Anda di halaman 1dari 8

A.

DEFINISI
Gastroenteritis Akut adalah inflamasi lambung dan usus yang disebabkan oleh berbagai bakteri,
virus, dan pathogen parasitic. Gastroenteritis Akut (GEA) diartikan sebagai buang air besar
(defekasi) dengan tinja berbentuk cairan / setengah cair (setengah padat) dengan demikian
kandungan air pada tinja lebih banyak dari biasanya berlangsung kurang dari 7 hari, terjadi
secara mendadak. (Soebagyo, 2008).

B. EPIDEMIOLOGI
Diperkirakan tiga sampai lima miliar kasus gastroenteritis terjadi di seluruh dunia setiap tahun,
terutama menjangkiti anak-anak dan orang di negara berkembang. Ini mengakibatkan sekira 1,3
juta kematian pada anak-anak di bawah usia lima tahun sejak 2008, sebagian besar kasus terjadi
di negara-negara paling miskin di dunia. Lebih dari 450.000 kematian tersebut disebabkan oleh
rotavirus pada anak di bawah usia 5 tahun.Kolera menyebabkan sekira tiga hingga lima juta
kasus penyakit dan membunuh sekira 100.000 orang setiap tahun. Di negara berkembang anak-
anak di bawah usia dua tahun sering mengalami infeksi enam kali atau lebih setiap tahun
sehingga mengakibatkan tingginya gastroenteritis secara klinis.Ini lebih jarang terjadi pada orang
dewasa, sebagian karena berkembangnya kekebalan dapatan.
Pada tahun 1980, gastroenteritis dengan semua penyebabnya mengakibatkan 4,6 juta kematian
pada anak-anak, dengan mayoritas kasus terjadi di negara berkembang. Tingkat kematian
berkurang secara signifikan (menjadi sekitar 1,5 juta kematian setiap tahun) sejak tahun 2000,
terutama karena pengenalan dan penggunaan luas terapi rehidrasi oral. Di AS, infeksi yang
menyebabkan gastroenteritis adalah infeksi paling umum kedua (setelah selesma), dan
menyebabkan 200 hingga 375 juta kasus diare akut dan sekira sepuluh ribu kematian setiap
tahun, 150 hingga 300 kematian ini terjadi pada anak-anak di bawah usia lima tahun.

C. KLASIFIKASI
Secara klinis Gastro Enteritis dapat dibedakan menjadi 2 jenis yaitu:
a. Gastro Enteritis Desentriform.
Disebabkan oleh antara lain: Shigella, Entamoeba Hystolitica.
b. Gastro Enteritis Koleriform.
Disebabkan oleh antara lain: Vibrio, Klastrida, atau Intoksikasi makanan.
D. ETIOLOGI
Lebih dari 90% diare akut disebabkan karena infeksi, sedangkan sekitar 10% karena sebab-sebab
lain antara lain obat-obatan, bahan-bahan toksik, iskemik dan sebagainya.
a. Faktor Infeksi
1) Infeksi enteral yaitu infeksi saluran pencernaan yang merupakan penyebab utama
Gastroenteritis. Infeksi enteral meliputi:
a. Infeksi Bakteri :
- Salmonella (Salmonella typhi, Salmonella paratyphi A/B/C, Salmonella spp)
Infeksinya kebanyakan disebabkan oleh kontaminasi makanan dan minuman terutama
terjadi pada anak-anak, identifikasi salmonella dari feses penderita.
- Escherichia coli
Merupakan suatu kuman penghuni kolon yang tidak patogen tetapi dapat menjadi
patogen pada bagian tubuh yang lain, dapat menimbulkan radang pada vesika urinaria.
- Vibrio (Vibrio cholerae 01 dan 0139, Vibrio cholera non 01, Vibrio parachemolyticus)
Kebanyakan merupakan organisme non patogen, hanya beberapa jenis yang
menimbulkan penyakit pada manusia, seperti vibrio cholera dan vibrio eltor.
- Shigella (Shigella dysentriae, Shigella Flexneri)
Ditularkan secara oral melalui air dan makanan, lalat yang tercemar oleh sekresi / feses
penderita. Lokalisasi yang paling sering terkena adalah usus besar dengan bagian
terbesar adalah bagian sigmoid.
- Clostridium perfringens, Campylobacter jejuni, Staphlyllococcus spp, Streptococcus
spp, Yersinia intestinalis, Coccidosis.
b) Infeksi Virus :
 Enterovirus (virus ECHO, Coxsackie, Poliomyelitis)
 Adenovirus
 Rotavirus
 Norwalk virus
 Astrovirus, dan lain-lain.
c) Infeksi Parasit :
- Cacing, (Ascaris, Trichiuris, Oxyuris, Strongyloides)
- Protozoa (Entamoeba Histtolytica, Giardia Lamblia, Trichomonas Haminisis)
- Jamur (Candida Albicans).
b. Infeksi Parenteral yaitu infeksi dibagian tubuh lain diluar alat pencernaan, seperti Ortitis
Media Akut (OMA), Tonsilofaringitis, Bronkopneumonia (Radang Paru), Encephalitas (Radang
Otak) dan sebagainya. Keadaan ini terutama terdapat pada bayi dan anak berumur dibawah 2
tahun.

b. Faktor Malabsorbsi

1. Malabsorbsi Karbohidrat :

- Disakarida (Intoleransi Laktosa, Maltosa, Dan Sukrosa)

- Monosakarida (Intoleransi Glukosa, Fruktosa Dan Galaktosa)

2. Malabsorbsi lemak

- Long Chain Triglyceride

3. Malabsorbsi protein

- Asam Amino dan B-Laktoglobulin

c. Faktor makanan :

- Makanan basi dan Makanan yang belum waktunya diberikan.

d. Keracunan

e. Alergi :

- Alergi Susu

- Alergi Makanan

- Cow's Milk Potein Sensitive Enteropathy (CMPSE)

f. Imunodefisiensi

g. Faktor lain

- psikis

- lingkungan
- cuaca

E. FAKTOR RESIKO
Faktor resiko gastroenteritis :
1. Tidak diberikannya asi ekslusif (6 bulan)
2. Gizi buruk
3. Campak Diare dan disentri akan tambah berat pada anak yang menderita campak 4
4. Immunodefisiensi dan immunosupresi (AIDS)
5. Umur, sering pada anak usia 2 tahun dan paling tinggi pada usia 6-11 bulan
6. Musim letak geografi, diare karena bakteri lebih sering pada musim panas, sedangkan diare
karena virus lebih sering pada musim hujan
7. Epidemiologi/wabah/kejadian luar biasa (KLB)

F. PATOFISIOLOGI
G. MANIFESTASI KLINIS
Mula-mula bayi dan anak menjadi cengeng, gelisah, suhu tubuh biasanya meningkat, nafsu
makan berkurang atau tidak ada, kemudian timbul diare. Tinja cair dan mungkin disertai lendir
dan atau darah. Warna tinja makinlama makin berubah kehijau-hijauan karena tercampur
dengan cairan empedu. Anus dan daerah sekitarnya lecet dan kemerahan karena seringnya
defekasi dan tinja makin lama makin asam sebagai akibat makin banyaknya asam laktat, yang
beasal dari laktosa yang tidak dapat diabsorbsi usus selama diare. Gejala muntah dapat terjadi
sebelumatau sesudah diare dan dapat disebabkan oleh lambung yang turut meradang atau
akibat gangguan keseimbangan asam-basa dan elektrolit. Bila penderita telah kehilangan banyak
cairan dan elektrolit, maka gejala dehidrasi mulai tampak. Berat badan turun, turgor kulit
berkurang , mata dan ubun-ubun besar menjadi cekung, selaput lendir bibir dan mulut serta
kulit tampak kering.
H. PEMERIKSAAN DIAGNOSTIK

1. Pemeriksaan laboratorium.
2. Pemeriksaan tinja.
3. Pemeriksaan gangguan keseimbangan asam basa dalam darah astrup,bila memungkinkan
dengan menentukan PH keseimbangan analisa gas darah atau astrup,bila memungkinkan.
4. Pemeriksaan kadar ureum dan creatinin untuk mengetahui pungsi ginjal.
5. Pemeriksaan elektrolit intubasi duodenum (EGD) untuk mengetahui jasad renik atau parasit
secara kuantitatif,terutama dilakukan pada penderita diare kronik.
6. Pemeriksaan radiologis seperti sigmoidoskopi, kolonoskopi dan lainnya biasanya tidak
membantu untuk evaluasi gastroentritis akut (GEA) / diare akut infeksi.

I. PENATALAKSANAAN MEDIS
Terapi Cairan
Untuk menentukan jumlah cairan yang perlu diberikan kepada penderita diare, harus
diperhatikan hal-hal sebagai berikut :
a. Jumlah cairan : jumlah cairan yang harus diberikan sama dengan
1. Jumlah cairan yang telah hilang melalui diare dan/muntah muntah PWL (Previous Water
Losses) ditambah dengan banyaknya cairan yang hilang melalui keringat, urin dan
pernafasan NWL (Normal Water Losses).
2. Cairan yang hilang melalui tinja dan muntah yang masih terus berlangsung CWL
(Concomitant water losses) (Suharyono dkk., 1994 dalam Wicaksono, 2011)
Ada 2 jenis cairan yaitu:
1) Cairan Rehidrasi Oral (CRO) : Cairan oralit yang dianjurkan oleh WHO-ORS, tiap 1
liter mengandung Osmolalitas 333 mOsm/L, Karbohidrat 20 g/L, Kalori 85 cal/L.
Elektrolit yang dikandung meliputi sodium 90 mEq/L, potassium 20 mEq/L, Chloride
80 mEq/L, bikarbonat 30 mEq/L (Dipiro et.al., 2005).
Ada beberapa cairan rehidrasi oral:

 Cairan rehidrasi oral yang mengandung NaCl, KCL, NaHCO3 dan glukosa, yang
dikenal dengan nama oralit.
 Cairan rehidrasi oral yang tidak mengandung komponen-komponen di atas
misalnya: larutan gula, air tajin, cairan-cairan yang tersedia di rumah dan lain-
lain, disebut CRO tidak lengkap.

2) Cairan Rehidrasi Parenteral (CRP) Cairan Ringer Laktat sebagai cairan rehidrasi
parenteral tunggal. Selama pemberian cairan parenteral ini, setiap jam perlu
dilakukan evaluasi:
 Jumlah cairan yang keluar bersama tinja dan muntah
 Perubahan tanda-tanda dehidrasi (Suharyono, dkk., 1994 dalam Wicaksana,
2011).

Antibiotik
Pemberian antibotik secara empiris jarang diindikasikan pada diare akut infeksi, karena 40%
kasus diare infeksi sembuh kurang dari 3 hari tanpa pemberian anti biotik. Pemberian antibiotik
di indikasikan pada : Pasien dengan gejala dan tanda diare infeksi seperti demam, feses
berdarah,, leukosit pada feses, mengurangi ekskresi dan kontaminasi lingkungan, persisten atau
penyelamatan jiwa pada diare infeksi, diare pada pelancong, dan pasien immunocompromised.
Contoh antibiotic untuk diare Ciprofloksasin 500mg oral (2x sehari, 3 – 5 hari), Tetrasiklin 500
mg (oral 4x sehari, 3 hari), Doksisiklin 300mg (Oral, dosis tunggal), Ciprofloksacin 500mg,
Metronidazole 250-500 mg (4xsehari, 7-14 hari, 7-14 hari oral atauIV).

Obat Anti Diare


Loperamid HCl serta kombinasi difenoksilat dan atropin sulfat (lomotil). Penggunaan kodein
adalah 15-60mg 3x sehari, loperamid 2 – 4 mg/ 3 – 4x sehari dan lomotil 5mg 3 – 4 x sehari. Efek
kelompok obat tersebut meliputi penghambatan propulsi, peningkatan absorbsi cairan sehingga
dapat memperbaiki konsistensi feses dan mengurangi frekuensi diare.

Bila diberikan dengan cara yang benar obat ini cukup aman dan dapat mengurangi frekwensi
defekasi sampai 80%. Bila diare akut dengan gejala demam dan sindrom disentri obat ini tidak
dianjurkan.

J. KOMPLIKASI

Ada beberapa komplikasi yang lazim muncul pada klien dengan gastroenteritis menurut Betz
(2009, hal 190), antaranya adalah:
 Dehidrasi berat, ketidakseimbangan elektrolit
 Syok hipovalemik yang terdekompensasi (hipotensi, asidosis metabolic, perfusi sistemik
buruk)
 Kejang demam
 Bakterimia.