Anda di halaman 1dari 27

BAB I

KESEHATAN MASYARAKAT
DAN
KESEHATAN LINGKUNGAN

Ilmu kesehatan berkembang atas dasar adanya penyakit. Kebutuhan akan


penyembuhan penyakit, menyebabkan timbulnya orang-orang yang mencoba
mengatasi penyakit dengan mencari cara pengobatan beserta obat-obatannya. Para
dukunlah yang dianggap mempunyai kemampuan untuk mengatasinya, dan mereka
pun dianggap dapat menimbulkan penyakit pada musuh-musuhnya.

Adapula masyarakat yang beranggapan bahwa penyakit itu terjadi karena perbuatan
dosa. Maka seiring dengan konsep penyaebab penyakit ini, pengobatan dilakukan
oleh para tokoh kepercayaan, agama, dan sebagainya. Pertama karena konsep
tentang penyakit tersebut tidak seluruhnya benar, kedua apabila konsepnya benar,
obatnya masih sangat primitive, begitu pula cara pengobatannya. Agar usaha
pengobatan dapat menjadi efektif, perlu diketahui penyebab penyakit dan dicoba
menghilangkan penyebab tadi.

Dalam perkembangan waktu, orang mulai berpikir lebih rasional dan mempelajari
struktur serta fungsi tubuh manusia baik dalam kradaan sehat maupun dalam
keadaan sakit. Ilmu kedokteran ini kemudian, walaupun telah dapat menyembuhkan
penyakit, ternyata masih belum dapat mengatasi wabah-wabah yang melanda
masyarakat , karena ilmu kedokteran tidak mencegah penularan penyakit tetapi
mengobati orang yang telah sakit secara individual.

Orang kemudian sadar bahwa penyakit itu banyak sekali ditentukan oleh berbagai
factor, antara lain perilaku masyarakat sendiri. Norma serta budaya yang
menentukan gaya hidup masyarakat akan menciptakan keadaan lingkungan yang
sesuai dengannya dan menimbulkan penyakit yang sesuai pula dengan gaya
hidupnya tadi. Jadi untuk menjadi sehat tidak cukup dengan hanya pencegahan
penyakit secara perseorangan, tetapi harus melihat dan mengelola masyarakat
sebagai satu kesatuan bersama lingkungan hidupnya. Atas dasar pengetahuan ini
timbulah ilmu kesehatan masyarakat.

Defenisi kesehatan masyarakat menurut Wislow pada tahun 1920 yaitu ilmu dan
kiat untuk mencegah penyakit, memperpanjang harapan hidup, meningkatkatn
kesehatan dan efisien masyarakat. Dari pembahasan terdahulu serta defenisi
kesehatan masyarakat, dapat dimengerti bahwa pada prinsipnya, pencegahan dan
pemberantasan penyakit perlu dilaksanakan dengan partisipasi masyarakat secara
penuh .

1
a. Usaha Kesehatan Masyarakat
Dari pembahasan terdahulu serta defenisi kesehatan masyarakat, dapat
dimengerti bahwa pada prinsipnya, pencegahan dan pemberantasan penyakit
perlu dilaksanakan dengan partisipasi masyarakat secara penuh. Jadi
masyarakat sendirilah yang dapat memberantas penyakit ataupun
meningkatkan kesehatannya.

b. Kesehatan Lingkungan

Kemampuan manusia untuk mengubah atau memodifikasi kualitas


lingkungannya tergantung sekali pada taraf social budayanya. Masyarakat yang
masih primitive hanya mampu membuka hutan secukupnya. Sebaliknya,
masyarakat yang sudah maju sosial budayanya dapat mengubah lingkungan
hidup sampai ke taraf irreversible. Gunung-gunung dapat dibelah atau dipotong
sesuai dengan keperluannya. Hutan dapat diubah menjadi kota dalam waktu
yang singkat.

Seperti telah diuraikan terdahulu, usaha kesehatan lingkungan merupakan salah


satu usaha dari enam usaha dasar kesehatan masyarakat. Dari uraian tentang
usaha dasar terlihat bahwa kesehatan lingkunganpun erat sekali hubungannya
dengan usaha kesehatan lainnya. Usaha ini merupakan usaha yang perlu
didukung oleh ahli rekayasa secara umum dan secara khusus oleh ahli rekayasa
lingkungan .

c. Pengaruh Lingkungan Terhadap Kesehatan

Perkembangan epidemiologi menggambarkan secara spesifik peran


lingkungan dalam terjadinya penyakit dan wabah. Bahwasanya lingkungan
berpengaruh pada terjadinya penyakit sudah sejak lama diperkirakan orang.
Seorang tokoh didunia kedokteran, Hippocrates adalah tokoh yang pertama-
tama berpendapat bahwa penyakit itu ada hubungannya dengan fenomena alam
dan lingkungannya. Dilihat dari segi ilmu kesehatan lingkungan, penyakit
terjadi karena adanya interaksi ini disebut Ekologi dan secara khusus ekologi
manusia, apabila pusat perhatian studi itu adalah manusia.

Interaksi manusia dengan lingkungan hidupnya merupakan suatu proses yang


wajar dan terlaksana sejak manusia itu dilahirkan sampai ia meninggal dunia.
Hal ini disebabkan karena manusia memerlukan daya dukung unsur-unsur
lingkungan untuk kelangsungan hidupnya. Udara, air, makanan, sandang,
papan dan seluruh kebutuhasn manusia harus diambil dari lingkungaan
hidupnya. Akan tetapi dalam proses interaksi manusia dengan lingkungannya
ini tidak selalu didapatkan keuntungan, kadang-kadang manusia bahkan
mendapat kerugian.

2
BAB II

MANUSIA
DAN
LINGKUNGANNYA

Manusia merupakan salah satu unsur di dalam lingkungan hidup ini. Secara
biologis manusia tergolong Homo Sapiens. Ia merupakan makhluk hidup yang
paling canggih, namun demikian, ia tetap merupakan salah satu unsur alam.
Kecanggihan ini didapat manusia karena kemampuannya mengembangkan budaya.
Perkembangan budaya ini dapat tejadi pada manusia karena ia dilengkapi dengan
bentuk fisik, fungsi tubuh serta karakteristik perkembangan tubuhnya yang berbeda
dengan hewan-hewan lainnya. Budayanya ini pula yang menyebabkan ia dapat
mengubah kualitas lingkungan hidupnya dengan segala konsekukuensinya. Oleh
karena itu pula manusia dapat ditinjau dari segi fisik maupun segi budaya.

1. Perkembangan Fisik Manusia

Manusia dilahirkan dengan 46 pasang khromosom yang mengandung


kurang lebih 30.000 gena. Komposisi gena ini menentukan genotip manusia,
sedangkan bentuk fisik manusia disebut fenotip. Dari seluruh gena tersebut
90-95% merupakan gena yang sama bagi seluruh umat manusia. Hanya 5-
10% dari seluruh gena tersebut yang membedakan Antara bangsa, suku
mauoun individu. Komposisi gena ini dapat berubah-ubah karena pengaruh
berbagai factor yang ada di dalam lingkungan hidupnya.

2. Perkembangan Budaya

Dilihat dari segi budaya, proses pendewasaan yang lambat ini merupakan
suatu kuntungan. Orangtua dan masyaakat sekitanya mepunai kesempatan
yang banyak untuk memberi pelajaran mengenai adat, kebiassaan, norma
dan pengetahuan yang ada ataupun mentransfer budayanya secara turun
temurun. Sebagaimana layaknya, manusia berusaha untuk terus
memperbaiki keadannya. Secara pasti dapat ditentukan bagaimana manusia
menemukan cara untuk bercocok tanam. Tetapi besa kemungkinannya,
bahwa mereka secara kebetulan melihat bahwa biji-biji yang terbuang dapat
tumbuh menjadi tanaman yang sama dengan tanaman asal biji terrsebut.
Kemampuan mempoduksi makanan yang melebihi kebutuhan sehari-
harinya akan menyebabkan meningkatnya suplai energi yang tersedia, maka
angka kelahiran naik sedangkan angka kematian tetap, maka jumlah
populasi akan bertambah.

Oleh karena jumlah penduduk terus bertambah, maka cara-cara bercocok


tanam tradisional tidak lagi dapat memenuhi keperluan masyarakat. Oleh

3
karena itu diperlukan cara-cara yang dapat menyediakan suplai bahan serta
jasa dengan lebih cepat dan lebih efisien. Dengan kemampuan observasi
fenomena alam sekitarnya, dan daya pikirnya manusia kemudian dapat
menemukan mesin-mesin yanng berkerja dengan lebih cepat daripada
tenaga manusia.

Apabila pada fase industrial ini manusia berfikir untuk menundukkan alam
demi untuk kemakmuran, maka dampak-dampak negatif yang dijumpai
sebagai akibatnya menyadarkan manusi bahwa existensinya tergantung
pada kelestarian sumber daya lingkungan. Hal ini memaksa manusia
mengubah sikapnya terhadap lingkungan. Manusia menyadari
kesalahannya, dan tidak lagi berkehendak untuk menaklukan alam tetapi
ingin hidup secara harmonis dan produktif.

Kemajuan pengetahuan khususnya di bidang kesehatan yang menyertai


kemajuan budaya seara umumnya, akan mengubah pola penyakit ini.
Imunisasi yang dapat memberi kekebalan secara artifisial pada anak-anak ,
dan usaha kesehatan lainnya mengakitbatkan turunnya angka kematian
anak. Dengan demikian usia hidup akan menaik, manusia secara rata-rata
akan menjadi tua. Maka akan mulai terdapat penyakit yang berhubungan
dengan ketuaan. Selain itu kemajuan di bidang sanitasi membuat lingkungan
menjadi lebih sehat, penyebaran penyakit menular lewat lingkungan
berkurang, dan pola penyakit akan berubah dari yang dominan menular
menjadi tidak menular.

A. Reaksi Manusia Terhadap Stimuli

Manusia dapat bereaksi terhadap berbagai jenis stimuli lingkungan. Secara


garis besar berbagai stimuli tesebut dapat dikelompokkan menjadi dua
bagian berdasarkan asalnya yaitu :

1. Stimuli dari dalam tubuh manusia sendiri dan dissebut stimuli


endogenous
2. Stimuli luar tubuh manusia dan disebut stimuli exogenous.

Stimuli endogeneus dapat berupa stimuli dari kadar-kadar hormon yang


diproduksi kelenjar-kelenjar hormon tubuh sendiri ataupun segala reaksi-
reaksi biokimia yang terjadi di dalam tubuh. Misalnya, di dalam tubuh
terdapat terlalu banyak hormon thyroid, maka metabolisme tubuh akan
terjadi secara berlebihan. Tubuh akan berkeringat, terasa sering lapar ,
tekanan darah meninggi dan seterusnya.

4
Stimuli exogeneus berasalkan dari luar tubuh. misalnya, keadaan temperatur
udara yang tinggi dapat menimbulkan reaksi tubuh yang lebih banyak
mengeluarkan keringat. Hal ini terjadi agar tubuh tidak terpengaruh oleh
keadaan yang panas tadi.

B. Interaksi Manusia Dengan Lingkungannya

Manusia yang pimitif berhubungan secara erat dan langsung dengan banyak
elemen di dalam lingkungan. Merekapun sangat tepengaruh oleh
lingkungan hidupnya. Makanan mereka sangat tergantung pada jumlah ang
tersedia di alam, oleh karenanya manusia primitif berpindah-pindah tempat
tinggal sesuai dengan ketersediaan bahan makanan di dalam lingkungan
sekitarnya. Sesuai dengan perkembangan budaya masyarakat, terdapat
masalah kesehatan lingkungan, angka penyakit, angka kematian, dan
kesehatan yang setara budaya tersebut. Semuanya ini ditentukan oleh
interaksi manusia dengan lingkungannya.

5
BAB III

LINGKUNGAN PRENATAL

Lingkungan prenatal ialah lingkungan manusia sebelum lahir ataupun


lingkungan embrio/janin yang ada alam kandungan ibu. Lingkungan prenatal terdiri
atas beberapa bagian yaitu :

1. Lingkungan matro atau lingkungan postnatal

Lingkungan matro adalah lingkungan ibu ataupun sama dengan lingkungan


postnatal. Di dalam lingkungan postnatal terdapat banyak sekali faktor yang
bepengaruh terhadap kesehatan janin, baik eugenik maupun yang disgenik.
Dengan meningkatnya inustrialisasi, kebeadaan zat kimia maupun fisis di alam
lingkungan akan semakin bertambah baik kualitas maupun kuantitasnya.
Sekalipun orang mengelola kualitas lingkungan dengan menggunakan baku
mutu yang dianggap aman bagi kehidupan, kepekaan janin terhadapnya masih
terus harus dipantau. Bahan baku untuk inusstri seringkali tidak sempat diteliti
efek jangka panjangnya, terutama efek mutagenik , teratogenik, dan
karsinogenik pada manusia.

Kelainan yang dapat terjadi karena zat-zat kimia ataupun fisika sangat
tergantung pada waktu pemaparan. Kehamilan usia mua sangat peka terhadap
zat-zat yang berbahaya karena pada saat-saat tersebut sedang terjadi
perkembangan berbagai organ dan anggota badan. Demikian pula dengan dosis
yang diterima ibu. Pemaparan yang lama dan atau pemaparan dosis tinggi dan
mendadak dapat mengakibatkan keguguran, kelahiran mati dan lain
sebagainya.

Atas dasar pengetahuan ini, maka sebaiknya ibu hamil tidak menggunakan obat
apapun selain pada keadaan yang memaksa. Kalaupun obat harus dipergunakan
oleh seorang calon ibu, maka ia harus berada dalam pengawasan yang ketat
dari dokternya.

2. Lingkungan embrio/janin yang terdiri dari lingkungan makro dan


lingkungan mikro.

Secara alamiah embrio/janin mendapat perlindungan dari ibu dalam berbagai


aspek, oleh karenanya lingkungan prenatal relatif leih baik daripada
lingkungan postnatal, namun demikian masih terdapat banyak faktor-faktor
digenik yang perlu diperhatikan. Lingkungan makro untuk embrio adalah
tubuh ibu, baik struktur, fungsi maupun kualitasnya.

6
Usia ibu sangat mempengaruhi kesehatan janin serta kualitas bayi yang akan
dilahirkan. Usia ibu ini tidak saja berpengauh terhadap bayinya, tetapi juga
tehadap ibu itu sendiri. Wanita yang melahirkan pada usia 18 tahun atau lebih
muda, mempunyai resiko kematian akibat persalinan 3x lebih besar daripada
ibu-ibu yang melahirkan pada usia 20-29 tahun. Resiko kematian ibu berusia
lebih daripada 34 tahun meningkat menjadi 5x lebih besar daripada ibu berusia
20-29 tahun.

Sedangkan lingkungan mikro tediri atas otot-otot rahim , plasenta, cairan


amnion, janin lain pada kehamilan kembar dan lain-lain. Lingkungan mikro ini
melindungi embrio (0-2 bulan), dan janin (3-9 bulan) dari berbagai faktor
disgenik seperti tekanan mekanis, bakteri patogen dan lain-lain. Plasenta
berbentuk iskoid, berdiameter antaa 15-20 cm, tebalnya antaa 2-3 cm dan
beratnya rata-rata adalah 500 gram. Plasenta mempunyai dua fungsi yakni yang
pertama membuat hormon-hormon sehingga lapisan endometrium rahim tetap
baik untuk pekembangan embio/janin dan yang kedua merupakan media
tansfer bebagai zat dari ibu ke anak dan sebaliknya. Segala keperluan nutrisi
anak diambil dari ibu adalah makanan yang siap pakai, sehingga anak perlu
melakukan pencernaan, karena pada fase ini saluran pencernaan anak belum
berfungsi. Begitu pula keperluan akan oxigen untuk pernapasan. Plasenta juga
berfungsi untuk menyalurkan berbagai jenis buangan anak, baik yang
berbentuk air maupun gas. Plasenta juga berfungsi sebagai barrier terhadap
berbagai zat dan fungsi ini tergantung dari permeabilitasnya.

PARITAS

Paritas adalah angka-angka yang menunjukkan jumlah kehamilan yang


pernah dialami ibu serta status terminasi kehamilan tersebut. Paritas
menggambarkan pengalaman ibu dalam kehamila. Misalnya, jumlah kehamilan
yang pernah dialaminya dapat dibandingkan terhadap kelahiran dan kegugurannya.
Ibu yang sering mengalami keguguran mestinya mempunyai latar belakang
kesehatan yang berbeda dibanding dengan yang tidak pernah mengalami abortus.
Dari pencatatan statistik diperoleh hubungan antara jumlah paritas dengan derajat
kesehatan bayi yang dilahirkan. Dinyatakan bahwa semakin besar angka gravida
semakin besar kemungkinannya melahirkan anak yang lemah.

Gizi ibu hamil perlu diperhatikan, karena segala keperluan perkembangan dan
pertumbuhan janin hanya dapat diperoleh dari ibu. Dapat dimengerti bahwa status
gizi ibu akan sangat menentukan kesehatan bayi yang dilahirkan. Percobaan hewan
memperlihatkan bahwa induk tikus yang kekurangan gizi akan melahirkan anak
yang bersifat emosional dan penakut.

7
BAB IV

ATMOSFIR

Atmosfir adalah lingkungan udara, udara yang meliputi planet bumi ini.
Atmosfir terdiri atas beberapa lapisan yang terbentuk karena adanya interaksi
Antara sinar-sinar matahari, gaya tarik bumi, rotasi bumi, dan permukaan bumi.
Lapisan-lapisam atmosfir dapat dikenali dari perbedaan suhunya. Batasan-batasan
lapisan atmosfir ini bervariasi, tergantung dari iklim dan keadaan cuaca, tetapi
setiap lapisan mempunyai karakteristik yang berbeda-beda.

a. Udara Bebas

Udara bebas yang ada disekitar manusia dapat berpengaruh terhadap


kesehatan masyarakat. Pengaruh tersebut dikelompokkan menjadi pengaruh
langsung dan tidak langsung.

Pengaruh udara bebas langsung yaitu terjadi karena proses pernapasan


kontak seluruh anggota tubuhnya dengan udara. Pengaruh udara terhadap
kesehatan sangat ditentuksn oleh komposisi kimia, biologis maupun fisis
udara. Pada keadaan normal, sebagian besar udara terdiri atas oxygen dan
nitrogen.Tetapi aktivitas manusia dapat mengubah komposisi kimiawi udara
sehingga terjadi pertambahan jumlah spesies, ataupun meningkatkan
konsentrasi zat-zat kimia yang sudah ada.

Pengaruh udara bebas secara tidak langsung merupakan penagaruh terhadap


kesejahteraan masyarakat. Misalnya, nitrogen di dalam udara dapat
dimanfatatkan sebagai bahan baku pupuk urea dengan menggunakan proses
Haber. Pupuk urea meningkatkan produksi di bidang pertanian. Dengan
demikian kesejahteraan masyarakat akan meningkat. Pengetahuan tentang
adanya berbagai gelombang elektromagnetis di dalam udara didayagunakan
sebagai sumber surya, komunikasi lewat gelombang microwave, gelombang
radio dan sebagainya.

b. Efek Estetika

Efek estetika adalah salah satu pengaruh udara yang penting terhadap
sekitarnya. Penyebabnya dapat berupa berbagai zat kimia, fisis dan biologis.
Misalnya, semua proses yang menimbulkan bau dan udara menjadi tidak
jernih akibat terjadinya kabut dapat mengurangi nilai estetik lingkungan
setempat. Zat pengotor biologis karena terutama berperan di dalam udara
tidak bebas. Yang dimaksud dengan udara tidak bebas adalah udara yang di
dapat di dalam gedung-gedung seperti rumah, pabrik, bioskop, sekolah,
rumah sakit dan lain-lain. Udara tidak bebas didapat pula di dalam sumur-
sumur dan tambang-tambang.

8
c. Jenis-Jenis Pencemar

Di dalam udara tidak bebas, bahan-bahan yang dapat menimbulkan penyakit


lebih banyak jumlah/kadarnya maupun jenisnya disbanding dengan yang
ada di dalam udara bebas. Kasus-kasus penyakit akibat pencemaran udara
tidak bebas ini banyak sekali terjadi, terutama di dalam lingkungan kerja
dan di rumah-rumah.

d. Prinsip-Prinsip Pengelolaan Kualitas Udara

Mengingat bahwa udara yang bersih itu diperlukan setiap detik bagi
tercapainya masyarakat yangs ehat, maka kualitas udara harus diusahakan
agar selalu bersih. Tidak mungkin kiranya kita membiarkannya kotor dan
dibersihkan kemudian sebelum dikonsumsi seperti halnya air, karena udara
setiap detik diperlukan. Bagi Indonesia tentunya sudah banyak yang dapat
dipelajari baik buruk pendapat-pendapat yang ada dengan mempelajari
pengalaman-pengalaman negara industri. Terlepas dari pendapat yang ada,
pada hakekatnya saat ini sudah tersedia teknologi yang bias dimanfaatkan
untuk pengendalian sumber-sumber pencemar udara secara efektif dan
murah. Memanfaatkan teknologi pasti memerlukan biaya, akan tetapi tak
perlu disangsikan bahwa uang yang digunakan untuk kebersihan udara ini
akan memberi manfaat bagi masyarakat saat ini dan generasi yang akan
datang.

e. Alat-Alat Pembersih Gas Buang

Berbagai alat pembersih gas buang sudah banyak tersedia, pemilihan


dilakukan atas dasar efisiensi penyisihan emisi yang dikehendaki, sifat fisik
kimiawi tercemar, dan lainnya. Alat-alat yang ada dapat dikelompokkan
menjadi filter, electrostatic precipitators, cyclones, kolektor mekanis,
scrubers, pembakar atau after burners dan lainnya.

9
BAB V

HIDROSFIR

5.1 UMUM

Hidrosfir adalah lingkungan air. Sebagian besar (71%) dari permukaan


bumi tertutupi oleh air. Lingkungan air yang begitu luasnya, sehingga sangat
berpengaruh terhadap iklim. Karena air lebih sulit menjadi panas dibanding
litosfir, maka siang hari air lebih dingin daripada tanah, dan pada malam hari ia
akan lebih lambat menjadi dingin, sehingga ia lebih panas daripada daratan di
malam hari.

5.1.1 Distribusi Air

Air merupakan sumber daya yang mutlak harus ada bagi kehidupan. Air juga
merupakan bahan pelarut paling baik. Tubuh manusia 70% terdiri atas air.
Sebaliknya didalam badan air terdapat benda-benda hidup yang sangat
menentukan karakteristik air tersebut, baik secara kimia maupun secara fisis
dan biologis.

5.1.2 Sirkulasi Air

Sekalipun air jumlahnya relatif konstan, tetapi air tidak diam, melainkan
bersirkulasi akibat pengaruh cuaca, sehingga terkadi suatu siklus yang disebut
siklus hidrologis. Siklus ini penting karena untuk mensuplai daerah daratan
dengan air. Siklus hidrologis mempunyai syarat yaitu kualitas udara harus
cukup bersih, karena apabila udara tercemar maka air hujan pun akan ikut
tercemar, karena proses turunnya hujan/salju merupakan proses alamiah yang
membersihkan atmosfer dari segala debu, gas, uap dan aerosol.

5.1.3 Air dan Budaya

Pendayagunaan air dalam bidang budaya antara lain adalah untuk


transportasi, membentuk tenaga mekanis ataupun listrik, untuk industri,
untuk mendapatkan garam, Kalium, Bromida dan rekreasi. Perkembangan
budaya ini terjadi sebagai akibat dari kebutuhan manusia dan adanya
interaksi antara manusia dengan lingkungan air.

10
5.1.4 Beberapa Sifat Air yang Penting

1. Sifat Fisis

Air di dunia didapatkan dalam ketiga wujudnya, yakni bentu padat sebagai
es, bentuk caiar sebagai air, dan bentuk gas sebagai uap air. Bentuk mana
yang akan didapatkan tergantung keadaan cuaca yang ada setempat.

2. Sifat Kimiawi

Air merupakan pelarut universal, hampir semua jenis zat dapat larut di
dalam air. Air juga merupakan cairan biologis, yakni didapat di dalam tubuh
semua organisme. Dengan demikian, spesies kimiawi yang ada di dalam air
berjumlah sangat besar.

3. Sifat Biologis

Didalam perairan selalu didapat kehidupan, flora dan fauna. Benda hidup
ini berpengaruh timbal balik terhadap kualitas air. Didalam suatu
lingkungan air, terdapat berbagai benda hidup yang khas bagi lingkungan
tersebut. Benda hidup di perairan dibagi ke dalam organisme native dan
tidak native bagi lingkungan tersebut. Organisme native dalam badan air
biasanya merupakan organisme yang tidak patogen terhadap manusia.
Organisme yang tidak native dapat berasalkan air limbah, air hujan, debu
dll.

5.2 MANUSIA DAN AIR

Air dan manusia tidak dapat dipisahkan karena sebagian tubuh manusia
mengandung air. Air juga diperlukan untuk melarutkan berbagai jenis zat tubuh.
Pemanfaatan sumber daya air juga sangat diperlukan untuk kebutuhan dan
kegiatan manusia sehari-hari.

5.3 PENGARUH AIR TERHADAP KESEHATAN

1. Pengaruh tidak langsung

Pemanfaatan air sebagai zat-zat pengikat oksigen, pupuk tanaman, sebagai


material tersuspensi, untuk pemanfaatan industri, pembangkit listrik, system
irigasi dsb.

2. Pengaruh langsung

Pengaruh langsung dapat mempengaruhi kesehatan manusia yaitu zat-zat


yang persisten, zat radioaktif dan penyebab penyakit.

11
5.4 PEMANFAATAN SUMBER DAYA AIR

Sebagai penyediaan air minum dengan melihat kualitas air minum, standar air
minum. Standar air minum dibagi menjadi parameter fisis dan parameter kimia.
Parameter fisis yang berhubungan dengan rasa, suhu, warna, kekeruhan dan zat
terlarut sedangkan parameter kimia yang berhubungan dengan kimia anorganik
dan kimia organik.

5.5 PENGENDALIAN KUALITAS HIDROSFIR

1. Standar desain, kinerja dan procedural

2. Pencegahan Pengotoran Air

5.6 PECEGAHAN PENYAKIT

Pencegahan penyakit dapat dilakukan dengan pengelolaan air minum dan air
buangan secara terpadu, karena semakin banyak PAB akan semakin banyak
pula air buangannya. Air buangan di bagi kedalam air buangan industri dan air
buangan domestik, karena sifatnya/kandungannya terlalu berbeda.

5.7 PENILAIAN KUALITAS HIDROSFIR

Secara praktis untuk dapat melakukan penilaian, diperlukan kemampuan


memeriksa air, baik dilihat dari segi fisis, kimiawi, maupun biologis dan
radiologis: 1. Diperlukan prosedur standar untuk pemeriksaan air. Prosedur
pemeriksaan yang digunakan oleh berbagai laboraturium sebaiknya standar,
agar dapat diperbandingkan hasilnya, 2. Diperlukan ahli dalam pemeriksaan
air. Untuk ini diperlukan pula fasilitas pendidikan dan latihan. 3. Diperlukan
laboraturium beserta peralatan yang lengkap untuk memeriksa air.

5.8 PERAN WANITA

Kaum wanita memiliki peranan besar dalam memilih kualitas suatu air, karena
kaum wanita yang mengurus rumah tangga yang mana juga banyak
memerlukan air. Sikap orang tua terutama ibu, terhadap lingkungan umumnya
dan lingkungan air khususnya baik/sehat/saniter, maka pada anak-anaknyapun
akan tertanam kebiasaan yang baik pula.

12
BAB VI

LITOSFIR

6.1 UMUM

Litosfir adalah semua bagian bumi yang padat, mulai dari pusat bumi
sampai ke permukaan dikelompokkan ke dalam litosfer. Lapisan teratas dari
litosfer disebut tanah yaitu suatu lapisan yang sangat tipis dibanding dengan
seluruh tebal litosfir. Tanah ataupun lahan ini mencakup 29% dari permukaan
bumi atau 14.800 juta ha.dengan 1.400 ha diliputi es dan yang tersisa 13.400 ha
yang dapat dipergunakan untuk semua kegiatan di bumi ini.

6.2 PENGARUH TERHADAP KESEHATAN

6.2.1. Pengaruh Langsug

Pengaruh litosfir terhadap kesehatan digolongkan kepada penyakit-penyakit


yang menyebar lewat tanah. Penyakit-penyakit ini disebut sebagai penyakit
bawaan tanah atau “soil-borne diseases” . penyakit bawaan tanah dapat
berupa penyakit menular dan penyakit tidak menular.

6.2.2. Pengaruh Tidak Langsung

Pengaruh litosfir yang tidak langsung digunakan manusia untuk bermukim,


untuk melakukan segala kegiatan, seperti pertanian, peternakan, industri dan
tempat pembuangan limbah padat atau persampahan. Berbagai kegiatan yang
penting diantaranya adalah:

6.2.2.1 KESEHATAN KELEMBAGAAN

Usaha kesehatan lingkungan yang berkaitan dengan pemanfaatan litosfir


untuk berbagai kegiatan dikenal sebagai usaha kesehatan instirusi atau
kelembagaan. Institusi/ lembaga diartikan sebagai suatu organisasi ataupun
bangunan yang digunakan oleh organisasi untuk mencapai suatu tujuan.
Usaha kesehatan kelembagaan diperlukan akibat pemanfaatan bagunan
dengan kepadatan berlebih (overcrowding) timbulnya daerah pemukiman
yang kumuh dan tempat kerja yang sangat tidak saniter.

Lembaga pemukiman terbentuk karena manusia memerlukan tempat untuk


tinggal dan bernaung. Suatu pemukiman dapat menjadi reservoir penyakit
bagi keseluruhan lingkungan. Timbulnya permasalahan kesehatan di dalam
lingkungan pemukiman pada dasarnya disebabkan karena orang belum
sepaham tentang fungsi suatu rumah.

13
Organisasi kesehatan di dunia mendefinisikan rumah sebagai berikut “
Rumah adalah tempat untuk tumbuh dan berkembang baik secara jasmani,
rohani dan sosial”.

Definisi ini membawa banyak konsenkuesi yakni bahwa selain kualitas


rumah harus baik, diperlukan pula segala fasilitas yang dibutuhkan untuk
tumbuh dan berkembang. Fasilitas itu sebaiknya ada pada suatu daerah
pemukiman ataupun letaknya tidak terlalu jauh dari rumah. Misalnya
fasilitas pendidikan, perbelanjaan, fasilitas air bersih dan lain-lain.
Selanjutnya faktor-faktor pada rumah yang berpengaruh terhadap kesehatan
perumahan adalah (i) kualitas bangunannya, (ii) pemanfaatan bagunan, dan
(iii) pemeliharaannya.

Seperti halnya pemukiman, kesehatan lembaga pendidikan tergantung pula


dari kualitas bahan dan kontruksi bangunan serta pemeliharaan dan
penggunaanya. Hal ini diperlukan untuk mecengah kecelakaan, kebakaran
dan penularan penyakit. Kualitas bangunan serta isinya harus pula dibuat
sesuai dengan fungsi gedung, sehingga tujuan kelembagaan tersebut dapat
mudah tercapai.

Selain itu pemeliharaan orang sakit juga termasuk dalam lembaga kesehatan
karena di rumah sakit terkumpul populasi dengan karakteristik sama yakni
orang sakit. Fungsi rumah sakit adalah merawat yang sakit dan mencoba
menyembuhkan sedapat mungkin.

Pada perusahan industri terkumpul juga populasi yang mempunyai tujuan


yg sama. Populasi dalam perusahaan dan industry di pekerjaan nya akan
berhadapan dengan bahan baku ataupun proses dan bahan jadi yang dapat
mempengaruhi kesehatan karena dapat terpapar berbagai bahan berbahaya
seperti : faktor kimia, faktor fisika, biologis, dan ergonomis. Dalam hal ini
usaha pencegahan penyakit mempunyai peran yang sangat dominan.
Penyakit-penyakit ini timbul akibat kerja yang tidak bersifat reversible.
Selain itu fasilitas dasar akan sanitasi dan air bersih juga perlu diperhatikan.

Angkutan, motel dan hotel


Tiga kelembagaan ini dibicarakan bersama karena populasinya mempunyai
karakteristik yang sama, yakni berda dalam keadaan transisi atau
berpejalanan. Mereka tentunya memerlukan fasilitas yang khas pula agar
kesehatan dan keselamtannya dapat terjamin.

14
6.2.2 PERSAMPAHAN
Sampah dapat dibedakan atas dasar sifat-sifat biologis dan kimianya,
sehingga mempermudah pengelolaannya, sebagai berikut :
1. Sampah yang dapat membusuk , seperti sisa makanan, daun, sampah
kebun, pertanian , dan lainnya
2. Sampah yang tidak membusuk seperti kertas, plastik, karet, gelas, logam
dan lainnya
3. Sampah yang berbahaya terhadap kesehatan, seperti sampah-sampah
berasalkan industri yang mengandung zat-zat kimia maupun zat fisis
berbahaya.

Sampah, baik kuantitas maupun kualitasnya, sangat dipengaruhi oleh


berbagai kegiatan dan taraf hidup masyarakat. Beberapa faktor yang
penting antara lain adalah:
1. Jumlah penduduk
2. Keadaan sosial ekonomi
3. Kemajuan teknologi

Pengaruh sampah terhadap kesehatan dapat dikelompokkan menjadi


efek langsung dan tidak langsung. Yang dimaksud efek langsung adalah
efek yang disebabkan karena kontak yang langsung dengan sampah
tersebut. Misalanya, sampah beracun, sampah yang korosif terhadap
tubuh, yang karsinogenik, teratogenik, dll. Sedangakn pengaruh tidak
langsung dapat dirasakan masyarakat akibat proses pembusukan,
pembakaran, dan pembuangan sampah.

Penyakit bawaan sampah sangat luas dan dapat berupa penyakit


menular, tidak menular, dapat berupa akibat kebakaran, keracunan dan
lain-lain. Penyebabnya dapat berupa bakteri, jamur, cacing dan zat
kimia.

Pengelolaan sampah perlu didasarkan atas berbagai pertimbangan


seperti untuk mencegah terjadinya penyakit, konservasi sumber daya
alam, dan mencegah gangguan estetika, memberi intensif untuk daur
ulang/pemanfaatan dan bahwa kuantitas dan kualitas sampah akan
meningkat.

15
6.2.2.3 KESEHATAN RADIOLOGIS

Pemanfaatan material radioaktif termasuk sinar-sinar radioaktif semakin


banyak, baik untuk diagnosa dan terapi, penelitian, untuk energi alternatif,
maupun didalam proses industri. Sumber-sumber materi radioaktif dapat
bersifat alamiah maupun buatan. Sumber buatan berasal dari peralatan
rontgen yang memancarkan sinar X/ Rontgen , reaktir nuklir, bom atom,
dsb.

Radioaktivitas adalah suatu proses dimana mineral yang mempunyai


nukleus atau inti yang tidak stabil mengalami disintegrasi spontan dengan
melepaskan energy. Proses ini disebut sebagai “decay”/”paruh”/”luruh”.
Proses disintegrasi tadi disertai atau ditandai oleh adanya remisi radiasi
seperti partikel alpha, beta, dan sinar gamma.

Sinar alpha adalah partikel yang terdiri atas dua proton dan dua neutron atau
sama dengan sebuah atom Helium, tanpa elektron. Radiasi beta adalah
radiasi yang terdiri atas aliran elektron-elektron yang mempunyai daya
tembus yang sedang dan kecepatan yang tinggi. Radiasi Gamma adalah
radiasi elektromagnetik, dapat menembus sangat dalam, dan mempunyai
kecepatan tinggi.

Sinar radioaktif sangat berbahaya bagi kesehatan, karena merusak sel dan
jaringan tubuh, mulai dari yang sangat ringan seperti rontoknya rambut
sampai pada kanker. Lebih berbahaya lagi apabila sinar tadi mengenai sel-
sel genetic, karena dapat menimbulkan sterilitas dan mutasi.

Mengingat bahayanya radiasi pengion, pengelolaan lingkungan harus


dilaksanakan dengan seksama. Cara pengelolaan didasarkan atas :

1. Jarak, mengingat aktivitas sinar berbanding terbalik dengan jarak


kuadrat dan
2. Waktu pemaparan yang sebaiknya di buat minimum.

Pemantauan merupakan aktivitas penting dalam pengelolaan lingkungan.


Beberapa hal yang perlu didapat dengan pemantauan antara lain:

1. Tingkat radioaktivitas alamiah


2. Apakah terjadi perubahan-perubahan tingkat radioaktivitas
3. Apakah ada kebocoran, dan
4. Penentuan standar.

16
BAB VII

BIOSFIR

7.1 UMUM

Biosfir disebut juga ekosfir, adalah lingkungan yang terdiri atas fauna dan
flora, terkecuali manusia, sekalipun manusia itu merupakan bagian dari alam,
tetapi tidak digolongkan ke dalam biosfir. Batas biosfir ditentukan sampai pada
batas dimana tidak lagi terdapat benda hidup (atas dasar pengetahuan saat ini).

Kalau dilihat dari dekat suatu biosfir itu tampak beraturan dengan pola tertentu.
Dimulai bila terlihat seekor kelinci atau satu buah pohon genjer, yang disebut
organisme, kemudian oerganisme ini berada dalam suatu kelompok yang
terdiri atas jenis yang sama, disebut populasi. Kumpulan berbagai populasi
tumbuhan atau hewan di daerah tertentu disebut komunitas, dan interaksi setiap
organisme yang ada di dalam komunitas ini dengan lingkungannya (biotis dan
abiotis) disebut suatu ekosistem. Ekosistem di seluruh dunia ini berhubungan
satu dengan yang lain, membentuk ekosfir.

Suatu ekosistem ini berkembang dari satu atau beberapa organisme pionir yang
berkembang selama ratusan atau ribuan tahun dimana terjadi pergantian satu
komunitas oleh komunitas yang lain. Pergantian komunitas ini disebut suksesi
ekologis.

Stabilitas suatu ekosistem dapat dipertahankan melalui tiga mekanisme


sebagai berikut:

1. Megendalikan laju aliran energy yang melalui system


2. Mengendalikan laju siklus kimia di dalam system, dan
3. Memelihara diveristas biota dan hubungan rantai makanan

Setiap spesies didalam komunitas mempunyai struktur dan fungsi masing-


masing yang saling menujang (interdependency) atau disebut suatu “niche
ekologis”. Berbagai organisme didunia ada mempunyai “niche ekologis” yang
sama atau mirip sehingga disebut ekivalen ekologis. Didalam komunitas
sedemikian juga terjadi siklus biogeokimia, dan aliran energi

Keberadaan materi dan energi di alam ini mengikuti suatu hukum yang disebut
hukum thermodinamika yang menyatakan bahwa energi dan materi itu tidak
pernah punah, ia hanya berubah bentuk. Hukum ini terdiri atas dua. Hukum
thermodinamika yang pertama juga dikenal sebagai hukum konservasi energi,
menyatakan bahwa energi itu tidak dapat diciptakan atau pun dihancurkan,
tetapi hanya berubah dari salah satu bentuk ke bentuk yang lain : panas, cahaya,

17
energi mekanik, elektrik, atau energi kimia. Hukum yang kedua menyatakan
bahawa tidak ada konversi energy yang efisien untuk 100%.

Pada setiap konversi energi, sebagian dari energi itu akan menjadi energi yang
tidak terpakai berbentuk panas. Sesuai hukum tadi, dan adanya produser dan
konsumer di dalam suatu ekosistem, maka dapat dimengerti bahwa rantai
makanan ini akan berbentuk piramida. Semakin tinggi tingkat trofis, semakin
sedikit jumlah organisme tadi.

7.1.1 KEKAYAAN ALAM INDONESIA

Lingkungan biologi adalah lingkungan yang memerlukan waktu yang


cukup lama untuk mencapai kestabilan, dan di dalam fase yang masih
muda, mudah sekali terkacaukan oleh aktivitas manusia. Setiap kali terjadi
perubahan kualitas lingkungan, maka biosfir akan berubah baik dalam
kualitas maupun kuantitas.

Indonesia adalah Negara yang kaya akan berbagai jenis fauna dan flora.
Sekitar 17% dari spesies biota dunia ada di Indonesia. 11% dari tumbuhan
berbunga ada di indonesia, demikian pula terdapat 12% mamalia. 15%
amphibi dan reptilia, 37% ikan dan 10% dari seluruh mikroorganisme.
Fauna dan flora yang telah dimanfaatkan di Indonesia terbilang 6000
jenis. Tanaman yang telah dibudidayakan ada 400 jenis penghasil buah-
buahan, 360 jenis penghasil sayuran, 70 jenis umbi-umbian, 60 jenis
tanaman penyegar, 50 jenis tanaman rempah, 940 jenis tanaman obat-
obatan yang 74 prosennya hidup liar.

Indonesia terdiri dari banyak kepulauan hal ini memungkinkan terjadinya


isolasi yang lama yang memberi peluang dan proses evolusi membentuk
spesies yang khas dan unik bagi kepulauan tersebut. Keadaan ini disebut
keadaan endemis spesies,

7.2 BIOSFIR DAN KESEHATAN

Biosfir berpengaruh terhadap kesehatan dalam dua cara, positif dan


negative. Pengaruh positif, karena didapat eleman yang menguntungkan
hidup manusia seperti bahan makanan, sumber daya hayati yang
diperlukan untuk sandang, papan, pangan, industry, mikroba dan serangga
yang berguna dll. Ada pula elemen yang negatif yang merugikan seperti
mikroba pathogen, hewan dan tanaman beracun, hewan berbahaya secara
fisik , vektor penyakit dan reservoir penyebab dan penyebar penyakit.
Dilihat dari aspek kesehatan, pengaruhnya ada yang langsung dan tidak
langsung.

18
7.2.1 Pengaruh tidak langsung

Pengaruh tidak langsung disebabkan elemen-elemen didalam biosfir


yang dimanfaatkan manusia untuk meningkatkan kesejahteraan.
Semakin sejahtera manusia, diharapkan semakin naik pula derajat
kesehatannya. Dalam hal ini, biosfir digunakan sebagai sumber bahan
mentah untuk berbagai kegiatan industry, seperti industry kayu, industry
mebel, rotan, obat-obatan dll.

7.2.2 pengaruh langsung

Pengaruh lansgung disebabkan:

1. Karena manusia membutuhkan sumber energy yang diambilnya dari


biosfir, yakni makanan
2. Adanya elemen yang langsung membahayakan kesehatan secara
fisik, misalnya, beruang harimau , ular, scorpion, posion ivy, dll
3. Adanya elemen mikroorganisme yang dapat menyebabkan penyakit
4. Adanya vektor, yakni serangga penyebar penyebab penyakit, dan
reservoir agent penyakit.

7.3 LINGKUNGAN MAKANAN

Makanan adalah sumber energy satu-satunya bagi manusia. Karena jumlah


penduduk yang terus berkembang, maka jumlah produksi makanan pun
harus terus bertambah melebih jumlah penduduk ini, apabila kecukupan
pangan harus tercapai.

Dari segi kuantitas, baik yang berlebih maupun yang kekurangan akan
menyebabkan kelainan gizi. Penyakit yang berhubungan dengan
kegemukan disebabkan jumlah makanan yang berlebih, juga kualitasnya
seringkali tidak seimbang. Kekuranagan gizi dari segi kuantitas makanan
(marasmus) dan kekurangan dari segi kualitas (kwashiorkor).

Keadaan kurang gizi juga sangat diperngaruhi oleh:


1. Pengetahuan masyarakat
2. Kontaminasi makanan dan minuman akibat lingkungan yang tidak
sehat
3. Prioritas hidup lainnya selain makanan bergizi.

Makanan tidak saja bermanfaat bagi manusia, tetapi juga sangat baik untuk
pertumbuhan mikroba yang pathogen. Untuk itu agar mendapat keuntungan
maksimum dari makanan perlu dijaga sanitasi makanan.

19
Gangguan kesehatan yang dapat terjadi akibat makanan dapat
dikelompokkan menjadi: 1. Keracunan makanan, dan 2. Penyakit bawaan
makanan.

Makanan dapat terkontaminasi oleh berbagai racun yang dapat berasal dari
tanah, udara, manusia, dan vektor. Racun dari lingkungan udara, air, tanah
dan lainnya dapat masuk ke dalam biota. Apabila racun tidak dapat
diuraikan, maka akan terjadi biomagnifikasi didalam tubuh biota.

Pencegahan penyakit bawaan makanan dapat dilakukan sebagai berikut :

1. Pemilihan bahan baku yang sehat, tidak busuk, warna yang segar
2. Penyimpanan bahan baku jangan sampai terkena serangga, tikus atau
jangan sampai membusuk
3. Pengelolaan makanan yang higienis serta prosesnya dapat mematikan
penyebab penyakit
4. Pengolah makanan bukan carrier penyakit, dan tidak sakit
5. Penyajian makanan tidak terkena lalat , debu , dan udara kotor
6. Penyaji makanan harus mendapat surat keterangan sehat
7. Penyimpanan makanan matang jangan sampai terkontaminasi dan
membusuk.

7.4 PENGENDALIAN VEKTOR PENYAKIT


Vektor penyakit adalah serangga penyebar penyakit atau Arthropoda. Beda
vektor dari vehicle, adalah bahwa vehicle itu suatu penyebar penyakit yang
tidak hidup, seperti air, udara, makanan, dan lain-lainnya. Sedangkan vektor
adalah benda hidup, yakni serangga.

Pengaruh vektor terhadap kesehatan dapat bermacam-macam, selain


sebagai vektor. Secara langsung dapat menyebabkan entomophobia,
gangguan ketenangan, dapat menjadi penyebab penyakit seperti penyakit
scabies dan myasis. Secara tidak langsung dapat menjadi reservoir agent
penyakit, memusnahkan panen, dan menjadi parasit pada tubuh manusia

Pengendalian vektor dapat dilakukan dengan melakukan pengendalian


kimiawi dengan menggunakan insektisida, kemudian menggunkana
pengendalian vektor terpadu dengan meningkatkan partisipasi masyarakat,
kerjasama sektoral dll, sedangkan pengendalian rekayasa dengan
mengurangi sarang insekta (breeding places) dengan melakukan
pengelolaan lingkungan, yakni melakukan manipulasi dan modifikasi
lingkungan, dan pengendalian biologis dengan memelihara musuh alami
dan mengurangai fertilitas insekta.

20
BAB VIII

SOSIOSFIR

8.1 UMUM

Sosiosfir adalah lingkungan yang tercipta akibat terjadinya interaksi antar


manusia secara menalar. Interkasi sedemikian memungkinkan tersalurkannya
budaya dari satu orang ke orang lain atau dari satu generasi ke generasi
selanjutya, misalnya, pengalaman yang didapat masyarakat atau perseorangan
ditularkan pada lain orang dan pada generasi penerusnya, yang akan
menentukan sikap dan pengetahuan pada masyarakat. Sikap bersama-sama
dengan pengetahuan, kepercayaan dan norma ini akan menentukan bagaimana
seseorang berfikir, dan berperasaan, yang selanjutnya menentukan
perilakunya. Perilaku juga sangat dipengaruhi oleh sumber daya yang tersedia
dan pendapat panutan masyarakat. Tampak bahwa kerana pengalaman dan
sumber daya selalu berubah, maka perilakupun akan berubah , apalagi apabila
panutan masyarakat yang memulai perubahan.

8.2 SOSIOSFIR DAN KESEHATAN


Lingkungan sosial merupakan lingkungan yang paling penting dalam
menetukan kesehatan lingkungan. Seperti telah diketahui, penyakit dapat
disebabkan oleh unsur fisis seperti temperature, radiasi, tekanan, kebisingan:
antara unsur kimia seperti arsen, merkuri, insektisida, makanan, dan lain-lain:
atau unsur biologis seperti mikroba pathogen. Tetapi penyakit itu hanya dapat
terjadi apabila norma serta budaya manusianya “mengizinkan”.

Norma, perilaku dan adat kebiasaan sedemikian itu dapat didasarkan atas ke-
tidak-tahuan, atau ke-tidak-pedulian masyarakat terhadap kesehatan. Tetapi
hasil akhirnya adalah sama: terjadi pencemaran lingkungan dan terjadi penyakit
sebagai akibatnya.

Sosiosfir juga dapat menyebabkan terjadinya penyakit kejiwaan. Apabila


hubungan antar manusia di dalam suatu kelompok atau masyarakat tidak
menyenangkan atau menekan seseorang dan orang tersebut tidak mengetahui
bagaimana menyelesaikannya, maka akan timbul penyakit kejiwaan dan juga
penyakit psykhosomatik, yaitu penyakit yang menunjukkan gejala fisik tetapi
sebetulnya disebabkan karena suatu keadaan tekanan jiwa.

21
8.3 DEMOGRAFI DAN KESEHATAN LINGKUNGAN

Demografi adalah ilmu yang mempelajari secara statistik dan metematik


tentang besar, komposis, distribusi, dan perubahan-perubahannya sepanjang
masa akibat kerjanya lima komponen demografi, yakni kelahiran (fertilitas),
kematian (mortalitas), perkawinan, migrasi, dan mobilitas sosial.

8.3.1 Jumlah Penduduk


Jumlah penduduk suatu masyarakat dapat diketahui dari hasil sensus
penduduk yang paling tidak dilakukan setiap sepuluh tahun satu kali.
Sensus ini tidak saja menunjukkan jumlah tetapi juga semua atribut
sosial-ekonomi masyarakat yang disebut terdahulu.

8.3.2 Pertumbuhan
Jumlah penduduk selalu berubah. Apabila jumlahnya bertambah, maka
akan terjadi pertumbuhan penduduk. Laju pertumbuhan penduduk diukur
dengan nilai r, yang menunjukkan rata-rata pertumbuhna penduduk per
tahun untuk periode tertentu, dan biasanya dinyatakan dalam prosen.
Laju pertumbuhan penduduk ini dapat dihitung secara geometri maupun
exponensial. Pertumbuhan geometri an exponensial dihitung dengan
rumus sebagai berikut :

a. Geometris

Pt =P0 . (1 + r)n , dimana

Pt = banyaknya penduduk pada tahun t,


P0 = jumlah penduduk pada tahun awal atau 0,
r = laju pertumbuhan penduduk, dan
n= jumlah tahun antara 0 dan t

b. Exponensial

Pt =P0 . em , dimana

e = angka exponensial 2,71828


Pt = banyaknya penduduk pada tahun t,
P0 = jumlah penduduk pada tahun awal atau 0,
n = jumlah tahun antara 0 dan t

22
Pertumbuhan penduduk selain akibat alamiah juga dapat diakibatkan oleh
faktor non alamiah akibat perpindahan penduduk. Pertumbuhan non
alamiah disebabkan karena imigrasi, transmigrasi, atau urbanisasi.
Pertumbuhan alamiah disebabkan karena kelahiran yang lebih banyak
daripada kematian. Sebagai contoh, pertumbuhan dapat terjadi karena angka
kematian yang turun akibat penjajahan, penemuan obat penicillin, program
kesehatan lingkungan atau kesehatan masyarakat dll.

8.3.3 Piramida Penduduk

Komposisi penduduk perlu diketahui untuk berbagai hal :

1. Untuk mengetahui sumber daya manusia yang tersedia baik atas


dasar usia maupun jenis kelamin
2. Untuk mengambil kebijaksanaan yang berhubungan dengan
kependudukan
3. Untuk studi komparatif antar daerah
4. Untuk mengetahui proses demografi dengan menggambarkannya
sebagai piramida penduduk.

Piramida penduduk pada hakekatnya adalah diagram balok, dibuat sebagai


berikut :

1. Sumbu vertikal untuk interval usia


2. Sumbu horizontal untuk jumlah penduduk dalam prosen atau nilai
absolut
3. Sebelah kiri untuk penduduk laki-laki, sebelah kanan untuk
penduduk wanita
4. Dasar sumbu vertikal untuk kelompok usia termuda, semakin ke atas
kelompok usai semakin tua
5. Puncak piramida untuk penduduk tertua, biasanya dalam interval
terbuka, misalnya 75 tahun ke atas
6. Besarnya balok bagi semua kelompok adalah sama

8.3.4 Persebaran Penduduk


Persebaran penduduk atau distribusinya dapat dilihat dari segi administratif
politis dan geografis. Persebaran atas dasar administratif politis adalah
persebaran atas dasar wilayah atau Negara. Penduduk Indonesia tidak
tersebar merata, sebagian besar (64%) bermukim di pulau Jawa, padahal
luas wilayah pulau Jawa hanya 6,6 % dari seluruh wilayah Indonesia.
Demikian pula dengan penduduk dunia, lebih dari separuhnya ada di Asia,
sedangkan separuh lagi berada di benua Afrika, Amerika, Eropa dan
Oceania.

23
Dilihat dari segi sosial ekonomis distribusi yang tidak merata dapat
menimbulkan banyak permasalahan. Banyak yang tidak terjangkau
pembangunan ataupun pelayanan kesehatan. Struktur dan distribusi
penduduk yang tidak merata secara sosial ekonomi mempunyai dampak
terhadap kesehatan , penularan penyakit, pendidikan, perilaku , kesempatan
kerja, penghasilan , gizi, kebiasaan, pemukiman, kenakalan remaja, dan
sampai pada kriminalitas.

Sebagai akibat dari tidak meratanya penduduk dan fasilitas yang tersedia,
terjadi berbagai perpindahan atau morbilitas penduduk dengan maksud
untuk mencari perbaikan hidup. Perpindahan ini ada yang pulang balik tiap
hari, ada yang bersifat musiman, atau yang menetap. Perpindahan penduduk
dengan tujuan menetap di daerah lain dan melampaui batas politis, disebut
migrasi.

8.4 PARAMETER SOSIOSFIR


Struktur demografis yang berpengaruh terhadap fungsi masyarakat yang
selanjutnya menentukan norma dan kesehatan dapat dinilai kualitasnya atas
berbagai parameter, misalnya CDR (Crude Death Rate atau angka kematian
kasar ), CBR (Crude Birth Rate atau angka kelahiran kasar), IMR (Infant
Mortality Rate atau angka kematian bayi (AKB)), Piramida penduduk, taraf
pendidikan , Load of dependency ratio (beban tanggungan) dan PNB
(produk nasional bruto) atau PDB (produk domestic bruto).

Parameter sosiosfir lebih sering dilihat secara keseluruhan atau bersama


daripada satu-persatu. Parameter ini akan menampakkan profil taraf
pembangunan suatu Negara. Profil-profil berbagai Negara seringkali
didaftarkan dan dirangking , dan tampak sampai seberapa jauh taraf
pembangunannya relatif terhadap berbagai Negara. Namun demikian ,
karena rangking sedemikian tidak mengikut-sertakan unit waktu, maka
sangat sulit untuk memberi kesimpulan tentang taraf perkembangan
tersebut. Jadi, daftar rangking profil tadi lebih sering digunakan untuk
membantu menentukan target dalam pembangunan.

24
8.5 PENYAKIT BAWAAN SOSIOSFIR
Lingkungan sosial sangat berpengaruh terhadap penularan, penyebaran dan
pelestarian agent di dalam lingkungan ataupun pemberatasannya. Lingkungan
sosial yang menentukan norma serta perilaku orang berpengaruh terhadap:
1. Penularan penyakit secara langsung dari orang ke orang, seperti halnya
penularan penyakit kelamin, penyakit kulit, penyakit pernapasan, dan
lain-lain.
2. Penularan penyakit secara fekal-oral seperti halnya pada penyakit
saluran pencernaan, disebabkan karena tidak terbiasa mencuci tangan
setelah buang air, dan tidak mementingkan penyediaan fasilitas cuci ini.
3. Penularan lewat media air, udara, tanah, makanan dan vektor juga di
tentukan oleh perlakuan dan etik masyarakat terhadap lingkungan
hidupnya.

Penyakit tidak menular, erat kaitannya dengan budaya atau gaya hidup
masyarakat yang kesemuanya ditentukan oleh kualitas lingkungan sosial.
Pengetahuan tentang hubungan penyakit dengan berbagai kebiasaan hidup
dapat digunakan untuk mencegah penyakit tersebut secara efektif, dengan
melakukan kebalikannya.

8.5.1. PENCEGAHAN PENYAKIT BAWAAN SOSIOSFIR

Karena penyakit bawaan sosial itu bersumber pada perilaku/ way of life atau
gaya hidup masyarakat yang tidak sehat, maka untuk mencegahnya
diperlukan perubahan perilaku. Perubahan perilaku ini seringkali tidak
mudah, apalagi bila perilaku yang akan diubah tadi sudah dianggap normal
oleh masyarakat. Perubahan perilaku dapat terjadi secara alamiah ataupun
direncanakan. Pada hakekatnya manusia itu terus berubah karena harus
beradaptasi terhadap lingkungan yang selalu berubah.

Perubahan itu dapat berarah kepada yang baik atau sebaliknya. Agar manusia
berubah dan menjadi lebih baik dari semula, maka harus terjadi suatu inovasi
atau pembaharuan. Mengingat bahwa perilaku itu kompleks dan banyak pula
yang perlu diubah, maka perlu ditentukan prioritas. Perubahan itu
memerlukan waktu yang cukup panjang, sehingga dukungan untuk berubah
perlu diberikan waktu yang cukup panjang pula. Perubahan perilaku dapat
dipermudah apabila perubahan itu tidak bertentangan dengan kepercayaan,
sumber dana tersedia, tidak mengubah prioritas penggunaan dana oleh
masyarakat banyak yang ikut berubah dan perubahan menyelesaikan
permasalahan masyarakat.
Agar proses ini dapat terjadi, maka perlu dilakukan pendidikan maupun
penyuluhan. Penyuluhan seringkali dilakukan hanya dengan memberi

25
ceramah-ceramah. Hal ini mungkin dapat diterima atau berhasil, bila yang
disuluhi adalah mereka yang telah berpendidikan dan mudah disadarkan
akan permasalahan yang dihadapi ( bersifat progresif). Apabila yang
dihadapi adalah mereka yang masih dalam taraf tradisional atau bersifat
konservatif, maka ceramah saja tidak cukup. Untuk itu, tahap pertama yang
perlu dilakukan adalah penyadaran masyarakat akan permasalahan ataupun
kebutuhan yang mereka hadapi. Bahkan seringkali masyarakat tidak
menyadari apa yang dibutuhkannya. Kesadaran ini bisa didapat apabila
masyarakat terlibat dalam suatu kegiatan yang membawa mereka kepada
kebutuhan tadi.

8.6 PERAN WANITA


Wanita sanagat berperan dalam pendidikan di dalam rumah. Mereka
menanamkan kebiasaan dan menjadi panutan bagi generasi yang akan datang
tentang perlakuan terhdap lingkungan. Dengan demikian wanita ikut serta
menentukan kualitas lingkungan hidup.

Untuk dapat melaksankan pendidikan dengan baik, para wanita perlu juga
berpendidikan baik formal maupun tidak formal. Akan tetapi, pada
kenyataannya taraf pendidikan wanita masih jauh lebih rendah daripada
kaum pria.

Agar anak wanita dimasa yang akan datang lebih baik pendidikannya, maka
para orang tua, teruatama ibu perlu diberi penyuluhan ataupun pendidikan
tidak formal, tentang pentingnya seorang anak perempuan berpendidikan
cukup tinggi.

8.7 PENGELOLAAN SOSIOSFIR


Pengelolaan lingkungan sosial ini seperti lingkungan lainnya direncanakan
agar terjadi perbaikan sehingga tujuan pembangunan dapat tercapai.
Pengelolaan dapat dilakukan dengan pendekatan admistratif, pendidikan,
pemberian pelayanan, atau kombinasi dari tiga cara tersebut

Pendekatan admistratif dapat dilakukan dengan membuat peraturan berserta


sanksi.

Cara pendidikan dapat dilakukan secara formal maupun tidak formal untuk
memberi pengertian dan mengubah perilaku.

Pendekatan pelayanan diperlukan untuk menunjang perubahan , baik yang di


lakukan secara administratif maupun pendidikan.

26
Pendekatan terkombinasi adalah yang paling baik, karena untuk efek cepat
dalam jangka pendek perlu adanya peraturan. Namun, peraturan saja tanpa
memberi pengertian akan membuat masyarakat tetap tidak mendapatkan
inovasi. Dan akhirnya, sarana atau teknologinya perlu juga diperkenalkan.

Beberapa usaha yang perlu dilakukan untuk itu adalah :


1. Melaksanakan peraturan kependudukan yang ada
2. Melaksanakan pendidikan dan penyuluhan, sehingga perilaku
masyarakat dapat berubah menjadi sehat dan menunjang
pembangunan
3. Melaksanakan atau membuat peraturan tata kota yang menyehatkan
lingkungan pemukiman, perindustrian, perdagangan, transportasi dll
sehingga kota maupun desa menjadi tetap sehat lingkungannya.
4. Mengendalikan angka penyakit dan kelahiran
5. Penyediaan berbagai sarana kesehatan lingkungan, sehingga
masyarakat dapat hidup lebih manusiawi, dengan mendapat
kebutuhan pelayanan dasar kesehatan lingkungan.
6. Pengadaan kesempatan pendidikan dan pekerjaan yang layak dan
sehat
7. Peningkatan taraf ekonomi, budaya, dan sosial

27