Anda di halaman 1dari 6

A.

DEFINISI
Tumor Phyllodes merupakan tumor yang jarang terjadi, sebagian besar merupakan
tumor jinak yang terdapat pada payudara. Secara objektif, tumor mempunyai karakteristik
sebagai sarcoma yang maligna, terlihat seperti daun ketika disayat, dan secara histologik
menunjukkan kista epithelial.
Merupakan neoplasma jinak yang bersifat menyusup secara lokal dan mungkin ganas
(10-15%).dulu disebut Cystosarcoma phyllodes merupakan tumor jinak yang terjadi hampir
semata-mata pada payudara wanita. Namanya berasal dari kata Yunani sarcoma, yang berarti
tumor berdaging, dan phyllo, yang berarti daun. Disebut demikian oleh karena tumor tersebut
menampilkan karakteristik yang besar, sarkoma ganas, tampilan seperti-daun ketika dipotong,
dan epitel, ruang seperti-kista bila dilihat secara histologis. Karena sebagian besar tumor itu jinak
maka disebut juga sebagai tumor filoides.
Meskipun tumor jinak tidak bermetastase, namun mereka memiliki kecenderungan untuk
tumbuh secara agresif dan rekuren secara lokal. Mirip dengan sarkoma, tumor maligna
bermetastase secara hematogen. Gambaran patologis tumor filoides tidak selalu meramalkan
perilaku klinis neoplasma karenanya pada beberapa kasus terdapat tingkat ketidakpastian
tentang klasifikasi lesi.
Tumor mamae adalah adalah karsinoma yang berasal dari parenkim, stroma, areola dan
papilla mamma. (Lab. UPF Bedah RSDS, 2010).
Tumor mammae adalah pertumbuhan sel – sel yang abnormal yang menggangu
pertumbuhan jaringan tub uh terutama pada sel epitel di mammae ( Sylvia,1995 )
Tumor mammae adalah adanya ketidakseimbangan yang dapat terjadi pada suatu sel /
jaringan di dalam mammae dimanba ia tumbuh secara liar dan tidak bias dikontol
( Dr.Iskandar,2007 )

B. EPIDEMIOLOGI
Haagensen melaporkan kira-kira satu tumor filodes untuk setiap 40 fibroadenoma. Distribusi
usia menurut Haagensen mayoritas terjadi antara usia 35 dan 55 tahun. Tumor bilateral sangat
jarang dan jarang juga terjadi pada pasien di bawah usia 20 tahun, pertama kali muncul
memberikan reaksi jinak.

C. KLASIFIKASI
1. Tumor jinak
Hanya tumbuh membesar , tidak terlalu berbahaya dan tidak menyebar keluar jaringan
2. Tumor ganas
Kanker adalah sel yang telah kehilangn kendali danb mekanisme normalnya sehingga
mengalami pertumbuhan tidak wajar , lair , dan kerap kali menyebar jauh ke sel jaringan lain
serta merusak

D. ETIOLOGI
Etiologi tumor filoides secara pasti belum diketahui, diperkirakan berhubungan dengan
fibroadenoma dalam beberapa kasus, karena pasien dapat mungkin memiliki gambaran
histologis kedua lesi pada tumor yang sama. Namun, apakah tumor filoides berkembang dari
fibroadenoma atau keduanya berkembang bersama-sama, atau apakah tumor filoides dapat
muncul de novo, masih belum jelas.

E. FAKTOR RESIKO
Menurut Dr.Iskandar (2007) Sampai saat ini, penyebab pasti tumor payudara belum
diketahui. Namun, ada beberapa faktor resiko yang telah teridentifikasi, yaitu :
1. Jenis kelamin
Wanita lebih beresiko menderita tumor payudara dibandingkan dengan pria.Prevalensi
tumor payudara pada pria hanya 1% dari seluruh tumor payudara.
2. Riwayat keluarga
Wanita yang memiliki keluarga tingkat satu penderita tumor payudara beresiko tiga kali
lebih besar untuk menderita tumor payudara.
3. Faktor genetik
Mutasi gen BRCA1pada kromosom 17 dan BRCA2 pada kromosom 13 dapat meningkatkan
resiko tumor payudara sampai 85%. Selain itu, gen p53, BARD1, BRCA3, dan noey2
juga diduga meningkatkan resiko terjadinya kanker payudara.
4. Faktor usia
Resiko tumor payudara meningkat seiring dengan pertambahan usia.
5. Faktor hormonal
Kadar hormon yang tinggi selama masa reproduktif, terutama jika tidak diselingi oleh
perubahan hormon akibat kehamilan, dapat meningkatkan resiko terjadinya tumor
payudara.
6. Usia saat kehamilan pertama
Hamil pertama pada usia 30 tahun beresiko dua kali lipat dibandingkan dengan hamil
pada usia kurang dari 20 tahun.
7. Terpapar radiasi
8. Intake alkohol
9. Pemakaian kontrasepsi oral
Pemakaian kontrasepsi oral dapat meningkatkan resiko tumor payudara. Penggunaan
pada usia kurang dari 20 tahun beresiko lebih tinggi dibandingkan dengan penggunaan
pada usia lebih tua.
F. PATOFISIOLOGI (terlampir)
G. MANIFESTASI KLINIS
Keluhan penderita kanker payudara (Lab. UPF Bedah RSDS, 2010):
a. Mungkin tidak ada
b. tumor mammae umumny atidak nyeri
c. ulkus/perdarahan dari ulkus
d. erosi putting susu
e. perdarahan.keluar cairan dari putting susu
f. nyeri pada payudara
g. kelainan bentuk payudara
h. keluhan karena metastase

H. PEMERIKSAAN DIAGNOSTIK
Pemeriksaan Fisik
 Benjolan yang mobile, batas jelas dan konsistensi kenyal-padat
 Biasanya terjadi pada payudara kiri.
 Adanya kulit yang terlihat mengkilat atau transparan dimana pembuluh darah pada
payudara dapat terlihat.
 Pemeriksaan fisik yang lain mirip dengan Fibroadenoma, seperti benjolan mobile dan
batas jelas
 Phyllodes tumor terlihat sebagai suatu massa yang besar dengan pertumbuhan cepat.
 Pada Mammografi mirip fibroadenoma densitas padat dan batas jelas.
 Bila berulang biasanya lebih agresif dari tumor sebelumnya.

Pemeriksaan Radiologi

 Pemeriksaan Mammografi dan USG biasa dilakukan bila ada benjolan dipayudara, tetapi
pada Phyllodes Tumor kedua pemerikasaan tadi tidak dapat membedakan adanya
Fibroadenoma maupun Tumor Phyllodes tipe maligna. Pemeriksaan secara radiografi
bukan diagnostik pasti dari penyakit ini

I. PENATALAKSANAAN MEDIS
Terapi Bedah
Pada kebanyakan kasus cystosarcoma phylloides, melakukan eksisi luas normal, dengan lingkaran
jaringan normal. Tidak terdapat aturan tentang besarnya batas. Namun, batas 2 cm untuk tumor
kecil (< 5 cm) dan batas 5 cm untuk tumor besar (> 5 cm) telah dianjurkan.
Lesi tidak seharusnya “dikupas keluar”, seperti yang mungkin dilakukan dengan fibroadenoma,
atau angka rekurensi tanpa dapat diterima jadi meningkat.
 Jika tumor terhadap rasio payudara cukup tinggi dilakukan eksisi segmental, mastektomi
total, dengan atau tanpa rekonstruksi, adalah sebuah alternatif.
 Prosedur yang lebih radikal tidak secara umum dibenarkan.
 Melakukan diseksi nodus limfatikus aksila hanya untuk nodus yang dicurigai secara klinis.
Namun, sebenarnya semua nodus ini reaktif dan tidak mengandung sel-sel maligna.

Non pembedahan
a. Penyinaran
Pada payudara dan kelenjar limfe regional yang tidak dapat direseksi pada
kanker lanjut pada metastase tulang, metastase kelenjar limfe aksila.
b. Kemoterapi
Adjuvan sistematik setelah mastektomi; paliatif pada penyakit yang lanjut.
c. Terapi hormon dan endokrin
Kanker yang telah menyebar, memakai estrogen, androgen, antiestrogen,
coferektomi adrenalektomi hipofisektomi. (Smeltzer, dkk, 2002)

J. KOMPLIKASI
Seperti kebanyakan Pembedahan payudara lainnya, komplikasi post operatif meliputi yang
berikut:
1. Infeksi
2. Seroma
3. Rekurensi local atau jauh
DAFTAR PUSTAKA

1. Ramli muchlis. KUMPULAN KULIAH ILMU BEDAH.1995.Jakarta : Binarupa aksara.Halaman 355

2. Jong de wim. BUKU AJAR ILMU BEDAH EDISI 2.2004. Jakarta : EGC. Halaman 391-393

3. Manning. MAJOR DIAGNOSIS FISIK EDISI IX. 1996. Jakarta : EGC. Halaman 366

4. Schwartz. INTISARI PRINSIP-PRINSIP ILMU BEDAH EDISI 6. 2000. Jakarta : EGC. Halaman 233