Anda di halaman 1dari 6

BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

A. Konsep Dasar Congestive Heart Failure

1. Definisi

Nugroho & Dara, (2016). Menyebutkan bahwa penyakit gagal jantung

yang dalam istilah medisnya disebut dengan “Heart Failure atau Cardiac

Failure”, merupakan suatu keadaan darurat medis dimana jumlah darah

yang dipompa oleh jantung sesorong setiap menitnya tidak mampu

memenuhi kebutuhan normal metabolisme tubuh. Gagal jantung adalah

ketidakmampuan jantung untuk memompakan darah yang adekuat untuk

memenuhi kebutuhan jaringan akan oksigen dan nutrient. Mekanisme yang

mendasar tentang gagal jantung termasuk kerusakan sifat kontraktil dari

jantung, yang mengarah pada curah jantung kurang dari normal. Kondisi

umum yang mendasari termasuk atrerosklerosis, hipertensi atrial, dan

penyakit implamsi atau degeneratif otot jantung. Sejumlah faktor sistemik

dapat menunjang perkembangan dan keparahan dari gagal jantung.

2. Etiologi

Ada beberapa etiologi/penyebab gagal jantung menurut Kuncara,

20010 dalam Brunner & Suddart, 20010 antara lain:

a. Kelainan Otot Jantung

Gagal jantung paling sering terjadi pada penderita kelainan otot

jantung, menyebabkan menurunnya kontraktilitas jantung.


b. Aterosklerosis Koroner

Mengakibatkan disfungsi miokardium karena terganggunya aliran

darah ke otot jantung.

c. Hipertensi sistemik atau purmonal (afterload)

Meningkatnya beban kerja jantung dan pada gilirannya

mengakibatkan hipertrofi serabut otot jantung.

d. Peradangan dan peyakit miokardium digeneratif berhubungan

dengan gagal jantung karena kondisi ini secara langsung merusak

serabut jantung.

e. Penyakit jantung lain

Gagal jantung dapat terjadi sebagai akibat penyakit jantung yang

sebenarnya tidak secara langsung mempengaruhi jantung.

Mekanisme yang biasanya terlibat mencakup gangguan aliran

darah melalui jantung.

f. Faktor sistemik

Terdapat sejumlah faktor yang berperan dalam perkembangan dan

beratnya gagal jantung. Meningkatnya laju metabolisme (misal

demam, tirotoksikosis), hipoksia dan anemia memerlukan

peningkatan jurah jantung untuk mempenuhi kebutuhan oksigen

sistemik.

3. Patofisiologi

Menurut Nugroho & putri, (2016). Kelainan fungsi otot jantung

disebabkan oleh aterosklerosis koroner, hipertensi arterial dan penyakit otot


degenaratif atau inflamsi. Aterosklerosis koroner mengakibatkan difusi

miokardium karena terganggunya aliran darah ke otot jantung. Terjadi

hipoksia dan asidosis (akibat penumpukan asam laktat). Infark miokardium

biasanya mendahului terjadinya gagal jantung Hipertensisistemik/purmonal

(peningkatan afterload) meningkatnya beban jantung dan pada gilirannya

mengakibatkan hipertrofi serabut otot jantung. Efek tersebut (hipertrofi

miokard) dapat dianggap sebagai mekanisme kompensasi karena akan

meningkatkan kontraktilitas jantung. Tetapi untuk alasan tidak jelas,

hipertrofi otot jantung tadi tidak dapat berfungsi secara normal, dan

akhirnya terjadinya gagal jantung.

Hipertensi sistemik atau purmonal (peningkatan afterload)

meningkatkan beban kerja jantung dan pada gilirannya mengakibatkan

hipertrofi serabut otot jantung. Peradangan dan penyakit miokardium

degeneratif berhubungan dengan gagal jantung karena kondisi ini secara

langsung merusak serabut jantung, menyebabkan kontraktilitas menurun.

Kondisi ini akan mengakibatkan pula menurunnya curah secukup dan

meningkatkan volume residu. Karena daya kemampuan sel otot pada

jantung menurun maka keadaan pompa darah oleh jantung akan mengalami

ketidak adekuatan atau (penurunan curah jantung) untuk mencapai

kebutuhan metabolisme tubuh sehingga pompaan ini tidak sempurna,

distribusi oksigen akan menurun yang dikompensasi oleh jantung dengan

meningkatkan denyut jantung dan kontraktilitas jantung serta meningkatkan

kecepatan respirasi, apabila proses kompensasi terjadi terus-menerus, pada


akhirnya jantung akan gagal melakukan pemompaan dan pasien menjadi

sesak nafas akibat kebutuhan oksigen tidak terpenuhi dan kurangnya suplay

oksigen ke otak serta kurangnya aliran darah pada otot menyebabkan

kelemahan dan keletihan maka timbul gangguan aktifitas yang ditandai

kelemahan pada fisik (Yulianti&Kimi, 2013).

Gagal jantung merupakan penyakit jantung yang mengalami

ketidakmampuan jantung mengisi darah sehingga oksigen dan nutrisi tidak

dapat tersebar ke seluruh sel jaringan atau pada organ jantung. Gagal

jantung ada dua yaitu ventrikel kiri dan ventrikel kanan. Pada gagal jantung

kiri atau kongestive paru menonjol pada gagal ventrikel kiri, karena

ventrikel kiri tidak mampu memompa darah yang datang dari paru.

Peningktan tekanan dalam sirkulasi paru menyebabkan cairan terdorong ke

jaringan paru sehingga manisfestasi klinis yang terjadi meliputi diespnue,

batuk, mudah lelah, takikardi, kecemasan dan gelisah

(Yulianti&Kimi,2013).

Sedangkan gagal jantung kanan bila ventrikel kanan gagal, yang

menonjol adalah kongestive visera dan jaringan perifer. Hal ini terjadi

karena sisi kanan jantung tidak mampu mengosongkan volume darah secara

adekuat sehingga tidak dapat mengakomodasi semua darah yang secara

normal dari sirkulasi vena sehingga manisfestasi klinis yang tampat meliputi

edema ekstremitas bawah, pertambahan berat badan, hepatomigali, distensi

vena leher, asites (penimbunan cairan dalam rongga peritonium), anoreksia

dan mual (Yulianti&Kimi, 2013).