Anda di halaman 1dari 16

JURNAL KEDOKTERAN DIPONEGORO

Volume 7, Nomor 2, Mei 2018


Online : http://ejournal3.undip.ac.id/index.php/medico
ISSN Online : 2540-8844
Imelda Margaretha Saragih, Suharto, Arwinda Nugraheni

FAKTOR-FAKTOR YANG BERHUBUNGAN DENGAN PEMILIHAN


PENGGUNAAN METODE KONTRASEPSI NON IUD PADA
AKSEPTOR KB WANITA USIA SUBUR DI KELURAHAN
BANDARHARJO SEMARANG UTARA
Imelda Margaretha Saragih1, Suharto2, Arwinda Nugraheni2
1
Mahasiswa Program S-1 Ilmu Kedokteran, Fakultas Kedokteran, Universitas Diponegoro
2
Staf Pengajar Ilmu Kesehatan Masyarakat, Fakultas Kedokteran, Universitas Diponegoro
JL. Prof. H. Soedarto, SH., Tembalang-Semarang 50275, Telp. 02476928010

ABSTRAK
Latar Belakang: Data Dinas Kesehatan Semarang Utara tahun 2012 menyatakan Kelurahan
Bandarharjo memiliki peserta akseptor KB aktif terbanyak dan didominasi oleh akseptor non
IUD sebesar 84,79 %. Diperlukan pengkajian lanjut mengenai faktor yang berhubungan
dalam pemilihan kontrasepsi Non IUD pada wanita usia subur.
Tujuan: Menganalisis faktor risiko yang berhubungan dengan pemilihan penggunaan metode
kontrasepsi Non IUD.
Metode penelitian: Observasional analitik dengan desain cross sectional pada sampel
akseptor KB wanita usia subur di Kelurahan Bandarharjo bulan Juni-September 2017 dengan
teknik sampling simple random sampling dan besar sampel minimal 66 sampel. Instrumen
berupa kuesioner yang telah diuji validitasnya. Pengambilan data dengan cara angket dan
wawancara, kemudian analisis hubungan dengan uji statistik Chi Square.
Hasil: Analisis statistik diperoleh umur istri (p=0,045; 95%CI=0,98-1,855; PR=1,35),
pengetahuan (p=0,049; 95%CI=0,99-1,79; PR=1,33), dan sikap istri (p=0,001; 95%CI=0,98-
1,855; PR=1,35) memiliki hubungan signifikan terhadap pemilihan jenis kontrasepsi Non IUD
pada akseptor KB wanita usia subur di Bandarharjo. Sedangkan faktor tingkat pendidikan
(p=0,877; 95%CI=0,73-1,30; PR=0,98), status ekonomi (p=0,525; 95%CI=0,67-1,24;
PR=0,91), budaya tradisi dan keyakinan (p=0,336; 95%CI=0,61-1,21; PR=0,86), pengalaman
(p=0,842; 95%CI=0,76-1,40; PR=1,03), jumlah anak (p=1,000; 95%CI=0,73-1,41; PR=1,01),
penerimaan informasi KB (p=0,120; 95%CI=0,96-1,64; PR=1,25), jamkesmas (p=0,322;
95%CI=0,87-1,54; PR=1,16), dan dukungan suami (p=0,670; 95%CI=0,71-1,25; PR=0,94)
tidak memiliki hubungan signifikan dengan pemilihan jenis kontrasepsi Non IUD pada
akseptor KB wanita usia subur.
Kesimpulan: Faktor umur istri, pengetahuan, dan sikap istri mempunyai hubungan signifikan
terhadap pemilihan jenis kontrasepsi Non IUD pada akseptor KB wanita usia subur.
Disarankankan untuk meningkatkan pengetahuan dan sikap istri terhadap pemilihan
kontrasepsi.
Kata Kunci : IUD, faktor demografi, faktor sosial economy dan budaya..

ABSTRACT
CONTRIBUTING FACTORS OF NON IUD CONTRACEPTION CHOICE IN KB
ACCEPTOR AMONG FERTILE WOMAN IN BANDARHARJO DISTRICT, NORTH
SEMARANG
Background : Based on North Semarang public health service in 2012 said that the highest

JKD, Vol. 7, No. 2, Mei 2018 : 1236-1250


1236
JURNAL KEDOKTERAN DIPONEGORO
Volume 7, Nomor 2, Mei 2018
Online : http://ejournal3.undip.ac.id/index.php/medico
ISSN Online : 2540-8844
Imelda Margaretha Saragih, Suharto, Arwinda Nugraheni

number of active KB acceptor has been found in Bandarharjo district and dominated by non
IUD contraception user as much as 84,79%, hence it is required further assessment of
contributing factors of non IUD contraception choice (PUS) in fertile woman.
Aim : To Analyze Contributing Factors Of Non Iud Contraception Choice In KB Acceptor
Among Fertile Woman
Method : An analytical observational study with cross sectional design in KB acceptor
among fertile woman. The elected location was Bandarharjo district. Samples were taken by
simple random sampling. There were 66 respondents. The material used in this study was a
questionnire that the validity had been tested before. Data was taken by questionnire and short
interview. The collected data was to be analyzed using Chi square test.
Result : Statistic analysis result showed wife age (p=0,045), knowledge (p=0,049), and wife
behavior (p=0,001) had significant correlation with non IUD contraception choice in KB
acceptor among fertile woman. Whereas, education level (p=0,877), economic status
(p=0,525), cultural belief and tradition (p=0,336), experience (p=0,842), number of child
(p=1,000), acceptance of KB information (p=0,120), jamkesmas (p=0,322), and husband
support (p=0,670) had no significant correlation with non IUD contraception choice in KB
acceptor among fertile woman in Bandarharjo district.
Conclusion : Wife age, knowledge, and wife behavior had significant correlation with non
IUD contraception choice in KB acceptor among fertile woman. Whereas, education level,
economic status, cultural belief and tradition, experience, number of child, acceptance of KB
information, jamkesmas, and husband support had no significant correlation with non IUD
contraception choice in KB acceptor among fertile woman in Bandarharjo district.
Keywords : IUD, Demografi factor, social economy factor and culture.

PENDAHULUAN data dari SDKI 2012, angka pemakaian


Kontrasepsi adalah suatu upaya kontrasepsi (contraceptive prevalence rate
untuk mencegah terjadinya kehamilan dan atau CPR) mengalami peningkatan sangat
merupakan salah satu variabel yang kecil dari 57,4 % pada tahun 2007 menjadi
mempengaruhi fertilitas. Salah satu metode 57,9 % pada tahun 2012.1 Berdasarkan
kontrasepsi yang efektif adalah metode data dari Badan Kependudukan dan
kontrasepsi IUD yang merupakan salah Keluarga Berencana Nasional (BKKBN)
satu metode kontrasepsi non hormonal 2013 menunjukkan bahwa pada tahun 2013
yang efektif dengan satu kali pemasangan sebanyak 8.500.247 pasangan usia subur
untuk jangka waktu yang lama. Namun (PUS) yang merupakan peserta KB baru
pada kenyataannya di Indonesia alat dengan persentase pemakaiannya yaitu
kontrasepsi yang lebih di minati adalah IUD sebesar 7,75 % , MOW 1,52 % ,
kontrasepsi hormonal atau kontrasepsi non Kondom 6,09 %, implan 9,23 %, suntikan
IUD sementara penggunaan kontrasepsi sebesar 48,56 % , pil sebesar 26,60 %1.
IUD masih tergolong rendah. Berdasarkan Sementara, berdasarkan data profil Dinas

JKD, Vol. 7, No. 2, Mei 2018 : 1236-1250


1237
JURNAL KEDOKTERAN DIPONEGORO
Volume 7, Nomor 2, Mei 2018
Online : http://ejournal3.undip.ac.id/index.php/medico
ISSN Online : 2540-8844
Imelda Margaretha Saragih, Suharto, Arwinda Nugraheni

Kesehatan Semarang Utara pada tahun koroner (2,7 kali bukan pengguna
2012 dinyatakan bahwa dari semua kontrasepsi oral berumur 30-39 tahun dan
kelurahan yang ada di Kecamatan 5,7 kali dibanding bukan pengguna
Semarang Utara, peserta akseptor KB aktif kontrasepsi oral berumur 40-44 tahun)
terbanyak yaitu terdapat di Kelurahan pada wanita yang merokok.2 Dalam
Bandarharjo. Dari data tersebut dinyatakan menentukan perilaku pemilihan
bahwa peserta KB aktif didominasi oleh penggunaan kontrasepsi, terdapat berbagai
non IUD yaitu sebesar 84,79 %, terutama faktor-faktor yang berhubungan dengan
kontrasepsi suntik yaitu sebesar 65,2 %.3 pemilihan tersebut. Menurut teori perilaku
Berdasarkan penelitian sebelumnya Lawrence Green, promosi kesehatan
oleh Renny Anastuti Kusumaningrum sebagai pendekatan kesehatan terhadap
dengan judul penelitian yaitu Faktor - faktor perilaku kesehatan, maka
Faktor yang Berhubungan dengan kegiatannya tidak terlepas dari faktor-
Pasangan Usia Subur ( PUS ) Tidak faktor yang menentukan perilaku tersebut.
Memilih Metode Kontrasepsi Intra Uterine Menurut Lawrence Green perilaku ini
Device ( IUD ) Di Desa Pucangan ditentukan oleh 3 faktor utama, yakni
Kecamatan Kartasura Kabupaten faktor pendorong (predisposing factors),
Sukoharjo pada tahun 2013 menunjukkan faktor pemungkin (enabling factors),
penggunaan kontrasepsi hormonal atau faktor penguat (reinforcing factors).
non IUD dalam jangka panjang dapat Berdasarkan latar belakang tersebut,
menimbulkan risiko, salah satunya terkena peneliti ingin melakukan penelitian dan
osteoporosis. Adapun dua kerugian pada mengkaji faktor-faktor apa sajakah yang
penggunaan kontrasepsi hormonal berhubungan dengan pemilihan
kombinasi (kontrasepsi oral) yaitu pertama penggunaan metode kontrasepsi non IUD
meningkatkan insiden penyakit pada akseptor KB wanita usia subur di
tromboemboli, terutama pada perokok (4-5 Kelurahan Bandarharjo, Semarang Utara.
kali dibanding bukan pengguna kontrasepsi
oral). Angka kematian akibat penyakit METODE
tromboemboli pada pengguna kontrasepsi Penelitan ini merupakan jenis
oral adalah 3/100.000. Kedua penelitian analitik observasional dengan
meningkatkan insiden penyakit arteri desain cross-sectional. Penelitian ini tidak

JKD, Vol. 7, No. 2, Mei 2018 : 1236-1250


1238
JURNAL KEDOKTERAN DIPONEGORO
Volume 7, Nomor 2, Mei 2018
Online : http://ejournal3.undip.ac.id/index.php/medico
ISSN Online : 2540-8844
Imelda Margaretha Saragih, Suharto, Arwinda Nugraheni

melakukan intervensi apapun pada sampel ekonomi, budaya tradisi dan keyakinan,
dan pengambilan data telah dilakukan pada pengalaman, jumlah anak, penerimaan
satu periode waktu. Data yang informasi KB, keikutsertaan jamkesmas,
dikumpulkan dalam penelitian ini adalah sikap Istri, dan dukungan suami. Variabel
data primer dan data sekunder. Data primer tergantung yang digunakan adalah
adalah data yang diperoleh langsung dari pemilihan penggunaan kontrasepsi non
subyek penelitian yang berasal dari IUD pada akseptor KB wanita usia subur.
wawancara dengan responden yang Pengambilan data dalam penelitian ini
berpedoman pada kuesioner penelitian. dilakukan dengan cara pengisian kuesioner
Data sekunder adalah data yang diperoleh yang telah disediakan untuk memperoleh
dari pihak lain, tidak langsung dari subyek data kuantitatif.
penelitian. Penelitian dilakukan di Data yang terkumpul dilakukan
Kelurahan Bandarharjo, Semarang Utara, pengeditan, pengkodingan dan pemberian
Kota Semarang. Penelitian dilaksanakan nilai (scoring) kemudian data dimasukkan
selama 4 bulan (Juni-September). Populasi dalam program SPSS versi 21 for
target adalah akseptor KB wanita usia WINDOWS dan dihitung frekuensinya
subur. Populasi terjangkau adalah akseptor kemudian ditampilkan dalam tabel. Data
KB wanita usia subur di Kelurahan yang sudah didapatkan kemudian diuji
Bandarharjo Semarang Utara. Metode hipotesisnya dengan analisa data univariat
sampling yang digunakan adalah Simple dalam bentuk distribusi frekuensi.
random sampling. Jumlah responden yang Kemudian dianalisis secara Analisis data
digunakan yaitu sebesar 66 responden yang bivariat untuk mencari hubungan antara 2
memenuhi kriteria inklusi yaitu wanita variabel menggunakan uji Chi-square yang
akseptor KB usia subur yaitu 15-49 tahun, disajikan dalam bentuk tabel dan narasi.
tercatat dari data kader atau puskesmas Signifikansi dicapai jika p < 0,05.
sebagai akseptor KB, mampu membaca
dan menulis, bersedia mengikuti penelitian HASIL PENELITIAN
dibuktikan dengan menandatangani Kelurahan Bandarharjo merupakan
informed consent. Variabel bebas yang sebuah kelurahan di wilayah kecamatan
digunakan adalah umur, tingkat Semarang Utara, Kota Semarang, Provinsi
pengetahuan, tingkat pendidikan, status Jawa Tengah yang memiliki luas wilayah

JKD, Vol. 7, No. 2, Mei 2018 : 1236-1250


1239
JURNAL KEDOKTERAN DIPONEGORO
Volume 7, Nomor 2, Mei 2018
Online : http://ejournal3.undip.ac.id/index.php/medico
ISSN Online : 2540-8844
Imelda Margaretha Saragih, Suharto, Arwinda Nugraheni

342,68 hektar. Kelurahan Bandarharjo ini orang menggunakan pil KB. Selain itu,
terdiri dari 12 RW yang terbagi menjadi tercatat dari data bulan Agustus, terdapat
103 RT. Berdasarkan data langsung yang sebanyak 617 pasangan yang tidak
diperoleh dari laporan pendataan bulanan memakai kontrasepsi dikarenakan berbagai
Ibu Kader di wilayah tersebut pada bulan macam alasan. Berdasarkan keterangan
Agustus terdapat 4063 rumah tangga yang yang diperoleh dari Ibu Kader bahwa
telah terdata dengan total 5.144 jumlah Puskesmas Bandarharjo dan beberapa
kepala keluarga, terdapat 4410 jumlah bidan praktik mandiri dapat melayani jasa
kepala keluarga yang bekerja dan 734 pemasangan metode kontrasepsi implan
kepala keluarga yang terdata tidak bekerja. dan IUD dengan biaya mandiri atau swasta
Selain itu, berdasarkan tingkat pendidikan ataupun dapat ditanggulangi oleh biaya
diperoleh data bahwa sebanyak 1303 asuransi pemerintah. Sampel penelitian ini
kepala keluarga yang tidak tamat SD, 1972 adalah wanita akseptor KB dengan usia
kepala keluarga yang tamat SD-SLTP, subur yaitu 15 – 49 tahun yang tercatat
1714 kepala keluarga tamat SLTA, dan dalam data kader atau puskesmas di
155 kepala keluarga yang tingkat Bandarharjo dalam kurun waktu Juni –
pendidikannya sampai ke jenjang September 2017. Jumlah sampel yang
perguruan tinggi. Berdasarkan jumlah anak diteliti yaitu sebanyak 67 responden.
yang dimiliki diperoleh data bahwa jumlah ANALISIS UNIVARIAT
keluarga yang memiliki anak ≤ 2 sebanyak Tabel 1. Pemilihan Kontrasepsi
2990 keluarga, dan yang memiliki jumlah
Jenis Jumlah Presentase
anak > 2 ada sebanyak 852 keluarga. Kontrasepsi (%)
Selain itu, terdapat sebanyak 4441 wanita Non IUD 48 72,8
yang berusia subur dan sebanyak 2985 IUD 18 27,2
pasangan usia subur dengan jumlah peserta Total 66 100
KB sebanyak 1754 yang terdiri dari 162
orang dengan IUD, 228 orang
menggunakan MOW, 8 orang
menggunakan MOP, 31 orang dengan
Kondom, 49 orang menggunakan implant,
1599 orang menggunakan suntik, 167

JKD, Vol. 7, No. 2, Mei 2018 : 1236-1250


1240
JURNAL KEDOKTERAN DIPONEGORO
Volume 7, Nomor 2, Mei 2018
Online : http://ejournal3.undip.ac.id/index.php/medico
ISSN Online : 2540-8844
Imelda Margaretha Saragih, Suharto, Arwinda Nugraheni

Tabel 2. Gambaran Karakteristik Responden


Variabel F %
Variabel F %
Dukungan suami
Umur istri
Kurang mendukung 32 48,5
20 – 35 tahun 37 56,1
Mendukung 34 51,5
> 35 tahun 29 43,9
Penerimaan informasi KB
Pendidikan istri Tidak pernah 26 39,4
Dasar 30 45,5 Pernah 40 60,6
Menengah 36 54,5
Sikap ibu
Pengalaman
Kurang setuju 31 47
Buruk 44 66,7
Setuju 35 53
Tidak ada 22 33,3

Jamkesmas ANALISIS BIVARIAT


Tidak 34 51,5 Tabel 3. Hasil Uji P Kolmogrov
P
Ya 32 48,5 Mean ± Median
Skor Kolmog
Jumlah anak SD (Range)
rov
>2 16 24,2 24,26 ± 24,5 (12
Pengetahuan 0,003
≤2 50 75,8 4,30 – 31)
Budaya,Trad
Ekonomi 5,80 ±
isi, 6 (0 – 8) 0,000
1,64
< UMR 23 34,8 Keyakinan
> UMR 43 65,2 Dukungan 8,55 ±
9 (2 – 12) 0,006
Suami 2,34
Pengetahuan
Penerimaan
Kurang 33 50 7,14 ±
Informasi 7 (2 – 11) 0,002
2,33
Baik 33 50 KB

Budaya, Tradisi, Keyakinan 5,98 ±


Sikap Istri 6 (1 – 10) 0,001
2,99
Kurang mendukung 21 31,8
Hasil uji normalitas Kolmogrov-
Mendukung 45 68,2 smirnov dari 5 variabel bebas yaitu tingkat

JKD, Vol. 7, No. 2, Mei 2018 : 1236-1250


1241
JURNAL KEDOKTERAN DIPONEGORO
Volume 7, Nomor 2, Mei 2018
Online : http://ejournal3.undip.ac.id/index.php/medico
ISSN Online : 2540-8844
Imelda Margaretha Saragih, Suharto, Arwinda Nugraheni

pengetahuan, budaya tradisi dan sebaran data tidak normal (p<0,05). Oleh
keyakinan, dukungan suami, penerimaan karena itu, untuk sistem skoring data
informasi KB, sikap Istri maka didapatkan kuisioner menggunakan data median.
Tabel 4. Hasil Uji Chi-square
Pemilihan KB
Variabel Non IUD IUD p
n % n %
Umur istri
20 – 35 tahun 31 83,8 6 16,2 0,045
> 35 tahun 18 62,1 11 37,9
Pendidikan istri
Dasar 22 73,3 8 26,7 0,877
Menengah 27 75 9 25
Pengalaman
Buruk 33 75 11 25 0,842
Tidak ada/baik 16 72,7 6 27,3
Jamkesmas
Tidak 27 79,4 7 20,6 0,322
Ya 22 68,8 10 31,3
Jumlah anak
>2 12 75 4 25 1,000
≤2 37 74 13 26
Ekonomi
≤ UMR 16 69,6 7 30,4 0,525
> UMR 33 76,7 10 23,3
Pengetahuan
Kurang 28 84,8 5 15,2 0,049
Baik 21 63,6 12 36,4
Budaya, Tradisi, Keyakinan
Kurang mendukung 14 66,7 7 33,3 0,336
Mendukung 35 77,8 10 22,2
Dukungan suami
Kurang mendukung 23 71,9 9 28,1 0,670

JKD, Vol. 7, No. 2, Mei 2018 : 1236-1250


1242
JURNAL KEDOKTERAN DIPONEGORO
Volume 7, Nomor 2, Mei 2018
Online : http://ejournal3.undip.ac.id/index.php/medico
ISSN Online : 2540-8844
Imelda Margaretha Saragih, Suharto, Arwinda Nugraheni

Mendukung 26 76,5 8 23,5


Penerimaan informasi KB
Tidak pernah 22 84,6 4 15,4 0,120
Pernah 27 67,5 13 32,5
Sikap ibu
Kurang setuju 29 93,5 2 6,5 0,001
Setuju 20 57,1 15 42,9

Hasil analisis bivariat yang Penelitian ini menunjukkan bahwa


dilakukan dengan uji chi-square diperoleh wanita usia subur yang berusia 20-35 tahun
umur istri (p=0,045), pengetahuan mempunyai kemungkinan 1,35 kali untuk
(p=0,049), dan sikap istri (p=0,001) memilih menggunakan kontrasepsi Non
memiliki hubungan signifikan terhadap IUD dibandingkan dengan wanita yang
pemilihan jenis kontrasepsi Non IUD pada berusia >35 tahun dibuktikan dengan nilai
akseptor KB wanita usia subur di Prevalence ratio (95%CI=0,98-1,855;
Bandarharjo. Sedangkan faktor tingkat PR=1,35). Analisis data yang dilakukan,
pendidikan (p=0,877), status ekonomi hubungan antara umur dengan pemilihan
(p=0,525), budaya tradisi dan keyakinan penggunaan metode kontrasepsi Non IUD
(p=0,336), pengalaman (p=0,842), jumlah didapat nilai p sebesar 0,045 (p< 0,05)
anak (p=1,000), penerimaan informasi KB maka secara statistik menunjukkan
(p=0,120), jamkesmas (p=0,322), dan terdapat hubungan yang signifikan antara
dukungan suami (p=0,670) tidak memiliki faktor umur dengan pemilihan kontrasepsi
hubungan signifikan dengan pemilihan non IUD pada akseptor KB wanita usia
jenis kontrasepsi Non IUD pada akseptor subur. Hal ini sejalan dengan hasil
KB wanita usia subur. penelitian yang dilakukan oleh Radita
Kusumaningrum yang menyatakan bahwa
PEMBAHASAN umur ibu berpengaruh terhadap pemilihan
Umur berhubungan dengan Pemilihan jenis kontrasepsi karena masa reproduksi
Penggunaan Metode Kontrasepsi Non atau masa subur seorang wanita
IUD pada Akseptor KB Wanita Usia dipengaruhi oleh umur. Masa reproduksi
Subur (kesuburan) ini merupakan dasar dalam
pola penggunaan kontrasepsi rasional.5

JKD, Vol. 7, No. 2, Mei 2018 : 1236-1250


1243
JURNAL KEDOKTERAN DIPONEGORO
Volume 7, Nomor 2, Mei 2018
Online : http://ejournal3.undip.ac.id/index.php/medico
ISSN Online : 2540-8844
Imelda Margaretha Saragih, Suharto, Arwinda Nugraheni

Pengetahuan berhubungan dengan Tingkat Pendidikan tidak berhubungan


Pemilihan Penggunaan Metode dengan Pemilihan Penggunaan Metode
Kontrasepsi Non IUD pada Akseptor Kontrasepsi Non IUD pada Akseptor
KB Wanita Usia Subur KB Wanita Usia Subur
Analisa data yang dilakukan Analisis bivariat hubungan antara
tentang hubungan antara pengetahuan tingkat pendidikan dengan pemilihan
dengan pemilihan penggunaan metode penggunaan metode kontrasepsi Non IUD
kontrasepsi Non IUD didapat nilai p didapat nilai p sebesar 0,877 (p>0,05)
sebesar 0,049 (p< 0,05), nilai Prevalence maka secara statistik menunjukkan tidak
ratio (95%CI=0,99-1,79; PR=1,33). Dari terdapat hubungan yang signifikan antara
hasil analisis tersebut dapat disimpulkan faktor tingkat pendidikan dengan
bahwa terdapat hubungan yang signifikan pemilihan kontrasepsi non IUD pada
antara faktor tingkat pengetahuan dengan akseptor KB wanita usia subur. Hal ini
pemilihan kontrasepsi non IUD dan wanita berbeda dengan hasil penelitian yang
usia subur yang berpengetahuan kurang dilakukan oleh Renny Anastuti
mempunyai kemungkinan 1,33 kali untuk Kusumaningrum2 Tingkat pendidikan yang
memilih menggunakan kontrasepsi Non lebih tinggi akan memudahkan dan
IUD dibandingkan dengan wanita yang memungkinkan dalam menyerap atau
berpengetahuan baik. Pernyataan ini menerima informasi dan
sejalan dengan penelitian yang dilakukan mengimplementasikannya dalam gaya
oleh Renny Anastuti Kusumaningrum (p = hidupnya, khususnya dalam hal kesehatan
0,000)2 dengan penjelasan bahwa rata-rata dan pemilihan kontrasepsi. Namun tingkat
responden mempunyai pengetahuan yang pendidikan yang lebih tinggi tidak serta
cukup mengenai kontrasepsi IUD namun merta ataupun tidak menjamin sebuah
peminatan terhadap kontrasepsi IUD masih keluarga untuk memilih jenis kontrasepsi
rendah. Hal ini dapat disebabkan karena yang lebih mudah dan aman, hal ini
berbagai alasan yang berbeda- beda seperti disebabkan karena tidak adanya pemberian
takut efek samping, takut proses pelajaran khusus tentang pemilihan jenis
pemasangan, dilarang oleh suami karena metode kontrasepsi di sekolah ataupun
takut benangnya mengganggu saat sarana pendidikan lainnya. Baik yang
bersenggama.2 tingkat pendidikannya rendah maupun

JKD, Vol. 7, No. 2, Mei 2018 : 1236-1250


1244
JURNAL KEDOKTERAN DIPONEGORO
Volume 7, Nomor 2, Mei 2018
Online : http://ejournal3.undip.ac.id/index.php/medico
ISSN Online : 2540-8844
Imelda Margaretha Saragih, Suharto, Arwinda Nugraheni

tinggu lebih banyak memilih jenis mempengaruhi dalam pemilihan metode


kontrasepsi Non IUD. kontrasepsi IUD maupun Non IUD.
Status Ekonomi tidak berhubungan Budaya, Tradisi dan Keyakinan tidak
dengan Pemilihan Penggunaan Metode berhubungan dengan Pemilihan
Kontrasepsi Non IUD pada Akseptor Penggunaan Metode Kontrasepsi Non
KB Wanita Usia Subur IUD pada Akseptor KB Wanita Usia
Hubungan antara status ekonomi Subur
dengan pemilihan penggunaan metode Hubungan antara budaya, tradisi
kontrasepsi Non IUD didapat nilai p dan keyakinan dengan pemilihan
sebesar 0,525 (p> 0,05) maka secara penggunaan metode kontrasepsi Non IUD
statistik menunjukkan tidak terdapat didapat nilai p sebesar 0,336 (p> 0,05)
hubungan yang signifikan antara faktor yang berarti tidak didapatkan hubungan
status ekonomi dengan pemilihan yang bermakna antara budaya, tradisi
kontrasepsi non IUD pada akseptor KB masyarakat dan keyakinan dengan
wanita usia subur. Hal ini bertentangan pemilihan penggunaan metode kontrasepsi
dengan penelitian yang dilakukan oleh baik IUD maupun Non IUD. Hal ini
Annisa Rahma Adhyani(p=0,039).4 Status diperkuat dengan penelitian sebelumnya
ekonomi atau penghasilan yang lebih yang dilakukan oleh Annisa Adhyani, dan
tinggi tidak menjamin atau tidak penelitian Radita Kusumaningrum tahun
memastikan bahwa ibu akan memilih 2009 yang menyebutkan bahwa tidak
menggunakan metode kontrasepsi IUD terdapat hubungan yang signifikan antara
yang cenderung lebih mahal dalam sekali pengaruh agama dan budaya dengan
pemasangan. Menurut wawancara peneliti pemilihan kontrasepsi non IUD pada
dengan ibu kader di desa setempat wanita usia 20-39 tahun.4,5
menyatakan bahwa di desa tersebut semua Pengalaman Penggunaan KB
warga yang memiliki asuransi BPJS dari sebelumnya tidak berhubungan dengan
pemerintah akan mendapat tunjangan biaya Pemilihan Penggunaan Metode
dalam hal pemasangan metode kontrasepsi Kontrasepsi Non IUD pada Akseptor
IUD maupun Non IUD. Sehingga KB Wanita Usia Subur
penghasilan dan status ekonomi tidak Pada penelitian ini didapatkan nilai
p sebesar 0,842 (p> 0,05) maka secara

JKD, Vol. 7, No. 2, Mei 2018 : 1236-1250


1245
JURNAL KEDOKTERAN DIPONEGORO
Volume 7, Nomor 2, Mei 2018
Online : http://ejournal3.undip.ac.id/index.php/medico
ISSN Online : 2540-8844
Imelda Margaretha Saragih, Suharto, Arwinda Nugraheni

statistik menunjukkan tidak terdapat Analisis statistik hubungan antara


hubungan yang signifikan antara faktor jumlah anak dengan pemilihan penggunaan
pengalaman dengan pemilihan kontrasepsi metode kontrasepsi Non IUD didapat nilai
non IUD pada akseptor KB wanita usia p sebesar 1,000 (p> 0,05) maka secara
subur. Namun, menurut penelitian yang statistik menunjukkan tidak terdapat
dilakukan oleh Aminatul Maula dkk hubungan yang signifikan antara faktor
menyatakan bahwa ada hubungan antara jumlah anak yang dimiliki dengan
pengalaman dalam menggunakan alat pemilihan kontrasepsi non IUD pada
kontrasepsi yang lalu dengan pemilihan akseptor KB wanita usia subur. Hasil
alat kontrasepsi di Desa Tuwel Kecamatan penelitian menunjukkan bahwa sebagian
Bojong Kabupaten Tegal (p=0,001). Hal besar responden telah memiliki anak ≤ 2
ini menunjukkan adanya perbedaan dalam anak tetapi tidak memilih alat kontrasepsi
hasil penelitian. Berdasarkan tanya jawab yang tepat, padahal pemerintah telah
yang dilakukan peneliti dengan beberapa menganjurkan kepada masyarakat untuk
responden, menyatakan bahwa responden ikut mensukseskan program keluarga
tidak memiliki pengalaman buruk terhadap berencana dan cukup memiliki 2 anak.
pemakaian kontrasepsi baik IUD maupun Metode kontrasepsi yang dianjurkan untuk
Non IUD dikarenakan banyak responden PUS yang telah memiliki ≤ 2 anak adalah
yang sudah cocok dan merasa nyaman kontrasepsi IUD yaitu kontrasepsi jangka
dengan yang dipakai sekarang (kontrasepsi panjang yang memiliki efektifitas yang
Non IUD) dan tidak ingin mencoba-coba tinggi sehingga kemungkinan untuk
metode kontrasepsi yang lainnya karena mengalami kehamilan cukup rendah dan
takut terhadap proses pemasangannya, dapat untuk mengatur jarak kelahiran
takut mengganggu ketika berhubungan, (BKKBN, 2012).7 Hal ini sesuai dengan
dan takut akan adanya efek samping dari hasil penelitian yang dilakukan oleh Renny
jenis kontrasepsi yang lainnya. Anastuti Kusumaningrum dalam
Jumlah Anak tidak berhubungan penelitiannya yang berjudul Faktor-faktor
dengan Pemilihan Penggunaan Metode yang Berhubungan dengan Pasangan Usia
Kontrasepsi Non IUD pada Akseptor Subur (PUS) Tidak Memilih Metode
KB Wanita Usia Subur Kontrasepsi Intra Uterine Device (IUD) di

JKD, Vol. 7, No. 2, Mei 2018 : 1236-1250


1246
JURNAL KEDOKTERAN DIPONEGORO
Volume 7, Nomor 2, Mei 2018
Online : http://ejournal3.undip.ac.id/index.php/medico
ISSN Online : 2540-8844
Imelda Margaretha Saragih, Suharto, Arwinda Nugraheni

Desa Pucangan Kecamatan Kartasura Beberapa responden mengatakan bahwa


Kabupaten Sukoharjo.2 mereka cukup sering menonton atau
Penerimaan Informasi KB tidak melihat iklan tentang kontrasepsi di televisi
berhubungan dengan Pemilihan namun mereka merasa informasi yang
Penggunaan Metode Kontrasepsi Non didapat tidaklah menjadi suatu
IUD pada Akseptor KB Wanita Usia pertimbangan dalam pemilihan kontrasepsi
Subur baik IUD maupun Non IUD dikarenakan
Hasil penelitian yang dilakukan oleh beberapa responden sudah terlanjur
peneliti yaitu didapatkan nilai p sebesar memakai kontrasepsi yang sekarang dan
0,120 (p >0,05) yang mengatakan tidak takut untuk mengganti atau mencoba
adanya hubungan bermakna antara faktor kontrasepsi lain terutama IUD.
penerimaan informasi KB dengan Keikutsertaan Jamkesmas tidak
pemilihan pengunaan kontrasepsi Non berhubungan dengan Pemilihan
IUD. Hal ini berbeda dengan penelitian Penggunaan Metode Kontrasepsi Non
sebelumnya yang dilakukan oleh Annisa IUD pada Akseptor KB Wanita Usia
Rahma Adhyani mengatakan bahwa Subur
hubungan antara pengaruh penerimaan Analisis statistik hubungan antara
informasi KB dengan pemilihan keikutsertaaan jamkesmas dengan
kontrasepsi didapat nilai p sebesar 0,011 (p pemilihan penggunaan metode kontrasepsi
< 0,05)4. Menurut hasil wawancara singkat Non IUD didapat nilai p sebesar 0,322 (p>
peneliti dengan responden, diketahui 0,05) maka secara statistik menunjukkan
bahwa di Kelurahan Bandarharjo cukup tidak terdapat hubungan yang signifikan
sering diadakan penyuluhan tentang KB antara faktor keikutsertaan jamkesmas
dan jenis metode kontrasepsi. Namun, dengan pemilihan kontrasepsi non IUD
masih banyak responden yang kurang pada akseptor KB wanita usia subur. Hal
peduli akan penyuluhan tersebut dan ini sejalan dengan penelitian yang
terdapat beberapa responden yang tidak dilakukan oleh Radita Kusumaningrum
pernah mengikuti penyuluhan tentang tahun 20095 . Namun hal ini berbeda
kontrasepsi tersebut. Selain itu, rata-rata dengan penelitian yang dilakukan Laksmi
setiap responden telah memiliki alat Indira, dimana pada penelitiannya
elektronik seperti handphone, televisi, dll. disebutkan bahwa ada hubungan yang

JKD, Vol. 7, No. 2, Mei 2018 : 1236-1250


1247
JURNAL KEDOKTERAN DIPONEGORO
Volume 7, Nomor 2, Mei 2018
Online : http://ejournal3.undip.ac.id/index.php/medico
ISSN Online : 2540-8844
Imelda Margaretha Saragih, Suharto, Arwinda Nugraheni

signifikan antara faktor keikutsertaan sudah menyerahkan semua keputusan


dalam Jamkesmas dengan pemilihan jenis pemilihan metode kontrasepsi kepada istri
kontrasepsi dengan nilai p = 0,022 (p karena istri dianggap lebih tahu yang
<0,05).6 Berdasarkan ketiga penelitian terbaik untuk dirinya.
tersebut tampak bahwa tidak selalu adanya Sikap Istri berhubungan dengan
hubungan yang signifikan antara Pemilihan Penggunaan Metode
keikutsertaan jamkesmas dengan pemilihan Kontrasepsi Non IUD pada Akseptor
metode kontrasepsi baik IUD maupun Non KB Wanita Usia Subur
IUD. Hal ini dapat dipengaruhi oleh Pada penelitian ini, analisis
karakteristik dan jumlah responden dari hubungan antara sikap Istri dengan
tiap penelitian yang berbeda-beda. pemilihan penggunaan metode kontrasepsi
Dukungan Suami tidak berhubungan Non IUD didapat nilai p sebesar 0,001 (p<
dengan Pemilihan Penggunaan Metode 0,05) maka secara statistik menunjukkan
Kontrasepsi Non IUD pada Akseptor terdapat hubungan yang bermakna antara
KB Wanita Usia Subur faktor sikap Istri dengan pemilihan
Berdasarkan hasil analisa statistik kontrasepsi non IUD pada akseptor KB
hubungan antara dukungan suami dengan wanita usia subur. Berdasarkan nilai
pemilihan penggunaan metode kontrasepsi Prevalence ratio dan 95% Confidence
Non IUD didapat nilai p sebesar 0,670 (p> interval (95%CI=0,98-1,855; PR=1,35)
0,05) maka secara statistik menunjukkan dapat disimpulkan bahwa Istri dengan
tidak terdapat hubungan yang signifikan sikap yang kurang memahami KB
antara faktor dukungan suami dengan mempunyai kemungkinan 1,64 kali untuk
pemilihan kontrasepsi non IUD pada memilih menggunakan kontrasepsi Non
akseptor KB wanita usia subur. IUD dibandingkan dengan Istri dengan
Penelitian ini diperkuat dengan sikap yang mendukung dan memahami
adanya penelitian sebelumnya oleh Annisa penggunaan KB. Penelitian ini sesuai
Rahma Adhya dengan nilai p sebesar 0,812 dengan hasil penelitian yang dilakukan
(p >0,05).4 Dan juga penelitian yang oleh Fresadita Nora Khotima diperoleh
dilakukan oleh Radita Kusumaningrum nilai p=0,011 (p< 0,05).8,9 Sikap dapat
pada tahun 2009 dengan p=1,000 (p diartikan sebagai kesiapan pada seseorang
>0,05).5 Hal ini disebabkan karena suami untuk bertindak secara tertentu terhadap

JKD, Vol. 7, No. 2, Mei 2018 : 1236-1250


1248
JURNAL KEDOKTERAN DIPONEGORO
Volume 7, Nomor 2, Mei 2018
Online : http://ejournal3.undip.ac.id/index.php/medico
ISSN Online : 2540-8844
Imelda Margaretha Saragih, Suharto, Arwinda Nugraheni

hal-hal tertentu dan sikap dapat bersifat yang bermakna adalah umur, pengetahuan,
positif maupun negatif. Apabila bersifat dan sikap Istri terhadap pemilihan
positif, maka cenderung akan melakukan penggunaan metode kontrasepsi Non IUD.
tindakan mendekati, menyenangi, dan Sementara faktor tingkat pendidikan, status
mengharapkan objek tertentu. Sebaliknya ekonomi, budaya tradisi dan keyakinan,
bila bersikap negatif maka cenderung akan pengalaman, jumlah anak, penerimaan
melakukan tindakan menjauhi, informasi KB, keikutsertaan jamkesmas,
menghindari, membenci dan tidak serta dukungan suami tidak memiliki
menyukai objek tertentu. Sehingga hubungan yang bermakna dengan
diharapkan jika sikapnya baik atau pemilihan penggunaan metode kontrasepsi
mendukung terhadap kontrasepsi IUD non IUD pada Akseptor KB Wanita Usia
maka keinginannya untuk ikut menjadi Subur di Bandarharjo.
akseptor IUD tersebut menjadi meningkat. Saran
Hal ini sesuai dengan hasil penelitian yang Bagi fasilitas kesehatan dan
menyatakan bahwa seluruh responden puskesmas perlu meningkatkan kualitas
yang memilih kontrasepsi IUD mempunyai pelayanan dan lebih giat untuk melakukan
sikap yang mendukung terhadap penyuluhan tentang pemaparan keuntungan
pertanyaan yang ada di kuisioner namun dan kerugian dari berbagai metode
responden yang memiliki sikap yang tidak kontrasepsi agar masyarakat tepat dalam
mendukung adalah responden yang tidak memilih. Bagi kader, pkk, tokoh
memilih kontrasepsi IUD dan lebih masyarakat diharapkan ikut mengambil
memilih menggunakan kontrasepsi Non bagian dan lebih berperan aktif dalam
IUD. meningkatkan serta memantau setiap
masyarakat dalam hal penerimaan
SIMPULAN DAN SARAN informasi KB dan pemilihannya yang
Simpulan tepat. Bagi masyarakat, terutama pasangan
Pada penelitian ini jumlah usia subur, perlu mengikuti kegiatan
responden yang memilih kontrasepsi IUD penyuluhan KB dan aktif menanyakan
sebanyak 17 responden dan 49 responden persoalan KB yang sesuai dengan
memilih menggunakan Non IUD dengan keadaannya, ikut serta dalam program
faktor-faktor yang memiliki hubungan pemerintah seperti jamkesmas. Apabila

JKD, Vol. 7, No. 2, Mei 2018 : 1236-1250


1249
JURNAL KEDOKTERAN DIPONEGORO
Volume 7, Nomor 2, Mei 2018
Online : http://ejournal3.undip.ac.id/index.php/medico
ISSN Online : 2540-8844
Imelda Margaretha Saragih, Suharto, Arwinda Nugraheni

akan dilakukan penelitian sejenis, 4. Adhiyani AR. Faktor-Faktor Yang


disarankan untuk melengkapi variabel Berhubungan Dengan Pemilihan
yang diteliti misalnya menambahkan Kontrasepsi non IUD pada akseptor
dukungan keluarga, jaminan ketersediaan KB wanita usia 20-39 tahun [Skripsi].
kontrasepsi. Lalu perlu dilakukan Semarang: Universitas Diponegoro.
penelitian dengan metode yang dapat 2011;8.
mengetahui sebab-akibat yang lebih kuat 5. Kusumaningrum R. Faktor-faktor
yaitu case control. yang mempengaruhi pemilihan jenis
kontrasepsi yang digunakan pada
DAFTAR PUSTAKA pasangan usia subur [Skripsi].
1. Kementrian Kesehatan Republik Semarang: Universitas Diponegoro.
Indonesia. Situasi dan Analisis 2009;1–59.
Keluarga Berencana [Internet]. 6. Indira L. Faktor-faktor yang
Kementerian Kesehatan Republik mempengaruhi pemilihan jenis
Indonesia. Jakarta; 2014. Available kontrasepsi yang digunakan pada
from:http://www.depkes.go.id/downlo keluarga miskin laporan akhir
ad.php?file=download/pusdatin/infoda penelitian karya tulis ilmiah [Skripsi].
tin/infodatin-harganas.pdf Semarang: Universitas Diponegoro.
2. Kusumaningrum RA. Faktor - Faktor 2009
Yang Berhubungan Dengan Pasangan 7. BKKBN dan Kemenkes R.I. Pedoman
Usia Subur ( PUS ) Tidak Memilih Pelayanan Keluarga Berencana Pasca
Metode Kontrasepsi Intra Uterine Persalinan di Fasilitas Kesehatan.
Device ( IUD ) Di Desa Pucangan Jakarta. 2012
Kecamatan Kartasura Kabupaten 8. Linggasari. Teori Sikap dan Perilaku.
Sukoharjo. Fak Ilmu Kesehat Univ Fak ILMU Kesehat Indonesia.
Muhammadiyah Surakarta. 2013; 2008;2008.
3. Badan Pusat Statistik Propinsi Jawa 9. Khotima FN. Hubungan Pengetahuan
Tengah. Jawa Tengah dalam angka Dan Sikap Istri Dengan Pemilihan
tahun 2010. Semarang : Badan Pusat Kontrasepsi Vasektomi Pada Pasangan
Statistik. 2010 Usia Subur (Pus). Fakultas Kedokteran
Umum Universitas Diponegoro. 2011

JKD, Vol. 7, No. 2, Mei 2018 : 1236-1250


1250
JURNAL KEDOKTERAN DIPONEGORO
Volume 7, Nomor 2, Mei 2018
Online : http://ejournal3.undip.ac.id/index.php/medico
ISSN Online : 2540-8844
Imelda Margaretha Saragih, Suharto, Arwinda Nugraheni

JKD, Vol. 7, No. 2, Mei 2018 : 1236-1250