Anda di halaman 1dari 22

KONSEP MODEL PRAKTIK KEPERAWATAN PROFESIONAL

OLEH :

SITI MUNAWAROH (NIM. P07120014036)

NI PUTU DEWI ERMAWATI (NIM. P07120014060)

NI KOMANG MERI SUCITANINGSIH (NIM. P07120014061)

TINGKAT 3.2 PROGRAM STUDI DIII KEPERAWATAN

KEMENTERIAN KESEHATAN REPUBLIK INDONESIA

POLITEKNIK KESEHATAN DENPASAR

TAHUN 2017

KONSEP MODEL PRAKTIK KEPERAWATAN PROFESIONAL

A. Pengertian
Model praktik keperawatan profesional (MPKP) adalah suatu sistem
(struktur, proses dan nilai-nilai profesional), yang memfasilitasi perawat
profesional, mengatur pemberian asuhan keperawatan, termasuk lingkungan
tempat asuhan tersebut diberikan (Ratna Sitorus & Yuli, 2006).
Aspek struktur ditetapkan jumlah tenaga keperawatan berdasarkan jumlah
klien sesuai dengan derajat ketergantungan klien. Penetapan jumlah perawat
sesuai kebutuhan klien menjadi hal penting, karena bila jumlah perawat tidak
sesuai dengan jumlah tenaga yang dibutuhkan, tidak ada waktu bagi perawat
untuk melakukan tindakan keperawatan.
Selain jumlah, perlu ditetapkan pula jenis tenaga yaitu PP dan PA,
sehingga peran dan fungsi masing-masing tenaga sesuai dengan kemampuan dan
terdapat tanggung jawab yang jelas. Pada aspek struktur ditetapkan juga standar
renpra, artinya pada setiap ruang rawat sudah tersedia standar renpra berdasarkan
diagnosa medik dan atau berdasarkan sistem tubuh.
Pada aspek proses ditetapkan penggunaan metode modifikasi keperawatan primer
(kombinasi metode tim dan keperawatan primer).

B. Tujuan Model Praktik Kperawatan Profesional
1. Menjaga konsistensi asuhan keperawatan
2. Mengurangi konflik, tumpang tindih dan kekosongan pelaksanaan asuhan
keperawatan oleh tim keperawatan.
3. Menciptakan kemandirian dalam memberikan asuhan keperawatan.
4. Memberikan pedoman dalam menentukan kebijakan dan keputusan.
5. Menjelaskan dengan tegas ruang lingkup dan tujuan asuhan keperawatan bagi
setiap tim keperawatan

C. Pilar Model Praktik Kperawatan Profesional
1. Pilar I : Pendekatan Manajemen (manajemen approach)

Perencanaan dengan kegiatan perencanaan yang dipakai di ruang MPKP meliputi (perumusan visi. dan perawat pelaksana. Struktur organisasi Ruang MPKP menggunakan sistem penugasan Tim-primer keperawatan. Setiap tim bertanggung jawab terhadap sejumlah pasien. yang bertanggung jawab untuk mencapai tujuan organisasi. penugasan suatu kelompok tenaga keperawatan. Pengorganisasian dengan menyusun stuktur organisasi. Dalam model praktik keperawatan mensyaratkaan pendekatan manajemen sebagai pilar praktik perawatan professional yang pertama. kebijakan dan rencana jangka pendek. dibuat dalam 1 minggu sehingga perawat sudah mengetahui dan mempersiapkan dirinya untuk melakukan . Pengorganisasian di ruang MPKP terdiri dari: 1) Struktur organisasi Struktur organisasi adalah susunan komponen-komponen dalam suatu organisasi (Sutopo. Struktur organiosasi juga menunjukkan spesialisasi pekerjaan. jadwal dinas dan daftar alokasi pasien. filosofi. menentukan cara dari pengkoordinasian aktivitas yang tepat. Pengorganisasian kegiatan dan tenaga perawat di ruang MPKP menggunakan pendekatan sistem penugasan modifikasi Keperawatan Tim-Primer. Ruang MPKP dipimpin oleh Kepala Ruangan yang membawahi dua atau lebih Ketua Tim. penanggung jawab dinas/shift.dan tahunan) b. perawat yang bertugas. Daftar dinas disusun berdasarkan Tim. ketua tim. baik vertikal maupun horizontal. harian. Pengorganisasian adalah pengelompokan aktivitas untuk mencapai tujuan. Ketua Tim berperan sebagai perawat primer membawahi beberapa Perawat Pelaksana yang memberikan asuhan keperawatan secara menyeluruh kepada sekelompok pasien. 2) Daftar Dinas Ruangan Daftar yang berisi jadwal dinas. Pada pengertian struktur organisasi menunjukkan adanya pembagian kerja dan menunjukkan bagaimana fungsi-fungsi atau kegiatan yang berbeda-beda diintegrasikan atau dikoordinasikan. Pada pilar I yaitu pendekatan manajemen terdiri dari : a.bulanan. 2000). Secara vertikal ada kepala ruangan. misi.

dan manajemen konflik. Pengarahan yaitu penerapan perencanaan dalam bentuk tindakan dalam rangka mencapai tujuan organisasi yang telah ditetapkan sebelumnya. Daftar pasien juga memberi informasi bagi kolega kesehatan lain keluarga untuk berkolaborasi tentang perkembangan dan keperawatan pasien. 1998). Setiap Tim mempunyai anggota yang berdinas pada pagi. Pembuatan jadual dinas perawat dilakukan oleh kepala ruangan pada hari terakhir minggu tersebut untuk jadual dinas pada minggu yang selanjutnya bekerjasama dengan Ketua Tim. pengaktifan. nama perawat dalam tim. dan yang lepas dari dinas (libur) terutama yang telah berdinas pada malam hari. komunikasi efektif yang mencangkup pre dan post conference. sore. penanggung jawab pasien.dinas. Apapun istilah yang digunakan pada akhirnya yang bermuara pada ”melaksanakan” kegiatan yang telah direncanakan sebelumnya (Marquis & Houston. 3) Daftar Pasien Daftar pasien adalah daftar yang berisi nama pasien. supervise. Pengarahan Dalam pengarahan terdapat kegiatan delegasi. Kegiatan ini dilakukan sebelum operan dari dinas pagi ke dinas sore. manajemen waktu.Daftar pasien adalah daftar sejumlah pasien yang menjadi tanggung jawab tiap Tim selama 24 jam. Alokasi pasien terhadap perawat yang dinas pagi. dan alokasi perawat saat menjalankan dinas di tiap shift. sore atau malam dilakukan oleh ketua Tim berdasarkan jadual dinas. . Istilah lain yang digunakan sebagai padanan pengarahan adalah pengkoordinasian. Daftar pasien dapat juga menggambarkan tanggung jawab dan tanggung gugat perawat atas asuhan keperawatan pasien sehingga terwujudlah keperawatan pasien yang holistik. menciptakan iklim motifasi. Dalam daftar pasien tidak perlu mencantumkan diagnosa dan alamat agar kerahasiaan pasien terjaga. dan malam. Daftar pasien di Ruangan diisi oleh ketua Tim sebelum operan dengan dinas berikutnya dan dapat dimodifikasi sesuai kebutuhan. c. nama dokter. Setiap pasien mempunyai perawat yang bertanggung jawab secara total selama dirawat dan juga setiap shift dinas.

Data tentang indikator mutu dapat bekerja sama dengan tim rumah sakit atau ruangan membuat sendiri. sehingga jika muncul isue dapat segera direspon dengan cara duduk bersama. pekerjaan diuraikan dalam tugas-tugas yang mampu kelola. Jadi pengendalian manajemen adalah proses untuk memastikan bahwa aktifitas sebenarnya sesuai dengan aktivitas yang direncanakan dan berfungsi untuk menjamin kualitas serta pengevaluasian penampilan. keluarga. jika perlu dilakukan pendelegasian. Pengontrolan penting dilakukan untuk mengetahui fakta yang ada. seorang manajer harus melakukan upaya-upaya (Marquis & Houston. Pengendalian Fayol mendefinisikan kontrol sebagai ”Pemeriksaan apakah segala sesuatunya terjadi sesuai dengan rencana yang telah disepakati. langkah-langkah yang harus dilakukan dalam pengendalian/pengontrolan meliputi : . Survei masalah keperawatan diperlukan untuk rencana yang akan datang. audit dokumen keperawatan. Output (hasil) dari suatu pekerjaan dikendalikan agar memenuhi keinginan (standar) yang telah ditetapkan. Pengendalian difokuskan pada proses yaitu pelaksanaan asuhan keperawatan dan pada output (hasil) yaitu kepuasan pelanggan (pasien). yang bertujuan untuk menunjukkan kekurangan dan kesalahan agar dapat diperbaiki dan tidak terjadi lagi”. 1998) sebagai berikut: 1) Menciptakan iklim motivasi 2) Mengelola waktu secara efisien 3) Mendemonstarikan keterampilan komunikasi yang terbaik 4) Mengelola konflik dan memfasilitasi kolaborasi 5) Melaksanakan sistem pendelegasian dan supervisi 6) Negosiasi d. instruksi yang dikeluarkan. perawat dan dokter. serta prinsip-prinsip yang ditentukan. Indikator mutu yang merupakan output adalah BOR. TOI. Untuk memaksimalkan pelaksanaan pekerjaan oleh staf. Kepala Ruangan akan membuat laporan hasil kerja bulanan tentang semua kegiatan yang dilakukan terkait dengan MPKP. mutu atau standar.Dalam pengarahan. ALOS. Pengendalian adalah upaya mempertahankan kualitas.

termasuk fasilitas fisik.1) Menetapkan standar dan menetapkan metode mengukur prestasi kerja 2) Melakukan pengukuran prestasi kerja 3) Menetapkan apakah prestasi kerja sesuai dengan standar 4) Mengambil tindakan korektif Peralatan atau instrumen dipilih untuk mengumpulkan bukti dan untuk menunjukkan standar yang telah ditetapkan atau tersedia. · Audit hasil Audit hasil adalah audit produk kerja yang dapat berupa kondisi pasien. dokter · Penilaian kinerja perawat Indikator mutu umum yaitu: . dan indikator mutu. atau peer review. yaitu · Kepuasan tenaga kesehatan: perawat. Retropektif adalah audit dengan menelaah dokumen pelaksanaan asuhan keperawatan melalui pemeriksaan dokumentasi asuhan keperawatan. yaitu: · Audit dokumentasi asuhan keperawatan · Survey masalah baru · Kepuasan pasien dan keluarga Kondisi SDM dapat berupa efektifitas dan efisiensi serta kepuasan. kondisi SDM. Audit merupakan penilaian pekerjaan yang telah dilakukan. organisasi. Kondisi pasien dapat berupa keberhasilan pasien dan kepuasan. peralatan. pelanggan. concurrent. SOP dan rekam medik. · Audit proses Audit Proses merupakan pengukuran pelaksanaan pelayanan keperawatan untuk menentukan apakah standar keperawatan tercapai. Terdapat tiga kategori audit keperawatan yaitu : · Audit struktur Audit Struktur berfokus pada sumber daya manusia. standar. Pemeriksaan dapat bersifat retropektif. prosedur. lingkungan perawatan. Concurrent adalah mengobservasi saat kegiatan keperawatan sedang berlangsung. kebijakan. Peer review adalah umpan balik sesama anggota tim terhadap pelaksanaan kegiatan.

rasional. penilaian kinerja. Compensatory reward (kompensasi penghargaan) menjelaskan manajemen keperawatan khususnya manajemen sumber daya manusia (SDM) keperawatan. staf perawat. seleksi kerja orientasi. sistematis. penilaian kinerja.proses ini selalu dilakukan sebelum membuka ruang MPKP dan setiap ada penambahan perawatan baru. Manajemen SDM di ruang MPKP berfokus pada proses rekruitmen. 2. seleksi. Pilar II : Sistem Penghargaan (Compensatory Reward) Manajemen sumber daya manusia diruang model praktik keperawatan professional berfokus pada proses rekruitmen. 3. dan pengembangan staf perawat. kontrak kerja. Metode dalam menyusun tenaga keperawatan seharusnya teratur.· Prosentasi pemakaian tempat tidur (BOR) · Rata-rata lama rawat seorang pasien (ALOS) · Tempat tidur tidak terisi (TOI) · Angka infeksi nasokomial (NI) · Angka dekubitus dan sebagainya. Proses ini selalu dilakukan sebelum membuka ruang MPKP dan setiap ada penambahan perawat baru. Seorang perawat akan mampu memberikan pelayanan dan asuhan keperawatan yang profesional apabila perawat tersebut sejak awal bekerja diberikan program pengembangan staf yang terstruktur. Pilar III: Hubungan Profesional Hubungan professional dalam pemberian pelayanan keperawata (tim kesehatan) dalam penerima palayana keperawatan (klien dan keluarga). Perawat merupakan SDM kesehatan yang mempunyai kesempatan paling banyak melakukan praktek profesionalnya pada pasien yang dirawat di Rumah Sakit. yang digunakan untuk menentukan jumlah dan jenis tenaga keperawatan yang dibutuhkan agar dapat memberikan asuhan keperawatan kepada pasien sesuai yang diharapkan. Fokus utama manajemen keperawatan adalah pengelolaan tenaga keperawatan agar dapat produktif sehingga misi dan tujuan organisasi dapat tercapai. orientasi. Pada pelaksanaannya hubungan professional secara interal artinya hubungan yang terjadi antara pembentuk pelayanan kesehatan misalnya antara perawat dengan .

Perawatan minimal : memerlukan waktu 1 – 2 jam/24 jam yang terdiri atas 1) Kebersihan diri. perawat dengan tim kesehatan dan lain–lain. (Douglas. yaitu sebagai berikut : 1. makan minum dibantu 2) Observasi tanda-tanda vital tiap 4 jam 3) Ambulasi dibantu. Komponen Model Praktik Kperawatan Profesional Terdapat 4 komponen utama dalam model praktek keperawatan professional. jumlah tenaga yang diperlukan tergantung pada jumlah pasien dan derajat ketergantungan pasien. b. Perawatan intermediet: memerlukan waktu 3 – 4 jam/24 jam yang terdiri atas: 1) Kebersihan diri dibantu. Pilar IV: Manajemen Asuhan Keperawatan Salah satu pilar praktik professional perawatan adalah pelayanan keperawat dengan mengunakan manajemen asuhan keperawatan di MPKP tertentu. 2) Makan dan minum dilakukan sendiri 3) Ambulasi dengan pengawasan 4) Observasi tanda-tanda vital dilakukan setiap shift. Manajemen asuhan keperawat yang diterapkan di MPKP adalah asuhan keperawatan dengan menerapkan proses keperawatan. e. mandi. pengobatan lebih dari sekali 4) Voley kateter/intake output dicatat . 6) Persiapan prosedur memerlukan pengobatan. Sedangkan hubungan professional secara eksternal adalah hubungan antara pemberi dan penerima pelayanan kesehatan. yaitu : a. Ketenagaan Keperawatan Dalam suatu pelayanan profesional. 4. status psikologis stabil. ganti pakaian dilakukan sendiri.perawat. 1984) Menurut Loveridge & Cummings (1996) klasifikasi derajat ketergantungan pasien dibagi 3 kategori. 5) Pengobatan minimal.

penyuntikan.5) Klien dengan pemasangan infus. 2) Tepat metoda ini bila ruang rawat memiliki keterbatasan/kurang tenaga keperawatan professional. selanjutnya ditetapkan perawat yang akan bertanggung jawab mengerjakan tindakan yang dimaksudkan. Keuntungan : 1) Menyelesaikan banyak pekerjaaan dalam waktu singkat. Penugasan Keperawatan Fungsional : Sistem penugasan ini berorinetasi pada tugas dinama fungsi keperawatan tertentu ditugaskan pada setiap perawat pelaksana. observasi tanda-tanda vital setiap 2 jam 3) Makan memerlukan NGT. Setiap metoda memiliki keuntungan dan kerugian masing-masing. yaitu penugasan fungsional. Oleh karena itu kepala Ruangan terlebih dahulu mengidentifikasi tingkat kesulitan tindakan tersebut. a. Tindakan ini didistribusikan berdasarkan tingkat kemampuan masing-masing perawat pelaksana. dan sebagainya. Terdapat 3 pola yang sering digunakan dalam pemberian asuhan keperawatan. Tidak ada perawat pelaksana yang bertanggung jawab penuh untuk asuhan keperawatan pada seorang pasien. perawat yang lain untuk mengganti verband. . Metoda pemberian asuhan keperawatan Sistem pemberian asuhan keperawatan adalah suatu pendekatan pemberian asuhan keperawatan secara efektif dan efisien kepada sejumlah pasien. memerlukan prosedur c. menggunakan terapi intravena 4) Pemakaian suction 5) Gelisah/disorientasi 2. penugasan primer. observasi tanda-tanda vital. persiapan pengobatan. misalnya seorang perawat ditugaskan khusus untuk tindakan pemberian obat. Setiap perawat pelaksana bertanggung jawab langsung kepada kepala Ruangan. Perawatan maksimal/total : memerlukan waktu 5 – 6 jam/24 jam : 1) Segala diberikan/dibantu 2) Posisi yang diatur. penugasan tim .

2) Menurunkan tanggung gugat dan tanggung jawab. maka ketua tim seringkali melakukan pertemuan bersama dengan anggota timnya (konferensi tim) guna membahas kejadian-kejadian yang dihadapi dalam pemberian asuhan keperawatan. karena orientasi pada tindakan langsung dan selalu berulang-ulang dikerjakan. Keuntungan : 1) Melibatkan semua anggota tim dalam asuhan keperawatan pasien. dan anggota tim bertanggung jawab melaksanakan asuhan keperawatan berdasarkan rencana asuhan keperawatan yang telah dibuat. 4) Pelayanan yang diperoleh pasien adalah bentuk pelayanan professional. Penugasan Keperawatan Tim : Adalah suatu bentuk sistem/metoda penugasan pemberian asuhan keperawatan. Ketua tim mempunyai tanggung jawab untuk mengkoordinasikan seluruh kegiatan asuhan keperawatan dalam tanggung jawab kegiatan anggota tim. Kerugian : 1) Memilah-milah asuhan keperawatan oleh masing-masing perawat.3) Perawat lebih terampil. dibanding sistem penugasan lain. yang diketuai oleh seorang perawat professional/berpengalaman. Oleh karena kegiatan dilakukan bersama-sama dalam kelompok. Ketua Tim melakukan pengkajian dan menyusun rencana keperawatan pada setiap pasien. Tujuan metoda penugasan keperawatan tim untuk memberikan keperawatan yang berpusat kepada pasien. 2) Akan menghasilkan kualitas asuhan keperawatan yang dapaty dipertanggung jawabkan. 5) Pekerjaan monoton. dimana Kepala Ruangan membagi perawat pelaksana dalam beberapa kelompok atau tim. 3) Membutuhkan biaya lebih sedikit/murah. Metoda ini digunaklan bila perawat pelaksana terdiri dari berbagai latar belakang pendidikan dan kemampuannya. Kerugian : . 3) Hubungan perawat-pasien sulit terbentuk. kurang tantangan. b. 4) Pelayanan tidak professional.

perencanaan . dimana asuhan keperawatan berorientasi kepada pasien. Tanggung jawab meliputi pengkajian pasien.1) Dapat menimbulkan pragmentasi dalam keperawatan. Keperawatan primer ini akan menciptakan kesepakatan untuk memberikan asuhan keperawatan yang komprehensif. Kerugian : 1) Ruangan tidak memerlukan bahwa semua perawat pelaksana harus perawat professional. karena anggotanya terbagi-bagi dalam shift. 6) Metoda ini mendukung pelayanan professional. c. 4) Terciptanya kolaborasi yang baik. dan perawat asosiet yang akan mengimplementasikan rencana asuhan keperawatan dalam timdakan keperawatan. 3) Ketua tim lebih bertanggung jawab dan memiliki otoritas. Keuntungan : 1) Otonomi perawat meningkat. karena motivasi. 3. dan evaluasi asuhan keperawatan dari sejak pasien masuk rumah sakit hingga pasien dinyatakan pulang. 3) Meningkatnya hubungan antara perawat dan pasien. 5) Membebaskan perawat dari tugas-tugas yang bersifat perbantuan. Pengkajian dan menyusun rencana asuhan keperawatan pasien di bawah tanggung jawab perawat primer. implementasi. 2) Biaya yang diperlukan banyak. ini merupakan tugas utama perawat primer yang dibantu oleh perawat asosiet. Penugasan Keperawatan Primer Keperawatan primer adalah suatu metoda pemberian asuhan keperawatan dimana perawat perofesional bertanggung jawab dan bertanggung gugat terhadap asuhan keperawatan pasien selama 24 jam/hari. dibandingkan dengan anggota tim. 2) Menjamin kontinuitas asuhan keperawatan. 7) Penguasaan pasien oleh seorang perawat primer. 2) Sulit untuk menentukan kapan dapat diadakan pertemuan/konferensi. tanggung jawab dan tanggung gugat meningkat. Proses Keperawatan .

Seluruh langkah pengambilan keputusan ini tertuang pada langkah-langkah proses keperawatan yaitu : a. dokumentasi berfungsi sebagai sarana komunikasi antar profesi Kesehatan. sumber data untuk penelitian. implementasi rencana. Berdasarkan MPKP yang sudah dikembangkan di berbagai rumah sakit. dokumentasi merupakan dokumen legal tentang pemberian asuhan keperawatan. Hoffart & Woods (1996) menyimpulkan bahwa MPKP tediri lima komponen yaitu . Proses keperawatan merupakan proses pengambilan keputusan yang dilakukan perawat dalam menyusun kegiatan asuhan secara bertahap. Disamping itu. dan e. menyusun alternatif penyelesaikan masalah c. Secara lebih spesifik. Pendekatan ilmiah yang fragmatis dalam pengambilan keputusan adalah : a. Dokumen dibuat berdasarkan pemecahan masalah pasien. pengkajian fokus pada keluhan utama dan eksplorasi lebih holistic b. rencana tindakan untuk menyelesaikan masalah d. Dokumentasi Keperawatan Dokumentasi keperawatan merupakan unsur penting dalam sistem pelayanan keperawatan. Identifikasi masalah b. pemilihan cara penyelesaian masalah yang tepat dan melaksanakannya d. evaluasi hasil dari pelaksanaan alternatif penyelesaian masalah. 4. diagnosis yaitu menetapkan hubungan sebab akibat dari masalah masalah keperawatan c. karena melalui pendokumentasian yang baik. dan catatan perkembangan pasien. Dokumentasi berdasarkan masalah terdiri dari format pengkajian. maka informasi mengenai keadaan Kesehatan pasien dapat diketahui secara berkesinambungan. evaluasi hasil tindakan. sebagai bahan bukti pertanggung jawaban dan pertanggung gugatan asuhan keperawatan. sumber data untuk pemberian asuhan keperawatan. rencana keperawatan. Kebutuhan dan masalah pasien merupakan titik sentral dalam pengambilan keputusan. catatan tindakan keperawatan.

Pemberian informasi yang akurat akan membantu dalam penetapan rencana tindakan medik. hubungan antar professional. Pendekatan manajemen Pada model ini diberlakukan manajemen SDM.nilai – nilai professional yang merupakan inti MPKP. PP akan mengevaluasi perkembangan klien setiap hari dan membuat modifikasi pada renpra sesuai kebutuhan klien. . Nilai – nilai professional Pada model ini PP dan PA membangun kontrak dengan klien/keluarga. yaitu ada garis koordinasi yang jelas antara PP dan PA. Sehingga mampu memberi informasi tentang kondisi klien kepada profesional lain khususnya dokter. c. menjadi partner dalam memberikan asuhan keperawatan. Pada pelaksanaan dan evaluasi renpra. PP mempunyai otonomi dan akuntabilitas untuk mempertanggungjawabkan asuhan yang diberikan termasuk tindakan yang dilakukan oleh PA. Nilai-nilai profesional digariskan dalam kode etik keperawatan yaitu: 1) Hubungan perawat – klien 2) Hubungan perawat dan praktek 3) Hubungan perawat dan masyarakat 4) Hubungan perawat dan teman sejawat 5) Hubungan perawat dan profesi b. Metode pemberian asuhan keperawatan Metode pemberian asuhan keperawatan yang digunakan adalah modifikasi keperawatan primer ehingga keputusan tentang renpra ditetapkan oleh PP. pendekatan manajemen terutama dalam perubahan pengambilan keputusan serta sistem kompensasi dan penghargaan. hal ini berarti PP mempunyai tanggung jawab membina performa PA agar melakukan tindakan berdasarkan nilai-nilai profesional. Hubungan antar professional Hubungan antar profesional dilakukan oleh PP. PP yang paling mengetahui perkembangan kondisi klien sejak awal masuk. metode pemberian asuhan keperawatan. d. Lima subsistem dalam pengembangan MPKP adalah sebagai berikut : a. performa PA dalam satu tim menjadi tanggung jawab PP.

Model Praktek Keperawatan Profesional I Model ini menggunakan 3 komponen utama yaitu ketenagaan. Sistem kompensasi dan panghargaan.Dengan demikian. Kompensasi dan penghargaan yang diberikan kepada perawat bukan bagian dari asuhan medis atau kompensasi dan penghargaan berdasarkan prosedur. metode pemberian asuhan keperawatan dan dokumentasi keperawatan. e. Di ruangan ini digunakan hasil-hasil penelitian keperawatan dan melakukan penelitian keperawatan. Di ruangan tersebut juga dilakukan penelitian keperawatan. b. PP harus dibekali dengan kemampuan manajemen dan kepemimpinan sehingga PP dapat menjadi manajer yang efektif dan pemimpin yang efektif. Pelayanan prima keperawatan dikembangkan dalam bentuk model praktek keperawatan profesional (MPKP). MPKP dikembangkan beberapa jenis sesuai dengan kondisi sumber daya manusia yang ada yaitu: a. sehingga praktik keperawatan berdasarkan evidence based. Model Praktek Keperawatan Profesional Pemula . yang pada awalnya dikembangkan oleh Sudarsono (2000) di Rumah Sakit Ciptomangunkusumo dan beberapa rumah sakit umum lain. d. Sebagai seorang manajer. Metode yang digunakan pada model ini adalah kombinasi metode keperawatan primer dan metode tim yang disebut tim primer. khususnya penelitian klinis. Model Praktek Keperawatan Profesional II Tenaga perawat yang bekerja di ruangan ini mempunyai kemampuan spesialis yang dapat memberikan konsultasi kepada perawat primer. Model praktek Keperawatan Profesional III Tenaga perawat yang akan bekerja di ruangan ini semua profesional dan ada yang sudah doktor. c. PP adalah seorang manajer asuhan keperawatan. PP dan timnya berhak atas kompensasi serta penghargaan untuk asuhan keperawatan yang dilakukan sebagai asuhan yang profesional.

MPKP III MPKP Advance yang semua tenaga minimal Sarjana Ners keperawatan. MPKP Profesional dibagi 3 tingkatan yaitu : a. Lawang. Hasil penerapan menunjukkan hasil BOR meningkat. Magelang. Model ini menyerupai MPKP I. angka lari pasien menurun. sudah memiliki tenaga spesialis keperawatan jiwa dan doktor keperawatan yang bekerja di area keperawatan jiwa. Bentuk MPKP yang dikembangkan adalah MPKP transisi dan MPKP pemula. Semarang. Beberapa modifikasi yang dilakukan meliputi 3 jenis yaitu: 1. Ini menunjukkan bahwa dengan MPKP pelayanan kesehatan jiwa yang diberikan bermutu baik.Pada modul ini akan dikembangkan penatalaksanaan kegiatan keperawatan berdasarkan 4 pilar nilai profesional yaitu management . namun Kepala Ruangan dan Ketua Timnya minimal dari D3 Keperawatan 2. b. MPKP Transisi MPKP dasar yang tenaga perawatnya masih ada yang berlatar belakang pendidikan SPK. Pakem.. ALOS menurun. Solo. MPKP II MPKP Intermediate dengan tenaga minimal D3 Keperawatan dan mayoritas Sarjana Ners keperawatan. dan RSUD Duren Sawit). c. 3. MPKP Pemula MPKP dasar yang semua tenaganya minimal D3 Keperawatan. tetapi baru tahap awal pengembangan yang akan menuju profesional I. MPKP I MPKP dengan tenaga perawat pelaksana minimal D3 keperawatan tetapi Kepala Ruangan (Karu) dan Ketua Tim (Katim) mempunyai pendidikan minimal S1 Keperawatan. sudah memiliki tenaga spesialis keperawatan jiwa. MPKP di Rumah Sakit Jiwa Di rumah sakit jiwa telah dikembangkan MPKP dengan memodifikasi MPKP yang telah dikembangkan di rumah sakit umum. MPKP telah diterapkan di berbagai rumah sakit jiwa di Indonesia (Bogor.

yaitu : 1) Resiko prilaku kekerasan Perilaku kekerasan adalah salah satu respon terhadap stressor yang di hadapi oleh seseorang. 2) Gangguan sensori persepsi : halusinasi Halusinasi adalah salah satu gejala gangguan jiwa pada individu yang ditandai dengan perubaban sensori persepsi. 3) Isolasi sosial . merasakan sensasi palsu berupa suara. Modul I : Manajemen Keperawatan 2.approach. respon ini dapat menimbulkan kerugian baik pada sdiri sendairi. perabaan atau penghiduan. pengecapan. Kegiatan tersebut dapat dikembangkan jika tenaga keperawatan yang bekerja lebih berkualitas atau model MPKP telah meningkat ke bentuk MPKP Profesional. Diagnosa keperawatan Diagnosa Keperawatan Pada Model Praktik Keperawatan Jiwa Salah satu pilar model praktik keperawatan professional adalah pelayanan keperawatan dengan menggunaakn system pemberian asuhan keperawatan (patient care delivery system) diruang MPKP. maupun lingkungan. f. Pilar-pilar professional diaplikasikan dalam bentuk aktivitas-aktivitas pelayanan professional yang dipaparkan dalam bentuk 4 modul. Modul II : Compensatory Reward 3. Modul III : Professional Relationship 4. Modul IV : Patient Care Delivery Kegiatan yang ditetapkan pada tiap pilar merupakan kegiatan dasar MPKP dengan model MPKP pemula. Modul-modul tersebut adalah : 1. Sistem pemberian asuhan keperawatan yang nditerapkan di MPKP adalah asuhan keperawatandengan menerapkan proses keperawatan. penglihatan. professional relationship dan patient care delivery. compensatory reward. Berdasarkanm survey masalah yang dilakukan dibeberapa rumah sakit jiwa ditemukan 7 diagnosa keperawatan utama. Pasien merasakan stimulus yang sebenarnya tidak ada. orang lain.

kesepian dan tidak mampu membina hubungan yang berarti dengan orang lain. tidak berarti dan rendah diri yang berkepanjangan akibat evaluasi negative terhadap diri sendiri dan kemampuan diri. makan . tidak diterima. Pasien mungkin merasa ditolak. 7) Ganggun konsep diri : Harga diri rendah Harga diri rendah adalah persaan tidak berharga . 6) Defisit keperawatan diri (berpakaian. tetapi tidak sesuai dengan kenyataan. aktifitas sehari-hari dan eliminasi) Defisit keperawatan diri pada pasien gangguan jiwa terjadi akibat adanya perubahan proses piker sehingga kemampuan untuk melakukan aktivitas perawatan diri menurun. 5) Resiko bunuh diri Bunuh diri merupakan tindakan yang secara sadar di lakukan oleh pasien untuk mengakhiri kehidupannya. 4) Gangguan pola pikir : waham Waham adalah suatu keyakinan yang salah yang di pertahankan secara kuat / terus-menerus. berhias. Isolasi sosial adalah keaddan ketika seseorang individu mengalami penurunan atau bahkan sam sekali tidak mampu berinteraksi dengan orang lain disekitarnya. . kebersihan diri.

(4) Manajemen Asuhan Keperawatan. proses dan nilai-nilai profesional). termasuk lingkungan tempat asuhan tersebut diberikan (Ratna Sitorus & Yuli. (3) Proses Keperawatan dan (4) Dokumentasi keperawatan serta Model Praktik Keperawatan Profesional Juga memiliki diagnosa keperawatan yang mencakup mulai dari resiko prilaku kekerasan hingga gangguan konsep diri (harga diri rendah). . Model Praktik Keperawatan Profesional juga memiliki 4 pilar yang terdiri dari : (1) Pendekatan Manajemen Keperawatan. (2) Sistem Penghargaan. (2) Metode Pemberian asuhan keperawatan. mengatur pemberian asuhan keperawatan.Model Praktik Keperawatan Profesional memiliki salah satu tujuan yaitu menciptakan kemandirian dalam memberikan asuhan keperawatan. (3) Hubungan Profesional. 2006). yang memfasilitasi perawat profesional. Model Praktik Keperawatan Profesional memiliki 4 komponen utama yaitu : (1) Keterangan keperawatan. SIMPULAN Model Praktik Keperawatan Profesional (MPKP) adalah suatu sistem (struktur.

4. Berikut yang bukan termasuk tujuan dari MPKP adalah ? a. e. dokter. b. Sistem yang memfasilitasi seluruh lapisan tenaga kesehatan. Memberikan pedoman dalam menentukan kebijakan dan keputusan. Menjelaskan dengan tegas ruang lingkup dan tujuan asuhan keperawatan bagi setiap tim keperawatan 3. 2 4. SOAL 1. Aspek yang ditetapkan jumlah tenaga keperawatan berdasarkan jumlah klien sesuai dengan derajat ketergantungan klien c. Berapakah jumlah pilar dalam MPKP ? a. sehingga peran dan fungsi masing-masing tenaga sesuai dengan kemampuan dan terdapat tanggung jawab yang jelas d. c. d. d. Mengurangi konflik. dll 2. mengatur pemberian asuhan keperawatan. Menciptakan kemandirian dalam memberikan asuhan keperawatan. 3 c. Menjaga konsistensi asuhan keperawatan b. ahli gizi. tumpang tindih dan kekosongan pelaksanaan asuhan keperawatan oleh seluruh tenaga kesehatan. termasuk lingkungan tempat asuhan tersebut diberikan. proses dan nilai-nilai profesional). 6 e. e. baik perawat. Suatu sistem yang perlu ditetapkan pula jenis tenaga yaitu PP dan PA. Apakah yang dimaksud Model praktik keperawatan profesional (MPKP) ? a. suatu sistem (struktur. 5 b. Suatu sistem yang mengunakan metode modifikasi keperawatan primer (kombinasi metode tim dan keperawatan primer). langkah-langkah yang harus dilakukan dalam pengendalian/pengontrolan manajemen adalah . yang memfasilitasi perawat profesional.

Ada berapakah jenis-jenis MPKP yang diterapkan di Rumah Sakit Jiwa ? . menyesuikan keinginan pribadi tenaga kesehatan dan kebijakan RS. pemilihan cara penyelesaian masalah yang tepat dan melaksanakannya d. 6 e. d. evaluasi hasil dari pelaksanaan alternatif penyelesaian masalah 7. Posisi yang diatur. status psikologis stabil. rencana tindakan untuk menyelesaikan masalah 5. 3 c. b. e. b. Hubungan perawat dan rumah sakit. Hubungan perawat dan praktek c. pemilihan cara penyelesaian masalah yang tepat dan melaksanakannya e. Identifikasi masalah b. Ada berapakah jenis-jenis MPKP ? a. menyusun alternatif penyelesaikan masalah d. 4. observasi tanda-tanda vital setiap 2 jam e. Menetapkan apakah prestasi kerja sesuai dengan standar. d. c. 5 b. Yang tidak termasuk dalam nilai-nilai profesional digariskan dalam kode etik keperawatan yaitu: a. Hubungan perawat – klien b. Pengobatan minimal. menyusun alternatif penyelesaikan masalah c. Hubungan perawat dan teman sejawat 8. Observasi tanda-tanda vital dilakukan setiap shift. 6. 2 9. Segala diberikan/dibantu d. Hubungan perawat dan masyarakat e. Pendekatan ilmiah yang fragmatis dalam pengambilan keputusan yaitu (Kecuali) a. Berikut yang termasuk dalam perawatan intermediet adalah ? a. Identifikasi masalah c. a. Voley kateter/intake output dicatat.

4 d. d. a. Manajemen Keperawatan b. Patient Care Delivery . Pilar-pilar professional diaplikasikan dalam bentuk aktivitas-aktivitas pelayanan professional yang dipaparkan dalam bentuk modul. 5 b. Professional Care giver. 3. c. Modul-modul tersebut adalah (kecuali) a. Professional Relationship e. 2 10. 6 e. Compensatory Reward c.

W. Model Praktek Keperawatan Profesional. Manajemen Keperawatan Aplikasi Dalam Praktik Keperawatan Professional. https://www.2007. Pengembangan Model Praktek keperawatan Profesional. Model Praktik Keperawatan Profesional Jiwa. B.wordpress.academia. ( 20 Januari 2017) Kelliat. 2009.2010. .A. http://attakalya.com/2010/04/28/pengembangan-model- praktek-keperawatan-profesional-mpkp-jiwa/ ( 20 Januari 2017) Godult.2013. Jakarta : EGC. Nursalam. DAFTAR PUSTAKA Attakalya.edu/10363819/MODEL_PRAKTEK_KEPERAWAT AN_PROFESIONAL_MPKP. Jakata : Salrma medika.