Anda di halaman 1dari 5

Jurnal Pendidikan Sains Indonesia, Vol. 03, No.

01, hlm 181-185, 2015


http://jurnal.unsyiah.ac.id/jpsi

PENGEMBANGAN MODUL BERBASIS PHET UNTUK


MENINGKATKAN PEMAHAMAN KONSEP DAN MOTIVASI
BELAJAR SISWA PADA MATERI PEMBIASAN CAHAYA

Rizky Nafaida1, A. Halim2, dan Syamsul Rizal2


1,2
Program Studi Magister Pendidikan IPA, Program Pasca Sarjana
Universitas Syiah Kuala
Banda Aceh, Indonesia
Korespondensi : kiki_fauzi87@ymail.com

Abstrak

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui efektivitas modul yang dikembangkan untuk meningkatkan
pemahaman konsep siswa, mengetahui keunggulan dan kelemahan modul dan keterlaksanaan
pembelajaran dengan modul. Metode penelitian yang digunakan adalah penelitian dan pengembangan
dan desain penelitian untuk menguji efektivitas adalah one group pre-test and post-test design.
Populasi penelitian ini adalah seluruh siswa kelas VIII SMPN 2 Langsa. Data yang dikumpulkan dari
penelitian ini adalah data penilaian modul oleh ahli materi, data pengukuran pemahaman konsep siswa
sebelum dan setelah pembelajaran dengan modul, data pengukuran motivasi belajar siswa setelah
pembelajaran dan informasi dari hasil wawancara dengan guru tentang pelaksanaan pembelajaran
dengan modul. Efektivitas modul ditentukan melalui uji statistik t berkorelasi untuk gain rata-rata
minat belajar siswa. Hasil penelitian ini menunjukkan adanya perbedaan signifikan antara pemahaman
konsep siswa sebelum dan setelah penerapan modul. Analisis terhadap keunggulan dan kelemahan
modul didapatkan bahwa modul dapat memotivasi siswa dalam pembelajaran tetapi harus didukung
oleh peran serta guru dan kelengkapan fasilitas sehingga proses pembelajaran dapat terlaksana dengan
baik. Tingkat keterlaksanaan pembelajaran dengan modul adalah sangat baik.

Kata Kunci : pengembangan modul, PhET, motivasi belajar siswa, pembiasan cahaya

Abstract

This study aims to determine the effectiveness of the module that was developed to enhance the
students' understanding of concepts, know the advantages and disadvantages and feasibility of
learning modules with modules. The method used is the research and development and design of the
study to test the effectiveness is one group pre-test and post-test design. The population of this study
were all students of class VIII SMP 2 Langsa. The data collected from this study is the data module
assessment by expert materials, data measuring students 'understanding of concepts before and after
learning module, students' motivation measurement data after learning and information from
interviews with teachers on the implementation of the learning module. The effectiveness of the
module is determined through statistical test t correlated to average gain student interest. The results
of this study showed a significant difference between students' understanding of concepts before and
after the application of the module. Analysis of the strengths and weaknesses of the module was found
that the modules can motivate students in learning but must be supported by the participation of
teachers and completeness of the facility so that the learning process can be done well. Feasibility
level learning module is very good.

Keywords : module development, PhET, student motivation, the refraction of light

Rizky Nafaida: Pengembangan Modul Berbasis Phet .......|181


Jurnal Pendidikan Sains Indonesia, Vol. 03, No.01, hlm 181-185, 2015
http://jurnal.unsyiah.ac.id/jpsi

PENDAHULUAN
Ilmu pengetahuan alam (IPA) dikembangkan sebaiknya dapat memotivasi
berkaitan dengan cara mencari tahu tentang peserta didik untuk menggali informasi lebih
alam secara sistematis, sehingga IPA bukan besar lagi dari lingkungannya (WIdodo dan
hanya penguasaan pengetahuan berupa Jasmadi, 2008).
fakta-fakta, konsep-konsep, atau prinsip- Menurut Anwar (2010), modul
prinsip saja tetapi juga merupakan suatu pembelajaran adalah bahan ajar yang
proses penemuan. Pendidikan IPA disusun secara sistematis dan menarik yang
diharapkan dapat menjadi wahana bagi mencakup isi materi, metode dan evaluasi
siswa untuk mempelajari diri sendiri dan yang dapat digunakan secara mandiri untuk
alam sekitar serta prospek pengembangan mencapai kompetensi yang diharapkan.
lebih lanjut dalam menerapkannya dalam Menurut Goldschmid dalam Wijaya
kehidupan sehari-hari (Depdiknas, 2006). (1988), modul pembelajaran sebagai sejenis
Kurikulum Tingkat Satuan satuan kegiatan belajar yang terencana, di
Pendidikan (KTSP) yang ditetapkan desain guna membantu siswa menyelesaikan
pemerintah sebagai kurikulum yang berlaku tujuan-tujuan tertentu. Modul adalah
sekarang memiliki tujuan-tujuan yang ingin semacam paket program untuk keperluan
dicapai oleh masing-masing mata pelajaran belajar.
sehingga dihasilkan suatu produk PhET (Physic Education
pendidikan yang berkualitas. Salah satu Technology) Simulations Interactive adalah
tujuan dari mata pelajaran IPA adalah media pembelajaran hasil pemanfaatan
mengembangkan pemahaman tentang teknologi informasi dan komunikasi yang
berbagai macam gejala alam, konsep dan dikembangkan oleh Universitas Colorado.
prinsip IPA yang bermanfaat dan dapat PhET mampu menampilkan gambaran yang
diterapkan dalam kehidupan sehari-hari tidak tampak oleh mata dalam bentuk
(Pusat Kurikulum Balitbang Depdiknas: simulasi interaktif sehingga dapat membantu
2006). Pembelajaran IPA di sekolah membangun pemahaman siswa (Perkins et
diharapkan mampu menumbuhkan al., 2010). PhET Pembiasan/Pembelokan
kemampuan berfikir, bersikap, dan Cahaya (PhET PC) merupakan simulasi
bertindak ilmiah sehingga menjadi manusia fisika interaktif yang memiliki topik
kreatif dan inovatif, khususnya dalam pembiasan cahaya dan menyajikan simulasi
bidang sains dan teknologi. pembiasan/pembelokan cahaya dengan
Dalam mencapai sasaran tampilan grafis tiga dimensi. Selain itu, sifat
pembelajaran, bahan ajar hendaknya dapat interaktif yang dimiliki oleh PhET PC
mendukung kegiatan belajar mengajar. Saat memungkinkan siswa untuk lebih terlibat
ini, peserta didik bisa mendapatkan dalam pembelajaran, sehingga dapat
informasi maupun pengetahuan dari memberikan suatu pengalaman bermakna
berbagai sumber, seperti televisi, internet, bagi siswa yang memungkinkan untuk
dan sebagainya. Olehkarena itu, bahan ajar meningkatkan pemahaman konsep siswa.
yang dikemas sebaiknya menyertakan Hasil observasi awal pada sekolah
informasi-informasi terbaru yang telah ada, yang akan diteliti, sebuah SMP Negeri di
meskipun hal ini akan mempersulit kota Langsa, pembelajaran masih terpusat
pembuatan bahan ajar yang selalu mutakhir pada guru, disebabkan karena metode
dan terbaru. Untuk itu, bahan ajar yang akan konvensional yang masih sering diterapkan.

182| Jurnal Pendidikan Sains Indonesia (JPSI)


Jurnal Pendidikan Sains Indonesia, Vol. 03, No.01, hlm 181-185, 2015
http://jurnal.unsyiah.ac.id/jpsi

Siswa cenderung melakukan aktivitas pengem-bangan terdiri dari analisis potensi


belajar yang monoton, seperti mencatat, dan masalah, pengumpulan informasi,
menyelesaikan soal, mendengar penjelasan peran-cangan modul, validasi desain modul,
guru dan kegiatan pasif lainnya. Penggunaan revisi desain, uji coba terbatas, modul akhir.
metode eksperimen yang seharusnya sering Modul divalidasi oleh 2 dosen ahli materi
dilakukan dalam kegiatan belajar mengajari dari Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan
juga ternyata tidak berlangsung lancar. Universitas Syiah Kuala.
Kendala utama dari metode eksperimen Modul akhir selanjutnya di uji
adalah keterbatasan alat yang tersedia di efektivitasnya pada siswa kelas XPM1 yang
sekolah. Peralatan yang dibutuhkan untuk berjumlah 30 orang siswa dengan desain
eksperimen belum tentu tersedia di penelitian One Group Pre-Test and Post-
laboratorium, keadaan alat tidak terawat Test. Efektivitas modul ditentukan dengan
sehingga tidak dapat digunakan. Meskipun uji statistik terhadap peningkatan
guru sangat menginginkan kegiatan pemahaman konsep siswa rata-rata sebelum
eksperimen ataupun demonstrasi dilakukan dan setelah pelaksanaan pembelajaran
rutin pada setiap sub bahasan dengan dengan modul.
harapan dapat membuat siswa terbiasa Motivasi belajar siswa dihitung
dengan kegiatan eksperimen serta melatih dengan persentase yaitu jumlah respon
keterampilan proses sains siswa. Namun “setuju” pada angket pengukuran motivasi
dengan kondisi peralatan yang ada, kegiatan belajar siswa dibagi jumlah item pernyataan
tersebut tidak dapat dilakukan. pada angket tersebut yaitu sebanyak 30 item.
Berdasarkan latar belakang masalah Angket pengukuran motivasi belajar ini
tersebut, maka rumusan masalah dari telah divalidasi secara internal oleh dosen
pengembangan bahan ajar modul ini adalah : dari Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan
Apakah pengembangan bahan ajar modul Universitas Syiah Kuala.
berbasis PhET pada materi pembiasan
cahaya dapat meningkatkan pemahaman
konsep siswa? Bagaimanakah motivasi HASIL DAN PEMBAHASAN
Berdasarkan hasil pengolahan data
belajar siswa pada materi pembiasan cahaya
diperoleh nilai Ngain tertinggi pada 0,97
setelah menggunakan bahan ajar modul
sedangkan nilai Ngain terendah pada 0,16.
berbasis PhET?
Terdapatnya nilai Ngain yang mendominasi
Adapun tujuan dari penelitian ini
menunjukan bahwa pembelajaran dengan
adalah untuk mengetahui peningkatkan
menggunakan bahan ajar modul berbasis
pemahaman konsep siswa dan motivasi
PhET dapat meningkatkan pemahaman
belajar siswa pada pada materi pembiasan
konsep siswa.
cahaya melalui pengembangan bahan ajar
Untuk nilai Ngain terendah terjadi
modul berbasis PhET.
pada seorang siswa saja dan setelah nilai
.
Ngain tersebut dikaitkan dengan respon
angket siswa tersebut, tidak ditemukan
METODE PENELITIAN
Penelitian ini dilaksanakan mulai hubungan yang signifikan.
dari tanggal 5 Nopember sampai dengan 9 Berdasarkan sebaran angket yang
Nopember 2014 di SMP Negeri 1 Langsa. diberikan kepada siswa, diketahui bahwa
Modul dikembangkan dengan metode siswa memberikan tanggapan positif (baik)
Research and Development dengan tahapan terhadap pembelajaran dengan
Rizky Nafaida: Pengembangan Modul Berbasis Phet .......|183
Jurnal Pendidikan Sains Indonesia, Vol. 03, No.01, hlm 181-185, 2015
http://jurnal.unsyiah.ac.id/jpsi

menggunakan bahan ajar modul berbasis materi mendekati kondisi nyata. Soal-soal
PhET dengan persentase skor rata-rata dan latihan yang dimunculkan pada modul
sebesar 85,91%. Siswa menunjukkan ini berhubungan dengan dunia nyata agar
perasaan senang dan setuju terhadap fisika menjadikan siswa tertarik dan mengikat rasa
melalui pembelajaran menggunakan bahan ingin tahu serta menjadikan siswa tertantang
ajar modul berbasis PhET, siswa tertarik untuk menyelesaikannya. Serta hadirnya
terhadap tampilan dan fasilitas yang terdapat simulasi PhET dengan tampilan interaktif
dalam simulasi PhET, dan siswa menjadikan pembelajaran dengan modul
menunjukkan kesungguhan dalam berbasis PhET dapat memotivasi siswa
mempelajari Pembiasan Cahaya dengan untuk belajar fisika.
menggunakan bahan ajar modul berbasis Dalam pembelajaran dengan modul
PhET. ini, peran guru adalah sebagai fasilitator
Tanggapan positif yang yang membimbing siswa untuk menggali
dikemukakan oleh siswa menunjukkan pemahaman yang lebih mendalam dan
bahwa fungsi dari PhET dalam dunia mendukung inisiatif siswa, tetapi tidak
pendidikan sebagai perangkat lunak memberi ceramah pada konsep yang
(sofware) pembelajaran mampu memberikan berhubungan langsung dengan masalah
kemudahan kepada siswa untuk mempelajari esensial yang dipecahkan dan juga tidak
suatu materi baik secara mandiri ataupun mengarahkan atau memberikan penyelesaian
dalam kelompok menurut kecepatan belajar yang mudah bagi siswa. Hal ini menjadikan
masing-masing. Menurut Munir (2008) siswa mengerahkan seluruh kemampuan
multimedia interaktif memiliki yang dimilikinya untuk menyelesaikan
keistimewaan diantaranya: (1) interaktif kesulitan yang dihadapi dan melatih siswa
dengan memberikan kemudahan umpan untuk mengerjakan tugas secara mandiri
balik, (2) kebebasan menentukan topik yang merupakan indikator siswa memiliki
pembelajaran, dan (3) kontrol yang minat yang tinggi sebagaimana yang
sistematis dalam proses belajar. dinyatakan Sardiman (2006) tentang
Peningkatan pemahaman konsep indikator seseorang memiliki minat yang
melalui pembelajaran dengan menggunakan tinggi.
bahan ajar modul berbasis PhET merupakan Keunggulan pembelajaran dengan
implikasi dari pembelajaran yang modul tersebut sesuai dengan pendapat Utomo
menekankan pendekatan kontekstual, (1991) dan Nasution dalam Syauqi (2012) yaitu
dimana contoh dan penjelasan konsep modul menjadikan siswa tertarik mengikuti
Pembiasan Cahaya divisualisasikan proses pembelajaran, siswa dapat mencapai hasil
sesuai kemampuannya, pendidikan lebih
sehingga lebih mudah dimengerti siswa. Hal
berdaya guna karena siswa merasakan manfaat
ini sejalan penelitian yang dilakukan Faizin
dari kegiatan pembelajaran dan sesudah
(2007) bahwa penggunaan simulasi pembelajaran selesai guru dan siswa dapat
interaktif java applet pada pembelajaran mengetahui sejauh mana keberhasilan siswa
konsep Optik Geometri dapat membantu dalam mempelajari materi tersebut.
siswa dalam meningkatkan pemahaman
mereka terhadap konsep Optik Geometri.
Modul yang dikembangkan berbasis
PhET menyajikan proses pembelajaran yang
interaktif sehingga siswa mampu memahami

184| Jurnal Pendidikan Sains Indonesia (JPSI)


Jurnal Pendidikan Sains Indonesia, Vol. 03, No.01, hlm 181-185, 2015
http://jurnal.unsyiah.ac.id/jpsi

Direktorat Jenderal Peningkatan


PENUTUP Mutu Pendidik Dan Tenaga
Pembelajaran pembelajaran dengan Kependidikan.
menggunakan bahan ajar modul berbasis
Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan.
PhET ini dapat meningkatkan pemahaman 2012. Dokumen Kurikulum
konsep siswa secara signifikan. 2013.(Online),
Pembelajaran dengan menggunakan bahan (http://kangmartho.com.,diakses 1
ajar modul berbasis PhET dapat Oktober 2013).
menciptakan pembelajaran aktif s ehingga
dapat memotivasi siswa untuk belajar Purwanto, Aristo R & Suharto L. 2007.
Pengembangan Modul. Jakarta:
fisikawalaupun peran guru dan ketersediaan
PUSTEK-KOM, Depdiknas.
fasilitas pendukung masih sangat diperlukan
agar pembelajaran terlaksana dengan baik. Safari. 2003. Evaluasi pembelajaran.
Penyempurnaan dari tingkat keterbacaan, Jakarta. Departemen Pendidikan
tampilan dan format juga masih perlu Nasional Direktorat Jenderal
dilakukan agar dapat lebih mudah digunakan Pendidikan Dasar dan Menengah
dalam proses pembelajaran. Penelitian Direktorat Tenaga Kependidikan.
komparatif juga perlu dilakukan untuk
Saputri, A.A. 2013. Pengembangan Modul
membandingkan efektivitas pembelajaran Fisika Berbasis Metakognisi pada
dengan menggunakan bahan ajar modul Materi Pokok Elastisitas dan Gerak
berbasis PhET ini dan modul konvensional Harmonik Sederhana. Skripsi.
dalam meningkatkan pemahaman siswa dan Program Studi Pendidikan Fisika,
motivasi belajar siswa. UIN Sunan Kalijaga.

Slameto. 2010. Belajar dan Faktor- Faktor


yang Mempengaruhinya. Jakarta:
DAFTAR PUSTAKA
Rineka Cipta.
Anwar, I. 2010. Pengembangan Bahan Ajar.
Bahan Kuliah. Bandung: Direktori Sugiyono. 2009. Metode Penelitian
UPI. Kuantitatif, Kualitatif dan R&D.
Bandung: Alfabeta.
Arikunto S. 2011. Dasar-Dasar Evaluasi
Pendidikan. (Edisi Revisi). Jakarta: Sugiyono. 2013. Metode Penelitian
Bumi Aksara. Pendidikan: Pendekatan
Kuantitatif, Kualitatif, dan R & D.
Azwar, S. 1997. Realibilitas dan Validitas. Bandung: Alfabeta
Yokyakarta: Pustaka Pelajar.
Sudjana. 2005. Metoda Statistika. Bandung:
Departemen Pendidikan Nasional. 2008a. Tarsito.
Teknik Penyusunan Modul. Jakarta:
Direk-torat Ditjen Depdiknas. Sujadi, 2003. Metodologi Penelitian
Pendidikan. Jakarta: Rineka cipta.
Departemen Pendidikan Nasional. 2008b.
Penulisan Modul. Jakarta :
Direktorat Tenaga Kependidikan

Rizky Nafaida: Pengembangan Modul Berbasis Phet .......|185