Anda di halaman 1dari 8

PENGAUDITAN I

STANDAR AUDIT

OLEH :

I Made Risky Prasetya (1707531087)


I Made Andika Wicaksana (1707531116)

PROGRAM STUDI AKUNTANSI REGULER


FAKULTAS EKONOMI DAN BISNIS
UNIVERSITAS UDAYANA
TAHUN AJARAN 2018/2019
1. Standar Umum
Standar umum nerhubungan dengan kualifikasi auditor dan kualitas pekerjaan auditor.
Standar umum terdiri atas tiga buah standar, yaitu :
a. Keahlian dan pelatihan cukup sebagai Auditor
Dalam melaksanakan audit untuk sampai pada suatu pernyataan pendapat,
auditor harus senantiasa bertindak sebagai seorang ahli dalam bidang akuntansi dan
bidang auditing.Pencapaian keahlian tersebut dimulai dengan pendidikan formalnyayang
di perluas melalui pengalaman selanjutnya dalam praktik audit. Untuk memenuhi
persyaratan sebagai seorang profesional, Audtor harus menjalani pelatiha teknis yang cukup.
Pelatiahan ini harus cukup mencakup aspek tehknis maupun pendidikan umum. Asisten
junior yang baru masuk kedalam karir auditing harus memperoleh pengalaman
profesionalnya dengan supervisi yang memadai dan review atas pekerjaannya dari
atasannya yang lebih berpengalaman. Akuntan publik yang bertanggung jawab atas
suatu penugasan, harus menggunakan pertimbangan matang dalam setiap tahap
pelaksanaan supervisi dan dalam review terhadap hasil pekerjaan dan pertimbangan
yang dibuatasistennya.
b. Independen dalam sikap mental
Kompetensi saja tidaklah cukup. Auditor harus bersikap independen. Artinya tidak
mudah di pengaruhi, karena ia melaksanakan pekerjaan untuk kepentingan umum. Dengan
demikian ia tidak di benarkan memihak kepada kepentingan siapapun, sebab bilamana tidak
demikian halnya, bagaimanapun sempurnanya keahlian tehnik yan ia miliki, ia akan
kehilangan sikap tidak memihak yang justru sangat penting untuk mempertahankan
kebebasan pendapatnya. Namun independensi dalam hal ini tidak berarti sebagaimana
sikap seorang penuntut dalam perkara pengadilan, tetapi lebih dapat disamakan dengan
sikap tidak memihaknya seorang hakim. Auditor mengakui kewajaran tidak hanya dari
sudut manajemen dan pemilik perusahaan tetapi juga dari sudut krediturdan pihak lain
yang meletakkan kepercayaan atas laporan auditor.
c. Menggunakan Kemahiran Jabatan dengan Cermat dan Seksama
Kecermatan dan keseksamaan menekankan tanggung jawab setiap petugas audit yang
bekerja pada suatu kantor akuntan publik untuk mendalami standar pekerjaan lapangan dan
standar pelaporan sebaik baiknya. Penerapan kecermatan dan keseksamaan diwujudkan
dengan dilakukannya review secara kritis pada setiap supervisi terhadap pelaksanaan
audit dan terhadap pertimbangan yang digunakan oleh mereka yang membantu audit.
Kecermatan dan keseksamaan menyangkut apa yang di kerjakan auditor dan
bagaimana kesempurnan pekerjaanya. Misalnya, kecermatan dan keseksamaan dalam
hal kertas kerja audit mengharuskan bahwa isinya cukup menunjang pendapat yang di
berikan oleh auditor dan penyajiannya harus mengikuti pedoman yang tercantum dalam
standar auditing.
2. Standar Pekerjaan Lapangan
a. Pekerjaan harus direncanakan sebaik-baiknya dan jika digunakan asisten harus
disupervisi dengan semestinya
b. Pemahaman yang memadai atas struktur pengendalian intern harus diperoleh untuk
merencanakan audit dan mentukan sifat, saat, dan lingkup pengujian yang akan
dilakukan.
c. Bukti audit kompeten yang cukup harus diperoleh melalui inspeksi, pengamatan,
pengajuan pertanyaan, dan konfirmasi sebagai dasar memadai untuk menyatakan
pendapat atas laporan keuangan auditan.

Seperti tersirat dari namanya, standarini terutama berhubungan dengan pelaksanaan


audit di tempat bisnis klien atau di lapangan. Standar ini juga terdiri dari 3 butir standar
yang intinya dalah sebagai berikut :

a. Perencanaan dan Supervisi


Agar supaya audit dapat berjalan dengan efisien dan efektif, makaaudit harus
direncanakan dengan sebaik-baiknya. Perencanaan audit meliputi pengembangan
strategi menyeluruh pelaksanaan dan lingkup audit yang diharapkan. Sifat, luas, dan
saat perencanaan bervariasi sesuai dengan ukuran kompleksitas satuan usaha,
pengalaman mengenai usaha, dan pengetahuan tentang bisnis satuan usaha.
Supervise mencakup pengalaman usaha asisten yang terkait dalam pencapaian
tujuan audit dan penentuan apakah tujuan tersebut tercapai. Unsur supervisi adalah
memberikan instruksi kepada asisten, meriview pekerjaan yang dilaksanakan, dan
menyelesaikan perbedaan pendapat di antarastafaudit kantor akuntan. Luasnya
supervise yang memadai bagi suatu keadaan tergantung pada banyak faktor, termasuk
kompleksitas masalah dan kualifikasi orang yang melaksanakan audit.

b. Pemahaman atas Struktur Pengendalian Intern


Struktur pengendalian intern pada perusahaan klien merupakan faktor penting
dalam suatu audit. Sebagai contoh, apabila struktur pengendalian intern pada
perusahaan klien dirancang dengan baik dan dilaksanakan secara efektif akan
mengamankan asset klien dan menghasilkan data yang dapat dipercaya. Sebaliknya,
apabila pengendalian tidk efektif akan memungkinkan terjadinya penyelewengan dan
penyalah gunaan kekayaan perusahaan dan melahirkan informasi keuangan yang tidak
bisa dipercaya. Oleh karena itu sangatlah penting bagi auditor untuk memahami
struktur pengendalian intern agar dapat merencanakan audit yang efektif dan efisien.

c. Mendapatkan Bukti Audit Kompeten yang Cukup


Tujuan akhir dari standar pekerjaan lapangan adalah agar auditor memperoleh
dasar yang layak (reasonable basis) untuk menyatakan suatu pendapat tentang laporan
keuangan klien. Untuk memenuhi standar ini diperlukan pertimbangan professional,
baik dalam menentukan jumlah (cukup) maupun kualitas (kompeten) bukti yang
diperlukan untuk mendukung pendapat auditor.
Sebagian besar pekerjaan akuntan public dalam rangka memberikan pendpat
atas laporan keuangan terdiri dari usaha untuk mendapatkan dan mengevaluasi bukti
audit. Ukuran keabsahan (validitas) bukti tersebut untuk tujuan audit tergantung pada
pertimbangan auditor. Dalam hal ini bukti audit berbeda dengan bukti hukum yang
diatur secara tegas oleh peraturan yang ketat. Bukti audit sangat bervariasi pengaruhnya
terhadap kesimpulan yang ditarik oleh auditor dalam rangka memberikan pendapat atas
laporan keuangan yang diauditnya. Ketepatan sasaran, obyektivitas, ketepatan waktu
dan perbedaan bukti audit lain yang menguatkan keimpulan, seluruhnya perpengaruh
terhadap kompetensi bukti.
3. Standar Pelaporan
Standar pelaporan terdiri dari empat poin diantaranya :
a. Laporan audit harus menyatakan apakah laporan keuangan telah disusun sesuai dengan
prinsip akuntansi yang berlaku umum.
Standar pelaporan audit ini tidak mengharuskan auditor menyatakan tentang
fakta (statement of fact), tetapi mewajibkan auditor untuk memberikan pernyataan atau
pendapat mengenai penyusunan laporan keuangan apakah sudah dilaksanakan dan
disajikan sesuai dengan prinsip akuntansi yang berlaku secara umum. Prinsip akuntansi
yang berlaku secara umum (generally accepted accounting principles) ini mencakup
konvensi, aturan dan prosedur yang dibutuhkan untuk membatasi praktik akuntansi
yang berlaku secara umum pada wilayah dan waktu tertentu.
b. Hasil laporan auditor harus menunjukkan atau menyatakan, jika ada ketidakkonsistenan
penerapan prinsip akuntansi dalam penyusunan laporan keuangan periode berjalan
dibandingkan dengan penerapan prinsip akuntansi tersebut dalam periode sebelumnya.

Standar ini disebut juga standar konsistensi, yang bertujuan untuk memberikan
jaminan bahwa jika daya banding laporan keuangan diantara kedua periode secara
material oleh perubahan prinsip akuntansi. Maka auditor akan mengungkapkan
perubahan yang terjadi dalam pelaporannya. Caranya adalah menambahkan paragraf
penjelasan diparagraf pendapat.

c. Pengungkapan informatif dalam pelaporan keuangan harus dipandang memadai,


kecuali dinyatakan lain dalam laporan auditor.

Auditor harus dapat memastikan beberapa hal tertentu yang diungkapkan


sehubungan dengan keadaan serta fakta-fakta yang diketahui saat dilaksanakan audit.
Auditor dapat mempertimbangkan pengungkapan melalui informasi yang diterima oleh
kliennya atas dasar kepercayaan bahwa seorang auditor akan merahasiakan informasi
tersebut. Auditor harus dapat mempertanggungjawabkan dan mempertahankan
kepercayaan tersebut kaarena akan sulit untuk memperoleh informasi yang diperlukan
untuk menyatakan pendapatnya atas laporan keuangan.

d. Laporan auditor harus memuat pernyataan pendapat mengenai laporan keuangan secara
menyeluruh atau suatu asersi bahwa pernyataan yang demikian tidak bisa diberikan.
Apabila pendapat dari keseluruhan tidak bisa diberikan maka alasannya harus
dinyatakan, laporan auditor harus menyajikan petunjuk yang jelas tentang pekerjaan
audit yang berhasil dilaksanakan. Standar pelaporan ini bertujuan untuk mencegah
kesalahan penafsiran tingkat tanggungjawab oleh akuntan bila dikaitkan dengan
laporan keuangan. Apabila seorang akuntan menyerahkan hasil laoran keuangan yang
dibuat/disusunnya kepada pihak lain maka akuntan tersebut dianggap terkait dengan
laporan keuangan meskipun akuntan tidak menuliskan namanya pada dokumen/laporan
tersebut.
4. Hubungan standar auditing dengan standar yang lainnya
a. GAAS dan Pernyataan Standar Audit (PSA)
Kesepuluh standar audit yang berlaku umum (GAAS) masih terlalu umum
untuk memberikan pedoman yang berarti, sehingga auditor menggunakan PSA, yang
diterbitkan DSPAP sebagai pedoman yang lebih khusus. PSA menginterpretasikan
kesepuluh standar audit yang berlaku umum dan merupakan referensi paling
terotorisasi yang tersedia bagi auditor. Pernyataan tersebut memiliki status GAAS dan
sering kali disebut sebagai standar audit atau GAAS, meskipun bukan bagian dari
kesepuluh standar audit yang berlaku umum. Standar audit yang berlaku umum dan
PSA dianggap sebagai literature terotorisasi, dan setiap anggota yang melakukan audit
atas laporan keuangan historis diharuskan mengikuti standar-standar ini menurut kode
etik IAPI. DSPAP mengeluarkan pernyataan baru bila timbul permasalahan audit yang
cukup penting hingga layak mendapat interpretasi resmi.
b. GAAS dan Standar Kinerja
Walaupun GAAS dan PSA merupakan pedoman audit yang terotorisasi bagi
anggota profesi, keduanya memberikan lebih sedikit arahan kepada audit ketimbang
yang dapat diasumsikan. Hampir tidak ada prosedur audit spesifikasi yang disyaratkan
oleh standar-standar itu, dan tidak ada persyaratan khusus bagi keputusan auditor,
seperti menentukan ukuran sampel, memilih item sampel dari populasi untuk diuji,
atau mengevaluasi hasil. Banyak praktisi yang percaya bahwa standar-standar tersebut
harus memberikan pedoman yang didefinisikan secara lebih jelas untuk menentukan
jumlah bukti yang harus dikumpulkan. Spesifikasi semacam itu akan menghilangkan
beberapa keputusan audit yang sulit dan menyediakan garis pertahanan bagi KAP
yang dituduh melakukan audit yang tidak memadai. Akan tetapi, persyaratan yang
sangat spesifik dapat mengubah audit menjadi pengumpulan bukti yang mekanitis
tanpa pertimbangan professional. Dari sudut pandang profesi dan pemakai jasa audit,
bahayanya mungkin jauh lebih besar jika pedoman terotorisasi didefinisikan terlalu
spesifik ketimbang terlalu luas. GAAS dan PSA dipandang oleh para praktisi sebagai
standar minimum kinerja dan bukan sebagai standar maksimum atau yang ideal. Pada
saat yang sama, keberadaan standar audit tidak berarti bahwa auditor harus selalu
mengikutinya dengan membabi buta. Jika auditor percaya bahwa persyaratan standar
tidak praktis atau tidak mungkin dilakukan, maka auditor dibenarkan untuk mengikuti
standar alternative. Demikian pula, jika masalahnya tidak bernilai signifikan, juga
tidak perlu mengikuti standar. Akan tetapi, beban untuk menunjukkan alasan yang
membenarkan penyimpanan dari standar itu berada di pundak auditor. Apabila
menginginkan pedoman yang lebih spesifik, auditor harus melihat sumber-sumber
yang kurang terotorisasi, termasuk buku teks, jurnal, dan publikasi teknis. Bahan-
bahan yang dipublikasikan oleh IAPI, seperti pedoman audit industri, menyediakan
bantuan untuk menyelesaikan masalah tertentu
REFRENSI

Jusup, Al. Haryono (2001). Pengauditan. Buku 1. Yogyakarta: Bagian Penerbitan STIE YKPN
Abdul halim 2001. Auditing 1 : dasar-dasar audit laporan keuangan. Ed.2, Upp-AMP YKPN,
Yogyakarta