Anda di halaman 1dari 13

PENGAUDITAN I

OLEH :

I Made Risky Prasetya (1707531087)


I Made Andika Wicaksana (1707531116)

PROGRAM STUDI AKUNTANSI REGULER


FAKULTAS EKONOMI DAN BISNIS
UNIVERSITAS UDAYANA
TAHUN AJARAN 2018/2019

1
1. Profesi Internal Auditor
A. Pengertian Audit Internal
Audit Internal merupakan pengawasan manajerial yang fungsinya mengukur
dan mengevaluasi sistem pengendalian dengan tujuan membantu semua anggota
manjemen dalam mengelola secara efektif pertanggungjawabanya dengan cara
menyediakan analisis, penilaian, rekomendasi, dan komentar-komentar yang
berhubungan dengan kegiatan-kegiatan yang di telaah. Ikatan Auditor Internal
(Institute of internal auditor -IIA) mendefinisikan sebagai berikut: Audit Intern adalah
aktivitas independen, keyakinan obyektif, dan konsultasi yang dirancang untuk
menambah nilai dan meningkatkan operasi organisasi. Audit Intern ini membantu
organisasi mencapai tujuanya dengan melakukan pendekatan sitematis dan disiplin
untuk mengevaluasi dan meningkatkan efektifitas manajemen risiko, pengendalian,
dan proses tata kelola. Defenisi ini mengandung pengertian bahwa audit intern
merupakan suatu aktfitas yang dilakukan untuk membantu manajemen dalam
penyediaan informasi, dengan tujuan akhir yaitu menambah nilai perusahaan.
Pelaksanaan audit intern dilakukan secara independent dan obyektif yang berarti tidak
terpengaruh oleh pihak manapun dan tidak terlibat dalam pelaksanaan kegiatan yang
di audit. Hasil audit yang diperoleh dari pelaksanaan audit internal secara independen
dan obyektif tersebut akan diandalkan oleh pengguna informasi.
Kegiatan penilaian ini bersifat independen bukanlah dalam arti absolut yang
berarti bebas dari semua ketergantungan, tetapi mengandung pengertian bahwa
internal auditor bebas dari pengaruh atau kekuasaan pihak yang diperiksanya sehingga
diharapkan akan dapat memberikan penilaian objektif. Defenisi tersebut juga tidak
hanya mencakup peranan dan tujuan auditor internal, Tetapi juga menyatakan lingkup
yang luas dari audit internal modern yang lebih menekankan pada penambahan nilai
dan semua hal yang berkaitan dengan resiko, tata kelola, dan pengendalian. Dan
Mulyadi (2002:29) menyatakan bahwa Auditor intern adalah auditor yang bekerja
dalam perusahaan (perusahaan negara maupun perusahaan swasta) yang tugas
pokoknya adalah menentukan apakah kebijakan dan prosedur yang ditetapkan oleh
manajamen puncak telah di patuhi, menentukan baik atau tidaknya penjagaan
terhadap kekayaan organisasi, menentukan keandalan informasi yang dihasilkan
berbagai bagian organisasi.
B. Standar Profesional Audit Internal
Menurut Hery (2010:73) standar profesional audit internal terbagi atas empat

2
macam, namun hanya dua yang penting diantaranya yaitu:
1) Indepedensi
a. Mandiri.
Audit internal harus mandiri dan terpisah dari berbagai kegiatan yang
diperiksa. Audit internal dianggap mandiri apabila dapat melaksanakan
pekerjaan secara bebas dan objektif. Kemandirian audit internal sangat penting
terutama dalam memberikan penilaian yang tidak memihak (netral). Hal ini
hanya diperoleh melalui status organisasi dan sikap objektif dari para audit
internal
b. Dukungan moral manajemen senior dan dewan
Audit internal haruslah memperoleh dukungan moral secara penuh dari
segenap jajaran manajemen senior dan dewan (dewan direksi dan komite
audit) agar dapat menyelesaikan pekerjaannya secara bebas dari berbagai
campur tangan pihak lain. Pimpinan audit internal harus bertanggung jawab
untuk mewujudkan kemandirian pemeriksaan.
2) Kemampuan Profesional
a. Pengetahuan dan kemampuan
Kemampuan profesional wajib dimiliki oleh auditor internal. Dalam
setiap pemeriksaan, pimpinan audit internal haruslah menugaskan orang-orang
secara bersama-sama atau keseluruhan memiliki pengetahuan dan kemampuan
dari berbagai disiplin ilmu, seperti akuntansi, ekonomi, keuangan, statistik,
pemrosesan data elektronik, perpajakan, dan hukum yang memang diperlukan
untuk melaksanakan pemeriksaan secara tetap dan tuntas.
b. Pengawasan
Pimpinan audit internal bertanggung jawab dalam melakukan
pengwasan terhadap segala aktivitas pemeriksaan yang dilakukan oleh para
stafnya. Pengawasan yang dilakukan sifatnya berkelanjutan, yang dimulai
dengan perencanaan dan diakhiri dengan penyimpulan hasil pemeriksaan yang
dilakukan. Pengawasan yang dimaksud mencakup:
 Memberikan instruksi kepada para staf audit internal pada awal
pemeriksaan dan menyetujui program pemeriksaan.
 Melihat apakah program pemeriksaan yang telah disetujui dilaksanakan
 Menentukan apakah kertas kerja telah cukup untuk mendukung temuan

3
pemeriksaan, kesimpulan-kesimpulan, dan laporan hasil pemeriksaan
 Meyakinkan apakah laporan pemeriksaan tersebut akurat, objektif, jelas,
ringkas, konstruktif dan tepat waktu.
 Menentukan apakah tujuan pemeriksaan telah dicapai
3) Kemampuan berkomunikasi
Audit internal harus memiliki kemampuan berkomunikasi untuk menghadapi
orang lain dan berkomunikasi secara efektif. Audit internal dituntut untuk dapat
memahami hubungan antar manusia danmengembangkan hubungan yang baik
dengan audit. Audit internal juga harus memiliki kecakapan dalam
berkomunnikasi, baik secara lisan maupun tulisan, sehingga audit internal dapat
dengan jelas dan efektif menyampaikan berbagai hal, seperti tujuan pemeriksaan,
evaluasi, kesimpulan, dan juga dalam memberikan rekomendasi (saran-saran
perbaikan).
4) Pendidikan berkelanjutan
Audit internal harus meningkatkan kemampuan tekniknya melalui pendidikan
berkelanjutan. Hal ini dengan tujuan untuk meningkatkan keahlianya. Audit
internal harus berusaha memperoleh informasi mengenai kemajuan dan
perkembangan baru dalam standar, prosedur, dan teknik-teknik audit.
5) Mewaspadai kemungkinan terjadinya pelanggaran
Audit internal harus dapat bekerja secara teliti dalam melaksanakan
pemeriksaan. Audit internal harus mewaspadai berbagai kemungkinan terjadinya
pelanggaran yang dilakukan dengan sengaja, kesalahan, kelalaian,
ketidakefektifan, pemborosan (ketidakefesienan), dan konfllik kepentingan.
6) Merekomendasikan perbaikan
Audit internal harus dapat mengidentifikasi pengendalian intern yang lemah
tersebut untuk menciptakan kesesuaian dengan berbagai prosedur dan praktek
yang sehat guna mencapai tujuan dan sasaran yang telah ditetapkan oleh
perusahaan.
C. Fungsi, Tujuan dan Tanggung Jawab Auditor Internal
1. Fungsi Auditor Internal
Fungsi audit internal merupakan kegiatan yang bebas, yang terdapat dalam
organisasi, yang dilakukan dengan cara memeriksa akuntansi, keuangan, dan
kegiatan lain, untuk memberikan jasa bagi manajemen dalam melaksanakan

4
tanggung jawab mereka degan menyajikan analisis penilaian, rekomendasi dan
komentar-komentar penting terhadap kegiatan manajemen.
Fungsi audit internal menjadi semakin penting sejalan dengan semakin
kompleksnya operasional perusahaan, manajaemen tidak mungkin dapat
mengawasi seluruh kegiatan operasional perusahaan, karna itu manajemen sangat
terbantu oleh fungsi audit intern untuk menjaga efesiensi dan efektifitas kegiatan.
Ruang lingkup audit internal meliputi pemeriksaan dan evaluasi yang memadai
serta efektifitas sistem pengendalian internal organisasi dan kualitas kinerja dalam
melaksanakan tanggung jawab yang dibebankan. Berikut ini adalah ruang lingkup
audit internal yang meliputi tugas-tugasnya:
Menelaah reliabilitas dan integritas informasi keuangan dan operasi serta
perangkat yang digunakan untuk mengidentifikasi, mengukur, mengklasifikasi
serta melaporkan informasi semacam itu.
a. Menelaah sistem yang ditetapkan untuk memastikan ketaatan terhadap
kebijakan, perencanaan, prosedur, hukum dan peraturan yang dapat memiliki
pengaruh signifikan terhadap organisasi dan laporan serta menentukan apakah
organisasi telah mematuhinya.
b. Menelaah perangkat perlindungan aktiva dan secara tepat memverikasi
keberadaan aktiva tersebut.
c. Menilai keekonomisan dan efesiensi sumber daya yang dipergunakan.
d. Menelaah informasi atau program untuk memastikan apakah hasilnya
kosnsisten degan tujuan dan sasaran yang telah di tetapkan, serta apakah
operasi atau program itu telah dilaksanakan sesuai dengan yang direncanakan.
Ruang lingkup penugasan Fungsi Audit Internal yang terdapat dalam
Standard Profesi Audit Internal yang dikeluarkan Konserium Organisasi Profesi
Audit Internal yaitu: fungsi audit internal melakukan evaluasi dan memberikan
kontribusi terhadap peningkatan proses pengelolaan risiko, pengendalian, dan
governance, dengan pendekatan yang sistematis, teratur dan menyeluruh. Maksud
dari pernyataan tersebut ialah audit internal membantu organisasi dengan cara
mengidentifikasi dan mengevaluasi risiko signifikan dan memberikan kontribusi
terhadap peningkatan pengelolaan risiko dan sistem pengendalian intern.
Berdasarkan hasil penilaian risiko tersebut, fungsi audit internal mengevaluasi
kecukupan dan efektifitas sistem pengendalian internal, yang mencakup
governance, kegiatan operasi, dan sistem informasi organisasi
5
2. Tujuan Auditor Internal
Direksi harus menyusun dan melaksanakan sistem pengendalian internal
perusahaan yang andal dalam rangka menjaga kekayaan dan kinerja perusahaan
serta memenuhi peraturan perundang-undangan. Satuan kerja atau fungsi
pengawasan internal bertugas membantu direksi dalam memastikan pencapaian
tujuan dan kelangsungan usaha:
a. Melakukan evaluasi terhadap perlakasanaan program perusahaan,
b. Memberikan saran dalam upaya memperbaiki efektifitas proses pengendalian
risiko,
c. Melakukan evaluasi kepatuhan perusahaan terhadap peraturan perusahaan,
pelaksanaan GCG dan perundang-undangan,
d. Memfasilitasi kelancaran pelaksanaan audit oleh audit eksternal.
Tujuan audit internal adalah untuk membantu anggota organisasi untuk
melaksanakan tanggung jawabnya secara efektif. Untuk mencapai tujuan ini, staf
audit internal diharapkan dapat memenuhinya dengan analaisis, penilaian,
rekomendasi, konsultasi dan informasi tentang kegiaatan yang ditelaah. Untuk
mencapai tujuan tersebut, auditor internal harus melakukan kegiaatan yang
ditelaah. Untuk mencapai tujuan tersebut, auditor internal harus melakukan
kegiatan-kegiatan sebagai berikut:

a. Menelaah dan menilai kebaikan, memindainya tidaknya penerapan dari sistem


pengendalian internal dan pengendalian operasional lainya, serta
mengembangkan pengendalian yang efektif dengan biaya yang tidak terlalu
mahal,
b. Memastikan ketaatan terhadap kebijakan, rencana dan prosedur-prosedur yang
telah diteteapkan oleh manajemen,
c. Memastikan seberapa jauh harta perusahaan dipertanggungjawabkan dan
dilindungi dari kemungkinan terjadinya segala bentuk pencurian, kecurangan
dan penyalahgunaan,
d. Memastikan bahwa pengolahan data yang dikembangkan dalam organisasi
dapat dipercaya,
e. Menilai mutu pekerjaan setiap bagian dalam melaksanakan tugas yang
diberikan oleh manajemen,
f. Menyarankan perbaikan-perbaikan operasional dalam rangka meningkatkan

6
efisiensi dan efektivitas.
3. Tanggung Jawab Auditor Internal
Wewenang dan tanggung jawab auditor intern dalam suatu organisasi juga
harus ditetapkan secara jelas oleh pimpinan. Wewenang tersebut harus
memberikan keleluasan auditor intern untuk melakukan audit terhadap catatan-
catatan, harta milik, operasi/aktivitas yang sedang berjalan dan para pegawai
badan usaha. Ikatan Akuntan Indonesia (IAI) menyatakan secara lebih terperinci
mengenai tanggungjawab auditor internal dalam Standar Profesional Akuntan
Publik (SPAP) auditor internal bertanggungjawab untuk menyediakan jasa analisis
dan evaluasi, memberikan keyakinan, rekomendasi dan informasi kepada
manajemen entitas dan dewan komisaris atau pihak lain yang setara wewenang
dan tanggung jawabnya tersebut. Auditor internal mempertahankan
objektivitasnya yang berkaitan dengan aktivitas yang diauditnya. Tanggung jawab
auditor internal adalah menerapkan program audit internal, mengarahkan personel,
dan aktivitas-aktivitas departemen audit internal juga menyiapkan rencana
tahunan untuk pemeriksaan semua unit perusahaan dan menyajikan program yang
telah dibuat untuk persetujuan.
Secara garis besar dan tanggungjawab seorang auditor internal di dalam
melaksanakan tugasnya adalah sebagai berikut:
a. Memberikan informasi dan saran-saran kepada manajemen atas kelemahan-
kelemahan yang ditemukannya.
b. Mengkoordinasikan aktivitas-aktivitas yang ada dalam perusahaan untuk
mencapai tujuan audit dan tujuan organisasi atau perusahaan.
D. Laporan Internal Auditor
Tahap terakhir dari suatu kegiatan pemeriksaan internal adalah berupa laporan
internal auditor yang ditujukan kepada pimpinan perusahaan. laporan tersebut
merupakan sarana pertanggungjawaban internal auditor atas penugasan oleh
pimpinan. Laporan ini dibuat berdasarkan hasil-hasil pemeriksaan internal auditor
yang ditunjang dengan data-data yang sistematis, diinterprestasikan untuk kemudian
didokumentasikan, sehingga memberikan dukungan yang kuat terhadap hasil
pemeriksaan internal.
Laporan auditor internal pada dasarnya adalah merupakan laporan internal
perusahaan. Bentuk laporan ini, dapat berbeda-beda antara perusahaan yang satu
dengan perusahaan yang lainnya, karena bentuk yang standar tidak dapat ditetapkan
7
berbeda dengan laporan yang dibuat oleh akuntan public. Namun, demikian laporan
harus objektif dan dapat dipertanggungjawabkan dengan bukti-bukti pendukung yang
kuat. Dengan demikian laporan tersebut harus dibuat dalam bentuk yang baik dan
mudah dimengerti, sehingga dengan laporan tersebut pimpinan dapat segera
mengambil keputusan mengenai tindakan yang harus diambil.
Laporan pemeriksaan mempunyai tiga tujuan utama. Dalam laporan-
laporannya internal auditor harus berupaya untuk:

1) Menyampaikan informasi yaitu menceritakan apa yang ditemukan auditor

2) Mendesak yaitu menyakinkan manajemen mengenai nilai dan validitas temuan


pemeriksaan

3) Mendapatkan hasil yaitu mendorong manajemen ke arah perubahan dan


perbaikan.

Laporan auditor harus memenuhi kriteria dibawah ini, yaitu:

1) Laporan yang objektif adalah laporan yang faktual, tidak berpihak dan terbebas
dari distorsi. Berbagai temuan, kesimpulan dan rekomendasi haruslah dilakukan
tanpa ada satu prasangka. Bila telah ditentukan bahwa dalam suatu laporan
pemriksaan akhir terdapat kesalahan atau error, pimpinan audit internal harus
mempertimbangkan perlunya pembuatan laporan tambahan yang menyebutkan
tentang berbagai informasi yang diperbaiki. Laporan tambahan harus dibagikan
kepada seluruh pihak yang telah menerima laporan akhir sebelumnya. Suatu
kesalah atau error didefinisikan sebagi penulisan suatu pernyataan secara salah
atau tidak dicantumkannya informasi yang penting dalam laporan pemeriksaan
akhir, yang tidak sengaja terjadi.
2) Laporan yang jelas mudah dimengerti dan logis. Kejelasan suatu laporan dapat
ditingkatkan dengan cara menghindari penggunaan bahasa teknis yang tidak
diperlukan dan pemberian berbagai informasi yang cukup mendukung.
3) Laporan yang diringkas langsung membicarakan pokok masalah dan menghindari
berbagai perincian yang tidak diperlukan. Laporan tersebut disusun dengan
menggunakan kata-kata secara efektif.
4) Laporan yang konstruktif adalah laporan yang berdasarkan isi dan sifatnya akan
membantu pihak yang akan diperiksa dan organisasi serta menghasilkan berbagai
perbaikan yang dibutuhkan.

8
5) Laporan yang tepat waktu adalah laporan yang penerbitannya tidak memerlukan
penundanaan dan mempercepat kemungkianan pelaksanaan berbagai tindakan
efektif.
Laporan haruslah mengemukakan tentang maksud, lingkup dan hasil
pelaksanaan pemeriksaan, dan bila dipandang perlu, laporan harus pula berisikan
pernyataan tentang pendapat pemeriksaan.
1) walaupun bentuk dan isi laporan pemeriksaan dapat bermacam-macam tergantung
pada pengaturan atau jenis pemeriksaan, laporan tersebut paling tidak harus
mengemukakan maksud, lingkup dan hasil pemeriksaan.
2) Dalam laporan pemeriksaan dapat pula mencantumkan informasi dan latar
belakang dan ringakasan laporan. Informasi latar belakang antara lain menjelaskan
tentang unit-unit organisasi dan kegiatan yang diperiksa dan memberikan berbagai
informasi relevan yang bersifat menjelaskan. Dalam laporan pemeriksaan dapat
pula dicantumkan keadaan berbagai temuan, kesimpulan, rekomendasi pada
pemeriksaan terdahulu. Hal tersebut dapat menunjukkan apakah laporan
mencakup pemeriksaan yang direncanakan atau tanggapan terhadap suatu
permintaan atau perintah. Apabila dicantumkan, ringkasan laporan haruslah dibuat
sesuai dengan isi yang dikemukakan pada laporan pemeriksaan.
3) Pernyataan tentang maksud pemeriksaan haruslah menggambarkan tujuan
pemeriksaan dan bila perlu menjelaskan pada pembaca sebab-sebab pelaksanaan
pemeriksaan dan hal-hal apa saja yang diinginkan di capai.
4) Pernyataan tentang lingkup pemeriksaan harus menjelaskan tentang kegiatan yang
di periksa dan mencakup pula berbagai informasi pendukung yang dianggap perlu,
seperti periode waktu yang diperiksa. Berbagai kegiatan lain yang berhubungan,
tetapi tidak diperiksa, harus pula diidentifikasi, bila dianggap perlu, untuk
menjelaskan batasan-batasan pemeriksaan. Sifat dan luas pemeriksaan yang di
laksanakan harus pula di gambarkan.
5) Hasil pemriksaaan dapat pula berbagai temuan, kesimpulan, pendapat dan
rekomendasi.
6) Temuan pemeriksaan adalah hal-hal yang berkaitan dengan pernyataan tentang
fakta.

Berbagai temuan yang diperlukan untuk mendukung atau menghindari


kesalahan pengertian tentang kesimpulan dan rekomendasi yang dibuat oleh

9
pemeriksa internal harus dicantumkan dalam laporan pemeriksaan akhir. Berbagai
informasi atau temuan yang kurang penting dapat diberitahukan secara lisan atau
melalui korespondensi informasi.
Temuan pemeriksaan dihasilkan dari proses perbandingan antara “apa yang
seharusnya terdapat” dan “apa yang ternyata terdapat”. Dari hasil perbandingan
tersebut, auditor internal memiliki dasar untuk membuat laporan. Apabila berbagai
keadaan yang terdapat ternyata sesuai dengan kriteria, dalam laporan pemeriksaan
dapat dibuat pernyataan tentang pengakuan atas hasil pekerjaan yang memuaskan.

2. Hubungan Internal Auditor Dengan Eksternal/ Independent Auditor


Auditor internal dan auditor eksternal memiliki sasaran, tanggung jawa, dan
kualifikasi yang berbeda, serta bertugas dalam aktivitas yang berbeda pula. Tetapi mereka
memiliki kepentingan bersama yang menuntut adanya koordinasi bakat mereka untuk
kepentingan perusahaan.
Sasaran suditor internal adalah untuk menelaah efisiensi dan efektivitas operasi,
kepatuhan, serta kecukupan dan efektivitas control internal di perusahaan secara
keseluruhan. Sedangkan sasaran auditor eksternal adalah untuk menyatakan suatu opini
tentang kewajaran dalam penyusunan dan penyajian laporan keuangan.
Auditor internal memerhatikan seluruh aspek aktivitas perusahaan/organisasi, baik
keuangan maupun nonkeuangan. Sedangkan auditor eksternal memerhatikan aspek
keuangan perusahaan/organisasi.
Tanggung jawab dan pelaksanaan audit oleh auditor internal dan eksternal sangat
berbeda dalam satu hal. Auditor internal bertanggung jawab kepada manajemen dan
dewan direksi, sementara auditor eksternal bertanggung jawab kepada pengguna laporan
keuangan yang mengandalkan kredibilitas laporan keuangan pada auditor. Namun auditor
internal dan eksternal memiliki kesamaan, diantaranya:
a. Harus kompeten sebagai auditor dan tetap objektif dalam menjalankan pekerjaan dan
melaporkan hasilnya
b. Menjalankan metodologi yang sama dalam menjalankan audit, termasuk
merencanakan dan menjalankan pengujian pengendalian dan pengujian substantif
c. Mempertimbangkan risiko dan materialitas dalam memutuskan perluasan pengujian
dan mengevaluasi hasilnya. Keputusan mereka atas materialitas dan risiko mungkin
berbeda karena pengguna eksternal dapat memiliki perbedaan kebutuhan dengan
manajemen atau dewan direksi

10
Koordinasi antara aktivitas audit internal dengan audit eksternal perlu dilakukan.
Audit eksternal memandang memiliki kemungkinan untuk meningkatkan efisiensi
dalam mengaudit laporan keuangan. Sedangkan audit internal merasa terjamin dalam
mengaudit laporan keuangan ditambah informasi yang penting dalam penilaian kontrol
risiko.
Auditor eksternal bergantung pada auditor internal saat menggunakan model
risiko audit untuk menilai risiko pengendalian. Jika auditor internal bekerja secara
efektif, maka auditor eksternal dapat mengurangi risiko pengendalian secara signifikan
dan mengurangi pengujian substantif. Akibatnya tagihan atas pembiayaan audit
eksternal akan berkurang secara substansial bila klien menjalankan fungsi audit
internalnya dengan baik.
Apabila dari hasil evaluasi auditor eksternal dapat menggunakan pekerjaan auditor
internal, selanjutnya mereka diharuskan menentukan bagian mana pekerjaan auditor
internal yang bisa digunakan. Untuk itu, auditor eksternal juga harus
mempertimbangkan strategi dan rencana audit, utamanya dalam mempertimbangkan
penggunaan judgement, menilai risiko salah saji, merancang prosedur, serta bukti yang
perlu dikumpulkan, agar secara agregat pekerjaan auditor internal dan auditor eksternal
dapat mendukung opini audit.
Auditor eksternal juga akan menilai apakah pekerjaan audit internal telah
direncanakan, dilakukan, diawasi, review, dan didokumentasikan dengan baik.
Penilaian juga akan dilakukan untuk memastikan bahwa bukti yang memadai telah
diperoleh untuk menjadi dasar bagi auditor internal menarik kesimpulan yang wajar,
serta kesimpulan-kesimpulan yang dibuat auditor internal sesuai dengan situasi dan
kondisi yang ada. Hubungan auditor internal dan auditor eksternal tercermin dalam
Standar Perikatan Audit (SPA) 610 tentang Penggunaan Pekerjaan Auditor Internal.
SPA 610 ini mengatur tanggung jawab auditor eksternal dalam hubungannya
dengan auditor internal ketika auditor eksternal telah menentukan, berdasarkan SPA
315, bahwa fungsi audit internal kemungkinan relevan dengan audit. Fungsi audit
internal entitas kemungkinan relevan dengan audit jika sifat tanggung jawab dan
aktivitas fungsi audit internal terkait dengan pelaporan keuangan entitas, dan auditor
berharap untuk menggunakan pekerjaan auditor internal untuk memodifikasi sifat atau
waktu, atau mengurangi luas, prosedur audit yang akan dilaksanakan. Pelaksanaan
prosedur berdasarkan SPA ini dapat menyebabkan auditor eksternal untuk
mengevaluasi kembali penilaian risiko kesalahan penyajian materi auditor eksternal.
11
Sebagai akibatnya, hal ini dapat memengaruhi penentuan auditor eksternal atas
relevansi fungsi audit internal terhadap audit. Sama halnya auditor eksternal dapat
memutuskan untuk tidak menggunakan pekerjaan auditor internal untuk memengaruhi
sifat, waktu atau luas prosedur auditor eksternal.
Adapun Persamaan Internal Auditor dan External Auditor:
 Masing-masing auditor mempunyai latar belakang dan pendidikan dan
pengalaman di bidang akuntansi, keunagan, perpajakan, manajemen.
 keeduanya harus membuat Rencana pemeriksaan (Audit Plan), Program
pemeriksaan (Audit Program) secara tertulis
 Semua prosedur pemeriksaan dan hasil pemeriksaan harus didokumentasikan
secara lengkap dan jelas dalam Kertas Kerja Pemeriksaan.
 Audit staff harus selalu melakukan continuing professional education.
 Baik Internal maupun external auditor, harus mempunyai audit manual, sebagai
pedoman dalam melaksanakan pemeriksaan dan harus memiliki Kode Etik serta
sistem pengendalian mutu.

12
REFERENSI

Hery. 2010. Potret Profesi Audit Internal. Bandung: Alfabeta.

Mulyadi. 2002. Auditing Buku 2. Jakarta: Salemba Empat.

Waluyo, Budi. 2011. Audit Intern. http://bud1ww.blogspot.co.id/2011/05/audit-intern.html.


diakses tanggal 21 Februari 2018.

Yusuf, Haryono. 2014. Auditing Pengauditan Berbasis ISA. Yogyakarta: Salemba Empat

13