Anda di halaman 1dari 6

LISTRIK SEBAGAI KO-PRODUK POTENSIAL

PABRIK GULA
Yahya Kurniawan dan H. Santoso

Pusat Penelitian Perkebunan Gula Indonesia, Jalan Pahlawan No. 25, Pasuruan 67126
Telp. (0343) 421086, 421087, Faks. (0343) 421178, E-mail: info@sugarresearch.org; santosohendro@gmail.com

Diajukan: 16 Februari 2009; Diterima: 10 Maret 2009

ABSTRAK
Krisis energi global berdampak pada peningkatan harga listrik dan keterbatasan pasokan listrik sehingga
pengembangan bioenergi sebagai sumber energi berkelanjutan berpotensi untuk diwujudkan. Tebu merupakan sumber
energi potensial untuk menghasilkan listrik. Di beberapa negara, industri gula menghasilkan surplus listrik sehingga
dapat dijual ke perusahaan listrik setempat. Dengan menggunakan teknologi condensing/extraction turbines (TCE),
pabrik gula (PG) berpotensi menghasilkan listrik 150 kWh/t tebu, bahkan dengan teknologi biomass integrated
gasification to gas turbines (BIG-GT) mampu memproduksi 300 kWh/t tebu. Produksi listrik dengan teknologi
TCE berpotensi untuk diterapkan pada sebagian PG di Indonesia. Potensi produksi listrik yang bisa digali dalam
jangka pendek atau menengah diperkirakan sebesar 379.310 MWH dari surplus ampas tebu dan 1.029.630 MWH
dari daun tebu kering, sehingga total potensi produksi listrik dari tebu sebesar 1.408.940 MWH.
Kata kunci: Tebu, pabrik gula, energi listrik, biomass integrated gasification to gas turbines, condensing/
extraction turbines

ABSTRACT
Electricity as a potential co-product of sugar factory

Global energy crisis not only impact the increase in electricity price but also influence the shortage of electricity
supply, so that the development of bioenergy as a potential renewable energy resource needs to be accomplished.
Sugar cane is the potential energy resource to produce electricity. Some sugar producing countries have already sold
electricity surplus to local company. Electricity production was about 150 kWh/ton of cane by using technology
of condensing/extraction turbines (TCE). Moreover, new technology by using biomass integrated gasification to
gas turbines (BIG-GT) was able to produce 300 kWh/ton of cane. Production of electricity by using TCE technology
is potential to be applied in some sugar factories in Indonesia. The potential of electricity production in the near
future is estimated around 379,310 MWH from surplus of bagasse and around 1,029,630 MWH from trash, so that
the total potency of electricity production from sugar cane is about 1,408,940 MWH.
Keywords: Sugar cane, sugar factory, electricity, biomass integrated gasification to gas turbines, condensing/
extraction turbines

T ebu dikenal sebagai tanaman multi-
produk. Lebih dari 150 macam ko-
produk tebu telah ditemukan dan lebih dari
logi modern hanya dibutuhkan 2 kg ampas
(Lamonica et al. 2005). Kondisi tersebut
menunjukkan bahwa produksi energi listrik
mengubah energi matahari menjadi energi
kimia dalam bentuk biomassa. Tanaman
tebu mampu memproduksi biomassa tidak
50 jenis di antaranya telah diproduksi dari ampas tebu makin kompetitif. kurang dari 100 t/ha dalam waktu kurang
secara komersial (Rao 1997). Salah satu Harga minyak bumi yang sulit dipre- dari 1 tahun. Dengan demikian, biomassa
ko-produk tebu yang telah dikembangkan diksi dalam satu dekade terakhir telah tebu merupakan sumber energi terbarukan
secara komersial adalah energi listrik. mendorong pengembangan bioenergi yang potensial sebagai sumber energi
Perkembangan teknologi yang pesat ikut sebagai sumber energi alternatif, di luar listrik karena tersedia dalam jumlah yang
mendorong produksi energi listrik dari sumber energi fosil yang kian langka. cukup besar di pabrik gula (PG).
tebu menjadi makin efisien, baik konversi Tanaman tebu merupakan alternatif Industri gula dikenal sebagai industri
ampas menjadi uap maupun konversi uap sumber energi yang potensial karena tebu yang memasok energinya sendiri (self
menjadi energi listrik. Dengan menggu- menghasilkan biomassa berupa ampas sufficiency energy) karena energi yang
nakan teknologi konvensional, untuk tebu (bagasse) dan daun tebu kering diperlukan untuk mengolah tebu menjadi
memproduksi 1 kWh energi listrik diper- (daduk). Tebu juga tergolong sebagai gula berasal dari biomassa tebu. Bahkan
lukan 10 kg ampas, tetapi dengan tekno- tanaman yang paling efektif dalam banyak industri gula di dunia memiliki

Jurnal Litbang Pertanian, 28(1), 2009 23

keperluan pembangkitan tenaga listrik seperti menghindari suplesi energi.972 18. pemerintah Minyak diesel (IDO) (kl) 32 54 0.558 4.080 19.781 41. menurun menjadi kurang dari 20% dari total kebutuhan energi nasional pada Jumlah Harga Jenis bahan bakar Persentase biaya tahun 2025. Nilai pemakaian bahan bakar untuk keperluan pembangkitan. Upaya PLN untuk meng- menggali potensi industri gula Indonesia.114 983 4. 28(1).522 16.05 Presiden No.surplus energi dan mampu memproduksi sumber energi lain. Kebijakan Energi Nasional melonjaknya harga bahan bakar minyak 25 Januari 2006 (BBM) hingga 200% pada pertengahan Peraturan Presiden No. Pedoman peng. 2008b). LISTRIK Regulasi Cakupan Kebijakan Energi Nasional Instruksi Presiden No. 1/2006. 001/2006 komprehensif untuk memperkuat ketahan- an energi adalah melakukan diversifikasi Keputusan Menteri ESDM No.20% pada terletak pada ketersediaan ampas tebu tambah ekonomis yang cukup menarik tahun 2003 menjadi 7% pada tahun 2025. Kendala listrik (Tabel 2). 2001). Demikian pula dengan penggunaan 24 Jurnal Litbang Pertanian. Peraturan Menteri ESDM Perubahan atas Peraturan Menteri ESDM Salah satu bentuk pendekatan yang No. 2009 . pembangkitan tenaga listrik mengacu pada duksi dan konsumsi energi PG secara Pasal 4 Undang-undang No. Biaya BBM untuk berapa keuntungan lain dapat diperoleh. Morris dan Waldheim Pengembangan biomassa sebagai energi efisiensi energi PG perlu dilakukan apabila 2001. pengembangan pada industri gula justru energi listrik sehingga menghasilkan nilai ditargetkan meningkat dari 0. 5/2006. dicapai. Sumber Energi Listrik efisiensi energi yang memadai (Susmiadi usahaan pembangkit tenaga listrik ter- et al. yang relatif kecil sehingga peningkatan (Hassuani 2001. 001/2006 atau Sewa Menyewa Jaringan dalam Usaha segera diselesaikan.46 bakar yang berasal dari berbagai sumber. 2002.76 triliun untuk bahan bakar hemat biaya energi.08 triliun untuk bahan bakar untuk optimasi penggunaan peralatan. pada tahun 2005.57 Menurunnya proporsi minyak bumi di. be.40% pada tahun 2003 ditargetkan Tabel 2. Daftar kebijakan pengembangan pembangkit listrik tenaga PENGEMBANGAN ENERGI biomassa di Indonesia. meng. PG berpeluang men. (ribu) (Rp miliar) Seperti tertuang dalam Peraturan Solar (kl) 5. Peluang penjualan listrik ini juga menghasilkan surplus listrik apabila dila. membuka peluang searah dengan kebijakan energi nasional solar dan Rp4. Verbanck et al. 1122 Pembangkit Tenaga Listrik Skala Kecil K/30/MEM/2002 Tersebar energi. 5 tahun 2006. Di samping itu. GM alam (MMSCF) 184 3. Kap panas bumi (MWH) 3.25 mencanangkan untuk memproduksi bahan Residu (kl) 2. dan (Tabel 1). Penyediaan dan Pemanfaatan Bahan 25 Januari 2006 Bakar Nabati (Biofuel) sebagai Bahan Bakar Lain Krisis energi dunia yang berakibat pada Peraturan Presiden No. Peluangnya juga tenaga listrik mencapai 60% dari total listrik sebagai ko-produk tebu. Proporsi minyak bumi yang mencapai 54. Ancaman krisis energi Penyediaan Tenaga Listrik untuk Kepentingan hanya dapat dihadapi dengan memperkuat Umum ketahanan energi nasional. 5/2006 Penyediaan dan Pemanfaatan Ketenagalistrikan tahun 2005 berdampak pada biaya hidup Peraturan Menteri ESDM Pengusahaan Pengembangan Pembangkit yang semakin mahal. Proporsi biaya meningkatkan daya saing perusahaan. PLN sebagai perusahaan yang menjual penggunaan BBM untuk pembangkitan Dalam tulisan ini diuraikan potensi listrik ke masyarakat. Hal ini juga akan mendukung residu pada tahun 2005. Masalah kemiskinan. dan ancaman krisis energi merupakan tugas utama yang perlu Peraturan Menteri ESDM Prosedur Pembelian Tenaga Listrik dan/ No. Dengan konsumsi tuang dalam Keputusan Menteri Energi Ancaman krisis energi telah menjadi realita energi yang efisien. prospek.260 3.60 kompensasi dengan meningkatkan peng- Total  21. Sumber: Badan Pusat Statistik (2006b). dan upaya yang diperlukan untuk pun masih kekurangan listrik. bijakan pemerintah sebenarnya telah mencapai Rp8. No 02/2006 Listrik Tenaga Energi Terbarukan Skala Menengah degradasi lingkungan. kukan penataan kembali terhadap pro. 004/2007 No. dan Sumber Daya Mineral No.392 100 gunaan batu bara dari 14. 2008a. 20 tahun 2002 efisien sehingga mampu mencapai tingkat tentang ketenagalistrikan. 02 Tahun dengan melonjaknya harga minyak bumi jual listrik ke PLN. Sebagian PG terbarukan mengacu pada kebijakan energi pengembangan nilai perolehan tebu ingin di Indonesia memiliki potensi untuk nasional dan kebijakan energi hijau. DINAMIKA Tabel 1. Pemerintah terus berupaya me- ngurangi kebergantungan pada BBM. termasuk biomassa. masih besar terutama di luar Jawa dan PLN biaya bahan bakar untuk pembangkit nya. sementara pemanfaatan biomassa untuk diminati banyak investor.10% pada tahun 2003 menjadi 33% pada tahun 2025.028 8.07 Batu bara (t) 15. Pengembangan listrik ditinjau dari ke.

Penanda. Sisanya biaya BBM untuk pembangkitan tenaga Uap (PLTU) 43. belum semua masya- bangunan pembangkit listrik berbahan rakat Indonesia bisa menikmati listrik. Filipina.140 Konsumsi listrik di Indonesia Singapura 7.99%/tahun.17 ingat tingkat konsumsi listrik per kapita Filipina 537 juta MWH pada tahun 2000 menjadi 112.164 P LT U 6.20 Energi 2007). mencapai 60% dari biaya total bahan Negara Konsumsi listrik bakar.187 kWh dan 7.30%.68 juta MWH dan tahun 2004 sebesar masih diperlukan untuk PLTU walaupun peran swasta. dengan laju pertumbuhan rata-rata 28. pelanggan perusahaan listrik negara karena proporsi listrik 9.93%/tahun sejak tahun 2000. dengan pertum.40%.671 yang positif dengan laju pertumbuhan Sumber: Badan Pusat Statistik (2006a).105 3.282 6. Thailand 1. 2004 belum banyak mengalami perubahan Dengan demikian terjadi peningkatan Dari enam jenis pembangkit listrik PLN. Pengembangan kapasitas pembangkit diproduksi PLN pada tahun 2000 sebesar dan PLTD. dan Malaysia. Perkembangan kapasitas juta MWH.10% (Badan Pusat langgan pada tahun 2000 sebesar 79.226 1.424 kWh/kapita/ tahun. PLTP.900 (Direktorat Jenderal Listrik dan Pemanfaat- PLTG 1.224 1. Krisis energi dunia berakibat melonjaknya nuklir pada pembangkit listrik di Jawa buhan 3. tahun 2006. Thailand.80 juta MWH. Selain itu. Pembangkit Listrik adalah pelanggan bisnis yang mencapai listrik mencapai 60% dari total biaya bahan Tenaga Gas (PLTG) 4.92 juta pelanggan pada tahun krisis energi ini juga melanda PLN sebagai Listrik Tenaga Air (PLTA) yang memasok 1994. IDO. jumlah listrik yang mencukupi. (Tabel 3).05 juta MWH dengan pertumbuhan berhasil karena pasokan gas alam belum tercatat 473 kWh/kapita/tahun. dengan merencanakan penggunaan bahan konsumsi listriknya berturut-turut men. Dampak krisis energi bakar batu bara. terutama batu bara. dengan pertumbuhan rata-rata 27. yaitu Pembangkit mencapai 16. tahun (Badan Pusat Statistik 2006a). penggunaan energi BBM listrik diupayakan dengan meningkatkan 83. Dengan kondisi tersebut. Jumlah pelanggan PLN meningkat hampir tengahan 2005 hingga 2007. PLTU.590 2.40%.23%/tahun.207 1. 2009 25 . pada tahun 2006 berkaitan dengan pem. yaitu sudah di atas US$90/barrel.14 juta MWH pada tahun 2000 tungan pada BBM telah dilakukan PLN seperti Amerika Serikat dan Jepang yang menjadi 24. capai 12.99% (Badan Pusat Statistik 2006a).10 juta. Sementara pembelian listrik oleh PLN dari pembangkit swasta non-PLN terus me- ningkat dari sekitar 9.95% setiap tahun.731 Distribusi listrik PLN meningkat dari 79.187 Jepang 7. Dalam era pembangunan sebagian telah menggunakan batu bara. Selain itu. ada rencana Jumlah pelanggan listrik PLN pada tahun pemerintah untuk menggunakan tenaga 2004 tercatat 33.36 juta. Indonesia 473 juta MWH pada tahun 2006. tanganan nota kesepakatan dengan Cina tahun (Tabel 4). Hingga saat ini. Perkembangan kapasitas Statistik 2006a). Pembangkit 1.50%. sedangkan jumlah listrik terjual pembangkit listrik hanya sekitar 0. bila dibandingkan dengan negara maju dari 9.154 3.863 6. 28(1). kelompok pelanggan lainnya 841 ribu pada gunakan gas alam sebagai sumber energi Pembangkit Listrik Tenaga Panas Bumi tahun 2004 (Badan Pusat Statistik 2006a).650 2.40% P LTA 3. meng.900 6.226 an Energi 2007). Proporsi produksi Kapasitas terpasang 1999 2000 2001 2002 2003 listrik dari pembangkit non-PLN terhadap produksi listrik total sebesar 29. Kapasitas terpasang pembangkit listrik PLN (MW). sementara listrik yang yaitu PLTA. PLTGU. Pembangkit Listrik Tenaga rumah tangga hanya 31.268 Distribusi listrik Malaysia 2. BBM seperti solar.580 2.70 juta MWH pada Tabel 3.45%/tahun.424 Cina 2.640 2.gunakan sumber energi gas alam belum Book. Dari jumlah tersebut. di bawah 3.517 1. dengan harga Pembangkit listrik PLN pada saat ini dua kali lipat selama 10 tahun. Prospek Energi Listrik Amerika Serikat 12. jangka panjang. dengan Berdasarkan catatan The World Fast Sumber: Anonymous (2007).80%.863 Distribusi listrik PLN selama tahun P LT P 360 360 380 380 380 20002004 menunjukkan perkembangan P LT D 2.770 6. torat Jenderal Listrik dan Pemanfaatan Tenaga Diesel (PLTD) 8. PLTG.016 3.19 per tahun di Indonesia tergolong rendah.010 3. diharapkan peran swasta Biaya bahan bakar untuk pembangkit makin meningkat sehingga memiliki peran Tabel 4.771 6. dan bakar. 5. dan residu yang dari PLN.38 juta. sementara upaya PLN untuk meng- Listrik Tenaga Gas Uap (PLTGU) 31. konsumsi listrik di Indonesia 95.863 6. Fenomena terdiri atas enam jenis.38%/ bakar lain. juga belum sepenuhnya berhasil (Direk- (PLTP) 3. pelanggan industri 48 ribu.863 6. PLN (kWh/kapita/tahun) terkendala dengan kenaikan harga BBM.900 6. harga BBM lebih dari 200% sejak per- Tengah. dan Pembangkit Listrik Jumlah listrik yang terjual kepada pe.79%/ pembangkit listrik PLN selama tahun 2000 pada tahun 2004 tercatat 99. 5. PLTGU 6. pertumbuhan rata-rata 5.887 Prospek usaha listrik cukup baik.05 juta MWH pada tahun 2004. Konsumsi listrik di beberapa listrik masih didominasi oleh biaya energi yang seimbang atau bahkan lebih besar negara. Gambaran tersebut memperlihatkan pros- Jurnal Litbang Pertanian.10 juta MWH pada tahun 2000 menjadi 39. Apalagi dibeli PLN juga mengalami peningkatan Upaya untuk menurunkan kebergan.

Untuk musim giling selama 180 (kWh/t tebu) hari maka sebuah PG dengan kapasitas Backpressure turbines (TB) 5. komersial untuk memproduksi listrik te- ber energi biomassa lainnya dari tebu yang naga uap.029. 2007).408. waktu operasi 365 hari setahun.483 Condensing/extraction turbines (TCE) 4560 46 150 Biomass integrated gasification MWH (Kurniawan et al. 2006). Hanya dalam (Linero et al. sampai INDUSTRI GULA daduk yang dihasilkan sebesar 14% dari saat ini belum ada PG di Indonesia yang bobot tebu yang dipanen (Subiantoro menggunakan teknologi ini. Paturau TCE.39 juta ton daduk atau setara memproduksi 150 kWh/t tebu dengan bagai sumber energi bagi PG adalah ampas dengan 1. Jumlah ampas yang tersedia di PG ber- 1989. 2001. Pengalaman di Brasil untuk produksi listrik maka potensinya menunjukkan bahwa industri gula mampu Biomassa tebu yang biasa digunakan se- sebesar 1. Biasanya ampas tersebut digunakan sebagai sumber energi untuk mengolah tebu menjadi gula. diolah secara efisien dengan surplus 26 Jurnal Litbang Pertanian. Teknologi ini menggunakan uap Demikian pula produksi listrik dengan bertekanan rendah-menengah (< 20 bar) sumber energi ampas tebu akan menjadi dengan konversi 1219 kg uap/kWh.000 TTH. Pada PG yang pengolahan energinya efisien. Kapasitas pem- tersebut lebih rendah daripada nilai kalori tersebut akan meningkat lebih dari dua kali bangkit diperkirakan 15. produksi kayu kurang dari se- Industri gula memiliki potensi listrik dan BIG-GT mampu menghasilkan listrik dua paruhnya dan itu pun harus menunggu telah diimplementasikan di banyak negara kali lebih besar dibandingkan teknologi 810 tahun untuk menebangnya. Sementara dalam waktu yang integrasi dengan turbin gas. generasi.000 ton dalam satu Multi stage <30 1114 60 musim giling atau setara dengan 34. Tabel 5.80 juta MWH seiring de. Jika produksi tebu Indonesia sekitar digunakan oleh produsen listrik swasta. Kurniawan et al. yaitu 300 kWh/t tebu (Tabel 5). Potensi beberapa jenis teknologi kogenerasi. Di antara ketiga teknologi tersebut gantung pada banyaknya tebu yang Dewasa ini dikenal tiga jenis teknologi ko. 2) condensing/extraction turbines teknologi BIG-GT paling besar potensi- variasi antara 2534% dari bobot tebu (TCE).656 kJ/kg. menggunakan teknologi TCE. Dari dua jenis biomassa tebu tersebut demikian.pek pemasaran listrik di Indonesia cukup ampas 10% dari tebu yang digiling. maka teknologi TCE paling potensial untuk digiling dan kadar sabut dari varietas tebu. setiap hektar lahan dapat 2001. Lau et al.715 kJ/kg pada kadar air atau sebesar 2. tetapi telah Sumber Energi Biomassa Tebu 2006).630 MWH. maka Backpressure turbines merupakan baik. teknologi tersebut masih baru dan yang digiling. yaitu: 1) backpressure turbines digunakan secara komersial.600 kJ/kg pada biomassa tebu yang mencapai 1. Nilai kalori ampas tebu dalam bentuk dapat diketahui potensi sumber energi TTH berpotensi menghasilkan listrik net calorific value sekitar 7. capai 10% dari bobot tebu atau sekitar 500 Potensi ton ampas per hari untuk PG berkapasitas Tekanan uap Konversi uap Jenis teknologi produksi listrik (kg/cm 2 ) (kg/kWh) 5. nesia.310 MWH per musim giling. Bila 30% kanan tinggi (4560 bar) dengan konversi Ampas tebu dari jumlah tersebut berpotensi digunakan 46 kg uap/kWh. sebuah PG berkapasitas 5. termasuk produksi listrik pada POTENSI ENERGI LISTRIK memiliki nilai kalori 14. Teknologi sama. 379.000 ton atau setara dengan nya masih digunakan pada PG di Indo- energi terbarukan akan menjadi kompetitif. Hansjoachim dan Waganoff 1999). 2009 . dan 30% dari jumlah tersebut dapat Sumber: Lamonica et al. Walaupun demikian. Jumlah industri gula di luar negeri. Namun. rata-rata 30% dari bobot tebu dan kapa- sitas giling sebuah PG sebesar 5. Dengan to gas turbines (BIG-GT)   300 produksi tebu nasional sekitar 33 juta t/ tahun. bila jumlah ampas tebu gasification to gas turbines (BIG-GT).500 t/hari. turbines merupakan teknologi terbaru karena tersedia di PG dalam jumlah besar yang diuji coba di Brasil dan Australia dan bersifat terbarukan. potensi senilai Rp62.40 MWH dengan kayu sebesar 11.62 juta ton. Lora et al. potensi surplus ampas bisa men. dan dengan mahalnya harga BBM potensi surplus ampas yang diperoleh teknologi konvensional dan pada umum- maka produksi listrik dengan sumber sebesar 990. (2005). Dengan tebu (Kurniawan 1999.940 135.10 miliar.000 2007) . ampas tebu ngan revitalisasi PG dan perkembangan Biomass integrated gasification to gas merupakan sumber energi yang potensial produksi tebu. 28(1).000 ton tebu per hari (TTH) maka jumlah ampas yang tersedia sekitar 1. Nilai kalori MWH. Teknologi ini menghasilkan tidak kurang dari 30 ton Perkembangan Teknologi menggunakan metode gasifikasi yang ter- ampas tebu. (2007).000 MWH selama 180 hari giling atau kadar air 50% (Paturau 1989). Walaupun Jumlah ampas yang tersedia di PG ber- (TB). Dalam jangka panjang. 33 juta t/tahun maka potensi daun tebu Teknologi TCE menggunakan uap berte- kering mencapai 4. 30%. Daun tebu kering Condensing/extraction turbines me- rupakan teknologi yang digunakan secara Daun tebu kering atau daduk adalah sum. dalam masa uji coba. Jadi. Morris dan Waldheim waktu 12 bulan. dan 3) biomass integrated nya.000 TTH berpotensi menghasilkan Single stage <10 1719 28 surplus ampas 90. produsen gula tebu (Rao 1987. kompetitif.

bahkan teknologi biomass integrated tidak memerlukan lagi energi listrik dari atau lebih (Kurniawan et al. gula berdasarkan tekanan KESIMPULAN dirasa perlu untuk meningkatkan efisiensi uap.go.UPAYA MENGGALI 5. suplesi Surplus energi sudah mulai tampak pada kan dalam jangka panjang potensi pro- energi berupa bahan bakar lain seperti beberapa PG berkapasitas besar. dibutuhkan mengingat belum semua sumber energi fosil yang semakin menipis rumah tangga bisa menikmati sumber menyebabkan penggunaan sumber energi energi listrik yang tersedia. Bila sarana produksi uap telah mampu mengaplikasikan teknologi yang memadai maka penataan skema energi ada dalam upaya peningkatan efisiensi akan lebih besar peluangnya untuk di- energi. energi lebih besar bagi PG yang telah condensing/extraction turbines (TCE). Badan Pusat Statistik. 2006a. menengah-tinggi. perhatian dalam upaya meningkatkan yang telah menggunakan tekanan uap Industri gula memiliki potensi surplus efisiensi energi PG. kondisi PG yang masih sebut maka peningkatan efisiensi energi Indonesia masih tergolong rendah. yang besar. dan limbah gergaji tidak pun pada saat ini belum semua PG meng. dalam waktu laksanakan.80 residu. b p s . sehingga produksi listrik Indonesia.html/. [12 Desember 2006]. Fakta ini menunjukkan bahwa Beberapa waktu yang lalu pada saat energi 2029 bar memproduksi listrik secara komersial dari murah. Situasi tersebut merupakan stimulus pemakaian uap bekas secara total bisa Dengan demikian. dekat belum semua PG dapat mening. Sekitar 19. juta MWH. [12 Desember 2006]. Peng. konsumsi listrik per kapita per tahun di Di Indonesia. yaitu melakukan evaluasi runkan konsumsi uap di bawah 50% tebu kondisi energi untuk mengetahui sumber Anonymous. kayu.wikipedia. rendah. penerapan teknologi bagi PG lain yang belum efisien dalam dilakukan pada kondisi tekanan uap TCE berpotensi meningkatkan produksi pengelolaan energi. peluang surplus Dengan menggunakan teknologi digunakan cukup hanya dari ampas tebu. List of countries by electricity consumption. nakan mesin uap yang boros energi. energi pada sebagian besar PG maka index.69% POTENSI 2006 menunjukkan bahwa biaya produksi 23.000 TTH pendek. Potensi pro- sehingga tingkat konsumsi uap dapat di. terutama dalam jangka listrik apabila energi PG dikelola secara kapasitas besar. efisiensi ketel relatif rendah yaitu secara komersial bisa dilakukan pada h t t p : / / www. Energi. Berdasarkan kenyataan ter.html/. teknologi lama dengan mesin uap dan keborosan energi dapat dihindari dan Badan Pusat Statistik. Walaupun demikian. tingkat efisiensi energi PG tidak 1019 bar <10 bar ampas tebu berpeluang untuk dikembang- terlalu mendapat perhatian karena biaya kan.org/wiki/ (Kurniawan et al. lalui dua tahap. Namun. bersamaan akan memerlukan investasi usaha pemakaian listrik cukup baik karena bagai negara. energi pada PG. wujudkan dalam jangka pendek. diperlukan lagi karena bahan bakar yang alami surplus energi. Sebagian PG ber. juga menunjukkan bahwa PG di Indonesia tidak ada. 2008). energi relatif tidak membebani biaya pro. Pada tekanan uap yang tersedia di PG. i d / s e c t o r / e n e r g y/ di bawah 70%. http://en. seiring dengan peningkat- an biaya energi yang signifikan pada era Gambar 1.69% dari battery ketel optimal. sedang- 2008). Kebijakan Pemerintah di Jurnal Litbang Pertanian. Hal ini disebabkan keborosan energi dan melakukan pe- List_of_countries_by_electricity_consumption. Dengan terwujudnya surplus Jakarta. sarana yang tersedia masih menggunakan nataan ulang skema energi PG sehingga [22 February 2007]. sebagian PG yang berpotensi ditinjau dari index. efisien. 51. Walau. yaitu boros energi sudah saatnya mendapatkan akan lebih mudah dioptimalkan pada PG 473 kWh/kapita/tahun. Walaupun harga minyak Pengembangan sumber daya listrik masih global akhir-akhir ini cenderung menurun. g o .bps. kg/cm2. 2006b. duksi listrik dapat ditingkatkan hingga 2. >30 bar 2006).940 MWH yang bisa di- kurang dari 50% tebu (Kurniawan et al.18% duksi. Pengelompokan ketel pabrik krisis energi beberapa tahun terakhir. Hal ini gasification to gas turbines (BIG-GT) PLN. sementara biaya pokok penyediaan Meningkatkan Efisiensi Energi listrik PLN pada saat itu di lokasi yang PG sama sebesar Rp878/kWh (Rasjid et al. Jakarta. Pada kondisi tersebut. PG juga masih menggu. http://www.id/sector/energy/ yang ada dalam PG lokal masih meng. Surplus energi dapat diwujudkan me. Neraca Energi (Gambar 1). Kelayakan terbarukan terus dikembangkan di ber. 2009 27 . beberapa PG berkapasitas memiliki sarana produksi uap yang me. Sumber energi potensial dari tebu sudah mulai meningkatkan efisiensi energi adalah ampas dan daduk. 2007. duksi listrik dari ampas dan daduk dapat turunkan dari sekitar 60% tebu menjadi Mewujudkan Surplus Energi mencapai 1. mengingat penghematan uap melalui mampu memproduksi 300 kWh/t tebu. Statistik Listrik tekanan uap rendah atau kurang dari 10 diperoleh tingkat efisiensi energi yang PLN 20002004. PG Bahkan saat ini. gunakan tekanan uap di bawah 10 kg/cm2 kelebihan bahan bakar ampas banyak Badan Pusat Statistik. Keberhasilan tersebut tersebut dan peralatan mesin uap sudah listrik dari ampas dan daduk tebu. 2007. 28(1). 2008). Badan Pusat Statistik. surplus listrik yang bisa dijual dan peluang Direktorat Jenderal Listrik dan Pemanfaatan gantian sarana peralatan tersebut secara pembelian listrik oleh PLN. DAFTAR PUSTAKA katkan efisiensi energinya dengan menu.62% listrik pada sebuah PG mencapai Rp359/ kWh.408. yaitu lebih dari 5. berpotensi menghasilkan listrik 150 kWh/t besar mengalami surplus ampas tebu dan madai dengan tekanan uap sekitar 20 bar tebu.51% Hasil kajian yang dilakukan pada tahun 19.

hlm 28. p. Hadi. Brisbane. Sugar Cane Susmiadi. Industrial Utilization of Sugar sugar industries. 2007].). M. 558. Morris.. Mirzawan.B. Hogarth (Ed.). Gula Indonesia . Santoso. Hogarth (Ed.M. Congress. 1999. Hogarth (Ed. Soc. 1999..M. Y. B. 1721 Sep- Baru Terbarukan dan Konservasi Energi. Rasjid. XXIV Int. Soc. Saechu. 1989. Co. By Products of the Cane Energi. South Energi PG Lestari. Venturini.A. XXIV Int.E. (Ed.J. Sugar Group Concultants. Seminar Peran Teknologi dalam Mendukung trash. Bahri. Proc. J. 1721 September 2001. XXVI Int. Direktorat Jenderal Listrik dan Pemanfaatan Pasuruan. kebunan Gula Indonesia. comcop2007. Verbanck. PJ International savings including co-generation. Santoso. Santoso. Evaluation Amsterdam. Pasuruan. 266267. dan B. Pusat Congress. 28(1).A. intnet. H. PG Trangkil. Evaluasi Ko-Produk Tebu yang Berpotensi. Kurniawan. New Delhi.). Toharisman. Congress. dan B. H. Y. Australia. tebu.. Optimalisasi energi di pabrik gula. Chang. 1 Februari 2006. Kurniawan. Evaluasi Suwandi.). Kurniawan. Sugar Cane Technol. A.. Singh and V. 1 Februari 2006. alternatif. Yogyakarta.). dan B. India.mu/comcop2007.J. 2001. A. S.). S. Biomass Brazillian sugar industry. [15 December 2007]. Congress. Bidang Energi (Biomassa). M.J. Saechu. 2008b. Gula Indonesia XXIV(3): 2326. Y. Fioroneli. A. A. 30 Int. T. August 2007. 4. dari sampah ke energi Australia. Jakarta. Soc. Sugar Cane Technol. K. In D. H. Prosiding Kurniawan.S. 272274. Hogarth Kurniawan. 119136.htm. dan A. Y. A.D. Proc. Proc.B. Sugar Cane Technol. Pasuruan. In D. Rasjid. Brisbane. Penelitian Perkebunan Gula Indonesia. Santos.Balai Pengkajian Teknologi intnet. Hogarth (Ed.M. M.. Brisbane. Produk pendamping gula Linero. Soc. (IKAGI). 117. Bahri. in sugar mills. 2008a. Nahdodin. W.M. ber 2001. Dalam A. p. and J. Y. Linero.). A. S.R.F.M. P. XXIV Int. M. Santoso. Technology transfer between beet and cane of surplus power cogeneration in Brazilian Rao. and M. New January4 February 2005. Kurniawan. 4. 2007.mu/ Subiantoro. M. H. Toharisman. Waganoff. 1721 Septem. 137147. 2001.J. dan Lau. M. http://issct. Samiono (Ed. D. Kajian Umum economic concepts. and J.L. Lima verde Leal. Elsevier Publ.. hlm. Perkebunan Gula Indonesia. p. 2001. 2001. and D. S. Santoso. Nahdodin.. Potensi energi PG di tengah Technol.). 7485. Pusat Penelitian Per- Akhir Kegiatan Pusat Penelitian Perkebunan Africa 29 July2 August 2007. http://issct. Pasuruan. Possibilities for energy sugar/ethanol mills. Proc. Samiono (Ed. Paturau. 164. 280294. Guatemala. Daduk. Energi PG Pesantren Baru.F. Lamonica. Toharisman. XXIII Cane Technol. p. Soc. Seminar Ikatan Ahli Gula Indonesia (IKAGI). hlm. Sugar Industry. Delhi. 2009 . power generation: Sugar cane bagasse and D. 57. 1721 September 2001. 2007. Saechu.M. South Africa 29 July2 Sugar Cane Technol. Trends on cogeneration in the Kurniawan. Suwandi. and L.R. P. Congress. p. In Proc. F. Hansjoachim. 2226 February 1999.R. O. 1621. Australia. hlm. Kajian Produksi Listrik Hassuani. Sugar Cane Technol. Santoso. Pasuruan 28 Agustus 2008. Bahri. A. In D.. Pusat Penelitian Perkebunan for use in power generation. 2006. Nahdodin. Hadi. p.M. A. Dalam A.M. Martinelli. S. Direktorat Energi Saing. Kumar (Eds. 2005.E. hlm. Australia. E. Brisbane. Gunness. krisis energi.E. Triantarti. 2006. Rasjid. hlm. Soc. hlm.A. Saechu.M. [15 December Pertanian Jawa Timur. Sugarcane trash recovery Additional exportable energy from bagasse. XXV Int. Gula Indonesia.V. A. p. Soc. dan P.. dan H. S. Y. Y. Darmawan.htm. Durban. 28 Jurnal Litbang Pertanian. XXIV Int. H. A. Lamonica. and P. 1997. p. In V. dan H. and M. In 2008. 2007.. Waldheim. hlm. 372377. M. The use of BIG/GT technology Yogyakarta.. Zampieri. Toharisman. A sugar mill cogeneration plant repowering alternatives evaluation through Susmiadi. 2006.N. F. Santoso. Industri Gula yang Tangguh dan Berdaya Proc. Leal. Soc. Congress. S. 192196. Laporan Sugar Cane Technol. Nahdodin. Pusat Penelitian Prosiding Seminar Ikatan Ahli Gula Indonesia Lora.Mc Intyre. Proc. Congress. Saechu. Yuliatun. XXVI Int. the combination of thermo-dynamic and B. tember 2001. Cane and Its Co-Products. Durban. Proc..