menyederhanakan data dalam bentuk yang lebih
mudah dibaca dan diinterpretasi.
C. DIAGNOSA KEPERAWATAN

1. Kerusakan mobilitas fisik yang berhubungan dengan nyeri dan


keterbatasan gerak sendi
2. Gangguan pola tidur yang berhubungan dengan nyeri / sekunder terhadap
fibrositas.
3. Risiko tinggi terhadap isolasi sosial yang berhubungan dengan kesulitan
ambulasi dan keletihan
4. Kurangnya defisit perawatan diri yang berhubungan dengan keterbatasan
sekunder terhadap penyakit.
5. Kurangnya defisit perawatan diri yang berhubungan dengan keterbatasan
sekunder terhadap penyakit.

D. INTERVENSI

1. Kerusakan mobilitas fisik yang berhubungan dengan nyeri dan keterbatasan


gerak sendi
Tujuan :
Kriteria Hasil :
a. Adanya dan tingkat nyeri.
b. Fungsi dan mobilitas sendi :
1) Keterbatasan pada rentang gerak.
2) Adanya deformitas.
c. Kekuatan Otot
Intervensi :
a. Berikan penghilang nyeri sesuai kebutuhan.
Rasional : Nyeri dapat berperan dalam menurunkan mobilitas.
b. Berikan dorongan kepatuhan pada program latihan yang ditentukan, yang
dapat meliputi latihan berikut :
1) Rentang gerak
2) Penguatan otot
3) Ketahanan
Rasional : Program latihan teratur meliputi aktivitas rentang gerak, isometrik
dan aerobik tertentu dapat membantu mempertahankan integritas fungsi sendi.
c. Berikan dorongan untuk melakukan latihan yang sesuai denga tingkat
aktivitas penyakit.
Rasional : Selama periode inflamasi akut, individu dapat mengimbolisasi sendi
pada posisi yang paling nyaman.
2. Gangguan pola tidur yang berhubungan dengan nyeri / sekunder terhadap
fibrositas.
Kriteria Hasil :
a. Kebutuhan Tidur yang lazim, pola, terbangun pada malam hari.
b. Adanya nyeri pada malam hari.
c. Adanya fibrositis sekunder, ditandai oleh :
1) Kesulitan mempertahankan tidur atau tidur non restoratif.
2) Karakteristik titik tubuh nyeri tekan setempat.
Intervensi :
a. Dorong klien untuk mandi dengan air hangat / pancur sebelum tidur, juga
mungkin bermanfaat mandi pancur pada pagi-pagi untuk mengurangi kekakuan
pagi.
Rasional : Air hangat meningkatkan sirkulasi sendi yang emngalami inflamasi
dan merilekskan otot
b. Dorong pelaksanaan ritual menjelang tidur. Misal : aktivitas hygiene,
membaca atau minum hangat.
Rasional : Ritual menjelang tidur membantu meningkatkan relaksasi dan
menyiapkan tidur.
c. Lakukan tindakan penghilang nyeri sebelum tidur distraksi dan relaxsasi.
Rasional : Klien dengan penyakit inflamasi sendi sering mengalami gejala yang
memburuk pada malam hari.
d. Anjurkan posisi sendi yang tepat :
1) Bantal untuk posisi ekstremitas.
2) Bantal servikal
Rasional : Posisi tepat dapat membantu mencegah nyeri selama tidur dan
terjaga.
3. Risiko tinggi terhadap isolasi sosial yang berhubungan dengan kesulitan
ambulasi dan keletihan
Kriteria Hasil :
a. Pola sosial ini dan sebelumnya.
a. Perubahan yang diantisipasi, keinginan terhadap suatu peningkatan.
Intervensi :
a. Dorong px untuk mengungkapkan perasaan dan mengevaluasi pola
sosialisasinya.
Rasional : klien yang dapat menentukan apakah ola sosialisasinya memuaskan
atau tidak.
b. Diskusikan keuntungan menggunakan waktu luang untuk mempercayai diri
(Membaca / membuat kerajinan tangan).
Rasional : Aktivitas hiburan dapat membuat seseorang lebih tertarik pada orang
lain.
c. Hindari menonton televisi berlebihan.
Rasional : Selain pendidikan dokumenter, TV mendorong partisipasi pasif dan
biasnaya tidak menantang intelektual.
d. Identifikasi hambatan utnuk kontak sosial.
1) Kurang transportasi
2) Nyeri
3) Penurunan mobilitas.
Rasional : Masalah mobilitas umumnya menghambat mobilisasi, tetapi banyak
kesulitan yang berkaitan dapat diatasi dengan perencanaan.
4. Kurangnya defisit perawatan diri yang berhubungan dengan keterbatasan
sekunder terhadap penyakit.
Kriteria Hasil :
a. Kebutuhan akan dan kemampuan untuk menggunakan alat bantu.
b. Besarnya ketidakmampuan pada aktivitas perawatan diri bisa teratasi.
Intervensi :
a. Rujuk ke terapi akupasi untuk instruksi teknik penghematan energi dan
penggunaan alat bantu.
Rasional : Terapi akupasi dapat memberikan instruksi khusus dan bantuan lebih
lanjut.
b. Berikan privasi dan lingkungan kondusif untuk melakukan setiap aktivitas.
Rasional : Lingkungan yang nyaman, aman, dapat menurunkan ansietas dan
meningkatkan kemampuan perawatan diri.
c. Jadwalkan aktivitas untuk memberikan periode istirahat adekuat.
Rasional : Kelelahan menurunkan motivasi untuk aktivitas perawatan diri.
d. Jelaskan keterbatasan bahan rujukan swa.bantu sepertii dari Yayasan
Rematik.
Rasional : Meningkatkan swa.bantu untuk meningkatkan harga diri.
5. Kurangnya defisit perawatan diri yang berhubungan dengan keterbatasan
sekunder terhadap penyakit.
Kriteria Hasil :
a. Untuk meningkatkan pengetahuan px tentang atau pengalaman kondisi
artritis baik pribadi atau saudara, teman : perasaan beban dan pertanyaan.
b. Membantu kesiapan dan kemampuan px dan keluarga px untuk belajar dan
menyerap informasi.
Intervensi :
a. Jelaskan tentang artritis inflamasi menggunakan alat bantu. Pengajaran yang
sesuai dengan tingkat pengertian px dan keluarga px tentang :
1) Proses inflamasi
2) Fungsi dan Struktur sendi
3) Penyakit kronis alamiah
Rasional : Untuk menekankan pengertian yang baik terhadap proses penyakit
dan tindakan yang dilakukan klien utnuk mengatasi gejala dan meminimalkan
dampak.
b. Ajarkan klien untuk menggunakan obat yang diresepkan dengan tepat dan
untuk segera melaporkan gejala efek samping.
Rasional : Mentaati jadwal dapat membantu mencegah fluktuasi kadar obat
dalam darah yang dapat menurunkan efek samping.
c. Jelaskan penggunaan modalitas tindakan lain seperti :
1) Penggunaan pemanas atau pendingin lokal.
2) Alat bantu
3) Latihan
Rasional : Cedera dapat menurunkan mobilitas lebih jauh dan motivasi untuk
melanjutkan terapi
d. Jelaskan hubungan stress pada penyakit inflamasi. Diskusikan tentang teknik
penatalaksanaan stress :
1) Relaksasi pronfesik
2) Bimbingan imajinasi
3) Latihan teratur.
Rasional : Penggunaan efektif teknik penatalaksanaan stress dapat membantu
meminimalkan efek stress pada proses penyakit.
e. Pertegas pentingnya perawatan tindak lanjut rutin.
Rasional; : Perawatan tindak lanjut dapat mengidentifikasi dini komplikasi dan
membantu mengurangi ketidakmampuan karena disuse.

E. EVALUASI

Tahapan evaluasi menentukan kemajuan pasien terhadap pencapaian hasil


yang diinginkan dan respon pasien terhadap keefektifan intervensi
keperawatan kemudian mengganti rencana perawatan jika diperlukan, tahap
akhir proses keperawatan.

Jika tujuan tidak tercapai maka perlu dikaji ulang letak kesalahannya,
dicari jalan keluarnya, kemudian catat apa yang ditemukan, serta apakah perlu
dilakukan perubahan intervensi (Tarwono, 2010).
DAFTAR PUSTAKA

Lukman, Ningsih, Nurna. 2009. Asuhan Keperawatan Pada Klien Dengan

Gangguan Sistem Muskuloskeletal. Jakarta : Salemba Medika.

Muttaqin, Arif. 2008. Buku Aajar Asuhan Keperawatan Klien Gangguan

Muskuloskeletal. Jakarta : EGC.

Puspitasari, Ika.2010. Jadi Dokter Untuk Diri Sendiri. Bandung:Miazan Utama

Price, Sylvia.A. 2006. Patofisiologi : Konsep Klinis Proses-proses Penyakit.

Ed.6 .Jakarta : EGC.

Suratun. 2008. Asuhan Keperawatan Klein Gangguan Sistem Muskuloskeletal.

Jakarta : EGC.

Wilkinson, Judith. Buku Saku DIAGNOSIS KEPERAWATAN. Jakarta : Penerbit

Buku Kedokteran EGC, 2006