Anda di halaman 1dari 5

Latar Belakang

Otonomi Daerah bukanlah merupakan suatu kebijakan yang baru dalam


penyelenggaraan pemerintahan di Indonesia karena sejak berdirinya Negara kesatuan
Republik Indonesia sudah dikenal adanya otonomi daerah yang dipayungi oleh Pasal 18
Undang-Undang Dasar 1945 (Haris, 2005). Sedangkan inti dari pelaksanaan otonomi daerah
adalah terdapatnya keleluasaan pemerintah daerah (discretionary power) untuk
menyelenggarakan pemerintahan sendiri atas dasar prakarsa, kreativitas, dan peran serta
masyarakat dalam rangka mengembangkan dan memajukan daerahnya.

Selama berjalannya otonomi daerah, otonomi daerah telah menjadi kebutuhan politik
yang penting untuk memajukan kehidupan demokrasi. Bukan hanya kenyataan bahwa
masyarakat Indonesia sangat heterogen dari segi perkembangan politiknya, namun juga
otonomi sudah menjadi alas bagi tumbuhnya dinamika politik yang diharapkan akan
mendorong lahirnya prakarsa dan keadilan. Walaupun ada upaya kritis bahwa otonomi daerah
tetap dipahami sebagai jalan lurus bagi eksploitasi dan investasi , namun sebagai upaya
membangun prakarsa ditengah-tengah surutnya kemauan baik (good will) penguasa, maka
otonomi daerah dapat menjadi “jalan alternative “ bagi tumbuhnya harapan bagi kemajuan
daerah.

Salah satu hal yang dapat dilihat secara langsung produk dari otonomi daerah adalah
terdapatnya desentralisasi pelayanan. Hal ini berdasarkan pandangan dan pemikiran dimana
sentralisasi pelayanan dan pembinaan kepada rakyat tidak mungkin dilakukan dari pusat saja.
Oleh karena itu, wilayah Negara dibagi atas daerah besar dan daerah kecil. Maka dari itu,
perlu kiranya bagi para pemangku kebijakan menetapkan asas dalam mengelola otonomi
daerah yang meliputi :

1. Desentralisasi pelaayanan rakyat /public. Adpun filsafat yang dianut adalah:


Pemerintah Daerah ada karena ada rakyat yang harus dilayani. Desentralisasi
merupakan power sharing (otonomi formal dan otonomi material). Otonomi daerah
bertujuan memudahkan pelayanan kepada rakyat. Oleh karena itu, outputnya
hendaknya berupa pemenuhan bahan kebutuhan pokok rakyat-public goods-dan
peraturan daerah-public regulation agar rakyat tertib dan adanya kepastian hukum.
,kebijakan desentralisasi mempunyai tujuan politis dan administrasi, tetapi tujuan
utamanya adalah pealayanan kepada rakyat.
2. Dekonsentrasi : diselenggarakan karena tidak semua tugas-tugas teknis pelayanan
kepada rakyat dapat diselengarakan dengan baik oleh Pemerintah Daerah
(kabupaten/kota). Dekonsentrasi terdiri atas fungsional (kanwil/kandep) dan
terintregrasi (kepala wilayah)..

Di samping system desentralisasi dan dekonsentrasi yang dipergunakan oleh system


pemerintahan daerah, juga dikenal tugas bantuan yang dilakukan oelh pemerintah daerah
untuk iktu melaksanakan tugas pemerintah pusat atau pemerintah daerah atasannya.
Penyelenggaraan rumah tangga sendiri dilakukan atas dasar inisiatif dan kebijaksanaan
sendiri, namun demikian tidak berarti, bahwa penyelenggaraannya terlepas sama sekali dari
garis-garis yang telah ditentukan oleh pemerintah pusat maupun pemerintah daerah
atasannya. Hubungan antara pemerintah pusat dan daerah tetap terpelihara dengan melakukan
pengawasan untuk mecegah timbulnya perselisihan yang tidak dikehendaki.

Penerapan otonomi daerah saat-saat ini mulai memberikan dampak secara langsung,
terutama pasca reformasi. Semangat untuk mengatur secara mandiri daerah pada realitas
lapangan juga menunjukkan seuatu kondisi yang kurang mengenakkan untuk dipandang. Hal
ini diakibatkan sekelumit persoalan yang mengemuka kepermukaan publik. Sebut saja
sekelumit persoalan tersebut adalah menjamurnya perilaku korupsi oleh kepala-kepala
daerah, hal ini dapat kita katakan sebagai akibat dari proses politik yang berlangsung dari
semenjak awal proses demokratisasi yang berlangsung (politik transaksional).

Pada praktiknya persoalan seperti diatas jika ditelusuri secara mendalam, maka hal
tersebut dapat juga sangat berdampak pada keretakan hubungan hidup berbangsa dan
bernegara dalam konteks nasionalisme. Maksud dari pernyataan tersebut adalah dikarenakan
para elit lokal yang mengikuti konstestasi politik dalam merebut hati para pemilih, tidak
jarang menggunakan wacana-wacana semangat kedaerahan. Selanjutnya wacana kedaerahan
tersebut akan dibenturkan dengan kebobrokan-kebobrokan pusat. Tentu saja, hal itu akan
memunculkan semangat-semangat penolakan dengan apa yang dilakukan pusat. Semangat
nasionalisme akan dapat menjadi taruhan, jika sekelumit persoalan yang muncul tidak dapat
segera diatasi.

Pengawasan preventif merupakan tindakan pencegahan agar tidak terjadi


penyimpangan-penyimpangan terhadap penyelenggaraan urusan rumah tangga sendiri.
Pengawasan ini dilakukan dengan memberikan pengesahan lebih dahulu oleh pemerintah
pusat atau pemerintah daerah atasannya terhadap suatu peraturan sebelum peraturan itu
dilaksanakan oleh pemerintah daerah.

Pembahasan

Semangat otonomi daerah diharapkan mampu mendukung Nasionalisme Bangsa,


dengan bermodalkan pengelolaan dan pembangunan di daerah. Semangat Otonomi daerah
tidak ditujukan untuk menjadi pesaing Pemerintah Pusat akan tetapi sebagai kebijakan untuk
mempercepat proses pembangunan di Indonesia.
Otonomi pada dasarnya adalah sebuah konsep politik, yang selalu dikaitkan
atau disepadankan dengan pengertian kebebasan dan kemandirian. Sesuatu akan dianggap
otonom jika dia menentukan dirinya sendiri, membuat hukum sendiri dengan maksud
mengatur diri sendiri, dan berjalan berdasarka kewenangan, kekuasaan, dan prakarsa sendiri.
Muatan politis yang terkandung dalam istilah ini adalah bahwa dengan kebebasan dan
kemandirian tersebut, maka suatu daerah dianggap otonom kalau memiliki kewenangan
(authority) atau kekuasaan (power) dalam penyelenggaraan pemerintahan terutama untuk
menentukan kepentingan daerah maupun masyarakatnya sendiri. Namun demikian,
dalam pelaksanaan otonomi daerah, satu prinsip yang harus dipegang oleh bangsa Indonesia
adalah bahwa aplikasi otonomi daerah tetap berada dalam konteks persatuan dan kesatuan
nasional Indonesia. Otonomi tidak ditujukan untuk kepentingan pemisahan suatu daerah
untuk bisa melepaskan diri dari negara kesatuan RI.
Tujuan pemberian otonomi kepada daerah adalah untuk memungkinkan daerah
bersangkutan mengatur dan mengurus rumah tangganya sendiri untuk kepentingan
meningkatkan kesejahteraan masyarakat. Dengan demikian jelaslah bahwa aplikasi
pemerintahan dan pembangunan di daerah sekarang ini didasarkan pada dua sendi utama
yaitu: otonomi daerah dan kesatuan nasional. Otonomi daerah mencerminkan adanya
kedaulatan rakyat dan kesatuan nasional mencerminkan adanya kedaulatan negara.
Kedua kedaulatan ini sama-sama diperlukan dalam perjalanan hidup bangsa
indonesia. Dan, nasionalisme pun menjadi penting untuk “mengawal” perjalanan bangsa.
Mengapa? Karena disadari atau tidak, pelaksanaan otonomi daerah telah menjadi salah
satu pemicu lemahnya nasionalisme. Buktinya, istilah “penduduk asli” atau “pendatang”
makin kerap muncul sejak kebijakan otonomi daerah diterapkan. Istilah “putra daerah”
makin kerap dimunculkan dalam pelaksanaan otonomi daerah. Hal ini jelas merupakan
suatu yang tidak kondusif terhadap pembangunan bangsa. Bila keadaan ini berlanjut terus
tanpa memulihkan kembali kesadaran nasionalisme kita maka cepat atau lambat negara
bangsa ini akan hancur.
Sekarang bagaimana nasionalisme berperan dalam pembangunan daerah?
Apabila dijabarkan prinsip-prinsip dasar nasionalisme, maka dapat disebutkan antara lain:
 Cinta kepada tanah air;
Prinsip cinta tanah air meletakkan setiap proses pembangunan untuk kepentingan bangsa
dan negara bukan golongan apalagi individu.
 Kesatuan;
Adapun prinsip kesatuan diaplikasikan dalam bentuk-bentuk pembangunan yang
mengutamakan kebersamaan dalam demi keutuhan NKRI dengan memperhatikan
keanekaragaman sifat pluralistik dari bangsa Indonesia. Artinya, setiap pembangunan di
daerah tidak hanya diperuntukkan dan harus dilaksanakan oleh orang “asli” daerah itu
saja.. Dalam kaitannya antara pemerintah dengan rakyat, persoalan adanya kemungkinan
prasangka etnik bertimbal balik antara pejabat dengan rakyat yang berasal dari etnik
atau daerah yang berbeda. Apabila prasangka ini terus dikembangkan maka benih dendam
sosial akan menjadi batu sandungan dan “bom waktu” terhadap pembangunan di daerah. Kita
sepakat untuk hidup bersama dalam kondisi yang berbeda, sehingga kita mesti menerima
perbedaan-perbedaan itu. Sikap etnosentrisme harus dihilangkan dalam pembangunan
daerah. Mana yang lebih serius dalam mengabdi pada suatu daerah dan berguna bagi
pembangunan daerah, mereka mempunyai hak untuk berperan serta. Jadi otonomi daerah
bukanlah otonomi etnis kemudian menjadi dominasi etnis dalam proses pembangunan di
daerah.
 Dapat Bekerjasama;
Dapat bekerjasama. Ini berarti bahwa dalam setiap proses pembangunan di daerah
perlu dibudayakan kerjasama baik interen subjek pembangunan di dalam daerah maupun
antar daerah. Setiap daerah otonom perlu membuka alternatif kerjasama antara satu
dengan lainnya, perlu menjembatani berbagai kepentingan antara rakyat dari daerah
satu dengan daerah lain, dan sebagainya. Perlu dilakukan dialog dan lobi-lobi antar
daerah untuk mengatur sda yang ada sehingga tidak saling berugikan antara daerah yang
satu dengan daerah yang lain. Sebagai contoh misalnya penggunaan dan pemanfaatan
sumber air, masalah sungai, listrik, sarana dan prasarana publik , dan lain-lain.
 Demokrasi Dan Persamaan;
Dalam pembangunan daerah perlu ditekankan adanya: prinsip-prinsip demokrasi,
peran serta masyarakat, pemerataan dan keadilan, serta memperhatikan potensi dan
keanekaragaman daerah, dalam pelaksanaannya. Jangan sampai pembangunan di daerah
meninggalkan peran serta masyarakat, apalagi mengorbankan mereka.
Penutup

Bagi bangsa Indonesia, prinsip-prinsip dasar nasionalisme tersebut tercermin dalam


semboyan “bhinneka tunggal ika”. Dalam setiap pembangunan di daerah, nasionalisme akan
tetap terjaga apabila prinsip tersebut selalu dilaksanakan dan diamalkan. Memang,
nasionalisme sebagai rujukan untuk membangun jauh lebih sulit diwujudkan. Diperlukan
pemikiran yang konstruktif dan kemampuan strategis untuk menggunakan sumberdaya
untuk mencapai sasaran-sasaran berjangka panjang sambil menyelesaikan masalah-
masalah berjangka pendek, sambil menetralisasi dampak negatif dari nasionalisme dan
demokrasi sebagai gerakan yang destruktif. Walaupun lebih sulit, namun nasionalisme
sebagai rujukan dapat direncanakan bersama oleh pemerintah bersama lapisan
kepemimpinan rakyat itu sendiri. praktek penyusunan rencana pembangunan daerah
dengan melibatkan seluruh organisasi kemasyarakatan, tokoh-tokoh perguruan tinggi serta
instansi pemerintah mempunyai makna penting dalam pelembagaan nasionalisme.