Anda di halaman 1dari 16

Tugas Konstruksi Bangunan Sipil

Kelas 3 KS 2
Alfin Aries Alfianto

Tujuan umum dibuatnya sebuah terowongan adalah untuk menjamin transportasi langsung dari
barang atau penumpang atau material lainnya menembus rintangan alam dan aktifitas manusia.
Terowongan dibuat menembus gunung, di bawah sungai, laut, pemukiman, gedung- gedung atau
jalan raya. Berguna untuk sarana tranportasi, hidro power, jaringan listrik, gas, saluran
pembuangan dan lain-lain.

B. Klasifikasi Terowongan berdasarkan Fungsinya


1) Terowongan Lalu Lintas (Traffic)
Beberapa penggunaan terowongan untuk lalu-lintas diantaranya :
• Terowongan Kereta api

• Terowongan jalan raya


• Terowongan navigasi

• Terowongan tambang
2) Terowongan Angkutan

• Terowongan pembangkit Tenaga Listrik (Hidro Power)


• Terowongan Water Supply

• Terowongan Sewerage water


• Terowongan untuk utilitas umum

Terowongan yang dimaksud di sini adalah sebuah struktur bawah tanah sehingga dalam
pelaksanaannya harus dilaksanakan tanpa boleh mengganggu aktifitas/ kondisi di permukaan tanah
atau dapat pula dilakukan secara gali dan timbun (cut and cover).

C. Klasifikasi Terowongan berdasar Cara Pelaksanaannya

1) Micro Tunnel
Penggunaannya mayoritas untuk penempatan jalur pipa, kabel, dan jaringan air. Ukuran dari
terowongan ini berkisar antara 60 cm s/d 100 cm dan dikerjakan secara modern dengan cara
otomatis dengan peralatan robot.

2) Terowongan Dongkrak (Jacking)


Teknik pelaksanaan ini dipilih sebagai alternative karena pengggalian biasa terlalu mahal karena
panjang yang terbatas, misalnya pembuatan underpass dan sejenisnya. Secara umum
pelaksanaannya dilakukan dengan mendongkrak secara horizontal sebuah segmen beton precast
atau baja memotong tanah dan membuang keluar secara manual bagian volume tanah yang
terpotong segmen yang didongkrak tersebut.

3) Terowongan Batuan (Rock)


Terowongan ini dibuat menembus batuan masif yang relative keras dan dapat dilakukan langsung
dengan metode penggalian menggunakan peralatan manual, mekanis maupun blasting. Masalah
yang mungkin dihadapai adalah yang berkaitan dengan air tanah, dan struktur penopang pada zona
patahan.

4) Terowongan melalui tanah lunak (soft ground)


Termasuk dalam kategoro ini adalah terowongan yang di buat melalui tanah lempung, pasir dan
batuan lunak (soft rock). Karena mudah runtuh maka untuk pelaksanaan penggalian digunakan
pelindung (shield). Sedangkan lining tunnel harus segera dipasang bersamaan dengan kemajuan
gerakan Tunnel Boring Machine (TBM).

5) Terowongan Gali dan Timbun (Cut and Cover)


Terowongan ini dilaksanakan dengan menggali sebuah alur yang cukup sampai kedalaman yang
diinginkan, kemudian pengecoran lining tunnel atau pemesangan lining precast dan melakukan
penimbunan kembali (covering). Metode ini cocok dilaksanakan jika tersedia areal yang cukup,
tidak mengganggu aktifitas dipermukaan dan letak jalur terowongan cukup dekat dengan
permukaan.

6) Terowongan Bawah air (Underwater)


Terowongan ini biasanya melewati jalur batuan atau tanah lunak. Hal yang membedakan dengan
terowongan tanah lunak adalah adanya tekanan air yang sangat tingggi, sehingga diperlukan
metode untuk membuat terowongan menjadi kedap air. Salah satu metodenya yaitu dengan
membuat trench di dasar sungai atau laut lalu menempatkan precast tube lining dan menerapkan
teknik sambungan kedap air.

D. Terowongan Sipil dan Terowongan Tambang


Perbedaan mendasar antara terowongan Sipil dan terowongan tambang adalah sebagai berikut :
1) Kebanyakan terowongan Sipil adalah permanen, sedangkan terowongan tambang kebanyakan
bersifat sementara (temporary). Beberapa terowongan tambang ada yang dirancang untuk dapat
digunakan beberapa puluh tahun.
2) Terowongan Sipil digunakan untuk melayani kepentingan umum (transportasi, dll) sedangkan
terowongan tambang digunakan untuk kepentingan khusus (pekerja atau aktifitas tambang).
3) Panjang terowongan tambang biasanya cukup besar karena digunakan untuk terowongan
produksi tambang sedangkan terowongan Sipil kebanyakan dibuat sependek mungkin dan
dilaksanakan dengan standart yang sangat ketat.
4) Jalur di mana terowongan tambang dibuat umumnya secara geologi telah diketahui cukup rinci
karena adanya survey yang mendalam bersamaan dengan penyelidikan potensi material
tambangnya. Sedangkan terowongan Sipil biasanya dibangun pada lokasi yang baru sehingga
memerlukan penyelidikan geoteknik yang baru dan terperinci.
5) Kegiatan penambangan merupakan proses dinamis sehingga dapat mengakibatkan perubahan
kondisi (rock reinforcement).
6) Biaya penyelidikan terowongan Sipil jauh lebih besar karena tuntutan masalah keamanan.

E. Akses Terowongan dan Manajemen Material


1) Konstruksi Portal
Akses masuk ke areal bawah tanah secara umum disebut portal. Akses ini dapat berupa sebuah
shaft yang dikontruksi secara vertikal sampai kedalaman tertentu sesuai elevasi rencana
terowongan utama (horisontal), atau berupa face terowongan yang bisa disiapkan secara horizontal
karena kondisi lahan memungkinkan.
2) Manajemen Material
Yang dimaksud dengan manajemen material yang memerlukan pengaturan disini adalah:
• Material hasil galian yang harus dibawa keluar terowongan.
• Material supporting system dan elemen lining precast atau formwork dan beton cair yang harus
dibawa masuk dalam terowongan dan geraka alat keluar masuk terowongan.
• Air hasil dewatering di dalam terowongan yang harus dibuang keluar terowongan.

F. Penyelidikan Geoteknik
Penyelidikan geoteknik adalah elemen yang sangat penting dalam perencanaan dan pelaksanaan
sebuah terowongan. Dengan data geologi yang memadai dapat ditentukan desain terowongan yang
sesuai, metode pelaksanaan yang paling optimal, biaya pelaksanaan yang rasional serta persiapan
yang sebaik- baiknya direncanakan aspek keamanan pelaksanaan. Biaya pelaksaan akan sangat
berpotensi membengkak karena kurangnya tersedianya data geologi.
Secara spesifik tujuan penyelidikan tersebut adalah untuk :
1) Menentukan stratifikasi tanah atau batuan pada jalur terowongan.
2) Menentukan sifat fisik batuan.
3) Menentukan parameter desain untuk batuan dan tanah.
4) Memberikan kepastian setinggi- tingginya bagi suatu proyek dan member wawasan kepada
engineer menegenai kondisi yang mungkin terjadi saat pelaksanaan.
5) Mengurangi unsure ketidak pastian bagi kontraktor.
6) Meningkatkan keselamatan kerja.
7) Member pengalaman bekerja sehingga dapat memperbaiki kualitas- kualitas keputusan di
lapangan.
Pemboran teknik untuk pengambilan sampel batuan adalah cara yang paling umum dipakai untuk
pekerjaan terowongan. Dengan pengambilan sampel (core) dapat diketahui sifat fisik batuan,
variasi pelapisan tanah, satuan batuan, dan informasi penting lainnya. Lokasi- lokasi yang
memerlukan pengeboran secara detail adalah :
1) Daerah portal.
2) Daerah yang secara topografi dekat as terowongan, karena biasanya secara struktur lemah
(overburden tipis).
3) Lokasi yang berpotensi mengalami pelapukan berat.
4) Daerah yang berpotensi air tanah tinggi dan adanya batuan porous.
5) Zona geser/ patahan.
Klasifikasi terowongan

Pengertian Terowongan

Terowongan adalah struktur bawah tanah yang mempunyai panjang lebih dari lebar penampang
galiannya, dan mempunyai gradien memanjang kurang dari 15%. Terowongan umunya tertutup
di seluruh sisi kecuali di kedua ujungnya yang terbuka pada lingkungan luar.

Terowongan umumnya dibuat melalui berbagai jenis lapisan tanah dan bebatuan sehingga
metode konstruksi pembuatan terowongan tergantung dari keadaan tanah. Metode konstruksi
yang lazim digunakan dalam pembuatan terowongan antara lain :

Cut and Cover System, Pipe Jacking System (Micro Tunneling), Tunneling Bor Machine (TBM),
New Austrian Tunneling Method (NATM), dan Immersed-Tube Tunneling System.
Menurut Paulus P Raharjo (2004) bahwa terowongan transportasi bawah kota merupakan grup
tersendiri diantara terowongan lalu –lintas, dapat berupa terowongan kereta api maupun
terowongan jalan raya. Dalam tahap konstruksinya, terowongan memerlukan pengawasan yang
lebih, karena adanya sedikit kesalahan metode atau sequence of work dapat mengakibatkan
keruntuhan tunnel. Pelaksanaan galian terowongan dapat dikerjakan dengan bantuan alat-alat
berat (excavator dengan perlengkapan-perlengkapan clampshell, backhoe, shovel, dan juga
crawler loader), sehingga pekerjaan dapat diselesaikan dalam waktu relatif cepat dan
memperkecil kemungkinan runtuh

Klasifikasi Terowongan

Ditinjau berdasarkan kegunaan terowongan, Made Astawa Rai (1988) membagi

terowongan menjadi 2 bagian, yaitu :

Terowongan lalu – lintas ( traffic tunnel )

 Terowongan kereta api

Adalah terowongan yang merupakan terowongan paling penting diantara terowongan lalu –
lintas.

 Terowongan jalan raya

Terowongan yang dibangun untuk kendaraan bermotor karena pesatnya pertambahan lalu –
lintas jalan raya bersamaan dengan berkembangnya industri kendaraan bermotor.

 Terowongan pejalan kaki

Terowongan ini termasuk dalam grup terowongan jalan (road tunnel) tetapi penampangnya lebih
kecil, jari – jari belokannya pendek dan kemiringannya besar (lebih besar dari 10%).
Terowongan ini biasanya digunakan dibawah jalan raya yang ramai atau dibawah sungai dan
kanal sebagai tempat menyebrang bagi pejalan kaki.
 Terowongan navigasi

Terowongan ini dibuat untuk kepentingan lalu-lintas air di kanal-kanal dan sungai-sungai yang
menghubungkan satu kanal atau sungai ke kanal lainnya. Disamping itu juga dibuat untuk
menembus daerah pegunungan untuk memperpendek jarak dan memperlancar lalu – lintas air.

 Terowongan transportasi dibawah kota

 Terowongan transportasi ditambang bawah tanah

Terowongan ini dibuat sebagai jalan masuk kedalam tambang bawah tanah yang digunakan
untuk lalu – lintas para pekerja tambang, mengangkut peralatan tambang, mengangkut batuan
dan bijih hasil penambangan.

1. Terowongan angkutan

 Terowongan stasiun pembangkit listrik air

Air dialihkan atau dialirkan dari sungai atau reservoir untuk digunakan sebagai pembangkit
listrik disebuah stasiun pembangkit yang letaknya lebih rendah. Terowongan ini dapat
dikategorikan pada suatu grup utama berdasarkan kegunaannya.

 Terowongan penyediaan air

Terowongan ini hampir sama dengan terowongan stasiun pembangkit listrik air, perbedaannya
hanya pada fungsi kedua terowongan tersebut. Fungsi dari terowongan penyediaan air adalah
menyalurkan air dari mata air ketempat penyimpanan air di dalam kota atau membelokkan air ke
tempat penyimpanan tersebut.

 Terowongan untuk saluran air kotor

Terowongan ini dibuat untuk membuang air kotor dari kota atau pusat industri ke tempat
pembuangan yang sudah disediakan.

 Terowongan yang digunakan untuk kepentingan umum


Terowongan ini biasanya dibuat di daerah perkotaan untuk menyalurkan kabel listrik dan
telepon, pipa gas dan air, dan juga pipa – pipa lainnya yang penting, dibuat dibawah saluran air,
jalan raya, jalan kereta api, blok bangunan untuk memudahkan inspeksi secara kontinyu,
pemeliharaan dan perbaikan sewaktu – waktu kalau ada kerusakan.

Berdasarkan lokasinya terowongan dibagi menjadi beberapa bagian sebagai berikut:

 Underwater Tunnels

Terowongan yang dibangun dibawah dasar muka air. Pada umunnya dibangun dibawah dasar
dan sungai atau laut. Perhitungannya lebih kompleks, selain ada tekanan tanah.juga terdapat
tekanan air yang besar.

 Mountain Tunnels

Terowongan jenis ini adalah salah satu terowongan yang mempunyai peran penting ketika suatu
daerah memiliki topografi yang beragam, sehingga perlu adanya terowongan yang dibangun
menembus sebuah bukit maupun gunung.

 Tunnels at Shallow Depth and Water City Streets

Jaringan transportasi di Negara-negara maju seperti Amerika, Inggris, dan Jepang banyak yang
menerapkan tipe terowongan ini. Terowongan jenis ini sangat cocok untuk dibangun di
perkotaan. Baik itu untuk transportasi maupun saluran drainase kota.
Berdasarkan material yang dipakai, Paulus P Raharjo (2004) menjelaskan terdapat 3 jenis terowongan,
yaitu:
Terowongan Batuan (Rock Tunnels) =Terowongan batuan dibuat langsung pada batuan massif dengan
cara pemboran atau peledakan. Terowongan batuan umumnya lebih mudah dikonstruksikan daripada
terowongan melalui tanah lunak karena pada umumnya batuan dapat berdiri sendiri kecuali pada
batuan yang mengalami fracture.
Terowongan melalui tanah lunak (Soft Ground Tunnels) =Terowongan melalui tanah lunak dibuat melalui
tanah lempung atau pasir atau batuan lunak (soft rock) . Karena jenis material ini runtuh bila digali,
maka dibutuhkan suatu dinding atau atap yang kuat sebagai penahan bersamaan dengan proses
penggalian. Umumnya digunakan shield (pelindung) untk memproteksi galian tersebut agar tidak
runtuh. Teknik yang umum digunakan pada saat ini adalah shield tunneling Pada terowongan melalui
tanah lunak ini, lining langsung dipasang dibelakang shield bersamaan dengan pergerakan maju dari
mesin pembor terowongan (Tunnel Boring Machine).
Terowongan gali – timbun (Cut and Cover Tunnel) = Terowongan ini dibuat dengan cara menggali sebuar
trench pada tanah, kenudian dinding dan atap terowongan dikonstruksikan di dalam galian. Sesudah itu
galian ditimbun kembali dan seluruh struktur berada dibawah timbunan tanah. (Sumber : Rai Made
Astawa Rai : Teknik Terowongan: 1988)

Terowongan (tunel) adalah sebuah struktur bawah tanah yang dibuat menghubungkan daerah tanpa
harus memutari gunung, laut dan bukit, terowongan dibuat biasanya untuk akses jalan raya dan jalur
kereta api.

Negara eropa telah membangun terowongan untuk melayani kereta cepat yang menghubungkan ke
berbagai negara tanpa terhambat. Kini kota Jakarta sedang membangun terowongan untuk jalur kereta
Mass Rapid Transit (MRT) untuk mempermudah masyarakat dalam memilih moda transportasi untuk
pergi bekerja
.
Dalam melaksanakan konstruksi terowongan memang tidak mudah, sedikit kesalahan maka terowongan
bisa langsung runtuh. Area sekitar yang akan dibangun terowongan juga tidak boleh ada kabel
melintang, pipa gas dan saluran air yang dapat membahayakan para pekerja.

Pelaksanaan galian terowongan dapat menggunakan bantuan alat berat dengan standar tinggi sehingga
waktu pengeboran akan berjalan dengan efisien.

Berikut ini 5 metode konstruksi terowongan yang benar.


1. Pipa Jacking System (Micro Tunneling)

Metode ini banyak diterapkan pada terowongan yang melintasi jalan raya maupun jalan kereta api. Pada
prinsipnya adalah alat jacking pipe akan mendorong beton pracetaknya kedalam tanah. Alat ini juga
mempunyai cairan untuk menyeimbangkan tekanan air tanah saat proses berlangsung.

Menggunakan metode ini relative murah dan memiliki keuntungan lainnya seperti lalu lintas tidak
terganggu, pipa dapat di pasang dalam keadaan cuaca apapun dan penurunan level air yang
mempengaruhi vegetasi dapat dicegah.

2. Tunneling Bor Machine ( TBM)

Metode konstruksi terowongan yang sering digunakan saat ini adalah Tunneling Bor Machine (TBM).
Alat ini mempunyai alat penggali berupa silinder yang dapat berputar membentuk lingkaran
sepenuhnya.

Penggunaan mesin bor ini untuk terowongan ukuran besar, pengeboran ini dilakukan secara menerus
karena mesin ini memiliki pipa pembuangan dengan kecepatan yang sama. Ketika terowongan
menemukan tanah yang memiliki karakteristik lunak akan menyebabkan mesin ini susah untuk
mengebor karena tanah tidak mampu menahan beban alat tersebut.

Mesin juga akan memutar tidak konstan dan sering berubah posisinya. Biasanya ketika menemukan
tanah lunak akan dilakukan grouting dahulu sebelum dilewati oleh mesin bor tersebut.

3. New Austrian Tunneling Method (NATM)

Metode ini adalah pembuatan terowongan dengan menggunakan metode shotcrete beton yang
disemprotkan dengan tekanan tinggi dan rock bolt sebagai penyangga sementara tunnel sebelum diberi
lapisan concrete.
Setelah itu terowongan diberi perkuatan dengan memasangkan tulangan dan kemudian dilakukan
pengecoran menyeluruh.

4. Cut and Cover System

Konstruksi terowongan ini dibuat dengan cara menggali sebuah trench pada tanah. Kemudian dinding
dan atap terowongan dikonstruksikan didalam galian. Sesudah itu galian ditimbun kembali dan seluruh
struktur berada dibawah timbunan tanah.

Metode ini hanya dilaksanakan bila elevasi terowongan relatif berada didekat permukaan tanah dan bila
daya dukung tanah memungkinkan dengan metode ini.

5. Immersed-Tube Tunneling System

Metode ini digunakan untuk konstruksi terowongan y