Anda di halaman 1dari 17

BAB I

PENDAHULUAN

Jamur merupakan agen infeksi yang mempunyai sifat dimorfisme yang

tidak dimiliki bakteri yaitu kemampuan di alam berbentuk hifa yaitu struktur

bercabang seperti ranting (bentuk vegetatif), sedangkan di dalam jaringan hospes

berbentuk bulat atau oval uniseluler (bentuk ragi). Jamur yang bersifat dimorfisme

ini dapat berubah bentuk sehingga menyulitkan sistem pertahanan tubuh untuk

menanggulanginya. Dinding jamur yang terdiri atas lapisan polisakarida sebagai

kapsulnya dan chitin yang terdiri dari N. acetyl glucosamine menyebabkan jamur

sulit di basmi oleh sistem imun nonspesifik. Interaksi antara jamur dan respon

imun tubuh menetukan timbulnya penyakit jamur. Sistem imunitas yang berperan

dalam infeksi jamur secara garis besar dibagi atas dua golongan yaitu imunitas

bawaan ( innate immunity ) bersifat non spesifik dan imunitas didapat yang

spesifik ( acquired immunity ) berupa respon humoral dan seluler.1

Pada infeksi jamur, yang pertama berperan adalah imunitas nonspesifik,

bila sistem ini gagal, maka sistem imunitas didapat yang spesifik baru bertindak.

Infeksi jamur dermatofit yang mengenai kulit, rambut dan kuku disebut

dermatofitosis.1

Yang termasuk dalam kelompok jamur dermatofitosis ini adalah

Microsporum, Tricophyton dan Ephidermopyiton yang senang dengan jaringan

yang mangandung karatin seperti kulit, rambut dan kuku karena dermatofit
mempunyai enzim keratinase sehinga mampu menghancurkan keratin yang

digunakan untuk pertumbuhan.2

Tinea pedis atau sering disebut athelete foot adalah dermatofitosis pada

kaki, terutama pada sela-sela jari dan telapak kaki. Tinea pedis adalah

dermatofitosis yang biasa terjadi. Penggunaan istilah athlete foot digunakan untuk

menunjukan bentuk jari kaki yang seperti terbelah. Untuk prevalensinya di

Amerika Serikat, tinea pedis diperkirakan menjadi penyakit kulit kedua terbanyak

setelah jerawat. Di Eropa dan Asia Timur, prevalensi tinea pedis diperkirakan

sebesar 20%. Sementara di Spanyol, prevalensi tinea pedis adalah sebesar 2,9%

(4,2% untuk laki-laki dan 1,7% untuk perempuan). Prevalensi lebih tinggi pada

ras yang tinggal di daerah tropis. Udara yang panas, kelembapan tinggi,

penggunaan sepatu yang sempit serta bekerja di tempat yang basah seperti ibu

rumah tangga dan petani mempermudah terjadinya infeksi.7

BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

A. Definisi Tinea Pedis


Berbagai jenis jamur dapat berkembang biak di kulit, istilah medisnya

adalah dermatomikosis yaitu semua penyakit jamur yang menyerang kulit.

Sedangkan dermatofitosis merupakan penyakit yang disebabkan oleh golongan

jamur dermatofita. Dermatofitosis adalah salah satu kelompok jamur

dermatomikosis superficialis yang disebabkan oleh jamur dermatofit, dan

merupakan reaksi pejamu terhadap produk metabolit jamur dan karena invasi

oleh suatu organisme pada jaringan tubuh.

Tinea pedis atau sering disebut athelete foot adalah dermatofitosis pada

kaki, terutama pada sela-sela jari dan telapak kaki. Tinea pedis adalah

dermatofitosis yang biasa terjadi. Penggunaan istilah athlete foot digunakan

untuk menunjukan bentuk jari kaki yang seperti terbelah. 2

B. Epidemiologi

Hampir semua orang dalam populasi umumnya terkena jamur yang

menyebabkan Tinea pedis. Sistem kekebalan tubuh masing-masing orang

menentukan apakah hasil infeksi dari eksposur tersebut. Sebagai orang usia

dewasa, retak kecil berkembang di kulit kaki, meningkatkan kerentanan

terhadap infeksi tinea.4 Prevalensi Tinea pedis sekitar 10%, terutama

disebabkan oleh oklusif alas kaki.8

Indonesia termasuk wilayah yang baik untuk pertumbuhan jamur,

sehingga dapat ditemukan hampir di semua tempat. Insidensi penyakit jamur

yang terjadi di berbagai rumah sakit pendidikan di Indonesia pun bervariasi

antara 2,93%-27,6%. Meskipun angka ini tidak menggambarkan populasi


umum, namun secara keseluruhan prevalensi tinea pedis sekitar 10%, biasanya

berhubungan dengan pemakaian sepatu tertutup. Tinea pedis jarang ditemui

pada anak-anak. Insiden lebih tinggi pada orang yang menggunakan fasilitas

umum seperti tempat pemandian umum, shower, dan kolam renang. Insidensi

tinea pedis juga meningkat jika ada hiperhidrosis dan sela jari yang sempit.

C. Etiologi dan Patogenesis

Tinea pedis disebabkan oleh Trichophyton rubrum (umumnya),

Trichophyton mentagrophytes, Epidermophyton floccosum. Namun, penyebab

utama dari setiap pasien rumit dengan adanya jamur saprofit, ragi dan /bakteri.

Karakteristik dari T.rubrum menghasilkan jenis yang relatif tidak ada

peradangan dari dermatofitosis dengan eritema kusam dan sisik keperakan

yang melibatkan seluruh telapak kaki dan sisi kaki menampilkan moccasin.

Erosi juga terbatas pada infeksi jamur pada jari kaki atau bawah jari kaki,

kadang-kadang bersisik dan meluas sampai pada badan, gluteus, dan extremiti.

Individu dengan imun yang rendah mudah terkena infeksi, HIV/AIDS,

transplantasi organ, kemoterapi, steroid dan nutrisi parenteral diakui dapat

menurunkan resistansi pasien terhadap infeksi dermatofitosis. Kondisi seperti

umur, obesitas, diabetes melitus juga mempunyai dampak negatife terhadap

kesehatan pasien secara keseluruhan dan dapat menurunkan imunitas dan

meningkatkan terjadinya tinea pedis. Diabetes melitus itu sendiri dikategorikan

sebagai penyebab infeksi, pasien dengan penyakit ini 50% akan terkena infeksi

jamur. Secara histologi, hiperkeratotis tinea pedis memiliki karakteristi berupa


akantosis, hiperkeratosis, dan infiltrasi perivaskular yag dangkal, kronik dan

dapat menyebar pada dermis. Bentuk vesicle-bula menampilkan spongiosis,

parakeratosis, dan subkornea atau spongiosis intraepitel vesiculasi dengan

kedua tipe, foci dari neutrofil biasanya dapat dilihat pada daerah stratum

korneum. 3

Patogenesis dermatofita memiliki 3 step:15

1. Adherence/pengikatan. Fungi selalu mempunyai hambatan dalam proses

infeksinya, fungi harus resisten terhadap sinar UV, tahan terhadap berbagai

temperatur dan kelembaban, kompetisi dengan flora normal kulit, sphingosine

yang di hasilkan oleh keratinosit. Asam lemak yg diproduksi oleh glandula

sebasea bersifat fungistatik (menghambat pertumbuhan jamur). Mulainya

diproduksi asam lemak pada anak anak post-pubertas.

2. Penetrasi setelah fase adherence, spora akan tumbuh dan memasuki stratum

korneum dengan kecepatan yang lebih cepat dari waktu deskuamasi epidermis.

Penetrasi juga di dukung dengan keluarnya enzim proteinase, lipase dan

musinolitik yang juga membantu dalam pembuatan nutrisi fungi. Trauma dan

maserasi merupakan faktor penting dalam memudahkan penetrasi fungi

terutama pada kasus tinea pedis. Fungal mannans yang ada di dinding sel

dermatofita juga dapat menurunkan poliferasi sel keratinosit. Pertahanan

terbaru pada lapisan epidermis yang lebih dapat tercapai diantaranya

berkompetisi dengan besi dan juga penghambatan pertumbuhan jamur oleh

progesteron.
3. Development a host response/respon host. Proses inflamasi yang terjadi sangat

tergantung dari sistem imun host dan juga oleh jenis organisme. Beberapa

fungi dapat menghasilkan faktor kemotaktik dengan berat molekul rendah

seperti yang dihasilkan bakteri. Antibodi tidak terlihat pada infeksi dermatofita,

tetapi hanya menggunakan jalur reaksi hipersensitivitas tipe IV. Infeksi yang

sangat ringan sering hanya menimbulkan inflamasi yang ringan juga, pertama

muncul berupa eritema dan scale / skuama yang menandakan terjadinya

peningkatan pergantian keratinosit(keratinocyte turnover). Antigen dermatofit

diproses oleh sel langerhans epidermis dan dipresentasikan di nodus limpa

lokal menuju ke limfosit T. Kemudian limfosit T mengalami poliferasi dan

bermigrasi ke lokasi untuk membunuh jamur dan pada waktu ini lesi menjadi

mendadak inflamasi. Oleh sebab ini barier epidermal menjadi permeable

terhadap transferin dan migrasi sel.

D. Faktor Predisposisi
Faktor – faktor predisposisi tinea pedis secara garis besar dibagi menjadi dua :
 Faktor Host
1. Imunosupresan; kemoterapi, obat imunosupresif (steroid), HIV/AIDS
2. Diabetes Mellitus tidak terkontrol
3. Obesitas
4. Umur
 Faktor Lokal
1. Trauma
2. Menggunakan baju yang ketat atau sepatu yang tertutup dalam waktu

yang lama
3. Mandi di tempat publik dan berenang di tempat publik
4. Keadaan kaki yang lembab dan basah
5. Keadaan sosial ekonomi yang rendah serta kurangnya kebersihan
6. Durasi lama kerja dan lama terpapar air
Faktor durasi lama kerja dan lama terpapar air merupakan faktor yang rentan

terkena tinea pedis karena waktu paparan yang semakin panjang dan semakin

lama terpapar akan menyebabkan penyakit kulit yang antara lain tinea pedis.

Faktor kelembaban dan basah biasanya menjadi faktor utama penyakit jamur pada

kaki. Hal ini terjadi karena kaki pada kalangan pekerja cuci mobil dan motor

selalu basah dan menggunakan sepatu yang tertutup terus menerus dan kurang

dijaga kebersihannya sehingga rentan terkena tinea pedis.5

E. Gejala Klinis
1. Interdigitalis
Tinea pedis yang tersering dilihat adalah bentuk interdigitalis.

Diantara jari IV dan V terlihat fisura yang dilingkari sisik halus dan

tipis. Kelainan ini dapat meluas ke bawah jari (subdigital) dan juga

ke sela jari yang lain. Oleh karena daerah ini lembab, maka sering

dilihat maserasi. Aspek klinis maserasi berupa kulit putih dan

rapuh. Bila bagian kulit yang mati ini dibersihkan, maka akan

terlihat kulit baru, yang pada umumnya juga telah diserang oleh

jamur. Bentuk klinis ini dapat berlangsung bertahun – tahun

dengan menimbulkan sedikit keluhan atau tanpa keluhan sama

sekali. Pada suatu ketika kelainan ini dapat disertai infeksi

sekunder oleh bakteri sehingga terjadi selulitis, limfangitis,

limfadenitis, dan dapat pula terjadi erysipelas, yang disertai gejala

gejala umum.
Tinea pedis interdigitalis. Maserasi dan terdapat opaque putih dan beberapa erosi

Tinea pedis pada bagian bawah jari kaki.


2. Moccasin foot (Hiperkeratotik)
- Tipe ini biasanya bilateral berupa bercak atau skuamasi difus pada

telapak kaki, punggung kaki, aspek medial, dan lateral kiri.


- Penyebab utama adalah T. Rubrum dengan vesikel kecil-kecil,

meninggalkan skuama kolaret dengan diameter kurang dari 2 mm.


- Eritema bervariasi
- Umumnya terjadi tinea manus unilateral (two feet-one hand

syndrome)
Tinea pedis. Terdapat distribusi tipe moccasin. Bentuk arciform dari sisik yang

merupakan karakteristik

3. Vesiculo bulosa
- Diakibatkan karena T.mentagrophytes
- Diameter vesikel lebih besar dari 3mm
- Vesikel pustul atau bula pada kulit tipis ditelapak kaki dan area

periplantar

Gambar 4. Tinea pedis


tipe bulosa. Vesicle
pecah, bula, eritema, dan
erosi pada bagian
belakang dari ibu jari
- kaki.
4. Tipe ulserative akut
- Mempengaruhi telapak kaki dan terkait dengan maserasi,

penggundulan kulit
- Ko infeksi bakterial ganas biasanya dari garam negative kombinasi

dengan T.mentagrophytes menghasilkan vesikel pustule dan ulcer

bernanah yang besar pada permukaan plantar

Tinea pedis tipe akut ulcerasi

F. Diagnosis
Diagnosis dari tinea pedis biasanya dilakukan secara klinikal dan

berdasarkan examinasi dari daerah yang terinfeksi. Diagnosis yang digunakan

biasanya dengan cara kulit dikerok untuk preparat KOH, biopsi skin, atau

kulture dari daerah yang terinfeksi. 4


1. KOH
Hasil preparat KOH biasanya positive di beberapa kasus dengan

maserasi pada kulit. Pada pemeriksaan mikroskop KOH dapat

ditemukan hifa septate atau bercabang, arthrospore, atau dalam

beberapa kasus, sel budding menyediakan bukti infeksi jamur.


KOH: Tampak hifa dan spora (mikrokonidia)

2. Kultur
kultur dari tinea pedis yang dicurigai dilakukan SDA(sabouraud’s

dextrose agar), pH asam dari 5,6 untuk media ini menghambat banyak

spesies bakteri dan dapat dibuat lebih selektif dengan penambahan

suplemen kloramfenikol. Ini dapat selesai 2-4 minggu. Dermatophyte

test medium (DTM) digunakan untuk isolasi selektif dan mengenali

jamur dermatofitosis adalah pilihan lain diagnostik, yang bergantung

pada indikasi perubahan warna dari oranye ke merah untuk

menandakan kehadiran dermatofit.


Pemeriksaan kultur dengan SDA

3. Pemeriksaan histopatologi
Karakteristik dari tinea pedis atau tinea manum adalah adanya

akantosis, hiperkeratosis dan celah (infiltrasi perivaskuler

superfisialis kronik pada dermis).

Pemeriksaan histopatologi
G. Penatalaksanaan
Penyakit tinea pedis sering kambuh sehingga untuk menghindari faktor

risiko seperti hindari pemaparan dengan air dalam waktu yang lama, gunakan

sepatu yang mempunyai ventilasi yang bagus, hindari memakai sepatu


tertutup, sepatu sempit, yang digunakan sepanjang hari, usahakan selama

pemakaian sepatu dan kaus kaki harus selalu kering, dianjurkan

menggunakan kaus kaki berbahan wool karena dapat menjaga kulit kaki agar

tetap kering serta membuat kaki lebih nyaman, serta tidak bertelanjang kaki

atau selalu memakai sandal saat ke kamar mandi maupun keluar rumah

sehingga dapat menghindari tertularnya dengan penderita tinea pedis maupun

kontak dengan jamur tinea pedis. Menjaga kaki agar tetap kering dan bersih

merupakan metode terbaik untuk pencegahan, mengeringkan sepatu,

mengganti kaus kaki, menggunakan bedak, menggosokan alkohol setelah

mandi dapat membantu mencegah terjadinya infeksi kulit kaki akibat jamur.
Obat – obat anti jamur dapat diberikan secara topikal (dioles), ada pula

yang tersedia dalam bentuk oral (diminum). Jenis obat luar (salep) seringkali

digunakan jika lesi kulit tidak terlalu luas. Salep harus dioleskan pada kulit

yang telah bersih, setelah mandi atau sebelum tidur selama dua minggu,

meskipun lesinya telah hilang. Tanda dan gejala (seperti kemerahan, gatal dan

rasa panas) dapat diobati dengan kombinasi steroid/krim anti jamur. Steroid

tidak selalu diberikan, hanya diberikan jika terdapat gejala inflamasi.

Contoh obat yang dapat diberikan :

Obat Topikal

Golongan Nama Obat Dosis Lama


Pemakaian
Klotrimazol krim 1% 2 kali sehari 2-4 minggu
Ekonazol krim 1% 2 kali sehari 2-4 minggu
Mikonazol krim 1% 2 kali sehari 2-4 minggu
Ketokonazol krim 1% 1-2 kali 4-6 minggu

sehari
Azol-imidazol Bifonazole krim 1% 1 kali sehari 3 minggu
Tiokonazol krim 1% 2 kali sehari 6 minggu
Alilamin/benzil Naftifin hydrochloride 1 kali sehari 1 minggu

amin krim 1%
Anti jamur Terbinafin 1% 1-2 kali 1-2 minggu

topikal lain sehari


Haloprogin krim 1% 2 kali sehari 2-4 minggu
Tolnaftat Tolnaftat krim 1% 2-3 kali 7.21ari

sehari

Obat Oral

Golongan Nama Obat Dosis Lama Pemakaian


Anti Jamur Terbinafin 250 mg/hari 2-4 minggu

golongan lain
Itraconazole 400 mg/hari 1 minggu–1

Azol-imidazol bulan
Fluconazole 200 mg/hari 4-8 minggu
Griseofulvin Griseofulvin 0,5 g/hari 4-6 bulan
H. Prognosis
 Quo ad vitam : ad Bonam.
 Quo ad functionam : ad Bonam.
 Quo ad sanationam : ad Bonam.
Tetapi dapat menimbulkan kekambuhan jika tidak mengikuti anjuran

pencegahan.

I. Pencegahan
Memberikan penjelasan kepada pasien mengenai pentingnya kebersihan

pada kaki, menjaga kaki tetap kering , membersikan kuku kaki, menggunakan

sepatu yang pas dan kaos kaki kering dan bersih, serta menggunakan sandal

atau flip-flop pada tempat mandi umum atau kolam renang dapat mencegah

terjadinya tinea pedis. Diagnosis yang tepat serta pengobatan terhadap pasien

yang menderita diabetes mellitus, HIV, trasplantasi organ penting untuk

pencegahan infeksi tinea pedis. 4

BAB III
KESIMPULAN

Tinea pedis merupakan infeksi dermatofita pada kaki terutama mengenai

sela jari dan telapak kaki. Penyakit ini lebih sering dijumpai pada laki-laki usia

dewasa dan jarang pada perempuan dan anak-anak. Keadaan lembab dan hangat
pada sela jari kaki karena bersepatu dan berkaos kaki disertai berada di daerah

tropis yang lembab mengakibatkan pertumbuhan jamur makin subur. Jamur

penyebab tinea pedis yang paling umum ialah Trichophyton rubrum (paling

sering), T. interdigitale, T. tonsurans (sering pada anak) dan Epidermophyton

floccosum.

Gambaran klinis dapat dibedakan berdasarkan tipe interdigitalis,

moccasion foot, lesi vesikobulosa, dan tipe ulseratif. Pemeriksaan penunjang yang

dapat dilakukan adalah pemeriksaan KOH dan pemeriksaan lampu Wood dan

ditemukan adanya hifa double counture, dikotomi dan bersepta. Diagnosis

banding dapat berupa dermatitis kontak, pemfolix, psoriasis, dan hiperhidrosis

pada kaki. Penatalaksanaan disesuaikan berdasarkan tipe tinea pedis. Pengobatan

dapat berupa antifungal topikal maupun oral dan apabila ditemukan infeksi

sekunder maka indikasi penggunaan antibiotik. Salah satu pencegahan terhadap

reinfeksi tinea pedis yaitu menjaga agar kaki tetap dalam keadaan kering dan

bersih, hindari lingkungan yang lembab dan pemakaian sepatu yang terlalu lama.

DAFTAR PUSTAKA

1. Kurniati, C.R., Jurnal Etiopatogenesis Dermatofitosis. 2008. Vol. 20. No.3


2. Djuanda A. Ilmu penyakit kulit dan kelamin. 6thedition. Jakarta; Fk-UI.,2013
3. Chamlin L Sarah, Lawley P Leslie. Fitzpatrick’s Dermatology in General

Medicine. Tinea Pedis. 7th edition.2. New York; McGraw-Hill Medicine 2008;

697
4. Claire J. Carlo, MD. Patricia MacWilliams Bowe, RN, MS. Tinea

pedis(Athlete’s Foot)
5. Kumar V, Tilak R, Prakash P, Nigam C, Gupta R. Asian journal of medical

science. Tinea Pedis, 2011; p134- 135


6. Berth-jones J. Rook’s Textbook of Dermatology. Mycology. 8th edition.1.

Cambridge; Wiley-Balckwell, 2010;p 36.30-36.32


7. Abbas Ali Mansour dan Khalil I Hamdi. (2007). Tinea Pedis Among

Diabetics in Basrah: prevalence and predictors. Journal of Chinese

Clinical Medicine 2, 9.
8. Wolff K, Goldsmith L, Katz S, Gilchrest B, Paller AS, Leffell D. Fitzpatrick’s

Dermatology in General Medicine, 8th Edition. 2011


9. Khaliq Ariba, et al. What is the Prognosis of Athlete’s Foot or Tinea Pedis.

2011 [cited 2017 Jul 20]; Available from:

http://www.onlymyhealth.com/what-prognosis-athlete-foot-tinea-pedis-

12977611234
10. Kartowigno, Soenarto. 2012. Sepuluh Besar Kelompok Penyakit Kulit Edisi

Kedua. Palembang: Unsri Pers