Anda di halaman 1dari 18

Evaluasi Visi Jiwa Entrepreneurship dalam Pengembangan Kurikulum

Program Studi Ners den gan Model Systematic Action Research


Di STIKes Bhakti Mulia Pare - Kediri
Evaluation of The Vision Of The Soul of Entrepreneurship Within Ners Course Curriculum Development With The Model of
Systematic Action Research in STIKes Bhakti Mulia Pare – Kediri

Junianto Fitriyadi*, Titih Huriah

Program Studi Magister Keperawatan Program Pascasarjana


Universitas Muhammadiyah Yogyakarta
Master of Nursing Postgraduate Program Universitas Muhammadiyah Yogyakarta

*Mahasiswa Prodi Magister Keperawatan UMY


Jl. Ringroad Selatan, Ds. Taman Tirto, Kasihan Bantul DIY
Telp. 274-387656
* Master of Nursing Student in UMY
Jl. Ringroad Selatan, Ds. Taman Tirto, Kasihan Bantul DIY
Phone number. 274-387656

ABSTRAK

Latar Belakang : Entrepreneur merupakan seseorang yang menyukai perubahan dengan temuan-temuan
baru yang bermanfaat bagi dirinya dan orang lain, sehingga sifat tersebut menjadi pokok tambahan
pengembangan kurikulum sebagai penciri visi jiwa entrepreneurship. Tujuan penelitian mengetahui evaluasi
visi jiwa entreprenenurship dalam pengembangan kurikulum tahap sarjana keperawatan menggunakan model
systematic action research. Metode : Penelitian tindakan (action research) dengan pendekatan kolaboratif yang
dilaksanakan dalam 2 tahap adalah pra siklus dan siklus. Tahap siklus dilakukan sebanyak 3 siklus dengan
proses perencanaan, pelaksanaan, observasi, dan refleksi. Subyek penelitian berasal dari pihak internal dan
eksternal institusi dengan jumlah total 28 partisipan. Teknik pengumpulan data menggunakan metode focus
group discussion (FGD). Teknik analisa data menggunakan pemilihan kata kunci, penentuan kategori, sub
tema dan tema. Hasil : Evaluasi visi jiwa entrepreneur dengan profil lulusan berupa “entrepreneurial developers
nurse” yang memiliki 16 capaian pembelajaran, 27 bahan kajian, 3 mata kuliah, metode pembelajaran
dengan pendekatan TCL dan SCL, serta metode penilaian dengan tes tertulis, checklist dan penilaian buku
laporan. Kesimpulan : Penyusunan kurikulum dengan visi entrepreneurship dilakukan dengan memenuhi
dokumen kurikulum berupa profil lulusan, capaian pembelajaran, bahan kajian, mata kuliah, metode
pembelajaran dan penilaian.
Kata Kunci : Kurikulum, Jiwa, Entrepreneurship, Systematic Action Research

ABSTRACT

Background : Entrepreneurp is a person who liked the changes with new findings that will benefit himself and other
people, so that the nature of the subject curriculum development as an additional identifier vision of the soul of
entrepreneurship. Research objectives is to know how the vision of the soul of entreprenenurship in curriculum development in
nursing undergraduates using systematic action research model. Methods : Research action (action research) with the
collaborative approach that is carried out in 2 stages are pre cycles and cycles. The stage of the cycle performed as many as 3
cycles with the planning process, implementation, observation, and reflection. The subjects of the research comes from internal
and external parties to institutions with a total number of 28 participants. The method of data collection method used focus
group discussion. Data analysis techniques used keyword selection, the determination of categories, sub themes and theme.
Results : The implementation of the vision of the soul of the young entrepreneur with a profile of graduates in the form of
"entrepreneurial developers nurse" which has 16 objectives learning, 27 materials study, 3 courses, learning methods with the
approach of SCL and TCL, as well as assessment methods with a written test, checklist and assessment reports.
Conclusion : The preparation of the curriculum with the vision of entrepreneurship is done by fulfilling curricular
documents in the form of a profile of graduates, objectives learning, study materials, courses, learning methods and assessment.
Keywords : Curriculum, Entrepreneurship, Systematic Action Research

1
PENDAHLUAN cenderung berfokus terhadap pengembangan

Pendidikan Ners merupakan pendidikan kurikulum yang mengarah pada profil lulusan

akademik - profesional dengan proses setiap Program Studi Ners.

pembelajaran yang menekankan pada tumbuh Berdasarkan studi pendahuluan dari hasil

kembang kemampuan mahasiswa untuk menjadi wawancara terhadap unit pengelola di STIKes

seorang akademisi dan profesional dibidang Bhakti Mulia Pare – Kediri pada tanggal 10 Juni

keperawatan (AIPNI, 2015). Salah satu bidang 2015, didapatkan data bahwa STIKes Bhakti

profesi yang telah memiliki mutual recognition Mulia (BM) memiliki Program Studi Ners (PSN)

agreement (MRA) dari tahun 2010 hingga tahun ini dengan melaksanakan kurikulum berbasis

adalah nurses atau perawat (DIKTI, 2014). Hal kompetensi (KBK) mulai tahun akademik

tersebut ditunjang dengan data dari seluruh 2010/2011 sampai sekarang. STIKes BM

Kopertis di Indonesia tahun 2010 yang memiliki visi, yaitu menghasilkan lulusan sajana

dikoordinasikan dengan data AIPNI (Asosiasi keperawatan dan ners yang professional dan

Institusi Pendidikan Ners), yaitu institusi yang berjiwa enterpreneurship pada tahun 2020

memiliki pendidikan Ners sejumlah adalah 308 mendatang.

institusi, sehingga banyak institusi kesehatan Alasan STIKes Bhakti Mulia (BM)

yang memiliki program pendidikan ners bersaing memilih visi tersebut berdasarkan rapat

dalam meningkatkan kualitas lulusannya. koordinasi yang melibatkan seluruh unit

Persaingan antar institusi kesehatan pengelola pendidikan dan eksternal dengan

tersebut membuat akuntabilitas penyelenggara melibatkan para alumni dan stakeholders. Hasil

Program Studi Ners menurun (AIPNI, 2015). kesimpulan rapat tersebut bahwa lulusan

Hal tersebut dikarenakan ketidaksesuaian berorientasi hanya mendapat pekerjaan dan tidak

kompetensi perawat yang dikembangkan dengan mempunyai gambaran tentang langkah - langkah

visi dan misi institusi. Visi dan misi yang dipilih kedepan dalam mengembangkan karier perawat.

institusi harus populer di era globa saat ini, serta Menurut Kasali dalam Yosep (2010),

mampu menembus pasar kerja nasional dan mendefinisikan entrepreneur-ship sebagai

internasional. Institusi yang memiliki Program seseorang yang menyukai perubahan,

Studi Ners dalam mengaplikasikan visi dan misi, melakukan temuan-temuan yang

2
membedakan dirinya dengan orang lain, ekonomi perawat masih berada di bawah

menciptakan nilai tambahan, memberikan profesi kesehatan lainnya.

manfaat bagi dirinya dan orang lain, karyanya Menurut Sukmadinata (2013 ; 169-

dibangun berkelanjutan dan dilembagakan 170), menyatakan bahwa dalam

agar kelak dapat bekerja efektif ditangan mengembangkan kurikulum dengan

orang lain. Sedangkan nursepreneur merupakan menggunakan systematic action research terdapat

istilah yang mempopulerkan entreprenuership dua langkah. Langkah pertama, yaitu

yang dikaikan dengan perawat atau dunia mengadakan kajian secara seksama masalah-

karier dari peran dan fungsi perawat. masalah kurikulum berupa pengumpulan data

Pengembangan karier tersebut dapat menjadi yang bersifat menyeluruh, dan

pengelola klinik, penelitian-penelitian dan mengidentifikasi faktor-faktor, kekuatan dan

bahkan bisa menyediakan pelatihan sebagai kondisi yang mempengaruhi masalah

konsultan (Yosep. 2010). tersebut. Langkah kedua, yaitu implementasi

Luasnya dimensi pelayanan dari keputusan yang diambil dalam tindakan

keperawatan dalam ranah profesi kesehatan, pertama. Tindakan ini segera diikuti oleh

seharusnya dapat dijadikan sebagai peluang kegiatan pengumpulan data dan fakta-fakta

oleh para lulusan ners dalam membangun terkait pengembangan kurikulum.

budaya berwirausaha, baik itu berupa barang Cara menerapkan visi jiwa

maupun jasa (Winarto dalam Yosep, 2010). entreprenenurship ke dalam kurikulum Program

Meningkatnya minat lulusan ners untuk Studi Ners di STIKes BM menjadi suatu

berwirausaha diharapkan dapat menciptakan dilema yang harus dipecahkan oleh seluruh

persepsi baru bahwa profesi keperawatan unit pengelola program studi ners untuk

adalah profesi yang sangat menjanjikan yang membuat capaian pembelajaran yang

mampu memberikan pencitraan positif bagi berkualitas. Sehingga lulusan sarjana

profesi keperawatan. Peningkatan status keperawatan dan ners dapat memahami dan

ekonomi perawat yang pada saat ini mengaplikasikan jiwa entrepreneurship ke dalam

sepertinya masih belum membanggakan, atau keperawatan baik dari segi pendidikan,

dapat dikatakan bahwa rata-rata tingkat penelitian dan pelayanan atau pengabdian

3
kepada masyarakat. Begitu juga dengan Entrepreneur merupakan indi-vidu

keberadaan pengembangan sumber daya yang mempunyai tanggung jawab total dan

manusia, yaitu dosen pengajar yang belum berani berisiko untuk menemukan atau

memenuhi kualifikasi dibidang entrepreneurship menciptakan kesempatan unik untuk

keperawatan. menggunakan bakat pribadi, keterampilan

Berdasarkan permasalahan yang dan energi, guna membuat strategis

diuraian diatas ,maka dipandang perlu untuk perencanaan dalam memanfaatkan

melakukan penelitian tindakan tentang peluang usaha dengan pemasaran produk

“Evaluasi visi jiwa entreprenenurship dalam (ICN, 2004).

pengemba-ngan kurikulum Program Studi Entrepreneur adalah seseorang yang

Ners dengan pendekatan model systematic melakukan dan mengoperasikan kegiatan

action research di STIKes Bhakti Mulia Pare – perdagangan (enterprise) atau bisnis (venture)

Kediri tahun 2016”. yang dihubungkan dengan pengambilan

Tujuan penelitian ini untuk resiko. Seorang entrepreneur adalah

memperbaiki berbagai masalah yang pembuka cakrawala baru atau membentuk

timbul dalam evaluasi penyusunan pelayanan jasa atau produk dalam market

kurikulum terhadap penerapan visi jiwa baru (Suarli, dkk. 2014).

entrepreneurship. Adapun tujuan secara rinci Nursepreneur merupakan upaya

sebagai berikut : memperkenalkan entrepreneur dalam

a. Mengidentifikasi masalah kuri-kulum bidang keperawatan. Serta pengem-bangan

terhadap visi jiwa entrepreneurship. karier dari peran dan fungsi perawat

b. Membuat rencana tindakan (Yosep).

pengembangan kurikulum ter-hadap Adapun ciri-ciri nursepreneur, antara

visi jiwa entrepreneurship. lain : 1) pengerahan diri ; pendisiplinan diri

c. Melakukan evaluasi penyusunan dan secara menyeluruh merasa nyaman

kurikulum terhadap visi jiwa bekerja untuk diri sendiri. 2) Pengasuhan

entrepreneurship. diri ; antusiasme tak terbatas untuk ide-ide

seseorang dan tak seorang pun

4
memilikinya. 3) Orientasi pada tindakan ; manajemen waktu, hubungan masyarakat

hasrat yang menyala untuk dan kemampuan akuntansi, 4) Pengeta-

mewujudkannya, mengaktualisasikan dan huan luas dalam masalah-masalah hukum,

mengubah ide-ide seseorang menjadi asuransi, hibah, dan pajak.

nyata. 4) Energi tingkat tinggi ; mampu Menurut DIKTI (2014), tentang

bekerja dalam waktu lama secara Standar Nasional Pendidikan Tinggi

emosional. 5) Toleransi atas (SNPT) menyatakan bahwa dokumen

ketidaktentuan : secara psikologis mampu kurikulum minimal mencakup beberapa

menghadapi resiko (Yosep, 2010). komponen dibawah ini, antara lain :

Menurut International Council of Nurse 1) Profil : postur yang diharapkan pada

(ICN) tahun 2004 tentang karakteristik saat pembelajar lulus atau menyele-

umum yang harus dimiliki perawat saikan seluruh proses pembelajaran

pengusaha dapat dilihat dari kualitas dengan kesesuaian jenjang KKNI.

pribadi dan kualifikasi profesional. 2) Capaian Pembelajaran (CP) : dapat

Kualitas pribadi perawat pengusaha menyesuaiakan dengan deskriptor

berupa ; 1) mempunyai kepercayaan dan KKNI atau unsur CP pada SN-DIKTI.

citra diri yang kuat, 2) Berani mengambil 3) Bahan Kajian : sebagai komponen/

resiko dengn menunjukkan krea-tifitas, 3) materi yang harus dipelajari/ diajarkan

Mempunyai visi, disiplin dan berorientasi untuk mencapai CP yang direncanakan.

pada tujuan, 4) Mampu menghadapi 4) Mata kuliah : merupakan wadah sebagai

kegagalan, ambiguitas dan ketidakpastian, konsekwensi adanya bahan kajian yang

5) Menampilkan integritas, keandalan, dipelajari mahasiswa dan harus

kesabaran dan semangat usaha. Sedangkan diajarkan oleh dosen.

dilihat dari kualifikasi profesional perawat 5) Metoda Pembelajaran : merupakan

pengusaha dapat berupa ; 1) Pengalaman strategi efektif dan efesien dalam

kerja di keperawatan (3-15tahun), 2) menyampaikan atau mengakuisisi

Pendidikan pasca sarjana, 3) Kompeten bahan kajian selama proses

dalam komunikasi, negosiasi, pemasaran, pembelajaran.

5
Metode Penelitian 1) Melakukan analisis lebih awal, bila data yang

Desain pada penelitian ini meng-gunakan didapatkan dalam proses penyusunan

penelitian tindakan (action research) yang kurikulum berbasis entrepreneurship sudah

merupakan pendekatan kolabolatif untuk cukup, maka dapat dikumpulkan.

menyelidiki, menelaah atau mengkaji dan 2) Mengembangkan dalam bentuk sajian data

menemukan sesuatu, yang memungkinkan orang dengan menyusun koding dan matrik yang

menggunakan tindakan yang sistematis untuk berguna untuk penelitian selanjutnya.

menye-lesaikan suatu permasalahan. Lokasi 3) Melakukan analisis data pada saat penyusunan

penelitian merupakan tempat dimana peneliti kurikulum berbasis entrepreneurship dan

melakukan penelitian. Adapun lokasi penelitian mengembangkan matrik antar unsur.

ini dilaksanakan di STIKes Bhakti Mulia Jln. 4) Melakukan verifikasi, pengayaan dan

Matahari No. 1 Tulungredjo Pare-Kediri. Pada penolakan data, apabila dalam persiapan

penelitian ini berfokus pada Program Studi Ners analisis ternyata ditemukan data yang kurang

tahap sarjana keperawatan, karena keterbatasan lengkap atau kurang jelas, maka perlu

waktu penelitian dan lebih berfokus pada tahap dilakuan pengumpulan data lagi secara

akademik. terfokus.

Penelitian ini mempunyai subyek penelitian 5) Melakukan analisis antar kasus dengan

(partisipan) yang digunakan dapat dilihat pengembangan struktur sajian datanya untuk

diberbagai aspek internal dan eksternal, sesuai penyusuna laporan.

dengan kebutuhan proses pengembangan

kurikulum sebanyak 28 partisipan. Peneliti Hasil Penelitian

memilih teknik pengumpulan data pada 1. Identifikasi Masalah Kurikulum

penelitian ini menggunakan focus group discussion Terhadap Visi Jiwa Entrepreneurship

(FGD). Identifikasi masalah penerapan visi jiwa

Langkah – langkah analisis data pada entrepreneurship pada kurikulum berbasis

penelitian tindakan berdasarkan gambar 3.2 kompetensi tahun akademik tahun akademik

diatas, antara lain : 2013 sampai dengan 2015 dilakukan pada tanggal

2 Mei 2016.

6
Berdasarkan hasil diskusi dari partisipan pendidikan tinggi, mencari sumber informasi

peneliti menarik kesimpulan tentang masalah penyusunan kurikulum (referensi dan sumber

yang muncul pada saat penerapan visi kedalam daya manusia), 3) Pelatihan tentang kurikulum,

kurikulum, maka akan dibentuk tema yang 4) Rapat koordinasi tentang entrepreneur dan

ditemukan adalah masalah penyusunan kurikulum.

kurikulum terhadap visi jiwa entrepreneurship, yaitu 3. Profil Lulusan

kurangnya pemahaman tentang standar nasional Kesepakan siklus II memilih profil lulusan

pendidikan tinggi (SNPT), evaluasi kurikulum, mengganti profil dengan sebutan “entrepreneurial

konsep entrepreneur-ship dan langkah penyusunan developers nurse”, yaitu sarjana keperawatan yang

kurikulum. mengembangkan ilmu pengetahunnya untuk

2. Rencana Tindakan Penyusunan berwirausaha secara mandiri di layanan rumah

Kurikulum Terhadap Penerapan Visi Jiwa sakit maupun kesehatan masyarakat.

Entrepreneurship 4. Capaian Pembelajaran

Penentuan rencana tindakan penyu-sunan Tema pertama tentang capaian

kurikulum terhadap penerapan visi jiwa pembelajaran dari aspek sikap yang terdiri dari ;

entrepreneurship berdasarkan masalah yang muncul 1) Memiliki etik dan legalitas dalam

pada saat identifikasi masalah dilakukan pada berwirausaha, 2) Memiliki integritas dan disiplin

tanggal 7 Mei 2016. Berikut ini pernyataan dalam berwirausaha, 3) Memiliki inovasi dan

partisipan dari pihak internal tentang rencana sikap proaktif dalam berwirausaha, 4) Memiliki

tindakan untuk mengatasi masalah dalam motivasi dalam berwirausaha. Tema kedua

penyusunan kurikulum. tentang capaian pembelajaran dari aspek

Berdasarkan hasil diskusi partisipan pengetahuan yang terdiri dari ; 1) Menguasai

tentang rencana tindakan penyusunan dalam konsep entrepreneur, 2) Menguasai konsep ijin

penerapan visi jiwa entrepre-neurship, maka akan pendirian usaha, 3) Menguasai konsep

dibentuk tema yang ditemukan adalah rencana pemasaran, 4) Menguasai konsep UMKM, 5)

tindakan penyusunan kurikulum dalam Menguasai konsep manajemen wirausaha, 6)

penerapan visi jiwa entrepreneurship, yaitu Menguasai konsep iklim usaha, 7) Menguasai

berupa sosialisasi tentang standar nasional konsep peluang usaha.

7
Tema ketiga tentang capaian pembelajaran usaha baru, 3) Membuat rencana pengembangan

dari aspek keterampilan umum yang terdiri dari ; usaha di bidang keperawatan/ kesehatan.

1) Menerapkan sistem informasi teknologi dan 5. Bahan Kajian

komunikasi dalam berwirausaha, 2) Menerapkan Berdasarkan hasil kesepakatan terhadap

produktifitas kerja dalam berwirausaha. Tema refleksi siklus I, II dan III, maka dapat di

keempat tentang Capaian pembelajaran dari tentukan bahan kajian sebagai berikut. Bahan

aspek keterampilan khusus, anatara lain ; 1) kajian tersebut sebanyak 27 bahan kajian sebagai

Menyusun program usaha, 2) Membuat analisa penciri dari visi jiwa entrepreneurship pada

program studi ners tahap sarjana keperawatan.

Tabel 4.3 Revisi Bahan Kajian Terhadap Penerapan Visi Jiwa Entrepreneurship Pada Siklus I

Kode Bahan Kajian Kedalaman


BK 1 Konsep legal etik wirausaha 2
BK 2 Konsep integritas dan disiplin usaha 3
BK 3 Aspek inovasi dan proaktif usaha 4
BK 4 Peran motivasi dan keputusan usaha 2
BK 5 Modal investasi usaha 3
BK 6 Konsep UMKM 3
BK 7 Prinsip keberanian mencoba dan gagal 4
BK 8 Konsep entrepreneurship 2
BK 9 Konsen ijin pendirian usaha 2
BK 10 Proses pengurusan ijin usaha 4
BK 11 Konsep marketing usaha 3
BK 12 Sistem marketing usaha 3
BK 13 Konsep manajemen usaha 3
BK 14 Strategi peningkatan iklim usaha 3
BK 15 Konsep peluang usaha perawat 2
BK 16 Sistem teknologi & komunikasi 3
BK 17 Pengembangan kualitas kerja 4
BK 18 Penyusunan program kerja usaha 5
BK 19 Analisis kebutuhan suatu usaha 5
BK 20 Rencana pengembangan usaha 4
BK 21 Prinsip membangun jejaring kerja 2
BK 22 Pengembangan aset jejaring kerja 2
BK 23 Sikap kreatif membuat produk dan jasa 2
BK 24 Impian wirausaha yang smart 2
BK 25 Aplikasi dan evaluasi usaha dengan kepuasan konsumen 6
BK 26 Manajemen keuangan 2
BK 27 Manajemen pengendalian usaha 2
Total Kedalaman 82

8
6. Mata Kuliah peluang usaha perawat, 11) Sistem teknologi

Berdasarkan hasil kesepakatan terhadap informasi dan komunikasi wirausaha.

refleksi siklus I, II dan III, maka dapat di Tema ketiga dengan mata kuliah Nursing

tentukan bahan kajian sebagai berikut. entrepreneur dengan jumlah 1 sks yang

Berdasarkan bagan 4.6 diatas, peneliti mempunyai 3 bahan kajian, antara lain ; 1)

menarik kesimpulan tentang mata kuliah siklus I, Penyusunan program kerja usaha perawat, 2)

maka akan dibentuk tema sebagai berikut. Tema Analisis kebutuhan suatu usaha, dan 3) Rencana

pertama dengan mata kuliah manajemen tindakan pengembangan usaha di bidang

entrepreneur dengan jumlah 2 sks yang keperawatan atau kesehatan.

mempuinya 6 bahan kajian, antara lain ; 1) Aspek 7. Metode Pembelajaran dan Penilaian

inovasi dan proaktif dalam wirausaha, 2) Prinsip Tema pertama tentang metode

keberanian mencoba dan gagal dalam wirausaha, pembelajaran yang diguanakan dalam penerapan

3) Konsep manajemen dalam wirausaha, 4) visi jiwa entrepreneurship dapat menggunakan

Konsep marketing dalam wirausaha, 5) Sistem metode teacher center learning (TCL) seperti

marketing dalam wirausaha, 6) Pengembangan mini lecture dan dapat menggunakan metode

kualitas kerja dalam wirausaha. student center learning (SCL) berupa

Tema kedua dengan mata kuliah dasar cooperative learning, problem based learning

entrepreneur kesehatan dengan jumlah 4 sks dan simulation.

yang mempunyai 13 bahan kajian, antara lain ; 1) Tema kedua tentang metode

Konsep entrepreneurship, 2) Konsep legal etik pembelajaran yang digunakan dalam penerapan

wirausaha, 3) Aspek inovasi dan proaktif dalam visi jiwa entrepreneurship dapat menggunakan

wirausaha, 4) Peran motivasi dan keputusan test terlulis (multiple choice question atau essay

dalam berwirusaha, 5) Modal investasi usaha question), lembar observasi (checklist makalah,

dengan ide dan gagasan baru, 6) Konsep usaha presentasi dan kerjasama team).

mikro, kecil dan menengah, 7) Konsen ijin

pendirian usaha, 8) Proses pengurusan ijin usaha,

9) Strategi peningkatan iklim usaha, 10) Konsep

9
PEMBAHASAN 2. Rencana Tindakan Penyusunan

1. Idnetifikasi Masalah Penerapan Visi Jiwa Kurikulum Terhadap Penerapan Visi Jiwa

Entrepreneurship Dalam Kurikulum Entrepreneurship

Tahap Sarjana Keperawatan Berdasarkan pernyataan partisipan pada

Hasil identifikasi masalah pada penelitian saat diskusi tahap I pra siklus tentang rencana

pra siklus diatas, menunjukkan bahwa pada saat tindakan dalam penyusunan kurikulum terhadap

penyusunan kurikulum sebelumnya, unit penerapan visi jiwa entrepreneurship, maka tema

pengelola program studi belum melakukan rencana tindakan penyusunan kurikulum dalam

peninjauan ulang terhadap SNPT, sehingga penerapan visi jiwa entrepreneurship, yaitu ; 1)

belum ada evaluasi kurikulum pada program Melakukan sosialisasi terkait standar nasional

studi tersebut. Langkah-langkah penyusunan pendidikan tinggi, 2) Menentukan sumber

kurikulum pada Program Studi Ners tahap informasi penyusunan kurikulum, baik dari segi

sarjana keperawatan belum mempunyai langkah referensi dan sumber daya manusia, 3)

yang sesuai standar, sehingga tidak terdapat Melakukan pelatihan tentang kurikulum, 4)

capaian pembelajaran dan bahan kajian tentang Melakukan rapat koordinasi untuk menyamakan

penerapan visi jiwa entrepreneurship. persepsi tentang entrepreneur dan kurikulum.

Hal diatas dapat disebabkan karena 3. Profil Lulusan Tahap Sarjana

kurangnya pemahaman unit pengelola program Keperawatan

studi terhadap konsep pengembangan Hasil diskusi partisipan tentang profil

entrepreneurship, sehingga unit pengelola program lulusan sarjana keperawatan yang dilakukan

studi hanya menambahkan mata kuliah selama tiga siklus mempunyai perbedaan

entrepreneur yang disebarkan ke beberapa pendapat dan keputusan di setiap siklusnya.

semester. Pentingya pemahaman tentang konsep Profil lulusan pada siklus I memiliki pendapat

entrepreneurship tersebut, dapat menambah yang berbeda tentang profil tersebut, baik yang

wawasan yang luas terkait penerapan entrepreneur digabung dengan profil lulusan yang ditentukan

dalam kurikulum program studi, sehingga oleh AIPNI maupun secara terpisah atau

dokumen kurikulum dapat menunjukkan poin ditambah dengan profil penciri visi jiwa

penting yang mengarah ke entrepreneur. entrepreneurship.

10
Hasil diskusi tentang profil lulusan pada manajemen wirausaha, iklim dan peluang usaha.

siklus II mempunyai pendapat yang sama untuk Kemudian pada aspek keterampilan dibagi

dipisah atau ditambah diluar profil dari AIPNI, menjadi 2, yaitu kerampilan umum berupa

namun nama dan deskripsinya mengalami sistem informasi teknologi dan komunikasi, serta

perubahan. Profil lulusan tersebut, yaitu produktifitas kerja dalam berwirausaha,

“Entrepreneurial developers nurse” dengan sedangkan keterampilan khusus berupa

deskripsi berupa seorang sarjana keperawatan menyusun dan membuat program, analisa dan

yang mengembangkan ilmu pengetahunnya rencana pengembangan usaha di bidang

untuk berwirausaha secara mandiri di layanan keperawatan.

rumah sakit maupun kesehatan masyarakat. Capaian pembelajaran pada siklus II

Sedangkan pada siklus III tidak mengalami mengalami perubahan dan tambahan yang

perubahan. Penentuan profil lulusan tersebut meliputi sikap kreatif dan inovatif, serta sikap

diharapkan dapat mengembangkan potensi terbuka membangun jejaring kerja, aspek

dalam diri perawat untuk kreatif dan berinovasi pengetahuan mengalami perubahan pada konsep

dalam menghadapi persaingan pasar bebas, yaitu entrepreneur menjadi karakter wirausaha,

masyarakat ekonomi ASEAN (MEA). sedangkan aspek keterampilan khusus

4. Capaian Pembelajaran Tahap Sarjana ditambahkan capaian pembelajaran berupa

Keperawatan pelaksanaan dan evaluasi keberhasilan produk

Hasil diskusi partisipan tentang capaian dan jasa dengan kepuasan konsumen. Namun,

pembelajaran sarjana keperawatan dalam pada siklus III tidak terdapat perubahan dan

penerapan visi jiwa entrepreneurship mempunyai menyetujui capaian pembelajaran siklus II

pendekatan pada aspek sikap, pengetahuan dan sebagai ketetapan 16 capaian pembelajaran

keterampilan. Pada siklus I mempunyai capaian terhadap penerapan visi jiwa entrepreneurship.

pembelajaran pada aspek sikap tentang legal etik, Capain pembelajaran ini mempunyai

kedisiplinan, inovasi dan proaktif, serta motivasi standar minimal yang telah ditentukan DIKTI,

dalam berwirausaha. Sedangkan pada aspek yaitu akan standar dari aspek kognitif, afektif dan

kognitif tentang konsep entrepreneur, ijin psikomotor (DIKTI, 2014). Penggunaan kata

pendirian usaha, pemasaran, UMKM, terhadap masing-masing capaian pembelajaran

11
sangat banyak, sehingga perlu adanya integritas dan disiplin dalam wirausaha, BK 3

penyesuaian keterkaitan antar capaian Aspek inovasi dan proaktif dalam wirausaha, BK

pembelajaran yang telah ditentukan atau 4 Peran motivasi dan keputusan dalam

menggabung beberapa capaian diberbagai aspek berwirusaha, BK 5 Modal investasi usaha

tersebut. dengan ide dan gagasan baru, BK 6 Konsep

5. Bahan Kajian Tahap Sarjana usaha mikro, kecil dan menengah, BK 7 Prinsip

Keperawatan keberanian mencoba dan gagal dalam wirausaha,

Hasil diskusi partisipan tenang bahan BK 8 Konsep entrepreneurship, BK 9 Konsen

kajian mempunyai langkah yang sesuai dengan ijin pendirian usaha, BK 10 Proses pengurusan

standar penyusunan bahan kajian. Langkah ijin usaha, BK 11 Konsep marketing dalam

penyusunan kurikulum saat penelitian dengan wirausaha, BK 12 Sistem marketing dalam

mengembangkan bahan kajian disetiap capaian wirausaha, BK 13 Konsep manajemen dalam

pembelajaran, kemudian partisipan melakukan wirausaha, BK 14 Strategi peningkatan iklim

peninjauan tentang tingkat kedalaman maupuan usaha, BK 15 Konsep peluang usaha perawat,

keluasan dari bahan kajian tersebut dengan total BK 16 Sistem teknologi informasi dan

sebanyak 27 bahan kajian. komunikasi wirausaha, BK 17 Pengembangan

Hasil pada siklus I terdapat total kualitas kerja dalam wirausaha, BK 18

kedalaman sebanyak 64, kemudian pada siklus II Penyusunan program kerja usaha perawat, BK

total kedalaman sebanyak 78, sedangkan yang 19 Analisis kebutuhan suatu usaha, BK 20

terakhir pada siklus III total kedalaman sebanyak Rencana tindakan pengembangan usaha, BK 21

82. Hal tersebut menunjukkan bahwa setiap Prinsip membangun jejaring kerja, BK 22

tahap siklus, seluruh partisipan sangat antusias Pengembangan aset jejaring kerja, BK 23 Sikap

dalam mengembangkan bahan kajian untuk kreatif membuat produk dan jasa, BK 24 Impian

memenuhi kebutuhan kompetensi tentang visi wirausaha yang smart, BK 25 Aplikasi dan

jiwa entrepreneurship. evaluasi produk usaha dengan kepuasan

Pengembahan bahan kajian yang telah konsumen, BK 26 tentang manajemen

disepakati bersama selama tahap siklus, yaitu ; keuangan, dan BK 27 tentang manajemen

BK 1 Konsep legal etik wirausaha, BK 2 Konsep pengendalian usaha.

12
6. Mata Kuliah Tahap Sarjana Keperawatan mendapatkan penambahan tingkat kedalaman

Hasil diskusi yang dilakukan partisipan bahan kajian.

dalam menentukan mata kuliah pendukung dari 7. Metode Pembelajaran dan Penilaian

penerapan visi jiwa entrepreneurship melihat Tahap Sarjana Keperawatan

dari satu bidang keilmuan saja. Hal tersebut Hasil diskusi partisipan tentang metode

dapat dibuktikan dengan adanya penambahan pembelajaran dan penilaian terhadap mata kuliah

mata kuliah sebagai penciri visi jiwa penciri visi jiwa entrepreneurship mempunyai

entrepreneurship dengan 3 mata kuliah yang proses yang disusun berdasarkan kebutuhan

digolongkan menurut isi dari bahan kajian yang kompetensi dari setiap bahan kajian yang dilihat

telah disepakati. Adapun mata kuliah tersebut, dari aspek kognitif, afektif maupun psikomotor.

antara lain ; 1) MK 1 Manajemen entrepreneur, Proses penentuan metode pembelajaran dan

2) Dasar entrepreneur kesehatan, dan 3) Nursing penilaian setiap tahap siklus hanya

entrepreneurship. menambahkan dan tahap terakhir tidak

Pada saat diskusi mata kuliah setiap mempunyai penambahan masukan terkait

siklus, nama mata kuliah yang telah ditentukan pengembangan metode pembelajaran dan

tersebut tidak mengalami perubahan, melainkan penilaian.

yang mengalami perubahan adalah jumlah SKS Metode pembelajaran yang digunakan

yang ditentukan setiap mata kuliah tersebut, pada mata kuliah penciri visi jiwa

seiring dengan pengembangan bahan kajian yang entrepreneurship tersebut dapat menggunakan

dirasakan sangat penting sebagai penunjang dua pendekatan, yaitu ; pendekatan teacher

ketercapaian kompetensi jiwa entrepreneurship. center learning (TCL) dan student center

Hal tersebut dibuktikan dengan pada mata kulia learning (SCL). Pada pendekatan TCL dengan

1 manajemen entrepreneur, saat siklus I dan II metode mini lecture dianggap dapat memberikan

mempunyai jumlah 2 SKS, kemudian saat siklus proses pembelajaran tentang penjelasan konsep

III mengalami perubahan sebanyak 3 SKS. dasar entrepreneur, karena tidak semua

Sedangkan pada mata kuliah dasar entrepreneur mahasiswa mengerti dan tahu akan kata

kesehatan dan nursing entrepreneurship tidak entrepreneur, meskipun nama lainnya adalah

mengalami perubahan jumlah SKS, meskipun wirausaha. Sedangkan pendekatan SCL

13
digunakan sebagai metode pengembangan 8. Perbedaan Kurikulum Terdahulu Dengan

proses pembelajaran yang mampu memandirikan Rencana Kurikulum Program Studi Ners

mahasiswa dalam beraktualisasi diri untuk Tahap Sarjana Keperawatan Tahun 2016

menemukan jati diri perawat yang mampu Kruikulum yang terapkan Program Studi

menjadi seorang pengusaha, seperti Ners di STIKes Bhakti Mulia Kediri pada tahun

mengambangkan kreasi dan inovasi mahasiswa akademik 2013/14 terhadap visi jiwa

dalam menemukan ide dan gagasan baru dalam entrepreneurship mempunyai perbedaan yang

mendirikan suatu usaha secara mandiri. signifikan disbanding dengan rencana kurikulum

Metode penilian yang digunakan pada yang telah disusun saat penelitian ini, baik dari

mata kuliah penciri visi jiwa entrepreneurship segi proses penyusunannya maupun isi dari

tersebut mempunyai kesamaan terhadap metode kurikulum tersebut. Proses penyusunan

penilaian sebelumnya, yaitu dengan tes tertulis kurikulum tahun-tahun sebelumnya belum

seperti (multiple choice atau essay question) dan berdasarkan standar nasional pendidikan tinggi,

menggunakan penilaian observasi berupa lembar hanya mengadop langsung pada Asosiasi

checklist tentang makalah, presentasi dan kerja Institusi Pendidikan Ners Indonesia (AIPNI).

kelompok. Kedua metode penilaian tersebut Hal tersbut yang membuat isi dokumen

berada pada siklus I. Pada siklus III kurikulum yang tidak lengkap. Dokumen

mendapatkan metode penilaian tambahan kurikulum pada tahun sebelumnya tidak

berupa penilaian laporan yang disusun seperti memiliki blue print (kisi-kisi) penyusunan

buku kegiatan harian, buku terbut bernama kurikulum. Penerapan visi jiwa entrepreneurship

“buku impian perawat pengusaha”. Buku hanya langsung mengarah ke pembentukan mata

tersebut untuk menuangkan segala ide dan kuliah yang di beri nama “nursing

gagasan mahasiswa untuk menemukan karya entrepreneurship (NE)” yang dibagi menjadi 3

baru dalam menciptakan peluang usaha, tahapan mata kuliah dengan jumlah SKS yang

sehingga buku tersebut dilihat dari keaktifan berbeda. Pada NE I mempunyai jumlah SKS

mahasiswa dalam menulis dan yang mempunyai sebanyak 4, NE II mempunyai jumlah SKS

ide – ide cemerlang dalam menciptakan suatu sebanyak 2, dan NE III mempunyai jumlah SKS

usaha baru dibidang keperawatan. sebanyak 2. Sehingga kurikulum sebelumnya

14
tidak mempunyai profil dan kompetensi yang Profil lulusan sebelumnya tidak memiliki kaitan

mengarah ke visi jiwa entrepreneurship. dengan visi entrepreneurship, sedangkan saat

Pada saat penelitian berlangsung, rencana penelitian profil lulusan mempunyai profil

kurikulum Program Studi Ners tahap sarjana tersendiri sebagai penciri visi entrepreneurship.

keperawatan mengalami banyak perubahan, Capaian pembelajaran sebelumnya hanya

terutama dalam proses penyusunan kurikulum. berlandaskan pada unit kompetensi dari

Seluruh unit pengelola institusi berupaya untuk kurikulum AIPNI tahun 2010, sedangkan saat

menyusun lengkap berdasarkan SNPT, namun penelitian capaian pembelajaran mempunyai

pemenuhan isi dokumen kurikulum hanya indikator dari aspek sikap, pengetahuan dan

melanjutkan ketetapan kurikulum yang keterampilan yang didapatkan sebanyak 16

disosialisakan oleh AIPNI tahun 2015, yaitu 118 capaian pembelajaran. Bahan kajian sebelumnya

SKS dari jumlah minimal SKS standar sarjana masih mengarah dari kurikulum AIPNI, karena

sebanyak 144 SKS. Kruikulum yang disusun saat pembahasan bahan kajian pada saat itu

penelitian hanya memenuhi kekurang kebutuhan dikembangkan berdasarkan kebutuhan mata

SKS yang sesuai dari standar SKS sarjana, yaitu ; kuliah entrepreneur secara umum yang belum

26 SKS. Jumlah kekurangan SKS tersebut dibagi dikaitkan dengan konsep entrepreneur di bidang

berdasarkan kebutuhan home based tenaga keperawatan atau kesehatan. Saat penelitian

pengajar dan penciri visi jiwa entrepreneurship bahan kajian dikembangkan sebanyak 27 yang

dengan pembangian kurikulum inti sebanyak 7 disesuaikan dengan capaian pembelajaran dan

SKS (30%), kurikulum pendukung sebanyak 6 nomenklatur pendidikan tinggi.

SKS (20%), kurikulum penciri sebanyak 7 SKS, Mata kuliah sebelumnya mempunyai 3

dan kurikulum lain-lain sebanyak 6 SKS (20%). mata kuliah nursing entrepreneurship yang

Dokumen kurikulum sebelum dan dibagi 3 tahap, namun isi dari mata kuliah

sesudah penelitian sangat berbeda, baik secara tersebut masih bersifat umum, meskipun nama

konteks penyusunan maupun isi dari kurikulum mata kuliahnya adalah nursing entrepreneurship.

tersebut. Perbedaan tersebut mulai dari profil Saat penelitian mata kuliah penciri visi jiwa

lulusan, capaian pembelajaran, bahan kajian, entrepreneurship mempunyai 3 mata kuliah,

mata kuliah, metode pembelajaran dan penilaian. yaitu ; manajemen entrepreneur, dasar

15
entrepreneur kesehatan dan nursing a. Profil lulusan penciri visi dibuat terpisah

entrepreneur. Ketiga mata kuliah tersebut dengan profil dari AIPNI

mempunyai jumlah SKS yang berbeda-beda yang b. Capaian pembelajaran penciri visi

disesuaikan dengan kebutuhan setiap mata mempunyai aspek sikap, pengetahuan,

kuliah. keterampilan umum dan khusus.

Metode pembelajaran dan penilaian c. Bahan kajian penciri visi mempunyai 27

sebelumnya masih banyak menggunakan TCL topik bahan kajian dengan total tingkat

dan ujian tes tertulis. Saat penelitian metode kedalaman sebanyak 82.

pembelajaran sudah menggunakan kombinasi d. Mata kuliah penciri visi mempunyai 3

TCL dan SCL, serta evaluasi pembelajaran mata kuliah, antara lain ; 1) Menejemen

menggunakan tes tertulis dan lembar obsersai entrepreneur sebanyak 3 SKS, 2) Dasar

(checklist). entrepreneur kesehatan sebanyak 3 SKS,

3) Nursing entrepreneurship sebanyak 2 SKS.

KESIMPULAN e. Metode pembelajaran penciri visi

1. Masalah penyusunan kurikulum terhadap visi menggunakan metode teacher center

jiwa entrepreneurship, yaitu kurangnya learning (TCL) dan student center

pemahaman tentang standar nasional learning (SCL).

pendidikan tinggi (SNPT), evaluasi f. Metode penilaian penciri visi

kurikulum, konsep entrepreneurship dan menggunakan ujian secara tertulis

langkah-langkah penyusunan kurikulum. (MCQ/EQ), lembar observasi presentasi

2. Rencana tindakan penyusunan kurikulum, dan kerjasama team, serta penilaian buku

yaitu ; sosialisasi tentang standar nasional laporan.

pendidikan tinggi, mencari sumber informasi

penyusunan kurikulum, pelatihan tentang SARAN

kurikulum, rapat koordinasi tentang 1. Upaya mengatasi masalah yang dialami saat

entrepreneur dan kurikulum. penyusunan kurikulum terdahulu, sebaiknya

3. Hasil penyusunan kurikulum terhadap unit pengelola institusi lebih memperhatikan

penerapan visi entrepreneurship yang terdiri : peran dan tanggung jawab sebagai pemegang

16
jabatan akademik maupun non akademik, AIPNI. 2015. Kurikulum Inti Pendidikan Ners
Indonesia. Jakarta ; Asosiasi Institusi
sehingga mampu mengevaluasi Pendidikan Ners Indonesia (AIPNI).
perkembangan atau pengendalian kurikulum Alberta. 2012. Curriculum Development Processes ;
Chapter 1. Canada : Alberta Education
sesuai standar nasional pendidikan tinggi
Arikunto, Suhartsimi. 2012. Dasar – dasar
(SNPT).
Evaluasi Pendidikan (Edisi 2). Jakarta : PT
2. Peran unit pengelola instansi dan program Bumi Aksara.
studi sangat penting dalam menyusun rencana Arifin, Zainal. 2012. Evaluasi Pembelajaran Cetakan
Ke-2 (Edisi Revisi). Jakarta : Direktorat
tindakan pengembangan kurikulum, terutama Jenderal Pendidikan Islam, Kementerian
Agama RI. Akses ;
dalam peningkatan kualitas team pengembang
http://www.pendis.kemenag.go.id dan
kurikulum, sehingga unit pengelola mampu www.diktis.kemenag.go.id

membuat rencana stategi atau prosedur Arifin, Zainal. 2014. Konsep dan Model
Pengembangan Kurikulum. Bandung : PT.
operasional bidang akademik yang berkualitas Refika Aditama.

dengan tingkat pemahaman yang sangat luas. Baharu, Yusof & Nita. 2011. Entrepreneurial
Intention : An Empirical Study of Community
3. Upaya yang harus dilakukan unit pengelola College Students in Malaysia. Jurnal
Personalia Pelajar : Volume 14 & Hal. 45 -
institusi dengan memberikan pelatihan yang 58
berkelanjutan terkait dengan kurikulum dan Banu Siswoyo, Bambang. 2009. Pengembangan
Jiwa Kewirausahaan di Kalangan Dosen dan
setiap pelatian wajib mempresentasikan atau
Mahasiswa. Jurnal Ekonomi Bisnis :
sosialisasi terkait perkembangan pendidikan Vol.14, No.2 & Hal.144-123.

tinggdi di Indonesia, baik dari mutu BAN-PT. 2014. Buku II Standard an Prosedur
Akreditasi Program Studi Ners. Jakarta :
pendidikannya maupun sarana dan prasarana Badan Akreditasi Nasional – Perguruan
Tinggi.
pembelajaran, sehingga ada daya tarik unit
Daryanto. 2014. Penelitian Tindakan Kelas dan
pengelola program studi dalam Penelitian Tindakan Sekolah (Beserta
contoh-contohnya). Yogyakarta : Gaya
mengembangan proses pembelajaran yang
Media
sesuai dengan visi.
Departemen Pendidikan Nasional. 2007.
Kamus Besar Bahasa Indonesia, Edisi Ke-3.
Jakarta: Balai Pustaka.
DAFTAR PUSTAKA
Ide CA, Arantes SL, dkk. 2014. Evaluation Of The
AIPNI. 2010. Kurikulum Berbasis Kompetensi Implementation Of The Integrated Curriculum
Pendidikan Ners Indonesia. Jakarta ; Asosiasi In The Nursing Undergraduate Program.
Institusi Pendidikan Ners Indonesia Original Article : Vol. 27, No.4 & Hal.
(AIPNI). 340-347.

17
International Council of Nurse (ICN). 2004. Nurse Entrepreneurship : Nursing
Guidelines on the Nurse Entre/ 156 Leadership Volume 26 Number 2.
Intrapreneur Providing Nursing Servive.
Place Jean-Marteau, 1201, geneva, Santyasa, Warphala dan tegeh. 2015. Validasi dan
Switzerland. ISBN ; 92-95005-84-8. Implementasi Model-Model Student Centered
Printing ; Impremerie Fornara. Akses di Learning untuk Meningkatkan Penalaran dan
www.icn.ch. Karakter Siswa Sekolah Menengah Atas.
Journal : Pendidikan Indonesia, Volume ;
Kerry H. Fater. 2013. A Method to Assess Core 4, Number ; 1, April 2015.
Competency Development in the Curriculum.
Journal Nursing Education Perspectives ; Suarli, Suchiri, dkk. 2014. Entrepreneurship Nursing
Vol .34, No.2 & Hal.101-105. Bahagia Lahir Batin (ENBAL). Bandung ;
Balatin Pratama.
Kusumah dan Dwitagama. 2012. Mengenal
Penelitian Tindakan Kelas (Edisi 2). Jakarta ; Sukisno, 2012. Visi, Misi, Rencana Strategis Dan
PT Indeks Taktis Dalam Perguruan Tinggi (Teaching
Improvement Workshop ; Engineering Education
L. Salminen, E. Lindberg, M.L. Gustafsson, at al. Development Project). ADB Loan No.1432-
2014. Entrepreneurship Education in Health INO
Care Education. Journal Education
Research International ; Vol. 2014 & Hal. Sukmadinata, Nana Syaodih. 2013. Pengembangan
1-8. Kurikulum Teori dan Praktek. Bandung : PT.
Remaja Rosdakarya.
Madya, Suwarsih. 2011. Teori dan Praktik
Penelitian Tindakan (Action Reseach). Tim Kurikulum dan Pembelajaran (DIKTI). 2014.
Bandung ; CV Alfabeta, ISBD ; 979-8433- Buku Kurikulum Pendidikan Tinggi. Jakarta :
60-8. DIKTI.

Mattia J. Gilmartin, PhD, RN. 2013. Principles and T.M. Letsie, A.S. Van Der Merwe dan D. E
Practices of Social Entrepreneurship for Nursing. Botha. 2014. Intrapreneurship Amongst Unit
Journal of Nursing Education : Vol. 52, Nurse Managers At Public Hospitals. Journal
No. 11, Hal.(641-644). International Journal of Advanced
Nursing Studies ; Volume 3 (No.2) & Hal.
Mona M. Shattell, Elizabeth A. Nemitz, Nego 106-112.
(Pam) Crosso, at al. 2013. Culturally
Competent Practice In A Pre-Licensure Yosep, Iyus. 2010. Spirit & Soft Skill of Nursing
Baccalaureate Nursing Program In The United Entrepreneurship. Bandung : PT. Refika
States. Journal Nursing Education Aditama.
Perspectives : Volume 34, Number 6 &
Hal. 383 – 389.

Sally N. Ellis Fletcher. 2010. Nurse Faculty and


Students' Behavioral Intentions and Perceptions
Toward Entrepreneurship in Nursing. UMI
Dissertation Publishing : UMI 3411160 &
Hal.136-139.

Sarah Wall, PhD. 2013. Nursing Entrepreneurship:


Motivators, Strategies and Possibilities for
Professional Advancement and Health System
Change. Journal : Special Focus on

18