Anda di halaman 1dari 49

1

BAB 1
PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang Perusahaan


PT Wijaya Karya (Persero) Tbk didirikan berdasarkan Undang-undang No.19
tahun 1960 Peraturan Pemerintah No.64 tahun 1961 tentang Pendirian Perusahaan
Negara/PN “Widjaja Karja” tanggal 29 Maret 1961. Berdasarkan Peraturan
Pemerintah No.64 ini pula, perusahaan bangunan bekas milik Belanda yang bernama
Naamloze Vennootschap Technische Handel Maatschappij en Bouwbedrijf Vis en Co.
yang telah dikenakan nasionalisasi, dilebur ke dalam PN Widjaja Karja. Berdasarkan
Peraturan Pemerintah No.40 tanggal 22 Juli 1971, PN. Widjaja Karja dinyatakan bubar
dan dialihkan bentuknya menjadi Perusahaan Perseroan (PERSERO) yang dinamakan
dengan “PT Wijaya Karya”, berdasarkan Akta Perseroan Terbatas No.110 tanggal 20
Desember 1972 yang dibuat di hadapan Dian Paramita Tamzil, Notaris di Jakarta
Juncto Akta Perubahan Naskah Pendirian Perseroan Terbatas “PT Wijaya Karya” (atau
yang disebut dengan WIKA) No.106, tanggal 17 April 1973 yang dibuat dihadapan
Kartini Muljadi, SH., Notaris di Jakarta, keduanya telah disahkan oleh Menteri
Kehakiman Republik Indonesia. Kemudian WIKA juga mengalami perubahan status
menjadi Perusahaan Terbuka, yang efektif berlaku pada 27 Oktober 2007, dengan
demikian nama yang digunakan saat ini adalah “PT Wijaya Karya (Persero) Tbk”.

Gambar 1.1 Brand WIKA


Berdasarkan gambar 1.1 Identitas brand WIKA terdiri dari simbol, huruf logo,
warna dan tagline. Bentuk frame melebar elips, seperti peta dunia yang digelar secara
horizontal. Hal ini menggambarkan betapa WIKA tumbuh berkembang menjadi
perusahaan besar dengan ragam produk dan jasa, ekspansi usaha, serta pendapatan.
Adanya perubahan penulisan identitas dari WK menjadi WIKA, ditujukan sebagai
diferensiasi brand dengan BUMN karya lain yang memiliki inisial identitas sama.
Penyusunan kata WIKA disusun menyambung sebagai cermin perusahaan yang
tumbuh berkembang. Penulisan dibuat miring (italic) mengadopsi posisi pelari yang
condong ke depan saat melakukan start, maksudnya bahwa WIKA siap berlari cepat
dalam mengejar cita-cita. Warna frame berubah menjadi biru langit melambangkan
cita-cita WIKA yang akan diraih setinggi langit.
WIKA yang merupakan perusahaan terbuka memiliki 5 pilar usaha
didalamnya, untuk menjalankan usahanya WIKA menerapkan strategi Forward and
Backward. Forward adalah strategi WIKA untuk memperoleh semua bisnis yang bisa
dilakukan di masa depan. Backward adalah strategi WIKA untuk memperoleh semua
bisnis atau perusahaan yang mendukung kompetensi kunci WIKA.
 Industri
Segmen Industri terdiri dari usaha beton pracetak seperti tiang pancang, girder,
bantalan rel kereta api, konstruksi baja, spare part otomotif, produk konversi
energi dan industri pertambangan. Sebagai pendukung dari kompetensi inti,
pilar industri manufaktur WIKA, variasi dari produk-produk pendukung
aktifitas konstruksi, seperti beton pracetak, fasilitas industri, bitumen.
 Infrastruktur dan Gedung
Segmen ini terdiri dari bidang usaha jasa konstruksi sipil umum yang meliputi
pembangunan sarana dan prasarana seperti jalan, jembatan, dermaga, bandara,
bendungan, irigasi dan gedung. Segmen infrastruktur dan gedung memberikan
hasil yang sangat baik. Konstruksi Sipil dikelola oleh Departemen Sipil Umum
dan Departemen Luar Negeri. Konstruksi Sipil membawahi sejumlah sub
bidang usaha antara lain jalan, jembatan, pengairan, prasarana perhubungan
dan ketenagaan. Konstruksi Gedung dikelola oleh Departemen Bangunan
Gedung dan WIKA Gedung. Konstruksi Gedung meliputi hunian dan
bangunan fasilitas.

Energi dan Industrial Plant
Segmen Energi dan Industrial Plant bergerak dalam bidang usaha jasa
konstruksi bidang energi dan EPC (Engineering, Procurement dan
Construction) serta jasa operasi dan pemeliharaan pembangkit listrik. Pada
segmen ini termasuk investasi pada sektor kelistrikan yang mayoritas
pendanaan dan operasinya dikendalikan Perseroan.
 Reality dan Properti
Segmen Realti dan Properti terdiri dari usaha landed housing dan high rise
building seperti apartemen serta pengelolaan gedung dan kondotel. Melalui
pilar bisnis ini WIKA melakukan pekerjaan yang bergerak dalam bidang usaha
realti, jasa properti dan jasa lainnya seperti penggarapan landed house, highrise
(apartment, condotel, office mixed use), industrial estate. Sementara dalam
Property Management WIKA juga mengelola penggunaan properti. Pilar bisnis
ini dikelola oleh WIKA Realty.
 Investasi
Segmen Investasi dari WIKA meliputi bidang energi, air, infrastruktur dan
transportasi.
Wika juga memiliki anak perusahaan seperti PT Wijaya Karya Beton, PT
Wijaya Karya Realty, PT Wijaya Karya Gedung, PT Wiajya Karya Bitumen, PT
Wijaya Karya Rekayasa Konstruksi, PT Wijaya Karya Serang Penimbang, PT Wijaya
Karya Industri dan Konstruksi.

1.2 Visi dan Misi Perusahaan


Perumusan Visi dan Misi Perusahaan telah disetujui dan ditandatangani oleh
Dewan Komisaris dan Direksi yang tertuang dalam Risalah Rapat Dewan Komisaris
yang menyertakan Direksi (Rakomdir) Nomor: 02/RIS-KOMDIR/WIKA/2010
tanggal 26 Februari 2010.

1.2.1 Visi Perusahaan


PT Wijaya Karya (Persero) Tbk., mempunyai visi untuk menjadi salah satu
perusahaan terbaik di bidang Engineering, Procurement dan Construction (EPC) dan
Investasi terintegrasi di Asia Tenggara.
1.2.2 Misi Perusahaan
Misi dari PT Wijaya Karya (Persero) Tbk., Menyediakan produk dan jasa yang
unggul dan terpadu di bidang EPC dan investasi untuk infrastruktur, gedung
bertingkat, energi, industrial plant, industri dan properti. Memenuhi harapan
pemangku kepentingan utama. Mengimplementasikan etika bisnis untuk mendukung
tata kelola perusahaan yang berkesinambungan. Ekspansi strategis ke luar negeri.
Mengimplementasikan ‘best practice’ dalam sistem manajemen terpadu.

1.3 Pengalaman Proyek


Pada awal tahun 1960-an, WIKA turut berperan serta dalam proyek
pembangunan Gelanggang Olah Raga Bung Karno dalam rangka penyelenggaraan
Games of the New Emerging Forces (GANEFO) dan Asian Games ke-4 di Jakarta.
WIKA pada tahun 1972 berkembang menjadi sebuah kontraktor konstruksi dengan
menangani berbagai proyek penting seperti pemasangan jaringan listrik di Asahan dan
proyek irigasi Jatiluhur. Satu dekade kemudian, pada tahun 1982 Proyek yang
ditangani saat itu diantaranya adalah Gedung LIPI, Gedung Bukopin, dan Proyek
Bangunan dan Irigasi. Di pertengahan tahun 2009, WIKA bersama perusahaan lain
berhasil menyelesaikan Jembatan Suramadu, sebuah proyek prestisius yang
menghubungkan pulau Jawa dengan pulau Madura. Kini proyek tersebut telah
dirasakan manfaatnya oleh masyarakat luas. Sepanjang tahun 2012, WIKA berhasil
menuntaskan proyek power plant yang terdiri dari: Pembangkit Listrik Tenaga Gas
Borang, 60MW, Pembangkit Listrik Tenaga Mesin Gas Rengat, 21MW, Pembangkit
Listrik Tenaga Diesel Ambon, 34MW. Tahun 2013 penandatanganan kontrak kerja
proyek Mass Rapid Transit (MRT) dan PLTU Amurang. Tahun 2016 WIKA
menggarap proyek-proyek infrastrktur sesuai dengan program percepatan proyek
strategis nasional, antara lain jalan Tol Trans Sumatera, Kalimantan dan LRT Jakarta.
Tahun 2017, proyek yang diperoleh WIKA adalah Pembangunan Tol Kunciran-
Cengkareng, Tol Serang Penimbang dan Lodgement di Aljazair.
1.4 Latar Belakang Proyek Pembangunan Jalan Tol Kunciran – Cengkareng
(STA. 25+907.527 – STA. 39+790)
Jalan tol Kunciran – Cengkareng yang membentang dari Utara ke Selatan
merupakan bagian dari sistem Jalan Tol Lingkar Luar Jakarta (Jakarta Outer Ring
Road – 2). Ruas jalan tol lain yang terhubung dengan rencana jalan tol ini adalah Ruas
jalan Tol Prof. Sedyatmo di sebelah Selatan dibatasi oleh Kunciran Junction di KM
15,4 Jalan Tol Jakarta – Tangerang. Ruas Jalan Tol Kunciran – Cengkareng beserta
Ruas Jalan Tol JORR lainnya diharapkan dapat memberikan kontribusi yang
signifikan untuk mengurangi kepadatan lalulintas dari kawasan JABODETABEK
(Jakarta, Bogor, Tangerang, Bekasi) pada jalan arteri yang menuju pusat kota Jakarta,
serta memperhatikan kebutuhan untuk meningkatkan aksesibilitas dan memberikan
jalur alternatif menuju Bandara International Soekarno – Hatta.
Adapun gambaran umum rencana jalan tol ini adalah sebagai berikut :
 Panjang jalan : 14,189 Km
 Lebar lajur lalu lintas : 2 x 3 @ 3.60 meter
 Lebar bahu luar : 2 x 3.00 meter
 Lebar bahu dalam : 2 x 1.50 meter
 Lebar Median : 5.50 meter (termasuk bahu dalam)
 Kecepatan Rencana : 100 km/jam
 Perkerasan Jalur Lalu lintas dan Bahu Dalam
- Rigid pavement : 31 cm
- Lean concrete : 10 cm
- Ass Base B : 15 cm
 Perkerasn Bahu Luar
- Abutment : 10 cm
- Agregat Class A : 46 cm
 Junction/Simpangsusun
- Cengkareng Junction
- Kunciran Junction
- IC Husein S
- IC Sultan Ageng Tirtayasa
- On/Off Ramp Tanah Tinggi
- On/Off Ramp Buaran Indah
 Lebar Kebutuhan ROW : 40 – 60 meter
 Barrier Gate : Husein Sastranegara (Sta 27+750)

Gambar 1.2 Peta Lokasi Proyek Pembangunan Jalan Tol Kunciran – Cengkareng
(STA. 25+907.527 – STA. 39+790)

Dapat dilihat pada gambar 2.1 Proyek pembangunan ini terdiri dari 4 seksi yaitu :
a. Seksi I 2,04 km (Kunciran – IC Sultan Agung Tirtayasa)
b. Seksi II 3,50 km (IC Sultan Agung Tirtayasa – On / Off Ramp Benteng Betawi)
c. Seksi III 6,50 km (On / Off Ramp Benteng Betawi – IC Husein Sastranegara)
d. Seksi IV 2,15 km (IC Husein Sastranegara – Benda Junction
BAB 2
STRUKTUR ORGANISASI

2.1 Struktur Organisasi Perusahaan


Menjalankan sebuah perusahaan dibutuhkan struktur organisasi berupa
susunan dan hubungan tiap bagian serta posisi yang ada di setiap kegiatan untuk
mencapai tujuan yang di harapkan dan sebagai pemisah kegiatan pekerjaan antara satu
dengan yang lain. Pada Proyek Pembangunan Jalan Tol Kunciran – Cengkareng dapat
dilihat struktur organisasinya pada gambar 2.1. Bagian dari struktur tersebut memiliki
tugas dan tanggung jawab dalam ruang lingkup pekerjaan masing masing sebagai
berikut;
a. Manajer proyek
 Menetapkan tingkat produktifitas proyek.
 Mengatur biaya proyek secara keseluruhan.
 Menilai kinerja bawahan.
 Menetapkan penugasan bawahan.
b. Manajer dan Kasie Enjiniring
 Menetapkan alternatif metode kerja yang paling sesuai untuk pelaksanaan
pekerjaan
 Memilih dan ikut memutuskan penanggulangan masalah teknis yang
dihadapi proyek
 Menetapkan titik-titik koordinat (titik as, sudut, level dan lain-lain) sebagai
pedoman pelaksanaan.
 Menetapkan gambar-gambar kerja yang akan digunakan.
 Menentukan standard safety engineering/K3 yang akan diterapkan di
proyek serta menegur bila ada penyimpangan di dalam pelaksanaan.
 Menetapkan pelaksanaan SMM ISO 9001 series 2008 , SM K3, dan PMT
di proyek serta menegur bagian/seksi yang meyimpang pelaksanaannya.
c. Manajer dan Kasie Quality Control & Quality Assurance (QC/QA)
 Menentukan standard safety engineering/K3 yang akan diterapkan di
proyek serta menegur bila ada penyimpangan di dalam pelaksanaan.
 Memberi teguran kepada bagian produksi/seksi, apabila ada
penyimpangan mutu pelaksanaan.
 Menetapkan pelaksanaan SMM ISO 9001 versi 2005, SM K3, dan PMT
di proyek serta menegur bagian/seksi yang meyimpang pelaksanaannya.
 Memberi rekomendasi hasil pekerjaan subkontraktor terkait dengan mutu,
yang tertuang dalam progress fisik pekerjaan, selanjutnya disimpulkan
dalam BAOP dan penilaian DSM.
d. Manajer Konstruksi
 Menetapkan instruksi kerja dan pedoman di proyek.
 Menetapkan tingkat produktifitas proyek
 Menetapkan tingkat persediaan proyek.
 Menetapkan kebutuhan subkontraktor, material, suku cadang, dan
peralatan.
 Menetapkan jadwal kerja dan metode kerja proyek.
e. Manajer Pengadaan
 Memberikan teguran/sanksi administrasi kepada pegawai proyek.
 Memutuskan pembelian alat tulis dan peralatan kantor sesuai dengan
kebijakan proyek.
 Menentukan besarnya anggaran biaya tidak langsung proyek sesuai
dengan kebijakan proyek..
 Menentukan kebutuhan dana proyek secara periodik.
f. Kasie SHE
 Menetapkan standarisasi dan instruksi kerja fungsi SHE.
 Menetapkan langkah-langkah perbaikan bagian SHE.
 Menetapkan hasil pekerjaan sesuai tidaknya dengan standar mutu yang
ditetapkan.
 Menetapkan penilaian berdasarkan audit internal dan audit eksternal.
g. Kasie Komersial
 Menilai tingkat produktivitas proyek.
 Memeriksa legal aspek kontrak (ekstern dan intern) proyek tersebut.
 Menginformasikan kepada Manajer Proyek dan atau Deputy Manajer
Proyek tentang penyimpangan biaya dan waktu selama pelaksanaan
proyek.
 Memberikan alternatif cara penyelesaian masalah kontraktual (ekstern dan
intern) yang terjadi.
 Menetapkan klausul-klausul yang aman bagi perusahaan untuk kontrak-
kontrak kepada pihak ke III (subkontraktor dan pemasok).
 Memberikan alternatif pemecahan terhadap penyimpangan yang terjadi.
h. Kasie Keulangan dan Human Capital
 Memberikan teguran/sanksi administrasi kepada pegawai proyek.
 Memutuskan pembelian alat tulis dan peralatan kantor sesuai dengan
kebijakan proyek.
 Menentukan besarnya anggaran biaya tidak langsung proyek sesuai
dengan kebijakan proyek.
 Menentukan kebutuhan dana proyek secara periodik.
10

ALI AFANDI
MANAJER PROYEK

QOBUS ABDUL MUCHAMAD R. KURNIAWAN NURHAMIDAR R.A. NIKEN


FADLI ALMANSYUR
QOWWY FAIZAL YASIN ARIEF DAHLAN SULISTYOWATI
KASIE SHE MANAJER ENJINIRING & QC/QA MANAJER KONSTRUKSI KASIE KOMERSIAL MANAJER PENGADAAN KASIE KEUANGAN DAN
HUMAN CAPITAL

ADITIYA PUTRA WINDRAYANA


KARISMA ARYA
KASIE ENJINIRING KASIE QC/QA

Gambar 2.1 Struktur Organisasi PT Wijaya Karya Persero (Tbk), Proyek Pembangunan Jalan Tol Cengkareng – Batu Ceper – Kunciran
(STA. 25+907.527 – STA. 39+790)
11

2.2 Metode Pengendalian Proyek


Pelaksanaan proyek konstruksi merupakan rangkaian mekanisme kegiatan atau
pekerjaan yang yang saling tergantung satu sama lain. Sedangkan dari sistem
pengendalian, pengawasan setiap pekerjaan selama proses konstruksi hakekatnya
berkaitan dengan pemantauan kualitas, waktu dan biaya pekerjaan untuk menjamin
tercapainya standar spesifikasi teknis seperti yang telah di sepakati.

Biaya Waktu
(Cost) (Time)

Mutu
(Quality)

Gambar 2.2 Komponen Pengendalian Proyek

2.2.1 Metode Pengendalian Biaya


Pada pengendalian biaya proyek ada dilakukan suatu proses penentuan
perkiraan biaya konstruksi melalui tiga tahapan yang dilalui yaitu tahap awal proyek,
tahap ROW Plan dan tahap detailed engineering design. Perkiraan biaya dikeluarkan
pada setiap tahap sebagai checking terhadap biaya investasi yang telah ditentukan oleh
pihak Inverstor (dalam hal ini PT Marga Kunciran Cengkareng ) dan BPJT.
a. Tahap Awal Proyek
Perkiraan Biaya Awal dapat ditentukan dengan data sekunder yang tersedia
seperti Basic Design. Berdasarkan informasi identifikasi awal/analisa awal
kebutuhan seperti tipikal overpass, underpass, perkerasan jalan dan lain-lain,
diperoleh harga output persatuan untuk tipikal tersebut. Dengan harga Output
tersebut dapat dilakukan beberapa alternatif desain dan setelah
revisi/adjustment desain, Perkiraan Kasar Biaya Konstruksi dapat ditentukan.
b. Tahap ROW Plan
Pada tahap ini Perkiraan Biaya Kasar Konstruksi yang nilai nominalnya sudah
di dapatkan sebelumnya akan dilakukan perhitungan ulang dengan beberapa
revisi/adjustment desain berdasarkan Gambar ROW Plan, sehingga diperoleh
Perkiraan Biaya Sementara. Metode perhitungan yang digunakan adalah
metode perhitungan cepat atau Quick Count. Pengalaman konsultan menjadi
kunci dalam perhitungan cepat ini untuk koncahan (fluctuation) kuantitas dan
biaya
Kesepakatan perhitungan cepat antara lain :
 Tulangan beton dihitung secara satuan per kubikasi beton
 Struktur atas (Superstruktur) overpass-underpass menggunakan tipikal standar
bentang 16, 25, 30, 32, 34, 38, 40 m dan tipikal lebar jalan.
 Gali-timbun berdasarkan peta topo-situasi
 Standarisasi crossing drain, side ditch, catch pit
Proyek Pembangunan Jalan Tol Kunciran – Batu Ceper – Cengkareng ini
memiliki nilai kontrak proyek sebesar 1,95 Triliun Rupiah. Nilai kontrak akan di
sesuaikan dengan persentase jenis pekerjaan sehingga biaya yang dikeluarkan dapat
kendalikan dan tidak terjadi overcost.

Persentase Jenis Pekerjaan

18%
23%
Ra. Pekerjaan Tanah
Ra. Pekerjaan Perkerasan
Ra. Pekerjaan Struktur
16%
Ra. Pekerjaan Lain-Lain
43%

Gambar 2.3 Persentase Jenis Pekerjaan Proyek Pembangunan Jalan Tol Kunciran –
Cengkareng (STA. 25+907.527 – STA. 39+790)

Rencana awal biaya pekerjaan proyek jalan tol ini dapat dihitung dengan
melihat diagram persentase jenis pekerjaan yang terlihat pada gambar 2.3, yaitu :
- Biaya rencana pekerjaan tanah:
1,97 Triliun Rupiah x 23% = 453,1 Miliar Rupiah
- Biaya rencana pekerjaan perkerasan:
1,97 Triliun Rupiah x 16% = 315,2 Miliar Rupiah
- Biaya rencana pekerjaan struktur:
1,97 Triliun Rupiah x 43% = 847,1 Miliar Rupiah
- Biaya rencana pekerjaan lain-lain:
1,97 Triliun Rupiah x 18% = 354,6 Miliar Rupiah

2.2.2 Metode Pengendalian Mutu


Dalam hal pengendalian mutu pada Proyek Jalan Tol Kunciran – Cengkareng
dilakukan beberapa langkah seperti pada gambar 2.3.

Quality Uji
Pemeriksaan Pengawasan
Control Laboratorium

Gambar 2.4 Proses Pengendalian Waktu

a. Pemeriksaan
Langkah awal dalam mengendalikan mutu proyek adalah proses pemeriksaan.
Pemeriksaan dilakukan untuk memastikan semuanya dalam kondisi baik,
jumlah yang benar dan tidak ada kerusakan fisik saat proses pengiriman.
Contohnya pada pekerjaan beton, sebelum melakukan pemesanan beton untuk
pekerjaan proyek Jalan Tol Kunciran – Cengkareng dilakukan terlebih dulu
inspeksi batching plan. Inspeksi batching planbertujuan untuk mengetahui
kualitas dari bahan campuran beton seperti agregat halus & agregat kasar,
kelayakan pabrik dan alat yang digunakan untuk proses pembuatan beton.
dalam inspeksi ini dilakukan juga kegiatan trial mix untuk mengetahui mix
desain antar mutu beton dan waktu minimal penurunan slump (slump loss)
seperti terlihat pada gambar 2.5 dan gambar 2.6 berikut:
Gambar 2.5 Inspeksi Batching Plan Adhimix Precast

Gambar 2.6 Tes Slump Loss Adhimix Precast

b. Uji Laboratorium
Uji Laboratorium dilakukan untuk mengetahui kandungan dari material yang
akan digunakan pada pekerjaan konstruksi, Sehingga dapat diketahui material
tersebut layak atau tidak untuk digunakan pada proyek konstruksi. Contohnya
pada material tanah, sempel tanah yang akan digunakan pada pekerjaan proyek
Jalan Tol Kunciran – Cengkareng terlebih dulu dikirim ke Laboratorium Jasa
Konstruksi PT Wijaya Karya (Persero) Tbk untuk di tes kadar air aslinya, berat
jenisnya, dll. Hasil dari uji laboratorium untuk material tanah dapat dilihat pada
gambar 2.7.
15

Gambar 2.7 Hasil Pengujian Material Tanah Proyek Pembangunan Jalan Tol Kunciran – Cengkareng (STA. 25+907.527 – STA. 39+790)
16

c. Pengawasan
Pengawasan dilakukan dengan cara mengontrol langsung dan mengisi
dokumen ceklis yang telah tersedia sesuai dengan spesifikasi teknis yang telah
ditetapkan oleh perusahaan. tahapan pelaksanaan mulai dari struktur bawah
sampai dengan selesai agar tidak ada kesalahan dan kualitas pembangunan
sesuai dengan spesifikasi teknis yang telah di tetapkan oleh perusahaan.
Contohnya pada pekerjaan pengecoran perkerasan jalan (rigid), pihak dari
quality control harus memastikan mutu beton yang digunakan adalah type P
dengan Fs 45 dan slamp 5+2. Jika tidak sesuai dengan mutu tersebut maka
pihak quality control akan menolak beton tersebut.

2.2.3 Metode Pengendalian Waktu


Metode pengendalian waktu atau biasa disebut dengan penjadwalan,
merupakan alat yang digunakan untuk menyelesaikan suatu proyek. Untuk proyek
berskala besar dimana selain jumlah kegiatan yang sangat banyak dan rumitnya
ketergantungan antar kegiatan tidak mungkin lagi diolah dalam pikiran. Penjadwalan
dan pengontrolan menjadi rumit, jadi sangatlah penting agar kegiatan dilakukan
dengan efektif, efisien, dan terkontrol. Dalam pengendalian waktu diperlukannya
control antara rencana dan realisasi. Karena sewaktu waktu realisasi dapat menjauh
dari waktu yang direncanakan. Oleh karena itu perlu perencanaan waktu yang efektif,
berikut factor factor yang harus diperhatikan dalam pembuatan jadwal yang efektif :
a. Secara teknis, penjadwalan dapat dipertanggungjawabkan baik dari pihak
kontraktor, konsultan, maupun owner
b. Disusun berdasarkan perkiraan yang akurat, diman perkiraan waktu, sumber
daya, serta biaya dibandingkan dengan kegiatan kerja royek
c. Dapat mengacu pada penjadwalan proyek lain yang hampir serupa dalam hal
pekerjaan, sumber daya, dan finansial
d. Fleksibel terhadap perubahan-perubahan, misalnya perubahan item pekerjaan
yang membutuhkan waktu yang lama dibandingan pekerjaan sebelumnya
e. Mendetail secara rinci dari setiap pekerjaan yang berkaitan atau tidak berkaitan
antar satu dengan yang lainnya
f. Dapat menampilkan pekerjaan yang kritis dan fleksibel, agar dapat
memberikan catatan agar pekerjaan tersebut menjadi perhatian utama

Teknis penjadwalan proyek dapat menggunakan bar chart. Dalam bar chart
dapat mengindintefikasi unsur waktu mulai, waktu selesai, dan pada saat pelaporan.
Penggambaran bar chart terdiri dari kolom dan baris yang terdiri dari kolom berisikan
kegiatan yang tersusun secara berurutan dan baris berisikanmenunjukan periode waktu
yang dapat berupa hari, minggu, atau bulan. Selain metode bar chart juga dapat
menggunakan metode kurva S yang merupakan hasilplot dari barchart.
Kurva S merupakan gambaran diagram berupa persen (%) komulatif biaya
yang diplot pada sumbu X yang menyatakan satuan waktu, dan sumbu Y yang
menyatakan nilai persen (%) komulatif biaya selama durasi proyek tersebut. Berikut
adalah cara pembuatan kurva S :
a. Melakukan pembobotan pada setiap item pekerjaan
b. Bobot item pekerjaan dihitung berdasarkan biaya item pekerjaan dibagi total
pekerjaan dikalikan 100%
c. Setiap bobot ang telah dihitung, kemudian didistribusikan selama durasi
masing-masing aktivitas pekerjaan
d. Kemudian dijumlah secara komulatif
e. Angka komulatif pada setiap periode ini diplot pada sumbu y dalam grafik dan
waktu
f. kemudian dihubungkan semua titik-titik agar didapatkan grafik kurva S
Pada Proyek Pembangunan Jalan Tol Kunciran – Batu Ceper – Cengkareng
teknis penjadwalan proyek menggunakan kurva S sebagai pengendali waktu yang
terdapat dilampiran 1. Pada lampiran 1 terlihat perbedaan hasil kurva S rencana yang
dibuat pada awal kontrak proyek dengan kurva S aktual yang telah mengalami
perpanjangan waktu pelaksanaan dikarenakan adanya item baru dan percepatan waktu
pekerjaan konstruksi.
2.3 Manajemen Resiko Proyek
Manajemen resiko terdiri dari dua kata yaitu manajemen dan risiko,
manajemen merupakan proses tertentu yang terdiri dari kegiatan mengkoordinasikan
sumber daya manusia dan menggandakan pengendalian dalam rangka mencapai
tujuan. Sedangkan risiko (risk) adalah probabilitas terjadinya peristiwa yang
membawa akibat yang tidak dikehendaki atas tujuan, strategi sasaran dan rencana hasil
kegiatan yang telah dirumuskan atau ingin dicapai PT. Wijaya Karya (Persero) Tbk.
Jadi, Manajemen risiko dapat diartikan sebagai suatu pendekatan
terstruktur/metodelogi dalam mengelola ketidakpastian yang berkaitan dengan
ancaman. Adapun langkah – langkah yang dilakukan untuk analisa risiko meliputi
identifikasi risiko dan penilaian risiko.
a. Identifikasi risiko
Identifikasi risiko memegang peranan penting pada penilaian risiko,
identifikasi risiko penting karena merupakan tahap pertama yang harus
dilakukan karena dalam tahapan ini dilakukan penentuan risiko-risiko berserta
karakteristiknya yang mungkin akan mempengaruhi proyek. Kegagalan dalam
tahapan ini akan berpengaruh besar terhadap manajemen risiko dan akan
mempengaruhi reliabilitas bagi proyek karena banykanya kerentanan/celah
yang mungkin akan terjadi.
b. Setelah identifikasi risiko dilakukan, selanjutnya adalah menetapkan tingkat
risiko dengan menentukan probabilitas dari risiko dan pengukuran dampak
risiko. Dampak adalah efek biaya, waktu dan kualitas yang dihasilkan suatu
risiko. Penggolangan tingkat risiko oleh PT. Wijaya Karya dari yang tertinggi
ke rendah yaitu sebagai berikut:
 Risiko Ekstrim (E); warna merah;
 Risiko Tinggi (T); warna orange;
 Risiko Moderat (M); warna kuning;
 Risiko Rendah (R); warna hijau.
Tabel 2.1 Matriks Analisis Risiko

Sumber : Prosedur Sistem Manajemen Risiko, Rev 03 (2017)

Salah satu pelaksanaan dari manajemen risiko yaitu keamanan (safety) proyek,
suatu cara yang dilakukan untuk mencegah risiko kecelakaan kerja yang berdampak
pada keselamatan pekerja Proyek Pembangunan Jalan Tol Kunciran – Cengkareng
dengan menggunakan beberapa alat pelindung diri (APD) yaitu:
 Safety Shoes
Merupakan perlindungan terhadap kaki. Setiap pekerja konstruksi perlu
memakai sepatu dengan sol yang tebal supaya bisa bebas berjalan dimana-
mana tanpa terluka oleh benda-benda tajam atau kemasukan oleh kotoran dari
bagian bawah.
 Safety Helmet
Digunakan sebagai pelindung kepala, dan sudah merupakan keharusan bagi
setiap pekerja konstruksi untuk menggunakannya dengan benar sesuai
peraturan.
 Safety Glasses
Alat ini berfungsi sebagai pelindung mata ketika bekerja (misalnya mengelas).
 Gloves
Untuk melindungi tangan dari benda-benda keras dab tajam selama
menjalankan aktifitas proyek.
 Rompi Safety
Rompi ini berfungsi untuk mencegah terjadinya kontak kecelakaan pada
pekerja, mengurangi resiko kecelakaan kerja dan agar terlihat oleh pekerja lain
saat bekerja dimalam hari.
 Body Harness
Merupakan perlengkapan alat perlindungan diri yang bentuknya seperti sabuk
pengaman yang umumnya digunakan orang yang pekerjaannya berhubungan
dengan ketinggian, dan berfungsi untuk melindungi tubuh dari cedera akibat
jatuh dari ketinggian.

Gambar 2.8 Pekerja Proyek Pembangunan Jalan Tol Kunciran –


Cengkareng (STA. 25+907.527 – STA. 39+790)

Pada gambar 2.8 terlihat para pekerja lapangan Proyek Pembangunan Jalan Tol
Kunciran – Cengkareng menggunakan alat pelindung diri (APD) selama melakukan
aktivitas di proyek. APD bertujuan untuk menghidari risiko terjadinya kecelakaan
kerja yang akan berdampak pada keselamatan diri para pekerja.
2.4 Koordinasi Proyek
Koordinasi antara owner, konsultan dan kontraktor pada proyek Jalan Tol
Kunciran – Cengkareng seperti terlihat pada gambar 2.4.

Weekly Meeting

Koordinasi Proyek Approval Gambar Shop


(Owner - Konsultan - Kontraktor) Drawing

Langsung di Lapangan
dan melalui surat resmi

Gambar 2.9 Skema Koordinasi Proyek

“Weekly Meeting” (Rapat Mingguan) ini dilakukan setiap hari selasa (jam
10.00 s/d 17.00 WIB) dan dihadiri oleh manajer dari pihak owner (PT Jasa Marga
Kunciran – Cengkareng), konsultan (PT Cipta Strada) dan kontraktor (PT Wijaya
Karya Persero). Rapat mingguan bertujuan untuk mengevaluasi hasil dari pekerjaan
yang dikerjakan di minggu sebelumnya, membahas progress pekerjaan yang sedang
berjalan, membahas rencana kerja kedepannya dan membahas prosentase pekerjaan
yang telah tercapai setiap minggunya.. Untuk para staff teknik berkomunikasi melalui
“approval gambar shop drawing” dan para pelaksana lapangan berkomunikasi secara
verbal dan visual secara langsung.
BAB 3
AKTIVITAS INTERNSHIP

3.1 Pekerjaan Struktur Pile Cap


3.1.1 Latar Belakang
Pekerjaan Pilecap merupakan suatu bagian dari pekerjaan yang penting dalam
struktur bangunan yang merupakan bagian pokok dari fondasi suatu bangunan. Secara
umum Fondasi adalah bagian bangunan yang menghubungkan bangunan dengan
tanah, yang menjamin kestabilan bangunan terhadap berat sendiri, beban berguna, dan
gaya-gaya luar terhadap gedung seperti angin, gempa bumi, dan lain-lain. Fondasi
berfungsi sebagai kaki suatu bangunan atau alas bangunan, sebagai penahan bangunan
dan meneruskan beban dari atas ke dasar tanah yang cukup kuat dan sebagai penjaga
agar kedudukan bangunan stabil (tetap). Fondasi di bedakan menjadi 2 jenis, fondasi
dangkal dan fondasi dalam.
Fondasi dalam adalah fondasi yang digunakan jika kekuatan tanah tidak
memenuhi kebutuhan karena tidak teratur atau karena pembebanan terlalu tinggi.
Fondasi dalam akan menyalurkan beban kepada lapisan tanah yang lebih bawah.
Sistem fondasi ini dapat dibagi atas fondasi tiang beralih (mengalirkan beban kepada
lapisan tanah bawah yang kuat) atau tiang pergesekan (mengalirkan beban lewat
pergesekan permukaan tiang ke tanah samping, yang sekaligus dipadatkan, pada
tempat tanpa lapisan tanah yang kuat). Menurut cara konstruksi, fondasi tiang dapat
dibagi atas tiang pancang dan tiang pemboran. Fondasi tiang pancang (paku bumi)
dapat dibagi atas tiang pancang siap-jadi dan tiang pancang yang dibuat dari beton
tumbuk. Fondasi tiang pancang siap-jadi terbuat dari bahan kayu, profil baja, atau
beton bertulang. Penggunaan tiang pancang membutuhkan penyelidikan tanah yang
tepat, yang menjelaskan dalamnya lapisan tanah dan kekuatan tertentu pada seluruh
luas bangunan. Pilecap adalah konstruksi yang berfungsi untuk menyatukan/mengikat
tiang pancang yang sudah terpasang dengan struktur diatasnya.
3.1.2 Desain Layout

3.1.3 Data Pendukunng


3.1.4 Pengendalian Mutu
Pengendalian mutu untuk pekerjaan pile cap dilakukan pada material yang
digunakan yaitu material beton dan material baja.
3.1.5 Cara Perhitungan
Untuk perhitungan pilecap dihitung berdasarkan volume m3 untuk
pembayarannya, baik ke pihak external maupun pembayaran ke sub kontraktor.
External disini berarti pemilik proyek, yaitu PT. Jasamarga Kunciran Cengkareng.
Sedangkan sub kontraktor disini adalah penyedia jasa beton. Untuk perhitungan pile
cap dapat diilustrasikan (dengan mengacu pada detail gambar diatas) sebagai berikut:
~ Volume 1 = ((3,5+8,4)/2) x 0,5 x 14,4 = 42,84
~ Volume 2 = 8,4 x 2,5 x 14,4 = 302,4 +
345,24
Jadi untuk pekerjaan pile cap P1 Kanan tirtayasa didapatkan volume sebesar
345,24 m3. Dari angka tersebut dipakai untuk acuan penagihan baik ke eksternal pihak
PT. Jasamarga Kunciran Cengkareng maupun sub kontraktor penyedia beton.
Kemudian volume tersebut akan dikalikan dengan harga satuan pada masing masing
harga satuan baik eksternal maupun internal (kepada sub kontraktor). Untuk internal,
biaya biaya yang perlu dipertimbangkan adalah sebagai berikut :
1. Biaya upah mandor (Rp. 85.000,- orang/12 jam)
2. Biaya upah pekerja harian (Rp. 55.000,- orang/12 jam)
3. Biaya sewa/beli bekisting (Rp. 50.000,- per-m2)
4. Biaya operasi vibrator (Rp. 15.000,- per-jam)
5. Biaya sewa alat Concrete Pum (CP) (Rp. 3.700.000,- alat/8 jam)
6. Biaya beton perkubik (Rp. 900.000,- per-m3)
Dari biaya biaya diatas perlu diperhitungkan satu persatu untuk menentukan
harga satuan perkubik pada pembayaran ke pihak eksternal. Harga diatas bias
didapatkan dengan mengacu proyek yang sejenis dengan proyek yang sedang
dikerjakan maupun proyek yang lingkup lokasinya berdekatan atau satu provinsi.
Untuk biaya upah mandor dan upah pekerjaan harian dapat mengacu pada UMR tiap
kota. Sedangkan sewa alat & material maupun biaya beton dapat acu pada kesepakatan
kontrak awal antara kontraktor dan penyedia jasa. Untuk biaya operasi vibrator dapat
diperhitungkan dengan biaya bensin, oli, dan perbaikan.
3.1.6 Pengaplikasian Lapangan

3.2 Pekerjaan Borrow Material


3.2.1 Latar Belakang
Pekerjaan tanah pada proyek jalan merupakan salah satu item penting,
begitupun pada Proyek Pembangunan Jalan Tol Kunciran – Cengkareng. Adapun
pekerjaan tanah meliputi pekerjaan galian dan pekerjaan timbunan. Tanah yang
digunakan untuk timbunan berupa tanah urugan (borrow). Pekerjaan borrow material
ini meliputi pembersihan dan pembongkaran areal lokasi borrow pit, penggalian,
pemuatan, pengangkutan, penghamparan dan pemadatan material yang diperoleh dari
borrow pit yang telah disetujui untuk melaksanakan timbunan, subgrade dan bagian
lain dari pekerjaan tersebut sebagaimana tercantum dalam Kontrak atau petunjuk
konsultan pengawas.
Borrow material harus dipilih sesuai dengan ketentuan dan persyaratan pada
pekerjaan urugan atau timbunan tertentu yang akandigunakan. Material ini harusbebas
dari bahan-bahan organik dalam jumlah yang merusak, seperti daun, rumput, akar dan
kotoran. Bahan yang dipilih sebaiknya tidak termasuk tanah yang berplastisitas tinggi,
yang diklasifikasikan sebagai A-7-6 menurut AASHTO M145 atau sebagai CH
menurut "Unified atau Casagrande Soil Classification System". Tanah sangat
expansive yang memiliki nilai aktif labih besar dari 1,25 atau derajat pengembangan
yang diklasifikasi oleh AASHTO T 258 sebagai “very high” atau “extra high”, tidak
boleh digunakan sebagai bahan timbunan. Nilai aktif adalah perbandingan antara
Indeks Plastisitas / PI – (AASHTO T 90) dan persentase kadar lempung (AASHTO T
89).

3.2.2 Desain Layout


Desain Layout untuk pekerjaan borrow material Proyek Pembangunan Jalan
Tol Kunciran – Batu Ceper - Cengkareng di seksi III yang berlokasi di pembangunan
dapat dilihat pada lampiran 2.
3.2.3 Data Pendukung

3.2.4 Pengendalian Mutu


Untuk pengendalian mutu pekerjaan borrow material pada Proyek
Pembangunan Jalan Tol Kunciran – Batu Ceper – Cengkareng dilakukan
dengan melihat 3 komponen yaitu :
a. Sumber Material
b. Pengetesan Lapangan
Pengetesan lapangan yang dilakukan untuk pengendalian mutu
pekerjaan borrow material adalah pengetesan sand cone, pemeriksaan
kepadatan tanah di lapangan dengan menggunakan pasir Ottawa sebagai
parameter kepadatan tanah yang mempunyai sifat kering, bersih, keras, tidak
memiliki bahan pengikat sehingga dapat mengalir bebas. Adapun langkah
pengetesan sand cone sebagai berikut :
 Menentukan isi tabung pasir :
- Hitung isi tabung dengan mengukur diameter dan tinggginya lalu
hitung vulumenya (V);
- Untuk mengukur diameter tabung gunakan jangka sorong;
- Timbanglah berat tabung logam (W1).
 Menentukan berat isi pasir :
- Letakkan alat dengan corong menghadap keatas pada alas yang rata,
tutup kran dan isi corong dengan pasir kwarsa sampai penuh;
- Buka kran sampai pasir tersebut dalam corong mengalir masuk kedalam
tabung. Selama pengisisan tabung harus dijaga agar pasir dalam corong
selalu terisi;
- Tutuplah corong setelah pasir dalam corong berhenti bergerak turun,
bersihkan pasir yang ada dalam corong dan timbanglah (W2).
 Menentukan berat pasir dalam corong :
- Isilah botol/tabung pasir secukupnya dan timbang (W3);
- Letakkan alat dengan corong menghadap kebawah pada alas yang datar
dan bersih;
- Bukalah kran sehingga bergerak turun sampai pasir berhenti
bergerak/mengalir;
- Tutuplah kran dan timbanglah alat berisikan pasir sisanya (W4) gram;
- Hitung berat pasir dalam corong (W3 – W4).
 Menentukan berat isi tanah :
- Isi alat/tabung dengan pasir secukupnya;
- Bersihkan lokasi titik yang akan diuji dan ratakan sehingga benar-benar
datar, letakkan pelat alas dan kokohkan pelat tersebut pada empat
sisinya dengan paku besar;
- Galilah lubang pada titik yang akan diuji sesuai dengan lubang pada
pelat alas dengan kedalaman kira-kira 10 cm atau tidak melampaui satu
hamparan yang dipadatkan;
- Tanah galian lubang tersebut harus dimasukkan pada alat yang
terlindung agar selama pengujian tidak terjadi penguapan misalnya
kaleng yang tertutup. Timbanglah berat kaleng kosong (W7) dan
setelah berisi tanah timbang kembali (W8);
- Timbanglah alat yang telah berisikan pasir (i) dan catat beratnya (W5);
- Letakkan alat/tabung sand cone dengan corong menghadap kebawah
pada lubang galian yang telah digali. Buka kran perlahan-lahan hingga
pasir bergerak turun, setelah pasir berhenti bergerak maka tutuplah kran
dan timbang beratnya (W6);
- Tanah hasil penggalian ambil sebahagian untuk dimasukkan pada
container untuk pemeriksaan kadar air dilaboratorium.
Data hasil pengetesan dapat terlihat pada gambar 3.1 berikut ini :

Gambar 3.1 Hasil Pengetesan Sand Cone

c. Spesifikasi Umum
3.2.5 Cara Perhitungan
Dalam perhitungan borrow material, akan dibayar apabila tanah yang telah
digelar dilokasi proyek sudah terpadat. Sehingga untuk pembayarannya baik ke
ecternal dan internal membutuhkan waktu cukup lama. Dikarenakan setiap layer harus
memiliki kepadatan dengan ketinggian 20 cm dan diukur melalui data tembakan alat
Theodolite. Selanjutnya data survey tersebut dihitung sehingga didapatkan volume
(m3) terpadat. Dan selanjutnya dikalikan dengan harga satuan masing masing pihak.
Untuk biaya yang diperlukan untuk mengerjakan borrow material adalah sebagai
berikut :
a. Biaya pendatangan borrow material (tanah merah) (Rp.100.0000,- per-
m3)
b. Biaya sewa alat Dozer (Rp. 140.000,- per-jam)
c. Biaya sewa alat Tandem Roller (Rp.130.000,- per-jam)
d. Biaya sewa alat Sheepfoot (Rp. 120.000,- per-jam)
3.2.6 Pengaplikasian Lapangan

3.3 Pekerjaan Perkerasan Jalan (Rigid Pavement)


3.3.1 Latar Belakang
Proyek Pembangunan Jalan Tol Kunciran – Batu Ceper – Cengkareng
merupakan prasarana transportasi darat. Pada proyek konstruksi jalan hal yang paling
di perhatikan adalah jenis perkerasan jalan yang akan dipilih. Perkerasan jalan adalah
campuran antara agregat dan bahan ikat yang digunakan untuk melayani beban lalu
lintas. Agregat yang biasanya dipakai dalamperkerasan jalan adalah batu pecah, batu
belah, batu kali dan hasil sampingpeleburan baja. Sedangkan bahan ikat yang dipakai
antara lain semen, aspal dantanah liat. Perkerasan jalan yang digunakan pada saat
sekarang ini umumnya terdiri atas tiga jenis, yaitu perkerasan lentur, perkerasan kaku,
dan perkerasan komposit.
a. Lapisan Perkerasan Lentur (Flexible Pavement)
Jenis perkerasan yang menggunakan aspal sebagai bahan pengikat untuk
lapisan perkerasan. Konstruksi perkerasan lentur terdiri dari lapisan-lapisan
yang diletakkan diatas tanah dasar yang telah dipadatkan. Lapisan-lapisan
tersebut berfungsi sebagai penerima beban lalu lintas dan menyebarkan ke
lapisan dibawahnya.
b. Lapisan Perkerasan Kaku (Rigid Pavement)
Jenis perkerasan yang menggunakan lapisan pelat beton baik menggunakan
tulangan atau tanpa tulangan yang diletakkan di atas tanah dasar dengan atau
tanpa pondasi bawah. Beban yang bekerja atau yang melintasi lapisan
perkerasan kaku sebagian besar dipikul oleh pelat beton tersebut.
 Perkerasan Komposit (Composite Pavement)
Jenis perkerasan yang mengombinasikan antara konstruksi perkerasan lentur
dengan konstruksi perkerasan kaku. Dalam kombinasi tersebut, perkerasan
kaku dapat diletakkan di atas perkerasan lentur atau juga sebaliknya.

Adapun perbedaan perkerasan lentur dan perkerasan kaku dapat terlihat pada
Tabel 3.1 berikut ini :
Tabel 3.1 Perbedaan Perkerasan Kaku dan Perkerasan Lentur
No Uraian Perkerasan Lentur Perkerasan Kaku
1 Bahan Pengikat Aspal Semen
2 Repetisi Beban Timbul rutting Timbul retak-retak pada
(lendutan pada jalur roda) permukaan
3 Penurunan Tanah Jalan bergelombang Bersifat sebagai balok
Dasar (mengikuti tanah dasar) diatas perletakan
4 Perubahan Modulus kekakuan Modulus kekakuan tidak
temperatur berubah. Timbul tegangan berubah.Timbul tegangan
dalam yang kecil dalam yang besar.

Dari ketiga jenis perkerasan, Perkerasan jalan yang digunakan dalam proyek
Jalan Tol Kunciran - Cengkareng adalah jenis lapisan perkerasan kaku. Perkerasan
jalan beton (Rigid) atau secara umum disebut perkerasan kaku, terdiri atas plat (slab)
beton sebagai lapis pondasi dan lapis pondasi bawah (bisa juga tidak ada) di atas tanah
dasar. Dalam konstruksi perkerasan kaku, plat beton sering disebut sebagai lapis
pondasi karena dimungkinkan masih adanya lapisan aspal beton di atasnya yang
berfungsi sebagai lapis permukaan.
3.3.2 Desain Layout

3.3.3 Data Pendukung


3.3.4 Pengendalian Mutu
3.3.5 Cara Perhitungan
3.3.6 Pengaplikasian Lapangan

3.4 Pekerjaan Borlog (Pengetesan Tanah Awal)


3.4.1 Latar Belakang
Penyelidikan tanah merupakan bagian integral dari proses pembangunan
sebuah proyek yang dilakukan untuk mendapatkan informasi tentang karakteristik
fisik tanah/batuan di area lapangan. Penyelidikan tanah dilakukan untuk mengetahui
daya dukung yang diijinkan (allowable bearing capacity) pondasi bangunan yang
diusulkan, untuk mengetahui kedalaman dan jenis pondasi untuk bangunan yang
diusulkan, untuk memilih teknik konstruksi yang sesuai, untuk memprediksi dan
mengatasi masalah pondasi, untuk menentukan apakah lahan tersebut akan terjadi
penurunan dan menyebabkan “amblesnya” bangunan, untuk menentukan kandungan
air yang dapat mempengaruhi kelembaban pondasi, mineral atau komponen kimia
tanah yang nantinya dapat digunakan sebagai pertimbangan dalam pemilihan bahan
konstruksi. Berdasarkan hasil laporan penyelidikan tanah maka tanah siap untuk tujuan
merancang pondasi bangunan. Pada penyelidikan tanah (soil investigation) terdapat
beberapa metode yang umumnya digunakan, yaitu :
a. Inspection / Inspeksi
Hanya di beberapa tempat Anda tidak harus menyelidiki banyak. Anda akan
mendapatkan cukup data untuk merancang fondasi bangunan yang diusulkan
dengan hanya memeriksa plot. Metode soil investigation ini termasuk
mengetahui kondisi geologi dari plot, mendapatkan data tentang bangunan
disebelahnya, jenis pondasi dan kedalaman, dll.
b. Test pits atau lubang tes
Hal ini dilakukan untuk mengumpulkan sampel tanah untuk analisis rinci.
Dalam metode ini beberapa lubang yang digali dengan tangan atau excavator
dengan kedalaman lubang 1,5 meter (5 kaki) sehingga seseorang dapat
melakukan inspeksi visual. Beberapa sampel dikumpulkan baik dari pit tanah
terganggu dan tidak terganggu (disturbed and undisturbed soil).
c. Probing
Dalam metode ini batang baja diameter 25 mm atau 40 mm didorong ke dalam
tanah sampai strata tanah padat ditemukan. Hal ini biasanya didorong oleh
palu. Penetrasi dan penarikan dari batang baja diamati secara seksama untuk
mengetahui sifat lapisan tanah.
d. Boring
Dalam metode ini beberapa lubang pengboran dibuat pada beberapa titik untuk
tujuan mengumpulkan sampel tanah dari bawah tanah. Lantas sampel tanah
yang dikumpulkan dianalisis.
Dalam Proyek Pembangunan Jalan Tol Kunciran – Batu Ceper - Cengkareng
kegiatan penyelidikan tanah (soal investigasi) dilakukan dengan metode boring.
Pengambilan sampel tanah pada titik-titik tertentu untuk dianalisis. Soil investigation
melakukan langkah-langkah sebagai berikut :
 Perencanaan terinci untuk urutan pelaksanaan;
 Mengumpulkan sampel tanah dari plot;
 Menentukan karakteristik tanah dengan melakukan uji lapangan;
 Studi kondisi level air tanah;
 Mengumpulkan sampel air tanah untuk analisis kimia;
 Eksplorasi tanah;
 Menguji semua sampel yang terkumpul di laboratorium;
 Analisis hasil tes;
 Menyiapkan laporan.

3.4.2 Desain Layout


Desain Layout untuk pekerjaan borlog Proyek Pembangunan Jalan Tol
Kunciran – Batu Ceper - Cengkareng di seksi I yang berlokasi di Tirtayasa Cipete
dapat terlihat pada gambar beriku :
3.4.3 Data Pendukung
3.4.4 Cara Perhitungan
Pada borlog dihitung berdasarkan panjang kedalaman pada borlog di setiap
titik yang direncanakan. Namun tidak semua titik yang akan dibayar ke pihak
eksternal. Titik borlog yang akan dibayar adalah lokasi yang merupakan review
design. Review design disini adalah design yang sebelumnya dari perencana tidak
menentukan adanya struktur yang berdiri pada lokasi tersebut, ataupun struktur yang
akan berdiri pada lokasi tersebut terdapat perubahan baik segi design ataupun beban
yang diterima oleh tanah tersebut. Untuk metode pembayarannya adalahn dengan
mengkalikan kedalaman borlog yang disepakati oleh pihak kontraktor, konsultan, dan
jasamarga dengan harga satuan per meternya. Contohnya untuk titik BL 48 akan ada
struktur P2 Kiri diatasnya yang didapatkan pengujian borlognya dengan kedalaman 40
m. untuk biaya pekerjaan internalnya terbayarkan dengan sub kontraktor permeter
kedalaman dengan harga Rp. 900.000,- per-meter.

3.4.5 Pengaplikasian Lapangan

3.5 Pekerjaan Erection Girder


3.5.1 Latar Belakang
Erection PCI girder adalah suatu kegiatan pemasangan balok girder ke atas
tumpuannya, dalam hal ini titik tumpu yang digunakan berupa rubber bearing atau
yang lebih dikenal dengan nama elastomeric bearing pad. Pekerjaan erection PCI
girder mencakup struktur yang berada pada jembatan.
3.5.2 Desain Layout
3.5.3 Data Pendukung
3.5.4 Pengendalian Mutu
3.5.5 Cara Perhitungan
Pada pembayaran girder akan dibayarkan apabila girder sudah terpasang (telah
di erection). Dalam hal ini girder sudah ter pasang pada dudukan abutment / pier pada
setiap struktur. Untuk pembayarannya kepada pihak external berdasarkan satuan buah
per girder. Sehingga pada contoh gambar diatas pada span P1 – P2 dan P2 – P3 terdapat
6 buah di masing masing span. Oleh karena itu jumlah girder yang dibayarkan pada
span P1 – P2 dan P2 – P3 sejumlah 12 buah girder dan selnjutnya dikalikan dengan
harga satuan yang telah disepakatin. Untuk menganalisis harga satuan pada girder
terbagi menjadi :
1. Biaya pembuatan Girder (L=25 m, H=160 cm) (Rp. 80.000.000,- per-
buah)
2. Biaya pemasangan Girder (Erection Girder) berupa sewa alat crane
beserta pemandu erection bersertifikat (Rp. 25.000.000,- per-girder
erection)
3. Biaya besi pengaku sementara (L=3 m, Dia. 22 mm, 2 buah per-girder)
(Rp. 300.000,- per-girder)
4. Biaya upah pekerjaan harian (Rp. 55.000,- orang/12 jam)
Untuk biaya yang dikerluarkan di internal berdasarkan biaya masing masing
yang telah ditetapkan untuk analisis harga satuan diatas. Untuk pembuatan girder akan
dikerjakan oleh WITON (WIKA BETON) dan pemasangan girder & pemandu
erection akan dikerjakan oleh sub kontraktor yang diawasi oleh pihak kontraktor.
Sedangkan besi pengaku sementara akan dikerjakan ketika girder telah terpasang dan
dilaksanakan oleh pekerja harian.
3.5.6 Pengaplikasian Lapangan