Anda di halaman 1dari 6

I.

Judul : Pembuatan Larutan


II. Hari / Tanggal Percobaan : Selasa, 24 November 2015
III. Tujuan Percobaan :
1. Membuat larutan dengan satuan konsentrasi molar
2. Menghitung molaritas, molalitas dan fraksi mol.
3. Melakukan pengenceran larutan
IV. Dasar Teori

Sifat koligatif suatu larutan adalah sifat-sifat yang tergantung pada banyaknya partikel
zat yang terlarut dalam larutan, tetapi tidak tergantung pada jenis partikel zat yang terlarut.
Sifat ini adalah penurunan tekanan uap, kanaikan titik didih, penurunan titik beku dan
tekanan osmotik.
Kemolaran menunjukkan konsentrasi larutan. Kemolaran menyatakan jumlah mol zat
terlarut dalam satu liter larutan. Satuan kemolaran adalah mol L-1.

M = n/V

Keterangan :
M = Kemolaran
n = jumlah mol zat terlarut
V = volume larutan (Liter)
Pada pembahasan koligatif, digunakan dua jenis satuan konsentrasi lain, yaitu
kemolalan dan fraksi mol. Kemolalan dan fraksi mol tidak dikaitkan dengan volume larutan
tetapi dikaitkan dengan massa atau jumlah mol.
1). Kemolalan (m)
Menyatakan jumlah mol (n) zat terlarut dalam 1 kg pelarut. Dinyatakan dalam mol kg-1.

Keterangan :
m = kemolalan
n = jumlah mol zat terlarut
p = massa pelarut (kg)
2). Fraksi mol
Menyatakan perbandingan jumlah mol zat terlarut atau pelarut terhadap jumlah mol
larutan.

Jumlah fraksi mol pelarut dengan zat terlarut adalah 1.

Sifat koligatif adalah :


1) Penurunan Tekanan Uap
Besarnya tekanan uap bergantung pada jenis zat dan suhu. Zat yang memiliki gaya
tarik menarik antar pertikel relative besar berarti sukar menguap, mempunyai tekanan uap
yang relatif rendah, contohnya garam, gula, glikol dan gliserol. Sebaliknya zat yang memiliki
gaya tarik menarik antar partikel lemah berarti mudah menguap, mempunyai tekanan uap
yang tinggi. Zat tersebut dikatakan mudah menguap atau atsiri (volatile) contohnya etanol
dan eter. Tekanan uap suatu zat akan bertambah jika suhu dinaikkan. Kenaikan suhu dapat
menyebabkan energi kinetik molekul-molekul cairan bertambah besar, sehingga lebih banyak
molekul yang dapat meninggalkan permukaan cairan memasuki fase gas. Akibatnya,
konsentrasi uap semakin besar dan dengan demikian tekanan uap semakin besar. Jadi,
hubugan antara tekanan uap larutan dan tekanan uap pelarut bergantung pada konsentrasi zat
terlarut dalam larutan. Jika zat terlarut bersifat volatile, maka uap dipermukaan larutan terdiri
atas uap pelarut dan uap zat terlarut. Akan tetapi, jika zat terlarut sukar menguap, maka uap
di permukaan larutan hanya terdiri uap zat pelarut saja.
Seorang kimiawan dari Perancis, Francois Marie Raoult (1830-1901) menemukan
bahwa tekanan uap suatu komponen bergantung pada fraksi mol komponen itu dalam larutan,
dengan hubungan :

Keterangan :
P = tekanan uap
X pelarut = fraksi mol
Pº = tekanan uap murni
Jika zat yang terlarut sukar menguap, maka uap dipermukaan larutan terdiri atas uap zat
pelarut saja.
P larutan = X pelarut . Pº pelarut
Selisih antara tekanan uap pelarut dengan tekanan uap larutan disebut penurunan tekanan uap
(ΔP).
ΔP = Pº - P

Penurunan tekanan uap dapat dikaitkan dengan fraksi mol terlarut, yaitu :
ΔP = Pº - P
= Pº - (X pelarut . Pº pelarut)
= Pº - (1- X ter)P
= Pº - Pº + (X ter . Pº)
ΔP = X ter . Pº
Keterangan :
ΔP = penurunan tekanan uap
X ter = fraksi mol terlarut
Pº = tekanan uap pelarut

2). Kenaikan Titik Didih (ΔTb)


Semakin besar tekanan uap, semakin mudah zat itu menguap. Sementara, tekanan udara luar
memaksa uap tetap berada dalam cairan. Jika tekanan uap kurang dari tekanan udara luar, uap
hanya terbentuk di permukaan cairan. Namun, ketika tekanan uap cairan sama dengan
tekanan dipermukaan maka keadaan ini disebut mendidih. Keadaan selisih antara titik didih
larutan dengan titik didih pelarut disebut kenaikan titik didih (ΔTb = boiling point elevation)
ΔTb = Tb larutan – Tb pelarut
Keterangn :
ΔTb = kenaikan titik didih larutan
Tb larutan = titik didih larutan
Tb pelarut = titik didih pelarut
Titik didih normal air pada saat 760 mmHg atau 1 atm sebesar 100ºC
Hubungan konsentrasi larutan dengan kenaikan titik didih (ΔTb) yaitu :
ΔTb = Kb . m
Keterangan :
ΔTb = kenaikan titik didih
Kb = tetapan kanaikan titik didih molal
m = kemolalan larutan

3). Penurunan Titik Beku (ΔTf)


Titik beku merupakan suhu pada tekanan uap cairan sama dengan tekanan uap padatannya.
Pada tekanan 1 atm atau 760 mmHg, air membeku pada 0ºC karena pada suhu itu tekanan
uap air sama dengan tekanan uap es. Selisih antara titik beku pelarut dengan titik beku larutan
disebut penuruna titik beku (ΔTf = freezing point depression)
ΔTf = Tf pelarut– Tf larutan
Keterangan :
ΔTf = penurunan titik beku
Kf = tetapan penurunan titik beku molal
m = kemolalan larutan

Hubungan konsentrasi larutan dengan penurunan titik beku (ΔTf) yaitu :


ΔTf = Kf . m
Keterangan :
ΔTf = penurunan titik beku
Kf = tetapan penurunan titik beku molal
m = kemolalan larutan

4). Tekanan Osmotik

Jika dua larutan dengan konsentrasi berbeda dipisahkan oleh suatu membrane semi
permeable, maka pelarut dengan konsentrasi tinggi akan mengalir ke arah pelarut konsentrasi
rendah. Peristiwa ini disebut osmosis. Tekanan osmosis yaitu tekanan yang diperlukan untuk
menghentikan osmosis. Jika kedua larutan memiliki konsentrasi sama disebut isotonic,
larutan konsentrasi pekat (hipertonik) dan konsentrasi rendah (hipotonik). Tekanan osmotic
dinyatakan :

𝝅= M . R . T
Keterangan :
𝜋= tekanan osmotik
M = molaritas
R = tetapan gas 0,08205 L atm mol-1 K-1
T = suhu (K)

Sifat koligatif dalam larutan koligatif elektrolit


Larutan elektrolit memiliki sifat koligatif lebih besar daripada larutan nonelektrolit
karena mengion seluruhnya dalam pelarut. Untuk menyamakan harga koligatif elektrolit
dengan nonelektrolit menggunakan factor Van’t Hoff. Dinyatakan dengan lambing i.

V. Alat dan Bahan


Alat-alat :
 Gelas kimia 100 mL 4 buah
 Thermometer 1 buah
 Kompor listrik 1 buah

Bahan-bahan :
 Aquades Secukupnya
 Garam dapur (NaCl)
 Gula (C12H22O11)