Anda di halaman 1dari 30

BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

A. Telaah Pustaka

1. Pendidikan Kesehatan

a. Pengertian

Pendidikan kesehatan adalah suatu kegiatan atau usaha untuk

menyampaikan pesan kesehatan kepada masyarakat, kelompok atau

individu. Dengan harapan bahwa dengan adanya pesan tersebut

masyarakat, kelompok, atau individu dapat memperoleh pengetahuan

tentang kesehatan yang lebih baik. Akhirnya pengetahuan tersebut

diharapkan dapat mempengaruhi terhadap perilakunya. Dengan kata lain,

dengan adanya pendidikan tersebut dapat membawa akibat terhadap

perilaku sasaran (Notoatmodjo, 2012).

Pendidikan kesehatan merupakan masalah penting yang perlu

mendapatkan perhatian semua pihak, sekolah merupakan langkah yang

strategis dalam upaya meningkatkan kesehatan masyarakat karena

sekolah merupakan lembaga yang sengaja didirikan untuk membina dan

meningkatkan sumber daya manusia baik fisik, mental, moral maupun

intelektual. Pendidikan kesehatan melalui sekolah paling efektif diantara

usaha kesehatan masyarakat yang lain, karena usia 6-18 tahun

mempunyai prosentase paling tinggi dibandingkan dengan kelompok

umur yang lain.16

b. Tujuan
Tujuan utama pendidikan kesehatan adalah agar orang mampu:

1) Menetapkan masalah dari kebutuhan mereka sendiri

2) Memahami apa yang dapat mereka lakukan terhadap masalahnya,

dengan sumber daya yang ada pada mereka ditambah dengan

dukungan dari luar.

3) Memutuskan kegiatan yang paling tepat guna untuk meningkatkan

taraf hidup sehat dan kesejahteraan masyarakat.

c. Metode

Metode penyampaian pesan dalam pendidikan kesehatan

merupakan salah satu faktor penentu tercapainya tujuan secara optimal.

Menurut Notoatmodjo (2012) metode tersebut sebagai berikut :

1) Individu

Digunakan untuk membina perilaku baru, pendekatannya antara lain:

a) Bimbingan penyuluhan

Dengan cara ini kontak antara klien dengan petugas

kesehatan lebih intensif, sehingga akan memungkinkan petugas

dapat menggali masalah klien lebih dalam. Dengan demikian

akan dapat membantu menyelesaikan masalahnya dan akhirnya

klien dengan suka rela berdasarkan kesadaran, dan pengertian

menerima perilaku baru (mengubah perilaku).

b) Wawancara
Cara ini sebenarnya merupakan bagian dari bimbingan dan

penyuluhan. Wawancara antara petugas kesehatan dengan klien

untuk menggali informasi mengapa klien belum bisa menerima

perubahan, apakah ia tertarik atau tidak terhadap perubahan,

untuk mengetahui apakah perilaku yang sudah atau yang akan

diadopsi itu mempunyai dasar pengertian dan kesadaran yang

kuat. Apabila belum maka perlu penyuluhan yang lebih

mendalam lagi.

2) Kelompok

Dalam memilih metode pendidikan kelompok, harus diingat

besarnya kelompok sasaran serta tingkat pendidikan formal dari

sasaran. Untuk kelompok yang besar, metodenya akan lain dengan

kelompok yang kecil. Efektifitas suatu metode akan tergantung pula

pada besarnya sasaran pendidikan.

a) Kelompok besar (lebih dari 15 orang)

Metode yang tepat untuk penyuluhan kelompok ini:

(1) Ceramah

Metode yang cocok untuk yang berpendidikan tinggi maupun

rendah.

(2) Seminar

Metode ini cocok digunakan untuk kelompok besar dengan

pendidikan menengah atas. Seminar sendiri adalah presentasi


dari seorang ahli atau beberapa orang ahli dengan topik

tertentu.

b) Kelompok kecil

(1) Diskusi kelompok

Kelompok ini dibuat saling berhadapan, ketua kelompok

menempatkan diri diantara kelompok, setiap kelompok punya

kebebasan untuk mengutarakan pendapat,biasanya pemimpin

mengarahkan agar tidak ada dominasi antar kelompok.

(2) Curah pendapat

Merupakan hasil dari modifikasi kelompok, tiap kelompok

memberikan pendapatnya, pendapat tersebut di tulis di papan

tulis, saat memberikan pendapat tidak ada yang boleh

mengomentari pendapat siapapun sebelum semuanya

mengemukakan pendapatnya, kemudian tiap anggota

berkomentar lalu terjadi diskusi.

(3) Memainkan peran

Beberapa anggota kelompok ditunjuk untuk memerankan

suatu peranan misalnya menjadi dokter, perawat atau bidan,

sedangkan anggota yang lain sebagai pasien atau masyarakat.

(4) Simulasi

Metode ini merupakan gabungan antara role play dengan

diskusi kelompok. Pesan-pesan kesehatan dsajikan dalam

beberapa bentuk permainan seperti permainan monopoli,


beberapa orang ditunjuk untuk memainkan peranan dan yang

lain sebagai narasumber.

3) Massa (publik)

Pada umumnya bentuk pendekatan ini dilakukan secara tidak

langsung atau menggunakan media massa.

d. Media

Menurut Nursalam (2008) media pendidikan kesehatan adalah saluran

komunikasi yang dipakai untuk mengirimkan pesan kesehatan. Media dibagi

menjadi 3, yaitu: cetak, elektronik, media papan (billboard). Media cetak

antara lain: booklet, leaflet, flyer, flip chart, rubik, poster, foto. Media

elektronik antara lain: televise, radio, VCD, slide, film strip. Media papan

berupa papan yang dipasang di tempat umum dan berisi pesan-pesan

kesehatan.

Booklet adalah suatu media untuk menyampaikan pesan-pesan

kesehatan dalam bentuk tulisan dan gambar. Booklet sebagai saluran,

alat bantu, sarana dan sumber daya pendukungnya untuk menyampaikan

pesan harus menyesuaikan dengan isi materi yang akan disampaikan.16

Media booklet mempunyai manfaat antara lain: menimbulkan

minat sasaran pendidikan, membantu di dalam mengatasi banyak

hambatan, membantu sasaran pendidikan untuk belajar lebih banyak dan

cepat, merangsang sasaran pendidikan untuk meneruskan pesan-pesan

yang diterima kepada orang lain, mempermudah penyampaian bahasa

pendidikan.16
2. Menarche

a. Pengertian

Menarche merupakan menstruasi pertama yang biasa terjadi dalam

rentang usia 10-16 tahun atau pada masa awal remaja di tengah masa

pubertas sebelum memasuki masa reproduksi. Menarche merupakan

suatu tanda adanya perubahan lain seperti pertumbuhan payudara,

pertumbuhan rambut daerah pubis dan aksila, serta distribusi lemak pada

daerah pinggul. Menarche merupakan pertanda adanya suatu perubahan

status sosial dari anak-anak ke dewasa.17

Di Indonesia, diketahui 37,5 persen perempuan mengalami

menarche pada umur 13-14 tahun, dijumpai 0,1 persen perempuan

dengan umur menarche 6-8 tahun, dan juga sebanyak 19,8 persen

perempuan baru mendapat haid pertama pada umur 15-16 tahun, dan 4,5

persen pada umur 17 tahun ke atas.4 Indonesia sendiri menempati urutan

ke-15 dari 67 negara dengan penurunan umur menarche mencapai 0,145

tahun per dekade.18

b. Waktu terjadi Menarche

Usia saat seorang anak perempuan mulai mendapat menstruasi sangat

bervariasi. Terdapat kecenderungan bahwa saat ini anak mendapat

menstruasi yang pertama kali pada usia yang muda. Secara biologis,

menarche terjadi pada usia 10-19 tahun. Usia untuk mencapai fase

terjadinya menarche dipengaruhi oleh banyak faktor, antara lain faktor


suku, genetik, gizi, sosial, ekonomi, dan lain-lain. Di Thailand, usia rata-

rata untuk mencapai menarche dicapai pada usia 11,8 tahun.20

c. Gejala Menarche

Gejala menjelang menstruasi terjadi hampir di seluruh bagian

tubuh, dan berbagai sistem yang ada dalam tubuh, antara lain adanya rasa

nyeri di payudara, sakit pinggang, pegal linu perasaan seperti kembung,

muncul jerawat, lebih sensitif, dan biasanya terdapat perubahan

emosional seperti perasaan suntuk, marah dan sedih yang disebabkan

oleh adanya pelepasan beberapa hormon.17

Gangguan-gangguan menstruasi dapat menyebabkan terganggunya

aktivitas-aktivitas dari wanita yang mengalami gangguan menstruasi.

Gangguan psikologi pada saat menstruasi:

1) Kecemasan atau ketakutan terhadap menstruasi, sehingga

menimbulkan fobia terhadap menstruasi jika keregangan dan

kecemasan ini terus-menerus tidak segera diatasi. .

2) Merasa terhalangi atau merasa dibatasi kebebasan dirinya oleh

datangnya menstruasi, contohnya ia tidak dapat melaksanakan

ibadah, aktivitas olahraga, dan aktivitas lainnya.

3) Mudah tersinggung atau mudah marah. Perasaan ini timbul

dikarenakan akibat dari perubahan cara kerja hormon serta pengaruh

rasa nyeri yang timbul pada saat menstruasi.

4) Perubahan pola makan, pola makan cenderung meningkat terutama

pada makanan yang manis.


5) Merasa gelisah dan gangguan tidur . Pada saat menstruasi seorang

wanita akan mengalami gangguan atau masalah susah tidur atau

insomnia.19

d. Faktor-Faktor yang mempengaruhi Menarche

1) Status Gizi

Status gizi merupakan salah satu faktor yang mempengaruhi

pertumbuhan remaja termasuk menarche. Status gizi berpengaruh

terhadap tingkat kematangan seksual sehingga berdampak pada umur

menarche. Pada umumnya, perempuan dengan kematangan seksual

lebih dini akan memiliki IMT yang lebih tinggi dan perempuan

dengan kematangan seksual yang terlambat memiliki IMT lebih kecil

pada usia yang sama. Hal ini disebabkan karena status gizi yang

cenderung lebih sering dihubungkan dengan paparan hormone

estrogen dan progesterone yang tinggi sebagai akibat pola konsumsi

makanan berlemak tinggi.

2) Berat badan lahir

Adanya keterkaitan antara berat badan lahir dengan umur menarche

dapat disebabkan oleh status gizi selama kehamilan. Berat badan

lahir pada anak akan mencerminkan pemenuhanasupan gizi selama

kehamilan. Hal tersebut tentu berpengaruh pada pertumbuhan dan

perkembangan badan anak sehingga berdampak pada umur

menarche.
3) Umur ibu

Terdapat kecenderungan semakin meningkat umur ibu saat

melahirkan, maka anak tersebut akan mendapat umur menarche yang

lebih cepat. Hal tersebut disebabkan karena semakin tua umur ibu,

maka semakin lama paparan hormon yang akan diperoleh ibu

tersebut. Jika seorang ibu mengandung dan melahirkan dalam usia

yang cukup tua, maka paparan hormon tersebut akan dapat

diturunkan kepada anaknya. Hal tersebut tentu akan mempengaruhi

kecepatan pertumbuhan dan perkembangan anak yang akan

berdampak pada waktu terjadinya menarche.

4) Pendidikan Orang Tua

Pendidikan orang tua yang meliputi pendidikan ayah dan ibu

merupakan salah satu indikator sosial ekonomi yang dapat

mempengaruhi umur menarche. Tingkat pendidikan orang tua dapat

menggambarkan status sosial ekonomi suatu keluarga selain dapat

dilihat dari besarnya pendapatan. Semakin tinggi tingkat pendidikan

orang tua, maka identik dengan pekerjaan yang semakin baik dan

penghasilan keluarga yang semakin tinggi. Anak gadis dengan status

keluarga yang memiliki sosial ekonomi tinggi cenderung akan lebih

mungkin untuk mendapatka nutrisi yang cukup dan bahkan lebih

sehingga umur menarche akan lebih cepat.21

e. Perawatan Diri saat Menstruasi


Upaya yang dilakukan ketika anak menstruasi yaitu menjaga

kebersihan selama masa menstruasi dengan menggant pembalut minimal

dua kali sehari, karena penggantian pembalut dapat mengurangi

perkembangbiakan bakteri, minum obat apabila timbul rasa nyeri yang

berlebihan dan memeriksakan kedokter, juga pemberian vitamin B1, B6,

dan B12 berguna untuk individu yang menderita keluhan sakit pada saat

menstruasi dan diminum sesuai dosis yang dianjurkan. Disamping itu

juga disarankan untuk menjaga kebersihan vagina, karena kuman mudah

sekali masuk dan dapat menimbulkan penyakit pada saluran reproduksi

(Proverawati dan Maisaroh, 2009). Beberapa cara perawatan diri saat

menstruasi antara lain sebagai berikut:

1) Bersihkan vagina setiap mandi dengan air bersih, bila perlu dengan

air hangat.

2) Cuci tangan sebelum menyentuh vagina.

3) Menyediakan pembalut dan underwear pada saat melakukan

aktivitas ataupun bepergian.

4) Gunakan pembalut yang baik, lembut dan aman pada saat

menstruasi.

5) Pilihlah pembalut yang tidak member efek samping, seperti

menimbulkan iritasi pada daerah organ intim, rasa tidak nyaman.

6) Pembalut harus sering diganti setiap mandi atau buang air besar.

3. Remaja
a. Pengertian

Istilah Adolescence atau remaja berasal dari kata latin adolescere

(kata Belanda, adolescentia yang berarti remaja) yang berarti tumbuh

atau tumbuh menjadi dewasa. Istilah adolescence, seperti yang

dipergunakan saat ini mempunyai arti yang luas mencakup kematangan

mental, emosional, social dan fisik.22 Piaget (dalam Hurlock, 1999)

mengatakan bahwa secara psikologis masa remaja adalah usia dimana

individu berintegrasi dengan masyarakat dewasa, usia dimana anak tidak

lagi merasa dibawah tingkat orang-orang yang lebih tua melainkan

berada dalam tingkatan yang sama, sekurang-kurangnya dalam masalah

hak.

Monks (dalam Hurlock, 1999) mengatakan remaja adalah individu

yang berusia antara 12-21 tahun yang sedang mengalami masa peralihan

dari masa anak-anak ke masa dewasa, dengan pembagian 12-15 tahun

masa remaja awal, 15-18 tahun masa remaja pertengahan dan 18-21

tahun masa remaja akhir, sedangkan menurut Kusmiran (2014) definisi

remaja sendiri dapat ditinjau dari tiga sudut pandang, yaitu:

1) Secara kronologis, remaja adalah individu yang berusia 11-12 tahun

sampai 20-21 tahun.

2) Secara fisik, remaja ditandai oleh perubahan pada penampilan fisik

dan fungsi fisiologis, terutama yang terkait dengan kelenjar seksual.


3) Secara psikologis, remaja merupakan masa dimana individu

mengalami perubahan-perubahan dalam aspek kognitif, emosi,

sosial, dan moral, diantara masa anak-anak menuju masa dewasa.

b. Perkembangan dan Ciri-Ciri Remaja

1) Menurut Havighurst (dalam Hurlock, 1999) ciri-ciri masa remaja

antara lain:

a) Masa remaja sebagai periode yang penting

Remaja mengalami perkembangan fisik dan mental yang cepat

dan penting dimana semua perkembangan itu menimbulkan

perlunya penyesuaian mental dan pembentukan sikap, nilai dan

minat baru.

b) Masa remaja sebagai periode peralihan

Peralihan tidak berarti terputus dengan atau berubah dari apa

yang telah terjadi sebelumnya. Tetapi peralihan merupakan

perpindahan dari satu tahap perkembangan ke tahap

perkembangan berikutnya, dengan demikian dapat diartikan

bahwa apa yang terjadi sebelumnya dapat meninggalkan bekas

pada apa yang terjadi sekarang dan yang akan datang, serta

mempengaruhi pola perilaku dan sikap yang baru pada tahap

berikutnya.

c) Masa remaja sebagai periode perubahan

Tingkat perubahan dalam sikap dan perilaku masa remaja sejajar

dengan tingkat perubahan fisik. Perubahan fisik yang terjadi


dengan dengan pesat diikuti dengan perubahan perilaku dan

sikap yang juga berlangsung pesat. Perubahan fisik menurun.

Maka perubahan sikap dan perilaku juga menurun.

d) Masa remaja sebagai usia bermasalah

Setiap periode mempunyai masalahnya sendiri-sendiri, namun

masalah masa remaja sering menjadi masalah yang sulit diatasi

baik oleh anak laki-laki maupun anak perempuan.

e) Masa remaja sebagai masa mencari identitas

Pencarian identitas dimulai pada akhir masa kanak-kanak,

penyesuaian diri dengan standar kelompok lebih sering penting

daripada bersikap individualistis.

f) Masa remaja sebagai usia yang menimbulkan ketakutan

Anggapan stereotype budaya bahwa remaja adalah anak-anak

yang tidak rapi, yang tidak dapat dipercaya dan cenderung

merusak dan berperilaku merusak, menyebabkan orang dewasa

yang harus membimbing dan harus mengawasi kehidupan

remaja muda takut bertanggung jawab dan bersikap tidak

simpatik terhadap perilaku remaja yang normal.

g) Masa remaja sebagi masa yang tidak realistik

Remaja pada masa ini melihat dirinya sendiri dan orang lain

sebagaimana yang ia inginkan dan bukan sebagaimana adanya,

terlebih dalam hal cita-cita. Semakin tidak realistik cita-citanya

ia semakin menjadi marah. Remaja akan sakit hati dan kecewa


apabila orang lain mengecewakannya atau kalau tidak berhasil

mencapai tujuan yang yang sitetapkannya sendiri.

h) Masa remaja sebagai masa dewasa

Semakin mendekatnya usia kematangan, para remaja menjadi

gelisah untuk meninggalkan stereotyp belasan tahun dan untuk

memberikan kesan bahwa merekan sudah hampir dewasa,

remaja mulai memusatkan diri pada perilaku yang dihubungkan

dengan status dewasa.

2) Tanda-tanda perubahan yang terjadi pada remaja wanita

a) Tanda-tanda perubahan primer wanita

Adanya perubahan kematangan organ-organ reproduksinya yang

ditandai dengan datangnya haid. Ovarium mulai berfungsi

dengan matang di bawah pengaruh hormone gonadotropin dan

hipofisis, folikel mulai tumbuh meski belum matang tetapi

sudah dapat mengeluarkan estrogen. Korteks kelenjar suprarenal

membentuk androgen yang berperan pada pertumbuhan badan.

Selain pengaruh hormon somatotropin diduga kecepatan

pertumbuhan wanita dipengaruhi juga oleh estrogen.

(1) Tanda-tanda perubahan sekunder wanita

(a) Rambut: tumbuhnya rambut pada kemaluan ini terjadi

setelah pinggul dan payudara mulai berkembang. Bulu

ketiak dan bulu pada wajah mulai tampak setelah datang


haid. Rambut yang mula-mula berwana terang berubah

menjadi lebih subur, gelap, kasar, dan keriting.

(b) Pinggul: berubah menjadi lebih membesar dan

membulat. Hal ini disebabkan karena membesarnya

tulang pinggul dan lemak di bawah kulit.

(c) Payudara: bersamaan dengan membesarnya pinggul

maka payudara juga membesar dan putting susu ikut

menonjol, semakin membesarnya kelenjar susu maka

payudara semakin membesar dan bulat.

(d) Kulit: menjadi semakin kasar, lebih tebal, dan pori-pori

lebih membesar, akan tetapi kulit wanita lebih lembut

daripada pria.

(e) Kelenjar lemak dan kelenjar keringat: menjadi lebih

aktif. Pada masa ini sering timbul masalah jerawat

karena adanya sumbatan kelenjar keringat dan baunya

menusuk pada saat sebelum dan sesudah haid.

(f)Otot: menjelang akhir masa puber, otot menjadi semakin

membesar dan kuat dan akan terbentuk bahu, lengan,

dan tungkai kaki.

(g) Suara: berubah menjadi merdu.2

c. Perubahan Psikologis pada Remaja

Perubahan yang berkaitan dengan kejiwaan pada remaja adalah


1) Perubahan emosi sensitive atau peka, misalnya mudah menangis,

cemas, frustasi, dan sebaliknya bisa tertawa tanpa alasan yang jelas.

Utamanya sering terjadi pada remaja putri. Mudah bereaksi bahkan

agresif terhadap gangguan atau rangsangan luar yang

mempengaruhinya, suka mencari perhatian dan bertindak tanpa

berfikir terlebih dahulu.

2) Perkembangan inteligensia

3) Cenderung mengembangkan cara berpikir abstrak, suka memberikan

kritik.

4) Cenderung ingin mengetahui hal-hal baru sehingga muncul perilaku

ingin mencoba-coba.

4. Kecemasan

a. Pengertian

Kecemasan merupakan perasaan keprihatinan, ketidakpastian dan

ketakutan tanpa stimulus yang jelas, dikaitkan dengan perubahan

fisiologis (takikardia, berkeringat, tremor, dan lain-lain) (Dorland.

Kamus Saku Kedokteran Dorland, ed. 25. Jakarta: EGC: 1998.

Kecemasan adalah keadaan tegang psikis yang merupakan suatu

dorongan seperti lapar dan seks, hanya saja pada kecemasan tidak timbul

dari dalam manusia, kondisi jaringan jasmani melainkan ditimbulkan

oleh sebab-sebab dari luar. Jika kecemasan-kecemasan tidak dapat

ditanggulangi secara efektif, maka dapat menimbulkan trauma, keadaan

jiwa traumatik ialah semacam guncangan jiwa, seolah-olah jiwa


mengalami luka. Traumatik menyebabkan sang pribadi dalam keadaan

tidak berdaya, serba infantil, serba kekanak-kanakan seperti anak kecil.25

Kelly (1955) dalam Fudyartanta (2012) mendefinisikan

kecemasan (anxiety) sebagai kesadaran bahwa kejadian yang dihadapkan

pada seseorang berada di luar jangkauan praktis dari sistem konstruk

orang tersebut. Manusia mungkin merasa cemas saat mereka mengalami

suatu kejadian yang baru.

b. Macam-Macam Kecemasan

Freud dalam Fudyartanta (2012) membagi kecemasan menjadi tiga

macam, yakni:

1) Kecemasan realistis

Kecemasan realistis adalah rasa takut kepada bahaya-bahaya nyata

dari dunia luar.

2) Kecemasan neuritik

Rasa takut jangan-jangan insting akan lepas kendali dan

menyebabkan sang pribadi berbuat sesuatu yang berakibat ia

dihukum. Kecemasan bukanlah ketakutan kepada insting-insting itu

sendiri, melainkan ketakutan terhadap hukuman yang mungkin

terjadi jika suatu insting dipuaskan.

3) Kecemasan moral, atau rasa bersalah


Pada kecemasan moral terjadi karena terjadi rasa takut pada suara

hati. Pada orang-orang yang Super Egonya berkembang baik, akan

cenderung merasa bersalah jika mereka melakukan atau bahkan

berpikir untuk melakukan sesuatu yang bertentangan dengan moral

dengan mana ia besarkan. Kecemasan moral juga mempunyai dasar

realitas. Misalnya di masa lampau sang pribadi pernah mendapat

hukuman karena melanggar norma social dan dapat dihukum lagi.

c. Klasifikasi Tingkat Kecemasan

Kecemasan sangat berkaitan dengan perasaan tidak pasti dan tidak

berdaya. Menurut Peplau (1952) dalam Suliswati (2014) ada empat

tingkatan yaitu :

1) Kecemasan Ringan

Dihubungkan dengan ketegangan yang dialami sehari-hari. Individu

masih waspada serta lapang persepsinya meluas, menajamkan

indera. Dapat memotivasi individu untuk belajar dan mampu

memecahkan masalah secara efektif dan menghasilkan pertumbuhan

dan kreatifitas.

2) Kecemasan Sedang

Individu terfokus hanya pada pikiran yang menjadi perhatiannya,

terjadi penyempitan lapangan persepsi, masih dapat melakukan

sesuatu dengan arahan orang lain.

3) Kecemasan Berat
Lapangan persepsi individu sangat sempit. Pusat perhatiannya pada

detil yang kecil dan spesifik dan tidak dapat berfikir hal-hal lain.

Seluruh perilaku dimaksudkan untuk mengurangi kecemasan dan

perlu banyak perintah/arahan untuk terfokus pada area lain.

4) Kecemasan Sangat Berat

Individu kehilangan kendali diri dan detil perhatian hilang. Karena

hilangnya kontrol, maka tidak mampu melakukan apapun meskipun

dengan perintah. Terjadi peningkatan aktivitas motorik,

berkurangnya kemampuan berhubungan dengan orang lain,

penyimpangan persepsi dan hilangnya pikiran rasional, tidak mampu

berfungsi secara efektif. Biasanya disertai dengan disorganisasi

kepribadian.

d. Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Kecemasan

Adler dan Rodman (dalam Ghufron & Rini, 2010), menyatakan terdapat

dua faktor yang menyebabkan adanya kecemasan, yaitu:

1) Pengalaman masa lalu

Pengalaman ini merupakan hal yang tidak menyenangkan pada masa

lalu mengenai peristiwa yang dapat terulang lagi pada masa

mendatang, apabila individu tersebut menghadapi situasi atau

kejadian yang sama dan juga tidak menyenagkan, hal tersebut

merupakan pengalaman umum yang menimbulkan kecemasan.

Gejala yang sering terjadi dan sangat mencolok pada peristiwa haid

pertama adalah kecemasan atau ketakutan, diperkuat oleh keinginan


untuk menolak proses fisiologis. Pada banyak peristiwa, menarche

itu dihayati oleh anak gadis sebagai satu pengalaman traumatis.

Menstruasi yang datangnya sangat awal, dalam artian anak gadis

tersebut masih sangat muda usianya, dan kurang mendisiplinkan diri

dalam hal kebersihan badan, menyebabkan menstruasi sebagai beban

baru. Gadis tersebut merasa dibatasi kebebasan dirinya oleh

datangnya haid, dan haid menjadi pengalaman baru yang kurang

menyenangkan (Kartini, 2006).

2) Pikiran tidak rasional

Para psikolog memperdebatkan bahwa kecemasan terjadi bukan

karena suatu kejadian, melainkan kepercayaan atau keyakinan

tentang kejadian itulah yang menjadi penyebab kecemasan.

Pengamatan secara psikoanalitis menunjukkan, bahwa ada reaksi-

reaksi psikis tertentu pada saat menarche lalu timbul proses yang

disebut “kompleks kastrasi” atau “trauma genetalia”. Pada beberapa

peristiwa kompleks kastrasi atau trauma genetalia muncul macam-

macam gambaran fantasi yang aneh-aneh dibarengi kecemasan dan

ketakutan-ketakutan yang tidak riil, disertai perasaan

bersalah/berdosa, yang semuanya dikaitkan dengan masalah

pendarahan pada organ kelamin dan proses haidnya (Kartini, 2006).

Deffenbacher & Hazaleus (dalam Ghufron & Rini, 2010)

mengemukakan bahwa sumber penyebab kecemasan, meliputi hal di

bawah ini:
a) Kekhawatiran (worry), merupakan pikiran negative tentang diri

sendiri, seperti perasaan negatif.

b) Emosionalitas (imosionality), sebagai reaksi diri terhadap

rangsangan saraf otonomi, seperti jantung berdebar-debar,

keringat dingin, dan tegang.

c) Gangguan dan hambatan dalam menyelesaikan tugas (task

generated interference), merupakan kecenderungan yang dialami

seseorang yang selalu tertekan karena pemikiran yang rasional

terhadap tugas.

Menurut Stuart (2013), faktor yang mempengaruhi kecemasan dibedakan

menjadi dua yaitu:

1) Faktor prediposisi yang menyangkut tentang teori kecemasan:

a) Teori Psikoanalitik

Teori Psikoanalitik menjelaskan tentang konflik emosional yang

terjadi antara dua elemen kepribadian diantaranya Id dan Ego. Id

mempunyai dorongan naluri dan impuls primitive seseorang,

sedangkan Ego mencerminkan hati nurani seseorang dan

dikendalikan oleh norma-norma budaya seseorang. Fungsi

kecemasan dalam ego adalah mengingatkan ego bahwa adanya

bahaya yang akan datang.

b) Teori Interpersonal

Kecemasan merupakan perwujudan penolakan dari individu yang

menimbulkan perasaan takut. Kecemasan juga berhubungan


dengan perkembangan trauma, seperti perpisahan dan kehilangan

yang menimbulkan kecemasan. Individu dengan harga diri yang

rendah akan mudah mengalami kecemasan.

c) Teori perilaku

Pada teori ini, kecemasan timbul karena adanya stimulus

lingkungan spesifik, pola berpikir yang salah, atau tidak produktif

dapat menyebabkan perilaku maladaptif. Penilaian yang

berlebihan terhadap adanya bahaya dalam situasi tertentu dan

menilai rendah kemampuan dirinya untuk mengatasi ancaman

merupakan penyebab kecemasan pada seseorang.

d) Teori biologis

Teori biologis menunjukan bahwa otak mengandung reseptor

khusus yang dapat meningkatkan neuroregulator inhibisi (GABA)

yang berperan penting dalam mekanisme biologis yang berkaitan

dengan kecemasan. Gangguan fisik dan penurunan kemampuan

individu untuk mengatasi stressor merupakan penyerta dari

kecemasan.

2) Faktor presipitasi

a) Faktor Eksternal

(1) Ancaman Integritas Fisik


Meliputi ketidakmampuan fisiologis terhadap kebutuhan

dasar sehari-hari yang bisa disebabkan karena sakit, trauma

fisik, kecelakaan.

(2) Ancaman Sistem Diri

Diantaranya ancaman terhadap identitas diri, harga diri,

kehilangan, dan perubahan status dan peran, tekanan

kelompok, sosial budaya.

b) Faktor Internal

(1) Usia

Gangguan kecemasan lebih mudah dialami oleh seseorang

yang mempunyai usia lebih muda dibandingkan individu

dengan usia yang lebih tua (Kaplan & Sadock, 2010).

(2) Stressor

Kaplan dan Sadock (2010) mendefinikan stressor merupakan

tuntutan adaptasi terhadap individu yang disebabkan oleh

perubahan keadaan dalam kehidupan. Sifat stresor dapat

berubah secara tiba-tiba dan dapat mempengaruhi seseorang

dalam menghadapi kecemasan, tergantung mekanisme

koping seseorang.

(3) Lingkungan
Individu yang berada di lingkungan asing lebih mudah

mengalami kecemasan dibanding bila dia berada di

lingkungan yang biasa dia tempati.

(4) Jenis kelamin

Wanita lebih sering mengalami kecemasan daripada pria.

Wanita memiliki tingkat kecemasan yang lebih tinggi

dibandingkan pria. Hal ini dikarenakan bahwa wanita lebih

peka dengan emosinya, yang pada akhirnya mempengaruhi

perasaan cemasnya (Kaplan & Sadock, 2010).

(5) Pendidikan

Dalam Kaplan dan Sadock (2010), kemampuan berpikir

individu dipengaruhi oleh tingkat pendidikan. Semakin tinggi

tingkat pendidikan maka individu semakin mudah berpikir

rasional dan menangkap informasi baru. Kemampuan analisis

akan mempermudah individu dalam menguraikan masalah

baru.

e. Indikator Kecemasan

Conley, 2006 (Widosari, 2010) berpendapat bahwa terdapat keluhan dan

gejala umum dalam kecemasan dibagi menjadi gejala somatik dan

psikologis yaitu:

1) Gejala somatik terdiri dari :

a) Keringat berlebih
b) Ketegangan pada otot skelet yaitu seperti : sakit kepala, kontraksi

pada bagian belakang leher atau dada, suara bergetar, nyeri

punggung.

c) Sindrom hiperventilasi yaitu seperti: sesak nafas, pusing,

parestesi.

d) Gangguan fungsi gastrointestinal yaitu seperti: tidak nafsu makan,

mual, diare, dan konstipasi.

e) Iritabilitas kardiovaskuler seperti : hipertensi

2) Gejala psikologis terdiri dari beberapa macam :

a) Gangguan mood seperti : sensitif, cepat marah, dan mudah sedih.

b) Kesulitan tidur seperti: insomnia, dam mimpi buruk

c) Kelelahan atau mudah capek.

d) Kehilangan motivasi dan minat.

e) Perasaan-perasaan yang tidak nyata.

f) Sangat sensitif terhadap suaraseperti: merasa tak tahan terhadap

suara-suara yang sebelumnya biasa saja.

g) Berpikiran kosong seperti : Tidak mampu berkonsentrasi, mudah

lupa.

h) Kikuk, canggung, koordinasi buruk.

i) Tidak bisamembuat keputusan seperti: tidak bisa menentukan

pilihan bahkan untuk hal-hal kecil.

j) Gelisah, resah, tidak bisa diam.

k) Kehilangan kepercayaan diri.


l) Kecenderungan untuk melakukan segala sesuatu berulang-ulang.

m)Keraguan dan ketakutan yang mengganggu.

n) Terus menerus memeriksa segala sesuatu yang telah dilakukan.

Berdasarkan paparan diatas dapat disimpulkan bahwa terdapat dua gejala

umum kecemasan, yaitu gejala somatik yaitu gejala fisik yang tampak

pada individu yang sedang mengalami kecemasan, dan gejala psikologis

yang dirasakan oleh individu yang mengalami kecemasan.

f. Alat Ukur Kecemasan

Tingkat kecemasan dapat diukur dengan pengukuran skor

kecemasan menurut alat ukur kecemasan yang disebut HARS (Hamilton

Anxiety Rating Scale). Skala HARS merupakan pengukuran kecemasan

yang didasarkan pada munculnya gejala pada individu yang mengalami

kecemasan. Menurut skala HARS terdapat 14 gejala yang nampak pada

individu yang mengalami kecemasan. Setiap item yang diobservasi diberi

5 tingkatan skor antara 0 (Nol Present) sampai dengan 4 (severe). Skala

HARS pertama kali digunakan pada tahun 1959, yang diperkenalkan oleh

Max Hamilton dan sekarang telah menjadi standar dalam pengukuran

kecemasan terutama pada penelitian clinical trial. Skala HARS telah

dibuktikan memiliki validitas dan reliabilitas cukup tinggi untuk

melakukan pengukuran kecemasan pada penelitian clinical trial yaitu 0,93

dan 0,97. Kondisi ini menunjukkan bahwa pengukuran kecemasan dengan

menggunakan skala HARS akan diperoleh hasil yang valid dan reliabel.
Skala HARS (Hamilton Anxiety Rating Scale) dalam penilaian

kecemasan terdiri dan 14 item, meliputi:

1. Perasaan cemas firasat buruk, takut akan pikiran sendiri, mudah

tersinggung.

2. Ketegangan merasa tegang, gelisah, gemetar, mudah terganggu dan

lesu.

3. Ketakutan: takut terhadap gelap, terhadap orang asing, bila tinggal

sendiri dan takut pada binatang besar.

4. Gangguan tidur: sukar memulai tidur, terbangun pada malam hari, tidur

tidak pulas dan mimpi buruk.

5. Gangguan kecerdasan: penurunan daya ingat, mudah lupa dan sulit

konsentrasi.

6. Perasaan depresi: hilangnya minat, berkurangnya kesenangan pada

hobi, sedih, perasaan tidak menyenangkan sepanjang hari.

7. Gejala somatik: nyeri pada otot-otot dan kaku, gertakan gigi, suara

tidak stabil dan kedutan otot.

8. Gejala sensorik: perasaan ditusuk-tusuk, penglihatan kabur, muka

merah dan pucat serta merasa lemah.

9. Gejala kardiovaskuler: takikardi, nyeri di dada, denyut nadi mengeras

dan detak jantung hilang sekejap.

10. Gejala pernapasan: rasa tertekan di dada, perasaan tercekik, sering

menarik napas panjang dan merasa napas pendek.


11. Gejala gastrointestinal: sulit menelan, obstipasi, berat badan menurun,

mual dan muntah, nyeri lambung sebelum dan sesudah makan, perasaan

panas di perut.

12. Gejala urogenital: sering kencing, tidak dapat menahan kencing,

amenorrhea, ereksi lemah atau impotensi.

13. Gejala vegetatif: mulut kering, mudah berkeringat, muka merah, bulu

kuduk berdiri, pusing atau sakit kepala.

14. Perilaku sewaktu wawancara: gelisah, jari-jari gemetar, mengkerutkan

dahi atau kening, muka tegang, tonus otot meningkat dan napas pendek

dan cepat.

Cara penilaian kecemasan adalah dengan memberikan nilai dengan

kategori:

0 = tidak ada gejala atau keluhan

1 = Gejala ringan

2 = Gejala sedang

3 = Gejala berat

4 = gejala sangat berat

Penentuan derajat kecemasan dengan cara menjumlah nilai skor

dan item 1-14 dengan hasil:

a) Skor kurang dari 14 = tidak ada kecemasan.

b) Skor 14 – 20 = kecemasan ringan.

c) Skor 21 – 27 = kecemasan sedang.

d) Skor 28-41 = kecemasan berat


e) Skor 42-56 = kecemasan sangat berat

B. Kerangka Teori

Faktor-faktor yang mempengaruhi


kecemasan:
1. Faktor prediposisi
a. Teori Psikoanalitik
b. Teori Interpersonal
c. Teori perilaku
d. Teori biologis
2. Faktor presipitasi
a. Faktor Eksternal
1) Ancaman Integritas Fisik
2) Ancaman Sistem Diri
b. Faktor Internal
1) Usia
2) Stressor
3) Lingkungan
4) Jenis kelamin
5) Pendidikan

Tingkat Kecemasan:
1. Ringan
Pendidikan kesehatan
2. Sedang
menggunakan booklet
3. Berat
menarche
4. Sangat Berat

Metode pendidikan kesehatan:


1. Individu
2. Wawancara
3. Kelompok
4. Massa (publik)
Keterangan :
: diteliti
: tidak diteliti

Gambar 2.1. Kerangka Teori


Sumber : Notoatmodjo (2012), Proverawati dan Misaroh (2009),
Suliswati, dkk (2014), Stuart (2013)

C. Kerangka Konsep
Tingkat Kecemasan
Pendidikan kesehatan
menggunakan booklet  Ringan
menarche  Sedang
 Berat
 Sangat berat

Gambar 2.2 Kerangka Konsep

D. Hipotesis
Ada pengaruh pendidikan kesehatan tentang menarche terhadap tingkat
kecemasan siswi.